Title : A Distant Cry

Disclaimer : The annoying author who really sadist for kill Neji chan, the one and only Masashi Kishimoto.

Summary : Hal yang Sasuke inginkan hanyalah untuk bersama Neji, akan tetapi jika ia harus melawan masa lalu dan sisi gelapnya sendiri untuk mendapatkan Neji, mungkin Sasuke akan mengerti bahwa pada akhirnya dia malah membuat mereka berdua menderita. Saduran dari fiction berjudul sama oleh Yersi Fanel. SasuNeji, ItaNeji.

Warning's : NC-17, Yaoi, Shouta, Rape, OOC, Dark themes, Abuse, Angst, Unhealty Obsession Uchiha Brother's, Gore and Blood.

You've been warning, don't be mad after you read this chapter *Hide before the reader's throw me a can's and bottle's

"…." present

"…." flashback

.

.

Chapter 7

.

.

Tsunade menatap garang Genin berambut hitam di hadapannya itu. Jujur saja dia sangat tidak suka dengan pilihan Shikamaru yang menginginkan Sasuke sebagai bagian dari tim. Karena bagaimanapun juga sudah menjadi rahasia umum mengenai kebencian yang Sasuke pendam ke Itachi dapat membuatnya tidak berpikir secara jernih di dalam pertarungan.

Akan tetapi ia tetap akui Sasuke adalah seorang shinobi yang kuat. Jika Shikamaru dan yang lain mampu membuat shinobi bermarga Uchiha itu dapat mengendalikan emosi dirinya, tentu saja keberadaannya akan menjadi sangat berguna bagi tim tersebut.

"Sasuke apa kau tahu alasan dari Itachi menculik Neji?" Ujar Tsunade dengan tegas. Anak bermata hitam itu menurunkan pandangannya. Ia tahu betul alasan mengapa Itachi mencari Neji. Karena dengan jurnal, sketsa-sketsa serta perkataan dari Anikinya saat pertarungan dan terutama apa yang ia lihat saat dirinya berada di dalam Tsukuyomi, tetapi-

"Tidak." Ujarnya pelan. Tsunade hanya menghela nafas mendengarnya, karena ia yakin bahwa Sasuke tidak mengatakan yang sebenarnya. Sayang saja ia tidak memiliki bukti untuk mendukung asumsinya tersebut.

Sejujurnya alasan utama yang menyebabkan Sasuke tidak mengatakan yang sebenarnya dikarenakan ia merasa sangat malu akan perbuatannya serta kelemahan yang ia miliki, belum lagi rasa marah dan frustasinya akan perbuatan Itachi ke Neji. Setidaknya bukan saat ini ia harus menyampaikan yang sebenarnya.

"Hh, baiklah sebaiknya kalian segera pergi sebelum mereka semakin menjauh untuk di capai." Ujar Tsunade. Kelima shinobi muda itu menganggukan kepala dan segera pergi dari ruangan Godaime. Tsunade menopangkan dagu pada kedua jemari yang ia silangkan dan menjadikan kedua sikunya sebagai penopang lengannya. Ia merasa ada yang janggal, dirinya tahu bahwa ada informasi penting yang Sasuke sembunyikan. Sungguh ia sangat berharap jika Naruto dan lainnya mampu membuat shinobi berambut hitam itu mengatakan yang sejujurnya.

.

.

.

Secara perlahan Neji membuka matanya. Ia dapat merasakan hembusan angin pada kulitnya. Seseorang telah membawanya dengan memegangi pinggangnya dengan langkah yang cepat. "Oi, Itachi" Panggil Kisame ketika ia merasakan anak laki-laki yang ia pegang bergerak. "Bocah ini sudah bangun." Neji melihat ke arah orang yang membawanya. Mereka berlarian melewati pepohonan dengan kecepatan tinggi. Kisame yang membawanya sedangkan Itachi berlari di depan mereka.

Kedua shinobi pelarian itu berhenti untuk sejenak. Kisame membiarkan Nej berdiri pada kedua kakinya dan Itachi menggenggam pergelangan tangan kanan Neji. "Ikuti langkahku atau kau akan terjatuh." Hanya itu yang Itachi katakan sebelum mereka mulai berlarian dan melompati dahan pepohonan dengan kecepatan tinggi. Neji tahu jika ia tidak mengikuti kecepatan mereka berdua yang akan Itachi lakukan adalah menggeret paksa dirinya. Tidak peduli jika mereka akan menyebrangi sungai, melompati pepohonan maupun melalui gurun pasir sekalipun.

Sehingga Neji harus mengikuti kedua shinobi pelarian itu. Genggaman erat Itachi pada pergelangannya membawa ia menuju ke tempat yang tidak dapat ia ketahui. Hyuuga jenius itu dapat menyadari bahwa saat ini mereka masih berada di Negara api, hanya saja sekarang mereka telah berada di tempat yang tak pernah ia kunjungi sebelumnya.

Anak bermata lavendar itu melihat ke arah belakang dan mendapati Kisame yang berlari di belakang mereka. Sehingga membuat posisi Neji yang berada diantara kedua anggota Akatsuki. Ia mencoba untuk menjernihkan pikirannya dan berusaha untuk mengingat kembali akan perjanjian yang Itachi katakan kepadanya.

Sungguh ia merasa muak karena tidak mengerti apa yang sedang terjadi kepadanya saat ini. Setelah perlakuan aneh yang Sasuke lakukan kepadanya di tempat latihan kemarin. Semakin banyak hal sulit yang ia hadapi. Bukan hanya ia telah mengakhiri hubungan yang ia miliki dengan Sasuke, hubungan yang tidak sehat memang tapi ya tetap sebuah hubungan.

Ia juga telah di culik oleh Uchiha Itachi yang mengaku bahwa ia memiliki perjanjian diantara mereka. Permasalahannya ia tidak dapat mengingat mengenai perihal perjanjian tersebut. Dirinya ingin sekali untuk menyerang Itachi saat ini juga dan kembali ke rumah, tapi ia tahu bahwa dirinya tidak akan dapat menang melawan Uhiha jenius itu.

