"Eh?"

Mata ungunya menangkap sosok Pangeran Darah Murni tidak percaya! Dia begitu terperanjat saat Kaname dengan senangnnya mengajak Zero menjadi teman satu kamarnya. Hal ini yang menjadi pertama kalinya dalam seumur hidupnya menemukan seseorang yang sedia tinggal bersamanya selain Shizuka. Dan ini juga pertama kalinya dia minta tolong kepada orang lain! Apalagi dia itu seorang yang seperti Kaname! Dia tidak dapat mempercayainya, tapi dia harus. Kesempatan ini mungkin tidak akan ada lagi untuk waktu yang lama, tapi dalam benaknya akhir-akhir ini Kaname sangat perhatian dengannya namun dia menyangkalnya, vampire seperti dia tidak baik untuk diperhatikan.

'Mungkin Kaname hanya kasihan padaku. Tapi aku tidak mau dikasihani.'pikirnya dalam hati.

Merasa gelagat Zero menjadi berubah, Kaname menarik tangannya agar Zero lebih mempercayakan dirinya.

"Sekarang kemasi barang-barangmu, aku akan membantumu."

"Aku tidak butuh bantuan!"

"Zero, sampai kapan kau terus keras kepala? Aku bisa bantu."

"Tidak, aku bisa bawa sendiri. Kau sudah cukup baik." balas Zero sambil berjalan menuju barang-barangnya yang masih diatas kasur.

Kaname hanya tersenyum melihat pemuda yang sangat keras kepala itu. Tapi dalam hatinya dia juga senang karena Zero bersedia menjadi teman sekamarnya, walaupun tadinya menjadi masalah oleh para pelayannya. Tapi dia tidak bisa membiarkan Zero bersama vampire yang lain, karena kekuatannya. Makanya, karena dia seorang Darah Murni dan yakin untuk bisa menahan kekuatan Zero, dia akan menjadi pengawas untuk Zero.

Kaname duduk dikursi sedang membaca buku sambil menyilangkan kakinya, dia sudah berada di kamar megahnya. Berbeda dengan kamar-kamar lainnya, dia punya kamar yang khusus untuk Darah Murni atau Pemimpin asrama. Kamarnya bisa dua kali lipat dari kamar-kamar yang lainnya. Kain sudah di tugaskan olehnya untuk mencari kamar yang tepat untuknya, usahanya memang tidak mengecewakan. Malam ini sangat indah menurut Kaname, karena suasana yang sangat hening begitu menenangkan.

TOK

TOK

"Masuk." ucap Kaname.

Sosok silver masuk dari pintunya sambil membawa tas di kedua tangannya, wajahnya masih masam dan melangkah masuk. Dia hanya berdiri dan memandang Kaname serius. Yang ditatap menatap balik, tidak ada satupun dari mereka yang mau memulai pembicaraan, mereka hanya saling tatap-menatap. Dan akhirnya Zero tidak sanggup menahannya.

"Berhenti menatapku terus, vampire!"bentak Zero kesal.

"Heh..aku tidak akan melakukannya jika kau tidak menatapku duluan, lagipula kau juga vampire, Zero." jawab Kaname dengan seringaian.

Zero kembali mendengus dan membuang mata ke arah lain asalkan tidak menatap Kaname. Dia kesal mengatakannya tapi saat ini dia malu. Dia juga terlihat sangat bodoh didepannya! Menatap Darah Murni tanpa bicara apapun. Tapi pandangannya kembali menuju lantai karpet yang terlihat bersih, dia merasa ada yang aneh di dalam dirinya. Zero begitu bingung untuk memulainya darimana, perasaannya begitu tidak karuan diantara senang dan marah. Senang karena mendapatkan teman sekamar yang tidak peduli dengan siapa dirinya, tapi marah juga karena hatinya merasa aneh dan dia tidak mengetahuinya.

Surai coklat mengernyitkan alis disaat Zero sedang mengepalkan kedua tangannnya, sepertinya ada yang mengganggu pikirannya.

"Kenapa?"bisik Zero, Kaname berhenti saat berjalan ke arahnya. "kenapa kau mau sekamar denganku? Bukankah aku sangat berbahaya dan menyeramkan, tapi kau tidak mencoba menghukumku atau membunuhku. Kenapa Kaname?"

Yang ditanya masih menatap pemuda didepannya yang sedang menyembunyikan ekspresinya, dia tahu kalau Zero akan mengatakan ini.

"Kenapa tidak? Aku vampire Darah Murni dan masih diatasmu walaupun statusmu tidak diketahui. Namun, demi kenyamanan seluruh penghuni asrama Moon, aku akan melakukannya." jawab Kaname tenang.

Tidak seperti yang dipikirkannya, Kaname adalah vampire yang peduli dengan keselamatan klannya, dia juga vampire yang sangat disegani kalaupun dia ketahuan sekamar dengan vampire yang tidak jelas statusnya maka reputasinya akan tercemar pula.

