Archive Warnings applied. See end of the first chapter to see the warnings.
ENJOY! ;)


Against All Odds


Disclaimer:

Character © Masashi Kishimoto, 1999

Story © karinuuzumaki, 2017

Pairing: NaruSaku


"Kenapa sih kau ini? Apa yang salah denganmu?!"

Suasana lorong Rumah Sakit Konoha yang tadinya tenang, tiba-tiba berubah 180 derajat. Bentakan itu tidak hanya keras, namun juga menggelegar ke seluruh lantai rumah sakit itu. Seketika seluruh mata pengunjung rumah sakit tertuju pada sumbernya. Adalah Tsunade Senju, sang hokage kelima yang suaranya menggema. Sosoknya keluar dari laboratorium utama bersama salah satu muridnya yang tidak lain adalah Sakura Haruno. Raut wajah perempuan yang lebih tua memperlihatkan jelas gurat kemarahan. Sesuatu yang tidak hanya sangat mengerikan, namun juga bisa mematikan.

"Kau ini sedang bekerja atau main-main, Sakura? Yang benar saja!" gertak Tsunade dengan suara yang sama kerasnya. "Kau pikir pekerjaan ini main-main?"

"Maaf, Shishou." Sang murid berulang kali membungkuk di hadapan gurunya. "Saya tidak teliti."

Tidak teliti adalah ungkapan yang terlalu sederhana, dan Sakura sendiri menyadarinya. Terlebih ketika dalam satu jam terakhir, Sakura telah menghanguskan tiga tabung reaksi yang seharusnya dia amati; plus memecahkan tabung erlenmeyer berisi sampel penting dalam penelitian ini.

"Ya jelas kau memang tidak teliti!" Tsunade membelalakan matanya, terlihat jelas gurat amarah dari wajahnya. "Kau bukan hanya tidak teliti, tapi juga sudah mengacaukan proyek-ku!"

Gadis itu menelan ludahnya, sembari sekali lagi membungkuk di depan atasannya. "Tidak akan terjadi lagi, Shishou. Saya janji."

"Oh, tentu ini tidak akan terjadi lagi." Perempuan berambut pirang itu menghardik ketus. "Kau dikeluarkan dari tim, Sakura. Panggil Yamanaka kemari."

"Tapi, Shishou─"

"Kubilang, kau dikeluarkan." Ujar Tsunade dengan nada tak terbantahkan. "Sekarang cari Yamanaka untukku. Aku membutuhkannya. Segera."

Ada jeda tiga detik sebelum akhirnya si gadis merah jambu mengangguk pasrah.

"Baik, Shishou."

Mendengar konfirmasi dari muridnya, Tsunade langsung berbalik memasuki laboratoriumnya tanpa banyak basa-basi. Meninggalkan Sakura sendirian dengan puluhan tatap mata yang menyorotinya.

Gadis bersurai merah jambu itu menarik napas panjang, berusaha meredakan gusar yang meluap sekaligus menghapuskan arang di mukanya. Dia harus segera mengontrol emosinya dan menemukan Ino. Tsunade tidak mungkin akan bersabar cukup lama, terlebih dalam situasi seperti ini. Sesaat setelah debar jantungnya normal kembali, dia berbalik bersiap melangkah menuju ruang jaga.

Hingga akhirnya mendapati Hinata Hyuga sedang berdiri menatap Sakura.

Sakura tidak tahu sejak kapan Hyuga itu berdiri di sana atau berapa banyak yang dia dengar. Sekalipun dua hal itu cukup mengusiknya, Sakura sendiri sama sekali tak berminat untuk mengutarakan pertanyaannya. Dia sudah kehabisan tenaga, bahkan untuk sekedar bertanya. Jadi Sakura memutuskan untuk berusaha tidak menghiraukan sosoknya. Mengambil langkah lurus dan berusaha melewati si Hyuga begitu saja.

Meskipun, oh tentu saja, Hyuga itu mencoba menghentikan langkahnya.

"S-sakura-chan." Panggil gadis berambut indigo itu. "Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu..."

Sekali lagi, Sakura terpaksa menarik napas panjang.

"Bisakah kita bicara nanti?" jawab Sakura setelah yakin bahwa nada bicaranya tidak akan bergetar. "Kau dengar boss-ku, aku harus mencari Ino."

"Kutemani kau mencari Ino." Hinata bersikeras. "Ini penting. Tentang Naruto-kun."

