Kuroko no Basuke Fanfiction
"The World Between Light and Darkness"
Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
Rating : T
Warning : AU, Angel&Devil, Maybe OOC and some typo
Pairing : AkaKuro, AoKi & MuraHimu
A/N : Chapie 6 akhirnya beres juga (OwO)/ Karena waktu yang udah makin mepet, rencana author sih TWBLAD bakal ditamatin di chapie 10, yahhh~ kurang lebihnya :D Semoga aja fic ini bisa berjalan sampai tamat ntar ya XD Chapie kali ini adalah chapie yang ngebuka Final Battle antara Emperor vs Kuroko dkk. Hidden Skill Kise yang paling pertama author keluarin XD Walalupun masih banyak kekurangan, semoga reader-tachi menikmati ceritanya ya. XD
Special Thanks for aidenfishy, Yuna Seijuurou, Alenta93, Seijuurou Eisha, Lee Kibum , jessyjasmine7, luwita marshanugroho, InfiKiss, reika d'luv, yui yutikaisy dan Kuro no Hime-sama yang udah ngeripiu & PM di chapie sebelumnya :*
Thank You for all review, fav, follow and all Silent Readers.
Author akan menunggu saran, kritik atau masukan kalian \(OwO)/
Happy Reading all,
With Love,
Zelvaren Yuvrezla a.k.a renchanz
The World Between Light and Darkness
~Sixth Phrase~
Aku tidak peduli dunia seperti apa yang akan menunggu kita, masa depan yang telah ditakdirkan pada era ini. Asalkan itu bersamamu, aku tidak peduli. Saat itu aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk menahan semua perasaanku padamu, berusaha untuk kuat meskipun hati ini terluka. Meskipun aku tahu itu bukanlah kau, meskipun aku tahu itu adalah sosok orang lain.
Mengapa?
.
.
Mengapa dadaku terasa sesak saat kau bersama orang lain selain diriku?
.
.
"Akashi-kun." Angel bersurai Icy Blue tengah berlari menghampiri Angel dengan helaian rambut berwarna Scarlet. Pemuda itu sedang duduk seorang diri di halaman belakang, pandangannya melihat kearah langit. Langit dengan pantulan Azure yang ia sukai.
"Kenapa kau berlari seperti itu, Tetsuya?" Pandangannya kini melihat dengan jelas iris Baby Blue yang memandangnya. "Terlebih lagi, Jangan panggil aku 'Akashi-kun', seharusnya kau sudah terbiasa memanggilku 'Seijuurou-kun', kan?"
Rona diwajah Kuroko kini timbul, Kuroko berusaha menutupinya dengan mengalihkan pandangannya.
"Tetsuya." Akashi kini berdiri tepat didepan Angel bersurai Icy Blue yang masih sibuk untuk mengatur nafasnya sendiri, ia membingkai pipi Kuroko dengan lembut, menuntun iris Baby-Blue nya untuk bertemu dengan iris Deep Crimson miliknya.
"H—Habisnya aku belum terbiasa memanggilmu dengan nama kecilmu, Aka—Seijuurou-kun."
Akashi tersenyum tipis.
"Lalu, Kenapa kau berlarian kemari, Tetsuya?"
Kuroko menundukkan kepalanya, terdiam tanpa mengeluarkan suara apapun.
"Kau cemburu?" Tanya Akashi to the point, membuat Angel dengan surai Icy Blue itu mengangguk perlahan.
Akashi lalu tertawa kecil. "Tenang saja, Tetsuya. Aku tidak mungkin selingkuh dengan Atsushi, kan? Lagipula Atsushi sudah mengklaim Tatsuya."
Pemuda beriris Baby Blue itu langsung menatap kembali pemuda dengan helaian Scarlet-nya.
"Eh? Himuro-kun?"
Akashi lalu menangguk kecil. "Kau tahu kan Atsushi sering berkunjung ke rumah Ojii-san? Aku dan dia sering bermain bersama, sampai sekarang ia adalah satu-satunya Angel yang paling dekat denganku. Tentunya tidak melebihi hubungan kita berdua."
Akashi mengelus kepala Kuroko dengan lembut.
"Kau tidak menyadari hubungan antara Atsushi dan Tatsuya?"
Kuroko menggelengkan kepalanya perlahan.
"Memang keduanya tampak-'berbeda' dari biasanya, tetapi aku tidak menyangka kalau keduanya ternyata memiliki hubungan seperti itu."
"Makannya, tidak ada yang harus kau khawatirkan, Tetsuya."
"Aku tahu Seijuurou-kun. Tetapi saat melihatmu begitu dekat dengan Murasakibara-kun itu, rasanya.."
Akashi menutup matanya, kini tangannya memegang kedua tangan milik Kuroko.
"Kalau begitu, aku berjanji bahwa kau akan menjadi Cahaya-ku. Tidak ada orang lain yang bisa menggantikan posisimu dalam hatiku, Tetsuya."
"Cahaya..?"
"Kau adalah satu-satunya Cahaya yang akan menuntunku, Cahaya yang akan menerangi jalanku saat aku tersesat dalam kegelapan, Cahaya yang akan memberi kehangatan saat aku kedinginan. Dan, Cahaya yang akan memeluk bingkaian hatiku oleh cintamu."
Muka Kuroko kembali merah padam.
"Seijuurou-kun, kau senang sekali menjahiliku."
"Aku tidak bercanda, Tetsuya." Balasnya sambil tersenyum lebar karena melihat bagaimana reaksi kekasihnya itu.
Akashi mendekatkan dirinya, mengecup dahi Angel tersebut dengan lembut.
"Aku akan mencintaimu, selamanya."
- XxX -
'Aku berjanji bahwa kau akan menjadi Cahaya-ku.'
Perkataan itu terniang dibenak Kuroko Tetsuya saat seorang Akashi Seijuurou memperkenalkannya dengan sosok Mayuzumi Chihiro. Pemuda dengan surai keabuan yang dinobatkan menjadi 'pengganti' bagi sosok Kuroko.
Apa aku tengah bermimpi? Dark Elemental yang dimiliki oleh Akashi-kun? Bila ia menganggapku cahaya yang selalu menemaninya, itu berarti, sosoknya sekarang memiliki kegelapan yang terus menemaninya? Sosok yang akan mendampinginya, mengikutinya- Dan itu bukanlah diriku?
Kaki Kuroko seakan terpaku, ia berusaha untuk menggerakannya, tetapi usahanya itu nihil.
"Dark Elemental yang ditakdirkan untuk membunuh Light Elemental, Eksistensimu kini akan terhapus dengan kemunculan Chihiro. Sejarah tidak akan mencatat lagi kehidupan Light Elemental karena kau akan berakhir di era ini."
