You're My London

Ooc, GS, Typo(s), tidak sesuai EYD dll.

Ranted : T

Chapter : 7/?

Cast : KaiSoo

Another Cast : HunHan and ChanBaek

.

Chapter 7 : London

Kyungsoo menuruni panggung dengan senyuman yang tidak bisa lepas dari bibirnya, hampir semua penonton memberikan standing applause untuk drama mereka hari ini dan dia juga tidak berhenti berterima kasih pada jantungnya yang bisa berkerja sama.

Kyungsoo berkumpul dengan semua pemain yang terlibat dan bersorak untuk keberhasilan drama mereka, semua orang terlihat sangat bahagia terutama sang sutradara yang sudah bekerja keras selama berbulan – bulan dan pria bernama Jaden itu tidak berhenti memuji acting Kyungsoo, membuat wanita itu tidak tau harus berkata apa.

Kyungsoo sudah mengganti pakaiannya dengan sebuah dress berwarna pink peach selutut dan sebuah flat shoes dengan warna yang senada. Dia tengah mengobrol dengan seorang temannya yang baru saja memberikan sebuah bunga dan rentetan pujian yang membuat Kyungsoo semakin malu.

Tak sengaja matanya menangkap bayangan seorang wanita yang berjalan kearahnya dengan tergesa – gesa. Luhan. Tapi entah kenapa tidak ada senyuman di wajahnya, Luhan terlihat marah membuat Kyungsoo membulatkan matanya, dan saat mereka berhadapan Luhan memukul lengan Kyungsoo cukup keras membuat wanita itu meringis.

"Demi Tuhan! Kyungsoo! Tadi kau hampir membuatku jantungan." Desis Luhan membuat Kyungsoo tertawa melihat ekspresi wanita itu. Luhan mendengus pelan dan memeluk sahabat terbaiknya itu. "Bagaimana kau bisa beracting sebaik itu, huh?" Tanya Luhan melepaskan pelukannya.

"Entahlah, itu semua terjadi begitu saja." Jawab Kyungsoo sambil mengangkat bahunya. Dia menatap ke arah Jongin yang membawa dua buket bunga di tangannya.

"Oh, ini untukmu." Ucap Luhan menyerahkan sebuket bunga mawar putih padanya. "Kau suka mawar putih bukan?" Tanya Luhan. Kyungsoo mengangguk sambil tersenyum menghirup aroma mawar kesukaanya.

"Dan ini dariku. Kau tidak terlihat seperti Kyungsoo saat di atas panggung tadi." Ucap Jongin sambil memberikan sebuket bunga lily ke tangan Kyungsoo.

"Lily." Bisik Kyungsoo sambil tersenyum dan menghidup aroma khas dari bunga lily, Luhan tidak tau kalau sebenarnya dia lebih menyukai lily dari pada mawar putih. Kyungsoo memberikan sebuah senyuman pada Jongin dan menariknya untuk sebuah pelukan hangat.

"Thanks." Bisik Kyungsoo sebelum melepaskannya dan menatap Sehun yang sedari tadi berdiri disampingnya. "Kau tidak akan mengatakan sesuatu padaku?" tanya Kyungsoo sambil memeluk 3 buket bunga di tangan sebelah kirinya.

"Apa yang harus aku katakan? Kau pasti sudah mendengar banyak pujian dan apa yang mereka katakan benar, kau telihat sangat berbeda dengan Kyungsoo yang aku kenal saat di atas panggung tadi. Dan kau juga hampir membuatku menaiki panggung saat melihatmu di gantung." Ucap Sehun sambil menggerutu pelan membuat Kyungsoo tertawa dan memukul lengannya.

"Itu hanya acting Sehun, jika tadi kau melihat dengan baik – baik, ada sebuah tali yang menggantung di kedua bahuku, itu yang membuatku tetap hidup walau digantung sekalipun." Jelas Kyungsoo sambil tertawa. Sehun di sebelahnya hanya menghembuskan nafas panjang dan mengusak rambut Kyungsoo pelan. "Tadi kau mengatakan akan memberikanku hadiah, mana?" tanya Kyungsoo menyodorkan tangannya yang kosong, kedua matnaya berkilat penuh minat membuat pria dihadapannya itu tersenyum dan menyerahkan sebuah paper bag berwarna ungu pada Kyungsoo.

"Apa ini?" tanya Kyungsoo menatapa Sehun dengan kening yang kerut.

"Kenapa kau tidak membukanya sendiri?" Tanya Sehun. Luhan membantu Kyungsoo memegang buket bunganya sementara wanita itu membuka hadiah dari Sehun.

