Main Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol
Other Cast : Sehun, Kai, Luhan, Kyungsoo, YunJae, 2Min
Disclaimer: Cerita ini Pure milik Gloomy Rosemary aka Cupid'Kyumin
.
.
.
Previous Chapter
"Baek! Kau tak sedang bersandiwara bukan?!" Seru Chanyeol kalut, namun tak ada respond apapun…..tubuh mungil itu pun semakin menggigil. Dan baru kali ini Ia merasa sepanik ini.
"BAEKHYUN!"
.
.
.
Chapter 7
Love Sick
.
.
.
"Apa yang kau pikirkan?"
Taemin nyaris tersentak, begitu Minho menggenggam tanganya. Ia sedikit menyimpul senyum lalu menoleh ke samping tepat pada Pria tinggi itu.
"Uhm….tentu saja dirimu" Ucapnya meyakinkan.
Minho balas tersenyum, meski sebenarnya….Ia tau memang ada hal yang tengah disembunyikan kekasihnya itu
Mendadak minim kalimat, dengan raut murung tentu….tak bisa dikatakan baik-baik saja bukan. Apapun itu…Minho sepenuhnya tau pribadi seorang Lee Taemin.
Minho lekas beralih menautkan tangan keduanya dan membuatnya saling menggenggam erat.
"Aku bisa membacanya…..katakan padaku, aku tak ingin melihatmu semurung ini" Lirih Minho.
Taemin mengernyitkan dahi, lalu…terkekeh pelan. "Ah haha apa yang sedang kau bicarakan… kau terlalu menggelikan Tuan Park" Canda Taemin, seraya mendorong pelan lengan Minho.
"Ahh…cepatlah sampai, aku benar-benar ingin bertemu dengan Chanyeollie" Taemin mulai menyandarkan kepala di bahu Minho, berusaha mengalihkan pembicaraan. Kedua mata hazel itu pun tampak berbinar begitu melirik sebuah paper bag di atas dashboard mobil keduanya. "Apa Chanyeol akan menyukai hadiah yang kuberi….kelak?" Lanjutnya seraya menerawang…jalanan penuh dengan guyuran air hujan di sekelilingnya
Minho kembali mengulas senyum hangat dan mulai memainkan jemari lentik itu.
"Tentu saja….Bocah tengik itu akan menyukainya. Kemeja yang kau beli benar-benar mahal Taemin….Tsk! bahkan lebih mahal dari jam tanganku. Ah! Di tahun-tahun kemarinpun kau terlalu memanjakan Chanyeol. Tak cukupkah dengan motor dan semua perangkat game bodoh itu huh?"
Taemin berdecak "Yyaa….apa maksudmu? itu ulang tahunnya….tentu wajar bukan aku memberinya hadiah spesial hanya untuk Chanyeol. Ah..tunggu! kau tak mengatakan jika semua itu dariku bukan?" Tanyanya cemas.
Lalu menghela nafas pelan begitu Minho mengangguk mengiyakan, tentu saja jika Chanyeol tau semua benda itu pemberiannya. Bukan tidak mungkin lagi anak itu akan membuangnya menjadi sampah tak berguna. "Biarlah menjadi rahasia, hingga waktu itu tiba" gumamnya kemudian, sambil tersenyum getir kala mengingat senyum Chanyeol kecilnya.
Minho mengernyit sakit mendengarnya, sampai kapan….kekasihnya itu akan memendam semuanya seperti ini. Ia sepenuhnya tau…Taemin begitu tersakiti dan tertekan dengan semua keadaan ini. Lebih tepatnya….pada fakta, Chanyeol yang tak bisa menerima kehadirannya.
"Kau hanya membuang-buang uang saja untuk anak itu" Ucap Minho, setengah bercanda.
Taemin mendadak menegakkan kepala dan melirik sengit calon suaminya itu.
"Apa maksudmu membuang-buang uang!...jika itu untuk Chanyeol….apapun bukan maslah bagiku!"
"Tapi semua itu terlalu mahal, dan kau terlalu memanjakannya"
"Akan lebih baik jika Chanyeol memiliki mobil sendiri, lusa mungkin aku akan—
"Tidak! Tidak! Aku tak akan mengizinkannya. Anak itu akan semakin liar jika kau tetap memberinya mobil. Tunggu….hingga Chanyeol benar-benar dewasa Sayang. Jangan terlalu memanjakannya. Kau lihat sendiri... aku benar-benar kewalahan menghadapinya" Keluh Minho, seraya menggelengkan kepala. Tak habis pikir jika mengingat sikap dingin dan lancang putra tunggalnya.
Taemin menunduk dalam. Benarkah….itu bisa dikatakan memanjakan? sementara Chanyeol sama sekali tak mengetahui….apa yang selama ini Ia lakukan untuk anak itu. Ya….dirinya selalu bersembunyi. Menyimpan dalam-dalam kasih sayangnya, di balik kebencian anak itu.
"M-minho, kau tak memukulnya lagi bukan?" Tanya Taemin tiba-tiba, masih dengan kepala tertunduk.
Minho sedikit mengernyit mendengarmya, tapi setelahnya menghela nafas pelan. "Hm…y—ya. Tapi anak itu tak akan mungkin jera…jika aku tak—
"Jangan memukulnya lagi! Berapa kali kukatakan padamu! Jangan pernah berbicara dan bersikap kasar padanya. Chanyeol….membutuhkan kasih sayang!. Kau pikir….Chanyeol akan luluh meski kau bersikap kasar padanya?!" Taemin tiba-tiba saja meracau tanpa jeda dan penuh emosi, membuat pria kekar di sisinya….menghentikan laju mercy itu.
"Sayang—
"Aku belum selesai bicara!...Minho, apa kau tak melihat tatapan matanya setelah kau memukulnya. Kau tak bisa merasakan apapun? betapa sakit hati anak itu karna sikapmu? Aku tak akan membiarkanmu melakukannya lagi, dan menyakiti Putra kita!"
DEG
Waktu seolah berhenti berdetak, baik Taemin maupun Minho….saling menatap penuh nanar. Keduanya diam tercekat, menyadari…..kata yang tanpa sengaja lolos itu telah menjadi pematik dari luka lama keduanya.
Ya….kebenaran yang tak pernah terungkap, hingga belasan tahun lamanya, tentu bukanlah hal yang mudah untuk keduanya. Terlebih untuk Taemin….tak ada yang bisa mengulaskan seberapa banyak luka yang menggores hatinya karna kenyataan ini.
Seorang Ibu….yang tak pernah mendapat tempat di hati putra kecilnya.
.
.
Flash Back On
"Aku akan menikahinya! Hanya Taemin….satu-satunya orang yang akan kunikahi!"
Genggaman tangan itu semakin menguat, mengirigi nada bicara yang kian meninggi. Apalah arti semua kecaman keras sang Ayah. Ia tak akan peduli….selama Taemin tetap menggenggam erat tangannya dan tetap berpegang di sisinya.
"Bicara apa kau! Siapa yang memintamu membawa bedebah itu menginjakkan kaki di rumah ini?! Dengar! Kau akan secepatnya menikah dengan Yoona!"
"AKU TAK AKAN MENIKAH DENGAN WANITA ITU…. HANYA KARNA BISNIS BODOHMU! BERHENTI MEMAKSAKU AYAH!" Minho makin tersulut
"YACKKK! Dia laki-laki! Apa kau gila?! Menghancurkan martabat Ayahmu hanya karna Laki-laki hina seperti dirinya?! Gunakan kepalamu!"
Taemin menunduk dalam, tak cukupkah dengan semua pertetangan hubungan keduanya…..dan kini, pria itu makin mencaci maki dirinya seperti ini. Ya Tuhan….hatinya tak cukup sanggup menerima semua sentakan kasar itu. Terlebih….
Terlebih…..sosok mungil itu, kini bersemayam di dalam perutnya.
"Maafkan aku" Lirih Taemin seraya menunduk dan mengusap lembut perutnya. Seolah menyadari makhluk mungil dalam perutnya tengah mendengarkan semua cacian kakeknya.
Minho mengumpat keras, oh sial! Ia benar-benar menyesal membawa Taemin ke hadapan orang tuanya seperti ini. Sungguh…..Ia tak pernah menduga, Ayahnya akan berbuat sejauh ini.
Sejak awal….Ia kemari, hanya untuk meminta restu . Tapi tiba-tiba saja, Ayahnya….mengungkit kembali perihal perjodohan itu, dan membuat segalanya semakin pelik.
"AYAH! BERHENTI BICARA BURUK TENTANG TAEMIN! DIA YANG TERBAIK! DAN DIA SATU-SATUNYA YANG KUCINTAI!"
"PERSETAN DENGAN UCAPANMU! MENIKAHLAH DENGAN YOONA! ATAU…..AKU AKAN MENYINGKIRKAN BEDEBAH INI!"
DEG
Taemin mengangkat cepat kepalanya, dan memandang penuh nanar pada sosok paruh baya di hadapannnya. Nyatakah apa yang baru saja di dengarnya?
"M—menyingkirkanku?" Gumam Taemin lirih, seraya menggenggam lebih erat tangan Minho.
"TAEMIN MENGANDUNG PUTRAKU… AYAH! CUCUMU SENDIRI!" Teriak Minho lantang, membuat Tuan Park…terbelalakkan mata lebar dan nyaris terhuyung-huyung ke belakang.
"A—apa maksudmu?" ujar Tuan Park, masih dengan memegang tengkuknya.
"Aku mencintainya Ayah…aku tak mungkin meninggalkan Taemin dan buah hatiku sendiri, ku mohon beri—
"TIDAK!" Sentak Tuan Park keras.
"Gugurkan janin itu! Dan kau akan tetap menikah dengan Yoona!" Lanjutnya lagi.
Sontak saja, Minho makin meradang dibuatnya. Tak habis pikir….Ayahnya bisa sekeji itu, mengatakan hal terlarang di depan Taemin.
"APA KAU GILA?!" Geram Minho
Pria paruh baya itu berdecih "Baik…..aku sendiri yang akan menggugurkan janin itu!" kecamnya sambil menyeringai
"TIDAK!...aku tak akan menggugurkannya, ku mohon jangan menyakitinya! Apapun akan kulakukan….tapi ku mohon biarkan Dia terlahir….ku mohon" Taemin tiba—tiba bersimpuh dan memeluk erat-erat kaki kanan pria paruh baya itu. Bulir mata yang mengalir seolah tak lekang membuat wajah sayu itu tertunduk pias. Bagaimanapun… dirinya akan tetap, mempertahankan buah hatinya. Cukup hanya dirinya yang tersakiti seperti ini…..mustahil membiarkan siapapun menyentuh malaikat mungil yang kini berlindung dalam tubuhnya itu.
"T—Taemin" Minho tertegun sekaligus sesak, melihat namja cantik itu….makin histeris memohon-mohon pada ayahnya.
"Kita pergi dari sini….Taemin" Ujar Minho, seraya merengkuh bahu Taemin, berusaha menarik namja cantik itu agar lekas bangkit. Namun Taemin menyentaknya, dan tetap meracau histeris di bawah kaki ayahnya.
"Kumohon—
"Kau akan melakukan apapun….untuk janin itu?" Sela Tuan Park tiba-tiba, membuat Taemin mengangkat cepat kepalanya dan memandang pria paruh baya itu penuh harap.
"N—ne….apapun akan kulakukan, biarkan anakku tetap hidup"
Tuan Park terkekeh melihatnya, bukanlah suatu yang sulit….melancarkan rencana pernikahan Putranya kali ini. Lihat saja…namja bernama Taemin itu memilih mengambil langkah dengan sendirinya bukan.
