"Maaf mengganggumu, "
"Ada apa?" Tanya Sakura bingung atas kunjungan Sasuke dan Kenichi yang saat ini berdiri tepat di depan pintu apertemennya. Awalnya Sakura sempat kaget saat melihat kedua mahkluk yang wajahnya hampir serupa itu.
Bukankah tadi pagi Sasuke melarangnya untuk bertemu Kenichi? Kenapa sekarang justru lelaki itu yang datang seperti mengantarkan Kenichi padanya?
Semua pertanyaan dalam pikiran Sakura buyar saat Sasuke berkata dengan wajah datar miliknya. "Menginaplah malam ini di rumah."
Untuk sesaat Sakura tidak dapat merespon perkataan Sasuke, sampai suara merdu Kenichi yang menyadarkannya. "Ba-chan, akan menginap di rumah kami lagi 'kan?"
Kenichi terlalu bersemangat mengatakan tujuannya datang ke apartemen Sakura dan membuat perasaan gadis yang bekerja sama dengan ayahnya itu merasa bersalah.
Ia bukannya tidak ingin menghabiskan waktunya lebih lama—seperti hari sebelumnya—dengan anak semanis dan semenggemaskan seperti Kenichi. Kenyataanlah yang menyadarkannya bahwa ia tidak punya hak menghabiskan waktunya lebih lama dengan anak tampan ini.
Hari sebelumnya mereka—Sakura dan Kenichi—menghabiskan waktu bersama-sama karena saat itu Kenichi sedang sakit dan anak kecil itu harus mendapatkan perawatan yang intensif, ditambah lagi karena keadaan yang mengharuskannya demikian.
Ia hanyalah seorang sekretaris di perusahaan ayahnya. Selebihnya, mereka tidak memiliki hubungan apa-apa selain atasan dan bawahan di pekerjaan.
Sakura melirik ke arah ayah anak kecil itu, sebelum mengfokuskan seluruh etensinya kepada Kenichi.
Ia merendahkan tubuhnya sejajar dengan tinggi badan Kenichi, yang sedari awal kedatangannya telah memberikan puppy eyeskepadanya. "Kenichi, dengarkan Ba-chan,ya," Panggilnya lembut. Ada nada penyesalan saat ia memanggil nama bocah itu. "Sebelumnya aku menemanimu karena saat itu Kenichi sedang sakit, dan tidak ada yang merawat Kenichi di rumah. Karena itu aku menginap di rumah."
Di raihnya kedua tangan mungil Kenichi, dan kembali melanjutkan perkataannya, "Tapi untuk malam ini … aku rasa sudah tidak punya alasan untuk menginap di rumah Kenichi lagi, karena sudah ada Tou-chanmu yang menemani. Gomen ne. "
Seakan ada gumpalan duri yang bersarang di tenggorokannya saat Sakura mengatakan demikian. Terlebih saat kedua mata hijau apelnya berada pada satu garis lurus dengan jelaga hitam Kenichi yang sudah mulai berkaca-kaca.
Ia menengakkan tubuhnya dan bertatapan langsung dengan mata onyx milik Sasuke.
"Maaf, aku tidak bisa."
"Apa Sakura-bachan membenciku Tou-chan?" Tanya Kenichi ketika ayahnya menaikkan selimut sampai batas dagu mungilnya.
Malam ini, Kenichi meminta agar mereka tidur bersama di kamar ayahnya.
Sejak Kenichi masih baby, ia sudah memiliki kamar sendiri. Bukan karena Sasuke merasa terganggu ketika Kenichi berada di sekitarnya. Bukan juga karena Sasuke belum terbiasa menerima sosok bertubuh mungil itu berada di sampingnya. Itu Sasuke lakukan agar Kenichi tumbuh menjadi anak laki-laki yang tangguh, pemberani, dan mandiri. Sebagaimana cara Mikoto mendidik Sasuke dan kakaknya dulu, demikian juga ia terapkan kepada anak kecil bertubuh mungil itu.
Tidak ingin membuat anaknya larut dalam kesedihan—setelah kepulangan mereka dari apartemen Sakura, untuk malam Sasuke menginzinkan Kenichi tidur bersamanya dan memberikan pelukkan hangat di tubuh mungilnya.
Setidaknya dengan begini, Sasuke dapat menghibur kesedihan Kenichi.
"Tidak. Dia tidak membencimu," Jawabnya singkat. 'Tapi dia membenciku.'Tambahnya lagi, tapi kali ini ia tujukan kepada dirinya sendiri.
"Dia bahkan tidak mencium keningku seperti malam sebelumnya."
Ada getaran yang menyusup dalam dada Sasuke ketika ia mendengar ucapan Kenichi. Entah bagaimana, Sasuke ikut turut merasakan kesedihan anaknya karena memang tidak pernah lagi mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu. Atau mungkin ada perasaan lain yang Sasuke rasakan? Entahlah. Sasuke sudah lelah mencari tau perasaan apa yang dia rasakan ini.
