Succubus X Vampire
.
.
Chapter 07
Remember me
.
.
Ino melangkahkan kakinya menuju meja paling ujung. Di sana telah menunggu manusia yang menurutnya misterius. Pria itu masih menatap ke luar jendela tampak tenggelam dalam lamunannya dan tidak menyadari Ino telah datang.
Sabaku no Gaara, sebuah nama dan wajah yang asing baginya tapi di saat bersamaan segala hal tentang pria itu terasa begitu familier seolah Ino pernah mengenalnya. Iblis tak pernah peduli pada manusia karena bagi kaum Iblis manusia hanya sekedar objek permainan semata. Jadi aneh bila dia merasa kenal dengan manusia dan semakin aneh lagi ketika kekuatannya tak ampuh untuk mempengaruhi pria itu.
"Hai Apa yang kau lamunkan Gaara?"
Pria itu sedikit kaget dan menoleh mendengar namanya disebut.
Ino tak menyembunyikan senyumnya. Bila pria itu makhluk supranatural tak mungkin dia akan terkejut begitu "Maaf aku tak bermaksud mengejutkanmu"
"Tadi aku sedang melamunkan dirimu" Gaara membalas senyum Ino. Wanita yang berdiri di depannya seratus persen sama dengan wanita yang meninggalkannya tiga puluh dua tahun yang lalu. Dia masih memiliki mata aqua-marine yang dalam dan menghipnotis, tubuh sempurna yang selalu terlihat Indah serta senyum memikat yang membuat banyak pria bertekuk lutut.
Dia memang selalu memikirkan Ino. semenjak mengetahui Succubus itu berada di dunia manusia. Pikiran Gaara tak pernah bisa jauh-jauh darinya. Ia ingin tahu mengapa Ino melakukan ini padanya setelah dia rela mengorbankan segalanya untuk bisa bersama sang Succubus.
Ino meletakkan tas Birkin-nya di meja dan duduk menghadap pria berwajah rupawan itu. Berbeda dengan Vampir yang secara natural memancarkan aura elegan. Sabaku Gaara terlihat keras, demonic dan mengancam tapi juga menawan. Mengingatkan Ino dengan kaumnya sendiri.
"Mengapa kau melamunkanku?"
"Karena aku menyukaimu" jawab Gaara terus terang.
"Benarkah? Kita hanya bercakap-cakap kurang dari lima menit"
"Hanya butuh satu senyuman darimu untuk membuatku terpesona Ino" Pria itu mencoba menggombal.
"Ayolah, kau membuatku malu Gaara"
Percakapan mereka terhenti sebentar karena seorang waitress muncul membawakan daftar menu.
"Pilihlah makanan yang kau suka Ino, kalau kau suka sea food, mereka punya ikan panggang yang enak dan segar"
"Aku rasa aku hanya akan memesan salad"
Setelah sang pelayan mencatat pesanan mereka dan pergi, Gaara memasang wajah serius "Ino apa kau percaya dengan hal-hal supranatural?"
"Mengapa kau bertanya tentang itu padaku? Aku tak percaya. Aku hanya cenderung percaya logika"
"Benarkah, Bila aku menunjukkan sesuatu yang tak logis apa kau akan percaya?"
"Mungkin" Ino bingung ke mana arah pembicaraan ini. Apa pria itu penyihir juga? Benaknya menduga-duga.
Waitress tiba di meja mereka membawa nampan berisi gelas. Gaara menatap mata gadis muda itu. Tiba-tiba saja gadis itu berhenti bergerak dan matanya menjadi kosong.
"Jatuhkan gelas-gelas itu dari nampan"
Ino bingung mengapa Gaara menyuruh waitress itu menjatuhkan gelasnya. Pastinya gadis itu akan bertanya tapi betapa mengejutkan tanpa terlihat keberatan sang waitress menjatuhkan gelas-gelas itu ke lantai membuat seluruh pengunjung menatap ke meja mereka.
Gaara melepaskan tatapannya pada gadis muda itu. Seketika dia tampak bingung dan linglung.
"Oh, apa yang aku lakukan. Maafkan saya. Apa saya menjatuhkan gelasnya. Mohon maaf gadis itu membungkuk dalam-dalam"
"Tak apa-apa, bawakan kami minuman yang baru" Jawab Gaara santai.
Ino langsung shock, kekuatan itu hanya Iblis dan vampir level tinggi yang menguasai mind control.
"Siapa kau?" Mata Ino menyipit menatap Gaara dengan curiga.
"Aku hanya manusia"
"Manusia tak bisa mengendalikan pikiran orang lain meskipun dibantu oleh iblis" Lanjut Ino.
"Aku tak tahu apa aku dikutuk atau diberkati tapi aku lahir dengan kekuatan yang aneh. Aku bisa membaca aura dan juga melihat makhluk-makhluk yang tak bisa dilihat manusia biasa misalnya Iblis"
Mendengar Gaara menekankan intonasinya pada kata Iblis Ino jadi tambah waspada "Mengapa kau mendekatiku?" Apa mungkin dia Iblis pesuruh Deidara tapi Iblis tak akan pernah bisa meniru aura manusia.
" Aku tertarik padamu karena kau tak punya aura. Aku menduga kau seseorang yang spesial seperti diriku. Jadi aku putuskan mencari tahu"
"Dugaanmu salah. Aku hanya manusia biasa yang tak punya kekuatan apa pun"
"Bohong. Kau mencoba merasuki pikiranku waktu kau mendatangiku di club. Sayang sekali pikiranku tak bisa ditembus"
"Dengar, Aku bukan manusia"
Pria itu mengerutkan dahinya, "Jadi kalau bukan manusia lalu kau apa? Kau tahu, Aku hanya ingin bertemu seseorang yang tak takut dengan kekuatan ini dan memahami diriku. Aku kira kau adalah orangnya karena kau memiliki kemampuan sepertiku. Selama ini aku kesepian karena mereka menganggapku mengerikan. Semua orang di dekatku ingin aku mati" Gaara berusaha mendapatkan simpati Ino. Bila Ino belum berubah wanita itu akan memedulikannya. Dia terlalu baik untuk menjadi seorang Iblis karena itu banyak yang tak suka pada kepemimpinan Ino.
