- My Pain -
Title : My Pain
Author : luluhanbyun
Genre : Romance/Humor/Hurt? I don't know, find it by yourself
Rate : T
Cast : Xi Luhan, Oh Sehun, Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Kim JongIn, and the others
Pair : HunHan
Disclaimer : Semua cast hanya milik Tuhan, SM, dan keluarga mereka. Saya hanya meminjam mereka sebentar untuk keperluan pribadi ff saya xD (?)
Warning : Genderswitch! HunHan! (ChanBaek/kaisoo/and others official couple)/Typo bersebaran/Romance gagal/(masih newbie :v maklumin yaak)
.
.
.
"Bagaimana ini Baek? Aku bahkan tak bisa melihat dengan jelas," ucap Luhan khawatir saat songsaenim sedang menulis di papan tulis. Ya, kini Luhan tak bisa melihat apa-apa. Jika ada yang dilihatnya itu hanyalah bayangan semata, itupun semar-semar.
"Tenang saja, Lu.. Aku akan menyatatkannya untuk mu.." ucap Baekhyun menenenangkan Luhan, tangan nya tetap lihai memainkan pulpen yang kini sedang menari di atas kertas buku nya,
Luhan mengangguk kecil, lalu mengambil pulpennya,dia berpura-pura sedang menulis. Dia tak mau dimarahi songsaenim hanya karena penglihatannya.
Dia gelisah, tak bisa tenang. sekilas, dia melenggakkan badannya ke kanan dan ke kiri, mencari posisi nyaman tapi tetap tak di temukannya. keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, dia sungguh panik dengan penglihatan buram ini, tak melihat apa-apa adalah sesuatu yang buruk baginya. Walaupun Baekhyun kini sedang disampingnya tapi tetap saja dia gelisah.
Sehun memandangnya dari ujung kelas di tempat duduknya, menatapnya intens walaupun yang terlihat hanya bagian wajah sebelah kanannya, Dia tau bahwa kini Luhan sedang tak nyaman, atau.. panik. dia tau itu. Sedikit rasa bersalah menghinggap di dalam dirinya, kalau saja dia tak menghina Luhan, Luhan mungkin tak seperti ini sekarang. Dia sedikit menyalahi dirinya sendiri.
.
.
.
"Hai Lu.." segerombong laki-laki mendekati Luhan, Semua tertarik pada Luhan yang kini tak mengenakan kaca mata dan rambut yang digerai, Luhan kini seperti remaja-remaja pada umumnya. Mata rusa nya menggerlap saat mendengar suara-suara itu, matanya tak menangkap apapun, hanya ada bayangan-bayangan yang kabur. tak ada yang menemaninya kini, dia kini memang sedang di kantin,
"Kau berbeda hari ini.." ucap laki-laki yang lain sambil memainkan rambut Luhan dan langsung mendapatkan hempasan dari tangan Luhan. dia sungguh tak suka jika diperlakukan seperti ini
"Jangan sentuh aku." ucap Luhan sedikit ketakutan. Tawa para laki-laki itu mulai menggema di cafetaria itu, tawa remeh dan geli saat Luhan berkata begitu.
"Oow.. Luhan sudah berani, eoh" ejek seorang laki-laki lainnya, dia menggenggam pergelangan tangan Luhan membuat Luhan meronta untuk dilepaskan. Oh, ayolah! dimana Baekhyun atau Kai? Luhan sangat membutuhkan mereka sekarang.
"Jauhkan tangan kalian dari Luhan." suara seorang namja memecahkan tawa mereka, segerombol lelaki itu menoleh ke belakang, guna melihat siapa yang kini mengganggu kegiatan mereka.
Seketika mereka langsung merasa takut dan segera meninggalkan Luhan dengan namja itu, membuat Luhan sedikit bersyukur dan ingin berterima kasih pada orang yang sudah menolongnya itu. tapi, dia langsung mengurungkan niat nya itu saat menyerna bahwa siapa pemilik suara itu. hanya ada satu orang yang mempunyai suara kejam, datar dan dingin ini.
"Kau tak apa?" tanya Sehun yang masih bersihkukuh dengan nada datar nya. meskipun jika kalian mendengarnya dengan seksama, ada tersirat nada khawatir disana.
