Fanfic
Pair: SasuNaru
Rating: M
Genre: Supernatural/Mystery
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: OOC/BL/YAOI/EYD Hancur/Masih Pemula/Masih Membutuhkan Bimbingan/
Note:
ALPHA & OMEGA
Vampire – Werewolf
CHAPTER 7
Kesunyian terasa begitu berat. Ruang tamu yang kini terisi oleh tiga orang bemarga Uchiha menampakan ketegangan untuk masing-masing setiap penyandang marga.
"Apa maksud ayah ingin mengorbankan Sasuke?"Itachi memulai pertanyaan. Keterkejutan akan ucapan sang ayah yang tanpa basa basi memanggilnya keruang keluarga. Mengatakan deretan kalimat yang membuatnya menahan nafas.
"Untuk membangkitkan kembali moyang kita, bagaimanapun Sasuke akan di korbankan"Fugaku, kepala marga Uchiha kembali bersuara. Tak nampak rasa beban dari setiap kosakatanya walaupun pendengaran tajamnya cukup jelas mendengar suara sesegukan tangis sang istri yang sama sekali belum terhenti saat keputusan ini dibuat.
"Kenapa harus Sasuke?"Itachi berucap. Menahan amarah yang siap terlontar dari mulutnya. Apa maksud setiap perkataan ayahnya? Mengorbankan Sasuke? Untuk moyang mereka? Yang benar saja. apa mereka tidak puas memperlakukan Sasuke seperti sampah sejak dia lahir dan sekarang apa? Mengorbankan dia sama saja dengan membuang jiwanya. Brengsek.
"Bagaimanapun, membangkitkan kembali jiwa moyang Uchiha bisa membuat kita lebih leluasa mengatur para klan vampire lainnya, bahkan klan Hyuuga sekalipun"Menatap tajam sosok Itachi di depannya "Dan hanya Sasuke sampah di klan kita"Fugaku melanjutkan ucapannya. Tak peduli bagaimana kedua matanya kini mendapati rahang anak sulungnya mulai mengeras. Menahan emosi atas ucapannya.
Kekuasan adalah pilihan terbaik untuk klannya saat ini. Bangkitnya klan Hyuuga pada masa-masa ini dalam beberapa hal, perekonomian, permainan saham hingga permainan licik dalam pengendalian klan vampire lain cukup membuat was-was klan Uchiha. Pemilihan membangkitkan jiwa moyang klan Uchiha yang mereka ketahui bisa mengendalikan klan-klan terkuat vampire. Darah jiwa dengan segala kekuatannya.
Dan sebagai pemimpin klan saat ini. Dirinya ditugaskan untuk mengorbankan salah satu anaknya untuk menjadi wadah jiwa baru bagi moyang Uchiha. Sasuke adalah pilihan terbaik untuk hal ini. Tak ada gunanya menyimpan bocah yang bahkan tak bisa melakukan apa-apa selain mendengung dengan otak bodohnya di dalam klan.
"Bukankah sudah cukup kalian menyiksa Sasuke dengan semuanya, kenapa? Bahkan untuk hidup tenang sekarang saja kalian seperti begitu sangat menyulitkannya"Habis sudah kesabarannya. Cukup dengan segala ucapan ayahnya. Pemikiran bodoh, para tetua bodoh.
"Salahkanlah dia yang terlahir tidak berguna-
"ANATA!"Cukup sudah dirinya mendengar ucapan menyakitkan itu. Bagaimana mungkin suaminya dengan mudah menganggap semuanya seperti hal sepele.
"Bagaimanapun keputusan ini tidak akan bisa dirubah"Berucap untuk terakhir kalinya. Fugaku beranjak dari tempat duduknya.
.
"Ini salah ibu, ibu tidak bisa menghalangi kehendak tetua"Tangisan kembali pecah.
Itachi meremat tangannya. Tidak, dia tidak akan membiarkan mereka menggunakan Sasuke. Bagaimanapun caranya.
.
"Jika ingin teh, kau bisa mengambil sendiri di kulkas"Naruto berucap. Menatap Shikamaru yang kini mendudukan diri pada salah satu sofa kecil di ruang kamar tersebut.
