Hi, everyone!

Anne muncul lagi, nih. Anne seneng deh ternyata masih banyak yang nungguin kelanjutan kisah ini. Anne kira waktu dulu ngekonsep cerita ini, Anne takut nggak ada yang suka dengan genre keluarga plus persahabatan, apalagi pair Ron-Hermione (yang jadi pusat cerita) sedikit banget yang suka. Tapi, Anne positif aja, deh, dan ternyata.. aaagghh makasih banget untuk kalian semua yang masih setia baca fic Anne.

syarazeina: thanks ya! Ikuti terus kisahnya! :)

alicia keynes: wahhh ketinggalan jauh nih kamu. Tapi nggak apa deh, selamat belajar aja semoga ujiannya lancar dan sukses! Amin. Hehehe tepuk tangan balik buat kamu, thanks banget! Requestan kamu aku tampung dulu, ya.. semisal ada waktu aku buatkan. Thanks sudah selalu support! :)

ninismsafitri: Hohoho.. aku nulisnya juga sampe ketawa sendiri, aku ingat dulu ibu pernah kayak Ginny waktu ayah sama dua kakak aku ngintip tetangga. Tapi bukan lagi ciuman kok. hehehehe.. Thanks :)

AMAZING: hahahaha like father like son, emang bener. Ayah sama kakak-kakak aku juga gitu soalnya! Request kamu aku tampung dulu, ya! Kalau sempat aku buatkan. Thanks :)

Dande Liona: sabar... uang akan kembali. tenang aja, Anne yang jamin. Lohh? hehehehe Thanks ya :)

ayusyafitri132: kamu juga ketinggalan ya? wahwah wah.. ternyata banyak yang suka Harry, James, Al dipukul pantatnya sama Ginny ya, itu sebenarnya kisah nyata dari ibu, ayah, sama dua kakak aku. Hobinya kepo! Lah? Kalau punya anak laki-laki kayak James dan Al, ya. Pasti lucu dan ganteng-ganteng. Thanks, ya! :)

Terima kasih semuanya! Ternyata masih banyak yang suka fic Anne ini. Oh, ya, berhubung sebentar lagi akun FFN Anne ulang tahun yang pertama, bagi yang sudah lihat IG Anne pasti tahu, nih. Ada salah satu fic yang akan Anne buatkan sequelnya dan publish tepat tanggal 20 Maret nanti. Hayooo coba tebak fic yang mana? Cluenya.. fic yang bikin baper sampe Anne dimarah-marahin gara bikin pair ini titik titik. Yang sering ngikutin fic Anne pasti tahu, Hayo apa? :)

Udah deh, pokoknya tunggu aja.

Langsung baca chapter 7 ini, ya!

Happy reading!


Hermione membuka matanya pelan. Cahaya matahari sedikit memaksa masuk dari celah jendela kamarnya. Ia tersenyum hangat. Wajah manisnya bersemu merah efek dari badannya yang menghangat setiap baru bangun dari tidur. Langit-langit tempatnya tidur kembali berbeda. Jauh dari malam sebelumnya, langit-langit kamar tempatnya tidur berwarna biru muda. Rumahnya yang lama. Hari selanjutnya, langit-langit di atas kepalanya berganti. Warna hijau pastel dengan aksen ukiran cantik di bagian sudutnya. Dua kamar di rumah Harry. Namun sekarang, langit-langit kamar tempatnya tidur kembali berbeda. Putih, dengan ukiran berbentuk bunga-bunga berlekuk di sekeliling pembatas tembok dan area lampu gantung. Hermione tersenyum puas. Karena ia kembali di rumah.

Rumah barunya.

"Morning, honey—"

Hermione kaget mendapati sisi ranjangnya telah kosong. Ron tak ada di ranjang. "Tidak seperti biasanya Ron bangun lebih dulu dariku." Ujarnya lirih. Masih pukul lima, batinnya. Hermione mulai khawatir jika terjadi sesuatu dengan Ron.

Belum terbiasa dengan suasana rumahnya, Hermione memilih untuk melihat sekeliling lantai dua secara pelan-pelan. Takut mengusik Rose maupun Hugo yang masih tertidur. Ia belum tahu benar apakah dinidng-dinding rumahnya itu cukup kedap untuk meredam suara langkah kaki ataupun kebisingan di sekitar sana.

