.

Unpredictable Love

©Anggara Dobby (I don't own anything except the story line)

Warning! Mature—boyslove—enemy!hunhan—male-pregnant—time-travel

Don't like, don't read. Simple.

Chapter 7 : Strange Future


.

.

.


Luhan memandang takjub rumah di depannya. Matanya membulat, berbinar, penuh kekaguman. Untuk kedua kalinya, Luhan mengecek alamat yang tertera pada kertas di tangannya, lalu menyamakannya pada lokasi yang sedang dia pijaki sekarang. Dia mendesah lega, mensyukuri bahwa dirinya tidak salah alamat. Luhan merasa seperti sesosok kerdil yang terdampar di depan sebuah Istana. Rumah di depannya ini benar-benar menakjubkan! Sangat besar dan megah, seperti yang dia lihat di istana-istana Disney, tapi rumah ini jauh lebih modern. Gerbangnya juga tidak kalah besar dan angkuh. Para pencuri akan berpikir beribu kali sebelum melaksanakan niatnya merampok isi rumah ini.

Luhan tersenyum seperti anak idiot. Ya ampun, ya ampun, beginikah rumah masa depannya? Luhan bisa mengundang Ronaldo tercinta-nya untuk bermain sepak bola setiap hari di dalamnya.

"Baba!"

Luhan sepertinya mulai terbiasa dengan suara cempreng khas anak kecil yang selalu memanggilnya 'Baba' itu. Dia melihat Ziyu datang dari arah gerbang dengan sebuah piyama merah muda kebesaran. Luhan mengernyit, kenapa dia memakai merah muda? Entah kenapa itu sangat mengganggu di mata Luhan—dia membenci merah muda, asal kalian tahu.

Tetapi diam-diam mengoleksi sweater berwarna pink (ini adalah rahasia terbesar Luhan).

"Ziyu tahu Baba pasti akan datang." Anak itu tertawa senang dan memeluk pinggang Luhan—karna tinggi badannya memang segitu.

Luhan tersenyum dan menepuk-nepuk pelan kepala Ziyu. "Aku hanya tidak tahu harus tidur dimana malam ini." cengirnya. Tidak mungkin dia harus tidur di emperan toko atau jalanan, Luhan tidak mau dirinya dikira gelandangan dan diangkut oleh petugas keamanan. Rumah Ziyu adalah opsi terakhir. Lagipula, setelah melihat rumah megah ini, Luhan yakin dirinya tidak akan mau pulang dari sana.

"Baba muda datang disaat yang tepat, karna Baba sedang pergi ke rumah Taeoh." ucap Ziyu, membuat Luhan lega bukan main, tetapi itu hanya berlangsung selama beberapa detik karna Ziyu melanjutkan, "Dan Appa sedang sibuk menonton bola bersama Haowen-ge di dalam. Jadi—"

"Tunggu, tunggu, tunggu." Luhan menyela dengan cepat, sebelum Ziyu kembali berceloteh. "Appa-mu ada di dalam?"

Luhan tahu itu pertanyaan terbodoh yang pernah ada, karna sudah pasti Sehun dewasa ada di sana, mengingat rumah raksaksa ini adalah miliknya. Tetapi, bagaimana dia bisa menghadapi Sehun dewasa nantinya? Itu semua hanya akan menimbulkan kekacauan. Padahal baru saja dia merasa tenang karna Sehun –si Larva licin muda—itu pergi jauh-jauh darinya. Ini sama saja keluar dari kandang singa, lalu masuk ke kandang buaya. Luhan benar-benar ingin menangis karna ini menyangkut nyawanya. Dia sangat buntu memikirkan jalan keluar dari masalah ini.

"Baba jangan takut ketahuan oleh Appa, karna Ziyu sudah memikirkan rencana agar Baba bisa tidur dan makan dengan tenang malam ini disini,"

Luhan nyaris menangis haru mendengar perkataan Ziyu yang membuat hatinya tenang seketika. Anak ini benar-benar malaikat kecil untuknya. Luhan tidak tahan untuk tidak memeluk anak itu.

"Ziyu, orangtuamu pasti bangga sekali mempunyai anak baik dan pintar sepertimu." ujar Luhan, masih memeluk Ziyu dengan erat. Anak ini benar-benar memiliki aroma yang menenangkan. Rasanya, Luhan ingin terus memeluknya. Kalau perlu, dia akan menjadikannya sebagai bantal guling setiap malam.

"Uhm, Baba, bukankah orangtua Ziyu adalah Baba?"

Luhan berkedip-kedip, lalu meringis, "Maaf, aku belum terbiasa untuk itu."

Ziyu hanya mengangguk dengan senyuman lebar. "Tidak apa-apa, Baba. Nanti juga terbiasa. Nah, sekarang, ayo kita masuk!"

Dan kekaguman Luhan semakin menggunung ketika melangkah masuk ke dalam sana. Dia tiba-tiba sangat penasaran apa sebenarnya pekerjaan Sehun dewasa dan dirinya di masa ini hingga sanggup membangun Istana megah modern di tengah-tengah kota. Jarak bangunan rumah dan gerbang cukup jauh, karna halamannya yang begitu luas, nyaris menyerupai taman. Perpaduan antara hamparan rumput hijau yang cantik dan tanaman-tanaman hias dengan bunga berbagai variasi warna membuat Luhan merasa seperti di dunia dongeng. Ditambah taburan kerikil di sepanjang jalan menuju rumah membuat dia merasa ada di dunia berbeda. Di tengah-tengah halaman depan rumah, ada sebuah kolam kecil dengan air mancur yang cantik, di kelilingi oleh lampu-lampu hias yang akan menyala secara otomatis ketika mendapat sinar bulan. Luhan berpikir, dirinya bisa saja tersesat kapanpun di sini.

Tidak cukup sampai di situ saja kekaguman Luhan. Matanya semakin berbinar penuh ketika melihat deretan mobil mewah yang terparkir begitu saja di ujung halaman rumah. Kilap mobil itu seolah-olah memanggil Luhan untuk mendekat dan sekadar menyentuhnya seujung jari. Audi, Ferrari, Lamborghini, Chevrolet, Maserati, Nissan, Posrche—dan selanjutnya, Luhan tidak tahu trademark apalagi karna seperti sisanya adalah mobil keluaran masa kini dengan warna mengkilap bukan main. Luhan yakin, jika mobil-mobil itu dijual, pasti uangnya akan cukup menghidupi Luhan selama ratusan tahun.

"Ziyu, apa di rumahmu sedang banyak tamu?" tanya Luhan, tanpa melepas pandangannya dari deretan mobil yang harganya pasti sangat fantastis itu.

"Tidak. Tidak ada siapa-siapa di dalam, hanya Appa dan Haowen-ge saja."

"Lalu… lalu, mobil milik siapa itu?" Luhan mulai berasumsi jika Sehun dewasa adalah seorang pemilik sorum mobil terkenal.

"Itu mobil milik Appa."

Luhan dengan kecepatan seperkian detik menoleh kearah Ziyu dengan tidak percaya. Deretan mobil yang nyaris berjumlah belasan itu adalah milik Sehun? Serius? Wow, sekarang Luhan benar-benar penasaran apa pekerjaan Si Keparat itu.

Jangan-jangan… dia adalah boss Mafia dengan segudang bisnis kotor?

"Ini hanya sebagian kecil, Baba. Di rumah kita yang di Daegu, Appa bahkan membuat basement pribadi untuk mobil-mobilnya. Baba sering memarahi Appa karna menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak penting." Ziyu memberikan penjelasan.

Luhan tanpa sadar mengangguk-angguk, menyetujui. Ya, si keparat itu memang perlu dimarahi sesekali karna sudah membuang-buang uang. Mobil sebanyak ini memangnya untuk apa? Luhan juga bingung jika memilikinya, karna tidak tahu harus memakai yang mana ketika akan berpergian. Dasar keparat boros!

"Ayo, Baba, kita langsung masuk saja." Ziyu meraih tangan Luhan, menggandengnya.

Luhan mengangguk, walau diam-diam dia gelisah, memikirkan apa yang akan terjadi ketika dia sudah masuk ke dalam sana. Semoga saja semuanya akan berjalan lancar dan dia bisa tidur dengan tenang malam ini.


.

.

.


"Kau jadi pendiam."

Sehun hanya mengulas senyum kikuk ketika Luhan —versi dewasa— mengeluarkan suaranya. Saat ini, mereka sedang berada di sebuah café sesuai permintaan Luhan setelah pulang dari rumah Jongin sejam yang lalu. Setelah melewati banyak pertanyaan yang membuat kepalanya nyaris meledak, akhirnya Sehun bisa terbebas dari rumah itu. Dia cukup tertekan karna tidak mengetahui apa-apa yang dibicarakan maupun yang ditanyakan oleh Jongin, Kyungsoo maupun Luhan. Sehun rasanya ingin berteriak; 'Aku adalah Sehun dari masa lalu! Berhenti bertanya yang aneh-aneh padaku, Sialan!' di depan wajah mereka bertiga. Tetapi, bisa dipastikan setelah itu dia di tertawakan habis-habisan dan di olok-olok. Lagipula itu tidak sopan, mengingat mereka lebih dewasa darinya. Dia hanyalah anak kecil yang tersesat di masa depan.

