THE SWEETEST TROUBLEMAKER
.
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
And OCs
.
ChanBaek (GS)
Romance (little bit Humor)
.
DON'T LIKE DON'T READ!
Happy Reading!
.
.
Baekhyun menekan klakson mobilnya cukup keras, lalu untuk ke sekian kalinya mengutuk cara kerja lalu lintas yang membuatnya terjebak di antara ratusan mobil yang berderet rapat di kemacetan.
Itu buruk.
Bahkan mulut kecilnya tak henti-hentinya merapalkan gerutuan pada si pelaku yang terus-menerus membuat ponselnya tak berhenti berdering.
Kesal. Akhirnya si gadis meraih ponsel yang tergeletak di atas dashboard lalu menggeser tombol hijau, menjawab panggilan masuk. "Sudah kubilang biarkan aku sendiri, Tao!" Geram gadis itu tanpa mengindahkan segala kalimat penuh nada cemas yang Tao lontarkan di seberang sana. "Untuk apa aku pulang... Tidak... Berhenti mencemaskanku... Aku tidak akan mau bicara lagi padamu jika kau bersikeras mencari keberadaanku... Aku tidak peduli, lagipula kakek tua sudah bilang 'kan dia tidak akan pulang... Cukup... Jangan coba-coba mencari keberadaanku!" Final Baekhyun, memutus sambungan telepon secaara sepihak. Lalu setelahnya membuka kaca mobil dan menjulurkan setengah kepalanya keluar. "Hei idiot! Kau akan mati di tanganku jika sepeda motor sialanmu itu menggores mobilku!" Teriak si mungil dengan marah pada si pengendara motor yang menyalip dengan kecepatan tinggi melalui celah kecil di tengah kemacetan panjang.
Idiot!
Baekhyun kembali pada posisinya semula, lalu menghela napas panjang sembari menelisik ponsel yang masih berada di tangannya.
Sebelumnya ia tidak pernah bersitegang dengan Tao. Oh atau setidaknya tidak kecuali pada waktu-waktu tertentu.
Katakan saja bahwa Baekhyun akan selalu berdebat dengan Tao di hari ulang tahunnya.
Okay, itu terdengar aneh namun jika kakek tua mengabarkan bahwa beliau tidak punya cukup waktu untuk sekedar memberi jeda pada perjalanan bisnisnya dan berada di rumah serta memberi waktunya untuk Baekhyun, maka sudah menjadi kebiasaan Baekhyun membuat seluruh pelayannya kebakaran jenggot karena gadis itu akan selalu melarikan diri jauh dari rumah.
Hal yang memicu sikap protective Tao menjadi-jadi dan berakhir dengan membuat ponsel Baekhyun berdering tanpa jeda.
Namun seperti yang kerap terjadi, Tao akan kalah atau terlalu mengerti bagaimana perasaan Baekhyun dan membiarkan gadis itu seorang diri, memberinya waktu untuk sekedar meredakan segala hal yang membuatnya marah.
Ya. Baekhyun memang akan sekalut itu di hari ulang tahunnya sendiri.
Gadis itu baru akan mengalihkan atensi jika saja layar ponselnya tidak kembali menyala. Bukan sebuah panggilan namun satu notifikasi dari akun sosial media miliknya.
p_cy sent you a message
Baekhyun mengernyit heran, salahkan saja lelaki itu karena setelah sepekan pertemuan terakhir mereka pasca pulang dari hutan belantara dia tidak pernah muncul atau sekedar tertangkap oleh atensi Baekhyun sama sekali.
Oh. Jangan salah paham, Baekhyun tidak peduli atau bahkan merindukannya.
Astaga. Tidak.
Baekhyun tidak merindukannya, meski akhir-akhir ini gadis itu kerap bersungut-sungut pada hal yang bahkan terkesan sepele, seperti memarahi salah satu pelayannya karena lupa memberi perisa lemon pada tehnya, atau pada kesalahan kecil yang Tao lakukan seperti terlambat dua menit membangunkan Baekhyun -yang beralasan dia akan telat ke kampus- padahal sebelumnya gadis itu akan sangat berterimakasih pada Tao jika pengawal pribadinya itu tidak membangunkannya sama sekali.
Byun Baekhyun memang tidak pandai menahan emosi terlebih ketika ia tengah merindukan seseorang.
Astaga. Baekhyun tegaskan sekali lagi, ia tidak merindukan berandalan itu. Okay?
Baekhyun masih mempertahankan atensinya pada layar ponsel, tengah bertanya-tanya mengapa baru sekarang lelaki itu menghubunginya?
Si gadis menggeleng pelan sebelum kemudian membuka pesan dari Chanyeol.
Baekhyun kembali mengernyit saat Chanyeol mengirimkan sebuah gambar, salah satu foto yang Baekhyun posting dimana gadis itu tengah memamerkan tattoo yang lelaki itu buat.
Delete it, now!
Satu kalimat singkat namun penuh perintah itu mau tidak mau membuat saliva Baekhyun tertelan dengan susah payah, membayangkan wajah galak seorang Park Chanyeol yang tak terbantahkan membuat gadis itu merengut sempurna sebelum kemudian menuruti perintah lelaki tersebut. Baekhyun tidak tahu apa yang salah dengan postingannya itu meski pada akhirnya ia benar-benar menghapusnya.
Park Chanyeol memang makhluk yang Baekhyun yakini berasal dari peradaban sunyi senyap, hingga membuat lelaki itu kerap jarang bersuara. Namun jelas, diamnya lelaki itu mengartikan banyak hal.
Baekhyun mulai sibuk mengotak-atik layar ponsel, kemacetan panjang yang tidak tahu kapan akan berakhir tersebut membuatnya bosan setengah mati, maka dari itu Baekhyun memilih memposting atau lebih tepatnya akan memamerkan kecantikannya yang hakiki kepada para penggemarnya, namun niatnya tersebut terinterupsi saat ia tak sengaja menekan tombol home pada aplikasi sosial media tersebut.
Baekhyun menutup mulut, matanya terbuka lebar penuh kejutan, bukan sejenis ekspresi kaget sepeti telah melihat hantu Casper beserta kawanannya namun lebih ke binar antusias saat netranya tertuju pada satu gambar yang baru saja Chanyeol posting.
Baekhyun menjatuhkan ponselnya dengan dramatis lalu meraihnya kembali, gadis itu kembali menutup mulut, menyembunyikan senyumannya. "Astaga!" Pekikinya lalu kembalisi menjatuhkan ponselnya ke kursi di sebelah, meraih kembali dan meneliti layar ponselnya. "Sial, kau tampan sekali!" Geramnya sembari mencengkram kedua sisi ponsel dengan gemas.
Si gadis terkekeh kecil. "Ya Tuhan. Apa yang harus aku lakukan? Park Chanyeol seksi sekali." Gumamnya lagi sambil memperhatikan pose yang Chanyeol ambil ketika berfoto.
Lelaki itu berada dalam posisi tidur tertelungkup,dan memotret setengah wajahnya dalam close up mode.
Astaga! Bolehkan Baekhyun mengecup dahi cemerlang itu?
Dan..
Apa lelaki itu tidak mengenakan pakaian?
Baekhyun melolot sempurna saat menyadari bahu telanjang Park Chanyeol sedikit terekspos.
Oh itu tidak bisa dibiarkan.
Baekhyun bahkan tidak bisa menahan rasa kesal saat membaca beberapa komentar yang memuji betapa tampan dan seksinya lelaki itu.
Demi Tuhan.
Hanya Baekhyun lah yang boleh melihat dan mengetahui seberapa seksinya lelaki itu.
Dia atau bahkan seluruh tubuhnya adalah aset berharga yang harus Baekhyun jaga dan hindarkan dari setiap pasang mata.
Berani sekali Park Chanyeol memamerkannya.
Itu milik Baekhyun. Okay?
Oh tidak. Maksudnya sampai kutukan Baekhyun sirna segala hal yang melekat dalam diri Park Chanyeol adalah mutlak hak Byun Baekhyun seorang.
Dengan geram Baekhyun menuliskan komentar dan meminta lelaki itu menghapus postingannya tersebut, namun balasan yang Baekhyun terima justru membuat gadis itu semakin bertambah kesal.
Apa Park Chanyeol akan terus mengacuhkannya seperti itu?
Berani sekali!
Satu notifikasi kembali terpampang di layar ponsel Baekhyun.
p_cy sent you a message
I was going through my gallery and found these weird photos. What exactly have you done with my phone?
Mata Baekhyun kembali melebar saat foto-foto yang menampakkan kecantikannya yang berharga harus ternodai oleh satu kalimat tercela seperti.. "Weird photos kau bilang?!" Baekhyun mendesis marah.
Tidak tahukah Park Chanyeol bahwa dia adalah satu-satunya lelaki paling beruntung yang mana ponselnya Baekhyun gunakan untuk mengabadikan kecantikannya yang bahkan mengalahkan pemenang ajang kontes ratu sejagat tersebut?
Baekhyun mengibaskan tangannya berkali-kali karena mendadak suhu tubuhnya naik.
Oh ia benar-benar merasa terhina.
Andai saja Park Chanyeol tidak tampan, mungkin akan sulit memaafkan perangainya yang sok polos atau bahkan terkesan begitu naif tersebut.
Namun Baekhyun tetap tidak bisa membiarkan harga dirinya terluka lebih jauh, ia butuh menemui lelaki itu sekarang juga.
"Awas saja kau, Park Chanyeol." Geram si mungil dengan desahan lega karena kemacetan yang sedari tadi menjebaknya mulai terurai.
Sebelumnya Baekhyun mencari salah satu nomor yang terpampang di daftar kontak sebelum kemudian menghubunginya.
"Eonni!" Teriakan Wendy terdengar memebuhi seisi mobil.
Baekhyun menginjak pedal gas lalu mengendarai mobilnya dalam kecepatan sedang.
"Wendy-a.. Kau di mana?"
"Oh? Aku di rumah, ada apa Eonni?"
Baekhyun tersenyum kecil, tidak menyangka bahwa ia bisa berteman dengan Wendy, dan ternyata gadis itu cukup menyenangkan.
"Umm tidak, aku hanya ingin bertanya. Apa kau tahu di mana Park Chanyeol sekarang?"