Jika ia tidak dapat bertarung setidaknya ia ingin dapat memahami apa yang sedang terjadi. Jika ada sesuatu hal yang paling Neji benci, ialah perasaan tidak tahu apa-apa. Dan saat ini itu yang ia rasakan. Anak bermarga Hyuuga itu menggenggam liontin yang Itachi berikan dengan jemari kirinya. Ia harus menemukan kunci ingatan dari masa lalunya dan satu-satunya yang dapat memberikannya adalah shinobi yang berada di hadapannya itu.

"Itachi san." Panggil Neji membuat Uchiha yang lebih tua itu menolehkan pandangannya shinobi yang lebih muda itu. "Perjanjian yang kau katakan itu kapan kita-?" "Sebelum aku meninggalkan Konoha." Jawabnya tanpa membiarkan Neji menyelesaikan pertanyaannya. "Setelah aku menghancurkan sangkarku."

Kedua mata Neji melebar. Kepalanya mulai sakit lagi. Lengannya yang satunya telah menekan-nekan dahinya. Neji hampir terjatuh akan tetapi Itachi telah menangkap tubuhnya, ia melingkarkan lengannya ke pinggang Neji dan tetap berlari tanpa berhenti. Hyuuga muda itu memejamkan kelopak matanya sembari menggertakkan rahangnya. Alam bawah sadarnya telah membuka sebuah pintu lain.

.

.

.

Neji memperhatikan Hinata yang sedang menjalani latihan tanding dengan Hiashi. Mimik wajah sang ketua klan itu tampak tidak begitu tertarik dalam melakukan latihan tersebut. Anak perempuan kecil itu juga tampak kesulitan mengikuti langkah Ayahnya . Neji memberikan pandangan yang tajam ke arah keduanya. Sekalipun Hiashi tidak menunjukkan adanya dukungan ke putri tunggalnya itu, seharusnya Hinata tetap menjadi kuat untuk mengacuhkan hal tersebut dan terus berusaha supaya menjadi lebih baik. Tetapi yang terjadi adalah semakin lama Hinata menjadi termakan akan rasa takut ke pada Ayahnya sendiri, bahkan menatap mata sang ketua klan Hinata tidak sanggup.

Neji sudah muak dengan ini semua. Anak berambut panjang coklat itu berjalan meninggalkan dojo, ia memutuskan untuk segera pergi dari ruangan itu, kemanapun tidak masalah. Dia tidak mau melihat kegagalan dari sepupunya lagi. "Apa aku yang bodoh karena telah percaya pada dirimu Hinata sama?" Bisiknya pada diri sendiri. Neji marah kepada Hinata karena ia tahu seharusnya Hinata bisa lebih baik dari yang sekarang, tetapi anak perempuan itu semakin terjatuh ke dalam lubang tak berdasar. Ikut menarik semua rasa percaya yang Neji miliki ke Hinata.

"Neji" panggil sebuah suara dari belakang membuat anak bermata lavendar itu menolehkan kepalanya. Seorang pelayan wanita muda mendekat ke arahnya. "Seorang anak laki-laki mencarimu, dia ada di depan gerbang. Dia juga mengatakan tentang latihan bersamamu." "Terima kasih." Ujar Neji singkat. Pelayan itu menganggukkan kepalanya dan pergi. Neji segera menuju pintu gerbang dan mendapati Sasuke yang berdiri dengan tegap.

"H-hai, apa kau mau latihan bersamaku hari ini dan mungkin setelah itu kita bisa makan malam?"Ujar anak bermata hitam itu sedikit ragu. Ia tidak yakin akan jawaban dari Neji. Mendengar ucapan Sasuke membuat Neji mengerjapkan kedua matanya untuk beberapa detik. Tak lama kemudian sebuah senyum manis tampak menghiasi wajahnya.

"Ya Sasuke kun." Jawabnya. Keduanya pun berjalan bersisian meninggalkan kediaman Hyuuga.

Kedua shinobi muda itu berjalan dalam diam, beberapa warga tampak menyapa Sasuke yang dibalas dengan sopan oleh Sasuke. Neji dapat mengetahui bahwa banyak warga yang mengharapkan sesuatu yang besar ke Uchiha muda itu. Dan Sasuke ingin menunjukkan bahwa ia mampu memenuhi harapan mereka. Hm terlalu banyak beban untuk seorang anak kecil. Untuk kesekian kali Sasuke melambaikan lagi tangannya kepada seorang wanita tua yang menyapanya, setelah mereka berjalan melewati wanita tua itu ia menghela nafasnya dengan berat. Wajahnya tampak sedikit frustasi. Ia memutuskan untuk menggandeng jemari Neji dan mulai berlari menuju tempat dimana mereka bisa berlatih tanpa terganggu siapapun.

"Aku tahu sebuah tempat yang bisa menjadi tempat latihan kita. Aku dan kakakku sering berlatih disana. Tempat itu ada di daerah klan Uchiha, ayo!" Sasuke memberikan senyuman ke Neji yang hanya dibalas denga sebuah anggukan kecil. Beberapa saat kemudian mereka tiba pada sebuah daerah di hutan yang terdapat banyak papan target di pohon dan beberapa tempat lain. Tidak salah lagi ini adalah tempat pertama dimana Itachi membawa Neji pada pelatihan pertama mereka.

"Tempat ini tampak bagus." Ujar Neji ia mencoba untuk tetap bersikap biasa. Sasuke melihat ke arah batang pohon yang terdapat sebuah lubang. Bocah Uchiha itu mengambil sebuah tas dari lubang tersebut. "Ya, Aku dan Aniki sering kemari. Ini aku mempunyai beberapa kunai dan shuriken serta beberapa peralatan pertolongan pertama." Sasuke mulai merenggangkan tubuhnya begitu pula Neji. "Aku dengar kau siswa terbaik di kelasmu, betulkah?" Tanya anak bermata hitam itu. "Aku rasa." Jawabnya. Sebenarnya ia ingin tambahkan kenyataan bahwa ia memang harus menjadi yang terbaik karena ia ingin menunjukkan ke semua orang terutama klannya bahwa sekalipun ia hanyalah seorang Bunke ia tetap mempunyai kemampuan yang hebat.

Sasuke menaikkan sebelah alisnya karena mendengar jawaban tersebut, tetapi ia memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Keduanya mulai memasang kud-kuda bertarung mereka. Sasuke dengan Taijutsu normal miliknya dan Neji dengan kuda-kuda Jyuukennya. Sasuke memang pernah melihat Hinata menggunakan kuda-kuda yang sama di kelas akan tetapi ia tidak pernah melawannya.