"Yah.. "Tak bersemangat untuk menjawab.
"Apa begitu melelahkan menjaga bocah itu"Naruto mengernyit.
"Seperti yang kau tahu, dia beberapa kali mencoba kabur, dan lihat?"pemuda itu menunjukkan sedikit benjpl pada bagian belakang kepalanya. Naruto sedikit menahan tawanya yang hendak lepas "Untuk kali ini dia berhasil, tanpa Itachi, dan kepalaku benjol akibat vas super besar koleksiku, bagus sekali"Lanjutnya.
Naruto mengernyit. Ya, dia tidak tahu pemuda itu beberapa kali hendak kabur, dan arah tujuan sang bocah autis itu adalah apartementnya. Baru saja beberapa saat lalu ah, sial. Bahkan Naruto malas untuk mengingatnya. Bagaimana tidak bocah itu hampir membuatnya 'lepas kendali'. Dan bagusnya dibabak buka-bukaan pakaian dengan lempar-lempar selimut, Shikamaru datang dengan rantai di tangannya. Melewati candela kamarnya, pemuda itu langsung menarik Sasuke dari atas tubuhnya. Mengikatnya sekuat mungkin hingga bocah gila itu kini diam mendudukan diri di sudut ruangan kamar dengan pandangan polos menatap dirinya yang diam di atas ranjang. Bokongnya masih sakit untuk bergerak lebih.
"Aku tidak tahu akan sesulit itu"Naruto berucap.
"Kau tau, ini mungkin gila, tapi kenapa tidak kau biarkan saja bocah itu disini, bersamamu"Ucap Shikamaru, menatap malas sosok bocah yang terlihat kembali mengeluarkan suara dengungan.
"Kau gila? Bersama dia sama saja mengantarkan nyawa, darahku bisa di sedot habis olehnya dan lagi, bagaimana keselamatan kepera-keperjakaanku?"Ucap Naruto menggebu-gebu dengan sedikit kata yag di ralatnya. Ambigu.
"Perlu ku ingatkan kau tidak lagi perjaka, kau sudah digagahi, dibuahi, di-
"Baiklah, baiklah, tidak perlu diperjelas"Naruto memotong ucapan pemuda nanas. Wajahnya samar-samar memerah.
"Dari ceritamu, terlihat Uchiha itu sedikitnya menuruti ucapanmu, bahkan ucapanmu lebih efektif daripada ranta-rantai itu"Shikamaru menunjuk rantai pengikat pada tubuh Sasuke dengan gerakan dagu.
"Tapi.. "
"Dengarkan aku Naruto, setidaknya itu berhasil, tidak ada salahnya dicoba"Shikamaru menghentikan celoteh pemuda pirang. Memperjelas ucapannya. Bagaimanapun rencana sama saja hasilnya. Untuk apa tidak di coba.
Naruto diam sesaat. Saat dijaga saja bocah itu masih bisa lepas. Bahkan ini belum hitungan minggu.
"Baiklah, tapi kau disini, lihat, perintah apapun, aku masih dalam keadaan sekarat"Ucap Naruto berlebihan. Shikamaru mendengus. Bagian mana yang sekarat jika saat mendapatkannya saja dia juga mengerang nikmat? Hehh..
"Baiklah, baiklah, tapi setidaknya jangan berikan aku pengganjal perut berupa makanan tak bergizi milikmu"Shikamaru member lelucon. Naruto memutar matanya bosan. Bahkan mereka memakan daging mentah tidak steril, apa bedanya dengan ramen-ramen miliknya yang berbahan pengawet?
.
Pagi menjelang begitu cepat untuk hari ini. Tak berbeda dengan beberapa hari sebelumnya. Naruto merangkak dengan tertatih-tatih kekamar mandi. Kamar mandi miliknya terpisah dengan kamar tidur. Dengan selembar handuk besar di pundaknya ditambah dengan tiga pakaian ganti di pundak satunya. Untukhari hari ini dia memilih berganti pakaian di kamar mandi. Tidak, bukan masalah Shikamaru yang berada di dalam kamar dan sedang tidur sekarang, dia sudah cukup terbiasa telanjang di depan sahabatnya itu. Melainkan bocah autis yang saat ini masih nampak terjaga dengan suara dengungannya. Naruto mendengus memikirnya.
