Disclaimer : Masashi Kishimoto

Prison Love from Obsession 7

By ShinKUrai

Warning!

Yaoi, lemon, Bondage toys, bahasa kasar,OOC, Naruto egois, Typo(s), Gaje bin Ababil, membosankan, dll.

DON'T LIKE DON'T READ

()()()()()()

.

Masa depan memang tidak dapat ditebak sebelumnya. Bahkan perubahan itu akan membuatmu terkejut, mengingat status mapanmu di dalam masyarakat ternyata tidak dapat mengendalikan apapun yang akan terjadi pada masa depan. Karena hukum sudah mengatakan, di atas orang yang berkuasa terdapatorang yang lebih berkuasa lagi.

Roda kehidupan pasti berputar, dan manusia tidak akan dapat mencegahnya.

Bahkan itu berlaku pada keluarga Uchiha, keluarga konglomerat sejak turun temurun namun telah keropos dari dalamnya.

Sasuke mematung menatap kondisi kantor kepegawaian yang biasanya khidmad kini penuh dengan orang-orang yang sibuk memindahi peralatan. Terlebih para karyawan yang seharusnya tengah bekerja kini hanya berdiri diam, menunggu hingga perubahan ini selesai dilakukan.

"Apa yang terjadi?" Sasuke menghampiri beberapa karyawan yang mengamati tidak jauh darinya. Perasaan Sasuke tidak enak. Kejadian seperti ini belum pernah terjadi, mengingat ayahnya menganggap susunan kepegawaian dan tatanan di dalam perusahaan sudahlah sangat sempurna, tidak mungkin presiden direktur itu akan tiba-tiba merubahnya sedrastis ini.

"Saya sendiri kurang tahu," Jawab seorang pegawai laki-laki dengan mendekap map di dadanya. "tapi saya dengar jika pihak dari Namikaze Corp-lah yang memerintahkan perubahan ini." Onyks Sasuke terbelalak mendengar nama perusahaan itu disebut. "Apa sebelumnya Sasuke-san belum mengetahuinya?" Tanya pegawai itu heran. "Ada isu yang mengatakan jika Uchiha Corp telah jatuh ke tangan Namikaze-corp. –Jika itu memang benar, apa yang akan terjadi pada kami?" Karyawan yang lainnya ikut mengangguk, dengan memandang cemas mereka mengharapkan penjelasan dari anak bungsu penerus Uchiha itu. Mereka takut jika susunan kepegawaian yang juga dirubah, akan membuat banyak dari mereka berkemungkinan di PHK. Sedangkan Sasuke pun sama khawatirnya seperti mereka.

Onyksnya menelusuri sekeliling tapi tidak mendapati kakaknya berada disini. Seharusnya direktur kedua dari Uchiha corp itu ada untuk mencegah semua ini. Lagipula bagaimana bisa Uchiha-corp mendapat kendali dari pihak lain segampang ini. Sasuke tidak dapat percaya. Mereka bahkan masih memiliki 30% dari saham perusahaan.

"Itu tidak benar. Uchiha tidakakan jatuh ke tangan siapapun. Kalian akan tetap bekerja seperti biasanya." Ucap Sasuke tegas. Setidaknya mungkin dapat menenangkan para pegawainya, sementara iasendiri akan mencari penjelasan dari semua ini.

Sasuke berjalan cepat ke dalam ruangan kakaknya. Tapi tidak menemukannya di dalam ruangan itu. Ketika ia bertanya pada asisten Itachi yang telah lewat, asisten itu berkata jika Itachi ada urusan penting dengan klien. Sedangkan ayahnya tengah sibuk mengurus cabangnya di kota lain.

Sasuke mendesah kesal. Kenapa ketika perusahaan pusat dalam keadaan seperti ini mereka juga sibuk dengan urusan yang lain. Apa benar perusahaannya telah berubah?

Onyksnya melirik jam dinding yang terpajang di dalam ruang resepsionis. Sasuke baru ingat jika ada kelas untuk kuliah hari ini. Sudah beberapa hari ia membolos? Ketika ingat jika akan bertemu pemuda yang telah menculiknya, seketika ia kehilangan niatnya untuk pergi ke kampus. Jujur saja Sasuke tidak ingin bertemu dengan orang itu, setidaknya dalam waktu dekat ini.

Tapi Sasuke tidak ingin alfanya semakin bertambah. Hal itu pasti akan mempengaruhi nilainya. Ia bisa mengecewakan ayahnya jika itu terjadi. Sasuke tidak menginginkan hal itu.

Pemuda raven itu sudah berjalan di trotoar pinggir jalan raya. Tadi ia menggunakan taxi untuk pergi ke perusahaan. Dan sampai sekarang belum terlihat taxi yang dapat diberhentikannya. Sasuke memang memiliki mobil pribadi, tapi kakaknya malah membawanya dan meninggalkan mobil nganggur lain yang entah kunci kontaknya berada dimana.

Terangnya sinar matahari membuat Sasuke harus mengernyit menatap jalanan di depannya.

TIINT TIINNN

Suara klakson nyaring membuat jantung Sasuke hampir copot. Kepala ravennya menoleh, memasang tatapan membunuh bagi siapapun itu yang menekan klakson di jalan lenggang seperti ini. Namun harus terbelalak melihat sosok yang berada di balik kemudi mobil yang berjalan lambat mengiringi langkahnya.

"Hoi Sasuke!" Sapa suara nyaring itu riang. Pemuda pirang dengan kaca mata hitam itu mengendarai mobil sport dengan atap terbuka.

Tidak menggubrisnya Sasuke kembali menoleh ke depan sambil tetap berjalan. Sasuke tidak menyukai keadaan ini. Barusaja berpikir tidak ingin bertemu pemuda itu dalam waktu dekat, tapi pemuda yang dibencinya malah sudah berada di sampingnya, dengan bunyi gaduh klakson pula.

Sasuke men-death glarenya dengan tajam.

"Mau naik tidak?" Pemuda pirang itu menawarkan agar Sasuke naik ke mobilnya.

"Tidak." Tolak Sasuke tegas. Sambil berjalan lebih cepat mobil itu masih terus mengikuti di sampingnya.

"Naiklah! Daripada kau berjalan kepanasan seperti itu." Si pirang itu membujuk.

Jika saja wanitalah yang di ajak olehnya pasti akan kegirangan, melihat penampilan pemuda itu benar-benar kasual dankacamata hitam melindungi saphirenya dari sinar matahari, terlebih mobil sport mahal yang dikendarainya. Jelas si pirang tampak sangat bergaya juga kaya para wanita akan berteriak agar diberikan tumpangan.

Tapi bagi Sasuke dirinya lebih keren daripada pemuda pirang berisik tersebut. Kenyataannya Sasuke adalah seorang pangeran di Universitas Konoha. Wajah rupawan didukung penampilan yang stylis, kedudukan keluarga yang di kagumi, dan mobil mewah yang sering bergonta-ganti. Tapi nasib malangnya sekarang ia malah berjalan kaki. Terlebih diikuti si pirang yang berasa sok pamer di sampingnya.

"Berhenti mengikutiku idiot!" Bentaknya. Habis kesabarannya sudah. Pemuda pirang dengan nama Uzumaki/Namikaze Naruto itu dengan santainya mengikuti, sedangkan musik romantis diputarnya dengan volume keras. Membuat Telinga Sasuke panas. 'Kau pikir ini drama romantis, dimana seorang pria berusaha mendekati wanita agar mau menjadi kekasihnya?'

"Sudah kubilang untuk naik. Aku sedang berbaik hati memberikan tumpangan padamu teme!" Naruto memberhentikan mobilnya, mengisyaratkan pemuda raven itu agar duduk di sebelahnya.

"Simpan kebaikan hatimu itu untuk hal lain!Aku lebih suka duduk di dalam taxi." Namun Sasuke tetap menolaknya dan kembali berjalan. Tidak ingin berhadapan lebih lama dengan pemuda itu dan memilih menatap ke jalan raya, berharap taxi akan segera lewat.

"Ap-hei!" Sasuke terkejut ketika pinggangnya ditarik oleh tangan dari samping. Berusaha meronta karena tubuhnya diseret naik ke dalam mobil yang tidak beratap. Lalu mendelik tidak percaya, dalam sekejap telah duduk pada kursi penumpang, tepat dimana Naruto sedang mengemudikan. "Apa yang kau lakukan dobe!" bentaknya tak suka.

Pemuda pirang yang dipanggil dobe itu hanya tersenyum, tidak cukup menawan untuk diperhatikan Sasuke saat ini. Justru lebih terlihat seperti senyuman meledek baginya. Sasuke tidak menyangka Naruto sanggup mengangkatnya dengan satu tangan dalam posisi mengemudi. Padahal besar tubuh mereka hampir sama. Walau Sasuke sadar, dia lebih kurus.

Mobil sport Naruto melaju semakin kencang menelusuri jalan raya.

Saphire di balik kaca mata hitamnya melirik keadaan penumpang di sebelahnya. Aura kesal masih menyelimuti pemuda raven itu, onyksnya memandang jalan raya dengan datar.

"Kau habis dari perusahaan?" Naruto mulai membuka suara untuk mengajaknya mengobrol. Tapi Sasuke tetap diam tidak menjawab.

"Aku juga dari sana. Tapi kenapa tadi aku tidak melihatmu di Uchiha-corp ya? Hemm… mungkin aku terlalu lama menelepon di dalam mobil" Kicau Naruto.

