Chapter 6 – The Mouth

Bibirnya sangat lembut, tapi ciumannya sangat kasar dan memaksa, menuntut mulutku melakukan hal yang sama. Dia mendorong lidahnya kedalam mulutku, merintih ketika bertemu dengan lidahku. Aku merengek. Aku sedang berciuman mesra dengan bosku. Aku setengah hati mendorongnya menjauh dariku, tapi tidak benar-benar berusaha. Tangan-tangannya menjelajari seluruh tubuhku, seolah-olah mencoba untuk menemukan tempat yang tepat untuk disentuh. Tangan kanannya mencengkram rambutku dan mendorongku mendekatinya, sedangkan yang satunya mengangkat kakiku dan melingkarkannya dipinggalnya.

Aku bisa merasakan semuanya sekarang, sesuatu yang keras menempel bagian terlarang diantara kakiku. Perasaan ini membuatku merengek penuh gairah. Ketika rasanya seperti aku hampir kehabisan napas, Edward menjauhkan mulutnya dariku dan segera menciumi leherku, ditambah dengan jilatan dan hisapan pada kulitku.

Aku harus menghentikannya. Kita tidak bisa melakukan ini. Dia adalah bosku. Aku bisa membayangkan kemarahan ayahku ketika dia mengetahui kalau aku ada apa-apanya dengan salah satu pegawainya.

"Edward," kataku, berusaha untuk mengambil perhatiannya, tapi itu malah terdengar seperti erangan. Dia malah merintih dan dengan lembut menggigit pertemuan antara leher dan tulang dadaku. Aku menutup mataku.

Tidak.

"Edward," aku mencoba lagi, mengambil kendali pada suaraku. Aku mendorong dadanya, memaksanya untuk menjauh. "Edward, hentikan."

Dia menjauh dari leherku, dan menatapku dengan mata yang penuh nafsu. Disaat itu, tidak ada hal lain yang kuinginkan selain kembali menciumi bibirnya, tapi akal sehatku memenanginya.

Aku menjauhkan tangannya dari pahaku dan melepaskan kakiku dari pinggangnya. "Apa-apaan itu?"

Dia mengambil langkah kecil kebelakang, tapi tetap mengintimidasiku dengan ketinggiannya. "Aku tidak bisa menjauh lagi darimu."

Aku menganga padanya, akan kehilangan kata-kata. "Tapi…kau adalah bosku!"

Matanya yang menyala, membuat napasku tercekat ditenggorokan.

"Jadi?" tanyanya dengan marah. "Kita tidak memiliki aturan yang menentang hubungan dalam perusahaan."

"Ya, tapi..." Aku tergagap, berusaha keras untuk memikirkan alasan lain. Aku tidak bisa membiarkan ini berlanjut – ayahku tidak akan ragu untuk memecat Edward, dan belum lagi kemarahan Alec.

"Ini aturanku sendiri," kataku, melototi pria tampan didepanku.

"Itu omong kosong, Jane," sergahnya, melangkah maju dan mendorongku lagi kedinding. "Aku tahu kau menginginkanku."

"Kupikir kau salah mengenaliku sebagai Bella," bisikku, terhipnotis oleh matanya penuh nafsu.

Dia menyeringai kearahku, tangannya menyentuh wajahku dengan lembut. Dia membungkuk perlahan, memberiku kesempatan untuk mendorongnya, tapi aku tidak melakukannya. Bibirnya menyentuh bibirku dengan lembut, membujukku untuk membalasnya. Pada saat itu kupikir otakku rasanya akan melebur dan keluar dari telingaku. Lidahnya dengan lembut mulai menjelajahi mulutku, ciuman ini sangat berbeda dengan ciuman pertama kami tadi. Tangannya merangkul dipinggangku, menekan tubuhku padanya. Tanpa sadar, aku menggigil, perasaan yang dia timbulkan membanjiri tubuhku. Aku mengangkat tanganku dan mulai menyentuh rambutnya, menarik-nariknya. Dia mengerang pada apa yang kulakukan, dan menghentikan ciumannya.

"Aku tidak akan berhenti jika kita melakukannya lebih jauh lagi," katanya, tatapannya merasuk kedalam jiwaku. Aku masih sedikit terengah-engah dari ciuman itu, tapi kurangnya kontak antara kulit kami membawaku kembali pada kesadaranku.