"Yaampun, kapan bokongku sembuh, brengsek"
"Bagus sekali, baru jam tujuh dan kau sudah mengupat, sambutan pagi yang menarik sekali"Naruto menolehkan kepalanya. Mendapati sosok perempuan bersurai pirang tergerai yang kini tengah berkacak pinggang di depan pintu apartement yang baru saja di tutup pemuda bersurai hitam pekat.
"Sai, Ino, kejutan sekali, dimana Kiba? Mungkin akan turun berlian pagi ini"Lelucon, Naruto berucap. Cukup terkejut dua mahluk musuh bebuyutan datang keapartementnya. Pagi hari dan tanpa orang ketiga sebagai dinding, Kiba maksudnya.
Ino memutar bola matanya jengah "Kiba ada jam pagi, dosen killer katanya, tidak bisa bolos untuk ambil jatah absennya"Berucap, Ino melangkah kearah dapur. Menenteng sekeresek penuh yang Naruto yakini berisi makanan menyehatkan.
"Naruto, kau tidak ada soda?"Sai beucap. Terdiam sedari tadi membuatnya memilih untuk mengobrak abrik isi lemari pendingin pemuda pirang.
"Ada satu di laci dapur"Naruto berteriak dari arah kamar mandi.
"Naruto, apa kau membawa matemu-
BRUAK
"ADAAWW"
"Naruto, kau tidak apa-apa?!"Suara debuman ditambah dengan suara Naruto menjerit dari dalam membuat Ino panik langsung mengetuk pintu kamar dengan cepat, meninggalkan ruang dapur yang berdempetan dengan kamar mandi.
Berbeda dengan Ino yang panik, Sai, pemuda yang baru saja entah sadar atau tidak menjadi penyebab suara debuman dari dalam kamar mandi hanya mengernyit aneh. Berpikir ucapannya benar.
.
"Kau tidak apa-apa?"Ino berucap lagi setelah Naruto menampakan dirinya keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang dikenakan asal-asalkan. Lihat, bahkan kaosnya terbalik.
"Aku baik-baik saja, tapi bokongku tidak"Naruto merengut kesal. Mengusap bokongnya yang terasa semakin nyeri dari sebelumnya.
"Jadi Uchiha itu di sini?"Sai berucap lagi. Bersandar pada pinggiran pintu dapur dengan posisi nyaman menyesap soda di botolnya. Naruto menghela nafas lelah.
"Ya, di kamar, Shikamaru juga disana"Naruto berucap lelah. Memperbaiki kaos terbaliknya.
"Shikamaru?"Ino menatap aneh. Namun dirinya tetap melangkah kearah kamar pemuda pirang. Mengikuti sosok Sai yang nampak penasaran. Naruto mengernyitkan alisnya.
.
"WOAAAAAAA TAMPAAAAAAAAN!"Naruto mendengus. Mendengar teriakan cukup keras dari sahabat wanitanya. Sudah cukup bisa menebak kesan pertama dari wanita itu saat melihat sang Uchiha.
"Aku tahu"Naruto bersendekap. Menyandarkan tubuhnya di ambang pintu kamar. Sedikit kasihan dengan Shikamaru yang kini mengucapkan kata kebanggaannya berulang kali. Tidurnya terganggung. Naruto meringis.
"Kenapa dia diikat?"Sai member komentar. Mendekatkan diri pada Sasuke yang masih dalam keadaan terikat, meneliti. "Dia cukup normal untukku, kau terlalu berlebihan mendeskripsikannya"Sai melanjutkan ucapannya.
"Dan bukannya dia harus di apartement Shikamaru, kenapa dia disini?"Ino menambahkan. Iseng mencubit pipi sang Uchiha. Tidak mendapatkan respon selain diam dengan pandangan kosong menatap wanita surai pirang.
