Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto.

EVERY WOMAN'S (HONEST) DREAM

o

o

o

o

o

Chapter 7: In Her Frienemy's Territory

Tiba-tiba, rasa lezat makanan yang sedang Sakura santap menghilang. Hambar. Semua gara-gara satu pertanyaan Mikoto yang sebenarnya normal untuk ditanyakan oleh seorang ibu pada anaknya. Baru beberapa menit saja Sakura memikirkannya, apa yang ia khawatirkan terjadi juga.

Diamnya Itachi jelas menandakan bahwa ia belum pernah memberitahukan pada Mikoto tentang pekerjaannya. Ia hanya bergeming, sementara matanya masih tertuju pada mangkok berisi nasi yang ia aduk-aduk dengan sumpit. Dan, jika Sakura tak sedang berhalusinasi, ia melihat Itachi sedikit mengerucutkan bibir dan nampak seperti anak manja. Haruskah ia tersenyum?

Ingatan Sakura terseret pada kejadian beberapa jam lalu saat mereka menepi sebelum melanjutkan perjalanan. Itachi mengatakan bahwa ia tak ingin sang ayah menyeretnya pulang. Entah mengapa bayangan menyeret itu membuat Sakura membayangkan Itachi versi kecil. Ya, Sakura kini mengulum tersenyum.

"Mungkin ... film percintaan," sahutnya.

Percintaan dan bercinta. Menyenangkan juga bisa membalas Itachi atas kejadian saat ia harus bersandiwara di depan Kakashi dulu. Kini, pria itu melirik tajam ke arahnya.

"Film romantis?" tanya Mikoto.

"Kurasa ... ." jawab Sakura ragu.

"Pasti sangat romantis. Benar, kan, Itachi-kun?" Mikoto memandang anak sulungnya.

Sakura terbahak dalam imajinasinya. Tawa bengis penuh kemenangan. Sekarang, baru tahu rasa si Itachi itu! Dia pikir bagaimana rasanya ketika harus merahasiakan sesuatu yang memalukan dari orang yang dikenal?

"Sakura-san, kau pernah berkuliah di jurusan desain interior, bukan?" tanya Sasuke tiba-tiba.

"Benar," jawab Sakura.

Ia tahu kalau Sasuke sedang mengalihkan topik pembicaraan. Artinya, pria itu sudah tahu dan sebenarnya tidak mengherankan sebab ia juga sempat tinggal di Konoha.

"Menurutmu, tata ruang kedai seperti apa yang menarik pengunjung di perkebunan?" tanya Sasuke.

Sakura menggumam. "Aku belum tahu bagaimana tempatnya, jadi kurasa aku harus melihatnya dulu."

"Hn. Aku akan menyewa jasamu untuk membuat sesuatu yang bagus,"

"Eh? Tidak perlu begitu, sungguh!"

Ia serius. Keluarga Itachi menyenangkan, terlepas dari si sulung yang cukup menjengkelkan. Hitung-hitung, ini juga akan membayar kebaikan keluarga Uchiha dan ide tidak selamanya harus dikomersialkan. Ia punya perasaan kalau liburan dadakannya ini akan menyenangkan.

XxX

Di ruang belakang di mana keluarga ini biasa mencuci pakaian, Itachi hendak memberikan jaket yang ia pakai semalam pada seorang pelayan. Jaket itu sudah kotor dan lebih kotor lagi karena terkena air liur Sakura saat insiden 'penyerangan' itu. Jangan bayangkan aroma alkohol bercampur air liur! Jangan pernah! Ia sampai mengerutkan hidung sambil menjauhkan jaketnya.

Sakura mengintip dari balik tirai yang memisahkan ruangan itu dengan dapur. Ia mengerutkan kening; heran mengapa Itachi nampak sedemikian jijik dengan jaketnya sendiri. Namun, selanjutnya ia mengingat bahwa jaket itu adalah yang Itachi kenakan selama perjalanan dan sepertinya tidak ada kotoran atau semacamnya yang mengenainya. Kecuali ... .

