Itachi masih terkapar pingsan di apartemen Kakashi. Dia kini dibaringkan di atas sofa dengan Sasu yang memegangi tangannya khawatir. Sasu takut sekali kalau kakaknya ini langsung terkapar tewas.

"Niican bangun!" Sasu mulai merengek.

Yahiko sendiri juga terkapar di pojok ruangan walau dia tidak sampai jatuh pingsan. Naru hanya senyum-senyum tidak jelas di pangkuan Sakura melihat wajah frustasi Yahiko. Dia tampaknya tidak ingin ambil pusing.

Toh, Yahiko dan Itachi sudah terlanjur tahu. Mau bagaimana lagi?

Jalani saja apa yang ada; begitu pikir Naru.

Kakashi selaku pemilik rumah hanya memandang kekacauan ini dengan bingung. Dia memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri melihat kehebohan yang baru saja ditimbulkan oleh Yahiko dan Itachi. Semua terjadi di luar ekspetasinya. Sesuatu yang sama sekali tidak pernah dia duga.

"Apa yang mau kau lakukan?" Suara cempreng Sasu tiba-tiba terdengar melengking.

Ternyata Gai mendekati Sasu dan Itachi sambil membawa segelas air dengan gerak-gerik yang sangat mencurigakan.

"Mau membangunkan kakakmu!" Gai menjawab dengan penuh semangat.

"What?" Mata Sasu memicing curiga.

"Aku punya cara jitu! Tenang saja Sasu-chan, ini pasti berhasil!" Gai mengedipkan sebelah matanya.

"Hei!"

"Ini tips ala mbah dukun yang kupelajari dari internet!" Jelas Gai, dia lalu mulai berkomat-kamit tidak jelas. Sasu semakin khawatir karena bagaimanapun dia tidak bisa percaya pada si aneh Maito Gai. "Untuk membangunkan pasien, pasien itu tinggal disembur!" Gai tertawa ala mbah dukun dan mulai meminum air dalam gelas.

Sasu melotot panik dan memeluk kepala Itachi dengan tubuh mungilnya, "Niican kumohon bangunlah! Cebelum kau akan mendapatkan hujan lokal!"

Satu.

Dua.

Tiga.

Gai semakin mendekat. Bibirnya sudah mulai dimonyongkan ke depan. Dan semburan naga itu akan segera tercita jika saja Itachi tidak segera

"ARGGGGHHHHHHH! AKU SUDAH BANGUN!"

bangun.

.

.

HELLO BABIES!

.

A story by timeandpain84

.

Naruto © Masashi Kishimoto

.

DLDR!

.

Summary

Hatake Kakashi. Aktor, 27 tahun. Tampan, pintar, kaya, dan terkenal. Namun, tiba-tiba kehidupannya berubah ketika dia menemukan dua orang balita laki-laki tanpa identitas saat sedang bersembunyi dari kejaran fansnya.

.

[7] Uchiha & Namikaze

.

.

"Jadi, bisakah kalian jelaskan padaku hal apa yang tidak kuketahui?" Kakashi menatap Itachi, Yahiko, Sakura, Naru, dan Sasu bergantian.

Yahiko mendengus tak suka dan memalingkan wajahnya dari Kakashi. Dia malas menjawab pertanyaan dari pria berambut perak itu, biar Itachi atau Sakura saja. Lebih baik Yahiko diam daripada semakin bertambah keki karena menanggap Kakashi itu rival.

"Aku adalah kakak Sasuke!" jawab Itachi sambil mengelus kepala Sasu penuh rasa sayang.

Sasu yang biasanya akan mencak-mencak gengsi karena diperlakukan manja oleh Itachi hanya diam dan menerima segala perlakuan Itachi. Dia mulai berpikir bahwa setiap anak berhak mendapatkan perlakuan manja seperti ini. Sepertinya Sasu mulai terpengaruh wujud fisiknya sebagai balita.

"Dan kau adalah kakak Naru-chan?" Kakashi bertanya pada Yahiko. Sebenarnya Kakashi juga sadar kalau Yahiko sedikit sensi padanya walau Kakashi sendiri tidak tahu apa alasannya.

"Begitulah..." jawab Yahiko setelah Itachi menghadiahinya tatapan seram ala Uchiha. "Kakak sepupu lebih tepatnya..."

Kakashi mendengus, dia kemudian beralih pada Sakura.

"Lebih baik kau jelaskan pada mereka berdua apa yang telah terjadi Sakura,"

Sakura mengangguk, "Jadi begini..."

.

.

Uchiha Obito tengah duduk di beranda sambil menikmati secangkir kopi buatan istrinya. Di hadapan cucu sulung Uchiha Madara itu ada sebuah laptop yang tengah menampilkan salah satu search engine terkenal.