"Untuk apa kau menanyakannya, huh?" cibir Luhan emosian, dia juga memakai nada dingin di suaranya. mengakibatkan rasa bersalah kian muncul di benak Sehun.
"Sudahlah, kau sangat keras kepala. Aku sebenarnya berniat meminta maaf pada mu, tapi inilah balasanmu"
"untuk apa kau meminta maaf pada ku? Aku bahkan tak butuh permintaan maaf mu, kau yang membuatku begini. "
"Itu.."
"Itu apa? Kau mau mengatakan apa? Oh ya, lebih baik kau sekarang menemui pacar mu. Aku tak mau jika aku mengganti kaca mata ku nanti dia akan merusaknya lagi." cibir Luhan membuat telinga Sehun semakin panas, Dia memberi penekanan pada kata 'pacar' nya.
Tentu saja Luhan kini marah. Semalam Sehun dengan seenaknya mengatakan bahwa Luhan adalah pacarnya. Dan sekarang, Sehun bahkan tak mengakuinya. Dan itu cukup membuat Luhan malu karena terlalu berharap.
"Luhan!" teriak Sehun yang mulai jengah dengan perilaku Luhan.
"Wae!? Apa!? KAU MAU MENAMPAR KU, HAH!? SILAHKAN, KAU BISA MENAMPAR KEDUANYA! KESABARAN KU HABIS UNTUK MENGHADAPI MU, KAU SANGAT JAHAT! AKU SELAMA INI HANYA DIAM JIKA KAU MENINDAS MU! AKU BODOH, YA AKU BODOH KARENA BARU SEKARANG BERANI MELAWAN MU! JANGAN MENDEKATI KU LAGI! AKU AKAN MENGATAKAN PADA ORANG TUA KU UNTUK MEMBATALKAN SEMUANYA! KAU MAU MENINDASKU SETELAHNYA? TERSERAHMU! AKU TAK PEDULI LAGI!" Teriak Luhan penuh amarah, wajahnya memerah dan tangannya mengepal erat, dia sangat marah sekarang.
"Luhan" Sehun kembali ke nada datarnya, membuat Luhan semakin kesal dan marah.
"APA!? APA LAGI?! KAU MAU MENGELUARKAN KU DARI SEKOLAH HANYA KARENA KAKEK MU ADALAH PEMILIK SEKOLAH INI? SILAHKAN! AKU TAK PEDULI LAGI!" Luhan kembali tersulut emosi, mengutarakan isi hatinya.
"Mianhae" ucapnya pelan, membuat Luhan yang tadinya ingin berteriak memarahi Sehun lagi mengurungkan niatnya. Dia diam mendengarnya, meminta kelanjutan dari kalimat Sehun.
"Sudahlah, percuma aku mengatakannya. lurus 18 langkah, lalu belok kanan 2 langkah. naiki tangga itu lalu belok kiri 9 langkah dan belok kanan 2 langkah." ucap Sehun singkat lalu pergi berlalu dari Luhan, membuat Luhan sedikit menyerit bingung,
"lurus 18 langkah, belok kanan 2 langkah, naiki tangga 9 langkah ke kiri lalu belok kanan 2 langkah" ucap Luhan pelan pada dirinya sendiri, mengulang apa yang diucapkan Sehun,
Luhan mengikuti apa yang dikatakan Sehun, tak ada dibenakknya jika akan ada sesuatu yang terjadi, dia hanya tak memikirkannya dan tetap mengikuti instruktur Sehun,
Luhan tetap berjalan lurus, dia menyuarakan angka bilangan dengan mulutnya, menghitung sampai 18 sebanyak dengan langkahnya, sesekali dia menabrak orang dan membungkukkan badan guna meminta maaf.