"Pangeran Dobby?"
"Err- Ya."
Ada jeda sejenak, Baekhyun sedikit gugup karena bisa saja Wendy berpikiran yang tidak-tidak.
"Pangeran Dobby pergi ke finess center dengan Johnny. Tadi dia mengabariku."
"Johnny memberitahumu?"
"Ya. Dia selalu melapor padaku setiap akan pergi kemanapun."
"Whoa. Romantis sekali." Baekhyun terkekeh, bermaksud menggoda Wendy dan ia berhasil.
Baekhyun tertawa mendengar gerutuan Wendy dengan segala penyangkalan terkait apa yang menyangkut dirinya dengan Johhny.
"Oh baiklah. Terimakasih." Baekhyun memutus sambungan telepon lalu mempercepat laju kendaraan, fitness center adalah tempat yang akan ia tuju.
"Berani sekali kau, Park Chanyeol." Gumam si gadis lagi setelah memantapkan niatnya untuk menghardik Chanyeol karena telah berani mengabaikannya.
Si gadis keluar dari mobil saat ia sudah sampai di tempat tujuan. "Apa ini? Bangunan ini terlihat seperti tak berpenghuni." Baekhyun sedikit ragu ketika akan melangkah memasuki pelataran gedung minimalis yang terkesan usang tersebut. "Apa benar ini fitness center?" si mungil bertanya pada salah seorang yang melenggang di hadapannya.
Baekhyun justru semakin mengernyit saat orang tersebut mengangguk.
Merasa tidak ada pilihan lain, gadis itu akhirnya melangkah, menapaki tangga menuju lantai dua.
Ada sebuah pintu besi yang kini berdiri kokoh di hadapannya, Baekhyun membalikkan badan dan melirik ke berbagai arah dengan ragu sebelum kemudian mengangkat bahu acuh dan meraih knop pintu.
Baekhyun mematung dan menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang sesaat lalu ia tutup. Tempat yang kini ia pijak memang sebuah pusat kebugaran, terbukti dari beberapa alat olahraga yang memenuhi setiap sudut ruangan dan tertata dengan rapi, meski Baekhyun masih sedikit dibuat heran karena tempat tersebut sama sunyinya seperti kuburan. Hanya terdengar suara pukulan keras yang dilayangkan beberapa kali secara teratur.
Baekhyun mengedarkan pandangan untuk mencari sumber suara, ia melangkah lebih jauh dan ketika kakinya berdiri di kawasan exercise class, beberapa meter dari tempatnya berpijak tersebut Baekhyun dapat melihat seorang lelaki yang hanya mengenakan celana olahraga sebatas lutut tengah sibuk melayangkan pukulan pada sebuah samsak yang menggantung di atas ring tinju.
Rahang Baekhyun nyaris menyentuh lantai. Gadis itu bahkan tidak peduli jika ada hewan kecil bersayap yang masuk ke dalam mulutnya yang saat ini tengah menganga sempurna.
Apakah lelaki dengan tubuh mengilat setengah telanjang yang saat ini memenuhi indera penglihatan benar-benar Park Chanyeol?
Baekhyun menggeleng. Ia yakin lelaki itu bukan Park Chanyeol melainkan jelmaan iblis penggoda yang dikirim oleh penyihir jahat untuk membuat seluruh saraf dalam tubuh Baekhyun lumpuh seketika.
"Oh aku ingin menjilatnya." Gumam Baekhyun dengan liar sambil sesekali menelan lapar.
Chanyeol masih tak menyadari kehadiran si mungil, lelaki itu melayangkan pukulan terakhir sebelum kemudian membiarkan tubuhnya terkapar di atas lantai ring tinju.
Ia terlihat tidak masuk akal dalam keadaan terengah dan basah tersebut.
Demi Tuhan.
Baekhyun gemas bukan main, gadis itu kembali melangkah, tak membutuhkan waktu lama sebelum akhirnya ia berhasil berdiri di atas ring dan memperhatikan si tampan yang masih terkapar dan terpejam.
Astaga. Aku benar-benar ingin melumatnya. Batin Baekhyun dengan kadar kemesuman tak tekendali.
Persetan!
Baekhyun tidak cukup iman untuk tahan oleh godaan menggiurkan yang saat ini terpampang nyata di hadapannya.
Gadis itu membungkuk lalu dengan pelan ia merangkak di atas permukaan lantai ring sebelum kemudian gerak liarnya menuntun tubuh mungil itu perlahan naik keatas tubuh raksasa yang kini mulai bereaksi.
Ya Tuhan. Baekhyun menggilai aroma keringatnya.
Chanyeol terkejut bukan main saat merasa tubuhnya tertindih, lelaki itu membuka mata dengan ekspresi tidak percaya sementara korneanya sudah lebih dulu melebar dua kali lipat.
Terpejam sekali lagi, Chanyeol menghembuskan napas pelan setelahnya."Sedang apa kau di sini?"
Hei! Itu bukan pertanyaan yang tepat ia layangkan pada sosok mungil yang bahkan tengah sibuk merangkak naik ke atas tubuh setengah telanjangnya.
Oh, Baekhyun bahkan mengakhirinya semena-mena, menumpukan kedua tangan di atas dada bidang si lelaki seraya melempar ekspresi wajah jenaka seolah ia adalah makhluk paling lucu sejagat raya. "Annyeong." Sapa Baekhyun dengan nada lucu sembari menangkup wajah sementara kedua kakinya sudah lebih dulu bergerak teratur dalam posisi terlipat.
Chanyeol kesulitan bergerak.
"Apa aku berat?" Baekhyun memicing tajam saat dirasanya Chanyeol melempar wajah tidak nyaman.
Lelaki itu menggelang lalu membawa kedua lengannya ke belakang kepala, menjadikannya bantal.
Baekhyun menundukan kepalanya sedikit lebih dalam lalu menelisik beberapa tattoo yang terlukis apik di area selangka Chanyeol dengan seksama.
"Kau tidak mau turun?" Tanya Chanyeol lagi sambil mengawasi si mungil yang mulai tidak bisa diam di atas tubuhnya.
Baekhyun menggeleng. Lalu menyapukan jari telunjuk di sekitar dada Chanyeol dengan gerak seduktif.
Oh astaga!
Mengapa Chanyeol tidak merasa terganggu sama sekali dengan kelakuan Baekhyun yang sangat di luar batas tersebut?
Mengapa seolah Chanyeol harus terbiasa dan memaklumi segala tingkah pola gadis tersebut?
"Whoa. Setelah dilihat dari dekat, tubuhmu benar-benar bagus." Gumam si mungil sembari menempelkan hidungnya di atas permukaan leher Chanyeol.
Gadis itu berkata jujur.
Tubuh Park Chanyeol benar-benar bagus. Sangat ideal dalam artian lelaki itu bukan tipikal pemuda kurus tak bergizi namun juga jelas bukanlah sesosok binaragawan bertubuh kekar dipenuhi urat-urat menonjol.
Chanyeol adalah kesepedanan.
"Baekhyun, jangan berulah." Chanyeol mengingatkan saat hembusan napas hangat Baekhyun menerpa kulit lehernya yang sensitif.
Baekhyun bergidik, itu tidak akan terjadi jika saja Chanyeol tidak mengatakannya sembari berbisik dan setengah mendesah.
"Aku benar-benar ingin menjilatnya, boleh?" Tanya Baekhyun dengan wajah memohon penuh binar menggemaskan.
Chanyeol nyaris terkecoh.
"Tidak. Sekarang turun dari tubuhku." Tegas lelaki itu.
Baekhyun merengut lalu menggeleng keras, di detik berikutnya ia menenggelamkan wajah di atas dada bidang dan melingkarkan lengannya di sekitar leher Chanyeol.
"Astaga. Jangan coba-coba merajuk seperti itu. Aku tidak akan tertipu." Chanyeol mendesis kecil.
Kesabarannya memang akan selalu dipertaruhkan jika ia sudah dihadapkan dengan seorang gadis bernama Byun Baekhyun.
Baekhyun meremas lengan Chanyeol dengan kesal, hal yang membuat satu tangan lelaki itu dengan refleks memegang pinggang ramping Baekhyun, sedikit posesif.
Chanyeol kembali mendengus kecil. Lalu setelahnya ada sunyi yang mengudara cukup lama.
"Apa kau sering diet?"
Baekhyun yang tengah sibuk mengacak-acak rambut basah Chanyeol berhenti lalu menatap lelaki di bawahnya. "Tidak. Kenapa? Ahh aku tahu, tubuhku memang bagus dan ideal." Sahutnya percaya diri.
Chanyeol berdecak. "Kau sangat ringan." Tukasnya acuh lalu kembali memejamkan mata.
Baekhyun mengangkat bahu lalu bersenandung kecil sembari memaikan jakun Chanyeol yang menonjol dan terlihat lucu baginya. Sesekali ia terkekeh saat dilihatnya Chanyeol mengernyit terganggu dengan ulahnya. Meski lelaki tidak melayangkan sedikitpun protes akan segala tingkah laku Baekhyun saat ini.
Hal yang membuat si gadis mau tidak mau tersenyum senang. Ia bahkan melupakan niat awal untuk menghardik lelaki itu karena berani mengabaikannya. Oh sungguh, berakhir dengan berada di atas tubuh setengah telanjang Park Chanyeol, menyesap aroma keringatnya, meremas otot-otot seksinya tidak terbesit sama sekali di dalam benak Baekhyun sebelumnya.
"Park Chanyeol.."
"Hn." Dengan mata yang masih terpejam Chanyeol menyahuti si mungil yang terdengar mulai merengek.
"Apa aku boleh menghitung otot perutmu?"
"Tidak."
"Kenapa tidak?" Baekhyun terdengar protes.
Chanyeol membuka mata lalu mengerutkan dahinya sempurna. Amat heran, apa gadis itu tidak merasa ada yang mulai bereaksi di bawah sana?
Oh. Chanyeol setengah telanjang, posisinya tertindih tubuh Baekhyun, seluruh pergerakannya terkunci, belum lagi tangan nakal si mungil yang senantiasa bergerilya pada setiap inci kulit sensitifnya. Dan yang paling masuk akal, Chanyeol adalah seorang lelaki, muda, bugar dan normal. Jadi wajar saja jika ada yang bereaksi di bawah sana, okay?