Setidaknya berduaan saja dengan Luhan —versi dewasa— seperti sekarang, membuat Sehun sedikit tenang. Hanya sedikit, ingat itu. karna Luhan selalu melakukan hal yang aneh-aneh padanya. Yang dimaksud 'hal aneh' menurut Sehun adalah; Luhan yang kerap tersenyum, menggandeng tangannya, tertawa kecil, dan memanggilnya 'Sehun' bukan 'Larva'.

Serius, hal ini membuat Sehun jauh lebih frustrasi.

Apa sebenarnya yang merasuki Luhan di masa depan hingga menjadi rusa jinak seperti ini? Tingkahnya yang seperti ini malah membuat Sehun tidak nyaman dan sangat penasaran. Selain karna dia bukan gay dan menentang pernikahan sesama jenis, Sehun juga tidak menyukai Luhan. jadi, hal seperti ini membuatnya terganggu. Rasanya dia ingin kabur dari Luhan yang jinak seperti ini. Sehun lebih baik berurusan dengan Luhan yang selalu menendangnya daripada Luhan yang terus tersenyum padanya seperti sekarang.

"Aku tidak ingat kapan terakhir kali kita menikmati waktu berdua seperti ini, karna itu sudah sangat lama." ujar Luhan, tangannya mengaduk-ngaduk minuman berwarna pink-nya menggunakan sedotan. Dia tidak terlihat seperti pria berumur 30-tahun, melainkan seperti bocah lelaki belasan tahun. Ini sangat tidak adil, menurut Sehun.

Luhan mendongak, kembali tersenyum. "Aku selalu sibuk dengan anak-anak, dan kau selalu sibuk dengan pekerjaanmu. Aku merindukan saat-saat seperti ini."

Sehun nyaris menjedukan kepalanya pada meja di depannya. Dia belum terbiasa dengan serangan senyuman itu, terutama jantungnya. Jika boleh dia mengakuinya, Luhan memang akan terlihat manis ketika jinak seperti ini. Mungkin jika dari dulu Luhan bersikap seperti ini padanya, Sehun tidak akan pernah mengganggunya dan menjadikannya teman baik. Tapi kenyataannya, jangankan tersenyum padanya, untuk berbicara baik-baik saja Kijang itu sangat tidak sudi. Anak itu selalu memandangnya dengan api permusuhan yang berkobar-kobar.

"Y-ya, aku juga." balas Sehun. Entah dia gugup karna berbohong atau karna senyuman Luhan.

Tiba-tiba senyuman di wajah lelaki itu meluntur, digantikan dengan rengutan yang—Sehun tidak bisa menjelaskannya karna akan sangat menggelikan jika didengar. Luhan memandangnya dengan bibir tertekuk, ekspresi senangnya juga mendadak hilang. Sehun rasanya ingin memaki lelaki itu, karna wajahnya sangat tidak cocok untuk usianya. Dia kira, dia umur berapa hingga memasang wajah seperti itu?

Kau itu 30-tahun atau lima tahun, sih?!

"Kenapa?" tanya Sehun. Apa dia salah bicara sampai Luhan merengut seperti itu?

"Kau aneh."

Sehun berkedip beberapa kali. Oh, ini dia. Apa dia akan ketahuan detik ini juga? Luhan sudah menyadari sikap anehnya, dan itu membuat Sehun mendadak terserang sembelit.

Luhan membenarkan posisi duduknya, dan kembali melanjutkan ucapannya, "Kau terus terdiam, dan selalu mengalihkan pandangan dariku. Ada apa? Apa aku membuat kesalahan?"

Ingin sekali Sehun menjawab; 'Ya, kau itu selalu membuat kesalahan. Jangankan berbicara, kau bernapas saja sudah salah di mataku!' —tetapi rasanya, dia tidak tega mengatakan itu pada Luhan yang di depannya ini. Entah kenapa, Sehun rasanya harus menjaga nada bicaranya dan bersikap lembut pada Luhan yang ini.

Sehun berdehem, lalu tersenyum kaku, "Kau tidak membuat kesalahan apapun." Oh, Tuhan, kenapa sulit sekali berpura-pura menjadi pria dewasa yang pengertian? Ini bukan kepribadiannya sama sekali.

"Benarkah? Apa kau baik-baik saja?"

Tangan Sehun bergerak ragu-ragu kearah tangan Luhan yang terletak di meja, menggenggamnya dan memberikan usapan sederhana disana. Dia merasa ada perasaan yang aneh seketika, menyelundup masuk ke dalam tubuhnya. Membuat bibirnya tanpa sadar mengukir senyuman dan berkata; "Ya, aku tidak apa-apa, Lu."

Hell.

Ini seperti bukan dirinya. Sehun tidak pernah berkata selembut sutra seperti itu sebelumnya pada Luhan, bahkan sampai memegang tangannya seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih yang akan dipisahkan. Tetapi, entah kenapa, ketika bersama Luhan yang ini, dia merasa berbeda.

Senyuman Luhan kembali menghiasi wajahnya, membuat kedua pipinya yang agak gembil terangkat keatas, terlihat begitu manis. Sehun kembali merasa frustrasi sekarang. kenapa dia senang sekali tersenyum, sih? apa dia tidak menyadari jika senyumannya itu bisa berdampak buruk pada jantung orang lain? —dan Sehun adalah korban utamanya dalam kasus ini.

"Kau tahu, kadang aku merasa iri dengan orang-orang di era ini." ujar Luhan.

Sehun mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, mendapati berbagai macam pasangan yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Masa ini adalah masa yang paling aneh, menurut Sehun. Karna pasangan sesama jenis berkeliaran dimana-mana, menunjukan eksistensi mereka tanpa takut. Di masanya, pasangan gay memang bukanlah hal yang tabu, bahkan seingatnya, banyak anak-anak yang melenceng di asramanya. Tetapi tidak sampai se-vulgar ini. Berpegangan tangan di jalan, berpelukan, merangkul—bahkan berciuman. Seolah-olah inilah dunia mereka dan tidak ada yang berhak melarang orientasi seksual mereka yang tidak normal. Sehun semakin penasaran, bagaimana proses perubahan ini terjadi.

"Orang-orang ini (pasangan gay) berani menunjukan eksistensi mereka. Tidak ada yang bisa menghina maupun mendiskriminasi mereka lagi sejak pernikahan sesama jenis dilegalkan. Derajat mereka sama dengan orang-orang lainnya. Tidak seperti saat masa lalu kita…"

Sehun kembali menoleh kearah Luhan ketika lelaki itu menyinggung soal masa lalu dimana hal itu adalah masa-nya. Mungkin inilah saatnya dia bisa mengorek informasi dari Luhan tentang bagaimana semua ini bisa terjadi—dan bagaimana dirinya dan lelaki itu bisa berakhir menjadi sepasang suami-suami. Karna sampai sekarang, Sehun masih tidak mau—atau bahkan tidak sudi—mempercayai hal mengerikan itu.

"Masa lalu?" pancing Sehun, seraya menaikan satu alis tebalnya.

Luhan mengangguk, "Ya, aku yakin kau masih ingat apa saja yang sudah kita lalui di masa lalu. Hubungan seperti ini sangat tidak mudah dijalani, memang banyak yang mendukung kita, tetapi karna keegoisanku, semuanya menjadi begitu rumit. Aku terlalu banyak berpikir, dan selalu mengedepankan hinaan orang ketimbang ucapan tulusmu. Aku benar-benar bodoh saat itu." Lelaki itu tertawa kecil, tetapi Sehun dapat menangkap jika itu bukanlah sebuah tawa bahagia. Dia sedang menyalahkan dirinya sendiri.

Luhan kembali melanjutkan, "Mengingat masa lalu, itu adalah masa-masa yang paling kurindukan. Rasanya aku ingin tertawa saat mengingat dulu kita adalah musuh. Setiap hari, setiap jam, bahkan setiap detik, dimanapun itu kita pasti akan bertengkar. Memperdebatkan hal yang tidak berguna. Tetapi, entah sejak kapan, hubungan kita berubah. Bahkan aku tidak tahu mengapa aku bisa menerimamu sebagai kekasihku. Lucu sekali, 'kan?"

Tunggu, tunggu, jadi dia yang meminta Luhan sebagai kekasihnya?

Jika tadi Sehun merasa terserang sembelit, sekarang dia merasa akan terserang epilepsi mendadak. Bagaimana… bagaimana bisa? Dia, haters Luhan nomor satu, meminta Luhan sebagai kekasihnya? Ini adalah lawakan paling buruk yang pernah dia dengar dalam sejarah hidupnya sebagai remaja berumur 18-tahun.

