The original story belongs to rawrchelle
Characters © Masashi Kishimoto
.
.
. . . . . . . . . . . . . . .
(deg. deg. deg.)
"Sasuke-kun ?"
Kau menyentuhku. Kau menyentuhku.
Mengapa kau menyentuhku?
(deg, deg, degdegdeg—)
"Hn."
"Apa kau baik-baik saja?"
Ini pertama kalinya kau berinisiatif melakukan sesatu padaku.
"Aku baik-baik saja."
Helaan. "Kau menggenggam tanganku."
"Aku hanya meletakan tanganku di atas tanganmu. Aku tidak menggenggamnya."
(angan-angan.)
"Itu sama saja dengan menggenggam."
"Diamlah, Sakura, atau aku akan berhenti."
Apakah ini berarti sesuatu?
Aku tidak pernah tahu apa yang harus kupikirkan, jadi tolong, katakan padaku.
Apakah ini berarti sesuatu?
Diam. Tersenyum.
"Oke."
Tapi aku rasa aku tidak harus mengetahuinya sekarang.
(deg. deg. deg.)
. . . . . . . . . . . . . . .
"Rasanya seperti déjà vu." Ia duduk di atas sofa, tangan tersampir di pangkuan. "Rasanya aku pernah melakukan ini sebelumnya."
Sasuke memandangnya melalui bingkai kacamata. "Karena memang pernah."
Ia tergoda untuk meminta Sasuke menjelaskan, tapi bukan tempatnya untuk meminta, jadi ia hanya diam. Hanya keheningan beberapa menit selanjutnya, dengan Sasuke yang sedang membaca, dan ia yang duduk, sampai Sasuke kembali bicara. "Kau sebelumnya cacat. Itachi memberimu padaku. Kau mulai merawat pasien di sini—sampai, beberapa hal buruk terjadi, Itachi tahu kalau aku belum membunuhmu seperti seharusnya. Lalu dia kembali mengambilmu, dan menghapus ingatanmu."
"Apakah dia membawa kembali semua pasiennya?"
"Dia tidak tahu tentang mereka. Aku membunuh mereka."
Ia mengamati Sasuke; kacamata berbingkai penuh, rambut gelap, dan bahkan mata juga gelap—hidung aristrokat dan tulang pipi tinggi—keindahan alami.
"Apa ini tempat yang aman?" tanyanya.
"Ya." Sasuke berdiri dari mejanya dan menarik napas dalam, mengurut pelipisnya sebelum melangkah ke arah Sakura dan mmbungkuk, mereka saling bertatapan tepat di mata. "Aku tidak tahu obat apa yang mereka berikan padamu, tapi aku tidak ragu kalau kau bisa mengingat semua yang kau lupakan."
Ia memiringkan kepalanya ke samping. "Jika aku hanya di sini untuk merawat pasien, mengapa kau ingin aku mengingatnya?"
Sasuke mengamatinya beberapa saat, dan ia menatap balik pada pria itu, tidak goyah. "Karena," ucap Sasuke akhirnya, suaranya pelan, "kau lebih dari seorang dokter." Salah satu tangan Sasuke diletakan di paha Sakura, tangan yang lainnya menyisir rambutnya. "Kau adalah Sakura."
(mengapa pria ini terasa sangat tidak asing?)
Ia menarik napas dalam, menghirup aroma musk yang menghambur dari Sasuke. "Apa nama itu begitu penting?"
Sasuke mendekat—cukup dekat untuk menyapukan hidung mereka. "Itu menandakan segala sesuatu tentangmu dan jika bukan untuk semua yang terjadi padamu." Kedua tangan Sasuke menangkup wajahnya, dan ia duduk di sana seperti seorang gadis pintar, berharap Sasuke tidak akan memukulnya. "Itu menandakan segala sesuatu yang kuhargai tentangmu."
Sangat perlahan, ragu-ragu, ia mengangkat satu tangan dan meletakannya di atas tangan Sasuke di pipinya. Tangan Sasuke sangat hangat berbanding dengan miliknya. "Aku akan berusaha mengingatnya," ucapnya pada Sasuke.
(mengapa pria ini terasa seperti rumah?)
"Terima kasih." Sasuke mengecup keningnya lembut, dan meninggalkan ruangan.
. . . . . . . . . . . . . . .
FADING AWAY
. . . . . . . . . . . . . . .
