Title : King's husband part 7
Cast : Park Chanyeol , Byun Baekhyun , Oh Sehun , Do Kyungsoo , Xi Luhan , Kim Jongin, Kang Soyou, Kim Dasom, Kim Hyorin, Yoon Bora, Lee Sungmin, Cho Kyuhyun, others.
PERHATIAN!
Ff ini mengandung unsur dewasa, berisi adegan seks, hubungan sesama jenis yang menyebabkan beberapa orang mungkin mual, Bahasa yang berantakan, dan typo yang walau sudah berusaha dihilangkan tapi tetap muncul. Tidak untuk area bermain anak-anak, anak polos, antigay/ homophobic, AntiChanbaek dan segala yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia yaoi.
NO CO-PAST
NO-REPOST
NO-PLAGIAT
Okay?
There always be a place for the good person. So, don't steal people's effort , be honest dear..
Mulailah dengan sebuah kata, susunlah menjadi kalimat dan kembangkan dalam sebuah paragraph.
Cerita yang hebat bukan tentang siapa, tapi tentang apa dan bagaimana.
Selamat membaca
…
..
.
Park Shita
Present
…
..
.
"Paduka!" Chanyeol tersentak di tempatnya ketika mendengar suara teriakan Baekhyun di depan pintu. Ia yang sedang mengerjakan beberapa hal penting seperti biasa di depan meja kerjanya mendongak dan terkejut mendapati sosok Baekhyun berdiri di depan pintu dengan beberapa pelayan yang mengikutinya dengan wajah cemas.
"Baekhyun? Apa yang kau lakukan_"
"Paduka! Paduka! Paduka! Sesuatu terjadi!" ucap Baekhyun sambil berjalan kearah Chanyeol dengan sedikit kesusahan dan memegang pinggangnya. Chanyeol bangkit dan membantu yang lebih kecil untuk mendekat kearahnya.
"Paduka, ia menendang." Ucap Baekhyun sambil membusungkan perut buncitnya dan Chanyeol ikut tersenyum melihat betapa bahagia wajah Baekhyun dan tidak melewatkan noda cat warna di sekitar pipinya.
"Benarkah?" Baekhyun menarik tangan Chanyeol yang menurutnya bergerak lambat lalu menempelkanya pada perutnya.
"Coba rasakan! Sungguh aku tidak membual." Ucap Baekhyun menggebu. Chanyeol mengerutkan keningnya, mencoba mencari detak si janin di permukaan perut Baekhyun, dan seketika matanya membulat , mereka berdua saling tatap untuk beberapa saat.
"Benar. Dia sungguh menendang. Sangat…sangat keras." terselip sebuah nada bangga dan terharu dalam untaian perkataan Chanyeol.
"Iya Paduka, dia pasti akan menjadi bayi yang kuat." Ucap Baekhyun masih merasa senang dengan kemajuan perkembangan kandungannya. Ia merasa tidak sabar untuk melahirkan bayi itu kedunia.
"Tentu, iya harus kuat." Ucap Chanyeol sambil mengecup pipi Baekhyun dan menghapus noda cat warna di pipinya.
"Ya, seperti Paduka, kuat dan hebat." Chanyeol tersenyum semakin lebar ketika menemukan ekspresi memuja dan kagum dari yang lebih kecil.
Tanpa Baekhyun duga Chanyeol merendahkan tubuhnya , berjongkok di depan yang lebih kecil tepat di depan perut Baekhyun, lalu menempelkan telinganya disana. Baekhyun yang semula merasa sedikit terkejut akhirnya tersenyum dan mengelus rambut Chanyeol dengan sayang.
"Aku tidak sabar melihat kehadirannya dan mendengar tangisannya." Gumam Chanyeol kecil namun Baekhyun masih mampu mendengarnya. Ia tersenyum dan kembali mengelus rambut Chanyeol pelan. Menyisir helaian rambut halus dan hitam kelam itu dengan jemari lentiknya.
"Aku pun Paduka." Ucapnya. Chanyeol mendongak ketika mendengar suara bergetar Baekhyun dan ia mendapati si kecil sedang menitikan air mata, bukan air mata kesedihan tapi air mata bahagia.
"Meski Nona Tzuyu bilang rasanya akan sedikit menyakitkan, namun aku akan berjuang untuk melahirkannya kelak. Tiga bulan bukan waktu yang lama Paduka, aku akan menguatkan diriku hingga waktu itu tiba." Ucap Baekhyun sambil memperlihatkan gigi putihnya.
Chanyeol bangkit dan segera memeluk tubuh Baekhyun, mengelus rambut si kecil yang terus bertambah panjang meskipun setiap bulannya selalu di potong.
"Terima kasih Baekhyun, aku tidak tahu harus dengan apa membalas semua ini." Baekhyun menjauhkan tubuhnya dan menatap Chanyeol.
"Dengan memberikanku cinta yang Paduka milikki, itu sudah cukup." Ucap Baekhyun riang, kembali pada sosok anak-anaknya. Chanyeol terdiam, lalu mengecup bibir Baekhyun pelan.
"Tidak." Sang Raja menggeleng pelan.
"Bahkan seluruh cinta dan hidupku tidak akan cukup untuk membayar semua yang telah kau berikan." Baekhyun tersenyum kemudian dan mengelus tangan Chanyeol di pipinya. Sebuah perasaan hangat menjalari tubuh dan hatinya. Hanya dengan menatap ke arah Sang Raja mampu menggetarkan seluruh saraf ditubuhnya.
"Hanya selalu ada disisiku, aku sudah merasa senang Paduka. Aku mencintai Paduka." Ucap Baekhyun riang. Chanyeol tersenyum, ketika bibirnya ingin membalas ia baru menyadari para pelayannya masih berdiri di ambang pintu dengan wajah tertunduk.
Seumur hidup Chanyeol tidak pernah menunjukan kemesraannya di depan para penghuni istana, bahkan ketika Sang Ratu masih ada dan meski sudah hidup bersama dengan si manja Baekhyun selama beberapa bulan, masih saja membuat ia sulit untuk memperlihatkan sisi romatisnya di depan semua orang dibawah kendalinya.
Baekhyun mengikuti arah pandang Chanyeol, meski sedikit rasa sakit menghampiri karena Chanyeol tidak membalas ucapan cintanya di depan para pelayan namun Baekhyun bisa paham dengan kondisi itu, Chanyeol adalah seorang Raja dan ia tidak terbiasa dengan ucapan-ucapan romantis di depan anak buahnya.
"Tidak usah dibalas, aku mengerti." Ucap Baekhyun sambil mengelus tangan Chanyeol yang masih menempel dipipinya. Chanyeol menatap Baekhyun, berpikir sejenak untuk apa ia malu memperlihatkan sisi keromantisannya di depan orang lain, untuk apa ia malu memperlihatkan pada orang-orang bahwa ia mencintai sosok mungil di depannya, Baekhyun berhak mendapatkan lebih dari pada sebuah pengakuan cinta darinya. Lebih.
"Aku mencintaimu Baekhyun-ah." Ucap Chanyeol dengan suara sedikit keras dan segera mencium bibir Baekhyun cukup lama. Baekhyun tersenyum dalam lumatan Chanyeol, dan kemudian membalas lumatan itu dengan bibir tipisnya.
Apa yang lebih membahagiakan dari dicintai?
Diakui oleh orang yang mencintaimu di depan semua orang?
Benar, Sebuah pengakuan.
Ya, Baekhyun rasa ia boleh berharap tentang itu lagi mulai sekarang.
Dan bagi Chanyeol, Baekhyun pantas untuk mendapatkan sebuah pengakuan. Baekhyun pantas menjadi ibu dari anaknya dan juga…
.
.
.
Ratu nya.
…
..
.
King's Little Husband
Chapter 7
…
..
.
( Warning : Sebelum kalian baca ini, ada baiknya siapkan hati, mental dan jantung, dan jika sedang asyik berbaring diatas kasur sambil megang hp, atau di depan meja belajar dengan buku pelajaran yang terabaikan, segera bangun terus siapkan tissue yang banyak, air mineral, dan bila perlu vicks inhaler. Segala bentuk kerugian di tanggung pembaca, wkwkwkwk)
...
..
.
"Itu tidak mungkin Paduka." Chanyeol mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Tuan Lee yang nampak sedikit menundukan kepalanya.
"Kenapa tidak mungkin Tuan Lee?"
"Baekhyun, dia bukan berasal dari kalangan bangsawan. Dia tidak memiliki darah kerajaan di tubuhnya, kita tidak bisa melakukan ini, dewan istana pun pasti tidak akan menerima usulan ini." Ucap Tuan Lee sambil menundukan kepalanya tidak berani menatap kearah Sang Raja.
Chanyeol tidak pernah membiarkan emosi menguasai dirinya, ayahnya telah mengajarkan itu semenjak ia kecil. Termakan emosi berarti kekalahan dan ayahnya tidak suka akan sebuah kekalahan.
Tapi untuk pertama kalinya Chanyeol merasa seolah meledak, biasanya ia akan menuruti ucapan Sang Penasehat yang selalu memberikan pertimbangan padanya, dan tidak jarang jika usulan Chanyeol mendapat penolakan, namun kali ini ia merasa marah atas penolakan itu.
Chanyeol terdiam sambil menatap kosong kearah meja kerjanya, rahangnya mengeras dan Tuan Lee dapat merasakan aura kemarahan itu.
"Pa..Paduka_"
"Tuan Lee, panggil seluruh Dewan Istana, kita adakan rapat malam ini." Tuan Lee mendongak dengan wajah terkejut, ia ingin membantah namun urung ketika melihat wajah serius Sang Raja yang selama ini tidak pernah terlihat.
"Ba-baik. Akan saya sebarkan undangan pada mereka." Ucap Tuan Lee lalu memberi hormat dan undur diri.
…
..
.
Jongin dan Sehun seperti biasa melatih para pasukannya. Berdiri dari tempat kebanggaannya dan menatap dengan teliti setiap anak buahnya yang berpotensi membuat kesalahan.
Jongin menoleh kesisi koridor ketika melihat Tuan Lee berbicara sedikit pelan pada beberapa anak buahnya, lalu setelahnya pria tua itu pergi.
"Apa yang terjadi? Wajah Tuan Lee terlihat tidak seperti biasanya." Ucap Jongin dan Sehun ikut mengalihkan perhatiannya, ia mengangguk pelan menyetujui ucapan Jongin.
Seorang pelayan pria mendekat dan memberi hormat pada kedua Jendral tersebut lalu berbisik pada Jongin.
"Malam ini? Kenapa mendadak?"
"Maaf, ini adalah pesan dari Penasehat Lee." Ucap pelayan itu memberi hormat. Jongin mengibaskan tangannya memerintahkan si pelayan untuk pergi. Setelahnya ia beralih pada Sehun.
"Paduka mengadakan rapat mendadak malam ini." Sehun mengernyitkan keningnya dan tidak memberikan respon sebagai jawaban.
…
..
.
Baekhyun berbaring diatas ranjang dengan satu kaki terangkat keudara pada posisi 45 derajat dan menggerakannya naik turun.
"huuuh… hhaaah,…huuhh.." Ia kembali mengatur nafas sebagai mana yang Tzuyu ajarkan padanya.
"Ayo Baekhyun, lakukan lagi!" ucap Tzuyu sambil membantu memegang kaki Baekhyun. Para pelayan berjejer di dekat dinding sambil menundukkan kepalanya dan menunggu perintah dari Sang Tuan muda.
"haaahh…huuhh…haahh…huuhhh.." Baekhyun terus mengatur pernafasannya seirama dengan gerakan pada kakinya. Tzuyu tersenyum melihat betapa seriusnya Baekhyun dengan kegiatan olahraga ringan mereka untuk kesehatan kandungan Baekhyun.
"Bagus, Baekhyun." Ucap Tzuyu.
"Ini sedikit sulit karena kakiku membengkak sekarang." Ucapnya sambil memajukan bibirnya dan menatap kearah kakinya yang masih tertahan diudara.
Tzuyu terkekeh, ia sudah terbiasa dengan semua keluh kesah Baekhyun mengenai bentuk tubuhnya yang semakin bertambah bengkak setiap harinya.
"Tapi itu lucu. Seperti kue kembang." Ucap Tzuyu sambil menarik pipi Baekhyun dengan gemas, namun Baekhyun tidak mempermasalahkannya karena ia pun sudah terbiasa pipinya dijadiakan bulan-bulanan.
"Paduka?" Baekhyun terkejut ketika melihat seluruh pelayan memberi hormat dan ketika ia menoleh kearah pintu, Sang Raja telah berdiri disana.
Tzuyu segera bangkit dari atas ranjang dan menundukan kepalanya, Chanyeol mengangguk dan membiarkan orang-orang meninggalkan kamar Baekhyun.
"Ada apa Paduka kemari?" tanya Baekhyun yang masih berbaring, karena ia malas untuk bangkit.
"Apa tidak boleh?" tanya Chanyeol sambil memasang senyum menggodanya dan segera duduk di ujung ranjang.
"Tentu boleh." Ucap Baekhyun yang mulai mencoba bangkit, namun Chanyeol menahannya dan merebahkan tubuhnya disamping tubuh yang lebih muda.
"Hanya…hanya tumben Paduka berkunjung dihari sibuk Paduka." Chanyeol terkekeh dan memaikan rambut Baekhyun yang menutupi matanya.
"Aku sedang tidak sibuk..hhmm…" ucapnya sambil menggeram manja dan menyembunyikan kepalanya di leher Baekhyun. Baekhyun tersenyum, Sang Raja memang suka melakukan hal itu terkadang padanya. Biasanya ketika sosok Raja itu kelelahan atau sedang kebingungan dengan masalah yang ia hadapi.
"Paduka lelah? Apa ada masalah?" tanya Baekhyun sambil mengelus kepala Chanyeol.
"Hm." Sahut Chanyeol masih menyembunyikan wajahnya.
"Kalau begitu beristirahatlah! Aku akan_"
"Ssst!diamlah seperti ini, Baek!" gumam Chanyeol sambil menahan tubuh Baekhyun. Baekhyun tersenyum dan kembali mengelus rambut Sang Raja.
"Aku merindukanmu." Ucap Chanyeol. Baekhyun tersenyum kecil, ia pun sama merindukan Sang Raja menyentuh tubuhnya, mencium setiap inci dari permukaan tubuhnya, namun ia harus menelan kekecewaan karena mereka tidak bisa melakukan hubungan intim saat ini.
Sejak sebulan lalu, ketika kandungan Baekhyun mulai menginjak tujuh bulan, Tabib Shin menyarankan untuk tidak melakukan hubungan intim karena itu akan sangat berisiko bagi kandungan Baekhyun.
Oleh karena itu, selain berciuman dan berpelukan mereka tidak akan melakukan lebih dan bahkan terkadang ketika hasrat Chanyeol memuncak ia akan meminta tidur secara terpisah dengan Baekhyun demi menghindari dirinya yang lepas kendali.
"Aku juga Paduka, tapi kita tidak bisa melakukannya." Ucap Baekhyun dengan wajah bersedih. Chanyeol tersenyum dan mengecup perpotongan leher Baekhyun.
"Tidak apa-apa, beberapa bulan lagi ia akan lahir." Ucap Chanyeol memberi semangat pada Baekhyun dan pada dirinya sendiri, karena demi apapun dia merasa gila karena tidak bisa menyentuh tubuh yang lebih kecil.
"Apa Paduka merasa tersiksa selama sebulan ini?" Chanyeol menganggukan kepalanya dengan wajah manjanya berniat mendapat perhatian dari Baekhyun, namun tanggapan Baekhyun berbeda.
