Disclaimer: 17 © Pledis Entertainment


.

.


Unsolved Riddle


.

.


7


Kalau ada satu hal yang Mingyu pelajari tentang Jeon Wonwoo sejak diskusi pagi mereka sekitar satu minggu yang lalu, itu adalah kalau Wonwoo sama sekali tidak berbohong. Saat dia mengaku buruk dengan komitmen, dia sama sekali tidak bercanda. Mingyu tahu itu sekarang. Sekarang dalam artian hari ini, detik ini, saat ada di pesta akhir pekan yang diadakan Seungcheol di apartemennya.

Mingyu sudah duduk di titik yang sama selama hampir tiga puluh menit, tidak berbicara, tidak menari, tidak mencoba mencari pasangan untuk bercinta. Beberapa orang sudah bolak-balik menghampirinya, perempuan, laki-laki, mencoba menawarkan percakapan atau bibir mereka untuk dicium, tapi Mingyu bergeming. Sama sekali tidak tertarik. Karena dia bukan Wonwoo. Ha! Ngomong-ngomong soal Wonwoo, selama tiga puluh menit Mingyu mengawasinya dari sofa ini, dia sudah bertukar partner cengkrama sebanyak lima kali. Ya, itu yang dilakukan Mingyu sepanjang pesta. Menjadi stalker Wonwoo.

Wonwoo sekarang sedang berbicara dengan seorang pemuda berambut pirang. Mingyu mencatat dalam hati kalau yang ini sudah bertahan jauh lebih lama dari empat orang sebelumnya. Rasanya seperti sudah lebih dari sepuluh menit sejak mereka duduk berdua di tangga, berbicara, tertawa, berbagi bir dan rokok, saling berbisik di telinga satu sama lain. Terlalu intim untuk bisa ditoleransi oleh Mingyu.

Huh? Memangnya kau siapa?

Mingyu menggelengkan kepala berkali-kali. Mencoba mengusir energi negatif. Lalu dia meminum birnya sendiri. Sekarang, Mingyu tidak berniat menjadi seorang party pooper, perusak suasana yang memasang wajah masam dan membuat siapa pun yang hendak mendekat harus berpikir dua kali. Tapi dia betul-betul tidak bisa tidak merasa sedikit marah dengan cara Wonwoo tertawa pada apa pun yang dibisikkan si rambut pirang tepat di telinganya. Lagi pula kenapa dia harus berbisik dengan cara seperti itu? Tanpa perlu menempelkan bibir ke daun telinga Wonwoo, Mingyu cukup yakin Wonwoo bisa mendengarnya dengan baik.

Mingyu mendengus keras saat pemuda rambut pirang itu meraih tangan Wonwoo, menyentuhnya lembut dengan jari-jarinya lalu menjalankannya ke bibirnya. Dan ketika pipi Wonwoo berubah menjadi merah, Mingyu akhirnya memalingkan mata. Dia cemburu. Marah. Kecewa. Tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Karena dia tidak punya hak. Wonwoo sudah memperingatkan kalau dia buruk dengan komitmen, tapi Mingyu sama sekali tidak mengharapkan yang seperti ini.

Permintaan Wonwoo pagi itu, sekarang Mingyu sama sekali tidak tahu cara menerjemahkannya. Apakah dia seharusnya tidak lelah dengan Wonwoo yang seperti ini. Bertahan dengan perasaannya sendiri sementara Wonwoo tetap menjadi dia yang biasa. Mingyu mengharapkan sesuatu setelah percakapan mereka hari itu, sesuatu, apa saja, tapi tidak ada. Hubungan mereka seperti jalan di tempat kalau tidak mundur. Wonwoo tidak keluar di malam hari dan pulang dengan bau wanita lagi, tapi dia juga tidak melakukan apa-apa dengan Mingyu di apartemen, hanya mengurung diri di kamar. Mingyu tidak mengerti status hubungan mereka sekarang. Di mata Wonwoo, sebenarnya dia itu apa?

"Yang rambut pirang namanya Junhui. Yang hitam Wonwoo." Kereta khayalan Mingyu terinterupsi seketika saat dia merasakan beban tubuh yang bertambah di spot kosong di sebelahnya. Dia menoleh ke samping dan bertemu pandang dengan pandangan tajam seorang pemuda asing yang Mingyu yakin sekali dua kali pernah dilihatnya di sekitar kampus. "Dan aku Minghao. Jadi kau suka yang mana?"

