Disclaimer: Bleach by Kubo Tite
Warning: sorry for very not so romance, immature drama, dark -in what terms?- not frightening horror, typhos, ooc
Rated: Teenage (?)
.
.
.
"Beginikah sikap terhadap tuanmu, wahai pelayanku?" tanya Unohana saat Ichigo –yang sudah terbebas dari 'ikatan' antara pelayan dan majikan– menghujamkan tangan pada rongga dada wanita itu dan menghancurkan jantungnya selagi masih berada di dalam tubuh Sang Maker.
"Ck! Aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu, sekarang aku bebas."
Retsu Unohana tersenyum, tubuhnya mulai terbakar. Inilah kematian kedua yang ia rasakan. Tapi tidak sama seperti yang pertama, kali ini Unohana tidak akan mendapatkan kesempatan untuk bangkit lagi.
Hutan dengan pohon-pohon besar tanpa dedaunan menjadi saksi atas kejahatan terberat bagi para vampir yang baru saja dilakukan Ichigo. Malam yang temaram tanpa bintang dan bulan. Binatang-binatang hutan pun tak ada, mereka semua tidak berani mendekati kawasan hutan ganjil itu. Takut atas keberadaan mahluk terkutuk yang dapat menebarkan kegelapan.
"Apa yang kau lakukan tidak akan termaafkan. Mereka semua akan mengejarmu..." ucap wanita itu sebelum menjadi abu. Ia tersenyum mengutuk.
.
Ichigo membuka matanya. Pria itu tersenyum mengingat bagaimana ia menghabisi Unohana. Tidak ada rasa penyesalan atas apa yang telah dilakukannya. Ia berdiri dan berjalan menuju ujung koridor bangunan tua yang telah lama terbengkalai. Tiap langkahnya menghasilkan derita pilu kayu-kayu yang menjadi lantai ruangan. Di luar, hujan turun.
...
Ia berjalan dengan tidak menghiraukan butiran-butiran kerikil hujan. Jalan begitu sepi malam itu, dingin. Orang-orang lebih memilih untuk tidak meninggalkan rumah mereka yang hangat. Hanya ada tikus-tikus besar kelabu kotor yang berpindah dari got yang satu ke celah bangunan yang lain. Lampu jalan begitu redup dan dahan-dahan pohon begitu ribut akibat saling bergesek oleh desakan angin. Ichigo tidak mengenakan mantelnya.
"Cuaca yang bagus untuk berjalan-jalan, eh?" Shinji menyapanya. Pria itu berdiri terbalik di balik atap sebuah gedung empat lantai. Hiyori pun demikian. Nelapsi bertubuh anak-anak itu selalu mendampingi makernya. Mereka berdua turun menghampiri Ichigo.
"Menjemput mangsa atau menemui Si Gadis Kuchiki?" tanya Shinji lagi. Ichigo mengernyitkan dahi tanda tidak suka.
"Saranku, berhati-hatilah pada Si Mungil yang berambut hitam itu. Dia tidak sepolos yang kau lihat."
"Cih! Apa kau baru saja memangsa seorang nenek tua cerewet? Tidak bisakah kau menutup mulutmu? Atau kau memang tukang ikut campur urusan orang lain? Mungkin seharusnya mereka mengubah julukan untuk Nelapsi menjadi 'Vampir Kurang Kerjaan'" sindirnya pada Shinji.
"Jaga ucapanmu Upier!" Hiyori buka suara.
"Tenanglah Hiyori," Shinji tersenyum pada Ichigo, " dia hanya tidak suka kencannya diketahui orang lain."
"Kalau dia berkata lancang lagi, berikutnya meski kau menahanku aku akan tetap menyobek mulutnya!" Hiyori bersungguh-sungguh.
"Cih!"
"Ichigo Kurosaki, aku tidak akan mengganggu mangsamu atau pasangan kencanmu. Tapi saranku, berhati-hatilah! Gadismu itu masih punya hubungan darah dengan Byakuya Kuchiki."
.
.
Rukia memandang sendu pada Sena yang berbaring lemah di ranjang rumah sakit. Saudari tirinya itu tertidur. Raut wajah Sang Nona Besar terlihat kasihan, bingung, dan bersalah. Rukia berpikir setengah dari alasan Sena mencoba mengakhiri dirinya sendiri adalah karena dirinya. Ah tidak, mungkin seluruhnya.
Gadis berambut hitam tersebut mengangkat tangan kanan saudarinya dengan kedua tangannya. Ia menggenggam dan mendekatkan tangan yang terasa dingin itu ke pipinya.
"Sena, kenapa kau harus begini?"
"Memang harus begitu."
Rukia menoleh menuju asal suara. Ichigo menutup pintu, membuat dirinya, Rukia, dan Sena berada di ruangan tertutup. Sinar matahari yang cerah jatuh menimpa wajahnya, membuat gadis itu dapat melihatnya dengan jelas. Pupil mata gadis itu melebar tidak percaya melihat penolongnya, ia mempertanyakan tujuan pria berambut oranye itu.
"Jangan bilang kau kemari untuk-"
"Minggirlah, dia mangsaku."
"Kenapa?"
"Karena dia menginginkannya."
"Bohong!"
"Menyingkir, aku benar-benar tidak ingin berurusan denganmu."
"Tidak mau."
"..."
