Buat OS9, Sasuke gak mati cos di rasuki arwah. Dia kan cuma teriak-teriak doang khas orang kesurupan. Cukup patah tulanglah he he. Lagian Sakukan gak ngebut di jalan lintas nabraknya, cuma gas dikit biar Sasu kegencet doang. Trussss yang penasaran sama rahasia Itachi, kalian tarik kesimpulan kalo itu kejahatan. Ada mayat dan Itachi enggan bahas. Yah mungkin dia malu membeberkan keburukan dirinya pada adik dan iparnya. Atau malas berurusan dengan hukum. Sesuai imajinasi kalian aja.
.
.
Sebuah penerimaan... (Family Area)
.
.
.
Sakura memandang nanar test pack di tangannya. Dua garis. Dan dia tahu apa artinya itu. Dengan gemetar dia membereskan semua peralatan yang baru di gunakannya. Sakura menyembunyikan semuanya. Gadis itu meraih ponselnya dan menekan tanda hijau. Butuh tiga kali deringan hingga panggilan itu di angkat.
"Ya, Saki?"
"Bisakah kita bertemu hari ini, Sasuke-kun?"
"Tentu saja."
"Aku akan ke rumahmu."
Sakura segera bersiap secara kilat dan melesat keluar rumah. Saat ini ayah dan ibunya bekerja, membuat Sakura tak perlu susah payah mendapatkan ijin. Itu wajar saja, mengingat bagaimana orang tuanya sangat tak menyetujui hubungannya dengan Sasuke.
Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Sakura untuk Sampai ke rumah Sasuke. Dengan gugup dia mengetuk pintu. Sakura sadar, apa yang di bawanya bukan berita bagus. Tapi dia tak mau menanggung ini sendirian.
"Sasuke-kun, kau tahu ini?" Sakura menyerahkan benda pipih yang memiliki dua garis pada Sasuke. Pria raven itu mengamati benda yang di sodorkan Sakura sebentar lalu mengedikkan bahunya acuh.
"Apa maksudmu Saki?" Sasuke justru menarik Sakura ke pelukannya. Di rumah ini hanya ada mereka, membuat dua orang itu bebas melakukan apapun tanpa khawatir.
"Dengarkan aku Sasuke-kun." Sakura menggeliat, memaksa kekasihnya itu menatapnya dengan serius. "Aku hamil." Lanjut Sakura saat yakin Sasuke mendengarkannya. Jeda beberapa detik sebelum terdengar desahan keras pria itu.
"Kau yakin? Kita baru dua bulan pacaran Saki." Sakura merengut mendengar ucapan Sasuke. Dia berdiri menghadap pria itu, menunjukkan arogansinya.
"Jangan lupa jika kita melakukan itu sejak awal kita pacaran. Aku tak mau tahu, kau harus menikahiku." Tandas Sakura tanpa mau di bantah. Sasuke mengerang gemas, pria itu berdiri dan jalan mondar-mandir.
"Aku belum siap." Lirih Sasuke frustasi.
"Aku juga. Tapi itu bukan alasan untuk membiarkanku menanggung ini sendiri. Kau pikir apa yang akan di lakukan orang tuaku jika kau bersikeras tak mau bertanggung jawab?"
Hanya butuh dua minggu untuk membuat para orang tua kalang kabut mempersiapkan pernikahan mereka. Sakura hanya diam saat ibunya menangis, menanyakan kenapa dia tega mempermalukan keluaga. Kenapa Sakura bersikeras berhubungan dengan Sasuke yang jelas berandalan dan tak mengenal kata bekerja. Gadis bersurai pink itu tak tahu harus menjawab apa saat orangtuanya mengkhawatirkan nasibnya nanti. Mengkhawatirkan kemampuan Sasuke menghidupinya.
"Saki, bagaimana jika aku kabur?" Ucap Sasuke saat menelepon Sakura dua hari sebelum pernikahan. Sakura menghela nafas.
"Kau tak akan melakukan itu, Sasuke-kun."
"Kenapa kau tak percaya? Sekarang aku sudah di dalam bis. Aku akan meninggalkanmu, aku benar-benar belum siap." Lagi, Sakura menghela nafas saat mendengar kekeraskepalaan Sasuke.