"Aku Iblis yang berusaha mengekstraksi energi kehidupanmu" Ino merasa Iba pada pria itu. Gaara benar-benar mengingatkannya pada mantan kekasihnya. Ia selalu dijauhi dan ditakuti. Mereka juga punya kisah yang sama.
"Benarkah? Ini kali pertama aku berinteraksi dengan Iblis. Kau jauh dari kesan iblis yang kudengar selama ini. Mereka selalu bilang aku adalah jelmaan Iblis"
"Mengapa? Apa karena kau menakutkan?"
"Tentunya"
"Kebanyakan Iblis memang seperti itu"
"Dan kau tidak?"
"Aku hanya kejam ketika aku perlu. Gaara apa kau pernah mencari tahu asal usul kekuatanmu?"
Pria itu menggeleng "Kekuatan itu muncul begitu saja. Ketika aku berusia tiga tahun orang tuaku ketakutan karena aku begitu destruktif. Mengapa aku bisa memiliki kekuatan seperti kaum Iblis? Apa mungkin Iblis terlahir menjadi manusia?"
"Tidak mungkin. Iblis tak bereinkarnasi. Manusia bisa memakai kekuatan Iblis hanya bila melakukan kontrak dengan Iblis"
"Jadi tak ada penjelasan tentang kekuatanku?" Gaara berpura-pura bingung.
"Kecuali seseorang menyegel iblis dalam tubuh manusia. Manusia itu menjadi separuh Iblis. Ini hal yang paling keji yang bisa Iblis lakukan pada Iblis lainnya. Karena dia tak akan pernah lagi bisa menjadi Iblis sempurna. Bagi para Iblis lebih baik lenyap dari pada harus menjadi manusia yang mereka anggap rendah"
Mendengarkan penjelasannya sendiri Ino langsung teringat sesuatu yang lain "Berapa usiamu Gaara?"
"Tiga puluh dua, Mengapa kau tiba-tiba bertanya?"
Ino mencoba mengingat apa ada Iblis yang disegel tiga puluh dua tahun yang lalu. Ino menemukan sebuah kebetulan pria itu lahir di tahun yang sama dengan tahun lenyapnya mantan kekasihnya. Ino mendengar kisah pria itu tidak dibunuh tapi di segel suatu tempat tapi tak tahu di mana. Seketika Wajah wanita itu memucat 'Mungkinkah?'. Ayah pria itu pasti lebih memilih menyegel putranya sebagai manusia dari pada membunuhnya dengan begitu Pazuzu tak akan menjadi ancaman seperti ramalan karena dia melemah dan tak akan bisa kembali ke dunia Iblis.
Gaara menyembunyikan senyumnya. Sepertinya Ino sudah punya ide siapa dirinya tapi dia akan tetap berpura-pura tak punya ingatan. Ino telah menghilang dari dunia Iblis ketika dia kembali untuk membuka segelnya. Jadi tak mungkin dia tahu bila sebagian besar kekuatan dan ingatannya telah kembali.
"Gaara, Apa benar kau tidak mengenalku sama sekaIi" Desak wanita itu.
"Tidak, tapi aku merasa pernah mengenalmu sebelumnya"
"Ternyata memang dirimu kau...Kau di dunia manusia" Ino masih tak percaya dengan semua kebetulan ini
Pria itu memasang wajah bingung " Maksudmu? Apa menurutmu aku Iblis?"
"Pasti. Sebelum kau menjadi manusia" jawabnya singkat
"Dan apakah dulu kau mengenalku Ino. Kau bicara seolah-olah kau tahu siapa aku"
Tentu Gaara adalah kekasihnya selama lima puluh tahun. Ino memandang wajah itu lekat-lekat. Tak tersisa sedikit pun sosok Iblis yang dia kenal. Kekasihnya memiliki mata biru kobalt yang begitu dingin kontras dengan warna kulitnya yang kecokelatan dan rambut sewarna mahoni. Tentunya sungguh berbeda dengan pria bermata hijau toska dan rambut merah marun yang duduk di depannya tapi mereka adalah orang yang sama. Inikah yang telah dia lakukan. Membuat Iblis yang luar biasa kuat menjadi manusia, makhluk yang begitu rentan mati.
"Maafkan aku Gaara, Aku rasa lebih baik kau tak tahu. Lagi pula itu tak akan memengaruhi hidupmu" Wanita itu berdiri, mengambil tasnya dan pergi tanpa menyentuh makanan yang mereka pesan. Apa ini sebuah kebetulan yang kejam atau takdir mempertemukan mereka lagi. Meski dalam sosok dan dunia yang berbeda. Pria itu masih tertarik padanya. Wanita yang dulu meninggalkannya.
Ino berlari keluar menahan tangisnya. Dia tak bisa menghadapi Gaara sekarang. Sungguh dia merasa sangat bersalah tanpa sadar dia membuat pria itu menanggung hukuman seperti ini karena ingin menyelamatkan dirinya sendiri.
Dia sangat egois. Apa yang bisa dia ceritakan pada Gaara? Bila dia telah memanfaatkan pria itu untuk mengamankan posisinya. Bila dia telah mengorbankan hubungan mereka untuk menjaga martabatnya. Bila dia telah membuang cintanya untuk kesia-siaan.
