Naruto © Masashi Kishimoto
SasuHina
.
WARNING! OOC/GAJE/ABAL/TYPO/EYD AMBURADUL
DON'T LIKE DON'T READ!
Happy Reading
.
.
.
~ Princess Hour ~
.
.
.
Hinata menatap komputernya, matanya kosong walaupun huruf-huruf berderet rapi dalam monitornya, kursor yang berkedip-kedip bahkan tidak mengganggu sama sekali aktivitas melamunnya.
Sudah tiga hari ini atasannya yang menurutnya sinting sampai ubun-ubun itu tidak memberikan perintah apapun padanya, tidak sesuai dengan perkiraannya. Harusnya dia bersyukur karena kehidupannya kembali tenang, tidak ada perintah tidak jelas lagi dan tidak ada alasan lagi untuk kakinya lecet saking seringnya bolak-balik ke ruangan atasannya. Tapi ia tak bisa menghilangkan bayangan hari terakhir ia bertemu dengan atasannya itu. Tercetak jelas dalam otaknya bagaimana setiap detail dia berada disana, pembicaraan mereka, pertengkaran mereka dan itu selalu menjadi film pendek yang sering berputar di setiap waktu yang ia tidak bisa duga-duga.
Untuk pertama kalinya, ia merasa kehidupan atasannya itu tidak sesempurna yang orang-orang bicarakan. Ia malah berpikir pria itu menyedihkan. Benar kata gurunya sewaktu ia mengenyam sekolah tinggi dulu, tidak ada kehidupan yang sempurna, mungkin ada orang yang sukses dalam hal uang dan jabatan, namun dalam percintaan mereka bisa saja gagal total. Dan Sasuke Uchiha adalah contoh nyatanya.
Rumor mengatakan atasannya itu tengah berada dalam perjalanan dinas ke luar negeri. Memikirkannya, kenapa ia jadi semakin simpatik saja dengannya ya? Dengan patah hati seperti itu, ia harus bekerja keras dan bersikap seolah-olah semua baik-baik saja. Kalau ia jadi atasannya, ia sih langsung mengosongkan jadwal dan bermalas-malasan di kamar, masa bodoh dengan pekerjaan. Pemulihan perasaan lebih dipentingkan menurutnya.
"Hinata!"
Akhirnya setelah empat panggilan gagal, Kiba bisa mengembalikan temannya ini ke dunia nyata, menyadarkannya.
"Apa?" tuntut Hinata dengan malas. Kesal karena waktu melamunnya diganggu.
"Kau— apa yang kau pikirkan huh?" tunjuk Kiba tepat di kepala Hinata, Kiba tentu ikut kesal, kenapa juga ia yang selalu disalahkan?!
"Seks."
Bola mata Kiba bahkan hampir melotot mendengar jawaban Hinata yang kelewat santai. Hei mana bisa begitu?! Itu kan kata tabu!
"Ada apa kau memanggilku?" mengabaikan pikiran konyol pria itu yang tercetak jelas diwajahnya, Hinata masih tidak terima dengan panggilan tadi. Memangnya ada urusan penting apa?
"Apa?" Hinata kembali mengulang dengan raut kesal.
"Oh benar. Kau diminta untuk mengirimkan berkas ini ke direktur riset dan pengembangan."
Hinata mengerutkan dahinya. "Siapa direktur riset dan pengembangan?" wajah bodohnya ia tunjukkan. Ia mana tahu orang itu?! Dia kan baru seminggu disini.
Kiba mendecak. "Direktur Sasuke Uc-."
Dia sudah pulang?!
"Oke!" Dengan gerakan secepat kilat berkas yang di tangan Kiba sudah berpindah tempat di tangan Hinata. Perempuan itu tanpa memerlukan penjelasan lebih lanjut langsung pergi menjalankan tugas tanpa berkomentar apapun, membuat si pembawa pesan menatapnya heran bukan main.