"Hm baik…tapi dengan syarat serahkan bayi itu padaku setelah kau melahirkannya. Lalu—
Tuan Park menyimpul seringai tipis. "Pergilah sejauh mungkin dari sisi Putraku….bagaimana?"
Minho kembali terperanjat mendengarnya. Ini lebih dari kata licik! Memaksa dirinya tetap menikah dengan Yoona lalu merampas bayi tak bersalah itu.
Tidakkah itu sama halnya menghancurkan Taemin bertubi-tubi, dengan merebut dirinya dan buah hatinya dari sisi Taemin?
Tidak! Demi apapun itu! Ia tak akan membiarkan Ayahnya melukai Taemin lebih dari ini. Dengan gusar, Minho merengkuh tubuh ringkih Taemin dan memaksanya meninggalkan kediaman mewah itu.
"Jangan pedulikan Pak Tua itu Taemin! Aku tetap milikmu…..dan bayi dalam kandungan—
SNAP
Namun tiba-tiba saja, Taemin melepas paksa rengkuhan Minho dan kembali merangkul kaki Tuan Park.
"B—baik, aku akan pergi. Asal kau menerima bayi ini….sebagai bagian dari keluarga Park"
"LEE TAEMIN!" Minho mulai meradang mendengarnya.
Namun sama sekali tak meluruhkan tekad Taemin untuk tetap memohon pada Tuan Park, semua tak pelak….Ia lakukan demi kebaikan buah hatinya kelak.
"Tentu saja... bahkan aku akan melakukannya dengan senang hati" Ujar Tuan Park penuh penekanan, seulas senyum picik pun tersemat jelas di sudut bibirnya.
.
.
.
.
"Apa maksudmu berbicara seperti itu!? Katakan kau hanya bercanda dengan semua ini!"
"…"
"Jawab! Dan lihat mataku saat aku berbicara denganmu!" Seru Minho seraya, meremas kedua lengan Taemin hingga menghadap padanya.
"C—cukup…Minho. Menikahlah dengan Yoona….dan biarkan aku pergi"
Minho tertawa hambar. "Menikah? membiarkanmu pergi? APA KAU PIKIR AKU GILA HAH?!"
"Semua tak akan berarti! Sebesar apapun cinta yang kita miliki….tak akan mengubah kenyataan ini" sela Taemin.
Minho makin mencelos getir mendengarnya, berulang kali Ia mengedarkan pandangan tak tentu….benar-benar tak tau harus dengan apa….untuk membuat namja cantik itu tetap bertahan di sisinya.
"t—Taemin…..Dengarkan aku" Ujar Minho selembut mungkin, berusah menyampaikan maksud hatinya dari sorot obsidian itu.
"Kita bisa melewatinya…percayalah Sayang. Hanya ada aku….kau dan uri aegya"
Taemin menggigit bibir bawah kuat-kuat, berusaha tetap tegar dengan jeratan takdir ini. Sesungguhnya….Iapun tak ingin menyanggupi keputusan itu.
Terlalu sulit dan menyakitkan untuknya. Tapi Taemin bisa apa? Ia tak memiliki apapun selain cintanya untuk Pemuda Park yang terpandang itu dan juga janin dalam perutnya.
Terlebih….dirinya hanyalah seorang pelajar, dan 'seorang namja'. Akan menjadi suatu hal terlarang dipandang umum. Jika mereka mengetahui seorang namja sepertinya mengandung.
Tidak! Taemin tak akan membiarkan Minho jatuh hanya karena dirinya.
PLAK
"Berapa kali ku katakan! Kita tak akan mungkin bersama! Lepaskan aku Minho!" Seru Taemin begitu menghempas tangan Minho, akan tetapi pemuda itu tetap berusaha mengejar dan menahannya hingga di tepi jalan.
"Taemin….kau tak bisa seperti ini! Dengarkan aku! Yack!"
"Menikahlah dengan Yoona!"
"Apa?! berhenti bersikap seperti ini!"
"Dan besarkan uri aegya dengan kasih sayang penuh…tanpa kurang apapun itu"
"T—Taemin…tunggu dengarkan—
"Hanya itu yang kuinginkan darimu Minho!...TAXI!"
Minho membulatkan mata lebar, begitu kekasihnya dengan tiba-tiba memanggil Taxi yang melintas. Ini semua salah! Ia sepenuhnya tau….namja cantik itu begitu mencintainya. Tapi bagaimana mungkin menjadi seperti ini.
BLAM
"Y—YAAACK! TAEMIN!"
.
.
.
"Maaf…Semua kulakukkan karna aku mencintamu. Kau dan bayi inimemang seharusnya bahagia Minho"
.
.
.
.
Beberapa bulan kemudian
"Aku mengerti perasaanmu Minho-ssi. Jangan menyerah mencarinya….aku juga tau, kalian masih saling mencintai"
Wanita cantik itu mengusap perlahan pundak Minho.
"Y—Yoona….mengapa kau mendadak—
"Ah! 5 bulan setelah pernikahan kita dan kau masih berpikir aku satu-satunya wanita polos di sini? Selain status sebagai istrimu…tidakkah kau menganggapku sebagai sahabat eum?" Tukas Yoona, sembari mengulas senyum ramahnya.
"Aku memang mencintaimu….tapi aku tak bisa melihatmu menahan perasaan pada Taemin seperti ini, Cari Dia….ku dengar,Taemin berada di Busan saat ini." Lanjut Yoona lagi.
"Yo—yoona"
"Nnaa~ Ungggg"
Tiba-tiba saja, suara seorang baby mungil menginterupsi keduanya. Membuat Yoona cepat-cepat beringsut mendekat dan mengecupi pipi baby itu. Ya, tentu saja Putra Minho dan Taemin.
"Aaaa…..kyeoptaa, mwoyaa?…kau mencari eomma eumm? Nee…nee…Eomma di sini Yeollie Baby. Panggil Yoona Eomma arrachi?"
"Bwuah…umm…ung"
.
.
Flash Back Of
.
.
BRUUUUSSSSHHHH….
Derasnya hujan semakin pekat….mengaburkan jarak pandang di malam itu. Sepekat hati seorang pria cantik yang sedari tadi menunduk dalam diam, Ia tau benar….sesuatu terlanjur membeku. Dan mustahil….baginya meluruhkannya dalam waktu singkat.
"Kita sampai…" Ucapan Minho tiba-tiba saja membuatnya tersentak.
"O—ah! Y-ya kita sampai" Gagap Taemin seraya meraih paper bag di hadapannya dan memeluknya erat-erat.
Minho tersenyum hangat melihatnya, Ia beralih menggenggam tangan Taemin dan diciumnya lama.
"jangan menyembunyikan hal sekecil apapun dariku?"
"T-tidak!…kajja turun Minho, aku ingin bertemu Chanyeol"
"Tunggu sebentar"
Minho, merengkuh erat pinggang Taemin, tak mengizinkan namja cantik itu bergeser sedikitpun dari jok mobilnya.
"Bukankah….ini saatnya kita mengatakan yang sebenarnya pada Chanyeol?"
" A-apa maksudmu?"
"Ayolah Taemin kau tau apa yang sedang ku bicarakan. Aku rasa ini saatnya Chanyeol mengetahui bahwa kaulah Ibu kandungnya yang sebenarnya."
Taemin membulatkan mata lebar, tapi setelahnya Ia menunduk dalam-dalam.
.
Mengatakan yang sebenarnya pada Chanyeol?
Taemin rasa Ia belum siap, Ia benar-benar takut semua akan bertolak jauh dari keinginannya. Seperti beberapa tahun silam saat Ia muncul untuk pertama kalinya di hadapan Chanyeol. Dan semuanya berubah kebencian…jangankan memanggilnya Ibu. Anak itu…malah menganggapnya perusak hubungan Yoona dan Minho. Bahkan hingga memanggilnya pelacur penyebab kematian Yoona.
Taemin pun menyadari…semua itu salahnya. Tak di sisi Putranya…dan mengawasi tumbuh kembangnya sebagaimana mestinya seorang ibu. Tapi bagaimana lagi….saat itu, keadaan benar-benar tak memihak padanya. Dan memang dirinya yang meminta siapapun merahasiakan keberadaanya pada Putra kecilnya itu.
Hanya Yoona….yang memberinya kasih sayang penuh. Sudah pasti Chanyeol begitu menyayangi wanita itu sebagai ibunya.
Hingga Ia menyesal dan ingin kembali memeluk buah hatinya…..tapi terlambat. Chanyeol sama sekali tak menghiraukannya. Ia tetaplah pelacur di mata anak itu.
"T—tidak Minho…..a-aku tak ingin mengulang kesalahan yang sama."
"Tak ada kesalahan yang sama. Kita belum mencobanya…jadi ini saat—
TAP….TAPP…TAP
PRANK…..BRUGH….PRANKKK
"M—Minho!"
Keduanya terbelalak lebar begitu mendengar suara gaduh dari dalam rumahnya. Cepat-cepat Taemin membuka pintu dan berlari secepat mungkin, tak peduli tergelincir atau bahkan basah kuyup karna hujan.
Tentu saja Ia panik bukan kepalang, jika sesuatu yang buruk menimpa Chanyeol.
.
.
.
Namun begitu masuk dan memijakkan kaki ke dalam rumahnya, pasangan itu saling mengernyit tak mengerti melihat ceceran air di sepanjang tangga. Tak hanya itu banyak peralatan masak yang tersebar di lantai.
Apa yang tengah Chanyeol lakukan sebenarnya?
"Apa anak itu sedang belajar memasak di dalam kamarnya?" Celetuk Minho seraya mengerjapkan matanya.
Taemin tak menyahut apapun, Ia benar-benar merasakan sesuatu yang buruk di sini…cepat-cepat namja cantik itu berlari menapakki satu persatu anak tangga.
Dan begitu membuka kasar pintu kamarnya—
BRAKK
"Yeollie!" serunya panik, kala daun pintu kamar itu benar-benar terbuka lebar.
Seketika itu pula, rasa paniknya berangsur luruh dengan raut tak mengerti saat melihat seorang remaja tertidur di ranjang Chanyeol. Sepertinya tak asing…..Ia pernah melihat anak itu sebelumnya
Ahh…Dia—
"Baekhyunnnie!" Pekik Taemin lagi seraya menutup bibirnya. Bagaimana bisa anak itu tertidur di sini….dan lagi, mengapa Baekhyun telanjang? Terlihat jelas….hanya selimut Chanyeol yang menutup rapat tubuh bagian bawahnya.
"Tch! Berisik" Decak Chanyeol, masih terus mengacak isi lemari pakaiannya…..namun apa yang dicari sepertinya tak kunjung ia temukan dalam benda kotak berukuran besar itu.
Sejenak Taemin mencoba menghela nafas, sebelum akhirnya beralih mendekati Baekhyun dan tersenyum penuh arti kala melihat kain kompres di dahi anak itu.
Jadi ini yang dilakukan Chanyeol hingga mengacak-acak isi dapurnya. "Baekhyun demam" Lirih Taemin sembari menaikkan selimut sebatas leher bocah mungil itu
"Apa yang kau cari hm?" Ujarnya kemudian, seraya menoleh pada pemuda yang masih berkutat dengan isi almarinya.
"Kemeja" Singkat Chanyeol.
Membuat Taemin mengulas senyum lembut, setidaknya….Chanyeol tak menyentaknya kasar kali ini. Ia lantas beralih melihat penuh binar pada isi paper bag berwarna merah marun di pangkuannya.