"Aku akan menunjukan sesuatu padamu." Sasuke membawanya ke kamar mandi utama, dan mengisi penuh bak mandi. Ia menunggu dengan sabar saat Sasuke menggulung celana dan melepaskan kaos kaki. "Perhatikan baik-baik." Sasuke menaiki pinggir bak mandi, dan dengan perlahan, melangkah ke air.
Koreksi: Dia melangkah di atas air.
Dia bisa berdiri di atas air.
"Itu tidak mungkin," ucapnya seketika. "Itu sungguh tidak mungkin."
Sasuke terdengar bahagia. "Itu hal yang sama yang kau ucapkan padaku ketika aku menunjukan padamu aku bisa menghembuskan api."
"Kau bisa mehembuskan api?"
(pria ini bisa melakukan hal yang tidak mungkin.)
Sasuke memberi isyarat pada Sakura untuk melangkah ke bak mandi bersamanya. "Kau adalah orang yang mengajariku bagaimana melakukan hal ini dengan sempurna. Mari kita lihat jika kau mengingatnya."
Ia menatap Sasuke, dan perasaan aneh ini memberontak dalam dirinya (harapan, harapan, harapan). Ia memanjat ke tepi bak mandi, dan dengan sangat perlahan, bersiap melangkah ke atas air. Rasanya hangat, seperti air bak pada umumnya.
Saat-saat ketika dirinya menumpukan berat badan pada kaki sehingga ia bisa menempatkan kaki lainnya di atas air, dan masuk ke dalam. Ia tenggelam dan membawa Sasuke bersamanya.
(masalah, masalah, masalah.)
"Maafkan aku," ia tergagap, berusaha menyingkirkan air dari matanya. "Aku akan segera membersihkanmu—"
"Tak apa," ucap Sasuke, memotongnya. Ia memandang Sasuke tidak percaya. Jika Itachi, pria itu akan memukulnya sekarang.
"Aku akan membersihkanmu," ulangnya, berdiri terhuyung, dengan tetesan air dan pakaian yang melekat di kulitnya. "Kau akan masuk angin jika kau tidak mengganti pakaian."
"Hal sama juga berlaku untukmu."
(mungkin sasuke bisa memperbaikinya.)
"Aku akan baik-baik saja." Ia meraih perut Sasuke, berusaha melepaskan kaos hitam pria itu. "Maafkan aku."
"Aku bisa melepas bajuku sendiri," ucap Sasuke singkat, menyingkirkan tangan Sakura. "Urus saja dirimu." Ia melangkah mundur selangkah dari Sasuke ketika pria itu mulai melepas bajunya, dan kemudian celana. Ia berusaha dengan bajunya sendiri, sampai ia hanya mengenakan pakaian dalam.
"Aku akan mengambil beberapa handuk," ucapnya jelas.
"Kau bahkan tidak tahu di mana tempatnya." Sasuke tidak melihat ke arahnya saat melangkah keluar dari bak mandi dengan hanya menggunakan boxer basahnya, melangkah cepat keluar ruangan. Sakura menggigil, memeluk dirinya sendiri.
(ia akan keluar hanya jika sasuke menyuruhnya.)
"Ayo ambil pakaian untukmu." Sasuke kembali beberapa saat kemudian, melemparkan sebuah handuk merah padanya. Milik Sasuke sendiri sudah membungkus pinggangnya. Ia mengikuti Sasuke keluar kamar mandi dan menuju ruangan yang ia tahu merupakan kamar Sasuke. Ia membungkus handuk dengan erat di sekeliling tubuhnya, berusaha untuk berhenti menggigil. "Kau tidak akan merasa hangat jika kau tetap memakai pakaian dalammu, kau tahu."
"Hanya ini yang tersisa."
"Lepaskan itu. aku punya boxer. Kau bisa melewati sehari tanpa bra."
Dan akhirnya ia melakukannya tanpa ragu—ia mematuhi semua perkataan Sasuke. Ia membalikan tubuhnya setelah Sasuke melemparkan sebuah kaos dan boxer. Ia bergerak untuk memakai boxer terlebih dahulu, dan ketika ia meraih kaosnya, ia merasakan tangan hangat Sasuke di bahunya.
"Apa ini bekas luka?" suaranya pelan.
Ia tidak bergerak. "Dulu di Akatsuki, kebanyakan percobaan mempunyai bekas luka. Obat-obatan sering membuat kami tidak mematuhi perintah. Kami dihukum."
"Sebanyak ini?"