Dia tidak tahu harus berapa kali lagi kesabarannya diuji dalam satu putaran bumi, karena, Demi Tuhan, dia sudah benar-benar tak tahan lagi. Kemarin sudah mati-matian dia membunuh segala ingatan terkait dengan Naruto, Hinata, dan kotak perhiasan dalam genggaman mereka. Sekuat tenaga dia menyudahi seluruh tangis, menahan sakit di dalam hati untuk merelakan Naruto bersanding dengan Hinata. Perasaannya remuk redam. Hancur bak dihantam palu godam. Meski begitu, semuanya masih dia coba pendam. Meski pada akhirnya dia tak akan bisa membohongi dirinya. Segala sesuatu yang dia kerjakan selalu berakhir runyam.

Kejadian sehari ini adalah akibatnya. Sakura kehilangan pekerjaanya, hanya karena sakit hati yang tidak mampu dikendalikannya. Sungguh, dia sendiri malu untuk mengakuinya. Tapi ternyata itu pun belum cukup menjadi segala penghukuman baginya. Hinata datang kemari untuk membicarakan tentang Naruto? Yang benar saja. Apakah pemilik semesta benar-benar membencinya?

"Kupikir aku tidak perlu mendengar apapun tentang pernikahan kalian."

"Aku dan Naruto tidak akan menikah." Jawab Hinata tegas. "Aku menolak perjodohan itu."

Sakura mengerjapkan matanya. "Kau menolak─apa?"

"Aku tidak tahu kenapa kemarin Naruto bertingkah seolah ada hubungan khusus di antara kami, Sakura. Kami hanya berteman." ujar sang Hyuga dengan nada final, seakan dia telah mempersiapkan segala kata-katanya dari awal. "Tapi sudahlah, bukan itu yang ingin kubicarakan."

Hinata menghentikan kalimatnya. Sakura menatap gadis di hadapannya yang kini tengah sibuk mengaduk isi tas, mencari sesuatu. Segera setelah menemukan apa yang dia cari, disodorkannya benda itu pada Sakura.

"Aku menemukan obat ini di rumah Naruto." Gadis itu menatap lurus Sakura. "Aku yakin kau pasti tahu itu obat apa. Isinya sudah hampir habis."

Sakura menilik penasaran, sebelum akhirnya menerima botol obat itu. Dahinya kontan berkerut ketika melihat label yang tertempel di sana. Ini bukanlah obat yang dapat diperoleh dan dikonsumsi sembarangan. Tangannya membuka isi botol itu, benar kata Hinata, hanya tersisa 5 pil di dalamnya.

"Bagaimana bisa─" Bagaimana bisa ia mendapatkannya? Mengapa, dan sejak kapan ia mengkonsumsinya? Seluruh pertanyaan itu meluncur di benak Sakura. Namun gadis itu berusaha fokus pada inti permasalahan mereka. Dia tidak ingin mengingat detail pembicaraan mereka kemarin, tapi dia bisa ingat jelas Hinata menyatakan bahwa Naruto sedang sakit. Namun sungguh, dia sama sekali tidak menduga sakit yang seperti ini.

"Hinata, apa yang sebenarnya terjadi padanya?"

Gadis Hyuga itu tak langsung menjawab. Dia menggigiti bibir bawahnya, sebelum kemudian merespon pertanyaan Sakura.

"Aku tidak tahu jelas apa yang terjadi padanya, Sakura." Jawabnya dengan nada lirih, nyaris berbisik. "Tapi satu hal yang ku khawatirkan, ia tampaknya mengalami depresi berat dan… kurasa ia tidak menanganinya dengan sehat."

Sakura Haruno merasa seakan seluruh oksigen dalam lorong rumah sakit itu menipis─udara dalam rongga dadanya seketika habis. Pikirannya masih berusaha mencerna dua kata yang dilontarkan Hinata. Depresi dan Naruto. Keduanya terasa begitu asing untuk ditautkan dalam satu kalimat. Naruto adalah sesuatu yang selalu dikaitkannya dengan hangat, bahagia, dan senyuman. Ia adalah pahlawan. Harapan. Sementara depresi terdengar seperti tempat yang begitu gelap, kejam, dan menyeramkan. Tidak seharusnya seorang pahlawan terperangkap di dalamnya. Tidak Naruto-nya.

Namun kemudian, Sakura teringat semua tentang Ia. Sakura teringat seluruh enigma yang diciptakannya. Dan, celakanya, semua ini justru jadi masuk akal bagi dia.