"Aku tidak..."

Pemuda asing itu—Minghao—kembali menginterupsi. "Oh mereka tidak berkencan kalau itu yang kau pikirkan. Tapi tidak ada yang tahu juga kalau mereka tidur bersama satu atau dua kali, yah walaupun tidak satu pun dari mereka mengakuinya."

Wow senang mengetahuinya, jawab Mingyu sarkastis dalam kepala.

"Jadi?" Minghao bertanya lagi, memandang Mingyu penuh ekspektasi.

"Jadi?"

"Kau mau bercinta dengan yang mana?"

Mingyu seketika tersedak ludahnya sendiri mendengar pertanyaan itu. Sangat blak-blakan. Tentu saja Wonwoo, tapi Mingyu tidak punya kewajiban untuk menjawab. Seraya menaikkan alisnya, Mingyu membalas dengan sedikit terhibur. "Kata siapa aku tertarik dengan salah satu dari mereka?"

Minghao terkesiap. Dia meletakkan satu telapak tangan menutup mulutnya yang menganga dan berpura-pura memasang wajah terkejut. "Kalau begitu dua-duanya? Threesome?"

"Ti... bukan begitu," sergah Mingyu. Dia mengusap wajah dengan tangannya yang bebas. "Aku bahkan tidak tahu Junhui." Begitu kalimat itu lepas, Mingyu segera menutup mulutnya seolah dia bisa menariknya kembali.

"Kalau begitu Wonwoo?" siul Minghao cepat seraya melempar senyum mencemooh. Lalu Minghao mengembalikan pandangannya pada dua orang yang masih sibuk berbicara di depan tangga. Mingyu hampir tidak mengenal anak ini, ini bahkan adalah percakapan pertama mereka, tapi dia jelas merasakan keinginan keras untuk mendorong wajahnya ke bawah sofa dan menghapus senyum angkuhnya itu sekarang. Tentu saja sebelum Minghao memutuskan untuk melanjutkan, "Jadi kau Mingyu yang terkenal itu ya?"

Mingyu mengernyit. Terkenal bukan salah satu kata yang biasa digunakan orang untuk mendeskripsikan seorang Kim Mingyu. "Baiklah pertama aku tidak tahu kenapa kau tiba-tiba datang ke sini dan mengusikku. Kedua bagaimana kau tahu namaku? Dan ketiga," Mingyu memasang wajah paling serius. "Apa kau betul-betul berpikir aku terkenal?"

Pastilah pertanyaan itu terdengar konyol atau lucu atau mungkin Minghao memiliki sedikit gangguan karena dia tertawa. Melempar kepalanya ke belakang dan mengeluarkan suara tawa yang sangat kuat, cukup kuat untuk membuat orang-orang dalam radius tiga meter menghentikan apa pun yang mereka lakukan dan memberi tatapan penasaran ke arah dua anak membosankan yang hanya duduk di sofa. Dari sudut matanya, Mingyu melihat Wonwoo dan Junhui yang menjauhkan kepala mereka yang nyaris menempel—Mingyu sama sekali tidak terganggu—dan melakukan hal yang sama dengan yang lain. Tapi Mingyu tidak punya cukup waktu untuk memikirkannya. Dia menunggu selama beberapa detik sampai Minghao berhenti tergelak di sebelahnya. "Apa yang lucu?" tanya Mingyu kesal.

"Well," balas Minghao geli. "Apa kau pikir kau terkenal?"

"Apa maksudnya itu?"

Minghao kali ini membalas dengan mendengus. "Tidak apa-apa." Dia mengangkat kepala sejenak lalu seperti dipaksa oleh kekuatan misterius, tiba-tiba dia meluruskan duduknya dan mengambil jarak dari Mingyu. "Uh aku harus pergi karena seseorang jelas tidak suka aku di sini."

"Aku tidak keberatan."

"Memangnya siapa yang bilang kau?" balas Minghao seraya memutar bola mata. Lalu dia melanjutkan sambil bangkit dari sofa, "Dan ngomong-ngomong Junhui pacarku. Aku hanya bercanda saat bilang dia dan Wonwoo bercinta. Mereka tidak melakukannya. Hanya ingin lihat reaksimu saja. Dah, senang bicara denganmu, Mingyu."