"Baekhyun, bisakah kau turun sekarang? Kumohon." Chanyeol menggeram kecil.
Jika terus seperti ini, maka sisi kelelakiannya akan semakin terprovokasi.
Baekhyun sedikit mengangkat tubuhnya, membuat rambutnya yang tergerai menyapu lembut sebagian wajah Chanyeol. "Ijinkan aku menjilat lehermu terlebih dahulu." Tukasnya bernegosiasi.
"Baekhyun, leherku berkeringat. Dan keringat itu rasanya tidak enak." Sahut Chanyeol mencoba memberi pengertian dengan kalimat yang teramat polos.
"Benarkah?" Baekhyun mengernyit tidak suka.
Chanyeol mengangguk, meyakinkan. Sebelah tangannya terulur menyelipkan anak rambut Baekhyun ke belakang telinga.
"Baiklah, lima menit lagi." Tukas Baekhyun dengan nada lesu lalu kembali menenggelamkan sisi wajahnya dengan manja pada dada Chanyeol.
Mata Baekhyun terpejam, irama detak jantung Chanyeol yang terdengar oleh telinga kanannya membuat gadis itu merasa tenang. Suasana hati Baekhyun pun perlahan membaik, bahkan dilupakannya segala perasaan sedih, marah, kesal mengingat betapa buruknya hari ini.
Chanyeol semakin tidak nyaman saat ini, ia benar-benar terprovokasi. Dan lelaki itu pikir cara satu-satunya agar terbebas dari belenggu Baekhyun adalah dengan memaksa gadis itu turun dari tubuhnya. Dan ketika tangannya mencoba mencengkram pinggul Baekhyun dengan maksud membuat gadis itu beranjak dari tubuhnya, sebuah suara seorang wanita yang amat ia kenali terdengar.
"Park Chanyeol.." Cicit Irene tidak percaya dengan apa yang ia saksikan saat ini. Wanita itu mematung, berdiri beberapa meter di bawah ring tinju. Terkejut luar biasa adalah hal yang paling mendominasi ekspresi wajahnya saat ini, perlahan semburat merah yang sarat akan amarah pun terpatri di kedua pipinya.
Demi Tuhan.
Irena yakin Chanyeol tidak pernah dekat dengan wanita lain selain dirinya, maka menyaksikan lelaki itu dalam posisi yang begitu intim saat ini dengan wanita lain entah mengapa membuat Irene begitu syok, perlahan ada denyut tak nyaman yang memenuhi seluruh sarafnya, meski ia tetap mengelak bahwa perasaan asing itu bukanlah cemburu.
Chanyeol melirik ke sumber suara, sejenak ia pun merasa terkejut mendapati Irene berada di sana.
Aku hanya menganggapnya sebagai adikku. Aku menyayangi Chanyeol seperti aku menyayangi adikku sendiri.
Si lelaki mengeraskan wajah, tanpa berkeinginan bangkit untuk sekedar memperbaiki posisinya, ditatapnya Irene dengan sorot dingin kentara.
Irene menggeleng pelan. Tidak percaya bahwa Park Chanyeol yang selama ini selalu melempar senyum lembut penuh kasih sayang terhadapnya kini justru melayangkan tatap dingin yang membuat seluruh tubuh Irene menggigil seketika.
Baekhyun membuka mata sesaat setelah mendengar suara seorang wanita, namun ia tidak terkejut sama sekali mendapati Irene, wanita yang tidak ia sukai itu berada di sana. Lalu atensi Baekhyun beralih pada Chanyeol, ia mengernyit melihat ekspresi wajah Chanyeol yang mengeras, terlihat marah dan ditujukan kepada Irene.
"Oh baiklah." Gumam Baekhyun, mencoba mengerti situasi. Sepertinya dua orang itu sedang terlibat masalah. Gadis itu perlahan bergerak, mencoba menyingkir dari tubuh Chanyeol. Namun belum lagi ia berhasil bangkit, sebelah tangan Chanyeol sudah lebih melingkar di pinggangnya, posesif, dan mengunci pergerakan Baekhyun.
"A-apa yang kau lakukan?" Beo Baekhyun tida percaya.
Chanyeol tidak menyahut, atensinya masih tertuju pada Irene.
"Park Chanyeol, lepaskan aku." Desis Baekhyun saat Chanyeol mulai mengeratkan tangannya di sekitar pinggang Baekhyun.
Irene menggigit bibirnya cukup keras. Cara Chanyeol mendekap Baekhyun sembari menatap dingin kearahnya.
Irene tidak mengerti ada apa dengan Park Chanyeol saat ini? Mengapa ia terlihat marah kepadanya? Apa kesalahan yang telah Irena lakukan?
Yang wanita itu tidak tahu dan sadari bahwa mungkin saja Chanyeol tengah mencoba membuatnya cemburu.
Meski sebenarnya Chanyeol merasa tidak sepenuhnya seperti itu, ia hanya ingin membuat Irene tahu bahwa perlahan Chanyeol mempunyai prioritas lain. Bahwa mungkin di masa yang akan datang posisi Irene akan tergeser.
Baekhyun memukul dada Chanyeol berkali-kali. "Lepaskan aku, Park Chanyeol." Gadis itu meringis. "Sakit!" Ia meronta kecil saat tanpa sadar Chanyeol meremas pinggulnya cukup keras.
Namun lelaki itu tetap bergeming, tak diindahkannya si mungil yang tengah meronta di atas tubuhnya. Ia hanya ingin memuaskan keinginannya.
Irene mendengus kasar, melempar wajah sinis lalu berbalik dan berlalu dari tempat itu.
Setelah Irene lenyap dari atensinya, Chanyeol memejamkan mata, mengatur helaan napas yang sedikit memburu. Lalu alangkah terkejutnya ia saat menyadari bahwa tangannya masih meremas pinggul Baekhyun dengan cukup keras. Di tatapnya si mungil yang tengah terengah dengan wajah memerah marah.
Baekhyun berontak sekali lagi lalu dengan gerak cepat beranjak dari tubuh Chanyeol diselingi ringisan kecil karena rasa ngilu di bagian pinggulnya.
"Apa aku terlihat semudah itu untuk kau jadikan tameng dan membuat wanitamu itu cemburu, begitu?" Baekhyun meraung marah. Lalu di detik berikutnya ia berbalik dan hendak pergi dari tempat itu namun Chanyeol meraih pergelangan tangannya.
"Lepaskan aku, brengsek!" Gadis itu kembali bersungut-sungut.
Tidak sulit mengartikan perbuatan Chanyeol terhadapnya beberapa saat lalu terlebih Irene berada di sana. Baekhyun tahu lelaki itu tengah mencoba membuat Irene cemburu dengan memanfaatkan dirinya.
"Baekhyun, aku.." Chanyeol menggantung kalimatnya, ia tidak tahu baru berkata apa karena ia sadar apa yang ia lakukan beberapa saat lalu adalah sebuah kesalahan. Dan itu benar-benar fatal.
Chanyeol tidak pernah kekanakkan seperti itu. Demi Tuhan, bahkan untuk memanfaatkan dan menyakiti orang lain demi kepuasannya sendiri adalah hal yang tidak pernah terbesit dalam benaknya.
Apa yang sebenarnya sudah ia lakukan?
"Aku membencimu, Park Chanyeol." Cicit Baekhyun lalu berbalik dengan langkah tertatih sembari memegangi sebelah pinggulnya dan berlalu dari tempat itu.
"Apa yang terjadi?"
Chanyeol yang tengah meremas rabutnya frustasi lalu menoleh pada Johnny yang baru saja kembali.
"Aku bertemu dengan Irene dan Baekhyun di depan." Johnny menukas. "Dua-duanya terlihat tidak bersahabat. Apa yang terjadi?" Tanyanya lagi sembari melempar minuman kepada temannya.
Chanyeol terduduk lesu di atas ring sebelum kemudian meneguk minumannya.
"Well, berurusan dengan dua wanita memang memusingkan, bukan? Lagipula sejak kapan kau beralih profesi menjadi pemain wanita, huh?" Gurau Johnny sembari mengangkat bahu lalu tertawa saat Chanyeol melemparnya dengan kaleng minuman yang sudah kosong.
"Aku yakin masalahmu lebih rumit. Ayolah, jangan membuat Wendy menunggu terlalu lama." Chanyeol bangkit lalu terkekeh ketika mendengar Johnny memaki kecil di belakangnya.
.
.
The Sweetest Troublemaker
.
.
"B, sebenarnya kau di mana?" Luhan bertanya sesaat setelah menempelkan ponselnya ke telinga.
"Jangan banyak tanya, jika Tao Eonni menghubungimu atau Kyungsoo bilang saja aku bersama kalian."
Luhan mengerutkan dahi, ada yang aneh dengan Baekhyun.
Oh, maksud Luhan temannya itu lebih aneh dari biasanya.
"Apa kau baik-baik saja?" Luhan kembali bertanya, sementara sebelah tangannya masih sibuk menelusuri deretan buku, mencari satu dari sekian banyak yang berjajar rapi dalam satu klasifikasi.
"Ya. Aku baik."
Luhan mendengus pelan. "Kau tahu, B? Aku akan sangat senang jika kau melarikan diri ke rumahku atau Kyungsoo." Gumam Luhan. "Kau sering melakukan ini di hari ulang tahunmu, tapi kau sama sekali tidak mau berkeluh kesah kepadaku atau Kyungsoo. Kita teman 'kan?"
Ada jeda panjang di seberang sana, tak membutuhkan indera ke enam bagi Luhan untuk tahu apa yang tengah Baekhyun lakukan, gadis nakal itu pasti sedang duduk di suatu tempat, sendirian, merengut dengan mata berkaca-kaca.
"Ingat pesanku, jangan membuat Tao Eonni cemas. Katakan saja aku bersamamu." Baekhyun menukas, mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah, tenangkan dulu pikiranmu. Kau tahu 'kan pintu rumahku selalu terbuka untukmu? Dan ingat aku tidak akan mengampunimu jika kau melakukan hal-hal bodoh seperti tahun lalu." Ancam Luhan.
"Hn."
Luhan masih menatap layar ponselnya dengan gusar sesaat setelah Baekhyun memutus sambungan telepon.
