Future Saphire

.

Chapter 7

.

Dislaimer :Masashi Kishimoto.

Chara :Uchiha Sasuke (Female),Uzumaki Naruto,Haruno Sakura.

Pair :NarufemSasu or NaruSaku.

Genre :Romance and Family

Rating :T

Warning :Typo(s),kata-kata yang hilang sendiri,Gender bender,OOC,gaje dan Like Dont Read!

.

.

.

.

Original Story by Akasaka Kirachiha

.

.

.

.

Happy Reading

.

.

Ten Years Later

.

"...kualitas teh yang kami produksi sudah sangat cukup untuk dipasarkan di Eropa,saya sudah mengetes sempelnya berulang-ulang kali dan hasilnya tetap sama walaupun hasil tidak sampai 95 persen,jadi kalau anda sekalian mau menerima tawaran kerja sama dari perusahaan kami,kita bisa bekerja sama untuk membuat presentase kualitas teh menjadi 99 persen"

Semua orang didalam ruangan itu masih terdiam,mendengar dengan terperinci penjelasan wanita berumur 27 tahun didepan sana.

"Dan bagi yang tidak menginginkan tawaran kerja sama ini,dengan hormat anda boleh mengundurkan diri dari rapat ini..."

Tidak ada satu pun tamu yang berjumlah 25 orang ini beranjak dari duduknya,riuhan tepuk tanganlah yang membalas penuturan wanita itu.

"Arigatou..."wanita itu tersenyum dengan ramah kepada para sesama pebinis yang mendatangi presentasinya tadi.

"Besok aku akan mengadakan meeting dengan perusahaan anda,kita bicarakan lebih jelas disana"ujar salah satu kolega kepada wanita didepannya.

"Ya,saya akan usahakan untuk datang"balas wanita itu dengan masih memasang senyum diwajahnya dan saat seluruh tamu undangannya telah pergi,ia kembali memasang wajah kedua tangannya kedalam saku jas putihnya lalu berjalan dengan santai menuju ke mobilnya.

Drrttt...drrtt...

Ponsel miliknya bergetar,ia menghentikan langkahnya lalu mengambil ponselnya yang berada didalam tas tangannya.

"Ada apa?"tanyanya malas kepada seseorang disebrang sana.

"Aku capek,pulang saja sendiri"jawabnya cepat lalu mematikan sambungan teleponnya,ia kembali berjalan menuju ke tempat parkir,tempat mobil putih miliknya terparkir sedari tadi pagi hingga sore menjelang.

Ia melepas jas putih miliknya lalu menyampirkannya di jok kursi kemudi,menaruh ponselnya pada bangku disampingnya lalu setelah memasang sabuk pengaman,wanita itu melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke rumahnya.

Dilain tempat,sesosok wanita berambut merah muda terkuncir sedang berjalan mondar-mandir menunggu mobilnya yang mogok untuk diperbaiki.

"Masih berapa lama Ji-san..?"tanyanya cemas.

"Masih setengah jam lagi nona..."jawab sang repairman.

"Apa tidak bisa dipercepat?"tanya wanita itu lagi.

"Tidak bisa nona...saya mohon untuk menunggu sebentar lagi"balas sang repairman itu lagi.

Wanita itu hanya menghembuskan nafas kesal lalu mendudukan dirinya di bangku yang tidak jauh berdiri di dekatnya,ia mengambil ponsel dalam saku celananya,mengetik sesuatu lalu menempelkan ponsel itu di dekat telinganya.

"Moshi-moshi Oneesan...mau ya menjemputku di bengkel?,bengkelnya tidak jauh dari tempat rapatmu tadi kok..please..."pintanya memelas kepada seseorang disebrang sana.

"Ah..jangan dimatikan du-...aishh..."wanita itu menjauhkan ponsel dari telinganya lalu mencak-mencak tidak jelas.

"Astaga..apa aku memang harus sabar menunggu mobilku ini..."keluhnya pelan.

x_x_x_x

"Tadaima..."seru seseorang,ia akan melepas sepatu miliknya sebelum suara langkah kaki kecil mendatanginya dengan semangat.

"Okae..ri.."bocah lelaki berumur 6 tahun itu memelankan suaranya saat melihat seseorang yang baru saja pulang itu bukanlah seseorang yang ia harapkan.

Wanita itu berjalan santai melewati bocah sang bocah,seakan teringat sesuatu,ia menghentikan langkahnya,"Dimana Kaasan?"tanyanya datar.