Pandangan mata Kuroko kini memandang Akashi dengan serius. "Aku-tidak akan membiarkan kalian menang dengan mudah, Akashi-kun. Dengan kekuatanku, aku akan mengembalikanmu seperti semula."
Akashi mengendus kecil, melihat kearah Kuroko dengan tatapan yang dingin.
"Kau pikir, siapa yang telah mengajari teknik bertarungmu, Tetsuya?" Matanya memandang tajam iris Baby-Blue yang tanpa getar terus memandang iris Heterochrome milikinya. "Chihiro akan menggantikan posisimu dalam era yang akan kukuasai. Dia memiliki kekuatan yang sama—tidak, bahkan lebih dari dirimu saat ini."
DEG.
Kuroko dengan perlahan melihat kearah samping, tempat dimana Mayuzumi terdiam sedari tadi. Pandangan mata Mayuzumi melihat kearah Kuroko, seolah mengamati reaksi Angel bersurai Icy Blue ini dengan seksama.
"Kau adalah Prototype, Tetsuya. Barang lama yang tidak memiliki nilai lagi dimataku. Karena itu, akan lebih baik kau cepat lenyap dari dunia ini," Ekor mata Akashi kini melirik kearah Mayuzumi "Jangan ikut campur sekarang, Chihiro." Ujarnya sambil mengeluarkan Blue Flame dari tangan kanannya.
'Tidak ada orang lain yang bisa menggantikan posisimu dalam hatiku, Tetsuya.'
Akashi menghempaskan api tersebut dengan cepat, memang tidak sebesar dan sekuat sebelumnya, tetapi api ini berhasil membuatnya melayang hingga menabrak pohon yang berada di belakangnya.
"Ugh!" Bahu kiri Kuroko kini mengeluarkan darah, jahitan dari luka sebelumnya kini terbuka kembali.
Akashi lalu mendekat kearah Kuroko. Ia tersenyum dengan sinis, menghampit tubuh Kuroko sehingga dari sebelah kaki Akashi, ia dapat merasakan tubuh Kuroko yang kini menjadi kaku ketika melihat Pemuda beriris Heterochrome sangat dekat dengannya.
Akashi berada ditengah tubuh Kuroko, ia menyegel kedua lengan Light Elemental itu menggunakan apinya, sehingga tangan Kuroko tidak bisa bebas bergerak. Puas dengan hasil segelnya, ia mendekatkan dirinya menuju leher mangsanya.
Tidak, ini bukan Akashi-kun. Tenang, Tetsuya, Tenang.
Hembusan Nafas milik Akashi dapat terasa disela-sela lehernya, kemudian nafas itu beralih menuju bahunya, dimana luka miliknya terbuka. Tanpa aba-aba, Akashi kini membuka setengah pakaian milik Kuroko, pakaian menyerupai Kimono yang menampilkan darah mengalir segar dari bahu sang pemilik. Darah yang berasal dari jahitan itu kini mengalir. Akashi lalu menjilat darah yang keluar dari bahu Kuroko dengan perlahan.
"!" Mata Kuroko terbuka lebar mendapat perlakuan yang tidak terduga.
Atur nafasmu, Tetsuya!
Setelah selesai menjilat darah itu, Akashi lalu menciptakan Blue Flame yang menyerupai sebuah pedang kecil, tanpa aba-aba lagi, ia langsung menusuk bahu yang terluka menggunakan pisau kecilnya. Membuat Kuroko meringis kesakitan.
"AGHHHH!"
"Akan kuberitahu seatu hal yang bagus untukmu."
Kuroko mengatur nafasnya yang kini sudah tidak beraturan. Sakit, bahunya kini terasa sangat keram baginya. Akashi lalu mencabut pedang tersebut dan membuangnya ke tanah.
Jangan dengarkan ucapannya, Tetsuya. Hiraukan semua perkataannya saat ini. Dia Emperor, bukan sosok Akashi Seijuurou yang kau cintai. Ingatlah akan masa-masa indah dengan Akashi-kun, -kata yang menjadi semangat hidupmu, alasanmu bertahan hingga hari ini.
'Aku akan mencintaimu, selamanya.'
.
.
"Aku membencimu, Tetsuya."
DEG.
Ia tahu, perkataan itu bukanlah perkataan dari Akashi Seijuurou miliknya. Emperor lah yang mempermainkan perasaannya saat ini. Padahal ia tahu.
Tetapi,
Mengapa rasanya begitu sakit? Ketika sosok yang amat kau cintai berkata bahwa ia membencimu?
"TETSU!" Teriakan pemuda bersurai Navy kini mengalihkan pandangan Heterochrome kearah pemuda dengan pantulan mata Sapphire.
"Akashi.. Sialan! Lepaskan Tetsu!" Teriaknya sambil menyerang Akashi.
Akashi langsung mundur kebelakang, smirk-nya kini terlihat dengan jelas.
"Sayang sekali kali ini aku harus membatalkan niatku untuk membunuhmu, Tetsuya." Pandangan Akashi kini beralih, ia melirik kearah Aomine. "Kau yang sekarang bahkan tidak bisa melindungi siapapun, Daiki." Ujarnya sambil memandang dingin Aomine.
Akashi kini mengeluarkan Blue Flame-nya kembali, menyerang Aomine secara langsung. Mengetahui radar bahaya yang akan menimpanya, Aomine dengan segera membuat pelindung untuk dirinya sendiri. Ia membuat sebuah barrier dari diagram sihir yang cepat-cepat ia buat. Namun, pelindungnya saat ini bahkan tidak bisa menghalau Blue Flame yang dikeluarkan oleh pemuda bersurai Scarlet tersebut.
Setelah serangan dari Akashi berhenti, Aomine kini memasang kuda-kuda untuk kembali menyerangnya. Namun, Mayuzumi yang sedari tadi diam kini memblok pandangan Aomine untuk menatap sosok Akashi. Meskipun pandangan matanya kosong sekalipun, Aomine tahu bahwa orang yang berada dihadapannya ini bukanlah boneka hidup yang Akashi kendalikan, ia memantulkan sebuah aura yang begitu kuat.
"Chihiro, hentikan. Belum saatnya kau menggunakan kekuatanmu," Akashi kini memutar badannya, memunggungi Mayuzumi dan Aomine. "Kita pergi sekarang, sudah cukup besar kekuatan yang kupakai untuk menyegel Seijuurou seutuhnya."
DEG!
Kuroko yang sedari tadi tertunduk kini menatap Akashi dengan pandangan yang tidak percaya.
Akashi tersenyum puas, menatap ketidakberdayaan Kuroko. "Kau tahu, Tetsuya? Akashi Seijuurou yang kau kenal tidak akan kembali menyelamatkanmu lagi."
