Author: Athiya064

Title: { CHaptered} Boss! Part 5

Genre: Yaoi, Romantic, Drama, OOC(Out Of Character, beda banget sama aslinya!)

Rating: Teen, PG-13

Cast:

Zhang Yi Xing (Exo M Lay)

Kim JoonMyeon (Exo K Suho)

Other cast:

Victoria Song Qian

EXO 's Other Member

SM's Member

Cari sendiri

Ps: Yeah this is SULAY! SULAY YAOIII! Setelah Trust Me, I'm Sorry. Banyak yang bilang part SuLay nya sangat manis._.v wkwk yaudah ini bikin ffnya. Enjoy ya :)lestarikan SuLay! Mereka official, biar gaada KrisHo, Kray, dll. Gasuka crack couple ;A;

Desclaimer: All cast belong to their self and god. PLOT IS MINE ATHIYA064! Kesamaan tempat dan nama hanya sebuah rekayasa ataupun kebetulan!

Contact me on:

1. fb: athiya almas

2. wp: .com

Cerita ini hanya untuk yang menyukainya. Kalo gak suka jangan dibaca ya, DON'T BE A PLAGIATOR! TIDAK TERIMA BASH… this is just my imagination. RCL please^^

Happy reading

"Zhang Yi Xing." Lay yang awalnya mematung menghadap ke toko dibawah menoleh, Kris berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada. "Eh, gege?" Lay hanya menanggapi bingung, sejak kapan Kris memanggilnya dengan nama lengkap?

"Uhm, tidak. Tidak apa-apa." Kris menggeleng pelan, Lay tahu pasti ada hal yang disembunyikan oleh sahabatnya itu. "Tidak mau cerita?" tanya Lay. Kris kemudian ikut menyandarkan dirinya di pagar yang sama dengan Lay, tangan kanannya memijat pangkal hidungnya. "Kalau ada masalah gege cerita saja, gege tahu kan aku selalu ada."

"Sebenarnya..." Kris membiarkan kata-katanya menggantung, Lay menatap Kris bingung. "Apa ada masalah berat?" Lay membiarkan tangannya mengusap pundak Kris, Kris menatap Lay dengan pandangan 'terima-kasih' dan membuat Lay menyunggingkan seulas senyum.

"Tao mengajakku bertemu, bukannya aku tidak mau. Aku hanya, err—" Lay terkekeh kecil. "Takut salah tingkah ketika bertemu?" Kris menatap Lay dengan mata elangnya. "Haha kau ini, tahu saja apa yang aku pikirkan. Begitulah, kau tahu tak bertemu dengan Tao di waktu yang lama membuatku tak tahu aku harus berlaku seperti apa ketika bertemu. Rasanya begitu, canggung."

"Ternyata gege masih menyimpan perasaan padanya." Lay tersenyum kecil, "K-Kata siapa? Ah dan lagipula memang kenapa kalau aku menyimpan perasaan? Kau cemburu ya Yixing?" goda Kris, Lay langsung menepuk punggung Kris sedikit keras. "Tidak begitu!" seru Lay.

"Iya, iya. Padahal kukira kau beneran suka padaku." Gumam Kris, "Memang aku pernah bilang akan suka padamu?" Kris menggeleng lalu tertawa. "Jalani seperti biasa." Jawab Lay singkat. "Huh? Maksudnya apa?" tanya Kris bingung, ia menggeser posisinya sedikit lebih dekat dengan Lay. Lay memainkan jari-jari lentiknya di kaca pagar yang hanya setinggi pinggangnya tersebut.

"Bersikaplah seperti Kris yang biasa. Bukan Kris yang terlalu romantis ketika bersama Tao dulu, dan juga bukan Kris yang selalu bermuram ketika putus dengan Tao. Kau juga belum tau apa yang akan Tao bicarakan padamu kan? Menurutku dengan menjadi sosok Kris yang di cafe seperti biasanya kau bisa menyiapkan dirimu." Jelas Lay. "Menyiapkan? Menyiapkan apa?" tanya Kris penasaran.

"Ya, siapa tahu kalau nanti Tao akan memberikan undangan pernikahannya dengan orang lain. Mungkin saja kau ada di daftar undangan," Lay tertawa jahil. "Ya! Jangan bercanda yang seperti itu! Kalau Tao melakukan hal itu, aku akan pergi ke rumahmu dan mengajakmu menikah." Lay mengerucutkan bibirnya. "Seperti aku mau saja. Ya sudah aku mau kembali, waktu istirahat sudah habis. Bye-bye."

'Seandainya aku tak mengenal Tao, aku bisa pastikan aku benar-benar jatuh cinta padamu Zhang Yixing.'

. . .

"Pagi bos ini kopi dan kue untuk hari ini, ini resep terbaru hasil olahan Kyungsoo. Chocolate mint yang cocok dimakan di musim semi dan—" Suho menatap Lay tajam, Lay pun menyadari tatapan Suho dan mencoba diam. "Rambutmu kenapa?" tanya Suho. "A-Aku mengecatnya. Aku hanya ingin berganti warna rambut, apa tidak boleh? Maafkan aku sajangnim, aku akan menggantinya lagi esok hari, maafkan aku."

"Tidak.. tidak perlu." Suho menyuruh Lay duduk di hadapannya. "Eh?" Lay kebingungan. "Aku bilang tidak perlu Zhang Yixing, kau mau melawan perintah bosmu?" Lay menunduk lagi. "A-annio sajangnim, nde, agasshimnida."

"Hari ini kau jangan membantu Kyungsoo di dapur, aku sudah memanggil koki baru untuk—" Lay tiba-tiba menahan nafasnya. "Kau kenapa?" tanya Suho. "A-apakah hyung, maksudku sajangnim memecatku dari bagian koki? Maafkan aku.. aku mohon maafkan aku tapi jangan pecat aku."

"Memang aku bilang aku akan memecatmu?" tanya Suho. "M-Mollae. Tapi sajangnim bilang aku tidak boleh ada di dapur, dan ada koki baru." Suho berdecak kesal, "Bukan berarti aku memecatmu Yi Xing. Kau jangan masuk dapur karena setelah ini aku ada rapat, dan kau pegawai pribadiku harusnya ikut aku rapat kan? Dan soal koki baru itu hanya sementara, atau mungkin bisa lama. Lumayan kan ada yang membantumu dan Kyungsoo di dapur?"

"Eh benar juga." Gumam Lay. "Kau sudah tahu kan? Sekarang lekas berganti baju, aku tunggu di parkiran lima belas menit lagi. Jangan terlambat, hari ini ada rapat penting." Setelah itu Suho tak memperdulikan Lay lagi, oh atau mungkin lebih tepatnya pura-pura tak memperdulikan Lay.

Cklek!

Suho mendongakkan kepalanya, mengalihkan pandangannya dari komputer berlayar datar di hadapannya. Ia tahu Lay sudah pergi, "Huffftt.. syukurlah. Aduh mengapa makin hari aku makin tak bsia menahan diri?" lirih Suho. 'L-Lagipula apa-apaan rambutnya tadi! Aish itu membuatnya terlihat makin manis, dan makin manly. bisa-bisa kalau kami berpacaran orang akan menganggapku sebagai uke! Ah aku tidak mauuuu!' batin Suho nelangsa.