"Benar," kataku kasar, jengkel oleh kekuasaannya terhadap tubuhku. "Aku pasti tidak akan tidur denganmu." Aku mendorongnya dariku dan menjauh dari dinding tempatku bersandar. "Jika kau ijinkan aku, aku akan pergi mencari pria yang tadi berdansa denganku. Dia adalah orang yang aku mau tidur denganku." Aku belum sempat mengambil dua langkah menuju lantai dansa ketika aku ditarik kembali dan terperangkap, sekali lagi, oleh tubuh Edward.

"Kau tidak akan melakukan hal seperti itu," geramnya, dengan kedekatannya aku bisa merasakan napasnya berhembus diwajahku. "Kau milikku," dia mengangkat kakiku dan melingkarkannya dipinggangnya lagi. "Dan jangan pernah berpikir untuk berdansa dengan orang lain selain aku."

Sekali lagi, aku tak bisa bicara, sisi posesifnya benar-benar memicu api didalam perutku.

"Aku menginginkanmu sejak saat kau melangkah ke ruanganku," Edward bernapas, membungkuk untuk menyondol leherku. "Kau begitu cantik, hari itu…aku tahu aku harus membuatmu menjadi milikku."

Aku menggigil, dan dalam pikiranku, itu pasti. Aku harus mengatakan padanya kalau aku bukan Jane Roland. Dia tidak layak untuk dibohongi, hanya untuk taruhan konyol. Jika aku bisa memberitahu siapa diriku dan tetap melakukan taruhan ini, aku akan melakukannya. Dan pada saat ini, itu adalah kemungkinan yang sangat nyata.

"Edward?" tanyaku, aku terdengar seperti pemalu dan tidak seperti diriku.

"Ya?" Dia mencium leherku.

Aku memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. "Namaku yang sebenarnya bukan Jane Roland."

Dia mengangkat kepalanya dari bahuku untuk menatapku. "Apa maksudmu?"

Bibirku melengkung membuat senyum sedih. "Namaku Jane Volturi. Aku putrinya Aro."

Dia menganga padaku, tanpa sadar mencengkram bajuku di tangannya. "Kau ... kau anak bosku?"

Aku mengangguk, tersenyum malu-malu. "Terkejut?"

Dia melangkah mundur dariku, tangannya melepaskan cengkeramannya pada tubuhku. "Kenapa kau berbohong sebelumnya?"

"Nah, kau tahu," aku memulai. "Ini sebenarnya cerita yang benar-benar lucu. Jadi, saudaraku Alec bertaruh sepuluh ribu dolar bahwa aku tidak akan bisa bertahan selama sebulan bekerja didunia luar, karena kami selalu mendapatkan perlakuan terbaik mengingat siapa kita sebenarnya. Ayahku tidak terlalu senang, tapi dia membiarkanku bekerja dengan nama samaran. Ini sebenarnya hanya nama ibuku," jelasku, mengintipnya dengan cemas.

Dia mengusap rambutnya, dan aku tidak bisa menahan untuk berharap kalau itu adalah tanganku yang melakukan hal itu. "Jadi ... kau putri bosku?"

Aku mengangguk.

"Dan kau bekerja untukku?"

Aku mengangguk lagi.

"Kau bisa mendapatkan pekerjaan apapun diseluruh perusahaan – kau bahkan bisa menjalankannya, jika kau menginginkannya!"

Aku mengangguk untuk ketiga kalinya.

"Jadi mengapa kau melakukan ini?"

"Sepuluh ribu dolar, Edward. Aku tidak pernah melewatkan kesempatan untuk membuktikan saudaraku salah. Selain itu, aku mendapatkan lebih banyak keuntungan untuk sekolahku, dan aku bisa lulus lebih cepat."

"Jadi Tuan Volturi menjaminmu dengan pekerjaan ini karena kau putrinya?" tanyanya.

"Ya. Itu berhasil, berhubung aku tidak pernah melangkahkan kaki ke salah satu kantor ayah sebelumnya."

Sekali lagi, Edward mengusap rambutnya yang sudah berantakan itu. Dia jelas frustrasi, dan aku merasa buruk karena menjadi penyebabnya.

"Apa kamu akan memberitahu hal ini pada orang lain?" tanyaku, bersiap untuk menendangnya jika dia membongkar rahasiaku.

Dia menggeleng. "Kau tidak melakukan sesuatu yang ilegal, dan aku akan melakukan hal yang sama jika saudaraku menantangku." Sudut-sudut mulutnya terangkat membentuk sebuah senyum, dan aku segera tersenyum kembali padanya.

"Kau tidak marah padaku, kan?" tanyaku malu-malu, tidak berani mendengar jawabannya untuk pertanyaan itu.

Dia menggeleng, menggegam tanganku lagi dan persaan lega membanjiri tubuhku.