Naruto yang bercerita tentang betapa sulit jatuh tertidur baginya. Naruto yang menghindarinya. Naruto yang menarik diri dari sekitarnya. Naruto yang begitu destruktif hingga nyaris kehilangan lengannya. Naruto yang impulsif dengan sikap keras kepalanya. Naruto yang defensif kepada siapa saja yang berusaha memahaminya. Naruto yang sudah tidak tahan lagi dengan hidupnya, hingga memutuskan untuk meminum obat penenang untuk sekedar menjalani harinya.

Bagaimana mungkin itu semua luput dari perhatiannya?

"Sakura-chan…?"

Sakura melihat raut muka Hinata kian khawatir. Dia sendiri lantas menyadari bahwa tubuhnya telah terhuyung, bersandar pada tembok di belakangnya. Tubuhnya lemas bukan main. Namun dia mencoba untuk menegakkan kembali postur tubuhnya.

"Ikut denganku." ujar Sakura seraya menggenggam lengan Hinata. "Aku benar-benar harus mencari Ino, tapi ikutlah denganku."

•••

Ino sedang memeriksa catatan medis harian pasiennya, ketika dua sosok familier memasuki ruang jaganya. Dia sama sekali tidak menduga kehadiran Sakura di jam begini, lebih-lebih kehadiran yang ditemani oleh Hinata Hyuga. Hal pertama yang disadari Ino adalah gadis pemilik surai merah jambu itu terlihat pucat pasi. Tangannya menggenggam erat lengan Hinata. Meskipun sepertinya justru Hinata-lah yang menyangga tubuh Sakura hingga dia masih dapat berdiri sekarang.

"Sakura, mungkin sebaiknya kau duduk…" Hinata menyarankan.

Di luar dugaan, Sakura mengangguk patuh. Haruno itu menuju sofa, lantas mendudukkan dirinya di sana.

"Kau baik-baik saja, Sakura?" tanya Ino sembari menghampiri keduanya. Sahabatnya itu tak kunjung menjawab, membuatnya kemudian menatap gadis Hyuga yang balik menatapnya. "Ada apa dengannya?"

"Tsunade-sama baru saja mengeluarkannya dari tim, Ino." jawab Hinata hati-hati. "dan kurasa aku juga… sedikit memperparah keadaan."

"Kau tidak salah apa-apa, Hinata." sanggah Sakura sebelum beralih kepada sahabatnya. "Tsunade membutuhkanmu di laboratorium. Dia minta kau untuk menggantikanku."

"Whoa, tunggu sebentar…" Ino menatap kedua temannya bingung, sementara otaknya sibuk menganalisa situasi. "Jadi ada dua cerita yang berbeda bukan?" Karena, tidak mungkin 'kan Sakura dikeluarkan dari tim gara-gara Hinata? "Jadi kau dikeluarkan dari tim? Kau sakit lagi?"

Sakura menggeleng, "Aku mengacaukan sesuatu. Dia memecatku."

Ino mengerutkan dahinya, tidak biasanya seorang Sakura Haruno bersikap ceroboh seperti itu. Tapi dia tetap bersikeras menuntaskan pertanyaannya dan beralih pada Hinata yang berdiri di sebelahnya. "Baik. Lantas apa maksudmu kau memperparah keadaan?"

Kali ini, Hinata yang tidak langsung menjawab dan menatap Sakura. Kedua gadis itu lantas saling menatap. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Namun Ino benar-benar penasaran dibuatnya. Baru saja dia hendak mendesak salah satu dari mereka untuk berbicara, si merah jambu itu akhirnya buka suara.

"Okay, screw this. Lagipula sepertinya aku juga butuh pendapatmu, Ino." Jawab Sakura setengah menggumam. Mengingat dia sendiri tidak seratus persen bisa berpikir jernih saat ini, adanya second opinion tentu akan sangat membantunya untuk menangani situasi. Dari genggamannya, Sakura mengeluarkan sebotol obat ke hadapan mereka. "Hinata baru saja memberitahuku bahwa Naruto menggunakan obat ini."

Yamanaka itu mengangkat sebelah alisnya, lantas mengambil botol tersebut. Hanya beberapa detik berselang sebelum matanya berubah membulat, lantas merutuk seketika.

'Alprazolam Gunakan seperlunya'.

Dia tidak hanya mengetahui obat tersebut, dia bahkan merasa mengetahui seseorang yang menuliskan label di botol itu.

"Hinata…" sahutnya perlahan. "Apakah mungkin Naruto mendapatkan obat ini dari Shikamaru?"

Hyuga itu memiringkan kepalanya, sebelum kemudian sebuah memori terlintas dalam benaknya. "Bisa jadi…" jawabnya. "Aku… mengambil obat ini tanpa sepengetahuan Naruto, j-jadi jujur aku tidak tahu persis. Namun kemarin dia memang mengatakan sesuatu tentang Shikamaru yang terus menerus menghubunginya."