Obito sejenak bertopang dagu sebelum memutuskan untuk mengetik sesuatu di kolom pencarian. Senyuman lebar tersungging di wajah tampannya begitu dia mendapatkan sebuah ide cemerlang untuk menghalau kebosanannya.

Dia memutuskan untuk mengetik nama 'Hatake Kakashi', sahabatnya yang merupakan aktor ternama itu.

"Okay, mari kita lihat kabar terbarumu kawan," kata Obito, tangannya terjulur untuk meraih cangkir kopi dan meminum isinya dengan perlahan.

Byurrrrrr...

Obito sukses menyemburkan minumannya ketika dia membaca sebuah headline berita terbaru tentang sahabatnya itu.

"Apa? Kakashi Kakashi sudah punya anak?" Obito berteriak tak percaya dengan suara heboh.

"Wah si playboy tengik itu berani-beraninya dia tidak memberitahuku dan Rin, aku harus membuat perhitungan dengannya!"

"Kenapa kau berteriak-teriak?" Rin muncul dari balik pintu sambil menggendong Jun, putranya.

Di tangan wanita berambut cokelat itu ada sepiring cookies kesukaan sang suami.

"Lihat ini Rin! Kau tak akan mempercayainya!"

Obito menunjuk-nunjuk layar laptopnya. Rin mendekat dan melihat ke layar yang menampilkan sebuah portal berita online itu.

"Kakashi?" bisik Rin terkejut.

"Oh dia bahkan belum mengadakan konferensi pers untuk menjelaskan ke publik soal mereka. Heh dua orang anak? Dia lebih rajin dariku ternyata! Aduhh!"

Obito terdiam ketika Rin memukul punggungnya dan melotot tak mau mendengar kelanjutan omongan Obito.

"Tapi syukurlah, Kakashi terlihat bahagia bersama mereka," kata Obito lagi, dia bisa melihat senyuman tulus Kakashi walau sebagian wajahnya ditutupi masker hitam menyebalkan itu.

"Ya," Rin ikut tersenyum sambil mengelus rambut hitam Jun. "Aku senang karena dia akhirnya menemukan seseorang yang tepat."

"Hmmm wanita berambut merah jambu ini, sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi dimana ya?" Obito berpikir keras, tapi dia tak berhasil mengingatnya.

"Mungkin kau pernah tak sengaja bertemu dengannya, rambutnya cantik, mengingatkanku pada kelopak bunga sakura," gumam Rin takjub.

"Rin, bagaimana kalau kita liburan ke Konoha?" usul Obito dengan mata yang berbinar.

"Huh?"

"Kita akan membuat kejutan untuk Kakashi. Aku ingin melihat kedua putranya, sekaligus membuat perhitungan dengannya karena menyembunyikan ini dari kita!" mata Obito berapi-api penuh rencana.

Rin tertawa kecil, "Kurasa itu adalah ide yang bagus!"

Obito lalu meraih Jun ke dalam gendongannya. Balita tampan itu tertawa riang sambil menyentuh pipi Obito.

"Jun, sebentar lagi kau akan dapat teman baru," Obito mencium hidung Jun gemas. "Oh nanti kau juga bisa bertemu Paman Itachi dan Paman Sasuke. Mereka pasti senang bertemu denganmu, hehehehe..."

Jun menanggapi Ayahnya dengan tawa lebar dan celotehan khas balita.

.

.

Sakura baru saja menyelesaikan ceritanya pada Itachi dan Yahiko. Kedua pria itu menggelengkan kepala tak percaya setelah mendengar teori yang diucapkan oleh Sakura. Karena sebatang cokelat?

Apa itu masuk akal?

"Jadi, karena cokelat itu?" Yahiko mendesis.

Naru tahu bahwa Yahiko sedang berada di dalam mode setannya, sehingga diam-diam dia beringsut ke arah Kakashi—tempat persembunyian paling aman untuknya.

"Begitulah," kata Sakura pasrah. Tak ada gunanya menyembunyikan sesuatu dari kedua pria menyeramkan itu.

Sementara Itachi yang sedari tadi diam meraih tubuh mungil Sasu dan memeluknya erat. Dibenamkannya kepala Sasu ke dadanya—seolah Itachi ingin memberikan perlindungan seprotektif yang dia bisa.

Sasu sejenak memberontak, tapi kemudian dia mengalah dan membiarkan Itachi melakukan apapun yang dia inginkan.

"Aku tak suka menunggu, sekarang juga mari kita cari orang yang memberikan cokelat itu," kata Itachi dengan nada sendu.

"Baiklah," jawab Kakashi sambil meraih jaketnya, "Mari kita pergi ke tempat itu..."

