ROSE

.

.

.

.

.


Junmyeon memegangi kepalanya dengan kuat. Ia menempelkan kepalanya itu ke ujung wastafel kamar mandinya. Kepalanya terasa pening. Terdengar isakan keluar dari mulutnya walau samar-samar. Ia tak kuat lagi menahan sakit, bahkan mengangkat kepalanya sendiri pun ia menyerah. Benar-benar sakit.

"Hiks.. Hiks.. Aku tidak kuat... Aku tidak kuat... Hentikan.. Kumohon hentikan..."

Junmyeon terus meraung dengan kalimat yang sama. Tetesan darah dari hidungnya terus mengalir. Junmyeon tak peduli seberapa banyak darah yang keluar dan menempel Di wastafel. Air mata Junmyeon mengalir deras. "Ibu.. Ayah.. Kakak... Hiks hiks hiks... Baekhyun... Chan..chan.. Hiks hiks hiks... Chanyeollie... Bagaimana.. Bagaimana aku harus meminta maaf pada kalian? Aku...aku.."

Hening. Hanya tangisan Junmyeon yang terdengar di kamar mandi itu. Tak ada siapa-siapa lagi disana.

.

"Harusnya... Kau tak perlu meminta maaf pada mereka,"

.

Junmyeon menghentikan tangisnya ketika mendengar sebuah suara. Suara itu memang terdengar samar-samar, tapi pendengaran Junmyeon dapat menangkap suara itu. Perlahan, ia mengangkat kepalanya walau ia bersumpah sakit di kepalanya belum hilang. Ia menatap cermin untuk memastikan siapa orang yang ada di belakangnya. Tak ada siapa-siapa. Lalu, ia pun berinisiatif untuk membersihkan darah di hidungnya. Setelah selesai, ia menatap lagi cerminnya. Tampak seseorang yang sama persis dengannya. Bedanya, orang itu menggunakan pakaian tradisional Korea, dan rambutnya agak panjang. Ekspresi orang itu datar. Junmyeon kaget, lalu refleks menoleh ke belakang. Anehnya, tak ada siapa-siapa. Junmyeon menoleh lagi ke cermin. Bayangan orang itu masih ada.

"Kim Junmyeon..." desis orang itu memanggil nama Junmyeon.

"Sampai kapan kau terus menghantui hidupku, Kim Junmyeon?" Junmyeon berbicara pada bayangan orang tadi. Ternyata, orang berpakaian tradisional tadi adalah Kim Junmyeon di zaman Goryeo. Dialah sang pencetus kutukan mawar merah.

"Aku tidak tahu..." jawab Kim Junmyeon dari masa lalu itu.

Junmyeon hanya menatap bayangan Kim Junmyeon dari masa lalu itu. "Aku sudah tak tahan lagi.. Seluruh tubuhku terasa mati. Jika aku menyukai orang yang akan kubunuh, pun... Darah pasti keluar dari hidung ini.. Belum puas kau? Belum puas kau menyakiti keturunanmu sendiri?!"

Kim Junmyeon dari masa lalu hanya terdiam. Air mata Junmyeon keluar lagi dengan sendirinya. "Aku lelah. Aku lelah menghilangkan nyawa banyak orang hanya karena KUTUKANMU KIM JUNMYEOOONNN !"

"..."

"Kapan aku bisa... Kapan aku bisa merasakan yang namanya mencintai dan dicintai...? Kapan? Kapan? Hiks hiks.. Kapan..."

"Tidak ada gunanya kau merasakan mencintai dan dicintai, keturunanku.." Kim Junmyeon dari masa lalu pun akhirnya buka suara. Junmyeon meredam tangisnya sejenak dengan menggigit bibir bawahnya.

"Jika kau mau tahu alasannya, lihatlah orang tuamu! Mereka bahkan hampir menyia-nyiakanmu demi kakakmu yang mereka lebih sayang daripada kau sendiri! Dan jika kau tak pernah tahu akan asal-usulmu.. Sudah kupastikan hidupmu sekarang lebih sengsara dari sebelumnya.." jelas Kim Junmyeon dari masa lalu itu.