Setelah selesai dengan 18 langkah itu, dia menghadap ke kanan dan melangkah kan kaki nya sebanyak dua kali, dan ya, kakinya langsung bertabrakan dengan anak tangga. Itu berarti dia sukses menjalankan 18 langkah itu. Dia mulai menapakkan kaki nya di atas anak tangga, tangan kanannya berperan menopang tubuhnya dengan cara memegang pegangan besi tangga tersebut,
Setelah 35 anak tangga dilewatinya, kini dia sudah berada di puncak anak tangga, dia kemudian megingat akan instruksi selanjutnya, dia kemudian menghdap kiri dan mulai melangkahkan kaki nya sebanyak 9 langkah. Dia sedikit was-was, jangan-jangan Sehun sedang mengerjai nya,
9 langkah sudah selesai, dia kini tinggal menghadap kanan dan melangkah kan kaki nya sebanyak 2 kali, tapi, dia mematung di tempatnya, dia masih khawatir jika akan terjadi sesuatu padanya. mengingat tadi dia sudah membentak Sehun.
"Luhan" panggil seseorang yang sontak membuat Luhan memutar badannya ke kanan, mengikuti arah seseorang yang memanggilnya tadi.
"Luhan, bagaimana bisa kau disini? Kau dituntun siapa? Aku baru saja ingin menjemputmu dari kantin.." Ucap seorang namja yang mendekat pada Luhan yang kini sedang kebingungan.
"Kai?"
"Iya ini aku, pabbo.. Siapa yang menuntunmu? Baekhyun ya?" Tanya Kai sedikit bingung,
"B-bukan.. Bukan baek-"
"LUHAN! KAU DARIMANA SAJA, EOH!? AKU BILANG TADI TUNGGU AKU, TAPI KENAPA KAU PERGI DULUAN!? SIAPA YANG MENUNTUN MU!?" Teriak Baekhyun yang kemudian berlari mendekati Luhan,
Luhan yang bingung lalu menolehkan kepalanya ke asal suara,
"KAU TAK APA-APA KAN?" Teriak Baekhyun lalu memeriksa keadaan Luhan,
"Anio Baekkie, gwaenchanna.. Hehe.. Kau yang lama, jadi lebih baik aku pulang duluan.." Ucap Luhan lalu nyengir hebat, membuat Baekhyun sedikit kesal dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kau tau, Lu? Kau sekarang seperti orang buta, jadi, bisakah kau mendengarkan apa perkataan ku dan menurutinya?" Ucap Baekhyun kesal.
Luhan terdiam sejenak, entah apa yang merasuki dirinya, sehingga sekarang dia merasakan sakit yang mendalam. Itu semua benar, kini Luhan hanyalah orang buta. Dia menyusahkan, ya itu benar. Tapi kenapa kenyataan seakan menamparnya?
"Iya baek. Aku tau. Aku minta maaf jika merepotkan dan menyusahkan mu. A-aku takkan menyusahkan mu lagi" ucap Luhan lalu tersenyum kecut.
"Hei, kau itu pintar kenapa menjadi sangat bodoh, kau bukannnya merepotkan ku, tapi aku sangat khawatir, kenapa kau salah mengartikannya.." Ucap Baekhyun melembut lalu memeluk Luhan, dia merasa bersalah karena sudah mengatakan hal yang menurutnya pedas itu.
"Aku mencintai mu Baekkie-ah.." Ucap Luhan lalu membalas pelukan Baekhyun.
Kai mendecih pelan melihat bagaimana kedua sahabatnya ini sangat akur, tapi sebuah senyuman terukir jelas di bibirnya, bagaimanapun dia senang melihat Baekhyun dan Luhan.
"Anggap ajeh dunia sendiri. Gua mah ngekos." Cibir Kai dengan bahasa yang tentu saja tak dimengerti oleh Luhan dan Baekhyun. Oh,tidak, mungkin hanya Luhan saja yang tak mengerti,
"Kau baru bilang apa, kai?" Tanya Luhan bingung masih dalam keadaan memeluk Baekhyun.
"Itu artinya dia juga mau dipeluk, Lu.. Sini.." Cengir Baekhyun lalu menarik tangan Kai, sehingga mereka bertiga berpelukan seperti teletubbies.
"Ah, aku sayang kalian.." Guman Kai yang masih bisa di dengar Baekhyun dan Luhan.