Tidak, tidak. Ini pasti sebuah kesalah-pahaman.

"Kita sudah melalui banyak hal selama ini. Kesedihan, kebahagiaan, kekecewaan bahkan keputus-asaan hingga mencapai titik yang benar-benar bahagia seperti sekarang. Kadang, aku masih tidak menyangka saat ini aku bisa bersamamu, sebagai orang yang paling penting dalam hidupmu. Aku sangat berterimakasih padamu, karna terus bersamaku walau aku berulang kali mengecewakanmu, Sehun." Luhan memandang lekat-lekat kedalam matanya, membuat Sehun mau tidak mau membalas pandangannya tanpa mengucap apapun.

Mendengar perkataan Luhan, membuat Sehun yakin jika hubungannya dan lelaki itu memang benar-benar serius. Secara tidak langsung, Luhan mengatakan jika hubungan mereka banyak batuan tajamnya. Tidak semulus seperti sekarang ini. Semua itu pasti butuh perjuangan yang nyata untuk bisa bahagia seperti sekarang. Jika kau ingin berdiri di puncak gunung, maka kau harus rela tergelincir berkali-kali saat mendakinya—kurang lebih seperti itulah peribahasa yang tepat untuk mewakilkan hubungan ini. Sehun mengakui, hubungan seperti ini pasti tidak mudah dijalani. Apalagi awalnya mereka adalah sepasang musuh. Hubungan percintaan sepasang musuh menjadi sepasang kekasih tidak seindah dan semudah yang selalu di agung-agungkan oleh para pengarang romansa, apalagi jika keduanya adalah lelaki. Semanis apapun hubungan pasangan gay, pasti banyak kepahitan yang harus dilalui terlebih dahulu.

Sial.

Bukan berarti Sehun menerima semua ini. Ingat itu, oke?

"Sekarang, semua orang bisa bersama orang yang dikasihinya tanpa takut cemoohan orang lain atau larangan-larangan yang membuat mereka sulit untuk bersama. Dunia menerima mereka dengan tangan terbuka. Tapi, ruginya, mereka tidak tahu apa itu perjuangan dalam meraih sebuah kebahagiaan dalam hubungan."

Sehun dengan intuisi-nya (lagi) menggenggam tangan Luhan. Helaian rambut Luhan yang tertiup angin lembut membuat parasnya semakin mengagumkan, Sehun tidak tahu sejak kapan Luhan bisa terlihat semenarik ini. Pembawaannya yang dewasa, manis, dan lembut membuat kewarasan Sehun menipis perlahan-lahan.

"Apa kau bahagia bersamaku?" tanya Sehun.

Luhan tersenyum, "Aku belum pernah sebahagia ini, Sehun."

Sehun merasa jantungnya mendadak jatuh ke ususnya yang terlilit kusut. Membuatnya diserang berbagai macam perasaan aneh. Gugup, geli, asing dan… hangat. Senyum dan wajah Luhan membuatnya merasa ditenggelamkan dalam kabut-kabut memabukan yang membuatnya tidak bisa berpikir secara jernih. Kalimat yang diucapkannya barusan terdengar sangat gila, karna mana mungkin seorang Luhan merasa bahagia saat bersamanya? Namun, ketika melihat kesungguhan di mata lelaki itu, Sehun menjadi yakin jika Luhan memang bahagia bersamanya. Di masa depan.

Sehun tanpa sadar tersenyum, dan sebuah pikiran sinting menelusup ke dalam otaknya yang masih beku.

Aku rasa… Luhan versi masa depan memang menarik.


.


Ziyu pergi ke dapur dengan cara mengendap-endap, mirip seekor tikus kecil yang ingin mencuri makanan. Anak berusia lima tahunan itu sudah menyelundupkan Luhan di salah satu kamar yang jarang dipakai di rumah ini dengan mudah, karna Sehun dan Haowen sedang sibuk bersorak-sorak di ruang keluarga dengan tayangan sepak bola. Sekarang, Ziyu harus mengambil makanan untuk Baba versi remajanya dengan hati-hati agar Sehun tidak memergoki tingkahnya ini. Dia tidak boleh ketahuan apapun caranya!

"Ziyu, kau sedang apa?"

Ziyu yang tengah menata makanan di atas piring itu terlonjak kaget, nyaris jatuh dari atas kursi (dia berdiri di atas bangku karna tinggi badannya tidak sampai menjangkau meja dapur) ketika mendengar suara Haowen.

"Gege mengagetkanku!" Ziyu berseru kesal, diselingi gugup. Haowen mendekatinya dengan pandangan mata curiga. Ziyu semakin gugup melihatnya, Haowen mirip sekali dengan Appa ketika tengah mencurigai sesuatu.

"Untuk siapa makanan itu?" tanya Haowen.

Ziyu tidak pandai berbohong, maka dari itu dia sangat bingung ketika menghadapi situasi seperti ini. Bisa saja dia mengatakan makanan ini untuk Baba versi remaja, tetapi Haowen pasti akan berisik. Kakaknya itu pasti akan mengadu pada Sehun dan semuanya bisa menjadi kacau. Ziyu tidak mau itu terjadi.

"Untukku," Ziyu berbohong untuk yang pertama kalinya.

Haowen memicingkan matanya, benar-benar mirip dengan Sang Ayah. "Kau lapar lagi?"

Ziyu mengangguk. Dia berharap Haowen segera pergi dari hadapannya.

"Porsi makanmu banyak sekali."

"Memangnya tidak boleh?" tanpa sadar, Ziyu menyalak dengan tajam. Membuat Haowen memandangnya dengan satu alis terangkat. Ziyu kira, gege-nya itu akan berbalik memarahinya karna sudah berbicara tidak sopan, tetapi Haowen malah mengabaikannya. Anak itu dengan cueknya menyeduh susu coklatnya sendiri, tanpa mengganggu Ziyu lagi.

Ziyu bernapas lega.

"Mau susu?" tanya Haowen, menawarkan.

Ziyu mendadak bersalah karna sudah berteriak pada Haowen tadi. Anak itu mengangguk kecil, mengiyakan penawaran Haowen. Walau dingin seperti Sang Appa, Haowen itu tipe kakak yang sangat peduli dan menyayangi Ziyu. Dia sering membuatkan Ziyu susu coklat di malam hari. Haowen memang sudah terbiasa membuat susunya sendiri karna Luhan sudah banyak mengajarinya menjadi pribadi yang mandiri. Luhan tidak mau Haowen menjadi anak yang manja, bagaimanapun juga, Haowen itu anak sulung. Dia harus bisa menjadi contoh yang baik untuk adiknya nanti.

"Kalau sudah selesai, langsung menyusul, ya? Appa mencarimu sejak tadi." ujar Haowen. Anak itu meletakan segelas susu coklat di samping Ziyu, lalu pergi meninggalkan dapur dengan segelas susu di tangannya.

"Haowen-ge!" Ziyu memanggil Haowen yang belum terlalu jauh melangkah.

"Apa?"

Ziyu menunduk dengan ekspresi bersalah, "Maafkan Ziyu, ya? Tadi Ziyu sudah berteriak pada gege,"

Haowen tersenyum, lalu mengangguk sebagai jawaban. Kemudian, anak itu kembali melanjutkan jalannya. Ziyu kembali bernapas dengan lega. Akhirnya dia bisa mengantarkan makanan ini ke Baba versi remaja dengan tenang.

.

.

Luhan mendadak merasa terharu melihat Ziyu datang menghampirinya dengan senampan makanan di tangan mungilnya. Anak itu menyerahkan makanan di tangannya setelah berkata; 'Baba harus makan sebelum istirahat.' Ya ampun, andai saja anak itu hasil buah cintanya dengan seorang gadis cantik, Luhan pasti akan sangat bangga mengakui anak itu sebagai darah dagingnya. Tapi sayangnya, Ziyu memiliki darah si keparat Sehun. Luhan belum sudi mengakuinya sebagai anak.

"Baba, bagaimana Baba bisa ke zaman ini?" Ziyu bertanya dengan mata bulat penasarannya.

Luhan mengunyah makanan di mulutnya terlebih dahulu sebelum menjawab, "Aku tidak tahu pasti, Ziyu. Tapi yang jelas, semua ini terjadi setelah aku mengotak-atik arloji milik Prof. Shim."

Luhan tahu itu tidak masuk akal sama sekali. Dia tidak mempercayai adanya mesin waktu, tetapi semua ini memang benar-benar terjadi setelah dia mengubah tanggal dan tahun di arloji milik guru fisika-nya itu. Ada sesuatu yang aneh dengan arloji itu.

"Prof. Shim itu siapa?" Ziyu masih bertanya. Luhan merasa anak itu mirip sekali dengannya saat ini.

"Shim Changmin. Dia itu guru di sekolahku, Ziyu."

Ziyu mendadak berseru dengan mata berbinar cerah, "Apa itu paman Changmin?"