Sasuke mulai menoleh, tampak terpancing. Terlebih ia baru ingat harus menanyakan sesuatu pada pemilik Namikaze-corp tersebut. "Tadi kau datang ke perusahaan?"

Melihat wajah penasaran yang Naruto tangkap dari pemuda itu membuatnya tersenyum.

"Yeah… ada beberapa perubahan yang harus ku tata ulang di sana." Ucapan ringan itu membuat Sasuke mendelik.

"Jadi benar kaulah dalang yang menyuruh orang-orang merubah susunan kepegawaian?"

Naruto mengangguk.

"Jangan menganggap seolah Uchiha-corp adalah milikmu dobe!"Bentaknya tidak terima.

Alis Naruto mengernyit.

"Kenapa kau semarah itu Sasuke? Ayah dan kakakmu saja yang kumintai izin mengubah sedikit susunan perusahaan fine-fine saja. Lagipula aku sudah mendapat tempat sebagai direktur di Uchiha-corp." Jawab Naruto dengan sedikit mengucrutkan bibirnya. Layaknya anak kecil yang sedang menjelaskan bahwa ia tidak bermaksud nakal.

"Ap-apa? Direktur di Uchiha-corp." Tanya Sasuke tidak percaya. Apa yang dipikirkan ayah dan kakaknya sehingga membiarkan Naruto mendapatkan tempat diperusahaan? Sebagai direktur pula. Naruto bahkan langsung melancarkan aksinya mengubah susunan perusahaan. Itu sama saja membiarkannya mengambil seluruh kendali atas Uchiha.

Naruto mengangguk dengan tarikan bibir lebih lebar sebagai jawaban.

"Ayahku adalah presedir, tidak mungkin dia memberikan kursi derektur kepadamu." Ucap Sasuke, merasa ini semua aneh.

"Apa kau tidak tahu? Di dalam sebuah perusahaan terutama Uchiha-corp, pemegang saham terbanyaklah yang berhak mengendalikan jalannya perusahaan. Menjual saham lebih dari setengahnya itu sama saja memberikan kuasa atas perusahaan." Jawab Naruto.

Sasuke tidak dapat mempercayai hal itu. Lalu kenapa ayahnya tidak berusaha merebut kembali dan sibuk mengurusi perusahaan cabang?

"Aku memang memiliki kendalidi dalam Uchiha pusat. Tapi satu atau dua perusahaan cabang yang berataskan nama ibumu tidak dalam … meskipunjalannya perusahaan pusat tetap akan berpengaruh juga..." Terang Naruto, menjawab pertanyaan yang berkecamuk di dalam pikiran Sasuke.

Jadi itulah sebab ayahnya lebih fokus mengurus perusahaan cabang. Satu atau dua? Apakah hanya itu yang masih utuh di tangan mereka?

"Tenang saja! Ayahmu masih seorang presedir di perusahaan kalian." Jawab Naruto.

Sasuke tidak dapat memahami pasti. Tapi melihat dari ini semua Naruto dapat melakukan apapun yang dia minta dan ayah dan kakaknya seolah tak dapat menolaknya.

"Kita sudah sampai."

Sasuke terbangun dari pikirannya ketika melihat pemadangan berubah menjadi perkarangan universitas. Ia melirik jam, dan benar, tepat waktu sebelum mata kuliahnya dimulai.

Onyksnya melirik Naruto yang juga melirik ke arahnya dengan senyuman aneh. Mungkin si pirang itu berharap mendapatkan ucapan terimakasih darinya. Tapi tidak, Sasuke tidak akan berterima kasih karena harus menumpang secara paksa ke dalam mobil ini. Memutuskan untuk segera pergi, Sasuke menarik tuas pintu mobil tapi ternyata terkunci. 'Kenapa si dobe itu belum juga membukanya?' pikir Sasuke. Masak iya, dirinya harus mengangkangkan kaki melewati atas pintu mobil agar bisa keluar?

Sasuke tersentak ketika sebuah tangan melingkar dan memeluk pinggangnya. Tubuhnya bergidik. Menyadari jika pemuda di sebelahnya itu sedang bersandar manja padanya, jujur saja membuat Sasuke risih.

"Ne~ Sasuke! Sebelum pergi harusnya kau memberikanku sebuah ciuman terlebih dahulu!" Manjanya seperti anak kecil. Perkataan yang diucapkan pas di sebelah telinga Sasuke itu membuat bulu kuduk Sasuke meremang.

Sasuke berusaha melepaskan tangan Naruto, tapi si pirang itu malah mengeratkan pelukannya. Membuat tubuh mereka semakin menempel. "Lepaskan dobe! Kau bisa membuatku terlambat!" Onysk itu melirik ke sekitar, takut-takut jika ada orang yang memperhatikan mereka. Bagaimanapun disini masih belum wajar jika seorang lelaki berpelukan mesra dengan lelaki lainnya. Itu akan menciptakan bisikan yang tidak enak.

Naruto menggeleng. "Hanya ciuman singkat, tidak akan menghabiskan banyak waktu."

Sasuke tahu, Naruto itu keras kepala. Pemuda pirang itu tidak akan melepaskannya sampai mendapatkan yang ia mau.

Tapi~

Menciumnya?

Tidak mungkin. Sasuke masih normal, dan dia membencinya. Tidak mungkin Sasuke menjatuhkan harga dirinya hanya untuk mencium seorang pemuda seperti Naruto! Terlebih jika orang-orang melihat mereka.

"Ayolah! Sedikit saja…!" Manja Naruto keras kepala.

Geraman terdengar dari Sasuke. Ia berdecih "Lepaskan aku brengsek!" Kemudian berputar mengayunkan kepalan tinju yang telak menghantap pipi bergaris Naruto. Ketika pelukan itu telah terlepas, segera Sasuke melompat keluar dari mobil dan berlari menuju gedung universitas.

Dengan kacamata miring akibat jatuh dari pangkal hidungnya, saphire Naruto memperhatikan laju Sasuke memasuki gedung. "Hahahh…" Tidak merasa kesal karena pemuda itu telah memukulnya, tapi Naruto malah tertawa misterius. "Dasar tsundare! Sulit sekali ditaklukan." Dua jarinya menaikkan kembali kacamata hitamnya dengan pas. Kemudian membuka pintu mobil untuk keluar. Bunyi 'bam' kecil terdengar ketika pintu itu kembali didorong menutup.

.

Neji tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi kemarin. Pemuda berambut panjang itu menghawatirkan keadaan sahabatnya, karena Sasuke tidak juga terlihat setelah beberapa hari. Maka dari itu dia menyelidiki hal yang paling mencurigakan hingga sampai menyusup ke dalam monshion Naruto. Dan benar Sasuke ada disana. Tapi tidak seperti apa yang sedang dipikirkannya, Sasuke baik-baik saja. Bahkan Itachi terlihat tenang-tenang saja ketika menjemput adiknya yang sudah beberapa hari tidak pulang.

Tidak dipungkiri, Neji merasa sangat ganjil dengan keadaan tersebut.

Seorang dosen telah masuk ke dalam kelas, menandakan mata kuliah ini akan dimulai. Mata lavender Neji mengamati arah pintu masuk. Mengingat jika Sasuke telah pulang, seharusnya pemuda uchiha itu memasuki mata kuliah hari ini.

Dan benar, tepat dugaannya. Beberapa menit kemudian pemuda raven itu muncul memasuki kelas. Neji mengangkat tangannya agar Sasuke dapat menemukannya dan duduk di sebelahnya.

"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Neji, saat Sasuke meletakkan tas ke dalam loker.

"Aku baik-baik saja." Jawab pemuda itu seraya mengeluarkan buku tebal dari dalam tas.

"Empat hari menghilang, dan ternyata kau berada di rumah Naruto. Apa yang dia lakukan padamu?" Tanyanya lebih jauh.

Sasuke menoleh ke arahnya. Namun tidak menjawab apa yang dipertanyakan oleh Neji. "Pelajaran sudah akan dimulai. Sebaiknya kita memperhatikan jika tidak ingin dikeluarkan dari kelas." peringatnya.

Terpaksa Neji harus menyimpan rasa penasarannya lagi. Padahal ia berharap agar sahabatnya itu bisa terbuka padanya. Tapi mungkin nanti Sasuke mau menjelaskan hal itu kepadanya. Yeah… semoga saja.

.

Tidak sesuai harapannya. Setelah pelajaran selesai Sasuke malah terlihat buru-buru.

"Maaf Neji! Aku ada hal yang harus kuurus." Ucapnya sebelum pergi menginggalkan pemuda berambut panjang itu.

Sasuke berjalan menulusuri lorong dengan tergesa-gesa. Mata onyksnya melirik kesekitar. Tapi bukan untuk mencari sesuatu, melainkan sedang mewaspadakan diri. Berusaha menghindar dari sesuatu yang tidak lain adalah pemuda pirang yang memaksanya tadi. Ingat saja bagaimana tadi pemuda itu memaksa Sasuke agar menciumnya, membuat perut Sasuke terasa teraduk-aduk.

Intinya Sasuke tidak ingin bertemu pemuda pirang bernama Naruto itu. Seolah hal buruk akan terjadi padanya jika Naruto menemukannya.

Ada beberapa tugas pada hari kemarin untuk diselesaikan. Sasuke belum berniat untuk pulang. Ia berbelok memasuki perpustakaan, dan sekali lagi mengintip ke jendela memastikan tidak ada seluit pirang yang terlihat di luar. Baru kemudian ia dapat mencari buku reverensi dan mengerjakan tugas dengan tenang.

..

.