Dengan gerakan cepat, Sakura menghampiri Itachi dan bermaksud merebut jaket tersebut, namun Itachi seperti memiliki sepasang mata di belakang kepalanya. Pria itu dengan lebih cepat memasukkannya ke dalam mesin cuci yang sudah diisi dengan air deterjen. Hal itu membuat Sakura semakin kesal pada Itachi. Kesal dan juga malu; malu andai yang ia pikirkan tadi benar.

"Apa yang terjadi semalam?" Sakura bertanya penuh selidik.

Itachi nampak tak memedulikan pertanyaan Sakura walau kenyataannya ia agak cemas. Ia tahu kalau wanita itu mulai curiga dan ia tak ingin membuat Sakura mengingat sesuatu yang akan membuatnya malu sendiri. Itachi saja malu, apalagi Sakura. Situasi menjadi aneh saat mereka berdiri saling membelakangi, saling menyembunyikan rona wajah masing-masing.

Sakura memang tidak tahu apa yang sebenarnya Itachi sembunyikan, tapi ia merasa kalau itu berhubungan dengan dirinya. Ia bahkan masih berpikir jangan-jangan ia sempat memuntakan sedikit isi perutnya di jaket pria itu. Keadaan mabuknya pastilah berat lantaran ia tak ingat apa-apa dan memang membuatnya agak mual.

"Aku akan pergi ke perkebunan sekarang. Kau jadi ikut?" tanya pria itu.

Setelah mengangguk, Sakura mengikuti langkah Itachi menuju ke perkebunan. Tepat seperti perkiraannya, ibu sang juru kamera tinggal di rumah dan sibuk dengan beberapa pekerjaan rumah tangga. Mikoto memang tipe ibu rumah tangga yang handal. Sakura berpikir apakah semua wanita akan menjadi seperti itu saat sudah menikah.

Ia jadi lumayan memahami tentang setidaknya tugas kecil seorang istri, apalagi ibu; seorang multitasker. Meski semua tak harus seperti Mikoto sebab ibunya sendiri merupakan wanita sosialita yang berbisnis berlian sampai dijadikan arisan demi berlangsungnya kehidupan hedon nyonya-nyonya di perkotaan, tapi ibunya tetap memiliki sisi itu.

'Baiklah, Jeng, nanti ke rumah saja, ya! Aku ... ah, Anata, kopi dan bajumu sudah kusiapkan, ya! Susumu, Sakura! Maaf, tadi maksudku, aku sudah menyiapkan berliannya."

Sakura tersenyum kecil saat mengingat Mebuki melakukan hal itu. Entahlah, namun melihat sang ibu hidup dengan hiruk pikuknya kehidupan sebagai istri, ibu, dan sekaligus dirinya sebagai wanita dalam pergaulan membuat Sakura jadi merenungi sesuatu.

"Apa yang kau pikirkan?" Itachi membuyarkan lamunan Sakura.

"Ibu rumah tangga ... ." jawab Sakura tanpa sadar.

"Ibu ... rumah tangga?"

Langkah Sakura terhenti, mungkin denyut jantungnya juga. Ia yakin seratus persen kalau wajahnya pasti sudah merah sekali begitu menyadari apa yang baru saja mulut sembarangannya itu lontarkan. Andai ada kawah gunung di hadapannya, Sakura akan melompat saja ke sana.

Sebenarnya, Itachi ingin tersenyum, namun ia memilih untuk menahannya. Daripada Sakura mengomel tak karuan seperti yang selalu wanita itu lakukan setiap kali ia menggagalkan kencan butanya. Ia pun menjadi bertanya-tanya gemuruh apa yang melanda dadanya ini. Itachi terlalu jenius untuk tidak bisa menghubungkan racauan Sakura semalam dengan perkataan tak sadarnya barusan.

"Aa ... Itu ... Ya, kurasa ibu rumah tangga harus ... berperan serta dalam pembangunan kebun apel," jawab Sakura asal sambil kembali berjalan. Ia sendiri bingung dengan ucapannya dan semakin bingung untuk merelasikan perkataan bodoh itu dengan sesuatu yang lain.

Perlahan tapi pasti, Itachi menyadari sifat lain dari wanita itu. Sakura adalah perempuan yang tidak mudah berkata jujur mengenai isi pikirannya. Tentunya dalam hal pribadi. Bukan munafik, tapi gengsinya setinggi langit. Ia pun menyeringai setipis mungkin saat sebuah ide melintas.