Luhan mengerutkan dahinya dalam-dalam. Kenapa Ziyu memanggil Prof. Shim dengan sebutan Paman? Setahu Luhan, dia tidak memiliki hubungan darah apapun dengan guru jangkungnya itu.

"Kau mengenalnya?"

Ziyu mengangguk cepat, sampai rambutnya ikut bergoyang lucu, "Tentu saja, Baba. Paman Shim itu adalah Ilmuwan terkenal di zaman ini! Dia dan Paman Jongdae sering mendapat penghargaan atas penemuan-penemuan mereka. Dan projek terbesar mereka adalah mesin waktu yang berhasil mendapat penghargaan Nobel di tahun 2027 kemarin. Mesin waktu itu cuma ada satu, dan rencananya, Paman Shim ingin membuat satu buah lagi. Keren kan?"

Luhan mendadak tidak bernafsu makan.

Jadi… semua ini benar karna arloji yang tadi siang dia pegang-pegang itu? Luhan merasa terserang pening menerima kenyataan bahwa arloji itu bukanlah sembarang jam tangan biasa. Dia jadi teringat perkataan Jongdae ketika awal masuk sekolah beberapa minggu yang lalu.

"Aku sedang ingin membuat Time-machine, tetapi belum berhasil." "—aku akan memodifikasinya seperti sebuah jam tangan, dimana saat kau atur waktu di benda itu sesuai yang kau mau, kau akan berada di waktu yang telah kau setting di jam tangan itu. Ini baru rencanaku dan Changmin hyung sih."

Luhan tidak percaya bahwa perkataan Jongdae beberapa minggu lalu menjadi sebuah kenyataan. Anak itu berhasil membuat mesin waktu yang dia rancang bersama Changmin dalam waktu yang cukup lama. Jongdae di zamannya hanyalah anak iseng yang suka melakukan eksperimen sinting bersama Changmin, tetapi di zaman ini, anak itu sudah sukses menjadi Ilmuwan terkenal dengan berbagai penghargaan yang berhasil Ia raih. Luhan sama sekali tidak menyangka bahwa penemuan Jongdae-lah yang membawanya ke kejadian tidak masuk akal seperti ini. Semuanya seolah-olah seperti sudah dirancang dan diskenario-kan.

Luhan sekarang tahu bagaimana cara keluar dari masalah ini. Dia hanya harus menemukan arloji itu dan mengatur ulang tanggal dan tahunnya agar dia bisa kembali ke zamannya.

"Baba? Kenapa Baba terdiam?"

Luhan meringis, "Ziyu, bisakah kau panggil aku Gege saja? Aku merasa aneh dengan panggilan Baba seperti itu."

Ziyu menampakan ekspresi merengutnya, "Tidak bisa. Baba adalah Baba Ziyu, jadi Ziyu harus memanggil Baba dengan sebutan Baba." Jelasnya, dengan penjelasan berbelit-belit.

Luhan memilih menghela napasnya, tanda menyerah. "Jadi, Ziyu, bisa kau jelaskan kenapa kau memanggil Prof. Shim dengan sebutan Paman?"

"Itu karna Paman Shim yang memintanya. Paman Shim juga sering main ke sini, dia banyak membantu keluarga kita, Baba. Paman Shim sering menceritakan bagaimana Appa dan Baba ketika masih di sekolah dulu. Memangnya benar, ya, Appa dan Baba sering bertengkar dulu?" tanya Ziyu. Anak itu sepertinya senang sekali meloncat dari topik pembicaraan yang sedang mereka bahas.

"Ya, kami memang musuhan." Luhan menjawab dengan malas. Malas dengan kenyataan bahwa yang bertanya seperti itu adalah anaknya sendiri—dengan hasil pembuahannya bersama Sehun. Sial! Bagaimana bisa sepasang musuh menghasilkan anak seperti ini? Luhan masih tidak percaya.

"Lalu kenapa bisa menikah?" tanya Ziyu, polos.

Luhan refleks mengerang frustrasi, "Bagaimana aku bisa tahu, Ziyu? Aku nyaris keracunan mendapati kenyataan bahwa di zaman ini aku dan Serigala Busuk itu bersama dan mempunyai anak." ujarnya dengan diselingi gidikan ngeri.

Ziyu malah terkikik geli. Rautnya sangat menggemaskan ketika dia tertawa seperti itu.

"Baba, ayo ceritakan Ziyu tentang keseharian Baba dan Appa muda di zaman Baba!"

Luhan tersenyum iseng, "Yakin kau ingin mendengarnya?" dia seperti berinteraksi dengan adiknya, bukan dengan anaknya.

Ziyu mengangguk dengan kecepatan luar biasa.

Luhan sudah mengatur rencana untuk menyelipkan keburukan-keburukan Sehun di dalam ceritanya agar Ziyu bisa tahu bagaimana kelakuan Sehun selama ini. Tetapi belum sempat Ia bercerita, suara Sehun versi dewasa terdengar dari arah luar. Hal itu sontak membuat Luhan melotot terkejut dengan tubuh menegang.

"Ziyu?"

Ziyu tak kalah paniknya dengan Luhan. Anak itu memandang Luhan dengan mata membulat lucu.

"Baba, itu suara Appa! Appa pasti sedang mencari Ziyu," Ziyu berbisik, panik. "Ziyu harus keluar. Baba istirahat saja di sini, ya? Besok pagi, Ziyu akan kesini lagi."

Luhan hanya bisa mengangguk mendengar perintah anak menggemaskan itu. Sebelum pergi keluar, Ziyu menyempatkan diri untuk mengecup pipinya terlebih dahulu, membuat perasaan Luhan diselimuti kehangatan. Ziyu adalah anak kecil paling pandai dan manis yang pernah Luhan temui. Dia harus berbangga karna memiliki anak seperti Ziyu.


Luhan bergerak gelisah di atas ranjangnya, menahan sesuatu yang bergejolak di perutnya. Mata rusanya melirik ke arah jarum jam yang menunjukan pukul sepuluh malam. Apa Sehun sudah tidur, ya? Luhan ingin sekali keluar untuk ke kamar mandi. Dia dilanda dilema, jika dia keluar, dia takut ada Sehun versi dewasa yang memergokinya, tetapi jika dia tidak segera ke kamar mandi, maka sampai pagi Luhan tidak akan bisa tertidur karna kondisi perutnya yang mulas.

Luhan menyerah, memilih keluar kamar dengan risiko tinggi. Persetan dengan Sehun! perutnya jauh lebih penting sekarang. Maka dari itu, dia berjalan mengendap-ngendap untuk mencari kamar mandi. Suara televisi masih terdengar dari ruang tengah membuat Luhan memutar arahnya jalannya, menghindari ruang tengah. Dia mengumpat sesaat, merutuki rumah yang terlalu luas ini, membuatnya kesulitan mencari kamar mandi.

Setelah bermenit-menit berkeliling dengan kondisi perut yang semakin menyedihkan, akhirnya Luhan menemukan sebuah kamar mandi yang terletak di area dapur. Kaki kurusnya segera berlari bahagia ke toilet. Luhan mendesah lega. Akhirnya dia bisa tertidur dengan nyaman malam ini. Tetapi sepertinya Tuhan masih ingin bermain-main dengan nasibnya, karna baru saja Luhan keluar dari kamar mandi, dia sudah dikejutkan dengan sosok pria dewasa berbadan tegap yang kini berdiri di depannya dengan mata berkilat tajam.

Tuhan…, itu Sehun! Sehun versi dewasa yang menjadi objek paling dihindari oleh Luhan saat ini.

Luhan mematung di tempatnya, tidak bisa bergerak sedikitpun. Bahkan bernapas saja rasanya sangat sulit. Dia merasa jantungnya jatuh ke ususnya. Luhan benar-benar akan mati malam ini. Dia tidak bisa berpikir jernih untuk melakukan sesuatu, otaknya mendadak buntu.

"Kenapa tidak bilang jika kau sudah pulang?" suara berat yang terkesan sangat jantan itu membuat bulu kuduk Luhan meremang. Dia belum pernah merasa seciut ini menghadapi Sehun. biasanya, dia akan segera menyalak tajam dan mendelik pada Sehun, tetapi saat ini kasusnya berbeda! di depannya ini bukan Sehun si serigala busuk yang biasa. Di depannya ini adalah Serigala dewasa yang bisa saja menghabisinya dengan sekali cakaran. Luhan tidak bisa berkutik.

"Lu, ada apa denganmu?"

Luhan merinding mendengar panggilan sok mesra itu. Sejak kapan si sialan itu memanggilnya dengan sebutan 'Lu'? Itu menjijikan sekali.

Sebuah kenyataan menampar Luhan dengan telak; Di depanmu ini adalah suamimu, jadi wajar jika dia memanggilmu dengan manis begitu!