Kemudian Suho membuka laci meja kerjanya, menatap sebuah kotak berwarna biru muda. Ia membuka kotak tersebut, sebuah cincin yang indah. Suho membuka cincin itu dan memperhatikan jemari kirinya, 'Mungkin ini memang sudah saatnya..' batin Suho.

Cling!

"Cieee.." Suho terkejut, ia menoleh. "N-Nenek sihir? Bagaimana kau bisa ada di sini? Dan kau mengganti warna rambutmu?" Suho panik, lalu buru-buru menyimpan kotak cincinnya ke dalam saku. Ia lupa Victoria bisa muncul kapanpun dan dimanapun. "Aku kan sudah bilang jangan panggil aku nenek sihir pabbo! Kau ini bodoh atau pikun?"

Tukk!

"Aww, jangan memukulku dengan tongkatmu!" protes Suho. "Jadi bagaimana?" Victoria tak memperdulikan protesan Suho dan menarik kursi untuk duduk di depan pemuda itu. "Apanya bagaimana?" tanya Suho kesal.

"Hubunganmu, dengan pegawai cantik itu? Kau tak menyampaikan perasaanmu padanya?" tanya Victoria. "Sudah kok, kemarin malam. Dan hari ini, aku akan mengajaknya menjalin sebuah hubungan yang lebih serius." Jawab Suho ramah, ia menampilkan senyum angelicnya. "Bagus kalau begitu! Jangan mempermainkan pegawai itu terlalu lama, nanti kalau terlalu lama ia bisa berpaling pada ketua bagian pemasaran itu. Mau kau tersaingi?"

"YA! Jangan mengancamku!" Victoria malah terkekeh, "Baiklah semoga beruntung. Aku mau makan kue di bawah dulu, byebye ciayo!"

"Dasar nenek sihir aneh."

.

..

Lay memperhatikan direktur Kim, relasi Suho sedang menerangkan peningkatan grafik pendapatan perusahaannya di layar LCD. Sesekali tangannya bergerak mencatat hal-hal penting menggunakan laptop kecil yang Suho berikan. Rasanya pertemuan itu terasa lama sekali bagi Lay, dan lagipula ia juga lupa sarapan sedari pagi sehingga perutnya keroncongan tak jelas.

"Kalau begitu sampai sini saja meeting kita kali ini, aku harap perusahaan kita bisa berlanjut lagi dan kita bisa segera merealisasikan kerjasama kita dalam tindakan nyata seperti yang sudah aku bahas tadi. Kalau begitu, aku permisi dulu tuan-tuan." Direktur Kim membungkuk sopan, lalu mengambil barang-barangnya dan meninggalkan ruangan. Lay membereskan barangnya dan ikut bangkit ketika melihat Suho mendahuluinya untuk mengejar direktur Kim.

Menurut dari apa yang Lay dengar, direktur Kim memiliki perusahaan entertainment dan ia juga membuka beberapa departement store yang cukup besar di Korea, Lay tak bisa membayangkan berapa hasil yang akan ia terima, impiannya dari kecil adalah memiliki departement store juga jadi ia bisa membangun bioskop, toko-toko, dan menjual kue hasil buatannya di sana. Oh dan ia juga bisa membangun ballroom besar dan setiap hari sabtu ia menampilkan kemampuan menarinya disana, betapa menyenangkannya.

Ya, Lay memang bisa menari. Dan ia cukup mahir, sayang ketika ia pindah ke Korea ia harus melepaskan mimpinya. Tapi untungnya adalah ia menangkap mimpinya yang lain yaitu sebagai seorang pattisier.

"Jongwoon hyung, apa kau tak curiga pada Taecyeon-ssi? Bukankah catatan karirnya sebagai pengusaha cukup buruk? Beberapa relasinya dikhianati olehnya, apa kau tak waspada?" tanya Suho, direktur Kim yang bernama asli Kim Jongwoon itu terkekeh pelan. "Joonmyun-ah, jangan membiasakan dirimu untuk curiga kepada teman yang berada satu tim denganmu, lagipula bukankah Taecyeon-ssi hanya membantu dari sektor pendanaan saja? Ia bilang ia belum berjanji akan membeli beberapa counter di sana. Lagipula kau tahu, Taecyeon-ssi cukup disegani. Karena ia, pembebasan lahan yang akan kita pakai jadi lebih cepat, jadi kau jangan khawatir."

"Tapi hyung, bagaimana kalau ditengah-tengah ada kejadian buruk? Maksudku, kita semua tak mau rugi kan?" Jongwoon menepuk pundak Suho yang sedikit lebih pendek darinya. "Percayalah, aku mengenal Taecyeon-ssi sebelumnya. Dan kalau proyek kita mendapat kegagalan gara-gara ia, aku sendiri yang akan menanggungnya. Kau tak perlu khawatir ara?"

Kemudian setelah tersenyum direktur Kim tadi meninggalkan Suho yang masih belum beranjak dari tempatnya. Lay menghampiri Suho, "Ada apa?" tanya Lay. "Tidak, tidak ada apa-apa. Hanya masalah kecil yang sedikit mengganggu,"

"Oh." Lay hanya mengangguk kecil. "Yixing, kita makan di restauran seberang cafe saja ya? Sepertinya setelah jam makan siang aku akan memeriksa beberapa berkas, nanti malam aku akan mengantarkanmu pulang." Lay mengangguk mengiyakan, kemudian Suho berjalan mendahuluinya lagi.

'ASDFGHJKL! Dasar pendek! Ups sudah berapa lama aku tak memanggilnya pendek? Aku dan dia hanya berdua saja dan ia selalu berjalan mendahului dan meninggalkanku! Sudah berapa kali aku ia tinggalkan? Lain kali ia harus diajarkan sopan santun untuk tidak meninggalkan temannya sendiri, memang aku ini bodyguardnya apa? Bahkan bodyguard saja jalannya lebih depan daripada majikannya! Baru saja kemarin rasanya kita saling menyatakan cinta, tapi kenapa hari ini ia berubah seperti ini? Dasar menyebalkan!' batin Lay kesal, ia menghentakkan kakinya sebal. Lalu mau tak mau ia menyusul Suho dengan langkah yang cukup panjang karena tak mau ditinggal oleh bosnya itu.

Restaurant

"Mau makan apa hm?" tanya Suho, "Lasagna." Jawab Lay tanpa sadar. Suho menatap Lay yang melamun dan menatap jalan melalui kaca di sampingnya. "Kau tak mau makan sesuatu yang mengandung karbohidrat lebih? Ini jam makan siang Yi Xing, kau butuh asupan energi lebih banyak." Suho menanggapi.

"Aku... er, hanya sedang tidak berminat." Lay mengelak. "Baiklah. Tenderloin steak satu dan Lasagna satu." Kata Suho pada pelayan wanita di sampingnya, Lay bahkan tak tahu kapan pelayan itu datang. "Minumnya tuan?" tanya pelayan itu.

Dan entah Suho memesankan minuman apa Lay tak terlalu perduli, tiba-tiba di jalan tadi moodnya turun seketika. Dan sepertinya perubahan mood Lay disadari oleh Suho, "Hei kau kenapa?" tanya Suho, nadanya sedikit menyiratkan kekhawatiran. "Tidak, tidak apa-apa." Lay menggeleng-geleng, membuat Suho tertawa kecil.