"Kau pasti sangat peduli pada kaummu yang sudah menikah dan tidak bisa sebebas wanita yang masih sendiri," katanya.

Sakura menoleh, lalu menatap pria itu. Ia tak mengerti apa yang dibicarakan Itachi.

"Apa menurutmu wanita yang menikah akan kehilangan kebebasan atau ... semacam 'me time' sampai waktu yang ia tentukan sendiri?" tanyanya.

Tiba-tiba saja, membayangkan pernikahan seperti membayangkan sebuah belenggu dan Itachi menangkap arah pemikirannya. Ia jadi menganggap kalau Sakura adalah tipe wanita yang masih ingin diberikan kebebasan dalam arti semaunya. Sebuah sikap yang sebenarnya bertentangan dengan keinginan wanita itu untuk menikah.

"Kita hampir sampai. Ayo!" ujar Itachi. Ia memutuskan untuk menyudahi pembicaraan. Terlalu cepat untuk membahas hal semacam ini dengan Sakura.

Akhirnya, sampailah mereka di perkebunan apel milik keluarga Uchiha. Luasnya hanya 1.000 hektar. Tidak seluas milik seorang juragan apel terbesar di sana yang luasnya mencapai 5.000 hektar. Di desa itu terdapat tujuh perkebunan dan jika ditotal secara keseluruhan, maka lahan perkebunan di sana memiliki luas 12.000 hektar.

Mata Sakura membulat penuh rasa kagum saat melihat ratusan pohon apel di sana. Apel-apel itu begitu ranum dan warnanya sangat, sangat cantik. Tentu saja ia tahu warna apel yang dijual di pasar atau supermarket, tapi ia tak pernah melihat yang sebanyak ini, yang masih segar di pohonnya. Tempat itu seperti Taman Eden. Mungkin.

Senyumnya terlihat cemerlang, seolah menjadi hal paling terang yang pernah Itachi lihat. Ia tahu ia menyukai wanita itu, ia hanya baru tahu kalau hatinya sedang jatuh perlahan. Rasanya masih melayang dan belum benar-benar menyentuh dasar jurang. Ia bahkan tak tahu apakah jurang yang menerima hati manusia yang jatuh itu ada atau tidak, tapi ia tahu ia sedang jatuh.

Wanita yang memiliki banyak kelebihan dan siap menjadi wanita seutuhnya memang banyak. Sakura jelas belum memiliki semuanya itu. Ia cantik, menawan, pintar, pekerja keras, setia kawan, dan baik hati, namun ia belum siap menjadi yang lebih dari itu. Itachi tahu, tapi hatinya tetap bergetar untuk Sakura.

Ia berencana mencari tahu untuk apa hatinya bergetar. Itu pula yang disarankan oleh Ino hingga wanita itu nekat menyuruh Itachi untuk 'menculik' Sakura.

"Ini ... ini benar-benar mengagumkan. Astaga!" ujar Sakura dengan penuh rasa antusias.

Itachi tersenyum dan membiarkan Sakura berjalan mendahuluinya untuk menikmati pemandangan di perkebunan. Wanita itu menghampiri pohon-pohon apel tanpa pola yang pasti. Kadang lurus saja, kadang zigzag, lalu memutari tiga-empat pohon sebelum kembali ke jalur utama. Sepertinya ia ingin memeluk semua pohon yang ada di sana secara bersamaan.

Sakura benar-benar terlihat seperti bocah yang baru menginjakkan kaki di pulau harta karun. Namun, justru dialah yang paling mengagumkan, setidaknya bagi Itachi.

"Pelan-pelan, Sakura! Kau bisa jatuh," tegur Itachi.

"Hei, siapa yang menyewamu?" tanya Sakura.

Saat itu juga, jantung Itachi menghentak-hentak. Jangan-jangan Sakura tahu tentang pekerjaan sampingan yang ia pernah lakukan atas suruhan Kizashi.

"Sebagai pengasuhku," lanjut Sakura, lalu terkekeh. "Kenapa kau tegang sekali?"