Di tangga menuju ruang tamu, Hermione sejenak berpikir. "Apa Ron ada di bawah?" batinnya. Melangkah turun, Hermione mendengar suara-suara ribut di bagian dapur. Suara berat pintu lemari pendingin tertutup membuatnya sadar jika Ron sedang mencari sesuatu di dapur barunya.

"Lapar?"

Ron menoleh pada arah Hermione. Ia tersenyum kecil menunjukkan satu cup kecil berisi yogurt dingin. "Hanya mencari pengganjal perut. Tiba-tiba lapar," kata Ron diikuti sesendok yogurt yang masuk ke mulutnya.

"Kau sendiri yang semalam makan sedikit. Kau juga tak mengambil cemilan seperti biasanya," kata Hermione. Ron mulai menyendokkan yogurt keduanya ke dalam mulut. Hermione berdecap tergoda.

Ron tertawa coba mengalihkan perhatian penjelasan Hermione. Ia menyuapkan kembali yogurtnya, tanpa menghiraukan kspresi Hermione yang tergiur dengan aroma strowberry yogurt miliknya. "Bisa tidak, sih, kau bersikap romantis pada istrimu sendiri?" pekik Hermione tak tahan.

"Hah? Romantis?" Ron memperhatikan penampilannya. Memakai piama dan sandal kamar berbulu warna biru tua. Tidak begitu pantas dipakai oleh laki-laki, apalagi yang sudah dewasa dengan istri dan dua anak sepertinya. Serta suasana yang remang-remang karena lampu dapur hanya menyala redup. "Dengan seperti ini?"

Ron menggeleng tak paham sampai akhirnya Hermione sendiri menunjuk cup yogurtnya yang habis. "Ups, kau mau? Kenapa tak bilang. Kalau sudah habis, bagaimana—"

"Kau tak asik," Hermione berpaling melihat ruang tamu yang masih tampak lenggang. Hanya beberapa barang yang sudah terpasang di sana, seperti satu set sofa yang masih utuh diselamatkan ketika ledakan itu meluluhlantakkan rumah lamanya.

"Kita harus mengatur perabotan baru kita, Ron. Kita bisa beli piano baru seperti milikku dulu dan diletakkan di sana, jangan di dekat pintu masuk. Lalu kita butuh lemari kaca, sekitar.. em, dua atau tiga lemari untuk meletakkan beberapa barang di lemari kita yang lama yang masih utuh. Gelas-gelas kaca, keramik yang masih utuh harus dimasukkan dalam lema—"

"Ya, aku tahu. Tapi," Ron terbatuk pelan, "aku rasa itu bisa dipikirkan nanti, Mione, bukankah kita harus memikirkan tentang pekerjaan di Kementerian. Katanya kau masih ada projek baru dengan pihak Kementerian untuk.. mengurus lembaga perlindungan anak penyihir yang terlantar? Iya?"

Hermione diam sejenak, mengingat jika ia memiliki tugas baru dari Kementerian untuk membuat sebuah tempat seperti pantuan penyihir anak yang tak memiliki keluarga. Hermione sendiri yang menyanggupi untuk mengatur semuanya hingga terealisasikan dengan baik. "Benar, aku lupa. Aku menaksir tak akan membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya, sayang, jadi aku masih ada waktu untuk mengurus perabotan rumah baru kit—"

Cup! Ron menempelkan bibirnya pada bibir Hermione tanpa aba-aba. Ada gerakan mengecap saat mereka menyadari belahan bibir itu menyatu. "Semuanya tidak bisa sekali kerja langsung jadi. Kau harus benar-benar memikirkan dan mengurus pekerjaanmu itu dengan baik, sayang. Kau menyelamatkan masa depan banyak anak penyihir yang terlantar itu. Mereka membutuhkanmu, jadi.. bekerjalah dengan benar. Jangan terburu-buru, untuk urusan rumah—kita bisa bicarakan nanti," kata Ron terkesan menghalangi.

Hermione tampak mengerutkan dahinya bingung dengan sikap Ron yang tampak berubah sejak mereka pindah. Hermione berusaha tersenyum untuk tidak merusak suasana paginya bersama Ron.

"Sekitar bibirmu masih banyak yogurtnya. Kalau makan yang rapi, sayang—"

"Jangan dibersihkan pakai tangan—" tahan Ron dengan memegang jari-jari Hermone yang siap menghapus noda yogur di sekitar area bibir Ron. "Katanya kau tadi ingin yogurtku, jadi.. bersihkan dengan mulutmu."