Chanyeolpun turut menghentikan gerakannya, begitu mendengar suara tak biasa….semacam gemrisik kertas tebal di belakangnya. Ia putuskan untuk menoleh sesaat.
" Yeollie… Ini—
"Itu untukku?" Sergah Chanyeol, sambil menunjuk paper bag Taemin.
Namja cantik itu semakin tersenyum cerah. Benarkah yang Ia lihat saat ini….Chanyeol bertanya demikian padanya. Oh! Putra kecilnya itu.
"Ne..tentu saja untukmu Yeollie. Hari ini—
SRET
"Terimakasih"
Taemin mendadak membulatkan mata lebar, begitu Chanyeol menyambar paper bagnya dengan tiba-tiba, dan berlalu begitu saja. Namun setelahnya….Ia kembali tersenyum lebar. Bukankah itu berarti Chanyeol menerima hadiah pemberiannya? Tak ada caci maki? Bahkan tak ada tatapan menusuk.
Ah! Meski hanya sepatah kata 'terimakasih'….tapi Ia benar-benar senang bukan kepalang mendengar Putranya mulai berbicara padanya. Dan yakin…..Chanyeol akan mengenakan kemeja pemberiannya itu.
"Apa kau akan memakainya?" Taemin mulai mengekor Chanyeol, dengan senyum sumringahnya.
"Ya" Jawab Chanyeol.
Namun….senyum itu mendadak pudar, begitu melihat apa yang dilakukan Chanyeol saat ini.
Chanyeol memang mengenakan kemeja itu, tapi bukan untuk tubuhnya melainkan pada tubuh namja mungil yang tertidur di ranjangnya.
Lihat saja…
Anak itu….dengan wajah stoicnya. Begitu cekatan merengkuh Baekhyun dan mengenakan kemeja putih pemberiannya di tubuh Baekhyun.
"Tck! Terlalu besar untukmu. Tapi biarlah….sudah terlanjur" Gerutu Chanyeol seraya menyematkan satu per satu kancing kemeja tersebut.
Membuat, Taemin hanya menghela nafas dan memijit pelipisnya.
'Yeollie…tak bisakah kau mengambil kemeja lain untuk Baekhyun?…itu hadiah dari Eomma, Sayang' Batin Taemin. Meski demikian…..Ia tetap mengulas senyum melihat sikap putranya itu.
.
.
"Ada apa ini?"
Minho yang baru saja menapakkan kaki di kamar Chanyeol, mengedarkan pandangan tak mengerti….begitu melihat Baekhyun rupanya berada di dalam kamar itu. Dan dalam kondisi tertidur sangat pulas. Itu pikirnya.
"Baekhyun menginap di hari ulang tahunmu?" Tanyanya lagi.
Chanyeol kembali berdecak mendengarnya. "Bisakah kalian keluar?" Desis Chanyeol sembari meletakkan kain kompres di dahi Baekhyun.
"Tapi mengapa harus keluar? Itu….apa yang kau lakukan pada Baekhyun?" Tanya Minho seraya menunjuk-nunjuk kompres Baekhyun.
"Biarkan Chanyeol merawat Baekhyun dengan baik" Taemin berusaha membujuk dengan menarik, lengan namja kekar itu.
"Mwo? Merawat? Anak itu sedang tidur bukan? Merawat apanya?"
"Minho….kajja keluar" Bujuk Taemin lagi
"Tapi apa yang terjadi pada Baekhyun?"
"KELUAR!" Kali ini Chanyeol mulai membuka suara dan berteriak jengkel pada ayahnya.
Membuat Taemin cepat-cepat mendorong Minho keluar, dan menutup pintu kamar itu sepelan dan serapat mungkin. Sebelum Chanyeol makin mengamuk hebat.
.
.
.
"Apa yang terjadi?" Bisik Minho, begitu Taemin memaksanya turun menapaki anak tangga.
"Kau tak peka…atau memang bodoh huh!" Gerutu Taemin kesal.
"Apa!? Aku benar-benar tak—
"Minho dengarkan aku." Taemin meraih kedua lengan Minho, dan memutarnya hingga menghadapnya. "Baekhyun sedang demam tinggi, biarkan Chanyeol merawatnya. Dan satu hal lagi….jangan pernah mengusik waktu Chanyeol bersama Baekhyun. Itu akan membuatnya marah besar. Apa itu cukup menjawab pertanyaanmu?" Jelas Taemin.
Minho kembali mengerjap. "Demam? Ah….tapi mengapa Chanyeol harus berteriak keras seperti itu pada Ayahnya? Bocah sialan"
"Oh ayolah Minho….apa kau benar-benar tak memahami putramu sendiri?"
"Aissh…yang benar sajah, seorang Ayah dibentak-bentak seperti itu? Chanyeol—
"Tck! Diamlah.."
.
.
.
Chanyeol menghela nafas pelan, begitu mengunci rapat pintu kamarnya. Jika seperti ini ….Ayahnya tak akan bisa masuk, dan mengusiknya lagi bukan. Ia beralih melangkah perlahan mendekati ranjang, menarik kursi dan duduk tepat di sebelah Baekhyun.
Sejenak….Ia memandang lekat-lekat wajah terpejam itu. Hanya perasaannya saja atau memang benar adanya. Wajah Baekhyun tetap terlihat manis meski pucat seperti itu.
"Hey! Bangun" Gumam Chanyeol, tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya…pada paras yang sebenarnya menggemaskan itu.
Masih lekat dalam ingatannya, betapa takut dan histerisnya Baekhyun, hinga berkahir tak sadarkan diri bahkan suhu tubuhnya pun mendadak setinggi ini. Chanyeol tau semua memang salahnya…..tapi, Ia tak bisa menahan diri. Segalanya akan terasa buntu…saat melihat Baekhyun selalu menghindar dan sulit untuk dijangkau, terlebih jika Baekhyun melihat pemuda lain selain dirinya.
Chanyeol beralih meraih tangan Baekhyun dari balik selimutnya,namun sorot mata itu berangsur redup begitu merasakan tangan Baekhyun sangatlah dingin.
'Bagaimana mungkin sedingin ini, sementara tubuhmu benar-benar panas ?' Gumam Chanyeol dalam hati.
Lama menggenggam dan memainkan jemari lentik itu, hingga tanpa tersadar Ia mulai tertarik untuk membawanya lebih dekat... sangat dekat dan—
Chup
Semua tergerak dengan sendirinya, begitu jemari mungil itu benar-benar dikecupnya tanpa sengaja.
"Kau memang manis saat diam" Gumam Chanyeol lagi sambil meletakkan telapak tangan Baekhyun di pipi kanannya. Ah! apa yang terjadi? Sejak kapan Ia bermonolog seperti ini…terlebih dengan intonasi rendah. Itu bukan dirinya, ya….Chanyeol yakin itu.
Tak ada respon…
Jika seperti ini….Chanyeol merasa terlihat seperti pemuda setengah waras. Demi apapun itu….dibandingkan melihat Baekhyun terpejam lemah, Ia lebih memilih anak itu berteriak-teriak rusuh bahkan menggebrak apapun dengan jengkel karna ulahnya.
Tanpa melepas tautan tangan keduanya, pemuda itu beralih menyentuh leher Baekhyun dan berdecak lidah, menyadari panas tubuh Baekhyun tak kunjung meluruh bahkan rasanya semakin tinggi saja.
Tengah malam dan hujan di luar masih turun dengan lebatnya, tentu mustahil memanggil seorang dokter, meski itu dokter pribadi sekalipun.
Meminta tolong pada Taemin?
Oh Ya! Chanyeol tau….Taemin seorang Dokter. Tapi meminta pertolongan pada seseorang yang telah menghancurkan keluarganya..bahkan hingga membuatnya kehilangan Yoona.
Tentu saja…
Pantang baginya!
Sampai kapanpun….Ia tak akan sudi menatap wajah Pria itu.
.
.
Chanyeol kembali memutar tubuh kebelakang menghadap bocah mungil di ranjangnya.
"Baek…" Panggilnya lirih, seraya menangkup pipi Baekhyun. Berulang kali pula….Ia mengganti kompres Baekhyun dengan air dingin yang baru
Tapi nihil, panas tubuhnya tetap tinggi dan lebih parah lagi….anak itu tak juga membuka kedua matanya. Meski Baekhyun kerap mengelabui orang lain dengan sandiwaranya, tapi…kali ini, rasanya terlalu bodoh jika dikatakan anak itu sedang bermain-main.
Baekhyun benar-benar sakit.
Chanyeol mengumpat lirih….. seakan benci dan tak tahan melihat bocah manis itu, mendadak serapuh ini. Chanyeol memilih berlari ke arah pintu, berniat keluar dan mengambil kunci mobil Ayahnya…..bagaimanapun Ia harus membawa Baekhyun ke rumah sakit. Atau semua akan menjadi fatal
Namun tiba-tiba saja…
"Yeollie..."
Chanyeol stagnan…..dan urung membuka pintu kamarnya, begitu menyadari seseorang berada di depan pintu kamarnya saat ini.
Keningnya bertaut tak suka…..mendengar, pria itu memanggilnya seakrab bahkan selembut itu.
"Bitch!" Umpatnya lirih. Masih tetap berdiri mematung.
"Yeollie….bisakah kau membuka pintunya sebentar?" Ujar Taemin dari luar.
"Apa maumu!?" Sahut Chanyeol, sembari mengepalkan tangan kuat-kuat.
"Ada yang ingin ku berikan padamu..."
Chanyeol berdecak penuh emosi, terlalu enggan memenuhi permintaan tersebut. Tapi jika tetap berdiam diri seperti ini….tentu akan mengulur waktu dan makin memperparah kondisi Baekhyun. Tak ada pilihan lain selain membuka pintu kamarnya
CKLEK
"Ah! Kau ingin pergi kemana sayang—ah! Chanyeol maksudku" Ucap Taemin cepat, begitu pintu terbuka dan melihat Chanyeol telah mengenakan jaket tebalnya.
Dibandingkan peduli dengan pertanyaan tersebut, matanya lebih tersita pada nampan yang di bawa Taemin. Segelas air mineral dan beberapa tablet obat berada di atasnya.
"…"
.
.
Taemin tersenyum, melihat sikap diam itu. Sesaat kemudian, Ia meletakkan nampannya di atas meja….kemudian beralih menyentuh pipi dan leher Baekhyun bergantian.
"Apa kau belum memberinya obat?" Tanya Taemin, masih terus mengamati lekat-lekat namja mungil yang terpejam di ranjang itu.
"Belum" Singkat Chanyeol.
"Cobalah….minumkan obat ini. Jika esok hari….demam Baekhyun belum juga meluruh…kita bisa membawanya ke rumah sakit….Otteyo?" Ujar Taemin, berusaha menenangkan. Dari sorot kedua obsidian itu , Ia tau …Putranya sepertinya sangat mencemaskan kondisi Baekhyun.
Tak ada jawaban, Chanyeol hanya diam dan memalingkan wajah ke lain arah.
Membuat Taemin kembali tersenyum getir melihatnya.
"Ah…kau tau bukan? Aku tak sedang bertugas….jadi aku tak membawa peralatan medis yang lengkap. Tapi aku yakin….obat itu bisa meluruhkan demamnya" Yakin Taemin lagi, tapi lebih untuk membangun pembicaraan dengan Putranya. Meski Ia tau…..Chanyeol tak akan mungkin mendengarnya…terlebih peduli padanya
"Apa kau sudah selesai? Jika ya….cepat keluar!" Sentak Chanyeol dingin.