"Tunggu!" Gai berseru keras, "Kakashi, tidakkah kau merasa perlu untuk membuat klarifikasi tentang foto-foto kalian dulu? Itu juga penting lho!"

Kakashi menoleh pada Gai dengan pandangan malas, "Perlukah? Yang penting aku kan menjaga mereka,"

"Kau ini bagaimana sih? Apa kau benar-benar tak sadar masalah apa yang sudah timbul? Kau dikira selama ini menyembunyikan anakmu."

"Lalu, apa aku harus berkata jujur dan bilang bahwa mereka adalah pria 24 tahun yang mengecil karena cokelat tidak jelas? Kau pikir akan ada yang percaya?"

"Hey, kalian!" Yahiko kembali membuka mulutnya. Kali ini dia menatap Kakashi dan Gai bergantian, "Bisakah untuk sementara ini kalian berdua tidak membuat pernyataan apapun walau para reporter itu mengejar kalian?"

"Apa maksudmu?" Gai bersedekap dan menatap pria berambut orange itu tak mengerti.

"Ini demi kebaikan. Setidaknya sampai Naruto dan Sasuke kembali ke tubuh dewasa mereka jangan sampai berita ini menyebar. Percaya padaku, keadaan akan lebih kacau jika sampai kasus ini tersebar," jelas Yahiko ambigu.

"Apa-apaan kalian ini?" Kakashi berdecak kesal, "Kalau memang begitu mari kita cepat selesaikan ini. Aku juga tidak tega melihat mereka berdua bicara cadel terus-terusan,"

Kedua mata biru langit Naru berkaca-kaca karena terharu. Dia lalu menubrukkan tubuh mungilnya ke tubuh Kakashi dan memeluk pria berambut perak itu erat-erat. Yahiko yang melihatnya terkejut—iri. Dia saja yang kakak Naruto tak pernah dipeluk seperti itu.

"Telimakacih Paman! Aku menyayangimu!"

Kakashi tersenyum tipis dan menepuk kepala Naru penuh sayang. Dia kemudian meraih tubuh Naru dan menggendongnya.

"Ayo berangkat! Dan, Gai—kau jaga rumah!" Perintah Kakashi mutlak membuat Gai cemberut di pojokan.

Yahiko mati-matian menahan rasa kesalnya karena Naru lengket sekali dengan si perak jabrik itu. Padahal yang kakak Naru itu kan dirinya bukan Kakashi. Naruto saja tak pernah umbar kalimat sayang pada Yahiko. Juga pada Karin dan Nagato, si kembar Uzumaki, sepupu Naruto dari pihak Ibu.

Si orange itu kemudian menoleh kepada Itachi yang tetap memeluk Sasu erat. Sasu pun tak memberontak lagi, dia menyamankan diri di gendongan Itachi. Padahal normalnya Sasuke akan gengsi setengah mati kalau Itachi memanjakannya di depan banyak orang.

"Dengar Sasu-chan, aku akan melakukan apapun untuk membuatmu kembali ke tubuh aslimu," bisik Itachi, "Kau jangan menangis ya..."

Sasu mengangkat wajahnya dan melotot, "Aku benci panggilan itu dan aku nggak nangis tau!"

"Hn, mulai sekarang aku akan selalu di sisimu, dan aku suka memanggilmu Sasu-chan,"

Sasu mendengus mendengar Itachi yang mulai bertingkah berlebihan. Jiwa brother complex-nya sedang kambuh ke tingkat tertinggi dan itu adalah tanda bahaya.

Baik Itachi maupun Sasu tak menyadari kalau Kakashi sedang menatap mereka dengan tak sabar. Karena kesal, Kakashi langsung berjalan keluar apartemen dengan Naru di gendongannya.

"Lebih baik kita cepat pergi, tinggalkan dua Uchiha aneh itu, katanya tidak suka membuang waktu tapi lihatlah..." ucap Kakashi sambil menarik tangan Sakura.

"Eh, tapi—

Kakashi tak menghiraukannya sehingga Sakura hanya bisa menyejajari langkah pria itu. Diam-diam Naru menyeringai melihat interaksi mereka.

"Aku diabaikan?" geram Yahiko tak percaya.

Gai menepuk-nepuk pundaknya penuh simpati, "Yang tabah ya, aku turut prihatin."

"Aishhh!" Yahiko lalu beralih ke dua Uchiha di belakangnya, "Sampai kapan kalian berdua mau berpelukan seperti Teletubbies?"

Itachi tersentak, dan Sasu memalingkan wajahnya malu. Sial, ini penghinaan baginya karena disamakan dengan makhluk berwarna mencolok itu.

"Ayo," ajak Itachi berusaha untuk kembali terlihat dingin.

.

.