Sebuah umpatan terlontar dari bibir Ino sebagai jawaban. Sesuatu yang langsung menimbulkan kecurigaan dari Sakura.

"Apa maksud pertanyaanmu, Ino?"

Ino menempelkan kedua bibirnya erat, sebelum akhirnya menjawab.

"Aku yang memberikan obat ini kepada Shikamaru."

"Tapi—kenapa?" Sakura mengerutkan dahinya. "Shikamaru pasienmu?"

"Secara formal, dia bukan pasienku." jawab Ino hati-hati setelah jeda beberapa detik. "Tapi dia meminumnya sesuai anjuran yang kuberikan. Aku… paham dia lelaki yang penuh pertimbangan."

"Tapi kau tahu 'kan betapa mudahnya obat ini disalahgunakan?" Sakura menekankan. "Dan… Shikamaru memberikannya pada orang lain, Ino—pada Naruto!"

Naruto Uzumaki. Yang hampir tidak memiliki sejarah untuk berperilaku dengan penuh hati-hati. Yang memiliki tendensi memutuskan segala sesuatu tanpa konsiderasi.

"Terkadang aku lupa bahwa sejenius apapun laki-laki, mereka tetap kerap bertindak bodoh." sahut Ino sembari tersenyum kering. "Kau benar, Sakura. Tindakanku tidak sepenuhnya etikal. Aku punya andil atas tindakan bodohnya." Gadis bersurai pirang itu menatap Sakura dan Hinata bergantian, sebelum kemudian pandangannya tertunduk ke lantai. "Tapi… bohong kalau kita tidak mengakui bahwa kedamaian hati adalah sesuatu yang mahal harganya..." Ada sebuah cekat menahan kalimatnya. "Terlebih saat ini, setelah perang dan semua hal gila setahun kemarin."

"Terkadang satu-satunya hal yang kita butuhkan setelah kehilangan, hanyalah sedikit ketenangan."

Kalimat Ino menyambar Sakura layaknya petir. Seketika udara disekitar mereka berselimut getir. Perang adalah sesuatu yang begitu menyakitkan untuk dikenang. Oleh karenanya, mereka nyaris tak pernah membicarakannya. Bagaikan aib, duka perang mereka tersimpan rapi hingga nyaris raib. Akibatnya mereka seringkali lupa berbagi, memendam rasa sakit mereka sendiri-sendiri. Mengubur dalam-dalam kenangan kelam, sekalipun masih ada api dalam sekam.

Bagaimanapun, Sakura adalah sedikit dari golongan yang sangat beruntung. Dia tidak pernah membicarakan duka perangnya bukan karena menganggap semua itu tabu, namun karena nyaris tak ada pilu. Orang tuanya luput dari kejamnya peperangan. Begitu pula teman-teman terdekatnya. Dia tidak merasakan penderitaan yang Shikamaru dan Ino rasakan, kehilangan ayah mereka dalam pertarungan. Pun juga tidak merasakan kehilangan saudaranya di depan mata layaknya Hinata. Tentu trauma peperangan itu ada, namun dibanding dengan mereka, Sakura nyaris masih memiliki segalanya.

Dibanding dengan Naruto, Sakura masih memiliki segalanya.

Sakura berusaha menepis benaknya. Beralih kembali pada sahabatnya.

"Baik. Kita harus bicara lagi soal hal ini nanti, oke?" ujar Sakura akhirnya dengan nada pasrah. "Tapi sekarang kau harus benar-benar menemui Tsunade. Dia tadi marah besar padaku. Sebaiknya kita tidak membuatnya menunggu terlalu lama."

"Tentu kita harus bicara…" Ino mengangguk setuju, sembari bibirnya senyum kecil. "Tapi kurasa kau bicara pada Naruto jauh lebih mendesak."

Dalam keadaan normal, Sakura akan menyanggah ucapan Ino dengan merujuk pada fakta bahwa dia dan Naruto saling berbicara kemarin petang. Namun dia tak sanggup membohongi dirinya sendiri. Yang kemarin itu tak lebih dari sekedar luapan kekesalan dan saling serang. Tidak ada proses pembicaraan sedikitpun di dalamnya. Oleh karenanya, Sakura hanya bisa terdiam. Menatap Ino yang bergerak memunguti barangnya untuk bergegas pergi menuju laboratorium.