'Darah Murni yang aneh, mirip sekali dengan Kaa-san.' pikir Zero.

Kaname tidak sabaran dan mencoba membawa barang-barang milik Zero, membuat yang punya menerjap kaget. Kaname membantu membawanya ke tempat tidur milik Zero yang berada di ruangan lain namun masih disatu tempat, tempatnya terpisah namun masih di satu tempat. Zero mengikutinya dari belakang dan tidak bilang apa-apa.

"Ini kamarmu, kau bisa merapikan barang-barangmu. Aku akan kembali ke tempatku, malam ini istirahatlah. Besok kita akan mulai hari pertama masuk kelas." ujar Kaname kemudian pergi meninggalkan Zero.

Melihat-lihat ke setiap sudut ruangan, dia mulai merapikan baju-bajunya di almari, dia menaruh peralatan mandi di area Kaname. Kamar mandi yang luas dan terdapat cermin raksasa dipajang di dinding. Dia segera menyikat gigi dan kembali ke kamarnya tanpa melirik ke Kaname sedikitpun. Setelah mengganti baju dengan piyamanya dia membaringkan tubuhnya sambil menatap l

angit-langit gelap. Kemudian menyamping dan mengambil sebuah benda yang begitu berarti baginya. Ditatapnya layar ponsel miliknya, dia tersenyum melihat sebuah email dari ibunya.

"Oyasumi, Kaa-san." bisik Zero lalu menutup matanya, tidur.

Di lain ruangan yang tidak sebesar kamar Kaname, figur pirang bermanik biru sedang mengadu kesal kepada surai orange.

"Kenapa Kaname-sama mau satu kamar dengan Zero? Bukankah dia berbahaya?" umpat Aido kesal.

Dia tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan tuannya itu, mengorbankan nyawanya demi penghuni asrama. Aido dan Kain tadi juga merasakan aura berat dan kuat, berbeda dari aura milik Kaname. Mereka yakin kalau aura itu milik Zero, karena mereka ikut menonton disaat Zero menjadi sesuatu yang berbeda, tanaman yang berduri melilit di sekitar tubuhnya dan menakutkan.

"Kita tidak tahu apa yang dipikirkan Kepala Asrama, Hanabusa. Mungkin ini yang terbaik menurutku. Apa kau mau tidur dengan ketakutan akan mimpi buruk, huh?" ledek Kain, namun jawabannya masuk akal. Kaname membiarkan Zero menjadi roommate-nya agar menahan atau mencegah kekuatan Zero.

"TIDAAAAAK!" teriak Aido.

Aido tahu kalau disaat dia bermimpi buruk pasti Kain akan menggodanya atau menjahilinya. Kejahilan sepupunya sudah tingkat iblis. Aido tidak mengharapkan mimpi buruk terjadi kalau sekamar dengan Kain.

Surai orange menyeringai devil, sangat senang sekali dia menggoda Aido.

TOK

TOK

"Nii-sama, apa kau masih bangun?" suara gadis manis sambil menginitip kamar Kaname.

"Yuki. Ada apa?"

"Tadi aku dan Maria-chan tidak bisa tidur, karena merasakan aura Zero. Nii-sama, dimana Zero?"ucap Yuki cemas saat menatap manik coklat kemerahan yang mirip dengannya.

"Tidak usah khawatir, Yuki. Hari ini dia mengalami hari yang berat, dia berpisah dengan Shizuka-san pasti membuatnya kesepian." kata Kaname masih dengan membaca bukunya.

"Nii-sama, aku mau membantu Zero! Dia memang kesepian tapi aku tahu dia tidak pernah mengatakannya dan memendamnya sendiri. Aku merasakannya tapi itu juga membuatku sedih. Kaname Nii-sama pasti merasakannya juga, kan?" kata Yuki dengan suara parau.

Kaname menatap adiknya tersenyum dan memeluknya sambil mengusap rambut kepalanya lembut. Tidak menyangka adiknya juga merasakan hal yang sama dengan rasa miliknya. Yuki memang gadis yang baik dan ramah, mungkin dia bisa berteman akrab dengan Zero bila dia bersabar.

"Hai, aku merasakannya juga, Yuki. Kembalilah ke kamarmu, semua akan baik-baik saja." ucapnya lembut dan melepaskan pelukannya.

Yuki tersenyum senang ke arah Kaname dan mencium kening kakaknya itu, Kaname melihat Yuki berjalan keluar kamarnya dan melanjutkan membacanya.

Di sela-sela seriusnya membaca terlintas kalau dia ingin mengunjungi kamar Zero. Memastikan kalau Zero sudah tidur atau belum, dia menuju ke kamarnya dan terlihat gelap. Berbeda dengan milik Kaname yang mempunyai ruangan yang memiliki jendela besar dan balkon. Tapi Zero tidak punya! Memasuki ruangannya yang gelap dan melihat sebuah gundukan di atas kasur. Dia tersenyum saat menemukan Zero sudah tidur, melihat wajah tenangnya saat tertidur membuat Kaname ingin menyentuh wajahnya.