"Aku… tidak apa-apa," Luhan menjawab pelan, nyaris tak bersuara, saking gugupnya. Dia tengah menghadapi sebuah kenyataan yang amat mengerikan; Sehun benar-benar menjadi suaminya di masa depan nanti. Dilihat dari segi manapun, lelaki itu tidak memendam kebencian sama sekali pada dirinya. Berbeda dengan Sehun versi muda yang selalu mendesis tajam ke arahnya. Luhan benar-benar penasaran sekarang, apa yang terjadi pada Sehun hingga dia bersikap menggelikan seperti ini padanya? Bahkan tatapannya saja sungguh berbeda. Tidak ada aura permusuhan sekali di sana.

"Kau sakit?" Sehun masih bertanya, kali ini disertai tangannya yang menyentuh pipi Luhan dengan lembut.

Luhan refleks terlonjak kaget dengan perlakuan tiba-tiba itu. Sialan! Apa-apaan ini?! Ini benar-benar mengerikan! Sehun yang seperti ini jauh lebih menyeramkan dari Sehun yang biasanya. Luhan tidak mau diperlakukan seperti ini, tetapi jika Ia menolaknya, maka jati dirinya akan terbongkar dan semuanya akan menjadi berantakan. Dia tidak boleh membuat malu Luhan versi dewasa.

"Aku tidak apa-apa, Sehun." ugh, rasanya aneh sekali memanggil nama si keparat itu.

Sehun sudah bertransformasi menjadi pria dewasa yang sangat hot. Tubuhnya bertambah tinggi dengan bentuk yang proposional, dada serta bahunya lebar dan kokoh, wajahnya begitu dewasa dengan garis rahang yang seksi. Belum lagi rambut hitamnya yang berjatuhan di sekitar keningnya, membuat kesan menawan semakin melekat di dirinya. Luhan mengakui itu semua. Dia jujur kali ini, karna Sehun yang dihadapannya memang sungguh mempesona. Mungkin jika dia tidak ingat kenyataan, dia tidak tahu jika pria di depannya ini sudah memiliki dua anak. Luhan iri dengan pertumbuhan Sehun. kenapa lelaki itu selalu memiliki badan yang lebih bagus darinya, sih?

Dan sebuah pertanyaan aneh hinggap di otak Luhan; Sehun sudah setampan ini, mengapa dia lebih memilih menikahinya daripada menikahi gadis-gadis cantik di luar sana? Karna Luhan yakin, si keparat itu pasti bisa dengan mudahnya mendapat gadis manapun yang dia inginkan. Apa jangan-jangan Sehun memang sengaja menikahinya agar pria itu bisa terus menyiksanya sepanjang hidupnya?

"Bagaimana kunjunganmu ke rumah Kyungsoo?" tanya Sehun. Pria itu berjalan ke arah kulkas, mengambil sekaleng minuman dari sana. Apa itu bir?

Luhan tidak tahu harus menjawab apa, dia benar-benar benci ada di situasi seperti ini, "Y-ya, bagus."

"Bagus?" Sehun kembali memandangnya dengan pandangan aneh, "Apanya yang bagus?"

"Rumahnya Kyungsoo," Luhan menjawab sekenanya. Dia merasa aneh berbicara seperti ini dengan Sehun, karna memang pada dasarnya dia tidak pernah terlibat interaksi yang santai dengan lelaki itu. Selalu perdebatan dan hinaan.

Satu alis Sehun terangkat—dan sejujurnya itu mempesona sekali! "Bukankah kau kesana untuk melihat anaknya Kyungsoo, Kyungri?"

O-oh?

Sial.

Luhan rasanya ingin mati saja.

"Selain melihat Kyungri, aku juga melihat-lihat interior rumah Kyungsoo. Dan kupikir itu cukup bagus," Luhan mengulas senyum kikuknya. Dia pasti terlihat sangat bodoh sekarang. sial! Dia bahkan tidak tahu bagaimana rupa rumah dan anak Kyungsoo.

Untungnya, Sehun menanggapinya dengan anggukan singkat, tanpa mengajukan beberapa pandangan dan pertanyaan curiga lagi. Tetapi, lelaki itu kembali menghampirinya dengan sebuah senyuman aneh. Luhan harus memundurkan tubuhnya untuk menjaga jarak dari Sehun yang terus mendekatinya dengan kilatan mata yang tidak baik-baik.

"Ah, omong-omong soal Kyungri, Ziyu bilang dia ingin mempunyai adik perempuan. Bagaimana menurutmu, Lu?"

Luhan terjebak di antara meja dapur dan tubuh Sehun, membuatnya benar-benar mati kutu. Belum lagi pertanyaan yang diajukan Sehun kepadanya, yang semakin menambah keinginan Luhan untuk segera kabur dari situasi seperti ini. Tubuh Sehun terlalu dekat… terlalu panas, Luhan merasa jantungnya berdebar-debar tidak karuan. Sungguh, itu hanya Sehun! kenapa dia harus bertingkah seperti tikus kecil macam ini hanya karna Serigala Busuk itu?

—Ah ya, di depannya ini bukan Sehun yang biasanya. Luhan harus ingat itu.

"Aku bertanya padamu, Lu." Sehun mendekatkan wajahnya, berbisik tepat di telinganya dengan embusan napas berat. Luhan refleks memejamkan matanya rapat-rapat dengan menggigit bibir.

Luhan takut.

Dia mendadak merindukan Sehun versi remaja. Dia lebih baik dihadapkan dengan Sehun 18-tahun yang selalu menghinanya, mengejeknya dan mengganggunya. Daripada Sehun dewasa yang memperlakukannya seperti ini. Luhan benar-benar menginginkan Sehun remaja sekarang.

Larva, datanglah!

"S—Sehun," Luhan berujar takut-takut. Dia ingin menendang Sehun di depannya ini, tetapi kakinya seperti tidak punya kekuatan.

"Hm?" Sehun membalasnya dengan sebuah gumaman singkat. Kepalanya masih berada di ceruk leher Luhan.

Luhan kembali terlonjak kaget begitu merasakan sebuah kecupan mendarat di lehernya. Refleks, tangannya mencengkeram bahu Sehun. Luhan tidak tahu apa yang sedang dilakukan Sehun versi dewasa terhadapnya saat ini. Tetapi yang jelas, Luhan mengira ini adalah sebuah perbuatan kriminal. Ini sebuah pelecehan! Ini tidak benar!

"Sehun, apa yang kau—Akh!" Luhan memekik ketika merasakan sebuah gigitan dan hisapan di kulit lehernya. Dia ingin sekali memaki-maki Sehun saat ini. Berani-beraninya dia melecehkannya seperti ini. Dasar Vampire gila! Vampire cabul! Luhan tidak akan memaafkannya. Luhan akan segera membalasnya, tetapi tubuhnya tidak bisa diajak berkompromi. Sehun benar-benar mengurungnya, memegangi pinggangnya dengan erat, dan memojokannya pada meja dapur. Luhan terjebak dalam situasi yang mengerikan.

"Sehun, berhenti!"

"Kenapa kau jadi seperti baru pertama kali kusentuh, Lu?" Sehun bertanya dengan jarak wajah terlampau dekat, bahkan embusan napasnya bisa Luhan rasakan dengan jelas. hal itu membuat wajah Luhan memanas sepenuhnya, memerah matang.

Luhan balas memandang mata Sehun dengan takut-takut, "Kau mau melakukan apa padaku?" tanyanya, lugu.

Sehun tertawa—dan Luhan terpesona untuk yang pertama kalinya. Jadi muka datar ini bisa tertawa juga?

"Pikirkan sendiri apa yang akan kulakukan padamu, Lu." Sehun mengulas seringaian menawannya. Setelah itu, pria itu mempertemukan bibirnya dengan bibir Luhan yang tengah terbuka.

Luhan sontak melotot, terkejut bukan main. Dia bisa merasakan bibir tipis Sehun tengah menginvasi bibirnya dengan liar. Luhan semakin mencengkeram bahu Sehun, berniat mendorongnya dengan keras, tetapi usahanya sia-sia karna ciuman ganas pria itu membuat seluruh sendi tubuhnya melemas. Sehun melumatnya, menggigitnya, dan bahkan memainkan lidahnya. Luhan nyaris mengerang, tetapi dia masih tahu malu. Dia menunggu-nunggu kapan sekiranya perutnya akan bergejolak mual, tetapi nyatanya, dia tidak merasa mual sama sekali. Entah kenapa, ciuman Sehun malah membuat tubuhnya memanas dan jantungnya semakin berdegup terburu-buru.

Luhan rasanya ingin menangis di waktu bersamaan karna ciuman pertamanya harus direnggut oleh musuhnya sendiri—yang di masa depan akan menjadi pendampingnya. Oh, tolonglah! Jangan ingatkan Luhan pada kenyataan mengerikan itu lagi. Setiap mengingat itu, rasanya Luhan ingin menggali kuburnya sendiri.