"Kalau begitu, aku yang akan mencium keningmu." Katanya menanggapi ucapan Kenichi.Setelahnya ia membawa tubuh mungil anaknya kedalam pelukan hangatnya. "Tidurlah." Katanya sambil mengelus rambut hitam Kenichi.
Malam itu Sasuke sepertinya menyadari bahwa dalam satu hari ini, ia telah menyakiti perasaan orang-orang disekitarnya.
Tanpa sepengetahuan Sasuke, Itachi yang mengintip dari pintu kamar Sasuke menyeringai mendengar pembicaraan sepasang ayah dan anak itu. Dalam hatinya, Itachi berharap kalau Kenichi sebentar lagi akan meraih kebahagiaan keluarga mereka. Terlebihan kebahagiaan untuk ayahnya, Sasuke.
Sudah terlalu lama rasanya Sasuke menutup diri dan sulit menerima kehadiran orang lain di sisinya.
Jika Sasuke tidak mampu membuat dirinya bahagia, maka biarkan Kenichi sendirilah yang akan meraih kebahagiaannya.
Beberapa hari telah berlalu sejak kedatangan Sasuke ke apartemennya.
Malam itu, Sakura tidak dapat tidur dengan tenang. Rasa bersalah selalu hinggap di dalam hatinya.
Terlebih karena ia telah melukai perasaan seorang anak kecil seperti Kenichi yang memang membutuhkan kasih sayang dari sesosok wanita dewasa seperti dirinya.
Sakura tahu seperti apa dibesarkanoleh seorang ayah, karena sampai saat inipun ia masih merasakannya.
Terlebih lagi, ayah Kenichi lebih memprioritaskan pekerjaannya di atas apapun.
Sudah hampir dua bulan menjadi bawahan Sasuke, Sakura sudah cukup mengenal seperti apa sifat lelaki berhati dingin itu. Jika Sakura diperkenankan memberi pendapat seperti apa sosok lelaki angkuh itu, maka ia akan menjawab, bahwa Sasuke itu mengurutkan pekerjaannya berada pada urutan pertama dan keluarga diurutan setelahnya.
Darimana ia mengetahuinya? Semua karyawan yang bekerja di Uchiha Corperation juga tahu hal itu.
Jika pemimpin di tempat ia bekerja dulu datang pada pukul sepuluh pagi, Sasuke selalu datang sama seperti karyawan yang lain. Bahkan Sasuke rela menghabiskan waktunya berlama-lama di ruang kerjanya, ketimbang segera pulang ke rumahnya. Sakura bahkan sudah beberapa kali mendapati Sasuke di pagi harinya, karena lelaki itu tertidur di atas meja kerjanya atau bahkan di atas sofa tamu ruang kerjanya.
Awalnya Sakura tidak tega untuk menolak ajakan Kenichi malam itu. Tapi, keberadaan sosok pria arogan yang berdiri disamping anak kecil itu lah yang membuat Sakura harus menolak permintaannya.
Sakura cukup beruntung sejak malam itu, pekerjaannya beberapa hari ini tidak terlalu banyak. Sehingga intensitas Sakura untuk bertemu dan bertatapan muka dengan Sasuke sedikit berkurang. Sakura bahkan dapat pulang lebih awal dari yang biasanya.
Sore menjelang malam, salju masih belum kunjung turun seperti hari-hari sebelumnya. Hawa dingin yang semakin terasa, tidak mengurangi aktivitas masyarakat Konoha.
Sore ini, Sakura dan Tenten berada di dalam café langganan mereka sejak masih kuliah dulu. Sudah cukup lama juga mereka tidak berkumpul seperti saat ini.
Mengingat usia kandungan Hinata sudah memasuki bulannya, calon ibu muda itu tidak dapat hadir bersama mereka. Terlebih karena cuaca di luar memang sedang tidak mendukung.
Jadi, yang mereka tunggu kehadirannya adalah gadis cantik bersurai pirang pucat, Yamanaka Ino.
Mereka harap maklum saja dengan kesibukkan sahabat mereka bermata aquamarine itu.
"Bagaimana pria yang diperkenalkan Ino padamu?" Tanya Tenten memulai pembicaraan mereka dengan semangat.
Seringai wanita berambut coklat itu terlihat di wajah cantiknya.
Sejak Ino menceritakan kepada Tenten kalau gadis yang berprofesi sebagai desainer itu akan segera memperkenalkan teman lelakinya kepada Sakura, Tenten terlihat sangat bersemangat.
Ino memang sebelumnya sudah mengirimkan sebuah foto kepadanya, sehingga Tenten bisa menilai sendiri seperti apa sosok lelaki yang akan Ino jodohkan dengan sahabat merah muda mereka ini.
Sayangnya, saat acara penggalan dana kemarin, Tenten tidak dapat ikut serta karena ada urusan keluarga dari pihak suami yang harus ia hadiri. Sebab itu Tenten bertanya kepada Sakura.
Sakura yang mendengar pertanyaan Tenten, hanya bisa melengkungkan alis merah mudanya ke atas. "Apa?" Tanyanya bingung.
