Summary : Hampir seluruh tubuh Sena telah dibalut perban. Anak itu masih belum sadarkan diri sampai sekarang. Beberapa tulang rusuknya bahkan patah bukti bahwa tadi Slaine benar-benar memukulnya keras.
Disclaimer: Gen Urobuchi, Katsuhiko Takayama
Genre: Romance, YAOI ALLERT
Rate: T
Pairing: Inaho x Slaine
Warning: OOC, typo eperiwer~~~~ , BL, Yaoi, Absurd, gak nyambung dengan summary, bahasa berantakan, OC (Sena Kaizuka Troyard)
DON'T READ , IF YOU DON'T LIKE STORIES ABOUT BL~~
REACHING YOU
(chap 7)
'Begining'
"Makanlah, kalau tidak kau bisa sakit Kou" Inaho memberikan ikan yang baru saja dipanggangnya
"Lebih baik aku mati kelaparan daripada harus makan, makanan buatanmu!" dengan kesal Slaine melempar pasir pantai yang sejak tadi dipegangnya agar Inaho tidak makin mendekatinya. Tapi usahanya sia-sia, Inaho hanya berhenti beberapa detik lalu kembali mendekatinya. "Jangan mendekat!"
"Hmmm.. padahal dulu kau bahkan tidak ingin makan jika bukan buatanku" seperti tidak menghiraukan ucapan Slaine, Inaho semakin mendekati pria berambut pirang itu.
"Apa yang kau bicarakan? Jangan mengatakan hal konyol! Saat anak buahku menjemputku akan kupastikan kalian berdua menyesal!" Slaine kembali melemparkan pasir-pasir pantai yang berada tepat dibawahnya. Membuat Inaho kembali menghentikan langkahnya, seulas senyum tipis tampak di wajah tanpa ekspresi itu. membuat si surai kuning semakin jengkel.
"Kaa-san, kau juga butuh makan" Sena yang sejak tadi duduk di pinggir api unggun akhirnya mengeluarkan suara. Sedikit menggeleng tidak percaya, ini pertama kalinya dia melihat ayahnya bertingkah bodoh seperti itu.
"HAAH? Kau lupa siapa aku? Cih..!"
Langit malam itu terlihat sangat indah. Bintang-bintang terlihat seperti aliran sungai di atas langit. Deburan ombak yang pecah di sepanjang garis pantai mengalahkan bisingnya suara serangga dari hutan di belakang mereka. Wangi air asin dan angin malam yang cukup dingin menjadi teman mereka bertiga. Sejak tadi Inaho bahkan belum melepaskan sedetikpun pandangannya dari Slaine yang duduk di hadapannya. Masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekalipun selama lima belas tahun ini dia meyakini bahwa Slainenya masih hidup.
"Kou, kau akan kedinginan jika duduk terlalu jauh dari api unggun."
"…."
"Ayo kemarilah, kau bisa terkena hipotermia" Inaho menepuk tempat di sebelahnya memberi tanda kepada Slaine bahwa orang itu bisa duduk di sana kapanpun dia mau.
~O~O~O~O~O~O~O~
[Sena? Kau baik-baik saja? Akan kukirim Harklight untuk menolongmu!] Suara Slaine dari alat komunikasi milik Sena menggema di seluruh copit.
"Slaine" Inaho membeo. Bahkan setelah lima belas tahun berlalu, Pria itu masih mengngat dengan jelas suara Slaine. Suara Slaine miliknya. "Sena? Itu Slaine kan? Itu suara Slaine kan?"
Kastil Pendaratan Barouhcruz
BUUUKK
Kembali suara debaman itu memenuhi ruangan Slaine saat si pirang mendaratkan pukulan dari tongkatnya tepat pada punggung Sena. Tidak hanya punggung dari anak itu yang menjadi sasaran kemarahan Slaine. Wajah tangan dan kakinya juga tidak luput dari kerasnya tongkat milik orang yang melahirkannya itu. Darah segar mengalir dari ujung bibir dan pelipis anak itu, tapi senyum di wajahnya tidak memudar sedikitpun, seolah dia sudah lama menantikan hal itu.
Lemrina dan Harklight yang sejak tadi berada di ruangan yang sama hanya bisa memalingkan wajah tidak berminat memandang kejadian di depan mereka. Harklight bahkan hanya bisa meremas tangannya, mengutuk dirinya yang tidak bisa menghentikan Slaine berlaku kasar kepada anaknya sendiri.
"Kau sengaja memilih tempat itu untuk menguji ZeThar kan? Agar kau bisa bertemu dengan pasukan Bumi dan membeberkan rahasia kami?" Kembali dua pukulan mendarat di jari jemari Sena. "Harusnya sejak awal kami tidak mengirimmu ke sana!" Slaine sekali lagi memukul wajah Sena dengan kepala tongkatnya. Darah yang mengalir dari wajah anak itu semakin banyak. Pipinya berubah warna menjadi unguu dikarnakan lebam. Sejak tadi setiap kali Slaine menanyakan sesuatu dan Sena tidak menjawab bisa dipastikan pria berumur tiga puluh enam tahun itu akan langsung menghujani tubuh anak itu dengan sebuah pukulan. "Mulai sekarang, kau tidak boleh meninggalkan kamarmu!"