"Bagaimana, Lu? Di mana Baekhyun?" Kyungsoo yang baru muncul di balik rak buku sebelahnya bertanya dengan air muka yang tak kalah cemas dari Luhan.
Luhan menggeleng pelan.
Dengusan pelan lolos dari hidung Kyungsoo. "Mungkin dia masih ingin sendiri, kita harus memakluminya." Gadis itu mencoba menenangkan temannya. "Apa kau sudah dapat bukunya?"
"Oh, masih belum. Kau duluan saja, nanti aku menyusul." Sahut Luhan sembari menepuk bahu Kyungsoo.
Kyungsoo mengangguk sebelum kemudian berbalik dan berlalu dari perpustakaan.
Sementara Luhan kembali sibuk menyapukan atensinya pada deretan buku, mencari salah satu yang tengah ia perlukan. Mata rusanya beralih pada deretan paling atas lalu di detik berikutnya ia berbinar senang karena buku yang ia cari berada di sana. Luhan mengulurkan tangan untuk meraih buku tersebut namun sayang ia harus kembali mengutuk tinggi badannya yang menyebalkan.
Ya, gadis itu kesulitan untuk menggapai buku tersebut.
Luhan masih mencoba dengan berbagai upaya, mulai dari menjinjit hingga melompat namun usahanya tersebut sia-sia. Gadis itu kembali mencoba mengulurkan tangan setinggi mungkin namun pada saat yang sama sebuah tangan lain ikut terulur pada buku yang sama.
"Ini akibat malas minum susu."
Luhan mematung, masih belum berani membalikan badan untuk sekedar mencari tahu si pemilik suara yang saat ini berdiri rapat di belakang tubuhnya.
Astaga, Luhan bahkan dapat merasakan punggungnya bergesekan dengan dada bidang seorang lelaki.
"Bukumu." Lelaki itu kembali bersuara seraya menyerahkan buku yang sedari tadi Luhan coba ambil dengan susah payah.
Setelah mengumpulkan keberanian, dan setelah menghabiskan beberapa liter saliva yang ia telah dengan sulit, Luhan akhirnya memilih untuk berbalik.
Dan ternyata dugaannya benar.
Lelaki yang membantunya mengambil buku, bersuara rendah, beraroma citrus bercampur woody yang bahkan dapat Luhan cium dari belakang tersebut benar-benar Oh Sehun.
Refleks, Luhan memundurkan tubuh saat hidungnya nyaris menempel pada dada Sehun, namun lorong perpustakaan tidak selebar itu untuk membuat tubuh keduanya berjarak sedikit lebih jauh, karena itu punggung Luhan secara otomatis menabrak rak buku di belakangnya.
"Hei, hati-hati!" Sehun berseru pelan, sebelah tangannya dengan sigap melingkar di pinggang Luhan dan menarik wanita ke dalam dekap bermaksud menghindarkan kepalanya dari buku tebal yang tidak sengaja jatuh. "Kau baik-baik saja? Apa kau terluka?" Sehun bertanya panik sesaat setelah melepas dekapannya.
Kerongkongan Luhan tercekat, apa yang baru saja terjadi?
Luhan merasa ia baru saja di peluk oleh Sehun, apa benar begitu adanya? Apa ia tidak sedang berkhayal?
Luhan menggeleng, gadis itu yakin bahwa ia sudah gila.
"Wajahmu, merah?" Sehun kembali mengernyit dalam lalu tangannya terulur menyentuh pipi Luhan. "Tidak deman." Gumamnya keheranan.
Gawat! Jika terus seperti ini makan Luhan yakin seluruh tubuhnya akan mencair seperti agar-agar. Maka dengan tangan yang bergetar hebat, gadis itu meraih buka yang berada di tangan Sehun, membungkuk singkat, lalu berlari terkocar-kacir tanpa sepatah kata pun.
Sehun menggaruk tengkuknya kebingungan. "Bukankah dia temannya B Noona?" Gumam lelaki itu, lalu kembali melirik pada pintu keluar perpustakaan, ditatapnya dengan seksama sebelum kemudian sudut bibitnya terangkat, tersenyum kecil. "How cute." Finalnya sembari menggeleng-gelengkan kepala maklum.
.
.
Untuk ke sekian kalinya Jongin harus mengutuk, tugas akhir kuliah yang begitu menyita waktu itu mau tidak mau membuat lelaki itu harus hilir mudik, keluar masuk perpustakaan yang selama eksistensinya sebagai mahasiswa hanya pernah ia datangi satu kali, itu pun karena Wendy yang menyeretnya dengan paksa.
Namun kali ini ia pergi bersama Sehun yang ia yakini masih berada di dalam perpustakaan yang tepatnya berada di pusat kota tersebut.
Jongin berdiri di depan vending machine lalu membungkuk saat minuman yang ia beli keluar secara otomatis. Membuka tutup kaleng, lalu meneguknya pelan. Setelahnya ia berjalan menuju tangga yang menghubungkan lantai satu dan lantai dua perpustakaan untuk mencari udara segar di sekitar rooftop, namun belum lagi kakinya melangkah pada anak tangga, ia sudah lebih dulu memaki ketika netranya menangkap kulit pisang yang tergeletak di anak tangga ke lima. "Sial! Siapa yang membuang sampah sembarangan?"
Jongin baru akan melangkah dan memungut sampah tersebut namun ia sudah lebih dulu melihat seorang gadis yang tengah menuruni tangga dan terlihat sibuk dengan ponselnya. "Awas, jangan injak itu!" Jongin berseru panik, namun sia-sia saja suara melengking puluhan oktafnya tersebut karena ia terlambat, gadis itu sudah lebih dulu menginjak kulit pisang tersebut.
Kyungsoo terpekik kaget, ia bisa jatuh dengan tidak elit atau lebih parahnya kepalanya terbentur dan berdarah lalu gegar otak jika saja sepasang lengan tidak dengan sigap merangkul tubuhnya, menahan punggungnya ke dalam adegan yang kerap ia jumpai di drama-drama televisi.
Jongin membungkuk, kedua tangannya masih menahan tubuh Kyungsoo. Ditatapnya si gadis yang berada dalam posisi lebih rendah darinya tersebut.
Tunggu. Kyungsoo merasa tidak asing, di mana ia pernah lihat wajah mesum yang berjarak beberapa senti dari atensinya tersebut?
Masih merangkul tubuh Kyungsoo, Jongin menoleh sejenak pada tangga lalu kembali pada Kyungsoo. "Apa kau jatuh dari tangga itu?"
Kyungsoo mengernyit dengan pertanyaan yang ia yakin tidak memiliki jawaban tersebut. Terang saja, gadis itu tidak mengerti maksudnya, sudah jelas ia jatuh dari tangga mengapa lelaki itu bertanya demikian?
Oh Tuhan, Kyungsoo ingin mencakar wajah mesum itu.
"Jawab aku!" Jongin mendesak dengan suara tegas sementara matanya sudah memicing kearah Kyungsoo.
"Apa maksudmu?" Balas Kyungsoo mulai tidak nyaman. Kapan lelaki itu akan melepas rangkulannya?
"Apa kau yakin jatuh dari tangga bukan dari langit ke tujuh?" Jongin menggigit mulut bagian dalam, lalu menaik turunkan kedua alis dengan ekspresi jahil.
Kyungsoo mengerjap berkali-kali, lalu di detik berikutnya ia sadar bahwa Jongin tengah menggodanya. Gadis itu mendorong dada Jongin cukup keras berupaya lepas dari rangkulan lelaki tersebut. "Berani sekali kau menggodaku! Dasar kau laki-laki-berwajah-mesum-bodoh-menyebalkan!" Kyungsoo bersungut-sungut lalu melayangkan pukulan keras pada wajah Jongin. Setelahnya ia berbalik dan berjalan menjauh sembari menghentakkan kakinya, kesal.
"Yang barusan itu apa?" Jongin membeo tidak percaya sementara hidungnya sudah lebih dulu mengeluarkan darah segar. Lelaki itu mengulurkan tangan di depan lubang hidung saat dirasanya ada sesuatu yang hangat berbau karat mengalir di sana. "Whoa. Darah." Cicitnya sembari mengerjap berkali-kali.
.
.
The Sweetest Troublemaker
.
.
Chanyeol menghentikan sepeda motornya tepat di depan gedung apartemen Johnny, setelahnya ia bergegas masuk, melalui elevator menuju lantai tempat di mana Johnny tinggal.
Setelah menakan sandi, pintu apartemen Johnny terbuka.
Johnny menyambutnya, Jongin dan Jongdae terlihat tengah bergulat dengan konsol game di depan layar plasma sementara Sehun sibuk dengan ponselnya dan berbaring di atas sofa.
Johnny meletakkan satu bungkus rokok dan pemantik ke atas meja di depan Chanyeol yang baru saja medaratkan bokongnya di sofa. "Aku yakin kau sedang membutuhkannya." Tukas lelaki itu cuek sebelum kemudian berjalan menuju pantry.
Chanyeol menggesek hidung seperti tengah flu lalu meraih bungkus rokok dan mengambil satu batang sebelum kemudian membakarnya.
Kernyitan kentara terpampang di dahi cemerlangnya saat asap rokok terhisap sebelum kemudian keluar lagi dari mulutnya. Chanyeol meniup kepulan putih yang berterbangan di atas wajahnya dengan pelan, lelaki itu menyandarkan kepalanya pada sofa lalu beberapa saat kemudian memejamkan mata.
Terlihat kacau di mata Sehun, Jongdae dan Jongin. Namun mereka enggan berkomentar. Bertanya tentang apa yang terjadi pada Chanyeol pun akan terasa percuma. Mereka memang berteman dekat, namun Chanyeol terlalu tertutup untuk sekedar memberi apa permasalahan yang sedang ia hadapi?
Okay. Chanyeol hanya masih merasa bersalah, okay?
Ia menyesal, Chanyeol tidak pernah menyakiti wanita apalagi secara fisik dan kejadian tadi siang benar-benar membuatnya merasa bahwa ia adalah seorang pengecut, bajingan paling jahat.
Wajah marah, kesal dan kesakitan Baekhyun terus saja menghantuinya sedari tadi. Dan itu membuat Chanyeol kalut dan frustasi.