"Ku bilang kau tak akan berani meninggalkanku. Kau tak akan melakukan itu. Aku tau kau tak seberani itu, Sasuke-kun." Tandas Sakura lalu mematikan sambungannya. Dia mendengus. Meski mereka baru pacaran selama dua bulan, Sakura tahu Sasuke tipe orang yang tak tegaan. Meski di sisi lain pria itu terlalu bebal dan keras kepala.
Pernikahan mereka berlangsung sangat sederhana. Cukup mengucapkan ikrar dan syukuran kecil-kecilan. Tak ada teman yang datang karna memang sama sekali tak mengundang siapapun. Hanya tetangga kanan kiri.
Malam pertama mereka sama seperti malam para pengantin normal lainnya. Penuh dengan adegan erotis yang tak ada hentinya sepanjang malam. Mereka masih sangat menikmati itu. Hingga saat mereka sadar. Yang di butuhkan saat orang menikah bukan hanya sex.
"Lihat saja nanti, saat anak itu lahir kita akan tahu itu anakku atau bukan." Sakura tersentak mendengar ucapan Sasuke suatu hari.
"Apa maksudmu Sasuke-kun?"
"Kita baru pacaran dua bulan, dan kau hamil. Semua teman-temanku mengatakan jika aku hanyalah kambing hitam." Wajah Sakura memerah menahan amarah. Dia sadar, kehamilannya lebih tua dari usia hubungannya dengan Sasuke. Tapi sungguh Sakura tak menyangka jika yang di kandumgnya bukan anak Sasuke. Sakura tak pernah berpikir menjebak Sasuke atau apapun. Dia sungguh tak menyadari itu. Setidaknya hingga kehamilannya membesar.
"Jikapun benar kata mereka, kau bukan kambing hitam. Kita berkali-kali melakukan itu, Sasuke. Kau bukan orang bersih tak bersalah." Sakura mengaku salah karna tak menyadari jika anak yang di kandungnya bukan anak Sasuke. Tapi dia tak mau mengakui itu secara jelas. Sasuke bukan pria alim tak bersalah. Dia menikmati saat bercinta dengan Sakura dulu. Dan mereka sudah terlanjur menikah. Sakura tak sudi jadi janda.
Nyaris setiap hari Sakura dan Sasuke bertengkar. Meski pertengkaran itu hampir selalu di akhiri dengan sex. Mereka tetaplah remaja dengan hormon yang menggebu. Seperti hanya sex yang menyatukan mereka.
Kondisi keuangan dan Sasuke yang tak biasa bekerja, membuat Sakura harus ikut turun tangan mencari pundi-pundi uang untuk memenuhi kebutuhan mereka meski sedang hamil besar. Akibatnya, fisik Sakura tak kuat. Wanita muda itu akan jatuh sakit satu atau dua kali dalam sebulan.
"Kaa-san, Sasuke-kun mana?" Tanya Sakura pada ibunya yang sedang mengompresnya.
"Jangan pikirkan pria tak bertanggung jawab itu. Dia bahkan tak pulang untuk merawatmu tadi malam. Kaa-san sama sekali tak rela melihatmu seperti ini." Sakura hanya diam melihat ibunya mengusap sudut matanya.
Kemarin siang mereka bertengkar dan Sasuke pergi. Tak ada alasan pasti, mereka memang selalu bertengkar. Dari meributkan hal kecil sampai hal besar. Sakura tahu banyak perbedaan antara dirinya dan suaminya itu. Dari mulai pola pikir sampai kesukaan. Tapi Sakura tahu Sasuke akan selalu kembali kepadanya. Sejauh apapun pria itu pergi.
"Maaf Saki. Aku salah. Aku hanya seperti akan gila menanggung beban ini." Isak Sasuke. Pria itu kembali saat sore hari.
"Aku tahu. Ku pikir wajar saja kita sering bertengkar. Kita baru saling kenal dan pacaran selama dua bulan. Setelah itu terpaksa menikah. Masih banyak yang harus kita pahami, mungkin bahkan kita belum saling mengenal sepenuhnya." Bisik Sakura lembut.