Yahiko berhasil menyusul Kakashi yang dengan kurang ajarnya meninggalkan mereka. Untung saja si balita menyebalkan Sasu menunjukkan jalan walau dengan gumaman tak jelas ala balita. Bahkan Sasu sendiri sampai frustasi mendengar suara tak jelasnya.

Kini Yahiko mengikuti Kakashi untuk memarkir mobilnya di sisi jalan. Yahiko dan Itachi kemudian bergegas keluar dari mobil. Kedua pria itu merasa sedikit heran karena tak ada seorangpun keluar dari mobil Kakashi walau benda merah itu parkir lebih dulu.

"Mereka ketiduran atau apa sih?" Yahiko menggerutu dan menarik Itachi mendekati mobil Kakashi.

Ketika mereka mendekat pintu mobil terbuka.

Baik Yahiko dan Itachi berjengit kaget ketika melihat Sakura yang sedikit bersungut-sungut. Sasu malah sudah melotot sambil melongo, pokoknya dia terlihat imut sekali.

"Apa-apaan ini Sakura?" Itachi bingung melihat mantan 'calon adik ipar'-nya itu yang ikut-ikutan berpenampilan ala teroris seperti Kakashi. Jujur saja, penampilan Sakura jadi aneh.

"Bagaimana? Dia terlihat keren kan?" Justru Kakashi yang menyahut. Dia menepuk pelan kepala Sakura yang tertutup topi hitam—helai rambut merah mudanya tersembunyi di balik topi itu.

"Apa yang kau lakukan pada Cakuya? Kelen apanya?" protes Sasu tak suka.

Naru kini mendelik pada Sasu, "Diam, Teme! Lihat Cakuya-chan jadi lebih keyen, cepelti di pilm begitu!"

"Pilm kepalamu, dulen jablik! Kenapa Cakuya halus ikut-ikut menyamal cepelti olang-olangan sawah ini?"

"Tentu saja dia membutuhkannya," Kakashi mendekati Sasu dan tersenyum di balik maskernya, "Kau tentu tidak boleh lupa kalau sekarang Sakura adalah 'ibu dari anak-anakku', jadi lebih baik dia menyamar dulu ketika pergi ke tempat ramai seperti ini." Kakashi bermaksud untuk menggoda Sasu tanpa menyadari bahwa perkataannya itu sukses membuat Sakura blushing berat. Sasu cemberut dan Itachi ikut-ikutan.

"Sudah, hentikan!" Sakura menengahi sambil berusaha menutupi rasa canggungnya.

Yahiko mengangguk, "Sakura benar, kalian itu berisik."

Kakashi mengangkat bahu tak peduli dan berjalan lebih dulu bersama Naru.

Yahiko, Itachi, Sasu, dan Sakura menyusul di belakang. Tapi tak sampai sepuluh langkah Kakashi berhenti dan menghampiri Sakura.

"Kurasa akan lebih baik jika kau berjalan bersamaku," Kakashi mengeluarkan nada diktatornya.

"Memangnya kau pikil kau ciapa? Kenapa Cakuya halus—

"Baiklah,"

Mata Sasu membola ketika Sakura memotong ucapannya. Terlebih lagi Sakura mengiyakan perkataan Kakashi. Dan Sasu bersumpah bahwa Kakashi tengah menyeringai penuh kemenangan di balik masker jeleknya.

Dari seberang jalan tampak seseorang sedang memperhatikan kerumunan berisik itu. Pria berkacamata itu tampak mengerutkan kening—tanda bahwa dia sedang berpikir keras.

"Balita pirang itu mirip dengannya," Kabuto bergumam yakin ketika melihat tanda mirip kumis kucing yang berada di pipi Naru, "Tapi, apa yang terjadi? Seharusnya jika dia memakan cokelat itu dia hanya akan terlihat lebih muda bukannya mengecil seperti itu."

Kabuto mulai bingung. Dia ingin menghindar saja tetapi wajah seram Orochimaru tiba-tiba muncul di benaknya. Daripada diumpankan ke ular-ular peliharaan Orochimaru, Kabuto memilih untuk menghampiri mereka.

"Ehm—permisi..." ucap Kabuto begitu dia berhasil mendekati mereka.

Yang pertama menoleh adalah Naru. Mata birunya terbelalak lebar begitu melihat sosok Kabuto.

"Cokelat," kata Naru.

Tubuh Kabuto terasa lemas begitu dia yakin bahwa balita di dalam gendongan pria jangkung bermasker itu adalah si pemuda pirang tempo hari. Dan Kabuto Yakin bahwa dia telah memakan benda ciptaan Orochimaru itu.

Otak Yahiko berproses cepat ketika melihat ekspresi Naru dan reaksi Kabuto.