"Bohong.. kau.. berbohong.."
Tawa sinis kini terdengar ditempat tersebut. "Kau bisa mencari tahunya sendiri ketika kita bertemu lagi, Tetsuya," Akashi kini melirik kearah pemuda bersurai keabuan "Kita pergi, Chihiro."
"Yes, My Lord." Mayuzumi kini mengikuti Akashi yang pergi melayang ke udara. Tak lama sosok keduanya pun menghilang.
Aomine kini mengepalkan tangannya dengan kuat. Rona kesal yang sangat mendalam tidak bisa terlepas dari wajahnya saat ini. Setelah Aomine menolong Kuroko, mereka pun kembali ke rumah mereka. Kuroko menatap Aomine dengan tatapan yang bingung, selama 11 tahun ia berteman, bahkan tidak sekalipun Kuroko melihat wajah murka seperti ini dari sosok Aomine. Selama perjalanan, mereka berdua hanya berdiam tanpa mengobrol sedikitpun.
Setelah mereka kembali, seisi rumah kini menjadi bingung dengan kelakuan Aomine yang menjadi diam. Mukanya masih terlihat sangat kesal. Ia langsung mengunci dirinya dikamar, bahkan Kise sekalipun tidak diizinkan Aomine untuk masuk kedalam kamarnya. Luka di bahu Kuroko kini langsung diobati oleh Himuro, melihat Kise yang tampaknya kesulitan untuk menggerakan tangannya untuk saat ini. Hingga keesokan harinya, ketika mereka semua berkumpul di kamar Murasakibara, Aomine kini mulai membuka mulutnya.
"Ada- sesuatu yang ingin kusampaikan pada kalian semua."
Pandangan wajah Aomine masih menunjukkan wajah yang memendam sebuah kekesalan. Semua yang berada di ruangan itu kini menatap Aomine.
"Ada apa, Aominecchi?" tanya Kise dengan hati-hati.
"Aku- akan pergi."
.
.
"A..Aominecchi.. kau bercanda, kan?" Kise kini tertawa getir.
"Tidak, aku serius, Kise. Aku akan pergi."
"Kenapa Mine-chin memutuskan untuk pergi?" Murasakibara kini angkat berbicara.
"Apa ada sesuatu yang menganggu pikiranmu, Aomine? Kau tahu bahwa kita selalu berbagi , kan?"
Aomine kini memandang kearah sekitarnya. Ia melihat wajah Kuroko sesaat, lalu kembali menatap semuanya.
"Saat melawan Midorima," Aomine kini menyenderkan punggungnya ke tembok. "Ia berkata tentang Hidden Power, kekuatan yang belum kuketahui selama ini. Karena itu, aku ingin mencari tahu tentang kekuatan itu."
"Apa kau akan pergi seorang diri, Aomine-kun?" kini Kuroko mulai berbicara. "Tidak bisakah kita temukan kekuatan itu secara bersama?"
Aomine kini menutup matanya, tersenyum kecil.
"Tidak, aku membutuhkan sebuah alasan. Alasanku untuk bertarung, untuk menjadi pedang sekaligus pelindung untuk kalian semua."
"Aominecchi.."
"Aomine-kun," Kuroko kini mendekatkan dirinya kearah Aomine. "Aku tidak akan melarangmu bila kau ingin pergi, tetapi—ingatlah, kita semua adalah satu. Kau tidak usah menjadi pedang maupun pelindung bagi kami semua, tidak ada yang membebankan semua ini untuk Aomine-kun. Kita semua satu, kita bersama, kita saling melindungi satu sama lain." Kuroko lalu tersenyum. "Kita akan menunggu kepulanganmu, Aomine-kun."
Aomine tak kuasa menahan senyumnya. "Sankyuu, Tetsu."
- xXx -
Ini adalah hari terakhir Aomine bersama dengan mereka. Setelah Kise dan Himuro memasak untuk semuanya, tidak terasa malam pun tiba. Itu artinya esok hari Aomine akan pergi dari tempat mereka saat ini. Kise langsung pergi kekamarnya setelah mereka semua selesai makan, tanpa berkata apapun. Setelah sedikit mengobrol dengan yang lainnya, Aomine kini memutuskan untuk pergi ke kamar Kise. Ia tahu Angel dengan Surai Blonde itu pasti sangat sedih saat ini.
KNOCK-KNOCK-KNOCK
"Kise, aku masuk." Aomine, tanpa menunggu jawaban dari Kise kini masuk ke kamarnya. Ia terkejut menemukan kamar pemuda bersurai Blonde ini gelap. Sedangkan sang pemilik kamar kini memeluk lengan kakinya di ujung kasurnya, masih tidak merespon perkataan Aomine.
Aomine menghela nafas kecil, ia kemudian berjalan mendekati Kise.
"Kise," Tangannya kini memegang pipi Kise. Aomine tahu, wajahnya kini telah basah oleh airmatanya sendiri. Aomine dengan perlahan kini mengalihkan pandangan Kise yang sedaritadi menunduk untuk menatap wajahnya.
"Kau..akan pergi-ssu?" Kise bertanya dengan suara yang bergetar. "Kau tidak mengatakan apapun tentang hal ini.."
Aomine menghela nafas . "Aku telah memikirkankan, semua yang terbaik untuk kita semua. Aku tidak bisa melakukan hal ini setengah-setengah, Kise. Demi janji kita terhadap Akashi, aku harus menjadi lebih kuat dari sekarang. Aku membutuhkan alasanku untuk bertarung." Jawabnya sambil menghapus airmata yang mengalir dari mata Kise.
"Ta—tapi.. apa yang bisa kulakuan tanpa Aominecchi-ssu.. a..aku tidak bisa berpura-pura kuat didepan Kurokocchi dan yang lainnya-ssu.."
"Kau," Aomine kini memandang lembut iris mata milik Kise. "Tidak perlu berpura-pura kuat, Kise. Cukup menjadi dirimu apa adanya. Kita semua unik karena kita memiliki kepribadian kita masing-masing. Bila kau memang tidak kuat, kau tidak usah berpura-pura untuk menjadi kuat. Kau ingat perkataan Tetsu, bukan? Kita ini satu, Kise. Karena kita memliki kelemahan, makannya kita bersatu untuk menjadi kuat." tambahnya, ia lalu mengecup mata Kise dengan perlahan.
"Aominecchi.. berjanjilah padaku, kau akan kembali ya?" Pinta Kise sambil menatap iris Sapphire milik Aomine.
"Tentu saja aku akan kembali, Kise." Aomine kini mendekatkan dirinya, mempersempit jarak diantara keduanya, sehingga bibir mereka kini bersentuhan. Kecupan yang manis meskipun hanya sesaat.