Dua tangan Ichigo maju meraih leher mungil Rukia. Pria itu dapat dengan mudah mematahkan batang tenggorokan Si Gadis layaknya mematahkan ranting pohon yang rapuh. Ia mencengkeramnya kuat, membuat korbannya kesulitan untuk bernafas.
...Sinar Matahari berwarna jingga kemerahan menerobos masuk melalui jendela. Matanya menatap damai pemandangan yang terlihat dari jendela... Sebuah tangan –yang lebih kecil– yang sedari tadi digenggamnya... Wajah gadis itu tenang, sama sekali tidak ada tanda-tanda ketakutan. Ia bahkan tersenyum dalam tidurnya...
"..."
Ichigo melepaskan Rukia. Gadis itu terduduk di lantai dan terbatuk-batuk. Tidak biasanya ia begitu, ini aneh. Sebuah perasaan yang tidak diperlukan. Rukia menatap punggung Ichigo yang berjalan ke luar kamar tempat Sena di rawat. Saudarinya masih tetap terbaring belum sadarkan diri.
"Jaga dia baik-baik," ucapnya sebelum pergi.
...
Ibu Sena menatap halaman dari ruang baca, di tangannya segelas wiski sudah tersisa setengah. Seorang diri. Tangannya memutar-mutar isi dalam gelas itu, membuat bongkahan-bongkahan es beradu dengan dinding gelas. Sinar Matahari sore yang kemerahan membuat rumput dan tanaman-tanaman lain di halaman berwarna lain. Sang Ibu mengkhawatirkan anak gadisnya, mengkhawatirkan masa depannya, dan mengkhawatirkan dirinya sendiri. Siapa sekutunya saat ini?
Wanita paruh baya itu menoleh, dinding di mana foto-foto anggota keluarga terpasang. Ia tersenyum sinis pada foto Sang Tuan Besar dan menertawakan foto suaminya sendiri. Saat melihat foto Sena, ia menitikkan air mata.
"Jika Sena tidak bisa, maka Rukia juga tidak boleh ada..."
Ia mengangkat gelasnya dan bersulang. Dengan sekali teguk, wanita itu menghabiskan cairan yang memabukkan tersebut.
...
Rukia beranjak ke sebelah Ichigo. Ia ikut duduk menyandarkan punggungnya pada rak, persis seperti apa yang dilakukan pria di sebelahnya. Gadis itu tersenyum dan menyandarkan kepalanya pada bahu pria itu.
"Mungkin kau berpikir aku gila," kata Rukia pada Ichigo yang tengah tertidur.
"Entah kenapa aku tidak bisa membuang sosokmu dari ingatanku, padahal namamu saja aku tidak tahu. Lucu ya?" katanya lagi.
Dari jendela yang besar itu, Rukia bisa melihat sekawanan merpati yang terbang dari alun-alun. Kilauan air sungai yang membelah kota akibat terpaan sinar matahari itu juga, dari jauh pun masih bisa dilihat. Gadis itu tidak mengetahui sejak kapan pria di sampingnya tersebut tidur di sini, ia merasa beruntung pergi ke perpustakaan hari ini.
"Lihat, pemandangan di luar seperti lukisan..."
Dalam tidurnya, Ichigo tersenyum. Tanpa diduga oleh Rukia, tangan Ichigo menggenggam tangannya. Gadis itu tertegun sebentar, lalu menutup matanya dan mencoba untuk menyusul pria itu ke alam mimpi.
.
.
Di tengah alun-alun kota, kala para penduduk menikmati hiburan malam, Shinji tampak menikmati keramaian. Hiyori meski terlihat cemberut, sebenarnya gadis ini juga menikmati festival malam. Shinji tahu itu.
Festival besar akan segera berlangsung di kota. Kemeriahan dan keramaiannya akan terasa selama dua minggu ke depan. Seluruh penjuru kota tampak berbenah dan berhias. Warga kota siap untuk bergembira dan para wisatawan pun akan berdatangan. Ini acara tahunan yang selalu dinanti-nanti oleh semua orang.
Seorang pria tampak di antara pengunjung, ia mengenakan mantel abu-abunya dan menatap kembang api yang berwarna-warni di atas kepalanya. Shinji mengenalnya.
"Cantik, eh?"
"Kukira kau sudah mati, Kaien," ucap Shinji. Hiyori memegang ujung mantel makernya, ia tidak menyukai vampir ini.
"Apa kau akan menghabisi kota ini, wahai Nelapsi?" tanya Kaien.
"Tidak, kami akan pergi dari sini. Bagaimana denganmu, temanku? Apa yang dilakukan seorang Muroni di sini?"
"Menikmati malam terakhirku, aku juga akan pergi dari sini. Sayang sekali, aku tidak bisa ikut menikmati kemeriahan pesta." Sebuah kembang api diluncurkan dan meledak, memberikan sentuhan warna-warni di langit malam.
"Bagaimana kalau kita pergi bersama?"
"Ide yang bagus, tapi aku terpaksa menolaknya."
"Kalau begitu, selamat tinggal. Semoga beruntung." kata Shinji, ia pergi sambil menggandeng tangan Hiyori. Suara terompet yang ditiupkan anak-anak memekakkan telinga.
"Kau juga, Kawan."
.
.
.
Bersambung
Muroni (Rumania) itu vampir yang bisa berubah wujud. Shinji termasuk dedengkot para vampir.. ibaratnya dia itu mahasiswa semester 7 makanya dia kenal banyak vampir. Lol.
Btw sepertinya uki berhutang penjelasan. Di chap berikutnya aja ya? See you next week!
