The Destiny
Summary:: Takdir yang harus Kyuhyun dan Sungmin lalui kini tengah mempermainkan mereka. Kehidupan dan cinta mereka yang seharusnya berakhir bahagia, kini telah diubah menjadi hal yang sangat rumit. Tugas berat bagi cupid Leeteuk dan cupid Kangin yang harus diselesaikan dengan tuntas.
Pair:: Kyumin, Zhoury, Kangteuk and other
Rated:: T
Warn:: BL, Typo(s)
Genre:: Romance, sedikit Humor
Annyeong~! Mian kalau lama.. Alasannya juga sama kayak di Uke VS Seme, lagi males megang laptop.. *dihajar readers*
Oke, oke.. Author minta maaf. Mian ya, readers..
Readers! Ini LAST CHAP, loh.. :D
Oke, langsung lanjut aja, deh…
Enjoy~!
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
"Ya! Apa yang kalian lakukan, eoh?" tanya Sungmin dengan kasar saat ia dan Kyuhyun diseret memasuki gang kecil ini.
Sungmin berdiri seraya membersihkan celananya yang kotor karena tiga namja yang berpenampilan berandalan itu tadi mendorong Kyuhyun dan Sungmin sehingga terjatuh di atas tumpukkan sampah yang ada di ujung gang itu.
"Kalian siapa?" tanya Kyuhyun dengan nada dingin. Ke tiga namja yang ada dihadapan mereka kini terlihat seperti anak kuliahan. Dan.. Wajah mereka bertiga juga tidak terlihat asing bagi Sungmin.
"Kalian berdua tidak mengingat kami?" tanya salah satu dari ke tiga orang itu. Kyuhyun menggelengkan kepalanya, sedangkan Sungmin mengerutkan keningnya.
"Kalian…" Ke tiga namja itu menyeringai saat Sungmin bersuara.
"Kalian yang-"
"Ne, kami bertiga yang tiga tahun lalu kalian hajar hingga tulang tanganku patah," Sungmin menatap ke tiga namja itu dengan tatapan tajam. Sedangkan Kyuhyun, ia terlihat baru mengingat sesuatu.
"Ohh! Kalian yang tiga tahun lalu itu hampir mencuri PSPku itu, 'kan? Waahh! Sudah lama tidak bertemu," ujar Kyuhyun dengan nada sok kenal.
Tiga tahun lalu, dimana ketiga namja –yang merupakan siswa dari sekolah lain- hampir mencuri PSP Kyuhyun yang ada di dalam tas.
Saat ke tiga namaj itu hampir beranjak dari tas Kyuhyun, Sungmin tanpa sengaja melihat itu dan langsung menghajar ke tiga namja itu.
Meskipun saat itu umur Sungmin masih 14 tahun dank e 3 namja itu sekitar 19 tahunan, kekuatan Sungmin lebih besar dari kekuatan 3 namja itu. Ditamabah lagi dengan Kyuhyun yang baru kembali dari ruang guru yang ikut menghajar ke 3 namja asing itu. Kyuhyun dan Sungmin tidak pernah bertemu dengan 3 namja itu lagi setelah mendapatkan kabar bahwa setelah perkelahian itu, ke 3 namja itu masuk ke rumah sakit.
"Ingin merasakan kembali indahnya rumah sakit, ya?" tanya Kyuhyun dengan senyum evil yang terpampang di wajahnya.
Entah kenapa, aura yang kali ini Kyuhyun keluarkan membuat Sungmin merinding.
Kyuhyun menggeretakkan jari-jarinya. "Kebetulan, aku sedang ingin menggunakan kepalan tanganku setelah sekian lama tidak berkelahi," ujar Kyuhyun.
Ke tiga namja itu kembali menunjukkan seringainya. "Kau pikir kami menyeret kalian ke sini untuk apa? Meminta maaf? Heh, kami ke menyeret kalian ke sini justru untuk balas dendam,"
"Kau terlalu banyak bicara kalau ingin balas dendam!" seru Sungmin seraya melayangkan kepalan tangannya ke arah namja yang tadi sedang bicara dan tepat mengenai pipi kanan namja itu.
"Aissh! Dasar anak kecil!" Kepalan tangan namja itu hampir saja mengenai wajah Sungmin saat Kyuhyun dengan cepat menangkap tangan namja itu.
"Kau terlalu payah untuk memukul anak kecil, orang tua!" balas Kyuhyun dengan marah seraya memukul namja itu.
Namja itu mengelap sudut bibir kanannya yang berdarah akibat terkena 2 kali pukulan yang keras.
Sungmin terlihat bingung saat Kyuhyun terlihat marah melihat namja itu hampir saja memukulinya.
"Kenapa kalian berdua diam saja? Hajar mereka!" perintah namja itu pada ke dua temannya yang hanya berdiri diam di sampingnya. Ke dua temannya itupun melawan Kyuhyun dan Sungmin. Sementara namja tadi yang diketahui sebagai ketua di antara mereka bertiga hanya berdiri menonton perkelahian itu hingga saat Kyuhyun lengah dan berjalan mundur mendekati namja itu.
Namja itu mengambil tongkat baseball yang ada di dalam tasnya dan siap memukulkan tongkat itu ke Kyuhyun.
Namun sayang, saat tongkat itu mengarah ke Kyuhyun, bukan punggung Kyuhyun yang terkena tongkat itu, melainkan punggung Sungmin.
