Chapter 7 –End of The Adventure: Let's Make a Beautiful Life with Me-
Oke readers yang ganteng and cantiksss…..Ini Last chapter looh
Jangan sedih yaa.. *gabakal dzigh*
Summary : Ga ada :P
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishomoto yang ganteng *dzigh*
Pairing : Alhamdulillah masih ShikaTema, tapi di chapter ini muncul yang lain..
NaruHina, NejiTen, Sakura*sama siapa ya?*, InoSai
Okeeehhh… Review nya yaaahhh :*
D.O.N.T.L.I.K.E.D.O.N.T.R.E.A.D
REVIEW ADALAH BUKTI ANDA MEMBACA FIC INI ! HAHAHA
Oke, let's begin the story :D
"Shikamaru, tunggu!", suara seorang lelaki menghentikan langkah mereka.
"Ayah?", pekik Shikamaru singkat.
"Kau sudah mendengarnya?"
"Mendengar apa?"
Wajah Shikaku berubah menjadi horror.
"Kau..Temari..Hanya..Hanya.."
"Hanya apa, ayah?", SHikamaru penasaran namun tetap santai.
"Hanya….."
"Apa?"
"Umm…Bagaimana ayah mengatakannya ya?", kata Shikaku dengan muka innocent. Tanggannya menggaruk-garuk bagian belakang tengkoraknya yang emang dari sononya gatel. Ia sedikit gugup dan berfikir. Apa ia harus benar-benar mengatakan hal 'itu' kepada putranya, atau menyembunyikannya sampai waktunya tiba. Hal apa si? Rahasia dong..Mau tau? Tanya sana sama Shikaku :P *dibazooka*
"Apa yang ingin anda katakana, Shikaku ojii-san?"
"Ngg..Ano..Hanya saja.. Kalian adalah pasangan yang serasi. Iya, itu yang ingin aku katakan. Kalian percaya?", celoteh Shikaku salah tingkah.
"Kau bohong," ketus Shikamaru kesal.
"Eh. Kau ngomong apa sih, Shika? Ayah serius tau!", protes Shikaku.
"Sudah sana, pergi," usir Shikaku. Ia telah memutuskan untuk tidak mengatakan hal 'itu' kepada Shikamaru dan Temari.
"Kami memang mau pergi kok. Tenang saja," celetuk Shikamaru singkat dan langsung pergi meninggalkan ayahnya yang sedang mengobati salah tingkahnya. Shikamaru dan Temari menatap muka pasangannya.
Ada—apa—dengan—mereka?
Seakan mata mereka bicara. Sakura dan Shikaku seperti menyembunyikan sesuatu.
Apa si sebenernya?
To Be Continued
*Bercanda kok Readers.. Jangan takut.. Ceritanya masih berlanjut*
Mereka masih tak peduli. Mereka tetap melanjutkan perjalanan mereka untuk menyelesaikan ujian itu.
Pertama, mereka akan menemui Kasatsumura yang sedang menunggu di taman *tempat sepi yang author maksud di chapter sebelumnya adalah sebuah taman*
"Keong merepotkan, apa yang harus kami lakukan selanjutnya?", sambil menguap, Shikamaru bertanya kepada Nyonya Keong itu.
"Ke Suna lah. Itu udah jelas kan? Kan di skenarionya emang habis dari Konoha kalian musti ke Suna. Gimana si? Gak baca skrip ya?", ketus Kasatsumura. Author yang cantik ini langsung memberikan keong itu 3 jempol tangan *yang satu minjem punya naruto*. Shikamaru dan Temari sweatdrop dengan sangat elegan.
"Ayo. Kita berangkat sekarang saja. Lebih cepat lebih baik," kata Temari dengan semangat Kampanye -?-
"Lanjutkan," Kasatsumura ikut ngeramein.
"Mendokusai. Ayo berangkat, MAX!", ucap Shikamaru menirukan gaya Monta *dilempar tomat sama Yoshino karena anaknya disama-samain sama monyet* #dilempar truk sama monta*
"Let's go!"
Akhirnya, Shikamaru, Temari dan Kasatsumura berangkat menuju Sunagakure. Di sepanjang jalan, Shikamaru terus-terusan menanyakan hal yang aneh. Begitu juga Temari.
"Engg… Temari, bagaimana menurutmu tentang imbalan yang Sakura minta?", tanya Shikamaru ragu-ragu sambil tetap memandangi gadisnya itu.
"A..Apa.. mak..maksudmu, Shikamaru?", jawab Temari gugup. "Kalau kau melakukannya, tentu aku senang," jawaban itu sontak membuat Shikamaru blushing.