Keduanya berlari untuk saling menyerang melemparkan tendangan dan tangkisan. Mereka hanya berlatih tanding sehingga Neji hanya menggunakan gerakan Jyuuken tanpa benar-benar menggunakan cakranya karena ia tidak ingin menyakiti Sasuke. Kurang lebih satu setengah jam telah berlalu Sasuke mulai menggunakan kunai dan shuriken ke arah Neji. Menyadari hal itu Neji segera membuat beberapa segel tangan dan mengaktifkan Byakugan. Tetapi gerakan itu malah membuat Sasuke menghentikan serangannya.

"Ada apa Sasuke kun?" Ujar anak bermata lavendar tersebut. Sasuke hanya menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku hanya berpikir bahwa kau sudah mampu menguasai Kekkai Genkaimu diusia yang begitu muda. Oh berapa umurmu?"

"Bulan Juli ini aku akan berusia sembilan tahun, Sasuke kun."

"Benarkah, aku akan berusia delapan tahun di bulan Juli ini juga." Sasuke tersenyum kepadanya. "Apakah Hinata dapat menggunakan Byakugannya juga?"

"Ya tetapi kami telah berlatih keras untuk dapat menggunakannya sekalipun kami masih terlalu muda dikarenakan Hinata adalah calon ketua klan dan aku -" Neji menurunkan pandangannya. Sasuke berjalan mendekati Hyuuga muda itu sementara Neji me-non-aktifkan Byakugan miliknya.

"Dan kau apa?" Neji menghela nafas dan melihat ke arah Sasuke yang telah berada di hadapannya. Neji menyunggingkan sebuah senyum kecil di wajahnya. "Aku yang harus melindunginya." Sasuke memberikan Neji sebuah senyum juga. Ia lalu mengambil kunai dan shuriken yang berserakan di tanah.

"Hinata adalah sepupumu dan kau yang harus melindunginya? Apa karena itu kau berlatih sangat keras? Hinata bisa menjadi kuat dengan sendiri. Maksudku dia akan menjadi seorang Kunoichi bukan?" Ujar Sasuke ia masih penasaran sepertinya.

"Itu termasuk bagian dari alasan mengapa aku berlatih keras, dan itu belum termasuk alasan yang lebih utuh." Penjelasan yang Neji berikan tetap tidak dapat dimengerti Sasuke.

"Aku pikir jika kau ingin melindungi sesuatu yang penting maka kau akan menjadi semakin kuat." Ujar Sasuke "Tetapi ayahku tidak berpikir seperti itu. Jujur saja terkadang aku tidak dapat mengetahui apa yang sebenarnya ia inginkan dariku. Aku masih berjuang untuk dapat mengetahuinya.

"Apakah itu berhasil?" Tanya Neji mungkin ia juga berusaha untuk membuat sebuah harapan kepada dirinya sendiri."Secara perlahan aku rasa itu mulai berhasil."Ujar bocah Uchiha itu dengan pelan akan tetapi Neji bisa melihat jika anak itu merasa tidak yakin karena itu tersirat dari matanya.

Mereka kembali berlatih untuk beberapa saat lalu berbincang-bincang sepanjang sore. Neji suka Sasuke. Dia sangat berbeda dengan bocah-bocah lain di akademi terlebih lagi dengan yang ada di klannya. Dia sangat suka saat bersama Uchiha muda tersebut.

Neji penasaran mengenai hubungan diantara Sasuke dan Itachi. Uchiha yang lebih tua itu telah cukup lama menjadi mentornya akan tetapi dia tidak dapat mengatakan bahwa ia telah mengenal Uchiha Itachi. Terkadang Neji merasa seperti dia hanya berbicara dengan Itachi seperti saat pertama kalinya mereka bertemu.

Ketika mentari mulai terbenam mereka menghentikan obrolan. Sasuke merapikan barang-barangnya dan sebelum Neji dapat mengatakan sesuatu lengannya telah digeret oleh Sasuke dan mulai berlari menuju kediaman Uchiha. "Ayo kita makan malam di rumahku Neji kun." Ujarnya sembari berlari. Neji yang mengikutinya hanya tersenyum malu-malu dan menganggukan kepalanya.

Sesampainya mereka pada pemukiman Uchiha keduanya berhenti berlari. Sasuke tidak pernah melepaskan genggamannya pada lengannya Neji. Ia melambaikan jemari satunya ke arah para warga yang memanggilnya. Sepanjang jalan Neji berada dekat di samping teman barunya itu. Sekalipun ia pernah berada disini sebelumnya, ini merupakan pertama kalinya ia berjalan dengan bebas.

Neji mendapati pandangan penuh minat dari beberapa anak yang berlarian do jalanan. Pandangannya ia alihkan dari mereka ke arah pakaian yang ia gunakan. Saat ini ia memakai sepasang kaos hitam dengan celana pendek hitam juga serta jaket putih yang memiliki lambang Hyuuga pada lengan kanannya. Akan tetapi matanyalah yang membuat orang-orang memandanginya.

Dan kenyataan bahwa saat ini ia berada bersama Sasuke. Hal ini bukanlah kejadian yang biasa para Uchiha itu lihat setiap harinya. Sasuke dengan seorang teman dan terutama dengan seorang Hyuuga. Kedua klan memang memiliki hubungan yang cukup baik hanya saja memang bukanlah sesuatu yang sering terjadi melihat kedua klan itu bersama. Ya tentu saja baik Neji maupun Sasuke tidak mengetahui hal tersebut

"Rumahku di arah sini." Ujarnya sembari berjalan menuju sebuah rumah yang cukup besar dan berada di sudut jalanan yang lumayan sepi. Sasuke membuka pintu dan berjalan masuk, ia melepaskan sepatunya dan menunggu Neji untuk melakukan hal yang sama. "Aku pulang teriak bocah Uchiha itu. "Okaa san aku membawa teman. Aku harap kau tidak keberatan." Ujarnya sembari berjalan menuju pintu dapur. Ibunya yang sedang merajang sesuatu menolehkan kepalanya kebelakang. Ayahnya juga ada di ruang makan sedang membaca buku, ia juga melihat kearah putra bungsunya itu.