Seorang pemuda pirang yang bersandar pada dinding luar ruang tata usaha membuat beberapa orang lewat menoleh kepadanya dengan panasaran.

Sudah cukup lama pemuda bernama Naruto itu menunggu kali ia memeriksa jam tangannya dan memandang eskalator menuju lantai dua tapi yang ditunggunya tetap belum muncul.

Ini sudah empat jam semenjak Sasuke memasuki gedung universitas. Naruto bahkan sudah selesai dengan mata kuliahnya sendiri. Sayang sekali karena ia tidak selalu bisa satu mata kuliah berdosen yang sama dengan Sasuke. Meskipun bisa saja Naruto mengatur hal itu seperti yang dilakukannya pada semester terdahulu, menyamakan semua jadwalnya dengan Sasuke. Tapi setelah kejadian pembullyan itu ia tidak bisa melakukannya lagi dan membiarkan sealaminyan saja terjadi. Terlebih ia harus fokus untuk mengolah perusahaan, dalam melancarkan aksinya.

Naruto berdiri tegak. Sudah ia putuskan untuk mecari dimana gerangan pemuda raven itu berada.

Naruto menjejakkan kakinya di koridor lantai dua. Setiap pasang mata meliriknya, baik yang tak kenal ataupun yang telah mengetahui sosoknya. Mungkin karena penampilannya terlihat berbeda. Sebelum ini Naruto tidak memakai apapun yang memiliki branded. Ia lebih ke seperti pemuda biasa yang sedikit berantakan dengan jaket oranye yang dikata orang norak, juga rambutnya yang tidak pernah disisir. Berbeda sekali dengan sekarang. Pakaian kasual berupa jas hitam dengan dalaman kaos putih membuat tubuh tegapnya terlihat menawan, sedangkan setelan jeans yang dipakainya sangat pas di kaki panjangnya. Apalagi rambut spike-nya yang kini terlihat lebih bergaya, mendukung ketampanannya untuk keluar pada batas seharusnya.

Bahkan… ketika ia membuka kacamata hitamnya, mata birunya yang indah langsung membuat para wanita meleleh.

"Hei para nona! Kalian pasti tahu Uchiha Sasuke, jadi apa kalian melihatnya ada dimana sekarang?" Tanyanya pada gerombolan mahasiswi yang kebetulan berselisihan jalan. Melihat pemuda tinggi khas seorang ikemenbertanya tak urung membuat mereka mematung dengan wajah memerah.

"A-ano…" Salah dari seorang mereka bersuara tergagap. Jelas saja merasa gugup, terlebih merasa tidak rela jika ikemen itu berlalu terlalu cepat.

"U-chiha-san… tadi sepertinya aku melihat dia di lantai empat." Akhirnya satu dari mereka menjawab pertanyaan Naruto. Meneguk ludahnya, ketika gadis itu melihat Naruto tersenyum kepadanya untuk mengucapkan "Terimakasih." Dengan tulus, sebelum kemudian berjalan pergi.

"Siapa dia?" Tanya seorang dari mereka dengan berbinar.

"Bu-bukannya itu Uzumaki yang itu…" Gumam temannya.

Seorang dari mereka terlihat teringat sesuatu lalu mengernyit tidak percaya"Yang katanya gay itu? Tidak mungkin!" Sahutnya. Raut wajah mereka yang sebelumnya berbinar berubah menjadi murung.

"Huhum… akan sayang sekali jika pemuda seperti itu ternyata seorang homo. Apalagi Sasuke yang diincarnya juga sangat tampan." – "Iya, benar." Dan ketiga gadis itu mengangguk setuju. Tak menginginkan pemuda-pemuda tampan di sekolah ini berkurang karena harus menjadi gay.

.

Lantai empat gedung utama universitas. Tidak banyak ruangan khusus berada pada lantai ini karenahanya dipenuhi ruangan study, dan satu-satunya ruangan yang berbeda hanyalah sebuah perpustakaan di ujung lorong.

'Ahh… benar! perpustakaan.' Naruto ingat jika Sasuke suka menyendiri di perpustakaan dan membaca buku. Hal itu membuatnya yakin jika pemuda raven itu memang berada disana.

Cengiran mengembangketika matanya menangkapdinding ujung lorong sejauh belasan meter darinya. Merasa tidak sabar lagi menemui pemuda raven tersebut, kaki panjangnyapun melangkah dengan lebih cepat. Padahal baru beberapa jam tadi mereka bertemu.

"Auw~" Tanpa sengaja Naruto menabrak seseorang yang barusaja keluar dari ruangan studi yang akan dilewatinya. Dengan sigap Naruto menangkap bahu wanita tersebut agar tidak terjatuh ke lantai.

"Kau tidak apa-apa nona?" Tanyanya merasa tidak enak.

"Apanya yang tidak apa-apa?-" Wanita itu menoleh dengan tatapan tajam. Namun kemudian iris emelard itu terbelalak melihat wajah yang tidak asing baginya. Hanya saja sedikit terlihat berbeda.

Ketika mengenali siapa wanita itu, Naruto segera melepaskan tangannya dan menjaga jarak. Wanita tersebut juga melakukan hal yang sama, bahkan menatapnya dengan jijik. Menyapu lengan blazernya seolah tangan Naruto yang tadi mendekapnya penuh dengan debu.

"Hmm… Sakura rupanya. Maaf karena terlalu pendek aku jadi tidak melihatmu." Ucap Naruto, yang membuat iris emelard itu langsung mendelik.

"Ap-apa yang kau bilang? Beraninya kau mengatakan hal itu." Geram wanita berambut bumble gum tersebut. Marah.

"Hahahh… aku hanya bercanda!" Sangkal Naruto dengan tawanya. Tentu saja wanita bernama Sakura itu tidak mempercayainya. Wanita modis itu sudah terlanjur sakit hati dikatai pendek. Terlebih pemuda ini— pemuda yang selalu mengganggu Sasukenya.

"Dasar gay tidak tahu diri! Untuk apa kau menunjukkan wajahmu padaku? Kau pasti sengaja menabrakku. Iyakan!" Judge wanita itu. Terlihat dari ekspresi angkuhnya yang mengeras jika wanita itu membenci pria dihadapannya. Bagi Sakura Haruno keberadaan Naruto adalah mimpi buruk baginya. Tidak hanya terus mengganggu tunangannya Sasuke, pemuda itu juga bersikap kurang ajar terhadap dirinya.

Sakura belum mengetahui jika Naruto adalah pemilik dari perusahaan yang telah menggeser kedudukan Uchiha sebagai perusahaan nomer satu. Yang ada dalam benak wanita itu hanyalah Naruto tidak pantas, tidak sejajar, dan terlalu rendah untuk sekedar mengobrol dengan mereka para mahasiswa popular dari keluarga terpandang juga pendonor terbesar di dalam universitas ini. Terutama Sakura sangat membenci Naruto yang terobsesi dengan tunangannya. Sasuke seharusnya menyesal, pernah menerima Naruto menjadi temannya.

"Cck! Wanita ini…" Decak Naruto.

"Hah! Apa? Apa yang ingin kau katakanpadaku?Dasar dungu!" Sakura berucap kasar dengan dagu terangkat menantang. Kemudian pergi dengan menghentakkan sepatu berhaknya. Meninggalkan aura sinis seiring langkahnya menjauh dari Naruto.

Naruto hanya memutar bola matanya malas. Ia telah membuang-buang waktu dengan wanita angkuh itu. Harusnya sekarang ia sudah menemui Sasukenya.

.

Suara balikan kertas terdengar kala halaman sebuah buku berpindah. Sambil membanca Uchiha Sasuke mencatat beberapa hal penting pada catatannya. Sebenarnya ini kurang efektif pada jaman secanggih ini. Tapi Sasuke sengaja meninggalkan laptopnya karena benda itu tidaklah memiliki massa yang ringan untuk dibawa kemana-mana.

Sudah satu jam semenjak ia berada di perpustakaan ini. Seorang wanita berkacamata bundar bernama Sihoyang menjaga perpustakaan ini berkata memiliki urusan dan akan kembali sejam lagi. Tidak ada mahasiswa lain setelah sekian menit berlalu. Mungkin mereka semua sudah pulang melihat jam sudah menunjukan petang hari.

Sasuke menoleh ke jendela hanya untuk mengecek tidak ada seorangpun yang terlihat diluar. Namun onyksnya harus melebar mendapati rambut pirang seseorang berada diluar.

Berdecak kesal, karena benar… pemilik rambut itu adalah orang yang harusnya ia hindari. Terlebih kini sedang berjalan di depan perpustakaan. Jelas jika orang itu akan masuk kemari mengingat tidak ada ruangan lain setelah perpustakaan.

Pemuda itu pasti datang untuk mencarinya.

Sasuke memakai tasnya kembali kemudian menunduk agar tidak terlihat ketika berjalan menuju deretan rak. Berharap Naruto belum menengok ke dalam untuk mengetahui jika dirinya memang berada disini.

Pintu tebal ruangan perpustakaan itupun terbuka. Kaki panjang menapak memasuki perpustakaan dengan kepala pirang sang empu bergerak menulusuri sudut ruangan penuh buku ini.

Tidak ada siapa-siapa. Bahkan petugas perpustakaanpun tidak berada di tempatnya.

Seharusnya jika perpustakaan memang kosong seperti ini petugas yang menjaga akan mengunci pintunya rapat. Untuk menghindari ada yang meminjam buku tanpa izin juga untuk ketertiban agar ruangan tidak disalah gunakan.

Lalu dimana Sasukenya?