"Ah, ayolah, kita baru beberapa hari kenal dan sudah akrab seperti ini.." Cibir Baekhyun dan langsung mendapat gerutuan oleh Kai,
"Jadi kau tak senang jika akrab dengan ku?" Tanya Kai tak terima,
Baekhyun dan luhan hanya tertawa kecil lalu secara bersamaan, mereka melepaskan pelukan mereka.
"Jadi, dia menuntunku kembali ke kelas?" Batin Luhan lalu tersenyum tipis.
.
.
.
"Kau yakin bisa pulang sendiri, Lu?" tanya Baekhyun khawatir,
"Gwaenchanna Baekkie.. aku akan menelepon Kris Oppa nanti, tenang saja Baekkie" ucap Luhan lalu tersenyum senang.
"Kau benar-benar bisa pulang sendiri, kan?" Kini Kai yang bertanya, membuat Luhan sedikit kesal.
"Aku bilang aku tak apa jika harus pulang sendiri! Kalian pulang lah," ucap Luhan kesal, sedangkan yang menjadi objek kekesalan Luhan hanya menyengir hebat.
"Baiklah nenek lampir." Ejek Kai lalu mengusak kepala Luhan.
"Jika terjadi sesuatu, hubungi kami, Lu.. Jika kau sudah sampai, hubungi kami juga, dan jika kau tak dijemput, hubungi kami juga" pesan Baekhyun,
"Kau tinggal bilang pada ku, 'apapun yang terjadi hubungi kami'" ucap Luhan lalu tertawa kecil,
Baekhyun hanya menggeleng kecil mendengar cibiran Luhan.
"Baiklah, hati-hati Lu.." Kata Chanyeol lalu menarik tangan Baekhyun menjauh.
"Kau benar-benar tak apa, kan?" Tanya Kai.
"Tenang saja Kai.. Aku tak apa.." Ucap Luhan lalu tersenyum damai.
"Baiklah. Aku pulang, ne.." Pamit Kai lalu berjalan ke motor besarnya. Menghidupkan mesinnya dan segera menjauh dari sekolah.
Senyuman Luhan kini luntur seketika saat menyadari kini dirinya sendiri.
Matanya kabur, dia hanya melihat bayangan, itu yang membuatnya panik dan takut.
Dia memang sudah menelepon Kris, dan Kris mengatakan dia akan menjemputnya. Tapi, apakah dia bisa percaya pada Kris? Mengingat tugas / urusan Kris sangat banyak. Kris sangat sibuk.
Mata Luhan kini mengeluarkan setetes cairan bening. Ini bukan keluar karena dia kesakitan atau apa, ini keluar karena dia kini sedang takut. Takut pada apa yang terjadi jika Kris tak menjemputnya. Dia sangat takut memikirkannya. Bisa-bisa dia di culik dan mutilasi. Memikirkannya saja sudah membuat nya merinding,
Luhan dengan segera menghapus air matanya. Mencoba untuk menahan tangisnya. Tapi, apa daya? Cairan itu tetap meluncur.
Dia sibuk menghapus air matanya, tak menyadari bahwa sekarang sudah ada seorang namja berdiri berlipat tangan di depannya. Menatap Luhan yang kini sedang menangis.
"Berhentilah menangis" ucap namja itu singkat, membuat Luhan yang tadi menunduk kembali mendongakkan wajahnya. Menunjukkan wajah nya yang kini sedang penuh dengan air mata.
"Hh?" Luhan bergumam kentara, matanya semakin berbayang karena air matanya,
"Ayo pulang." Ucap namja yang di depannya itu lalu menarik tangan Luhan. Gerakannya kasar, tapi tidak sekasar yang dulu sering dilakukannya pada Luhan. Yap, dia Sehun, namja bermata elang yang ternyata dari tadi mengawasi Luhan.
"Sehun?"
"Tenang saja, aku tak akan melakukan hal aneh pada mu" ucap Sehun lalu menempatkan Luhan di dalam mobilnya,
Dia lalu masuk kedalam mobil dan duduk di kursi pengemudi.
Tangan sehun kembali menggenggam pergelangan tangan Luhan yang tadinya terlepas, membuat luhan sedikit bingung saat hangat menerpa pergelangan tangannya.