"Ada apa dengannya?" Kiba tak bisa menyembunyikan keheranannya.
Matanya melebar ketika otaknya memberikannya kesimpulan.
"Sex dengan direktur?!" Ia otomatis membekap mulutnya sendiri karena kesimpulannya keluar begitu saja dari mulutnya. Hei! Dia baru seminggu! Mana bisa begitu?!
.
.
.
"Menurutmu, apa yang sudah kau lakukan huh?!"
Suara perdebatan membuat Hinata mengurungkan niatnya masuk ke lift. Mengabaikan bahwa atasannya mungkin sudah menunggu berkas yang ia bawa.
"Maafkan saya, direktur."
Orang-orang sudah berkerubung, layaknya semut yang sedang mengerubungi gula yang jatuh ke lantai.
Hinata mencoba menerobos masuk, ingin melihat apa yang menarik atensi orang-orang disana. Ia bersyukur tubuhnya tidak begitu gemuk sehingga ia dapat menerobos masuk dan mendapatkan barisan depan.
"Aku membayarmu untuk bekerja, bukan untuk menumpahkan kopi di kemejaku!"
Direktur?!
Tunggu dulu?! Atasannya berada disini, bukan diruangannya?
Dan dia bilang apa tadi? Kopi?! Hanya karena kopi dia semarah ini?!
"Maafkan saya, saya tidak sengaja direktur. Saya mohon maafkan saya."
Dia tahu kalau atasannya itu tengah bersedih hati karena lamarannya ditolak, tapi tidakkah ini terlalu berlebihan?
Lihat perempuan itu. Wajahnya bahkan terlihat sangat menyesal dan sampai mengemis maaf seperti itu. Ada apa dengannya? Apa dia benar-benar tidak punya hati?
"Asal kau tahu. Gajimu bahkan tidak akan cukup untuk menggantinya dan semua kesalahanmu yang sudah kau lakukan."
Kesombongan laki-laki ini memang sudah mendarah daging.
"Seharusnya aku tidak mendengarkan dewan direksi dari awal— Karen Fujii, kau dipecat!"
Cukup sudah!
Hinata dengan gesit mengambil minuman yang dibawa oleh karyawan yang berada disampingnya dan menyiramkannya pada Sasuke yang sudah berbalik meninggalkan perempuan itu yang hanya bisa terduduk saking kagetnya dengan keputusan yang atasannya itu berikan.
Semua orang memandang tak percaya.
Perbuatannya membuat keheningan luar biasa disekitar mereka.
Hinata menatap Sasuke nyalang. Punggung atasannya itu sudah basah kuyup akibat ulahnya.
"Dia sudah minta maaf! Telinga direktur bermasalah ya?"
Sasuke memutar tubuhnya. Ia tentu kenal dengan suara ini. Mau sampai kapanpun sekali pemberontak maka untuk seterusnya juga iya.
"Dan juga. Direktur kan sangat kaya! Kemeja mahal itu pasti harganya hanya sejentik kuku direktur kan?" Hinata mengucapkannya dengan mudah, semua yang disana bertanya-tanya kenapa perempuan ini begitu berani mengatakannya. Kata-kata itu sudah diproses dalam otaknya belum sih?
Sasuke mendecih tak percaya. Harga dirinya terasa digores panjang oleh perempuan ini.
"Lalu juga, atas dasar apa direktur memecatnya? Dia bahkan tidak melakukan suatu kejahatan kerja yang merugikan perusahaan? Atau jangan-jangan kemeja direktur juga termasuk aset perusahaan?!"
Mulut perempuan ini dari awal memang tidak pernah ada manis-manisnya. Sasuke tidak habis pikir bagaimana mulut itu bisa bersuara tanpa mengolahnya terlebih dahulu dari otaknya. Kalau begini ia tidak ragu lagi kalau otak perempuan itu tidak pernah naik ke atas, masih di bawah lutut sejak bayi.
