Assasin


Disclaimer : Naruto belong to Masashi Kishimoto


Tujuh


Naruto POV

Dua hari lagi, sebelum pertempuran hidup atau mati. Satu langkah lagi untuk mengakhir semuanya. Ini malam terakhir sebelum persiapan pagi nanti. Tidak ada yang tahu bagaimana akhirnya. Mungkin memang tidak akan mudah untuk melawan Gaara.

Kemampuannya setara dengan Sai di Akademi Morroc. Pertempuran mereka malam itu membuktikannya. Hal itu tidak akan menyurutkan tekadku. Tidak ada pilihan selain terus maju. Akan aku lakukan, meski harus berkorban demi Hinata dan harus mati di medan perang.

Malam ini kami akan menghabiskan waktu bersama. Sebelum berpisah untuk bertempur di medan perang. Hinata akan tinggal di kastil selama pertempuran nantinya. Dan tidak ada lagi yang harus dikhawatirkan.

Sai akan kembali ke Morroc segera, setelah memandu rombongan untuk mengikuti ujian tingkat gabungan di Konohagakure. Setidaknya itu sedikit melegakanku.


"Kita akan kemana Naruto?" Tanya Hinata.

Kami sudah berjalan menyusuri lorong-lorong kastil. Sai dan Ein menjemput kami beberapa saat yang lalu. Mereka berdua berjalan berdampingan di depan, tak jauh dari tempatku sekarang—dan Hinata di sampingku.

Aku menoleh ke arah Hinata. Tanganku membelai surai indigo-nya. Aku tidak tahu bagaimana ia merawatnya, ini sangat lembut di jariku. Matanya membulat. Kedua bola Amethyst-nya menatapku penasaran. "Bukankah kau ingin mengunjungi Oasis, Hime?" Ucapku. Aku tersenyum. Matanya semakin terbuka, bibirnya melengkung.

"Benarkah? Aku tidak sabar lagi." Ucapnya. Hinata memeluk lenganku menggelayutinya. Kepalanya bersandar di bahuku dan menggesekkannya. Aroma lavender menguar dari surai indigo-nya. Wangi yang selalu aku rindukan. Wangi yang selalu sama sejak pertama kali bertemu. Ini seperti ekstasi.

Sai dan Ein menoleh ke arah kami. Mereka tersenyum menatap tingkah Hinata. Aku menyeringai menatap mereka. "Hei.. Hei.. Ein.. Sepertinya Sai juga ingin kau peluk." Ujarku menggoda. Ein nampak tersipu dan pipinya memerah, kemudian menoleh ke arah Sai. Hinata terkekeh disampingku, melihat tingkahku yang selalu senang menggoda Sai. Sai menatapku sekilas kemudian menggandeng tangan Ein. Mereka beradu pandang dan saling melempar senyum, kemudian memalingkan wajah mereka kembali ke depan.

"Ne.. Naruto apa Ein menyukai Sai?" Aku melirik Hinata dari sudut mataku, ia di samping kiriku. Matanya menatap Sai dan Ein di depan, kemudian ia melirikku. Sekilas kami bertemu pandang. Aku tersenyum. Hinata menatapku penasaran. Aku kembali menatap Sai dan Ein di depan, mereka masih bergandengan tangan.

"Seperti yang kau lihat, Hime?" Aku tersenyum. "Ein selalu begitu sejak pertama kali kami bertemu. Aku terus menggodanya dan ia tersipu. Dan Sai, selalu terlihat bodoh dengan sikap dinginnya. Rasanya aku ingin meninju wajah datarnya." Candaku. Aku terkekeh pelan. Sejujurnya aku memang ingin meninju wajah datarnya itu. Maksudku, setidaknya perhatikanlah Ein sedikit saja. Aku menghela napas.

Hinata terkekeh. Hening sesaat. Kami membelok kiri di persimpangan. Pintu gerbang sudah terlihat tak jauh di depan kami. Sekilas Sai dan Ein menoleh ke belakang. Mereka tersenyum dan kembali berjalan.


Beberapa puluh menit kami berjalan menyusuri jalan dan rumah penduduk. Sampai akhirnya kami tiba di Oasis tengah kota Morroc. Aku mengambil duduk di bangku kayu panjang. Hinata menatapku sekilas dan duduk di sampingku. Matanya mengedar ke arah depan. Pemandangan Oasis di depan kami. Terlihat cahaya bulan dan bintang memantul disana. Aku memungut beberapa kerikil di tanah, lalu melemparkannya jauh ke arah air. Gelombang-gelombang kecil di air menyamarkan pantulan cahaya bulan dan bintang. Hinata menyikut pinggangku. Aku mengerang memeluk pinggangku. Aku meliriknya, kemudian terkekeh pelan.