Dan ia yakin tidak akan mudah mendapatkan maaf dari Baekhyun kali ini.
"Chanyeol-a, aku pinjam ponselmu." Tanpa persetujuan Chanyeol, Sehun meraih ponsel temannya itu dan membuka akun sosial media. Lelaki itu mengernyit dalam lalu mengutuk betapa kakunya Park Chanyeol terhadap kemajuan teknologi, lihat saja hanya terpampang beberapa foto di akun sosial medianya. Gemas, akhirnya Sehun memutuskan memposting sebuah foto. "Bajingan, kau memang keren, bro!" Umpat Sehun setelah berhasil memposting foto Chanyeol. "Whoa, penggemarnya banyak juga." Sehun berseru karena selang beberapa detik ia memposting, ada beberapa komentar yang masuk. Lalu diliriknya kembali layar ponsel miliknya dengan gusar. "Akh kenapa B Noona tidak membalas ucapanku?"
"Kenapa? Kenapa? Memang apa yang kau ucapkan?" Jongdae melempar bantal sofa kearah Sehun dengan jahil.
Jongin mengangkat bahu acuh, Johnny sibuk menyesap kopinya sementara Chanyeol secara ajaib membuka mata mendengar nama yang baru saja Sehun sebut.
"Oh aku lupa bahwa hanya aku satu-satunya penggemar B Noona, jadi tidak aneh jika di antara kita hanya aku yang tahu hari ini B Noona ulang tahun."
Celotehan Sehun tersebut sukses membuat Chanyeol menegakkan posisi duduknya dengan cepat. "A-apa kau bilang?"
"Apa? Yang mana?" Sehun membeo.
"Hari ini Byun Baekhyun ulang tahun." Johnny mempertegas, tersenyum kecil di balik cangkir kopi yang ia sesap untuk ke sekian kali. Menarik. Lanjutnya membatin.
"Well, bagi kebanyakan orang mungkin itu hari isitimewa tapi seharusnya aku mengerti bahwa hari ulang tahun tidak seistimewa itu untuk B Noona. Ahh bagaiman ini? Apa B Noona marah gara-gara itu?" Sehun mulai panik.
"Kenapa seperti itu?" Jongin menoleh sejenak. Ia memang bukan penggemar Baekhyun seperti Sehun namun tidak dipungkiri bahwa setiap cerita yang keluar dari mulut Sehun akan terdengar sangat menarik.
Sehun menerawang jauh ke depan dengan eksprsi yang perlahan berubah serius. "Tidak enaknya menjadi orang kaya seperti B Noona adalah hal sekecil apapun tentangnya akan selalu tercium dan diketahui oleh setiap orang, jika kalian mengunjungi salah satu website pembenci Byun Baekhyun di sana kalian akan mendapatkan berbagai fakta mencengangkan tentangnya."
"Semencengangkan apa itu, Oh Sehun-ssi?" Jongin kembali bertanya, sedikit geli melihat raut wajah serius dan nada intelektual yang yang Sehun lontarkan.
"Umm— tentang kedua orang tuanya yang meninggal di hari ulang tahunnya, tentang penculikan oleh supir taksi, tentang nyaris diperkosa oleh tiga preman—ahh berita ini masih baru." Sehun menumpukan siku di atas paha sembari menautkan ke sepuluh jarinya. "Jadi tahun lalu B Noona pergi ke sebuah club dan mabuk berat untuk alasan yang simpang siur, ada yang mengatakan dia frustasi dan stress, ada yang mengatakan dia menggoda preman-preman itu dan masih banyak lagi, tapi menurut sumber terpercaya B Noona memang akan selalu pergi ke club dan minum-minum di hari ulang tahunnya untuk mengusir kesedihan, dan memang masuk akal. Mungkin B Noona masih terbayang-bayang kematian kedua orang tuanya, terlebih itu terjadi di hari ulang tahunnya." Jelas Sehun panjang lebar diakhiri dengusan iba.
"Jadi dia mabuk berat dan nyaris di perkosa oleh keparat-keparat itu?" Chanyeol bersuara, kedua tangannya mengepal sementara rahangnya terkatup rapat.
"Ya, dan—" Sehun menjeda kalimatnya saat satu notifikasi di terima ponsel Chanyeol. "Whoa, dia tidak membalas pesan yang kukirim sedari siang tapi sekarang dia mengomentari foto di akun sosial media Park Chanyeol?" Sehun membeo namun setelahnya dibuat terperangah saat Chanyeol merebut ponselnya dengan cepat.
Chanyeol menekan speed dial, menghubungi nomor Baekhyun.
Jangan tanyakan tahu dari mana dia nomor gadis itu.
"Sial!" Chanyeol memaki lalu bangkit dan berlalu lalang masih mencoba menghubungi nomor Baekhyun namun tetap tidak tersambung.
"Errr— Chan.." Beo Jongin sedikit tidak mengerti dengan sikap Chanyeol yang jauh dari kata tenang seperti biasanya.
"Biarkan saja dia." Johnny menukas sembari terkekeh pelan. Kapan lagi bisa melihat Chanyeol kalang kabut karena seorang wanita selain Irene?
Chanyeol mengetikkan sebuah pesan dan mengirimkannya pada gadis itu, mengetahui Baekhyun ada di rumahnya, jauh dari tempat ramai dan berbahaya seperti club dan tidak menyentuh minuman beralkohol adalah hal yang harus Chanyeol pastikan saat ini.
Lelaki itu mendesis tajam karena Baekhyun mengabaikan pesan darinya. Chanyeol bahkan sudah memberitahunya melalui kolom komentar di postingannya namun gadis itu malah mengabaikannya. Okay, Chanyeol mengerti gadis itu tengah marah padanya, namun Chanyeol hanya perlu tahu di mana gadis itu sekarang?
Lelaki itu masih terlibat perdebatan kecil dengan Baekhyun di kolom komentar, masih mencoba membujuk si gadis agar mengatakan di mana dia berada namun gadis itu tetap keras kepala dan tidak memberitahu Chanyeol.
"Sehun-a, cari tahu di mana gadis itu sekarang." Tukas Chanyeol mutlak.
"O-okay, aku sudah meminta bantuan temanku untuk melacak keberadaannya. Tenang, kau harus tenang. Meskipun dia pernah nyaris diperkosa tapi itu tidak pernah terjadi, malah preman-preman itu yang menjadi korban karena B Noona menghajarnya habis-habisan."
"Whoa, benarkah?" Seru Jongdae dan Jongin bersamaan, bermaksud ikut menenangkan Chanyeol yang terlihat semakin kalut.
"Dia tetap perempuan!" Desis Chanyeol kepada teman-temannya.
"Ya, dia tetap perempuan. Lagipula kecil kemungkinan dia sedang berada di rumah mengingat ini hari ulang tahunnya dan dari yang Sehun ceritakan gadis itu akan selalu pergi ke club." Johnny menerawang jauh.
"Chanyeol-a, B Noona ada di—"
Chanyeol merebut ponsel Sehun, lalu berlari menuju pintu apartemen dan keluar sesaat setelah menghafal alamat dari pesan yang Sehun terima.
"Goodluck, bro!" Seru Johnny lalu terkekeh setelahnya.
Hal yang membuat ketiga temannya mengernyit tidak mengerti. Mengapa Johnny setenang itu?
"Biarkan saja, tidak akan selamanya dia kalut oleh wanita yang sama." Johnny mengibaskan tangan dengan acuh lalu beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamarnya.
.
"Aku tidak akan mengampunimu jika kau menampatkan dirimu dalam bahaya, Byun Baekhyun!" Geram Chanyeol di balik helm sembari memutar handle gas dan menaikkan laju sepeda motornya.
Lelaki itu membabi buta membelah jalanan, berharap ia cepat sampai di tempat tujuan. Mengingat cerita Sehun beberapa saat lalu benar-benar membuat Chanyeol kalut, cemas jika gadis itu melakukan sesuatu yang memicu bahaya.
Chanyeol menaklukan perjalanan hanya dengan memakan waktu puluhan menit untuk sampai di tempat yang ia tuju, lelaki itu melepas helm dan turun dari sepeda motor lalu berjalan memasuki sebuah club kenamaan yang berpusat di kawasan elit.
Suara bising pun sontak memenuhi indera pendengaran saat ia melangkah lebih jauh, suasana temaram dan minim pencahayaan itu membuat penglihatan Chanyeol harus bekerja dua kali lipat untuk mencari sosok mungil-keras kepala-nakal-manjanya tersebut.
"Oh yang benar saja!" Chanyeol mendesis geram saat dilihatnya Baekhyun tengah meliuk-liukkan tubuhnya di tengah dancefloor dengan dikelilingi oleh keparat-keparat yang menatapnya lapar.
Chanyeol menyapu kumpulan lelaki yang mengerubungi Baekhyun lalu berdiri di depan si gadis yang masih sibuk meliuk-liukkan tubuhnya.
Lalu di detik berikutnya gerak itu terhenti. Baekhyun nyaris terpekik, sementara seluruh tubuhnya sudah diselimuti gigil saat atensinya tertuju pada sepasang mata memicing yang menatapnya galak.
Chanyeol mempersempit jarak lalu mendekatkan mulutnya pada telinga Baekhyun. "Kita pulang, sekarang!" Tukasnya mutlak.
"Aku tidak mau." Baekhyun berteriak lantang di tengah-tengah kebisingan sementara kedua matanya balas memicing pada lelaki di hadapannya.
Ia benci, marah dan sakit hati.
Si lelaki memejamkan matanya sejenak. "Aku tidak menerima penolakan, kita pulang sekarang." Ia meraih pergelangan Baekhyun dan menuntunnya keluar.
"Lepaskan aku, brengsek!"
Chanyeol masih bungkam sedang langkahnya semakin intens membawa si mungil keluar dari tempat terkutuk itu.
"Kau pikir siapa, huh?!"
"Jangan bertingkah seolah kau peduli padaku!"
"Aku membencimu, Park Chanyeol!"
"Aku membencimu."
Astaga!
Apa yang harus Chanyeol lakukan untuk membungkam mulut kecil itu?