Wajah Hermione bersemu merah. Meskipun menyebalkan, Ron memiliki caranya sendiri untuk menunjukkan rasa sayangnya pada Hermione. Keromantisan yang tercipta tanpa terduga terasa jauh lebih spesial, begitu yang selalu dilakukan oleh Ron untuk membahagiakan istri tercintanya, Hermione.


Pintu ruangan Harry terdengar seperti diketuk dari luar. Harry sejenak melihat ke arah pintu. "Silakan," katanya lantas kembali menulis beberapa lembar perkamen. Dokumen yang harus ia periksa cukup banyak hari ini.

"Permisi, Sir. Saya mengantarkan memo untuk anda dari pihak administrasi Kementerian." Seorang Auror muda masuk untuk memberikan secarik kertas pada Harry.

Pagi ini Harry menerima memo dari Kingsley. Pesan untuk mengingatkan Harry agar datang menemuinya hari ini di kantornya. Memo itu diterima sangat pagi. Ya, karena Harry sendiri baru sampai di kantornya beberapa menit lalu.

"Sekarang, dan aku harus mengajak... Ron?"

Harry diam sejenak. Kursi kerjanya berderit saat punggungnya bersandar pelan ke belakang. Ia bingung karena Ron akan ikut dalam penandatanganan surat resmi perubahan kebijakan Kementerian. Salah satu masalah yang sedang disembunyikan oleh Ron dari semua orang. Harry memejamkan matanya berusaha berpikir. Beberapa saat kemudian, matanya kembali terbuka, tepat di depan salah satu foto yang berdiri di atas meja kerjanya. Foto Harry, Ron, dan Hermione sedang bersama ketika mereka masih di tingkat satu Hogwarts, awal persahabatan mereka puluhan tahun lalu.

Susah senang mereka lalui bersama. Saling tolong menolong, rela mati untuk melindungi satu sama lain. Golden Trio, mereka masih ada, hingga kini. Tidak peduli berapa usia mereka dan seperti apa sekarang. "Aku tak pernah bisa seperti sekarang tanpa kalian. Apapun itu, aku punya hak untuk membantu kalian. Aku sangat menyayangi kalian, guys."

Harry akan mengajak Ron sebentar lagi, tapi bagaimana ia harus bersikap nanti, Harry tak tahu. "Itu artinya di sana akan membuat malu Ron. Merlin, untung aku tahu lebih dulu. Lalu, bagaimana aku mengajaknya nanti? Otomatis, ia akan berkata jujur dengan rumah barunya nanti," ujar Harry pelan.

Langsung atau tidak, masalah pencairan biaya itu pasti akan dibahas di depan Ron sendiri. Harry, yang tahu bahwa rumah baru Ron sudah didapatkan dengan alasan uang tunjangan dari pihak Kementerian tentu saja menjadi sebuah kebohongan yang akan diutarakan Ron jika memang laki-laki termuda Weasley bersaudara itu tetap mempertahankan alibinya di depan Harry.

Undangan Kingsley tinggal dua puluh menit lagi. Harry tidak bisa diam terlalu lama hanya untuk memikirkan bagaimana ia menjelaskan tentang Ron dan menyelamatkan sahabatnya itu dari rasa tak nyaman ketika mengungkit masalah rumah barunya. Harry bergegas membereskan pekerjaannya. Ia harus segera menemui Ron. Lebih cepat lebih baik.

Beberapa Auror yang melihat Harry keluar ruangannya tenang sesaat memberi salam. Mereka yang berdiri langsung siap dan mengangguk hormat. "Ada yang tahu di mana Mr. Weasley?" tanya Harry pada anak buahnya.

"Saya melihatnya tadi di cafetaria. Mungkin, Mr. Weasley sedang membeli kopi, sir," kata salah seorang Auror yang sedang duduk di bangku kerjanya.

"Ah, begitu. Oh, ya, rapat hari ini sedikit mundur beberapa jam, karena saya dan Mr. Weasley ada urusan dengan pihak Wizengamot."

Semua Auror yang mendengar pengumuman dari Harry memaklumi lantas mempersilakan pimpinan mereka keluar dari kantor. Harry begitu tergesah-gesah mencapai pintu, secepatnya ia harus berbicara secara pribadi dengan Ron.

Ketika Harry bersiap keluar dari Departemen Pelaksanaan Hukum Sihir, seseorang terdengar memanggilnya. Harry berbalik mencari tahu sang pemilik suara.

"Mione?"