"Kenapa kau tertawa?" tanya Lay, matanya menyipit menatap Suho. "Tidak, hanya pelafalanmu sangat lucu. Kau tahu, suaramu seperti anak kecil." Lay hanya menatap Suho malas, ia tidak minat bercanda dan malah diejek meski Suho niatnya bercanda sih.

"Hei, bukankah itu Kyungsoo?" Suho menoleh ke arah kanan, Lay ikut menolehkan kepalanya. Benar itu Kyungsoo tepat di meja sebelah kanan mereka hanya sedikit lebih kedepan, sedang makan siang bersama seseorang, Lay tak bisa melihat siapa orang itu karena mereka berdua duduk berhadapan dan posisi orang itu memunggungi Lay. Yang jelas kalau diperhatikan dari belakang orang itu cukup tinggi dan tubuhnya lumayan bidang. Dan dari gerak-geriknya, Lay bisa menebak kalau orang itu tidak sedang makan. Ia diam dan hanya sesekali bergerak, kelihatannya seperti...

Memperhatikan Kyungsoo yang makan?

Kyungsoo menoleh ke arah Suho karena mungkin ia merasa diperhatikan, ia langsung memberhentikan kegiatan mengunyahnya. "U-uh sajangnim." Ucapnya sedikit kaget, Lay tersenyum Kyungsoo kelihatan kaget dan panik disaat bersamaan. Lay melambaikan tangannya menyapa Kyungsoo, "Annyeong!" sapa Lay, pertemuannya dengan rekan sesama koki kue di dapur cafe membuatnya sedikit rileks dan senang.

"Gege?" Kyungsoo melebarkan matanya. Orang di hadapan Kyungsoo akhirnya ikut menoleh dan membalikkan tubuhnya. "Loh, kau.. Kim Jongin kan? Anak dari direktur Kim?" tanya Suho menunjuk orang di hadapan Kyungsoo.

Berarti perkiraan Lay kalau orang itu tidak sedang makan benar, tidak ada piring di hadapannya yang ada hanya segelas lemon squash. Orang itu memiliki kulit yang lebih kecokelatan dari beberapa orang, rahangnya tegas, pandangan matanya tajam dan surai kecokelatan. "Mm, ne. Kim Jongin imnida, bangapseumnida." Kim Jongin membungkukkan badannya sedikit.

'Tunggu! Jadi direktur Kim yang tadi telah memiliki anak sebesar itu? Wow, aku kira ia baru di awal tiga puluhan dan kalau ia punya anak ia masih memiliki anak di umur balita. Wajahnya menipu sekali.' Batin Lay. "Aku Kim Joonmyun, Suho. Rekan kerja ayahmu, kita pernah bertemu dulu di kantor ayahmu saat ada pesta. Kalau tidak salah kau masih SMA."

"A-ah yang itu, hmm.. aku ingat hyung." Kai –nama panggilan Jongin- mengangguk-angguk, "Syukurlah kau masih mengingatku." Suho tersenyum simpul. "Well, tentu saja. Siapa sih yang tak ingat orang yang berteriak paling heboh saat lampu dan seluruh listrik di pesta mati sementara." Gumam Kai, tapi masih bisa di dengar Kyungsoo, Lay maupun Suho sendiri.

"Pfffttt hahahah." Tawa Lay, wajah Suho memerah menahan malu. 'Sialan, aku lupa dia evil.' Batin Suho. "Hmm, ya begitulah. Aku takut pada kegelapan." Suho mengakui dirinya. "Haha, itu wajar kok hyung. Tapi aku tetap kagum, waktu itu appa mengenalkanmu padaku sebagai salah satu direktur muda dan kau akan kuliah lebih cepat di Amerika di jurusan bisnis. Kau benar-benar pandai sekali!" Kai tersenyum.

"Haha, kau bisa saja. Direktur Kim memang berlebihan, aku dan dia sudah kenal lama mulai aku masih kecil dan ia baru saja diangkat menjadi direktur. Dia selalu awet muda." Kai hanya mengangguk. "Apa kalian... menjalin hubungan?" tanya Suho penasaran, ia menggoda Kai dan Kyungsoo dengan senyuman jahil.

Kyungsoo memilih tak menanggapi dan menyeruput milkshakenya cepat-cepat, salah tingkah. Lay menertawakan pattisier yang lebih muda dua tahun darinya itu. Kai sendiri terkekeh menyaksikan tingkah Kyungsoo, "Kyungsoo hyung belum menjawab pernyataan cintaku. Jadi tunggu saja, nanti kalau kami benar-benar menjalin hubungan aku akan mengabarimu hyung." Jawab Kai.

"EH?!" ekspresi wajah Kyungsoo sudah benar-benar seperti ini; O_O Lay takut kelopak mata Kyungsoo akan robek karena matanya sering membelalak. "Haha, geurae. Aku akan menunggu kabar darimu Jongin."

'Hyung? Berarti dia bahkan lebih muda dari Kyungsoo? Wajahnya menipu sekali, tidak seperti ayahnya.' Batin Lay. "Hyung sendiri apa hyung berpacaran?" tanya Kai balik.

"Belum, masih dalam proses." Jawab Suho penuh arti. 'Apa maksudnya?' Lay bingung sendiri, dan ia juga tak mengerti mengapa Kai berkata 'Hwaiting!' setelahnya.

Selesai makan Lay hanya menatap Suho yang tiba-tiba sibuk dengan ponselnya, beberapa kali ponsel itu berdering menandakan adanya pesan singkat yang masuk. Setidaknya Lay bersyukur Suho tidak menerima telepon karena itu pasti akan lama sekali. "Hyung." Panggil Lay, Suho menaikkan sebelah alisnya.

"Balik ke cafe yuk." Ajak Lay, Suho mengangguk lalu bangkit dari tempat duduknya. "Kai, Kyungsoo aku duluan ya. Dan Kai jangan terlalu lama menahan Kyungsoo, sebentar lagi jam istirahatnya habis." Kai hanya menunjukkan ibu jarinya sebagai isyarat mengerti.

Ketika lampu penyebrangan berubah jadi hijau untuk para pejalan kaki, Lay bersiap-siap melangkahkan kakinya. Grep! Lay menoleh kesamping, Suho menggenggam lengannya. "Aku takut kau akan tertinggal lagi, ayo jalan." Suho tersenyum sekilas, dan entah mengapa senyuman Suho tadi mengangkat moodnya yang buruk menjadi lebih baik.

. . .

"Hei, sudah lama?" Tao menggeleng, hatinya menghangat melihat orang yang lama tak ia jumpai berada di jarak sedekat ini dengannya. Tao tak menyangka Kris benar-benar datang ke hadapannya! Ia bahkan dapat mencium aroma parfum yang biasa digunakan Kris, selera lelaki itu tidak berubah. "Lama tidak bertemu, uhm.. gege." Sapa Tao berusaha tidak gugup.

Ia tak berbohong, Kris tampan sekali. Meskipun lelaki itu bahkan belum mengganti pakaian kantornya, Sepertinya Kris pergi disaat jam makan siang. "Iya, rasanya.. lama sekali." Kris menanggapi. "A-Aku sudah memesankan makanan kesukaanmu, maaf aku lancang." Tao tergagap, perpisahan mereka beberapa waktu yang lalu membuat mereka sedikit canggung untuk berinteraksi satu sama lain.

