"Momoi-san, aku tidak tahan lagi." Deretan kalimat di laptop terabaikan. "Aku harus bagaimana lagi, coba? Sei-kun terus-terusan membuat hidupku susah."
Momoi dengan sabar mendengarkan. Kasihan kalau penulis kesayangannya kelewat stress karena urusan pekerjaan dan relasi asmara.
"Padahal biasanya dia mengejekku atau semacamnya," huruf 'A' refleks ditekan berkali-kali. "Tapi belakangan ini dia jadi uring-uringan. Waktu aku bangun, dia sudah berangkat kerja duluan. Dan dia baru pulang ketika aku sudah tidur."
"Kalau misalnya Tetsu-chan memang tidak tahan–" smoothie diseruput sampai separuh. "–kenapa tidak minta putus saja? Kan kalian juga belum menikah." Aku juga sudah lelah melihat kalian berdua bertengkar.
Kurona menggumam lesu. "Tidak bisa. Kalau Masomi-san sampai tahu…" tatapannya dialihkan ke lantai. "Dia bisa menghentikan asupan dana untuk penelitian Sei-kun."
Karena itulah Tetsu-chan jadi korbannya Akashi-kun. Mau menghibur tapi semakin tidak tega. Harus mengurusi penulis yang melankolis begini memang beratnya di hati.
"Omong-omong," Kurona kembali membuka pembicaraan. "Beberapa hari yang lalu Sei-kun bilang mau melamarku."
Isi smoothie nyaris tersembur keluar. "Yang benar, Tetsu-chan?" dilema mau menyelamati atau malah berbelasungkawa. "Jadi kapan kalian akan menikah? Sudah menentukan tanggalnya?"
Kurona menggelosor pasrah di meja. "Itu dia masalahnya." Mengeluh lesu. "Sampai sekarang aku merasa belum pantas untuk menjadi isterinya Sei-kun. Penghasilan per bulanku belum cukup untuk mengimbangi penghasilannya."
"Bukannya malah bagus?" Momoi memilih untuk menyunting draft sekaligus mendengarkan curhat. "Bukannya memang tugas laki-laki untuk mencari nafkah? Lagipula gaji Tetsu-chan juga tidak sekecil itu."
Cemberut menghiasi wajah pucat Kurona. "Tapi aku tidak suka didominasi, Momoi-san."
Oh, lihat siapa yang bicara.
"Ah iya," laptop diputar kembali ke hadapan Kurona. "Belakangan ini ceritamu tidak seekpresif biasanya. Lebih suram dan kaku." Salah satu novel Kurona dibuka sampai ke halaman tengah. "Tetsu-chan juga jadi sering mengulang-ngulang adegan. Misalnya di adegan ini–"
Sesaat ekspresinya berubah khawatir.
"Jangan-jangan Tetsu-chan kena writer's block?"
Teh yang tadinya berniat diminum jadi malas diraih. "Mungkin saja. Aku jadi buntu ide, padahal beberapa hari yang lalu ideku mengalir deras." Berkali-kali buntu otaknya sengaja disalah-salahkan, lantaran ide dan mood-nya sangat tidak mendukung proses menulis.
Punggung mungil ditepuk-tepuk, berharap bisa menenangkan jiwa rapuh si biru.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu saja?" laptop yang berdengung menyala ditutup. "Deadline-nya juga masih lama, kok."
"Tapi bagaimana dengan orang-orang?" ujung baju diremas. "Bukannya mereka masih terbawa gosip?"
Ah, benar juga. Momoi sampai merutuki diri sendiri karena lupa hal sefatal itu. "Kalau begitu… ada tempat yang ingin Tetsu-chan kunjungi? Atau ada yang ingin Tetsu-chan lakukan untuk melepas penat?"
"Aku…" berpikir sesaat, menimbang-nimbang.
"Aku ingin ke kantornya Sei-kun."
.
When Science Meets Literature
Kuroko no Basuke ©Tadatoshi Fujimaki
[Akashi x Female!Kuroko]
Tag: Scientist!AU, Author!AU, Adult!AU, romance
.
"Chihiro, datang ke kantorku sekarang."
Suara datar merespons dari balik speaker. "Tapi aku sedang sibuk–"
"Biar Kasamatsu yang melanjutkan pekerjaanmu. Ke sini sekarang." Sambungan interkom langsung diputus sepihak.
Akhir-akhir ini Akashi jadi mudah emosi. Kalau pnyebabnya adalah pekerjaan yang tidak juga kelar, atau karena tunangan tercinta yang (secara tidak sengaja) menebar gosip massa, mungkin masih bisa dimaklumi.