"Heh! Kau yang memberikan cokelat laknat itu pada adikku ya?" Yahiko murka dan menarik kerah baju Kabuto.

"Tu-tunggu, aku bisa jelaskan!" Kabuto tergagap.

"Niichan!" seru Naru panik. Kakashi pun hanya melotot kaget melihat kelakuan barbar Yahiko.

"Oh, jadi itu kau..." suara dingin Itachi membuat Kabuto menelan ludah gugup. Aura kelam menguar di sekitarnya.

"Kurasa dia ingin menjelaskan sesuatu, kita dengarkan dulu ya?" Lerai Sakura ketika Itachi mulai melotot dan bersiap meninju Kabuto.

Yahiko mendengus dan melepaskan cengkeraman tangannya. Kabuto terbatuk-batuk kemudian melemparkan tatapan penuh terimakasih pada Sakura yang layaknya dewi penolong.

"Benda itu adalah penemuan terbaru Bosku," Kabuto memulai ceritanya begitu dia berhasil mengatur napas, "Karena benda itu mirip cokelat maka secara tak sengaja tertukar dengan cokelat batang yang baru aku beli ketika aku ingin memberikan cokelat itu sebagai tanda permintaan maafku padamu." Kabuto menatap Naru penuh rasa sesal.

"Siapa orang gila yang membuat benda seaneh itu?" tanya Yahiko kesal.

"Jadi kusimpulkan bahwa sebaiknya kita menemui orang yang membuatnya itu," desis Itachi. Kabuto merinding dibuatnya.

Orochimaru memang memerintahkannya untuk mendapatkan kembali cokelat itu. Tapi karena si pirang itu sudah memakannya dan menyusut begini maka tak ada pilihan lain selain membawa mereka menemui Orochimaru. Orochimaru pasti punya jalan keluar untuk masalah ini.

"Aku akan membawa kalian menemuinya sekarang juga," kata Kabuto.

Kemudian tak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk memacu mobil menuju ke laboratorium Orochimaru.

Yang mereka tidak sadar hanya aura berbahaya yang dikeluarkan balita berambut raven yang kini duduk dengan tenang di pangkuan Itachi. Sasu berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan membuat perhitungan kepada siapapun itu yang sudah menciptakan benda laknat yang membuatnya dan Naru mengerut.

Sasu lalu mengalihkan pandangannya ke depan, ke sebuah mobil sport merah yang melaju di depan mobil Yahiko. Sasu menatap mobil itu dengan tajam.

Dan jika dia sudah kembali ke tubuh normalnya, dia akan membuat Sakura kembali menatapnya. Hanya menatapnya.

.

.

Itachi dan Yahiko saling pandang ketika mereka sudah sampai di depan sebuah gedung megah bernama 'Taka Laboratory'. Di Konoha siapa memangnya yang tidak tahu Taka? Tempat ini dikenal sebagai gudangnya para ilmuwan Konoha berbakat.

Para ilmuwan itu bekerja di bawah pemerintahan. Dan kalau masalahnya benar-benar bersumber dari sini, baik Itachi maupun Yahiko tak mau menebak apa yang akan terjadi jika sampai sang Hokage mendengarnya.

"Bosmu bekerja di tempat ini?" Yahiko mengerjapkan matanya frustasi. "Bagaimana bisa seorang ilmuwan Taka menciptakan benda laknat seperti itu?" Gerutunya kesal.

Kabuto nyengir sambil mengajak mereka berenam masuk ke dalam gedung. Pria itu menunjukkan tanda pengenal khususnya ke sebuah mesin pemindai otomatis.

"Itu penemuan terbaru beliau, seharusnya kami sudah membawanya ke Badan Pengawas Obat dan Makanan Konoha untuk diuji kelayakannya sebelum diproduksi dan dipasarkan," jelas Kabuto sabar.

"Apanya yang layak? Benda nista begini seharusnya dibuat ganjal pintu," Itachi ikut sewot, hilang sudah image cool ala Uchiha-nya.

Kakashi tersenyum tipis, Itachi yang bawel begini mengingatkannya pada Obito yang memang boros kata.

"Biar Tuan Orochimaru sendiri yang menjelaskan perihal penemuannya pada kalian," Kabuto lalu membuka sebuah ruangan besar bernuansa putih.

"Ore siapa tadi katamu?" Yahiko sedang salah dengar.

"Olo, Niichan. Bukan Ole," sahut Naru.

"R bukan L," koreksi Itachi yang membuat Naru jadi kesal. Pada dasarnya Itachi dan Sasuke itu sama saja—sama-sama bermulut pedas seperti mie ramen yang diberi cabai satu kilo.

"Sadako?"