"Tidak apa-apa, gege malah senang kau masih mengingat apa yang biasa kupesan." Kris menyunggingkan seulas senyum lagi. Dan ketika makanan mereka datang, mereka memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan mereka dan makan dalam diam. Ketika makanan mereka habis barulah Tao menghela nafas panjang, ia harus bicara.

"Maaf." Ucap Tao akhirnya memecah keheningan, "Maaf?" Kris membeo. "Tiga bulan lalu, aku tak tahu kalau keputusanku berdampak begitu dalam terhadapmu. Kendati aku selalu menegaskan kalau aku memikirkan dirimu, nyatanya aku hanya memikirkan diriku sendiri. Aku selalu berpikir kalau kau pasti bisa menemukan orang lain yang lebih baik dari aku dan bisa menemanimu setiap saat, tidak seperti aku yang selalu dikejar waktu kuliah dan latihan wushu yang sempat padat karena aku akan ikut kejuaraan. Aku tidak tahu kalau gege.. sempat terpuruk."

"Kenapa kau memikirkan hal yang seperti itu? Kau tahu aku takkan pernah memikirkan hal yang sama, kalau kau memang sibuk kenapa tak mengatakannya?" Kris tersenyum kecil. Tao menggeleng kecil, "Aku.. aku hanya takut membuatmu kecewa."

"Dengar ya Tao, aku tidak akan berpikir sedangkal itu. Aku juga pernah kuliah, pernah dikejar-kejar jadwal ujian, pernah menjalani skripsi. Dan aku akan mengerti, jadi mulai sekarang kalau ada masalah kau bisa bercerita padaku dengan terus terang. Selama itu masuk akal, aku akan menc0ba memahamimu. Jangan mengulanginya lagi, aku tidak suka kau seperti itu. Aku merasa perasaanku mati rasa, yang aku lakukan hanya berdiam diri. Kemudian aku memutuskan menuju ke Yixing." Kris diam sejenak, menghela nafas panjang. Ia memandang iris mata Tao yang sedikit berkaca-kaca, dalam hati ia tertawa kecil, Tao sedang cemburu.

"Orang pasti mengira aku dan Yixing memiliki hubungan khusus, rasanya aku ingin tertawa. Bukannya tak mungkin bagiku untuk mencintainya, hanya saja menjalin hubungan yang lebih dengan Yixing rasanya sedikit tidak mungkin. Kami bersahabat, dan memiliki tambatan hati masing-masing. So yeah, he just the best person for me that time. He comfort me, Junmyeon was not here and i wouldn't ask him home because i know he has his own business. And even if Junmyeon here, i will thinking thousand times to go to his place. He wouldn't comfort me as best as Yixing does, he wouldn't hug me, he wouldn't wipe my tears, he wouldn't tell me a lame joke or nice words as Yixing does. Dia mungkin hanya duduk di tempatnya dengan poker face, menyuruhku mengertimu dan mengusirku pulang karena akan merasa aneh apabila melihatku menangis. Jadi aku takkan mempermalukan diriku sendiri di hadapannya,"

Tao merasa seseorang telah membawa hatinya yang beku ke dekat perapian, rasanya hangat dan melegakan disaat yang bersamaan. Ia tertawa mendengar pernyataan Kris, tapi ia juga ingin menangis. Ia bahagia karena ternyata hal yang ia takutkan tak terjadi, Kris tak mencintai orang lain. Dan sekaligus kecewa pada dirinya sendiri, ia begitu bodoh untuk menyadari apa yang ia lakukan telah menyakiti lelaki di hadapannya.

"Honestly, aku takut menanyakan hal ini. Tapi, sepertinya Yixing bisa jadi benar. Tao, apa kau membawa undangan pernikahanmu dengan orang lain?" tanya Kris dengan suara rendah, Tao menautkan alisnya. 'Darimana dia mendapat pemikiran seperti itu, oh ya Yixing.'

"Tidak, aku mengajakmu kemari untuk bertemu hanya karena aku ingin mengatakan semua itu. Aku.. aku ingin meminta maaf, aku sungguh-sungguh tak bermaksud seperti itu." Tao menggigit bibirnya, menyalahkan dirinya sendiri. Sudah tahu ia salah tapi sempat saja membela dirinya, ia beruntung tak ada hukum pidana untuk menyakiti mantan kekasih.

"Don't.. don't you dare to do those things anymore. Don't hurt me, mungkin perkataanku sedikit cheesy untuk orang sepertiku. Tapi percayalah, seumur hidupku aku tak pernah merasa seterpuruk itu seperti kau tinggalkan." Kris memandang Tao dengan tatapan tajamnya, bukannya takut Tao malah menemukan kelembutan disana.

"Oleh karena itu, aku mengajakmu bertemu. Apakah kau.. mau kembali padaku? Maaf untuk meminta sesuatu yang tidak-tidak, aku tak bisa menjamin aku takkan melukaimu lagi, aku takut aku lupa dengan janjiku sendiri. Tapi aku akan berusaha memperbaiki kesalahanku di masa lalu, apa kau bersedia... gege?"

. . .

"Yixing, kau lihat Kris tidak? Kemana dia, ini sudah sore dan ia belum kembali. Beberapa barangnya masih ada di ruang kerjanya, aku takut ia akan datang ketika cafe ditutup. Dasar tiang itu, huh aku bahkan belum menerima berkas yang harus aku tanda tangani darinya hari ini. Awas saja kalau ia tak kembali dalam lima belas menit, aku akan menurunkan jabatannya."

'Si pendek mengoceh lagi.' Batin Lay, setidaknya hari ini dirinya merasa hampir normal. Sampai ia menemui Baekhyun kabur dari jam kerjanya dan menerima panggilan -yang merupakan pelanggaran besar!- dari kekasihnya yang Lay ingat hampir sebesar Kris. Kemudian Baekhyun masuk ke ruangnya dan Kyungsoo, duduk di pojokan sambil bercanda. Lay tahu Baekhyun sangat hiperaktif, dan ia tertawa sambil menepuk-nepuk tumpukan kardus di sebelahnya, Lay tak memperdulikan Baekhyun sampai ia mendengar Kyungsoo berteriak yang mengagetkan mereka berempat, termasuk koki sementara mereka.

Saat ia bertanya pada Kyungsoo ada apa, ia merasakan hawa tidak enak dari temannya itu. Kyungsoo yang awalnya sangat-sangat bersemangat bekerja karena baru saja diantar Kai berubah geram, dan sedetik kemudian Lay ikut-ikut geram. Ternyata tumpukan kardus yang dipukul Baekhyun berisi telur-telur ayam yang akan dijadikan bahan kue-kue mereka. Dan karena entah mengapa Baekhyun yang kecil memiliki kekuatan yang begitu besar telur-telur itu pecah dan merembes keluar kardus. Membuat ruangan itu bau amis yang tak menyenangkan.

Baekhyun buru-buru memutus panggilannya dan menunduk berkali-kali untuk minta maaf pada Lay, Kyungsoo dan koki baru. Biarpun Kyungsoo yang paling muda diantara mereka, tapi Kyungsoo bisa mengerikan ketika ia marah, Lay pun menghukum Baekhyun untuk mengganti semua telur yang telah ia pecahkan saat itu juga dan mengambil telur itu sendirian ke gudang mereka yang terletak di lantai paling dasar dan di luar cafe. Kyungsoo hampir membersihkan telur yang pecah itu dengan alat pel namun Lay melarangnya, cake mereka dipesan dalam jumlah besar untuk upacara pembukaan salah satu instansi pemerintah tak jauh dari sana. Akhirnya Lay meminta tolong pada Chen untuk memanggil salah satu office boy sebelum Suho tahu dan mengamuk juga.