"Aku merindukanmu," Sehun berbisik, lalu kembali menggigit bibirnya dengan sensual, "Tubuhmu,"

Luhan kali ini benar-benar mengerang, sangat pelan. Lidah Sehun bergerak menjilati pipinya dengan gerakan yang membuat Luhan benar-benar frustrasi. Dia belum pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya, jadi Luhan tidak tahu harus melakukan apa. Apa dia harus menonjok wajah Sehun? Menendangnya? Mencakarnya? Atau… pasrah?

Lalu sebuah pertanyaan sinting keluar dari bibir Luhan begitu saja, "S-sehun… bagaimana dengan anak-anak?"

YA TUHAN, KENAPA DIA MALAH JADI BERTINGKAH SEPERTI SEORANG ISTRI BEGINI?

"Ziyu dan Haowen sudah tidur. Kau tenang saja," Sehun berkedip nakal ke arahnya dengan sebuah seringaian menawan. Luhan benar-benar ingin menampar wajah si mesum ini rasanya.

"Aku mengantuk." ujar Luhan seraya memalingkan wajahnya yang memerah matang ke arah lain. Luhan berharap kalimatnya barusan bisa membuat Sehun berhenti melakukan hal yang jahat padanya saat ini. Tetapi pria itu malah semakin sialan.

"Apa itu undangan agar kita pindah ke kamar saja?"

—dan dengan begitu, Luhan mengeluarkan teriakan murka sekaligus frustrasinya karna Sehun menggendongnya menuju kamar.


"Entah perasaanku saja atau apa, kau terlihat berbeda sekali malam ini."

Luhan yang sudah dibaringkan di atas ranjang berukuran raksaksa itu hanya bisa memundurkan tubuhnya setiap kali Sehun merangkak mendekatinya dengan pandangan lapar. Ya Tuhan, dia benar-benar terjebak dalam situasi yang membuat nyawanya melayang sedikit lagi. Dia benar-benar tidak menyukai Sehun yang seperti ini. Si Sialan itu memang menyebalkan di kesehariannya; selalu mengejeknya, mengganggunya dan memandangnya dengan pandangan mencemooh. Tetapi Sehun di masanya tidak pernah melakukan hal yang jauh seperti ini padanya. Pria itu menggendongnya seperti karung beras, menjatuhkannya di ranjang, dan menempelinya seperti lintah. Rasanya aneh sekali melihat Sehun yang bahkan tidak sudi menyentuhnya itu melakukan hal sinting seperti ini padanya. Apa di masa depan Sehun terkena energi sihir jahat?

"Aku seperti melihat Luhan-ku belasan tahun yang lalu," ujar Sehun.

Aku memang masih belasan tahun!

Dia bahkan dengan seenaknya mengklaimnya! Luhan benar-benar ingin memukul wajah sialan—tampan—di depannya ini.

"Tidak bisakah kita tidur saja malam ini?" Luhan mencicit kecil dengan wajah merona parah. Dia menyingkirkan lebih dulu risiko yang akan terjadi jika dia dan Sehun tidur sepanjang malam di sini. Bisa saja Luhan yang dewasa tiba-tiba pulang dan terkejut melihat suaminya sudah tertidur lelap dengan selingkuhannya—yang mana itu adalah dirinya sendiri dalam versi muda.

Shiiittt. Luhan bahkan tidak sudi jadi selingkuhannya.

Sehun terkekeh, "Kau pikir aku akan melepaskanmu malam ini?" Pria itu kemudian melepaskan kaus hitam yang dikenakannya, menampilkan bagian atas tubuhnya yang berbentuk nyaris sempurna.

Oh.

Ya ampun.

Apa dia sering pergi ke gym?

Luhan refleks menahan napasnya. Wajahnya semakin memerah tidak tahu malu. Jika saja dia adalah seorang gadis, dia pasti dengan senang hati melebarkan pahanya di depan lelaki sialan ini dengan pandangan ngiler. Tetapi, dirinya ini seorang lelaki! Sama seperti Sehun. Ini mulai tidak wajar, Luhan harus kabur dari situasi ini bagaimanapun caranya. Dia tidak mau diperkosa oleh pria sialan ini!

"Jangan memasang wajah takut seperti itu," Sehun semakin merangkak mendekat, berbisik sensual di telinga Luhan yang memerah, "Aku jadi semakin bergairah, Luhan."

Luhan menutup matanya rapat-rapat—terlalu rapat malah—ketika Sehun kembali menciumnya, kali ini lebih lembut, tetapi tetap terkesan kurang ajar. Luhan terlihat sengsara, namun sedikit menikmati dan lebih rileks. Sehun sangat mahir dalam berciuman, membuat Luhan bertanya-tanya, apa dirinya di masa depan selalu diperlakukan seperti ini oleh Sehun? Kedengarannya menakutkan sekali.

Luhan mencengkeram bantal di sampingnya saat gigi Sehun kembali menggigitnya, cukup keras. Sehun melahap habis bibirnya dan itu agak menyakitkan.

Luhan segera tersadar ketika merasakan tangan Sehun menyelusup ke dalam baju tidur yang ia kenakan—pemberian Ziyu—. Tangan kurang ajar itu menyentuh kulit perutnya dengan gerakan lambat dan memabukan. Semakin lama, jari-jemari panjang Sehun semakin ke atas, menuju dadanya, atau lebih tepatnya, menuju dua buah tonjolan mungil di dadanya. Luhan dengan segera mendorong tubuh Sehun secara kasar dan otomatis ciuman pria itu terlepas juga dari bibirnya yang kian membengkak.

Luhan meraih bantal di dekatnya, meletakan benda empuk itu di tubuhnya sebagai tameng perlindungan agar Sehun tidak bisa melecehkannya lagi. Napasnya tersengal dengan pipi memerah lucu. Luhan jadi terlihat seperti gadis yang akan diperkosa oleh pamannya sendiri.

"Lu?" Sehun menaikan satu alisnya dengan bingung, tetapi ada ekspresi geli tercetak di wajahnya. Mungkin dia gemas melihat tingkah istri—ekhem coret—suaminya itu.

"Jangan dekat-dekat denganku, Serigala Busuk!" Luhan menyalak tajam, melupakan fakta bahwa di depannya ini adalah Sehun versi masa depan.

Sehun sendiri terlihat tidak tersinggung sama sekali. Pria itu malah terkekeh dengan cara yang menawan, "Ada apa dengan panggilanmu itu? Kau ingin kita mengenang masa lalu, hm?"

Luhan mengerjap-ngerjapkan matanya, tersadar bahwa dia sudah kelepasan memanggil Sehun dengan panggilan itu. Dia sudah terbiasa dengan panggilan itu, sih.

"B—bukan begitu!" Luhan mengelak dengan gugup.

"Lalu?"

Tidak ada jawaban dari Luhan, karna anak itu kehabisan akal untuk menjawab.

Sehun kembali tersenyum miring. Pria itu kemudian merunduk, meraih kaki Luhan yang bebas, lalu mengecup jari-jemari mungil Luhan dengan lembut.

"Aku menginginkanmu, Luhan. sangat."

Luhan mendelikkan matanya. Ya ampun! Apa sebegitu cintanya Sehun kepada dirinya? Sampai setiap inchi dari tubuhnya dikecupi seperti itu. Ini membuat Luhan semakin berdegup tidak karuan, kali ini bukan degupan takut, tetapi lebih ke arah… terharu, hangat. Dia sampai tidak bisa berkata apa-apa, bahkan pada saat Sehun mencoba melepaskan celananya. Luhan hendak berteriak dan menendang Sehun yang tengah berusaha menanggalkan celana panjangnya, tetapi kali ini Tuhan berpihak padanya. Ponsel Sehun berdering keras, membuat pria itu mengumpat kasar dan menghentikan aksi kotornya.

"Sial! Siapa yang menelepon di saat seperti ini?" Sehun terlihat emosi, tetapi pria itu tetap turun dari ranjang untuk mengecek ponselnya yang terus berdering. Dia terlihat tersiksa dengan gairah yang menggunung di selangkangannya.

Luhan bernapas lega untuk sesaat. Dia melihat Sehun berjalan keluar kamar dengan ponsel menempel di telinganya, sepertinya itu adalah panggilan yang sangat penting. Luhan menggunakan kesempatan brilliant itu untuk segera turun dari ranjang king size yang ditempatinya. Dia melirik ke sekitar dengan pikiran buntu, harus apa dia sekarang? atau lebih tepatnya, harus dimana dia bersembunyi sekarang agar Sehun tidak menemukannya?

Mata rusa Luhan tidak sengaja melirik ke arah kolong tempat tidur yang tertutupi oleh seprai yang menjuntai hingga ke lantai. Tanpa banyak pertimbangan, Luhan segera menyibak seprai lembut itu dan merangkak ke dalam kolong ranjang. Persetan dengan ide konyolnya ini! Yang terpenting, Luhan bisa bersembunyi dari Sehun yang cabul itu. Setidaknya, Luhan bisa selamat untuk malam ini.


.

.

.


Sehun seharusnya kabur sejak tadi.