Tenten memutar mata coklat madunya menanggapi sikap polos Sakura. "Jangan sok polos denganku, Sakura." Tenten memotong matcha tiramisu miliknya kasar dan memasukkannya ke dalam mulutnya dengan potongan besar, melampiaskan kekesalannya kepada gadis yang duduk di hadapannya saat ini.
"Kau pikir, aku tidak tahu kalau Ino memperkenalkan teman lelakinya kepadamu? Bahkan sebelum kau bertemu dengannya, aku sudah lebih dulu melihat wajahnya."Kata Tenten dengan nada sinis setelah menelan makanannya.
Kening Sakura semakin dalam terbentuk, mendengar kalimat panjang yang keluar dari bibir manis Tenten. Sakura bukan sok polos seperti yang dituduhkan Tenten kepadanya. Sakura pure tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Tenten kepadanya saat ini.
Pria? Teman lelaki? Pikirnya bingung.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan." akunya. "Jika teman lelaki Ino yang kau maksud adalah Uchiha Sasuke, ya, aku sudah mengenalnya. Bahkan pertemuan pertama kami sangat menyebalkan."
Sakura memekik saat tiba-tiba Tenten mencubit lengannya. Terlihat sekali kalau wanita berambut coklat itu sangat gemas menghadapi sikap cuek gadis penyuka latte itu. "Buat apa aku menanyakan Sasuke kepadamu kalau kau sudah mengenalnya. Yang kumaksud itu, lelaki yang bernama Ka—"
"Teman-teman, maaf membuat kalian menunggu." Kehadiran Ino membuat ucapan Tenten terputus.
Gadis bersurai pirang panjang itu terlihat masih ngos-ngosan. Anak rambutnya pun terlihat sedikit berantakan di sisi wajahnya. Walaupun dengan tampilan yang sedikit berantakan, gadis cantik yang seperti boneka Barbie itu masih terlihat memukai.
"Aku punya kabar gembira." Katanya tiba-tiba dengan nada suara yang keras dan membuat beberapa pelanggan café sejenak menoleh ke arah mereka.
Bukan hanya Sakura saja yang memutar bola mata. Tenten juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Sakura. Ini bukan pertama kalinya mereka menghadapi kehebohan keturunan dari klan Yamanaka itu.
Jika suasana hati Ino yang sedang meledak-ledak seperti saat ini, gadis cantik itu tidak perduli dengan tatapan aneh orang-orang sekitarnya. Ino tetap mempertahankannya dan akan tetap berbicara dengan nada keras sekalipun itu di muka umum.
Bukan hal aneh bagi mereka menghadapi sikap Ino yang seperti ini. Kalau Ino berbicara dengan lembut dan sekalem Hinata, mereka baru mempertanyakannya.
"Kabar apa?"
"Hei! Aku serius." Sungut Ino melihat mimik wajah Tenten tidak tertarik akan kabar yang ia sampaikan kepada mereka. Hal sekecil apapun, Ino pasti mendramatisasikannya. "Apa kalian tahu, sekarang aku sudah menjadi seorang Aunty." Ucapnya bersemangat.
Sakura yang mendengarnya, merotasikan bola mata hijau cerahnya, lagi. Terlalu malas menanggapinya. "Keponakan dari mana? Bukannya memang sudah lama kau menjadi Bibi-bibi."
Ino mendengus mendengar cacian Sakura kepadanya. Tenten yang ikut mendengar godaan Sakura, hanya terkikik geli. "Semakin hari, mulutmu semakin licin, Sakura."
Berhasil membuat gadis bersurai pirang pucat itu kesal, membuat tawa Sakura dan Tenten semakin keras. Jarang-jarang mereka kumpul seperti saat ini dan berberhasil mengolok Ino.
"So?" Tanya Tenten setelah menyudahi tawanya. "Yang kami tahu, Oji-san memang anak tunggal, dan demikian juga halnya denganmu. Jadi bagaimana mungkin dirimu memiliki keponakan? Tapi, lain cerita kalau keponakanmu itu kau dapat dari kerabat jauhmu."
Sakura menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang dikatakan Tenten sambil sesekali menikmati pesanannya.
"Sahabat macam apa kalian ini, sampai tidak tau kalau sahabatnya sendiri sudah melahirkan?" Decak Ino kesal sambil bertolak pinggang, seperti seorang guru yang mengetahui bahwa muridnya sedang bermain-main saat ia menerangkan.
"Co-cotto matte," potong Sakura tiba-tiba setelah ia pulih dari sedakannya. "Tadi kau bilang, kalau kami tidak mengetahui bahwa sahabat kami sudah melahirkan? Yang kau maksud itu, Hinata bukan?"
"Jadi, Hinata sudah melahirkan?" Kali ini Tenten yang ikut menambahkan perkataan Sakura. Kelihatan sekali bahwa kedua perempuan yang berbeda warna rambut itu tidak tau sama sekali.
Dilihat dari ekspresi mereka yang terpelongo, Ino menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan mereka.