"Lalu... Apa hubungannya dengan membunuh orang yang dicintai?" tanya Junmyeon.

"Orang yang kau cintai... Sebenarnya tidak mencintaimu," jawab Kim Junmyeon dari masa lalu.

Junmyeon terdiam. Lima detik kemudian sebuah senyum getir keluar dari bibir tipisnya. "Kau tahu.. Aku sekarang... Sedang mencintai seseorang,"

"Kenapa kau tak membunuhnya?"

"Belum saatnya.." jawab Junmyeon sambil menutup matanya. Wajah yang terngiang di otaknya adalah wajah seorang pria cantik dengan dua lesung pipi yang menambah kesan manis pada pria itu. "Karena... Dia juga mencintaiku.."

"Sudah kukatakan tadi, keturunanku.." Kim Junmyeon dari masa lalu kembali bersuara. "Bahwa dia takkan mencintaimu. Jalani kehidupanmu sebagai pembunuh! Kau takkan bisa mencintai dan dicin..."

.

PRANG !

.

Junmyeon melemparkan sebuah gelas kumur ke cermin yang memantulkan bayangan dari Kim Junmyeon dari masa lalu itu. Gelas kumur itu pecah, cermin yang dilempar retak bahkan ada pecahan kaca cermin yang perlahan jatuh ke keramik yang ada di sekeliling wastafel. Kim Junmyeon dari masa lalu itu hilang dari pandangan Junmyeon. Junmyeon pun keluar dari kamar mandi.

Sinar matahari masuk dengan leluasa dari kaca pintu balkon. Kebetulan pintu balkon terdiri atas kayu dan kaca. Junmyeon menolehkan kepalanya ke arah pintu balkon itu. Sedetik kemudian ia berjalan perlahan kesana. Sesampainya ia di depan pintu itu, mata kuacinya menangkap sebuah balkon di depan apartemennya. Asrama mahasiswa Universitas Sungkyunkwan. Apartemen Junmyeon berada di belakang asrama tersebut. Salah satu pintu balkon yang tepat dihadapan balkon Junmyeon terbuka lebar. Menampakkan seorang penghuni kamar yang sedang asyik berkutat dengan buku dan sebuah headphone yang bertengger di telinganya.

Junmyeon memandang penghuni kamar itu dengan sendu. Penghuni kamar itu adalah Yixing. Yixing memang tak sadar kalau tempat tinggal Junmyeon ada di seberang balkon. Junmyeon dapat melihat Yixing yang sedang serius membaca sebuah buku. Junmyeon juga dapat melihat Yixing yang saat itu sedang membaca buku, diusik oleh Luhan. Mereka pun akhirnya memulai cekcok mulut. Junmyeon tersenyum getir melihatnya. Ia tak bisa tertawa lebar karena ada perasaan yabg terganjal di hatinya.

Air mata Junmyeon tiba-tiba mengalir begitu saja ke pipi putihnya. Setetes, dua tetes, kemudian air mata itu benar-benar mengalir deras dari mata Junmyeon. Pucuk kepala pemuda berwajah bak malaikat itu disandarkan ke pintu balkon. Menangis keras disana. Kegiatan cekcok mulut antara Luhan dengan Yixing pun berakhir dengan tawa. Dan Yixing pun menghampiri pintu balkon kamarnya dan menutupnya. Berakhirlah kegiatan Junmyeon menatap Yixing. Tangisnya mengeras. Tubuhnya merosot ke lantai dan kini dalam posisi duduk bersimpuh.

"Apa aku harus membunuhmu? Apa aku harus menghilangkan nyawa satu orang lagi? Lalu.. Siapa orang yang akan menghilangkan kutukan ini? Aku tidak kuat... Aku tidak kuat... Hiks hiks hiks... Aku mencintaimu.. Aku mencoba untuk mencintaimu... Zhang Yixing.."

.

.

.

ROSE by Ira Putri

.

.

.

"Apa? Chanyeol hilang?"

Seluruh mata tertuju pada pemuda tinggi keturunan Kanada-China itu. Siapa lagi kalau bukan Kris. Sehun, Dio, Kai, Tao, Luhan dan Yixing menatap Kris tak percaya. Kris menunduk frustasi. Bagaimana pun, Chanyeol adalah saudara sepupunya.