Lalu dia berjalan ke arah kerumunan dan Mingyu hanya melongo melihat Minghao menyelipkan tubuh kurusnya ke antara orang-orang. Setelah Minghao menghilang sepenuhnya dari pandangan matanya, Mingyu bertanya pada diri sendiri "Apa yang baru saja terjadi?"

Tidak satu pun dari semua yang sudah disebutkan Minghao tadi bisa dimengerti oleh Mingyu. Dia betul-betul dibuat bingung mulai dari kedatangan tiba-tibanya sampai setiap kata yang diucapkannya, dia berbicara seperti sedang bermain teka-teki dan Mingyu adalah orang dungu yang tidak mengetahui triknya.

Tapi Mingyu memutuskan untuk tidak peduli. Secepat pemuda itu tadi datang dan pergi, Mingyu segera memutuskan untuk menganggapnya hanya imajinasi karena mungkin dia sudah terlalu mabuk, botol birnya sudah kosong sama sekali. Mingyu mengedikkan bahu acuh, lalu mengedarkan mata ke seberang ruangan untuk menemukan pemilik rambut hitam dan mata mirip rubah, tapi Wonwoo sudah tidak duduk di tangga lagi dengan si rambut pirang Junhui.

.


.

Setelah menunggu dua menit lagi seraya mencari-cari ke setiap sudut ruangan yang bisa dijangkau matanya tanpa berhasil menemukan Wonwoo, Mingyu akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tempat dia sudah berdiam diri lebih dari setengah jam itu. Bukan untuk melihat kalau Wonwoo ada di sana, Mingyu meyakinkan diri sendiri.

Suasana dapur tidak jauh berbeda dengan ruang tengah. Ada banyak orang berkelakar dan mabuk, pasangan berciuman di dekat wastafel, dan Jeonghan yang membuat sandwich. Mingyu memutuskan kalau dia sama sekali tidak ingin tahu kenapa Jeonghan membuat sandwich sekarang. Dia berjalan lurus ke tempat Seungcheol meletakkan minuman, berniat mengambil satu gelas bir saja, dia tidak akan sanggup menghabiskan satu botol lagi.

Mingyu baru saja selesai menuangkan birnya ketika merasakan seseorang menepuk pundaknya. Dia berbalik dan langsung berhadapan dengan anak perempuan yang samar diingatnya dari kelas akutansi atau semacamnya. Minky? Pinky?

"Kau Kim Mingyu kan?" Minky bertanya sambil menawarkan senyum.

"Uh, ya."

"Apa kau ingat aku? Kita satu kelas Aljabar Linear."

Oh ternyata Aljabar Linear. "Tentu saja," balas Mingyu berusaha tersenyum ramah. "Minky?"

Gadis itu mendecak sebelum kembali tersenyum. "Minkyung."

"Oh, ya ya. Minkyung."

"Ini pertama kali aku melihatmu di pesta Seungcheol," kata Minkyung lagi, semakin mendekatkan jarak tubuh mereka.

Mingyu mengambil langkah mundur tapi Minkyung tetap berjalan mendekat sampai punggung Mingyu sudah menempel dengan kulkas Seungcheol dan dia menggenggam gelas birnya dengan kaku. Ini adalah salah satu alasan Mingyu tidak terlalu suka pesta. Dia malas berhubungan dengan yang seperti ini. Karena dia bukan Wonwoo. "Uh...aku...um...datang dengan seseorang."

"Tapi dari tadi aku melihatmu sendiri."

"Itu berarti kau baru melihatku dua menit," jawab Mingyu lalu tertawa kaku.

Minkyung mengabaikan perkataan Mingyu yang ini dan malah membalas, "Aku sudah dari dulu ingin bicara denganmu."

"Oh ya?"

"Iya, tapi tidak berani."

"Uh... kenapa tidak? Aku bukan orang jahat."

Minkyung tertawa mendengar jawaban Mingyu itu walau Mingyu secara pribadi tidak menganggapnya lucu. Dan jujur, Minkyung terlihat sangat cantik saat dia tertawa, apalagi dengan giginya yang rapi seperti itu, seandainya saja Mingyu tidak gay dan jatuh cinta dengan seorang pemuda bermata mirip rubah yang suka menggunakan kaca mata bulat sebagai fashion iconnya dan berdiri tepat di belakang Minkyung sekarang dengan wajah yang sama sekali tidak terkesan. Mingyu segera menarik tubuhnya lebih jauh dari Minkyung.