Gaara tidak mengejar Ino, Sekarang dia yakin Ino masih mengingatnya. Wanita itu merasa bersalah dan dia akan menggunakan rasa bersalahnya untuk balas dendam. Ino membuatnya terluka dan bila rencananya berhasil dia akan membuat Ino menderita.
.
.
Sai duduk di cafe yang terletak di seberang restoran tempat kencan Ino. Dengan santai dia menyesap kopinya. Sambil mengamati orang-orang yang lalu lalang. Dia sengaja ke sana hanya untuk mengawasi sang Succubus . Tidak mungkin dia membiarkan Ino berkeliaran sendirian apalagi menemui pria yang mencurigakan.
Sang vampir melihat Ino berlari keluar. 'apa yang terjadi?' pikirnya. Tanpa berpikir panjang Sai langsung mengejar Ino.
Ino masuk dalam mobilnya menundukkan kepalanya pada kemudi. Air mata mengenang di pipinya. Bukankah dia begitu kejam mengirimkan pria yang mencintai dan membelanya menjalani hukuman sebagai mortal dan kehilangan segalanya. tapi pilihan apa yang dia punya. Bila dia membela Pazuzu. Kaumnya kehilangan kepercayaan padanya dan mereka berdua akan sama-sama diserang dan ketika ia berpikir dengan mengorbankan kekasihnya ia bisa menyelamatkan martabatnya dia salah. Deidara kembali melakukan pemberontakan dan merampas segalanya darinya. Ino mencengkeram kemudinya dengan keras 'Ini semua karena Deidara dan intrik busuknya' putus wanita itu.
"tok..tok..tok" seseorang mengetuk kaca mobilnya.
Ino menurunkan kaca mobil dan melihat wajah teman serumahnya
"Sai, mengapa kau di sini?" Ino tak ingin terlihat lemah di depan Vampir ini tapi terlambat ia tak sempat menghapus air matanya
"Mengawasimu. Apa yang terjadi? Mengapa kau menangis?" Ia mengambil saputangan dari sakunya. Mengusap air mata yang membasahi pipi Ino.
"Sabaku Gaara. Pria itu Iblis"
"Iblis? Suruhan Kakakmu?"
Ino menggeleng "Lebih dari itu. Dia mantan kekasihku"
Kalimat itu membuat Sai terasa disambar petir. Succubus itu dulu punya kekasih dan sekarang mantannya muncul disini dan menaruh perhatian padanya. Dia tak paham apa yang terjadi tapi ini berita buruk untuknya "Mau menceritakannya padaku?"
"Sebaiknya kita pulang" ajak Ino.
"Aku saja yang menyetir"
Ino mengangguk. Wanita itu bergeser ke kursi sebelah. Sai membuka pintu dan duduk di belakang kemudi. Dia menyalakan mesin dan berkendara menuju apartemen mereka.
"Jadi kau bilang dia mantan kekasihmu tapi kau tak mengenalinya"
"Itu karena jiwanya disegel dalam tubuh manusia dan punya wajah yang berbeda. Dia juga tak punya ingatan tentang hidupnya sebagai iblis"
"tapi dia punya kekuatan Iblis?"
"iya, tapi aku tak tahu seberapa besar. Gaara mampu mengontrol pikiran manusia"
"Jadi dia lawan atau kawan?"
Wanita pirang itu menatap lurus ke jalan "Bila dia ingat apa yang telah aku lakukan mungkin dia akan membenciku"
"Apa yang telah kau lakukan padanya?"
"Menurutmu apa aku wanita kejam Sai?"
"Bagiku kau kejam. Kau tahu dengan jelas aku menyukaimu tapi kau hanya diam saja. Seolah-olah apa yang terjadi di penjara itu tidak ada. Kau terus menerus mengabaikanku. Menganggap aku tak ada padahal kita berdua tahu ketertarikan di antara kita bersifat mutual"
"Sai aku tak ingin kau terluka. Tolong pahami saat ini aku tak ingin memikirkan apa pun selain membunuh Deidara"
"Apa kau pernah mencintainya?"
"Gaara? Aku tak pernah yakin apa yang aku rasakan padanya. Aku merasa nyaman bersamanya walau kadang dia bisa jadi sangat keterlaluan. Dia bersumpah untuk melindungiku dan benar-benar melakukannya. Kau lihat Sai karena dia mencintaiku kini dia menjadi mortal itu semua salahku. Tidak akan ada hal baik yang datang dari mencintaiku"
"Biarkan aku yang memutuskan apa yang aku lakukan dengan perasaanku sendiri Ino"
"Aku tak bisa membalas perasaanmu untuk saat ini Sai. Maaf"
Pria berambut hitam itu menghela nafas. Dia tidak mendesak dan bertanya kepada Ino lagi. Wanita itu benar, di saat genting begini tidak ada ruang untuk memikirkan perasaan dan emosi. Semua bisa saja hancur begitu Iblis menyerang. Sai tak bisa memiliki Ino tapi mereka bisa menjadi rekan untuk mengalahkan para Iblis.
"Lalu apa yang akan kau lakukan pada pria itu?"
"Entahlah, jalan terbaik aku harus jujur padanya. Dia berhak tahu apa yang terjadi. entah dia nanti berdiri sebagai lawan atau kawan. Mau terlibat dalam pertempuran ini atau tidak itu nanti akan menjadi keputusannya. Dia adalah mortal dan tak terikat dengan apa pun yang terjadi saat ini di dunia Iblis"
"Kurasa itu keputusan yang bijaksana"
.
.
"Siapa kau?" Mata perak Kakashi menatap sosok asing yang muncul entah dari mana dengan waspada. Tak pernah ada yang bisa menerobos teretoris kaum ware-wolf sebelumnya dan makhluk ini melakukannya dengan mudah.