"Aku tak akan meninggalkanmu lagi. Ayahku bilang menikah itu cukup satu kali." Mereka terkekeh bersama dan mengakhiri hari itu dengan sex yang menakjubkan.
Mereka masih bertengkar seperti biasa. Masih mengakhiri pertengkaran dengan sex. Masih bekerja keras berdua. Jangan berpikir Sasuke akan memanjakan Sakura, karna pria itu jauh lebih manja dari pada Sakura. Dalam segala hal, Sakura jauh lebih dewasa dari pria itu.
"Usia kandungannya sudah enam bulan. Bayinya sehat." Ucap bidan yang memeriksa Sakura. Ini pertama kalinya Sakura memeriksakan kandungannya. Wanita itu menelan ludahnya getir, tentu saja karena perasaan bersalah pada Sasuke. Dia seperti wanita jahat yang menjebak pria itu untuk menikahinya. Tak akan ada orang yang percaya jika Sakura tak menduga jika dia hamil sebelum bersama Sasuke.
"Bagaimana Saki?"
"Katanya bayinya sehat. Sasuke-kun mau pegang?" Pria itu menggeleng menatap perut Sakura.
Mereka pulang sembari bercerita banyak hal. Hal-hal tak penting. Sakura menyukai situasinya dengan Sasuke saat ini. Meski dia jelas menyadari Sasuke belum bisa menerima anaknya sebagai anak pria itu juga. Sakura tak memaksa. Karna dia juga tak akan membiarkan Sasuke meninggalkannya dan menjadi janda.
Dua hari setelah itu Sakura merasakan sakit yang mendera perutnya. Dia menahan rintihannya agar tak mengganggu tidur Sasuke. Tapi sepertinya semakin di tahan sakit itu semakin terasa. Sakura mengguncang pelan tubuh suaminya, berharap pria itu mau bangun.
"Sasuke-kun."
"Nggh apa Saki?"
"Perutku sakit." Sasuke mengerjapkan matanya. Tangan pria itu menyusup ke balik baju tidur Sakura. Mengusap pelan perut istrinya.
"Tidurlah Saki, ini masih malam."
Sakura mendesah menahan jengkel. Dia tahu Sasuke memang bebal, tapi kenapa tetap bebal di situasi seperti ini. Dengan tertatih Sakura keluar kamar meninggalkan Sasuke yang kembali tertidur. Dia ke kamar mandi untuk buang air kecil. Jantungnya mencelos saat melihat darah keluar dari kemaluannya.
Sakura membangunkan ibunya -mereka tinggal dengan orangtua Sakura sejak perut Sakura membesar- dan mengatakan jika dia pendarahan. Dengan panik ibunya membangunkan ayahnya juga Sasuke. Jangan tanya sekasar apa ibunya membangunkan Sasuke. Sakura mengerang berbaring di kasur ruang tengah.
"Panggil bidan." Teriak ibunya. Tempat tinggal bidan sepuluh kilo dari rumah. Dan sekarang jam dua malam.
"Eh, tapi ini masih malam." Ujar ayah Sakura.
"Kau tak lihat putri kita menahan sakit? Pergi panggil bidan sekarang!" Tandas ibunya tak mau di bantah.
Ayahnya dan Sasuke justru saling pandang ragu-ragu. Dua wanita itu mengerang, perbuatan buruk apa yang mereka lakukan hingga mendapatkan suami penakut. Iya, mereka takut karna jalan menuju ke tempat bidan melewati perkebunan lebar dan kanal-kanal yang katanya angker. Akhirnya dua pria itu membangunkan tetangga terdekat dan pergi bertiga.
Tak lama kemudian bidannya datang. Dia memasukkan satu jarinya ke kemaluan Sakura dan mengatakan jika Sakura mau melahirkan. Bidan itu meminta agar siapapun kembali pergi ke tempat bidan untuk mengambil peralatannya. Iya, dengan bodohnya tiga pria itu mengatakan sakit perut yang membuat si bidan hanya membawa peralatan sekadarnya.
Proses melahirkan tak berlangsung lama. Hanya butuh lima kali mengejan dan bayi berusia enam bulan dalam kandungan itu keluar. Dengan suara tangis yang tersendat-sendat. Lihat Sasuke? Ya, pria itu meringkuk di pojokan memperhatikan Sakura yang berjuang melahirkan. Tanpa inisiatif memberi semangat atau apapun. Dan Sakura tak bisa menyalahkan pria bebal itu. Dia memang bebal.