Luhan kembali menarik tangannya tapi lagi-lagi, sehun kembali mengeratkannya,
"Biarkan seperti ini dulu" ucap Sehun pelan. Membuat Luhan sedikit bingung tapi tak menarik tangannya lagi.
.
.
.
"Ah.. Gomawo Sehun-ssi sudah mengantar Luhan.. sungguh aku tadi ingin menjemputnya, tapi teadi tugas ku sangat banyak dan aku tak di izinkan pulang oleh dosen pembingbing ku." ucap Kris saat melihat Sehun dan Luhan kini sedang ada di depan pintu rumahnya.
Berbeda dengan Sehun yakng kini sedang tersenyum, kini Luhan sedang cemberut parah, dia mengerecutkan bibirnya, dia sangat kesal pada oppa nya sekarang.
Luhan sekilas melirik Sehun yang kini sedang disampingnya, kini Sehun sedang memamerkan senyum mematikannya itu, dia berkali-kali lebih tampan dari yang sebelumnya, kalian tahu kenapa kini Luhan sudah bisa melihat dengan jelas? itu karena tadi Sehun dan Luhan singgah ke toko optik dan membeli kaca mata yang menurut Luhan sedikit lebih cantik dari pada punya nya yang sebelumnya.
-FLASHBACK-
"Pilihlah yang mana mau mu." ucap Sehun singkat,
"Bagaimana aku mau memilih, bodoh, aku saja tak bisa melihat" ucap Luhan kesal dan sedikit menaikkan nada bicaranya, membuat Sehun sedikit tersenyum geli melihat Luhan yang kini sedikit cerewet.
"Arraesso, Arraesso.. Umm.. bisakah kau memberikan ku yang ini?" tanya Sehun pada penjaga toko disana, jarinya mengacung menunjuk pada kaca mata yang bergagang bewarna biru muda,
penjaga toko itu mengangguk lalu mengambil kaca mata yang ditunjuk Sehun itu, Sehun menerimanya lalu memakaikannya pada Luhan.
"Bagaimana?" tanya Sehun saat Luhan sudah benar-benar memakainya,
"Ohh.. aku sudah melihat dengan baik.. tapi, bukankah ini sangat berbeda dengan punya ku yang dulu?" tanya Luhan saat melihat bayangannya di cermin. dia sudah dapat bernafas dengan lega saat kini sudah bisa melihat dengan jelas.
"Tidak apa-apa lah.. Lagian kaca matamu sudah kuno, pakai yang ini saja.." ucap Sehun 'sedikit' mengurangi nada datarnya,
Luhan mengangguk pelan, kaca mata ini memang jauh lebih bagus dari pada punya nya yang sebelumnya, kaca mata yang lebih tipis daripada kaca matanya yang dulu, tapi, walaupun lebih tipis, dia tetap melihat dengan baik. Dan, lihatlah gagangnya yang sedikit 'styleish'.
"Baiklah, gomawo, Sehun." ucap Luhan sedikit melembut. Inilah kali pertamanya Luhan menyebutkan nama Sehun tanpa nada tingginya,
Sehun mengangguk lalu segera membayar harganya.
-FLASHBACK OFF-
"Dia sangat tampan jika tersenyum, tapi kenapa dia sangat jarang atau bahkan tak pernah tersenyum selain menunjukkan ekspresi mematikan?" Batin Luhan,
"Eh? Apa yang ku pikirkan?" Luhan menggeleng keras setelah mengatakan itu di dalam hatinya,
"Baiklah, aku pulang dulu Lu.. ingat, jangan lupa makan malam." ucap Sehun lembut dengan nada... mengejek. Sehun tersenyum mengejek saat melihat Luhan yang tambah kesal, Sehun membungkukkan badannya lalu segera masuk ke dalam mobilnya.
"Sepertinya, kau sudah dekat dengan si Oh Sehun itu" ucap Kris pada adiknya yang kini masih melayangkan tatapan tajam pada mobil Sehun yang kian menjauh itu.
"Aku? Dekat dengannya? Huh, oppa gila." cibir Luhan lalu segera masuk ke dalam rumah,
"Luhan? Kau sudah pulang?" ucap Eomma Luhan dari dapur, Luhan tersenyum senang saat mendengar suara eomma nya dan langsung berlari ke dapur menghampiri eommanya.