"Jika begitu…ke-kenapa Paduka tidak meniduri para selir istana? Aku ..aku tidak masalah." Ucap Baekhyun gugup karena sejujurnya, jauh di dalam hatinya ia merasa sangat amat tidak rela jika Sang Raja harus tidur dengan orang lain. Chanyeol tersenyum menyadari ada ketidak ikhlasan Baekhyun dibalik ucapannya.
"Apa kau sungguh tidak masalah?" goda Chanyeol. Baekhyun menatap Chanyeol terkejut tidak menyangka dengan respon yang Chanyeol berikan, ia berharap bahwa Raja-nya akan menolak idenya.
"Ti-tidak." Ucapnya sambil menahan suara bergetarnya.
"Kau yakin? Kau memberikan izin?" tanya Chanyeol lagi sambil menatap mata bergetar Baekhyun. Baekhyun membuang wajahnya kesamping, berusaha menyembunyikan perasaan tidak relanya.
"I-iya. Pa-Paduka bisa melakukannya. A-aku tidak masalah." Chanyeol menarik dagu Baekhyun lalu melayangkan ciuman di bibir yang lebih kecil.
"Terima kasih Baekhyun." Ucap Chanyeol membuat si kecil merasakan sedikit rasa nyeri pada bagian dadanya.
"Tapi, sayang aku tidak berminat dengan siapapun selain dirimu." Baekhyun membulatkan matanya terkejut, dan tanpa bisa ia kendalikan sebuah senyuman yang berusaha ia sembunyikan terlihat.
"Senang dengan jawabanku?" Baekhyun mengangguk kecil, sungguh lucu dan polos dimata Chanyeol.
"Lagipula, aku sudah memecat seluruh selir dan memberikan mereka jaminan hidup yang lebih layak. Daripada menjadi pemuas nafsu tanpa bisa mendapatkan cinta dariku, mereka lebih layak hidup diluar sana dan mendapatkan orang yang benar-benar mencintai mereka." Baekhyun tersenyum lebar, merasa bangga dengan sosok Chanyeol. Dia adalah Raja terbaik yang pernah Baekhyun tahu. Meski ia tidak kenal seluruh Raja, namun ia tahu bahwa para Raja sangat suka mengoleksi selir mereka, untuk menunjukan seberapa kuat mereka.
Namun bagi Chanyeol kekuatan tidak dilihat dari seberapa banyak selir yang mereka miliki, namun dari seberapa sejahteranya para rakyat hidup dan dari seberapa hebatnya pasukan perang yang mereka ciptakan.
"Paduka?"
"Hm?"
"Kalau begitu mari kita lakukan, dengan sangat pelan. Sangat sangat sangat pelan." Ucap Baekhyun. Chanyeol terkekeh lalu menggeleng pelan.
"Tidak, aku tidak ingin kedua orang yang aku cintai dalam bahaya nanti." Ucap Chanyeol.
"Tidak, Nona Tzuyu bilang jika melakukannya dengan hati-hati itu akan baik-baik saja, selama tidak menekan perutku." Ucap Baekhyun. Chanyeol terkejut dan Baekhyun juga terkejut, ia baru saja kelepasan.
"Jadi, Nona Tzuyumu itu bahkan tahu tentang kehidupan percintaan kita?" Baekhyun menutup mulutnya rapat.
"Aku bersumpah bahwa Nona Tzuyu bukan orang bermulut besar, aku hanya menceritakan hal itu padanya, aku hanya butuh sebuah masukan." Ucap Baekhyun dengan wajah menyesal. Chanyeol mengangguk paham sambil tetap tersenyum.
"Jadi Paduka, ayo kita lakukan?"
"Tidak Baekhyun! Aku takut membahayakan kalian." Baekhyun mencebikan bibirnya dengan wajah sedih.
"Tapi…Nona Tzuyu bilang itu tidak akan apa-apa." Ucapnya dengan wajah cemberut.
"Nona Tzuyumu itu tidak tahu apapun Baek, ia bahkan tidak pernah mengandung." Baekhyun mendelik.
"Siapa bilang? Nona Tzuyu itu sudah menikah dan punya dua orang anak." Giliran Chanyeol yang membulatkan matanya.
"Benarkah? Kenapa dia terlihat sangat muda?" tanya Chanyeol heran dan Baekhyun mengangguk cepat, membuat Chanyeol semakin gemas dan berakhir dengan ia yang menarik pipi Baekhyun lembut.
"Aku awalnya juga tak percaya namun seminggu lalu ia membawa putra keduanya ke Istana karena urusan mendadak." Chanyeol mengangguk paham dan Baekhyun menahan wajah Chanyeol dengan kedua tangannya.
"Jadi apa kita akan melakukannya sekarang?" tanya Baekhyun dengan wajah penuh harap. Chanyeol bahkan sempat dibuat terkejut dengan besarnya keinginan Baekhyun untuk bercinta. Seperti yang Tabib Shin katakan, seseorang yang hamil akan selalu membawa kejutan.
"Apa Nona Tzuyu_"
"Ya, Nona Tzuyu bercinta dengan suaminya bahkan ketika kandungan mencapai 8 bulan. Bisa Paduka bayangkan?"
"Tidak. Aku bahkan tidak pernah terpikirkan akan hal itu." Ucap Chanyeol. Baekhyun menarik wajah Chanyeol dan mengecupnya.
"Ayo Paduka!" rengek Baekhyun dan Chanyeol memilih bangkit.
Ia melepas pakaian Kebesarannya, lalu berjalan mendekat kearah Baekhyun. Membantu yang lebih kecil untuk melepaskan pakaiannya dan meletakkan sebuah bantal dibawah tubuh Baekhyun.
"Aaaahh…" Baekhyun merasa nyaris gila ketika Chanyeol menjilat puting susunya dengan perlahan.
"Padukaaahh.." Baekhyun menggelinjang ketika salah satu jemari Chanyeol menyentuh lubang berkerutnya.
Chanyeol pun sama, sudah sejak lama ia merindukan rumah untuk kebanggaannya itu. Lubang hangat yang selalu mengantarkannya pada puncak kenikmatan.
"Hmmm.." Baekhyun meremas bantal dibawah kepalanya dan membuka kakinya semakin lebar ketika Chanyeol menjilat sepanjang paha dalamnya.
"Lagiihhhh." Desah Baekhyun ketika lubangnya dipermainkan. Chanyeol menggila, ia menyesap paha dalam Baekhyun hingga meninggalkan noda kemerahan disana. Lalu lidahnya beralih pada lubang Baekhyun.
Menjilatnya perlahan dan satu tangannya yang lain mengocok penisnya untuk mempersiapkannya membobol pintu masuk Baekhyun untuk kesekian kalinya.
Chanyeol mendongak untuk melihat keadaan Baekhyun dan ia tertegun ketika mendapati si mungil yang mendengkur halus. Lelakinya tertidur di tengah permainan mereka yang mulai memanas.
Chanyeol terkekeh, ia bangkit dan berbaring disamping Baekhyun yang terlihat tertidur dengan nyenyak.
"Kau yang meminta tapi kau yang tertidur. Kau sungguh menggemaskan Baekhyun, membuatku tidak tega untuk menyetubuhimu disaat kau sedang tertidur."
"Nyaamm…nyamm..Padukaaahh…lagiihh…" Chanyeol tersenyum sambil menggeleng, Baekhyun bahkan mengigaukan percintaan mereka. Chanyeol menyelimuti tubuh Baekhyun dan ketika akan turun, ia menatap perihatin pada kejantanannya yang menegak sempurna.
"Kau harus bersabar lebih lama lagi sepertinya." Ucap Chanyeol lalu memakai pakaiannya.
…
..
.
Jongin dan Sehun melangkah masuk ke dalam ruangan pertemuan mengikuti langkah Sang Raja di depan mereka, seluruh dewan telah duduk pada tempat masing-masing dengan tatapan bingung, tidak jauh berbeda dengan mereka berdua yang sama sekali tidak tahu perihal yang membuat rapat ini diadakan secara mendadak.
Chanyeol segera mengambil duduk di singgasananya sementara Jongin dan Sehun berdiri seperti biasa dibelakang Sang Raja. Chanyeol mengangguk, memberikan perintah pada Tuan Lee untuk segera memulai rapat mereka.
"Terima kasih untuk kedatangan kalian atas pertemuan yang sedikit mendadak ini. Hari ini kita akan membahas sebuah hal penting terkait dengan lelaki yang sedang mengandung keturunan Paduka Raja, Byun Baekhyun."
Jongin dan Sehun saling menoleh dan mengerutkan kening mereka mencoba menerka, sama halnya dengan para hadirin yang mulai nampak sedikit bising dan saling bertanya pada teman duduk disebelahnya.
"Seperti yang kita tahu bahwa Tuan muda Baekhyun telah memberikan keistimewaannya pada kita, bahkan beliau juga telah menyerahkan kebebasan hidupnya demi bisa mengandung keturunan Paduka. Untuk itu, Paduka ingin memberikan sebuah hadiah untuknya. Paduka berencana untuk menjadikan Byun Baekhyun sebagai Ratu di Kerajaan ini."
"Apa?" seruan terdengar. Keadaan semakin kacau dimana seluruh dewan nampak tidak terima dengan keputusan itu, Jongin dan Sehun tersentak sesaat dan menatap kearah Chanyeol tidak percaya.
Sementara Chanyeol hanya diam dan menyaksikan satu persatu Dewan Istana yang nampak tidak terima dan hendak protes.
"Maafkan aku. Tapi bukankah kita telah memberikan imbalan yang setimpal untuk itu? Kehidupan yang layak untuk keluarganya dan juga dua peti emas? Aku rasa itu sudah lebih dari cukup." Ucap salah satu Dewan yang berdiri dari tempatnya dan mendapat anggukan dari yang lain.
Chanyeol tidak merespon dan Tuan Lee yang sempat melirik Chanyeol hanya bisa menundukan kepalanya takut.
"Aku setuju. Itu sudah lebih dari cukup. Kita tidak bisa menjadikannya Ratu, dia bahkan hanya terlahir dari keluarga petani dan tumbuh di desa. Dia tidak memiliki darah bangsawan di dalam dirinya. Bagaimana bisa ia menjadi seorang Ratu?" ucap yang lainnya. Chanyeol mengepalkan tangannya dan rahangnya mengeras. Jongin dan Sehun yang melihat itu merasa khawatir karena tidak pernah melihat Chanyeol semarah itu.
"Benar Paduka. Dia dibesarkan sebagai anak seorang petani, bukan sebagai putri atau keturunan bangsawan. Dia bahkan tidak bisa membaca saat pertama kali datang kemari, dia tidak tahu apa-apa tentang tata krama sebagai seorang anggota Kerajaan, dia tidak pantas untuk menjadi pendamping orang nomer satu di negri ini."
Jongin dan Sehun semakin cemas melihat bagaimana Chanyeol hanya mengeraskan rahangnya tanpa memberikan tanggapan apapun. Mereka tahu Chanyeol tengah menunggu batas kesabarannya habis, mereka tahu bahwa Sang Raja sedang menguji kesabarannya.
"Apa lelaki itu yang meminta Paduka untuk melakukan ini sebagai imbalan atas keistimewaanya? Bagaimana bisa dia menjadi besar kepala hanya karena dia bisa mengandung keturunan Paduka?"
"Hanya karena? Hanya karena?" suara berat Chanyeol terdengar dan ada nada mengejek yang terselip disana.
"Coba kalian sebutkan selain dia siapa lagi yang bisa mengandung anakku? Katakan padaku apa seluruh wanita yang kalian paksa untuk kutiduri bisa mengandung anakku? Bahkan benihku pun tidak bisa tumbuh disana. Dan ketika dari seluruh tahun-tahun berat yang aku lalui dan seluruh usaha dan kerja keras kalian berbuah hasil kenapa memperlakukannya seperti itu?"
Semua bungkam, tidak berani mengangkat wajah mereka melihat bagaimana seorang Raja penyabar seperti Chanyeol terlihat begitu marah saat ini.
"Dia memang tidak memiliki darah bangsawan ataupun terlahir sebagai seorang putri atau apalah itu. Tapi dia memiliki hati lebih besar daripada seseorang yang kalian sebut Ratu. Mantan Ratuku seorang yang terlahir dengan darah bangsawan, seseorang yang besar sebagai seorang putri yang terhormat, memiliki etika dan tata krama tinggi, dia bisa membaca sejak kecil dan dia tahu tentang banyak hal melebihi anak seorang petani, tapi apa dia benar-benar menunjukan sikap seorang Ratu?"
Semua merasa tertohok, mereka semakin menundukan kepala dalam. Merasa menyesal dengan ucapan mereka, meskipun di dalam hati mereka masih tidak menerima usulan Sang Raja.
"Dia kabur dan berkhianat. Apa itu sikap seorang Ratu yang pantas menjadi pendampingku? Aku tahu, aku tahu Baekhyun memang tidak pantas dimata kalian. Tapi apa kalian tahu seberapa berat hidupnya hanya untuk menanggung beban Kerajaan ini? seluruh negeri ini? Kalian meminta keturunanku, dan setelah seseorang bisa memberikannya kalian menganggapnya sebagai seseorang yang rendah yang mengancamku untuk sebuah posisi?"
"Kalian tidak tahu dia, kalian tidak mengenalnya. Di usianya yang masih kecil dia harus mengandung, bahkan dia seseorang lelaki yangmana hal itu tentu melukai harga dirinya. Seharusnya kita bisa menunggu hingga dia siap untuk aku buahi, tapi kalian mendesak dan ingin aku memiliki keturunan hanya karena takut negeri ini terkena kutukan. Aku melakukan apapun yang kalian inginkan, aku melakukannya dan kini aku hanya menginginkan sebuah posisi yang layak untuknya apa itu tidak pantas?" ucap Chanyeol lagi suaranya mulai melembut namun masih terdengar menyeramkan untuk di dengar.
"Bahkan ketika aku menawarinya sebuah posisi dia pikir aku akan memberikannya posisi sebagai seorang pengawal, pelayan, prajurit, dia tidak berpikir tentang menjadi seorang Ratu. Dia tidak pernah menginginkan posisi sebagai Ratu, ia hanya menginginkan dirinya menjadi layak dimataku. Kalian tahu dia menyebut dirinya apa? Pemuas nafsu, mesin penghasil bayi. Apa kalian tega membuat seorang anak seperti itu?"
Tuan Lee berjalan ke depan Chanyeol dan memberi hormat, membuat Chanyeol seketika terdiam dan menghela nafas.
"Baik, seperti yang Paduka ucapkan tadi. Tidak ada salahanya kita memikirkan tentang hal ini, Byun Baekhyun dia pantas mendapatkannya." Ucap Tuan Lee berusaha menengahi agar suasana tidak semakin canggung dan Chanyeol tidak lepas kendali.
"Tapi semua butuh waktu. Dia perlu dilatih untuk menjadi seorang Ratu." Ucap salah satu Dewan. Chanyeol dan Tuan Lee mengangguk dalam cara yang berbeda.
"Tentu. Kita akan melatihnya mungkin beberapa bulan setelah bayinya lahir." Ucap Tuan Lee. Chanyeol mengerutkan keningnya dan Sehun melihat bagaimana Chanyeol nampak tidak terima.
"Tidak, itu terlalu lama. Aku akan mengumumkan ini ketika ulang Tahun hutan Zatoon."
"Apa?" semua berseru terkejut.
"Itu berarti dua minggu dari sekarang ?" gumam Jongin pelan dengan keterkejutan.
"Tapi Paduka itu tidak mungkin" bentak salah satu Dewan yang nampak tak sadar telah meninggikan nada suaranya.
"Mereka benar Paduka, banyak yang harus dipersiapkan." Ucap Tuan Lee sambil menundukan kepalanya dalam. Chanyeol menatap tajam lalu menghela nafas.
"Pertemuan ini aku akhiri." Ucap Chanyeol lalu bangkit. Jongin dan Sehun segera mengikuti dari belakang.