Bidan itu mengatakan agar bayi Sakura segera di rujuk ke rumah sakit karna lahir prematur. Dan yang pergi bersama bidan itu tentu saja Sasuke. Ke rumah sakit membutuhkan waktu satu jam perjalanan. Dan Sasuke kembali membawa kabar buruk. Bayi laki-laki Sakura meninggal dalam perjalanan.
"Seperti keinginanmukan Sasuke, putraku meninggal." Bisik Sakura di sela isakannya dua hari setelah pemakaman sosok mungil itu.
"Aku sudah menganggapnya sebagai anakku Sakura. Aku sungguh sudah berusaha menerimanya." Lirih Sasuke. Sakura terdiam.
Meski bebal, Sasuke adalah orang yang gampang menerima sesuatu. Dia yang mencuci segala hal yang berhubungan dengan darah pasca melahirkan Sakura. Pria itu selalu melakukan yang harus di lakukannya meski dengan mengeluh.
Setelah Sakura sehat. Mereka memutuskan untuk merantau. Selama ini yang membuat mereka bertahan tak kemana-mana adalah bayi Sakura. Dan yang membuat Sasuke bertahan berbulan-bulan di rumah keluarga Sakura adalah kondisi. Sakura tipe yang tak bisa menerima aturan. Tentu saja itu membuat wanita itu tak akan betah di rumah keluarga Sasuke. Bukan karna ibu Sasuke cerewet atau apa. Hanya perasaan. Sakura selalu menjadi pembangkang di rumahnya, dan dia tak akan sanggup bertahan di rumah Sasuke. Karna perasaan tak enak saat jadi pembangkang dan perasaan tak enak saat menahan diri.
Di perantauan kedewasaan Sakura di uji. Sasuke adalah pria manja yang tak pernah jauh dari orang tua. Tak mengerti arti bersabar. Pria itu terlalu mudah putus asa. Membuat Sakura selalu jengkel setengah mati. Tapi Sasuke adalah pria yang mau belajar. Tak malu mengakui kesalahan, dan mau berusaha meski masih terlalu sering mengeluh dan putus asa.
"Jangan nangis Sasuke-kun. Kalau tak sanggup duduk diam di sana, biar aku yang kerjakan sendiri." Tandas Sakura jengkel saat Sasuke marah-marah dan menangis karna terluka di saat mulai bekerja. Selanjutnya sakura mengabaikan pria yang masih bergulat dengan kejengkelan dan keluh kesahnya. Wanita itu memilih merampungkan pekerjaannya dan pulang. Sebagai catatan, mereka bekerja serabutan. Apapun. Bukan karna tak memiliki ijazah, tapi dengan bodohnya ijazah itu tertinggal saat mereka pergi merantau. Terlalu jauh bagi mereka untuk kembali hanya karna ijazah.
Lebih dari dua tahun Sakura dan Sasuke berjuang di kota orang. Belajar mendewasakan diri, belajar mengatur keuangan, belajar saling memahami sifat masing-masing. Dua tahun membuat kesukaan Sasuke dan Sakura perlahan menjadi sama. Dua tahun membuat pola pikir Sakura dan Sasuke nyaris mirip. Dua tahun membuat intensitas pertengkaran mereka berkurang.
Sasuke akan membiarkan Sakura mendownload segala hal berbau korea dan belajar menyukainya juga. Sakura akan mengimbangi pola pikir Sasuke dan menyusupkan prinsipnya sedikit demi sedikit. Sakura akan membiarkan suaminya mengamuk menghancurkan barang dan bicara dari hati ke hati saat pria itu lebih tenang. Sasuke akan membiarkan Sakura diam di rumah berkutat denagn hobinya selagi dia berusaha bekerja tanpa melibatkan Sakura.
Berkali-kali mereka terjatuh, baik dalam hal kepercayaan dan keuangan. Namun sedikit demi sedikit baik Sakura maupun Sasuke saling merangkak memperbaiki apa yang salah. Hingga pola pikir mereka nyaris seratus persen sama.
