Naruto membuka pintunya perlahan. Melihat keluar dengan sedikit ragu-ragu. Merasa tidak ada siapa pun di depan rumahnya, ia melangkah pelan. Melihat ke kanan kiri bergantian. Tetap tidak ada orang yang sepertinya menunggu, Naruto bernafas lega. Melangkahkan kakinya ringan di bawah langit malam dengan bintang bintang yang menemaninya.
Naruto dengan yukata berwarna dongker melangkahkan kakinya menuju festival. Setidaknya ia tidak harus pergi dengan Sasuke sekarang. Selama perjalanan, Naruto hanya bersenandung dengan riang. Sampai ia melihat Choji dan Shikamaru berdiri tidak jauh dari festival.
"Choji! Shikamaru!" seru Naruto sambil melambaikan tangannya pada dua temannya itu. Dan Choji juga membalas lambaian Naruto.
"Maaf membuat kalian menunggu," ucapnya setelah sampai ditempat Choji dan Shikamaru.
"Tidak apa, kami juga baru sampai," balas Choji. "Ayo," ajaknya pada Shikamaru dan juga Naruto.
Mereka bertiga akhirnya pergi ke festival. Dan kabar baik bagi Naruto adalah, ia tidak sedikit pun melihat Sasuke di sana. Dan tentu saja, tempat pertama yang di datangi Naruto adalah warung ramen.
"Serius nih?!" Shikamaru dan Choji tidak bisa berhenti menatap Naruto dengan mulut yang menganga. Baru sebentar saja, dan ramen ukuran jumbo itu seketika sudah tidak ada lagi. Mereka tidak tau apa yang bisa membuat bocah kucing itu bisa menghabiskannya sendiri.
"Ah... Terimakasih ya paman, ramen mu enaaaak sekali," ucap Naruto sambil berdiri dan mengajak kedua temannya yang masih bengong untuk ke tempat lainnya.
"Ya, sama-sama, jangan pernah datang lagi,"
"Ah, kenyang sekali..." Ujar Naruto sambil menepuk nepuk perutnya kekenyangan. "kita kemana lagi?" tanyanya pada Shikamaru.
"Terserah kau saja," ucap Shikamaru dengan nada malasnya seperti biasa.
"Choji, bagaimana dengan- Choji?" Naruto menoleh ke arah-yang tadinya-ada Choji. Namun yang ia dapatkan hanya angin lalu. "Choji?" ia memutar pandangannya. Berpikir jika Choji ketinggalan. Namun nihil. Ia tidak melihat Choji dimana pun.
"Dia kemana sih?" tanya Shikamaru yang juga bingung karna Choji hilang tiba-tiba.
"Ku pikir kau tau," ucap Naruto masih melihat sekeliling.
"Sudahlah, palingan dia cuma keliling cari makanan," Shikamaru akhirnya melangkah dengan santai dan langsung diikuti Naruto.
"Naruto, kau mau kemana lagi?" tanya Shikamaru pada Naruto.
"Mm... kemana ya?" Naruto melihat ke setiap kios yang berjajar disamping kiri kanannya. "Ayo kita kesana!" Naruto dengan semangat menunjuk ringo ame yang tidak jauh dari tempatnya sekarang. "Shikamaru ayo," ajak Naruto pada Shikamaru.
Baru saja Shikamaru mau menyusul Naruto. Seseorang tiba-tiba menahan lengannya. Ia langsung menoleh kebelakang untuk melihat sang pelaku. "Bisa bantu aku sebentar?" Shikamaru mengernyit kan dahinya. Perasaannya saja atau memang orang yang tiba tiba meminta bantuannya ini mirip seseorang?
Sedang Naruto masih terus berjalan menuju kios yang menjual ringo ame. "Shikamaru! Kau yang traktir ya!" Naruto hanya mendapat angin lalu (lagi) sebagai jawaban. Shikamaru tidak ada di belakangnya.
"Shikamaru?" Naruto memutar pandangannya mencari Shikamaru. Tapi ia tetap tidak melihat Shikamaru di sekitarnya. Apalagi karna ada banyak orang, ia tidak bisa melihat terlalu jauh. "Kenapa semuanya meninggalkan ku sih?"