Chanyeol berbalik sementara Baekhyun yang masih bersungut-sungut harus dibuat bungkam saat lelaki itu menyudutkannya pada dinding lorong club. Sebelah tangan Chanyeol menangkup wajah Baekhyun, ia memiringkan kepala, mengikis jarak hingga hidungnya dan juga gadis itu bersentuhan.
Baekhyun memejamkan matanya erat, ia tidak berharap apapun meski saat ini ia tengah menunggu.
Menunggu apa?
Baekhyun sendiri tidak tahu, dan gadis itu perlahan kembali mengerjap.
Chanyeol tidak melakukan apapun, lelaki itu hanya menatapnya dalam pada jarak sedekat itu.
"Kita pulang." Bisik lelaki itu sembari mengusapkan ibu jarinya di pipi Baekhyun.
"Aku membencimu."
"Aku tahu."
Baekhyun merengut, rasa kesal dan marah masih mendominasinya. Gadis itu meraih tangan Chanyeol dan menyerahkan kunci mobilnya, lalu setelah itu ia melenggang terlebih dahulu meninggalkan Chanyeol yang tengah mendesah lega.
Ya. Setidaknya gadis itu tidak menolaknya lagi.
Baekhyun masih bungkam saat Chanyeol masuk ke dalam mobil, ia bahkan enggan menatap lelaki itu barang sedetik pun. Diabaikannya Chanyeol yang tengah memasangkan sabuk pengaman kepada dirinya. "Aku tidak mau pulang ke rumah. Aku akan mengahajarmu jika kau berani membawaku pulang ke rumah kakek tua itu."
Chanyeol menangkup wajah Baekhyun dan membuat gadis itu berbalik menatap dirinya.
Lalu keduanya bersitatap dalam diam.
"Aku membencimu." Cicit Baekhyun sembari berkaca-kaca. Demi Tuhan, ia kesal juga sakit hati.
Rasanya tidak hilang sama sekali.
"Maafkan aku." Tukas Chanyeol parau.
Baekhyun menggeleng. "Tidak, aku tidak mau memaafkanmu kali ini." Katanya dengan terisak pelan. "Kau bajingan dingin tidak berperasaan, aku membencimu!" Lanjutnya sembari tersedu-sedu.
Chanyeol melepas kembali sabuk pengaman Baekhyun lalu merengkuh si mungil ke dalam dekapannya. "Sungguh, maafkan aku." Bisiknya dengan rasa sesal luar biasa.
Baekhyun menangis tersedu-sedu, sebenarnya ia tidak secengeng itu namun entah mengapa gadis itu menjadi lebih sensitif setelah kenal dengan Park Chanyeol. Menjadi sosok yang lebih manja, seolah berharap lelaki itu akan merengkuh dan memeluknya dengan hangat setiap waktu.
"Aku membencimu." Cicitnya lagi lalu menenggelamkan wajah sembabnya di leher si lelaki.
"Aku tahu." Sahut Chanyeol penuh pengertian. Sebelah tangannya mendekap posesif sementara satunya lagi mengelus punggung Baekhyun dengan lembut dan perlahan berubah menjadi beberapa tepukan pelan, menenangkan, menggiring si mungil yang terkulai lemah di pelukannya ke alam mimpi.
Napas teraturnya membuat Chanyeol mendesah lega, diam-diam ia bersykur karena sepertinya Baekhyun tidak menyentuh sedikit pun minuman beralkohol.
Chanyeol mencium bahu sempit itu sebelum kemudian membaringkan si mungil, merendahkan posisi kursi lalu menyelimutinya dengan jaket yang sesaat lalu ia buka.
Diliriknya arloji yang melingkar di pergelangan tangan, Chanyeol menghelas berat dan tengah menimang opsi harus kemana ia bawa Baekhyun mengingat gadis itu bersikeras tidak ingin pulang ke rumahnya.
Lelaki itu merogoh ponsel di saku celana lalu menekan speed dial.
"Hm Oppa.."
Suara parau khas bangun tidur Haru terdengar di seberang sana.
"Apa Omma sudah tidur?"
"Sepertinya Omma masih membuat kimchi."
"Bagaimana dengan Appa?"
"Tadi Appa pulang sebentar dan pergi lagi, katanya harus segera berangkat ke luar kota."
Chanyeol mengangguk pelan seolah Haru dapat melihatnya. "Haru-a.."
"Hm?"
"Ada seekor anak ayam, dia kehilangan induknya. Sekilas dia terlihat baik-baik saja karena hidup di tengah keramaian, tapi sebenarnya dia kesepian, sendirian dan menyedihkan."
"Apa Oppa mencemaskan anak ayam itu?"
"Oppa.. Sangat mencemaskannya. Dunia membuatnya marah dan sedih dan dia melarikan diri tapi sepertinya dia tidak punya tempat untuk dituju."
"Apa anak ayam itu sedang bersama Oppa?"
"Ya, dia bersamaku." Chanyeol menghela napas keras. "Haru-a, apa yang harus Oppa lakukan sekarang?"
Ada jeda panjang di seberang sana.
"Park Haru?"
"Humm, Oppa tentu tahu kalau Omma sangat antipati terhadap orang asing."
Chanyeol mendesah lesu. Ya, Ibunya memang seperti itu.
"Tapi, Omma akan sangat marah jika Oppa membiarkan anak ayam itu sendirian. Omma tidak akan suka jika Oppa mengabaikan kesedihan orang lain."
"Dasar anak nakal! Di mana kau sekarang? Aku akan menghajarmu jika kau berani menyentuh anak ayam itu! Bawa dia pulang kemari!"
Chanyeol menjauhkan ponselnya dari telinga, teriakan Ibunya yang membahana di seberang sana membuatnya terkejut setengah mati. "O-omma.." Cicit Chanyeol setelah kembali menempelkan ponselnya di telinga.
"Tunggu apalagi? Aku tidak akan keberatan menambah satu set sendok dan sumpit di atas meja makan jika keadaan anak ayam itu benar-benar darurat seperti yang kau ceritakan."
"Omma tidak keberatan jika aku membawanya pulang?"
"Lalu apa kau akan membiarkan anak ayam itu terlunta-lunta di jalanan sendirian? Kurang ajar! Aku dan ayahmu tidak pernah mengajarimu menjadi orang jahat seperti itu. Awas saja kau!"
Chanyeol mendesah lega. Demi Tuhan ia mencintai dan menyayangi Ibunya.
"Tunggu apalagi?! Aku tidak akan membukakan pintu jika kau pulang di atas jam sembilan."
"Oh baiklah, aku pulang sekarang."
Chanyeol menyalakan mesin mobil lalu menginjak pedal gas saat ia tahu bahwa ia hanya mempunyai waktu satu jam untuk sampai di rumahnya.
Selama perjalanan Chanyeol tak henti-hentinya melirik kearah Baekhyun yang tengah terlelap. Lalu rasa bersalah kembali menggerogoti hatinya.
Chanyeol berjanji akan menghukum dirinya sendiri jika ia menyakiti gadis itu lagi.
Chanyeol bertekad akan menebus kesalahan fatal yang ia lakukan tadi siang, dan ia akan melakukan apapun.
Ya. Lelaki itu bersumpah.
Laju kendaraan perlahan melambat lalu berhenti tepat di depan sebuah gerbang minimalis. Chanyeol mematikan mesin mobil lalu melepas sabuk pengaman. Ia menoleh pada Baekhyun dan sedikit mencodongkan tubuh, diulurkannya telapak tangan pada wajah Baekhyun dan menepuknya pelan. "Hei, kita sudah sampai."
Baekhyun mengernyit merasa terganggu lalu perlahan ia mengerjap. "Hm? Kita di mana?" Suara paraunya terdengar lelah.
"Kita di rumah."
Baekhyun menaikkan kedua alis.
Oh sepertinya Chanyeol kurang tepat mengucapkannya. Lelaki itu menggaruk tengkuk, "Di rumahku." Lalu memperjelas.
Baekhyun menengakkan posisi duduknya seketika. "A-apa? Kenapa?" Tanyanya masih dengan ekspresi terkejut.
"Errr— tidak apa-apa. Kenapa? Kau tidak suka? Rumahku memang tidak sebesar rumahmu—"
"Tidak, tidak. Bukan itu maksudku." Baekhyun menyela dengan cepat lalu mengarahkan kaca mobil kearahnya. "Lihat, penampilanku sangat berantakan. Apa kata ibumu nanti? Oh ini memalukan, Park Chanyeol." Lalu merengek sembari menarik-narik lengan Chanyeol.
Si lelaki terkekeh pelan. "Tidak, kau.." Chanyeol menggantung kalimat, menyapukan atensinya dari bawah ke atas penampilan Baekhyun, lalu tangannya terulur merapikan rambut Baekhyun yang sedikit berantakan. "Cantik." Gumamnya pelan sebelum kemudian keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Baekhyun.
Chanyeol menuntun Baekhyun memasuki halaman rumah, semntara si gadis merapat, meremas lengan Chanyeol karena gugup.
Jujur saja ia takut jika ibu Park Chanyeol adalah seorang wanita paruh baya yang digambarkan sebagai sosok mertua kejam dan ketus yang kerap ia jumpai di beberapa serial televisi keluarga.
"Omma.." Chanyeol mengetuk pintu, lalu melirik pada gadis di sampingnya. "Tidak apa-apa. Ibuku tidak seperti yang kau pikirkan." Chanyeol terkekeh pelan, tidak sulit menebak pikiran Baekhyun saat ini.
Baekhyun baru saja akan menenggelamkan wajahnya pada lengan Chanyeol karena gugup jika saja pintu utama tidak lebih dulu terbuka. Praktis gadis itu melepas lengan Chanyeol dari dekapannya, lalu berdiri dengan posisi menegang kaku.
Seorang wanita paruh baya berwajah lembut dan mirip sekali dengan Chanyeol muncul di balik pintu.
Baekhyun menganga sejenak sebelum kemudian ia tersadar. "A-anye-annyeong-ha-seyo." Ucapnya terbata sembari membungkuk sembilan puluh derajat.
Chanyeol menggigit mulut terdalam, menahan tawa.
"Ahh jadi ini anak ayamnya?" Nyonya Park berseru, lalu merangkul Baekhyun. "Biar kulihat." Lalu menangkup wajah Baekhyun dan menelisik dengan seksama. "Apa Park Chanyeol menyentuhmu? Apa dia membuatmu terluka? Katakan padaku, tidak apa-apa jangan takut. Aku berada di pihakmu." Katanya dengan celotehan panjang lalu melempar wajah sinis pada putranya.