"Slaine-sama. Kurasa sudah cukup menyiksanya, Anak itu bahkan sudah tidak bisa lagi mengeluarkan suara rintihan" Harklight yang tidak tahan akhirnya angkat bicara setelah Sena terkapar di lantai dan bahkan sudah tidak mampu lagi mengangkat badannya. Tentu saja, menerima begitu banyak pukulan keras membuatnya akhirnya kehabisan tenaga.
"Bawa dia kembali ke kamarnya! Aku tidak ingin melihat wajah anak itu lagu!" Slaine meninggalkan ruangannya sendiri. Di belakangnya Lemrina mengikuti Slaine setelah memberi isyarat kepada Harklight agar dia merawat anak itu.
….
Langit malam di Mars hampir tidak ada bedanya dengan langit siang harinya. Semua hampir berwarna merah, Slaine dengan emosinya yang masih meluap saat kembali mengingat kejadian beberapa jam lalu tanpa sadar menendang pagar pembatas dari balkon kastilnya. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, tepat di belakangnya Lemrina yang sejak tadi diam memeluk Slaine dari belakang. Mencoba menurunkan emosi dari orang yang saat ini menjadi pemimpin pasukannya.
"Slaine-sama, Kau tidak boleh semarah itu. Dia hanyalah anak kecil"
"Lemrina-hime, apa yang kau lakukan?"
"Menenangkanmu. Lihat sekarang kau sudah tenang kan?"
Lemrina melepaskan pelukannya, tapi tubuhnya masih bersandar tepat pada punggung Slaine. Mereka berdua diam, sama-sama menatap langit malam Mars. Tidak banyak bintang di sana yang bisa dinikmati seperti di Bumi.
"Kau ingatkan siapa Sena itu?"
"Ya.. Dia adalah anak Asseylum-Hime. Dia keponakanmu, maaf sudah berlaku kasar kepadanya. Hanya saja aku tidak ingin dia mengacaukan rencanaku untuk menguasai Bumi terganggu. Aku melakukan itu semua demi Asseylum-Hime."
"Ya Aku tau Slaine-sama, hanya saja aku tidak ingin kau terlalu menyakitinya. Bukan salahnya jika dia tidak bisa menangkan? Siapa sangka Inaho Kaizuka akan muncul di sana?"
"Inaho Kaizuka!"
Deucalion
Seluruh orang yang ada di kantin melihat heran kepada Inaho. Beberapa bahkan sampai lupa menutup mulutnya sendiri. Sejak tadi manusia yang terkenal dengan sikap dinginnya itu malah tersenyum. Calm, Yuki dan teman-temannya saling berpandangan tidak mengerti. Sejak kembali dari pertempuran beberapa jam lalu Inaho tidak berhenti tersenyum. Dia bahkan hanya mengaduk-aduk menu makan malamnya. Salah satu dari banyak hal tidak biasa yang dilakukan Inaho, apalagi melihat menu makan malam hari ini adalah telur.
"Inaho, Kua baik-baik saja?" Akhirnya Calm jugalah yang bertanya setelah terdengar tiga kali pria berambut pirang itu meneguk ludah.
"Hmmm? Ya aku baik-baik saja. Kenapa?" jawab Inaho sambil tersenyum, matanya memicing, membuat iris merahnya terlihat seperti bulan sabit.
"Kau tau? Kita sudah berteman lebih dari dua puluh tahun. Dan seingatku kau belum pernah bertingkah seperti ini. Ahh pernah satu kali saat kau akan menikah dengan Sla…" Sebuah tendangan keras di bawah meja diterima oleh Calm dari Inko. Sementara semua temannya yang kebetulan berada di meja yang sama memberikan deathglare paling mematikan mereka.
"Aku mendengar suara Slaine"
Meja itu hening seketika, mereka tidak ada yang berani mengangkat suara. Selama ini bagi Inaho Slaine adalah masalah sensitive. Dia bahkan jarang menyebut nama Slaine setenang itu bahkan hampir tidak pernah. Tapi kali Inaho menyebutnya.
"Nao-kun.."
"Kalian tau? Saat tadi aku bersama Sena. Aku mendengar suara Slaine di alat komunikasi mereka"
"Bisa saja itu orang lain yang suaranya seperti Slaine"
"Tidak Yuki-nee. Itu suara Slaine. Aku mengingatnya dengan jelas seperti baru kemarin mendengar suaranya. Salahku bukan kemarin tapi tadi."