Kyuhyun dan namja itu tampak terkejut dengan kejadian tiba-tiba itu. Kyuhyun terkejut karena Sungmin tiba-tiba dipukul dan kini pingsan di pelukkannya. Sedangkan namja itu terkejut karena Sungmin yang tiba-tiba berdiri di depannya dan melindungi Kyuhyun.
"Ya! Apa yang kau lakukan, HAH?" seru Kyuhyun dengan marah. Kini ia berusaha untuk membangunkan Sungmin. Ia menepuk-nepuk pelan pipi Sungmin.
"Ya!" teriak Kyuhyun saat ke tiga namja itu lari dari tempat itu.
.
"Mereka ada dimana?" tanya Henry dengan khawatir. Mereka kehilangan jejak Kyuhyun dan Sungmin. Di jalanan itu terdapat banyak gang, dan semua gang itu sangat panjang. Intinya sekarang Henry, Zhoumi dan Changmin salah memasuki gang, dan kini mereka tidak tahu sedang berada dimana karena di dalam gang itu memiliki banyak cabang jalan.
"Aish! Hyung, kita salah masuk gang. Dan sekarang ini ada dimana?" tanya Changmin. Ia melihat ke arah sekelilingnya. Sepi. itulah yang didapat oleh pengelihatan Changmin.
"Sebaiknya sekarang kita kembali ke jalan besar dan coba masuk ke gang yang lain," ujar Zhoumi seraya membalikkan badannya hendak kembali ke jalan besar.
Mereka bertiga terdiam saat hendak berjalan kembali.
Kini di depan mereka terdapat 2 jalan. "Tadi sewaktu kita datang ke sini, kita lewat jalan yang mana?" tanya Changmin. Henry dan Zhoumi menggeleng. "Aku terlalu khawatir pada Sungmin hyung, jadi tidak memerhatikan jalan." Jawab Henry.
"Aku hanya ikut ke mana Henry berjalan, jadi tidak tahu jalan mana yang kita lalui." Ujar Zhoumi dengan mudahnya.
Changmin mengacak rambutnya. "Aku juga hanya mengikuti ke mana Henry berjalan," ujarnya.
Mereka bertiga saling berpandangan.
"Kita tersesat."
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
Sungmin POV
Aku ada dimana? Kenapa gelap semua? Eh? Itu pintu apa?
Aku berjalan ke arah pintu besar yang berada lumayan jauh di depanku. Saat aku membuka pintu itu, sinar matahari menyeruak masuk dan menghalangi pengelihatanku.
Aku melangkah melewati pintu itu, dan pandanganku menjadi jelas. Aku ada di tepi jalan raya, tepatnya di depan sebuah restoran Italia.
Eh? Pintu besar tadi mana? Mungkinkah pintu besar tadi itu adalah pintu restoran Italia ini? Tapi itu tidak mungkin mengingat di dalam restoran itu sangat terang, sedangkan tempat yang tadi sangat gelap.
Aku lebih memilih untuk tidak memikirkan soal tempat gelap dan pintu besar itu lagi. Sekarang, perhatianku tertuju pada jalan raya yang ada di depanku. Kenapa aku ada di sini? Bukankah tadi aku…
sedang berada di sebuah gang bersama Kyuhyun dan ke tiga berandalan itu?
Aku menoleh ke arah belakang dan samping, tidak ada Kyuhyun dan ke tiga namja itu, yang ada hanya orang-orang yang berlalu-lalang.
Ini aneh. Kenapa aku tiba-tiba berada di tempat ini? Apa aku sedang bermimpi? Tapi sepertinya ini bukanlah mimpi mengingat rasa sakit yang ada di punggungku ini. Sakit dari pukulan tongkat baseball namja itu, heh?
Dasar namja gila! Memukul lawan dari belakang itu namanya pengecut! Huh!
"Sungmin hyung!" seseorang memanggilku. Suaranya tidak asing, seperti suara.. Kyuhyun?
Aku mendongakkan kepalaku yang tadi sedang tertunduk dan mencari seseorang yang tadi memanggilku.
Mataku berhenti pada sebuah objek yang sedari tadi kucari, dan benar saja, Kyuhyun berdiri di seberang jalan dengan senyum manis seraya melambaikan tangannya ke arahku.
Aku hanya membalasnya dengan senyum simpul. Syukurlah, 3 namja itu tidak melukai Kyuhyun.
Tapi lagi-lagi ada yang aneh. Kenapa Kyuhyun bisa ada di sini? Memangnya aku dan dia punya janji di sini?
Aku melihatnya berhenti melambaikan tangannya dan mulai menyebrangi jalan.
Dasar babo! Kenapa nyebrang tidak lihat-lihat?
"KYUHYUN-AH!" teriakku saat melihat tubuh Kyuhyun terlempar jauh karena tabrakan truk besar itu.
Jujur, aku terkejut. Ada yang mendesak di hati ini. Rasanya shock, takut, marah, sedih, dan sakit. Semuanya bercampur menjadi satu saat melihat Kyuhyun tergeletak di lantai dengan darah yang menggenanginya.
Sontak, aku langsung berlari ke arah Kyuhyun dan tidak menghiraukan mataku yang memanas. Yang ada di pikiranku saat ini hanya Kyuhyun.
"Kyu! Kyu! Bangun..!" Aku terus menepuk-nepuk pipinya. Cepatlah sadar! Jangan buat aku takut seperti ini. Jangan bercanda! Saat ini aku dan Kyuhyun menjadi pusat perhatian. Kenapa tidak ada yang menolong?