"Aku tak pernah berpikir ke situ. Tapi... Kenyataannya seperti itu bagaimana aku harus bertindak?" Kris mengacak rambutnya.

"Kau bilang... Dia mau mendatangi teman lamanya. Siapa namanya?" Kai menyela.

"Aku tidak tahu.." jawab Kris pelan.

"Kapan terakhir kau bertemu dengannya?" tanya Tao, calon pasangan sah Kris.

"Hari Senin kemarin. Tapi dia hilang hari Rabu. Aku dan bibi Park berusaha mencarinya sampai sekarang," Kris tetap dengan posisinya.

"Bagaimana bisa... Uhm, sudah lapor polisi?" tanya Dio.

Kris mengangguk. "Sudah. Tapi belum ada tanda-tanda ditemukannya Chanyeol,"

"Kemana perginya bocah itu?" Kai mendesis. Sehun dan Yixing hanya diam tanpa kata.

Luhan tiba-tiba berdiri membuat semua mata tertuju pada Luhan sekarang. Pandangan mereka sarat akan pertanyaan 'ada apa Luhan?'. Awalnya Luhan diam saja. Namun beberapa detik kemudian Luhan pun bersuara. "Aku mau mencari Chanyeol,"

"Kau gila, Lu-ge?" Sehun menimpali. "Kita kan tidak tahu dimana keberadaan Chanyeol sekarang. Kris yang notabene sepupunya saja tidak ta..."

"Makanya aku mencarinya, bodoh!" Luhan menyela. "...mungkin aku tahu siapa yang mengetahui keberadaan Chanyeol sekarang,"

"Memangnya siapa, Ge?" Yixing mulai bertanya.

Luhan memandang Yixing. Pandangannya penuh arti. "Kita lihat saja,"

Luhan pun menuruni tangga tempat ia dan teman-temannya duduk tadi. Kris, Tao, Kai, Dio, Sehun dan Yixing masih memandang kepergian Luhan. Semuanya masih bibgung akan ucapan dan kelakuan Luhan tadi.

"Kenapa aku jadi takut sama Luhan-ge, ya?" Tao bergidik ngeri.

"Apa.. Luhan mengenali salah satu teman Chanyeol? Chanyeol kan temannya banyak sekali," Kris bertanya-tanya.

"Semoga Chanyeol cepat ditemukan," ujar Dio dan diangguki oleh Kai.

"Err, Yixing-ge? Apa maksud Luhan-ge tadi?" tanya Sehun pada Yixing.

"T-tidak tahu... A-aku juga bingung," Yixing tergagap.

"Xing, kau pasti tahu sesuatu," ujar Kris setelah hening menerpa mereka selama lima detik.

Yixing menoleh kearah Kris yang juga menatapnya. "A-aku berani bersumpah. Aku tidak mengerti apa-apa, Kris!"

"Kurasa, ini masalah pribadi antara Luhan-ge dan Chanyeol," Sehun menginterupsi.

Kai mengelak. "Eh? Sejauh aku mengenal kedua orang itu, aku tak pernah melihat mereka akrab. Mereka pasti sering cekcok mulut dan berakhir lempar guling,"

"Xing, aku berani bertaruh kau pasti tahu sesuatu antara Luhan dan Chanyeol," Kris kembali menatap Yixing.

"Kris, jangan memojokkanku seperti itu. Aku benar-benar tak tahu apa-apa," Yixing mengelak keras.

"Sudah-sudah.. Kita berdoa saja supaya Chanyeol cepat ditemukan. Dan Luhan-ge kembali dengan beberapa informasi dimana Chanyeol berada," Dio menenangkan. Semua kembali terdiam dan kalut dalam pikiran masing-masing.

.

.

.

ROSE by Ira Putri

.

.

.

"Eh? Kim Junmyeon?"

Hayi membulatkan matanya saat Luhan mengatakan nama Junmyeon. Luhan memasang wajah datarnya. "Ya. Kau tahu dimana tempat tinggalnya?"