Berpikir untuk perlu mengecek lebih ke dalam, Naruto berharap mungkin saja pemuda raven itu berada di salah satu deretan rak. Berdiri membaca buku dengan raut muka serius tanpa menyadari seseorang terus memperhatikannya. Naruto tersenyum ketika mengingat masa-masa dulu, ketika ia menjadi seorang stalker dari Uchiha Sasuke.

Sambil mencari mata biru itu menelisik bermacam-macam buku dengan rak yang cukup tinggi membentuk lorong yang berjajar-jajar. Tanpa menyadari sebelah mata hitam terlihat mengewasainya dari celah buku-buku. Yeah, pemilik mata hitam itu adalah Sasuke. Ketika Naruto bergerak, pemuda raven itu juga ikut bergerak agar tidak terlihat.

Sasuke berharap Naruto akan segera pergi, tapi jika memiliki kesempatan ia lebih memilih pergi dari perpustakaan tanpa disadari pemuda pirang itu.

Dengan mengendap-endap agar tidak menimbulkan suara Sasuke tetap mengawasi pergerakan Naruto, tapi tidak selalu terlihat karena buku-buku di dalam perpustakaan ini cukup rapat. Membuatnya sulit mencari celah untuk mengintip. Dan benar saja, Sasuke harus menyingkap beberapa buku hanya untuk mengecek keberadaan pemuda pirang itu. Misinya adalah mendapatkan timing yang tepat untuk kabur dari perpustakaan. Karena tidak ingin ceroboh untuk langsung berlari melewati deretan rak, Naruto pasti akan menyadari dan mengejarnya.

Namun karena terlalu terburu takut kehilangan pengawasannya Sasuke tidak sengaja mendorong buku itu sehingga satu dari mereka terjatuh. Onyks Sasuke menatap terkejut pada buku yang terjatuh itu hingga sedetik menimbulkan suara berisik. Kepala ravennya menoleh ke kanan dan ke kiri, takut jika Naruto langsung menemukannya. Akhirnya ia putuskan untuk berlari menyelinap ke deretan rak yang lainnya.

Masih bersikap waspada Sasuke manatap keadaan yang masih sama sepinya. Tapi tidak dipungkiri jika dirinya menjadi sangat tegang. Seperti buronan yang tengah dikejar-kejar anjing pelacak, Sasuke takut Naruto akan dapat menemukannya kapan saja. Terlebih ia tidak mengetahui posisi pemuda itu.

Mungkin saja Naruto tengah mengecek asal suara tersebut. Sasuke memutuskan untuk mengintip tempat buku terjatuh tadi dengan menjulurkan kepala di belakang rak buku, tapi ia tidak menemukan siapapun berada di sana.

Apakah Naruto telah pergi?

Mungkin tidak. Sedikit suara pintupun tidak terdengar. Bukan hanya suara pintu, suara lainnyapun bahkan tidak terdengar. Seperti suara langkah misalnya.

Keheningan ini terasa ganjal disekelilingnya.

Sasuke mengigit bibir bawahnya, ia tidak dapat menebak kemana pemuda pirang itu pergi. Dan bergerak sekarang bukanlah hal yang tepat. Mungkin dia harus menunggu.

Tubuhnya tersentak tiba-tiba. Sasuke merasakan ada yang merayap pada pinggangnya. Kemudian udara hangat terasa tertiup di tengkuknya. Membuat tubuh Sasuke menegang lalu bergetar merinding. Layaknyadalam film horror, jantung Sasuke terpompa naik ketika menyadari ada sosok halus memperangkap tubuhnya. Apakah setelah inighostfaceyang berhasil menangkapnya akan menghujamkan pisau kepadanya? Seperti adegan dalam film 'SCREAM'?

Kepala raven itupun menoleh dengan gerakan patah-patah. Muka pucatnya bertambah pucat ketika melihat seringaian setan tepat di atas bahunya.

Sosok itu berada sangat dekat dengannya. Lebih tepat lagi sosok itu sedang melingkari tubuhnya, mendekapnya semakin rapat.

"Aku menemukanmu." Suara serak dengan bas itu terdengar begitu berat.

Sasuke meneguk ludahnya kering.

"Ap-pa yang kau inginkan?" Tanya Sasuke ketika suaranya kembali keluar.

"Sudah puas dengan main petak umpetnya?" Pemuda itu malah bertanya dengan senyuman penuh arti.

Sasuke hanya menyipitkan matanya.

"Kau tahu? Aku menunggumu bahkan mencarimu. Tidak tahunya kau berada di tempat biasanya." Ujar pemuda pirang itu dengan sedikit mengucrutkan bibir. Kemudian meletakkan dagunya di bahu Sasuke.

Tempat biasa…? gahh! Harusnya ia pergi ke tempat lain jika ingin menghindari Naruto.
Baru saja Sasuke ingat jika pemuda pirang itu suka mengikutinya kemanapun dan telah mengetahui kebiasaannya.

"Dobe! Bisa kau menyingkir dariku?" Pinta Sasuke risih,menggerakkan bahunya tidak nyaman karena kepala Naruto cukup berat.

Sasuke sudah berusaha mendorong tangan Naruto. Tapi kedua lengan itu seolah telah terkunci di pinggangnya.

"Tidak bisa… aku sudah dua hari ini memulangkanmu. Apa kau tidak tahu seberapa kesepiannya aku berada sendirian di monshion?" Rajuknya.

Sasuke berdecak kesal. Pemuda ini tidak merenggangkan pelukannya malah semakin mempererat hingga perutnya terasa dililit.

"Kau kesepian?"

Naruto mengangguk dengan bibir bawah maju ketika Sasuke bertanya balik kepadanya.

"Itu tidak ada kaitannya denganku!"

"Ouch~!" Naruto meringis kesakitan pada samping pinggangnya yang nyeri. Tidak sedang empati ternyata Sasuke malah meyikutnya dengan kasar.

Sasuke melepaskan diri dari lengan Naruto, kemudian mendorong pemuda itu agar jauh darinya.

"Sakit~! Kau jahat sekali teme." Ringis Naruto.

Sasuke tidak peduli dengan hal itu. Onyksnya kembali memandang datar berniat segera pergi dari sini.

"Tunggu! Kau tidak bisa meninggalkanku begitu saja." Naruto menangkap pergelangan tangan Sasuke sebelum pemuda itu melarikan diri. Terlihat jika pemuda pirang itu telah pulih dari rasa sakitnya dan memasang tatapan tegas agar Sasuke menurutinya.

"Apa hakmu untuk mengaturku dobe? Aku sudah cukup jengah dengan kelakuanmu yang terus menempel padaku seolah aku ini ibumu." Ujar Sasuke sarkastik. Melihat betapa dibuatnya kekanakan tingkah Naruto padanya itu jelas Sasuke menjadi risih. Si pirang itu sangat keras kepala, seolah tidak mendengar walau berkali-kali Sasuke memintaagar menjauhinya.

"Kau bukan ibuku. Tapi kau bisa menjadi ibu dari anak-anakku." Sahut Naruto tersenyum penuh arti, yang langsung dihadiahi tatapan tidak terima dari Sasuke.

"Kau buta? Aku ini laki-laki." Sasuke berusaha menghentakkan tangan Naruto. Tapi tangan tan itu melah menangkap bahunya lalu mendorongnya hingga membentur rak buku.

"Tidak apa jika tidak bisa hamil. Tapi kau harus menjadi istriku untuk tetap melayaniku Sasuke." Bisik Naruto di depan hidung Sasuke.

"Dalam mimpimu!" Sasuke baru akan melayangkan tinjunya, tapi pergelangan tangannya sudah terburu ditangkap kemudian di tekan di samping kepalanya. Dagunya juga dicengkram dengan keras agar terus menatap sapphire itu lurus. Sebelum kemudian bibirnya terkunci, dilumat oleh pria dihadapannya.

Sasuke memejamkan matanya seraya menahan nafas. Merasa risih dengan benda lembab yang melakukan permainan pada bibirnya yang terkunci rapat.

Naruto cukup puas hanya dengan melumat dan menggigiti bibir kenyal itu hingga membengkak. Seringaian mengembang dibibirnya.

"Kau tidak akan bisa menolakku Sasuke." Ucapnya, kembali menatap Sasuke dengan intens. "Akan kujadikan kau milikku. Bahkan keluargamu akan dengan senang hati menyerahkanmu padaku."

Onyks tajam Sasuke menatapnya tidak mengerti. "Mana mungkin itu terjadi! Hahh," Walau dagunya masih dicengkram, Sasuke cukup merasa geli. Dirinya adalah laki-laki. Sedangkan keluarganya adalah keluarga bermartabat tinggi yang mengharamkan segala ketabuhan di sepanjang sejarah. Jika Naruto meminta dirinya, keluarganya pasti akan memandang jijik Naruto karena memaksakan penyimpangannya itu.

"Kau lupa aku sedang memegang kuasa perusahaanmu?"

Sasuke menatapnya sinis ketika Naruto mulai membicarakan kuasa pada perusahan milik keluarganya.

"Aku bisa saja menendang ayah dan kakakmu begitu saja. Dengan sebuah permainan kecil, 30% saham milik kalian itu dapat kumiliki dalam sekejab. Kalian bahkan tidak akan sanggup berdiri tanpa dana dariku.

Jika saja aku tidak mengambil semua saham dari pihak yang ingin mencurangi kalian, Uchiha pasti akan diserang oleh banyak sisi ketika mengalami colaps kemarin." Kata Naruto lebih jauh.

