"Ino, ayo pergi!" Dengan segera Sasuke menarik tangan Ino—membawanya pergi meninggalkan tempat dimana dia bisa melihat dengan jelas Sai dan Sakura yang sedang berpelukan. Yanga ada difikirannya saat ini hanyalah pergi—menjauh—tak berguna melihat sesuatu yang tidak penting seperti itu. Dan entah kenapa perasaan aneh semacam itu bisa timbul dari seorang Sasuke Uchiha? Apa yang menyebabkan hatinya merasa kesal melihat Sai dan Sakura? Marah? Pasti—cemburu? Entahlah, masih diragukan, tapi jika kita minta Sasuke menjawabnya, dia pasti menjawab—tidak.
"Sasuke… auu…" Ino merintih saat Sasuke menarik tangannya keras, pergelangan tangannya saat ini pasti sedang mengalami masa terberat selama menjadi salah satu bagian dari tubuh Ino. "Sasuke… kau kenapa?" Tanya Ino—masih dengan menahan sakit dipergelangan tangannya. Tapi Sasuke hanya diam, dia masih memandang lurus ke jalan didepannya—dia tidak mendengarkan ucapan Ino. "Sasuke berhenti!" Ino sedikit membentak. Dan hasilnya, Sasuke menghentikan langkahnya. "Lepaskan tanganku!" Sasuke melepaskan cengkeramannya.
Sambil memijat pelan pergelangan tangannya, Ino mencoba menanyakan sesuatu pada Sasuke.
"Sasuke, kau kenapa?"
"Aku tidak apa-apa," jawab Sasuke datar.
"Bohong. Selama bersamaku, kau tidak pernah sekasar ini padaku. Pasti ada sesuatu 'kan?" Ino masih tidak yakin dengan jawaban Sasuke—yang dianggapnya hanya kebohongan.
"Aku tidak apa-apa. Terserah kau mau percaya atau tidak," jawaban yang bisa dibilang, sedikit kasar. Sejak kapan dia menjadi sekasar ini pada seorang Ino—yang notabene adalah gadis yang diidamkannya—sampai dia harus membenci saudara kembarnya sendiri.
"Aku tidak percaya," Ino masih kekeh dengan ucapannya. "Aku yakin, kau seperti ini, karena melihat Sai dan gadis pink itu 'kan?"
Onyx Sasuke membulat, menatap tajam mata indah Ino. "Kurasa, itu tidak ada hubungannya denganku."
"Aku tidak perduli bagaimana jawabanmu. Aku cuma mau tahu, siapa yang kau pilih. Aku atau gadis pink itu?"
Sasuke hanya diam—lalu melangkah-berjalan meninggalkan Ino. "Kau tidak perlu menanyakan pertanyaan semacam itu padaku."
'Aku… tidak mengerti dengan dirimu Sasuke. Tapi aku tahu, didalam hatimu cuma ada aku.' Batin Ino. 'aku menginginkan Sai, tapi aku juga tidak rela jika melihatmu dengan orang lain… mengapa aku egois seperti ini?' ini termenung ditempatnya.
Merasa orang yang bersamanya tadi tidak ada disampingnya saat ini, Sasuke menghentikan langkahnya. "Jadi kekantin?" ucap Sasuke
"Heh? Tu-tunggu!" Ino lalu mengejar Sasuke.
She is Mine
Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Mila Mitsuhiko
Warning : AU, OOC, gaje, abal, dan keanehan lainnya—tapi nekat dipublish.
Chapter #7
Suara isakan tangis yang tadi sempat terdengar—perlahan menghilang. Sakura telah berhenti menangis. Menangis 15 menit, mungkin sudah cukup baginya untul meluapkan semua perasaan sakit yang dirasakannya. Beruntung, ada Sai yang rela meminjamkan dadanya untuk tempat bersandar Sakura. Beruntung, ada Sai yang dengan sabar menemani Sakura dan menenangkannya dengan belaian-belaian halus pada rambut merah muda Sakura. Ya, beruntung, apa jadinya Sakura tanpa Sai saat ini. Sakura harus menyadari itu—menyadari betapa Sai tulus menemaninya.