"Kau tahu siapa yang kau bela?"
Hinata menggigit bibir sebentar. Benar juga. Ia tak mengenalnya. Tapi anggap saja dia temannya. Mereka kan sama-sama manusia. Semua manusia berhak untuk dibela kata ayahnya. Jadi ini adalah sebuah kebenaran.
"Tidak. Tapi dia karyawan juga, itu berarti dia temanku."
Kaki laki-laki itu mendekat. Dan ia tidak ingin mundur. Ia pernah di posisi yang sama seperti ini dan ia tidak akan jatuh untuk kedua kali! Dia akan menunjukkan pada pria ini bahwa jabatannya tidak berpengaruh sama sekali dengannya.
Pria ini entah mengapa terasa menjulang tinggi dihadapannya. "Kau—" Sasuke menarik sudut bibirnya ke atas. "naif."
Entah dorongan dari mana, tapi air ludahnya memaksa turun ke bawah tenggorokannya tanpa ia perintah.
"Aku beritahu. Tahun 2016 dia pernah menghilangkan berkas program hubungan kerja dengan perusahaan retail. Awal tahun 2017 dia tertangkap basah memiliki hubungan dengan salah satu dewan direksi. Dan bulan kemarin ia melakukan pembocoran program ke perusahaan lain. Itu hanya sebagian kecil. Apa perlu kujelaskan yang lain lagi, nona Hyuuga?"
Wajah Hinata pucat pasi. Pasalnya perempuan yang ia bela menunjukkan ekspresi yang menambah keyakinannya kalau apa yang atasannya katakan memanglah kebenaran yang ada.
"Sudah kubilang. Kau—" Sasuke berbisik ditelinganya. "naif, Hinata Hyuuga."
"Kau tahu itu artinya apa?"
Hinata menggertakan giginya, menahan kesal melihat seringaian pria itu. "Nona Hinata Hyuuga, kau dipecat."
.
.
.
Hinata mengangkat kardus yang sudah berisikan barang-barangnya. Wajahnya menekuk sejadi-jadinya. Kesal setengah mati. Dia bersumpah tidak akan menginjakkan kakinya lagi ke perusahaan sialan ini! Perusahaan ini sudah menjadi daftar hitam dikehidupannya! Jangan harap dia akan mengembalikannya ke daftar putih miliknya!
Ino dan Kiba mengekorinya dengan wajah khawatir.
"Hinata—"
"Berisik."
Ya Ampun. Temannya benar-benar marah besar. Tapi memang alasan pemecatannya tidak masuk akal sama sekali sih!
"Kau—mau kemana?"
Hinata berhenti, menghembuskan nafas kasar. Walaupun yang ada dihadapannya ini adalah orang yang ia sukai tapi itu tidak bisa membuat perasaannya lebih baik. Perasaan kesal masih mendominasi.
"Aku senang bertemu dengan ketua tim. Anda definisi dari kebaikan tanpa batas. Terima kasih. Tapi, aku harus pergi."
Dia ini bicara apa?
Tentu Sai berpikir seperti itu! Bahkan Ino dan Kiba juga berpikiran yang sama. Dilihat dari mana saja perkataannya itu ambigu sekali kan?
Hinata semakin menekuk wajahnya, pasalnya Sai terus menghalangi jalannya. Mengambil jalur kiri, Sai ikut ke kiri. Mengambil jalur kanan, laki-laki itu pun ikut ke kanan. Begitupun arah yang lain.
"Ketua tim?!" Hinata tidak bisa menahan seruannya. Ino mendelik, tidak habis pikir kenapa semakin berani saja temannya ini pada semua atasannya, apalagi dengan atasan yang ia sukai. Kalau Kiba, jangan ditanya lagi, dia sudah melotot sejadi-jadinya sambil menutup mulutnya, sudah seperti adegan-adegan yang ada di sinetron pagi. Dasar tukang overact!