Dan nyatanya sekarang Suho sedang uring-uringan, bukan karena dirinya sendiri atau Lay tapi gara-gara Kris. Sepertinya ia juga takkan main-main kalau akan menurunkan jabatan Kris yang Suho rasa lebih tepat dihandle oleh Changmin atau yang lain.

"Yixing, ayo kita turun. Jam kerja telah berakhir, aku ingin cepat-cepat pergi karena aku lelah." Lay hanya mengangguk, ia sendiri sudah menyimpan seragamnya dan menggantinya dengan sebuah sweater berwarna biru tua dan celana denim. Mereka pun turun menggunakan lift dalam diam dan selalu Suho yang berada di depan Lay.

Mereka sampai di tempat penjualan yang masih buka, memang di tempat penjualan akan tetap buka sampai pukul setengah delapan malam. Tapi pekerja yang bekerja dibelakang seperti koki, pattisier, pemasok bahan, pekerja di gudang, penghias kue dan lain-lain sudah berakhir jam kerjanya pukul empat sore. Tapi tak jarang bila besok ada pesanan dalam jumlah besar Lay harus tinggal lebih lama dan pulang di jam yang sama dengan para pelayan cafe, office boy, penjaga kasir dan yang lain.

Suho menoleh, mendapati Luna yang sedang melayani pembeli dari balik etalase. Mengambilkan pembeli beberapa kue yang akan ia beli, Suho mendengus. 'Penyihir itu terlihat bagai manusia normal.' Gerutunya dalam hati, dan entah mengapa ia lupa sepenuhnya dengan kutukan itu. Tapi ia masih ingat kalau ia akan melamar Yixing apapun yang terjadi malam ini.

Mata Suho membulat ketika melihat seseorang dengan tinggi di atas rata-rata masuk melewati pintu kaca otomatis mereka. Suho melirik jam tangannya, untung Kris datang di menit kesebelas. "Kris darimana saja k—"

"YIXING-AH!" Kris berlari kearah Lay, memeluk tubuh Lay dalam sekali dekap. Suho yang melihat pemandangan didepannya itu menggertakkan gigi, ia juga kesal mengapa Lay tak berontak. –walau kalau orang lain yang melihat mereka akan memaklumi mengapa Lay tak berontak, siapa yang mampu memberontak bila didekap erat oleh orang dengan lengan kekar dan tinggi diatas 187cm?-

Kris seakan lupa pada yang lain, lupa pada Suho, lupa pada pelanggan, lupa pada pegawai yang menatap mereka aneh, lupa pada Chen yang tiba-tiba entah mengapa muncul disana sambil berteriak 'WHOAAA~' dengan mulut terbuka lebar.

"K-Kris lepppaasshh!" akhirnya beberapa saat Lay baru bisa berontak, Kris langsung menarik diri. "Ups maaf Yixing aku reflek, kau tahu aku bahagia hari ini! Ah, ini semua berkat kau juga! Terima kasih Yixing-ku sayang!" Suho merasa tubuhnya makin menegang dengan kata-kata Kris yang seakan keluar tanpa bisa dibendung.

"Aku akan mengabulkan apapun permintaanmu!" Kris mencium dahi Lay saat itu juga, MENCIUM DI DEPAN PUBLIK! Meski hanya dahi sih..

'TAPI TETAP SAJA AKU TIDAK SUKA AISH! BUKANKAH IA MEMILIKI ANAK PANDA ITU?!' batin Suho merana, kalau saja ia bisa lebih tinggi atau minimal setara dengan tinggi Kris ia pasti sudah menghajar Kris, menarik Lay, mengklaim Lay miliknya. Sayang ia Cuma Suho, seorang bos dengan tinggi tubuh rata-rata, rata-rata bawah malah. Kalau ia melakukan itu bisa-bisa Kris yang akan berbalik menyerangnya dan menendangnya seperti yang dilakukan si anak panda. Lagipula Kris itu sepupunya, ia tak mau para pegawai melihat aksi tak sepantasnya.

"Y-Ya! Kau ini ada apa?" gertak Lay, Kris hanya tersenyum lebar. Sejak kapan Kris seperti itu? "Kami balikan, terima kasih karena sudah menghiburku selama ini." Kris kali ini tersenyum kecil, senyumnya kembali menjadi senyuman yang akan meluluhkan setiap gadis. Sepertinya ia sadar kalau ia sangat out of character tadi dan sudah kembali normal.

"Kalian sudah selesai? Kalau sudah, ayo kita keluar Yixing." Suho menarik lengan Lay, dan Kris tidak menahannya. "GOOD LUCK!" teriak Kris, menghadap ke punggung Suho dan Lay yang menjauh. Lalu ia berbalik, dan kembali poker face. Mungkin faktor golongan darah Kris adalah B, dan kaum B memiliki kemampuan untuk berubah emosi dengan cepat.

. . .

"Ini.. bukan jalan ke rumahku kan?" tanya Lay, Suho mengangguk. "Apa kau keberatan kalau kita mampir ke restauran dulu, em.. makan malam lebih awal." Suho terasa kikuk, kenapa ia tidak memperhatikan jam yang baru menunjukkan pukul enam? Bahkan matahari saja belum tergelincir dan digantikan bulan.

"Oh, ya baiklah." Jawab Lay singkat, Suho melajukan mobilnya dengan kecepatan standar. Dan berhenti tepat di... restauran mewah. Lay mengernyit bingung, kenapa mereka tak makan di restauran biasa saja?

'Mungkin aku lupa dengan kenyataan kalau bahkan mungkin di dalam kamar mandi Suho pun ada uang yang melebihi dari gajiku selama sebulan.' Batin Lay, Suho melepaskan blazernya dan hanya mengenakan kemeja hitam polos dan sebuah dasi. Suho menggulung lengan kemejanya sampai siku, dan entah mengapa Lay merasa bahwa memang ia adalah seorang asisten atau pembantu bahkan. Lihat saja Suho yang meskipun hanya berpakaian biasa terlihat elegant sementara ia sendiri malah menggunakan sweater miliknya seperti orang akan jogging di pagi buta. Untung saja ia tak menggunakan kaos tak berlengan miliknya, dan mungkin akan jadi sepuluh kali lipat lebih memalukan. Seharusnya Suho bilang..

Suho keluar dari mobil diikuti Lay dan menyerahkan kunci mobilnya pada vallet, lalu menggandeng jemari Lay lembut masuk ke dalam restauran. Lay merasa pusing tiba-tiba, mereka bisa makan di rumah makan cepat saji seperti biasa kan? Mengapa harus ke restauran mahal dimana orang-orang akan duduk dengan tegak, tampil rupawan, berusaha tak berisik, ditambah lagi dengan begitu terangnya lampu kristal yang dipasang dimana-mana, juga alunan nada yang dipetik oleh pemain profesional dari dawai-dawai harpa di atas panggung.