"Itu makanya aku mengatakan aku punya keponakan." Ucap Ino garang. Kali ini tatapan nyalang ia berikan langsung ke sepasang kolam madu milik Tenten. "Harusnya, kabar seperti ini kau duluan yang lebih tau daripada aku. Kakak ipar macam apa kau ini, sampai kabar seperti ini saja kau tidak tahu." Kata Ino sambil menarik telinga Tenten gemes.
Yang ditarik telinganya hanya meringis dan segera menjauhkan tangan mulus Ino dari telinganya.
"Kau tau dari mana kalau Hinata melahirkan? Bukannya, kandungan Hinata belum genap sembilan bulan, ya?"
Bukan hanya Tenten, Ino juga ikut mengerutkan keningnya mendengar perkataan Sakura. Ada keraguan yang terselip di hatinya. "Aku juga belum tau pasti cerita lengkapnya. Tapi ketika Kaasanberbicara dengan Kushina Oba-san sebelum aku berangkat kemari, seseorang yang mereka ceritakan—yang aku tidak tau siapa pastinya—harus segera melakukan operasi. Jadi, aku menduga mereka pasti sedang membicarakan Hinata." Kata Ino menjelaskan.
Keluarga Ino dan keluarga Naruto masih bisa dikatakan sepupu, meski mereka kerabat jauh. Ciri khas yang paling terlihat bahwa mereka satu kerabat dari, rambut mereka yang berwarna pirang dan warna mata sebiru lautan itu. Oh, dan jangan lupakan kalau Ino dan Naruto sama-sama tipe orang yang tidak bisa diam, dan keras kepala.
Karena itu, tidak heran jika Ibu Naruto saling memberikan kabar dengan Ibunya Ino.
"Kau yakin, bahwa yang mereka bicarakan itu Hinata?" Tanya Sakura lagi. Kali ini dengan tatapan curiga di iris mata hijau apelnya.
Yang ditatap, hanya memberikan cengiran merasa bersalah karena informasi yang ia berikan masih belum akurat. Ino merutuki dirinya yang lebih cepat bertindak ketimbang berpikir dulu.
Sakura yang sudah hafal dengan gelagat Ino yang seperti ini, hanya menghela napas pasrah.
"I—ittai."
Sakura yang mendengar cicitan kesakitan, menolehkan wajahnya ke samping.
Bukannya prihatin, Sakura malah tertawa lebar ketika melihat telinga Ino yang ditarik Tenten karena telah menarik telinganya tadi.
"Ini akibatnya, kalau kau nguping." Tangan Tenten masih setia bertenggek di telinga mungil Ino. "Sekarang minta maaf sama, Neechan!"
"Kenapa?" Tanya Ino bingung.
"Kenapa katamu? Kau sudah menarik telingaku, dan juga atas ucapanmu yang tadi, tentunya saja."
Gadis bermata biru laut itu, menanggupkan kedua tangannya di depan dada sebagai bukti bahwa ia telah menyesali perbuatannya kepada wanita yang usianya lebih tua satu tahun. "Maafkan saya, Tenten-Neechan."
Dengan Ino berkata demikian, tawa Sakura dan Tenten menggema di dalam café minimalis karena kembali berhasil menjahili Ino.
Salah satu kamar rawat di Rumah Sakit Konohagakure, dipenuhi dengan tawa bahagia. Dimana salah satu pasien yang di rawat di Rumah Sakit tersebut, tadi malam telah melahirkan sepasang putri-putri di tengah-tengah keluarga Uzumaki. Ruangan yang tidak terlalu besar itu telah dihadiri oleh sanak keluarga, sahabat, dan kerabat.
Senyum suka cita tercetak jelas di wajah masing-masing penghuni ruangan itu. Terutama senyum lebar ayah baru di keluarga Uzumaki itu tidak pernah lepas barang sedetikpun.
"Cucu cantiknya Nenek, namanya siapa?" Suara Kushina yang berkumandang membelah percakapan diruangan bercat putih tersebut. Penghuni ruangan rawat Hinata yang tadinya berisik menjadi hening, seakan mereka kompak ingin mengetahui nama cucu pertama di keluarga Namikaze Minato.
"Hima." Kata Hinata dengan suara lemahnya." Uzumaki Himawari." Kali ini Naruto yang memberitahu.
Bayi mungil yang memiliki warna rambut seperti rambut indigo Mamanya, tersenyum di dalam gendongan nyaman Neneknya setelah ayahnya selesai memberitahukan namanya.
"Kalau yang cowok?" Kali ini Ino yang bertanya.
"Kalau jagoan kecilku, namanya Uzumaki Boruto." Kata Naruto dengan menggebu-gebu.
"Ekh, Cucuku, tersenyum."
Mendengar pekikan nyaring istrinya, Minato bangkit dari duduk nyamannya dan menghampiri istrinya yang asik mengamati wajah cantik Himawari.