"Temuilah dia, Sakura. Sudah terlalu lama kalian tidak saling bicara." ujar Ino seakan dapat membaca pikiran Sakura. Yamanaka itu menepuk pundak sahabatnya, berusaha meyakinkan. "Aku yakin Naruto juga pasti ingin bicara padamu."

•••

"Ino benar, Sakura-chan."

Semenit berlalu dalam diam setelah sosok Ino menghilang dibalik pintu. Adalah Hinata yang kemudian pertama kali memecah kesunyian.

"Kau harus bicara dengan Naruto."

Pandangan gadis bersurai merah jambu itu tertunduk. Matanya jatuh ke lantai tanpa fokus. Sakura masih bergumul dengan segala pemikiran yang berkeliaran di benaknya. Separuh hatinya sungguh ingin mempercayai ucapan Ino. Namun mengingat segala interaksi antara dirinya dengan Naruto beberapa waktu terakhir, rasanya dia jadi menyangsikannya.

"Aku tidak tahu apakah Naruto masih mau mendengarkan ucapanku." Sakura menghela napas perlahan. "Kau dengar apa yang Ino katakan, kami tidak saling bicara sekarang. Sekalinya kami berbicara, itu pun akan selalu berujung dengan pertengkaran."

Dan, jujur, kenyataan itu begitu menyakitkan. Ketika setiap kata yang keluar dari mulut mereka berakhir dengan perselisihan. Ketika setiap gestur dari tubuh mereka menandakan perseteruan. Maka akan lebih baik bagi mereka untuk tidak saling bertatapan. Lebih mudah ketika mereka saling berjauhan. Tidak pernah sebelumnya mereka begitu lantang dalam pertengkaran. Tidak pernah ada sejarahnya Naruto dan Sakura saling bersitegang. Tapi di sinilah mereka sekarang. Saling mendiamkan, hanya karena itulah satu-satunya jalan agar mereka tidak saling serang. Saling meninggalkan, sekalipun Sakura tak pernah menginginkan perpisahan.

"Mungkin kau yang harusnya bicara dengannya, Hinata." sahut Sakura perlahan, sembari menengadahkan kepalanya. "Kalian… cukup dekat sekarang. Aku yakin ia lebih mau mendengarkanmu ketimbang diriku."

Jujur Sakura tak sanggup lagi memikirkan segalanya. Dia tidak suka membayangkan Naruto terbelenggu sendirian dalam kubangan kesedihan. Dia tidak ingin Naruto berlarut-larut dalam kesepian. Dan, jika memang Hinata dapat menemaninya—jika memang Hinata dapat menyembuhkan luka hatinya—maka Sakura akan berusaha menerimanya. Sesakit apapun kenyataan itu baginya.

"Aku yakin kau pasti bisa membahagiakannya."

Sakura menghentikan kalimatnya di sana. Dia tak mampu lagi berbicara, karena tangis siap menyergapnya kapan saja. Sementara sang Hyuga terdiam, menatap Sakura lekat-lekat. Gadis bersurai indigo itu menangkap jelas gurat-gurat kesedihan di wajah Sakura, hingga kemudian dia jadi dapat memahami apa yang sebenarnya terjadi di antara Naruto dan Sakura.

"Kau salah paham, Sakura." Hinata menggeleng singkat. "Aku yang sekarang mungkin dekat dengan Naruto. Tapi… bukan aku yang ia butuhkan."

Sakura mengangkat wajahnya. Mata hijaunya menatap mata pualam milik Hinata. Menanti kalimat selanjutnya yang akan keluar dari sang Hyuga.

"Malam ketika Naruto mengunjungiku, ia tampak panik dan berantakan. Ia meminta bantuanku untuk melepaskan diri dari mimpi buruknya." Gadis Hyuga itu memulai kalimatnya, sembari menarik-narik ujung jaketnya. "Tapi aku melakukan kesalahan. Aku memberikannya aplrazolam, dan ia akhirnya dapat tertidur malam itu. Meski kemudian hal itu mengawali obsesi buruknya terhadap obat itu…"

"Itu adalah kesalahanku. Namun, paling tidak, kesalahan itu menyadarkanku satu hal…" Sahut Hinata sembari menatap Sakura. "Bahwa kaulah satu-satunya yang dibutuhkan Naruto."

"Bahkan dalam tidurnya, dia mencarimu. Meracaukan namamu. Menginginkan kehadiranmu." Hinata melanjutkan tanpa menunggu respon lawan bicaranya. "Saat itu aku tersadar, kaulah yang ia butuhkan untuk bangkit kembali." Lantas sang Hyuga melempar senyum kecil pada Sakura. "Dan sekarang, melihatmu di sini, sekali lagi aku tersadar. Bahwa mungkin kau juga sama membutuhkannya."