Seandainya saja aku mencegahnya untuk menyebrang, eandainya saja aku berlari menghampirinya dan mendorongnya, seandainya saja aku yang menyebrangi jalan itu, bukan Kyuhyun maka semua ini tidak akan terjadi.
Kudengar samar-samar suara yeoja-yeoja yang menjerit 'Awas!' dan beberapa namja yang entah berteriak apa.
Aku tidak menghiraukan hal itu dan tetap berusaha membangunkan Kyuhyun hingga sesuatu mengejutkanku.
TINNN!
BRAKKKH!
Sungmin POV End
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
"HAH!" Sungmin terbangun dari mimpinya dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. Henry yang sedari tadi duduk di sampingnya tersenyum senang melihat hyungnya yang tersadar.
"Hyung! Kau sudah bangun? Kau membuatku khawatir, hyung." Ujar Henry seraya mengelap keringat Sungmin. "Hyung pingsan selama 6 jam lebih, dan itu membuat kami semua khawatir, hyung." Sungmin tersenyum simpul menanggapi Henry.
Ia masih shock dengan mimpi itu. Mimpi itu sangat nyata. Bahkan jantung Sungmin saat ini masih berdetak sangat kencang. Ia merasa lega sekaligus takut. Ia masih ingat jelas akhir dari mimpi itu.
Ia tertabrak oleh sebuah bus.
Pikiran Sungmin teralihkan oleh suara pintu kamarnya yang terbuka. Kyuhyun, Zhoumi, Changmin, dan Jaejoong masuk ke dalam kamar itu.
"Hyung, gwaenchana?" tanya Changmin. Sungmin mengangguk seraya tersenyum. "Kau membuat eomma khawatir, Minnie." Ujar Jaejoong seraya mengusap rambut Sungmin pelan.
"Mianhae, eomma." Ujar Sungmin dengan nada menyesal.
"Bisakah kalian membiarkan aku berbicara dengan Kyuhyun sebentar?" tanya Sungmin pelan. Henry, Zhoumi dan Changmin saling berpandangan dengan bingung.
Jaejoong menarik tangan Changmin.
"Ne, kami tidak akan menganggumu. Ayo, Changminnie." Jaejoong keluar dari kamar itu seraya menarik tangannya Changmin yang diikuti oleh Zhoumi dan Henry dari belakang.
"Kau sudah baikan?" tanya Kyuhyun seraya menduduki kursi yang tadi diduduki oleh Henry. Sungmin hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"Kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Sungmin seraya memandangi langit-langit kamarnya. "Setelah namja itu memukulmu, mereka lari begitu saja. Lalu aku membawamu keluar dari gang itu dan bertemu dengan Henry, Changmin dan Zhoumi. Lukamu sudah diperiksa. Untung saja punggungmu tidak ada cedera yang parah." Jawab Kyuhyun.
Zhoumi, Henry dan Changmin berhasil keluar dari gang itu dengan kepintaran tebak-menebak milik Changmin. Changmin asal menunjuk salah satu jalan, Zhoumi dan Henry hanya mengangguk percaya dengan perkataan Changmin dan untungnya tebakkan Changmin benar dan hasilnya mereka berhasil kembali ke jalan besar.
"Kau.. Tidak terluka, 'kan?" tanya Sungmin seraya menatap Kyuhyun dnegan takut-takut. Ia masih shock dengan mimpinya yang tadi.
Kyuhyun tersenyum. "Aku tidak terluka, aku baik-baik saja." Jawab Kyuhyun.
Sejenak, ruangan itu hening. Tidak ada yang bersuara hingga Kyuhyun memutuskan utnuk bersuara.
"Ehem! Gomawo," ujarnya. Sungmin meoleh ke arah Kyuhyun dengan tatapan bingung. "Untuk apa?"
"Kau cedera karena melindungiku. Mianhae karena membuatmu jadi seperti ini, dan.. Gomawo karena telah melindungiku." Sungmin tersenyum seraya mengangguk.
"Sekarang lebih baik kau istirahat, dan jangan banyak bergerak." Sungmin mengangguk lalu memejamkan matanya. Meskipun sulit untuk kembali terlelap dan mengunjungi dunia mimpi yang sempat membuatnya trauma, tapi rasa kantuk dan lelah yang menyergapnya membuatnya harus kembali terlelap.
Ia hanya dapat berharap semoga ia tidak bermimpi lagi.
.
"Kenapa hyung memberinya mimpi seperti itu? Sungmin jadi takut, 'kan." Ujar Kangin. "Bukan aku yang memberikan mimpi itu, kok." Jawab Leeteuk.
Kangin menoleh ke arah Leeteuk dengan tatapn bingung. "Lalu siapa yang membuat Sungmin bermimpi seperti itu?" tanya Kangin. Leeteuk mengangkat kedua bahunya.
"Mungkin itu memang jalan takdir Sungmin. Coba ingat baik-baik. Pertama, 3 namja aneh yang mencoba melukai Sungmin dan Kyuhyun. Kejadian itu bukanlah rencana dari kita, melainkan memang sudah di atur dari sananya. Kedua, Sungmin melindungi Kyuhyun dan pingsan. Itu juga bukan salah satu dari rencana kita. Ketiga, mimpi. Mungkin saja itu peringatan untuk Sungmin agar mereka bisa bersatu kali ini." Jelas Leeteuk panjang lebar.
