YUKI UTA

By Takamura Akashi

Naruto ©Masashi Kishimoto

AU, Typo, GORE, All warnings.

Romance/SuSPENSE/Tragedy

NaruHina

.

.

GLOOMY SUNDAY Part 1: Cemetery

.

.

Minggu, 21 Desember 20xx

Langit begitu kelam di hiasi mega-mega yang kian kelabu, ia seakan tahu kesedihan yang begitu mendalam bagi seorang pria yang kini hanya diam terpaku dengan payung hitamnya di depan sebuah makam. Yang sudah pasti itu milik istrinya yang meninggal kemarin.

Sanak keluarga sudah meninggalkan area pemakaman sejak setengah jam yang lalu, namun tidak dengan pria ini. Wajahnya datar tetapi dari matanya bisa dilihat bahwa ia sedang menangis jauh di dalam lubuk hatinya. Sedangkan anaknya? Ia saja belum mengetahui kalau ibunda tercintanya sudah meninggal dunia. Kemarin pria itu tidak jadi menjemput anak kesayangannya, dia sibuk mengurusi kematian istri tercintanya yang mendadak. Dia menelpon polisi agar bisa menjaga anaknya sampai lusa. Sebegitu sedihnya kah pria itu?

Gemuruh langit mulai terdengar tanda akan datangnya hujan. Namun pria itu masih tak bergeming, justru ia mulai berjongkok di samping makam isterinya. Air mata mulai menetes lalu semakin menderas, ia mengeluarkan semua perasaan sedihnya.

"Anata semoga kau tenang di sana," itu adalah perkataan terakhirnya sebelum akhirnya ia menghapus air mata nya dan pergi meninggalkan pemakaman itu. Dia harus pulang, sepertinya polisi sudah selesai memeriksa TKP. Yanga ia butuhkan sekarang hanyalah istirahat, itu saja. Ia lelah...

.

.

Tok tok tok

Terdengar suara ketukan dari pintu depan, ketukan itu cukup keras. 'Ada tamu' pikir pria itu, ia kemudian segera bangkit dari kasur dan merapihkan dirinya yang terlihat berantakan.

"Ya sebentar," teriak pria itu dalam perjalanannya dari kamar. Sontak ketukan itu berhenti.

Cklek

"Ya siapa?" Setelah pria itu membuka pintu terlihat seorang pria dengan surai pirang dan 3 garis harus di kedua pipinya sedang tersenyum lebar. "Naruto?" Ujar pria itu bingung karena ternyata yang datang 'teman masa kecil' Hinata.

"Selamat sore paman, boleh aku masuk?" Tanya pria bersurai pirang itu sopan.

"Oh ya baiklah, silahkan." Pria itu menyuruh pria bersurai pirang itu untuk masuk. Dia mempersilahkan pria pirang itu duduk di sofa yang ada di ruang tamu.

"Ada apa Naruto? Kau jauh-jauh datang dari Rusia?" Tanya pria itu kepada pria pirang itu.

"Iya, maaf ya tidak bilang terlebih dahulu. Aku datang ke sini untuk berbela sungkawa atas kematian bibi," ujar pria pirang itu dengan nada sedih. Sontak pria itu kaget, setelah tahu bahwa pria pirang itu datang untuk berbela sungkawa.

"Dari mana kau tahu?" Selidik pria itu terhadap pria pirang itu.

"Hm... begini, aku tahu dari adik kenalan ku yang seorang polisi dia inspektur yang menangani pembunuhan bibi," jelas pria pirang itu.

"Oh, Inspektur Nara Shikamaru?" Tanya pria itu.

"Yah begitulah paman," jawab pria pirang itu sekiranya.

Setelah itu mereka terlibat percakapan yang panjang, sebelum akhirnya pria pirang itu pamit undur diri dengan alasan bahwa hari sudah malam. Dan memang hari sudah malam, menampilkan malam kelam yang panjang.

"Baiklah paman, aku pulang dulu ke hotel. Oh ya, sebelum itu ini buat paman oleh-oleh dari Rusia. Pria pirang itu tersenyum lebar sembari memberikan tas kertas ukuran sedang.

"Ah, terimakasih. Kau ini repot-repot membawa oleh," ujar pria itu berterimakasih.

"Hehe tidak apa-apa, aku tidak keberatan. Kalau begitu aku pulang ya," pria pirang itu melambaikan tangannya sambil berlalu dari pintu depan, ia menuju mobil sedan yang terparkir di depan rumah.

"Hati-hati Naruto," pria itu berkata setengah berteriak. Pria pirang itu hanya membalas dengan lambaian tangan.

"Justru kau yang hati-hati ayah," gumam pria pirang itu diikuti dengan dirinya yang memasuki mobil lalu memacu mobilnya dengan kecepatan sedang.

.

.

"Apa ya isinya?" Gumam pria itu sambil mengambil oleh-oleh yang ada di dalam tas kertas itu. Dan ternyata itu adalah sebuah buku tebal dengan judul ' Тихая Проклятие'. Oh sepertinya itu bahasa Rusia, tapi di bawahnya ada tulisan terjemahannya.

"Silent Curse" ujar pria itu bingung dengan judul buku itu yang kelihatannya adalah sebuah novel.

Pria itu membuka lembar demi lembar kertas tanpa ada niat untuk membacanya, ia hanya sedang tidak bersemangat untuk membaca. Syukurlah novel ini sudah diterjemahkan dalam bahasa inggris, jadi pria itu tidak perlu repot-repot untuk menggunakan kamus bahasa Rusia. Sebenarnya ia bisa namun agak lupa karena sudah lama tidak tinggal di sana.

Tapi halaman terakhir buku itu menarik perhatiannya karena kertas halaman terakhir itu menempel dengan cover bukunya, tetapi terlihat jelas bahwa di sana ada beberapa baris tulisan. Dan sepertinya pria itu tertarik untuk membacanya. Setelah membuka halaman terakhir itu secara perlahan, ia mulai membaca tulisan yang berada di sana. Anehnya tulisannya itu tidak dalam bahasa inggris namun dalam bahasa sehari-hari pria itu.

"Apakah kau membaca bagian akhir ini? Kutebak kau pasti tidak membaca novel itu? Ayolah itu novel buatan ku yang entah bagus atau tidak.

Tapi tak apa aku tidak memperdulikannya. Aku turut berduka atas kematian istri bodohmu itu, mau saja di bohongi hahaha.

Ehem tapi kau sadar? Apa kau merasa sesak sekarang? Iya? Hmm tentu saja aku telah memberikan sianida dosis kecil di setiap lembar kertas. Tapi asal kau tahu, aku memberikan sianida dosis besar tepat di halaman ini.

Apa kau tidak bisa bernafas sekarang?

Ka-"

Belum sempat pria itu melanjutkan membaca, sesak yang teramat sangat semakin menyerang pria itu. Lehernya terasa seperti tercekik, dia tidak bisa mendapatkan oksigen apapun. Wajahnya mulai membiru dan beberapa menit kemudian pria itu sudah tak bernyawa. Sungguh malang nasib pria itu, ia keracunan sianida... dan mati konyol sepertinya?

.

.

-to be continue-

A/n: err~ seperti biasa saya membuat 2 kejadian dalam satu waktu makanya sampai ada part nya mueheheh /dor

Ah tapi kasian juga ya keracunan sianida, jujur chapter ini tepatnya dibagian buku dengan racun sianida terinspirasi dari sebuah cerita yang pernah kubaca hehe. Semoga kalian senang :"3

Keep stay tune! And see u soon!