Telinga Kasatsumura *Hie, keong punya telinga?* langsung bergerak-gerak mendengar apa yang ShikaTema bicarakan.
"Benarkah?", Shikamaru kurang yakin akan apa yang ia dengar.
"Aku ingin jadi milikmu sepenuhnya, Shikamaru. Jadi, itu akan jadi hal terindah dalam hidupku. Sungguh," ucap Temari blushing.
Shikamaru memegang tangan Temari, menatap matanya lekat-lekat.
"Kalau begitu, aku…."
"Anak-anak. Ayo berangkat. Jangan pacaran terus dong," teriak Kasatsumura—mengganggu momen romantis ShikaTema. Shikamaru kesal. Namun ia sadar, memang tidak seharusnya ia membuang-buang waktu. Toh jika akhirnya ia berhasil, ia dan Temari memiliki banyak waktu untuk pacaran. Sekarang ada hal yang lebih penting lagi.
Mereka ber-tiga membutuhkan waktu dua hari setengah untuk dapat sampai ke Sunagakure. Ketika mereka sampai di Suna, ada seorang anak perempuan kecil. Ia menyambut kedatangan mereka berdua, err bertiga maksudnya, dengan lambaian tangan.
Gadis itu memasang senyum yang manis. Dari senyumannya itu, Temari bisa kenal siapa gadis itu.
"Matsuri-chan!", teriak Temari pada gadis itu.
"Temari-sama!", balas gadis itu sambil berlari dan menghampiri Temari. Ia menunduk—tanda hormat.
"Ah, sudah kubilang. Jangan pakai sama. Oh iya, kau ngapain di sini?", ucap Temari.
"Ehh, baik Temari-san. Hehehe. Begini, aku ditugaskan oleh Kazekage-sama untuk menyerahkan ini pada kalian," ucap gadis yang bernama matsuri itu sambil menyerahkan sebuah bungkusan yang lumayan besar kepada Shikamaru dan Temari.
"Apa ini?"
"Ini pasir paling halus dari Sunagakure dan beberapa butir perekat alami dari getah pohon cemara yang hanya tumbuh di desa Kirigakure," jelas Matsuri.
"Ahh, arigatou gozaimashita, Matsuri-chan," ucap Shikamaru tersenyum.
"Oh iya, apa kalian sudah mendapat daunnya? Aku tidak tahu loh apa yang akan kalian buat. Tapi tuan kazekage bilang, jika sudah ada bahan-bahannya, satukan dengan ini," terang Matsuri sambil memberikan sebuah gulungan kecil berisi instruksi untuk membuat cangkang itu.
"Houtou ni arigatou, Matsuri-chan," kata Temari berulang kali. Matsuri hanya tersenyum dan kemudian lari meninggalkan mereka berdua, eh bertiga.
"Udah dapet kan? Buruan gih, bikin. Udah gak pewe tau pake nih cangkang," perintah Kasatsumura dengan lebay-nya.
"Ugh. Dasar mendokusai," gerutu Temari sambil menirukan gaya bicara Shikamaru. Mereka berdua akhirnya mencari sebuah tempat yang tenang dan bisa membuat mereka berkonsentrasi untuk menciptakan benda yang sebenarnya sedikit mustahil utuk dibuat.
Akhirnya, sampailah mereka di sebuah ladang di pinggiran Sunagakure. Ladangnya cukup luas, tenang, (karena ngga ada satu gelintir-pun orang yang tinggal di situ) dan sangat memungkinkan mereka untuk berkonsentrasi dalam menciptakan karya seni rupa yang sangat aneh itu.
Sekarang, Kasatsumura dapat menampakkan diri lagi, karena sudah tak ada lagi orang yang bisa melihatnya di situ selain Shikamaru dan Temari.
Mereka duduk pose sila dan mulai mempersiapkan segala sesuatu yang mereka butuhkan.
"Hm, apa yang pertama harus kita lakukan, Shika?", tanya Temari pada kekasihnya itu. Shikamaru sedikit bingung, namun otak cerdasnya telah mengalahkan rasa bingungnya itu.
"Kita harus satukan serbuk-serbuk pasir itu dengan daun yang telah ditumbuk dengan perekat dari pohon cemara itu," ucap Shikamaru seraya memberikan pandangan mata malas kepada kekasihnya itu.
"Setelah itu?"
"Sudah, kerjakan yang ini dulu. Kau itu tergesa-gesa sekali sih," omel Shikamaru. Temari hanya mengangguk, walau sedikit kesal.