Gadis bersurai merah jambu itu tercengang mendengar ucapan Hinata. Mata hijaunya membulat setengah tak percaya. Sementara debar jantung dalam dada kian keras terasa. Sakura kehilangan kata-kata. Tidak pernah terlintas dalam benaknya sebelumnya bahwa Naruto juga membutuhkan dia. Bahwa mungkin bukan hanya dia yang merasakan begitu berat sebuah perpisahan. Bahwa mungkin bukan hanya dia yang merindukan pertemuan.

Bahwa mungkin masih ada harapan bagi mereka untuk menautkan perasaan, hanya jika Sakura mau mengambil sebuah lompatan keyakinan.

Sakura masih tenggelam dalam pikirannya, ketika Hinata menggenggam tangannya.

"Kau pasti yang paling tahu soal perasaanmu, Sakura." ujar gadis Hyuga itu perlahan. "Tapi jika kau memang benar merasakannya… bicaralah pada Naruto. Bantulah ia kembali menjadi dirinya."

Sakura Haruno menatap Hinata sesaat lebih lama, sebelum kemudian mengangguk penuh keyakinan.

"Aku akan bicara pada Naruto."

•••

"Kau terlalu lama begini, kawan..."

Shikamaru menghujani temannya dengan tatapan prihatin, sementara yang menjadi objek penglihatannya justru tak tampak mengindahkan perkataan barusan. Pemuda Uzumaki itu terus berkonsentrasi pada balok kayu yang kini menjadi sasarannya berlatih taijutsu. Si Nara itu kemudian geleng-geleng kepala, gerah melihat tingkah pemuda di hadapannya.

"Tidak juga, aku baru satu jam berlatih di sini..."

Helaan napas kesal terdengar sebelum Shikamaru membalas sahabatnya.

"Kau tahu bukan itu yang ku bicarakan."

"Lalu apa yang sedang kita bicarakan?" respon si pemuda jingga itu tanpa beralih dari sasaran tinjunya. Bahkan jika memang tangan kanannya mulai terasa kelu, hal itu sama sekali tak ingin dihiraukannya. "Lagipula, untuk apa kau kemari? Sudah jelas kau tidak mau memberikanku obat itu."

"Sudah kubilang, obat itu akan mengacaukanmu."

"Kau yang memberikan obat itu padaku, Shikamaru."

"Karena kupikir kau paham konsep recreational drugs!" Pemuda Nara itu tampak jengkel pada sahabatnya. "Kupikir kau paham bagaimana mengonsumsi hal semacam itu tanpa menyalahgunakannya." Meski di detik selanjutnya, ia berhasil menata kembali emosinya lantas menurunkan nada bicaranya. "Kita semua punya masalah yang ingin kita lupakan, Naruto. Aku paham. Apalagi setelah semua yang terjadi setahun kemarin. Tapi sepertinya masalahmu lebih besar dari yang kubayangkan."

Naruto berusaha tetap fokus pada balok kayunya, sekalipun kata-kata Shikamaru terngiang dalam pikirannya. JabRight StraightLeft HookRight Kick. Ia mengulang-ulang gerakan itu seperti sebuah mantra. Ia benar-benar tidak ingin memikirkan apapun selain latihannya.

"Dengar," Jab. "Jika kau memang tidak ingin memberikan obat itu padaku," Right straight. "maka pergilah dari sini." Left hook. "Aku tidak butuh orang lain untuk menceramahiku. Itu bukan pekerjaanmu."

Itu lebih terdengar seperti hal yang akan dilakukan Sakura. Namun dalam hubungan mereka yang sekarang ini, ia ragu apakah gadis itu masih mau turut campur dalam hal apapun terkait dengan hidupnya.

Right kick.

"Aku peduli padamu, Naruto. Itulah kenapa aku di sini." Pemuda Nara itu masih berusaha bersikap tenang. "Aku tahu kau sedang menghindariku. Kau menghindari semua teman-temanmu. Jangan kau sangkal itu."

JabRight StraightLeft HookRight Kick.

"Aku sibuk." jawab Naruto singkat.

"Sibuk melakukan apa, tepatnya? Berlagak seolah memukuli balok kayu itu bisa membuat hidupmu lebih tenang?" Shikamaru jelas sedang memancing amarah Naruto. "Berpura-pura bahwa dengan memukulinya, kau bisa menghancurkan semua masalahmu?"