Poni rambut Hermione terbang menembus angin akibat ia berlari. Dengan wajah tak-bisa-ditebaknya, Harry berdiam mengamati Hermione yang semakin mendekat ke arahnya. Harry tak bisa pergi begitu saja jika sudah seperti ini.

"Harry—" suara Hermione terpatahkan dengan hembusan napas yang sangat berat. "Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu, Harry. Bisakah kau—"

"Sorry, Mione. Ta-tapi, aku sedang ada urusan dengan.. suamimu," Harry menelan ludahnya grogi, "kami ada urusan dengan pihak administrasi Wizengamot."

Mata Hermione langsung membulat, seperti baru menemukan sesuatu yang sedang ia cari. Hermione menarik tangan Harry menuju dekat dinding. Beberapa penyihir yang melintas melihat Hermione tak suka. Mereka menganggap kelakukan Hermione pada Harry tidak sopan. Harry, sang kepala Auror ditarik paksa dengan semena-mena oleh seorang wanita pegawai lain.

"Harry, aku mendengar bahwa Kingsley dan anggota Wizengamot akan meresmikan kebijakan baru tentang percepatan pencairan tunjangan pegawai itu. Baru hari ini, dan kau tahu, Harry—" Hermione melepaskan cengkraman tangannya dari lengan Harry, "aku merasa ada yang aneh.. pada Ron."

Harry, sejak ia pertama mengenal Hermione belum sekalipun memungkiri tentang kepintarannya. Jika banyak orang mengatakan ibunya sendiri, Lily, juga kelahiran Muggle yang cerdas, ia akan ikut mengatakan dengan yakin jika penyihir kelahiran Muggle tercerdas selanjutnya adalah Hermione.

"Harry, kenapa kau diam saja? Bantu aku, kau satu kantor bersamanya, kan? Ron anak buahmu. Kau pasti tahu bagaimana gelagatnya akhir-akhir ini—"

"Iya," potong Harry cepat, "apa yang kau rasakan juga ikut aku rasakan. Keanehan Ron, juga terbaca oleh Ginny, bahkan anakku sendiri, James."

Harry dan Hermione masuk bersamaan ke dalam lift menuju cafetaria yang berada di dekat loby. Tidak banyak pegawai yang masuk, hanya mereka dan tiga penyihir lain dengan seragam bagian Departemen lain. "Aku yakin, Ron menyembunyikan sesuatu dariku, Harry," bisik Hermione pelan di telinga kiri Harry.

"Tenanglah, kita bicara baik-baik padanya sekarang," ujar Harry berusaha tenang.


"Ron!" teriak Hermione.

Ron berbalik kaku. Ia melihat istri dan adik iparnya datang tergesa-gesa mendekatinya yang bersiap masuk lift lain. "Kalian ada apa—"

"Aku ingin kita bicara bertiga, sekarang, Ronald." Tukas Hermione tak tahan.

Ron tampak kebingungan melihat perubahan ekspresi Hermione yang tidak setenang tadi pagi sebelum mereka berangkat bekerja. "Ada apa sebenranya, kita bisa bicara di sini sekarang. Bukankah aku harus segera kembali, Harry, ini masih jam kantor, kan? Kau tak mungkin membiarkan anak buahmu sepertiku keliaran tak jelas saat jam kerja. Kita ada rapat," tanya Ron mencari pembelaan Harry.

"Aku sudah mengundur waktu rapat kita, Ron. Kita harus segera menemui Kingsley, kau dan aku. Tapi—aku, kau, dan Hermione ingin membicarakan sesuatu yang jauh lebih penting sekarang juga." Kata Harry.

"Aahh—"

"Ron, kita sudah lama bersahabat. Bahkan sekarang kita satu keluarga. Harry sekarang adik iparmu, satu keluarga besar Weasley. Please, aku mohon tak ada lagi rahasia yang bisa kau simpan sendiri. Kita bisa selesaikan bersama." Hermione menggenggam tangan Ron mencoba meyakinkan.

Ron menunduk lesu, dikepalanya telah terlintas bagaimana sebentar lagi rahasianya akan terbongkar, oleh dua sahabat terbaiknya sendiri.

- TBC -


#

Wah.. apakah Ron akan mengaku, teman-teman? Temukan apa yang akan dilakukan The Golden Trio di chapter selanjutnya, ya! Maaf kalau masih ada typo, teman-teman! Semoga terhibur, ya, dan tetap ikuti terus kisahnya. Maaf kalau masih ada typo. Anne tunggu review kalian!

Thanks,

Anne xoxo