Suara penuh heran Sakura membuat seluruh atensi tertuju pada satu sosok yang sedang diam di pojokan. Rambut hitamnya panjang dan terurai ke depan serta kulitnya terlihat aneh, lebih aneh dari kulit Sai kalau boleh Sakura bilang. Yahiko yang sebenarnya penakut mulai merapat ke samping Itachi.

Itachi merasa risih dan mendorong Yahiko ke arah Kakashi yang merasa bosan.

Sosok itu mulai bergerak-gerak. Dia mengangkat kepalanya kemudian menyibak rambutnya yang indah ala bintang iklan shampo itu.

"Tuan Orochimaru," sapa Kabuto sopan.

"Heh? Dia Orochimaru?" Itachi memekik tak percaya. Dia berpikir bahwa Orochimaru itu pasti punya kepala botak karena terlalu banyak mikir.

"Pantas saja... orangnya saja begini, kenapa sok-sokan membuat cokelat laknat itu sih?" Yahiko memulai gerutuannya lagi.

Orochimaru yang baru saja terbangun dari bobok cantiknya jelas terganggu dengan kehadiran kelompok absurd yang mirip rombongan orang demo itu. Dia melotot pada Kabuto untuk meminta penjelasan.

"Kenapa ini ribut-ribut?" tanya Orochimaru berwibawa.

"Ini tentang penemuan anda," jawab Kabuto cepat.

"Kau sudah menemukannya? Mana?" Wajah malas Orochimaru berubah jadi antusias.

"Saya menemukan orang yang telah memakannya," kata Kabuto pelan.

"Baguslah—APAAAA? MEMAKANNYA?"

Kedua bola mata Orochimaru yang seindah mata ular kobra melotot sampai kelihatan nyaris meloncat dari rongganya. Sementara mulutnya menganga lebar seperti gua tempat tinggal Meganthropus Paleojavanicus.

"Holy Cat, Kabuto! Aku kan sudah bilang kalau itu belum sempat diuji di BPOM Konoha," Orochimaru terlihat cemas. Dia kemudian menatap kelompok itu satu persatu, "Jadi yang mana yang sudah memakannya?"

Kakashi menyodorkan Naru dan Itachi menyodorkan Sasu.

"Dua balita ini yang memakannya? Mereka terlihat sehat..." komen Orochimaru begitu mengamati Naru dan Sasu yang begitu montok dan menggemaskan.

"Sehat mbahmu! Kau pikir karena apa mereka jadi balita sehat seperti ini? Ini semua karena penemuan gilamu itu," Yahiko maju dan mengeluarkan ocehannya.

"Lho justru bagus kan kalau mereka jadi sehat," Orochimaru tak terima dirinya disalahkan.

"Tapi masalahnya umur mereka itu 24! Dan sekarang lihatlah! Mereka berubah lagi jadi buntalan daging berpopok!" Tukas Kakashi. Dia melepas maskernya dan itu sukses membuat Orochimaru dan Kabuto kaget karena kehadiran aktor ganteng itu di gedung Taka. "Pokoknya ini salah kalian berdua!"

Tiba-tiba tangan Sasu menggapai-gapai ke arah Orochimaru. Mungkin Orochimaru terhipnotis mata bundar Sasu sehingga dia mendekati balita yang sedang digendong Itachi itu. Sasu tertawa kecil ketika jarak Orochimaru sudah dekat, dan dia segera menjalankan hal apa yang sudah dia pikirkan sejak sejam lalu.

Orochimaru sendiri sedang dibuat takjub oleh kedua balita di depannya. Mata mereka berdua memancarkan kepolosan khas kanak-kanak, beda sekali dengan orang yang tengah menggendongnya.

Hingga kemudian...

Grab.

Sasu menarik kedua ujung rambut Orochimaru yang menjuntai di dadanya. Sasu tertawa puas melihat Orochimaru meringis kesakitan.

"Hei lepaskan rambutku!"

Seperti kerasukan setan, Sasu justru semakin bersemangat menarik-narik rambut Orochimaru ketika mendengar teriakan kesakitan Orochimaru.

"Sasu-kun, apa yang kau lakukan?" Ucap Sakura khawatir, dia mendekati Sasu dan berusaha menenangkannya.

Sakura lalu melotot pada Naru yang sedang meronta-ronta di dalam gendongan Kakashi. Naru minta didekatkan pada Orochimaru agar dia bisa ikut menjambak rambut Orochimaru. Untung saja Kakashi bisa diandalkan.

Sementara Yahiko dan Itachi diam saja—mereka justru terlihat bahagia melihat penderitaan Orochimaru.

"Kabutooooooo... tolong aku..."

Akhirnya dengan susah payah Sakura dan Kabuto berhasil membebaskan Orochimaru dari cengkeraman balita Uchiha berkekuatan Hulk itu. Orochimaru berusaha mengatur napasnya sambil menahan perih di kulit kepala.