"Mereka mencoba banyak obat padaku karena aku terlihat lebih menentang daripada yang lainnya."
"Sakura, ini lebih dari sebuah pukulan—ada bekas luka bakar juga."
"Deidara-sama suka bermain dengan api."
"Siapa yang melakukan sisanya?"
"Hidan-sama ."
"Semua lukanya?"
"Bekas luka yang kecil dilakukan oleh Itachi-sama. Di lenganku."
Hening cukup lama, dan Sasuke meremas bahunya singkat, sebelum dengan lembut menarik kaos dari genggaman Sakura dan memakaikannya. Ia membiarkan Sasuke; memasukan tangannya pada lubang yang tepat, dan menunggu Sasuke menariknya ke seluruh tubuhnya.
"Kau sangat baik, Sasuke-sama."
"Sasuke."
"Maaf. Aku selalu lupa."
Bahkan setelah kaos terpasang di tubuhnya, tangan Sasuke tetap berada di pinggangnya. Ia bisa merasakan nafas Sasuke di rambutnya, dan ia ingin tahu apakah ia sedang merasakan sebuah emosi. Mungkin ia pernah merasakannya sebelumnya. Mungkin obat yang mereka berikan padanya sangat kuat sampai ia bisa melupakan perasaan manusia.
(cacat, cacat, cacat.)
Ia terpaku kaget saat lengan Sasuke sepenuhnya membungkus tubuhnya, menarik punggungnya pada pria itu. Pipi Sasuke menekan telinganya, dan suaranya lembut, namun terdengar begitu kesepian.
"Ingat aku. Kumohon."
Ia sedikit menyandar pada Sasuke, bernapas perlahan. "Aku berusaha setiap saat."
Sasuke menghela perlahan. "Aku tahu." Dan kemudian kehangatan Sasuke pergi—dan begitu juga dirinya, ketika ia berbalik.
. . . . . . . . . . . . . . .
"Cinta tidak pernah sepadan dengan resikonya."
Ia mengerutkan dahi. "Apa?"
Sasuke tidak mendongak dari Koran. "Itu yang aku katakan sebelum aku bertemu denganmu."
"Maksudmu?"
"Maksudku kau tidak sepadan dengan resiko."
. . . . . . . . . . . . . . .
"Aw, tidak." Dia terlihat sangat sedih. "Sakura-chan, tidak."
"Ini Naruto," gumam Sasuke. "Kau biasa bermain Resident Evil bersamanya selama berjam-jam, dan makan ramen gelas sebagai selingan."
"Dia baru saja menjadi lebih baik!" rengek Naruto. "Sekarang aku harus mengajarkan semuanya lagi, dan dia akan terpaku berminggu-minggu!"
"Aku tidak peduli." Sasuke menggosok rambutnya, menghela saat membaca beberapa dokumen di tangannya. "Aku akan kembali ke kantor dalam dua jam. Jika kau membiarkannya keluar dari pengawasanmu sedetik saja, dobe, aku akan mengebirimu."
"Bahkan jika dia harus ke kamar kecil?"
"Tutup mulutmu."
Ia dan Naruto duduk di depan televisi—Naruto mengajarinya cara memainkan video game, dan ia mendengarkan. Ia baik dalam mengingat kontrol—ia hanya tidak baik saat menerapkannya dalam game. Pada akhirnya, Naruto melempar controller dan terbaring di lantai.
"Bahkan sejak kau kembali dengan ingatanmu yang terhapus, Sasuke masih berbeda."
Ia menatap Naruto. "Maksudmu?"
"Dia sedikit bicara. Mudah marah. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Akatsuki, tapi Sakura-chan, berusahalah untuk mengingatnya. Berusahalah untuknya."
Seketika ia merasa jengkel (sebuah pengalaman baru), ia mendesis pada Naruto. "Dia selalu mengatakan padaku tentang itu. Aku selalu menuruti perintah—tapi kau tidak bisa mengingat sesuatu sebagai sebuah perintah. Berhenti mengatakan padaku untuk berusaha. Aku terus melakukannya."
Mata Naruto terlihat sangat biru. "Aku tahu. Terima kasih." Entah bagaimana, senyum miringnya menenangkan. "Akatsuki cukup kuat—pertama, tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan lebih banyak manusia. Mereka hanya perlu menambah obat yang mereka berikan padamu." Menghela napas. "Sasuke tidak menunjukannya, tapi dia sangat peduli."
Ia menelan ludah. "Aku rasa aku juga peduli."