Tapi kalau alasannya semata-mata karena dia cemburu berat bagaimana coba?
Inginnya sih, menghabisi Aomine Daiki terlebih dahulu–tapi Kurona mengaku tidak menyimpan kontak sang novelis (yang otomatis membuat Akashi lega). Tanya Momoi? Editor yang satu itu bisa berasumsi yang macam-macam. Bisa-bisa malah berakhir mengadu ke Kurona.
Jadilah ia banting setir, dengan target pertama si rekan kerja–Mayuzumi Chihiro.
Sosok yang ditunggu muncul 5 menit kemudian. Ekspresi datarnya sangat mirip dengan Kurona, dan entah kenapa justru menambah emosi Akashi.
"Duduklah." Makin cepat, makin baik.
Mayuzumi menyeret kursi putar di sudut ruangan, memosisikan diri menghadap sang atasan. "Kenapa tiba-tiba Akashi-san memanggilku?" satu kaki ditumpukan di kaki beroda. "Apa… Akashi -san sudah mempertimbangkan proposalku untuk pindah divisi?"
Proposal apanya, protes saja diam-diam.
Otak cerdasnya cepat dibuat bekerja. "Shintarou belum memberiku detil."–biar saja bawahannya dikambinghitamkan–"Aku butuh penuturan langsung darimu."
"Sebenarnya ini memang agak terlambat." Punggung kurus berbalut jas putih disandarkan. "Kurasa Divisi Biologi bukan bidangku. Aku lebih suka bekerja dengan menuang HCl."
Kalau HCl-nya dituang ke wajahmu berarti suka?
Akashi berusaha bereaksi seprofesional mungkin. "Chihiro, pindah divisi di sini berkali-kali lipat lebih sulit dibandingkan pindah jurusan di Universitas Tokyo." Lawan bicaranya mengangguk (sok) paham. "Disogok uang saja tidak cukup. Harus lihai juga."
Map yang berisi riwayat pendidikan dan kerja Mayuzumi dibuka, diperiksa ulang kontennya.
"Lulusan cum laude di Universitas Tokyo, jurusan teknobiologi–" berarti satu universitas dengan Kurona. "–dan sempat jadi apoteker di rumah sakit? Chihiro, data ini tidak dimodifikasi, kan?" Atau jangan-jangan otaknya sudah salah jalur sejak awal.
Bahu diangkat sekilas. "Sudah kubilang, aku lebih suka kimia."
"Lalu kenapa tidak ambil jurusan kimia sekalian?"
"Eh…" rambut kelabu diacak. "Aku memang lulusan teknobiologi di Todai, tapi beberapa kali aku menyalonkan diri ikut beberapa lomba kimia." Nekat, lembar piagam disodorkan ke meja. "Orangtuaku semuanya dokter dan ahli biologi, jadi mereka ingin pekerjaanku tidak jauh-jauh dari mereka."
Masuk akal, tapi bukan berarti tidak bisa didebat.
"Alasan seperti itu belum cukup kuat untuk pindah divisi, kalau aku boleh terus terang." Berkas-berkas ditumpuk dengan rapi, dimasukkan kembali ke dalam map. "Seharusnya kau melapor lebih awal. Saat ini kita sangat membutuhkan dominansi dari pekerja Divisi Biologi."
Mayuzumi merengut samar.
"Ada lagi yang mau kutanyakan." Suaranya sengaja dibuat serius. Mayuzumi sampai mencondongkan tubuhnya untuk mendengar lebih jelas.
"Apa hubunganmu dengan Kurona Tetsuko?"
Bola mata kelabu melebar. "Tunggu, kenapa tiba-tiba malah tanya begitu?" cepat-cepat memasang ekspresi defensif. "Aku dan Kurona sudah lama tidak bertemu."
Akashi sengaja memancing. "Tapi dia sering membicarakan soal 'Mayuzumi-kun'." Kalau mau mencari informasi memang harus rela patah hati. Walaupun ujung-ujungnya korban interogasi akan menderita patah tulang.
"Oh ya?" datar, namun penuh minat. "Soal apa?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Chihiro." Dia terlalu pintar untuk dikelabui. Bahkan interkom yang berkedip-kedip diabaikan–entah dari resepsionisnya atau Shintarou yang merengek minta bantuan. "Jadi apa hubunganmu dengan Tetsuko?"
"Aku dan dia cuma teman sekampus. Tapi kebetulan ketemu dan berkenalan saat festival sastra."
Pantas saja Kurona meledek referensi bacanya. Entah harus senang atau malah kesal karena seleranya berbeda dengan sang tunangan. "Lalu kalian jadi akrab?"