"Kaasan pergi ke kantor Tousan"jawab bocah itu takut,ia sangat takut sekali dengan orang yang satu ini,tidak pernah berkata lembut padanya dan hanya nada dingin dan datarlah yang selama ini ia terima.

Setelah mendapat jawabannya,wanita itu kembali melanjutkan langkahnya dalam diam.

'Sasu Nee-san benar-benar menyeramkan...'batin bocah itu.

Sasuke melemparkan tasnya ke atas kasur miliknya lalu ganti melemparkan dirinya ke atas sana,memejamkan matanya sejenak lalu membukanya dengan perlahan.

Sasuke dulu dengan yang sekarang tidak ada yang berbeda,wanita itu akan menampilkan sisi baiknya jika berhadapan dengan kolega dan kembali menampilkan sisi buruknya di luar acar bisnis,rambutnya yang ia potong sebahu membuatnya tampak lebih dewasa.

Ia sekarang telah berhasil menjadi wakil direktur perusahaan Teh 'Sakura',menjadi wakil dari ayah tirinya sendiri,banyak orang yang bilang kalau dirinya diangkat menjadi wakil karena dia adalah anak dari sang direktur,tetapi dengan keras ia menyangkalnya,ia membuktikan kepada semua orang kalau ia bisa menjadi seperti ini karena usaha kerasnya sejak dulu.

Drrtt...drrttt...

Ponselnya kembali bergetar,ia menekan gambar telepon berwarna hijau lalu mendekatkan ponsel ke telinganya.

"Moshi-moshi Sasuke..bisakah kau ke kantorku sekarang,jelaskan hasil dari rapat tadi,semoga saja memuaskan"

"Baik,aku akan segera kesana"Sasuke menjauhkan ponselnya lalu meletakkannya di atas kasur,setelah memastikan diri telah rapi,ia melangkah dengan santai keluar dari kamarnya.

.

"Aku percaya kau bisa mengatasinya"Kizashi memandang berkas ditangannya dengan bangga,ia menaruhnya berkas itu diatas meja kerjanya lalu memandang Sasuke puas,"Apa tidak apa-apa kalau besok kau langsung mendatangi meeting itu?,aku bisa menugaskan Sakura atau orang lain...?"tanyanya tak yakin.

Sasuke menggelengkan kepalanya,"Aku orang yang paling tahu tentang kerja sama ini,kalau kau menugaskan Sakura atau orang lain untuk datang ke meeting tersebut,aku yakin mereka tidak akan mengerti dengan cepat,tak apa biar aku sendiri yang mendatangi meeting itu"ujarnya yakin.

"Baikla-"

Brakk..!

"Biar aku yang mendatangi meeting itu"celetuk seseorang yang tiba-tiba saja memasuki ruang kerja Kizashi tanpa izin,"Kenapa kau suka sekali meremehkan kemampuan orang lain hah?!"tanyanya sengit kepada Sasuke.

"Aku tidak meremehkan kemampuanmu,tetapi ini lah yang terbaik untuk perusahaan ini"jawab Sasuke datar,ia balas memandang dingin sosok itu.

"Benar apa yang dikatakan kakakmu ,kau sudah Tousan tugaskan pergi ke perkebunan teh di desa seberang,ada yang harus kau bicarakan dengan direktur perkebunan teh itu,nanti ada seseorang yang akan mendampingimu kesana,kau bisa kan?"tanya Kizashi mencoba meredakan kesalah pahaman Sakura.

"Baiklah...aku buktikan kalau aku bisa berhasil sama seperti dirimu sombong,kalau begitu aku pergi.."balas Sakura malas lalu berjalan dengan angkuh saat melewati Sasuke.

Sasuke hanya memutar bola matanya bosan,"Kalau begitu aku juga undur diri dulu..."ujarnya lalu membalik badannya menuju keluar ruangan serba coklat itu.

"Sasuke...aku berencana untuk menggabungkan perusahaan Haruno ini dengan perusahaan Namikaze di Amerika sana,bagaimana menurutmu?"ucap Kizashi menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya kembali.

"Beri aku berkas-berkas tentang perusahaan Namikaze"ujarnya.

Kizashi mengerutkan dahinya,"Dari raut wajahmu...apa kau sama sekali tidak tahu menahu tentang perusahaan itu?"tanyanya.

Sasuke dengan jujur menggelengkan kepalanya.

"Kau tahu Naruto bukan?,dia sekarang telah menjadi direktur dari perusahaan Namikaze"

Mendengar nama itu membuat mata Sasuke sedikit membelalak.