"Selamat datang Sasuke." Sapa Ibunya ramah. "Seorang teman kau bilang?" Ucapnya dengan senyum kecil menghiasi wajahnya. Sasuke menganggukkan kepalnya dan membalikkan badannya untuk menggandeng jemari Neji dan membawanya masuk ke dapur. "Oh hai, aku ibunya Sasuke, Uchiha Mikoto dan ini suamiku Uchiha Fugaku. Senang bertemu denganmu."

"Namaku Hyuuga Neji senang bertemu dengan anda juga." Neji berkata dengan nada sopan ia juga membungkukkan badannya membuat Mikoto tersenyum ke anak itu. "Makan malam akan siap beberapa menit lagi, Sasuke bagaimana jika kau mengajaknya berkeliling sembari menunggu?" Sasuke menggenggam jemari Neji dan mengajaknya keluar dari dapur menuju taman.

"Sasuke itu anak yang tidak mudah bergaul dan sekarang ia mendapatkan Hyuuga sebagai teman pertamanya, Hmph."Mikoto melihat ke arah suaminya. "Syukurlah jika ia mempunyai teman yang sepantaran dengannya lagipula Neji kun tampaknya anak yang baik." Bela Mikoto, sekalipun dia orang yang sabar terkadang suaminya dapat memutuskan urat kesabaran yang ia miliki. "Hm" hanya itu jawaban dari sang ketua klan Uchiha. Mikoto hanya menghela nafasnya.

"Aku pulang" ujar putra tertuanya. Mikoto berjalan menuju pintu dan mendapati Itachi yang telah melepaskan sepatunya.

"Selamat datang Itachi. Bisakah kau membantuku menyusun meja makan? Makan malam hampir siap."

"Ya Okaa san." Itachi melangkah menuju dapur dan mengambil empat buah set peralatan makan dan mengaturnya di atas meja makan. Ibunya datang dan menyusun satu buah set peralatan makan lagi membuat Itachi memandang heran ibunya itu. "Sasuke membawa temannya untuk makan malam." Terang Mikoto. "Mereka sedang bermain di taman sekarang." "Seorang bocah Hyuuga." Ujar ayahnya tanpa melepaskan pandangannya dari buku yang ia sedang baca. Ibunya hanya memberikan senyum kecil sembari meletakkan sumpit di meja.

Itachi mulai mengatur meja tanpa berbicara setelah itu ia menuju taman. Disana ia mendapati Sasuke dan Neji yang duduk di atas rumput. Adiknya menunjukkan simbol-simbol pada sebuah gulungan dan menerangkan sesuatu ke anak bermata lavendar itu. "Niisan!" ujar Sasuke dengan keras membuat Neji menoleh ke arah belakang. "Neji, kenalkan ini kakakku, Itachi. Aniki ini temanku Hyuuga Neji"

Itachi berjongkok dan meletakkan jemarinya ke atas kepala Neji. Sasuke merasa gugup untuk beberapa saat karena ia kira kakaknya itu akan menyentil dahi teman barunya seperti yang Itachi telah sering lakukan kepadanya. "Senang bertemu denganmu Neji kun" Ujar Itachi dengan nada yang hangat. Cukup hangat untuk seorang Uchiha Itachi.

Neji mengerjapkan matanya dan menganggukan kepalanya dengan pelan. "Aku yang seharusnya merasa senang Itachi san." Ia berpura-pura bahwa saat ini adalah pertama kalinya mereka bertemu. Itachi mengalihkan pandangannya ke Sasuke. "Ada apa Aniki?" Ujar Sasuke, tampaknya anak bermata hitam itu sangat mengagumi kakaknya pikir Neji.

"Bukan apa-apa. Ayo makan malam sudah siap." Ujar Itachi ia menggenggam lengan Neji untuk membantunya berdiri akan tetapi genggamannya terlalu kuat membuat Neji memandang heran ke arah Itachi, sedangkan pandangan Uchiha yang lebih tua itu tampak dingin.

Sasuke menggandeng tangan Neji dan Itachi melepaskan genggamannya. Anak bermata lavendar itu menolehkan padangannya ke arah Itachi yang berjalan di belakang mereka.

.

.

.

Neji terus mengunjungi Sasuke. Keduanya sangat menikmati kebersamaan mereka berdua, sekalipun Hyuuga kecil itu merasa sedih juga saat mendapatkan perlakuan diam dari Itachi selama ia berada di rumah Sasuke. Ya, tak apalah bagaimanapun juga memang sudah menjadi kesepakatan diantara mereka berdua bahwa tidak ada yang boleh mengetahui mengenai latihan yang ia terima dari Uchiha yang lebih tua itu

Ketika musim semi tiba di Konoha bersamaan dengan itu ulang tahun Neji tiba. Sebuah pesta di area piknik kediaman Hyuuga diadakan untuk Neji. Beberapa orang dari luar klan turut diundang seperti teman sekelas Neji. Ia juga mengundang Sasuke yang ternyata datang bersama Itachi. Uchiha yang lebih tua itu ikut datang dikarenakan ia harus menjaga Sasuke. Dan jujur saja Neji cukup senang dengan kehadiran Itachi sekalipun jika ia hanya berdiam diri memandangi mereka dan sesekali berbincang dengan para orang dewasa maupun dengan sepupu lainnya yang lebih tua darinya.

"Ayo bermain petak umpet dengan mata tertutup. Neji yang ulang tahun sehingga kau yang jaga." Ujar salah satu sepupu Neji. Semuanya setuju karena beberapa saat kemudian Hinata melilitkan sebuah kain dimatanya. Aturannya sangat mudah. Salah satu dari mereka akan membunyikan lonceng sembari berlari untuk bersembunyi sementara anak-anak yang lain akan membuat suara-suara untuk mengalihkan perhatian yang berjaga.

Hinata memiliki sebuah lonceng besar di tangannya. Lonceng yang sama persis seperti yang ada di kuil. Ia melihat kesekelilingnya dan mendapati Sasuke yang tampaknya semangat. Ia pun berjalan menuju bocah Uchiha itu. "Ini S-sasuke kun." Bisiknya ia menggantungkan lonceng itu ke leher Sasuke. "B-bunyikan loncengnya u-untuk memulai permainan." Sasuke melakukannya dan semua anak-anak itu mulai berlarian. Sementara Neji mulai melangkah dengan tangan ke depan untuk mencari sumber suara lonceng tersebut.