"Temari, kau tumbuk daun itu. Jangan semuanya. Sisakan satu atau dua lembar, oke?"
"Wakarimashita," balas Temari singkat.
'Mereka berdua memiliki chemistry yang kuat. Aku benar-benar percaya mereka pasti bisa melakukannya dengan baik. Ganbatte, Shikamaru-kun, Temari-dono,' batin Kasatsumura.
"Err..Shikamaru. Kok setelah aku menumbuknya, bubuk daun yang dihasilkan sedikit sekali? Apa cukup nantinya?", ucap Temari gugup.
"Bagaimana, keong?", ketus Shikamaru malas.
"Aku bukan hewan biasa. Jangankan hanya memperbanyak bahan. Memperbanyak uang saja aku bisa," celoteh Kasatsumura. Shikamaru dan Temari sedikit lega. Mereka melanjutkan pekerjaan mereka yang belum terselesaikan bahkan untuk 1/4 bagian.
"Temari, ambilkan aku perekatnya," perintah Shikamaru sambil terus membaca gulungan itu.
"Kau tau cara menyatukannya, Shika?", tanya Temari sedikit meragukan Shikamaru. Shikamaru hanya mengangguk malas seperti biasanya.
"Kita harus menyatukannya dengan perekat yang dibasahi liur Kasatsumura," ucap Shikamaru. Kasatsumura kaget.
"Hei, aku bahkan tak pernah berfikir cangkang yang aku pakai ini disatukan menggunakan liurku," protes Kasatsumura. Shikamaru dan Temari hanya memberikan pandangan yang berkata Mana-Kami-Tahu.
"Sebelum itu, gandakan dulu serbuk-serbuk ini. Kalau jumlahnya segini, mana mungkin cukup untuk membuat cangkang yang bisa dipasang di badan gendutmu itu," celetuk Shikamaru.
"Hmpff," hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut lebar Kasatsumura. Ia langsung membalikan badannya dan memberikan sebuah gas yang sangat dibenci oleh manusia karena baunya yang memuakkan. Apalagi kalau bukan kentut.
Shikamaru dan Temari benar-benar sweatdrop mendengar dan merasakan kentut Kasatsumura. Bagaimana tidak? Kentut keong biasa saja belum pernah mereka dengar. Apalagi kentut seekor keong raksasa? Jelas, bunyinya nyaring sekali. Tapi untung tak ada orang disekitar situ. Jadi tak ada yang merasa terganggu kecuali Temari dan Shikamaru *jelas*.
"Kuso! Keong mendokusai. Apa-apaan kau ini? Kentut sembarangan di depan kami? Kau pikir itu..uhuk..uhk," keluh Shikamaru kesal sambil batuk-batuk layaknya orang sakit kronis.
"Kasatsumura-sama. Apa yang anda lakukan si? Uhuk..uhuk.. Baa..Bauu," omel Temari. Kasatsumura hanya tertawa puas.
"Kau bilang aku harus menggandakan serbuk itu. Makanya aku kentut. Itu gas ajaib, baka. Lihat tuh. Serbuknya nambah jadi banyak, kan?"
"Kalau kau..uhuk..uhuk.. Bisa menggandakan serbuk begini, kenapa kau menyuruh kami untuk..uhuk..mengambilkan sepuluh lembar daunnya? Bukankah..uhuk..satu cukup? Nanti kan kau tinggal menggandakannya!", protes Shikamaru benar-benar kesal.
"Aku ingin mengerjai kalian. Sudah lama aku tidak mengerjai orang. Hehehehe," Kasatsumura tertawa puas. Shikamaru benar-benar kesal dengan hewan ini. Sudah besar, ganjen, menyebalkan lagi.
Mereka tak peduli dengan bau yang masih bertebaran itu lagi. Kini mereka berusaha menahannya dan tetap berkonsentrasi membuat cangkang itu.
"Errgh, susah sekali sih menempel ini! Temari, bantu aku dong," Shikamaru terus-terusan mengeluh karena seberapa besarpun usahanya, benda-benda itu sangat susah disatukan. Coba saja, kalian satukan bubuk kopi dengan bubuk susu formula bayi pakai lem. Susah kan?
"Jelas susah. Kalian langsung menempelnya begitu. Kan sudah dibilang, perekatnya dibasahi liurku dulu," geram Kasatsumura. Bagaimana bisa pemuda jenius itu berubah jadi pikun? Apa gara-gara ia kentuti beberapa menit silam? H h h h ..