"ya.. cukup normal sampai dia kabur dan mencoba menggagahi aku lagi, shit"Naruto mengumpat.
"Dia terlalu fanatik denganmu"Sai berucap santai. Mendudukan dirinya pada pinggiran tempat tidur. Naruto memutar bola matanya jengah. Yang benar saja.
.
Malam kembali menyahut. Seperti malam sebelumnya sahutan gagak bertengger pada kabel listrik berdekatan dengan candela nampak sudah membuat pemuda pirang terbiasa dengan hal tersebut.
Memilih untuk mengenakan pakaian simple. Sungguh, walaupun ini musim dingin Naruto masih merasa cukup hangat dengan mengenakan selembar kaos berlengan pendek miliknya. Mendudukan diri di atas ranjang dengan menyesap coklat hangat dan beberapa lembar roti. Tak memperdulikan pemuda Uchiha yang kini masih dalam posisi yang sama. Niatan untuk memindahkan pemuda itu di ruang tamu saja, mengingat apartement pemuda pirang hanya terisi satu kamar tidur. Tidak ada niatan membiarkan pemuda Uchiha menetap dalam satu ruangan saat dirinya terlelap. Tinggal menunggu Shikamaru yang pergi ke supermarket untuk membeli beberapa bahan cemilan malam ini. Jaga-jaga jika begadang diperlukan untuk malam ini.
"Hung.. hnng.. "Dengungan kembali terdengar. Naruto menolehkan pandangannya kearah pemuda Uchiha, membuat kedua bola mata berbeda warna tersebut nampak bertemu. Naruto mengalihkan pandangannya. Menatap kearah candela. Kembali menyesap coklat panas miliknya.
"Par… "Celoteh tak lengkap kembali terdengar. Naruto mendengus. Mencoba tidak memperdulikan keadaan pemuda Uchiha tersebut. Cukup tahu pemuda itu masih mengarahkan kedua bola matanya kearahnya.
"La-
"Baiklah, baiklah!"Jengah mendengar celotehan yang baru Naruto sadari hampir seharian pemuda itu tidak diberikan makan. Bahkan dirinya melupakannya.
Beranjak dari posisinya. Naruto mendekati pemuda Uchiha yang masih terantai di tempat yang sama. Tidak berubah sama sekali. Setidaknya darah akan menjadi menu utama dalam daftar belanjanya nanti.
"Minum sedikit saja, jika kau masih ingin matemu yang tampan ini tetap hidup"Naruto berucap. Tak begitu berharap Sasuke akan mengerti apa yang dikatakannya. Pemuda itu nampak tak merespon.
Mengambil silet yang berada di meja tak begitu jauh dari posisinya dengan gerakan sedikit terbata akibat nyeri yang masih terasa di bagian bawah tubuhnya kemudian mengarahkan posisi tajam silet pada tangannya, memposisikan sedikit jauh dari urat nadinya "Walaupun aku werewolf, ini masih terasa sakit, asal kau tahu itu"Naruto berucap.
"Chk.. "Perih cukup terasa saat bagian tajam silet mulai membelah kulit tannya, membuat aliran darah segar mengalir melalui luka yang dibuatnya. Naruto meringis perih. Mengarahkan luka beraliran darah tersebut kearah bibir Sasuke yang terlihat nampak sudah membuka mulutnya. Benar-benar lapar heh.
"Coba kau waras sedikit, mungkin aku bisa mencoba menyukaimu, mengelak sekarangpun percuma bukan?"Naruto berucap lirih. Menatap Sasuke yang kini nampak menikmati hidangan yang diberikannya. Tanpa mengetahui kedua bola mata hitam menggelinding kearahnya saat ucapan itu terlontar. Nampak tahu makna setiap kosa kata yang didengarnya.
.
Itachi meremas surai gelapnya. Memilih mendinginkan kepala ditempat porsitusi sama sekali tidak membantu pikirannya. Bahkan bergelas-gelas minuman berakohol tinggi sama sekali tak membuatnya mabuk saat ini. Minggu-minggu yang benar-benar sinting. Masalah seperti tidak berhenti begitu saja. ini memang gila. Baru saja masalah Sasuke dengan werewolf pirang itu separuh selesai tetapi masih ada masalah lain lagi.