Ketika langkah ketiganya mulai memasuki ruangan Chanyeol, Jongin yang berjalan paling akhir segera menutup pintu lalu mengikuti langkah Sehun yang telah mendahuluinya.
"Paduka? Apa ini tidak terlalu gegabah?" tanya Sehun ketika Chanyeol mendudukan dirinya dikursi kerjanya. Chanyeol menatap Sehun dan Jongin bergiliran tidak menyangka orang kepercayaanya juga meragukan keputusannya.
"Aku telah memikirkannya cukup lama." Sahut Chanyeol.
"Apa Baekhyun yang merengek memintanya?" Rahang Chanyeol kembali mengeras mendengar pertanyaan Sehun. Namun mengingat sosok itu adalah sahabat kecilnya, Chanyeol menghela nafas dan tersenyum.
"Ia tidak melakukannya. Kenapa semua orang berpikir Baekhyun melakukan hal itu?" Keduanya menundukan kepalanya sebelum Jongin kembali mendongak.
"Hanya saja…ini tidak seperti Paduka yang biasanya." Chanyeol terdiam lalu kembali beralih menatap Sehun dan Jongin.
"Memangnya seperti apa aku yang biasanya Jendral Kim? Aku tidak berubah aku masih sama seperti yang dulu, yang kalian kenal." Ucap Chanyeol.
Belum sempat Jongin membalas ucapan Chanyeol, pintu diketuk dan seorang pengawal mengatakan bahwa salah satu pelayan khusus yang ditugaskan merawat Baekhyun datang menghadap membuat Chanyeol membiarkan pelayan itu masuk.
"Ada apa?" tanya Chanyeol cemas.
"Tuan muda…Tuan muda… ingin bertemu dengan Paduka dan ia menangis sejak tadi." Chanyeol mendelik dan ia segera bangkit lalu berjalan menuju pintu keluar tanpa memperdulikan keberadaan Sehun dan Jongin yang terabaikan.
Dua Jendral itu menatap kearah pintu lalu berdecak.
"Apa itu yang Paduka maksud tidak berubah?" gumam Jongin hampir tidak percaya. Sosok agung seperti Raja-nya tunduk pada sosok bocah yang bahkan belum genap 15 tahun usia yang sebenarnya.
"Aku rasa ini tidak akan baik." Gumam Sehun namun masih di dengar oleh Jongin.
"Kenapa? Apa yang kau cemaskan?" Sehun menoleh kearah Jongin lalu kembali beralih kepintu.
"Bocah manja itu." Ucapnya lalu berjalan meninggalkan ruangan Chanyeol dan diikuti oleh Jongin yang nampak bingung dengan ucapan Sehun.
…
..
.
Chanyeol tiba di dalam kamarnya dan mendapati beberapa pelayan berdiri melingkar di sisi ranjangnya, dimana Baekhyun sedang berbaring sambil menutup wajahnya dengan bantal dan terdengar suara isakan.
"Aku tidak ingin makan…aku ingin Paduka….hiks…pertemukan aku dengan Paduka…hiks..hiks.." Isaknya teredam oleh tekanan bantal.
Seluruh pelayan terkejut dan segera memberi hormat ketika menyadari keberadaan Chanyeol, dan segera meninggalkan ruangan ketika Chanyeol memberi perintah tanpa suara.
Kini hanya tinggal mereka berdua dalam ruangan itu. Chanyeol mengambil duduk sangat pelan disisi ranjang lalu tangannya mencoba menarik bantal diatas wajah Baekhyun, namun ditahan kuat oleh yang kecil.
"Kenapa pertemuan itu lama sekali? Hiks…. Kalian sengaja menjauhkanku dengan Paduka kan?"
"Siapa yang berani melakukannya?" seketika isakan Baekhyun terhenti. Ia membuka bantalnya cepat, memperlihatkan wajah basah dan memerahnya yang kontras dengan senyuman manis yang mengembang disana.
"Paduka?" ucap Baekhyun berusaha bangkit lalu memeluk tubuh Chanyeol. Chanyeol tersenyum dan mengelus punggung sempit Baekhyun.
"Aku terbangun..hiks.. dan Paduka tidak ada…lalu..hiks..Aku bertanya dimana Paduka tapi mereka memaksaku makan malam…hiks.. aku tidak mau." Ucap Baekhyun masih dengan sisa isakannya dan bercak air mata di pipinya.
Chanyeol tersenyum lalu jemarinya terulur untuk menghapus ceceran air mata di wajah cantik itu dan mengecup pipi itu engan lembut.
"Jadi, calon ibu ini tidak mau makan?" goda Chanyeol sambil menyentuh hidung memerah yang lebih kecil.
"Aku tidak lapar." Ucap Baekhyun sambil mengelus perutnya.
"Si bayi juga tidak lapar." Ucapnya lagi dengan wajah lucu. Chanyeol menggeleng pelan, lalu mengelus pipi Baekhyun lembut.
"Kau harus makan, ini waktunya makan malam. Kau tidak boleh melewatkannya."
"Lalu Paduka?" ucap Baekhyun polos membuat Chanyeol terkekeh, karena dirinya pun belum makan.
"Belum."
"Lihat! Paduka sendiri saja belum makan tapi menyuruh orang lain makan." Baekhyun benar-benar terlihat menggemaskan dimata Chanyeol saat ini.
"Kalau begitu ayo kita makan bersama?" tawar Chanyeol tapi Baekhyun menggeleng.
"Aku sungguh tidak lapar, bagaimana jika memakan buah?" ucapnya sambil menoleh untuk mengambil sepiring apel diatas meja dan membawanya keatas pangkuannya.
"Paduka mau?" tanya Baekhyun. Chanyeol mengangguk sambil tersenyum, ia hanya berfokus pada wajah cantik calon Ratu-nya itu, ia tak sabar membayangkan reaksi Baekhyun ketika mengetahui itu.
Baekhyun memegang pisau dengan cara yang janggal dan Chanyeol yang menyadari itu melarang Baekhyun melanjutkan kegiatannya karena akan sangat berisiko melukai dirinya namun si kecil menolak.
"Biarkan aku mengupaskan apel untuk Paduka. Di rumah ibu selalu marah tiap kali aku mengupas apel, katanya aku ini tidak becus, tapi kali ini biarkan aku membuktikannya." Ucapnya lagi sambil masih serius mengupas buah merah itu.
"Ibu selalu melakukannya untuk Ayah dan ayah akan terlihat sangat senang saat mendapat suapan buah dari Ibu. Tiap melihat mereka sebahagia itu karena sebuah apel, aku selalu berpikir apa ketika menikah nanti mengupas apel akan menjadi kegiatan yang menyenangkan?" tutur Baekhyun tanpa menatap kearah Chanyeol.
"Lalu? Bagaimana menurutmu?" tanya Chanyeol, Baekhyun beralih sebentar menatap Chanyeol lalu kembali fokus pada buahnya.
"Ini akan jadi menyenangkan jika mengupas apel tidak sesulit ini." Chanyeol tertawa dan mengusak rambut yang lebih muda.
"Nah , ini!" ucap Baekhyun senang ketika berhasil mengupas dan memotongnya menjadi potongan yang lebih kecil lalu menjulurkan tangannya kearah Chanyeol. Chanyeol terdiam sejenak memperhatikan tangan Baekhyun dan Baekhyun tersenyum.
"Aku tahu ini tidak sopan makan langsung dari tanganku, tapi Paduka ini akan terasa menyenangkan." Chanyeol membuka bibirnya dan membiarkan giginya mengunyah potongan manis itu.
"Lebih manis kan?" Chanyeol hanya mengangguk sebagai jawaban. Baekhyun memotong lagi dan kembali memberikannya pada Chanyeol.
"Lagi!" Kembali potongan itu masuk.
"La_" Chanyeol menahan tangan Baekhyun, mengambil potongan itu lalu menyuapkannya pada yang lebih kecil. Baekhyun mengunyahnya dengan wajah senang.
"Eum… rasanya jauh lebih manis jika dari tangan Paduka." Ucapnya sambil tertawa. Chanyeol kembali tersenyum lebar hanya karena ulah kecil Baekhyun.
"Aaaaa…" Baekhyun membuka mulutnya dan Chanyeol menyuapkannya lagi potongan yang lebih kecil, hingga ketika Baekhyun akan menyuapkan lagi, Chanyeol menahan tangan mungil itu, lalu mengambil piring diatas paha Baekhyun dan meletakkannya diatas meja.
Setelahnya ia mengigit apel pemberian Baekhyun dan menyisakan bagian yang tidak tergigit diluar bibirnya, lalu mendekatkan wajahnya ke yang lebih kecil.
"Hmmppt.." Chanyeol mendorong Baekhyun pelan untuk berbaring dan segera melumat bibir yang lebih kecil dengan potongan kecil apel di dalam mulut mereka. Chanyeol menarik bibir Baekhyun menggunakan giginya, lalu kembali melumatnya pelan.
Ciuman mereka berlangsung semakin lama dan intim, hingga Chanyeol memutuskan kontak diantara keduanya. Ia memperbaiki posisi berbaring Baekhyun dan setelahnya ikut berbaring.
"Ayo kita tidur! Ini sudah larut." Baekhyun mengangguk dan memeluk tubuh Chanyeol erat.
"Eummh… rasanya nyaman jika Paduka selalu berada disampingku." Ucap Baekhyun dan perlahan matanya mulai terasa berat padahal ia baru saja terbangun beberapa jam yang lalu.
"Selamat malam Paduka."
"Selamat malam Baekhyun."
"Aku mencintai Paduka."
"Aku juga mencintaimu sayang."
Cup
Sebuh kecupan ringan mendarat di dahi Baekhyun dan sosok mungil itu hanya tersenyum dalam tidurnya. Malam yang indah di penghujung hari yang melelahkan.
…
..
.
Baekhyun yang merasa bosan terus-terusan berada di dalam kamar, akhirnya diperbolehkan berjalan-jalan disekitar kamar setelah merengek pada Sang Raja namun dengan syarat tidak boleh melakukan apapun dan tidak boleh berlari.
Baekhyun tentu setuju dan dengan senang turun dari ranjangnya. Dibantu oleh dua orang pelayanya Baekhyun berjalan menuju keluar kamar, dan terkejut melihat empat orang pengawal sudah bersiap menunggunya.
Baekhyun menghela nafas kecewa, rasanya akan sangat terbatas ketika harus berjalan ditemani satu baris pelayan dibelakangnya. Baru enam langkah menjauhi kamarnya, Baekhyun menoleh kebelakang menatap para pengawal dan pelayan yang segera menundukan kepala mereka.
"Kalian apa tidak lelah? Mengikuti ku kemana pun aku pergi?"
"I..ini sudah perintah Paduka, kami tidak bisa menolak." Ucap salah satu pengawal.
"Tapi aku keberatan. Aku bahkan tidak bisa bernafas karena kalian berada terlalu dekat denganku, bagaimana bila nanti aku kehabisan nafas dan bayi di dalam perutku juga merasa sesak?" seketika keenam pelayan itu memucat, mereka takut hal buruk terjadi pada kandungan Baekhyun.
"La-lalu kami ha-harus apa?" Baekhyun berpikir sebentar. Ia ingin menyuruh mereka pergi dan membiarkannya sendiri, namun ia tahu Paduka pasti akan marah pada mereka, jadi Baekhyun memilih cara lain.
"Mundur sepuluh langkah!" Semua terkejut menatap Baekhyun tanpa sadar.
"Aku bilang mundur sepuluh langkah!" ucap Baekhyun lagi
"Satu." Ucap Baekhyun ketika secara serempak mereka mundur.
"Lagi! Lagi! Dua… Bagus.." ucapnya sambil tersenyum.
"Tiga! Empat! Lima! Iya terus.. enam! Tujuh! Delapan! Sembilan! Sepuluh. Nah!" iya tersenyum senang sambil menatap lurus pada pengawalnya yang berada cukup jauh dengannya.
"Tetap pada jarak sepuluh langkah dariku, bila kalian curang aku akan berlari dan membiarkan perutku jatuh."
"Jangan!" ucap mereka serempak dan Baekhyun terkikik lalu membalik tubuhnya.
"Makanya, jangan membantah." Ia segera melangkah dengan santai, sambil melihat sekeliling dengan satu tangan memegang perutnya.
Ia berjalan disekitar koridor dengan wajah bosan, tidak ada hal menarik di dekat kamarnya , ia ingin berkunjung ke tempat para prajurit berlatih namun jaraknya cukup jauh jadi ia mengurungkan niatnya.
Beberapa menit melangkah dengan wajah bosan dan pipi yang dikembungkan ia akhirnya bertemu dengan beberapa Dewan yang berjalan keluar dari ruangan.
"Selamat siang Tuan!" ucap Baekhyun membungkukan tubuhnya, seperti apa yang diajarkan Tuan Kim padanya, tentang tata krama. Namun bukannya hormat balik yang ia dapatkan, dua orang Dewan Istana itu hanya meliriknya dengan wajah tidak suka dan melenggang pergi membuat Baekhyun mengernyit.
Ia kembali melanjutkan jalannya dan beberapa anggota Dewan kembali berjalan keluar dari ruangan dan Baekhyun memberi hormat.
"Selamat Siang Tuan!" ucapnya dan lagi mereka tidak merespon hanya memberikan tatapan tidak suka dan berdecak kesal membuat Baekhyun kebingungan sendiri, entah mengapa ia merasa tersinggung.
"Ada apa dengan mereka?" gumamnya seorang diri.
"Apa aku berbuat kesalahan?" lagi ia bergumam dengan wajah sedih. Ketika melihat seseorang kembali keluar dari ruangan Baekhyun segera memberi hormat lagi, itu adalah Tuan Lee.
"Selamat siang, Tuan Lee." Tuan Lee nampak terkejut dengan kehadiran Baekhyun dan ia hanya mengangguk pelan lalu berjalan. Baekhyun mengangkat wajahnya.
"Tuan Lee!" panggil Baekhyun dan sosok itu membalikkan tubuhnya.
"A-apa aku membuat kesalahan?" tanya Baekhyun dengan nada bergetar. Tuan Lee tersenyum lalu menggeleng.
"Tidak. Jangan berkeliaran Tuan muda, itu akan membahayakan kandungan anda!" Baekhyun mengangguk pelan dan kembali melangkah mendekati ruangan dimana para Dewan keluar tadi.
"Kau lihat tadi? Paduka terlihat sangat marah, kita tidak pernah melihatnya semarah itu." Baekhyun menyembunyikan dirinya dibalik pintu mendengar dua orang pengawal sedang berbisik.
"Paduka tidak seperti dulu lagi, Paduka terlihat menakutkan." Ucap suara lainnya membuat kening Baekhyun mengernyit. Baekhyun menoleh kearah pengawal dan pelayan yang berada sepuluh langkah darinya dan meminta mereka tetap ditempat.
"Tapi Dewan istana pun terlihat tidak menerima hal itu."
"Tentu saja, itu mustahil dia tidak memiliki darah bangsawan bagaimana bisa ia menggantikan posisi Ratu, dia hanya anak petani." Baekhyun tersentak, kini ia tahu siapa yang tengah mereka bicarakan. Dirinya.
"Hmm.. kau benar, dia hanya beruntung karena bisa mengandung tapi dia dengan tidak tahu malu menginginkan posisi Ratu, sungguh tidak tahu terima kasih."
"Benar, dan Paduka terlihat tidak punya pilihan."
"Tentu saja, Paduka kan sangat menginginkan bayi itu. Mungkin setelah bayi itu lahir ia akan dikembalikan ke desanya."
"Yak, menurutmu apa Paduka akan melawan para Dewan?"
"Sepertinya iya."
"Itu akan membahayakan Paduka, kita tahu seperti apa Para Dewan. Mereka terlihat menurut namun dibalik itu mereka bisa melakukan perlawanan."