"Seharusnya kalian makhluk bar-bar berkaki empat berterima kasih padaku"
Kiba dan Naruto, Anggota termuda dalam kelompok itu langsung menggeram marah dengan hinaan yang dilontarkan si penyusup tapi sang alpha mengisyaratkan untuk menunggu.
"Mengapa kami harus melakukannya?"
Deidara mendarat dengan santai di tanah "Aku datang untuk menawarkan bantuan untuk melenyapkan Vampir"
"Kami tak butuh bantuanmu. Kami bisa memenangkan pertarungan kami sendiri" jawab Naruto kesal.
"Tidak kali ini. Para Vampir itu menyekap adikku dan memanfaatkan kekuatan Iblis yang dia jaga untuk memperkuat kaumnya dan aku ingin membebaskan adikku dari mereka. Bukankah ini persekutuan yang bagus"
"Mengapa aku harus mempercayai Iblis?"
"Terserah kau mau percaya atau tidak. Mengapa kaum Vampir tidak menyerang kalian dan diam saja selama dua abad terakhir?"
"Itu karena Itachi dan Aku menghormati perjanjian kami"
"Apa yang kalian para Serigala tahu? Kalian mengisolasi diri kalian di tengah-tengah pegunungan tanpa mengetahui apa yang terjadi di luar sana. Para vampir sibuk berencana menaklukkan dunia. Sebentar lagi kalian akan jadi budak mereka"
Kakashi tak termakan omongan Deidara. Dia dan Itachi telah bertarung berabad-abad menentukan kaum mana yang terkuat. Rivalnya selalu memegang kata-katanya. Tak mungkin Itachi merusak perjanjian mereka. "Kau tak mendapatkan bantuan kami Iblis. Kalau urusanmu sudah selesai enyahlah dari sini sebelum kami memaksamu"
"Baiklah-baiklah, Aku pergi tapi camkan kata-kataku. Para Vampir sedang merencanakan sesuatu" Iblis itu membuka portal dan menghilang.
Naruto, Kiba, Asuma dan Kurenai menatap pemimpinnya
"Apa yang harus kita lakukan sekarang Lord?" Asuma menunggu perintah.
"Jangan sampai cerita ini terdengar yang lainnya. Kalian tahu betapa sensitifnya perihal kaum vampir untuk bangsa kita"
"Kita serang saja Vampir itu. Kita tak bisa diam begitu saja. Aku juga sudah gatal ingin bertarung"
"Kiba, jangan gegabah. Saat ini yang kita butuhkah adalah mencari informasi tentang kebenaran berita yang dibawa Iblis tadi. Jangan sampai kita di adu domba"
"Lalu apa yang harus kami lakukan?"
"Naruto, Kiba. Kalian pergilah ke kota membaur dengan manusia. Cari semua informasi tentang Iblis dan vampir dan aku ingatkan jangan mencari masalah"
"Baik" keduanya mengangguk patuh. Naruto dan Kiba berlari keluar dari area pegunungan.
"Apa kau yakin mereka akan mengerjakan tugasnya dengan baik? Naruto dan Kiba bukan ware-wolf yang cerdas"
Sang Lord hanya tersenyum dia sudah tahu Kiba dan Naruto pasti membuat masalah tapi para serigala muda itu butuh pengalaman. "Tak apa-apa Kurenai. Biarkan saja anak muda itu mencari pengalaman. Kedatangan Iblis kali ini membuatku khawatir. Apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini"
"Kita hanya bisa menunggu hingga anak-anak itu kembali" jawab Asuma.
.
.
Sakura dan Ino tengah berlatih di arena tanding mansion Uchiha. Sasuke berdiri di pinggir menatap wanita berambut pink itu memanipulasi sihir apinya. Dia berhasil menciptakan lidah api besar yang nyaris membakar Ino bila Succubus itu tak menghindar tepat waktu.
"Sasuke, Mendengar sesuatu dari dunia Iblis?" Sai berdiri di samping pria itu
"Tidak ada berita selama satu minggu ini. Aku khawatir informanku telah terbunuh"
"Kau pikir Iblis sudah tahu Ino dalam perlindungan kita?"
"Entahlah, Aku tak tahu apa manfaat yang kita dapat dengan melindungi Succubus itu"
"Dia satu-satunya yang bisa mengembalikan kestabilan dunia"
"Hanya bila dia menjadi kuat. Dia tak akan berguna bila dia lemah. Aku tak paham mengapa Itachi menaruh harapan padanya dan mengapa pula kau begitu ingin melindunginya? Apa kau jadi terlanjur menyukainya?"
"Apa yang kau tahu tentang menyukai seseorang, Sasuke ?"
"Itu perasaan yang hanya akan membuat hidupmu menderita. Percayalah padaku" Mata hitamnya tak lepas dari Sakura. Memerhatikan setiap gerakan yang dibuat penyihir itu.
Sai tersenyum miris "dan kau menatap Sakura seperti itu"
"Aku tak tertarik padanya" adik sang lord itu berputar meninggalkan arena latihan. Membiarkan Sai mengamati kedua wanita itu sendirian. Pria yang tampak pucat itu hanya menghela nafas.
.
.
Ino mengurung diri di kamarnya. Setelah menghabiskan sepanjang sore berlatih bersama Sakura dia merasa lelah. Ino memandang layar ponsel melihat pesan dari Gaara. Mungkin dia harus menjelaskan semuanya. Wanita itu pun memutuskan meneleponnya.
"Hallo, Maafkan aku tadi siang pergi begitu saja. Apa kau punya waktu bertemu denganku?"
"Tentu saja, Dimana?"
"Taman Miwa, satu jam lagi?"