"Aku tidak meninggalkanmu,"
Naruto sedikit terlonjak mendengar suara di belakangnya. Ia perlahan menoleh ke belakang. Berharap orang dibelakangnya bukan 'dia'. Namun ia memang tidak harus banyak berharap. Hanya satu orang yang memiliki suara sefamiliar ini di telinganya.
"S-sasuke?" Sasuke berdiri di depannya dengan menggunakan kaos berwarna putih dan jaket hitam. Naruto menelan ludah paksa. Apa hanya perasaannya saja? Sasuke terlihat... tampan? entah kenapa, tapi tenggorokannya terasa tercekat sekarang.
"Ini," Sasuke menyodorkan satu ringo ame pada Naruto. Dan Naruto hanya memandang permen di depannya dengan bingung.
"A-apanya yang 'ini'?"
"Ya, ini untukmu," ucap Sasuke kembali menyodorkan ringo ame pada Naruto.
"B-baka, aku tidak mau," kata Naruto sambil memalingkan wajahnya dari Sasuke.
"Benarkah? Tapi bukankah tadi kau meminta pada Shikamaru?"
Naruto menggigit bibir bawahnya. Ia pikir ia bisa bersenang senang di sini tanpa bertemu Sasuke. Tapi sepertinya kami-sama tidak memberikannya kesenangan sekarang.
'Shikamaru baka! Kenapa dia menghilang tiba-tiba seperti ini sih?'
"Naru.." ucap Sasuke lirih. Meminta Naruto menatapnya. Tapi Naruto masih saja memalingkan muka.
"Naru-" baru saja Sasuke ingin meraih tangan Naruto, tapi Naruto langsung menepisnya.
"Kau sangat mengganggu!" ucap Naruto tiba-tiba. "padahal aku berharap tidak bertemu denganmu, dan bersenang-senang dengan temanku yang lain. Tapi kau malah datang mengganggu," Naruto masih belum berani menatap Sasuke. Tapi dapat Sasuke lihat mata shapire itu mulai berair.
"Naru, aku bukan bermaksud menganggumu, aku hanya-"
"Bagiku kau hanya mengganggu!"
"Naru,"
"Ada apa ini," sekali lagi. Sasuke tidak dapat menggenggam tangan Naruto. Karna seseorang yang tiba-tiba datang. Ia dan Naruto langsung menoleh dan mendapati seorang pemuda dengan rambut panjang berjalan kearah mereka.
"Sasuke, apa yang kau lakukan?" tanya pemuda itu. Sasuke berdecak sebal pada seniornya yang tiba tiba datang. Sedang Naruto mengernyitkan dahinya. Sosok di depannya terlihat familiar.
"bukan apa apa," jawab Sasuke enteng. Dan pemuda itu hanya ber 'oh' ria sambil mengangguk paham. Dan matanya kini beralih pada sosok yang lebih pendek darinya. Ia menatap lekat lekat wajah kucing di depannya.
"Kau.." ia sedikit membungkuk dan mendekatkan wajahnya pada Naruto. Sedang Naruto hanya terdiam sambil menelan ludah paksa. Ia tidak kuat jika harus di tatap lekat lekat oleh orang setampan ini.
"Neji senpai, kau mau apa sih?" Sasuke langsung menjauhkan Neji dari wajah Naruto.
Neji sedikit terkekeh. Ia masih menatap pada Naruto yang memandangnya bingung. "Wajahmu tidak perlu seperti itu. Tapi sepertinya kau lupa padaku."
Naruto makin memasang tampang bingung. Begitu pun dengan Sasuke. "Senpai mengenal Naruto?" tanya Sasuke.
"Ya, begitulah. Iya kan?" Neji kembali mendekatkan wajahnya pada Naruto.
"Senpai," Sasuke kembali menjauhkan Neji dari Naruto. "jangan terlalu dekat," Sasuke beralih pada Naruto yang sedari tadi hanya memandang Neji.
"Neji.. senpai?" ucap Naruto ragu. Sedang Neji hanya tersenyum ramah pada Naruto.
"Kau masih ingat aku kan?"