"Ssst.. sudah..sudah.. ayo kembali berjaga! Kita akan mati jika ada yang mendengar kita." Ucap salah satunya dan tidak ada suara setelahnya.
Baekhyun menekan dadanya yang terasa nyeri dan dengan cepat menghapus air matanya lalu berjalan kembali menuju kamarnya. Seluruh pengawal yang menjaganya nampak kebingungan dimana mereka harus berdiri dan memilih bersandar pada dinding koridor untuk membiarkan Baekhyun melewati mereka.
Baekhyun terus mengusap air matanya dengan cepat sambil mengelus perutnya dan sesekali ia menahan isakannya agar tidak terdengar.
Jongin berjalan dari arah berlawanan dan melihat Baekhyun dari kejauhan dan beberapa pengawal serta dua pelayan yang berjalan jauh dari sosok mungil itu membuatnya mengernyit.
Ia menyeringai sambil berjalan mendekat kearah Baekhyun, sudah lama ia tidak menggoda sosok mungil itu sejak usia kandungannya bertambah.
"Hei pendek! Apa yang kau lakukan disi_" ucapan Jongin bagai angin ketika Baekhyun hanya melewatinya. Jongin menggeram kesal dan berbalik untuk menyusul Baekhyun dengan langkah mundur dan menggoda sosok yang memilih menunduk itu.
"Lihat! Siapa yang baru saja dengan angkuh melewati seorang Jendral tanpa memberi hormat?" ucap Jongin lagi.
"Pergilah!" ucap Baekhyun namun Jongin masih berjalan disampingnya.
"Aku bilang pergi!" Baekhyun membentak membuat langkah Jongin berhenti dengan alis menyatu merasa tidak terima. Ia mengejar langkah Baekhyun lalu menghadang sosok itu.
"Kau! Kau pikir kau siapa? Jangan sombong hanya karena Paduka menyukaimu. Kau_" ucapan Jongin terhenti melihat mata basah Baekhyun ketika sosok itu mengangkat wajahnya dan menatap dirinya nyalang.
"Ka-kau me-menangis?"
"Aku akan pergi…hiks.. aku akan pergi setelah bayi ini lahir… aku tak akan meminta apapun…hiks..hiks.. aku tak akan meminta apapun pada kalian…aku bukan siapa-siapa disini…hiks….hiks.. aku tidak pernah meminta posisi apapun… aku hanya ingin berada disamping Paduka….hiks…hiks… hiks.." Baekhyun terisak dengan suara yang meninggi membuat Jongin terkejut.
Ia dengan takut mencoba menyentuh pundak Baekhyun, meminta sosok itu berhenti menangis, namun Baekhyun menepis tangannya dan terus menangis dengan keras.
"Kenapa…kenapa hiks.. kenapa kalian berkata buruk tentang Paduka? Hiks…hiks.. aku.. aku memang dari keluarga miskin… aku memang bukan bangsawan…hiks.. lalu kenapa? Apa aku tidak boleh disamping Paduka?hiks..hiks.. aku akan pergi… aku akan_" ucapan Baekhyun terhenti dan ia segera memegang perutnya dengan kening mengernyit.
"Hei…hei… ada apa jangan membuatku…ta-takut." Ucap Jongin ketakutan sambil menyentuh lengan Baekhyun.
"Aaakhh_" Baekhyun memegang perutnya.
"Baekhyun! Byun Baekhyun! Ada apa?"
"Aaaakkkhhh!" Baekhyun kehilangan kesadarannya namun sebelum tubuhnya tumbang kebelakang, Jongin telah menahan lengannya dan segera memeluk tubuh lemas itu dengan sejuta kecemasan menghampiri.
…
..
.
Chanyeol segera berlari cepat ketika mendengar berita tentang pingsanya Baekhyun saat berjalan dikoridor. Ia segera menggengam tangan si mungil ketika melihat tubuh mungil itu berbaring diatas ranjangnya.
"Baekhyun? Baekhyun? Sadarlah!" ucap Chanyeol sambil menyentuh pipi Baekhyun.
"APA YANG TERJADI?" bentaknya pada seluruh orang yang ada diruangan. Kesabarannya telah habis untuk hari ini, penolakan dari para Dewan kembali dan Baekhyun yang berbaring tidak sadarkan diri diatas ranjangnya membuatnya tidak bisa mengontrol emosinya.
"Paduka?" Jongin melangkah maju, namun Sehun menahan pundak sahabatnya memintanya untuk tidak mengatakan apapun. Tuan Lee berjalan maju sambil menundukan wajahnya.
"Tabib Shin telah memeriksa keadaan kandunganya, dan bayinya selamat, Paduka tenang saja!"
"Tenang? Apa kalian pikir yang ada dipikiranku hanya bayiku? Aku sangat mencemaskan Baekhyun, bagaimana bila terjadi sesuatu padanya? Kalian tidak hanya tidak mendapatkan putra mahkota tapi aku akan kehilangan dia juga." Ucap Chanyeol masih terbawa emosi.
"Pa-Paduka…" Chanyeol menoleh dan melihat Baekhyun menggeliat dalam tidurnya, sambil menyebut dirinya. Ia mendekati sosok lemah itu, menyentuh punggung tangannya sekali lagi, mengecupnya pelan dan kemudian menyatukan dahi mereka berdua sambil membisikan kata-kata penenang.
"Pa-Paduka…" Chanyeol menjauhkan wajahnya dan matanya bertemu pandang dengan sorot lemah dan terluka itu. Baekhyun mengalihkan pandangannya pada seluruh orang yang ada di dalam kamarnya dan ingatan itu kembali.
Matanya jatuh pada Jongin dan Sang Jendral hanya merendahkan arah pandangnya tidak berani menatap ke dalam mata Baekhyun, karena ia merasa menyesal.
"Baekhyun? Akhirnya kau sadar.." Chanyeol memeluk Baekhyun dan mengecup kening berkeringat yang lebih kecil.
"Paduka, bolehkan aku meminta sebuah permintaan?" Chanyeol menjauhkan tubuhnya kembali, menatap kearah mata Baekhyun dalam mencoba menerka apa yang sedang diinginkan sosok itu,dan ia tersenyum sambil mengangguk. Ia akan memberikan apapun yang diminta oleh Baekhyun.
"Apa yang kau inginkan? Sebutkan saja Baek!"
"Nanti… ke-ketika bayi ini lahir.." Baekhyun berusaha tersenyum sambil membawa tangan besar Chanyeol menapak pada perutnya.
"Bo-bolehkah a-aku kembali ke desaku?" Chanyeol terdiam sebentar, lalu mengangguk.
"Tentu, kita akan mengunjungi desamu lagi tapi setelah ia cukup usia untuk keluar dari istana." Baekhyun menggeleng pelan.
"Bu-bukan itu Paduka. Maksudku…" Baekhyun menahan air matanya yang nyaris keluar namun ia tetap tersenyum. Berusaha menyembunyikan luka yang ia rasakan dan itu membuat dadanya semakin sesak apalagi melihat tatapan Raja-nya yang nampak kebingungan.
"…aku ingin kembali Pada keluargaku. A-aku ingin tinggal lagi bersama mereka, aku merasa tidak cocok tinggal disini Paduka, disini bukan tempatku rasanya sangat aneh."
"Baekhyun?"
"Paduka? Seseorang pernah berkata padaku, bahwa seberapa jauh kita pergi, kita akan kembali pada asal kita. A-aku…" ucapan Baekhyun kembali terhenti dan ia menarik nafasnya, meremas tangan Chanyeol pelan berusaha menguatkan dirinya.
"Baekhyun, kenapa_"
"Paduka menyayangiku kan? Paduka juga telah setuju akan mengabulkan permintaanku. Ja-jadi, biarkan aku pulang… ya? Boleh kan Paduka?" air mata Baekhyun jatuh dan Chanyeol segera memeluknya. Baekhyun terisak di dalam dada Chanyeol dan ia hanya bisa mengelus puncak rambut yang lebih kecil.
Chanyeol tidak bodoh untuk tahu apa yang telah terjadi, Baekhyun-nya pasti tertekan. Bocah remaja yang bahkan tidak bisa mengupas apel dengan benar itu, pasti merasakan sakit yang amat sangat.
"Kau mencintaiku kan?" Baekhyun mengangguk di dalam pelukan Chanyeol.
"Lalu kenapa kau meninggalkan orang yang kau cintai?" perlahan Baekhyun mendorong tubuh keduanya, ia menatap Chanyeol dan sosok itu menjulurkan tangannya untuk menghapus air mata yang lebih kecil.
"Aku tidak berada disamping Paduka, bukan berarti aku berhenti mencintai Paduka. Ibu..Ibu bilang aku terlalu kecil untuk tahu apa itu cinta, tapi bagiku aku tidak terlalu kecil untuk mencintai Paduka, benarkan?" Baekhyun tersenyum, dan Chanyeol merasakan sakit di dalam hatinya melihat senyuman palsu itu.
"Paduka, aku berjanji akan mengunjungi Paduka dan anak ki_dan putra mahkota nanti. Dan jika Paduka ingin memiliki anak lagi, Paduka bisa mencariku lagi dan aku akan membuatkan anak untuk Paduka." Senyum Baekhyun semakin lebar diiringi dengan air matanya yang terjatuh dan semakin lebar senyum itu maka semakin sakit yang Chanyeol rasakan.
"Baekhyun, apa rasanya begitu sakit? Apa kau tidak sanggup bertahan lagi? Aku akan membuatmu menjadi Ra_"
"Sssstt!" Baekhyun menutup bibir Chanyeol dengan telapak tangannya dan menatap Chanyeol dalam. Chanyeol mendelik sama halnya dengan yang lain, namun Chanyeol tidaklah merasa tersinggung atau kesal, ia selalu bisa memaklumi tindakan si mungil.
"Tidak. Jangan katakan itu! Paduka, aku mohon!" ucapnya dengan wajah memelas.
"Tidak ada yang aku inginkan lagi Paduka, mendapat cinta dari Paduka sudah cukup untukku. Aku memiliki takdir yang baik hingga bisa bertemu Paduka, dan aku sudah bersyukur untuk itu, Paduka_"
"Hentikan! Mari kita akhiri ini, kau butuh istirahat! Kau mungkin lelah."
"Tidak, Paduka tidak boleh mengabaikan permintaanku yang ini. Paduka sudah menyetujuinya, iya kan?"
"HENTIKAN!" Chanyeol bangkit sambil berteriak membuat seluruh isi ruangan tersentak karena terkejut. Baekhyun menggigit bibirnya.
"Jangan..Jangan katakan apa-apalagi, kau beristirahatlah Baekhyun!" dengan langkah kesalnya Chanyeol berjalan meninggalkan ranjang menuju pintu.
"Paduka, ibuku…ibuku mengajari anak-anaknya untuk bertahan…" Air mata Baekhyun terjatuh lagi dan Chanyeol menghentikan langkahnya.
"Tapi jika kami merasa tidak kuat lagi, Ibu meminta kami melepaskannya seberapa besar pun kami menyukai hal itu. Paduka… hiks.. aku tidak akan melepaskannya, aku hanya mengurangi rasa suka ku, hingga nanti pada akhirnya ia akan terlepas dengan sendirinya." Chanyeol menutup matanya sejenak sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya.
Seluruh orang yang berada di dalam sana hanya mampu menundukan wajah mereka dan berjalan keluar mengikuti sang Raja meninggalkan Baekhyun dan dua orang pelayannya, hanya bertiga.
Baekhyun menutup matanya dan menangis, membiarkan kesedihannya menguap bersama air matanya.
"Paduka, maafkan aku.. aku hanya tidak ingin mereka membicarakan hal buruk tentang Paduka." Gumamnya dalam isakan yang membuat kedua pelayannya merasakan kesakitan Baekhyun.
…
..
.
Chanyeol membanting seluruh benda diatas mejanya membuat Jongin, Sehun, dan Tuan Lee terdiam di tempat. Seumur hidup ia tidak pernah melihat Sang Raja dalam keadaan hancur seperti ini, seberapa pun tertekannya ia.
Chanyeol terduduk diatas kursinya sambil menyandarkan tubuhnya. Ia menutup matanya dengan satu tangan dan pundaknya bergetar membuat Jongin dan Sehun melemparkan pandangan dengan kelopak mata membulat.
"Hiks.. betapa dunia tidak adil pada anak sekecil dirinya." Gumam Chanyeol dalam isakan yang tidak kentara.
"Paduka?" Sehun memanggil namun Chanyeol menahan tangannya diudara meminta Sang Jendral untuk diam.
"Kalian keluarlah! Biarkan aku sendiri!" ucap Chanyeol dan ketiga sosok itu segera meninggalkan ruangan kerja Chanyeol.
Malam itu dilalui keduanya dalam kesedihan. Isakan yang sangat menyayat hati, menunjukan seberapa terlukanya hati kedua insan itu.
Di bawah cahaya rembulan yang bersinar terang dan penuh yang menjadi saksi akan kesedihan yang melingkupi istana megah itu.
…
..
.
Di lain tempat, seorang nenek peramal menatap kearah rembulan sambil menghela nafas. Sehelai daun terlepas dari tangkainya dan perlahan terjatuh terbawa angina hingga akhirnya mendarat dengan mulus diatas tanah.
Nenek itu tersenyum, sambil mengetukan jemari telujuknya pada permukaan tanah yang ia duduki dan kembali menatap langit.
"Satu.." gumamnya.
"Cinta sejati akan bertahan dalam keadaan apapun. Aku harap takdir memihak kalian." Ia tersenyum sambil kembali bersandar pada dinding dingin di belakang tubuhnya.
…
..
.
Chanyeol menatap sarapannya dengan wajah datar tanpa minat, membiarkan para pelayan sibuk meletakkan berbagai macam hidangan diatas mejanya.
"Dimana Baekhyun?" tanya Chanyeol pada salah satu pelayan. Seorang kepala pelayan mendekat dan memberi hormat.
"Tuan muda berkata ingin makan di dalam kamarnya."
"Baik, pastikan ia makan dengan baik. Jangan biarkan ia mengunci diri di dalam kamar, dan berikan apapun yang ia inginkan!" Pelayan itu mengangguk dan Chanyeol hanya menatap kursi kosong di depannya dengan tatapan sedih, dimana Baekhyun biasanya duduk dan berceloteh panjang lebar tanpa henti, bahkan tak jarang ia akan tersedak dan Chanyeol yang cemas harus menenangkannya.
…
..
.
Tidak berbeda dengan Baekhyun, ia hanya menatap sarapannya dalam diam. Bahkan pagi ini, ia membiarkan tubuhnya dibersihkan oleh para pelayan dengan menggunakan handuk basah, ia hanya malas untuk berdebat bahwa sesungguhnya ia malas untuk diganggu. Ia butuh waktu untuk sendiri, untuk memikirkan kembali dengan semua yang tengah terjadi.
"Aku tidak lapar." Ucap Baekhyun.
"Tapi, Paduka_" Baekhyun menatap kearah pelayan yang hendak bicara itu membuat sang pelayan menundukan wajahnya.
"Aku akan makan untuk bayi ini." Ucapnya sambil mulai menyendok nasi dan sayur yang ada di depannya.
…
..
.
Hari-hari berlalu dan tidak ada yang berubah. Bahkan Chanyeol hanya dapat melihat Baekhyun ketika sosok itu tengah tertidur lelap di malam harinya. Chanyeol tahu Baekhyun sedang menghindarinya, untuk itu ia tidak ingin membuat sosok itu tertekan dan memberikan waktu untuknya berpikir lagi.
Meski Chanyeol hanya mengalihkan perhatiannya pada tugas negara, namun bagi pejabat lain sikap Chanyeol sangatlah berbeda membuat mereka merasa cemas terhadap Sang Raja.