Lagi….Hatinya kembali mencelos getir, melihat sikap itu. Bukankah beberapa saat lalu….Chanyeol bisa sedikit membuka hatinya?
Tapi kali ini….anak itu kembali berbicara tanpa sedikitpun memandangnya. Seolah…Ia hanyalah orang asing yang tak berhak sedikitpun menyentuh Chanyeol…Putranya sendiri.
"B—baiklah. Jika Baekhyun bangun….kau bisa memanggilku Yeollie. Aku akan membuatkannya sup hangat" Ujar Taemin sembari melangkah pelan menuju pintu utama kamar tersebut.
"…."
"Sudah larut malam. Cepatlah tidur ... ne?" Ucap Taemin lagi, sebelum benar-benar menutup rapat pintu kamar itu.
Chanyeol hanya bedecih lirih mendengarnya. Baginya….Taemin terlalu jauh mencampuri urusannya.
"Berisik" desisnya tak suka.
.
.
.
pemuda itu beralih bangkit dari duduknya, melepas jaket lalu melemparnya ke sembarang arah. Tatapannya seketika menajam begitu melihat beberapa tablet obat di atas nampan itu, Ia putuskan untuk mendekat dan mengambilnya.
Sesaat Ia menimang dan menatap lekat tablet tersebut, haruskah Ia menerima dan meminumkannya pada Baekhyun?. Ah! rasanya…..tak rela, menerima bantuan dari pelacur itu! Pikir Chanyeol.
Tapi…situasi tengah mendesakknya. Tentu Chanyeol tak menginginkan bocah mungil itu bertahan melawan demamnya, tanpa pertolongan apapun. Lalu apa yang akan ia katakan jika yunho tau putranya yang manja itu mendadak sakit seperti ini?
Tak ada salahnya…Baekhyun meminum obat itu bukan?
Chanyeol sedikit melirik Baekhyun, sembari membuka tablet obat tersebut lalu meraih segelas air mineral sebelum akhirnya mendekati namja cantik itu.
Tanpa suara….Chanyeol memasukkan beberapa butir obat itu ke dalam mulutnya, kemudian sedikit mengangkat tengkuk Baekhyun hingga menengadah.
Nafasnya mungkin memang tercekat, kala menekan dagu Baekhyun. Bibir yang sebelumnya selalu merah merekah saat dikecupnya, kini benar-benar pucat pasi. Entahlah…..ia benar-benar tak suka dengan keadaan seperti ini. Meski Chanyeol tau….dirinya memang biang dari semua ini.
Perlahan namun pasti, Chanyeol menyatukan bibir keduanya….melesakkan butir obat itu ke dalam mulut Baekhyun dengan lidahnya. Ia sedikit mengernyit…kala mencecap rasa basa dari obat itu
Sangat pahit!
Tapi Chanyeol tetap melesakkan setiap butirnya, hingga dipastikan Baekhyun dapat menelannya dengan baik nantinya.
Beberapa saat kemudian, pemuda itu melepas tautan bibirnya dan beralih meneguk air mineral di tangannya. Sedikit tak yakin memang….obat itu bisa terminum dengan cara seperti ini. Karna besar kemungkinan….Baekhyun akan tersedak bukan. Tapi mau bagaimana lagi….hanya ini satu-satunya cara yang bisa dilakukannya.
Chanyeol kembali merengkuh tengkuk Baekhyun, lalu menyatukan bibir keduanya dengan cepat….membagi air yang beberapa saat lalu diteguknya dengan perlahan.
Tangan kirinya terlihat menangkup erat rahang Baekhyun, memastikan tak banyak air yang meleleh turun….dan obat itu benar-benar tertelan sempurna oleh Baekhyun.
Namun bersamaan dengan itu, jemari Baekhyun mulai bergerak kecil. Sesuatu terasa mengganggu dan menyedaknya. Hingga kelopak mata itu terbuka lemah. Baekhyun ingin menjerit begitu menyadari Seseorangl tengah menciumnya, dan memaksanya menelan cairan asing berasa sangat pahit. Dan orang itu... Park Chanyeol!
Ya Tuhan ini gila!... Mungkinkah Chanyeol ingin meracuninya?
Ah! Tapi mustahil Ia menjerit bahkan menghantam Chanyeol detik itu juga….Tubuhnya terlalu lemas, membuatnya hanya melenguh menahan sedak.
"Mmpfth~….aghh~ mmmh!"
Chanyeol sedikit tersentak mendengar lenguhan tertahan dan remasan lemah di lengannya. Ia tau….Baekhyun mulai siuman. Meski demikian, Chanyeol tetap….merengkuh tengkuk namja mungil itu, dan memaksanya menegak habis air dalam mulutnya hingga tak bersisa.
"Mmphh~ Mmm—"
"Telan…" Titah Chanyeol seraya menutup bibir Baekhyun dengan ibu jarinya.
Bocah mungil itu menggeleng dengan pipi menggembung. Berulang kali pula, Ia mencakar-cakar tangan Chanyeol agar menyingkir dari bibirnya. Membuat Chanyeol berdecak dan menghela nafas jengah melihat sikap keras kepala itu.
"Telan…atau kucium" Ancam Chanyeol sambil menatap lebih tajam
GULP
Dan benar saja…..karna takut dan gugup, Baekhyun menelannya cepat hingga tak bersisa.
Chanyeol mengulum senyum melihatnya, ah demi apapun itu. Ia benar-benar menyukai Baekhyun yang patuh seperti ini, meski sesekali harus dengan ancaman.
"Pa—hit" Lirih Baekhyun, sembari memejamkan mata erat-erat. Tak tahan dengan rasa basa yang masih tertinggal di lidahnya.
Tapi setelahnya Ia berjengit terkejut, begitu tiba-tiba saja….Chanyeol menariknya dan membuatnya bersandar nyaman di dada pemuda itu.
"Minumlah dengan perlahan" Bisik Chanyeol seraya membimbing Baekhyun meminum air mineral itu.
Baekhyun mengerjap tak mengerti, Sejak kapan Chanyeol bersikap sehangat ini, bahkan suara bass itu terdengar begitu lembut. Apa Ia bermimpi? Atau memang…. Ini karna pening di kepalanya?
Tapi Baekhyun enggan bertanya lebih, tatapannya semakin sayu….bahkan denyut dikepalanya pun kian menjadi-jadi. Dan….Ia memang sedang tak ingin menyulut pertengkaran apapun dengan Chanyeol, meski sebenarnya Baekhyun ingat benar…apa yang telah Chanyeol lakukan terhadapnya sebelum ia collaps.
Baekhyun begitu patuh memegang gelas itu dan meneguk air mineralnya dengan perlahan. Lalu setelahnya Ia kembali bersandar di dada Chanyeol dan memejamkan kedua matanya.
"Kau merasa lebih baik?" Tanya Chanyeol, seraya menyentuh dahi dan leher Baekhyun bersamaan.
Bocah mungil itu hanya menggeliat kecil, tak ingin Chanyeol menyentuhnya seperti itu.
"J-jangan macam-macam!" Ketus Baekhyun, meski nyatanya terdengar begitu serak. Sesekali manik caramel itu mencoba untuk membuka….namun tetap saja Baekhyun kesulitan melakukannya. Dan memaksanya tetap terpejam erat.
Chanyeol hanya mengulas senyum tipis mendengarnya, lalu beralih membaringkan tubuh mungil itu di ranjangnya. Ia menyibak surai pirang Baekhyun ke atas dengan perlahan, kemudian kembali meletakkan kain basah bersuhu dingin itu di dahinya.
"Tidurlah " Ucap Chanyeol lirih, sadar atau tidak... sebuah senyum terulas hangat di bibir merahnya, saat Ia mencoba menyamankan posisi tubuh Baekhyun di ranjangnya.
Tapi Ia kembali mengernyit heran begitu melihat mata sipit itu masih mendelik tajam padanya. "Apa hn?" tanyanya kemudian, membuat bocah manis itu cepat-cepat memejamkan mata darinya.
Sontak, kembali membuatnya terkekeh pelan. 'Menggemaskan sekali' pikirnya seraya menarik selimut hangat sebatas leher Baekhyun. Entahlah sesuatu terasa asing dalam dadanya saat melakukan semua hal ini untuk Baekhyun.
Chanyeol beralih menduduki kursinya di sisi Baekhyun, dan menatap lekat-lekat sosok manis yang kembali tertidur lelap itu. Hingga tanpa sadar….Ia meraih tangan Baekhyun untuk digenggamnya. Sesaat memainkannya sesaat pula mencuri kecupan di punggung tangan itu,
Sangat menyenangkan untuknya, Karna Ia tak pernah bisa melakukan semua ini jika pemiliknya benar-benar terbangun. Ah sungguh! anak itu sudah pasti menjerit-jerit rusuh jika tau apa yang dilakukannya kini.
.
Lama….Chanyeol bertahan dalam posisi duduknya…. menggenggam dan mengecup berulang-ulang tangan Lentik itu. Sesekali Ia menggelengkan kepala berusaha mengusir rasa kantuknya.
Tapi….rasa-rasanya kelopak matanya semakin berat untuk sekedar dikedipkan, dan sungguh! Ia tak sanggup lagi menahannya. Hingga tanpa disadarinya…Chanyeol jatuh terlelap, di sisi Baekhyun
.
.
.
.
Beberapa saat kemudian
"Unh….hhh..ngh~."
Chanyeol mengernyit, kala rintihan tertahan seseorang benar-benar mengusik tidurnya. Semakin lama semakin terdengar jelas….dan itu memaksanya membuka mata cepat. Namun detik itu pula Chanyeol tercekat begitu melihat Baekhyun meggigil kedinginan, dengan wajah kebas penuh linangan air mata.
"Baekhyun?"
Kali ini benar-benar membuatnya panik. Apa yang salah dengan anak itu? Ia bergerak cepat menyingkirkan kain kompres di kening Baekhyun dan memegang penuh dahinya.
"Oh Shit!" Umpat Chanyeol
Tubuhnya semakin panas! Mengapa demamnya tak juga meluruh? Mengapa Ia bisa jatuh tertidur sebodoh itu.. sementara Ia benar-benar tak tau apa yang terjadi pada bocah itu, sebelum ini.
"Sshh.." Bisiknya menenangkan seraya menyeka keringat Baekhyun dengan tangannya sendiri, Ia beringsut cepat hendak turun dari ranjang….bagaimanapun, Ia merasa harus membawa Baekhyun ke rumah sakit secepatnya.
Namun tiba-tiba—
Baekhyun mencengkeram ujung kemejanya, dan menariknya kuat
"D—dingin…nnh…hh" Lirih Baekhyun semakin menggigil kedinginan.
Chanyeol tertegun, benar-benar merasa ada yang salah dengan dadanya. Mengapa Ia berdebar seperti ini?. Sejenak berdecak, sebelum akhirnya meraih kedua tangan Baekhyun….menggosoknya dan meniupnya berulang-ulang. Berharap itu bisa sedikit menghangatkan tangannya yang terasa beku itu
"Hhh!.. Hks~ Nghh!"
Tapi rasanya apa yang dilakukannya sepertinya percuma. Bocah mungil itu tetap tersengal bahkan menggigil parah. "Hei.. kau benar-benar kedinginan?" Ujarnya sedikit frustasi.
"..."
Chanyeol bergerak cepat mengambil selimut lainnya, lalu Ia gunakan untuk membungkus rapat tubuh Baekhyun. Ah Sial! Mengapa Ia sepanik ini melihat paras baby face itu makin memucat pasi.