Jika pasangan orangtua di keluarga Uzumaki itu menikmati peran baru mereka sebagai Kakek dan Nenek, orangtua sang bayi asik bercerita dengan sahabat-sahabat mereka yang saat ini ikut hadir meramaikan kelahiran sang buah hati.
"Kalau nanti aku bertemu dengan Tenten, aku akan menjewer telinganya." Decak Ino kesal karena berhasil dijahili sahabat merah muda dan kakak ipar Hinata tempo hari.
Setelah Ino kembali ke kediaman orangtuanya yang cukup dekat dengan salah satu kantor stasiun televisi tempat ia menyelenggarakan peragaan busana, Ino langsung menanyakan langsung perihal pembicaraan Ibunya dengan Ibu mertua Hinata.
Hasilnya, cukup membuat Ino seperti orang yang kebakaran jenggot. Berbagai macam umpatan keluar dari bibir tipisnya.
Sementara sang Ibu yang terlihat awet masih muda itu, hanya sweatdropmelihat tingkah anak sematawayangnya berbicara sendiri, sampai tidak sadar kalau surat kerja sama dengan stasiun TV yang masih ia pegang sudah tidak berbentuk lagi karena ia remas sebagai tempat pelampiasannya.
"Kenapa begitu?" Tanya Naruto bingung melihat wajah sepupu jauhnya sudah memerah menahan kesal.
"Kau tau—"
"Aku tidak tau, karena kau belum cerita." Kata Naruto memotong perkataan Ino dan berhasil mendapatkan sebuah hadiah manis di kepalanya.
" Aku belum selesai, bodoh!"
Hinata yang melihatnya, hanya tersenyum maklum melihat tingkah pasangan berambut pirang tersebut. Bukan sekali, dua kali, Naruto dan Ino bertingkah seperti tadi.
Salahkan Naruto yang sangat hobi membuat sepupunya marah.
Tidak beberapa lama, gadis cantik berusia 26 tahun yang menjadi topik pembicaraan mereka datang.
"Selamat sore." Sapanya, selesai ia menutup pintu ruang inap Hinata.
"Akhirnya kau datang juga, Jidat." Di antara penghuni kamar rawat itu, hanya sapaan itu yang beda dari yang lainnya. Dan itu menimbulkan tanda tanya besar dalam benak Sakura.
"Ada apa? Kenapa kau melihatku seakan aku ini adalah buruanmu?" tanya Sakura setelah ia selesai memberikan hormat kepada kedua orangtua Naruto.
Ayah Hinata sudah lebih dulu pulang sebelum Sakura datang.
Yang ditanya hanya memberikan seringai mengejek.
Sakura menaikkan bahunya, acuh. Kedua mata hijau cerahnya berbinar saat melihat kedua bayi mungil yang saat itu berada di dalam gendongan nenek dan ibunya. Sakura ikut merasakan kebahagian yang dirasakan keluarga Uzumaki saat melihat kedua buntalan itu.
"Boleh aku menggendongnya?" tanya Sakura meminta Izin.
Hinata tersenyum tulus, "Tentu saja Sakura-chan."
Awalnya Sakura takut. Hinata membantunya dan akhirnya ia meraih bayi perempuan mungil itu dari gendongan ibunya dan membawanya kedalam pelukkannya dengan sangat hati-hati.
Ia elus pipi tembam itu dengan penuh kelembutan. "Siapa nama anak manis ini, Hinata-chan?"
"Himawari, Sakura-chan."
"Dia cantik sepertimu. Semoga saja jika ia sudah besar kelak, tidak seperti ayahnya. "
Naruto yang mendengar ucapan gadis musim semi itu hanya mendecih sebal. Sementara yang lainnya ikut menimpali guyonan Sakura. Suasana yang memang sejak awal sudah dipenuhi dengan kebahagian, semakin terasa hikmat.
Walau hari sudah semakin gelap, tidak mengurangi kebahagian di ruangan itu surut.
Kedua orangtua Naruto sudah lebih dulu pulang. Tapi suasana kamar rawat itu justru semakin ramai selama masih ada Naruto dan Ino. Sampai pertanyaan ayah muda itu mengingatkan mereka perihal tantangannya dengan gadis musim semi tersebut.
"Sakura-chan …" panggil Naruto tiba-tiba. " Jadi, kapan kami akan mendapat kartu undangan darimu? Ini sudah memasuki bulan ketiga, loh." Ada nada ejekan saat ia mengatakan demikian.
"Sudah memasuki bulan tiga, bukan berarti aku kalah 'kan, Naruto. Masih ada waktu dua minggu lagi dari waktu perjanjian kita. Itu berarti aku belum kalah." Sungutnya.
"Loh, harusnya saat ini kami sudah menerima kartu undangan darimu. Ya, mengingat kau sudah memiliki seorang kekasih."
Ino melebarkan kedua mata aquamarinenya mendengar bahwa Sakura telah memiliki kekasih tanpa sepengetahuannya.
"Kau sudah memiliki kekasih, Sakura? Dan kau menyembunyikannya dariku?" tanyanya garang.