Hayi mengernyitkan matanya sejenak. "Aku memang tahu Kim Junmyeon. Tapi.. Aku tak tahu persis tempat tinggalnya,"

"Yixing mengatakan kalau kau memberitahu secara sepintas tentang Kim Junmyeon," Luhan menambahi.

"Memang iya.. Tapi itu kan aku hanya sepintas tahu saja. Entah benar atau tidak aku kan tidak tahu," elak Hayi.

"Baiklah, baiklah," Luhan menyudahi debatnya. "Beritahu aku dimana tempat tinggalnya!"

Hayi bergidik ngeri sendiri. Tak seperti biasanya ia bertingkah seperti itu. "S-setahuku... Dia tinggal di apartemen di Nam-street sana. Dan aku tidak tahu selanjutnya lagi,"

BRAK! Hayi terkejut dan refleks mundur dua langkah saat Luhan menggebrak meja kasirnya. Tapi setelah itu Luhan meninggalkan mini market begitu saja. Hayi memandang kepergian Luhan yang berbelok ke kanan menuju Nam-street. Hayi kembali berkutat dengan pikirannya.

"Dari pertemuan Yixing-ge dan Kim Junmyeon... Majalah EXO... Dan sekarang? Aish, ada apa ini sebenarnya?"

.

ROSE

.

Luhan memandang pintu kamar apartemen di depannya. Kamar Apartemen Nomor 225. Apa benar yang disebutkan oleh resepsionis lobby apartemen? Batin Luhan bertanya-tanya. Daripada cemas, lebih baik ia memencet bel pintu saja. Luhan memandang tombol bel bulat berwarna biru air itu. Kemudian ia memencet bel itu perlahan. Keluar suara bel samar-samar dari dalam.

Sedetik, tak ada respon. Dua detik, masih tak ada respon. Tiga detik, Luhan kembali memencet bel itu sebanyak dua kali. Apa dia sedang keluar untuk membunuh lagi? Luhan mulai curiga. Tapi kecurigaan Luhan teralihkan saat pintu apartemen mulai terbuka. Mata Luhan membulat seketika. Ia terkejut.

.

Ternyata pemilik kamar apartemen ini bukan Kim Junmyeon.

.

Melainkan seseorang pemuda dengan perawakan kecil, bermata lancip dan pipi bulat seperti bakpau.

"Maaf? Anda mencari siapa?" tanya orang itu.

"Apa... Disini apartemen dengan pemilik bernama Kim Junmyeon?" tanya Luhan to the point.

"Kim Junmyeon? Maaf sebelumnya saya tidak tahu tentang pemilik apartemen yang lama. Saya Kim Minseok. Pemilik apartemen yang lama baru saja pindah," jawab orang bernama Minseok itu.

"Kim Minseok? Apa... Kau punya ikatan keluarga dengan Kim Junmyeon?"

"Hahaha..." Kim Minseok tertawa renyah. "Apa karena nama marganya sama? Maaf, tapi saya tidak tahu tentang Kim Junmyeon,"

Luhan menganga. Ternyata ia salah kamar. Resepsionis sialan. Ia sudah ditipu. Luhan pun pamit dan meminta maaf pada Minseok. Minseok pun menutup pintu apartemennya. Luhan masih di depan pintu itu. Pindah kemana si muka alibi itu? Ia tak mungkin bertanya lagi ke resepsionis itu karena pasti ditipu lagi. Luhan membalikkan badan lalu pergi menuju lift. Setelah lift telah ia tekan tombolnya, pintu lift terbuka. Ia pun masuk lift.

Mata Luhan terbelalak ketika di luar lift lewatlah orang yang ia cari. Kim Junmyeon. Tapi saat Luhan akan keluar, pintu lift tertutup. Luhan merutuki kesialannya hari ini.

.

.

Junmyeon yang berjalan tadi berhenti sejenak. Ia memandang ke arah lift yang sudah tertutup itu. Sebuah seringaian keluar dari bibir tipisnya.

"Kau mudah untuk ditipu, Luhan-ssi. Kamarku yang sebenarnya bukan kamar apartemen nomor 225,"

.

.

.

ROSE by Ira Putri

.