Sasu tersenyum puas melihat hasil karyanya. Huh, rasakan itu ilmuwan gila!

"Jadi benda itu adalah penemuan baruku yang berwujud seperti cokelat. Calon masterpiece-ku yang akan kupasarkan secara global dan diproduksi massal. Dia terlahir dari ide brilianku tentang cokelat ajaib yang bisa membuat orang yang memakannya tetap terlihat awet muda," cerita Orochimaru tanpa diminta lagi di bawah tatapan sadis si balita Uchiha.

"Masalahnya cokelatmu tidak hanya membuat orang yang memakannya terlihat awet muda, tapi benar-benar jadi muda," tukas Sakura. Dia lalu memijit pelipisnya frustasi.

"Lalu apa kau punya sesuatu yang bisa membuat Naru-chan dan Sasu-chan kembali?" Kakashi bertanya was-was.

"Sejauh ini tidak—maksudku aku tak tahu kalau cokelat itu membuat pemakannya menyusut,"

Sasu meraung kesal mendengarnya.

"Kusarankan kau cepat mencari cara untuk mengembalikan adik kami ke keadaan semula," ujar Itachi dingin.

"Kau punya waktu 3 hari," imbuh Yahiko.

"Kalian pikir mudah membuatnya?" Protes Orochimaru. Pemaksa sekali mereka ini.

"Terserah kau saja," Yahiko tersenyum miring, "Jika kau tak mau digeruduk satu kompi Anbu lebih baik kau bergegas membuat penawarnya."

Kakashi memutar bola matanya bosan. Lagi-lagi mereka membawa nama Anbu. Memangnya Anbu itu bodyguard mereka apa?

Orochimaru dan Kabuto kaget sendiri ketika nama Anbu disebut-sebut. Kalau polisi sih masuk akal. Apa hubungannya pasukan rahasia Hokage dengan hal ini?

"Jangan mengancamku dengan nama Anbu. Bahkan aku yakin bahwa Hokage akan menyukai ideku," jawab Orochimaru tak tahu diri.

"Cukup. Aku tak tahan lagi!" Yahiko melirik ke arah Naru sekilas sebelum kembali fokus pada ilmuwan nyentrik keras kepala itu.

"Yahiko..." gumam Itachi.

Yahiko tiba-tiba berbalik dan meraih Naru dari gendongan Kakashi. Kakashi mengernyit bingung melihat si jingga yang menurutnya berkepribadian ganda itu. Kali ini apa yang akan dia lakukan?

"Apa kau pikir Paman Minato akan menyetujui idemu?"

"Paman?" Ulang Kakashi bingung. Yahiko baru saja menyebut sang Hokage tampan itu Paman?

"Menurutmu apa reaksinya jika dia tahu bahwa putra tunggalnya berubah jadi balita lagi?" Yahiko tersenyum penuh kemenangan ketika wajah Orochimaru dan Kabuto memucat.

"Putra tunggal?"

"Ya, perkenalkan adik sepupuku yang lucu ini, Namikaze Naruto. Seharusnya sejak awal kalian merasa familiar dengan rambut pirang dan mata birunya."

.

.

"Sakura, kenapa kau tidak cerita sejak awal?" Kakashi menatap Sakura yang kini sedang membuat makan malam di dapur apartemennya.

Sakura menghela napas dan menghentikan acara memotong tomatnya, "Naruto tidak suka jadi pusat perhatian,"

Sekarang mereka semua berada di apartemen Kakashi setelah mereka berhasil memaksa Orochimaru untuk membuat penawar secepat yang dia bisa. Yahiko dan Itachi juga masih berada di sini, mereka tengah bercengkerama dengan adik mereka di kamar.

Sementara Kakashi yang masih syok memutuskan untuk menghampiri Sakura saja.

"Bahkan saat pertama kali aku berkenalan dengan Naruto pun aku tak tahu bahwa dia itu seorang Namikaze. Naruto adalah seseorang yang mandiri, dia lebih suka berusaha sendiri tanpa memanfaatkan nama besar Ayahnya dan juga keluarganya," Sakura tersenyum, kentara sekali bahwa Naruto adalah seseorang yang berharga di dalam hidupnya. Dan entah kenapa tiba-tiba Kakashi merasa tak nyaman.

"Lalu soal Yahiko itu... apa kau tahu kenapa dia selalu menatapku dengan tatapan seperti seekor singa kelaparan?" Kakashi mencoba menanyakan hal lain pada Sakura.

Kali ini Sakura tertawa keras.

"Mungkin dia cemburu,"

"Cemburu? Karena Naru-chan menempel terus padaku?"