Wonwoo berdehem keras dengan wajah ditekuk untuk menarik perhatian gadis yang secara praktis menempeli Mingyu itu. Dengan nada dingin dia berbicara sambil menatap Mingyu. "Apa kalian keberatan bermesraan di tempat lain? Aku butuh sesuatu dari kulkas."

"Oh?" Minkyung berseru sambil menyingkir untuk memberi Wonwoo jalan. Dia berusaha menarik tangan Mingyu untuk ikut dengannya namun pemuda tinggi itu segera menepisnya.

"Senang bicara denganmu, Minkyung. Sampai jumpa di Al Lin," katanya.

"Eh? Tapi Ming..."

Mingyu dengan cepat menghentikan kalimat Minkyung saat dia tanpa pikir panjang meraih tangan Wonwoo dan berbicara kepada Wonwoo yang sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. "Aku mencarimu dari tadi. Kau kemana saja?"

Minkyung terperangah menatap cara Mingyu menyentuh Wonwoo sebelum segera memahami gerak-geriknya. "Oh, begitu," bisiknya. Tentu saja laki-laki paling tampan dari kelas Aljabar Linear yang jarang muncul di pesta adalah gay dan tentu saja dia harus berpasangan dengan Jeon Wonwoo. Pantas saja sejak awal dia terlihat tidak tertarik. "Uh, aku tidak tahu tadi. Kalau begitu bye, Gyu. Selamat bersenang-senang."

"Ya, kau juga."

Setelah Minkyung menghilang dari pandangan, Mingyu dan Wonwoo berdiri diam pada posisi mereka. Lengan masih bertautan selama beberapa detik. Lalu akhirnya Wonwoo berusaha menarik lengannya sambil berbicara dengan dingin. "Bye, Gyu."

"Huh?"

Dengan lengannya yang sudah tidak terkait dengan Mingyu lagi, Wonwoo membuka kulkas, mengintip ke dalam sebentar lalu membanting untuk menutupnya kembali dengan kekuatan yang tidak perlu. Jeonghan mendesis marah kepada Wonwoo dari seberang ruangan. "Aku masih butuh kulkas itu, jangan merusaknya." Tapi Wonwoo berpura-pura tidak mendengarnya dan malah memutar bola mata. Lalu dia berbalik lagi ke arah Mingyu, masih memasang wajah tidak terkesan yang sama. "Bye, Gyu," ulangnya kali ini diikuti cibiran.

Mingyu hanya bisa mengernyit bingung karena dia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi dalam kepala Wonwoo sekarang (atau hampir setiap waktu).

Lalu Wonwoo mengambil gelas bir Mingyu yang sama sekali belum berkurang isinya karena distraksi dari Minkyung tadi. Meneguk seluruh isinya dengan kasar, Mingyu berusaha keras untuk tidak tiba-tiba merasa terangsang saat itu juga melihat pergerakan jakun Wonwoo yang marah. Setelah menyelesaikan satu gelas bir itu, Wonwoo memandang Mingyu dengan alis ditekuk—Mingyu tidak mengerti kenapa dia terlihat sangat marah—lalu menarik tangan kiri Mingyu untuk menadah dan meletakkan gelas kosong itu di atas telapaknya. Sekali lagi dia mengulangi "Bye, Gyu." Kali ini iritasi dalam suara beratnya betul-betul terasa nyata, bukan hanya dalam bayangan Mingyu ditambah dengan raut wajahnya itu. Dan Mingyu tahu, Wonwoo bukan hanya marah, dia murka.

Tapi kenapa?

"Uh..." Mingyu mempermainkan gelas kosong di tangannya dengan gugup. "Apa aku melakukan kesalahan?"

"Tidak," jawab Wonwoo cepat. Terlalu cepat sampai tidak meyakinkan.

Ekspresinya terlalu bertolak belakang dengan jawabannya. Mingyu tahu itu. Dan Mingyu bukannya ingin terlalu percaya diri, tapi "Apa kau cemburu?"