Lay merasa kikuk dan aneh, disitu bukan tempatnya. Tapi genggaman tangan Suho seolah-olah menguatkannya, dan untungnya ia pergi dengan Suho. Coba saja ia pergi dengan Chen, pasti anak itu akan menyuruhnya memesan satu makanan saja dengan porsi jumbo dan membayarnya berdua-_- jangankan ke restauran mahal, saat mereka berdua makan di restauran china saja Chen sudah melakukan trik seperti itu.

Seorang pelayan menunjukkan Suho dan Lay ke sebuah meja dengan dua kursi, sepertinya Suho sudah melakukan reservasi sebelumnya. Merekapun duduk, sang pelayan masih berdiri di sisi kiri mereka menunggu mereka memesan Lay hanya memandang lurus kedepan, yang entah mengapa terlihat seperti ia sedang memandang Suho lekat-lekat, kemudian ia menundukkan kepalanya.

'Mengapa dia jadi berubah sangat tampan asdfghjkl— kulit putih pucatnya terlihat sangat pas untuk kemeja hitam itu. Ah Zhang Yixing kuasai dirimu..' ketika makanan datang merekapun makan berbarengan, Suho terlihat begitu tenang sambil sesekali membuka ponselnya yang berdering. Membuat Lay jengah, untung saja Lay tidak berpacaran dengan Suho. Atau setidaknya belum.. ia tidak bisa membayangkan kalau kekasihnya akan menerima panggilan atau membalas pesan-pesan dari pelanggan maupun rekan sesama kerjanya.

Ketika makanan habis, Suho mengangkat tangan dan pelayan yang lain mengambil piring mereka berdua. Setelah meja bersih, Suho meletakkan kedua tangannya di atas meja. "A-Apa?" tanya Lay kikuk, Suho menatapnya lembut dengan seulas senyum di bibirnya. "Tidak, aku tahu hari ini moodmu mungkin masih buruk. Tapi bisakah setidaknya kau senyum.. untukku?" Lay mendengus.

"Aku akan tersenyum untuk diriku sendiri." Jawab Lay setengah bercanda. Suho merogoh kantong celananya, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru, menggeser kotak itu ke arah Lay. "Ini apa?" tanya Lay, Suho hanya tersenyum lagi dan Lay mengakui kalau Suho benar-benar tampan dan hangat bila ia tersenyum.

"Buka saja," Lay membuka kotak itu, terkejut karena didalamnya ada sebuah cincin.

"Mungkin ini memang terlalu cepat, aku tahu. Dan harusnya orang-orang akan melamar kekasihnya dengan cara yang lebih romantis, tapi aku tidak seperti itu. Aku memikirkan cara yang paling tepat, aku ingin seperti lelaki lain yang akan meletakkan cincin itu di dalam gelas minumanmu. Tapi kau memesan milkshake, maka tidak akan terlihat kan. Akan sangat tidak romantis kalau kau tak mengetahuinya dan menelan cincin itu, aku juga ingin menyampaikan perasaanku padamu dengan bertekuk lutut di hadapanmu, tapi itu akan menggelikan. Kau tahu aku.. tak setinggi orang lain."

'Sempat-sempatnya dia berpikir begitu.' -_- batin Lay kesal, tapi kalau dipikir-pikir perkataan Suho benar juga.

"Aku tahu aku orang yang menyebalkan, kau adalah orang kesekian yang mengatakannya. Hanya, aku ingin kau jadi orang pertama yang kucintai dan mencintaiku. Karena kau membuatku menunjukkan sisi diriku yang lain, jadi apakah kau.. bersedia menjadi kekasihku?" tanya Suho sungguh-sungguh.

Dan Lay, tahu secara pasti bagaimana hatinya bersemangat menjawab.

"Kau sudah tahu apa yang aku katakan di mobilmu kemarin, aku juga mencintaimu, so i do." Suho tersenyum lega, hilang sudah beban yang ada di dirinya. Digantikan dengan perasaan lega dan bahagia yang berlipat-lipat. "Gumawo." Suho memakaikan cincin itu di jari Lay.

Kemudian tertawa kecil, ia menghadap ke sisi kiri berusaha menghindari tatapan mata Lay. Lay malah terkekeh melihat rona merah di wajah Suho, rasanya baru kali ini melihat Suho tersipu. "Kau tahu sebenarnya aku masih belum mengerti bagaimana sesama lelaki saling mencintai, tapi kau.. kau adalah pengecualian hyung."

"Aku juga, awalnya aku kira aku takkan seperti orangtuaku. Tapi mungkin, ini adalah jalan bagi kita. Jeongmal saranghamnida."

"Nado, nado saranghae. Keundae, sekarang aku kekasihmu hyung bisakah kalau kau jalan kau tidak mendahuluiku? Aku benar-benar terlihat bagai seorang pembantu." Protes Lay yang hanya ditanggapi Suho dengan tawa panjang.

. . .

"Selamat pagi sajangnim." Suho menatap Luna agak horror, ia baru mengingat semua perjanjiannya dengan peri-peri tak jelas ini. "P-Pagi, er Luna apa si nenek sihir itu disini?" bisik Suho pelan, Luna menautkan alisnya.

"Nenek sihir?" tanyanya bingung, "Eum maksudku itu.. temanmu, Victoria." Kalau pada Luna Suho memang tak takut karena ia tak pernah menerima kutukan dari Luna, lagipula Luna juga bawahannya. Sedangkan Victoria.. membayangkan saja sudah membuat Suho ngeri, entah Victoria memang tak mengerikan secara fisik tapi Suho yakin yang satu itu benar-benar mengerikan.

"Oh anniyo, eomma sedang ada tugas lain." Jawab Luna, "Eomma? Dia ibumu?" tanya Suho balik. "Ah bukan, karena ia adalah leader kami jadi kami memanggilnya seperti itu. Lagipula ia juga lembut dan penyayang seperti seorang ibu." Jelas Luna. 'LEMBUT DARIMANAAAA?' batin Suho kesal.

"O-Oh yasudah, aku ke ruang kerjaku dulu ya." Baru saja Suho akan pergi tapi Luna memegang lengannya. "Sajangnim, aku punya sesuatu yang ingin kuberikan padamu." Suho menarik nafas panjang berusaha merilekskan tubuhnya, kemudian mengangguk kecil. Setidaknya Luna tidak akan mengutuknya.

"Ke ruanganku saja,"

Suho's room

Suho mempersilahkan Luna duduk di hadapannya, "Anggota lain menitipkan ini padaku, kami senang ternyata kau menyampaikan perasaanmu pada Yixing-ssi dengan tulus, meskipun kami telah menghapus ingatanmu sementara soal perintah kami tempo hari." Luna menyerahkan sebuah tempat kado berbentuk balok ke hadapan Suho, kotak itu dihiasi oleh sebuah pita berwarna merah jambu.

'Pantas saja aku tak ingat tentang perintah mereka kemarin,' batin Suho. Ia membuka hadiah itu, didalamnya ada dua buah kalung berwarna perak. "Ini.. apa?" tanya Suho. "Victoria eomma sebenarnya merupakan bibi jauh dari Zhang Yixing-ssi, namun mereka hanya pernah bertemu sekali itupun ketika Yixing masih balita. Karena setelah itu kami tidak tinggal di bumi lagi. Ketika Yixing-ssi sudah pindah ke Korea, Victoria eomma menuju ke keluarga Yixing-ssi, namun ibunya bilang kalau Yixing-ssi sudah tidak ada di China lagi. Dan ibunya berpesan agar Victoria eomma menjaga Yixing-ssi, lalu diam-diam kami memasang alat penyadap di apartemennya dan tempat kerjanya ini. Dari sana, kita mengetahui kalau ia sering sakit hati gara-gara sajangnim. Kebetulan aku juga bekerja disini sebagai usaha menyamar menjadi manusia normal, dan ya.. semuanya terjadi seperti yang anda lihat sajangnim." Jelas Luna panjang lebar.