Raut Sasuke berubah antara tidak ingin mempercayai juga penasaran. Bahkan anikinya sendiri tidak segera menjawab ketika ia bertanya tentang apa yang terjadi dalam perusahaan.

"Maka dari itulah semua kemungkinan dapat terjadi Sasuke. Apa kau tidak ingin menghindari kemungkinan terburuk itu?"

Sasuke memejamkan matanya. Merasa pusing jika harus memikirkan bagaimana cara merebut semua sahamnya kembali. Bahkan ayahnya sendiri bergerak terlalu lamban untuk menempatkannya di perusahaan.

"Atau kau sendiri yang akan menyerahkan diri kepadaku?" Sasuke membuka matanya, masih dengan pandangan sinis tidak mungkin baginya untuk menjawab. Karena pertanyaan itu terlalu memuakkan.

"Aku dapat mengembalikan Uchiha seperti dulu jika kau bersedia kumiliki." Ucap Naruto. Tangan tan itu melepaskan cengkramannya dari dagu Sasuke, kemudian tersenyum misterius.

Sepasang sapphire itu mengamati ekspresi Sasuke yang terlihat kalut. Naruto tahu Sasuke tengah memikirkan masalah perusahaan keluarganya dengan berat. Sayangnya bukan tentang tawarannya.

Tapi Naruto pastikan Sasuke akan tetap berjalan sesuai kehendaknya.

"Masih ada banyak waktu. Sambil menunggumu untuk memutuskan bagaimana kalau kita bermain terlebih dahulu."

Sasuke ingin melepaskan diri ketika tangannya ditarik oleh Naruto. Tapi entah kenapa setelah pembicaraan tadi tubuhnya sulit untuk memutuskan.

Walaupun berat, perkataan yang dikatakan Naruto tadi cukup masuk akal. Bagaimanapun dia harus berjaga-jaga dan tidak ingin melakukan hal yang ceroboh.

"Ah!" Sasuke terkejut ketika Naruto langsung menekannya hingga tubuh depannya menempel di atas meja. Ia berusaha bangkit kembali. Tapi tubuhnya telah ditindih Naruto, sedangkan tangannya dicengkram pada bidang datar itu hingga tidak dapat bergerak.

Bahu Sasuke bergidik geli ketika sesuatu yang lembut menyapu tengkuknya. Tiupan udara hangat membelai bulu kuduknya hingga berdiri.

Sasuke memejamkan mata, menyadari apa yang tengah dilakukan pemuda di belakangnya itu.

Dengan sedikit terhalang oleh kerah kemeja Sasuke, Naruto tetap melakukan aksinya mengecup dan menjilati area leher kiri Sasuke. Karena kepala raven pemuda itu tengah tergeletak di atas meja, jilatan lidah Naruto hanya dapat naik mencicipi pipi halus Sasuke, menimbulkan jejak saliva di sepanjang jalannya, hingga membuat pipi kiri Sasuke sangat basah.

Mata terpejam Sasuke mengernyit jijik ketika Naruto menjilat wajahnya lagi dan lagi. Sasuke berusaha bergerak, tapi tidak bisa. Pemuda pirang itu telah menguncinya, bahkan memasang sebelah kaki diantara kaki Sasuke yang masih menapak di atas lantai agar tidak dapat melangkah.

Ketika Naruto berhenti menjilati wajahnya onyks Sasuke perlahan terbuka. Kedua tangannya di tarik dan disatukan oleh tangan Naruto di belakang tubuhnya. Terdengar bunyi berdenting ketika pemuda di belakangnya itu mengeluarkan sesuatu dari tas. Sasuke berusaha melirik apa itu saat sesuatu yang dingin dan keras menyentuh kulit tangannya.

Setelah Naruto melepas tangannya baru Sasuke sadari jika pergelangannya terkait satu sama lain. Tangannya telah diborgol. Sasuke semakin was-was. Apa pemuda itu akan menculiknya lagi? Tapi tidak, keadaannya berbeda dengan kemarin melihat betapa santainya Naruto saat ini. Si pirang itu bahkan menikmatinya.

Tubuh Sasuke menggeliat merasakan tangan Naruto masuk menulusuri punggungnya, lalu merayap ke bawah hingga terasa akan menelusup ke dalam jeansnya.

"Apa yang kau ingin lakukan?!" Desis Sasuke, ingin bangun tapi tangan Naruto yang lain langsung menekan kepalanya ke meja.

Belaian terasa pada buttnya, pinggul Sasuke berusaha bergerak menghindar. Terutama ketika tangan itu berpindah ke depan, mengusap perut bawah lalu paha dalamnya, menimbulkan rasa geli disepanjang jejak permukaan kulitnya.

"Hentikan! Kau tidak bisa melakukan ini." Ucap Sasuke. Sebelah matanya tertutup akibat tekanan pada kepalanya.

"Kenapa tidak Sasuke?" Tanya Naruto sambil menggerayangin sabuk celana Sasuke dan membukanya.

"Seseorang bisa melihat hal ini. –lepaskan aku dobe!" berontak Sasuke ketika sadar Naruto mulai membuka celananya. Ia bergerak-gerak gelisah tidak dapat menegakkan tubuhnya akibat cengkraman Naruto di kepalanya semakin erat. Sedangkan tangannya yang diborgol tidak dapat bekutik sedikitpun.

Secara pasti jeans Sasuke berhasil diturunkan hingga sebatas lutut, berikut celana dalamnya menyusul.

"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku dobe! Lepaskan!"

Sasuke tidak terima ini. Bukan hanya pelecehan yang dilakukan Naruto sekarang. Pemuda pirang itu bahkan tidak ingat tempat.

Ini adalah tempat umum, ruang perpustakaan. Seseorang bisa saja datang dan menonton kejadian ini. Kejadian saat Sasuke dipermalukan dengan tubuh bawah yang telah ditelanjangi.

'PLAK'

Tubuh Sasuke terhentak ke depan ketika tiba-tiba Naruto menampar pipi pantatnya. Sengatan panas terus terasa hingga beberapa menit.

Sasuke merasa direndahkan, ia bahkan diperlakukan seperti wanita nakal yang selalu harus ditampar ketika melakukan seks.

Tangan kasar itu mengusap buttnya dan meremasnya gemas. Beberapa jari juga masuk kedalam belahannya terasa menggeliat, dan mengusap kerutannya hingga tubuhnya ikut bergidik.

"Keh~ jangan lakukan itu!" Ptotes Sasuke ketika salah satu jari kering Naruto menusuk holenya. Menggerakkan buttnya tidak nyaman.

Seringaian mengembang di bibir Naruto melihat gerakan lucu itu. 'Terus saja dia menggoyangkan pantatnya seperti itu! Sementara aku menggali lubangnya. Toh gerakannya cukup membantu'

Naruto mengeluarkan kedua jarinya untuk mengeluarkan sesuatu dari dalam tas.

Sasuke berusaha melirik. Merasa khawatir dengan apa lagi yang dikeluarkan pemuda itu setelah borgol.

Seketika onyksnya melebar. Ia tahu nama benda yang tengah dipegang oleh tangan tan ukurannya…

Benar-benar mengerikan,

"Tidak! Jangan lakukan itu. Kumohon! Lakukan apapun tapi jangan hal itu." Panik Sasuke. Berusaha menggeleng tentu tidak bisa.

Tersentak kecil tubuhnya saat benda tebal dengan ukuran panjang itu menepuk-nepul buttnya.

Sasuke menatap ngeri mengingat lubang kecilnya masih dalam keadaan kering. Bahkan jari Naruto saja sudah cukup menyakitkan tadi. Apalagi benda sebesar itu. Tidak mungkin Naruto akan memasukannya begitu saja bukan?

"Naruto—kumohon..." Sasuke meneguk ludahnya kering. Ia sadar barusaja memohon kepada pemuda yang dibencinya. Bagaimana tidak, tubuhnya sudah menegang panik ketika ujung benda itu ditekan pada mulut anusnya. Sasuke tidak siap untuk menerima rasa sakit yang akan dialaminya.

"Baiklah... kau boleh menjilatnya!"

Menatap horor benda serupa kejantanan itu di depan hidungnya. Naruto menyodorkannya seolah tadi ia meminta untuk mengulum benda itu terlebih dahulu.

Seberapa jauh Naruto akan merendahkannya?

Hanya menatap benda itu saja sudah membuat perut Sasuke teraduk-aduk.

Tapi jika tidak, dinding lubangnya pasti akan tergesek sangat menyakitkan.

Andaipun kepalanya dapat lepas dari cengkraman tangan Naruto, bagian bawah tubuhnya sudah telanjang sementara tangannya terikat. Mana mungkin ia lari di koridor dengan keadaan seperti ini. Yang ada jeans yang tersangkut di kakinya akan menyusahkannya saat melangkah dan membuatnya tersandung.

Sudah kepalang basah. Tidak ada kesempatan baginya untuk memberontak lagi.

"Tunggu apa lagi? Buka mulutmu! Atau aku akan memasukannya sekarang juga." Ancam Naruto.

Terpaksa dengan ragu-ragu mulut Sasuke mulai terbuka.

"Umgh~!" Naruto menasukkan benda itu ke dalam mulut Sasuke, agar pemuda itu melumuri dengan air liurnya sampai basah.

Gerekan lamban Sasuke membuat Naruto gemas untuk memaju mundurkan dildo itu sedalam- dalamnya. Membuat yang dipaksa harus menahan muntah ketika kerongkongannya terbentur beberapa kali.

