Jingga – Gempa

"Jingga adalah lambang kesehatan dan kekuatan. Adalah salah satu warna yang menyembuhkan. Jingga adalah warna yang menunjukkan perhatian dan ketulusan."


Halilintar merasa ada yang janggal dengan Gempa pagi ini. Biasanya gempa akan bangun subuh untuk memasak makan pagi, tapi hari ini di atas meja hanya ada roti tawar dan segelas susu. Tentu saja, saudara-saudaranya yang lain mempertanyakan hal itu tapi Gempa hanya bilang dia kesiangan, sehingga tidak sempat menyiapkan yang lain. Menurut Halilintar, 'kesiangan' saja sudah pertanda bahwa Gempa memang aneh hari ini.

Benar saja, ketika Gempa sedang berjalan ke dapur ia oleng. Untung Halilintar cepat tanggap, ia berlari dan menangkap Gempa yang hampir terjatuh. Halilintar memegang kedua bahu Gempa, menahannya dari belakang.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Halilintar.

Gempa menengok ke belakang, ke arah saudaranya dan tersenyum kecil.

"Aku baik, terima kasih Hali. Aku cuma tersandung."

Wajah Gempa terlihat pucat dan sedikit berkeringat. Apakah mungkin...?

Halilintar meletakkan punggung tangannya di dahi Gempa. Panas. Benar dugaannya, Gempa sedang demam. Itu kenapa ia bangun kesiangan hari itu. Halilintar bilang ke yang lain untuk sarapan di sekolah saja kalau masih lapar, dan untuk segera bergegas. Ia bilang ia akan menyusul.

"Eh? Terus kita bagaimana? Kalau tidak buru-buru, nanti kita juga ter—"

"Sssh, kau sakit. Di rumah saja," ujar Halilintar sembari membopong tubuh yang lemas itu ke kamarnya.

Ia mendudukkan Gempa di atas ranjang yang rapi itu. Kamar Gempa terlihat rapi. Satu-satunya tempat yang berantakan adalah meja belajarnya. Penuh dengan berkas-berkas dan juga buku pelajaran. Halilintar bergegas ke kamar mandi untuk mengambil beberapa obat dan termometer dari kotak obat. Tak lupa ia juga membawakan minum. Ketika ia kembali ke kamar Gempa, terlihat Gempa sedang terbaring di lantai dengan muka yang memerah.

"Oy! Kau kenapa?! Kenapa kau di lantai?" ia bergegas membopong saudaranya itu.

"Harus kelas... ada... ulangan... rapat... osis..." dengan terbata-bata, Gempa mencoba berbicara.

"Bodoh. Di saat sakit begini masih saja mikirin pekerjaanmu?" Halilintar kemudian menidurkan Gempa di kasurnya dan memberinya termometer. Suhu tubuh Gempa 39,2 derajat.

"Yep. Kau sakit. 39 derajat, demam tinggi. Percuma kalau mau pergi sekolah juga, ga bakalan bisa konsentrasi."

"Aku tidak apa-apa, Hali. Sungguh. Aku hanya lelah."

"Oh ya tentu saja kau tidak apa-apa dan bangun lebih telat daripada Ice. Seorang Gempa! Bangun lebih telat daripada Ice!"

Gempa terdiam dan Halilintar menganggap ini sebagai kemenangannya.

Halilintar membuka lemari Gempa untuk mengambil baju tidur yang nyaman. Ia kemudian memberikannya kepada Gempa sebelum keluar kamar. Halilintar memang tidak jago memasak, tapi tidak butuh skill khusus untuk membuat sup kemasan, kan? Ia kemudian memilih sup krim jagung dan memanggang roti untuk dimakan Gempa sebelum minum obat.

Ketika ia kembali ke kamar. Gempa sudah ganti baju dan terbaring di dalam selimutnya. Halilintar meletakkan nampan berisi makanan di atas meja samping tempat tidur, dan menarik kursi untuk duduk di sebelah Gempa. Dengan perlahan ia membantu Gempa untuk posisi duduk bersandar pada kepala tempat tidur.