"Bertahanlah….aku akan membawamu ke rumah sa—
GREB
Chanyeol terbelalak lebar begitu Baekhyun merangkul erat lehernya, semakin lama semakin menguat seakan tak menginginkannya bergeser sedikitpun.
Hingga Ia bisa mendengar…gemertak gigi dari bocah manis itu. Bahkan nafas yang berhembus di sekitar perpotongan lehernya pun terasa berat dan panas.
"NNH! J—jangan per—gi! hhh..Di—ngin!…nghh" Racau Baekhyun tersengal, anak itu makin terisak meski nyatanya, kedua mata itu tetap terpejam erat.
Sebelumnya Ia tak pernah mengenal kata panik, tapi rasanya... Baekhyun mengubah semuanya. Tak hanya merelakan waktu untuk menjaganya, tapi Ia benar-benar dibuat kalap bukan kepalang, melihat anak itu serapuh ini. Seakan tak mampu berpikir jerbih, hingga yang terlintas hanya balas mendekapnya erat. Berharap itu bisa membuat Baekhyun sedikit lebih hangat.
Bahkan…kini Chanyeol mulai beringsut ke bawah selimut….demi mendekap tubuh menggigil itu lebih erat. "Tenanglah.." Bisiknya Chanyeol seraya meniup tengkuk Baekhyun dengan nafas hangatnya. Membuat bocah manis itu makin menggeliat masuk ke dalam pelukannya, seolah ….tengah berusaha mencari suhu yang lebih hangat dari tubuh kokohnya.
.
.
.
Malam kian beranjak larut, bahkan sepertinya... hampir menyentak dini hari.
Namun, Perlahan namun pasti, Baekhyun sepertinya makin menenang dalam dekapannya…Terlihat, bocah mungil itu tak lagi merintih…menggigil kedinginan. Bahkan nafasnyapun….mulai terdengar rileks. Tidakkah ini lebih baik? Membuat bibir merah itu kembali mengulas senyum tipis... bahkan rasanya tak jemu berlama-lama menatap Baekhyun yang tertidur pulas dengan jarak sedekat ini.
Biarlah….Ia merasa gerah bahkan peluh makin merembas di sekujur tubuhnya karna berpelukan erat seperti ini. Asal itu bisa membuat Baekhyun merasa lebih baik…..apapun bukan masalah untuknya.
"Maaf…"
.
.
.
.
Esoknya…
Chirp….Chirp…Chirrp
"Uhhnn…mmhh" Baekhyun menggeliat dan menguap kecil…kala kicau burung serasa menjerit nyaring di pagi ini. Baginya, itu benar-benar berisik!
Baekhyun beralih memalingkan tubuh ke kanan, namun seketika itu pula Ia mengernyit…..dan mengumpat lirih saat bias mentari menerpa langsung wajah kusutnya.
Cepat-cepat bocah mungil itu membuka mata, dan terbelalak terkejut…begitu menyadari semua terasa asing di matanya.
"Bukan kamarku?!" Pekiknya seraya bangkit duduk. Dengan gusar…Baekhyun mengedarkan pandangan ke sekitar. Dan semakin yakin, sepertinya Ia tidur di kamar yang salah? atau dirinya berjalan saat tidur hingga memasuki kamar yang salah?. Sejak kapan….Semua dindingnya bercat biru gelap seperti itu?! Suram sekali!
Ah! Seingatnya….. kemarin, sesuatu yang buruk menimpa dirinya….dan Ia melarikan diri dari kamar ini.
'Tunggu!'
'Kamar ini?'
Baekhyun mulai berpikir keras, seraya mengernyitkan keningnya. Berusaha kembali mengingat kembali potongan kejadian semalam. Hingga tiba-tiba saja…kedua caramel eyes itu membulat lebih lebar begitu semua berputar dengan apik dalam kepalanya.
Kamar Chanyeol?!
"MWOYAAA?!" Teriak Baekhyun keras.
Ia benar-benar mengingatnya sekarang….dari Chanyeol yang kembali mencoba memperkosanya hidup-hidup, berlari di tengah hujan, dan dirinya yang collapse. Ya….Baekhyun ingat dengan baik semua itu.
.
.
'CKLEK'
"Kau bangun?"
Tiba-tiba pintu terbuka, seorang pemuda tinggi masuk dengan hanya mengenakan celana training dan bertelanjang dada. Terlihat jelas pemuda itu…baru saja menyelesaikan mandinya.
Baekhyun mendelik sengit, lalu beringsut-ingsut ke belakang hingga menghimpit kepala ranjang….begitu Chanyeol beralih berjalan mendekatinya.
"M—mau apa kau?!" Seru Baekhyun saat menyadari, sebelah tangan Chanyeol menyentuh keningnya.
"Baguslah….demammu sudah meluruh" Ucap Chanyeol santai…kemudian mengacak surai pirang Baekhyun, hingga semakin kusut.
Baekhyun memalingkan wajah ke samping, tak mengerti….bagaimana mungkin Ia bisa merasa segugup ini saat Chanyeol menyentuhnya. Terlebih….aroma maskulin yang menguar dari tubuh tinggi itu, membuat debaran dalam dadanya makin menggila saja.
Tidak!
Ini tidak benar! Baekhyun menggelengkan kepala cepat….dan menatap Chanyeol lebih tajam, berusaha menepis pemikiran absurd itu.
Alasan dirinya berdebar…tentu saja karna was-was Chanyeol kembali menerkamnya seperti kemarin. Yakin Baekhyun dalam hati.
"J—jangan mendekat! Atau ku..p-pukul kau!" Baekhyun semakin gugup begitu Chanyeol makin mengikis jarak, hingga hidung keduanya nyaris bersentuhan.
"Kau—
Chanyeol menggantungkan kalimat, seraya memiringkan kepalanya.
"Tak ingat apapun dengan yang semalam?" Lanjutnya lagi, sambil mengetuk-ngetuk kening Baekhyun dengan telunjuknya.
Membuat…namja mungil itu, mendadak mengernyitkan dahi tak mengerti. Apa maksud dengan 'yang semalam'?
Namun….tiba-tiba saja, paras baby face itu kembali memerah padam…begitu sekelebat ingatan Chanyeol menciumnya kembali melintas dalam kepalanya.
"K—kau! Kemarin berniat meracuniku bukan!" Tuduh Baekhyun, seraya menutup rapat-rapat bibirnya dengan kesepuluh jarinya.
"Hn? " Chanyeol mengernyit heran.
"Y—ya! aku ingat!…Kau menciumku..l—lalu memaksaku meminum racun itu bukan?!" Seru Baekhyun gugup, sambil menunjuk-nunjuk wajah stoic itu.
"Bodoh" Chanyeol terkekeh pelan…tak habis pikir….semua yang terjadi semalam lenyap begitu saja dalam kepala Baekhyun. Sentuhan, genggaman tangan dan dekapan hangat keduanya….sepertinya meluber entah kemana. Dan lagi…yang benar saja dengan 'Racun' ?
Oh baiklah! Mungkin pagi ini Ia kembali melihat sikap menyebalkan dan berisik dari bocah mungil itu. Tapi tak mengapa….Chanyeol lebih senang melihat Baekhyun serusuh ini, dibandingkan melihatnya diam dan merintih kesakitan…seperti semalam.
.
.
Pluk
Hingga tiba-tiba, Chanyeol melempar beberapa tablet obat hingga mengenai kepala Baekhyun, membuat bocah manis itu mempoutkan bibir kesal saat mengambilnya.
Berulang kali kedua manik caramel itu mengerjap begitu membaca deretan huruf yang tertera. Dan..
Blush
Baekhyun kembali menunduk dengan semburat merah di kedua pipinya, setelah tau apa isi tablet tersebut sebenarnya. Rasanya….Ia benar-benar tertelan bulat-bulat oleh prasangkanya sendiri.
'Obat? Ini semua obat?! Aiishh Jinjja! ini memalukan!' Jerit Baekhyun dalam hati.
"Racun itu…sangat ampuh bukan?" kekeh Chanyeol, seraya menyentuh dagu Baekhyun hingga menatap padanya.
Membuat Baekhyun menepis cepat tangan Chanyeol, dan menggerutu jengkel.
"T—tapi kau tak harus meminumkannya padaku d—dengan cara seperti itu!"
Chanyeol menyeringai….lalu bergerak cepat kembali menaikkan dagu Baekhyun, hingga bibir keduanya nyaris bersentuhan.
"Lalu dengan cara apa? Kau menginginkan yang lebih dari itu?" Bisik Chanyeol sembari mengulas seringai tajam.
Baekhyun meneguk ludah payah, tak tau harus bagaimana cara meremas jantungnya agar tak berdetak sekencang itu. Oh sial! Bagaimana dirinya menjadi seperti ini di depan Chanyeol?
"Wajahmu memerah, apa kau kembali demam?" Ujar Chanyeol seraya menyentuh pipi Baekhyun dengan punggung tangannya.
"S—singkirkan tanganmu dari wajahku! Pabbo!" Sentak Baekhyun cepat…sebelum debaran dalam dadanya semakin menjadi-jadi. Sesaat kemudian, Baekhyun kembali berbaring di ranjang….lalu menarik selimut hingga puncak kepalanya. Tak peduli..property siapa yang Ia gunakan saat ini.
Chanyeol hanya menyeringai tipis melihatnya, Ia tau….sikap tak biasa namja mungil itu terhadapnya. Kemungkinan besar…memang menyiratkan sesuatu.
Masih dengan, seringai absurd yang terkembang di bibir merahnya…. Chanyeol menarik cepat selimut Baekhyun. Tak ayal….Baekhyun semakin dibuat berang karenannya. Ia benar-benar tak ingin melihat Chanyeol! "Yack! Apa yang kau—
Baekhyun mendadak diam, begitu sebelah tangan Chanyeol menutup kedua matanya, dan kembali membuatnya terpejam.
"Tentang kejadian semalam….maafkan aku" lirih Chanyeol
Bocah mungil itu mendadak diam tertegun mendengarnya…..Ia merasa ini pertama kalinya Chanyeol berbicara dengan nada rendah dan menenangkan seperti ini
"A—apa itu berarti kau akan melepaskanku?" Cicit Baekhyun ragu-ragu.
Chanyeol menyeringai, dan mengangkat tangannya dari mata Baekhyun.
"Melepasmu?" Tanya Chanyeol seraya menatap naïf.
Baekhyun mengangguk cepat sambil mengerjapkan mata penuh binar…..berharap besar Chanyeol benar-benar melepasnya, dan membiarkannya hidup dengan tenang.
Sesaat Chanyeol menggigit bibir bawahnya seraya menatap lekat raut menggemaskan namja mungil itu. Tapi setelahnya….Ia kembali mencondongkan tubuh kedepan dan mengecup bibir Baekhyun dengan tiba-tiba.
'Chup'
"Impossible" Kekeh Chanyeol seraya mengayunkan ponsel berisi foto vulgar Baekhyun dalam layar gadget tersebut.
Sontak saja….Baekhyun terbelalak lebar, dengan tangan menutup cepat bibirnya. Dibandingkan dengan marah melihat Chanyeol kembali memanfaatkan dirinya dengan foto itu, jantungnya lebih terasa ingin meledak karna Chanyeol menciumnya. Apa ini?!
Tidakkah ini semakin parah?….dan Baekhyun masih belum tau apa sebabnya.
"Tsk… wajahmu memerah lagi" celetuk Chanyeol seraya, menusuk-nusuk pipi Baekhyun dengan telunjuknya. Semakin membuat wajah manis itu merah merona.
"Diam kau Park! ARGH! B—bisakah kau memakai bajumu?!" Gusar Baekhyun, masih terus memalingkan wajah….berusaha menghindari bertatap langsung dengan Chanyeol.