Untuk pertama kali, Itachi membiarkan dirinya menghembuskan napas lega. Untung saja Sakura tak melihat sebab ia lebih sibuk berlarian ke sana kemari. Benar-benar ... .

Setelah agak lelah, akhirnya mereka kembali berjalan berdampingan, namun lagi-lagi Sakura mendahuluinya karena masih diliputi rasa gembira. Keduanya menyusuri jalan pemikiran masing-masing sampai Itachi menyadari sesuatu yang menempel di pundak wanita itu. Pelan-pelan, ia mendekati Sakura agar ia tak ... histeris?

"Aa ... ."

Sakura berbalik. "Kenapa?"

Tak langsung menjawab, Itachi mengambil sebuah ranting yang sudah terpisah dari pohonnya. Ia mendekati Sakura yang menatapnya penuh tanya.

"Apa yang akan kau lakukan?" tanya wanita itu sebelum ia memeriksa bagian depan tubuhnya, lalu pundak kiri dan kanan.

Dan, teriakan melengking yang berpadu dengan raungan menggema di seluruh perkebunan. Sakura melompat-lompat ketakutan saat didapatinya seekor ulat bulu kuning sepanjang tiga ruas jari dan gemuk menempel santai di pundak kanannya. Ia merasakan ngeri, geli, mual, dan perasaan-perasaan tak mengenakkan lainnya.

"PERGI! PERGI KAU DARI HIDUPKU!" teriak Sakura.

Meski ikut panik, dan meski sedikit, Itachi tetap berusaha tenang sambil menenangkan Sakura. Inilah yang dikatakan sebagai orang katarak menuntun orang buta.

Begitu berada di dekat Sakura, Itachi langsung mengarahkan ranting yang ia bawa pada pundak wanita itu. Ia agak kesulitan untuk mengenyahkan si ulat bulu gemas dari pundak Sakura sebab gerakan melompatnya sangat energik dan akrobatik. Ia benar-benar histeris sampai mengundang kedatangan beberapa pekerja di kebun.

"Tuan Itachi, apa yang terjadi?" tanya mereka bersahutan.

Itachi menjawab mereka dengan menepuk pundaknya sendiri sebelum menunjuk Sakura. Setelah melihat apa yang menimpa wanita yang berasal dari perkotaan itu, mereka malah terkekeh. Sebagian lagi menyemangati Itachi agar cepat menolong Sakura seperti memberi dukungan pada jagoan tanding tinju mereka. Tak lama, Itachi pun berhasil menyingkirkan si ulat bulu dan makhluk invertebrata itu jatuh mengenaskan di tanah sebelum menggeliat meneruskan perjalanannya.

Itachi dengan segera memegangi kedua bahu Sakura.

"Hei, hei ... sudah berakhir, semua sudah berakhir," ujarnya lembut, selembut tatapan matanya. Ayal, meski masih syok, perut Sakura merasa geli karena ditatap seperti itu. Rasanya seperti saat ia berada dalam sebuah mobil yang melaju di jalanan menurun.

Percakapan tadi terdengar seperti percakapan dalam drama, di mana pemeran utama pria berhasil menyelamatkan pemeran wanita. Dramatis, namun keadaan wajah Sakura memang sedramatis itu. Pipinya merah, tapi bibirnya pucat. Air matanya luber, seluber ingusnya. Tanpa dapat menahan kakinya, Sakura langsung merosot, namun Itachi menangkapnya dengan sigap.

Penonton pun bersorak-sorai seperti prajurit Viking yang melihat pemimpinnya mengalahkan seekor naga. Sakura nampak tak memedulikan itu, namun Itachi sangat sadar dan malu hingga ia pun menutupi wajahnya dengan telapak tangan kanan, sedangkan yang kiri menepuk-nepuk punggung Sakura.

"Kami sudah baik-baik saja. Kalian bisa kembali bekerja dan maaf sudah membuat kalian khawatir," ujar Itachi setelah berhasil mengalahkan rasa malunya.

"Tak apa-apa, Tuan, yang penting nona itu baik-baik saja. Baiklah, kami kembali bekerja," jawab seorang petani muda.