"Apa maksudmu, Ino? Aku—"
Belum sempat Sakura menyelesaikan perkataannya, terdengar suara pintu yang di dorong, pertanda ada tamu yang akan datang berkunjung ke ruang rawat Hinata.
Seluruh pandangan mereka tertuju ke arah pintu ingin tahu siapa orang yang akan masuk. Dan rasa penasaran mereka terjawab sudah saat melihat seorang anak laki-laki bersurai hitam gelap masuk dengan napas terengah-engah. Terlihat sekali, bahwa anak laki-laki itu berlari menuju ruangan ini.
Sementara sang ayah hanya berdiri dalam diam di belakangnya.
"Halo paman Naruto. Kenichi datang mau lihat adik bayi." Sapa Kenichi tanpa melupakan cengiran khas anak-anak pada umumnya. Tanpa ada yang memberi izin, Kenichi menarik kursi yang tidak jauh dari tempat tidur Hinata dan memanjatnya.
"Bachan."
Hinata tersenyum saat Kenichi sudah duduk manis disampingnya. "Kenichi, mau lihat adik bayi ya?"
Kenichi menganggukkan kepalanya cepat. "Nanti ya, sayang. Adik-adik sepupu kamu lagi di bawa suster." Kata Hinata tulus.
Kenichi yang mendengar kata 'suster' mengernyitkan keningnya. "Apa adik bayi sedang sakit, Bachan?"
Mendengar nada polos Kenichi, membuat ruangan itu kembali ramai seperti sebelumnya. "Tidak. Adiknya sehat." Jawab Hinata tulus dengan penuh kasih sayang.
"Terus, kenapa tidak tinggal disini saja?"
"Ekh, Kenichi sekarang sudah bisa bilang 'Rrr', ya." Celetuk Ino sebelum Hinata sempat menjawab pertanyaan Kenichi.
Merasa namanya dipanggil, Kenichi membalikkan tubuhnya sehingga berhadapan dengan sofa tamu yang sudah di isi oleh teman-teman ayahnya.
"Iya." Katanya malu-malu, sampai jelaga hitamnya melebar melihat seseorang yang ia rindukan duduk manis disana. "Bachaaaaann…"
Kenichi segera melompat tadi tempat duduknya, dan berlari menerjang Sakura.
Tidak ada yang tahu kalau reaksi Kenichi akan seperti itu ketika bertemu Sakura. Bukan hanya Sakura, beberapa pasang mata yang berlainan warna yang ada di ruangan itu juga kaget melihat kedekatan Kenichi dengan gadis bersurai permen gulali itu.
Cukup lama Sakura diam, sampai ia tersadar saat mendengar suara tangisan yang tertahan dari dalam pelukannya. Ada kecanggungan saat Sakura membalas pelukan dari sosok bertubuh mungil itu.
Terlebih lagi saat mata hijau apelnya, tidak sengaja berpapasan dengan sepasang mata hitam dari sosok yang lebih dewasa versi Kenichi.
"Bachankenapa tidak pernah lagi datang ke rumah Kenichi? Bachanbenci ya sama Kenichi?" Ucap Kenichi.
Meski Kenichi mengucapkannya cukup pelan, tapi dapat di dengar oleh beberapa pasang telinga dewasa, dengan sangat jelas. Rasa bersalah yang memang sudah bersarang di dalam hati Sakura, semakin bertambah sejak Kenichi berkata demikian.
Dielus surai hitam Kenichi dengan penuh kelembutan. " Tidak. Aku tidak pernah membencimu."
Kenichi menengadahkan wajahnya untuk melihat adanya kebohongan di mata perempuan yang memeluknya saat ini.
Sakura menghapus jejak air mata yang masih menempel di pipi Kenichi. "Sebagai ucapan maaf, bagaimana kalau Kenichi ikut Bachanmelihat adik bayi? Setelah itu kita beli ice cream. Kenichi mau?"
Feedback yang diberikan Sakura memang terdengar menggiurkan di telinga Kenichi. Melihat adik bayi memang itu tujuannya datang. Tapi untuk ice cream, Kenichi tidak yakin kalau ayahnya akan mengizinkannya memakan makanan beku berbahan dasar dari susu itu, saat ini.
Dengan perasaan campur aduk, Kenichi melihat kearah ayahnya sekedar ingin tau seperti apa reaksinya. Kenichi tidak menyangka sebuah anggukan yang ia terima begitu kedua mata hitamnya fokus kepada ayahnya.
Kenichi yang tadinya sedih, kembali bersemangat seperti sediakala. Senyumnya kembali lebar, memamerkan deretan giginya yang putih dan terawat.
Disaat Sakura membawa Kenichi keluar, sepasang mata hitam yang lainnya memperhatikan mereka sedari tadi.
"Kenichi-kun."
Kenichi hanya memberikan senyuman yang menawan sebagai tanggapan kalau ia mendengar namanya di panggil oleh Mikoto. Ia masih terlalu asik bermain dengan mainan baru miliknya sehingga tidak ingin meninggalkannya hanya sekedar menghampiri Ibu dari Touchan-nya.