Alih-alih mendengar dan memenuhinya, Chanyeol malah menyeringai dan makin tertantang untuk semakin menggoda Baekhyun. Oh ayolah….melihat wajah merah benderang seperti itu, tentu….terlalu menggoda untuk didiamkan begitu saja bukan?
"Kau menyukaiku?" Tanya Chanyeol datar.
Tak ayal… membuat Baekhyun kembali salah mengartikan tingkahnya, bagaimana mungkin pemuda angkuh itu bertanya sefrontal itu? Tanpa beban bahkan tanpa ekspresi sedikitpun.
"Apa?! T-Tidak! K—kau gila!" Elak… Baekhyun lantang.
"Oh ya?...lalu apa yang berdetak di dalam sini? Sangat kencang sekali hn" Kekeh Chanyeol sambil mengetuk-ngetuk dada Baekhyun
Baekhyun makin tersudut dengan pertanyaan tersebut! Posisi seperti ini….tentu memungkinkan Chanyeol mendengar suara apapun dari dalam tubuhnya.
Ah sial!….bagaimana mungkin jantungnya sama sekali tak berpihak padanya kali ini. Terus menerus berdetak kencang…hingga Chanyeol benar-benar menyadarinya. Itu benar-benar….membanting harga dirinya. Karna Baekhyun yakin….Ia tak akan mungkin berdebar hanya karna seorang namja sepertinya! Itu benar-benar salah.
"K—karena aku masih sakit! Dengar! Aku tak mungkin menyukai manusia sepertimu! K—kau sendiri yang pasti menyukaiku, bukan?! Hingga mengusikku seperti ini"
"Tck….berisik" Decak Chanyeol, seraya meniup helaian pirang di kening Baekhyun. Sesaat Ia terdiam, menyimpan raut kecewanya karna ucapan Baekhyun beberapa saat lalu. Tapi setelahnya Ia menyeringai…dan menatap namja cantik itu lebih tajam.
"Aku…tak mungkin sebodoh itu menyukaimu…. Terlalu menggelikan" Lanjut Chanyeol lagi, seraya melepas tautan tangan keduanya dan bangkit dari tubuh mungil itu.
Baekhyun tertegun….sempat pikirannya kosong untuk beberapa saat. Entahlah….Baekhyunpun tak yakin dengan apa yang Ia rasakan saat ini. Tapi….hatinya benar-benar berdenyut sakit mendengar Chanyeol berkata demikian.
Chanyeol menyukainya atau tidak….Seharusnya itu tak mengusik batinnya bukan?. Jadi tak ada alasan….untuk merasa sesesak ini.
Ya…seharusnya memang begitu.
Tapi….rasanya segalanya seperti terpungkiri…..rasa sesak itu tetaplah nyata. Jika memang….Chanyeol tak menyukainya, lalu untuk apa… Dia bersikap sejauh ini terhadapnya. Menahan, mengusiknya bahkan menciumnya setiap saat. Itu benar-benar kejam!
Jadi….jika Chanyeol tak menyukainya—
Namja itu hanya bermain-main dengannya?
"A—aku membencimu" Bisik Baekhyun lirih, dan hanya terdengar olehnya sendiri.
.
.
Sementara itu, Chanyeol tampak mengernyit heran….menyadari Baekhyun mendadak diam seperti itu. Ia beralih menarik tangan Baekhyun, memaksanya untuk segera beranjak dari ranjang.
Namun, bocah manis itu tetap duduk mematung dalam posisinya, sama sekali tak memberi reakasi apapun.
"Kau harus sarapan"
"Aku tidak sarapan!" Ketus Baekhyun, seraya menghempas genggaman tangan Chanyeol.
"Pergi dari sini! Jangan menggangguku!" Lanjut Baekhyun lagi, kali ini dengan berbaring membelakangi Chanyeol.
"Yack! Kau pikir….kau sedang di rumah siapa huh!"
Baekhyun berdecak kesal. "Bukan salahku! Kau sendiri yang menculikku ke tempat sialan ini!" balasnya sengit.
Chanyeol mengulas smirk….lalu melompat cepat ke atas ranjang. "Tak ada asupan makanan….itu akan membuatmu kembali sakit." Jelas Chanyeol seraya mendorong jidat Baekhyun dengan telunjuknya.
"Itu benar-benar….merepotkan." Lanjut Chanyeol lagi, tepat ditelinga Baekhyun. Meski sebenarnya...Ia cukup merutuk kalimat terakhir tersebut. Dan memang bukan kehendak hatinya berkata demikian.
Baekhyun menunduk sambil meremas-remas selimut dengan kesal. Sempat Ia berpikir…Chanyeol memang menaruh perhatian padanya. Tapi apa yang baru saja di dengarnya? Merepotkan Dia bilang? Lalu untuk apa….Chanyeol tetap membawanya kemari…bahkan hingga membiarkan dirinya tidur di ranjangnya.
"B-biarkan aku pulang" Lirih Baekhyun kemudian.
"Mmh…aku belum mengatakannya padamu. Kau berada di bawah tanggung jawabku saat ini" Ujar Chanyeol santai, sesaat kemudian….Ia menunjukkan sebuah pesan singkat dari Yunho di layar gadgetnya.
.
.
"O—osaka? Jepang? APA?! Teriak Baekhyun terkejut sekaligus tak terima. Apa yang sebenarnya dipikirkan orang tuanya saat ini. Bagaimana mungkin mereka….pergi sesuka hati tanpa meminta izin darinya terlebih dahulu. Dan lagi…mengapa harus mempercayakan semuanya pada Chanyeol? Tak taukah mereka….Chanyeol benar-benar pemuda buas dan mengerikan.
Belum usai dengan rasa jengkelnya…..Baekhyun kembali memekik terkejut begitu tiba-tiba saja tangan Chanyeol menyusup di lipatan kedua lengannya, …hendak mengangkatnya.
"Y—yack! Apa yang kau lakukan!? Lepaskan aku!" Geram Baekhyun sembari menggeliat…ingin lepas.
"Membawamu makan di bawah"
"A—apa?! Dengan pakaian seperti ini?!" Baekhyun melirik gusar…pahanya yang terekspose..karna Chanyeol nyaris mengangkat tubuhnya dari ranjang.
Ya Tuhan! Tubuhnya hanya bermodalkan kemeja putih besar….dengan sepotong celana dalam. Bagaimana bisa Ia makan dengan pakaian seperti itu?
"Hn…tak masalah" Singkat Chanyeol, lalu kembali mengangkat tubuh mungil itu. Hingga bertopang pas di kedua lengan dan dadanya. Layaknya…..menggendong seorang balita mungil.
Baekhyun makin membulatkan mata lebar karenanya…dan ia tak bisa berbuat apapun selain merangkul leher Chanyeol, jika tak ingin hilang keseimbangan.
"K—kau gila Yeol! Bagaimana jika orang tuamu melihatnya! T-turunkan aku!" Panik Baekhyun masih terus meronta, namun itu hanya membuatnya mengernyit sakit. Semakin Ia mencoba ingin turun…semakin kuat lengan Chanyeol merengkuh pahanya.
"Hanya ada kau dan aku…tenanglah" Ucap Chanyeol datar seraya melangkahkan kaki hendak keluar dari kamarnya.
Baekhyun makin kalap….tentu Ia tak bisa membiarkannya Chanyeol membawanya dengan penampilan seperti ini. Ah! Beruntung…selimut tebal itu masih tersangkut di kakinya.
Cepat-cepat….sebelah tangannya menarik asal selimut tersebut. dan berusaha keras menutupi pahanya dengan benda itu. Sementara tangan yang lain tetap merangkul leher Chanyeol.
"Tck! Lepaskan selimut itu!" Decak Chanyeol kesal. Oh sungguh! Kain tebal yang menjuntai di lantai itu benar-benar mengganggu langkahnya.
Baekhyun menggeleng kasar mendengarnya, dan tetap mencengkeram kain itu….agar menutup rapat pahanya. Tak peduli….perbuatannya membuat kain itu terseret-seret….dan menyebabkan Chanyeol melangkah tersendat-sendat saat menuruni anak tangga.
"Aiissh! Cepat buang selimut bodoh itu!"Gusar Chanyeol
"TIDAK MAU!"
"Tck!"
.
.
.
.
.
"Ah! Baekhyun sudah bangun?"
Tiba-tiba saja namja mungil itu terlonjak terkejut…begitu mendengar suara seseorang di belakangnya, cepat-cepat Ia mengeratkan selimutnya…dan melirik Chanyeol tajam. Seolah tengah menyuarakan 'kau berbohong' pada pemuda tampan itu.
Dengan kikuk…Baekhyun menoleh sumber suara tersebut. tapi sedetik kemudian….Ia tersenyum lebar..begitu melihat siapa pria yang tengah berjalan mendekatinya itu.
"T—Taemin Uissa!"
Taemin hanya tersenyum lembut mendengarnya…Ia beralih menyentuh dahi dan leher Baekhyun bersamaan. Membuat Baekhyun mengerjap berkali-kali.
"Syukurlah..demammu telah meluruh Baekhyunnie" Taemin menghela nafas lega
"Ini…. makan supnya selagi hangat , khusus kubuatkan untukmu sayang" Lanjutnya lagi….seraya mengambil semangkuk penuh sup buatannya untuk Baekhyun.
"Uhm… terima kasih"
Chanyeol berdecak melihatnya, Ia beralih menyilangkan lengan dan mengangkat kedua kakinya di meja. Terlalu muak…dengan kehadiran Pria cantik itu di ruangan ini.
"Yeollie….Ayahmu ada meeting hari ini, jadi Dia berangkat terlalu pagi dan—
"Bukan urusanku!" Sergah Chanyeol sambil melirik Baekhyun, bocah manis di sebrangnya.
Taemin tersenyum getir melihatnya dan hanya menarik nafas dalam-dalam berusaha menegarkan hatinya.
"A—aku memasak makanan kesukaanmu. Cha…cepatlah makan ...biar kuambilkan untukmu"
"…."
Jangankan menjawab, mendengarnya saja tidak….Chanyeol hanya terpaku pada sosok di sebrangnya. Terus memandangnya lekat…dengan smirk terkembang di sudut bibirnya.
"B—berhenti memandangku seperti itu!" Bentak Baekhyun sembari menundukkan wajah, Ia tau dan memang menyadari…..Chanyeol tengah memandanginya dengan tatapan bodoh itu. Membuat semburat merah…terulas cepat di kedua pipi halusnya.
Awalnya…Taemin hanya mengerjapkan mata tak mengerti, melihat interaksi tak biasa dari dua anak di hadapannya. Hingga tiba-tiba saja Ia menutup bibir menahan senyum kala menyadari…sesuatu memang tersirat dari keduanya.
Chanyeol memang menatap tajam….tapi Taemin benar-benar membaca perhatian dan kelembutan penuh dalam matanya. Dan hanya terlihat…saat anak itu menatap Baekhyun. Terlebih, Baekhyunpun terlihat merona tersipu meski….berulang kali Ia menggerutu jengkel. Oh ayolah! Bagi seorang dewasa seperti dirinya tentu paham benar dengan situasi semacam ini…..dua anak itu, sepertinya memang saling menyimpan perasaan.
Terlebih….Ia seorang Ibu….
Dalam tubuh anak itu, mengalir darahnya…..meskipun samar, tapi…Ia bisa merasakan apa yang tengah dirasakan Chanyeol saat ini.
Nurani Ibu….tak akan pernah salah.