"Lalu- jangan selingkuh, Aominecchi."
Aomine mengedipkan matanya beberapa kali, perkataan Kise barusan sungguh tidak masuk dalam hitungannya. Aomine langsung tertawa lepas. "Hhahahahaa! Aduh.. aduh, perutku." Katanya sambil menahan perutnya.
"Mou! Aku tidak bercanda-ssu!"
Setelah tawa Aomine reda, dengan rona muka Kise yang kini menjadi masam, akhirnya Aomine kembali membalas pertanyaannya barusan. "Kau tahu jawabannya semenjak awal, Kise. Bagiku, tidak ada seorangpun yang bisa mengisi kekosongan hati ini selain dirimu."
"Aominecchi.."
"Makannya, sebelum aku kembali, kau juga harus selamat."
Kise lalu mengangguk. "Aku tidak akan kalah denganmu! Aku akan mencari informasi tentang Hidden Power-ku juga-ssu!"
Aomine kini tersenyum. "Ini baru Kise yang kukenal."
- xXx -
Himuro tengah menatap jendela, pandangannya begitu kosong. Seperti sedang memikirkan sesuatu dengan keras. Ia bahkan tidak menyadari bahwa pemuda bersuari Violet yang sedang terbaring tengah memanggil namanya sedari tadi.
"..-chin..Muro-chin.. Muro-chin!"
Sadar akan lamunannya, Himuro mengalihkan pandangannya kearah Murasakibara.
"Ah, Atsushi.. Maaf, aku tidak mendengarmu tadi."
Murasakibara menatap wajah Himuro, ia kemudian duduk di kasurnya, sehingga bisa menatap Himuro yang duduk dipinggiran kasurnya dengan sejajar.
"Ada—yang mengganggu pikiranmu?"
"Tentang Hidden Power itu, Atsushi."
Murasakibara kini memegang tangan Himuro. "Muro-chin tidak usah khawatir, mereka pasti bisa menemukan kekuatan itu."
Himuro kini menatap Murasakibara, luka yang disebabkan oleh Emperor hampir membuat seluruh badan Murasakibara dililitkan oleh perban. Pada hari sebelumnya, bahkan kepalanya ikut diperban karena lukanya yang begitu besar. Namun sekarang sudah tidak separah ketika ia pertama kali mendapat serangan yang menggenaskan itu.
"Atsushi," iris mata Himuro kini menatap pemuda bersurai Violet tersebut dengan seksama. "Andaikan para Devil mempunyai Hidden Power juga, aku pasti bisa membantu kalian."
"Muro-chin tidak usah mempersalahkan hal itu. Tanpa Hidden Power sekalipun, bila kau melepaskan semua kekuatanmu, kau sangat kuat Muro-chin."
"Tapi-"
"Muro-chin." Murasakibara kini melebarkan kedua tangannya, seolah meminta Himuro untuk masuk dalam pelukannya. Himuro sempat terdiam sesaat, namun ia masuk juga dalam pelukan Murasakibara.
"Kita tidak sendiri. Ada Mine-chin, Kise-chin, dan Kuro-chin bersama kita. Bagiku, asalkan Muro-chin bersama denganku, aku tahu apa alasanku untuk bertarung."
Himuro kini tersenyum akan pernyataan Murasakibara. Murasakibara yang begitu polos yang selalu berkata apa adanya itu.
"Demi memenuhi janji kita semua pada Aka-chin, kita harus kuat, Muro-chin."
- xXx -
Kuroko menutup matanya perlahan. Malam itu dia tengah memikirkan seluruh kejadian yang terjadi, termasuk akan masa lalunya. Ingatan masa lalunya yang belum seluruhnya terbuka, ditambah fakta yang terjadi saat ini cukup membuatnya pusing.
"Akashi, ah..tidak, Seijuurou-kun, kah?" Kuroko menaikan tangannya ke atas, menatap surat peninggalannya, surat yang menjadi pemicu kembalinya sebagian ingatan miliknya saat ini. "Sejak kapan aku dan Seijuurou-kun menyatakan perasaan kami masing-masing?"
Kuroko kini berguling dengan malas di kasurnya.
Ia mengingat kejadian saat ia bertemu dengan Akashi dan Mayuzumi. Memang, hatinya begitu pilu ketika Akashi berkata Mayuzumi akan menggantikan posisinya. Tetapi, saat Akashi mendekat kearahnya, saat jarak diantara keduanya begitu dekat. Hal itu berhasil membuat rona dimuka Kuroko memerah.
"Apakah aku dan Seijuurou-kun dulu pernah sedekat itu..?" Kini kedua matanya tertutup. "Sebenarnya, apakah kejadian yang terjadi, sehingga kau dan aku memutuskan untuk menyegel ingatanku—"
Kuroko lalu menepuk kedua pipinya.
"Apapun yang terjadi di masa lalu, meskipun aku telah mengingatmu perlahan demi perlahan, aku pasti akan mencari cara untuk menyelamatkanmu, Seijuurou-kun."
Keesokan harinya, Aomine pamit kepada semuanya, sedangkan Himuro akan mencari beberapa informasi untuk menyelamatkan sosok Akashi yang sudah terkurung oleh Emperor. Kuroko sendiri kini sibuk membaca halaman yang belum ia baca dari buku Light Elemental-nya.
Hingga ia menemukan sebuah kunci, kunci yang akan menjadi jawabannya untuk mencegah Emperor.
-Bila kau memilih untuk menyelamatkan jiwa dari medium yang dihinggapi oleh Emperor, kau harus menggunakan Forbidden Skill. Pertama-tama kau harus menguasai bagaimana Hidden Skill-mu, setelah kau berhasil membukanya, saat itu juga kau mempunyai kesempatan lebih besar untuk menggunakan Forbidden Skill. Tetapi, ingatlah, bila kau gagal menggunakan kekuatan ini, saat itu juga kau akan mati.-
Kuroko menelan ludahnya. Ia memang pernah mendengar bahwa Forbidden Skill itu sangat berbahaya, tetapi ia tidak tahu bahwa nyawa yang ditaruhkan pada penggunaan kekuatan ini.
"Akan kulakukan, meskipun itu berarti aku akan mati sekalipun.." Pandangan mata Kuroko berubah menjadi serius, kemudian ia membaca kelanjutan dari buku tersebut.
- xXx -
Sudah beberapa puluh jam Aomine terus berjalan, Matahari kini sudah membenamkan dirinya. Namun, apa yang menjadi pertanyaannya untuk bertarung selama ini belum terpecahkan juga. Merasakan suhu udara yang kini kian mendingin, akhirnya Aomine memutuskan untuk mencari tempat bermalamnya.