"Kau merusak pemandangan Naruto." Hardiknya. Ia mendengus pelan.

Aku menoleh jauh ke kiri-depan. Sai dan Ein berjalan mengelilingi Oasis. Tangan mereka masih bertautan. Mereka terlihat menggumamkan sesuatu, aku tidak mendengarnya.

Tidak banyak rumah di sekitar sini. Sunyi menyergap di sekitar kami. Sangat menenangkan. Aku teringat saat pertama kali bermain disini. Sai dan Ein mengajakku kesini, hampir setiap hari saat malam tiba.

"Hinata?"

Hinata bergeser mendekatiku. "Umm?" Sekilas menatapku dan kembali berpaling. Kepalanya bersandar dibahu kiriku.

Aku memeluk bahunya dengan lengan kananku. "Apa kau akan menungguku, Hime?" Hening sesaat, pelukan Hinata semakin erat di lenganku.

"Maksudku, aku pasti kembali. Apa kau akan menungguku?" Jelasku kemudian.

"Tentu saja! Kau berjuang melindungiku dan aku tidak punya alasan untuk tidak menunggumu Naruto. Selama kau akan kembali. Dan pastikan kau kembali. Kau janji Naruto!" Tukas Hinata. Nadanya sedikit meninggi dari biasanya. Pelukan Hinata semakin erat menekan lenganku.

Apa kau tetap menungguku jika aku tidak kembali, Hinata? Medan perang selalu menjanjikan kematian. Aku tidak tahu, apa aku akan mati atau bertahan. Tidak ada waktu untuk memikirkannya, yang kutahu hanya berjuang dan terus maju. Aku tidak tahu Hinata. Aku hanya bisa bilang aku akan kembali, itu inginku. Tapi aku tetap tidak tahu. Deretan kata-kata hanya menggantung di batinku. Bibirku terasa kaku untuk membuka suara. Aku tidak sanggup melihat ekspresi Hinata. Aku tahu itu akan melukainya.

"Tentu saja aku akan kembali, Hime." Ucapanku membohongi batinku. Aku tidak akan pernah mengucapkan deretan kalimat itu. Itu menyakitinya.

"Kau harus kembali Naruto. Berjanjilah! Naruto! Berjanjilah!" Suaranya bergetar, nadanya semakin meninggi. Sai dan Ein tersentak mendengar suara Hinata. Mereka duduk di bangku tak jauh dari tempat kami. Mereka menatapku penasaran. Aku menggeleng pelan tanda baik-baik saja.

Hening beberapa saat. Aku merasakan basah sekitar bahuku. Hinata menangis. Pandangannya masih tertuju ke depan. Kepalanya masih menempel di bahuku. Tidak ada obrolan di antara kami. Kenangan masa lalu bukan topik yang bagus untuk saat ini, juga kedepannya.

"Ne.. Hinata?" Hinata tak merespon. Kepalanya bergerak menyamankan posisi.

Aku meliriknya sekilas kemudian melanjutkan. "Aku ingat saat pertama kali berlatih disini. Aku berburu di sekitar luar gerbang barat Morroc saat itu bersama Sai. Hmm. Banyak sekali Baby Desert Wolf di sekitar sana. Mereka melompat saling berkejaran, mereka menggonggong pelan, mereka kecil, bulunya coklat dan juga putih, mereka lucu sekali. Aku menggendong salah satu dari mereka, lalu mengangkatnya ke atas. Ia terlihat ketakutan, ia berontak, dan menggigit tanganku. Ia lucu tapi ia menggigit. Lalu ibunya datang, ia sangat besar. Hampir setinggi aku. Ibunya menggeram lalu menerkamku. Aku meronta, tubuhku terluka. Lalu Sai menolongku. Ia menggoda ibunya dengan mengganggu anak-anaknya. Aku masih ingat wajah Sai yang konyol saat mengganggu anaknya. Sai terus menggoda, sampai ibunya beranjak dari tubuhku. Aku terlepas, aku lari, kami lari. Aku tak tahan melihat wajah bodoh Sai saat lari dari mereka." Aku terkekeh pelan.