DRRTT…..DRRTT
Namun tiba-tiba saja, getaran keras menginterupsi lamunanannya….dan itu berasal dari ponsel Chanyeol.
.
.
"Ya... Paman." Jawab Chanyeol seraya melirik Baekhyun.
Sementara Baekhyun, hanya mengernyit dan berusaha menajamkan pendengarannya. Menerka-nerka….itu Ayahnya yang menelfon.
"Yeol….bagaimana keadaan Baekhyun apa anak itu makan dengan benar?"
"Ah….Ye, tentu saja... seperti yang anda harapkan Paman" Jawab Chanyeol setenang mungkin.
Baekhyun membulatkan mata lebar….Ia benar-benar yakin itu memang Ayahnya,dengan gusar Baekhyun bangkit lalu melangkah kesal menghampiri Chanyeol. Tentunya masih menyeret selimut tebalnya.
"Baik Paman….Baekhyun—
SRET
"APPPPAA!" Jerit Baekhyun tiba-tiba begitu merampas ponsel hitam itu dari Chanyeol.
"A—ah, B—Baekhyun... annyeong" Gugup Yunho dari dalam sambungan telfonnya.
Baekhyun makin mengepalkan tangan kesal, terlihat jelas satu urat emosi kembali muncul di keningnya.
Apa yang dipikirkan Ayahny? Ia benar-benar tak butuh sapaan konyol seperti itu!
"Mengapa kalian pergi tanpa izin Baekhyun! Appa dan Eomma tak menyayangi Baekhyun lagi?!"
Chanyeol memutar bola mata jengah, melihat sikap manja Baekhyun di manapun anak itu berhubungan dengan kedua orang tuanya. Dan Taemin hanya tersenyum….menahan takjub, menyadari Baekhyun benar-benar anak yang menggemaskan.
"A—anniyaa, Appa dan Eomma sangat menyayangimu. Itu, kemarin karena sangat mendadak….jadi Appa mohon mengertilah. Ahh….apa kau merindukan Appa nak?...Appa membawakanmu banyak—
"Sama sekali tidak! BAEKHYUN BENCI APPAAA…! PULANG! PPALIII!" Gertak Baekhyun sembari menghentak-hentak kaki kesal….hingga tak sadar, apa yang dilakukannya membuat selimut yang melilit di pinggannya lepas…dan mengekspose paha mulusnya.
"Ada apa? aku mendengar Baekhyun berteriak..Apa terjadi sesuatu?" Terdengar suara lain dalam line telfon tersebut….dan itu sudah pasti Jaejong…Ibunya.
"B-bagaimana ini ….Baekhyun, marah padaku… anak itu membenci Appanya….Ah! Putraku membenciku Booo?" Samar-samar terdengar Yunho meracau itu membuat Baekhyun menyeringai puas karenannya.
"Sayang….mengapa Baekhyunbicara seperti itu pada Appa eum?" Jaejong mulai mengambil alih telfon Yunho.
"Eomma! Pulang! Palli!" Gertak Baekhyun lagi, kali ini dengan menendang-nendang selimut di bawahnya hingga terpental ke dinding.
"Ah..tentu saja Sayang, kami sudah tiba di bandara….untuk itu Appa menelfon karna merindukanmu" Jelas Jaejong lembut,berusaha meredam emosi Putra kecilnya.
"Bukan merindukanku! Tapi Chanyeol! Appa menelfon CHANYEOL!" Sahut Baekhyun jengkel…sembari menunjuk-nunjuk pemuda tinggi di sisinya. Dan Chanyeol hanya terkekeh geli melihat tabiat unik itu lagi.
"E—ehh… Ini nomor Chanyeol…Yunnie?" Suara Jaejong sedikit tersamarkan, dipastikan Yeojja itu tengah menoleh pada suaminya.
"Mau bagaimana lagi…ponsel Baekhyun mati. Aku hanya bisa menghubungi Chanyeol" Sahut Yunho sayup-sayup.
"Astaga…..maafkan Eomma dan Appa…Sayang. Ini yang terakhir kalinya…Yaksokhhae" Jaejong kembali berbicara, begitu jelas kesungguhan dari setiap tutur katanya. Dan itu sedikit membuat Baekhyun luruh mendengarnya.
"Eomma jemput Baekhyun….Arrasseo?" Lirih Baekhyun, sembari memainkan ujung kemeja besarnya.
"Ah Johta! Setelah ini….kami akan menuju rumah Chanyeol. Bersiaplah menyambut Appa dan Eomma arrachi?" Riang Jaejong sebelum akhirnya menutup line telfon tersebut.
Baekhyun hanya mengerucutkan bibir sambil meremas ponsel itu. Benarkah kedua orang tuanya mengetahui rumah Chanyeol? Baekhyun yakin benar…baru beberapa hari ini Yunho dan Jaejong mengenal Chanyeol. Tapi Sedekat itukah mereka?
'Menyebalkan!' Kesal Baekhyun dalam hati.
.
.
"Kembalikan ponselku" Ujar Chanyeol seraya mengangkat sebelah tangannya ke arah Baekhyun.
Bocah mungil itu kembali mendelik…lalu menatap Chanyeol dan ponsel hitam itu bergantian. Tapi tiba-tiba saja Ia menyeringai sinis.
Bukankah ini sangat baik?Ponsel Chanyeol berada di tangannya saat ini. Tentu saja…Ia memiliki peluang besar menghapus foto itu untuk selama-lamanya bukan?
Tak akan ada lagi ancaman bahkan pelecehan dari namja sialan itu, Tak lama lagi dirinya akan bebas…Ya benar seperti itu! Sorai Baekhyun dalam hati.
Ia menyeringai dan sesekali terkikik layaknya seorang psychopat saat mencari-cari foto dirinya dalam ponsel itu.
"Kau akan menyesalinya" Terdengar desisan Chanyeol di belakangnya. Tapi siapa peduli! Baekhyun begitu fokus dengan benda hitam di tangannya…isi di kepalanya saat ini adalah…menemukan foto itu, hapus…lalu semua berakhir.
Namun sepertinya semua tak sesuai rencana, tubuhnya tiba-tiba saja…limbung begitu sebuah tangan merengkuh pinggangnya mendekat. Dan…
'Chup'
Chanyeol mencium bibirnya telak…melumatnya lembut, hingga rasa-rasanya isi kepalanya nyaris membeku dibuatnya.
"Bodoh~" Bisik Chanyeol tepat di bibir Baekhyun, begitu melepas pagutan keduanya.
Sejenak….Baekhyun mengerjap dengan tatapan kosong. Seakan dibuat melayang saat Chanyeol melumat lembut bibirnya. Itu benar-benar sangat berbeda.
Hingga tiba-tiba saja…Kedua matanya membulat lebar, begitu sadar Chanyeol sedari tadi mengayun-ayunkan ponsel hitam itu di sisi wajahnya. Sial! Ia belum sempat menghapus foto itu.
Ah! Bagaimana bisa pemuda itu mengelabuinya seperti ini?
"Jangan pikir….kau bisa lepas dariku…Byun Baekhyun" Ucap Chanyeol, sembari melenggang santai menapaki satu persatu anak tangga…menuju kamar pribadinya.
"YOU…BASTAAARDDD!" Jerit Baekhyun sambil menunjuk-nunjuk Chanyeol. Tak hanya itu kedua kakinyapun tampak menghentak-hentak lantai….menandakan Ia benar-benar di batas limit dengan rasa jengkelnya.
Sementara itu…seorang pria cantik yang sedari tadi diam mengamati keduanya, tampak tertawa lepas…setelah sebelumnya sempat shock, kala melihat Chanyeol mencium Baekhyun tepat di hadapannya sendiri.
"Siapa yang mengajarimu seliar itu Yeollie?" Kekeh Taemin lirih, dan hanya terdengar olehnya sendiri.
Ia beralih mendekati Baekhyun, merengkuh lembut bahu sempitnya….lalu membimbingnya untuk kembali menduduki kursi makannya.
"Tak apa tenanglah, …..anak itu hanya — terlalu menyukaimu."
DEG
Baekhyun kembali mengerjap…bisikan Taemin benar-benar terdengar seperti nyanyian indah untuknya.
"M—menyukaiku?"
Taemin terkekeh pelan melihatnya, dengan gemas Ia mengelus surai pirang Baekhyun. Lalu beralih menyambar tas dan jas medisnya.
"Cha….habiskan sarapannya. Aku harus berangkat ke rumah sakit Baekhyunnie. Baik-baiklah bersama Chanyeol di rumah. Mengerti?" Taemin kembali mengelus kepala Baekhyun, lalu setelahnya pergi meninggalkan bocah mungil yang masih berkutat dengan debaran , karna ucapan Taemin beberapa saat lalu.
"N-ne.." Gumam Baekhyun , masih dengan menatap kosong ke depan.
.
.
.
.
Beberapa Hari Kemudian
"Dimana Luhan?" Tanya Baekhyun, sembari melempar bola basket di tangannya ke arah Kyungsoo. Sesekali Ia mengedarkan pandangan ke sekitar berharap menemukan Luhan di suatu tempat. Tapi yang terlihat…hanya hiruk pikuk siswa lain di setiap penujurunya.
"Entahlah,….dia pergi begitu saja tanpa berucap apapun, setelah pelajaran Junsu Seonsae berakhir" Jawab Kyungsoo, sambil mendirble bolanya….lalu melemparkannya ke ring. "Gotcha" Serunya, begitu lemparannya masuk.
Baekhyun menghela nafas pelan "Aku akan mencarinya" Ucapnya sembari melangkah pelan…keluar lapangan basket itu.
Kyungsoo menoleh cepat, hendak menahan Baekhyun…namun tiba-tiba saja seseorang menarik lengannya.
"Aku memilki video game terbaru, apa kau ingin melihatnya?" Ujar namja pemilik gummy smile itu.
Kyungsoo tersenyum lebar….tentu saja Kyungsoo antusias bukan main mendengarnya. "Whoooa jinjja?"
"Uhm….kajja"
.
.
Baekhyun berjalan perlahan menyusuri koridor sekolah elite tersebut, berulang kali ia menggembungkan kedua pipinya dengan mata tak pernah berhenti menelisik ke sekitar beharap cepat menemukan Luhan.
Namun….jauh dalam hatinya saat ini, sesungguhnya Ia tengah menerka-nerka sesuatu.
Hari ini tak seperti biasanya, Selama pelajaran berlangsung …Chanyeol lebih menghabiskan waktunya untuk tidur. pemuda itu hanya sedikit berulah…dan itu tak terlalu mengganggunya. Apa yang sedang terjadi dengan Chanyeol? Mungkinkah Dia itu kelelahan….atau—
Ah! Tunggu! Mengapa dirinya berpikiran seperti ini?
Tidakkah itu seperti... Ia mengharapkan Chanyeol mengusiknya setiap hari?
"Tidak mungkin!" gerutu Baekhyun, seraya menghentak kaki gusar.
Tapi Baekhyun tak menyadari….ikatan tali sepatunya terlepas…hingga salah satunya terinjak, membuatnya hilang keseimbangan. Dan…
GREB
Nyaris saja…ia tersungkur, menghantam tiang jika saja seseorang tak merengkuh perutnya dari belakang.
"Perhatikan langkahmu."
Baekhyun membulatkan mata begitu mendengar suara bass itu. Lagi….sesuatu kembali berdetak salah di dalam dadanya.
"M-menjauh dariku!" Dengan gugup Baekhyun mendorong Chanyeol . Lalu berpegang pada tiang sambil memukul-mukul dadanya sendiri.