"Puah~! Sasuke menarik napas dalam-dalam ketika dildo itu keluar dari mulutnya. Wajahnya sudah sangat memerah dengan air liur belepotan di sekitar mulutnya akibat perlakuan kasar itu.

Tak sempat untuk lega, rasa perih langsung beralih pada tubuh belakangnya.

"Ergh! Sa-kitth… tidak-keluarkan!" Mengejang kesakitan. Otot anus Sasuke berkontraksi dengan panik saat dildo itu memaksa menyeruak masuk. "ekkg-stop!" Rasa perih itu sungguh tidak tertahankan. Menyadari besarnya ukuran dildo itu membuat mulut anusnya serasa akan dirobek.

"Jangan mengejang! Kau hanya akan menyakiti dirimu. Cobalah untuk rileks!" Ucap Naruto.

Bicara sih gampang karena bukan Naruto yang merasakan. Air mata Sasuke bahkan harus keluar, merasa tubuhnya seolah diseret ke Neraka. Dengan bara api yang mamasuki anusnya sebagai permulaan.

Sangat panas dan perih.

"Emgk-"

Naruto menyeringai berhasil membenamkan batang sex toy itu seluruhnya. Ia menariknya kembali kemudian memasukkannya lagi. "Engg~ hahh.." Memaju mundurkan hingga anus Sasuke mulai terbiasa.

Keringat menetes di pelipis Sasuke. Anusnya benar-benar terasa sesak dan penuh.

Naruto beralih pada tasnya kemudian berjongkok di bawah kaki Sasuke. "Jangan bergerak!" Titah Naruto.

Tubuhnya terasa sangat lemas. Hanya dengan benda itu masuk ke lubangnya saja seoleh seluruh tenaganyan dihisap. Barusaja Sasuke berniat menengok ke belakang untuk mengecek apa lagi yang akan dilakukan si pirang itu, tiba-tiba bagian privasinya di remas, tak ayal membuatnya berjengit lalu bergetar terkejut dengan mata terbelalak.

"Eng-ahh…" Erangan lolos dari bibirnya. Menerima pijatan yang semakin menekan kejantanannya hingga pahanya bergetar.

Seringai mengembang di bibir Naruto. Menikmati bagaimana pemuda Uchiha itu berusaha menahan ereksinya. Erangan yang berusaha ditelan kembali oleh si raven membuat Naruto semakin ingin menghancurkan pertahanannya.

Naruto mulai menggerakkan tangannya mengocok penis Sasuke dengan teratur. Tak pelak secara pasti batang pendek milik lelaki itu terasa membengkak, dan semakin membengkak di dalam cengkraman telapak tangannya.

"Hahahh…" Naruto sedikit tertawa melihat hal itu. Walau dengan tangan seorang laki-laki penis tetaplah penis. Ketika mendapat rangsangan, tetap saja benda kebanggaan laki-laki itu akan berdiri hingga keras.

"Ssshh…enggh, cu-kup ah~!" Sasuke bahkan tidak kuat lagi untuk mendesah. Ia mengatakan cukup, tapi tubuhnya menghianatinya dengan merespon sebaliknya.

"Kau bilang cukup. Tapi penismu ini semakin keras saja." Sindir Naruto.

Dengan sengaja Naruto melepaskan pijatannya. Sasuke menahan tenggorokannya agar tidak mengeluarkan desahan kecewa.

Ketika tangan Naruto kembali, Sasuke dapat merasakan sesuatu dipasang melingkari penisnya, lalu terasa semakin sesak. Penisnya dililit dengan sesuatu yang Sasuke tahu nama benda itu adalah 'cock ring'. Benda itu akan menahan ereksinya agar tidak dapat ejakulasi.

Tentu saja itu akan menyiksanya.

Sasuke hanya dapat mengigit bibirnya merasa kejantanan kerasnya berdenyut. Tidak ada lagi sentuhan selain eratnya lilitan cincin itu.

Sedangkan Naruto sibuk menarik celananya kembali. Memasang jeans yang kebetulan cukup ketat, mendukung dildo di dalam anus Sasuke untuk tetap di tempat.

"Bagus!" Tersenyum puas, Naruto menepuk butt mengganjal Sasuke. Kemudian melepas borgolnya,

Naruto menarik lengan pemuda itu agar berdiri tegak.

Sasuke menatap tajam pada Naruto dengan onyks redupnya. Beruntung kakinya masih memiliki tenaga untuk berdiri tegak. Ia menyentak tangannya menjauh dan melangkah menghindari jangkauan pemuda itu.

Melihat betapa pemuda Uchiha itu tetap menolaknya, Naruto hanya dapat menanggapi dengan seringaian penuh arti.

"Jangan kira itu sudah cukup Sasuke. Permainan ini bahkan belum dimulai."Ucapnya, yang membuat Sasuke memandangnya dengan tidak terima.

Tadinya ketika Naruto melepaskan borgolnya Sasuke kira itu sudah cukup. Untuk membuatnya memakai sex toys selama di kampus.

Tapi tidak,

Tidak mungkin Naruto berniat sejauh itu bukan?

Benda yang terasa penuh mengganjal anusnya… jangan-jangan—

BRRZZT

"Egh-aakhh…!" Sasuke menjatuhkan tubuhnya ke atas meja. Barusaja ia berpikir jika dildo itu belum melaksanakan tugasnya, tapi sekarang benda itu benar-benar aktif, bergetar kencang. Membuat tubuhnya yang tidak siap kehilangan tenaga seketika. Bukan perasaan geli yang ditimbulkan tapi lebih pada perasaan aneh. Tidak mungkin Sasuke menyebutnya dengan perasaan nikmat ketika dildo itu menggesek-gesek dinding dalamnya. Bahkan bagian yang mungkin adalah titik prostatnya terasa tersengat karena getaran benda itu, menghantarkan aliran listrik menuju batang selangkangannya.

Rupanya yang barusan bukan dildo biasa, tapi juga vibrator. Dan Sasuke membenci benda ini. Membuat kakinya bergetar hingga lemas kehilangan tenaga.

Dengan menungging sebelah tangannya mencengkram sisi meja, menahan efek vibrator yang membuat tubuhnya ikut bergetar.

"Ss-stop! Cukuphh… matik-kan!" Sasuke tidak tahan. Ia akan mengeluarkan benda itu sekarang juga. Tapi Naruto menarik tangannya dan memaksanya untuk bangun.

"Vibratornya barusaja menyala Sasuke. Aku tidak akan mematikannya sebelum mengantarkanmu pulang ke rumah." Ujar Naruto.

Seolah terlalu sibuk menahan getaran tubuhnya, Sasuke hanya terengah disertai desahan yang tidak tertahankan.

Sasuke tidak terbiasa.

"Cepatlah berdiri! Kita harus pulang." Perintah Naruto.

Kakinya terasa seperti jelly ketika Naruto membantunya untuk berdiri. Vibrator itu benar-benar menyerap habis tenaganya.

Naruto mendekapnya. Melihat Sasuke cukup kuwalahan akhirnya ia menurunkan level getarannya hingga pemuda itu sanggup berdiri dengan kakinya sendiri.

"Dobe! Mana mungkin-hhh-aku pulang dengan keadaan seperti ini." Protesnya. Berdiri saja susah apalagi harus berjalan menuruni empat lantai. Mungkin ia akan pingsan sebelum sampai ke parkiran.

"Nikmati saja Sasuke! Anggap saja ini sebuah tantangan yang harus kau taklukan!" Ucap Naruto ringan.

Sasuke ingin menjitak kepala pirang itu ketika yang disebut tantangan itu keluar dari bibirnya.

"Lagi pula aku ada disampingmu." Cengiran iseng Naruto itu membuat Sasuke semakin dongkol. Ia ingin memukulnya, tapi kedua tangannya saat ini hanya sanggup mencengram tas selempangannya sendiri. Berusaha untuk tidak merasakan vibrator itu. Tapi percuma.

Ketika Naruto mendorongnya untuk melangkah, kakinya yang bergetar hampir saja melimbungkan tubuhnya ke depan.

Namun Sasuke berusaha tetap kuat untuk melangkah. Walau itu sangat lambat melebihi siput yang menderita sakit pinggang.

Naruto berjalan di belakang tubuh Sasuke. Bukan untuk menjaganya. Pemuda pirang itu hanya ingin memperhatikan bagaimana cara seseorang berjalan dengan vibrator aktif menancap dalam di anusnya.

Sasuke bersandar pada tembok, merayap dengan pelan dengan sesekali mengerang tertahan. Dan nampaknya itu cukup menghibur. Terutama obyek yang diperhatikannya itu adalah Uchiha Sasuke, pangeran es Konoha yang selama ini ingin dijatuhkannya di atas ranjang.

Dilain pihak Sasuke benar-benar tidak terbiasa dengan getaran benda besar itu pasa anusnya. Sangat tidak tahan. Apalagi ketika harus berjalan. Posisi vibrator itu berubah-ubah di dalam anusnya. Menekan bagian sensitifnya bergantian seolah ingin menjatuhkannya ke atas lantai.

Padahal hanya anusnya yang mendapat rangsangan, tapi kenapa penisnya ikut terasa sakit, dan ia sadar cock ring yang terpasang memperburuk keadaannya.

Beruntung universitas ini memiliki lift dan eskalator. Jika saja ini tangga biasa, Sasuke berpikir pasti akan langsung terjun saat ini juga daripada harus melangkah menuruni tangga satu persatu.