Hingga ia menemukan sebuah tempat, dimana seorang pemuda, yang mungkin berusia sama sepertinya tengah terduduk sambil berusaha menyalakan api untuk perapian-nya.
"Aku boleh ikut?" Tanya Aomine, membuat pemuda yang sedari tadi sibuk membuat api itu kini melihat kearahnya.
"Ah, Silahkan, tapi aku tidak menanggung makananmu."
"Tidak masalah. Aku bisa mencarinya sendiri, hanya butuh tempat untuk berteduh malam ini." Aomine kini duduk di pinggiran, sehingga punggungnya dapat menyentuh pohon yang berada di belakangnya.
"Kau—tersesat?" Tanya Pemuda tersebut.
"Tidak, hanya mencari sesuatu." Aomine kini mengamati sosok yang berada didepannya ini. Tingginya hampir sepantar dengannya, dengan usia yang Aomine kira juga sama dengannya. Terlebih lagi, aura yang dipantulkannya agak mirip dengan aura yang dipancarkan olehnya. Pemuda tersebut mempunyai surai yang kontras dengan surai Navy yang dimilkinya. Maroon, warna yang begitu bertolak belakang dengan warna-nya.
"Hmmm.." Pemuda itu masih sibuk untuk membuat api dari batu yang ia sudah gesekkan beberapa kali, namun, hasilnya tetap nihil. Api tidak kunjung muncul.
"Damn it! Kenapa teori yang kudapat tidak sesuai dengan kenyataan sih?" Umpatnya.
Aomine menaikkan sebelah alis matanya. "Kau ingin membuat api dari batu?"
Pemuda tersebut mengangguk. "Percuma, mungkin hampir sejam aku terus melakukan hal ini dan hasilnya tetap nihil."
"Biar kucoba." Aomine kini menawarkan dirinya untuk membuat api.
"Jangan terlalu pelan seperti itu, mau kapan nyalanya?!"
Perkataan itu berhasil membuat muka Aomine menjadi masam. "Ahh, berisik, diam kau!"
"Sudah deh aku saja yang buat!" Pemuda itu berusaha mengambil kembali batu yang berada ditangan Aomine. Namun, cepat-cepat Aomine menariknya lagi.
"Tidak. Aku yang akan membuat api-nya!"
"Bukan! Bukan seperti itu caranya!"
"Hah? Kau saja tidak jadi-jadi membuatnya kan!"
"Tapi caraku sepertinya lebih mending dibanding caramu!"
"Berisik, berisik! Aku tahu, lebih kencang, kan?"
"..teorinya sih begitu.. Sudahlah, aku saja yang membuatnya!"
"Sudah kubilang aku yang akan membuatnya!"
Dan keduanya kini berebut tentang siapa yang akan menyalakan api. Hingga akhirnya api itu pun menyala, keduanya langsung duduk terdiam.
"Sudah lama aku tidak pernah bertengkar seperti ini." Pemuda dengan surai Maroon itu tersenyum lebar.
"Heh, sudah lama juga aku tidak menemukan orang sepertimu," Aomine kini mendekatkan dirinya ke tengah perapian. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Kurasa aku pernah mengenalmu."
Sosok yang ditanya hanya terdiam, sambil melempar ranting ke dalam perapian dari tempatnya duduk.
"Entahlah, aku baru pertama kali melihatmu. Oh, ya, kau bilang kau sedang mencari sesuatu kan? Sebenarnya apa yang kau cari di tengah hutan seperti ini?"
Mata Aomine kini menatap perapian, matanya seolah kosong saat menatap api yang makin lama makin membesar. "Aku mencari alasanku untuk bertarung, Hidden Power seperti apa yang kumiliki."
Pemuda bersurai Maroon kini menatap Aomine. "Kau tahu sesuatu? Aku pernah mendengar, saat Angel membutuhkan Hidden Power, kekuatan itu bukanlah sesuatu yang harus mereka pelajari mati-matian. Seseorang pernah mengatakan padaku, Hidden Power yang dimiliki oleh Angel telah ada semenjak ia lahir, untuk mengeluarkannya, kau harus mengetahui apa alasanmu untuk membuka kekuatan itu."
Aomine kini menatap kearah pemuda yang baru ditemuinya itu. "Sepertinya kau tahu banyak ya?"
Pemuda itu tersenyum tipis. "Seseorang banyak mengajariku, ia sudah kuanggap sebagai kakak-ku sendiri. Namun, kami sudah berpisah sekarang. Ia telah menemukan jalannya sendiri, dan aku tetap pada jalanku."
"Hmm.. tapi itu bukan berarti kalian akan membenci satu sama lain, kan?"
"Yah, entahlah. Aku hanya tidak ingin menemuinya dengan kondisi saat ini, dimana Angel dan Devil saling bertarung satu sama lain."
"Saat pertumpahan darah terjadi," Balas Aomine dengan suara yang kecil.
Aomine menutup matanya perlahan, ia memikirkan bagaimana sosok teman-temannya yang kini menunggunya untuk kembali.
"Akan kulindungi semua orang yang berharga bagiku, aku tidak ingin membuat mereka terluka kembali. Dengan kekuatanku, akan kupenuhi janjiku dengan seseorang, janji yang menjadi ikatan persahabatan kami semua. Sampai saat itu tiba, aku lah yang akan menjadi ketua bagi mereka yang telah kehilangan."
Pemuda itu menopangkan tangannya ke sebelah dagunya, sambil tersenyum lebar. "Sepertinya kau telah menemukan alasanmu untuk bertarung."
- xXx -
Siang itu, Kise sedang mengobati lukanya, ia berdiam di ruang tengah. Kuroko pergi dari pagi hari, berkata bahwa ia ingin menyelidiki sesuatu, sedangkan Himuro masih mencari sebuah petunjuk. Akhirnya, rumah itu hanya didiami oleh Kise dan Murasakibara.
Setelah selesai mengobati sisa lukanya, tiba-tiba Kise melihat Murasakibara yang pergi ke halaman belakang, karena khawatir akan temannya ini, akhirnya Kise mengikutinya.
"Murasakicchi, apa tidak apa-apa pergi seperti ini-ssu?"
"Ah~ Kise-chin~ Sudah tidak apa-apa kok, lagipula Muro-chin selalu memaksaku untuk minum obat, makannya aku cepat sembuh~"
Kise kini memandang halaman belakangnya, disana terdapat sebuah ayunan. Tak lama Kise berjalan kesana dan menduduki ayunan tersebut. "Murasakicchi, apa yang kau lakukan disini seorang diri?"
"Oh~ aku mau berlatih Hidden Skill-ku, Kise-chin~" balas Murasakibara.
"Begitu-ssu." Kise mengganguk kecil, sebelum ia sadar akan pernyataan Murasakibara barusan. "A—Apa? Hidden Power?" tanyanya nyaris terjatuh dari ayunan.