Setelah saling membungkuk, kerumunan petani pun bubar. Sang pemilik perkebunan terus menepuk-nepuk punggung Sakura sampai ia merasa tenang.

"Ulat bulu itu punya masalah apa, sih, denganku?" gerutunya.

"Maaf," ujar Itachi.

"Kau ini bicara apa? Aku tak menyalahkanmu," balas Sakura.

Mendengarnya, Itachi tersenyum.

"Apa kau bisa berjalan?" tanya pria itu.

Sakura mengangguk sebelum ia berdiri dengan bantuan Itachi yang menopangnya. Mereka pun berjalan lagi seperti semula setelah Sakura menyeka air matanya.

XxX

Sasuke memandangi Sakura yang sedang meneguk air minum dengan rakus. Mereka sedang duduk di kedai produk makanan dan minuman dari apel yang ada di perkebunan. Terlihat beberapa wisatawan dewasa dan anak-anak di sana.Musim gugur memang saatnya panen.

Keadaan wanita itu memprihatinkan; mata dan hidungnya merah, sementara bibirnya masih sedikit pucat. Ia telah mendengar cerita dari Itachi dan beberapa petani tentang musibah yang baru saja Sakura alami tadi.

Sasuke mulai menganggap bahwa kehadiran Sakura spesial. Pikir saja, Itachi tak pernah membawa wanita ke rumah. Kalau pun iya, mereka hanya beberapa mahasiswi pertanian yang hendak melakukan observasi. Dan, bukannya Itachi tak punya teman wanita; ia punya beberapa, hanya saja Sasuke merasa kalau Sakura memang sesuatu. Saat pertama kali mereka tiba, ia sempat mencium bau alkohol dan parfum yang sama dari baju Sakura dan jaket Itachi.

Ya, kedatangan Sakura memang spesial. Bahkan ulat bulu saja sampai menyambutnya. Kasihan sekali.

"Tenang saja, ulat bulu semacam itu jarang ada di pohon, jadi kuharap kau tidak jera," ujar Sasuke.

Sakura melempar senyum. Senyum biasa, tak ada jejak-jejak ketakutan lagi dan kedua pria itu merasa lega. Kemudian, wanita itu mengernyit saat melihat dua orang yang sedang menebang beberapa pohon apel.

"Mengapa pohon-pohon itu ditebang?" tanya Sakura.

"Pohon-pohon itu terkena kanker," jawab Itachi.

Sakura mengangkat alis sambil mengerjap. Apa Itachi baru saja bercanda?

"Kanker? Pohon?"

Dengan mengulas senyum tipis, Itachi mulai menjelaskan. "Tanaman juga bisa terkena kanker. Nama latinnya: Botryosphaeria Sp. yang bisa menyerang buah atau gudang penyimpanan panen. Gejalanya berupa bercak coklat kecil pada buah, membusuk, lalu meluas hingga seluruh bagian buah menggelembung dan busuk berair. Warna buahnya juga menjadi pucat," katanya, lalu mengambil sampel buah apel.

Sakura menerima buah itu dan mengamatinya. Keadaan buah itu persis seperti yang dijelaskan Itachi dan ia baru tahu kalau kanker tidak hanya menyerang manusia dan binatang.

"Bagaimana cara mengatasinya?" tanya wanita itu.

"Secara kultur teknis, dengan tidak memetiknya dalam keadaan terlalu masak. Secara kimia, kita harus menyemprot tanaman yang masih sehat dengan fungisida," jawab Itachi.

Lagi-lagi, Itachi mengejutkan Sakura seperti tadi pagi. Pria itu sangat pintar. Padahal, dengan pekerjaan di bidang yang berbeda jauh selama tiga tahun, harusnya Itachi melupakan banyak hal.

"Lalu, kenapa pohon harus ditebang kalau buahnya yang diserang?" Sakura mulai tertarik pada pembahasan itu.

"Anggap saja seperti kemoterapi yang tidak hanya melebur sel kanker. Beberapa pohon itu juga terkena busuk akar. Biasanya menyerang tanaman apel yang tumbuh di daerah sejuk dan lembab seperti ini. Kalau kau memerhatikan dari dekat, kau akan melihat daunnya layu dan gugur. Kulit akarnya juga busuk. Itu kenapa pohon-pohon itu ditebang sampai ke akar dan harus dibiarkan selama setahun tanpa ditanami," jawab Itachi.