"Entah." Mayuzumi menghela napas. "Kami tidak pernah bertemu lagi sejak 3 tahun yang lalu. Tapi kami masih sering mengontak–bicara soal novel dan sebagainya. Dia juga sering minta bantuan inspirasi."
Hebat. Tidak ada berita yang lebih menyedihkan dibanding tunangan yang lebih percaya pada teman sekolah yang sudah 3 tahun tidak bertemu. Akashi jadi ingin minum aspirin.
"Kalau kau memang tidak butuh berada di dekat Tetsuko, sebaiknya jangan coba-coba mengontaknya. Atau jangan jawab telepon dan pesannya." Kedua irisnya menyipit.
Mayuzumi refleks menahan napas.
"Kalau kau bisa mematuhi perintahku, aku bisa mempertimbangkan keinginanmu untuk pindah divisi."
.
.
"Tetsu-chan, jangan bercanda!" Momoi mati-matian mencegah Kurona masuk. "Kau tahu kalau Akashi-kun sedang sibuk bekerja. Jangan malah cari masalah, Tetsu-chaaan–"
Seharusnya dia sudah mencegah Kurona sejak awal. Tapi si penulis biru terlalu cerdas untuk tidak memaparkan tempat destinasi. Dicekoki pertanyaan di kereta juga percuma.
"Bukannya Momoi-san bilang aku bebas memilih tempat yang aku mau?" pintu otomatis terbuka dan tertutup berkali-kali. Penjaga yang bertugas di depan pintu sampa memasang wajah curiga. "Tolong jangan tarik-tarik terus. Aku mau masuk."
"T-tapi…" Momoi menelan ludah. Bangunan itu secara tidak langsung terkesan sangat mengintimidasi. "Kenapa tidak mencoba menelepon Akashi-kun dulu? Kau tidak bisa tiba-tiba saja menginterupsi, kan?"
Kurona menaiki telundakan untuk yang kesekian kalinya. "Telepon Sei-kun tidak aktif." Diharap jawabannya bisa memuaskan sang editor. "Kalau Momoi-san tidak mau ikut, pulang saja."
"Tetsu-chan kejam…" Momoi menggigit bibir, cepat-cepat mengikuti Kurona yang sudah melenggang masuk.
Ini pertama kalinya Kurona memasuki wilayah kerja Akashi. Maklum saja, karena terlepas dari kesibukan profesi, Akashi tidak pernah mengajaknya–lebih tepatnya, mengijinkannyu ikut ngantor. "Tetsuko tidak akan betah berlama-lama", begitu katanya.
Tempatnya jauh lebih besar dibandingkan gedung di Tokyo pada umumnya. Kurona buta soal merk, tapi sekali lihat saja dia tahu kalau furnitur di penjuru aula memiliki level setara hotel bintang lima. Hanya saja lebih berkelas.
"Ano," memberanikan diri menuju ke meja resepsionis. "Saya ingin bertemu dengan Akashi Seijuurou-kun. Apa dia–"
"Direktur utama sesdang tidak ingin ditemui." Si resepsionis berkacamata cepat merespons. Nama 'Hyuuga Junpei' berkilat-kilat di name tag-nya."Kecuali Anda sudah melakukan janji di jauh-jauh hari, akan saya hubungi pihak yang bersangkutan."
Berpikir sejenak. "Saya sudah punya janji dengan Se–maksudku, Akashi-kun."
"Oke." Jemari panjang mulai menekan keyboard. "Nama Anda?"
"Kurona Tetsuko."
Alisnya berkerut samar di balik kacamata. "Profesi?"
Kurona menoleh sekilas ke arah Momoi yang terus menerus menunjuk ke arah pintu otomatis. Tetsu-chan, ayo kita pulang!
Isyarat itu diabaikannya. "Saya novelis."
"Tunggu–" alis sang resepsionis semakin menukik tajam. "–bukannya Anda tunangan Direktur?"
Momoi menepuk dahi.
Kurona, sayangnya, tidak mahir menangkap sinyal berbahaya. "Ya. Aku mau bertemu dengan Sei-kun." Rasanya tidak perlu berformal ria kalau identitas sudah ketahuan. "Apa dia benar-benar sibuk?"
"Kelihatannya begitu." Hyuuga menyahut gelisah. "Sejak tadi dia tidak mengijinkan siapa pun masuk ke ruangannya. Kelihatannya sedang rapat pribadi."
Sekarang gantian alis Kurona yang bertaut. "'rapat pribadi'?" istilah itu tidak pernah muncul dari mulut Akashi. "Dengan siapa?"