Kedua tangan Sasuke meremas pegangan eskalator. Sambil mengigit bibir bawahnya ia menunduk ketika banyak orang terlihat di dasar.

Nyatanya universitas belum benar-benar sepi.

Naruto menariknya agar tidak tersandung ujung eskalator ketika sampai di lantai dasar. Kakinya bergetar, ketika harus kembali melangkah Sasuke sadar tubuhnya terasa jauh lebih berat. Ia tetap memaksakan untuk berjalan sendiri namun tubuhnya tidak dapat ditegapkan hingga limbung ke depan.

Dengan cekatan Naruto mendekapnya saat itu juga. Kemudian membantu Sasuke untuk berjalan perlahan. Tapi gara-gara itu orang-orang di lobby memandang ke arah mereka. Dan itu memperburuk perasaannya yang semakin gugup hingga perutnya melilit.

Sedikit ia menyesali bagaimana populer dirinya sehingga banyak orang telah mengenalnya. Mereka pasti heran tentang apa yang terjadi pada dirinya terlebih jika mengenal pemuda yang dengan sengaja mendekapnya erat.

Keringat dingin terus keluar dari pori-porinya. Rasanya Sasuke ingin menangis ketika prostatnya kembali diguncangkan hingga ia harus bersandar pada tubuh Naruto.

Di lain pihak satu-satunya orang yang mengetahui tentang keadaan Sasuke a.k.a Naruto terus mengembangkan senyumannya. Ia melirik pada orang disekitarnya seolah itu adalah senyuman ramah dan mengisyaratkan jika tidak terjadi apapun pada pemuda yang didekapnya.

Bagi Sasuke berjalan menuju parkiran rasanya memakan waktu sangat lama. Pandangannya mulai memburam. Ia bahkan tidak sanggup menahan pekikannya ketika Naruto mendudukkannya pada kursi penumpang. Posisi duduknya membuat vibrator itu tertekan hingga membentur prostatnya terus menerus. Perutnya semakin melilit dan tubuhnya mengejang, Ia siap untuk datang, tapi cock ring itu serasa mencekiknya. Terpaksa tubuhnya mengejang dengan getaran nikmat dan menyakitkan tanpa ada sesuatu yang keluar dari kejantanannya.

Sasuke mengalami ejakulasi kering.

"Enngkkhh…hahhh-hhh."

Senyum setan mengembang di bibir Naruto ketika menyaksikan hal itu. Sungguh...pemuda ini tidak ada ibanya melihat pemuda yang dicintainya menderita seperti itu. Bahkan menyukainya, dan telah mengakui itu sebagai fetish dirinya. Sebuah candu yang mengikatnya untuk membuat pangeran dingin itu menggeliat erotis dalam ketidak berdayaan.

Memosisikan dirinya di belakang kemudi saphirenya terus melirik keadaan Sasuke di sebelahnya. Wajah pemuda raven itu memerah, mengernyit dengan peluh merembes di dahi, yang terus terengah walaupun sudah lemas.

Naruto menyalakan mesin mobilnya.

Hampir saja ia melupakan sesuatu.

Naruto mendekati Sasuke dan meraih pergelangan tangan yang tadinya sibuk mencengkram sisi sofa mobil. Ekspresi Sasuke yang sudah kepayahan terlihat memelas menatapnya, ketika dengan tega Naruto memborgol tangannya ke belakang tubuhnya.

Tentu saja untuk mencegah Sasuke berbuat sesuatu ke depannya nanti. Naruto tidak ingin konsentrasi menyetirnya terganggu.

Naruto melepaskan jasnya dan memasangkannya menyelimuti bahu Sasuke kemudian memasang sabuk pengaman. Sebenarnya Sasuke sendiri telah mengenakan jaket. Tapi Naruto melakukan itu agar borgolnya tidak terlihat dari luar.

Mengusap keringat di dahi Sasuke lembut, Naruto kembali ke kursinya. Masih sempatnya ia meraih tombol wireless vibator dan menaikkan levelnya. Membiarkan Sasuke semakin menggeliat frustasi di sebelahnya.

"Ahhh~ kum-moh-egh-hon..Na-hhruto!" Erang Sasuke. Menarik-narik tubuhnya dari kursi pengaman.

"Apa Sasuke?" Tanyanya seolah tidak terjadi apapun.

"Tu-runkan— level-nyaahh…ahk!" Pinta Sasuke.

"Tentu saja— tidak akan!" Ujarnya cuek yang membuat Sasuke ingin menangis. Naruto mulai menjalankan mobilnya keluar dari halaman universitas. Sedangkan ia tidak tahan dengan tekanan pada selangkangannya. Memiringkan posisi duduknyapun gesekan yang membuatnya gila sama sekali tidak berkurang.

Sialnya lagi Naruto tidak mengaktifkan penutup atapnya. Atau pemuda itu memang sangaja tidak menutup mobil ini. Membiarkan dirinya yang tersiksa dengan mainan sex terlihat oleh publik.

Baru kali ini Sasuke berpikir agar pemberentian sejenak di perempatan jalan raya yang disebut 'lampu merah' itu tidak pernah ada. Sasuke merutuki makhluk bermata tiga yang menghadang laju mobilnya hingga kini harus berhenti. Kendaraan-kendaraan lain juga ikut berjajar di sebelahnya.

Sasuke gugup.

Mau tidak mau, kuat tidak kuat Sasuke harus menegakkan posisi duduknya agar tidak mengundang kecurigaan. Walaupun itu membuat vibrator semakin dalam menusuknya, Sasuke harus menahan… menahan segala getaran geli, nikmat—serta sakit sementara kejantanannya tersiksa.

"Hehehm…" Naruto sedikit tertawa melihat keadaan apes pemuda Uchiha disebelahnya. Telinganya dapat menangkap samar-samar erangan Sasuke masih terdengar walau mati-matian pemuda itu berusaha menahannya.

Sungguh ironis bagi Sasuke.

Seolah lampu ini akan tetap merah selamanya.

Ketika melihat beberapa anak kecil menghampiri mobilnya, rasanya Sasuke ingin menelan mereka saja dan melahirkannya kembali pada jaman dimana sudah tidak ada lagi yang disebut pengamen jalanan.

Kenapa pula mereka harus mengamen ketika dirinya dalam keadaan seperti ini? Sasuke bahkan tidak dapat mendengar baik apa yang mereka nyanyikan sebelum plastik bekas kripik kentang itu terjulur ke wajahnya.

Sasuke melirik Naruto. Tapi pemuda itu seolah tidak menganggap mereka ada. Lalu bagaimana mungkin dia memberikan uang sementara tangannya terikat?

"Om… uangnya om!" Panggil mereka.

Sasuke hanya menunduk.

"Om... uangnya dong om. Jangan cuekin kita donk! Kita kan uda nyanyi." Ucapan mereka membuat Sasuke ingin menangis. Padahal dirinya sendiri sedang sibuk menahan tubuh dan desahannya. Sasuke tidak kuat lagi jika terus berlama-lama seperti ini.

Kepala raven Sasuke mulai terangkat. Dengan bibir bergetar ia berusaha bersuara. "Mnngma-af…"

"Apa? Aku tidak dengar. Cepat donk Om! Lampunya mau merah nih!" Anak itu mulai tidak sabaran, berikut teman-temannya juga menatap Sasuke menuntut.

"Ahh-ku tidak— punya ugh-wannggkhh…" Sasuke ingin meledak ketika tiba-tiba Naruto manaikkan level getarannya hingga maksimum. Tubuhnya langsung tertunduk dengan sabuk pengaman yang untungnya menahannya. Sasuke meringis berusaha kembali menegakkan tubuhnya kembali.

Sedangkan anak-anak pengamen itu menatapnya heran. "Suara Om aneh banget sih. Om kenapa?" Tanya mereka.

Sasuke hanya menggeleng. Keringat semakin bercucuran deras dari dahinya, sementara bibir bawahnya ia gigit kuat untuk menahan desahannya yang terus bocor.

Naruto menyeringai menikmati pertunjukan itu. 'Anak-anak pintar!' pujinya yang tidak bermajas. Kemudian mengeluarkan selembar pecahan besar dan memberikannya pada mereka.

"Waah… gede banget Om." Ujar anak yang terus bicara itu, sementara anak lainnya memandang bentangan uang itu dengan takjub. Ketika menyadari lampu kuning telah menyala mereka segera berlari untuk menepi. Dan Naruto segera kembali melajukan mobilnya.

"Nnnh~Na-rrru-toh… ak-ku tidak tahan. Ku-mo-hhhon, matikan." Desis Sasuke lirih. Air mata sudah turun ke pipinya. Sementara Naruto tidak menggubris sama sekali.

.

Angin dingin bertiup dengan kencang selama mobil itu melaju di jalanan lenggang. Udara malam sama sekali tidak terasa, justru Naruto merasa jika malam ini sangat panas. Dan ini semua berkat seseorang yang tengah menggeliat tidak karuan tepat disebelahnya.

Hiburan yang benar-benar menyenangkan dan membuatnya tidak tahan. Tak dipungkiri jika selangkangannya terasa sangat ketat melihat pemandangan mengundang birahi seperti itu.

"Ahhkk! Naruto-ngahhh…nnah-hossh…" Naruto merasa senang, bahkan namanya juga disebut diantara erangan merdu bervolume keras itu. Keringat dingin yang keluar deras membashi dahi dan leher Sasuke, membuatnya terlihat erotis. Sementara kepala raven menoleh kekiri dan kekanan, menggeliat frustasi dengan tangan terikat di belakang. Jas yang diberikannyapun sudah tidak terpasang ditempatnya akibat banyaknya gerakan yang dilakukan.