Chanyeol bekerja tanpa henti dan terkadang mengabaikan makanannya. Ia akan kembali ke kamar ketika tengah malam setelah melihat keadaan Baekhyun, lalu tidur sejenak dan bangun dipagi harinya untuk kembali bekerja membuat kantung matanya terlihat dengan jelas.
"Uhuk…uhuk.." Chanyeol terbatuk dan Jongin yang sedang membicarakan beberapa hal dengan Chanyeol di dalam ruangannya menatap khawatir.
"Paduka, apa Paduka sedang sakit? Aku akan memanggilkan tabib Shin."
"Tidak usah, aku hanya tersedak. Bukan apa-apa." Jongin kembali menatap kertas di depannya, sebelum suara batuk Chanyeol kembali mengalihkan perhatiannya.
"Paduka?"
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir."
"Hyung?" Chanyeol mengangkat wajahnya dan menatap Jongin terkejut, sudah sejak lama sosok itu tidak memanggil dirinya dengan sebutan "hyung" dan kini ketika ia menyebut "hyung" malah menampilkan wajah yang menyedihkan.
"Aku minta maaf." Chanyeol terkekeh pelan.
"Untuk apa minta maaf?"
"Karenaku, karenaku Baekhyun jadi seperti itu. Aku yang mengatakan hal yang membuatnya tersinggung, maafkan aku. Aku pantas dihukum." Ucap Jongin. Chanyeol meremas pulpennya dengan keras sebelum akhirnya kembali terbatuk. Jongin bangkit hendak menyentuh Chanyeol, tapi gerakannya terhenti akibat larangan Chanyeol.
"Pergilah!"
"Tapi_"
"Pergilah!" Jongin mengangguk pelan dan berjalan meninggalkan ruangan. Chanyeol menatap kertas diatas mejanya dan terkekeh pelan dengan aura kesedihan. Ia kini tahu seberapa tertekannya berada di posisi Baekhyun, bahkan tidak hanya para dewan, Jongin dan mungkin bahkan Sehun, orang-orang yang ia percaya pun meragukannya.
…
..
.
Baekhyun menatap setiap gerakan yang tabib Shin lakukan, mulai dari meracik ramuan dalam lumpang kayunya hingga memindahkan cairan pekat ke dalam sebuah gelas yang membuat Baekhyun mengernyit.
"Ini, minumlah!" ucap Tabib Shin sambil menyerahkan gelas berisi ramuan menjijikan-bagi Baekhyun- tadi. Baekhyun menerimanya dengan ragu dan mengernyit dalam saat mengendus aroma khas reremapahan dari dalamnya.
Tidak ingin mendapat tatapan mematikan dari Tabib Shin, ia pun meminumnya dalam sekali teguk dan mendesis geli diakhir. Tabib Shin mendekat dan memberikan sebatang cinanomi untuk dihisap.
Baekhyun menhisapnya seperti permen dan sedikit merasa lega karena dibibirnya tidak lagi terkecap rasa pahit.
Baekhyun menatap Tabib Shin yang sedang merapikan alat-alatnya dari tempatnya duduk, diatas sebuah meja yang tidak terlalu tinggi yang biasa Tabib Shin gunakan untuk meracik ramuannya yang lain.
Yang lebih kecil tersenyum, memperlihatkan segaris mata bulan sabitnya memperhatikan bagaimana sosok tua yang dulu begitu kejam padanya ternyata adalah sosok hangat yang bahkan tanpa keberatan menerima tengah malam seperti ini hanya karena dirinya tidak bisa tidur beberapa hari.
"Kau harus tidur dengan teratur, kasihan kandunganmu." Ucap Tabib Shin masih membelakangi Baekhyun. Baekhyun menghela nafas dan mengelus perut buncitnya.
"Aku ingin, tapi Tuan Shin, mataku tidak mau berkompromi. Dia selalu terbuka bahkan ketika bibirku menguap lebar." Ucapnya dengan nada kekanakan seperti biasa. Tabib Shin menghentikan kegiatannya sejenak untuk mengambil nafas pelan dan tersenyum dengan sebuah gelengan.
"Itu karena terlalu banyak hal yang kau pikirkan."
"Hm. Mungkin." Sahut Baekhyun dengan wajah lesu sambil menghisap batang cinanominya.
"Sebentar lagi akan ada perayaan ulang tahunmu, kau harus menjaga kesehatanmu karena sebuah pesta perayaan pastilah akan sangat menguras tenaga." Baekhyun mengangguk pelan dan menguap.
Tabib Shin menoleh dan tersenyum ketika melihat mata Baekhyun yang nyaris tertutup dan kepalanya yang terpentuk-pentuk di udara. Pria itu mendekat, untuk menjaga tubuh yang lebih kecil, namun sebuah ketukan di pintu membuat ia menoleh pelan dan menyandarkan tubuh nyaris terlelap Baekhyun pada dinding di belakangnya.
"Paduka?" sapa Tabib Shin sedikit terkejut melihat sosok Chanyeol dalam keadaan sedikit kacau dan kantung mata hitam di bawah matanya. Chanyeol berdeham sebelum akhirnya matanya menangkap sosok tertidur di atas meja tabib kepercayaannya dengan bibir masih mengunyah batang cinamoni.
"Baekhyun? Apa yang ia lakukan disini?"
"Sepertinya masalah kalian sama, sama-sama tidak bisa tidur. Paduka datang kemari untuk meminta obat agar bisa tertidur bukan?" Chanyeol yang masih terpaku pada sosok yang sangat ia rindukan beberapa hari ini mengalihkan sejenak matanya pada sosok di depannya dan mengangguk seadanya.
"Silahkan masuk Paduka!" ucap Tabib Shin membukakan pintu lebih lebar sebelum akhirnya menutup pintu itu kembali.
Chanyeol berjalan mendekat kearah Baekhyun dan mengelus pipi itu dengan sayang. Ia terpesona oleh kecantikan dan keluguan sosok polos di depannya dan tanpa ia sadari wajahnya mendekat untuk memberikan sebuah kecupan di sudut bibir yang lebih kecil.
"Dia juga tidak bisa tidur? Berapa lama ia berkunjung kemari akhir-akhir ini?" Tanya Chanyeol. Tabib Shin yang sedang meracik ramuannya menoleh sejenak melalui pundaknya.
"Hmm.. mungkin sudah empat malam. Pertama kali akupun terkejut melihat keadaannya, dan setelah memberinya ramuan dan sebatang cinnamon dia akan tertidur seperti itu." Kekehnya.
Chanyeol menoleh kearah Baekhyun dan memperbaiki posisi leher lelaki mungilnya.
"Biar aku panggilkan pengawalnya, mereka berjaga di depan." Chanyeol menggeleng pelan.
"Tidak, aku akan membawanya bersamaku. Berikan aku ramuan ku Tabib Shin!" pria itu mengangguk dan mempercepat gerakannya untuk menghasilkan sebuah ramuan yang biasa diberikannya pada Chanyeol tentu dengan dosis lebih tinggi ketimbang Baekhyun.
…
..
.
Baekhyun terbangun dan mengerang sejenak untuk merilekskan ototnya yang terasa tegang karena semenjak usia kandungannya bertambah ia diharuskan tidur dalam posisi terlentang dan itu terkadang membuat tubuhnya sedikit merasa pegal dipagi harinya.
Baekhyun mengerang pelan sambil merentangkan kedua tangannya dan seketika tubuhnya menegang saat merasakan permukaan kulit punggung tangannya menyentuh permukaan kulit lain.
Ia menoleh dan menemukan sosok Chanyeol yang tertidur lelap disampingnya, Baekhyun membulatkan matanya dan melihat sekitar hingga menyadari bahwa ia sedang berada di kamar Sang Raja.
Entah mengapa perasaan tidak enak itu kembali lagi. Sejak terlibat dalam percakapan yang panas itu, mereka tidak benar-benar pernah bertemu untuk membicarakan semuanya lebih lanjut, untuk memperjelas apa yang keduanya rasakan.
Si mungil memilih menghindar dan Sang Raja memilih mengikuti kemauan yang lebih kecil. Baekhyun tidak sanggup, tidak sanggup menatap wajah Sang Raja ketika dirinya amat sangat mencintai sosok itu.
Ia hanya takut menatap kearah manik Sang Raja, karena itu akan membuatnya menemukan pantulan dirinya di netra coklat gelap itu dan membuatnya sadar akan posisinya. Untuk itu ia memilih menghindari segala bentuk kontak fisik entah langsung atau tak langsung antara keduanya, Baekhyun pikir itu akan jauh lebih baik, Baekhyun pikir mungkin itu adalah salah satu cara untuk membuatnya setidaknya mengurangi rasa cintanya secara perlahan.
Sejenak Baekhyun terdiam, menatap wajah tirus itu secara dalam. Melihat garis wajah tegas itu yang nampak sangat damai dalam tidurnya. Baekhyun dapat melihat wajah itu, terlihat begitu kelelahan, kantung mata yang tertutup, bulu mata lentik Sang Raja masih menjadi pusat perhatiannya.
"Paduka pasti lelah dengan semua ini." Gumamnya dengan jemari terulur untuk menyentuh pipi yang lebih tua dengan ragu, tidak ingin membangunkan Sang Raja.
"Maafkan aku." Ucap Baekhyun pelan sebelum akhirnya menarik tangannya dan perlahan mengambil posisi duduk. Ia menghela nafas sejenak sebelum berusaha turun dari ranjang dan memilih kembali ke kamarnya.
Tapi semua niatnya tertahan ketika sebuah tangan melingkar di lengannya. Si kecil menoleh dan netra keduanya bertemu. Tatapan sayu yang menyiratkan sebuah rasa lelah, frustasi dan lega.
"Mau kemana?" Tanya Chanyeol pelan. Baekhyun mengalihkan tatapannya tidak ingin terhipnotis oleh iris kelam yang sangat mendominasi detak jantungnya itu.
"Ke-kembali ke kamar, Paduka." Ucapnya pelan berusaha menetralkan detak jantungnya yang terus berdegup kencang.
"Kenapa?" Tanya Chanyeol sambil melepas genggamannya dan beralih menyingkirkan poni halus di sekitar dahi Baekhyun. Baekhyun diam, tidak tahu harus menjawab apa, ia hanya menundukan arah pandangnya terus berusaha menghindari tatapan yang lebih tua.
"Kenapa hm?" Tanya Chanyeol lagi sambil mengelus pipi tembam Baekhyun.
"A-aku ha-harus bersiap untuk sarapan." Ucap Baekhyun pelan berusaha mengumpulkan kekuatan untuk menutupi kegugupanya.
Chanyeol menoleh kebelakang sebentar untuk melihat langit yang masih gelap dibalik tirai emasnya.
"Bukankah terlalu pagi untuk sarapan?" Baekhyun refleks menoleh kearah jendela dan tanpa sadar manik matanya jatuh pada manik yang lebih tua.
"Kenapa Baekhyun?" Tanya Chanyeol lagi begitu lembut dan suara serak khas baru bangun tidurnya tidak membantu Baekhyun sama sekali.
"A-aku merasa lapar."
"Bukan itu, aku bertanya kenapa kau terus menghindariku? Kau….tidak menyukaiku lagi?" Seketika bola mata Baekhyun membesar dan kembali bertubrukan dengan milik Chanyeol yang terlihat tenang.
"Ya?"
"Tidak!" ucap Baekhyun cepat dan sedikit memekik membuat Chanyeol tersenyum samar.
"A-aku tidak mungkin tidak menyukai Paduka lagi, maksudku…ehmm.. tidak…tidak untuk saat ini." Gumamnya gugup. Chanyeol mengelus permukaan kulit Baekhyun dan menuruninya perlahan hingga jatuh pada tangan yang lebih kecil.
Ia meraihnya, mendekatkannya pada bibirnya dan mengecupnya pelan namun penuh dengan perasaan.
"Tidak untuk selamanya." Gumam Chanyeol. Baekhyun terdiam sejenak, terhipnotis oleh kelembutan yang lebih tua, hingga ia tersadar dan segera menarik tangannya cepat membuat Chanyeol menatapnya bingung.
Sadar akan kegugupan yang Baekhyun rasakan, Chanyeol mendekatkan tubuhnya yang setengah berbaring dan meletakkan kepalanya diatas paha Baekhyun, lalu mengecup perut buncit dibalik baju tidurnya.
"Selamat pagi anakku. Sepertinya lama tidak menyapamu, aku merindukanmu." Ucap Chanyeol tepat di depan perut Baekhyun membuat yang lebih kecil merasa terharu.
"Ibumu selalu membawamu jauh dariku, tidakkah dia menyebalkan?" Baekhyun masih terdiam dan hanya menatap Chanyeol tanpa respon ketika Sang Raja melirik kearahnya.
"Dia juga berkata akan pergi setelah melahirkanmu, tidakkah dia egois? Bagaimana bisa dia meninggalkan kita disini? Apa yang harus aku lakukan untuk mengubah pikirannya?"
"Hiks." Chanyeol mendongak dan mendapati Baekhyun yang terisak dan berlinang air mata.
"Lihat! Dia bahkan menangis tapi masih bersikeras ingin pergi dari Istana. Apa yang akan kita lakukan tanpanya nanti? Apa yang bisa seorang Raja dan Putra Mahkotanya lakukan tanpa Ratu mereka?" Isakan Baekhyun semakin keras dan Chanyeol segera bangkit untuk memeluk tubuhnya.
"Hiks..hiks.."
"Ssst! Jangan menangis!"
"Berhenti mengatakan itu Paduka, berhenti berkata bahwa aku adalah Ratu. Aku bukan Ratu. Dulu aku hanya ingin menjadi pendamping Paduka, bukan seorang Ratu, lagipula hiks..lagipula tidak ada yang menginginkan Ratu sepertiku."
"Siapa bilang?" ucap Chanyeol sambil menenangkan yang lebih kecil, mengelus rambut halus itu dengan penuh kasih sayang dan menghujani banyak kecupan hangat di belakang kepala yang lebih kecil.
"Aku menginginkanmu menjadi Ratuku"
"Hiks…hiks.." Tangisan itu semakin menjadi-jadi membuat pelukan Chanyeol semakin erat.
"Baiklah, mari kita hentikan topik tentang Ratu ini jika itu membuatmu tidak nyaman, tapi aku mohon jangan menghindariku, aku nyaris gila tanpa kehadiranmu disisiku Baekhyun-ah. Aku mohon pikirkan lagi! Pikirkan tentang permintaanmu untuk pergi dari Istana." Baekhyun masih terisak dan Chanyeol menangkup wajah memerah dan basah itu dengan kedua tangannya sebelum akhirnya memberikan sebuah ciuman di bibir bergetar Baekhyun.
…
..
.
Waktu ulang tahun Baekhyun semakin dekat, semua penghuni Istana disibukkan dengan segala persiapan yang juga diperuntukan untuk perayaan hutan mereka.
Tahun lalu mereka melewatkan ulang tahun Sang Raja atas permintaan Sang Raja sendiri berhubung ketika itu Chanyeol sedang berada di desa untuk menjalankan tugasnya seperti biasa, namun tahun ini mereka harus mengadakan dua jenis perayaan yang berbeda untuk lelaki istimewa Raja mereka.
Berita tentang Baekhyun yang akan diangkat menjadi Ratu menyebar di kalangan penghuni istana dan tidak sedikit yang membuat rumor buruk tentang itu, mengatakan bahwa Baekhyun-lah yang meminta kepada Sang Raja sebagai sebuah syarat.
Terlebih selama ini mereka tahu bahwa Sang Raja selalu menuruti kemauan remaja lelaki itu dan si lelaki yang sangat suka merengek untuk mendapatkan kemauannya membuat kabar burung itu semakin terasa benar.
Chanyeol masuk ke dalam kamarnya untuk mendapati sosok Baekhyun yang berdiri di dekat jendela sambil menatap keluar, hal yang selalu si mungil lakukan beberapa minggu belakangan membuat Chanyeol merasa perihatin.