"Katakan kemana kau akan pergi."
Ino tak bisa menyembunyikan rasa irinya. Hinata bilang ia tidak pernah sedekat itu dengan ketua tim? Tapi apa yang ia lihat?! Dasar penghianat!
Ia ingin marah, tapi ia juga sedih melihatnya pergi dari sini. Pasalnya ia sudah merasa cocok sekali dengan Hinata. Kepribadian mereka cocok sekali. Dan kesukaan mereka juga tidak berbeda jauh. Jalan pikiran mereka juga satu jalan. Kalau Hinata keluar, siapa teman satu kapalnya?
"Ke tempat yang tidak ada sepupu Anda." Wajahnya sudah bertekuk-tekuk mengatakannya.
"Direktur Sasuke memecatmu?" Sai menyimpulkan, dan ia harap itu tidak benar.
"Tidak dipecatpun aku akan keluar dari sini!" Dan Hinata akhirnya bisa melewati Sai tanpa banyak perlawanan yang menjengkelkan. Ino dan Kiba ikut mengejar Hinata, sebelumnya mereka tidak lupa membungkuk dan meminta maaf pada Sai atas kelakuan tidak sopan teman mereka.
"Hinata!"
"Ya Ampun, kalian berisik sekali." Hinata sudah dongkol. Bahkan sampai keluar perusahaan saja mereka berdua masih mengekorinya.
"Bagaimana kau bisa pergi begitu saja?" Kiba mencoba menahan temannya ini.
Hinata mengangkat kardusnya tepat di depan laki-laki tinggi itu. "Kau buta?! Aku dipecat!" ujarnya hampir berteriak keras. Masih sadar kalau mereka menjadi bahan tontonan orang-orang dan tidak ingin menambah pasang mata untuk melihat mereka.
"Kita akan mencoba bicara dengan direktur untuk membuatmu kembali!" Ino akhirnya buka suara.
"Itu benar! Jadi jangan pergi." Kiba menimpali, memandangnya semeyakinkan mungkin.
Ia terdiam. Terasa tersentuh akan pemikiran temannya yang bahkan baru dikenalnya selama seminggu ini.
Ia membuang nafas pelan, kemudian menatap mereka dengan tersenyum simpul. "Terima kasih. Tapi aku tidak ingin kalian juga ikut didepak dari sini."
"Membuat masalah dengan direktur sinting itu sama saja dengan membuka gerbang ke neraka. Jangan menahanku. Direktur itu psikopat sampai sel darah. Kalian tidak akan mau berurusan dengannya jika tidak ingin berakhir sepertiku." Lanjut Hinata.
"Lalu, kau akan kemana setelah ini?" tanya Kiba setelah memikirkan apa yang dikatakan Hinata itu benar juga.
"Pulang, tidur." Jawab Hinata santai.
"Maksudku perkerjaan." Kiba menyela tidak sabaran. Ino menepuk pelan lengan laki-laki itu. "Jangan pikirkan perkataannya. Aku akan membantumu mencari pekerjaan baru."
"Ah, aku juga! Aku akan memberitahumu seputar lowongan kerja di Tokyo selama 24 jam tanpa henti!"
Satu detik sebelumnya laki-laki itu menatap jengkel padanya, dan sedetik kemudian menyetujui perkataan Ino dengan menggebu-gebu layaknya jendral yang tengah disumpah untuk kenaikan jabatan. Dasar penyembah sinetron pagi!
"Kalau sampai kau tidak memberitahuku, akan kupenggal kepalamu itu!"
"Santai saja. Jika dia tidak melakukannya, maka aku juga akan membantumu untuk memenggal kepala tukang bual ini."
Kiba mendelik. Kedua temannya bersatu padu untuk membunuhnya!
"Yang benar saja. Kalian berdua pasti putri yang terpisah."
.
.
.
"Kau memecatnya?!"
"Siapa?" seingatnya hari ini ia memecat tiga orang.