"Astaga. Kenapa aku lupa?", ucap Shikamaru sambil menepuk jidatnya.
"Kalau begitu, kami minta liur anda, Kasatsumura-sama. Umm.. Tapi ditaruh mana, ya?", kini Temari yang dilanda kebingungan.
"Kalian bawa daun yang dari Konoha itu kan? Daun yang lebar itu loh," Kasatsumura mencoba mengingatkan. "Buat mangkok dari daun itu. Lalu, tampung air liurku di situ," perkataan Kasatsumura membuat Shikamaru merasa kalah. Oh iya, perkataan keong itu ada benarnya juga.
"Aku saja yang buat mangkoknya. Kau kerjakan yang lain dulu," ucap Temari. Shikamaru hanya ber'hn'ria sambil terus membolak-balik gulungan itu.
Temari membuat sebuah mangkok yang lumayan besar berbentuk tak karuan *buru-buru buatnya* dan mendekatkannya di dekat mulut sang keong. Sang keong mengambil ancang-ancang dan...
Sorrrrrr...
Temari sedikit menjauh karena jijik.
"Hiekss.. Warna air liurnya biru! Hieks.. Kok banyak banget si, Kasatsumura-sama?", protes Temari sambil jijik memegangi mangkoknya yang hampir penuh oleh air liur siput raksasa itu.
"Sudah, jangan protes. Basahi perekatnya dengan liurku. Setelah perekatnya basah dengan liurku, campurkan dengan bubuk daun dan pasir itu. Cetak. Jangan terlalu lama," perintah sang keong dengan muka sangaaaaaaaaaaaaaaaat innocent. Shikamaru dan Temari hanya dapat menurut. Mereka segera melakukan apa yang Kasatsumura perintah *darimana keong itu tahu cara membuat cangkang? Tau dong, dzigh*
"Temari, kau bawa alat buat mengaduk nggak? Aku jijik banget sama ini," ucap Shikamaru lebay *kage nui menghadang author*
"I..iya. Aku menemukan sebuah kayu besar di jalan tadi. Ini. Aduk saja pake ini," jawab Temari sambil memberikan kayu itu dengan muka...Jijik. Kasatsumura hanya menggeleng-gelengkan kepalanya *kebayang gak?* sambil tersenyum kecut melihat tingkah pasangan muda itu.
"Sudah tercampur. Sekarang bagaimana mencetaknya?", tanya Temari pada keong itu. Kasatsumura hanya memasang muka cuek sambil mengarahkan pandangannya ke gulungan yang sedari tadi sudah terbuka itu.
Temari menghela napas panjang. Ia tahu maksudnya. Gadis pirang itu melangkah dan mengambil gulungan itu. Dibacanya pelan-pelan. Ia berteriak kencang saat membaca langkah selanjutnya di gulungan itu.
"Hieeeeee? Apaaa?", teriak Temari histeris. Shikamaru yang sedang bersantai sangat terkejut dan menghampiri kekasihnya itu untuk mencari tahu apa yang menyebabkan teriakkan itu terlahir ke bumi pertiwi -?-
"Apa si?"
"Kita..ha..harus mencetaknya de..dengan cetakan..p..punya..Kurou!", ucap Temari terbata-bata. Shikamaru benar-benar merinding. Ketemu sama orang aneh itu lagi? *woy, Shika! Aneh-aneh juga calon ipar lo lagi*
Mereka menelan ludah mereka dan menghayatinya -?-. Dengan sangat sangat sangat terpaksa, mereka harus menuju ke kediaman Sabaku, menatap mata Kankurou, pria berdandanan aneh itu, dan memintanya dengan memelas.
Mereka sudah memutuskan. Oke, whatever will happen, they will do it.
Mereka pergi sementara meninggalkan ladang itu, dengan alat-alat yang masih berantakan di sana. Dan karena mereka sama sekali tidak mau repot, mereka meminta Kasatsumura untuk tinggal diam atau apalah di situ dan jangan mengikuti mereka. Kasatsumura hanya dapat menurut. Sebenarnya, ia juga kan ingin kalau ujian itu cepat selesai dan ShikaTema hidup bahagia selamanya..
Shikamaru dan Temari berjalan menuju ke tempat yang mereka anggap neraka dunia. Yah, paling tidak untuk saat ini.
Mereka berdua sampai. Tak ada habis-habisnya mereka menelan ludah dan mempersilahkan pasangan mereka untuk masuk terlebih dulu.