Suho terdiam, lalu mengeluarkan salah satu dari kalung itu dan meletakkannya di telapak tangannya. "Dan tak hanya Yixing-ssi saja yang sakit hati, hampir rata-rata pegawai disini kesal dengan anda. Anda tahu soal kopi pertama yang dibuatkan Yixing-ssi untuk anda? Itu adalah perbuatan Tiffany-ssi, ia sangat kesal karena anda menghinanya. Itu masih hal kecil saja sajangnim, kalau saja eomma tidak mengancammu dengan kutukan maka yang lain benar-benar akan terjadi. Aku tak perlu menyebutkan siapa saja yang awalnya memiliki niatan jahat pada anda, bahkan kalau anda tidak rapat diluar cafe dan langsung pulang sudah ada seseorang yang akan menyekap anda dan mungkin saja anda bisa terbunuh."

Suho terhenyak, ia tidak menyangka kalau sebenarnya ia terancam. "Er.. gumawo. Aku tak tahu harus melakukan apa, kau tahu aku tak pernah menyadari kalau sifatku sangat menyebalkan." Suho menanggapi. "Gwaenchana, tapi anda berhasil melalui itu semua dengan baik. Anda berhasil, oleh karena itu kami memberikan kalung itu. Kami berlima telah memberi mantra keselamatan, cinta, ketulusan, kejujuran, inner beauty untuk kalian berdua. Kami juga sangat senang ternyata tugas kami berhasil,"

"Luna sekali lagi aku benar-benar berterima kasih, aku akan memberikannya pada Yixing nanti. Dan.. sampaikan terima kasihku pada teman-temanmu terutama pada nenek sihir, um maksudku Victoria-ssi. Dan, tugas kalian sudah selesai? Apa setelah ini kalian akan pergi?" tanya Suho penasaran.

"Kami pasti akan menyelesaikan masalah lain, tapi kalau aku, aku masih akan bekerja disini. Lagipula kami hidup lebih lama daripada manusia pada umumnya, satu tahun bagi kami adalah lima tahun bagi kalian. Apa anda keberatan?" Suho menggeleng, "Tidak sama sekali, kau adalah pegawai yang baik." Luna mengangguk. "Baiklah kalau begitu, aku akan kembali bekerja. Selamat menempuh hidup baru sajangnim! Kekeke.."

"Mwoya?" Suho menyipitkan matanya.

. . .

3 years later

Cafe 'Kim' itu telah berkembang sangat besar, namun sekarang berubah nama menjadi 'JOONXING CAFE&BAKERY FACTORY' meski masih berada di bawah naungan Kim corp. Suho berhasil memajukan cafe itu dan memperbesarnya, dan tak hanya cafe ia pun juga membangun pabrik roti dan kue tepat di sebelah cafe tersebut. Tak ada pekerja yang dikeluarkan, justru Suho malah menambah banyak pekerja.

Soal kerjasamanya dengan ayah Kai juga sudah berjalan selama satu setengah tahun ini, ia juga masuk dalam daftar investor saham di perusahaan direktur Kim tersebut. Yixing dan Kyungsoo masih menjadi pattisier hanya kepala pattisier dipegang oleh Kyungsoo karena Yixing sendiri sudah menjadi seorang sekretaris. Baekhyun juga menjadi wakil bidang pemasaran, dan Chen diserahi tanggung jawab di bagian pabrik. Sementara Luna ia menolak ditawari jabatan yang lebih tinggi oleh Suho, ia masih tetap pada pekerjaannya sebagai pelayan cafe karena menurutnya itu adalah pekerjaan yang tepat untuk dirinya, akhirnya Luna memilih jabatan sebagai seorang supervisor.

Mungkin kali ini cafe tersebut benar-benar berada di puncak keemasannya, hanya satu yang ditunggu oleh semua orang kapan Suho dan Lay akan menikah. Mereka sudah menjalin hubungan tiga tahun namun belum pernah mengumumkan tanggal pernikahan, dan kadang orang-orang melihat mereka tak sebagai seorang pasangan. Suho masih sering menggerutu pada Lay, Lay masih sering menghina Suho. Mungkin itu keunikan mereka.

"Pst.. pst, kau tahu tidak Kim sajangnim katanya akan datang hari ini! Tapi jangan bilang ya, ini kejutan. Katanya baik Joonmyun sajangnim dan kekasihnya tak tahu." Jo Kwon berbisik kearah Himchan rekannya yang sedang menjaga kasir. "Hyung serius? Apakah yang hyung maksud itu ayah dari Joonmyun-ssi?"

"Tentu saja bodoh! Kabarnya, ayahnya lebih garang daripada Joonmyun waktu muda. Mengerikan!" pekik Jo Kwon, tidak sadar di belakangnya ada seseorang yang mendengar. "Ehem!" mereka menoleh, Luna berdiri di tempatnya dengan memegang sebuah map. "Eh Luna, ada apa? Rindu dengan oppa ya?" Himchan berusaha mencairkan suasana.

"Mungkin, tapi oppa lihat kedepan coba. Sudah ada berapa pelanggan yang mengantri? Atau mau aku laporkan pada sajangnim hm?" tanya Luna dengan nada santai tapi cukup menusuk. "N-ne jangan Luna, masa kau tega pada oppa yang tampan ini." Tanpa menjawab Luna langsung berbalik ke arah lain.

"Maaf membuat kalian menunggu." Himchan menundukkan badannya meminta maaf, untung saja ia sangat tampan sehingga pelanggan di hadapannya memaafkan.

"KIM SAJANGNIM DATANG!" teriak salah seorang office boy, buru-buru para pekerja berjajar di dekat pintu masuk di sisi kiri dan kanan sehingga membuat posisi seperti menyambut ayah Suho. "Maaf, maaf harap tunggu lima menit. Kami wajib melakukan ini kalau ada sajangnim datang, maaf ya.. sajangnim baru pulang dari luar negeri." Beberapa supervisor seperti Luna, Jihyun, dan Sohee meminta maaf pada pelanggan atas kurang nyamannya pelayanan.

"Pagi aboeji." Sapa Kris yang berdiri paling ujung dekat pintu. "Pagi Kris, dimana anak sialan itu?" suaranya cukup tajam. "Err.. dia ada di ruangannya." Jawab Kris. "Bahkan ketika ayahnya datang ia tak menyambutnya seperti pegawai lain, mentang-mentang memiliki jabatan paling tinggi."

"Bukan begitu aboeji, Joonmyun tidak tahu anda akan datang dan tempat kerjanya ada di lantai dua." Jelas Kris. "Ia tidak tahu ayahnya akan datang?! Mengapa ia tak mencari tahu sementara semua orang disini tahu? Biar aku menemuinya, dan kalian semua.. mengapa berdiri di tempat? Cepat kembali ke pekerjaan kalian! Aigoo apa Joonmyun yang mengajari mereka seperti ini?" gerutu Kim Youngwoon –ayah Suho- tersebut.