Nafas Sai memelan. Sedikit merasa aneh ketika ia berakhir berdiri disini dan memikirkan nama yang akan ia sebutkan.
"Hinata Hyuuga."
Sasuke menaikkan alisnya, kemudian menutup laptopnya. Tidak biasanya sepupunya ini mencampuri urusannya. Terdengar menarik.
"Ada masalah dengan itu?" kedua tangannya terlipat di dada sembari memundurkan punggungnya hingga bersandar pada kursi putarnya.
"Dia anggotaku, di devisiku."
"Lalu?"
"Kau tidak bisa begitu saja memecatnya."
Alisnya semakin terangkat. "Kenapa tidak?"
"Seharusnya kau membicarakannya dulu denganku. Aku juga punya hak untuk mempertahankan anggota timku."
Sasuke mencondongkan tubuhnya, menyatukan kedua tangannya didepan dagunya, semakin tertarik akan topik ini. "Dan aku juga punya hak untuk memecat karyawanku tanpa mempertimbangkan pendapat orang lain jika karyawanku membuat kesalahan."
"Maafkan aku. Tapi apa kesalahannya? Dia bahkan baru seminggu disini."
Sasuke bertanya-tanya, apakah sepupunya ini akan mengemis padanya untuk mengembalikan perempuan berotak di bawah lutut itu.
"Apa ini hanya karena dia membela Karen Fujii?"
"Dia tidak tahu betul kesalahan perempuan itu. Ia hanya mengikuti perasaan ingin membela saja waktu itu."
Dan Sasuke bisa melihat kesungguhan di mata sepupunya itu ketika mengatakannya.
"Apa yang membuatmu begitu membelanya? Katakan padaku dan aku bisa mempertimbangkannya lebih jauh."
Sai terdiam, bungkam seketika.
Benar. Sebenarnya apa yang mendasari dirinya untuk membelanya sampai sejauh ini? Atas dasar apa? Dia bahkan belum mengenal benar perempuan itu. Bagaimana kinerjanya selama ini, ia juga tidak tahu. Bagaimana kegigihannya dalam bekerja, ia juga belum bisa menyimpulkan bulat-bulat. Apa kesalahan yang membuat sepupunya itu memecatnya, ia juga tidak ingin percaya pasti. Jadi untuk apa?
Dari sekian banyak pertanyaan yang ada dikepalanya, hanya ada satu pertanyaan besar yang membungkam dirinya.
Apa alasan dirinya membela seorang Hinata Hyuuga?
.
.
.
Hinata menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Memikirkan kehidupannya yang semakin pelik setiap harinya. Hutang ayahnya, Hanabi yang semakin uring-uringan, ayahnya yang sudah seperti hidup segan matipun tak mau, dan sekarang dia kehilangan pekerjaan. Masih ada yang ingin ditambahkan lagi?
Nafasnya terhembus pelan dengan teratur. Setiap tarikan memberikan bekas suara, membuat tubuhnya semakin memberat di ranjang. Benar kata orang, tidak baik terlalu sering menghela nafas, itu hanya semakin memberatkan beban hidup. Tapi ia tidak bisa begitu saja menghentikan helaan nafasnya jika memikirkan kepelikan masalah hidupnya. Semuanya terasa mencekik lehernya tanpa sebab. Ia perlu tambahan oksigen.
Ayahnya tak mengatakan apapun mengenai pemecatannya. Hanya tersenyum simpul dan memberikannya pelukan singkat tanpa ingin tahu kesalahan apa yang telah ia buat. Semakin membuatnya ingin mengubur dirinya hidup-hidup saking kecewanya dengan dirinya sendiri.
Sekarang, apa? Ia bertanya-tanya tanpa henti.
Tadi ia benar-benar marah hingga ia tidak sadar kalau seharusnya ia mempertahankan pekerjaannya tanpa perlu memikirkan harga dirinya. Dasar gadis sombong!