(jika saja ia tahu caranya.)
. . . . . . . . . . . . . . .
"Lihat, bukankah detak jantung menenangkan?" ia bertanya ketika Sasuke selesai menekankan telinga pada dadanya.
"Kurasa."
"Apa, kau tidak berpikir begitu?" hening. Ia menunduk untuk melihat kalau mata Sasuke sudah terpejam. Bahkan napasnya sudah teratur, dan ia tersenyum lembut.
Sasuke bodoh.
. . . . . . . . . . . . . . .
Ia menarik jarum dari lengan pasien, menunggu kehidupan ditarik darinya, suara napas yang memelan sampai hilang.
(ini melemahkan.)
Sasuke membuatnya lemah. Sampai ia bertemu Sasuke, sampai ia datang kemari—ia tidak peduli siapa yang dibunuhnya, siapa yang dipenggalnya. Semua yang ia lakukan adalah memotong dan mengakhiri—tapi sekarang, pemandangan dari tubuh tak bernyawa membuatnya ingin muntah.
Ia duduk bersandar pada dinding, memeluk lutunya di dada. Ini ide yang buruk—ia harus membuang tubuh itu sebelum membusuk, atau lainnya akan menjadi sulit ditangani. Tapi ia hanya tiba-tiba merasa lelah.
Ia tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang salah sampai hal itu sudah begitu terlambat.
. . . . . . . . . . . . . . .
(deg. deg. deg.)
"Oh tuhan. Apa itu—apa itu—" tercekat. Menelan ludah.
"Itu Naruto."
(tap, tap, taptaptap—)
Jangan mati.
Kumohon, jangan mati.
Aku membutuhkanmu.
Aku membutuhkanmu.
(deg, deg—berhenti.)
"Sasuke-kun …" gemetaran. "Dia tidak bernapas."
Menyentuh. "Dia sudah menjadi mayat. Pasti sejak beberapa saat lalu."
(hah. hah. hah.)
"Dia tidak bernapas, Sasuke-kun. Dia mati."
Bagaimana bisa kau meninggalkanku, Naruto?
Kau adalah satu-satunya orang yang paling kubutuhkan—
Aku bisa bertahan tanpa Shishou, aku bisa bertahan tanpa Ino—Aku bahkan bisa bertahan tanpa Sasuke-kun —
Tapi kau? Aku tidak pernah bisa bertahan tanpamu.
Aku tidak bisa.
"Aku tahu."
"Tidak! Kau tidak tahu, Sasuke-kun! Dia mati! Naruto—Naruto mati!"
"Kau tak bisa mencegahnya, Sakura—"
"Kau yang tidak bisa mencegahnya, tapi aku bisa! Apa kau tahu betapa pentingnya dia bagiku? Saat kau pergi, menghabisi sisa keluargamu, Naruto adalah satu-satunya orang yang kumiliki! Dia bukan apa-apa bagimu, Sasuke-kun—tapi dia segalanya bagiku!"
(roboh. air mata. helaan.)
"Tenanglah, Sakura."
"Jangan menyuruhku tenang disaat sahabatku baru saja mati!"
Naruto. Naruto. Naruto.
Naruto-nya.
Pergi.
Jangan menyuruhku untuk tenang membiarkan orang yang selalu ada untukku ketika kau tidak ada pergi.
"Aku tidak dalam suasana untuk disentuh, Sasuke-kun. Saat kau memeluk seseorang, itu benar-benar mengerikan."
"Aku hanya akan mengatakan ini sekali, jadi diamlah dan dengarkan."
(tarik napas. hembuskan. bernapas. bernapas.)
Kau tidak seharusnya merasa nyaman.
"Sakura, hanya kau yang kumiliki. Dan hanya aku yang kau miliki. Dan tidak ada ruang yang tersisa untuk harga diri dan penghinaan. Kau mencintaiku. Jadi… aku akan barusaha untuk balas mencintaimu. Tapi kau harus membiarkan-ku mencoba."
Tersedu. "Naruto sudah pergi."
Peluk aku erat. Buatlah rasa sakit ini pergi.
"Aku tahu."
(bernapas.)
. . . . . . . . . . . . . . .
"Sakura-chan!" pintu terbanting terbuka, dan ia mendongak dengan mata buram. Ia bahkan tidak sadar dirinya jatuh tertidur. Itu Naruto—dia mencengkeram bahunya yang berdarah. "Kita harus keluar dari sini!"
"Apa yang terjadi?"