"Sudah hampir seperempat lahan yang terkena," imbuh Sasuke.

Sakura tertegun. Awalnya, ia kira permasalahan keluarga Itachi hanyalah soal pernikahan, ternyata soal perkebunan juga. Perkebunan ini mengalami masalah serius, itu mengapa Itachi dan Sasuke harus pulang. Sasuke harus membantu dalam strategi bertahan dan pemasaran; subyek dalam agrobisnis, sedangkan dalam agroteknologi yang Itachi dalami, ia akan berpusat pada pengolahan lahan dan tanaman. Penyakit tanaman itu contohnya.

Masih tertegun, Sakura memandangi kedua pria yang sedang mengawasi kedai ini dan Sakura mengingat janjinya pada Mikoto. Rasa produk olahan apel di sini sangat lezat, tapi kedainya terlalu polos, sedangkan pengunjung juga banyak yang dari kalangan anak-anak. Ini bukan hal yang sulit. Maka, ia mengambil dua carik kertas dan sebuah pensil di meja kasir, kemudian mulai membuat coretan.

XxX

Setelah kenyang makan apel dan pie apel, Itachi dan Sakura melanjutkan petualangan kecil mereka dengan sepeda motor Sasuke. Sayang sekali festival musim semi terakhir sudah lewat beberapa minggu yang lalu. Meski demikian, Itachi berjanji akan tetap membawanya ke Kastil Hirosaki lusa. Sakura tak dapat menunggu, tapi ia sudah cukup puas dengan tawaran itu, apalagi di tengah kesibukan Itachi yang padat.

Desa ini sangat indah. Jalanannya lebar dan perumahannya sudah maju, bahkan mobil-mobil bagus pun ada. Ketenangan dan keasriannya saja yang membedakannya dengan kota-kota besar. Beberapa bukit menjulang, menambah warna hijau yang membuat otot matanya mengendor dan yang paling ia suka adalah selokannya. Sangat jernih, ikan-ikan koi pun bisa hidup di dalamnya. Pemandangan yang langka di perkotaan itu harus diabadikan, maka Sakura meminta Itachi menepikan sepeda motor demi mengambil beberapa gambar.

Mereka baru memutuskan berhenti di sebuah taman kecil, di mana terdapat beberapa bangku di bawah pohon-pohon sakura saat hari sudah mulai sore. Di sana, banyak burung merpati dan ternyata Itachi sudah menyiapkan sekantong plastik biji jagung.

"Mau memberi mereka makan?" tanya Itachi sambil menyodorkan kantong plastik itu.

"Tentu."

Rasanya lucu ketika Sakura harus mengingat bagaimana ia terus menghindar dari Itachi selama ini. Kemudian, dalam satu malam tak terduga, mereka dapat duduk seperti dua orang yang memiliki hubungan baik sambil memberi makan burung-burung. Ia juga jadi tahu lebih banyak tentang pria itu, juga permasalahan perkebunan keluarganya. Dan, bicara soal perkebunan, Sakura tiba-tiba mengingat pekerjaan Itachi di Konoha.

"Jadi, kau berhenti dari tempat ... ayahku?" tanyanya.

"Akan. Aku masih harus dua kali lagi ... ya, kau tahu," jawab Itachi.

Sakura mendengus geli saat menangkap kekikukan dalam jawaban Itachi. Seingatnya, pria itu bahkan bicara blak-blakan di depan pria-pria kencan buta gagal itu, juga Kakashi.

Ah, Kakashi. Entah apa reaksinya saat mengetahui Sakura berada di sini.

"Film terakhir?" tanya Sakura.

"Dan terbaik. Jiraiya yang menulis ceritanya sendiri."

Mendengar nama Jiraiya, Sakura tertawa manis. Manis bagi telinga pria di sampingnya. Di mata Sakura dan terlepas dari novel-novel stensil maupun film-film garapannya, Jiraiya adalah sesosok lelaki yang masih penuh semangat dan keceriaan di usianya yang mulai senja. Kadang seperti lupa usia dan itu lucu, tapi yang lebih lucu adalah jawaban Itachi barusan.