Kangin tampak berpikir. "Sepertinya hyung benar, mereka sedang diberi peringatan." Ujar Kangin.
"Jadi, di kehidupan ini semuanya ada di tangan Sungmin?" tanya Kangin.
Leeteuk mengangguk. "Semuanya ada di tangan Sungmin."
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
"Hyung, gwaenchana? Lebih baik hyung hari ini tidak usah pergi ke sekolah, hyung pasti masih kesakitan." Ujar Henry seraya membantu Sungmin bangun dari posisi tidurnya. Ia lalu meletakkan bantal empuk di belakang Sungmin menjadi sandaran hyungnya.
Sungmin terlihata berpikir. Sebenarnya ia juga sangat malas untuk berangkat ke sekolah mengingat pelajaran hari ini banyak yang membosankan, sakit di punggungnya dan juga malas kalau saja kembali bertemu dengan 3 namja menyebalkan itu.
"Arraseo, aku tidak pergi. Changminnie mana?" tanya Sungmin.
"Ng? Eh? Oh iya! Aku lupa membangunkan Changmin hyung!" Henry langsung melesat dari kamar Sungmin menuju kamar namja tinggi pecinta makanan itu.
Sungmin tertawa kecil melihat tingkah namdongsaengnya. Ia menutup mulutnya ketika menguap, ngantuk.
"Hm? Eomma dan appa sudah pergi ke kantor belum, ya?" gumam Sungmin.
Ia lalu menuruni kasurnya dengan perlahan agar sakit di punggungnya tidak begitu sakit ketika ia bergerak.
Sungmin melongokan kepalanya dari pintu kamarnya, menoleh ke kiri dan ke kanan. Ia lalu keluar dari kamarnya dengan perlahan.
"Appa?" panggil Sungmin seraya menuruni tangga. "Eommaaa~!" Sungmin berjalan ke arah dapur, mungkin eommanya sedang memasak di dapur.
"Eomma?" panggil Sungmin lagi seraya memasuki dapur. Namun, ia tidak menemukan siapa-siapa di dapur.
'Mereka ke mana? Ke kantor lagi?'Sungmin seraya mendudukkan diri di sofa ruang tamu yang memang letaknya dekat dengan dapur.
Saat hendak menyentuh remote tv, telepon rumah bordering yang sukses membuat Sungmin terlonjak kaget.
"Aish, siapa sih?"
"Yeoboseyo?"
"Yeoboseyo, hyung! Sudah baikkan?" tanya seseorang dari sebrang telepon itu. "Nuguseyo?" tanya Sungmin ragu.
Orang yang ada di seberang telepon itu berdecak pelan. "Ini aku, Cho-Kyu-Hyun!"
Sungmin cukup terkejut saat mengetahui kalau Kyuhyun yang meneleponnya. Mungkinkah Kyuhyun telah berubah menjadi orang yang perhatian?
"Hyung?" panggil Kyuhyun setelah cukup lama tidak mendapat respon dari Sungmin. "Ah, n-ne? Ada keperluan apa?" tanya Sungmin dengan nada yang dibuat seketus mungkin.
"Hanya untuk menanyakan kondisi hyung. Sudah agak baikkan?" tanya Kyuhyun lagi.
"Ne, setidaknya tidak senyeri semalam." Sungmin sedikit melembutkan nada bicaranya yang tadi agak ketus.
Tanpa sengaja, mata Sungmin terhenti pada jam dinding yang bertengger manis di ruang tamu itu.
"Ya, Kyu! Lihat jammu! Kau terlambat, Cho Kyuhyun." Ujar Sungmin.
Kyuhyun terdiam sejenak di seberang telepon.
"Oh iya! Aku telat, hyung! Yasudah, jaga diri hyung baik-baik, ya. Kalau ada apa-apa hubungi aku." Kyuhyun langsung memutus sambungan telepon itu secara sepihak yang berhasil membuat Sungmin sweatdrop.
'Dasar anak setan!' Batinnya. Namun beberapa saat ia teringat sesuatu. 'Jaga diri baik-baik? Kalau ada apa-apa hubungi dia? Kenapa dia sepertinya khawatir sekali dengan keadaanku? Aku 'kan bukan siapa-siapanya.' Pikir Sungmin.
Entah dia sedang error atau apalah, yang penting Sungmin merasakan perasaan senang saat mengetahui Kyuhyun khawatir dengan keadaannya.
.
"Ada yang aneh," ujar Leeteuk yang sedang melayang di atas Sungmin yang sedang menonton tv. Kangin yang sedang duduk di sofa yang sama dengan Sungmin hanya terdiam seraya memandangi sayap hitam kelamnya yang terlipat ke depan karena ia sedang bersandar.
"Sepertinya sesuatu akan terjadi," sambungnya. Kangin mengernyit tidak mengerti. "Apa maksudmu, hyung? Aku tidak mengerti," ujar Kangin seraya mendongak ke atas, untuk menatap Leeteuk.
"Hari ini sangat aneh. Kenapa tiba-tiba kita tidak menggunakan kekuatan kita? Dan lagi, perasaan Kyuhyun mulai kelihatan dengan jelas di saat yang bersamaan." Ujar Leeteu menjelaskan seraya mendaratkan kakinya ke lantai di samping Kangin.