Chanyeol mengangkat bahu sementara Baekhyun menggeleng dan melempar wajah polos tidak mengerti. Siapa yang dimaksudnya anak ayam?
"Ahh syukurlah." Seru Nyonya Park sembari kembali merangkul Baekhyun dan menuntunnya masuk.
Siapapun wanita itu anda tidak boleh menampik, karena jika kau bersikap buruk terhadap wanita itu maka mantra yang aku sematkan di tubuh putramu akan lenyap.
Ucapan madam Zhang terngiang di benak nyonya Park, dan sekarang ia semakin yakin bahwa gadis yang dibawa pulang oleh putranya –yang sebenarnya sulit dipercaya karena Chanyeol tidak pernah sekalipun terlihat bersama seorang wanita— adalah kiriman para dewa untuk menyempurnakan mantra dari madam Zhang.
"Mulai hari ini kau tidur si ruang tamu!" Tukas Nyonya Park pada putranya. "Dan anak ayam ini akan tidur di kamarmu."
Alis Baekhyun sedikit bertaut. Anak ayam? Aku? Batinnya tertohok.
"Apa kau sudah makan, nak?" Tanya Nyonya Park pada Baekhyun.
Gadis itu mengangguk sembari tersenyum.
"Oh cantiknya." Seru Nyonya Park untuk ke sekian kalinya.
Sementara Chanyeol sudah lebih dulu mengerutkan dahi, bagaimana bisa Baekhyun berubah menjadi gadis manis pendiam penuh tata krama?
Kemana perginya si nakal cerewet dan mesum yang selama ini kerap membuatnya migrain?
Lalu, apa yang salah dengan Ibunya?
Mengapa mendadak sebaik dan selembut ibu peri?
"Di mana Haru?" Tanya Chanyeol sesaat setelah mendaratkan bokongnya di sofa/
"Dia sudah tidur." Nyonya Park menyahit lalu kembali beralih pada Baekhyun yang masih berdiri kaku. "Ayo, nak. Aku akan mengantarmu ke kamar, kau bisa beristirahat di sana."
"Selamat malam, Park Chanyeol." Tukas Baekhyun dengan lembut kepada Chanyeol seraya tersenyum jumawa, menggoda lelaki itu.
Baekhyun tidak perlu memberitahu siapapun bahwa saat ini ia senang bukan main, membayangkan tidur di kamar Park Chanyeol, Astaga! Benar-benar luar biasa.
"Nah, ini kamarnya. Istirahatlah, nak." Tukas Nyona Park membelai wajah Baekhyun.
"Terimakasih." Cicit Baekhyun membungkuk sopan sebelum kemudian masuk ke dalam kamar Park Chanyeol.
Hal yang pertama ia lakukan setelah menutup pintu adalah memejamkan mata, menghirup udara yang didominasi oleh aroma Park Chanyeol dengan rakus.
Astaga!
Baekhhyun berjingkrak girang sebelum kemudian menyapukan atensi pada setiap sudut kamar Chanyeol dengan binar kagum.
Ruangan itu tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit, sprei putih pada single bed berukuran sedang tersemat rapi tanpa sedikitpun garis kusut. Beberapa stiker dari musisi internasional kenamaan menempel tertata di dinding bercat coklat muda. Lalu di sudut ruangan berdiri kokoh sebuah gitar coklat mengilat, ada sebuah rak berhias berbagai aksesoris khas laki-laki di seberang ranjang dan ada satu set study table lengkap dengan macbook terbuka di atas mejanya. Dari semua hal yang Baekhyun teliti, ia mendapai satu fakta bahwa Park Chanyeol benar-benar seorang pemuda yang rapi, klinis dan steril berbeda jauh dari penampilannya visualnya yang kerap terlihat menyerupai preman.
Kamarnya benar-benar bersih dan tertata, sangat jauh berbeda dengan kamar Baekhyun yang ia yakini jika saja tidak memiliki pelayan mungkin kamarnya akan berubah menjadi tempat sampah.
Terakhir Baekhyun menemukan sebuah lemari pakaian.
Demi Tuhan.
Lemari pakaian!
Gadis itu berhambur dengan semangat membuka lemari tersebut.
"Astaga, pakaian Park Chanyeol." Baekhyun menutup mulutnya dengan dramatis lalu mencium satu persatu pakaian Chanyeol yang masing-masing tergantung rapi. Jemari mungil itu menelusuri beberapa lalu pilihannya jatuh pada kaus tanpa lengan berwarna biru muda. Dengan semangat Baekhyun membuka pakaiannya lalu memakai kaus milik Park Chanyeol yang sangat kebesaran di tubuhnya tersebut.
Aroma khas Park Chanyeol bercapur wangi segar deterjen sontak memenuhi indera penciuman Baekhyun. Gadis itu kembali berjingkrak dengan senang lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang Park Chanyeol.
Astaga!
Ranjang Park Chanyeol.
Baekhyun pun tidak bisa membuang pikiran mesum dan liarnya, ia menenggelamkan wajah pada bantal, meredam kekehan lalu memeluk guling yang mungkin biasa Chanyeol peluk juga ketika tidur. "Gila, bagaimana bisa aku tidak waras seperti ini hanya karena aroma Park Chanyeol?" Gadis itu terkekeh lagi setelahnya.
"Akh lelah sekali." Baekhyun menguap ketika rasa kantuk kembali menyerang dirinya. Lalu perlahan ia mulai memejamkan mata dan menit demi menit mulai ia lalui dengan tertidur pulas.
Oh, sepertinya ia lupa mengunci pintu.
.
Chanyeol merebahkan tubunya di atas sofa ruang tamu, matanya masih enggan terpejam meski pikirannya benar-benar sudah lega karena Baekhyun berada dalam pengawasannya dan jauh dari bahaya. Lelaki itu melirik pada tangga yang terhubung pada lantai dua tempat di mana kamarnya berada. Bertanya-tanya apa gadis itu sudah tidur?
Lalu tanpa disangka senyuman kecil terpatri di wajah tampannya. Mengingat betapa lucunya gelagat Baekhyun saat pertama kali bertemu dengan ibunya beberapa jam yang lalu.
Chanyeol melirik jam yang menempel di dinging ruangan, lalu mendesah pelan sebelum kemudian bangkit dari sofa dan berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. Lelaki itu mengernyit mendapati pintu kamarnya tidak terkunci lalu nyaris mengumpat karena kecerobohan Baekhyun tersebut. Bagaimana jika posisi gadis itu berada di rumah orang lain yang tak dikenal?
Bagaimana jika ada yang bersikap kurang ajar terhadapnya? Dan lebih buruk bagaimana jika ada yang mencoba memperkosanya seperti apa yang Sehun ceritakan?
Chanyeol menggeleng keras lalu masuk ke dalam kamarnya.
Bedanya, Chanyeol terbiasa tidur dalam keadaan gelap namun si mungil yang terlihat mengenakan kaus miliknya dan tampak tengah meringkuk di atas ranjangnya membiarkan lampu kamar tetap menyala.
Chanyeol melangkah hati-hati, berdiri di depan lemari. Ia membuka pakaian yang saat ini melekat lalu menggantinya dengan yang bersih.
Lelaki itu berjalan memutari ranjang lalu duduk di pinggirannya dan menunduk, memperhatikan si mungil dengan wajah polos serupa bayi yang tak mengenal kata 'Mesum'.
Telapak tangannya terulur lalu menepuk lembut pipi Baekhyun, Chanyeol menunduk lebih dalam saat dilihatnya Baekhyun mengernyit dan mulai mengerjap.
"Hm?" Baekhyun menajamkan atensi saat dilihatnya Chanyeol duduk di sampinya sembari membungkukan tubuh kearahnya.
"Maaf mengganggumu. Tapi hari ini belum berakhir." Chanyeol berbisik lalu meraih tangan Baekhyun dan menggenggamnya lembut.
Baekhyun mengernyit semakin tidak mengerti sementara Chanyeol tersenyum kearahnya.
"Selamat ulang tahun, Byun Baekhyun." Bisik si lelaki lalu mengecup dahi Baekhyun hati-hati, di tatapnya sekali lagi simungil. "Terimakasih karena kau terlahir semenyebalkan ini." Tuturnya menggoda si mungil yang semula tersenyum lalu merengut.
Chanyeol terkekeh pelan, lalu kembali mendaratkan kecupan lembutnya pada kedua kelopak mata Baekhyun. Setelahnya ia kembali menatap di mungil, tanpa sadar jarak wajah kedua semakin mendekat. "Aku minta maaf atas apapun kejadian buruk yang terjadi padamu di tanggal ini." Chanyeol mengeratkan genggaman tangannya saat dirasa tubuh Baekhyun bereaksi, menegang. "Tidak apa-apa, aku di sini. Kau bisa meluapkan semua kesedihanmu padaku atau bahkan memakiku jika itu bisa membuat perasaan marah dan kesalmu menguap."
Yang baru Chanyeol sadari bahwa ia telah salah menilai, Baekhyun tidak semanja itu karena sebenarnya dia hanya kesepian. Baekhyun tidak seangkuh itu karena sebenarnya dia telah kehilangan, dan Baekhyun tidak sekeras kepala itu karena sebenarnya dia telah mengalami begitu banyak kesedihan.
Wajah Baekhyun memanas, berbagai perasaan mendominasinya saat ini. Senang, sedih, terharu, marah, kesal dan masih banyak lagi hingga tak mampu ia tampung dan membludak menjadi kumpulan tetes bening yang keluar dari kelopak matanya.
"Aku di sini." Bisik Chanyeol menyatukan dahinya dengan si gadis.
Baekhyun melingkarkan lengannya pada leher Chanyeol lalu di detik berikutnya ia bangkit dari posisi tidur dan memeluk lelaki itu erat. Menenggelamkan kesedihannya dalam dekap hangat yang entah sejak kapan mulai membuatnya candu.
Chanyeol melingkarkan kedua tangannya posesi pada tubuh si mungil, ia menuduk lalu menyesap aroma bahu Baekhyun dalam-dalam.