"Eomma.." ucap Luhan lalu memeluk ibunya dari belakang yang kini sedang memasak pancake.
"Kau sudah pulang?" ucap eomma nya sambil membalikkan pancake itu,
Luhan menangguk lalu tersenyum lagi,
"Siapa yang menjemputmu? Kau bersama Baekhyun?" tanya Eomma nya,.
"anio, eomma.. Aku tak bersama Baekhyun.. aku bersama Sehun."
"Sehun? calon tunangan mu itu?" tanya eomma nya lalu tersenyum penuh arti, Luhan tak menyadarinya karena eommanya membelakanginya.
"Dan kaca mata itu, kenapa bisa berubah? dimana kaca mata mu yang dulu?" tanya eomma nya lagi,
"Mian Eomma, aku memecahkannya, dan Sehun membelikanku lagi" ucap Luhan berbohong. Tidak mungkin dia berkata Seulgi yang memecahkannya,
"Oh.. jadinya kau dan Sehun sudah dekat, hmm?" goda eomma Luhan yang langsung mendapatkan penolakan keras dari Luhan.
"Anio Eomma.." bantah Luhan dengan wajah cemberutnya,
"Ahaha, sudahlah, kau, bisa panggilkan oppa dan appa mu, kita akan makan malam." ucap Eomma Luhan lalu memindahkan pancake nya ke atas piring,
Luhan mengangguk malas dan beranjak untuk memanggil 2 lelaki itu.
.
.
.
"Emm.. eomma, appa.." panggil Luhan disela acara makan malam mereka,
"Ya, Lu?" jawab appa nya,
"Eomma, appa, soal perjodohan itu.." ucap Luhan agak gugup,
"Kau dan Sehun sudah akrab, kan? Apa yang perlu dibicarakan soal itu?" kini eomma Luhan yang menjawab Luhan,
"Aku tak mau dijodohkan dengan nya." ucap Luhan tegas, mata nya menatap kedua orang tuanya, sedangkan Yifan yang disamping Luhan hanya diam tak mengerti sambil menatap adiknya yang ada disampingnya ini.
"Tapi kau dan Sehun sangat romantis tadi, bagaimana bisa kau membatalkannya, Lu?" tanya Yifan yang semakin tak mengerti. Sehun baru saja mengingatkan Luhan agar jangan lupa makan malam di depannya langsung, itu sudah sangat romantis bagi Yifan.
"Ya, dia juga mengantar mu pulang dan membelikanmu kaca mata yang baru, kan? Dia sangat baik kepada mu, jadi kenapa kau ingin membatalkannya?" tanya Eomma Luhan lagi, sedangkan appa Luhan hanya diam meminta penjelasan dari Luhan sendiri.
"B-bukan itu, eomma.. a-aku hanya tak mau dijodohkan dengan nya.. Eomma pernah bilang kalau Lulu tak suka Lulu bisa membatalkannya, kan? Kalau begitu, Lulu ingin membatalkannya, eomma.." ucap Luhan dengan mata memelas pada eomma dan appa nya.
Sedangkan kedua orang tua nya hanya menggelengkan kepala nya keras secara bersamaan.
"ANI" ucap kedua orang tua nya secara bersamaan.