Itachi duduk di dekat mereka, ia memperhatikan Sasuke yang bersembunyi di belakang salah satu sepupu Neji sementara anak bermata lavendar itu mencari sumber suara lonceng tersebut. Dia tahu sekalipun adiknya itu bersembunyi dari Neji, Sasuke ingin Neji dapat menemukannya, ia ingin bersamanya dan bukan hanya di permainan itu saja. Neji berlari dan melompat ke arah Sasuke membuat mereka berdua terjatuh. "Dapat!" Ujar Neji dengan tertawa kecil. Ia pun melepaskan penutup matanya itu.

Sasuke tertawa begitu juga dengan yang lain. Uchiha muda itu memeluk Neji untuk menopang ia untuk berdiri. Itachi mengeryitkan dahinya melihat hal itu. Setelah acara ulang tahun selesai Sasuke memberikan sebuah kotak yang terbungkus kertas kado. "Ini untukmu." Ujarnya malu-malu. "Aku tidak tahu apa yang kau sukai, karena itu akhirnya aku memilih sesuatu yang dapat berguna untukmu." Neji mengambil kotak itu dan membukanya. Isinya adalah sebuah tas poket kecil berwarna krem. Jemarinya menyentuh poket krem itu, ia tersenyum puas. "Terima kasih Sasuke kun." Ujarnya riang.

"Kau dapat memasangnya pada pinggangmu. Dapat digunakan untuk menyimpan kunai maupun senjata lainnya, dan mudah untuk dibawa saat akan melakukan sebuah pertarungan." Ujar Sasuke, ia sangat senang karena Neji mau menerima hadiah pemberiannya.

Itachi melangkah mendekati kedua bocah laki-laki itu sembari menyilangkan lengannya. Saat Sasuke masih berbicara dengannya Neji memandangi wajah Itachi. "Kita harus segera pergi Sasuke." Ujar Itachi. "Terima kasih atas undangannya Neji kun dan selamat ulang tahun."

Saat kedua Uchiha itu berjalan meninggalkannya Neji mendekapkan kado itu ke dadanya. Ia menolehkan kepalanya ke belakang dan melihat hampir semua orang telah pergi. Tampak Hinata yang masih menunggunya. Ia pun berjalan menghampiri sepupunya itu.

.

.

.

Neji berdiri dengan posisi terbalik pada sebuah batang pohon. Itachi melatihnya untuk berjalan di atas pohon hanya dengan cakranya. Neji tidak memiliki kesulitan melakukannya karena Jyuujen pada dasarnya membutuhkan konsentrasi cakra yang baik untuk melakukan jutsu tersebut. .

"Apa yang kau pikirkan mengenai adikku Neji kun?" Dia berdiri di samping Neji dengan posisi terbalik juga. "Sasuke kun sangat ramah. Menurutmu juga begitukan Itachi san?" "Dia tidak pernah melakukan apapun kepadaku." Ujarnya simpel "Tidak seperti orang lain di dalam klan." Lanjutnya lebih kepada dirinya sendiri. Neji tidak begitu mendengar ucapan Itachi yang terakhir. Itachi memberikan pandangannya ke Neji.

"Apa kau menyukainya?" "Ya, Sasuke kun adalah temanku, mengapa?"Jawab anak berambut panjang itu. Itachi memejamkan kedua bola matanya dan tak berkata apa-apa lagi.

.

.

.

Beberapa hari menjelang akhir bulan terdapat sebuah pesta ulang tahun, kali ini giliran Sasuke. Hampir teman satu kelasnya di akademi datang, bukan karena keinginannya lebih tepatnya karena ibunya yang mengundang mereka.

Hinata juga berada di sana ia berbincang-bincang atau lebih tepatnya mendengarkan ocehan anak berambut merah muda. Lalu anak perempuan berambut merah muda itu meneriakkin seorang bocah berambut blonde yang berlarian mengelilingi mereka. "Siapa anak itu?" Tanya Neji yang berada di sisi kanan Sasuke.

"Oh, kalau tidak salah namanya Naruto. Dia satu kelas denganku tapi aku tidak begitu mengenalnya. Anak yang berisik dan menyebalkan. Dia memberikanku sebungkus ramen siap saji sebagai hadiah ulang tahunku." ujar Sasuke. Neji menahan geli mendengarnya.

"Aku tidak terlalu terganggu sih dengannya. Hanya saja orang tua dari anak-anak yang lain yang sepertinya berlebihan dalam menghadapi bocah itu. Aku juga tidak tahu alasannya apa. Maksudku dia memang bodoh tapi ya hanya itu." Imbuhnya setelah beberapa saat. Neji yang mendengarnya hanya menganggukkan kepalanya saja. Ia memang pernah melihat beberapa warga Konoha yang memperlakukan bocah berambut pirang itu secara buruk.

Beberapa saat kemudian Sakura mulai mengejar Naruto dan Hinata berlari di belakang mereka karena ia ingin menghentikan kedua teman sekelasnya itu. Naruto berlari melewati Sasuke dan Neji. Sakura juga berlari mengikutinya dari belakang membuat Sasuke melompat dengan satu kaki, akan tetapi ia tidak menyadari bahwa Hinata juga berlari ke arahnya.

Ketika Hinata menyenggolnya juga sehingga membuat Sasuke terjatuh. Neji mencoba menangkapnya sayangnya keduanya malah terjatuh ke tanah. Lengan Neji berada di leher Sasuke sementara bocah Uchiha itu mengelus pelan kepalanya yang terantuk.

Sebelum Sasuke dapat mengatakan sesuatu. Itachi telah mengangkat Neji darinya. Anak bermata lavendar itu ia gendong dengan lengannya yang melingkar pada pinggang Neji. Itachi menatap tajam adiknya.

"Aniki, turunkan Neji!" Ujar Sasuke sembari bangkit dan menepuk-nepuk debu dati bajunya itu. Akan tetapi Itachi hanya berdiam diri saja."Aniki!"

"Kita akan makan siang sekarang, ayo!" Itachi mulai berjalan sementara dengan posisi Neji yang masih berada pada lengannya. Sasuke menggembungkan pipinya dan berlari mengejar mereka, ia menarik tangan Neji dengan erat. Itachi yang melepaskan Neji membuat anak bermata lavendar itu terjatuh menimpa Sasuke. " Apa aku harus menggendong kalian berdua juga?" Godanya membuat Neji sedikit tersipu malu sedangkan Sasuke menjulurkan lidahnya ke Itachi.