"Apa kau suka binatang, Hime?" Aku menoleh ke arah Hinata. Ia tersenyum. Kepalanya mengangguk. Aku tersenyum kemudian. "Hmm, Baby Desert Wolf. Apa kau pernah mendengarnya? Atau melihatnya?" Kepalanya menggeleng. Aku mengangguk pelan. "Hmm. Suatu hari aku akan mengajakmu kesana. Apa kau tertarik? Tidak?"

Ia langsung beranjak dari bahuku. Matanya membulat menatapku. Tatapan menuntut seperti saat di festival malam itu. "Kau janji Naruto! Kau selalu melakukannya saat berjanji. Kau akan membawaku setelah kau kembali!" Hinata mengguncang dan menarik lenganku. Wajahnya terlihat berseri. Jejak air matanya mengering terlihat di kedua pipinya. Aku menangkup pipinya lalu mengusapnya dengan ibu jariku. Aku tersenyum, pipinya serasa memanas di tanganku.


Hinata POV

Pipiku terasa panas merasakan sentuhannya, saat menghapus jejak air mataku yang sudah mengering. Bola mata Sapphire-nya selalu tenang memancarkan kenyamanan. Seolah menarikku untuk tenggelam di sana. Itu seperti dunia yang diliputi rasa nyaman dan tenang dan damai. Bawa aku kesana sekarang. Tidak, aku mulai berkeringat. Tubuhku bergetar. Dan aku bisa melihat lagi tatapan khawatir Naruto kepadaku.

"A-aku tidak sakit." Ujarku.

Naruto mengernyit. "Suhu tubuhmu mengatakan yang lain Hime. Wajahmu memerah. Rasanya kau selalu seperti ini saat aku menyentuhmu. Apa kau tidak nyaman?" Bola Shappire-nya menatap mataku bergantian, kiri dan kanan. Seolah mencari kebohongan yang mungkin terpancar disana.

"A-ku baik-baik saja, Naruto. Dan aku nyaman denganmu, sentuhanmu. Ini hanya—alamiah. A-ku tidak tahu, ini spontan." Aku menunduk. Tangan kirinya memegang leherku. Sengatan listrik kecil menjalar ke seluruh tubuhku. Aku merinding. Perlahan kepalaku terangkat menatap wajahnya. Tangannya seperti menarik leherku, mendorong jarak di antara kami. Mataku terpejam. Keringat kembali mengucur di wajahku. Terasa panas, wajahnya semakin mendekat.

Aku merasakan daging lembut menyentuh bibirku. Sentuhannya lembut. Sedikit basah. Aku masih memejamkan mata. Tanganku menempel di dadanya. Jantungnya berdetak, sedikit kencang. Tangannya mulai turun dari leherku. Memeluk pinggangku dan kembali menarik. Memberikan tekanan lebih di bibirku. Aku melenguh, tubuhku semakin memanas. Ini tidak baik. Perlahan aku mendorong tubuhnya menjauh dariku. Aku membuka mata lalu mengerjap. Ia tersenyum. Tangannya mengusap bibirku yang sedikit basah.

Kami kembali mengatur posisi duduk masing-masing. Menatap pemandangan Oasis yang menyapa kami. Pantulan bulan sudah bergeser dari tempatnya, menandakan malam semakin larut.

"Na-naruto?"

"Hmm?" Ia menolehku.

"Apa kau menyukai tempat ini?" Aku menoleh. Menatap Naruto.

Ia menatapku "Aku sering kesini." Kemudian mendongak, menatap langit. " Sai dan Ein sering mengajakku kesini saat malam tiba. Aku suka disini tenang." Ia kembali menatapku. "Apa kau suka, Hime?"

Aku mengangguk. "Aku suka tenang, sepertimu. Maksudku seperti kau yang menyukai ketenangan." Aku menundukkan kepalaku, mengayun-ayun kakiku di bawah sana. "Kau tidak tenang. Tapi kau selalu ceria. Kau seperti matahari. Hangat menyapa di pagi hari." Aku menatapnya. Tersenyum memiringkan kepalaku.

Naruto mengelus rambutku. "Tapi matahari tidak menyapamu sepanjang hari." Ia tersenyum. "Bulan menggantikannya di malam hari. Dan ia tenang." Ujarnya

Aku merengut. "Tapi ia selalu kembali di pagi hari."

Ia tertawa pelan. Masih mengelus rambutku. "Kau pintar, Hime." Ia menepuk kepalaku pelan, lalu menoleh. Kembali menatap langit.