Murasakibara mengangguk. "Aku sudah mempelajarinya setengah, saat aku dan Muro-chin memutuskan untuk kembali kesini."
Kise kini memandang Murasakibara. "Bagaimana cara Murasakicchi mengeluarkan Hidden Power itu-ssu?"
Mata Murasakibara kini memandang keatas, seakan mengorek ingatannya. "Aku tidak begitu ingat, Kise-chin~ yang aku tahu, aku menggunakan kekuatan ini untuk melindungi Muro-chin saat itu~"
"Alasan untuk bertarung.." Pandangan Kise seakan menerawang jauh.
Apakah alasanku untuk bertarung?
"Oh ya, sepertinya Kuro-chin juga sudah mulai mempelajarinya, aku melihatnya sewaktu tengah malam, saat tidak sengaja mengambil minum."
"Eh? Kurokocchi juga sudah menemukannya-ssu?" Mata Kise kini membulat mendengar pernyataan Murasakibara.
"Berarti tinggal aku.." Nada yang terdengar sedih kini terdengar dari mulut Kise.
"Kise-chin tenang saja~ Bila waktunya telah tiba, aku yakin kau bisa mengeluarkan kekuatanmu itu. Jangan berpikir terlalu keras, Kise-chin~"
Kise terdiam sejenak. "Kalau begitu, kau tidak masalah bila aku melihatmu berlatih, kan, Murasakicchi?" Senyum Kise kini timbul, membuat rona di mukanya kembali ceria.
"Un~ tidak masalah bagiku~" Murasakibara kini mengangguk. "Tapi, hati-hati jangan terlalu mendekat ya, aku tidak tahu apa yang akan dilakukan'nya' waktu aku tidak bisa mengontrol kekuatan ini dengan baik."
"Tidak masalah-ssu! Aku akan melihat dari sini saja." Jawab Kise.
"Baiklah~ Kumulai ya~"
Saat itu juga, saat Murasakibara memperlihatkan Hidden Skill-nya, Kise hanya bisa terdiam. Ia terpaku dengan kekuatan yang Murasakibara panggil. Sebuah suara kini terdengar dari tempat itu. Suara yang terdengar bukan 'seseorang', tetapi 'sesuatu' kini bergema ditempat itu.
- xXx -
Hari telah berganti Minggu, dan Minggu telah berganti menjadi Bulan. Murasakibara kini sudah mulai pulih. Kuroko dan Himuro juga jadi lebih sering menghilang. Namun, keduanya pasti akan kembali setelah matahari terbenam. Sedangkan Aomine, semenjak kepergiannya, ia belum menampakkan kembali batang hidungnya. Kise mulai khawatir, mendengar Kuroko telah mempelajari Hidden Skill-nya, kini hanya dia satu-satunya yang belum mempelajari teknik itu.
Hari itu, Kise pergi ke luar untuk berlatih, ditempat yang mirip dengan tebing. Sampai seseorang mengangetkannya dari atas. Tiba-tiba batu besar yang berada di atas tebing berguling kebawah. Kise yang tidak memilki waktu untuk menghindar kini menyambar batu tersebut dengan petirnya. Beberapa pecahan batu kini menggores wajahnya.
"Rupanya kau bisa menyerang juga, Ryota." Suara itu, suara yang terdengar familiar ditelinga Kise.
"Shougo." Nada Kise kini mendingin, ia melihat ke atas dan menemukan sosok pemuda berambut Spicky dengan warna keperakan.
Haizaki memandang sinis Kise, melihat kearah sekitar. "Tidak bersama Daiki hari ini, huh?"
"Bukan urusanmu," Balas Kise sambil memutar bola matanya "Apa tujuanmu kemari?"
"Menyampaikan pesan deklarasi perang dari Akashi." Katanya sambil terbang kebawah.
"Deklarasi perang?"
"Ya~ tapi sepertinya aku salah, seharusnya aku langsung memberitahu yang lainnya, karena aku tidak yakin kau masih bisa selamat bila bertempur denganku, Ryota. Aku yang sekarang berbeda dengan diriku yang lama."
Kise menyiapkan ancang-ancang untuk bertarung. "Bila kau ingin menyakiti teman-temanku, aku tidak akan membiarkanmu pergi, Shougo."
"Itu artinya kau bersiap untuk mati sekarang, Ryota!" Haizaki langsung mengeluarkan beberapa Metalik dari tangannya, menyerang kearah Kise.
"Ugh.." Jauh lebih cepat dari sebelumnya-dan kuat!
Beberapa kali Kise menyambarkan petirnya, namun luka yang diterima Kise kini jauh melebihi lukanya saat menyerang Haizaki. Beberapa menit kini berlalu semenjak pertarungan awal mereka.
"Kenapa? Sudah menyerah, Ryota?" tanyanya sambil tertawa. "Sudah kukatakan aku kuat."
Kise terkapar di tanah, tubuhnya kini mengalami banyak luka akibat serangan Haizaki.
Sial, kenapa..Kenapa aku harus selemah ini.
"Dengan ini, aku akan menghabisi nyawamu!" teriak Haizaki sambil memanggil beberapa Metalik ke atas langit, seolah Metalik itu akan turun dan akan menusuk tubuh Kise yang kini tidak berdaya.
Kise kini menutup matanya perlahan. Serangan itu pasti akan mengenainya, cepat atau lambat.
Hey, bila aku memiliki kekuatan, apa yang akan kulakukan?
Kise kini melihat sosok teman-temannya saat ini, mereka terlihat sangat bahagia, tersenyum dan tertawa dengan bebas. Akashi pun berada di antara kerumunan itu.
Senyuman itu.. Kurokocchi, Akashicchi, Murasakicchi, Himucchi, lalu Aominecchi.. Teman-teman berharga yang kumiliki.
Masih ada senyuman yang ingin kulindungi, masih ada senyuman diantara mereka yang harus kami rebut kembali. Lalu, janji diantara kami semua dengan Akashicchi.
Dan janjiku terhadap Aominecchi.
'Sebelum aku kembali, kau juga harus selamat.' Perkataan itu kini terdengar dengan jelas ditelinga Kise.
Kise lalu tersenyum kecil.
Bila aku memilki kekuatan, aku bisa melihat senyum dari orang-orang yang kucintai, tanpa harus bersedih akan perang yang berlangsung terhadap kaum Devil. Aku ingin melindungi, senyuman dari orang-orang yang berharga untukku! Aku tidak akan mati disini! Masih ada janji yang harus kutepati, masih ada beberapa orang yang menunggu kepulanganku.
Sesaat, sebelum serangan Haizaki mengenai Kise. Sebuah ledakan terjadi. Ledakan yang membuat Haizaki terkejut.