Kangin menelan ludahnya dengan takut-takut meskipun ia memandangi Sungmin dengan gaya coolnya.
"Haahh..! Aku pusing menghadapi masalah ini!" seru Kangin frustasi seraya mengusap wajahnya.
Leeteuk tidak memperdulikan soulmatenya yang sedang dalam mode stress, saat ini ia memasang tampang seriusnya.
"Yang jelas, kita harus berhati-hati dalam kurun beberapa hari ini. Aku tidak ingin kejadian 2 kehidupan yang lalu kembali terjadi."
"Ne, ne. Aku juga tidak ingin itu kembali terjadi kok, hyung."
.
.
Kyuhyun menggigit ujung pensilnya. Ia sama sekali tidak memperhatikan seosaengnim yang ada di depan kelas. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri.
'Apa sebaiknya setelah pulang sekolah aku menjenguk Sungmin hyung? Dia marah tidak ya kalau aku menjenguknya? Secara 'kan aku bukan temannya, melainkan musuhnya. Eh? Musuhnya?' Kyuhyun mengetukkan pensil itu ke kepalanya.
'Kalau memang Sungmin hyung itu musuhku, kenapa juga aku harus mengkhawatirkan dia? Tidak mungkin 'kan kalau aku.. Aku... Ani! Pasti tidak mungkin! Aku khawatir padanya pasti hanya karena rasa bersalahku yang telah menyebabkan dia terluka seperti sekarang. Yang harusnya dipukul 'kan aku, bukan Sungmin hyung. Jadi semua ini salahku dan aku merasa bersalah padanya dan khawatir karena rasa bersalah. Pasti begitu! Aishh!' Kyuhyun kembali menggetok-getokkan kepalanya dengan pensil yang ia pengang seraya komat-kamit tidak jelas.
Bughh!
Sebuah penghapus papan tulis sukses mendarat dengan senang hati di kepala Kyuhyun, tepatnya di kening namja maniak game itu.
"Keluar dari kelas saya, Cho Kyuhyun!" seru seonsaengnim dengan nada garangnya. Kyuhyun hanya bisa cengo sebelum akhirnya melangkah keluar dari kelas itu.
"Ini semua gara-gara dia," desis Kyuhyun yang berdiri bersandar di samping pintu kelas. 'Tapi, ngomong-ngomong Sungmin hyung sedang apa, ya?' Kyuhyun mengeluarkan ponselnya lalu menekan beberapa tombol pada layar touch screennya.
Ia sedang mencoba menghubungi Sungmin. Panggilan pertama tidak diangkat, Kyuhyun kembali mencoba menghubungi namja manis itu.
Panggilan ke dua juga tidak dijawab. Oke, Kyuhyun mulai khawatir terjadi apa-apa pada Sungmin. Ia kembali mencoba menghubungi Sungmin.
"Yeoboseyo?" Ia bernapas lega saat mendengar suara yang tak asing lagi baginya menjawab teleponnya. "Yeoboseo," jawab Kyuhyun dengan suara yang dibuat setenang mungkin dan sedater mungkin. "oh, Kyuhyun-ah. Waeyo? Ada apa lagi?" tanya Sungmin dengan nada bosan.
Kyuhyun tampak berpikir sebentar. Untuk apa ia menelepon namja pecinta pink ini? Ia merutuki dirinya sendiri saat tidak menemukan alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Sungmin.
"Ng, anu.. Tidak apa-apa, aku hanya salah menekan nomor telepon." Jawabnya akhirnya. "He? Begitukah? Yasudah.."
Sungmin hendak memutuskan sambungan teleponnya saat Kyuhyun menahannya. "Tunggu, hyung!"
"Ne, waeyo?"
"Ng, tadi kenapa hyung lama sekali mengangkat teleponku?"
"Oh itu.. Itu karena punggungku masih sakit, jadi jalannya agak lambat. Dan lagi, tadi aku sedang bersiap-siap untuk pergi," jawab Sungmin.
Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya. "Hyung mau pergi ke mana?" tanyanya dengan penasaran. Bagaimana bisa namja yang sedang terluka malah ingin pergi dari rumah? Bukankah lebih baik jika beristirahat di rumah dulu?
"Aku hanya ingin mencari udara segar di taman. Oh ya, bukankah sekarang sedang jam pelajaran? Kenapa kau bisa menghubungiku?" terdapat kebingungan pada pertanyaan yang dilontarkan oleh Sungmin.
"Hyung, bagaimana kalau aku menemanimu ke taman? Aku tidak akan membiarkan hyung pergi sendirian. Hyung tunggu aku di jalan pertokoan yang ada di seberang air mancur ya, hyung. Aku akan segera menghampirimu." Kyuhyun langsung memutuskan panggilan itu tanpa menjawab pertanyaa Sungmin. ia lebih memilih untuk bolos dari pada berdiri seperti orang kurang kerjaan di depan pintu kelas.
Kyuhyunpun melangkahkan kakinya dengan langkah cepat menuju tempat yang tadi dikatakan olehnya.
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
Kini Sungmin sedang berjalan dengan santai seraya menikmati udara segar di pagi hari ini.
Ia sedang berjalan menuju tempat yang dikatakan oleh Kyuhyun tadi, tempat dekat air mancur.
Sungmin berhenti berjalan saat berada di seberang jalan air mancur dan juga saat menemukan tempat yang menurutnya tidak terkena sinar matahari.
