"... friend, huh? I never admid YOU! Son Of Gilber!" -Vanitas

"I thought we're friend now" -Sora


THE OLD CLOCK CHAPTER 7 : The Sad Memory

Genre: Horror and Mistery

Rated: T

Disclaimer: Kingdom hearts is not mine. I'm just borrow the character and place in Kingdom Hearts. Kigdom Hearts is Quare Enix and Disnew own... But, the story is my imagination ^^v *Yeyy~* -plak-

A/N: Seperti biasa ^^, Kalimat yang di cetak tebal dan miring adalah kalimatnya Vanitas. Dan, Chapter ini di mulai dari Sora POV

Kay~ Enjoy ^^


"Eh? Vanitas…"

Sora memanggl nama Vanitas… namun, dia tak menjawab.

'ada apa denganmu Vanitas?' pikirnya. Sejak Sor mengetahui tentang Vanitas. Ia mengira Vanitas bukanlah orang yang jahat. Hanya, Vanitas anak yang tidak beruntung saja, dan hingga ia mati. Keluarganya, temannya sangat jahat.

Sora mengerti semua itu. Vanitas melihatkan semua kejadiannya di masa lamapau. Ketika ia di siksa dan dimaki oleh teman dan keluarganya. Saat Sora tertidur, melamun atau kapanpun Vanitas mau perlihatkan kenangannya dia. Sangat menyakitkan bila di ingat kembali.

'Dan, yang tau semuannya, hanya Terra, keponakan Miss Rayle. Tapi, Ventus dan Aqua…
Siapa mereka? Dan mengapa Terra benci dengan Vanitas hingga.. ia …'

Sora menggelengkan kepalaya.
"Menyakitkan jika mengingat hal itu…" gumamnya.

Tak terasa, Sora sudah berada di depan pintu rumahnya. Ia segera masuk dan membersihkan badannya. Kemudian ia menyiapkan makan malam karena Ayahnya akan pulang sebentar lagi.

Dan saat Ayanya sudah pulang, adalah saat yang di tunggu-tunggunya.
Sora melihat jam tangannya, pukul 20.15

"Tou-san pulang telat,yah? Bukannya jam delapan sudah pulang…" katannya pada dirinya sendiri sambil menghadap ke rebusan spagetinya.

"Eh? Kamu menungguku, Sora?" kata seseorang tiba-tiba dari belakangnnya.

"To-Tou-san sudah pulang? Sejak kapan?" tanya Sora dengan kaget. Rasannya sejak kemarin, dia terus dikageti oleh orang, deh. Pertama Roxas, sekarang Ayahnya.

"Sudah dari tadi. Hanya, kamu tidak menyadari karena kamu melamun saat memasak tadi." Jawab ayahnya dengan tenang.

"Aha, begitu…" Sora menuangkan spageti ke atas 2 piring dan menyiram saus dan beberapa sayur diatas spageti, lalu piring-piring itu dibawannya ke meja makan, "Tou-san, aku mau tannya sesuatu…" katannya sambil duduk menghadap ke Ayahnya.

.

Sora POV

"Tanya apa?"tanya Tou-san

"Tanya tentang penelitian Tou-san beberapa tahun lalu. Saat Sora masih berumur 3 tahun."jawabku, "sebenarnya, penelitian itu tentang apa?" tannyaku dengan pura-pura tidak tahu.

"Hum.. "

"Maukah Tou-san menceritakan padaku?" selaku.

"Itu tentang penelitian DNA. Gabungan antara 2 DNA yang membuat keturunan kedua orang itu jadi sama…" jawab Tou-san.

"Apakah, jika ke-dua DNA itu di gabun, spesifik tubuh suara dan lain-lain akan sama?"

"Tentu saja tidak, Sora."

"Lalu, siap yang bekerja sama dengan Tou-san?" tannyaku lagi.

"Hum, Mey Briclla Lomb, Brough Clay dan…"

"Ralfad Reinhard?" selaku lagi.

"Dari mana kamu tau? Apa ibumu yang member tau?"

"Nggak Tou-san. Aku hanya penasaran dengan anaknya Mr. Ralfard yang bernama Vanitas. Dia menghilang 5 tahun yang lalu. Apakah Tou-san…"

"STOP SORA! Jangan sebut nama anak itu lagi. Sudah jangan bahas tentang itu!" bentak Tou-san.

"Kenapa, Tou-san? Aku butuh kepastian. Dia sangat menderita pastinya." Kataku memohon, "… dia, dia anak yang baik, Tou-san. Tolonglah, setidaknya bantu aku untuk lapor polisi, atau orang tuanya..." Kataku lagi.

"Percuma, Sora. Dia menghilang 5 tahun yang lalu. Polisi juga sudah kewalahan mencarinya. Dan kau tau? Percuma juga mencari ayah ibunnya sekarang." Kata Tou-san sambil beranjak berdiri.

"Kenapa?"

"Karena, Risa dan Ralfad sudah mati." Jawab Tou-san dengan dingin dan meninggalkanku sendiri.

'Jadi, Vanitas benar-benar…membunuh kedua orang tuanya?' pikirku.

.

~Inside Sora's dream~
(Sama seperti hari biasannya. Sora melihat memorinya Vanitas.)

2 minggu setelah penelitian DNA itu. Dan DNA yang terus di ambil adalah DNA Vanitas.

"Ugh…" keluh Vanitas. Ini adalah suntikan ke-10 kali setelah 2 minggu yang lalu. Dan Ayahnya tetap tidak mempedulikan keluhan dan sakitnya suntikan yang ia lakukan pada Vanitas. Jarum suntik yang panjang itu masuk ke kulitnya dengan kasar, lalu meninggalkannya begitu saja tanpa member perawatan.