Dia tidak tahu jika pilihannya untuk mengikuti kemauan Luhan versi dewasa membuatnya terjebak dalam kondisi seperti ini. Luhan mengajaknya pulang dan itu artinya dia harus bertemu dengan dirinya versi dewasa. Bagaimana ini? Apa yang akan terjadi jika dia bertemu dengan dirinya sendiri di masa ini? Sehun benar-benar bingung. Kepalanya akan meledak sesaat lagi karna tidak bisa memecahkan jalan keluar atas ini semua. Dia memang penasaran dengan rupanya sendiri di masa depan dan mengajukan berbagai pertanyaan. Salah satunya adalah; 'mengapa kau menikahi Kijang sialan itu? Apa kau diracuni, hah?' tetapi hal itu tentu saja tidak mungkin ia lakukan. Dia pernah melihat film barat dengan tema time-travel seperti ini, di dalam film itu, jika seseorang dari masa yang berbeda bertemu dengan dirinya sendiri, maka salah satu diantara mereka harus mati. Dan Sehun tidak ingin dirinya mati. Hidupnya masih terlalu berharga.

"Sudah sampai," Luhan berujar riang ketika mereka sampai di sebuah halaman rumah yang begitu luas. Sehun tidak punya waktu untuk mengagumi semua kemewahan rumah masa depannya ini, karna dia sibuk memikirkan cara untuk kabur.

"Kenapa kau hanya diam?" Luhan bertanya. Tangannya masih menggenggam tangan Sehun dan senyuman mengerikan—manis—itu masih terpatri di wajah mungilnya.

Sehun meringis, "Aku hanya mengantuk." jawabnya, asal.

Luhan memandangnya sesaat, "Tumben."

Kemudian mereka masuk ke dalam rumah megah itu bersamaan. Keadaan di dalam rumah itu sangat hening, beberapa ruangan dalam kondisi gelap, membuktikan jika para penghuninya sudah tertidur. Sehun mendesah lega untuk beberapa saat. Namun, di beberapa detik kemudian, dia kembali terserang gejala panik. Luhan mengajaknya untuk segera pergi ke kamar mereka.

Sial, sial, siaaaal!

Bagaimana jika di dalam sana ada dirinya dalam versi dewasa? Apa yang akan dia lakukan? Sehun benar-benar dalam musibah yang serius.

"Kenapa pintu kamar kita terbuka?" Luhan bertanya dengan wajah bingung. Sehun tidak menjawab karna dia tengah terserang gejala panik akut. Pasti di dalam sana ada dirinya versi dewasa. Pasti!

Sehun membiarkan Luhan masuk terlebih dahulu ke dalam kamar, setelah dirasa aman karna Luhan tidak berteriak karna melihat suaminya—ekhem—ada dua, barulah Sehun mengikuti langkah lelaki mungil itu. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang kamar yang kosong, tidak ada seorang pun di sana, hanya ada ranjang yang cukup berantakan dan furniture mahal lainnya. Sehun mengembuskan napasnya, begitu lega. Namun, sebuah bayangan gila mendadak terlintas di otak jeniusnya ketika melihat ranjang besar di depannya.

Apa itu ranjang yang setiap malam ia gunakan di masa depan nanti bersama Luhan dalam melakukan iya-iya? Dia bisa melihat dirinya dan Kijang itu bergumul di atas sana dengan percikan gairah dan cinta yang mengerikan. Sehun refleks bergidik ngeri. Membayangkan hal itu sama saja mengulas kembali mimpi basah sialannya kemarin malam.

"Kenapa berantakan sekali?" Luhan terdengar menggerutu melihat bantal dan selimut di atas ranjangnya sudah tidak beraturan. "Kau tidak merapihkannya ya, tadi?"

Sehun hanya meringis, pura-pura merasa bersalah, "Maafkan aku." —padahal itu bukan salahnya sama sekali. Dan apa-apaan permintaan maaf menjijikan itu? bahkan sebelumnya dia tidak sudi mengucapkan maaf walau mengganggu Luhan seharian penuh pun.

"Dasar pemalas," Luhan mencibir, sebal. "Aku akan ke kamar Ziyu dan Haowen dulu, kau bereskan semua ini, oke?"

Bagai terhipnotis, Sehun mengangguk patuh dengan kecepatan luar biasa. Jika Luhan pergi, maka dia bisa kabur dari sini secepatnya. Lantas, setelah Luhan keluar dari kamar, Sehun segera memikirkan cara untuk kabur dari sini tanpa ketahuan siapapun. Tetapi, belum sempat dia melaksanakan idenya itu, sesosok tubuh keluar dari kolong tempat tidur dengan gerakan cepat.

Sehun melotot kaget, nyaris berteriak karna mengira itu adalah sosok hantu penunggu kolong ranjang. Tetapi ketika sosok itu berdiri, dia mengenali bahwa itu adalah Luhan. Luhan dari masanya, si Kijang sialan yang telah membuat hidupnya selalu sial.

"Luhan?" —dan tanpa sadar, Sehun menyebut nama Kijang itu dengan benar. Walau kesal, sebenarnya Sehun bersyukur bertemu dengan Kijang itu saat ini. Dadanya terasa begitu lega melihat anak sialan itu ada di sini, di depannya. Dia tidak pernah sesenang ini bertemu dengan Kijang itu.

"Bagaimana kau—"

"Jangan bicara dulu. Ayo, masuk! Cepat!" Luhan tiba-tiba menarik tangannya, mengajaknya masuk ke dalam kolong tempat tidur. Sehun sebenarnya ingin protes dan menendang Luhan jauh-jauh, tetapi sepertinya dia tahu apa yang sedang Luhan lakukan di dalam kolong yang cukup gelap ini sekarang. Anak itu sedang bersembunyi.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Luhan bertanya, berbisik, setelah dirinya dan Sehun sudah bertelungkup ria di dalam kolong tempat tidur. Keduanya jadi terlihat seperti dua ekor tikus yang sedang bersembunyi.

"Harusnya aku yang bertanya seperti itu!" geram Sehun. Dia tidak bisa melihat dengan jelas wajah Luhan, karna suasana di dalam sini cukup gelap. Yang paling terlihat hanyalah dua bola mata Luhan yang seperti bersinar dalam kegelapan. Bagai mata kucing di saat malam hari.

Luhan terlihat kesal, "Ceritanya panjang! Intinya, saat ini aku sedang dalam musibah."

"Bukan kau saja, idiot." balas Sehun.

Luhan rasanya ingin tersenyum bahagia saat ini. Dia senang sekali Sehun yang seperti ini, walau sebenarnya, Luhan ingin menonjok hidung anak itu. Tapi setidaknya, Sehun di depannya ini tidak akan menciumnya dan menggigit-gigit lehernya seperti vampire gila. Luhan merasa amat lega sekarang.

"Kau bertemu dengan diriku versi dewasa, ya?" Luhan bertanya, penasaran. Karna tadi dia sempat mencuri-curi percakapan antara Sehun dan dirinya versi dewasa di luar sana.

Sehun menghela napasnya, apa di situasi sekarang pantas menanyakan hal itu, ya? Rasanya dia ingin sekali menjitak kepala Luhan.

"Ya, dan kau masih sama menyebalkannya." —padahal diam-diam, Sehun tertarik pada Luhan versi dewasa. Uhuk.

"Kau lebih menyebalkan. Aku yakin, kau pasti akan mencoba bunuh diri setelah mendengar ceritaku tentang apa saja yang sudah dirimu versi dewasa lakukan kepadaku tadi!" Luhan menjelaskan dengan emosi menggebu-gebu.

Firasat Sehun mulai tidak enak mendengar penjelasan Luhan. Memangnya apa yang sudah Sehun dewasa lakukan terhadap anak itu? kenapa Luhan kedengarannya emosi sekali? Sehun mulai menerka-nerka, apa Sehun dewasa telah melakukan hal yang sama seperti Luhan dewasa lakukan kepadanya?

Menciumnya?

"Kijang, coba kau ceritakan pad—" Sehun melotot tidak terima karna Luhan mendadak membungkam mulutnya dengan tangan anak itu sendiri.

Suara derap langkah kaki dan perbincangan dua orang di luar sana menghentikan niat Sehun untuk protes pada Luhan. Mereka harus tutup mulut jika ingin tidak ketahuan.

"Sehun, kenapa kau tiba-tiba ada di luar? Bukankah aku menyuruhmu untuk membereskan kamar?"

"Aku sedang menerima telepon dari Ayah, dan… kapan kau menyuruhku membereskan kamar?"

"Tadi."

"Benarkah? Kenapa aku tidak ingat, ya?"

"Kau memang selalu seperti itu. Sejak kapan kau membuka bajumu?"