Saat sedang asyik memandangi daerah sekitar seraya menunggu Kyuhyun, ia menyadari sesuatu yang janggal.
Ia seperti pernah berdiri di tempat ini. Tempat ini…
Sungmin menoleh ke belakang dan benar saja dugaannya. Tepat di belakangnya terdapat sebuah restoran Italia yang juga kelihatan tidak asing baginya. Ia seperti benar-benar pernah mengalami hal ini. Tapi ia tidak tahu kapan itu terjadi, seingatnya terakhir kali ia datang ke tempat ini saat hari pertama ia kembali ke Seoul. Tapi itu hanya sekedar lewat di tempat ini, bukan berdiri sendirian di depan restoran ini.
Sungmin menundukkan kepalanya, berusaha menyusun memory-memory ingatannya akan tempat ini.
Ia berdiri di depan restoran Italia sendirian dan… seseorang memanggilnya.
"Sungmin hyung!" Refleks, Sungmin langsung mendongakkan kepalanya dan menemukan Kyuhyun sedang melambaikan tangannya dengan senyum manis terpampang di wajahnya.
Sungmin hanya membalasnya dengan senyum simpul, namun senyum dengan segera menghilang dari wajah manis itu.
Ia sudah ingat. Ini.. Mimpinya kemarin saat ia pingsan. Déjà vu.
Setelah ini, Kyuhyun akan berhenti melambaikan tangannya dan menyebrangi jalan, dan selanjutnya ia akan…
Sungmin merasa jantungnya berpacu dengan cepat. Napasnya tercekat saat melihat Kyuhyun telah berhenti melambaikan tangannya.
Sungmin menoleh ke arah kanannya dan menemukan sebuah truk tengah melaju kencang dari kejauhan.
Ia kembali menoleh pada Kyuhyun yang mulai menyebrangi jalan.
Jantung Sungmin mulai berdetak tidak beraturan. 'Sebentar lagi.' Pikirnya.
"Kyu!" Sungmin berlari dengan sekuat tenaganya melawan rasa sakit yang melanda punggungnya. Berlari mendekati Kyuhyun dan mendorong Kyuhyun hingga ke tepi jalanan tepat saat truk itu berada 2 meter dari Kyuhyun.
Saat Kyuhyun dan Sungmin jatuh dan terguling ke pinggir jalan, truk itu melaju melewati tempat dimana tadi Kyuhyun berdiri dengan kecepatan yang maximum.
Hingga akhirnya truk itu menabrak mobil yang terparkir di samping restoran Italia itu saat supir truk itu berusaha menghindari Kyuhyun.
Sungmin yang berada di atas Kyuhyun yang terbaring di atas tanah pun memejamkan matanya, berusaha menghilangkan rasa takut, khawatir, marah, dan sedih yang ada di perasaannya saat ini.
Jantungnya masih berdetak dengan cepat. Meskipun begitu, Sungmin dapat mendengar detak jantung Kyuhyun yang juga tidak beda jauh dengannya.
Kyuhyun yang masih shock hanya berusaha mengatur napasnya yang tersenggal-senggal dan juga jantungnya yang berdentum dengan keras.
Semua yang ada di tempat kejadian itu menjadi saksi dan juga penonton atas kejadian itu.
"Hyung," panggil Kyuhyun pelan. "Hm?" respon Sungmin yang masih meletakkan kepalanya di dada Kyuhyun. "Gwaenchana?" tanya Kyuhyun dengan pelan dan sedikit bergetar.
Sungmin tidak menjawabnya.
Akhirnya Kyuhyun memutuskan untuk berdiri dari posisi berbaringnya di tanah menjadi duduk. Kyuhyun terkejut saat mendapati Sungmin menatapnya dengan mata yang digenangi oleh air.
"Ssttt! Gwaenchana, hyung?" tanya Kyuhyun seraya mengusap sudut mata Sungmin yang mulai mengalirkan air mata.
"Aku khawatir padamu, babo!" Sungmin memukul pelan dada Kyuhyun seraya mengusap air matanya yang menghalangi pandangannya.
Kyuhyun tersenyum. "Gwaenchana, hyung. Aku tidak apa-apa. Kau telah menyelamatkanku, hyung. Gwaenchana," ujar Kyuhyun seraya memeluk Sungmin seraya mengusap rambut Sungmin yang tubuhnya masih bergetar meskipun namja yang lebih tua 2 tahun darinya itu sudah berhenti menangis.
"Gomawo," ujar Kyuhyun pelan yang dapat terdengar jelas oleh Sungmin. "Gomawo, hyung. Kau telah menyelamatkanku. Gomawo…" Mereka terdiam sejenak dalam posisi mereka masing-masing. Sungmin semakin mengeratkan pelukkan mereka. Meminta kenyamanan dari pelukkan Kyuhyun.
Kyuhyun melepas pelukannya setelah cukup lama berada dalam posisi seperti itu dan menatap Sungmin dengan senyum manisnya. "Kita pulang ya, hyung? Aku tidak ingin luka hyung tambah parah. Hyung harus banyak istirahat." Sungmin hanya mengangguk seraya menerima uluran tangan Kyuhyun yang membantunya berdiri.
.
Leeteuk bersandar lemas pada punggung Kangin. "Sudah berakhir, kah?" tanya Leeteuk. "Entahlah," jawab Kangin asal. Ia sedang memandangi Kyuhyun dan Sungmin yang berjalan menjauh. Kemudian ia mengangkat tangan kanannya dan menatap lekat-lekat telapak tangannya. Tiba-tiba muncul api biru dari tangannya itu.