Setelah keduanya berdiri mereka pun berjalan menuju ke dalam rumah untuk makan siang. Setelah itu Neji memberikan Sasuke sebuah hadiah. Uchiha muda itu membuka kotak hadiahnya dan ia mendapati satu set sebuah pelindung lengan yang terbuat dari kain putih yang bagus serta gesper berwarna biru lalu ada satu set lagi yang bentuknya seperti tali hitam yang besar akan tetapi terbuat dari bahan yang cukup keras dan cukup fleksibel. "Mungkin ini sedikit kebesaran saat ini, tapi aku rasa ini akan muat padamu jika waktunya tiba."

"Terima kasih banyak Neji kun" Sasuke memberikan senyuman terbesarnya ke temannya itu.

Di sebelah ruangan Itachi menyandarkan dirinya pada dinding, ia memangku kedua lengannya sembari menutup matanya. Uchiha yang lebih tua itu melangkah pergi tanpa berkata apa-apa lagi.

.

.

.

Cuaca hujan dari musim gugur biasanya tidak mempengaruhi Neji akan tetapi beberapa minggu terakhir ini ada yang berbeda. Itachi bersikap tak seperti biasanya akhir-akhir ini. Sasuke mengatakan kepadanya bahwa Anikinya itu telah menjadi tersangka dari sebuah pembunuhan. Neji tidak tahu harus berkata apa mengenai perihal tersebut.

Beberapa hari telah berlalu dan kali ini giliran Sasuke yang bertingkah aneh. Untuk alasan yang tidak ia ketahui Sasuke seakan-akan lupa akan keberadaan dunia luar di sekitarnya . Uchiha muda ituhanya berlatih selama berhari-hari jutsu keluarganya tersebut. Bahkan di bawah siraman hujan dingin dari cuaca musim gugur tersebut.

.

.

.

Hari itu tidak hujan sehingga Neji memilih untuk berlatih sendiri. Dia berada di dekat hutan. Ketika mentari sudah di ufuk barat ia menghentikan serangan kunainya karena ia dibuat kaget oleh Itachi yang menepuk bahunya. "Itachi san, apa yang kau—"Sebelum ia dapat menyelesaikan perkataannya Itachi telah mendekapkan jemari kanannya pada mulut Hyuuga kecil itu. Ia melingkarkan lengannya pada pingang Neji dan melompat menjauh dari tempat latihan tersebut.

Itachi menggunakan semacam seragam ANBU dan terdapat sebuah katana di punggungnya. Neji mencoba melepaskan dekapan jemari Itachi padanya. "Bersabarlah Neji kun, aku akan mengajarimu sebuah pelajaran penting hari ini." Neji memandang heran mentornya itu membuat Itachi hanya menyeringai kecil. "Bagaimana cara membuka sangkar tanpa kunci." Lanjutnya dengan dingin.

Langit semakin gelap ketika Itachi tiba pada pemukiman klan Uchiha ia menurukan Neji pada sudut jalanan. Posisinya saat ini tertutupi bayangan. Uchiha jenius itu memerintahkan Neji untuk tidak bergerak dari tempatnya, selang beberapa detik kedua matanya yang normal berubah menjadi Sharingan.

Dan dimulailah pembantaian Klan Uchiha.

Tangan Neji bergetar, ia mencoba untuk menggerakkan tubuhnya tetapi tubuhnya tidak mau mengikuti perintah otaknya. Jemarinya berkedut setiap pembunuhan yang terjadi di hadapannya. Setelah terasa seperti berabad-abad Itachi mengalihkan perhatiannya ke Neji ia memandang tajam ke arahnya memberikan perintah tanpa suara untuk mendekatinya membuat Neji secara perlahan berjalan mendekati Itachi.

Teriakkan para orang-orang itu membuat telinganya merasa nyeri. Dia tidak pernah melihat begitu banyak darah sebelumnya. Secara perlahan kedua jemari Neji mendekap mulutnya dengan getaran yang kencang. Kedua bola matanya membelalak dengan lebar, air mata mengalir membasahi pipinya. Ia berjalan mengikuti Itachi yang tanpa belas kasih menghunuskan katana ke para warga klannya sendiri itu. Bocah kecil Hyuuga itu berjalan perlahan sembari menghindari kubangan darah pada tanah.

Tidak peduli jika itu Pria, wanita, maupun anak-anak. Mereka semua jatuh di tebas dihadapannya dan ia tidak mampu berbuat apapun.

Bahkan untuk berteriak.

Neji menolehkan pandangannya ke arah seorang gadis yang berlarian menuju ke arahnya dari sebelah kiri. Akan tetapi beberapa saat kemudian gadis itu terjatuh di hadapannya dan darah segar menyiprat ke arahnya membasahi wajah dan pakaiannya. dan dia memakai pakaian berwarna putih.

Neji merasa tidak dapat bernafas. Bau anyir dari darah segar yang berada di sekelilingnya membuat ia ingin memuntahkan isi dari perutnya. Dia sangat takut. Ia ingin berteriak untuk meminta tolong, tapi ia sungguh tak berdaya. Yang bisa ia lakukan hanyalah berjalan mengikuti Itachi.

Air mata yang bercampur dengan darah di wajahnya mengalir pada pipinya dan terjatuh ke tanah. Ke dalam atas tanah yang di penuhi oleh kubangan darah dan kenyataan mengerikan yang sedang terjadi di hadapannya saat ini.

Neji menyadari bahwa saat ini mereka telah berada di rumah Itachi. Mentor mudanya itu membuat ia berdiri pada sudut ruangan yang cukup gelap. Dengan kedua bola matanya yang membulat dengan sempurna, suara yang tak bisa keluar dan tubuhnya yang bergetar pada dinding dibelakangnya ia menyaksikan bagaimana Itachi mencabut nyawa dari kedua orang tua kandungnya sendiri.

Darah segar terciprat pada dinding dan Itachi melangkah menuju sudut ruangan gelap yang lainnya, ia menunggu. Dia benar-benar tidak bisa bernafas, tidak dapat berteriak. Sudah ia coba tapi sayang baik suara maupun tenaganya seakan-akan telah terkuras habis meninggalkan tubuhnya.