Sambil mengusap bekas-bekas air mata dipipinya, Sakura melepaskan dirinya dari Sai. Tampak bekas basah pada seragam putih Sai.
"Sai, terimakasih atas semua ini," ucap Sakura pelan. "Dan... maaf, seragammu jadi basah begitu."
"Hmm... tidak apa-apa. Nanti juga kering," Sai selalu mengeluarkan kata-kata halus—dia tidak ingin menyakiti hati Sakura, dia hanya ingin Sakura merasa nyaman saat berada didekatnya. "Sakura, apa... kau sudah merasa lebih baik?"
Sakura hanya menjawab dengan anggukan.
Sai menghela nafasnya. "Syukurlah kalau begitu. Hmm... bagaimana kalau kita santai-santai ditaman dulu?" Ajak Sai
Lagi-lagi, Sakura hanya menjawab dengan anggukan.
.
xXXx
.
Sai dan Sakura duduk disebuah kursi kayu panjang, kursi yang berada ditepi taman sekolah. Sai mengajak Sakura kesini, berharap Sakura dapat merasa lebih baik setelah menangis tadi. Karena disini, suasananya sangat tenang dan damai.
"Sai... apa aku sangat bodoh ya?" Tanya Sakura
Sai menggeleng.
"Mengapa aku jadi seperti ini?" Sakura memijit-mijit keningnya. "Mengapa aku harus merasa sedih melihat Ino dan Sasuke? Seharusnya, aku tidak boleh begitu 'kan Sai?"
"Ya, aku rasa tidak perlu," jawab Sai datar. Mata onyxnya hanya tertuju pada wajah Sakura yang menunduk-memandangi tanah taman yang ditumbuhi rerumputan.
"Ternyata Sasuke menyukai Ino ya?"
"Ya, sejak kecil... tapi dia tidak mau mengakuinya padaku," Sai menatap kearah pohon Sakura didepannya.
"Dia jahat!" ucap Sakura. "Saat aku sudah mulai menyukainya, mengapa dia malah mempermainkan hatiku? Dan juga... mengapa aku bisa menyukainya? Aku benar-benar bodoh! Ini semua salahku!" rutuk Sakura. "Mengapa didunia ini, ada orang sejahat itu!"
"Sudahlah, jika dia menyakitimu..." Sai menghentikan sebentar ucapannya. "... akan selalu ada aku disampingmu," lanjutnya. Sai tersenyum tulus pada Sakura yang saat ini memandangi wajah manisnya. Sakura membalas senyuman itu. Senyuman yang bisa menenangkannya.
"Sai, terimakasih ya. Kalau kau tidak ada, aku pasti akan mati. Kau tahu, kau sangat berarti untukku!" ujar Sakura. Dan kalimat itu membuat Sai merasa bahagia, Sai merasa ada harapan di hati Sakura untuk menyukainya. Masih bisa membuktikan bahwa dia yang sungguh-sungguh menyayanginya. "Kau memang sahabatku yang paling baik!" lanjut Sakura. Dan kalimat terakhir ini, lumayan menyakitkan untuk Sai.
Sekali lagi, Sai tersenyum.
"Hmm, aku duluan dulu yah! Dahh~!" Sakura berlari meninggalkan Sai.
.
xXXx
.
Suasana siang hari ini begitu cerah, saking cerahnya rasa gerah dapat dirasakan seluruh siswa-siswi SHS. Peristiwa seperti ini bisa dibilang langka terjadi disekolah ini—mungkin... akibat pemanasan global? Tapi, meski panas seperti apapun, tak menghentikan 2 orang yang telah sepakat bertemu di depan laboratorium biologi, entah apa yang akan mereka lakukan, hanya saja... pasti sangat penting hingga mereka merelakan waktu istirahatnya.
Tampak sepasang saudara kembar berdiri saling berhadapan didepan pintu Lab. Biologi yang saat ini sedang kosong. Tatapan-tatapan diantara mereka menyiratkan tanda ada yang tidak baik diantara keduanya. Seakan ingin saling menerkam satu sama lain.
"Mau apa kau ajak aku kesini?" Tanya lelaki dengan suara dingin—mengawali pembicaraan diantara mereka.
"Aku... cuma ingin mengatakan sesuatu padamu... mengenai Sakura," jawab sang adik dengan nada santai—dia masih bisa mengontrol dirinya.