"Itu juga salah satu penyebabnya. Tapi juga ada alasan lain,"

"Apa?" Kakashi mulai penasaran.

"Konan-san. Yahiko-san adalah tunangannya, mereka sudah bertunangan sejak 5 tahun lalu."

Kakashi terdiam saking kagetnya. Jadi lawan mainnya di film terbaru itu adalah tunangan Namikaze Yahiko? Ternyata dunia itu sempit sekali. Sepertinya ada benang tak kasat mata yang menghubungkan mereka semua.

"Kakashi-san, kenapa kau melamun?"

"Tidak, aku tidak apa-apa. Tapi, Sakura—tidakkah kau berpikir bahwa ini semua adalah takdir?"

"Maksudmu?"

"Pertemuan kita,"

Wajah Sakura merona dan dia cepat-cepat kembali meneruskan memotong tomat di talenan. Mungkin karena nervous-nya Sakura tak sengaja melukai jemari tangannya.

Kakashi menggeleng melihat kecerobohan Sakura. Dia mendekati Sakura dan membimbingnya ke wastafel. Kakashi kemudian membuka keran air dan menuntun jari Sakura yang terluka di bawah kucuran air.

"Ini memang terasa perih, tapi itu hanya sebentar. Setelah ini lukamu akan cepat sembuh," kata Kakashi serius.

Tanpa sadar Sakura tersenyum lembut ketika menatap wajah tampan Kakashi. Sakura sadar benar bahwa ada sesuatu yang menggelitik di dasar hatinya.

Kakashi pun merasakan hal yang sama ketika dua pasang mata mereka saling bertemu. Sudah lama sekali Kakashi tidak merasakan debaran ini, terakhir kali itu beberapa tahun yang lalu sebelum dia memutuskan untuk menutup pintu hatinya rapat-rapat karena Rin lebih memilih untuk menghabiskan hidupnya bersama Obito.

Mereka berdua masih asyik saling menyelam ke dalam mata masing-masing tanpa menyadari bahwa ada sepasang mata kelam yang mengawasi mereka. Sasu bersembunyi di dekat kusen pintu dengam wajah dinginnya. Rasa tidak rela muncul begitu saja ketika dia melihat senyuman lembut yang diberikan Sakura pada Kakashi. Dia merasa Kakashi tak berhak menerimanya.

Uchiha Sasuke tidak bisa menerima ini.

"Kau cembulu?"

Sasu menoleh ke belakang dan melihat Naru yang bersedekap ke arahnya. Putra Namikaze Minato itu menatapnya dengan serius, berbeda sekali dengan tatapan jenaka yang biasa dia tunjukkan pada semua orang.

"Kupikil kau tidak bisa menutupinya daliku,"

Jika saja suara Naruto tidak cadel, Sasu pasti sudah merasa merinding begitu sobat pirangnya itu tiba-tiba bersikap dewasa.

"Kau pasti juga melasakannya," lirih Sasu.

Naru tersenyum tipis dan menggeleng, "Tidak. Aku justlu cenang kalena Cakuya-chan tellihat bahagia. Jujul aku melindukan cenyuman lembut itu, cenyuman yang dulu hanya dia tujukan untukku—untukmu juga."

Dulu, Naruto dan Sakura bahagia. Cinta pertama di masa SMA yang indah. Cukup lama mereka bersama sampai mereka menyadari bahwa lebih baik jika mereka berpisah dan bersahabat saja.

Naruto terpuruk.

Sakura terpuruk.

Dan kemudian hadirlah si muka boneka Sasori yang mampu membuat Sakura kembali tersenyum.

"Yang kulasakan beda dengan yang kau lasakan," tegas Sasu.

"Ya, aku tau. Aku kini menyayangi Cakuya-chan cebagai cahabatku, tapi kau—kau celalu menempatkan Cakuya-chan di pliolitas telatas hidupmu. Bahkan ketika Gaala datang ke dalam hubungan kalian, kau melelakannya. Asal dia bahagia, kau melakukan apapun untuknya,"

Sasu terdiam mendengar penuturan Naru.

"Tapi sekalang aku yakin bahwa kau tidak akan melakukan hal yang cama, kau menginginkan Cakuya-chan lagi."

"Aku beljanji bahwa aku akan menendang Kakashi jauh-jauh dari kehidupan Cakuya," Sasu menyeringai.

.

oOo

To be continued...

oOo

.

Hallo semua,

Yang pertama, aku mau ngucapin terimakasih buat dukungan kalian di chapter 6 kemarin.

Yang kedua, enaknya Sasu dan Naru cepat kembali ke wujud semula biar Sasuke bisa muncul memperjuangkan cintanya.

Yang ketiga, ada yang nungguin Gaara dan Sasori?

Terakhir, sampai jumpa di chapter 8...