"Tou san, Kaa san!"Pandangan Neji ia alihkan dari kedua tubuh tanpa raga yang berada di hadapannya ke arah pintu masuk. Beberapa air mata menetes saat ia menyadari siapa pemilik dari suara itu. Ia mencoba untuk bergerak, akan tetapi tatapan tajam yang Itachi berikan membuat ia tidak bisa melangkah sedikitpun dari tempatnya.

Lututnya sudah lemas membuat ia hampir limbung, ia menjadikan dinding di belakangnya sebagai penopang tubuhnya saat Sasuke melangkah memasuki ruangan itu dengan tangisan di wajahnya. Itachi berjalan menghampiri adiknya.

"Aniki." Ujar Uchiha yang lebih muda itu dengan penuh emosi. "Tou san dan Kaa san-" Sebuah shuriken melewati lengannya membuat ia berdarah dan berhenti berbicara. Sasuke menggenggang lengan kanannya yang berdarah dan memandang tak percaya ke arah Anikinya itu.

Pada sudut lain ruangan Neji menyaksikan itu semua, dia menutup telingannya saat mendengar Sasuke mulai berteriak akan tetapi ia tetap membuka kedua matanya saat Sasuke terjatuh ke atas tatami. "Kenapa?" isak Sasuke. Itachi menoleh kepalanya kebelakang untuk melihat Neji lalu ia mengembalikkan pandangannya ke Otoutou-nya itu. "Karena aku ingin menguji kemampuan yang aku miliki." Ujarnya dengan dingin membuat Sasuke kembali berteriak dengan kencang, sesaat kemudian Sasuke menyerang Itachi yang berakhir gagal. Karena rasa takut yang mulai menggerogoti tubuhnya Sasuke pun berlari menjauhi Anikinya yang mana malah membuat Itachi pergi untuk mengikutinya. Seketika Neji telah sendiri di ruangan tersebut. Anak berambut coklat panjang itu duduk terjatuh pada lututnya, ia memperhatikan keadaan dirinya sekarang.

Dia bersimbah dengan darah. Penuh dengan darah dari klan Uchiha yang sudah jatuh. Hyuuga jenius itu mendapati darah di bajunya, wajahnya serta rambutnya. Seakan-akan Itachi sengaja melancarkan serangannya ke para Uchiha itu hanya untuk menyipratkan darah mereka ke Neji. Pikirannya menjadi mati rasa. "Sasuke" Bisiknya. Neji segera bangkit dan berlari mengejar kedua Uchiha itu.

Sesampainya di jalan Sasuke sudah tak sadarkan diri. Neji segera berlari ke Sasuke. Ia memandang tak percaya ke arah Itachi yang berdiri di hadapan mereka berdua. Pikiran Neji mulai kembali normal. "Mengapa Itachi san, mengapa kau lakukan ini semua?" Bocah kecil itu memeluk erat Sasuke yang telah pingsan itu kedalam dadanya. Itachi hanya memberikan seringai kecil ke arah Neji.

"Karena aku lelah dengan sangkarku, Neji kun." Itachi berjalan mendekati anak itu lalu ia membungkukkan tubuhnya disamping Neji, ia membelai lembut pipi anak itu. Anak berambut panjang itu mengeluarkan air mata tanpa sadar dan kedua bola matanya terbelalak dengan lebar.

"Apa kau sudah mendapatkan pelajaranmu Neji kun?"

"Pelajaran?"

"Inilah cara untuk keluar dari sangkar tanpa kunci Neji kun yang kau harus hancurkan adalah jerujinya."Kedua bola mata merah milik Itachi tampak berkilat membuat Neji terngiang-ngiang akan pembunuhan yang ia saksikan beberapa saat tadi.

"T-tapi m-mereka semua dan Sasuke kun." Neji mengeratkan pelukannya ia semakin takut akan apa yang akan Itachi lakukan kepada Uchiha muda itu. "Dia juga harus mati. Karena dia masih belum cukup kuat, dia tidak akan bisa bertahan hidup dengan dirinya sendiri." Itachi membelai pelan rambut yang menghalangi wajah Neji.

"Tidak-tidak-tidak kumohon jangan bunuh dia. Bukankah kau sendiri yang bilang kalau Sasuke tidak pernah melalukan apapun kepadamu. Kumohon Itachi san dia bisa menjadi kuat, aku yakin."Ucap anak itu sembari terisak-isak. "Jangan memohon Neji kun, itu hal yang tidak pantas untuk kau lakukan." Ujar Itachi dengan nada yang dingin.

"Bagaimana jika kita membuat sebuah perjanjian?" Pandangan yang Itachi berikan membuat Neji mengeryitkan dahinya. "Perjanjian?" Ulang bocah itu dengan nada yang penuh kebingungan. "Ya, aku awalnya tidak merencanakan ini, tapi aku rasa pada akhirnya cara ini akan berhasil juga." Neji memandangi Sasuke yang tampak sangat berantakan, tubuhnya sungguh dingin dan lengannya berdarah tampak air mata yang mengalir dipipi Sasuke.

Pakaian Sasuke terkena darah yang membasahi baju Neji, ia tidak ingin Sasuke mati. Anak bermata lavendar itu memandang kembali mentornya itu dan secara perlahan memberikan anggukan setuju.

"Baiklah Neji kun ayo ikut denganku. Aku akan memberikan rinciannya, tinggalkan Sasuke disini." Neji menggeletakkan Sasuke pada tanah. Anak bermarga Hyuuga itupun segera bangkit. Itachi menggandeng jemari mungilnya dan mulai melangkah menjauh dari Sasuke.

Anak bermata lavendar itu hanya bisa menolehkan pandangannya ke arah Sasuke hingga ia tidak bisa melihatnya lagi. Itachi merangkulkan lengannya ke pinggang Neji, ia membawanya untuk melompati atap rumah dan menghilang ke dalam gelapnya malam hari.

'Sasuke-kun…' Batinnya saat Itachi membawanya menuju kesebuah tempat yang sedikit jauh dari Konoha. Itachi memasuki pos tak terpakai ANBU. Ia meletakkan Neji pada sebuah matras. Uchiha jenius itu mulai menanggalkan pakaian mereka berdua.