"Beberapa minggu lagi ia akan datang ke sini untuk membicarakan penggabungan ini"ujar Kizashi kembali,"Kalian sudah saling kenal,aku pikir ini akan berjalan sedikit lebih mudah,aku juga akan ikut serta"

Sasuke mengepalkan kedua tangannya erat,matanya memandang Kizashi dengan datar untuk menutupi kekagetannya,"Baiklah...aku akan meminta berkas itu nanti,aku harus pergi"ujarnya lalu dengan cepat ia pergi dari ruangan Kizashi,berlari kecil menuju ke kamarnya.

Menyandarkan tubuhnya pada pintu kamar,ia memegang dada kirinya dengan erat.

Ia berusaha menyingkirkan perasaannya,perasaan yang ia yakini bisa mengacaukan semuanya,'Ini semua hanya untuk pekerjaan,aku harus bersikap seperti biasa'batinnya.

.

"Saatnya makan malam...!"

"Nees-Chan...!,suapin aku..!"

"Kalian berdua duduk yang tenang"Mikoto berkacak pinggang melihat kedua anaknya ini tidak bisa diam di kursi yang mereka duduki.

"Baik Kaasan"kedua anak dengan sifat yang sama itu memutuskan menuruti keinginan sang ibu dari pada kena marah.

"Kalian bahagia sekali sih...memangnya ada apa?"tanya Kizashi yang sedari memandang kedua anaknya yang selalu tersenyum.

"Besok kan hari pertama aku masuk SD Tousan...aku,Kaasan dan Sakura Nee-chan akan membuat pesta besar-besaran nanti malam,Tousan bisa ikutan kok"jawab Kaza dengan semangat.

"Oh tentu saja Tousan harus ikut"

Dari kelima orang yang berada di meja makan,hanya ada satu orang yang sedari tadi terdiam tampak tidak tertarik sama sekali untuk mengikuti pembicaraan.

Ia berdiri dari duduknya lalu membawa piringnya ke tempat cuci piring,menyuci piringnya sendiri lalu setelah menaruh piring itu di raknya,ia berjalan menjauhi ruang makan.

"Oi Neesan...kau juga boleh ikutan kok!"seru Sakura saat melihat Sasuke yang telah berlalu dari meja makan.

"Masih banyak hal yang harus aku lakukan dari pada sekedar membuang-buang uang untuk hal yang sama sekali tidak penting"ujar wanita bermata hitam itu sinis lalu kembali melanjutkan langkahnya.

"Huh..kata siapa pesta ini tak penting...tak usah kau dengarkan ucapan orang sombong itu Kaza.."balas Sakura keras.

Kaza yang tidak mau berurusan dengan kakak pertamanya itu hanya menganggukkan kepalanya kaku.

"Jangan begitu Sakura...mungkin Sasuke kecapaian dan bingung harus mencari alasan seperti apa,kalau Neesanmu itu tak capek,Kaasan yakin ia akan ikut walaupun dengan sedikit paksaan"ujar Mikoto lembut.

"Aku juga capek kok tetapi aku masih mau mengadakan pesta untuk Kaza..dia memang banyak alasan Kaasan..."sangkal Sakura sinis.

Oh ya..kerjaannya hanya menghambur-hamburkan uang dengan berbelanja ria dengan teman-teman sebayanya,hanya menerima tugas yang errr...gampang dari Kizashi karena sang ayah sendiri masih meragukan kemampuan Sakura.

Anak bodoh yang bahkan menduduki peringkat 24 dari 25 mahasiswa saat kelulusan sarjananya dulu,di sebuah Universitas swasta yang terbelakang.

Jujur saja,sebenarnya Kizashi sangat-sangatlah malu dengan prestasi anak kandung itu.

Berbeda dengan Sasuke yang selalu belajar keras setiap hari,berbelanja saat ia benar-benar membutuhkan barang yang diinginkannya dan hasilnya ia menduduki peringkat pertama dari 36 mahasiswa jurusan pertanian,lalu ia juga melanjutkan kulihanya untuk menyabet gelar S2 kedokteran.

Kizashi menutupi kelemahan anak kandungnya dengan kelebihan anak tirinya.

"Sudahlah...lebih baik kita selesaikan makan malam ini dulu lalu kita akan mengadakan pesta kecil-kecilan saja,Kaza juha harus segera tidur kalau tidak ingin bangun terlambat esok hari"ujar Kizashi mutlak.