"Mansion kebakaran! Sialan, Sasuke belum kembali—"
Ia menelan ludah. Api? Siapa yang ingin membuat Uchiha Mansion terbakar—tempat indah dan menawan ini—
"Pasien-pasien," serunya, berlari keluar. "Sasuke pasti ingin aku menyelamatkan pasien—"
"Lupakan tentang pasien—keluar saja dari sini!" Naruto menggenggam lengannya saat ia mencoba berlari melewati pria itu, mengernyit saat ia menabrak lengannya yang terluka. "Mereka menyiram bensin di mana-mana—kau tidak akan punya waktu untuk membawa mereka!"
"Mereka? Siapa mereka?" ia membiarkan Naruto membawanya ke tangga menuju lantai utama. Bau asap sudah tebal di udara, hawa panas semakin kuat dalam setiap langkah.
"Akatsuki, sialan itu—siapa lagi?"
(akatsuki. mimpi buruknya.)
"Api itu," ia terengah-engah. "Deidara di sini—"
"Ya, si brengsek itu. Hidan juga di sini—aku rasa mereka memang pemusnah segalanya—"
Ia membeku dalam langkahnya ketika melihat kamar Sasuke. Kamar indah Sasuke dengan dekorasi merah yang dalam, terbakar dengan kobaran api orange dan kuning, membuat gambaran kehancuran di pikirannya—
(ada begitu banyak pagi ketika ia terbangun, dan sasuke tepat berada di sana.)
"Ayo, Sakura-chan!"
Puing-puing hagus jatuh di sekeliling mereka, membuat sangkar api. Hawa panas menghanguskan kulitnya, suara Naruto terdengar keras di telinganya, dan darahnya berdenyut di nadi—ia hampir tidak bisa bernapas dalam asap, tapi ia tidak bisa mengalihkan tatapannya dari ruangan itu.
Ruangan itu berarti sesuatu. Itu adalah ruangan—itu adalah ruangan di mana ia tinggal. Itu adalah ruangan di mana ia bermimpi.
Dan ruangan itu hangus terbakar.
(ia selalu bertanya-tanya apakah sasuke pernah memimpikannya ketika pria itu tidur.)
Ia tersedu, dan sadar dirinya menangis.
"Di mana Sasuke?" suaranya terdengar terengah-engah diantara semua kebisingan. Naruto tidak menjawabnya—melainkan membopongnya dan melemparnya kasar di bahu, melompati kobaran api.
Udara luar sangat dingin, tapi ia tidak merasakan apa-apa kecuali kelegaan. Saat Naruto menurunkannya di tanah, ia berdiri untuk kembali ke dalam—hanya untuk mendapati kakinya bergetar dan ia tidak dapat bergerak. Ia menatap sekeliling bingung, mencari-cari Sasuke—tapi pria itu tidak di sana.
Pasien-pasien. Buku. Kamarnya.
Kamar mereka.
"Kukira mereka mati di dalam sana, yeah. Kita mengisi tempat itu dengan propane."
"Terserah. Kita hanya harus membunuh mereka sekarang." Kepalanya sontak menoleh ke asal suara, dua emosi yang pernah terasa sangat tidak asing bergejolak dalam dirinya—ketakutan dan kemarahan.
"Apa yang kalian inginkan?" tuntut Naruto.
Deidara memiringkan kepalanya. "Itachi mati, yeah. Apa kau tahu siapa yang membuuhnya? Sasuke. Tepat, sungguh—sejak Itachi merupakan alasan orang tua mereka mati. Bocah itu tidak pernah membiarkannya."
Ia duduk di tanah, tak sanggup berdiri, tak dapat melakukan apa-apa.
"Orang-orang mati di Akatsuki setiap saat," Naruto menggeram, satu tangannya berada di sabuk, di mana ia tahu terdapat pistol. "Maksudku, ada Orochimaru—"
"Diam," ucap Hidan penuh penghinaan, membersihkan telinganya dengan jari. "Bisa kita musnahkan kau sekarang?"
"Tutup mulutmu!"
Deidara mengangkat bahu, bibirnya mengembangkan seringai menyeramkan. "Aku punya dua granat tersisa. Ayo lakukan in—" dia berhenti, di tengah kata, ketika bunyi sebuah tembakan menembus udara. Untuk sesaat, pria itu tersedak, memuntahkan darah—sebelum jatuh ke tanah, tak bernyawa.
(sasuke?)
.
.
To be continued…