"Kau ketuk saja dulu. Kau kan juga yang punya rumah,"
"Mana bisa. Kau kan laki-laki,"
"Tapi kan kau yang punya rumah,"
Mereka berdua berdebat di depan pintu rumah yang cukup familiar bagi Shikamaru itu *kalau sama Temari gak usah ditanya*
Sreeeek..
Ciit...
Nada itu menunjukkan pintunya dibuka oleh seseorang.
"Neechan, dan kau. Jadi kalian datang, ya?", ucap seorang lelaki ber-make up aneh dari balik pintu.
"Ngg.. Ano, Kurou.. Neechan mau.. Ngg," belum sempat Temari menyelesaikan kata-katanya, Kankurou telah memasang muka yang aneh : senyum.
"Masuk dulu. Tidak enak kan bicara di luar," kata Kankurou sambil tersenyum. Ada hal aneh yang mengganjal di hati ShikaTema. Tapi mereka berusaha menutupinya. Mereka berdua menurut, lalu masuk ke rumah itu dan duduk di ruang tamu.
Rasanya rindu sekali dengan suasanya rumah itu setelah lama pergi. Ya, itulah yang dirasakan Temari. Ia melihat detail-detail rumah itu. Masih sama kok. Sementara ia melihat-lihat, Shikamaru justru menguap lebar dan hampir tidur kalau saja Temari tidak menepuk pahanya.
"Oh iya, Gaara-san mana?", tanya Shikamaru singkat.
"Dia sibuk mungkin,"
Kankurou datang dari ruang tengah dengan muka yang biasa : menakutkan. Ia membantingkan dirinya di samping neechannya yang sedang duduk di sofa itu.
"Aku lapar. Sebelum aku tahu apa mau kalian, tidak ada salahnya kalian buatkan aku makanan. Um.. Rica-rica sapi ya. Aku sudah membeli bahannya. Kalian tinggal memasak saja," perintah Kankurou dengan muka andalannya. Temari menggelembungkan pipinya dan hampir memukul adiknya kalau saja ia tidak dihentikan Shikamaru.
"Lakukan saja. Kau tak mau ini jadi semakin panjang, kan?", kata Shikamaru menenangkan Temari. Temari hanya mengangguk.
Mereka berdua pergi ke dapur untuk memasak apa yang Kankurou minta, ya walaupun mereka berdua sama sekali belum pernah memasaknya. Paling tidak kan... Hei tunggu! Nggak ada resepnya.
"Aah, apa kita harus memasak makanan yang bahkan belum pernah kita cicipi tanpa resep?", keluh Temari singkat. Shikamaru hanya mendengus dan mencoba memikirkan sesuatu. Ya, siapa tau aja tiba-tiba otak cerdasnya itu nemu daftar resep makanan dan bisa membantu mereka memasak 'Rica-Rica Sapi' itu.
"Kau sedang berfikir, Shika?"
"Hn"
"Kau menemukan resepnya?"
"Tidak. Tapi aku tau bagaimana kita memasaknya," Shikamaru menjawab mantap. "Masak dengan cinta," Temari langsung kaget mendengar kekasihnya berkata seperti itu. Jarang sekali loh, malahan mungkin hanya satu kali ini.
"Hiiie? Kata-katamu aneh, Shika," protes Temari.
"Habis mau bagaimana lagi? Ibuku bilang kalau masak harus pakai cinta," jelas Shikamaru seperti anak TK yang baru diajari ibunya cara membuat kapal dari kertas.
Temari hanya dapat cengingisan membayangkan calon 'kaa-san' nya memberi tahu anak semalas ini cara memasak.
"Ayolah, kau kan perempuan. Masa sama sekali tidak tau apa-apa soal rica rica si? Dasar baka no hime," Shikamaru terus meledek Temari. "Bagaimana kalau kau sudah menikah denganku dan aku memintamu untuk membuatkan Rica Rica tikus? Hah," Shikamaru benar-benar memasang muka meledek Temari. Temari sangat kesal. Tapi di sisi lain, ia blushing mendengar kekasihnya mengandai-andai kalau mereka menikah nanti.. Aaah~ romantis.
"Ung.. Aku sudah bisa menggoreng telur lho.. Ah, sudahlah. Kita mulai memasak saja. Entah apa jadinya. Kurou keracunan juga ngga papa kok. Shika, kau potong bawang merahnya. Aku akan membumbui danging sapinya," semangat Temari berkobar-kobar. Entah apa sebabnya, gadis pirang itu seakan mengerti resep untuk membuat rica rica sapi itu.