" Baiklah"
Gaara menutup teleponnya. Bergegas turun ke garasi dan mengendarai motornya dengan kencang melintasi jalan by pass menuju kota. Apa yang akan Ino katakan pada dirinya?
Meskipun Sakit hati dan mendendam. Gaara masih menyimpan perasaan untuk Ino. Dia masih ingat perasaan hangat yang mengalir di tubuhnya tiap kali menatap mata wanita itu dan sekarang pun masih sama. Dulu dia akan melakukan apa pun agar Ino bahagia. Mungkin dia salah ikut campur masalah antara Ino dan Deidara tapi dia tak sanggup menahan diri melihat Ino terus menerus dipojokkan oleh Incubus brengsek itu. Sayangnya ledakan amarahnya yang tak terkontrol menghancurkan segalanya bahkan Ino yang tak pernah takut padanya saat itu memandangnya dengan berbeda. Hanya dalam semalam rumor dan ramalan tentang dirinya menjadi kenyataan dan semua Iblis ingin menyingkirkannya termasuk Ino yang selalu mendukungnya.
Gaara menemukan wanita itu menantinya di bangku taman. Dia pun duduk di sebelah wanita itu. Temaram cahaya lampu taman menyinari mereka, sepasang kekasih yang terpisah akibat permainan takdir.
"Apa mengetahui masa lalu penting bagimu Gaara?"
"Aku hanya ingin tahu mengapa aku menjadi manusia" Gaara ingin menguji Ino apa perempuan itu akan berkata jujur atau malah menceritakan kebohongan.
"Aku mengkhianatimu. Dulu kita adalah kekasih yang saling menghormati dan melindungi tapi aku dengan egois lebih memilih takhta ku sebagai Ratu para Succubus daripada kebersamaan kita. Iblis lainnya menginginkan kau lenyap dan aku membantu mereka. Aku terdesak dan tak punya banyak pilihan dan aku tak ingin menambah jumlah musuhku"
"Jadi begitu kau mengorbankanku, Aku paham. Ini semua salah Deidara dan Sasori yang menyebarkan racun dan kebohongan mereka di kalangan Iblis dan tentu saja salahku juga terpancing dalam jebakan mereka"
Ino menoleh untuk menatap mata berwarna hijau toska itu "Kau ingat semuanya. Jadi kau berbohong padaku"
"Iya, Aku ingat semuanya. Apa kau tahu betapa hancur dan sakit hatinya aku. Aku membiarkanmu menyerap semua kekuatanku dengan begitu kau akan jadi kuat dan bisa menghancurkan Deidara tapi kau malah membiarkan mereka menyegelku di tubuh mortal ini"
"Maaf tapi aku tidak bisa menghadapi tekanan dari ayahmu. Kaumku dan Iblis lainnya yang meyakini kau akan membahayakan mereka setelah amarahmu yang tak terkontrol itu menghancurkan sebagian besar kaum Succubus. Aku harus bersekutu dengan mereka atau kepemimpinanku akan dipertanyakan. Aku tak bisa membelamu. Jadi aku membuat pilihan itu"
"Tak bisa atau tak ingin Ino? Tapi semua telah berlalu dan lihatlah pilihanmu yang bijak membawa kita berdua di sini. Kau tak lagi jadi ratu dan aku bahkan bukan Iblis" Gaara menunduk menatap ujung sepatunya.
"Aku tahu pengkhianatanku sia-sia"
"Apa kau menyesalinya?"
"Tentu saja"
"Aku hanya ingin mendengar itu Ino" Gaara meraih tangan Ino dan menggenggamnya. Wanita itu menoleh untuk memandang pria itu "Dan aku sangat merindukanmu" Suaranya rendah terbawa desir angin malam.
Tatapan mata mereka terkunci. Aquamarine yang cerah bertemu manik sewarna lautan dangkal di pulau tropis. Ino mengalami deja-vu. Hari-hari ketika tugasnya sebagai ratu begitu melelahkan dan Deidara mempermalukan dirinya di arena tanding kemudian dia harus melewati barisan suara-suara sumbang yang menginginkan dia lenyap karena dia tak berguna. Lengan pria itulah yang memeluknya mengingatkannya dia dibutuhkan dan diinginkan. Setelah hal buruk yang ia lakukan padanya. Terpisah sekian lama dan terlahir dalam wujud yang berbeda pria itu masih menatapnya dengan cara yang sama "Pazuzu" Nama Iblis itu meluncur lirih dari bibirnya.
Gaara menutup matanya dan mengecup bibir Ino dengan dahaga pengembara yang melintasi padang pasir. Dia masih mencintai wanita ini tapi tidak bisa memaafkannya. Sungguh bila dulu Ino memintanya menaklukkan dunia Iblis untuknya dia akan melakukannya. tapi sekarang dia sadar bagi wanita itu hanya ada kaumnya. Dia tak pernah menjadi prioritas. Hal itu membuat rasa sakit hatinya bertambah. He would do anything for her but she would do nothing for him. Ino mungkin mencintainya tapi tak sebesar dia mencintai wanita itu.
Sai mengatupkan rahangnya dengan keras melihat kedekatan mereka berdua di balik kegelapan. Dia membuntuti Ino diam-diam ketika wanita itu meninggalkan apartemennya. Hatinya kesal dan marah melihat Ino berduaan dengan pria itu. Sai sempat berharap kisah apa pun yang pernah terjadi di antara Ino dan laki-laki itu sudah berakhir tapi sepertinya dia salah. Tiba-tiba saja Sai merasakan kembali getaran aneh yang menandai robeknya dimensi. 'Sial sepertinya Iblis muncul di dekat sini' pikir pria itu. Haruskah dia memperingatkan mereka?
Sai keluar dari persembunyiannya. Dia melangkah tanpa suara menuju bangku tempat Ino dan Gaara duduk. Menginterupsi ciuman mereka.