"Tapi, eomma kan janji kal-"
"Tidak, batas kau menolak itu semlam, dan kau sama sekali tak menolak semalam, lagipula, alasan mu tak jelas, jadi eomma dan appa tak akan mengabulkannya." ucap Eomma nya tegas,
"Lagipula, appa lihat Sehun orang yang baik dan mengerti tentangmu.." kini Appa nya membuka suara setelah mengatakan 'ANI' itu,
"Baik apanya? Dia bahkan tak pernah berkata halus pada ku" gerutu Luhan di dalam hati,
"Tapi, Eomma, aku benar-benar tak-"
"Tak ada tapi-tapian, kalau kau membatalkannya, berarti sia-sia usaha eomma dan appa membeli apartemen yang mewah." Eomma nya berkata lagi,
'Apartemen mewah?' batin Luhan lagi,
Luhan dan Yifan sama-sama menyerit bingung saat eomma mereka mengatakan 'Apartemen mewah' itu,
Sedangkan appa nya hanya menghela nafas pelan lalu menyikut lengan istri nya,
"Ah, maafkan aku yeobbo, aku kelepasan." ucap eomma Luhan menyesal,
"Huh.. biar appa jelaskan. Appa dan eomma sudah patungan dengan appa dan eomma Sehun untuk membeli apartemen yang mewah yang cukup membuatmu dan Sehun nyaman. Jadi, jika kau membatalkannya, apartemen itu akan sia-sia"
"A-Apartemen? A-Apa maksud Appa?" tanya Luhan takut-takut, dia tak mau apa yang dipikirannya terjadi,
"Harusnya kami memberi tahu nya 2 hari lagi, tapi sepertinya eomma mu kelepasan." ucap Appa nya lalu dibalas oleh tawa kecil dari sang istri,
"Tunggu dulu.. E-Eomma dan Appa tak berpikiran untuk menjadikan ku tinggal bersama Sehun, kan?" tanya Luhan getir, tangannya yang sedang memegang sumpit diacungkannya kepada wajah Eomma dan Appa nya secara bergantian,
"Tepat sekali" ucap Eomma dan Appa nya secara bersamaan, membuat Luhan terduduk lemas,
'Ini semua seperti mimpi buruk' lirih Luhan di dalam hati, sebuah petir seperti menyambar di kepalanya, menandakan ini benar-benar buruk baginya.
"Apa Eomma dan Appa gila? Eomma dan Appa membiarkan ku satu rumah dengan laki-laki? Eomma dan Appa tak takut jika terjadi sesuatu pada ku?" ucap Luhan tak habis pikir, suaranya meninggi,
"Sehun adalah anak yang baik, dia tak mungkin melakukan hal yang aneh pada mu. Lagipula, kami menyatukan kalian di dalam satu rumah itu ada tujuannya, supaya kalian terbiasa jika tidur bersama, supaya tak canggung, karena habis kuliah, kami akan menikahkan kalian."
"APPA DAN EOMMA GILA, YA?!" teriak Luhan yang langsung mendapatkan jitakan langsung dari oppa nya karena sudah mengejutkannya
"Oppaa.." Luhan kini memelas pada Yifan yang ada disampingnya untuk membela nya
"Mian, Lu.. Oppa tak bisa membantumu.. Lagipula, Oppa melihat Sehun baik pada mu" ucap Kris menyesal,
Membuat Luhan kesal setengah mati,
"Kau akan pindah ke apartemen nya besok, Baju-baju dan semua barangmu sudah eomma siapkan, jadi kau tinggal membawa nya." ucap Eomma nya lalu memasukkan makanannya kedalam mulutnya,
"Eomma dan Appa benar-benar ingin mengusirku dari rumah, ya?" tanya Luhan lemas,
"Anio chagi.. Kami hanya menginginkan yang terbaik untuk mu.." ucap Appa Luhan,
"Tapi bukan seperti ini caranya.." lirih Luhan lemas, Dia tak selera lagi untuk memakan makanannya.
.
.
.
.
T B C
.
.
.
Maaf entar ya,kalo lama apdet :" kuota abis cukk:"
Bencana baru bagi luhan nih xD wahwah,
Waahhh... siap-siap dehhh, HunHan moments bakalan bertebaraan, jadi siap-siap ajaahhh :v
wkwkwkwk, wordsnya udah ditambahin nih, :v
BTW, selamat buat EXO atas lagu love me right nya, sumpaahh, aku suka bet lagu sama mv nya.. bener-bener perfect dahh.. Sehun makin ganteng, banget malahan.. tapi, aku bingung, ini Luhan kok ga keliatan ya sama tao dan kris? Oh iya, lupa, Bukan member lagi ya? wkwk.. tapi tao katanya hiatus aja ya? bener kan? :')
BTW lagii, terimakasih yang sudah nge review di chap lalu, yang nge fav dan nge follow, gomawo chinguu..
Aku bakal berusaha yang terbaik buat chap depann..
makasih semuanyaaa..
yang baca, jan lupa ripiu donggg :'v
hehe, kalo gitu, annyeeooonngggg :v