"Cih, kenapa selalu dia yang kau masalahkan?" Lelaki pertama tadi mulai kesal. "Aku tidak mau tahu."
"Sasuke, kau itu kekanak-kanakan. Kalau kau ingin balas dendam padaku? Jangan sakiti orang lain! Bukan Sakura yang harus kau sakiti!"
"Hn. Kekanak-kanakan? Aku tidak perduli dengan semua itu, Sai," ucap lelaki bernama Sasuke tadi.
"Aku tahu, kau menyukai Ino 'kan?" tanya lelaki yang bernama Sai tadi. "Kalau begitu, lepaskanlah Sakura! Agar tidak ada lagi yang perlu kau permainkan!"
"Oh ya? Setelah itu. Kau akan bahagia dengan Sakura? Sedangkan aku? Aku yakin... Ino masih mengharapkanmu!" Ucap Sasuke yakin. "Lagi pula, aku tidak akan membiarkanmu bahagia secepat ini. Kau harus merasakan dulu—"
"Merasakan apa? Semua ini tidak berguna, Sasuke! Hanya akan menyakiti Sakura. Dan aku tidak ingin terjadi."
"Aku tidak perduli!"
"Tapi—"
"Asal kau tahu saja, Sai. Sakura itu masih milikku. Aku tidak akan melepaskannya! Aku tidak rela jika dia bersamamu!"
"Bagaimana dengan Ino? Siapa sebenarnya yang kau inginkan?"
Sasuke terdiam.
"Lagi pula, kau tidak pantas untuk Sakura. Sangat tidak—"
"Jadi maksudmu... kau yang pantas untuknya?"
"Tentu saja! Kau hanya bisa membuatnya sedih, terluka, marah... bahkan menangis!" Sai mengatakannya tegas, berharap Sasuke menyadari kesalahannya. "Dan kau tahu, setiap dia terluka atau menangis, selalu ada aku disampingnya. Ya, aku satu-satunya orang yang dapat mengertinya. Hanya aku!"
Sasuke menatap onyx Sai tajam, terlihat dia sangat ingin meninju adiknya ini.
"Kau harus menyadari itu semua Sasuke. Kau hanya dapat membuatnya terluka! Kau tidak pantas untuk—"
"Memangnya siapa yang ingin bersamanya? Aku kan cuma mempermainkannya!"
"Bohong. Aku tahu kau mulai menyukainya. Aku tahu Sasuke," Ucap Sai tenang. "Aku tahu, karena kau kembaranku."
"Cih, semua ini tidak penting bagiku. Hanya buang-buang waktu saja!" Setelah menyelesaikan kalimatnya, dengan segera Sasuke meninggalkan Sai. Dia tak ingin berlama-lama adu debat dengan adiknya ini. Hanya akan menjadi beban difikirannya.
'Aku tahu Sasuke, kau mencintainya... ya... aku tahu...'
'Tapi... aku akan segera merebutnya...'
.
xXXx
.
Semenjak insiden Sakura menangis, Sakura menjadi enggan menegur Sasuke-ataupun melihatnya. Entah mengapa, Sakura ingin menghindarinya. padahal, apa yang perlu ditakutkannya? Seharusnya dia bersikap biasa saja, toh... dia juga bukan pacar resmi Sasuke-meskipun banyak orang yang mengira demikian. Hanya saja... saat melihat Sasuke, Sakura merasa sangat ingin marah, kejadian waktu itu, masih terekam jelas dibenaknya.
Seperti hari ini. Seharian Sakura sama sekali tak menganggap Sasuke ada. Saat sarapan pagi, berangkat sekolah. Ketika istirahat sekolah. Pulang sekolah, bahkan ketika bersama-sama memasuki rumah ketika pulang sekolah. Sakura bersikap seakan Sasuke tak ada disampingnya. Bahkan hari ini, dia melewatkan makan siangnya dengan alasan banyak tugas-yang padahal dilakukannya karena tak ingin semeja makan dengan Sasuke. Ya, mungkin kekanak-kanakan, mengingat kejadian ini sduah berhari-hari yang lalu.