"Baachan,Kenichi punya puzzle baru, loh." Kenichi segera memamerkan puzzle yang gambarnya salah satu tokoh cartoon favorit-nya yang hampir setengah ia susun, setelah ia melihat Ibu dua anak itu menghampirinya dan duduk menemaninya di ruang tamu.
"Oh ya? Di beri Touchan,ya?" Kenichi menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Mikoto.
Perhatiannya masih serius dengan mainan barunya itu. "Kalau begitu dari Itachi-Jisan?" Tanya Mikoto lagi, dan tetap masih mendapat gelengan dari Kenichi.
"Terus, dari siapa?" Mikoto mulai terlihat semakin penasaran melihat tingkah Kenichi yang tiba-tiba tersenyum lebar di hadapannya.
Ada kerutan di keningnya. Ia mulai resah saat cucunya itu mendapat sebuah hadiah dari orang asing. Ia tidak ingin cucunya ini menjadi salah satu korban kejahatan seperti di koran yang ia baca tadi pagi tentang penculikan anak kecil dan organ penting dalam tubuhnya di jual dengan harga yang mahal. Ia tidak ingin Kenichinya seperti korban-korban di dalam surat kabar itu.
"Kenichi, sayang, jawab Obaasanjujur, ya. Dari siapa Kenichi menerima itu?" Kali ini ia meraih wajah mungil Kenichi dengan kedua tangannya, sehingga seluruh atensi Kenichi ada padanya.
"Dari Bachancantik,"
"Bachancantik?"
"Iya. Karena Bachantidak pernah lagi datang berkunjung ke rumah, Kenichi di ajak lihat adik bayi Naruto-jisan. Bachanjuga membelikan Kenichi ice cream coklat dan puzzle ini, Baasan."Kenichi dengan semangat mencerikan kepada neneknya dari mana ia peroleh hadiah kecil yang terima tadi sore, tanpa menyadari kalau wajah wanita berusia lima puluh tahun itu sudah mengeras.
Dia akan menanyakan langsung kepada Sasuke siapa perempuan yang memberikan Kenichi hadiah.
Ya. Harus.
Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Tapi, pria tampan bersurai sehitam malam itu masih berada di kantornya. Telepon genggamnnya ia pegang dengan sangat erat seakan ingin meremukkannya dengan tangan kokohnya.
Sepulang Sasuke dari Rumah Sakit, ia langsung mengantar Kenichi pulang dan kembali ke kantornya untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Ya, itu hanya alasannya saja kepada Kenichi.
Sejak ia berada di dalam mobil hendak menjemput Kenichi—seperti janjinya kepada bocah manis itu untuk melihat anak dari sahabatnya, ia mendapat e-mail masuk ke ponselnya bahwa seseorang dari masa lalunya akan kembali ke Jepang. Perasaannya saat ini benar-benar campur aduk. Ada perasaan rindu dan terkhianati merangkap di dalam hatinya.
Sebisa mungkin ia menepis perasaan rindu itu dengan mengingat ucapan orang itu yang secara tidak sengaja ia dengar langsung dari mulutnya.
Dengan kesal, minuman beralkohol yang ada di atas meja kerjanya ia minum dengan sekali tegukan dan meninggalkan rasa terbakar di kerongkongannya saat meneguknya.
Setelahnya, ia bergegas menuju basemant, dimana mobil mewahnya terparkir dan membawanya membelah jalanan yang cukup lengang malam ini.
Sasuke tidak tahu kenapa ia membawa mobilnya ke bangunan ini.
Sasuke bukan tanpa pertimbangan datang ke bangunan ini. Sasuke sudah cukup muak mendengar kata-kata orang sok tau seperti kakaknya dan sahabatnya.
Sekembalinya Sakura dan Kenichi ke ruang rawat Hinata, Sasuke beranjak dari duduknya ingin membeli kopi di kafetaria Rumah Sakit.
Tidak lama berselang, Naruto juga keluar ruangan hendak membeli beberapa cemilan dan minuman untuk mereka.
Naruto melihat Sasuke duduk di pojokan kafetaria. Dihampirinya pria tampan yang selalu menjadi pusat perhatian kaum hawa itu.
"Kupikir, sejak kau mengasuh Kenichi, kau sudah berhenti merokok, Teme."
Awalnya, Sasuke mengabaikan suara riang Naruto yang mengusik ketenangannya. Setelah menghisap gulungan tembakau itu, Sasuke menjawab, "Sesekali, kalau sudah stress."
Naruto mengangguk paham. Naruto menarik kursi dan duduk di kursi yang ada di hadapan Sasuke. "Aku baru tau kalau Kenichi sudah sangat akrab dengan Sakura-chan."
"Hn." Sahutnya malas.
Sasuke sudah terlalu bosan mendengar nama perempuan itu selalu disebutkan orang-orang di sekitarnya. Tidak Kenichi, Itachi, sekarang Naruto juga.