Pria berkulit pucat itu berdehem dengan keras "Maaf menggagu reuni kalian. Aku hanya mau memberitahu kedatangan Iblis. Mungkin kau dalam bahaya Ino"
Sai benar, Gaara dan Ino juga merasakan portal dunia Iblis terbuka tak jauh dari situ.
Sebuah bayangan melesat dengan cepat ke arah mereka menghantam Sai dari samping dan membuat vampir itu terpelanting. Dengan cepat pria berambut hitam itu berdiri kembali membersihkan debu yanh menempel di tubuhnya. Dia tak menduga serangannya akan secepat ini
"Aku sudah mengira kau yang menghabisi anak-anakku Ino. Aku merasakan kekuatanmu saat kau menutup paksa portal yang aku buat. Deidara akan sangat senang bila aku membawamu kembali"
Di hadapan mereka muncul Iblis berambut kelabu dan mata keunguan. Dia membawa senjata sabit berpisau tiga.
Tanpa sadar Gaara sudah berdiri di depan Ino menjadikan dirinya tameng di antara wanita itu dan musuhnya
"Hidan kau masih jadi budak Deidara rupanya" Gaara mengenalnya. Pria itu adalah Incubus rekan Deidara. Dulu dia berkali-kali mengalahkan lelaki dalam setiap pertarungan dengan mudah tapi kali ini dia tak yakin karena dia bukan lagi Iblis.
"Mortal tau namaku? Sungguh aneh" tapi Hidan tak ambil pusing dengan Identitas sang mortal. Dia hanya perlu membawa Ino kembali ke dunia Iblis dan mengambil artefak Lilith yang dia simpan. Siapa pun yang menghalangi jalannya harus mati.
Pria itu menyabetkan Sabit yang dia bawa. Energi setajam pisau menyisir dan membelah tanah meluncur ke arah mereka dengan cepat. Gaara dengan cepat menciptakan pelindung tidak membiarkan serangan Hidan menyentuh mereka.
"Wah...wah. aku rasa aku tahu siapa dirimu. Pazuzu sang Iblis angin. Sudah di permainkan Iblis jalang ini pun kau masih mencoba melindunginya. Kau telah jadi bahan lelucon di dunia Iblis"
Sai melihat pertahanan Hidan terbuka. Vampir itu menendang punggung sang Iblis dan membuatnya terlempar dan menghancurkan tembok yang memagari taman.
Ino menarik ujung pakaian Gaara. Membuat pria itu menoleh padanya. Kubah energi yang diciptakannya masih melindungi mereka "Gaara, Kau tak perlu bertarung. Ini perangku"
"Tidak bolehkah aku membantumu, aku masih memegang sumpahku yang lalu Ino. Meskipun aku tak sekuat dulu"
Iblis itu menyeruak dari reruntuhan tembok yang menimpanya "Tidak buruk tapi kalian bodoh"
Entah dari mana tiba-tiba saja muncul ratusan Iblis bayangan mengerumuni mereka. Sai, Ino dan Gaara memandang sekelilingnya dengan awas.
"Anak-anakku serang mereka" Bersamaan dengan perintah itu. Kerumunan bayangan hitam merangsek maju.
"Kita harus menyerang"
Gaara mengerti dan membuka barrier -nya. Ino memanggil senjatanya. Di saat seperti ini dia harus menghabisi musuh dengan cepat karena bila mereka lengah Hidan akan menyerang dan menghabisi mereka. Ino dan Gaara tahu dengan jelas kemampuan Iblis itu tak bisa diremehkan.
Succubus itu merapal mantra. Serta merta sebuah cambuk berada di genggamannya. Energi Iblisnya mengaliri permukaan senjata favoritnya menghasilkan suara mendesis yang mengerikan. Ino memecutkan senjatanya ke arah Iblis bayangan yang mengerubuti mereka. Semua hancur dalam satu cambukkan.
Gaara memandang wanita itu dengan takjub. Dengan memanfaatkan kekuatan elemen anginnya pria itu menciptakan pedang kasat mata yang memotong tiap iblis yang dia lewati sementara Sai menghabisi musuh dengan cakar vampirnya. Di antara pertempuran yang berjalan berat sebelah itu Hidan memperhatikan pergerakan mereka bertiga tanpa memedulikan pasukan bayangannya semakin sedikit.
Ino berhasil meloloskan diri dari kerubutan Iblis lemah yang menghalangi jalannya berhadapan langsung dengan Hidan. Wanita itu mencoba meraih leher sang Incubus dengan pecutnya tapi Hidan menangkap ujung senjata Ino. Dengan kekuatan fisiknya pria itu menahan dan menarik pecut itu membuat sang pemilik hampir terjatuh.
Telapak tangan kiri Ino membuka "Demon beam" Peluru energi yang meluncur dari tangannya mengenai bahu Hidan tapi tak menimbulkan kerusakan berarti"
Dari arah yang tak diduga Incubus itu. Beberapa peluru perak menerjang dan menembus punggungnya. Sai berdiri di belakangnya dengan pistol terkokang siap memuntahkan peluru lainnya.
"Bagus Sai " Teriak Ino. Yang berhasil menarik melepas cambuknya dari tangan Hidan yang terkejut dengan serangan Sai.
Hidan membalas serangan Sai dengan berlari menebaskan sabitnya pada pria yang menyerangnya. Sabetan itu terlalu cepat untuk bisa dihindari oleh sang Vampir. Sai mengorbankan tangan kirinya untuk menghentikan senjata Hidan memotong tubuhnya. Telapak tangannya robek dan berdarah menahan bagian tajam dari Sabit itu. Tubuh Sai terdorong ke belakang. Ia berhasil mengunci gerakan Incubus Itu.