Ia tahu betul bahwa tidak mudah bagi seorang remaja seperti Baekhyun membuat keputusan, hal itu juga yang membawa si mungil selalu berdiri di sana berjam-jam lamanya dan hanya akan kembali ketika Chanyeol menyuruhnya duduk.
Mereka memang tidak saling menghindar, namun bagi Chanyeol, Baekhyun yang sekarang seperti matahari yang kehilangannya sinarnya. Begitu suram, pudar dan tak bercahaya.
"Baekhyun?" Baekhyun terlonjak dari keterdiamannya ketika sebuah tangan menyentuh pundaknya dengan lembut dan melayangkan sebuah kecupan hangat di tengkuknya.
"Sepertinya kau sangat menyukai pemandangan dari kamar ini." Ucap Chanyeol berusaha mencairkan suasana. Baekhyun tersenyum kecil dan tidak memberikan respon apapun.
"Hei, mau ikut bersamaku?" Tanya Chanyeol dan Baekhyun hanya menatap dengan wajah bingung tanpa mau bertanya dan hanya pasrah ketika tangannya ditarik secara halus.
Chanyeol melarang para pengawal untuk ikut, namun ia membiarkan dua orang dayang untuk berjalan beberapa langkah dibelakang mereka dengan air dan beberapa kudapan serta buah takut-takut jika Baekhyun merasa lapar mendadak.
Langkah kaki keduanya saling menyahut melewati koridor dan bahkan Baekhyun dapat mendengar jelas bunyi teriakan para pasukan yang sedang berlatih. Jongin menyiku Sehun ketika ia melihat Sang Raja dan lelakinya melintas di koridor dan dari tempatnya mereka hanya mencoba menerka, hingga kening keduanya mengernyit saat Chanyeol membawa Baekhyun melewati sebuah rute jalan yang tak biasanya mereka lewati.
Sebuah jalan setapak di dekat sebuah pohon besar dihalaman belakang istana, Baekhyun tidak pernah menyadari tempat ini sebelumnya dan ketika langkah Chanyeol berhenti Baekhyun memiringkan kepalanya untuk melihat sebuah hamparan taman bunga yang begitu indah di dalam rumah kaca.
Chanyeol tersenyum ketika melihat keterdiaman Baekhyun. Beberapa pelayan yang sedang merawat bunga-bunga itu memberi hormat dan segera keluar ketika Chanyeol memerintahnya dengan isyarat.
"Ini adalah tempat rahasia." Baekhyun mendongak dan menatap tak percaya kearah Chanyeol.
"Ini taman bunga milik Ratu terdahulu, Ibuku. Satu-satunya peninggalan yang ia titipkan untuk siapapun yang akan menjadi pendampingku." Kembali bola mata Baekhyun membulat, dan ketika tersadar ia merendahkan arah pandangnya.
Sejenak ia merasa sangat bahagia karena Chanyeol memberitahukannya sebuah tempat rahasia untuknya, namun ketika mendengar kalimat akhir Chanyeol membuatnya merasa kecewa. Itu berarti mantan Ratu-nya pun mengetahui tempat ini dan mungkin menjadi tempat yang mengukir kenangan untuk keduanya.
"Hei, kenapa bersedih. Kau tidak suka?" Baekhyun menggeleng pelan.
"Aku suka. Tapi bukankah ini tempat rahasia Paduka dan mantan Ratu, Paduka?" Chanyeol terdiam lalu mengelus rambut Baekhyun.
"Tidak ada yang tahu tempat ini selain diriku dan Ibuku juga pelayan kepercayaan tadi, bahkan Luhan pun tidak tahu." Baekhyun mendongak lagi.
"Hanya kita . Kau, Ibuku dan aku. Ah, tidak. Mungkin empat." Baekhyun mengernyit.
"Bayi kita." Dan rona di pipi Baekhyun mulai tampak membuat yang lebih tua tersenyum senang. Ia kemudian menarik tangan Baekhyun untuk berjalan masuk. Banyak bunga indah dan langka ada di dalam sana, namun Chanyeol masih melangkah, membawa tubuh keduanya melewati deretan bunga-bunga cantik itu untuk masuk ke dalam ruangan kecil lainnya di dalam ruangan itu.
Baekhyun tersentak, sebuah ruangan kecil dengan rumput sebagai perdani hijau, tumbuhan menjalar di sepanjang dinding dengan kelopak bunga merah, kuning dan biru yang bermekaran penuh menghiasinya.
Lalu beberapa akar menggantung dan nyaris menyentuh kepala dimana disetiap ujungnya ada bunga-bunga indah yang bermekaran, dan satu objek yang membuatnya tersenyum. Sebuah ayunan kayu yang tergantung pada dahan dari pohon besar yang setengah batangnya berada di luar atap ruangan.
Chanyeol menarik tangannya lembut, membawa tubuh yang lebih kecil untuk menduduki papan ayunan kayu di depan mereka. Baekhyun tersenyum dan menggengam kedua sisi tali yang menggantung.
Chanyeol mendorongnya perlahan hingga tubuh Baekhyun berayun. Yang lebih kecil tersenyum senang dan menutup matanya sejenak merasakan hembusan angina membelai wajahnya dengan sangat lembut.
"Ibuku bilang ketika ia mengandung diriku, ia akan menghabiskan waktu berjam-jam disini. Menikmati waktu sendirinya, bahkan ketika kehamilannya pada masa tua, beliau akan disini seorang diri menangis, sementara Ayah akan meniduri para selir."
Baekhyun membuka matanya dan bungkam, seolah ia merasakan bagaimana sakit hati yang dirasakan oleh Sang Ratu saat itu. Hamil dan Sang suami meniduri orang lain, ini bisa disebut sebagai sebuah perselingkuhan meskipun seorang Raja legal untuk melakukannya.
Chanyeol terkikik ketika menyadari ketegangan Baekhyun, ia merendahkan tubuhnya lalu mengecup pucuk kepala Baekhyun lembut.
"Itu wajar Baekhyun, setiap Raja memang memiliki selir untuk tujuan seperti itu, seorang Ratu harus menerima kenyataan itu dengan lapang dada." Baekhyun menoleh cepat dan mata mereka bertubrukan.
Segala pemikiran muncul, akankah Chanyeol melakukan hal yang sama nanti? Ketika mereka tidak mampu untuk melakukan hubungan intim lagi? Akankah ia bisa menerima kenyataan itu? Akankah hatinya kuat, tapi ia kemudian teringat bahwa ia bukan Ratu Chanyeol, bahkan bukan pula seorang selir, ia hanya ibu dari anak yang Chanyeol inginkan.
Melihat keterdiaman Baekhyun, Chanyeol memilih menarik dagu yang lebih kecil dan memberikan sebuah kecupan lembut disana.
"Kenapa? Mencemaskan sesuatu?" ucapnya dengan sedikit nada candaan disana. Baekhyun menggeleng cepat lalu kembali membalik tubuhnya, menatap kehamparan rumput hijau yang ia pijak.
"Tenang, aku tidak memiliki selir sekarang. Hanya kau seorang yang aku milikki Baekhyun-ah." Tanpa sadar sebuah senyuman kecil muncul dan Chanyeol pun ikut tersenyum kecil lalu mendorong ayunan itu kembali dengan amat sangat pelan.
"Ke-kenapa Paduka? Kenapa Paduka memberhentikan seluruh selir?" Tanyanya tanpa berani menatap Chanyeol.
"Karena aku telah memilikimu, dan aku tidak ingin mereka terikat olehku tanpa mendapat cinta dariku, mereka juga pantas hidup bahagia, menemukan orang yang mereka cintai dan mencintai mereka." Baekhyun kembali tersenyum, merasa sangat beruntung karena memiliki sosok Raja yang berhati sangat mulia.
"Untuk itu…" ucap Chanyeol, nadanya mulai terdengar serius.
"Untuk itu, maukah kau tetap disini? Di Istana ini bahkan ketika bayi ini lahir? Maukah kau berada disisiku untuk selamanya? Sebagai Ratuku?" Baekhyun terdiam, wajahnya semakin tertunduk dan entah mengapa itu membuat Chanyeol merasa sedih dan kecewa.
Sementara Baekhyun, ia merasa dilema. Disatu sisi ia sangat ingin bersama dengan Chanyeol, bahkan bila itu mengharuskannya menjadi seorang prajurit pun tidak mengapa namun disisi lain ia memikirkan tentang Chanyeol. Orang sebaik Chanyeol tidak pantas mendapat gunjingan buruk hanya karena memiliki sosok seperti dirinya di sekitar Sang Raja.
Bagi Baekhyun, sosok Raja seperti Chanyeol hanya pantas mendapat pujian dan cinta, Sang Raja tidak pantas mendapat kebencian apalagi itu dikarenakan bocah remaja cengeng sepertinya yang menjadi istimewa hanya karena mampu mengandung.
Baekhyun telah memikirkannya, ia tidak bercanda ketika berkata bahwa ia akan tetap memberikan berapa banyak pun Chanyeol menginginkannya nanti, hanya jika berada disisi Chanyeol membuat sosok Raja dermawan itu mendapat kebencian maka Baekhyun memilih untuk pergi dari sisinya.
"Berat hm?" Baekhyun tertarik pada kenyataan ketika sebuah pelukan merambati tubuh belakangnya.
"Jika itu berat bagimu, tak apa. Mari jangan kita bicarakan lagi. Dua hari lagi adalah pesta ulangtahunmu, aku tidak ingin kau bersedih di hari itu. Awalnya aku ingin memberikan ini sebagai hadiah, aku akan mengumumkannya di pesta nanti, tapi sepertinya aku akan urung karena kau_"
"Aku akan tinggal…" Chanyeol yang ingin melanjutkan ucapannya segera terdiam dan membalik tubuh Baekhyun pelan untuk menatapnya.
"Kau apa?"
"A-aku tidak akan pergi meninggalkan Paduka."
Ya. Baekhyun pikir daripada ia membuat sedih Sang Raja ada baiknya ia menuruti keinginan itu, lagipula yang tidak menyetujuinya hanya segelintir orang, itu yang Baekhyun tahu, sisanya ia tidak tahu tanggapan tentang mereka.
Namun, Baekhyun rasa tidak akan masalah selama ia mempercayakan semuanya pada Chanyeol. Katakan Baekhyun adalah seseorang yang plin-plan, tapi memang seperti itu adanya. Ia hanya remaja yang ingin berada disamping orang yang cintai.
Chanyeol tersenyum, mengecup bibir Baekhyun lama dan dalam hingga akhirnya Baekhyun tersenyum dalam ciumannya membuat bibir Sang Raja bersentuhan dengan giginya dan pada akhirnya hal itu hanya menjadi alasan keduanya untuk tertawa.
"Kau tahu Baekhyun? Ibuku berkata bahwa kelak jika Ratuku sedang mengandung dan mengalami hal yang sama dengan yang ia alami, beritahukan tempat ini untuknya. Joohyun tidak pernah tahu tentang tempat ini dan kau menjadi satu-satunya." Baekhyun tersenyum dan mengangguk pelan.
Chanyeol berlutut, membuat wajahnya sejajar dengan dada yang lebih keci, lalu ia merendahkan tubuhnya untuk memberikan kecupan pada perut yang mungil.
"Aku tidak sabar untuk satu bulan ke depan. Bisakah ia keluar lebih cepat? Aku ingin melihat wajah tampannya." Baekhyun terkekeh dan mengelus rambut Sang Raja yang tidak tertutup mahkota.
"Kata-kata adalah doa Paduka, biarkan ia keluar saat waktunya tiba. Satu bulan bukan waktu yang lama bukan?" Baekhyun terkekeh. Chanyeol mendongak menatap wajah yang lebih kecil sambil memperlihatkan ekspresi manja.
"Aku berharap seorang malaikat tidak sengaja lewat dan mendengar doaku, bahwa bayiku bisa lahir lebih cepat. Aku sangat ingin menggendongnya." Ucap Chanyeol sedikit merengek memperlihatkan sisi manjanya yang sangat kontras dengan postur tubuh dan usianya.
"Paduka akan menggedongnya, aku pastikan Paduka menjadi orang pertama yang akan menggendongnya." Ucap Baekhyun sambil tersenyum, Chanyeol ikut tersenyum dan mengecup perut Baekhyun lagi.
"Lihat sayang, ibumu sangat cantik bahkan ketika aku melihatnya dari bawah sini. Cepat keluar ya, dan lihat betapa cantiknya ia." Baekhyun merona oleh ucapan sederhana Chanyeol dan dalam hati ia merasa amat sangat beruntung atas apa yang Tuhan berikan padanya.
…
..
.
Seperti yang direncakan pesta perayaan ulangtahun Baekhyun dan perayaan hutan Zatoon. Tidak hanya pihak istana, para penduduk pun merayakan hal tersebut dengan tradisi mereka untuk menghias beberapa pohon di hutan tersebut dan melakukan sedikit ritual pembakaran atas rasa syukur mereka.
Sementara di Istana, pesta telah disiapkan dengan baik. Sebuah ruangan dihias sedekian rupa hingga membuatnya terkesan indah dan ceria.
Chanyeol tidak mengundang para Raja dari Kerajaan lain atas permintaan yang lebih kecil, namun Raja Kris dan Ratunya- Junmyeon tetap menjadi undangan atas pesta itu, lalu bukan hal yang aneh jika adik Sang Raja pun turut hadir disana.
"Siapa yang meletakkan bunga jelek ini disini?" siapa lagi jika bukan Luhan yang membuat beberapa pelayan istana hanya mampu menundukan wajah mereka.
"Ganti! Siapapun ganti bunga itu! Carikan aku pohon cemara kecil dan berikan hiasan berwarna merah dan biru, itu jauh lebih menarik." Ucapnya sambil berkacak pinggang.
"Kau pikir dimana kita akan mendapatkan pohon cemara hah? Waktu kita tak banyak lagi, sejam lagi acara akan dimulai." Jongin muncul dibelakang atas panggilan Tuan Lee yang sudah tak mampu menangani sikap Luhan.
"Dimana saja! Chanyeol punya orang-orang hebat yang mampu melakukan apapun." Ucapnya tanpa mau menerima penolakan halus Jongin.
"Ya, tapi tidak untuk memenuhi keinginan anehmu. Bagaimana mungkin pohon cemara berada di dalam ruangan?" Luhan menoleh dengan wajah kesal dan berjalan mendekat kearah Jongin. Menunjuk dada Jongin dengan jari telunjuknya.
"Kau..Kau..Kau.. hanya tidak bisa berimajinasi. Suatu saat semua rumah akan berisi pohon cemara di dalamnya dengan berbagi hiasan. Itu indah asal kau tahu, jauh lebih indah daripada bunga aneh ini." Ucapnya sambil menatap jijik pada hiasan bunga di sampingnya.
"Ck! Dasar gila, jika tujuannya untuk menyusahkan orang disini, sebaiknya kau pulang saja dan tidur sana. Lagipula kau tidak diundang, namamu bahkan tidak ada dalam undangan. Besar kepala sekali kau datang kesini dan mengacaukan segalanya." Luhan mendelik dan berdecih kesal kearah Jongin.
"Aku tamu istimewa untuk apa aku mendapatkan undangan. Lagipula Chanyeol kan cinta pertama_" ucapan Luhan terhenti ketika melihat sosok Sehun berada dibelakang Jongin dan menatap kearahnya dingin. Luhan berbalik dan mendekap kedua tangannya.
Jongin yang merasa heran menoleh dan tersenyum mendapati sosok Sehun dibelakangnya.
"Akhirnya kau datang Jendral Oh! Sana urusi banteng mengamukmu, hanya kau yang mampu membuatnya diam." Luhan hendak protes namun ketika masih melihat Sehun yang menatapnya dia kembali berbalik dan pura-pura sibuk meneliti kelopak bunga.