Chanyeol hanya memandangnya aneh, dan beralih berjongkok….tepat di hadapan kedua kaki Baekhyun
"Mau apa kau?!"
"Diamlah... " Singkat Chanyeol datar, sembari menyimpul tali sepatu Baekhyun….hingga rapih dan utuh seperti semula.
'Blush'
Baekhyun memalingkan wajah seraya mengepalkan tangan kuat-kuat. Sial! Chanyeol kembali membuat wajahnya memanas jika seperti ini.
Sementara Kai di sisinya, mengerjapkan mata dengan bibir menganga…tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Benarkah itu Chanyeol?
Bagaimana mungkin anak itu bersikap gentle seperti itu? Ataukah…..Chanyeol memang sedang jatuh cinta dengan Baekhyun?
"J—jangan kau pikir aku akan berterima kasih!" Ketus Baekhyun, lalu setelahnya….memutar tubuh hendak meninggalkan dua namja tinggi itu. Namun dengan cepat Chanyeol menahan tangannya….dan menyeretnya ke sebuah ruangan tepat di sebrang mereka.
.
.
"K—kau! Apa yang ingin kau lakukan di sini!?" Baekhyun semakin berseru keras, begitu Chanyeol semakin menariknya masuk ke dalam ruang medis itu, lalu menyudutkannya di dinding.
"Melakukan sesuatu…yang sering kau sebut dengan 'macam-macam' " Jawab Chanyeol santai…seraya meletakkan kedua tangannya tepat di sisi kepala Baekhyun.
" Apa kau Gil—mpfthh~" Manik Caramel itu terbelalak lebih lebar, begitu Chanyeol menciumnya telak. Baekhyun ingin melawan….namun serasa lemah kala lumatan itu semakin intens memagut bibirnya, dan Ia hanya pasrah memejamkan mata…..saat pemuda tinggi itu menautkan tangan keduanya di sisi kepalanya.
'Anak itu…hanya terlalu menyukaimu' Ucapan Taemin kembali terngiang, menggetarkan dan membuatnya makin melemas dalam waktu bersamaan.
Sial! Ini terjadi Lagi…Chanyeol kembali membekukan isi kepalanya, dengan cara seperti ini. Tak ada kesan menuntut…..lumatan bibir itu sepenuhnya lembut dan terasa manis.
"Mmhh~" Lenguh Baekhyun setelah Chanyeol mengakhiri ciumannya.
"Kau tak banyak melawan hn?" Bisik Chanyeol….tepat di bibir Baekhyun. Lalu setelahnya Ia mengulas smirk….melihat namja mungil itu begitu panik ingin menutupi wajahnya.
"J-jangan melihatku!" Gusar Baekhyun masih terus berusaha memalingkan wajahnya, Tapi ia bisa apa untuk menyembunyikan semburat merah itu…jika Chanyeol tetap menggenggam erat kedua tangannya.
Chanyeol semakin terjerat, melihat rona merah itu. Oh sungguh! Wajah Baekhyun benar-benar terlihat manis karenanya. Dan itu menggodanya untuk kembali mendekat….kemudian mengecup lama bibir atas Baekhyun.
'Chuup'
Bukan lumatan….hanya sekedar kecupan lembut, mencoba mencecap sisa manis yang tersisa dari ciuman sebelumnya.
.
.
"Tunggu aku sepulang sekolah" Chanyeol setengah berbisik, seraya melepas genggaman tangannya, sejenak…Ia menatap lekat Baekhyun. Lalu melangkah keluar dengan senyum menawan di bibir merahnya.
SREET
BRUGHH
Baekhyun jatuh merosot ke lantai, selepas kepergian Chanyeol meninggalkan ruang medis itu. Berulang kali Ia meremas dadanya….berusaha menghentikan debaran hebat itu … sejak Chanyeol menyentuhnya.
Ah!...bahkan Baekhyun tak percaya…..Ia menikmati ciuman Chanyeol beberapa saat lalu.
"K—kau menyihirku?" Gumam Baekhyun, dengan tatapan kosongnya.
.
..
.
.
Chanyeol mengernyit heran, melihat Kai berjongkok sembari memainkan batuan krikil di sekitarnya. Sudah dipastikan….namja itu memang tengah menunggunya, di depan ruang medis ini.
"Tunggu apa lagi?" Sentak Chanyeol tiba-tiba. Membuat namja tinggi itu terlonjak berdiri.
"O—okay!" Jawab Kai kikuk, seraya kembali berjalan mengikuti namja yang lebih muda di depannya.
.
.
.
Beberapa saat Kemudian
"Aissh kemana aku harus mencari Luhan?!…ini hampir—
"Apa maksudmu? Berhenti bicara tak penting"
Baekhyun mendadak membungkam bibirnya, begitu mendengar suara Chanyeol dari dalam ruangan di sisinya. Cepat-cepat…Baekhyun bersembunyi di balik pintu, barangkali….Ia bisa mendengar pembicaraan menarik dari namja mengerikan itu.
"Aku tau…..sepertinya kau benar-benar menyukai anak itu" Kai beralih menopang dagu, dan menatap Chanyeol lebih lekat.
Chanyeol memalingkan wajah ke kanan, sempat merasa gugup dengan pertanyaan tersebut. Benarkah 'menyukai'?.
Tidak! Namja penuh kuasa seperti dirinya tak akan mungkin jatuh semudah itu...hanya karna Byun Baekhyun. Terlalu konyol...untuk diterka olehnya. Ya...Sampai detik ini Chanyeol masih meyakini...Ia hanya bersenang-senang dengan kelinci manisnya.
"Ya! bukankah sejak di awal…kau mengatakan Dia hanya mangsamu? Bagaimana mungkin kau menyukainya?"
Chanyeol menyeringai. "Tsk! Menyukainya? Baekhyun hanyalah salah satu yang bisa kumainkan kapanpun aku mau."
DEG
Baekhyun semakin erat, membekap bibirnya….hingga tanpa sadar satu bulir bening merembas dari pelupuknya. Dan Ia terkejut kala melihat air mata itu, membuatnya mengusapnya kasar... bahkan terlalu kasar hingga pipinya memerah.
Seharusnya Ia tak perlu merasa sesak dan sesakit ini….tapi entahlah, semua kalimat yang baru saja di dengarnya benar-benar terasa menikam
Seharusnya pula Ia tak perlu bertahan berdiri di tempat ini, dan mendengar semua pembicaraan terkutuk itu. Jika akhirnya….hanya membuatnya tau….sikap lembut dan perhatian Chanyeol hanyalah akal muslihatnya untuk melumpuhkannya.
'Apa yang salah denganku? Mengapa aku tak bisa menghentikannya?!' Racau Baekhyun dalam hati, seraya kembali mengusap kasar air matanya. Tapi bulir bening itu tetaplah merembas, sadar….Chanyeol tak mungkin benar-benar menyukainya.
Ini terlampau salah…..hatinya tak mungkin sesakit ini karna Chanyeol. Bukankah…semestinya Ia tau…namja seperti Chanyeol, sejak di awal memang telah mempermainkannya.
"Ahaha….sudah kuduga, kau hanya bersenang-senang dengannya Yeol" Kai mulai tergelak tawa.
Cukup…. sepertinya Ia tak kuat lagi, mendegar semua pembicaraan itu. Baekhyun bergerak kacau hingga menumbangkan sebuah balok kayu besar di sisinya….lalu berlari secepat mungkin.
BRAAAAKK
TAP…TAP…TAP
"Oi! Bukankah itu Baekhyun?" Kai tersentak dari duduknya, saat mendengar sesuatu terjatuh dari balik pintu ruangan itu dan makin terkejut melihat siluet Baekhyun berlari dari baliknya.
'Baek…kau mendengarnya?' Ucap Chanyeol dalam hati.
Cepat-cepat pemuda itu bangkit….dan berlari mengejar bayangan Baekhyun. Berulang kali….Chanyeol merutuk pada dirinya sendiri. Tak seharusnya ia mengatakan semua itu…dan membuat Baekhyun salah paham terhadapnya. Sungguh! Itu benar-benar bukan dari hatinya…. rasa angkuhnya terlalu mempermainkan posisinya di sini.
.
.
.
"Tunggu Baek! Dengarkan aku" Chanyeol meraih cepat pundak Baekhyun,begitu berhasil mengejar langkah namja mungil itu.
Tapi seketika itu pula…Ia terbelalak lebar, begitu melihat linangan air mata di kedua pipi tirus Baekhyun
"Lepaskan aku!"
"Kau menangis?" Chanyeol menaikkan dagu Baekhyun, hingga Ia benar-benar bisa menatap paras itu lebih lekat.
"Brengsek! Lepaskan aku!" Sentak Baekhyun, masih terus berusaha melepas rengkuhan Chanyeol. Namun pemuda itu…tak sekalipun bergeming….tetap menggenggamnya bahkan semakin memeluknya erat.
Hingga tiba-tiba saja Baekhyun kalap dan…
'PPLAAAK'
.
.
.
TeBeCe
.
.
.
Next Chap
"Aku menyukaimu Baekhyun~ah"
Sehun semakin merunduk….sedikit meremas kedua bahu Baekhyun begitu Ia semakin mengikis jarak dengan bibir Baekhyun.
Sementara….namja mungil itu hanya mengepalkan tangan dan memejamkan mata erat-erat. Tak yakin….Ia bisa melakukan semua ini dengan Sehun.
"BRENGSEK!"
BUAGGHH!
.
.
Baekhyun mencoba mendekat, "Yeol-
PLAKK
"Jangan pernah menyentuh kekasihku!...kajja Yeollie"
,
,
Aloohaaaa Gloomy hadir lagi bawa chapter 7 nyaa...
Review jusseyooo ... kalau g review, g mau nerusin ff nya aaaahhhhh _
Yups sesuai janji yaaa, updatenya malam syekaliiii
Yok dipilih-dipilih yang update berikutnya:
1. Love Of Fallen Leaves
2. Take Care Of My boyfriend
3. Blood On A White Rose
Piliihan terbanyak yg akan diupdate
*yg mau tau info kapan update, silakan invite IG = gloomy_rosemary
Seperti biasa:
ParkBaeko , yodabacon614, Yana Sehunn, veraparkhyun, baekhyunee bc , restikadena90, SHINeexo, Aeriaa , RealSkull12, mutianafsulm , LightPhoenix614, realoey614 , Baekhyunee, AlexandraLexa , Chanbaekaddict, Asandra735 , rubykaisoo, Baby Loey , Kimdrea76, pinkberry st , RatedMLovers614, baekkachu09, Tiara696, babymaghfiroh, Tiffanyoktavia9 , Vianagyu, hulas99, park chan2 , chanbaek1597 , Byunsilb, hunhanyeah, Eka915 , hoholin, bbysmurf , indiv 321 , yollie wife, MeAsCBHS, micopark, SuperSupreme61, park yeolna , Aisyah6104, Eun810, derpwhiteboy, kim kai , selepy , LavenderCB , len , MadeDyahD, neniFanadicky, 8ternity, XianLie92, Allana6104 , byunlovely , anakchanbaek, CY PARK, berywini, phikhachu , buny puppy, loeeeeyy, Anhwa, park chan2, Loey761 , laxyovrds , xxrealpsxx , myliveyou, meanieismylifeu , Chanyeolliee , Fuk yourself, blankyoss, Hasil enaena ChanBaek , kaisooxoxo, Yunita246, byunbaekra , riza firani dan All Guest
Gomawoo sudah review di ch sebelumnya. jgn lupa repiew lagee okaaaayy
Saaaaraaaanghaaaaaaaaaeeee
Aaaaaanyeeeooooong