Meskipun demikian, Sasuke tidak perduli akan semua itu. Lagi pula, untuk apa dia perduli?
Ya, meskipun ada rasa sedikit kehilangan di hati Sasuke. Kehilangan teman bertengkar.
Sampai jam makan malam pun, Sakura sama sekali belum keluar dari kamarnya. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi perutnya yang pasti sudah keroncongan.
"Sai, coba kau lihat Sakura. Dia belum makan seharian!" pinta Mikoto
"Baik!" Sai bangun dari kursinya. Lalu berjalan menuju lantai dua-dimana kamar Sasuke, kamarnya dan kamar Sakura berada.
Tok Tok Tok
"Sakura, buka pintunya!"
Tidak ada jawaban.
"Sakura...! Kau belum makan 'kan? Ibuku mengkhawatirkanmu! Kita akan makan bersama!" Sai masih berusaha mengajak Sakura.
Tapi... masih tidak ada jawaban.
Sai memutuskan untuk membuka pintu kamar Sakura. Dan pada saat dia berhasil membukanya, tampak gadis cantik berambut pink tengah tertidur sambil memeluk buku tebal-kelihatannya, dia baru saja selesai belajar.
"Hmm... sudah tidur ya. Ya sudahlah."
Sai lalu meninggalkan kamar Sakura-tak lupa menutup lagi pintu kamarnya.
.
'huh... akting-ku berhasil. Ternyata dia mengira aku pura-pura tidur. haha.'
.
xXXx
.
Sekitar jam 2 malam, Sakura terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba saja dia merasakan sesuatu yang tidak enak diperutnya. Dia sudah mencoba memeluk guling dengan erat, tapi... rasa aneh inisama sekali tidak berkurang. Mungkin efek dari tidak makan seharian.
"Aduh... aku lapar..." keluhnya. Ya, salah sendiri siapa suruh tidak makan siang dan makan malam? "Aku ingin makan... tapi... ini sudah sangat malam. Mana ada makanan lagi..." Ujarnya sambil menekan-nekan perutnya yang tak sabar minta diisi.
Tiba-tiba...
Tok Tok Tok
terdengar suara ketukan pintu. sempat membuat Sakura terkejut, tapi... akhirnya dia memutuskan untuk membuka pintu kamarnya. Dan ketika dia membukakan pintu, terlihat seseorang sambil membawakan semangkuk mie instan. Dimalam seperti ini? Siapa? Siapa lagi kalau bukan...
"Sasuke? Mau apa kau?"
"Cuma memberikanmu ini. Kau 'kan tidak makan seharian. Aku yakin, saat ini perutmu dilanda masalah besar."
"AKu tidak lapar! Aku benar-benar—"
Krrukkk
Terdengar suara aneh-dan itu berasal dari perut Sakura. Sasuke sampai menahan tawa dibuatnya.
"Iya iya aku lapar! Cepat masuk!" Sakura memerintahkan Sasuke masuk untuk membawakan mie yang dibawanya. Sesampainya didalam kamar Sakura, Sasuke meletakkan semangkuk mie yang tadi di bawakannya-dan dengan secepat kilat disambar Sakura yang sudah kelaparan kelaparan.
Sakura memakan mie dengan sangat lahap, bahkan dia tak memperdulikan panasnya mie dan Sasuke yang heran memperhatikannya. Yang Sakura fikirkan saat ini hanyalah perutnya yang sudah tak sabar diisi.
Sekitar sepuluh menit kemudian, semangkuk mie yang tadi dibawakan asuke, sudah habis dilahap Sakura yang memang sangat kelaparan. Sakura segera meneguk segelas air putih yang ada diatas meja belajarnya.
"Haaahh... kenyang..." ucap Sakura sambil mengusap-usap perutnya yang telah terisi penuh. Matanya kemudian beralih pada Sasuke yang duduk disampingnya. "Hmm... terimakasih atas mie-nya."
"Hn... ya."
Krik krik krik.
Suara jangkrik terdengar diantara kebisuan mereka.
"Hmmm... Sasuke. Terimakasih... err... su-sudah menjemputku dirumah Temari... beberapa hari lalu," ucap Sakura gugup
"Hn... kau sudah tahu itu?"
Sakura mengangguk. "Ya, Temari yang menceritakan semuanya."