Ternyata di dalam paper bag itu ada sebuah kotak berwarna pink membuat Kyungsoo semakin mengerutkan keningnya, dia pernah melihat kotak ini sebelumnya, hanya saja dia tidak ingat kapan dan dimana. Akhirnya Kyungsoo mengeluarkan kotak itu dan membukanya perlahan.

"Oh dear," gumamnya pelan. Kyungsoo menutup mulutnya dengan tangan dan menatap Sehun dan kotak itu bergantian.

Ternyata ini adalah satu set nail polish yang lengkap dengan glitter dan beberapa tool yang di butuhkan untuk membuat sebuah nail art di kukunya. Kyungsoo menutup kotak itu pelan dan kembali memasukannya kedalam paper bag, kemudian memeluk Sehun dengan erat, membuat pria itu tertawa sambil membalas pelukan Kyungsoo.

"Thanks thanks thanks." Kyungsoo terus menggumamkan kata terima kasih sebelum dia melepaskan pelukannya dan mengecup pipi Sehun. "Kau yang terbaik." Ucap Kyungsoo sambil mengacungkan kedua jempolnya.

Sedangkan Luhan dan Jongin membantu, melihat Kyungsoo yang mengecup pipi Sehun. Mereka tidak menyangka kalau hubungan kedua orang itu sudah sejauh ini. Seseorang berdeham pelan membuat Kyungsoo menengok kesampingnya, ternyata di sana sudah berdiri Chanyeol dan Baekhyun yang tengah membawa setumpuk bunga di tangannya.

"Hi!" Pekik Kyungsoo sambil memeluk Baekhyun. Mereka memang belum benar – benar berbicara satu sama lain setelah pertunjukan selesai karena Kyungsoo sibuk mengobrol dengan beberapa temannya, begitu juga Baekhyun.

"Kau benar – benar tampil maksimal hari ini." Ucap Kyungsoo saat memeluk wanita itu, Baekhyun memang menampilkan yang terbaik, dia menjadi salah satu tokoh antagonis yang tak lain adalah kakak dari Cordelia, bernama Regan.

Kyungsoo terkesima dengan acting Baekhyun yang menakjubkan sebagai tokoh antagonis. Kedua wanita itu melepaskan pelukannya dan tersenyum satu sama lain sebelum Kyungsoo menatap ke arah Chanyeol yang sekarang melingkarkan tangannya di bahu Kyungsoo.

"Kau melakukannya dengan baik Soo." Ucap Chanyeol sambil melepaskan pelukannya, dan Kyungsoo membalasnya dengan senyuman lebar.

"Jadi ini Baekhyun?" Tanya Luhan membuat Kyungsoo kembali menatapnya. Wanita itu tersenyum lebar dan mengambil buket bunga yang ada di tangan Luhan.

"Ya, Baekhyun, Chanyeol ini sahabatku Luhan dan pria disampingnya itu adalah Jongin." Ucap Kyungsoo memperkenalkan kedua temannnya. Ke empat orang itu mulai memperkenalkan dirinya sendiri sedangkan Kyungsoo menatap mereka dengan senyuman yang tidak pernah lepas.

"Bagaimana jika kita mengadakan sebuah pesta kecil?" Ujar Sehun membuat semua orang menatap ke arahnya. "Untuk merayakan keberhasilan Baekhyun dan Kyungsoo." Lanjutnya sambil merangkul pundak Kyungsoo.

"Boleh, bagaimana jika di apartemenku? Aku yang akan memasak." Ucap Kyungsoo, menyetujui ajakan Sehun. Baekhyun menatap Chanyeol sesaat sebelum mereka berdua mengangguk bersamaan. Jongin hanya mengangkat bahunya dan Luhan tentu saja langsung setuju dengan usulan itu.

"Baiklah jam 7 malam nanti kita berkumpul di sana." Usul Kyungsoo yang langsung di setujui oleh ke lima temannya itu.

"Tapi seseorang harus membantuku berbelanja hari ini." Ujar Kyungsoo.

"Aku dan Baekhyun tidak bisa menemanimu, kami harus pergi ke suatu tempat setelah ini." Ujar Chanyeol.

"Dan sepertinya hanya Kai yang bisa menemanimu." Cetus Luhan. "Aku harus pergi, mungkin juga dengan Sehun, karena ayah kita akan membicarakan soal proyek dan yah…" Luhan mengangkat bahunya tanpa menyelesaikan kalimatnya.