"Nao-kun"
"Sekarang aku tau kenapa Sena meninggalkan Deucalion. Anak kami sudah dewasa, dia memilih jalan yang benar"
"Kalau dia memang Slaine kenapa dia mengincar Bumi? Bukannya Slaine sudah tidak akan melakukan itu lagi? Yang kau dengar itu bukanlah suara Slaine-kun!"
"Itu Slaine! Kenapa kalian tidak ada yang percaya padaku?"
"Baik anggap saja kami mempercayaimu. Tapi untuk apa Slaine sampai melakukan itu? Kau lupa berapa banyak korban yang sudah jatuh berkat invasi pasukan pengkhianat Mars kali ini?"
"Sena sedang menyelidikinya"
"Apa Sena yang memberitahumu? Bisa saja anakmu itu dicuci otak Nao-kun"
"Sena tidak memberiahuku apapun. Tapi aku tau dia melakukan hal itu karna ada sesuatu yang terjadi pada diri Slaine. Mata Sena masih belum berubah. Masih sama seperti Sena yang kukenal"
"Inaho-kun! Sepertinya kau butuh istirahat! Semua kejadian ini membuatmu sedikit tidak waras!
"Apa maksudmu Inko?"
"Kau tidak seperti Inaho yang kami kenal.
Inaho tidak melanjutkan makannya. Dengan kesal dia meninggalkan kantin. Teman-temannya yang lain bahkan sudah tidak nafsu lagi untuk kembali menyentuh makanan di hadapan mereka. Mereka semua tenggelam dalam fikirannya masing-masing.
Kastil Pendaratan Barouhcruz (Ruang Perawatan)
Hampir seluruh tubuh Sena telah dibalut perban. Anak itu masih belum sadarkan diri sampai sekarang. Beberapa tulang rusuknya bahkan patah bukti bahwa tadi Slaine benar-benar memukulnya keras. Harklight yang sejak setengah jam lalu menemani Sena di ruang perawatan akhirnya menoleh ke arah pintu saat mendengar pintu ruangan itu bergeser. Lemrina muncul dari balik pintu yang terbuka, wajahnya tampak pucat begitu melihat keadaan Sena. Dengan sangat pelan dielusnya kepala anak itu, wanita berambut merah muda itu bahkan menggigit bibir bawahnya untuk menahan emosinya. Ya Sena memang bukanlah anak kandungnya, tapi anak itu adalah darah daging Slaine.
"Lemrina-Hime.. Kupikir sebaiknya.."
"Aku tau apa yang ingin kau katakan. Tapi simpan saja semua yang ada di fikiranmu!'
"Tapi Lemrina-Hime, Slaine-sama…"
"Kubilang diam! Apa kau ingin Slaine-sama kembali ke tempat orang-orang bumi itu? Apa kau lupa apa yang dilakukannya kepada Slaine-sama?"
"Maafkan saya Lemrina-hime"
"Dengar.. anggap saja kita tidak pernah mengadakan pembicaraan ini!"
Harklight menunduk hormat kepada Lemrina yang baru saja meninggalkan ruangan. Harklight tau bahwa wanita itu masih dalam keadaan marah, terdengar dari langkah kakinya.
Di Waktu yang sama di luar ruang perawatan Sena
Slaine berjalan tertunduk menyusuri lorong kastil. Ada sedikit perasaan bersalah setelah tadi dia berbincang dengan Lemrina. Seharusnya dia tidak semarah itu dan memukul Sena seperti seorang budak. Seketika Pria itu merasakan kepalanya sedikit sakit, punggungnya seperti terbakar setiap kali kejadian tadi saat dia memukul Sena melintas di ingatannya. Sayup-sayup telinganya menangkap suara Lemrina dari dalam sana. Membuatnya mengurungkan niat untuk langsung masuk demi mengetahui hal apa yang membuat Lemrina-hime sampai meninggikan suara seperti itu.
"Lemrina-Hime.. Kupikir sebaiknya.."
"Aku tau apa yang ingin kau katakan. Tapi simpan saja semua yang ada di fikiranmu!'
"Tapi Lemrina-Hime, Slaine-sama…"
"Kubilang diam! Apa kau ingin Slaine-sama kembali ke tempat orang-orang bumi itu? Apa kau lupa apa yang dilakukannya kepada Slaine-sama?"
"Maafkan saya Lemrina-hime"
"Dengar.. anggap saja kita tidak pernah mengadakan pembicaraan ini!"
Slaine cepat-cepat bersembunyi di samping pilar kastil saat mendengar suara langkah sepatu Lemrina yang hendak keluar dari ruangan itu. Rasa penasarannya lebih memenuhi fikirannya dibandingkan rasa sakit di punggungnya tadi. 'Apa yang didengarnya tadi? Apa maksud Lemrina tadi?'
~TBC~
OWARI
Gomenasai~~ maaf updatenya lama.. cari kerja setelah lulus itu sesuatu banget /curcol. Tiba-tiba unmood buat fanfic gegara cari kerja.~~ Tapi saya usahakan update secepat yang saya bisa setiap kali dapat ide ahahahahha jaaaaa