"Ino serang dia"
Ino mengangguk. Ia melompat dan mencekik Hidan dari belakang dengan cambuknya. Senjata Ino melingkar di leher Incubus berambut kelabu itu. Ia menariknya kuat-kuat berniat mematahkan leher anak buah favorit Deidara. Hanya saja Ino salah perhitungan Hidan melepas sabitnya yang di tahan Sai dengan cepat dia menyiku perut Succubus yang berdiri di belakangnya.
"Ino" Teriak Gaara melihat tubuh wanita itu menghantam pohon yang kemudian tumbang.
Sai berdiri terlalu dekat dengan Hidan. Incubus itu menendang tangan Sai yang memegang pistol. Sebelum pria berambut hitam itu sempat menembak. Sama-sama tak bersenjata kedua pria itu baku hantam. Gaara yang dari tadi bertarung dengan sisa-sisa Iblis bayangan di pinggir merangsek masuk membantu Sai. Bila saja dia bisa memanggil pedangnya mereka akan menang mudah tapi dengan tubuh mortal ini dia tak bisa melakukan banyak hal.
Adu tinju dua pria itu membuat mereka terkapar di tanah. Tapi Hidan terjatuh di dekat Sabitnya. Pria itu memungutnya dan mengirimkan serangan pada Sai yang terkapar di tanah.
Gaara membuat angin untuk mementalkan serangan yang nyaris membunuh Sai. Dia tak suka Vampir itu tapi dia yakin Ino tak akan suka bila pria itu mati.
"Terima kasih" Ucap Sai sambil mencoba berdiri. Badannya lebam dan penuh luka gores.
Ino mencoba berdiri setelah dilempar menghantam pohon. Dia dan Sai melukai Hidan cukup parah. Mereka bisa menang.
Tanpa memedulikan dua pria yang bersiap menyerangnya Incubus itu malah berlari ke arah Ino yang belum siap. Tangannya yang besar mencekik leher Ino tanpa wanita itu bisa cegah.
"Kkeh...kek.." Ino mencoba melepas cengkeraman sekeras baja di lehernya.
"Kalian serang aku Succubus ini akan mati" sepertinya Hidan lupa Ino harus di bawa hidup-hidup.
Sai dan Gaara terpaku. Hidan menyandera Ino mereka tak bisa gegabah menyerang.
"Apa yang bisa kita lakukan?" tanya Sai pada Gaara.
Pria berambut merah itu mengerakkan tangannya merasakan udara di sekitar mereka. "Wind wave Blast"
Udara bertekanan tinggi menghantam Hidan di sisi kanannya. Serangan Gaara meremukkan lengannya tapi pria itu masih tegak berdiri meski dia melepaskan Ino. Succubus itu jatuh terkulai nyaris kehabisan nafas.
"Jurus yang bagus" Puji Sai pada manusia itu.
Ino beringsut membuat jarak dengan Hidan. Serangan Gaara membuat Hidan tak bisa menggunakan tangan kanannya untuk beberapa saat. Dengan murka Hidan menembakkan energi bertubi-tubi ke arah dua pria itu dengan tangan kirinya "Kalian tikus penganggu. Mengapa belum enyah juga"
"Itu karena kau lemah" Gaara berlari dengan sigap menghindari setiap muntahan energi yang meledak begitu mengenai benda padat. Pria berambut merah itu tahu Hidan bukan petarung jarak dekat yang ahli. Sedangkan dia punya kecepatan. Gaara memperpendek jarak dengan musuhnya. Siku mantan Iblis angin menghantam pipi Hidan membuatnya tersungkur. Sementara Sai siaga dengan pistolnya.
Hidan yang terdesak memutuskan bertarung dengan wujud demon. Pekikan kencang menggelegar. Incubus itu tak berpikir panjang lagi. dia hanya ingin melenyapkan mereka semua. Dengan kalap dia menyerang Ino dengan seluruh kekuatannya. Melemparkan bola energi yang besar ke arah wanita itu. Dari dulu dia membenci Ino. Mengapa wanita selemah itu harus menjadi pemimpin mereka. Dia tak pernah bisa menerimanya.
Ino terlambat bereaksi. Serangan itu sudah terlalu dekat untuk di tangkis. Sedangkan Sai menatap dengan ngeri dia berdiri terlalu jauh dan tak punya kemampuan menciptakan pelindung. Gaara yang posisinya tak jauh dengan refleks berlari dan memeluk Ino. Menciptakan kubah pelindung dengan semua sisa tenaganya tapi itu tak cukup kuat untuk bisa menghentikan laju serangan Hidan. Bola energi itu melambat tapi berhasil memecahkan pelindung yang dibuat dan menghantam tubuh bagian belakang pria berambut merah itu. Gaara menjerit punggungnya terbakar dan terkoyak. Darah mengalir deras tapi dia tetap memeluk wanita itu. Melindunginya dari serangan Hidan.
"Kau tak apa-apa?" tanya pria itu lirih
"Kau bodoh serangan itu tak akan membunuhku. Apa kau lupa kau mortal " Mata Ino berkaca-kaca melihat pria itu mulai kehilangan kesadarannya
"A..ku. selalu..memenuhi janji...ku" Sinar di mata hijau toskanya kian pupus. Sebelum akhirnya Gaara menutup mata dan tak lagi bergerak.
"Gaara...Gaara.. Bangun..bangunlah" Ino memohon tapi pria itu tetap tak sadar. Tubuh manusianya tak mungkin sanggup bertahan dari serangan itu.
Sai bertarung melawan Hidan tapi selama pria itu masih di udara dia tak bisa berbuat banyak. Tembakannya meleset semua. Ia melirik Ino yang termangu. Tubuh Gaara tergeletak di pangkuannya. Wanita itu menangis tanpa suara.