Tidak, tidak ada niatan untuk dirinya membiarkan ayahnya memberikan Sasuke sebagai korban pembangkitan moyang Uchiha. Tidak, dia tidak bisa membiarkannya. Kebahagiaan Sasuke adalah yang terperting untuknya. Melewati segala apapun dari dirinya.
Kedua bola mata gelap itu mulai bergulir. Menelaah setiap gerak gerik orang-orang yang kini nampak terlihat kacau dengan iringan music bervolume kencang. Iringan menggila yang bahkan seperti penghancur telinga. Sampai sekarangpun dirinya masih bingung kenapa banyak orang berpikiran setres, hampi gila memilih tempat ini sebagai pelampiasan, bukan ketempat spikiater ataupun, oke dia setres dan dirinya juga memilih tempat ini sebagai pelampiasan. Melihat orang gila mulai mabuk hingga menubruk orang-orang di sekitarnya. Silih berganti bahkan beberapa mulai emosi memilih menghadiahi penabrak pukulan cukup kuat. Ah, setidaknya disini Itachi tahu kenapa ayahnya sedikitnya membenci manusia.
"Jangan pukul dia, pukul aku saja, aku mohon, dia tidak sengaja menabrakmu tadi"
"Apa kau bilang? Baiklah, kemari kau"
Itachi memperhatikan setiap gerak gerik sekitar. Suara bergantian yang mampir pada pendengaran tajamnya. Baiklah, setidaknya dia mendapatkannya.. sedikit solusi.
"Ini"Meletakan lembaran-lembaran bernominal lebih di atas meja, Itachi kemudian melangkahkan kakinya keluar. Sedikit merasakan guratan pada dahinya menghilang.
.
"Kau"
"Lama tidak bertemu, Shikamaru"
Shikamaru terdiam dalam tempatnya berdiri. Menatap sosok yang kini berdiri tepat di depannya. Pemuda yang bahkan dirinya yakini tak akan melupakannya. Sosok yang pernah membuat sahabat pirangnya memilih pergi sejauh mungkin. Sosok yang diyakininya menjadi orang terpenting nomor satu daripada nyawa sang pirang sendiri. Sosok yang juga berusaha sang pirang lupakan dengan senyuman pahit akan penolakan pemuda di depannya.
"Menma"
TBC
Thanks for review
Zizi,d exo, L. Casei shirota strain, ido nakemi, Lusy jeager ackerman, park Rinhyun-Uchiha, lets'sburnthisgirl, eri yan tii, gici love sasunaru, michhazz, hanazawa kay, fao baozi, rasyzz, uzumakinamikazehaki, habibah794, classical violin, jeon nay, guest, aka-chan, dame, vampireDPS, shira.
Sekali lagi terimakasih untuk semua teman-teman yang sudah dukung ff shiro ini, trimakasiih banyaak, hueheh,
Hmm.. ya,huehehehe banyak typonya nee, maaap ahaha, gak shiro cek ulang huehehehe, langsung shiro update hohohoho.
Untuk idoo, hueeee aku tau artinyaa, okeee, okeeee, trimakasih sarannyaa, dan, selamaat dataang huehehe
Naru tentu saja pawangnya sasu kan bebebnyaaaaa huehehhe
Sasu autis kok, tapi belum tentukan autis autis ndak peka sepenuhnya. Apalagi untuk orang terayangnya ,Sebagian dia tahu kok, tapi tidak penuh.
Untuk menma naru, ada kepokiran, coba lihat nanti neeee
Untuk michhazz, aa, shiro juga lupa itu maksudnya o,ov
Untuk guest, aaaa, tidak, tidak, tidak, tidak ketiga nama ituu untuk anak naru, shiro masih mikirin ueheheh,
Ngubah naru? Hum ndak ndak ndak, vampire disini memiliki cara sendiri, dan mungkin hanya berlaku kepada manusia neee
Okeeee, terimakasih untuk semuanyaa, ehehe sampai jumpa di chapter depaaaaaaaaaan love youuuuuuuu