"Jangan lupa cinta ya," ledek Shikamaru. Temari hanya mendengus. Gadis itu melakukan semua hal dengan cekatan. Seakan tak mau kalah, Shikamaru meningkatkan level semangatnya. Ia melakukan apa yang diperintah Temari.
Hanya memerlukan waktu sekitar 35 menit untuk mereka menyelesaikan masakan itu. Hasilnya lumayan. Walaupun mereka tak tahu rasa dan penampilan untuk rica rica sapi. Yah, paling tidak masakan ini matang.
Mereka menata masakan itu di sebuah mangkok coklat. Isinya lumayan banyak. Mereka tak yakin, apa Kankurou suka. Tapi tak ada salahnya menyuguhkan hasil keringat mereka itu. Ya, akhirnya mereka menyuguhkannya kepada adik Temari yang cerewetnya minta ampun.
Cowok itu sedang duduk santai di ruang makan. Senyum manis namun ganas tersungging di bibir ungunya. Temari menyuguhkan makanan itu.
"Itadakimasu," Kankurou mulai memakannya. Temari dan Shikamaru harap harap cemas. Mereka tak hentinya meneteskan peluh.
"Ba..bagaimana, K..Kurou-kun?", tanya Temari cemas.
"Sebenarnya lebih mirip sup iga. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Ini.."
"Ya?"
"Ini luar biasa, neechan! Bagaimana neechan bisa membuat makanan seenak ini?"
"Dengan cinta," Temari menjawabnya singkat. Kankurou diam sejenak.
"Aku mengalah. Oke, apa yang kalian inginkan?", ucap kankurou. Temari dan Shikamaru ber'yes'ria.
"Cetakan cangkang keong raksasa. Kata gulungan itu, kau punya cetakannya kan?"
"Oh, cetakan itu. Aku sudah memberikannya pada Kasatsumura. Kalian tahu dia, kan?", Shikamaru dan Temari benar-benar menderita dibuatnya.
"Apa?"
"Yah, cetakan itu sudah tidak aku butuhkan. Jadi aku berikan saja padanya," jelas Kankurou dengan muka innocent. Tanpa berkata apa-apa lagi, Temari langsung menarik tangan Shikamaru dan mengajaknya pergi. Kemana lagi kalau bukan ke tempat mereka membuat cangkang itu.
Kankurou yang merasa dicuekkin, lebih memilih melanjutkan memakan masakan neechannya itu. Yah, padahal, hasil dari masakan itu sendiri si dapur kediaman Sabaku jadi kaya kapal pecah. Whatever lah, emang author pikirin *dzigh*
Shikamaru dan Temari sampai di lahan kosong tempat mereka membuat cangkang itu. Temari langsung memasang muka kesal.
"Kau kenapa, Temari-dono?", tanya Kasatsumura tak berdosa.
"Kenapa tidak bilang kalau cetakan itu sudah ada di tangan anda?", omel Temari.
"Kau saja yang tidak tanya, kan?", perkataan Kasatsumura ada benarnya. Memang kan yang tergesa-gesa itu Temari. Ya sudahlah. Yang penting sekarang ini mereka harus bergegas mencetak cangkang itu.
Atas permintaan ShikaTema, Kasatsumura mengeluarkan sebuah jutsu untuk memanggil cetakan itu -?-. Cetakan yang dimaksud ternyata berukuran sangat besar. Memang agak aneh si, bentuknya..
Mereka langsung memasukkan adonan itu ke cetakan. Agak susah meratakannya. Karena memang sangat banyak dan berat. Kasatsumura harus membantu mereka mendorong dan meratakannya. Sampai akhirnya adonan itu masuk sepenuhnya ke cetakan.
Butuh waktu banyak agar dapat terbentuk sempurna. Yah, untuk menunggunya, ShikaTema melepas lelah dengan tiduran di lahan itu. Lagi-lagi, mereka membicarakan hal yang aneh, tapi romantis.
"Temari, kalau aku benar-benar meng-iyakan imbalan Sakura bagaimana?", tanya Shikamaru sambil memandang langit.
"Aku kan sudah bilang. Itu akan jadi hal yang paling membahagiakan dalam hidupku,"
Saat mereka sedang asik-asik mengobrol, Kasatsumura berteriak gaje -?-
"Anak-anak. Sudah kering.. Lihat ini," teriak keong itu gembira.
"Ahh~ kinclong, bagus, cantik," puji Temari kepada hasil karyanya.
"Arigatou yaah.. Sekarang aku tinggal memakainya. Kalian tutup mata. Jangan mengintip," ucap Kasatsumura genit.