.

.

Hari ini tepat tanggal 14 Februari. Hari Valentine. Di masyarakat Korea hari itu adalah hari dimana seorang kekasih perempuan memberikan hadiah pada kekasih laki-laki. Sedangkan balasannya akan diberikan oleh kekasih laki-laki pada White Day bulan depan.

Yixing tahu akan Valentine. Maka dari itu, ia berinisiatif untuk memberikan sesuatu pada Junmyeon. Bukan berarti Yixing adalah kekasih perempuan, ia lelaki tulen dan penyuka sesama jenis (saat ia mulai menyukai Junmyeon). Ia menggenggam satu paket coklat yang telah diberi pita. Sebenarnya itu coklat buatan Dio, karena ia terlalu malas untuk keluar dan membeli coklat. Yixing tengah berada di pinggir Sungai Han ditemani dengan angin semilir.

Yixing menoleh ke kiri dan kanan. Belum ada tanda-tanda kedatangan Junmyeon. Yixing melirik jam tangannya. Jam 20.15. Junmyeon terlambat 15 menit. Ia mengeluarkan handphone nya dari saku. Ia membaca kembali SMS nya yang ia kirim ke Junmyeon.

.

To: Junmyeon

Subject: none

Myeon? Apa kau ada waktu? Bisakah kita bertemu di pinggir Sungai Han? Jam 20.00 tepat ya.

.

Tak dibalas oleh Junmyeon. Yixing melipat tangannya dan merapatkan jaketnya. Salju turun sedikit-sedikit. Tampak butirannya bertengger di rambut coklat Yixing. Yixing hampir menyerah. Ia membalikkan badan. Memegang pagar pembatas dan melihat pemandangan indah Sungai Han di malam hari itu. Indah sekali. Semakin indah kalau Junmyeon ada di sampingnya. Yixing menatap lagi jam tangannya. 20.20. Ia menghela nafas berat. Pengorbanan itu ternyata menyakitkan, walau terkadang.

"Yixing?"

Merasa terpanggil, Yixing berbalik badan. Tampak Junmyeon berdiri di hadapannya. Memakai jaket kulit tebal dan syal yang senada dengan warna rambutnya. Yixing merengut sebal. "Kau terlambat dari jam janjian,"

"Maaf. Ada sedikit urusan. Err...ngomong-ngomong, ada apa kau mengajakku kesini?" Junmyeon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Yixing mengeluarkan kotak paket coklatnya. "Ini untukmu. Selamat hari Valentine,"

Junmyeon tercekat. Ia menatap kotak coklat yang dipegang Yixing. Pikirannya kalut. Sebesar itukah rasa suka Yixing padanya? "T-tapi..aku bukan pasanganmu... M-maksudku...aku tidak punya pacar dan...kenapa kau memberikannya padaku?"

"Karena aku suka,"

"Eh?"

Junmyeon terkejut mendengar Yixing bilang suka padanya. Besar sekali rasa cinta Yixing padanya. Junmyeon membatu, dan menunduk. Pikirannya kalut. Ia memang juga menyukai Yixing, tapi tak sebesar rasa cinta Yixing padanya. Junmyeon selalu merasa ada yang aneh pada dirinya saat hendak berdekatan dengan Yixing (dengan maksud membunuh karena kutukan tentunya). Awalnya biasa, tapi entah kenapa lama-lama jantungnya berdegup kencang dan rona merah tersamar di pipinya akhir-akhir ini.

Yixing masih menggenggam kotak coklatnya. Ia pun melanjutkan kata-katanya yang tergantung tadi. "Aku...menyukaimu, Junmyeon. Dari awal...kita bertemu di minimarket beberapa bulan yang lalu,"

Junmyeon mengangkat wajahnya. Menatap Yixing saat Yixing juga menatapnya. Besar sekali rasa cinta Yixing padanya. Junmyeon menggigit bibir bawahnya. Ia masih kalut akan pikiran di otaknya. Tangannya terselip sebuah pisau lipat yang selalu ia bawa. Tapi ia sembunyikan di jari-jari tangannya.