"Sepertinya semuanya sudah berakhir," ujar Kangin saat mengetahui kekuatannya telah kembali. Ya, mereka tidak bisa menggunakan kekuatan mereka saat suatu puncak dari kehidupan seseorang akan terjadi, antara bersatu dan berpisah atau hidup dan mati.
Setiap kehidupan itu memiliki puncaknya, dimana mereka akan bersatu dengan pasangan mereka atau malah sebaliknya, berpisah.
Jika kekuatan Kangin dan Leeteuk telah kembali, maka itu artinya puncak dari kehidupan Sungmin dan Kyuhyun telah berakhir. Dan jawaban dari puncak kehidupan kali ini adalah sebuah kehidupan dan kebersamaan.
Leeteuk tersenyum. "Itu berarti tugas kita telah selesai?" Kangin mengangguk. "Yeah, maybe." Jawab Kangin.
Kedua malaikat itupun terbang dan kembali ke rumah mereka.
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
3 Hari kemudian…
Sungmin tengah duduk di halaman belakang sekolahnya. Setelah kejadian itu, tidak ada yang mengungkit masalah itu lagi. Bahkan keluarga Kyuhyun dan Sungmin yang mengetahui kejadian itupun tidak pernan mengungkit kejadian itu lagi. Semua telah terjadi dan juga telah berakhir, untuk apalagi diungkit-ungkit?
'Gomawo, Kau sudah memperingatiku.' Batin Sungmin seraya menatap langit biru yang berawan.
'Kau sudah memberitahu apa yang harus aku lakukan, gomawo…' Sungmin tersenyum menatap langit biru yang dapat membuat suasana hati siapapun yang memandangi langit itu menjadi tenang.
"Hyung," Sungmin menoleh ke asal suara dan menemukan namja yang akhir-akhir ini terus menemaninya. "Ne, Kyu?" Kyuhyun tersenyum dan mendudukkan dirinya di samping Sungmin.
"Ukhh~! Kenapa kita ditendang kembali ke bumi, sih? Padahal aku sudah siap menerima liburan," ujar Leeteuk. Kangin menatap Leeteuk dengan malas.
"Kita ditendang kembali ke bumi dan kembali ke couple yang satu ini karena tugas kita belum selesai, hyung. Kita belum membuat mereka jadian. Mereka berlum mengatakan 'saranghae, nado saranghae' loh, hyung." Jelas Kangin panjang lebar.
"Hmm, Kyuhyun-ah, cepatlah nyatakan cintamu. Dari dulu aku sudah sangat ingin melihat kalian bahagia bersama." Ujar Leeteuk seolah-olah berbicara dengan Kyuhyun. Kangin yang ada di samping Leeteuk hanya tersenyum mendengar perkataan soulmatenya itu.
"Kenapa duduk sendirian di sini?" tanya Kyuhyun basa-basi. "Hanya ingin menenangkan pikiran," jawab Sungmin singkat seraya menghirup udara sebanyak-banyaknya, menikmati udara segar di pagi hari ini.
"Hyung," panggil Kyuhyun lagi. Sungmin menoleh dan mendapati Kyuhyun tengah menatapnya dalam.
"Ne?"
"Saranghae," Ujar Kyuhyun langsung yang sukses membuat Sungmin terkejut. "Mwo? Chh, apa-apaan kau ini? Kau mencintai musuhmu?" tanya Sungmin.
Kyuhyun mengangguk. "Ne, aku mencintai musuhku. Musuh yang paling kucintai. Cinta yang hanya untuk musuhku." Ujar Kyuhyun seraya bermain kata dengan Sungmin. Sungmin tertawa kecil. "Jinjja?" Kyuhyun mengangguk mentap.
"Memangnya kau tidak mencintai musuhmu yang satu ini? Musuhmu yang paling tampan dan paling pintar ini?" Sungmin kembali tertawa kecil. Ia tidak menjawab Kyuhyun, melainkan menatap lurus ke arah bunga-bunga indah yang tumbuh di halaman belakang sekolah itu.
Kyuhyun memandangi wajah Sungmin dengan pandangan penuh rasa sayang sebelum akhirnya ia menarik napas dalam-dalam. "Saranghae, Lee Sungmin. Would you be my boyfriend?" tanya Kyuhyun dengan nada serius. Kesan yang didapat Sungmin dari pernyataan yang kali ini berbeda dengan pernyataan yang tadi. Pernyataan yang kali ini penuh dengan kesungguhan.
Sungmin menatap Kyuhyun cukup lama hingga akhirnya ia menunjukkan senyum kecil yang memiliki kesungguhan yang besar.
"Ne, nado saranghae, Cho Kyuhyun." Jawab Sungmin seraya menunjukkan senyum termanis miliknya.
Kyuhyun tersenyum mendengar jawaban Sungmin. "Minnie hyung, kau musuh sekaligus namjachinguku yang paling manis!"
"Hahaha. Kau musuhku sekaligus namjachinguku yang paling evil, Kyu."
.
"Haaah~! Masa muda memanglah sangat indah," ujar Leeteuk seraya memandangi Kyuhyun dan Sungmin. "Ne, masa muda mereka indah. Tidak seperti hyung yang suram," jawab Kangin dengan cuek.