Brakk! Balok kayu itu akhirnya terbelah dua, Naruto menghela potongan-potongan nafasnya yang terlihat begitu berat. Mau tidak mau, mata safir itu akhirnya teralih juga pada sosok sahabatnya yang berdiri tidak begitu jauh darinya.

"Bagaimana caraku untuk mengatasi permasalahanku, sama sekali tidak ada hubungannya denganmu, Shikamaru." ujar Naruto tegas. "Jadi berhentilah mengomentari hidupku."

"Jika aku boleh menyela," Sebuah suara menginterupsi pembicaraan keduanya. Tubuh Naruto menegang seketika. "Shikamaru ada benarnya."

Suara itu kemudian diikuti oleh sebuah lompatan yang menampakkan sosok pemiliknya. Meskipun begitu, Naruto tidak perlu membalikkan badan untuk mengetahui siapa tamu mereka. Ia mengenali pemilik suara itu dengan sangat baik. Sangat mengenalinya, hingga ia tahu bahwa ia tidak menginginkan kehadirannya.

"Lama tak jumpa, Shikamaru."

Shikamaru mengangguk singkat kepada sang pemilik suara. "Sasuke."

Naruto menarik napas sebelum membalikkan badannya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Naruto dingin tanpa ada minat untuk berbasa-basi.

Pemuda Uchiha itu mengangkat sebelah alisnya. Sebuah reaksi yang tipikal. "Terakhir kali ku cek, tempat ini bukanlah tempat latihan khusus sang pahlawan, eh?" ujar Sasuke dengan nada menghardik. "Lagipula, seperti yang kubilang barusan, Shikamaru ada benarnya. Balok kayu itu tidak sepadan untuk jadi lawan latihan pahlawan sepertimu."

Rahang milik Naruto seketika mengeras, begitu pula dengan kepalan tangannya. Apakah Uchiha ini benar-benar serius datang kemari hanya untuk menghinanya?

"Apa maksudmu sebenarnya?"

"Aku kemari untuk menawarkan opsi lain bagimu." Pemuda Uchiha itu menatap lurus sahabatnya dengan mata merah menyala khas klan mereka. "Jika kau mau lawan yang sepadan, aku bisa jadi lawan latihanmu."

Naruto dapat merasakan sesuatu dalam dirinya bergejolak. Sesuatu yang tidak dikenalinya, sekalipun hal itu begitu mirip dengan kemarahan. Kepalanya seakaan berputar, rasanya seperti seluruh tubuhnya terbakar. Sebagian dari dirinya ingin menerima tawaran itu, hanya untuk melepaskan segala ketegangan di antara mereka berdua. Hanya untuk mendapatkan jawaban, dari pertanyaan yang bahkan tidak pernah ingin ia tanyakan. Namun ia tahu benar, ada alasan mengapa pertanyaan itu tidak pernah dilontarkan. Oleh karenanya, ia tidak pernah membutuhkan jawaban.

"Kelihatannya kau tidak suka tawaranku." sahut Sasuke deduktif, bahkan sebelum Naruto dapat merespon tawarannya. Naruto benar-benar tidak menyukai mata milik klan Uchiha itu.

"Aku tidak ingin bertarung denganmu." jawab Naruto singkat.

"Oh?" Sekali lagi, mata merah darah itu menatap Naruto tajam. "Kau sadar 'kan yang kutawarkan adalah latihan, dan bukan pertarungan?"

Uzumaki itu sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menarik rambutnya. Sasuke jelas merencanakan sesuatu di sini. Dan Naruto selalu benci pada kenyataan bahwa sahabatnya itu bisa menutupi segala rencananya dengan rapi, jika ia mau. Namun satu hal yang ia tahu pasti, perkelahian (atau latihan, sebagaimana Sasuke menegaskan) fisik di antara mereka adalah ide yang buruk. Ia tahu bahwa perkelahiannya dengan Sasuke tidak akan berakhir baik. Mungkin ia tidak akan mampu untuk mengendalikan dirinya sendiri. Dan, sungguh, kehilangan kendali adalah hal terakhir yang di inginkannya di depan orang lain.

"Aku tidak tahu permainan apa yang sedang kau lakukan, Sasuke." Harus diakui, Naruto sendiri sedikit terkejut suaranya masih bisa terdengar tenang. "Tapi jelas, apapun itu, aku tidak ingin terlibat. Tidak layak atas waktuku."

Tidak ada jawaban segera dari sahabatnya. Jadi Naruto putuskan untuk berbalik badan, siap untuk melangkah pergi. Sebelum kemudian si Uchiha itu membalas kalimatnya.