Naruto terlihat berpikir. Hingga ia terlihat seperti baru mengingat sesuatu. "Neji senpai!" ucapnya girang.
Sedang Neji hanya terkekeh kecil. "Kau ingat rupanya," Neji mengacak rambut Naruto. Tentu saja Sasuke hanya bengong. Apalagi Naruto terlihat senang sekali, ia tidak menepis tangan Neji. Malah tersipu!
"Senpai kau.."
"Ah! Sasuke, kau belum tau ya,"
"Kalian sudah lama kenal?" tanya Sasuke makin bingung.
"sebenarnya," Neji mulai menjelaskan. "kau tau kan, tahun pertama dan kedua ku saat SMP kan di Suna,"
Sasuke mencerna perkataan Neji. Memang ia pernah dengar jika Neji dulu SMP di Suna. Tapi mana mungkin ia tau jika Naruto dan Neji sudah saling kenal. Apalagi mereka terlihat sangat dekat.
"Senpai apa kabar?" tanya Naruto bersemangat.
Neji kembali tersenyum lembut pada Naruto. "Tentu saja baik, apa lagi setelah bertemu denganmu,"
"Aku sangat merindukan senpai," ucap Naruto dengan tersenyum lebar pada Neji. Dan pastinya membuat Sasuke iri pada Neji.
"Aku juga merindukanmu kok,"
"Dia juga?" ucap Naruto sedikit menggoda Neji.
Neji menggigit bibir bawahnya. "ya.. dia juga," ucap Neji sambil menggaruk tengkuk yang tak gatal. Sedang Naruto hanya tersenyum puas melihat Neji yang tampak malu.
Dan Sasuke? Ia sangat tidak tahan melihat keakraban dua orang di depannya. "Naru ayo," Sasuke langsung menarik tangan Naruto.
Naruto kaget saat tiba tiba Sasuke menggandeng tangannya. Tapi ia tidak beranjak dari sana. Membuat Sasuke kembali menoleh pada Naruto. "Ayo apa maksudmu?"
"Ya, ayo kita pergi,"
"Kenapa terburu-buru sekali?" tanya Neji pada Naruto.
Sasuke tidak menjawab dan kembali menarik tangan Naruto. Tapi Naruto sekali lagi tidak ingin beranjak. Ia mencoba melepas tangan Sasuke. Namun tetap saja ia tidak bisa.
"Senpai aku-"
"Neji!" perkataan Naruto terpotong saat dua orang teman Neji memanggilnya.
"Ah, iya, aku kesana," jawab Neji. "Sudah ya Naruto, aku pergi dulu, nanti kita bicara lagi,"
Baru saja Naruto ingin buka mulut, Sasuke langsung bicara. "Tidak perlu bicara lagi. Kalau bisa jangan bertemu lagi,"
Naruto menatap tajam pada Sasuke. "Jangan asal jawab saja!" Naruto sangat kesal pada Sasuke sekarang. "Senpai bisakah aku-"
"Sudah ya, aku pergi dulu," Neji langsung pergi meninggalkan Naruto yang bahkan belum selesai bicara.
Dan Naruto hanya terdiam pasrah melihat Neji yang bergabung dengan teman temannya yang lain.
"Sudah, ayo kita pergi," Sasuke kembali menarik tangan Naruto. Dan Naruto yang tadinya bengong jadi terseret oleh Sasuke.
"S-Sasuke!" protes Naruto.
"Aku tau tempat yang bagus melihat kembang apinya," Sasuke masih menggenggam tangan Naruto. Dan perlahan makin erat.
Dan Naruto juga sepertinya tidak terlalu protes sekarang. Ia menatap tangan yang menggenggamnya. Tidak ada yang berubah dari tangan itu. Hanya terlihat makin besar saja. Bahkan rasa hangat dan nyaman masih ada di sana.
Sepertinya Naruto terhanyut pada masa lalunya. Ketika tangan Sasuke yang tidak pernah melepaskan genggamannya kemana pun mereka pergi.
Ia terus menatap tangan itu. Tanpa ia sadari, sebuah senyum tipis terlukis di wajahnya. Sasuke yang melihat ke arah Naruto juga ikut tersenyum. Sepertinya ini tidak buruk.
.
TBC