DEG

DEG

Jantungnya tiba-tiba berdetak dengan cepat, wajahnya menjadi merah. Dia tidak seperti biasanya mempedulikan seseorang selain Yuki, tapi dia memiliki perasaan yang mengganjil di dalam dirinya saat melihat Zero sedang terlelap dengan pulasnya. Kaname tidak bisa melepas senyumannya dari pemuda yang tertidur, kulitnya yang putih, alis matanya yang panjang dan rapi mempunyai kesan 'sempurna' dimatanya.

'Tunggu...tunggu, baru saja aku berpikir Zero sempurna dimataku, Oh tidak! Aku harus mengusir pikiran ini. Tapi memang benar kalau Zero cukup sempurna untuk seorang laki-laki' benaknya.

Kaname merasa ada pergerakan dari tubuh Zero mencoba untuk sadar akan lamunanya, dia bisa melihat Zero sedang mengigau sesuatu.

'Kaa-san...' bisiknya.

Kaname melihatnya sedih bila saat ini, dia mengusap rambutnya lembut tidak menginginkan membangunkan Zero.

"Kau rindu Ibumu, Zero."bisik Kaname.

Dia sudah berada di ruangannya, tidur di sofa sambil menutup wajahnya dengan lengannya. Dia juga harus beristirahat, banyak pekerjaan yang harus dia lakukan besok.

Di suatu ruangan yang mewah dan luas, Shizuka tahu ini adalah ruangan pertemuan para Dewan Vampire. Para petinggi duduk diatas mimbar-mimbar dan mengelilingi Shizuka yang berada di bawahnya.

"Ratu Darah Murni, Hiou Shizuka. Anda ditahan karena telah membesarkan sebuah senjata yang bisa membasmi klan vampire. Dan juga kami telah mengirimmu dan anak adopsimu itu di kawasan vampire agar tidak membahayakan para orang penting disana. Kami mendengar saat ulang tahunnya kau mengundang pejabat penting vampire ke kediamanmu, itu adalah sesuatu yang tidak bisa dimaafkan." terang Kepala Dewan Vampire. Ichiou Asato.

Shizuka sangat geram saat mendengar kalau Zero adalah 'senjata' dia sudah cukup menderita karena ucapan-ucapan yang tidak masuk akal. Zero adalah putranya yang tidak bermaksud untuk melukai siapapun, dia anak yang baik. Bahkan dia hampir lupa kalau Zero adalah anak adopsinya.

"Aku tidak pernah membesarkannya untuk menjadi senjata atau apapun. Aku membesarkannya sebagai putraku sendiri, dan aku tidak peduli kalian akan menghukumku atau apalah selama tidak melibatkan putraku. Tetapi, jika kalian mencoba menyentuh kulit putraku aku akan segera merobek-robek tubuh kalian dan aku tidak sedang main-main." terang Shizuka kejam jika sudah berhubungan dengan keselamatan Zero.

Seluruh anggota Dewan terkesiap atas ancaman Shizuka, para Dewan tidak bisa bermacam-macam pada Ratunya. Namun, ini semua juga untuk keselamatan klan mereka. Shizuka adalah Darah Murni yang berbahaya jika sudah serius. Mereka tidak bisa mengelak keputusannya.

"Shizuka-sama, jika saat ini keadaan masih normal. Kami tidak akan mencolek sedikitpun putramu, tapi bila sesuatu bencana terjadi di sana dan itu berhubungan dengannya. Kami akan segera menangkapnya dan tidak segan mebunuhnya. Maaf atas kekurang sopanan kami tapi Anda akan ditahan dan diisolasi di tempat yang sudah kami siapkan. Semoga Anda tidak masalah dengan ini." lanjut Ichiou.

"Aku tidak keberatan." Shizuka mendesis.

"Baiklah, Kami akan membawamu besok. Sekarang Anda boleh tinggalkan tempat ini tapi masih dengan pengawasan kami."

"Terserah."

Malam yang dingin baginya, Shizuka sudah menyadarinya dari dulu. Dia sudah berencana untuk melindungi Zero dari tangan-tangan kotor. Dia tahu kalau keadaan Zero bisa menjadikan keuntungan bagi Dewan dan juga malapetaka untuk mereka. Tapi bila Zero sudah dapat mengendalikaan kekuatannya sesuai keinginannya, cepat atau lambat mereka akan segera memanfaatkan kesempatan tersebut. Maka dari itu, Shizuka lebih memilih untuk menghilang supaya mereka tidak bisa menyentuh putra tersayangnya.

'Zero, kau harus selamat' bisiknya pelan.