"Pikirmu mencampakkan Sakura begitu saja layak untuk dilakukan?"

Persetan dengan kehilangan kendali.

Dalam satu gerakan singkat Naruto mendorong tubuh Sasuke hingga terpelanting ke salah satu pohon. Tangannya berakhir menarik kerah baju Sasuke, menajamkan pandangan pada lawan bicaranya.

"Jangan bicara soal mencampakkannya kalau kau sendiri melakukan hal yang sama selama bertahun-tahun!"

"Whoa, whoa, hei!" Shikamaru dengan segera menengahi keduanya. "Tenang!" tangan pemuda Nara itu menahan Naruto, lantas berbicara padanya. "Kau tidak mau melakukan hal ini, Naruto. Kau yang bilang sendiri tadi, tidak layak atas waktumu."

Emosi berkecamuk dalam diri Naruto. Napasnya terasa berat dengan suar kemarahan. Ia tidak tahu harus bersyukur atau tidak pada kenyataan bahwa ada Shikamaru di sini bersama mereka. Tetapi setidaknya, kehadiran temannya itu membantu ia untuk tidak termakan apapun yang direncanakan Sasuke sesungguhnya. Jadi Naruto melepaskan Sasuke. Beringsut, lantas menjauh dari jangkauan kedua temannya itu tanpa kata.

"Setidaknya aku melakukan hal itu karena aku tahu apa yang ingin kulakukan." Sasuke kembali berdiri, merapikan pakaiannya. Sekali lagi, ia memancing perhatian Naruto. "Bukan karena aku seorang pecundang dan meninggalkannya begitu saja untuk gadis lainnya."

"Bagaimana jika kau berhenti memancingnya, Sasuke?" tukas Shikamaru.

Naruto sedikit menghela napas lega mendengar ucapan Shikamaru. Menyenangkan mendengar seseorang mendukungnya, bahkan untuk satu kali ini saja. Namun bagaimanapun, Naruto tidak berencana untuk jatuh dalam perangkap Sasuke lagi. Setidaknya tidak sekarang. Ketika ia sendiri mengerti bahwa dirinya adalah seorang pecundang. Seorang yang hanya mampu berjalan menjauhi semua temannya, menjauhi semua masalahnya, dan menjauh dari gadis yang dicintainya. Hanya karena ketakutannya bahwa ia akan, lagi-lagi, menghancurkan segalanya. Bagaimanapun, itu adalah warisannya. Terlahir dengan monster di dalam tubuhnya. Terdampar sendirian dengan semua kehancuran. Oleh karenanya ia memilih untuk bersembunyi bersama liquor dan barang lain, yang ia sendiri yakin, akan membuat ibunya benar-benar kecewa.

Jadi dia terus melangkah pergi. Meninggalkan mereka lagi, karena itu adalah satu-satunya hal yang ia lakukan sepanjang tahun ini. Namun tidak sebelum ia menyampaikan sesuatu pada sahabatnya.

"Aku meninggalkan Sakura karena aku tahu itu adalah yang terbaik untuknya."

Naruto meninggalkan Sakura, bukan berarti ia berhenti menginginkannya.

.

TBC


Author's Note:

Weits, mon maap nih, udah ganti tahun 2x masih belum selesai aja nih cerita, wkwk. Mana juga belom ada rencana di manis-manisin ye, masih pahit aja ceritanya. Lol. But afterall! Greetings! Finally, another chapter is added. Meaning that the next one will be the last and final chapter (even though I'm still considering whether I shall split the next chapter in two or not since there will be an epilogue)! So, pat on my back, pretty please? :D Pat in the back~ Just another chapter until the fluttering happy ending will eventually come. Anyway, thank you for all of your reviews. From the last chapter, I received many wonderful reviews from many new (and old) reader that made my day every time! So thank you so much for becoming my constant reminder that I, eventually need to work on this story despite my crazy work-college schedule. Hope that this update will be made your day as well. I got to admit that this chapter was not much, apalagi dibanding chapter-chapter lainnya, bok. Cuma 3000-an kata aja. But at least it is progressing as I want. I still indeed in love with my Sasuke, so I enjoyed writing his scene so much. And I hope you guys enjoyed it too! Also a heads up, this chapter pretty much raw isn't reviewed by me. Since I just uploaded as it is. There may be some errors / mistype, I'm sorry in advance for that. I may or may not edit this chapter later, but until then, enjoy!

Review is always cherished, and contribute to the Author's willingness to work faster! Xx.

v

v

v