"Iya, iya," ucap ShikaTema bebarengan.
Setelah beberapa belas menit, Cangkang baru Kasatsumura terpasang. Dia tampak lebih manis..err.. Untuk ukuran keong monster lah.
"Ujian terakhir ada di Konoha. Pergi ke sana. Gaara menunggu kalian," ucap Kasatsumura sambil memutar-mutar tubuhnya.
"Apaaaaa? Ujiaaan laagiiiii?", sepertinya Shikamaru dan Temari hampir stres.
"Bagaimana ini?", tanya Temari pada kekasihnya yang masih kebingungan itu.
"Kita lakukan sajalah. Itung itung pulang kampung," kata Shikamaru berat. 'Bagi elu pulang kampung, bagi gue mah sama aja diculik,' bati Temari kesal.
Setelah cukup beristirahat, mereka lalu segera pergi ke Konoha. 3 hari mereka berjalan. Lelah? Banget laaah.. Beberapa hari belakangan mereka selalu bolak balik Suna-Konoha demi tes itu! Yah apa boleh buat si..
3 hari di perjalan *skip aja yaa*
Mereka sampai di gerbang Konoha. Kali ini gerbangnya sepi sekali. Loh, kemana Izumo sama Kotetsu? Kenapa fans berat ShikaTema ini menghilang dari peredarannya? Apa yang terjadi?
Sepanjang perjalanan menuju tempat pertemuan dengan Gaara *tempatnya di deket Ichiraku* jalanan sangat sepi. Tak terlihat satu butirpun penduduk Konoha yang sedang beraktivitas. Agak aneh memang, tapi mereka tetap melanjutkan perjalanan.
Sampai di tempat pertemuan, keadaan masih sepi.
1 detik
.
.
.
5 detik
.
.
..
1 menit
Sreeeeekkkk..
Terdengar samar-samar suara kaki sesorang, oh bukan, banyak orang..
Semakin banyak, banyak, daaaaannn…
"Welcome Home, Shikamaru," teriakan seluruh penduduk desa merasuki telinga mereka berdua.
"Apa-apaan sih ini? Hei, aku harusnya mengerjakan ujian terakhir. Mana Gaara-san?", tanya Shikamaru bingung.
"Ujian terakhir bukan Gaara yang memberikan. Tapi seluruh warga Konoha," celoteh Naruto.
"Apa sih maksudnya? Aku jadi ikutan bingung," Temari ikut angkat bicara.
"Konoha dan Suna sebenarnya sudah baikan. Aku dan Kankurou memberikan ujian ini semata-mata untuk mengetes seberapa besar cintamu pada neechan. Dan kau sudah membuktikan. Seberapa beratpun rintangannya, kau akan selalu melindungi neechan," ucap seorang pria berkepala merah yang selalu membawa gentong yang keluar dari kerumunan orang itu.
"Apaaa?", Shikamaru dan Temari shock.
"J..jadi?"
"Heem. Kalian memang punya chemistry yang kuat~dattebayo. Seharusnya kita juga melakukan petualangan itu. Iya kan Hinata?", ucap seorang pemuda, ya siapa lagi kalau buakn Naruto Uzumaki sambil memeluk pacarnya, Hinata Hyuga erat erat.
"Eh..I..i..ya.. Naruto..kk..kun," jawab Hinata dengan logat khasnya.
"Kalau kita bagaimana, Neji?", tanya Tenten pada pacarnya, Neji Hyuga. Neji hanya ber'hn'ria. Namun itu tak membuat Tenten kecewa. Ia tetap merangkul erat kekasihnya itu.
"Yah, kalian berhasil! Selamaat yaaa," ucap Ino, sahabat kecil Shikamaru. Gadis ini mengedipkan sebelah matanya pada Shikamaru—tanda ujian selanjutnya. Sai mencubit lengan Ino—tanda Ino jangan ngasih tau dulu dong!
"Okee, Shikamaru. Ujian selanjutnya, kami serahkan pada Shikaku-ojiichan dan Yoshino obaachan," kata Sakura layaknya MC.
"Shikamaru, kau itu sudah tumbuh jadi pria dewasa. Kau telah berhasil menjaga orang yang kau cintai ini dari bahaya. Kau perlu untuk menjaganya lebih," ucap Yoshino kepada anak semata wayangnya itu.
"Kau tahu, apa maksud ibumu?", goda Shikaku.
"Apa?", ucap Shikamaru singkat. Temari yang sudah tahu maksudnya langsung blushing.