"Yahh Tousan...aku ingin yang ramai-ramai.."rajuk Kaza sembari mengelayut manja di lengan Kizashi.

"Tidak-tidak...kita buat pesta kecil-kecilan atau Tousan akan melarang kalian merayakan pesta itu"

Kedua orang yang mendengarnya hanya tertunduk lesu.

'Ini semua gara-gara dia...'batin mereka berdua geram.

Dan inilah yang mereka berdua rasakan,pesta yang teramat sangat sepi,yang hanya dihadiri oleh beberapa orang pegawai yang tinggal disekitar rumahnya.

Wajah Kaza sama sekali tidak menikmati pesta ini,ia ingin pesta yang besar dan meriah,banyak makanan disekelilingnya dan kehidupan glamournya yang terimbas dari Sakura.

"Kaza...lebih baik kita nikmati pesta ini,lain kali Nee-Chan berjanji akan membuatkan pesta yang lebih meriah dari pada ini"hibur Sakura saat melihat wajah suntuk adiknya.

Kaza hanya terdiam lalu menganggukkan kepalanya malas,ia mulai sekarang memutuskan untuk membenci kakak pertamanya yang selalu mengacaukan kesenangannya.

Sasuke saat ini benar-benar sibuk mengurusi meeting yang akan dilakukannya besok,matanya sedari selesai makan malam selalu memandang laptop didepannya tanpa istirahat,ia tak peduli kalau diluar sana seluruh keluarganya sedang bersenang-senang,ia sangat membenci keramaian.

"Oi,kalau kau terus menerus memandang kekasihmu itu,matamu bisa rusak"Sasuke menghentikan kegiatan tangannya lalu menolehkan kepalanya kepada seseorang yang cukup asing baginya.

"Siapa kau?"tanyanya datar.

Orang itu mengertukan dahinya lalu melemparkan pandangan kecewa,"Kau melupakanku?"

Sasuke ikut-ikutan mengertukan dahinya bingung,"Cepat katakan namamu dan ada urusan apa kau kesini!"ujarnya.

Lelaki itu mengacak-acak rambut merahnya mendengar penuturan wanita di hadapannya,"Astaga Sasuke no Nee-san...aku Sasori...Akasuna No Sasori...temanmu saat di desa dulu...!"serunya berpura-pura kesal.

Sasuke masih mencoba mengingatnya lalu dengan cepat ingatannya terkoneksi dengan cepat,"Sasori...k-kau...sungguh berbeda,kau tumbuh jauh lebih tinggi"ia berdiri lalu mensejajarkan dirinya dengan pemuda yang ternyata bernama Sasori itu.

"Huu...aku juga bisa tumbuh Sasu...lihat dirimu...kau menjadi anak orang kaya dan tubuhmu kurus begini? Kau sama sekali tidak menikmatinya..."komnetar Sasori.

"Dulu kau lebih pendek dariku,aku tidak bisa lagi mengejekmu kerdil..."Sasuke tersenyum tipis lalu berjalan pelan melewati Sasori,"Ayo kita ke taman,ada banyak hal yang harus aku tanyakan padamu"

Lelaki berambut merah itu hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

.

.

"Ibuku telah meninggal 2 tahun yang lalu,aku berhasil menyekolahkan semua adikku dan aku sangat bersyukur mereka berdua mendapat beasiswa untuk melanjutkan SMA di Tokyo"lelaki itu tersenyum bangga lalu memandang langit malam di atanya,"Walaupun aku sendiri sama sekali tidak pernah bersekolah,aku senang melihat adik-adikku bisa menjadi sukses dan lebih baik dariku"lanjutnya.

"Kau pintar Sasori...'dia' tidak akan mempekerjakan seseorang dengan kemampuan yang remeh,pengecualian untuk anaknya aku tidak memperdulikan kalian lagi semenjak aku di sini,aku sudah mengganggap keluargamu adalah keluargaku sendiri"ujar Sasuke tulus,"Kau besok akan langsung bertugas bukan?,kau jauh lebih pintar dari Sakura,awasi dia dengan baik"

Sasuke sangat yakin dengan ucapannya,beberapa tahun yang lalu,Sasori dan dirinya selalu menguping pembicaraan guru dengan muridnya di sebuah SMP swasta di desa Konoha,mereka tidak memiliki biaya untuk masuk kesekolah itu dan memilih menggunakan cara tersebut,Sasuke bisa melihat kesungguhan dan kegigihan di mata lelaki yang lebih tua 2 tahun darinya sang guru memberikan pertanyaan kepada murid-muridnya dan tidak ada yang bisa menjawab,Sasori ingin sekali memberikan jawabannya ini kepada sang yang melihat wajah kecewa Sasori selalu menaruh jawaban yang Sasori jawab ke meja guru diruang kelas berdua terkikik pelan saat melihat wajah penuh kebingungan yang terlukis di raut muka sang guru.