'Cukup-cukup sudah' Kemarahan dan kesedihan Ino memuncak. Emosinya bercampur aduk. Dia telah kehilangan terlalu banyak karena dia lemah. Dia tak bisa melindungi orang-orang yang berpihak padanya. Berapa banyak lagi orang yang harus mati. Dia mengusap rambut merah pria itu. Segel yang dibuat oleh Sakura retak. Energi Iblis Ino yang tertekan meluap dan mengalir dan ke setiap titik tubuhnya. Isak Tangis wanita itu berubah menjadi lengkingan kemarahan bersamaan dengan sosok Iblis Succubus yang mengepakkan sayapnya ke angkasa. Ia merasa kuat dan penuh kebencian. Tak pernah Ino membiarkan emosi negatif menguasainya. Tapi kebencian dan amarah serta rasa kehilangan telah membangkitkan kekuatan laten yang lama tertidur dalam dirinya.
Sai terkesima dengan aura kegelapan yang bergolak liar melingkupi tubuh wanita itu. Rambut pirangnya menghitam dan kulit gadingnya menjadi keunguan dengan otot-otot yang terpahat indah. Mata semerah ruby berkilat penuh amarah. Sekujur tubuh sang Vampir bergidik melihat sosok Ino menjadi begitu menakutkan. Itulah Sosok ratu Succubus yang sempurna.
Succubus pirang itu melayang di depan Hidan. Dia gemetar merasakan gelombang energi Ino yang besar tak pernah dia merasakan Succubus sekuat ini. Tubuhnya tak bisa bergerak terkunci oleh kekuatan pikiran sang Ratu.
"Kau akan lenyap hari ini, Hidan" ujar wanita itu keji. Ino tak lagi ingin punya rasa belas kasihan. Pria ini tak layak mendapat pengampunannya. Ino mengeretakan giginya. dia tak pernah ingin membunuh kaumnya tapi sudah tak ada jalan lain selain bertarung dan menghabisi semua yang menghalanginya.
"Kau marah karena Pazuzu mati. Salahkan dirimu sendiri. Kau membuat pria yang di ramalkan akan memimpin dunia Iblis. Mati sia-sia sebagai manusia" Hidan menghina Gaara dan masih mencoba menyeringai meski tubuhnya tak bisa bergerak.
"Tutup mulutmu Hidan" dia melecutkan cambuknya melingkari leher Incubus itu dan menariknya erat "apa kau masih mau bicara lagi sekarang?"
Wajah Hidan terlihat menderita dan megap-megap begitu udara tak lagi mengaliri tenggorokannya. Tulang lehernya mulai retak dan Ino hanya menyeringai melihat musuhnya nyaris mati. Succubus pirang itu menghunjamkan cakar-cakar iblisnya merobek dada Incubus itu. Tangannya melesak ke dalam menghancurkan rusuk sang Incubus. Tangannya meraih organ yang menjadi Inti kehidupan Iblis. Meremas dan mengoyak serta menyerap esensi kehidupan iblis itu dengan paksa. Jeritan Hidan memekakkan telinga dan Ino tersenyum puas.
Sai khawatir melihat Ino. Wanita itu terlihat menikmati kelakuan kejamnya seolah dia telah berubah menjadi iblis sejati yang haus darah. Mengapa Ino tiba-tiba jadi begitu kuat?. Sai melangkah dan berjongkok untuk memeriksa Gaara. Jantungnya berdenyut meski lemah. Dia masih hidup. Sai langsung menelepon Sakura agar segera datang. Dalam pikiran buruknya ia merasa lebih baik pria ini mati jadi dia tak punya saingan tapi melihat Ino sampai lepas kontrol seperti itu mungkin Gaara berarti penting bagi Iblis wanita itu.
Ino tak membiarkan jeritan kesakitan musuh mengganggunya. Tangannya berlumuran darah iblis berwarna keunguan. "Kau selalu setia pada Deidara. Paling tidak pada akhirnya kau berguna untukku" begitu energi kehidupannya habis perlahan-lahan tubuh Hidan hancur menjadi debu.
Wanita itu mendesah untuk menang dia benar-benar harus menjadi Succubus sejati. hanya dengan begitu dia bisa memiliki kekuatan yang besar tapi ia tak ingin kehilangan sisi baiknya karena bila itu terjadi dia akan sama saja dengan Deidara.
Ino melihat Sai di sebelah tubuh Gaara. Wanita itu turun dan begitu menyentuh tanah kembali ke wujud manusianya.
"Ino, Dia masih hidup. Aku telah memanggil Sakura kemari"
Wanita itu bersimpuh di sisi Gaara tanpa memedulikan luka-lukanya sendiri karena ia tahu lukanya akan hilang sendiri tapi Gaara dia sekarat. Ia menatap wajah pria yang tak sadarkan diri itu dengan sedih "Terima kasih"
"Kau masih mencintainya" Kalimat yang Sai ucapkan lebih merupakan pernyataan ketimbang sebuah pertanyaan.
Ino mendongak untuk menatap Vampir itu "Aku akan merasa bersalah bila dia mati karena diriku"
"Aku juga akan melakukannya Ino, Mati untukmu" Pria itu mengucapkan kata-katanya dengan serius.
"Sai. Bila aku mampu. Aku tak ingin seorang pun mati untukku"
Sang vampir kemudian pergi meninggalkan Ino bersama mantan kekasihnya. Menanti Sakura datang.
.
.
.
a/n: thanks bagi yang masih membaca. Semakin lama semakin sulit dan bingung author masukin romance-nya di mana. Yang jelas Ino semakin kuat. Mungkin kalau resmi jadi ratu lagi Ino bisa bikin harem biar gak usah memilih.. angkut aja semua. Ha..ha..ha..