"Makanya. Jangan seenaknya tidur dirumah orang! Menyusahkan saja!"
"Ke-kenapa kau bilang begitu! Aku tidak meminta kau menjemputku!"
"Cih, ya sudahlah. Aku kekamarku saja!"
Sasuke bangun, lalu ketika baru saja selangkah meninggalkan Sakura.
JLEB
Semua menjadi gelap. Penerangan diruangan itu mati, sepertinya listrik padam.
Dengan refleks Sakura yang berada dibelakang Sasuke memeluk Sasuke dari belakang. Bahkan dia tidak memikirkan apa yang akan Sasuke lakukan padanya karena hal itu. Dia tidak perduli, karena dia sangat takut dengan kegelapan. Begitu sunyi dan menyeramkan.
"Sasuke, jangan pergi!" Pinta Sakura disela-sela ketakutannya.
"Aku mau kekamarku."
"Aku IKUT!"
"Hn?"
"Aku tidak mau sendiri disini! Pokoknya aku mau ikut mau ikut mau-"
"Baiklah, ayo cepat!" Sasuke lalu menuntun Sakura menuju kamarnya-dalam kegelapan.
xXXx
Setelah sampai dikamarnya, Sasuke segera meraba-raba meja di kamarnya, mencari-cari sesuatu yang dapat menimbulkan cahaya disaat gelap seperti ini. Dia menemukan ponselnya, lalu dengan cahaya yang bersumber dari ponselnya tadi, Sasuke mencari-cari sesuatu didalam laci, dan... ketemu. Sebatang lilin dan korek api. Sasuke menghidupkan lilin tersebut, lalu meletakkannya diatas meja yang berada tak jauh dari kasurnya. Setidaknya, ada cahaya dalam ruangan itu.
Sasuke merebahkan dirinya diatas kasur, sedangkan Sakura... dia bingung, apa yang harus dilakukannya dikamar ini?
"Sa-sasuke, aku tidur... dimana?" Tanya Sakura
"Terserah."
'Cih, maksudnya apa sih?' Sakura mendekati sasuke yang telah menutupi dirinya dengan selimut tebal. "Kau tenag saja, nanti kalau lampu sudah menyala, aku akan pergi dari sini. Jadi... jangan berfikiran yang aneh-aneh!"
"Hn."
Sakura lalu berbaring dilantai yang dilapisi permadani. Dia tidak memilih untuk tidur diatas sofa karena cahaya lilin tak menjangkau sofa yang letaknya memang agak jauh dari meja.
Baru beberapa menit Sakura berbaring dilantai, Sakura telah merasakan kedinginan yang luar biasa, membuat tubuhnya sedikit menggigil.
"Brr... di-dingin sekali," Sakura bangun, lalu mendekati kasur. "Hmm... Sa-sasuke... a-aku tidur disampingmu... yaaa? Di-dibawah dingin...?"
"Hn."
"Terimakasih!" Sakura langsung menjatuhkan dirinya disamping Sasuke, namun dia menjaga jaraknya agar tidak begitu dekat dengan Sasuke, sehingga dia tidak kebagian selimut. Tapi sakura tidak perduli, sudah tidur diatas kasur saja dia sudah bersyukur.
Tak lama kemudian... lampu menyala. Sasuke segera meniup lilin yang terletak diatas meja.
"Hei, kau bilang kau mau kekamarmu kalau lampu sudah menyala?" Ucap Sasuke pada Sakura yang saat ini sedang dalam posisi membelakanginya.
"...brr.."
Sasuke mendekatkan wajahnya pada Sakura. "Hn... sudah tidur rupanya," lalu Sasuke bisa melihat dengan jelas bibir Sakura yang bergetar karena kedinginan. "Hn... kedinginan?" Sasuke lalu membagi selimutnya kepada Sakura. Dan mereka dibawah selimut yang sama. Dari posisi ini Sasuke bisa melihat punggung Sakura yang sedikit bergetar dan rambut pink indahnya.
Tapi, sepertinya selimut saja tidak mempan untuk Sakura. Buktinya tubuh Sakura masih bergetar.