"Tunggu," menoleh ke rekan di kloter sebelah. "Oi, Koganei, tadi bos sedang sibuk dengan siapa?"
"Mayuzumi Chihiro, kan?" wajah rekannya menyembul dari balik sekat. "Penting, begitu katanya."
Kurona menahan diri untuk tidak terkesiap berlebihan.
"Ah, maaf." Hyuuga membungkuk sedikit, sekadar untuk formalitas. "Kelihatannya Anda tidak bisa bertemu dengan Direktur. Mungkin pesan Anda bisa saya–lho, Kurona-san?"
"Tetsu-chan!"
Panik, Momoi cepat-cepat berlari menyusul Kurona yang sudah memasuki lift. Nyaris saja tubuhnya terjepit di sela-sela pintu yang menutup otomatis. "Tetsu-chan, kau dengar sendiri kan?"
Daftar lantai ditelusuri, lalu menekan tombol dengan angka paling besar. "Momoi-san tidak dengar? Sei-kun dan Mayuzumi-kun sedang bicara berdua."
"Lalu?" Tetsu-chan takut mereka pacaran, begitu? "Bukannya wajar kalau Akashi-kun bicara dengan bawahannya?"
Lift berdenting ketika mencapai lantai destinasi.
"Kalau hanya bawahan biasa tidak masalah." Dua pasang sepatu hak berbunyi beriringan di lantai keramik. "Masalahnya ini Mayuzumi-kun. Sei-kun membencinya."
Kurona mengabaikan tatapan heran dari para pekerja. Dilirik oleh para hater setiap hari ternyata ada gunanya juga. "Jadi Tetsu-chan sengaja menemui Akashi-kun untuk melerai? Malah jadinya tambah runyam–"
"Kita tidak akan tahu."
Papan yang tertera di tiap-tiap pintu dibaca satu per satu. Lab percobaan tanaman, ruang cuci organ, ruang pusat teknologi…
Mendadak ia jadi ragu-ragu ketika berhenti di depan pintu ruang eksklusif sang tunangan. Agak menyesal karena terlalu cepat bertindak.
Apa sebaiknya aku pulang saja?
"Jangan bodoh."
Tersentak kaget, Kurona cepat-cepat mengembalikan fokusnya. Heran karena pintu ternyata masih tertutup rapat.
Tampaknya Akashi sedang bicara dengan Mayuzumi. Kurona refleks mendekatkan telinga.
"Kau sudah terlalu sering membuat masalah, Chihiro–" Kurona bisa mendengar suara kursi diputar. "–dan sekarang kau mau menambah problem dengan melibatkan Tetsuko?"
"Aku tidak bilang begitu." Suara Mayuzumi masih sama seperti terakhir kali Kurona mengingatnya. "Aku hanya bilang kalau aku tidak berniat menerima iming-imingmu."
"Aku tidak menyuap, kalau itu maksudmu."
"Kalau begitu kenapa harus menyuruhku menjauhi Kurona segala? Cemburumu sudah melewati batas."
Bahkan Kurona bisa mendengar suara helaan napas Akashi dari tempatnya berdiri. "Kuharap kau tidak sengaja membuat emosiku melewati batas."
"Kau membenciku kan, Akashi?"
Ada jeda beberapa saat. Kurona khawatir detak jantungnya bisa terdengar dari luar. Akashi menyambar tegas. "Aku tidak bilang begitu."
"Tetsu-chan," Momoi melirik gelisah. Tiga orang pekerja dari tadi mengawasi mereka. "Sebaiknya kita pergi sekarang. Aku tidak mau–"
Kurona mengisyaratkan editornya untuk diam.
Suara Akashi kembali memenuhi indera pendengaran. "Tapi kalau kau memang menyimpulkan hal itu, kau tidak salah." Kurona bisa membayangkan Akashi menyeringai mengerikan. "Aku sangat, sangat membencimu."
Tunggu–jangan bilang kalau Sei-kun membenci Mayuzumi-kun karena…
"Hanya karena masalah percintaanmu? Kau terlalu pengecut." Kurona refleks menggigit bibir, khawatir mendengar suara pukulan dalam hitungan detik. "Tapi kalau keinginanmu memang begitu, aku menyerah."
Kurona refleks mundur beberapa langkah dari pintu, khawatir kalau tiba-tiba pintu menjeblak terbuka.
Suara sepatu pantofel perlahan-lahan mengeras, mendekati pintu. "Tapi bukan berarti aku mau terus-terusan ada di bawahmu." Kenop pintu diputar. "Aku–eh?"