"Ish, pantas saja dulu Suho-ssi mengesalkan, ternyata buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya." Gerutu Baekhyun, Kyungsoo di sampingnya langsung menyenggol sikunya. "Ups, hehe. Sepertinya aku harus kembali ke ruangan."

Suho's room

Tok tok tok

"Masuk." Jawab Suho singkat, matanya masih fokus pada layar komputer miliknya.

Tok tok tok!

"Aish, nuguseyo? Aku kan sudah bilang masuk saja!" gertak Suho, namun kembali terdengar ketukan di pintunya bahkan lebih keras. Suho melangkah menuju pintu dan membukanya cepat, kesal sekali ia rasanya.

"Bahkan untuk membukakan pintu untuk ayahmu kau bahkan tidak mau?!" bentak orang di depan Suho. "A-Appa? Kapan appa kemari? Ada alasan apa? Mengapa tak memberitahuku dulu?" tanya Suho bertubi-tubi. "Dasar anak nakal! Bukannya mempersilahkan ayahmu duduk kau malah menyerangku dengan berbagai pertanyaan?"

Nyali Suho ciut, ia dulu selalu dekat pada paman bibinya yang tak menerapkan gaya hidup yang harus selalu berbahasa formal. Apalagi ia kuliah di Amerika, yang tak pernah menggunakan bahasa formal, sementara ayahnya adalah orang yang paling kejam paling menerapkan kesopanan paling disiplin dan paling paling yang lain.

"Mana kekasihmu yang manis itu?" Suho memutar bola matanya malas, rasanya ia benar-benar takut kalau ayahnya akan jatuh cinta pada Yixing. Habis kalau dengan Yixing rasanya Suho tak menemukan diri ayahnya yang sebenarnya, ia langsung berubah lembut.

"Ia tadi sedang dibawah sebentar," jawab Suho. "Kalau begitu kau ikut aku menemuinya!" Suho menggeleng, "Tapi appa bisakah kita berbicara di ruanganku saja? D-disana banyak pegawai.." ayahnya menatap Suho tajam. "Lalu kenapa? Biar sekalian semua pegawaimu tahu kau ini anak yang bagaimana, aish eommamu terlalu banyak memanjakanmu."

Dan Suho pasrah saja diajak ayahnya menemui Lay yang sedang berbincang dengan Baekhyun di bawah, beberapa pegawai menatap mereka bingung. Suho sungguhan ingin lenyap karena malu, tentu saja ia dulu atasan yang arogan dan sekarang ia dipermalukan ke-aroganan ayahnya sendiri dihadapan para pegawainya, mungkin sekarang ia bisa menyadari betapa sakit hatinya pegawai yang ia kata-katai di depan umum.

"Yixing-ah!" panggil ayahnya, Yixing menoleh dan menatap bingung. Tadi sewaktu penyambutan ia ada di kamar mandi jadi ia tak tahu kalau ayah Suho datang. "A-Aboeji?" panggil Yixing bingung. "Aigoo lama tak bertemu denganmu, bagaimana kabarmu?"

"Ah baik-baik saja aboeji, aboeji sendiri? Sehat-sehat saja bukan?" ayah Suho mengangguk, Suho menatap Yixing tajam seolah-olah memberi kekasihnya itu isyarat. Yixing menautkan alisnya, "Uhm aboeji, kita bicara dibelakang saja. Tidak enak disini banyak pegawai,"

"Gwaenchana, aku hanya memberitahu hal sederhana kok. Tunggu sebentar, kau Junmyeon panggil pak Lee diluar!" perintah ayah Suho, Suho mendengus kesal lalu keluar menuju parkiran mencari asisten ayahnya itu. Baekhyun mengambilkan minuman untuk mereka berempat dan ikut duduk sambil bersenda gurau bersama, Baekhyun tak takut pada ayah Suho selama ada Lay diantara mereka.

Suho kembali bersama pak Lee, mereka duduk mengitari sebuah meja bundar. "Pak Lee, mana undangan yang aku pesan tadi?" tanya Kangin, Suho mengernyit. "Undangan apa?" tanya Suho tapi tak dijawab oleh ayahnya. "Ini tuan," pak Lee menyerahkan undangan miliknya, undangan berwarna cokelat dihiasi sedikit warna gold yang terlihat elegan.

"Eommamu sudah mengurus soal gedung dan teman-temannya itu, bibi kesayanganmu Kim Heechul juga ikut andil." Kangin menyerahkan undangan itu ke Suho. "Undangan pernikahan kami?" tanya Suho, Lay malah menampilkan ekspresi horror.

"Memang kalian tak mau menikah?" tanya Kangin balik. "A-Annio bukan begitu appa, bagaimana menjelaskannya ya. Aku dan Yixing masih sama-sama sibuk, kami belum memikirkan soal pernikahan tapi kenapa malah appa yang repot-repot mengurusnya? Aku dan Yixing bisa mengurus semuanya sendiri kok appa."

"Kapan?" desak ayahnya kesal, Suho benar-benar merasa sedang dijodohkan... dengan kekasihnya sendiri. "Nanti appa, kalau aku tidak sibuk." Jawab Suho berusaha tenang. "Jangan alasan terus, menikah itu hanya butuh satu hari Suho luangkan waktumu sehari. Kalau kau menolak namamu kucoret dari daftar keluarga Kim, arra?"

"MWO? ANDWAE APPA!" teriak Suho kencang, Lay mencibir kalau sudah urusan begitu saja Suho baru takut.

. . .

"Maaf ya, seminggu lagi kita akan menikah kau jadi harus cepat-cepat mengabari keluargamu." Gumam Suho, mereka sedang duduk di sebuah taman. "Tidak apa-apa, kau menyesal ya?" tanya Lay, Suho menggeleng. "Tidak, sebenarnya aku bekerja giat untuk kita. Aku kira kita harus berhasil dulu sebelum menikah, tapi kalau kupikir-pikir tidak akan ada salahnya."

"Oh." Jawab Lay singkat. "Kau ngambek? Jangan ngambek baby~" Suho merajuk, Lay geli sendiri mendengar nada suara Suho yang manja. "Diam kau, ish Kim Joonmyun siapa memperbolehkanmu bertindak seperti itu?"

"Hehe, iya maaf. Yasudah kita pulang saja, lebih baik kau tinggal di rumah appa dan eomma saja aku juga akan pindah ke sana sampai hari pernikahan. Bagaimana?" tawar Suho, Lay mencoba tersenyum. "Terserah hyung saja." Jawab Lay.

"Bagus kalau begitu, siap untuk lembaran baru?" Suho mengacak rambut Lay. "Sangat siap!"

THE END

Aish ini apa, maaf aku selalu buruk bikin akhir cerita. Momen di restauran juga ga romantis-_- maaf ya maaf ;A; gatau deh aku bener-bener berusaha update di sela-sela macetnya ide wkwkw

Bener-bener bukan author profesional, but yeah i've tried as best as i can so guys i'm sorry for super late update T.T

I love you guys who still wait for me, i don't know how to say. I love you and thanks for your support!^^~ Ied mubarrok everyone~ kekekekekekeke. Minal aidzin wal faidzin ya, maaf kalau selama ini fict aku kurang berkenan, jelek, update lama dan lain-lain ini bener-bener salah aku ._.

Last, review? :D