"Cih, merepotkan saja!" Lalu dengan perlahan Sasuke mendekati tubuh Sakura, menggerakkan tangannya lalu dengan perlahan melingkarkan lengannya diperut Sakura. Wajah sasuke bahkan bertemu dengan rambut pink Sakura. dan aroma wangi tercium di hidung Sasuke- menimbulkan efek yang sangat nyaman dan menenangkan. Tanpa sadar Sasuke semakin mengeratkan pelukannya pada Sakura.
"A-apa yang aku lakukan?" Gumamnya. "Ti..tidak, aku hanya ingin menghangatkannya, 5 menit lagi aku akan melepaskannya..."
xXXx
Pagi telah datang. membuat cahaya matahari menyusup masuk kedalam kamar Sasuke. Kicauan burung yang merdu, membuat Sakura terbangun dari tidur lelapnya.
"Hoooaahh..." Sakura perlahan membuka matanya. Lalu perasaan aneh muncul "Se-seperti ada yang memelukku?" Sakura membalik tubuhnya, lalu tampaklah Sasuke yang masih terpejam. "Ja-jadi semalam kami..."
"Hn... nyam-nyamm..." Sasuke mengigau dalam mimpinya. Sakura mengangkat alisnya melihat tingkah aneh Sasuke. Apalagi ketika Sasuke membasahi bibirnya sendiri dengan lidahnya, seperti akan menyantap sesuatu.
'A-apa yang dia mimpikan?' batin Sakura
Sasuke semakin mendekati wajah Sakura. 'Ma-mau apa dia?' Sakura panik
Makin dekat, dekat dan..
'BUGHH'
"AUUU... hei apa yang kau lakukan!" Ucap Sasuke yang langsung bangun seketika, sambil mengusap sudut bibirnya. "mengapa kau meninjuku?" Tanya Sasuke pada Sakura yang telah bangun dan berada lumayan jauh dari kasur.
"Harusnya aku yang bertanya begitu, mau apa kau? Pasti kau sedang memimpikan hal-hal mesum! Huh... untung saja aku langsung menyadarinya.. kalu tidak, kau pasti sudah melakukan sesuatu padaku!" Ucap Sakura. "Atau... kau sudah melakukan sesuatu saat aku tidur? AAAAAA... dasar mesum!" teriak Sakura lalu keluar dari kamar Sasuke.
"Mimpi hal mesum? Cih... padahal sedang asik mimpi makan tomat raksasa, malah dibangunkan dengan cara seperti ini."
Siang hari ketika istirahat pertama di SHS.
Sakura, Temari dan Hinata tengah berjalan disepanjang koridor sekolah sambil memluk buku yang barusan mereka pinjam di perpustakaan, lalu mereka dikejutkan oleh gadis berambut pirang panjang, yang menatap mereka sinis.
"Aku ingin bicara denganmu, gadis pink!" Ucapnya tajam
Bersambung~...
Yoyo... selesai.,...
Hmm? Gimana? Ngebosenin kah? Aneh kah? Gajekah? Kepanjangan kah? Gak nyambungkah? Atau.. lumayan kahh?
AKu cuma mau minta maaf kalau episode ini gak memuaskan, m(_ _)m dan seandainya banyak kesalahan.
dan Maaf aku gak bisa CEPAT meng-apdetnya :)
Dan aku mau berterimakasih buat semua yang bersedia membaca.
Special Thanks to:
LuthMelody, ZephyrAmfoter, Rievectha Herbst, Ame chochoSasu, Sisi no Zhuki, Miss Uchiwa sasuSaku's Lover, Kiro yoiD, SS, Youchi Hikari, May Kazami, Uchiharuno Rin, chrls SasuSaku FC, Michiru No Akasuna, Ran Uchiha, Aurellia Uchiha, Shinji aishiteru, Nakamura Kumiko-chan, 4ntk4-ch4n, Shard VLocasters, Silla ichigo uchiha, Haruchi Nigiyama, Yusha'chan Higurashi, Just Ana, Widdiw xie Kabogoh Sasuke, aya-na rifa'i g login, haruko kagami, Yumicho Kanukawa, Rahmie uchiha....
makasih atas Review-nya :) berkat kalian, aku jadi semangat ngetik.. ^_^
Oke... daahhh.. keep RnR yaaww?