Itu suara Sehun dan Luhan versi dewasa. Mereka terdengar tengah memperdebatkan sesuatu yang membuat mereka kebingungan. Hal itu membuat Sehun dan Luhan saling berpandangan. Setengah merasa geli, setengah merasa gugup. Karna kebingungan mereka terjadi karna kesalahan keduanya. Rasanya aneh sekali berada di situasi seperti ini. Mereka berada di masa depan yang tidak terduga. Ini di luar nalar, tetapi semua ini memang kenyataan. Kenyataan yang sulit diterima akal. Di 2016 mereka masih menjadi musuh, tetapi ternyata di 2028 mereka telah menikah. Gila sekali 'kan? Tuhan memang pintar sekali membuat skenario yang apik.

"Aku merasa… dirimu aneh sekali hari ini, Sehun."

"Aku juga merasa kau aneh, Lu."

"Jangan mengataiku balik!"

"Cih, sebegitu tak inginnya kau bercinta denganku sampai kau harus mengganti piyamamu dengan baju ini?"

"Aku memang sejak tadi memakai baju ini, Sehun! Dan b—bercinta? Kenapa mendadak kau agresif?"

"Oho, jangan pura-pura sok polos, Luhan. Aku sudah mengajakmu bercinta sejak tadi, dan kau selalu menampilkan raut bingung sok polos seperti itu. Kau pikir aku bisa bersabar lagi, huh?"

—Sehun merasa matanya akan keluar dari habitatnya mendengar pengakuan dirinya versi dewasa ini. Mengajak Luhan bercinta? Hell. Dia pasti sudah gila. Sinting. Tidak waras! Pantas saja Luhan sangat emosi. Pasti gara-gara hal ini, anak itu jadi sangat murka. Rasanya Sehun ingin menenggelamkan dirinya versi dewasa di dalam kolam ikan piranha terdekat. Dia memalukan nama keluarga Oh yang terhormat!

"Sehun!"

Sehun dan Luhan yang masih membisu di dalam kolong ranjang itu berusaha menulikan pendengaran ketika suara gedebuk terdengar di atas ranjang. Suara itu tidak lain adalah suara tubuh Luhan dewasa yang dijatuhkan oleh Sehun dewasa di atas sana. Oh, apa yang akan mereka lakukan? Sehun tidak mau membayangkannya atau memikirkannya lebih lanjut.

Semoga saja mereka tidak melakukan apa-apa.

Semoga saja mereka tidak melakukan apa-apa.

Sehun sibuk memanjatkan doa-doa sendirian di dalam hatinya.


Dan nyatanya menuruti kemauan konyol Luhan untuk bersembunyi di bawah tempat tidur adalah opsi yang sangat buruk.

Sehun frustrasi, nyaris merontokkan rambut berharganya sendiri. Wajah dan telinganya memanas tak tahu malu, belum lagi napasnya yang mendadak memburu. Sehun benar-benar ingin kabur, kemanapun asal tidak di sini. Buliran keringat yang terus mengalir dari dahinya itu adalah pertanda dari segala kefrustrasiannya saat ini. Mau tau apa penyebab Sehun nyaris gila seperti ini? Itu karna—

"Ahhh, Sehun,"

"Teruslah mendesah, Luhan. Ah, shit!"

"Mmhh—Sehun.."

"Ahh, yaah, seperti itu, sayang."

DEMI KOLEKSI KAMASUTRA JONGIN!

Sehun benar-benar tidak tahan dengan suara-suara laknat di atas sana, belum lagi decitan ranjang yang terus bergoyang, membuat kepala Sehun akan meledak dalam beberapa detik lagi. Fuck! Bagaimana bisa masa depan semengerikan ini? Sehun tentu saja tahu kegiatan jenis apa yang sedang dilakukan oleh dirinya dan Luhan dewasa di atas sana. Sehun bukan remaja polos yang senantiasa bertanya 'apa itu?' ketika disuguhi pemandangan erotis. Dia remaja yang tahu tentang hal kotor seperti itu. Apalagi mengingat teman-teman sekamarnya yang porno bukan main.

"Apa yang sedang mereka lakukan sih malam-malam begini?"

Oh, ya. Kecuali remaja di depannya ini. Si anak bodoh kelewat polos yang bahkan kegiatan panas saja tidak tahu. Luhan.

Sehun nyaris melupakan eksistensi Kijang itu, karna dia sibuk mengontrol suhu tubuhnya agar kembali normal.

"Berisik sekali," Luhan menggerutu. Berbeda sekali dirinya versi dewasa di atas sana yang sibuk mendesah sensual. Sehun jadi penasaran bagaimana kegiatan di atas sana berlangsung sampai Luhan bisa mendesah erotis seperti itu—Heeh! Tidak, tidak! Apa yang dipikirkannya, sih?

Sehun mengusap wajahnya kasar. Sebagai remaja normal, dia mulai merasakan bagian selatan tubuhnya mulai mengeras. Dan itu sungguh memalukan! Padahal di atas sana bukan sepasang lelaki dan perempuan yang bisa membuat gairahnya menaik hanya karna mendengar desahan si perempuan. Dia hanya bisa mendengar desahan Luhan dan geraman dirinya versi dewasa, ditambah decitan ranjang, kenapa dia bisa ikut-ikutan terangsang seperti ini? Sehun benar-benar tidak habis pikir pada kondisi tubuhnya saat ini.

Sehun memandangi Luhan di depannya yang samar-samar bisa ia lihat wajahnya memerah. Entah kenapa anak itu memerah. Mungkin karna suhu di sini yang terasa panas. Kijang itu terlihat terganggu sekali dengan suara-suara desahan yang memenuhi ruangan. Anak itu sedang berusaha untuk tidur.

"Kau benar-benar tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan di sana?" tanya Sehun, penasaran. Dia sungguh penasaran dengan kadar kepolosan atau kebodohan kijang di depannya ini.

Luhan menggeleng, "Mereka sedang makan daging pedas?" tebaknya.

Sehun nyaris menggulingkan tubuh Luhan keluar. "Kau itu—pernah nonton video dewasa tidak, sih?"

Luhan merasa tersinggung detik itu juga, "Pernah lah!" bisiknya, penuh penekanan. Andai bukan sedang di bawah tempat tidur, Luhan pasti sudah berteriak-teriak emosi pada Sehun.

"Kapan dan seberapa sering?"

"Uhm…, aku tidak ingat. Tapi sepertinya itu setahun yang lalu, itu adalah pertama kalinya dan setelah itu aku belum menontonnya lagi."

Sehun menepuk dahinya, tak habis pikir. Kemudian tangannya bergerak, mendekati wajah Luhan. Dia menutup kedua telinga anak itu dengan tangan-tangannya, mengundang tatapan bingung dari si empunya telinga.

"Tidur!" perintah Sehun, tajam.

Luhan mengerjap bingung, sekaligus kesal, "Kenapa—"

"Kubilang tidur, Kijang!" kali ini Sehun menggeram. Luhan merengut sesaat, lalu mulai memejamkan matanya dengan telinga tertutup oleh kedua tangan besar Sehun.

Bukan tanpa alasan Sehun melakukan hal sinting ini terhadap Luhan. dia hanya tidak ingin anak itu terjaga sepanjang malam bersamanya karna mendengar suara desahan-desahan laknat di atas sana. Bisa saja Luhan ikut terangsang dan pastinya hal itu akan membuat Sehun kerepotan dan ikutan sial. Ingat, apapun yang Luhan lakukan pasti akan menyeret dirinya dalam ke sebuah kesialan. Lebih baik anak itu tidur, dan biarlah dirinya yang tersiksa sepanjang malam karna menahan sesuatu di area selangkangannya.

atau kau melakukan ini karna tidak ingin kepolosan Luhan tercemar?

Desahan dan geraman masih terdengar di atas sana membuat Sehun mendadak mendapat pemikiran 'Apa dia melakukan hal itu dengan Luhan setiap malam di masa depan nanti?' Astaga, Luhan itu lelaki, musuh abadinya—bagaimana bisa seperti ini? Bagaimana bisa lelaki itu pasrah di bawah kuasanya ketika di ranjang? Kenapa desahannya begitu menggairahkan melebihi wanita?

Oh, sial. Sehun malah salah fokus.

Ini semua karna masa depan sialan ini. Sehun benci masa depannya!


Tobecontinued—


a/n :

Masih layak gak sih ff ini gue lanjutin:"" coba jelasin sama gue kenapa ff ini harus lanjut dan selalu kalian tagih:"

Kalian bingung gak sama deskripsi yang gue buat di atas? Soalnya gue juga kesusahan ngejelasin sehun versi dewasa-luhan versi dewasa-sehun muda-luhan muda. Semoga kalian ngerti ya:""

Daaaan, karna lamanya gue gak lanjutin ff ini, semoga feelnya masih berasa ya:((( makasih lho buat yang selalu nungguin epep abal-abal ini, yang selalu nagih-nagih di semua akun sosmed gue, yang selalu minta lanjut sampe ngancem2 gue biar jomblo selamanya. makasih banget. gue sayang kalian mumumu~

P. s : besok gue mulai UN nih, perjuangan akhir di sekolah /eeak/ doain semoga bungkus royco ini lancar ngisi soal ya:" thanks before sayangku.