"GROAAAAA!" Suara raungan yang begitu keras kini terdengar ditelinga Haizaki.
Sosok Hewan berkaki 4 kini menampakkan dirinya dibalik ledakan. Beberapa listrik keluar dari tubuh hewan tersebut. White Tiger kini terlihat meraung dengan keras kearah Haizaki. Sedangkan dibelakangnya kini terlihat sosok Kise yang berdiri dengan listrik yang mengitari tubuhnya.
"Nah, Shougo. Waktumu telah habis, aku tidak akan membiarkanmu melewati tempat ini!"
Dengan bantuan dari White Tiger yang baru saja dipanggilnya, Kise dapat dengan mudah mengunci gerakan Haizaki. White Tiger itu bergerak dengan cepat, Haizaki pun dapat dipukul mundur oleh kebangkitan kekuatan Kise.
"Shougo! Kita akhiri disini!" Kise kini mengarahkan tangannya ke depan, men-spell kekuatan yang akan dikeluarkannya. Namun, tiba-tiba listrik itu lepas kontrol, listrik kini menyambar dimana-mana. White Tiger pun menjadi hilang kontrol, lalu darah tiba-tiba keluar dari mulut Kise.
"Ukh! K—Kenapa.." Kise kini terjatuh.
Haizaki menyeka darah yang keluar dari mulutnya. "Tampaknya kau belum bisa menggunakan kekuatan itu, huh?"
Tubuh Kise kini makin memberat dan memberat. Ia bahkan kehilangan kekuatannya untuk bergerak.
Kise tertawa hambar. "Tampaknya tubuhku tidak kuat untuk memanggil kekuatanku.."
Haizaki kini menemukan celah untuk menyerang kembali Kise.
"Sekarang, kaulah yang bersiap, Kise!" Haizaki memanggil kembali Metaliknya, tapi, sebelum serangan itu berhasil diluncurkan, tiba-tiba pasir menggulung Haizaki dengan cepat.
Mata Kise kini melihat kearah serangan itu berasal, kemudian ia menemukan Himuro berada di atas tebing.
"Himucchi!"
Himuro kini turun kebawah. Saat ia mendarat di bawah, Haizaki kini berhasil meledakkan pasir yang berada disekitarnya.
"Himuro.." Haizaki kini menatap dingin sosok yang baru datang tersebut.
Tanpa menghiraukan Haizaki, Himuro kini merangkul Kise.
"Kau terlalu memaksakan diri, Kise. Bahkan Atsushi belum pernah bertarung menggunakan Hidden Skill-nya selama ini," Pandangan mata Himuro kini melirik kearah White Tiger yang masih mengamuk. "Panggil kembali White Tiger-mu, Kise. "
"Sialan, kau tidak mengacuhkanku, Kise!?" Haizaki yang murka kini kembali menyerang keduanya.
"Haizaki." Mata Himuro kini melirik kearah Haizaki dengan tajam. "Tidak seharusnya kau berada disini." Himuro kini menggerakan tangannya dengan cepat dengan arah horizontal, lalu Pasir sebuah serangan menyerupai ombak pasir kini menggulung kearah Haizaki.
Kise sedikit bergidik, bahkan ia belum pernah melihat kekuatan Himuro selama ini, ditambah lagi, raut wajah yang biasanya tersenyum lembut kini terlihat dingin.
"Hi—Himucchi?"
Himuro masih berwajah serius ketika ia melihat kearah Haizaki yang kini masih tergulung-gulung oleh serangannya. Beberapa detik kemudian, ia langsung melihat kearah Kise, dengan senyuman yang biasanya ia tunjukkan. "Ada apa, Kise?"
"Umn.. aku tidak tahu bagaimana memanggil masuk White Tiger-ku."
Himuro terdiam sejenak. "Panggillah dia dalam hatimu, Kise."
"Panggil dalam hati-ssu?" Kise kini menaikan alisnya, namun ia menurut dengan perkataan Himuro. Setelah ia memanggil White Tiger tersebut untuk masuk, saat itu juga White Tiger tersebut hilang.
"Nah, sekarang sebutkan alasanmu kemari, Haizaki."
"Dia datang untuk menyampaikan pesan pada kalian semua." Suara lain kini terdengar dari atas, Ogiwara Shigehiro kini melayang diatas. Ia menggerakan tangannya, sehingga sebuah akar pohon kini memelit tubuh Haizaki dan mengangkatnya dari timbunan pasir.
"Ogiwara."
"Che.. Aku tidak menyangka kau begitu Useless, Haizaki." Ogiwara kini menggaruk kepalanya yang tampak tidak gatal, kemudian ia melihat lagi kebawah, dimana Kise dan Himuro berdiri. "3 hari lagi, Emperor mengundang kalian untuk mengadakan perang terakhir dengan kalian, perang yang akan menentukan segalanya. Datanglah ke Dark Palace, kami akan menunggu kalian disana."
Tanpa mengucapkan basa-basi lagi, Ogiwara kini membawa Haizaki pergi. Himuro menghela nafasnya kecil, kemudian ia melihat kearah Kise.
"Kau harus berlatih ekstra, Kise." Himuro kini tersenyum kecil. "Kita harus memberitahu berita ini sesudah pulang nanti. Banyak hal mengejutkan yang akan menunggu kita dirumah nanti."
- xXx -
"Eh!? Kau menemukan kemungkinan untuk menyelamatkan Akashicchi?" Kise kini setengah berteriak. Semua kini berkumpul ditengah ruangan, tempat dimana mereka berbagi cerita satu sama lain.
Himuro mengangguk. "Aku menemukan buku ini, disalah satu tempat rahasia yang berada di Underworld."
Murasakibara kini berdiri dari tempatnya duduk, pandangannya menatap Himuro tajam. "Muro-chin, kau pergi kesana tanpa memberitahuku?"
Himuro menghela nafas kecil. "Maaf, Atsushi, tapi aku tidak memiliki pilihan lain."
"Tapi, setidaknya kau memberitahuku, Muro-chin! Aku tidak suka bila kau pergi diam-diam seperti itu! Bagaimana bila sesuatu—"
Perkataan Murasakibara kini dipotong oleh Himuro yang menutup mulut Murasakibara dengan jari telunjuknya, menempelkannya dengan perlahan, Himuro lalu tersenyum. "Tapi aku baik-baik saja sekarang, Atsushi."
"Aku tidak suka ini, Muro-chin, kau seenaknya seperti itu. Pokoknya aku tidak mau berbicara lagi dengan Muro-chin!" Murasakibara kini mengembungkan pipinya, membuang mukanya kearah lain.
Kise dan Kuroko kini saling menatap, melihat adegan pertengkaran pasangan yang berada didepannya.