"A-aku tahu ini terdengar gila. T-tapi aku memang menyukaimu. A-aku mengaku...aku penyuka sesama jenis dan bodohnya aku mencintaimu. Orang yang baru beberapa bulan ini kukenal. Dan...ternyaata aku baru tahu kau itu seorang model majalah yang selalu aku beli dan tak pernah terlewatkan satu edisi pun. D-dan..."

Yixing tak melanjutkan kata-katanya saat tiba-tiba Junmyeon memeluknya erat. Mata Yixing membulat dan kotak coklat yang sedari tadi ia genggam jatuh begitu saja. Untung saja isinya tidak tumpah. Sementara Junmyeon yang tengah memeluk Yixing pun menangis tertahan. Kepalanya ia benamkan di tengkuk Yixing. Ia tak bisa. Ia tak bisa membunuh orang seperti Yixing sekalipun itu suatu keharusan. Pisau lipat yang ia genggam jatuh begitu saja tepat ke Sungai Han.

Merasa tengkuknya basah, Yixing sedikit menoleh ke arah Junmyeon. "Myeon? A-apa kau menangis?"

Tak ada jawaban dari Junmyeon. Terdengar isakan dari bibir Junmyeon karena tih Yixing sudah tahu kalau ia menangis.

Merasa bersalah, Yixing memeluk punggung Junmyeon. "M-maafkan aku. Aku tak bermaksud membuatmu menangis,"

Junmyeon melepas pelukannya dan menangkup wajah Yixing. Tak lama Junmyeon mencium bibir plump Yixing. Awalnya Yixing terkejut dan tak membuka mulutnya. Tapi Junmyeon mulai melumat bibir Yixing dan refleks Yixing membuka mulutnya. Junmyeon masih mengeluarkan air mata di sela-sela ciumannya dengan Yixing. Yixing pun menutup matanya menikmati ciumannya dengan Junmyeon. Mereka saling melumat bibir satu sama lain.

Setelah itu, Junmyeon melepas ciumannya dengan Yixing. Mereka saling menatap. Wajah Junmyeon penuh air mata. Bibirnya masih bergetar menahan tangis. Yixing berinisiatif untuk menghapus air mata Junmyeon. Tangannya ia usapkan ke sekitar pipi Junmyeon. Junmyeon memejamkan matanya untuk merasakan betapa halusnya jari-jari tangan seorang Zhang Yixing. Kemudian ia menggenggam tangan Yixing yang berada di pipinya itu. Menautkan jari-jarinya ke sela-sela jari Yixing. Saat Junmyeon membuka matanya, setetes air mata keluar dari mata kirinya.

"Y-yixing... A-aku..." Junmyeon terlalu takut untuk mengungkapnya pada Yixing.

Yixing terdiam. Ia mengambil kotak coklat di bawah, kemudian ia memberikannya pada Junmyeon. "Kalau kau masih ragu, tidak apa-apa. Kapan-kapan saja kau menjawabnya. Aku hanya mengutarakan perasaanku,"

Yixing berbalik badan membelakangi Junmyeon. Hendak pergi. Tapi tangan Junmyeon menarik lengan Yixing dan kembali mendekap tubuh ramping Yixing. "Aku juga mencintaimu..."

Mereka terdiam satu sama lain. Yixing tersenyum bahagia dan membalas pelukan Junmyeon. Sementara Junmyeon membenamkan kepalanya ke leher Yixing.

.

.

Junmyeon tak sadar. Bahwa satu kelopak bunga mawar di vas bunga miliknya tengah terjatuh begitu saja di meja. Menyisakan satu kelopak lagi yang masih bertengger di tangkainya.

.

.

.

.

.

To be continued

.


Hai hai, ini mau mendekati end lho. Jangan lupa review ya. Maaf nggak bisa bales review satu-satu. Tapi pertanyaan kalian tersirat di setiap kata dari FF ini (alay mode on). Perlu peringatan nih. Biasanya Ira apdet cepet nih, sekarang semi hiatus soalnya lagi gila-gilanya belajar nih. Mungkin agak lama apdetnya, tapi tetep lanjut kok. Nggak bakalan Ira biarin FF ini jamuran.

Review please..