"Aku jadi bingung tentang apa yang kau minati," katanya. "Maksudku, kau tampak senang dengan pekerjaan anehmu itu, lalu kau juga sepertinya suka motor besar, kemudian kau juga antusias soal perkebunan."

Itachi menyeringai. "Kau memerhatikan?"

"Bu- ck!" Kata-kata Sakura tertelan dan ia malu. Ia pun membuang muka.

"Aku menyukai semuanya. Motor itu hanya suka saja. Soal perkebunan, aku memang sangat dan juga harus suka sebab itu bagian dari tanggung jawabku, sedangkan pekerjaan di tempat ayahmu ... ."

Sakura menoleh dan menatap Itachi. Ia penasaran saat pria itu menggantung perkataannya, seperti merasa berat untuk mengatakannya. Ia tidak akan memaksa pria itu untuk menjawab meski pikiran negatifnya meliar ke mana-mana. Itachi yang sadar akan tatapan menuduh Sakura pun merona dan wanita itu serius melihatnya sebagai ... entah, tapi si juru kamera nampak sedikit imut.

"Jangan menatapku begitu!" ujarnya sambil membuang muka. "Ini bukan hal yang wajar untuk dibicarakan dengan seorang wanita." katanya sebelum membatin, 'Wanita seperti dirimu.'

Uchiha Itachi mengatakan kewajaran? Wah!

"Baik, baik," balas Sakura, kemudian mengalihkan pandangan pada sandal jepit yang ia pakai. "Selera ibumu, hm ... muda, ya! Ibuku saja tidak memakai yang seperti ini lagi," lanjutnya sambil memainkan kaki.

"Itu milik kakak perempuanku saat sebelum menikah tiga tahun lalu," jawab Itachi.

Sakura tiba-tiba mengingat sebuah foto keluarga di ruang tengah rumah Itachi. Di sana juga ada seorang wanita yang lebih tua dari pria itu, juga seorang pria yang pasti suaminya serta seorang balita.

"Yang ada di foto keluarga itu? Warna rambutnya paling beda."

Hening. Saat itu, Sakura berpikir kalau-kalau ia baru saja salah bertanya sebab ia melihat Itachi bergeming sambil melempari biji jagung.

"Kami berbeda ibu. Dia lahir sebelum ayah dan ibuku menikah ... Kesalahan pria, katakanlah," jawab pria itu akhirnya.

Giliran Sakura yang terdiam, tertegun. Pertanyaannya memang salah. Perasaan salah itu pun tak mampu mencegah berbagai pertanyaan yang muncul di kepala, tentang mengapa keluarga Uchiha nampak baik-baik saja. Itachi hanya tersenyum tipis, memahami apa yang Sakura pikirkan.

"Ibu dari kakakku dulu adalah kekasih ayah, tapi dia menghilang dan ayah tak tahu kalau dia sedang mengandung. Setahun setelahnya, ayah menikah dengan ibu dan setelah Sasuke lahir, wanita itu tiba-tiba muncul membawa kakakku yang sudah berusia sembilan tahun," jelas Itachi.

"Dan ... ibumu marah," Sakura menerka.

"Hn. Awalnya. Tapi, ibu akhirnya menerima karena semua sudah terjadi dan ibu kandung kakakku meninggal setelahnya karena kecelakaan. Lagipula, ayah membuat kesalahan itu bahkan sebelum berkencan dengan ibu," ujar Itachi yang kemudian diikuti dengan sebuah dengusan. Mungkin dengusan geli.

Sakura pernah mendengar cerita seperti itu, tapi yang paling banyak adalah di cerita-cerita fiksi atau drama televisi. Tak ada dari orang-orang terdekatnya yang mengalami hal itu.

"Apakah ibumu bahagia?" tanyanya.

Itachi berpikir sejenak sebelum menjawabnya. "Bagi ibu, sebagai wanita yang sudah menikah, ada saatnya di mana kebahagiaan pribadi tidak begitu penting. Bagi pria juga sama sebenarnya."