Apa Naruto tidak tau kalau di rumah Itachi selalu membuat Kenichi mengingat perempuan itu, karena ulah kakaknya, Sasuke mendapat banyak rentetan pertanyaan antusias dan memintanya agar bertemu perempuan itu?
Belum lagi, kadang Kenichi memohon kepadanya agar perempuan berambut kembang gula itu menginap ke rumah mereka.
"Kalau mereka sudah dekat, kenapa tidak kau lamar saja Sakura-chan?"
Sasuke menempelkan gulungan yang mengandung nikotin itu ke dalam mulutnya, menghisap dan mengeluarkan asapnya dari hidung mancungnya. "Kau bukan orang pertama yang berpendapat seperti itu, Dobe." Sahutnya.
"Oh, jadi sudah ada orang lain yang lebih dulu menyadirinya." Naruto tertawa garing. "Siapa?"
"Itachi-nii no baka."
"Kalau Itachi-nii saja sudah setuju, apa lagi yang kau tunggu?" Naruto mengerutkan keningnya. Naruto menatap Sasuke dengan seksama. Terlalu sulit menyelami apa yang ada di dalam pikiran lelaki yang ada dihadapannya ini.
Ia sudah mengenal Sasuke. Sudah sangat lama, dan sampai sekarang Naruto bahkan tidak mengerti dengan jalan pikirannya. Apa yang menjadi momok Sasuke, sampai lelaki itu takut untuk menjalin hubungan dengan seorang gadis, Naruto tidak tau.
Bicara tentang gadis, bukan tanda alasan Naruto meminta Sasuke melamar Sakura. Pria pirang ini sudah sangat tau seperti karakter salah satu sahabat istrinya itu.
Sakura punya paras yang cantik, pintar, mandiri, bertanggung jawab, periang, ya meski sedikit agak kasar khususnya kepadanya, setidaknya jika bersama Sakura, Naruto merasa dunia menjadi semakin hidup. Sangat cocok dengan sahabatnya yang selalu terlihat suram ini.
Naruto bangkit dari duduknya, dan menepuk pundak lebar Sasuke, "Kau boleh mempertimbangkan perkataanku ini, kawan." Suara Naruto terdengar sarat akan ketegasan, "Seorang gadis yang mau langsung menerima kekurangan kita, memang sangat langka sekarang. Sakura gadis cantik yang dapat menarik perhatian banyak lelaki. Jika Kenichi saja sudah cukup dekat dengannya, jangan kau sia-sia kan kesempatan seperti ini kalau kau tidak ingin kehilangannya."
Bangunan yang dimana salah seorang pemilik apartemen yang berada di lantai 5 bangunan ini sedang mimpi indah. Dengan ringan, ia langkahkan kakinya memasuki bangunan itu dan menapaki anak tangga yang akan membawanya ke depan pintu apartemen nomor 402.
Dan di sinilah Sasuke sekarang.
Di depan pintu yang terlihat cukup kokoh untuk melindungi seseorang yang berada di dalamnya.
Pertama kali ia datang kemari, setelah pemilik apartemen itu menjaga putranya. Yang kedua, meminta gadis itu agar menginap di rumahnya dan memenuhi keinginan putranya. Dan ini yang ketiga kalinya ia datang kemari dan ini juga untuk kebaikkan putranya.
Tidak ada yang lebih penting lagi jika sudah menyangkut tentang Kenichi.
Bocah yang sebentar lagi akan berumur dua tahun itu adalah prioritas utama dihidupnya. Hampir dua tahun menjadi ayah untuk Kenichi, membuat Sasuke benar-benar seperti sosok seorang ayah yang sesungguhnya.
Keputusannya sudah bulat.
Tanpa ada sedikitpun keraguan, ia tekan bel yang ada disana dan tidak beberapa lama tampaklah seorang gadis yang memiliki rambut merah muda yang sedikit berantakan saat pintu bercat coklat itu terbuka.
"Sasuke?" Sakura cukup kaget melihat sosok atasannya berdiri depan pintu apatemennya. Terlebih lagi saat ini sudah larut malam. "Apa yang kau la—"
"Menikahlah denganku, Sakura."
A/n : Hai.
Uda hampir setahun semua fict saya terlantarkan. Saya minta maaf untuk itu. Saya juga mengucapkan banyak terima kasih kalian masih setia menunggu fict ini. Kalian bahkan meluangkan waktu untuk mengingatkan saya melalui PM, DM, BBM agar segera melanjutkan semua fict saya. #Kecups
Fict ini bisa sampai sejauh ini berkat dukungan kalian juga. Senangnya bisa mendapat dukungan dari kalian di kotak ripiu. Fict ini bakalan sampai selesai kok. Jadi tenang aja. Sesibuk apapun pasti akan saya luangkan waktu saya untuk melanjutkannya. Karena itu jangan lelah memberi semangat ya. ^^
Maaf kalau chapter ini masih sangat pendek. Saya janji, chapter selanjutnya akan lebih panjang. :D Kalau masih ada typo, ingatkan saya ya. ^^
.
.
[Biiancast Rodith] 06032016