Tapi itu memang benar-benar melukai harga dirinya. Dia tidak bisa kembali kesana dan mengemis-ngemis pekerjaan pada pria sinting itu! Tidak akan!
Tapi ia juga butuh uang!
Tapi, tidak! Tidak akan! Sampai mati ia juga tidak mau menjilat kaki laki-laki itu! Memangnya semua uang hanya berputar di laki-laki itu?! Ada tempat lain kok untuk mengumpulkan uang!
Dia akan mencari pekerjaan besok. Sekarang ia hanya perlu tidur dan melupakan segalanya.
Tidak ada badai yang abadi. Ia percaya itu.
"Hinata."
Kelopak matanya terpaksa terbuka mendengar suara ayahnya dari balik pintu.
"Iya, ayah?"
"Keluar. Kita makan bersama."
Akhir ini ia jarang sekali bertengkar dengan ayahnya, tidak ada adu argumen, tidak ada nasehat dan petuah untuknya, tidak ada larangan, tidak ada peraturan dan ayahnya juga selalu bicara dengan nada rendah padanya. Sesuatu yang ia inginkan selama ini, tapi juga sesuatu yang membuat dirinya merasa aneh dan biru tanpa sebab yang pasti. Hidupnya tidak sebegitu menarik seperti sebelumnya. Ini terlalu tenang. Dia tidak terbiasa.
Tidak ingin membuat ayahnya menunggu, ia segera menyusul ke ruang makan. Hanabi sudah ada disana, mengaduk-aduk makanannya tanpa selera. Gadis itu masih marah rupanya.
Ia menarik kursi di depan adiknya. Meliriknya sebentar, kemudian mengambil makanan sebanyak mungkin. Ia hanya ingin ayahnya merasa senang dan ingin membuat selera makan adiknya bertambah karenanya dan juga karena ingin menunjukkan bahwa ia baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Makan yang benar." Komentarnya pada adiknya ketika melihat adiknya masih bermain dengan makanannya.
Dentingan sendok yang tiba-tiba, mengagetkan mereka.
"Dan kakak masih bisa makan selahap itu di tengah masalah yang menimpa kita?!"
Hanabi menatapnya marah.
"Hanabi." ayah mencoba menghentikan.
"Kakak itu tidak berguna!"
"Hanabi Hyuuga!" ayahnya naik pitam, ia tahu adiknya sudah melewati batas. Tapi ia tak ingin menghentikan kemarahan adiknya. Ingin tahu apa yang akan adiknya katakan lagi padanya.
Ia menyentuh pelan tangan ayahnya, menghentikan ayahnya untuk bersikap lebih pada adiknya.
"Kalau kakak serius dengan pekerjaan kakak! Tidak selalu membuat masalah, pasti kita tidak akan berakhir seperti ini!"
Hanabi berdiri, menatap nyalang kakaknya.
"Kakak dipecat lagi dan sekarang kita harus menjual rumah ini! Tidak akan ada yang tersisa!"
"Mengertilah nak, kita membutuhkannya." Ayahnya mencoba memberikan pengertian pada anak bungsunya.
"Ayah yang tidak mengerti!"
Cukup! Tidak ada yang boleh berteriak kasar pada ayahnya, termasuk juga adiknya.
"Hanabi Hyuuga!"
"Kakak juga tidak mengerti kan?!"
Air mata adiknya yang ditahan di pelupuk matanya akhirnya jatuh juga. Tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang begitu marah akan keadaan keluarganya.
"Hanya rumah ini yang tersisa dari kenanganku bersama ibu!"
Akhirnya Hinata tahu kenapa adiknya bersikeras untuk tidak menjual rumah ini, dari awal adiknya itu memang tidak mengatakan alasan yang jelas, terus marah dan uring-uringan pada mereka. Dan sekarang terungkaplah sudah.