Empat tahun di perantauan sudah bisa membuat Sakura bersantai di kontrakan selagi Sasuke bekerja. Sasuke adalah pria manja yang tenaganya tak bisa diandalkan. Karna itu Sakura memaksa mereka menabung sejak tahun kedua di perantauan. Dengan tabungan yang tak seberapa, Sakura mempercayakan Sasuke untuk berbisnis. Menjual belikan barang. Terkadang memberi kreditan ke teman-teman dekat. Bukan hal mudah, seperti yang Sakura bilang kalau Sasuke itu bebal. Dia terlalu mudah percaya pada orang lain hingga rawan terkena tipu.
Lagi, Sakura harus mengontrol Sasuke. Meski di warnai pertengkaran namun Sasuke sedikit demi sedikit bisa menerima dan menerapkan cara Sakura. Pria itu selalu belajar dari kesalahan-kesalahannya. Hingga dia menomorsatukan pendapat istrinya di setiap segi usaha kecilnya. Hasilnya, kehidupan mereka beberapa kali lebih baik dari sebelumnya.
"Sakura, kapan hamil?" Sakura mendesah mendengar pertanyaan ibunya. Masalah baru di mulai. Bukannya Sakura tak sadar jika ada yang aneh dengan mereka karna Sakura tak kunjung hamil. Tapi wanita itu tak mau melakukan hal-hal yang akan merusak kebahagiaannya sekarang. Butuh perjuangan yang tak sedikit untuk mencapai tahap ini.
"Aku belum siap memiliki anak Saki." Ucap Sasuke di satu kesempatan. Sasuke pernah marah karna tuntutan hamil dari orang tua.
"Aku tahu."
"Bagaimana jika aku mandul? Semua orang tahu jika kau hamil sampai melahirkan. Bagaimana jika aku mandul Saki?"
"Terserah saja. Menua berdua denganmu bagiku tak masalah. Anggap saja kita pacaran."
Entah bagaimana orang selalu bilang ada masalah pada Sakura karna keguguran dulu, Sakura tak peduli. Entah salahnya memang ada pada Sakura atau ada pada Sasuke, itu bukan hal yang patut di ributkan menurut Sakura. Saat Sasuke menginginkan anak nanti, maka mereka akan berusaha bagaimanapun caranya. Namun, selama Sasuke bilang belum siap entah itu yang sebenarnya atau hanya pengalihan untuk membentengi dirinya yang malu karna mandul, Sakura akan diam. Dia bahagia saat ini. Tidak ada seorangpun yang boleh merusak kebahagiaannya bersama Sasuke. Entah itu tuntutan hamil dari orang tua atau apapun.
"Lihat Sasuke-kun." Sakura menunjuk stand penjual es serut. Saat ini mereka sedang berjalan-jalan santai di pusat perbelanjaan.
"Kau mau?"
"Hn." Sakura mengangguk antusias. Sasuke terkekeh lalu mengajak istrinya mendekati stand itu.
Antriannya tak terlalu panjang. Mereka berada di urutan ke empat. Saat mereka celingak-celinguk mengomentari hal-hal unik yang mereka lihat antrian di depan sudah kosong. Sakura girang saat tiba gilirannya.
"Berikan pada saya dulu, anak saya sudah menangis ingin itu." Ucap seorang ibu yang menyerobot giliran Sakura.
"Tapi anda harus antri." Tegur si penjual.
"Ah tak apa-apa. Kalau yang pacaran mah bisa nunggu bentar." Penjual itu memandang Sakura tak enak. Lalu memberikan bagian Sakura pada ibu-ibu itu lebih dulu setelah Sakura mengangguk sembari terkekeh kecil.
"Kau dengar Sasuke-kun? Kita di bilang pacaran." Ucap Sakura sembari menikmati es serutnya.
"Kita memang pacaran Saki." Sasuke menarik kepala Sakura dan mengecupnya.
Mereka terkekeh dan melanjutkan langkahnya. Lihat, siapa yang mau menghancurkan kebahagiaan ini dengan topik sensitif seperti anak. Toh mereka masih muda, anggap saja ini mengganti masa-masa sulit kemarin.
End...