Senandung kecil terdengar, Chanyeol menyanyikan lagu ulang tahun dengan suara pelan sambil sekali mengelus punggung Baekhyun.
Nyanyiannya berakhir menyisakan sunyi yang penuh arti, Baekhyun masih menenggelamkan wajahnya di leher Chanyeol dan sesekali mengusakkan hidungnya di sana. "Mana hadiahku?" Cicit si mungil sembari bergerak, merapat lebih dalam dalam dekap hangat favoritnya.
"Err—" Chanyeol menggaruk tengkuk seraya meringis.
Baekhyun menarik diri lalu memicing kearah Chanyeol. "Kau tidak punya?" Tanyanya terdengar protes.
Chanyeol menggeleng. "Hadiah apa yang kau inginkan?"
Baekhyun memasang wajah berpikir, hal yang membuat Chanyeol waspada karena sudah pasti ekspresi lucu itu menyimpan begitu banyak konspirasi.
"Apa kau akan memberikannya?"
"Umm yeah." Sahut Chanyeol dengan ragu. "Apa itu?"
"Maukah kau.. Umm.."
"Hm?"
"Park Chanyeol, ada satu hal yang sangat aku inginkan darimu." Baekhyun menukas pelan sementara kedua tangannya sudah saling bertaut, tanda bahwa ia gugup.
"Katakan apa itu?" Tanya Chanyeol sembari mengelus rambut Baekhyun dengan lembut.
"Aku ingin.. Umm.."
"Byun Baekhyun.."
"Baiklah. Aku ingin.. Bercinta denganmu." Jelas Baekhyun dan sepersekian detik setelahnya kembali memeluk Chanyeol menyembunyikan wajah memerahnya di dada lelaki itu.
Chanyeol mengerjap berkali-kali, sedang tubuhnya mendadak menegang. Baekhyun hanya bercanda 'kan?
"Aku serius." Cicit si mungil seolah tahu apa yang Chanyeol pikirkan. Gadis itu kembali menarik diri. "Kenapa diam? Kau tidak mau?" Untuk ke sekian kalinya gadis itu protes.
Kedua alis Chanyeol bertaut sempurna.
Dan Baekhyun mulai merasa geram, gadis itu bergerak dan bangkit perlahan sebelum kemudian berakhir di pangkuan Chanyeol.
"Hei, hei. Mau apa kau?" Tanya Chanyeol dengan waspada, meski ia tidak berontak dan malah melingkarkan satu tangannya di sekitar pinggang Baekhyun, memastikannya agar tidak terjatuh.
"Aku ingin bercinta denganmu." Tukas Baekhyun dengan konotasi yang mulai terdengar merengek.
Si lelaki kembali mengernyit. "Apa ini artinya kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu saat mabuk waktu itu, bahwa kau ingin.. bercinta.. denganku?"
Baekhyun mengangguk antusias lalu meletakkan kedua lengannya pada bahu Chanyeol. "Mau 'ya?"
Chanyeol memejamkan mata lalu mendengus keras setelahnya. "Tidak." Tegasnya dengan mata tertuju pada si mungil.
"Akh, kenapa?" Baekhyun kembali merengek sembari menepukkan dahinya berkali-kali pada bahu Chanyeol.
"Hei, pelankan suaramu. Lagipula, dengarkan aku.." Chanyeol menangkup wajah Baekhyun. "Bericnta? Astaga itu bukan hal sepele, kau tahu?"
Mengapa Baekhyun mengatakannya dengan begitu enteng seolah ia tengah meminta sebungkus permen?
"Tapi aku ingin bercinta denganmu." Baekhyun kembali mendesak, rengutan sempurna sudah mendominasi keseluruhan ekspresi wajahnya.
"Kenapa?"
"Hm?"
"Kenapa kau ingin melakukannya denganku?"
"Itu.. umm.. " Baekhyun memainkan bola matanya sedikit gusar. Ia pasti akan dianggap sinting jika alasannya mengajak Chanyeol bercinta untuk menghilangkan sebuah kutukan. Berpikir Baekhyun, berpikir! Batinnya mendesak. "Itu karena.. Luhan bilang sepertinya kau jantan di atas ranjang!" Refleks Baekhyun lalu menutup mulutnya dengan ekspresi terkejut.
Apa yang telah ia katakan?
Astaga memalukan!
Chanyeol menganga sempurna, adakah yang se-tidak masuk akal Byun Baekhyun di jagat fana ini?
Baekhyun menggeleng berkali-kali sementara wajahnya sudah lebih dulu tenggelam di bahu Chanyeol.
"Tidak. Hei, dengarkan aku." Chanyeol berusaha membuat Baekhyun menarik diri dan menatapnya namun gadis itu terus menggeleng.
"Byun Baekhyun." Panggil Chanyeol tanpa mampu menahan kekehannya.
Astaga!
Apa gadis itu malu?
"Dengarkan aku dulu." Chanyeol memegang bahu Baekhyun namun gadis itu tetap pada pendiriannya, mengeratkan pelukan dan menyembunyikan wajah memerahnya di leher Chanyeol.
Lagi, Chanyeol terkekeh. "Hei, bagaimana bisa kita melakukannya kalau kau saja tidak berani menatapku saat ini." Godanya dengan jahil.
"Park Chanyeoolll.." Rengek si mungil terdengar kesal.
"Hmm, penilaian temanmu boleh juga. Kenapa tidak kita coba? Siapa tahu aku lebih dari sekedar.. jantan."
Baekhyun semakin menggeleng dalam pelukan Chanyeol, bergerak gelisah dalam pangkuannya, hal yang membuat tawa pelan lelaki itu pecah seketika.
"Kau yakin tidak mau?" Chanyeol menggodanya lagi. "Mau aku bukakan sesuatu? Apa kau tidak merasa kepanasan? Perlu bantuanku?"
Baekhyun menarik diri lalu mencubit pipi Chanyeol cukup keras, menepuk mulut lelaki itu berkali-kali. "Dasar mesum!" Tuduhnya diselingi gerutuan kecil membuat Chanyeol tertawa untuk ke sekian kali.
Setelah tawanya mereda, Chanyeol mengulurkan tangan, mengusapkan ibu jarinya di pipi Baekhyun. "Dengar, aku tidak akan menyentuh sesuatu yang bukan milikku. Tapi aku juga tidak cukup berani menyentuh milikku karena apapun yang berada dalam genggamanku itu sangat berharga." Tukasnya dengan suara parau, sedang jarinya terus bergerilya di wajah Baekhyun dan berhenti tepat di bibir merah gadis itu. Chanyeol memfokuskan netranya pada benda lembut yang terlihat manis itu dengan seksama."Aku memang rumit, Byun Baekhyun." Lanjutnya parau. "Sehun bilang aku sekaku itu, padahal aku hanya merasa bahwa wanita bukanlah sesuatu yang bisa disentuh sesuka hati. Mereka terlalu berharga untuk itu." Tanpa sadar Chanyeol memajukan kepalanya, sedang netranya sedari tadi hanya berfokus pada bibir merah Baekhyun. "Tapi, apa aku akan dianggap sebagai pembual olehmu jika melumat benda kecil merah menyebalkan ini?" Bisik Chanyeol sembari menyapukan ibu jarinya dengan seduktif pada bibir Chanyeol.
Baekhyun mengerjap gugup lalu menggeleng pelan dan di detik berikutnya ia memejamkan mata. Sementara tangan Chanyeol kembali bergerak, menyusuri rahang hingga tengkuk si mungil dan perlahan memajukan kepala untuk mengikis jarak.
Lelaki itu berhenti bergerak saat hembusan napas Baekhyun terasa mengenai wajahnya, mata sayunya mempertegas tatapan beberapa saat, menyapukan seluruh atensi pada wajah Baekhyun lalu kepalanya kembali bergerak dan di detik berikutnya ia mendaratkan ciuman lembut pada ujung hidung si mungil.
Baekhyun membuka mata, lalu menatap Chanyeol penuh arti. Atau mungkin tengah bertanya-tanya jika Baekhyun tidak berjodoh dengan lelaki itu, di manakah ia bisa menemukan sosok selembut lelaki itu memperlakukan wanita, sebaik sifatnya yang tidak mudah tergoda atau bahkan sesabar sosoknya yang Baekhyun yakini terlalu enggan mengenal kata 'Marah'?
Chanyeol merangkul tubuh Baekhyun lalu merebahkan gadis itu kembali, dengan telaten ia menarik selimut dan menutup tubuh si mungil. "Istirahatlah." Lelaki itu membungkuk sekali lagi, membelai wajah Baekhyun lalu tersenyum lembut. "Selamat malam." Finalnya sebelum kemudian berbalik dan keluar dari kamarnya.
Baekhyun menatap langit-langit kamar dengan seksama, tangannya terulur lalu ia letakkan di atas dada, ada deru tak biasa di balik tulang rusuknya tersebut. Seperti mempertegas bahwa mulai dari sekarang jantungnya akan berdetak dua kali lebih cepat jika berada dekat dengan lelaki itu, seluruh tubuhnya akan menegang saat nama Park Chanyeol memenuhi indera pendengarannya. Atau bahkan hatinya akan tercubit merasakan rindu luar biasa jika atensinya tidak menangkap sosok tampan itu.
.
.
.
TBC
.
.
.
AN:
Ciyee yang udah intim banget tapi bahkan Tjipokan aja gak pernah (Gak Jadi) ciyee~
Ku sengaja update ini karena gak cocok aja update yang sendu-sendu di hari bahagianya Byun Baby Baekhyun.
Dan Yeay! Happy Birthday kesayangan Raisa sejagat raya! Sumpah ya aku tuh sayang banget B sama kamu, makanya suka sedih aja kalau ada yang bilang aku benci kamu kerena selalu nistain kamu di tulisanku. BIG NO WAY!
Ini yang kemarin minta HunHan sama Kaisoo moment sudah kuselipkan ya. Ada nadnad (BaekBeeLu) juga yang kemaren merengek(?) minta HunHan moment wkwkwk semoga tidak mengecewakan ya :*
Aku gak akan pernah bosan buat bilang makaciii untuk kalian semua yang sudah menyempatkan baca/fav/follow/review The Sweetest Troublemaker :* Ku sayang keliyan sumah T~T
See you next chapter!
BIG CHU :*