"Kau mau kusuapi atau kau bisa makan sendiri?" tanya Halilintar dengan wajah datarnya.

Gempa tersenyum kecil, "aku bisa makan sendiri. Terima kasih."

Halilintar duduk di kursi yang sudah ia tarik tadi dan mengeluarkan ponselnya.

"Mau sms siapa?" tanya Gempa.

"Fang. Mau ngasih tahu suruh dia ijinin kalo kamu sakit dan aku harus menjagamu. Fang OSIS juga kan?"

Gempa mengangguk. Kemudian ia menyadari sesuatu.

"tunggu tunggu. Jadi kamu mau bolos juga?" dengan tatapan aneh, Halilintar mengangguk.

"JANGAN! Nanti ulangannya bagaimana?"

Halilintar menghela nafas, "susulan, lah. Bareng kamu. Gimana, sih. Sudah sana, minum obatnya terus tidur kalau sudah."

Gempa menurut. Agak aneh melihat Gempa yang biasanya berperan sebagai pemimpin menjadi orang yang menurut ketika Halilintar suruh. Mungkin dia sadar kalau memang dia sakit.

Halilintar rebahan di sofa ruang keluarga ketika ia sudah selesai mengurus Gempa. Ruang keluarga adalah ruangan terdekat dari kamar Gempa, jadi ia pikir tidak apa-apa jika ia di situ saja. Pintu kamar ia biarkan terbuka. Agar tidak bosan, ia menyalakan televisi dan mulai mengganti-ganti saluran untuk menemukan hal yang ia suka.

Setelah makan siang dan minum obat, Gempa kembali berbaring di kamarnya sedangkan Halilintar kembali menonton TV. Tidak berapa lama kemudian, Gempa menghampiri Halilintar yang tidak sadar akan keberadaannya. Tanpa sengaja, ia terjatuh lagi. Hanya saja kali ini Halilintar tidak menangkapnya. Mendengar suara 'gedebuk', Halilintar langsung berdiri dan mendekati asal suara tersebut.

"Bodoh! Kau mau apa, panggil aku!" bentaknya sambil membantu Gempa berdiri.

"Aku tidak apa-apa," kata Gempa, "dan juga... maaf."

"Hm? untuk apa?"

"Aku merepotkan. Tidak bisa diandalkan, lemah, egois... aku—"

Halilintar mendekap mulut Gempa.

"Tidak usah dilanjutkan," jawabnya tegas. Ia menghela nafas panjang, "dengar ya, Gempa. Di antara saudara-saudara yang lain, kamu yang paling tidak mementingkan dirimu sendiri, tahu tidak?"

Gempa menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Halilintar mendudukkan Gempa di atas sofa, kemudian duduk di sebelahnya.

"Kau itu lebih seperti orang tua dan penjaga kami daripada saudara, tahu? Kau selalu memikirkan yang terbaik untuk yang lain dan melakukan semuanya untuk kami,"

"tidak apa-apa untuk egois sekali-kali. Malah, aku senang kalau kau mau bersikap lebih egois. Lebih perhatikan dirimu, Gempa. Kami sayang padamu dan tidak mau sesuatu yang buruk terjadi kepadamu. Mengerti?"

Gempa mengangguk. Nampaknya ia mulai tenang. Setelah beberapa lama kemudian, ia bicara.

"Kalau begitu boleh aku di sini saja bersamamu?"

Halilintar mengangguk.

Gempa kemudian tersenyum dan membaringkan tubuhnya, dengan kepalanya di atas pangkuan Halilintar. Halilintar agak kaget dengan ini, tapi ia juga tidak menolak. Gempa kemudian mengambil tangan Halilintar dan meletakannya di pipinya yang hangat.

"Tangan Hali, dingin."

Lama kelamaan Gempa tertidur dan Halilintar pun menyusulnya.


a.n: mama Gempa, papa Hali