"Ini akan menjadi sebagai tanda sahnya perjanjian diantara kita, Neji." Bisiknya sembari memeluk anak bermata levendar tersebut. "Hari ini aku akan membuat dirimu menjadi milikku seutuhnya."

Neji menangis lagi sesaat Itachi mulai menyentuh seluruh tubuhnya ia tidak dapat mengerti akan apa yang Itachi lakukan padanya, membuatnya merasa aneh.

"Setelah ini kau akan tetap tinggal disini akan tetapi ketika aku kembali padamu, yang harus kau lakukan adalah kau akan tinggal bersamaku tidak peduli apapun yag terjadi. Jika kau setuju dengan ini maka akan aku biarkan Sasuke hidup, bahkan jika ia menyerangku nanti. Neji mengingat teriakkan penuh kesedihan Sasuke. Ia juga mengingat bagaimana Itachi mengambil nyawa orang-orang itu dengan mudah. Dia tidak dapat membiarkan hal yang sama terjadi pada Sasuke.

"A-aku setuju"

Sebuah seringai membingkai wajah Itachi. Shinobi yang lebih tua itu melilitkan kain ke mata Neji. Itachi tahu tanpa penutup mata sekalipun Neji tidak akan dapat melihat apa yang sedang terjadi saat ini, karena sejak awal memang sudah sepert itu. Kedua bola mata yang dapat melihat segalanya akan tetapi object inspirasinya itu begitu buta untuk dapat melihat hal yang sudah jelas.

Dia mencium bibir mungil Neji, lidahnya ia paksa masuk ke dalam mulut Hyuuga muda itu. Mengambil nafas milik Neji untuk pertama kalinya. Jemarinya bergerak secara bebas ke sekujur tubuh anak bermata lavendar itu. Mencicipinya untuk pertama kali seperti yang selalu menjadi harapannya sedari dulu.

Neji merasakan jemari Itachi yang mulai bergerak dengan cepat pada organ tubuh bawahnya. Perasaan baru dan aneh mulai mengkonsumsi tubuhnya. Ia tidak mengerti apa yang tengah terjadi dan ia tidak dapat menghentikannya. Sesaat kemudian ia berteriak dengan kencang saat Itachi memasuki dua buah jarinya ke dalam tubuh terdalamnya. Anak berambut panjang coklat itu mencoba untuk bergerak tetapi Shinobi yang lebih tua itu menahannya dengan erat.

"Ita-a-achi-san k-kau m-m-embuatku sa-sak-kit."

"Shhhhh. Maaf Neji, ini memang akansakit utuk pertama kalinya. Kau akan menjadi milikku dan hanya bisa dilakukan dengan cara ini. Kau ingat akan perjanjian kita bukan?" Itachi memasukkan jari ketiga ke dalam tubuh Shinobi yang lebih kecil itu. Kuku Neji semakin mendalam pada dada Itachi. Erangan kesakitan dan tangisannya memenuhi ruangan itu.

Itachi melepaskan jemarinya dan mengangkat Neji sedikit dan tanpa ragu ia mendorong masuk ereksinya ke dalam bagian tubuh terdalam anak bermarga Hyuuga itu membuat Neji berteriak kesakitan dengan kencang. Akan tetapi Itachi membungkamnya dengan ciumannya. Air mata Neji tetap tidak berhenti. Shinobi yang lebih tua itu membaringkan Neji Ke atas matras dan mulai menggerakkan tubuhnya dengan cepat. Ia sangat menikmati ekstasi yang ia rasakan dari Hyuuga kecil yang telah lama mengisi mimpi malam-malamnya dahulu.

Tangisan Neji terhenti, ia merasa terlalu lelah. Sayangnya Itachi masih belum terpuaskan dan tampaknya ia masih jauh dari rasa puasnya. Neji mulai mengosongkan pikirannya, karena ia tidak bisa menampung semua kejadian buruk yang ia terima saat ini. Kematian dari para warga Uchiha, kebencian dan kesedihan pada klannya, pengkhianatan dari mentornya dan pandangan penuh kesedihan serta teriakkan Sasuke, ia tidak dapat menerima itu semua. Hal terakhir yang ia lihat adalah Itachi melepaskan penutup matanya dan Magenkyo Sharingan dimata Uchiha jenius itu..

.

.

.

Itachi tidak menyadari setetes air mata yang mengalir dari Neji sekalipun ia dalam kondisi kehilangan kesadarannya. Langit semakin menjadi kelabu dan hujan tampaknya akan segera turun.

Neji sungguh merasa sangat dikhianati. Karena di masa lalu ia pernah menyerahkan dirinya ke Itachi untuk menyelamatkan Sasuke, akan tetapi beberapa hari yang lalu Sasuke telah memperlakukan dirinya hal yang sama dengan Itachi.

Tak jauh dari mereka berada. Sasuke sedang berlari bersama rekan-rekannya. Dia harus segera menemukan Neji, sebelum semuanya menjadi terlambat.

.

.

.

To be continue

.

.

.

A/N:

"This is how you get out of a cage with no lock, Neji-kun… you destroy the bars"

Membaca ini berulang kali tetap membuatku merinding. Feel nya dapat banget.

Mungkin sadurannya tidak seindah kata-kata diatas ya?

.

.

Cuplikan next chapter :

"Konoha tidak dapat menolongmu Neji tetapi aku dapat melakukannya dan akan aku pastikan hal itu terjadi. Tunggulah aku, aku akan kembali dengan kunci untuk sangkarmu."

"Kau tidak akan bisa menang melawanku Otoutou yang bodoh. Kau masih lemah dan untuk alasan yang sama kau tidak akan bisa memiliki Neji."

"Sudah cukup Itachi san."

"Ne-Neji?"

.

.

Oh well so what are you thinking about the story so far?

Tell me, or I'll keep you all wondering about what happen next *Evil laughter.

And thank you very much for those who already give me a review's.

I'm very happy every single freaking time when I read all of the review's.

Arigatou gozaimasu minna san *deep bow.

.

.

Ps:

Saya mau membagi sebuah fiction lama dengan genre humor pairingnya ItaNeji, SasuNeji, NaruNeji. Sekalipun tidak selesai ceritanya sangat lucu. Terlebih lagi setnya canon. So yum...

The Five Laws of Woo By: Medicinal Biscuit

Check her story guys!