Sasuke sangat bahagia menjalani kehidupan seperti itu dan ingin sekali mengulanginya walaupun sebentar.

"Kau ini...'dia' itu kan ayahmu sendiri,tanpa dia kau juga tidak akan bisa sesukses ini,kau sangat beruntung Sasuke..."ujar Sasori lalu memandang wanita yang duduk di sampingnya,"Apa...Sakura-sama seburuk itu sampai kau berkata seperti itu?"tanyanya pelan.

Sasuke menganggukkan kepalanya,"Aku sama sekali tidak bisa mempercayai kinerja dia,Sakura selalu menghambur-hamburkan uang yang diterima dan kalau habis,ia akan merengek-rengek meminta pada benci melihat orang seperti itu"

"Ditambah lagi,seorang bocah enam tahun yang mengikuti gaya glamour Sakura,kau tahu sendiri ada pesta di luar sana,mereka berdua sama sekali tidak menikmatinya"Sasuke memandang datar pada tanah,"Mereka ingin pesta yang sangatlah mewah,mereka benar-benar..."Sasuke sangatlah muak dengan kehidupan yang ia jalani ini bersama orang-orang macam Sakura,ia ingin sekali menyadarkan Sakura bukan dari ucapan,tetapi dari tindakannya selama ini,Apa wanita berambut merah mudah itu terlalu bodoh untuk menyadari kesalahannya?

Ia masih bisa mentoleransi adiknya yang kedua,tetapi bagaimana dengan Sakura?

Ditambah dengan sifat ibu dan 'ayahnya' yang sangat memanjakannya,membuatnya besar kepala dan tak peduli dengan sekitarnya.

"Ternyata tidak seenak yang aku duga,tetapi yang terpenting,kau juga tidak terkana imbas dari kehidupan super glamournya,aku akan menggeretmu untuk kembali 'pulang' kalau sampai itu semua terjadi"celetuk Sasori dan Sasuke hanya menyeringai tipis.

.

"Perkenalkan,nama saya Akasuna Sasori,saya pegawai baru di perusahaan 'Sakura',Haruno-sama menugaskan saya untuk mendampingi anda mendatangi kepala direktur perkebunan teh di desa Iwa"Sasori membungkukkan badannya saat melihat orang yang akan di dampinginya ini telah berada di dekat mobil milik perusahaan.

Sakura memandang laki-laki didepannya dengan pandangan menyelidik lalu bertanya angkuh,"Aku tidak butuh pendamping sepertimu,aku butuh pendamping yang berkualitas,aku tahu kau cuma seseorang yang beruntung di pilih oleh Tousanku dari desa terpencil,pulang saja kau"

Sasori menghela nafasnya,mencoba untuk sabar menghadapi wanita di dekatnya,memang benar apa yang dikatakan Sasuke kemarin malam,wanita ini memang minta dibunuh.

"Maaf Sakura-sama tetapi saya tetap akan mendampingi anda"ujarnya datar lalu ia membukakan pintu mobil untuk Sakura,"Masuklah..anda tidak ingin mengulur waktu bukan?"pancingnya dan dirinya menyeringai kecil saat melihat wanita itu memasuki mobil dengan wajah terpaksa.

Ia menutup pintu dengan pelan lalu berlari kecil menuju ke bangku kemudi disampingnya.

'Semoga saja hari pertamaku bekerja,berjalan dengan lancar'batin Sasori berharap lalu setelah memastikan kalau mobil yang dinaikinya baik-baik saja,ia melajukan mobilnya dengan sedang menuju ke desa di sebrang Konoha.

.

.

To Be Continue

.

.

Maaf wordnya lumayan sedikit,nyari ide itu susah-susah gampang

Kalau ada yang mau ditanyakan tentang chapter ini,tanyakan saja di review,insyallah pasti bakal aku jawab.

Terus kasih tahu kalau masih ada typo dan lain-lainnya kasih tahu aku ya,aku juga bukan penulis yang handal,masih butuh belajar dari senpai-senpai sekalian

Arigatou sudah semoet membaca dan mereview fic ini.

Akasaka Kirachiha