Himuro lalu menghela nafas. "Padahal aku mau membuatkanmu Cupcake, tapi rasanya percuma bila kau tidak mau memakannya kelak." Himuro menutup matanya, menekankan pada kata Cupcake, satu kata kunci untuk membujuk Murasakibara.
"Eh.. Umnn—" Murasakibara kini mulai resah, "Kalau begitu marahnya sehari aja deh."
Himuro lalu tertawa kecil.
"Maaf mengganggu pertengkaran kalian," Kuroko kini mulai berbicara. "Tapi aku ingin mendengar kelanjutan ceritamu, Himuro-kun."
"Ah, maaf.." Himuro lalu membalikkan badannya, membuka halaman dari buku yang ia bawa, lalu menunjukkannya pada semuanya.
-Jiwa dari vessel bisa diselamatkan, meski pertaruhan itu 50%-50%, tetapi, bila seorang Angel, Light Elemental memberikan setengah kekuatan yang dimilikinya, kemungkinan vessel tersebut untuk hidup bisa meningkat menjadi 65%-
"65%!? Kenapa presentasinya masih sedikit-ssu!?" Protes Kise sambil menatap tulisan tersebut dengan tidak setuju.
"Setidaknya tidak 50%, Kise-kun." Mata Kuroko kini menunjukkan setitik harapan.
"Tapi, apa yang dimaksud dengan setengah kekuatan yang dimiliki itu, Muro-chin?"
Himuro tersenyum sedih. "Setengah kekuatan yang dimiliki oleh Kuroko, setengah dari hidupnya. Kalian tahu bahwa kehidupan seorang Angel dapat terlihat melalui Sayapnya? Bila kau memberikan sumber kekuatanmu, itu berarti umurmu akan berkurang."
Kise kini melirik kearah Kuroko.
"Kurokocchi, apa kau yakin? Bila kau memberikan setengah dari kekuatanmu.."
"Asalkan kekuatanku bisa menghidupkan kembali Seijuurou-kun, akan kulakukan."
"Sisa 2 hari kedepan, kita harus mempersiapkan semuanya, karena itu adalah hari penentuan kita semua." Himuro kini memandang satu sama lain.
Semua mengangguk setuju, sisa waktu yang mereka miliki harus mereka pergunakan dengan baik.
Mereka semua kini menggunakan sisa waktu yang mereka miliki untuk berlatih mengendalikan Hidden Power yang mereka miliki. Sedangkan Himuro yang tidak mempunyai Hidden Power kini menjadi pengawas bagi mereka bertiga, untuk tetap stabil mengendalikan Hidden Power mereka masing-masing.
Lalu, tibalah hari itu, hari penentuan diantara mereka semua.
"Aominecchi tetap belum pulang." Kise kini agak khawatir. "Bagaimana bila ia menemukan rumah ini kosong ketika ia pulang."
"Tenang saja, kalau itu Mine-chin, kurasa ia sudah tahu kemana tujuan kita saat ini~"
"Betul apa kata Atsushi, Kise. Kita tidak perlu mencemaskan Aomine."
Kuroko kini menutup matanya perlahan. Semua kejadian seolah memasuki tubuhnya. Ia mengingat, saat ia pertama kali membuka matanya, saat ia pertama kali bertemu dengan Akashi yang baru dihinggapi oleh Emperor, kemudian pertemuannya dengan Ogiwara, lalu saat ia bertemu dengan Emperor dan Mayuzumi. Kuroko kini membuka matanya, melihat kearah Sword of Zenith Light yang kini berada di tangannya.
"Saatnya telah tiba, saat penentuan segalanya. Hari ini juga, akan kita akhiri semuanya!" Mata Kuroko kini dipenuhi oleh tekadnya untuk menyelamatkan jiwa Akashi dari sosok Emperor.
'Tunggu aku, Seijuurou-kun.'
- xXx -
Pemuda berambut Scarlet kini menatap kearah jendela. Hari itu, Hujan turun dengan lebatnya. Kilatan dan sambaran petir kini menghiasi langit pada saat itu.
"Hari penentuan, dimana semua akan berakhir. Akan kubunuh Light Elemental, akan kuhapuskan semua sejarah tentang The War Without End. Setelah itu, akan kukuasi dunia ini." Senyum sinis kini terlihat dari wajah Akashi Seijuurou.
4 orang kini berada dalam ruangan yang sama dengan Akashi.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, masa depan masih belum terlihat dengan jelas-nodayo. Tapi, satu hal yang harus kuingatkan, kita tidak bisa memandang mereka dengan sebelah mata."
Ogiwara kini tersenyum lebar, ia berjalan mendekati Midorima, mengambil bola yang sedari tadi berada di tangan pemuda bersurai hijau tersebut, kemudian ia melempar-lemparkan bola kecil tersebut ke udara selama beberapa kali.
"Hari ini pasti akan melelahkan sekali ya~" balasnya sambil tersenyum lebar.
"Oi, jangan lempar-lempar benda keberuntunganku-nodayo!"
"Heee~ tidak apa-apa, kan tidak sampai hancur juga." Ogiwara tertawa kecil.
Haizaki kini mengendus kecil, ia hanya duduk di pojok ruangan tanpa berkata apapun. Sedangkan Mayuzumi tengah membaca buku, sibuk dengan dunianya sendiri, ia menghiraukan keributan yang berada didepannya itu. Lalu, tiba-tiba suara pintu terbuka. Semua, kecuali Akashi memandang sosok yang baru masuk itu.
"Kau kemana saja?" Ogiwara tersenyum menatap sosok yang baru datang itu.
"Berlatih!" ucapnya dengan cengiran yang lebar. "Ah, aku tidak sabar untuk menghadapi musuh yang kuat!"
Akashi perlahan membalikkan badannya. "Karena semua anggota telah lengkap. Bagaimana bila kita bersiap-siap untuk menyambut tamu kita?" Smirk terlihat dengan jelas di wajah Akashi saat ini.
Padangan mata ke-5 anggota itu kini saling menatap satu sama lain, semuanya langsung berbaris didepan Akashi, lalu berlutut setengah, lalu semuanya dengan serempak menjawab pertanyaan sang Emperor.
"Yes, My Lord."
- xXx -
Pemuda berambut Navy kini keluar dibalik air terjun, Ia tersenyum dengan lebar. "Sepertinya sudah waktunya untuk kembali. Kise, Tetsu, Himuro, Murasakibara, sampai bertemu lagi di Dark Palace." Tangan pemuda itu kini mengepal dengan erat, pancaran matanya kini bersinar, seolah ia telah menemukan alasannya untuk kembali ke medan perang. " Lalu, Akashi, akan kupenuhi janjiku padamu."
~TBC~