"Dan sekarang kita harus menjualnya! Aku tidak tahu lagi bagaimana aku harus mengingat ibu."
Hanabi menatapnya kalut. "Kakak mana mengerti perasaanku? Kakah pasti mengingat jelas bagaimana rupa ibu dan kenangan-kenangan yang sudah kakak buat bersama ibu. Tapi bagaimana denganku? Jika tidak dibantu gambar, mana tahu aku rupa ibu?!"
"Setiap sudut rumah ini mengingatkanku akan kenanganku pada ibu. Tidak begitu jelas, tapi itu membantu. Kalau rumah ini dijual, kenangan apa yang tersisa untukku?!"
"Aku benci kalian!"
Dan adiknya berlari ke kamar, membanting pintu dan mengunci rapat-rapat kamarnya. Hinata hanya bisa menghela nafas. Kalau begini sudah pasti mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Adiknya akan mengurung diri sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Mereka hanya bisa menunggu sampai amarah adiknya itu mereda.
"Aku ingin keluar sebentar."
Ayahnya hanya menganggukan kepala. Tidak ingin berpikir lebih berat lagi. Semua berada di titik paling bawah. Mereka bisa meledak kapan saja seperti bom waktu. Dan jika itu terjadi, ia tidak ingin meledak di rumah. Sudah cukup perdebatan dalam keluarga kecil mereka.
Hinata mengeratkan jaketnya. Ia ingin berjalan-jalan tanpa tujuan pasti. Hanya mengikuti kemanapun kakinya melangkah. Mengabaikan masalahnya barang sejenak. Dia butuh ruang sendiri.
Dia mungkin sudah berjalan setengah jam lebih, dan berita kerennya ia tidak tahu tempat apa yang sekarang ia tapaki. Walaupun seperti itu, ia tidak takut untuk tersesat. Ia hanya perlu berjalan di arah yang sama seperti tadi.
Langkah kakinya akhirnya berakhir di toserba kecil. Perutnya berteriak minta diisi. Itu tentu tidak mengherankan, ia belum selesai menyelesaikan makan malamnya tadi. Jadi sebuah ramen instan dan soju kaleng terlihat sebagai opsi terbaik kali ini.
Ramennya mengepul, menyentuh wajahnya hingga membuat pemandangannya berkabut. Tapi ia tidak peduli, rasa laparnya tidak bisa ditekan lagi.
Sembari memakan ramennya, matanya bergerak berkeliling ke jalan. Semua orang tampak sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Sepasang kekasih melewatinya, berjalan sembari bercengkrama layaknya semua kebahagiaan berada di sisi mereka. Ia bertanya-tanya, apakah semua orang bisa tersenyum dengan beban masalah yang ada di punggung mereka? Atau itu hanya sebuah pelarian? Atau mereka benar-benar bahagia tanpa memikirkan masalah mereka?
Semakin ia menelan ramen ketenggorokannya. Semakin banyak juga pertanyaan yang entah kenapa mendadak mampir kekepalanya.
Apa itu manusia? Apa itu bahagia? Apa itu kesedihan? Apa itu masalah? Apa itu takdir?
Dia tidak bisa berpikir jernih akan jawabannya. Padahal itu hanya sebuah pertanyaan pendek yang terdengar begitu sederhana. Kenapa ia tidak bisa menjawabnya?
Ponselnya yang ada di meja bergetar, mengeluarkan cahaya kerlap-kerlip dari dalam layar. Sebuah panggilan datang.
"Ya, halo ayah?"
"Hinata. Pulang sekarang juga!"
.
.
.
Maaf ngaret ya updatenya /pundung/ Mood swing aku buat nulis parah :'V
Terima kasih spesial pakai telor buat kalian, Roro85, Bernadette Dei, Karlina, Miss Zaslavski, Anonym, uchihalyly, dwi nurhayati.
Makasih atas dukungan kalian semua.
Aku harap kalian punya hari yang indah :)