Ini sepertinya adalah pertanyaan yang salah. Atau tepat. Wonwoo mendengus tidak suka. Terlihat semakin murka. "Apa aku punya alasan untuk cemburu?"

Oh.

Oh!

Ya. Oh.

Mingyu tersenyum masam. "Tidak."

Seketika Mingyu merasa sedih lagi. Dan keraguan mulai merangkak kembali dari dasar hati sampai ke puncak ubun-ubunnya. Dia tidak mengerti posisi mereka berdiri. Dia juga tidak mengerti dengan sikap Wonwoo atau pandangan matanya. Minggu lalu dia memohon Mingyu untuk tidak lelah dengannya tepat di saat Mingyu mulai putus asa dan ingin menyerah. Untuk sesaat Mingyu seolah melihat harapan. Tapi harapan kecil itu segera pudar lagi dengan sikap dingin Wonwoo. Dan tadi jelas-jelas dia dengan laki-laki lain (Junhui yang katanya pacar Minghao dan tidak punya hubungan yang seperti itu dengan Wonwoo). Lalu sekarang dia bersikap seolah marah karena Mingyu bicara dengan perempuan lain tapi dia tetap sangat dingin. Mingyu betul-betul tidak tahu apa yang harus dia lakukan dengan pemuda ini.

Kalau sudah berhubungan dengan Jeon Wonwoo, entah kenapa Mingyu seperti kehilangan setengah dari IQ totalnya.

Mingyu masih sangat larut dalam kepalanya saat tanpa peringatan, dia merasakan punggungnya kembali menabrak pintu kulkas, gelas yang tadi digenggamnya tejatuh begitu saja ke lantai, untung tidak pecah. Dia mengaduh kesakitan dan masih belum sepenuhnya memproses apa yang terjadi saat dua tangan diletakkan di kanan kiri kepalanya, lalu dia melihat mata Wonwoo dan detik berikutnya dia melihat bintang. Wonwoo menciumnya kasar, seperti penuh kemarahan dan tanpa maaf dan Mingyu merasa tidak berdaya kecuali untuk membiarkannya—karena memangnya apa lagi yang akan dilakukannya?

Jeonghan berteriak dari seberang ruangan tentang anak muda yang tidak bisa mengendalikan hormon dan kamar Seungcheol yang kosong atau semacamnya, tapi Mingyu tidak bisa konsentrasi untuk mendengarnya. Sudah seminggu sejak terakhir kali bibir Wonwoo menempel di atas miliknya, tapi rasanya seperti sudah berjuta-juta tahun saja. Dan Mingyu merasa seolah sudah merindukan perasaan ini seumur hidup, meski ini baru yang ketiga mereka melakukannya.

Wonwoo masih tidak mau berhenti menciumnya, telapak tangannya yang tadi menempel di permukaan kulkas kini sudah dipindahkan dari sana, dia menggantungkannya di dekat wajah Mingyu, nyaris menangkupnya tapi tidak betul-betul bersentuhan. Dan Mingyu yang awalnya hanya menerima tanpa melakukan apa-apa akhirnya mulai membalas ciuman itu, memperoleh kembali kesadarannya. Dia meletakkan tangannya ragu di pinggang Wonwoo. Sangat besar dorongan untuk memindahkannya ke pantat pemuda yang lebih tua dan meremasnya, tapi Mingyu menahan diri. Ciuman Wonwoo terasa seperti lampiasan kemarahan dan Mingyu tidak ingin memperburuknya.

Mingyu tidak tahu berapa lama sampai akhirnya Wonwoo menjauhkan wajahnya perlahan, membiarkan hidung mereka yang bersentuhan, menatap mata Mingyu sayu, lalu mengecupnya singkat sekali lagi sebelum benar-benar memisahkan wajah mereka. Tapi tubuh mereka masih menempel, Mingyu bersandar di kulkas serta tangan masih pada tempat dia meletakkannya saat berciuman tadi sementara Wonwoo menumpukan tangan di dadanya.

Mingyu memandang Wonwoo dengan campuran antara rasa takjub dan bingung. "Untuk apa itu tadi?" bisiknya di depan wajah Wonwoo. Pipi pemuda itu yang masih merah karena ciuman mereka tadi berubah menjadi merah yang lebih gelap lagi. Mingyu tidak bisa tidak merasa kalau posisi ini sangat intim dan satu sisi dirinya yang kelewat kekanakan bersorak menang dalam hati 'huh Junhui tidak bisa sedekat ini dengan Wonwoo'.