Belum lagi, ibunya Vanitas melampiaskan kemarahanya karena suaminnya menelantarkan anak dan Istrinya begitu saja. Ibu Vanitas memaki Vanitas "DASAR ANAK TAK BERGUNA! Hausnya, umurmu yang 15 tahun ini sudah bias bekerja! Jangan seperti ayahmy yang tergila-gula pada penemuannya sehingga menelantarkan aku! Harusnya kamu bekerja, bukannya Sekolah!"

"Harusnya IBU yang BEKERJA! BUKAN AKU!" bantah Vanitas. Dan pertengkaran itu terus melanjut hingga Sang ibu memukul Vanitas. Padahal, dulu ibunya sangat menyayangi Vanitas. Tapi sekarang, ia memaki dan menyiksannya.

Ia tidak merasakan kehangatan orang tua.
Apa itu kasih sayang orang tua? Rasanya seperti apa? Vanitas membuang kata-kata itu jauh jauh.

Belum lagi di sekolah. Sejak kecelakaan Aqua. Vantas di jauhi oleh teman-temannya.
Gosip tentang "Vanitas adalah pembunuh" sudah beredar. Dan padahal, Vantias tidak pernah membuh Aqua.

Ia muak dengan hidupnya.
Hidupnya yang terus di siksa…
di maki, di benci, di jahuhi, di fitnah dengan tuduhan yang menusuk!
Ingin mati!
Tapi tapi ia tidak bisa. Bunuh diri adalah cara pengecut yang lari dari kenyataan!

Sesampainya di rumah, ia melihat bercak darah. Vanitas mengikuti darah itu dan melihat Ayahnya tergeletak tak berdaya dan berlumuran darah. Sedangkan ibunya, menggenggam sebuah pisau besar yang berlumuran darah juga. Vanitas yang melihat itu, hanya tertegun.

Ia merasa senang karena, orang yang menyiksanya sudah berkurang satu. Tetapi, iasangat kaget karena ibunya sendiri yang membunuhnya. Vanitas berjalan mendekati Ibunya,

"Jangan bergerak! teriak Ibu Vanitas dan mendekatinya. Ibu Vanitas Menggenggam pisau dengan erat, sehingga Vanitas berfikir kalau ia akan dibunuh juga.

"Ugh, apa yang.." Ibu Vanitas menyayat kecil lengan Vanitas. Darahnya Vanitas, di jilat oleh ibunya. "Jadi, beginikah rasa darah anakku? Sepertinya aku sudah puas dengan hidupku ini." Katannya sambil melangkah mundur.

"Vanitas. Kamu tidak boleh mendekati Ibu, Vanitas. Ibu adalah pembunuh sekarang. Dan sekarang, satnya Ibu pergi juga. Ibu tidak mau di penjara! Ibu nggak mau di jadikan buronan. Selamat tinggal Vanitas." Kata Ibu, dan menusuk perutnya dengan pisau besar itu. Vanitas berlari mendekati Ibunya dan mencabut pisaunya.

Tapi, lukannya terlalu dalam,

"Vanitas! Apa yang kau lakukan!" teriak seseorang dari luar. Ayahnya Sora yang melihat Vanitas menggenggam pisau berlumuran darah itu,dengan wajah tak percaya.

"Bukan aku…"

"Kau, kau ternyata pembunuh…" serunya dan berlari keluar.

"kenapa semua orang tidak percaya padaku. Kenapa semua orang menuduhku pembunuh. Aku tidak pernah membunuh. Ayah, Ibu, bahkan Aqua…"

Dan, esoknya….
di ruang bawah tanah..
Tinggal Vanitas yang terjerat bagai boneka berdarah, and
Die..

.

.

Normal POV

Esoknya, Sora bangun dengan wajah kusut. Siapa yang nggak kusut kalau habis mimpi buruk. Dan lagi-lagi mipinya kali ini tentang pembunuhan lagi. Dan bagi Sora, terlihat sangat nyata. Tetapi, mimpi kali ini beda dengan mimpi-mimpinya sebelumnya.
Memorynya Vanitas, sangat memilukan..
menyakitkan bila mengingatnya...

Bukan tentang kematian Vanitas. Tetapi orang tuanya, dan dirinya sendiri. Ingin muntah melihat darah. Hari ini, hari minggu.

"Di Alvana Street, sebelah Last Lake, danau terakhir yang dekat di pinggir kota." Kata Miss Rayle kemarin di perpustakaan.

.

Sora POV

Aku bersiap siap di garasi rumahku. Aku memakai sepatu sport putih, dan mengambil sepedaku. Aku menuju ke Alvana Street di pinggir kot bagian selatan. Tempat itu memang jauh, karena itu aku menggunakan sepeda.

Aku sempat berhenti di toko untuk membeli minuman… dan melaqnjutkan perjalanan.

"hei Sora, mau kemana kamu?" tanya Heyner.
"Mau ke suatu tempat pastinya. Kamu lagi apa?" tanyaku
"Aku lagi nungguin Pance dan Ollete… hahahaa.." jawabnya.

"You wanna go to his house?"

"Yeah, ada apa?"

"hum, Nope."

.

'Vanitas, what's happened to you?
you sounds happy…

.

To Be continued.

Wahahaa, akhinnya chapy 7 selesai,editan, langsung selesai hari ini XD sedikit banget, aneh bin gaje yah

karena udah mendekati UTS n' TO 1 jadi takut nggak bisa lanjutin nih fic :'(

Mau ngebut ahh~

Vanitas: oh

Sora: ngebut apaan? Masih lama juga =="

Author: yee~ tapi, beneran ini ngebut kok..

Ah, udah deh basa basinya ^^ makasih udah mampir ^^

Hehehe~