Jawaban Itachi membuat Sakura lagi-lagi merenung dan ia merasa seperti menghadapi lelaki yang sama sekali berbeda dari yang selama ini ia tahu. Itachi yang di sampingnya sore itu adalah pria yang memiliki pemikiran dalam dan cukup bijak dalam memandang beberapa hal di hidupnya. Ia pun memandangi Itachi yang kembali melempar beberapa butir jagung untuk kawanan merpati. Semua yang Sakura lihat dan dengar hari ini tak sengaja menimbulkan gejolak di dadanya seperti riak yang masih begitu kecil. Namun, tanpa sadar dan juga tanpa melepaskan tatapan, membuatnya tersenyum lembut.

o

o

o

o

o

Bersambung...

A/N: Maaf, ya, kalau buat membangun chemistry mereka agak lambat. Logikanya, untuk sebuah perasaan antipati yang berubah jadi jatuh hati itu perlu empati dan simpati dulu wkwkwkwk. Baiklah, saatnya rumpi!

Cantik: Hola! Iya, saya pernah megang motor sport dan saya cewek tulen. Sampai motor 600 CC saya masih bisa bawa meski makin sulit, tapi di atas itu saya gak sanggup hahahaha. Hmmm Kakashi akan muncul sebentar lagi kok, tunggu aja. Waduh, kalau ngulang bagian akhir nanti makin panjang, kecuali kalau dirasa perlu. O, ya, tetep semangat buat bikin tugas, ya! Semoga cerita ini menghiburmu.

Avheril psychomonst49: Eh, ketemu lagi hahaha. Makasih, ya, udah sekali lagi baca cerita saya. Mudah-mudahan nanti kalau ada cerita baru lagi kamu bisa ngasih saran-saran. Iya, Sakura lebih defensif di sini karena keadaan kali ya. Emang bener zaman sekarang banyak cewek yang gak keberatan nikah di usia 'lewat', tapi yang banyak saya jumpai adalah yang kebalikannya hahaha. Sebenernya, ketika wanita gak takut nikah tua itu rata-rata udah kena pengaruh kemajuan zaman dengan segala bentuk 'pemberontakan' gender, sedangkan andai mereka mau jujur, wanita secara psikologis akan punya kebutuhan yg makin mendesar soal itu saat usianya hampir kepala 3. Yang lainnya bisa karena faktor trauma atau pertimbangan tertentu. Soal chemistry emang ya... gitu deh. Sejujurnya, kelemahan saya adalah bikin cerita fluffy, jadi bikin cerita ini buat saya lebih sulit daripada A Way huhuhu. Pokoknya, nanti saya coba supaya cerita ini manis. Selalu sehat juga, ya.

sitilafifah989: Wkwkwk si babang lagi mikir, antara takut dosa sama takut diomelin kayaknya. Tunggulah jawaban dia nanti hohoho.

Andromeda no Rei: Hai, Adinda wkwkwk! Nah, itu dia. Mbakyu pun bosen dengan setting kota-kota gede atau negara2 benua Amerika atau Eropa. Mending pake Konoha, desa asli, atau nyampur aja wkwkwk. Sebenernya aku juga gak tahu seluk beluk Aomori, aku cuma tahu kalau kota Hirosaki-nya itu penghasil apel terbesar dan itu cocok dipake buat latar belakang keluarganya Itachi. Soal ide, udah di PM ya hahahaha.

KanonAiko: Terima kasih kembaliii. Saya lega kamu suka dengan alur dan interaksi tokoh2 di sini. Emang pengen bikin yang less complicated conflict hehehe. Ikuti perjalanan ItaSaku, ya.

Michi-chan: Syukurlah kalau humornya nyampe soalnya saya lebih gampang bikin yang serius dan ngubek-ngubek emosi wkwkwkwk. Makasih buat semangatnyaaaa.

MelaniEdelstein: Nah, cerita ini ibaratnya air setelah A Way sebagai makanannya hahaha. Dan nanti Itachi pasti punya cara ngejelasin ke Mikoto, entah gimana wkwkwk. Hmmm Kakashi sebenernya punya alasan kenapa dia begitu, nanti kamu akan tahu muehehehe.

Baiklah, sekian dulu hari ini dan selamat membaca. Keep reviewing yaaaa. Muah!