"Uh..." Wonwoo menggigit bibirnya gugup. Menghindari mata Mingyu saat menjawab, "Kau sudah janji."

"Hm?"

"Kau bilang... tidak akan lelah?"

Mingyu mengerutkan kening bingung. Wonwoo sedang membahas percakapan minggu lalu? "Ya, aku janji seperti itu."

Wonwoo kembali menatap mata Mingyu, menjilat bibir bawahnya dan satu-satunya yang ingin dilakukan Mingyu melihat dia yang seperti itu adalah untuk mencuri satu ciuman lagi. Dia boleh melakukan itu kan? Dan itu yang Mingyu lakukan. Hanya satu kecupan singkat, Wonwoo sama sekali tidak terlihat keberatan.

"Kau... tidak sedang mencoba balas dendam dan mempermainkanku kan?" Wonwoo kembali bersuara setelah membersihkan tenggorokannya.

"Tentu saja tidak," jawab Mingyu. Sedikit tersinggung. Bukankah pertanyaan ini terbalik? Dia yang seharusnya bertanya seperti itu karena jelas Wonwoo seperti memberi harapan palsu untuknya.

"Kalau begitu... apa yang tadi kau bicarakan dengan Minghao?"

Oh.

Jadi ini kenapa Minghao tiba-tiba berkata seperti itu tadi.

"Barusan juga dengan Minkyung," tambah Wonwoo. Dengan cepat merah di wajahnya sudah tidak terlihat seperti sipu lagi, melainkan rasa marah yang sama dengan beberapa menit sebelumnya. Dia menatap Mingyu dengan kesal. Sungguh perubahan mood yang luar biasa. "Kau tidak seharusnya dekat dengan orang lain di belakangku seperti itu."

Sempat merasa hilang sesaat karena ciut dengan tatapan Wonwoo, Mingyu segera mengumpulkan lagi nyalinya dan memabalas, "Kau cemburu?"

Dan melihat bagaimana Wonwoo seperti kehilangan kendali dirinya beberapa saat sampai tergagap, Mingyu pikir dia akan membalas dengan kasar atau menyangkal. Tapi setelah terlihat susah payah mengumpulkan kata di tenggorokannya, Wonwoo berhenti. Dia mengangkat kepalanya menantang. Kembali terlihat percaya diri, menatap Mingyu seolah dia sangat sadar kalau anak ini tergila-gila dengannya, menunggunya sampai pagi dan mengkhawatirkannya sepanjang waktu. Wonwoo tersenyum miring. "Ya," katanya angkuh. "Ya. Karena kau itu punyaku."

Oh jadi sekarang aku kepunyaannya?

Tapi jelas itu tidak mutual kan? Karena Junhui boleh mencium tangannya sementara Minghao dan Minkyung tidak boleh bicara denganku? Dimana letak keadilan?


TBC


Terima Kasih Banyak:

aigyuu, bananona, PurpleLittleCho, Lil Piece of Shit, 7D, ascndeio, meaniekrr, auliaMRQ, Kyunie, wulanjoyer, Lissanien, Park RinHyun-Uchiha, lovetaekook, loveyoumeanie, byankai, Re-Panda68, inisapaseh, whatamitoyou, Guanlin cintanya sama jihoon, Indukcupang, dou, LOVEJaeYong, winetears, KimAnita, Mingoo-nim, pearlgyuu, iamjcks, heolgyu, Nikeisha Farras, Mingyusforehead, Guest, zizi'd, zeloxter, Dnaaxx26, wiwin1111bts


a.n. guess who just come back shamelessly with UR new update? /.\

Maafin yaaaaa ini updatenya udah telat setelat telatnya :( Masih ada yang baca Unsolved Riddle gak sih? XD

Oh iya, buat sedikit klarifikasi, aku bukan pecinta bottom!Gyu wkwkwkwk, jadi cerita ini tetep Wonwoo yang jadi bottom kok walau sesangar apapun doi, tenang saja shay wkakakaka

sebenernya takut updatenya gak memuaskan, tapi yah gitu deh ;-; /apaan/ semoga suka ya ;)