Sasuke ingin meledak. Ini semua gara-gara vibrator sialan yang menyumbat anusnya. Menggesek-gesek dinding terdalamnya dan menggetarkan prostatnya yang sudah sangat tertekan. Kejantannannya yang bengkak terasa sangat sesak. Entah sudah berapa kali Sasuke mengalami ejakulasi kering dan sebentar lagi ia akan kembali mengalami hal itu.

"Narttt-tohh…ehh~" Lenguh Sasuke, sebelum tubuhnya limbuh ke bahu Naruto.

Dengan tubuh lemasnya yang terus bergetar, Sasuke menumpuhkan berat tubuhnya pada pemuda di sebelahnya. Ia bernafas pendek-pendek sementara giginya mengigit jas Naruto untuk menahan rasa sakit.

Senyuman penuh arti kembali terpatri di bibir Naruto. Ia sangat menikmatinya, menikmati bagaimana pujaan hatinya yang sombong tersiksa dengan sex toys, dan bergetar lemah di sampingnya.

.

Akhirnya mereka memasuki di kompleks perumahan tempat dimana kediaman Sasuke berada. Naruto memasukkan mobilnya ke dalam sebuah gang sepi untuk berhenti disana.

Tentu tidak mungkin ia berhenti di depan rumah Sasuke yang sewaktu-waktu orang rumah dan satpam dapat menemukannya. Terutama karena kondisi Sasuke seperti ini.

Jujur saja, Naruto sendiripun harus menuntaskan hasratnya. Dan ingat… klimaks permainan ini baru saja akan dimulai.

"Naruto~!" Panggil Sasuke dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuknya. Ia ingin datang, tapi penisnya yang telah membangkak tidak sanggup mengeluarkan apa yang seharusnya sudah dikeluarkan sejak tadi. Jika terus kelebihan muatan seperti ini mungkin ia akan segera pingsan.

Naruto menarik wajahnya lalu menjilati air mata Sasuke. Sebelum beralih melumat bibir Sasuke berikut menginvasi mulut penuh erangan itu dan menekannya.

Tangan tannya membuka sabuk pengaman, lalu mematikan tombol vibratornya, hingga Sasuke menarik nafas lebih leluasa.

Tentu saja pemuda raven itu belum dapat lega, semantara hasratnya tertahan dengan sakitnya kejantanan akibat menahan begitu banyak cairan cum.

Dengan nafsunya Naruto menciumi leher Sasuke, tapi jaket Sasuke menghalanginya. Dengan tetap melakukan aktifitasnya Naruto meraih kunci borgol Sasuke dan melepasnya.

Tangan Sasuke terkulai dengan lemas. Ia hanya bisa diam dalam rengkuhan Naruto yang mendominasi tubuhnya. Pemuda itu bahkan masih sempat-sempatnya membuka jaketnya.

Tangan Naruto bermain di balik kaos hitam Sasuke, menggerayangi dada bidang di dalamnya dan mencubiti tonjolan yang ditemuinya.

"Nnnh…" Desah Sasuke. Walau vibrator tak lagi bergetar, tubuhnya tetap terasa panas. Sentuhan Naruto itu terasa membakar kulitnya dan menghantarkan beberapa sengatan kecil kepada tubuh bawahnya yang sesak.

"Kau ingin datang?" Tanya Naruto, bermaksud mengecek jika Sasuke masih cukup sadar. Dan kepala raven itupun mengangguk.

Tentu saja ia ingin datang sementara tadi ia harus mati-matian tertahan.

Tangan cekatan naruto membuka sabuk dan celana Sasuke. Juga tak lupa membuka resletingnya sendiri, untuk membebaskan sesaknya kurungan pada miliknya yang telah mengeras.

Hanya dengan melihat bagaimana tersiksanya Sasuke disepanjang jalan saja tadi sudah membuat precumnya menguap. Mata Naruto menggelap melihat dildo yang tersumbat di dalam anus Sasuke.

Dengan perlahan ia menariknya keluar diiringi desahan Sasuke ketika tarikan itu menggesek dinding anusnya. Tanpa bosa-basi Naruto langsung mengisi lubang itu dengan miliknya.

"AHK~!" Sasuke memekik tidak percaya ketika merasakan milik Naruto berdenyut di dalam tubuhnya. Harusnya ia menolak ini. Tapi mau bagaimana lagi… tubuhnya tidak sanggup melawan terutama ia ingin segera merasa lega.

Naruto menciumi bibir Sasuke dengan beringas. Walaupun di dalam ruangan mobilnya yang sempit ia masih bisa bergerak dengan leluasa.

Sasuke terbaring di kursi penumpang, sementara kedua kakinya mengangkang, bersandar pada kursi dan kemudi. Memudahkan Naruto mempenestrasinya semakin cepat.

"Enngh-nh-hahh…" Prostatnya ditubruk dengan telak terus menerus, membuatnya tak kuasa menolak kenikmatan yang melambungkan pikiran sehatnya.

Sasuke bahkan harus lupa jika ia membenci Naruto dengan segala menyimpangannya. Yang dipikirkan Sasuke adalah segera menuntaskan hasratnya, dan terbebas dari rasa sakit di anusnya.

"Enggh- Sasuke! Di dalammu benar-benar nikmat." Racau Naruto. Mengeluar masukan miliknya dengan cepat. Sebelah tangannya meraih penis Sasuke dan perlahan mebuka cok ring yang masih terpasang.

Penis sasuke yang basah kini telah bebas dari lilitan. Tapi ia masih belum dapat datang. Tubuhnya kini sibuk dengan kenikmatan yang diberikan Naruto pada anusnya. Sebelum perutnya terasa kembali mengejang.

Tanpa sadar tangannya melingkar di leher Naruto dan mendekapnya dengan erat.

Narutopun semakin semangat. Ia merengkuh tubuh Sasuke dan membantunya bergerak lebih keras.

Sasuke yang merasa terhenyak tiap kali kenikmatan itu semakin kuat juga melingkarkan kakinya pada punggung Naaruto.

"Akh-ku…akh-ssss-sampai!" Racau Sasuke.

Naruto mengerti. Perutnya sendiri sudah melilit. Mereka akan sama-sama datang, jadi Naruto bergerak semakin menggebu hingga akhirnya

"Aaarghhhg…" Sasuke meletupkan banyak cairan putih ke perutnya. Sementara Naruto masih terus menyodok. Cairan putih itu terus mengucur di penis Sasuke. Mengingat bertapa lamanya ia menahan orgasme wajar saja jika cairannya meluap banyak.

"Engh~Sas-ke!" Menyusul, Naruto menyamaikan benihnya di dalam tubuh Sasuke, hingga cairan lengket itu meluber keluar dari celah anus Sasuke.

Naruto terengah dan berusaha membangkitkan tubuhnya, Bersandar pada kursi dengan nafas pendek-pendek.

Benar-benar malam yang panas.

Sasuke tergeletak lemas di atas kursi. Tubuhnya sangat lemas, tapi sudah tidak seperti tadi, karena Sasuke sudah mengeluarkan seluruh bebannya dalam sekali ejakulasi.

Teringat jika mereka masih berada di tempat umun Sasuke segera merayap bangkit dan meraih celana jeansnya.

Naruto meliriknya ketika dengan susah payah Sasuke memakai celananya, terutama bahan itu cukup tebal. Sedikit Sasuke meringis ketika belahan pantatnya yang terasa perih tergesek

"Lelahnya~!" Desah Naruto sambil menyeka keringat di dahinya.

Sasuke langsung melempar tatapan tajam kepada pemuda pirang itu. Seharusnya dirinyalah yang mengatakan hal itu. Dengan tubuh serasa remuk seperti ini ia ingin segera berbaring di kamarnya.

Terutama Sasuke ingin segera pergi dari mobil ini dan menjauhi pemuda pirang itu.

Toh rumahnya sudah dekat.

"Aku akan mengantarmu." Ucap Naruto ketika Sasuke meraih jaketnya kembali.

"Tidak usah… aku masih bisa jalan sendiri." Tolak Sasuke.

"Kau ini bicara apa? Tubuhmu masih lemas seperti itu." Sahut Naruto.

"Seperti kau peduli saja."

"Hei! Aku memang peduli!" Sela Naruto.

Sasuke menoleh ke arah lain. Tangannya terkepal kemudian merenggang lagi.

Perasaan kesal jelas sedang menyelimuati pemda raven itu.

Naruto melakukan hal itu lagi padanya. Sementara dia— dia malah merelakan tubuhnya begitu saja menjadi obyek mainan Naruto. Padahal dirinya sudah bersumpah—untuk membalas dendam, membalas apa yang telah dilakukan Naruto ketika menculiknya. Bukan malah menambah penghinaannya seperti ini.

Sasuke membenci dirinya… ketika tidak tahu harus melakukan apa.

Dan ia sama sekali tidak mengharapkan hal yang lebih buruk akan terjadi

~TBC~

.

.

,.,

Sebelumnya aku nggak berfikir bakal masukin scene sadistic boy chp 8 ke dalam fanfic ini.

Tapi pas terlihat pas, aku langsung bikin dan beberapa kali nengok itu manga buat lihat gimana alurnya.

.

Ohya… kembali aku gk bias update cepet. Karena selama 3 bulan ke depan aku bakal mengikuti pondok pesantren.

Tapi tenang aja… walaupun uda jadi santri kemugkinan aku bakal tetep jadi fujoshi mesum koq.

XD

#plak