Hening beberapa saat.

"Hime?"

Aku menoleh. "Hmm?"

"Ein akan menemanimu tinggal di kastil. Penginapan tutup selama ujian tingkat di Konoha." Ia menatapku. Aku mengangguk. "Sebagian warga Morroc akan mengunjungi Konoha sampai beberapa hari kedepan." Lanjut Naruto.

"Apa kau sudah memintanya." Ucapku.

Ia menoleh ke arah Sai dan Ein yang duduk tak jauh dari tempat kami. "Seharusnya Sai sudah mengatakannya pada Ein." Ia tersenyum.

"Na-naruto." Aku menunduk.

"Hmm?"

"Apa Gaara itu kuat?" Aku melihatnya.

Naruto mengernyit. "Aku lebih kuat Hime. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu." Ia tersenyum.

"Tapi Sai terluka parah saat itu."Aku kembali menunduk.

Aku merasakan tangannya kembali membelai rambutku. "Aku tidak akan kalah darinya, Hime. Tunggulah di kastil bersama Ein. Aku akan kembali."

Aku menatapnya. Mencari kebohongan di balik manik Sapphire-nya. "Baiklah." Aku tersenyum.


Sai POV

Kami harus segera pulang. Ein terlihat mulai mengantuk. Kepalanya bersandar di bahu kiriku sekarang. Hinata berteriak sesaat yang lalu. Sepertinya menangis. Dan Naruto sudah harus mengatakan sesuatu pada Hinata. Perpisahan atau semacamnya. Bagaimana akhir sebuah pertempuran. Tidak ada yang tahu, siapa yang mati atau bertahan. Bahkan aku tidak bisa menjamin atas Naruto. Kemampuan Gaara tidak bisa diremehkan. Perang akan dimulai, yang terjadi—terjadilah.

"Ein?" Ein terasa lebih posesif terhadapku. Ia tidak pernah seperti ini. Meski aku akan pergi beberapa hari untuk misi yang sangat berbahaya atau saat ujian tingkat di akademi.

"Hmm?" Ia beranjak dari pelukannya di lenganku. Manik ruby-nya menatapku penasaran.

"Kau akan tinggal bersama Hinata di kastil utara, mungkin dua hari atau lebih." Aku membelai surai pirangnya, menyelipkan rambut yang menggantung di samping pipinya ke telinganya.

"Kebetulan penginapan tutup beberapa hari. Cranel akan mengantar anaknya mengikuti ujian tingkat gabungan di Konoha." Ujarnya.

"Berkemaslah setelah pulang. Pagi nanti aku menjemputmu." Aku mengecup puncak dahinya. Tubuhnya menegang, kulitnya memanas. Beberapa saat lalu melepas kecupanku.

Ein menatapku, masih tersipu. "Apa kalian akan segera kembali?"

"Naruto akan tetap disini, ia akan mencegat Gaara di perbatasan Morroc."

Ein mengernyit. "Medan perang di sekitar morroc?"

"Kita tidak bisa mengambil resiko yang mungkin lebih buruk. Pilihan terbaik mencegat mereka di perbatasan."

Ein mengangguk, "Lalu bagaimana denganmu?"

"Aku akan memandu rombongan kita sampai ke Konoha. Dan akan kembali, segera setelahnya." Tukasku.

Ein kembali mengangguk, memahami. Kepalanya menunduk. Pandanganku menengadah menatap langit. Setidaknya aku bisa sedikit membantu Naruto saat kembali dari Konoha. Dan kuharap Naruto sanggup bertahan sampai aku kembali.

Malam semakin larut, dingin semakin menyergap. Malam hari serasa dingin mencekam. Sedangkan siang hari serasa panas membakar disini. Kami harus segera pulang untuk mempersiapkan segala sesuatu esok hari. Masih banyak yang harus diurus untuk keberangkatan dua hari lagi. Dan aku harus menjemput Ein nanti, pagi sekali.

Aku menoleh ke arah Naruto dan Hinata yang duduk tak jauh di kananku. Mereka terlihat akan segera beranjak. Naruto melambaikan tangannya ke arah kami. Aku menarik lengan Ein untuk berdiri. Kemudian menggandengnya dan menghampiri Naruto yang sudah berjalan mendahului kami.


Bersambung. . .


Update super lamaaa

Review sudah dibalas lewat PM

PM sudah dibalas lewat PM


Terimakasih