"Jadi semua orang sibuk hari ini? Bagaimana denganmu? Kau akan mengantarkanku berbelanja bukan?" Tanya Kyungsoo menatap Jongin yang sedari tadi menutup mulutnya tidak seperti biasa.

"Aku bebas hari ini." Jawabnya enteng sambil mengangkat bahunya. Kyungsoo memberikan senyumannya, membuat Jongin mau tidak mau ikut tersenyum. Kadang Jongin bingung dengan dirinya sendiri yang selalu ikut tersenyum saat melihat wanita bermata bulat itu tersenyum.

Aneh bukan?

"Aku akan membawa anggur untuk nanti malam." Ujar Chanyeol sambil merangkul pinggang Baekhyun. "Ayahnya memiliki beberapa persediaan anggur yang…" Lanjut Baekhyun berdecak lidah sambil mengacungkan jempolnya. Kyungsoo memekik girang sambil menepuk kedua tangannya.

"Ini benar – benar akan menjadi pesta yang menyenangkan." Ucap Kyungsoo tidak bisa menyembunyikan rasa senang dalam suaranya. Sehun tertawa melihat ekspresi Kyungsoo dan menurutnya tidak ada yang lebih menyenangkan selain melihat wanita di sampingnya itu tersenyum.

~You're My London~

Kyungsoo baru sampai di apartemennya saat langit berumah menjadi jingga bersama dengan seorang pria yang tak lain adalah Jongin. Mereka membawa dua buah kantung besar berisikan bahan makanan, sedangkan sebuah kantung kecil milik Jongin.

"Tanganku pegal sekali." Erang Kyungsoo sambil mendudukan tubuhnya di atas sofa. Jongin tersenyum dan menaruh belanjaan ke dapur. Dia kembali dengan dua buah gelas air putih yang satunya untuk diberikan pada Kyungsoo.

"I'm just gonna say 'make your self at home' but…" Kyungsoo tersenyum dan menerima gelas itu dari tangan Jongin.

"Kau tidak perlu mengatakannya karena aku sudah menganggap rumah ini adalah rumahku walah aku hanya pernah mengunjunginya sekali." Ujar Jongin sambil tertawa dan mendudukan dirinya di samping Kyungsoo.

"Ah, aku ingat sesuatu." Ucap Kyungsoo menatap Jongin. "Aku sudah mengerti makna lukisanmu." Ucapnya dengan sebuah senyuman lebar. Jongin di sampingnnya itu tersenyum sabil menaikan sebelah alisnya.

"Benarkah?" Tanya Jongin dan wanita itu mengangguk.

"Glow in the dark. 'Banyak hal yang menarik yang bisa dilihat hanya dalam kegelapan.' Yups. That is stars." Ucap Kyungsoo dengan senyuman bangga.

"Jadi kau sudah berhenti takut pada gelap?" Tanyanya. Seketika itu juga wajah Kyungsoo berubah. Wanita itu kembali murung dan memejamkan matanya sambil menarik nafas panjang.

"Sedikit." Ucap Kyungsoo sambil mengangkat jempol dan telunjuknya.

"Aku mempunyai sesuatu untukmu." Ucap Jongin sambil menarik kantung yang ada di sampingnya. "Dimana kamarmu?" Tanya Jongin.

Kyungsoo mengerutkan keningnya, tapi wanita itu bangkit dan berjalan menuju kamar dengan Jongin yang mengekor dibelakangnya.

"Apa yang akan kau lakukan di kamarku?" Tanya Kyungsoo saat Jongin masuk, sedangkan dirinya hanya bersandar di ambang pintu, memperhatikan gerak – gerik Jongin yang tengah berkeliling mengamati kamar Kyungsoo.

"Itu rahasia, kau akan mengetahuinya nanti. Sekarang sebaiknya kau pergi memasak sementara aku akan melakukan sesuatu di sini." Ujar Jongin mendorong Kyungsoo agar wanita itu pergi ke dapur.

"Tapi berjanjilah kau tidak akan melakukan hal yang aneh – aneh dan membuka – buka lemari atau laci." Sela Kyungsoo sambil menepis tangan Jongin yang ada di pundaknya. Jongin berdecak lidah dan mengangguk, meninggalkan Kyungsoo di dapur untuk mengerjakan masakannya.

~You're My London~

Dua puluh menit kemudian Jongin keluar dengan senyuman lebar terukir di bibirnya. Dia menghampiri Kyungsoo yang sibuk mengiris sesuatu. Wanita itu menatap Jongin dan terkekeh pelan.