Leeteuk mengernyit tidak terima. "Hey! Suram katamu? Masa mudaku tidak suram, Kangin-ah."
"Oh, ya?"
"Ne, karena saat muda aku meninggal dan bertemu dengan namja bersayap hitam," ujar Leeteuk. Kangin menoleh dan menatap Leeteuk. "Yang sampai saat ini selalu ada di sisiku." Lanjut Leeteuk dengan senyum malaikatnya. Kangin ikut tersenyum melihat senyum namja bersayap putih itu.
~(OoOoOoOoOoOo=oOoOoOoOoOoO)~
SEKUEL~
Henry duduk sendirian di sudut kantin. Ia menyeruput jus strawberrynya dengan bosan. Kenapa Henry sendirian saat ini? Itu karena Sungmin yang sedang sakit dan butuh istirahat di rumah dan juga Changmin yang sedang di perpustakaan, mencari bahan ujian biologi.
Henry memandangi sekelilingnya, sepertinya hanya dia yang duduk sendirian di meja kantin. Ia kembali menduduk dan menyeruput jus strawberrynya.
"Hey," sapa seseorang yang saat ini sudah duduk di depan Henry. Henry mengangkat wajahnya dan menemukan namja tampan dengan senyum yang dapat melelehkan hati siapapun.
"Zhoumi hyung? Ada apa?" tanya Henry. "Ani, aku hanya ingin menemanimu. Kenapa kau sendirian?" tanya Zhoumi.
"Hyung tahu 'kan kalau Sungmin hyung sedang sakit? Changmin hyung sedang mencari bahan ujian biologi di perpustakaan." Jawab Henry.
"Lalu teman-temanmu yang lain?" tanya Zhoumi lagi. "Aku sedang malas bergabung dengan teman-teman yang lain," Zhoumi hanya mengangguk mengerti.
Seorang malaikat bersayap abu-abu mengernyit melihat Zhoumi dan Henry. "Kenapa tidak ada perkembangannya, sih? Dari kemain-kemarin sampai hari ini hanya begitu-begitu saja," ujarnya. Malaikat yang satunya lagi yang memiliki sayap berwarna merah pekat juga menatap Zhoumi dan Henry dengan malas.
"Aku heran kenapa aku bisa diangkat menjadi malaikat cinta, padahal aku 'kan tidak ahli dalam hal cinta-cinta seperti ini. Kenapa tidak diangkat sebagai malaikat kematian saja, sih?" ujar malaikat bersayap merah pekat itu, Key.
Malaikat bersayap abu-abu, Onew, hanya menghela napas berat. Iseng, Onew mengarahkan jari telunjuknya ke arah minuman Henry dan menjatuhkannya saat Henry asyik mengaduk minuman itu.
"Ahh!" kaget Henry saat jus strawberry yang sedari tadi ia aduk tumpah dan membasahi meja dan sedikit bajunya dan celana Zhoumi.
Zhoumi langsung mengambil tissue sebanyak-banyaknya dan mengelep baju Henry. Meskipun celana Zhoumi juga terkena jus itu, namja tinggi itu lebih mementingkan Henry.
"Ng, celanamu juga terkena jus. Mianhae," Ujar Henry. Zhoumi yang sedang sibuk mengelap baju Henry tersenyum. "Gwaenchana," jawabnya yang terus membersihkan baju Henry.
"Hyung, aku bisa membersihkannya sendiri, kok." Henry niatnya ingin mengambil tissue yang ada di tangan Zhoumi, tapi yang terjadi malah Henry memegang tangan Zhoumi.
Cukup lama Henry memegang tangan Zhoumi hingga akhirnya mereka tersadar akan hal itu dan menarik tangan masing-masing.
Pipi Henry sedikit merona, hanya sedikit. Sedangkan Zhoumi, ia kini merasa gugup tingkat akut."
"Umm, gomawo, kau sudah membersihkan bajuku." Ujar Henry pelan dan terdengar malu-malu. "Ne, cheonmaneyo." Jawab Zhoumi seraya menunjukkan senyumnya. Henry kembali terpana pada senyum itu sebelum akhirnya memilih untuk menundukkan kepalanya. Zhoumi terkikik kecil melihat tingkah lucu Henry.
"Hmm.. Sepertinya aku tahu bagaimana caranya membuat mereka bersatu," Ujar Key yang mendapatkan ide. "Bagaimana?" tanya Onew.
Key menatap Onew.
"Kita buat mereka menyadari perasaan masing-masing dengan cara membuat kecelakaan-kecelakaan kecil yang dapat membuat mereka berdua berdebar." Ujar Key dengan senyum manisnya. Onew hanya mengangguk mengiyakan apa saja yang dikatakan oleh soulmatenya
~FIN~
Huwooohh~! Ini benar-benar mendadak end. Padahal author gak berencana buat last chap, tapi karena takut FF ini kepanjangan, akhirnya author buat chap ini jadi last chap deh..
Special thanks to::
widiwMin, princekyu, EvilBungsu KyuminBaby137, winter boy, Chikyumin, jotha aurigth, Evilkyu Vee, Pumpkinkyu, Saeko Hichoru, Laven agrava gaciall 134, kyuanae, Lee Eunhee, ferdyan evil magnae, blackivy
Gomawo atas reviewnya..
Oke, ini chap terakhir dari FF ini.. Jadi, akhir kata dari author juga sama..
Review, please~? Gomawo.. ^^
m(_ _)m