Shikaku memberikan sebuah kotak merah-jambu kepada Shikamaru.
"Ayah mau tahu, cintamu pada Temari itu seberap. Hehehe, kau tahu apa isi kotak ini? Lindungi dia ya. Ini simbolnya. Apa kau masih tidak mengerti?", Shikaku mengedipkan sebelah matanya. Shikamaru sadar. Ia blushing berat.
"Aku belum siap," kata Shikamaru singkat.
"Harus," Shikaku memaksa.
'Apa? Melamar Temari di depan seluruh warga Konoha? Apa ayah gila? Aduh, apa aku harus kabur? Nghhh.. Tidakkk! Aku harus gentleman. Baiklah," Shikamaru membulatkan nyalinya. Ia mengambil kotak merah-muda itu dan menggengamnya erat. Ia buka pelan-pelan dan.. Ia tersentak. Isinya cincin berlian yang sangat indah. Ia berpikir jauh ke angan-angannya. Cincin ini sangat cocok dipakaikan di jari Temari yang manis. Ia pun membalikkan badannya kea rah Temari dan berusaha menatap wajah cantiknya yang telah lama memerah.
Ia mulai jongkok—tidak, bukan pose orang sedang BAB, tapi pose romantis itu looh. Shikamaru mengarahkan kotak merah muda itu Temari.
"Hountou ni suki dattan da, Temari. Aku sudah membuktikan kalau aku bisa melindungimu, dan aku akan selalu melakukan itu. Kau tahu, kau telah mengubah hidupku, dan.. Sungguh, aku tak bisa tenang kalau tak ada kau. Daisuki yo, Temari. Seberapa banyakpun aku mengucapkan kata itu, takkan pernah cukup untuk mengungkapkan seluruh cinta di hatiku yang hanya untukmu. Terimalah cincin ini, Temari, dan hiduplah dengaku. Kita pasti bahagia," perkataan Shikamaru itu membuat seluruh penduduk pingsan. Bagaimana tidak, Shikamaru itu kan..Ya ampun, sudah, bahkan tak bisa lagi di ungkapkan kata-kata. Betapa malasnya pemuda itu. Bagaimana bisa dia melamar seorang gadis di depan orang banyak, sedangkan menurutnya, seluruh hal adalah mendokusai.
Temari blushing berat. Ia jongkok dan menyamai tinggi Shikamaru. Ia mendekatkan wajahnya ke Shikamaru dan berkata sesuatu.
"Apa kau tahu, bocah? Aku lebih mencintaimu dari apapun," ucap Temari singkat.
"J..Jadi?", Shikamaru berkeringat dingin.
"Aku mau kau pakaikan benda itu di jariku," goda Temari. Shikamaru tersenyum bahagia. Itu adalah hal paling bahagia dalam hidupnya. Gadis yang ia cintai menerima lamarannya, daann..
"Yeaaah," sambil berteriak begitu, Shikamaru memeluk Temari erat. Setelah beberapa detik, ia melepaskan pelukannya dan langsung mengambil cincin itu dan memasangkannya di jari mungil Temari. Cocok sekali, memang. Senyum manis benar-benar setia menghiasi wajah pasangan muda ini. Yoshino Nara, Shikaku Nara, serta Sabaku Gaara dan Sabaku Kankurou yang berada di lokasi kejadian benar-benar bahagia. Gaara yang biasanya diam, kini tepuk tangan mengikuti alunan nada para penduduk dan juga tersenyum bahagia—khusus untuk sang neechan tercinta.
"Shikamaruu," seorang gadis softpink memanggil nama pemuda itu. "Kau hebat. Kau telah memeriku imbalan. Hahahahaha, omedetou nee yaaa," kata gadis itu ikut bahagia. Setelah ucapan selamat dari Sakura, seluruh penduduk juga memberikan pasangan muda itu selamat. Selamat karena akhirnya cinta mereka bersatu, walau belum resmi, namun itu juga hal yang sangat membahagiakan. Yeah~ hari itu juga, ujian berakhir, dan cinta ShikaTema menjadi semakin kuat.
OWARI-THE END-
Yokatta Kami-sama.. Haha, aku bisa selesai-in nih fic gaje..
Gimana ceritanya? Jelek ya.. Hmm, Gomen laah,..
Makasih banget buat semuanya yang udah kasih REVIEW, smoga Allah membalasnya, amiiin…
Mind To Review Again? Oke, silahkan.. Boleh bangeeet..
REVIEW nya di tunggu !
Ja nne .. :D
Ai No Gaiden – OWARI -