"Yak, Jendral Kim! Cepat carikan apa yang aku minta, jika tidak aku akan menjadikan kepalamu sebagai hiasan disini." Jongin berdecih kesal dan memilih mengabaikan ucapan Luhan.
"Kau, sana urusi lelaki menyebalkan ini. Aku tidak ingin membuang waktuku." Ucap Jongin sambil menarik Sehun dan mendorongnya kearah Luhan.
"Yak! Apa yang kau_" ucapan Luhan terputus ketika sosok Sehun lah yang menabrak tubuhnya dan kini sedang menatapnya dengan raut yang sulit dimengerti.
"Oh, hai Jendral Oh. Lama tidak bertemu, kau tidak berubah masih tetap menyebalkan. Sudah ya, aku mau menemui si badut yang berulang tahun hari ini, dia_"
"Ikut aku!" Luhan meronta ketika Sehun mencengkram pergelangan tangannya dan menariknya meninggalkan ruangan. Jongin menghela nafas sambil menggeleng pelan.
"Apa semua sudah siap Tuan Lee? Bagaimana dengan Baekhyun dan Paduka?"
"Tuan muda sedang dipersiapkan oleh para pelayan sementara Paduka sedang berbicara dengan Raja Kris di ruangannya." Jongin mengangguk dan kembali melihat seluruh pelayan yang sedikit lagi akan menyelesaikan pekerjaannya.
…
..
.
Baekhyun menatap dirinya di depan cermin dan tersenyum. Meski ia merasa tubuhnya bertambah gemuk namun ia tetap merasa cantik dengan seluruh pakaian dan riasan tipis pada wajahnya.
"Terima kasih untuk ini." Ucap Baekhyun sambil menatap para pelayannya dari pantulan cermin dan mereka hanya mengangguk sebagai bentuk hormat.
Baekhyun terdiam sejenak dan senyumnya kembali mengembang ketika mengingat sosok Chanyeol. Ia mengelus perutnya dan bergumam pelan.
"Ayo kita temui Paduka!" ucapnya sambil melangkah meninggalkan cermin dan berjalan menuju keluar.
Langkahnya ia bawa sepelan mungkin mengingat keadaan perutnya yang sudah sangat besar meskipun tetap kecil untuk sebuah kehamilan normal.
Ia tersenyum dan meminta para pengawal yang berjaga di depan ruangan Chanyeol untuk diam dan tidak memberitahukan tentang kedatangannya. Seperti biasa ia ingin memberikan sebuah kejutan.
Ia melangkah mendekat dan membuka pintu itu dengan perlahan, mengintip dengan satu mata tertutup dan menemukan Sang Raja sedang duduk di kursinya dan ketika akan melangkah masuk ia melihat dua orang lain disana, satunya berdiri sambil mondar-mandir sementara satu lagu duduk anggun di kursi depan Chanyeol. Itu Raja Kris dan Ratunya Junmyeon.
"Apa kau serius Chanyeol?" Baekhyun berhasil mendengar suara Raja Kris. Sepertinya mereka tengah terlibat sebuah percakapan.
"Tentu. Apa yang membuatku ragu?"
"Tapi ini tidak mungkin, pantas Dewan Kerajaan menolak ini." Ucap Kris lagi.
"Ya, tapi bukankah ini pantas untuknya? Dia memberikan apa yang Kerajaan ini inginkan, yang negeri ini inginkan." Baekhyun kembali merapatkan tubuhnya untuk mendengar hal yang mereka bicarakan.
"Aku tahu dia begitu istimewa. Tapi dengan hanya memberikan keturunan tidak membuatnya layak menjadi Ratu, kenapa tidak memberikan posisi selir utama untuknya?" Baekhyun tercekat, sekarang ia tahu hal apa yang mereka tengah bicarakan.
"Heuh!" terdengar kekehan Chanyeol. Sebuah nada sarkas terselip disana.
"Layak? Apa arti kelayakan yang sebenarnya dimata kalian? Apa darah bangsawan begitu penting?" Chanyeol menatap Kris tajam dan pria itu hanya menghela nafas lelah.
"Tentu. Darah menentukan latar belakangmu, menentukan sikap dan tata kramamu, menentukan posisimu." Kembali dengusan Chanyeol terdengar.
"Benarkah? Lalu Joohyun apa darahnya mampu menjelaskan pengkhianatnya?" Kris melirik Junmyeon yang hanya menatap kearah meja dengan tenang.
"Aku tahu Chanyeol, aku tahu kau begitu mencintai Baekhyun. Tapi coba kau pikirkan apa yang rakyat akan pikirkan tentang itu? Jika Dewan tidak setuju akan lebih sulit untuk melancarkan semuanya. Pikirkan tentang Baekhyun dan bayi kalian, dia pasti akan tertekan."
"Aku pikir kalian berbeda, ternyata kalian sama saja."
"Tidak Chanyeol, ini bukan tentang kami berada di pihak siapa. Hanya saja pikirkan tentang dirimu, dirinya dan bayi kalian. Dia tidak mungkin menjadi Ratu, apa yang Kerjaan lain akan pikirkan tentang ini? Mereka hanya akan menganggapmu sebelah mata setelah ini. Bahkan kau tahu? Beberapa mulai membicarakan tentang penyimpangan ini. Dia laki-laki, memang tidak pantas untuknya mengandung, dan juga tidak pantas seorang laki-laki untuk menjadi Ratu. Pikirkan tentang Kerjaan ini, jangan libatkan perasaan!"
Baekhyun menarik langkahnya mundur, wajahnya nampak kosong, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan membuat para pelayan dan pengawal cemas melihat keadaannya. Namun si kecil tersenyum, tersenyum di sela isakannya.
"Ayo kita menuju ruang pesta, hari kelahiranku sebentar lagi. Usiaku akan sungguh-sungguh menjadi 15 tahun." Ucapnya sambil berjalan dengan susah payah memegang perutnya yang besar yang dibantu oleh dua orang pelayan yang memegangnya dan tidak ia tolak kini.
…
..
.
Chanyeol duduk seperti biasa disinggasana yang telah disiapkan dengan Baekhyun yang duduk tenang disampingnya.
Acara sudah berjalan sejam lamanya dan bermacam tarian telah disajikan, tanpa tarian perut karena Chanyeol sudah memastikan bahwa tarian semacam itu tidak akan ada di dalam daftar acaranya.
Chanyeol menoleh dan tersenyum tidak menyadari bahwa sosok yang kini tersenyum disampingnya menyimpan seribu macam pemikiran yang membuatnya terkadang menatap lurus tanpa minat.
Tidak banyak tamu undangan yang hadir, namun cukup meramaikan suasana. Bahkan keluarga Baekhyun tidak datang, mereka sedang merayakan perayaan Hutan Zatoon dan Baekhyun tidak melarang meskipun ia cukup merasa kecewa.
"Kau suka?" Tanya Chanyeol ketika melihat sebuah tarian api di depan mereka. Baekhyun mengangguk pelan memperlihatkan senyum palsunya.
Tepukan keras para hadirin membuat Baekhyun tersadar dan sebelum ia sadar sepenuhnya Chanyeol telah bangkit, berdiri di tengah ruangan dengan wajah tenangnya.
"Terima kasih untuk kalian semua yang telah menghadiri pesta perayaan ulangtahun Baekhyun. Di hari yang berbahagia ini aku ingin menyampaikan sebuah pengumuman. Pengumuman yang begitu penting." Baekhyun menoleh sekitar dan menyadari bahwa beberapa mulai berbisik dan mengernyitkan dahi mereka.
Baekhyun mencengkram jemarinya kuat dan mengigigit bibir bawahnya melihat raut menghakimi dari para Dewan yang ada disana.
"Ini tentang Baekhyun, aku akan_"
"Paduka!" Chanyeol menoleh dan mendapati Baekhyun berusaha turun dari duduknya. Chanyeol menghampiri dan membantu yang lebih kecil. Dengan susah payah yang lebih kecil berdiri di tengah ruangan. Menyapu seluruh isi ruangan dengan senyuman diwajahnya.
Bulir-bulir keringat terlihat dan Baekhyun mencengkram kuat pakaian di bagian perutnya.
"Biar aku yang bicara dulu." Ucap Baekhyun sambil mencoba tersenyum dengan wajah pucatnya.
"Sebelumya aku ucapkan terima kasih untuk kalian. Ini adalah pesta ulangtahun terbaik seumur hidupku, karena yah kalian tahu bahwa keluargaku miskin biasanya kami hanya merayakan ulangtahunku dengan kue beras dan sebatang lilin, hingga terkadang aku lupa berapa usiaku ketika meniup lilin." Chanyeol terkekeh. Luhan pun ikut tersenyum mendengar candaan Baekhyun.
"Aku berterima kasih pada Paduka, beliau adalah pria terbaik yang pernah aku kenal selain ayahku." Ucapnya sambil melirik kearah Chanyeol yang dibalas senyuman oleh yang lebih tua.
"Apa yang Paduka berikan sudah lebih dari cukup. Beliau adalah sosok Raja yang sangat mulia, berhati lapang dan begitu dermawan. Tidakkah beliau pantas untuk mendapat semua pujian itu? Aku rasa semua orang mengaguminya." Baekhyun tersenyum sambil menopang bagian bawah perutnya.
"Ya, Paduka hanya pantas mendapatkan semua pujian itu, Paduka tidak pantas mendapatkan kebencian terlebih itu hanya karena sosok sepertiku. Untuk itu, aku ingin mengatakan sesuatu, hal yang mungkin ingin kalian semua dengar." Baekhyun menoleh dan mendapati Chanyeol menatapnya tanpa sebuah senyuman, namun si kecil mencoba tersenyum.
"Beberapa waktu lalu aku berkata ingin pergi dari istana tepat setelah bayi ini lahir, tapi pembicaraanku dengan Paduka beberapa waktu lalu membuatku urung melakukannya." Senyuman Chanyeol kembali terbentuk meski bibirnya berkedut dengan ragu.
"Aku tidak akan pergi." Ucapnya tegas sambil menatap Chanyeol dengan senyuman paksa di sela wajah pucatnya.
"Setidaknya hingga bayi ini berusia sebulan. Setelah itu, setelah ia mendapatkan cukup kehangatan dariku, maka… maka…" Baekhyun menghapus air matanya cepat.
"Maka aku akan pergi, benar-benar pergi. Aku akan kembali ke tempat darimana aku berasal."
"Baekhyun!" Chanyeol membentak dan Baekhyun menoleh sambil tersenyum.
"Maaf Paduka, tapi inilah yang terbaik. Maaf karena membohongi Paduka dua hari yang lalu, aku mengatakannya hanya agar Paduka tidak bersedih." Bohongnya. Memainkan peran seolah dirinya adalah aktor hebat.
"Kalian benar, aku tidak pantas menjadi seorang Ratu. Tidak…bahkan untuk membayangkannya saja aku tidak pantas. Darahku hanya darah seorang petani, bukan bangsawan seperti kalian." Ucapnya sambil berurai air mata dan menatap satu per satu wajah orang-orang yang berada disana.
Kris dan Junmyeon menundukan wajahnya, Sehun dan Jongin pun merasa bersalah, Tuan Lee menatap iba sementara Luhan terdiam dengan tatapan kosong.
"Aku hanya sebuah tempat dimana Tuhan mengabulkan permintaan kalian. Aku akan melahirkan bayi ini, aku akan berusaha sekuat tenaga.." Baekhyun tersentak sejenak sambil memegang perutnya sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya.
"Jika…jika… satu putra mahkota tidak cukup aku akan memberikan kalian lagi, sebanyak yang kalian mau tapi aku mohon, jangan benci Paduka atas keputusannya. Paduka tidak pantas untuk dibenci, Paduka-_"
"Baekhyun ! hentikan!" Chanyeol mendekat namun Baekhyun melarangnya. Ia menahan gerakan Chanyeol dengan satu telapak tangannya mengudara dan dua langkah mundur tak beraturan.
"Aku tidak keberatan. Tuhan memberikan keistimewaan padaku untuk mengabulkan permintaan Negeri ini. Tapi aku harus kembali, aku harus kembali pada tempatku berasal. Jadi jangan khawatir, kalian tidak akan memiliki Ratu sepertiku, kalian_"
"Baekhyun!" kali ini nada suara Chanyeol penuh dengan amarah.
"Paduka." Baekhyun tersenyum sambil menatap Chanyeol dengan wajah sayu, entah mengapa tenaganya seolah tersedot, kakinya bahkan sedikit bergetar.
"Maaf mengingkari janji kita, tapi ini adalah yang terbaik. Jangan! Jangan bersedih Paduka, aku tidak akan pergi. Aku hanya akan kembali ke desaku. Jika Paduka ingin anak lagi, cari aku maka aku akan memberikannya pada Paduka, sebanyak apapun yang Paduka inginkan…aku…hiks.." Baekhyun akhirnya tidak mampu menahan kesedihannya, ia menundukan wajahnya dan mengusap air matanya.
"Aku mencintai Paduka, sungguh. Aku tidak berbohong untuk itu. Tapi jika perasaanku membuat Paduka mendapat kebencian, aku memilih mundur. Paduka, aku tersadar sesuatu bahwa dua orang lelaki tidak bisa bersama, bahwa usia kita terlalu jauh untuk menjalin sebuah ikatan, bahwa derajat kita terlalu menyimpang untuk berdampingan. Jadi…akh!" Baekhyun terhuyung kebelakang sambil mencengkram perutnya.
"Baekhyun!" Chanyeol menangkap tubuh itu sebelum menghantam lantai yang keras. Jongin dan Sehun segera membantu.
"Sa…sakit…hiks… ini…sa…sakit…" ucap Baekhyun sambil memegang perutnya. Semua dibuat panik.
"Panggil Tabib Shin! Dimana tabib Shin? Baekhyun! Baekhyun!"
"Akhhh! Sakit.. Paduka…hiks.. sakit." Isaknya sambil mencengkram perutnya. Luhan yang melihat kejanggalan mendekat, lalu disusul oleh Kris dan Junmyeon sementara yang lain masih bertahan di tempat.
Junmyeon membulatkan matanya ketika melihat bagian basah diselangkangan Baekhyun.
"Tidak, ia akan segera melahirkan!"
"Apa?" semua berseru terkejut, Chanyeol mencengkram tangan Baekhyun.
"Demi Tuhan, panggil Tabib Shin segera atau aku akan memenggal kepala kalian!" bentak Chanyeol penuh emosi.
…
..
.
Ruang kamar Baekhyun nampak sangat ramai, beberapa orang pelayan yang merupakan asisten Tabib Shin mondar-mandir untuk menyiapkan segala persalinan.
Tabib Shin dan dua tabib lainnya telah bersiap di depan tubuh Baekhyun. Kaki Baekhyun dibiarkan terbuka lebar hanya sebuah kain menutupi bagian selangkangannya.
Baekhyun menangis sementara Junmyeon memegang tangannya erat, membisikan kata-kata semangat padanya. Dua pelayan lain berdiri disisi ranjang sambil mengipasi tubuh berkeringat Baekhyun.
"Sakit…ini sakit.. hikss.."
"Ya, sakitnya akan segera hilang ketika bayimu terlahir Baekhyun." Ucap Junmyeon menenangkan dan menyeka keringat Baekhyun.
"Sedikit lagi maka ini akan siap!" ucap salah satu Tabib dan Tabih Shin mengangguk pelan, sejujurnya ia juga merasa gugup bagaimana pun ini bukan hal yang mudah.
"Kita mulai!" ucap Tabib Shin mulai menyiapkan beberapa alat bedah di depannya.
"Baekhyun, ketika aku berkata dorong kau dorong dengan kuat, gunakan seluruh tenagamu untuk mendorongnya, kau mengerti?" Baekhyun mengangguk.
"Sekarang tarik nafas panjang!"