Iris kelabu bertemu dengan biru muda.
"Tetsuko?"Akashi-lah yang pertama kali bersuara. "Kenapa kau ada di sini?"
Jawaban polosnya mengalir seperti biasa. "Tadi aku dan Momoi-san naik kereta ke sini." Momoi melambai gugup di belakangnya. "Aku ingin ketemu dengan Sei-kun."
"Oh ya?"
Mayuzumi cepat-cepat undur diri. "Kalau tidak ada perlu lagi, saya duluan." Cara yang cerdas untuk menghiindari amukan Akashi Seijuurou.
Tatapan Akashi berpindah dari tunangannya ke editor yang sudah ketakutan setengah mati. "Masuklah. Kalian berdua terlalu mencolok di sini."
Wajar saja, keduanya mengenakan pakaian kasual, sedangkan yang lain berseragam dan mengenakan jas lab. Tentu saja penampilan mereka terlihat sangat berbeda. Ragu-ragu, Kurona melangkah masuk ke dalam kantor Akashi. Momoi cepat-cepat mengekor.
Sofa panjang ditunjuk. "Duduk di sana."
Tanpa diberitahu pun Kurona tahu. Level suasana hati Akashi sudah tidak pada tempatnya. Kelewat negatif. Akashi bahkan tidak berminat bermanja-manja seperti biasa.
Dan bukannya Kurona rela ditempeli Akashi, tentu saja.
"Sei-kun," kalau Akashi tidak berminat berbasa-basi, Kurona juga ingin bicara to the point. "Kenapa Mayuzumi-kun dimarahi?"
Akashi tidak mau repot-repot membalik badan. "Oh, ternyata tunanganku menguping dari tadi."
"Sei-kun bilang kalau Mayuzumi-kun tidak boleh dekat-dekat denganku." Mengabaikan Momoi yang terus-terusan melirik ke arahnya. "Bukannya Sei-kun sendiri yang bilang tidak mau dikekang? Kenapa malah aku yang dibatasi?"
"Soalnya Tetsuko terlalu bawel." Singkat, tapi meyayat hati. "Kalau tidak dikurung pasti berontak lari."
Memangnya Tetsu-chan itu apa-burung dalam sangkar?
"Sei-kun juga akhir-akhir ini emosian. Seperti orang PMS." Protes Kurona terus menghujam sang tunangan. "Kenapa?"
Kau ini kurang peka atau memang bodoh? Ingin rasanya Akashi balas memprotes. "Kukira kau tidak terlalu peduli dengan perubahan emosiku."
"Soalnya kalau Sei-kun ngamuk terus-terusan aku yang susah."
Kalau bisa, Momoi ingin menyeret Kurona keluar dari ruangan, memulangkan bocah biru ini. Kuroko kalau marah tidak bisa lihat situasi-begitu pula dengan Akashi. Dua-duanya sama-sama keras kepala.
"Mungkin Tetsuko-ku memang harus dijejali jutaan rumus supaya paham." Layar sentuh seukuran TV raksasa menyala, menampilkan jutaan sel yang mengalir tenang di latar gelap. "Aku tidak pernah suka melihat Tetsuko dekat dengan laki-laki lain."
Cemburu kok malah melibatkan rumus.
"Kalau Sei-kun memang bilang begitu-" tubuh mungil cepat bergerak mendekati Akashi, dan tanpa berpikir panjang menyerangnya dalam sekali ciuman di bibir. Baru melepasnya ketika Akashi membelalak kaget, berusaha memproses semuanya dengan cepat.
"-coba jelaskan kenapa aku lebih suka berada di dekat Sei-kun ketimbang Mayuzumi-kun."
.
TBC
.
a/n
Sekali lagi maafkan saya yang menelantarkan cerita ini selama sekian lama. :" karena itu cerita ini saya buat sedikit lebih panjang, supaya setidaknya mengurangi rasa kesal para pembaca. :""
Cerita berikutnya juga akan muncul terlambat, karena saya juga lagi menggarap beberapa fict baru. Dan buat pecinta AkaKuro, kalian bisa menebak-nebak cerita seperti apa yang akan saya buat. ^^
.
Replies from recent review(s)
Liuruna setoran apa? Pasti udah kelar, ya? Saya memang lambat. Selambat siput. :" Tsukine Yami maaf ya, chapter2 berikutnya juga akan terlambat. Nggak tahu tanggal pastinya, karena saya juga lagi ngejar buat fict baru. :") AomineHikari hehehe sabar ya, nungguin saya yang lamban ini. :" makasih banyak buat dukungannya *hug*
Xoxo,
Ayame