"Uh-huuhhh.." Baekhyun berusaha menarik nafas sementara Tabib Shin mencoba mencari jalan keluar untuk sang bayi.
Chanyeol memilih berdiri di depan ruang bersalin meskipun para pelayan telah menyiapkan sebuah kursi besar untuknya. Kris disana menatap Chanyeol dengan wajah yang jauh lebih tenang, ia pernah merasakan hal yang sama.
"Semua akan baik-baik saja!" ucap Kris berusaha menyemangati.
"Tidak, aku takut sesuatu yang buruk terjadi. Persalinannya meleset dari perkiraan Tabib Shin, seharusnya sebulan lagi! Aku menyesal berdoa untuk mempercepatnya." Gumam Chanyeol sambil mondar-mandir.
"Ayolah Chanyeol! Jangan membuatku ikut panik. Bayi kalian akan selamat." Ucap Luhan yang duduk di tangan kursi kakaknya.
"Tidak hanya bayiku, aku juga memikirkan tentang Baekhyun."
"Dia pasti bisa Paduka." Ucap Jongin.
"Dia terlalu muda, ini pasti sulit untuknya." Gumam Chanyeol cemas. Semua nampak maklum meskipun ini pertama kalinya melihat Chanyeol secemas itu.
"Aaaaakkhhh… sakitt…hiks… sakitt…" Chanyeol menengang begitu pula yang lainnya ketika mendengar suara tangisan Baekhyun yang sangat memilukan.
"Semua akan baik-baik saja." Ucap Luhan meskipun ia ragu dengan ucapannya sendiri.
"Hiks.. SAKIIITTT…. Huuuu…huu… Sakit.. Aaaakkhhhh!" tak hanya mereka, kini beberapa dewan yang bersimpuh di depan ruangan sebagai tanda hormat merasakan ketegangan yang sama, tangisan Baekhyun menggambarkan seberapa menyakitkannya proses persalinan itu.
"Aku tidak kuat…ini sakitt…hiks.. AAAKKHHH" Chanyeol meremas tangannya kuat, bulir-bulir keringat mengisi pelipis mereka.
"Tidak Baekhyun! Kau harus berjuang! Yang kuat Baekhyun! Tarik nafas dan dorong kuat!" suara Tabib Shin terdengar sangat keras.
"Bayinya tidak bisa keluar! Potong lebih besar! Kalian siapkan air lebih banyak!" kembali suara itu membuat tubuh orang-orang yang berada diluar mengernyit ketakutan, mereka bisa membayangkan betapa gentingnya keadaan di dalam sana.
"Bayinya mulai terlihat! Baekhyun lagi!"
"Aaaakh… uuh…huuuuh…uhh..aaaakkhh.. sa…kit..aarrggghhh."
"Lagi Baekhyun! Lakukan lagi!"
"Uuh..huh…hiks.. hiks.. aku…tidak…"
"LAGI!" bentakan Tuan Shin membuat Chanyeol merasa bersalah, Baekhyun pasti merasa tertekan saat ini. Ingin rasanya Chanyeol masuk, namun sejak awal Tabib Shin melarang terlalu banyak orang yang masuk hanya Ratu Junmyeon yang diperbolehkan karena beliau cukup berpengalaman untuk itu.
"Tidak! bayinya meminum air ketuban, Tabib Han, siapkan ramuan Jeongshang! Kalian apa yang kalian lakukan? Cepat siapkan ini!...Baekhyun lagi!"
"CEPAT!"
Lagi suara-suara bising dari dalam membuat tubuh semuanya menegang, mereka sungguh cemas terutama Chanyeol yang merasa belum siap akan semua ini.
"Baekhyun sedikit lagi, bayimu sudah mulai keluar! Lagi!"
"Uh-huuhh…Uh-Huh…aaaakkhh… huuhh… aaaaakkhh!"
"BAEKHYUN!" teriakkan Junmyeon terdengar.
"Berhasil! Bayinya telah berhasil keluar."
Sorakan dari dalam membuat tubuh mereka lega, Chanyeol tersenyum dan Sehun segera menepuk pundaknya. Namun Kris tersadar, ia mengernyit sejenak berusaha mempertajam pendengarannya.
"Kenapa tidak ada tangisan bayi?" gumaman Kris ternyata terdengar. Ia melirik Chanyeol yang kembali menegang. Mungkinkah bayinya bisu? ia merasa sedikit kecewa namun sebersit perasaan senang atas kelahiran bayinya membuatnya tidak mempermasalahkan jika memang bayinya terlahir cacat.
"A-apa bayinya baik-baik saja?" Tanya Luhan dengan bibir kaku. Pintu terbuka dan semua menoleh, Tabib Shin muncul dengan wajah pucat pasi dan tubuh bersimbah darah.
"Pa-Paduka?" Chanyeol mengedipkan matanya beberapa kali, menyiapkan dirinya akan segala kemungkinan yang terjadi.
"Ia..ia..…" tanpa menunggu kelanjutan ucapan sang Tabib Chanyeol segera menerobos masuk, diikuti oleh yang lainnya.
Chanyeol menyapu pandangannya dan mendapati seluruh orang di dalam ruangan diliputi aura berduka. Chanyeol melirik kearah Baekhyun yang terbaring lemas diatas ranjang dengan mata terpejam, dimana Junmyeon menangis sambil memeluk tubuh telanjang itu.
Chanyeol mendekat dan mengernyit ngeri melihat bagian bawah ranjang bersimbah darah segar. Chanyeol berlutut disamping ranjang dan menatap wajah terpejam Baekhyun.
"A-apa yang terjadi?" Tanya Chanyeol dengan perasaan takut dan cemas. Jemarinya terulur dengan bergetar, sementara tangisan Junmyeon tidak membantu apapun.
"Paduka, maafkan aku." Tabib Shin berdiri disamping Chanyeol dengan wajah tertunduk. Chanyeol menoleh dan menatap sosok itu dengan tatapan penuh luka.
"A-apa yang terjadi pada Baekhyun? KATAKAN! APA YANG TERJADI PADANYA?" Tabib Shin menundukan wajahnya dalam dan menggeleng pelan.
"Tuan mu-muda baik-baik saja, beliau hanya kelelahan." Chanyeol terdiam ada perasaan lega meliputi hatinya. Jika memang Baekhyun baik-baik saja, lalu kenapa semua nampak bersedih.
"Tapi, bayi anda." Chanyeol kembali menegang. Matanya melirik pada seorang pelayan yang membawa sebuah sosok berselimut kain sutra merah di tubuhnya. Pelayan itu mendekat dan memberikan sang bayi pada Tabib Shin.
"A-ada apa?"
"Ka-kami telah berusaha, ta-tapi bayi..bayi anda tidak berhasil diselamatkan." Tubuh Chanyeol lemas dan Sehun serta Jongin segera memegang tubuh itu. Chanyeol berusaha bangkit, mengambil bayinya dengan lembut dan bergetar.
Manik kelam Chanyeol menatap sosok putih bertubuh mungil di depannya yang setia terpejam tanpa dada yang bergerak naik turun. Sosok itu terlihat sangat tampan dengan bulu mata panjang menyentuh pipi putihnya.
Malaikat tanpa sayap lain yang pernah Chanyeol lihat. Ia tersenyum dan air matanya mengalir, ia mendekap bayi itu pelan dan menangis.
"Selamat lahir kedunia sayang." Gumam Chanyeol pelan. Sebuah perasaan sedih dan kecewa membaur menjadi satu. Ia menangis, menangis terisak menghantarkan kepergian sang buah hati yang bahkan belum sempat melihat dunia.
Luhan mendekat dan memeluk tubuh yang lebih tinggi, ikut terisak bersama. Berbagi kesedihan lewat sentuhan hangat yang tersalurkan.
"Ba-bayiku?" tubuh Chanyeol tersentak, ia menoleh pelan dan mendapati Baekhyun mulai siuman setelah bantuan dua tabib lain.
Baekhyun membuka mulutnya ketika melihat Chanyeol memegang bayinya di depan dada. Air matanya jatuh dan ia berusaha duduk mengesampingkan rasa sakit pada tubuh bagian bawahnya.
"I-itukah dia? Ba-bayi kita?" ucap Baekhyun bergetar, ia mengulurkan tangannya ingin melihat sang buah hati.
"Bo-bolehkah aku melihatnya?" minta Baekhyun dan Chanyeol hanya terdiam menatap wajah Baekhyun, memikirkan kemungkinan yang akan terjadi.
"Pa-Paduka? Bo-bolehkah aku menggendong bayiku?" ucap Baekhyun dengan wajah senang bercampur air mata yang terus mengalir. Luhan menepuk pundak Chanyeol memintanya untuk menuruti keinginan Baekhyun, sementara Junmyeon mengangguk meminta Chanyeol melakukan hal yang sama.
Chanyeol berjalan mendekat, ia duduk disamping Baekhyun setelah Junmyeon bangkit, menyerahkan bayi itu dan Baekhyun menerimanya dengan senang.
"Ah, bayiku…hiks.." ucapnya dengan tangan bergetar.
"Aku pikir hari ini tidak akan tiba." Ucap Baekhyun sambil tersenyum dan melirik Chanyeol yang hanya membalas dengan senyuman dipaksakan.
"Aku pikir aku akan mati tadi, aku pikir dia…hiks..dia tidak akan pernah terlahir ke dunia. Paduka, doa Paduka dikabulkan dia lahir lebih cepat." Ucap Baekhyun sambil mengelus pipi bayinya.
"Paduka mengapa tubuhnya dingin?" Tanya Baekhyun mulai merasakan janggal.
"Apa semua bayi yang baru lahir seperti ini? Tabib Shin apa anda tidak bisa memberikan dia ramuan untuk menghangatkan tubuhnya?" Tanya Baekhyun. Tabib Shin menundukan kepalanya dan itu membuat Baekhyun mengernyit, ia melihat sekitar dan semua memberikan tatapan iba membuatnya semakin bingung.
Ia meneliti bayinya dan tidak ada yang salah, bayinya terlihat tampan dan sehat hanya saja bibirnya membiru dan tidak ada pergerakan di dadanya.
"Paduka, kenapa bayiku diam? Apa dia tertidur?" Tanya Baekhyun. Chanyeol mengusap air matanya dan tersenyum sambil mengelus pipi Baekhyun.
"Paduka..jangan seperti ini! Kenapa? Katakan padaku! Apa yang terjadi?"
"Baekhyun? Kuatkan dirimu, kau mengerti?"
"Tidak! Kenapa aku harus menguatkan diriku? Bayiku tidak cacat, bayiku terlihat tampan persis seperti Paduka, iya kan?"ucapnya seperti orang kebingungan.
"Baekhyun? Kau harus mengikhlaskannya, mungkin Tuhan begitu menyayanginya."
"Apa maksud Paduka?" bentak Baekhyun.
"Baekhyun, bayimu… bayi kita telah meninggal." Baekhyun menggeleng tidak percaya dan ia terisak.
"Tidak..tidak mungkin…tidak… hei sayang? Hei, bicaralah! Kita telah menghabiskan waktu bersama dan kau memilih untuk pergi secepat ini? Hiks… bangun! Bangun! Kita akan bernyanyi bersama..bangun! hikss.."
"Baekhyun!"
"HIks…hiks.. kenapa? Kenapa Paduka?"
"Tidak apa-apa! Mungkin ini adalah takdir."
"Apa begini cara Tuhan menginginkanku pergi dari istana? Dengan mengambil bayiku? Hiks…"
"Ssstt! Tidak apa-apa,mungkin dia belum berjodoh dengan kita."
"Ini tidak mungkin Paduka, bayiku tidak mungkin meninggal..hiks…tidak mungkin…" isak Baekhyun. Diluar sana bulan purnama bersinar terang, menjadi saksi perginya seorang bayi yang bahkan belum sempat melihat isi dunia, bahkan sekedar memberi salam hangat pada kedua orangtuanya.
…
..
.
TBC
…
..
.
Yang sempet nangis, silahkan dibersihin dulu ingusnya , wkwkwkw...
Yang gak nangis tapi malah kesel, silahkan di gigit dulu hp nya..
Yang besoknya ada ujian tapi baper, silahkan banyak-banyak doanya ( pengalaman pribadi )
Welcome back to myself wkwkwk...
Berminggu-minggu menghilang dari peradaban rasanya gak menyenangkan. Demi ujian aku harus rela ngapus IG, hapus seluruh OA Chanbaek di line, keluar dari group Chanbaek ( buat Kak Dee : Mian kak harus out sementara dari group author , makasi untuk permaklumannya dan makasi buat reinvitenya, buat anak-anak KaCebe sorry juga ya wkwkwkw, buat kak putri yang jadi satu-satunya temen curhat aku selama masa-masa suramku, thank you so much kak, kaka is the best deh pokoknya,aku tunggu lho ff nya kak )
Sungguh hidup tanpa Chanbaek itu bagaikan pelangi kehilangan warnanya, hampa, tak berwarna, kelam. Tapi yah mau gimana lagi, setiap orang harus bisa memprioritaskan sesuatu, meskipun Chanbaek sebenernya ada diposisi nomer dua setelah orangtua wkwkwkwk )
Hm, balik lagi ke ff. Aku tahu pasti kalian gak suka chapter ini, karena setelah chapter-chapter kemarin yang bikin kalian ketawa ( baca review kalian yang kebanyakan fokus di 'Anakonda berambut' ) akhirnya di chapter ini harus menguras air mata ( ya itupun kalo kalian tersentuh wkkwkw ) ...
Nah karena ini ciri khas ff ku, nano-nano. Entah alurnya, entah weird scenes nya, entah NC nya, pokoknya kalo kalian baca perasaan kalian pasti campur aduk wkwkwk...
Mungkin beberapa chapter lagi bakal end, karena untuk ukuran cemilan ini seolah mengalahkan main course nya. Tapi plis jangan tanya aku, ini sampe chapter berapa karena aku pasti bakal bilang gak tahu, karena seriusan gak tahu, tergantung gimana keadaan nantinya wkwkwk..
Oke, sekali lagi mau ucapin makasi buat yang udah review, yang selalu review, yang review setiap chapter, dan yang gak review pun makasi ( yang penting dibaca ) wkwkwkw , yang favorite ff ini, yang udah follow dan bahkan yang udah promosiin ke temen-temennya, hahaha.. Kalian tuh emang selalu bisa bikin aku terharu, big thanks to you all, guys.
Spesial buat yang nanya Chanbaek dimata aku itu apa : Ibarat pelangi, diakhir hujan memberi keindahan. Terlihat samar, namun warnanya jelas terpancar, dan juga tak memiliki ujung. Sama halnya dengan Chanbaek, dihidupku yang terkadang suram mereka datang memberikan warna, hubungan mereka terlihat samar, namun cinta mereka jelas terpancar, siapapun yang masih memiliki mata normal dan gak mencoba menyangkal pasti bisa liat dari pancaran mata mereka, dan cinta mereka gak memiliki ujung. Cinta mereka gak akan berakhir. Kalo liat mata Baekhyun ke Chanyeol, aku selalu menemukan 1000 keyakinan kalo mereka akan berakhir dialtar, meski entah kapan, tapi pasti, kalo liat perlakuan Chanyeol ke Baekhyun aku yakin Playful Love bakal jadi nyata, wkwkwkw... ( semoga ini bisa jawab pertanyaan kalian )
Recommended song :
Lonely _ Sistar ( Hikss... Eonniedeul T.T/ udah gak boleh nangis, harus rela.. *nangis sambil buka-buka galeri foto sistar )
For You_ Sistar ( HIks...masih gak rela...Sistar always be my Queens )
"With time, everything will be forgotten and so'll you, that's whats really sad"
.
Jaga kesehatan, inget kesehatan itu penting dan mahal! Terakhir salam Chanbaek is real ^-^ See you in the next chapter.