"Apa yang kau lakukan selama di dalam sana sampai – sampai kau bisa tersenyum seperti itu?" Tanya Kyungsoo sambil mengiris bawang bombay.

"Kau akan mengetahuinya nanti." Jawab Jongin masih dengan senyuman di bibirnya. "Ada yang bisa aku bantu?" Tanya Jongin sambil menatap tanga Kyungsoo yang dengan lincah memotong bawang.

"Kau bisa membantuku memotong kimci." Ucap Kyungsoo sambil menunjuk sebuah toples bening. Jongin mengerutkan keningnya dan membuka toples itu.

"Apa yang kau buat malam ini?" tanya Jongin sambil mencari pisau dan talenan untuk memotong kimci.

"Spageti kimci." Jawab Kyungsoo dengan sebuah senyuman.

"Aku baru mendengar spageti kimci, apa kau yakin ini akan enak? Karena aku tidak akan makan jika rasanya aneh." Papar Jongin sambil memotong kimcinya.

"Kim Jongin! Kau akan menyesal karena berkata sepetri itu. Lihat saja nanti kalau kau tidak bisa berhenti makan jangan salahkan aku." Sela Kyungsoo sambil mendengus, berbalik untuk memasak saus.

Untuk sesaat suasana hening hanya terdengar percikan minyak dan ketukan pisau. Kyungsoo mengigit bibirnya saat sebuah pikiran singgah di benaknya. Dia menatap Jongin yang memunggunginya. Kyungsoo berdeham pelan.

"Soo/Jong-" Mereka memanggil nama satu sama lain bersamaan membuat Jongin berdeham pelan.

"Kau terlihat dekat dengan Sehun." Cetus Jongin cepat, sebelum terjadi adegan 'kau duluan' seperti yang terjadi di drama – drama. Kyungsoo tertawa pelan dan mengaduk sausnya dengan spatula.

"Tentu saja, kita satu kampus, aku bahkan hampir setiap hari bertemu dengannya." Papar Kyungsoo sambil mengangkat bahu.

"Kau sendiri, bagaimana hubunganmu dengan Luhan?" tanya Kyungsoo mencoba menjaga suaranya. Dia mendengar Jongin menghembuskan nafas panjang.

"Entahlah Soo. Kau tau, dia terlihat menyukai pria lain." Jawab Jongin membuat Kyungsoo terkejut.

Luhan menyukai pria lain?

Tapi Kyungsoo tidak pernah melihat Luhan berjalan dengan pria lain atau bahkan menyebut – nyebut nama pria selain Jongin.

"Kau yakin? Tapi aku tidak pernah mendengar Luhan menyebut – nyebut pria lain, selain dirimu tentu saja." Ujar Kyungsoo sambil mematikan kompor dan berjalan ke samping Jongin.

"Kau yakin Luhan pernah membicarakanku? Kau tau sepertinya dia-"

"Ya Tuhan Jongin!" Sela Kyungsoo saat wanita itu berdiri di sampingnya. "Aku menyuruhmu untuk memotongnya bukan mencincangnya seperti ini." Kyungsoo menarik pisau dari tangan Jongin dan mendorong pria itu menjauh. Akhirnya Jongin berdiri dibelakang Kyungsoo dan memperhatikan wanita itu memotong.

"Kau hanya menyuruhku memotongnya Soo, kau tidak mengatakan bagaimana cara memotongnya." Sela Jongin membuat Kyungsoo mendengus.

"Lihat, kau harus memotongnya seperti ini." Ujar Kyungsoo masih dengan nada tinggi. Dia memotong kimci itu bentuk dadu. "Bukan mencincangnya." Lanjut wanita itu sambil menghembuskan nafas panjang.

Sedangkan Jongin hanya menatapnya dari belakang, sedikit mencondongkan tubuhnya. Jongin baru sadar akan aroma parfum Kyungsoo yang tercium seperti buah – buahan segar. Dia tersenyum dan menatap wanita itu, dan sebuah pikirkan jahil terbesit di kepalanya. Dia mengulurkan tangannya di kedua sisi tubuh Kyungsoo dan menaruh tangannya di atas tangan Kyungsoo yang sedang memotong kimci.

"Kalau begitu ajari aku." Ujar Jongin sambil menaruh kepalanya di pundak Kyungsoo.

Seketika itu tubuh Kyungsoo menjadi kaku, dia tidak pernah berada sedekat ini dengan Jongin, sampai – sampai dia bisa merasakan hembisakan nafas pria itu di lehernya.

"Tidak seperti ini Kim Jongin." Ujar Kyungsoo mencoba menyingkirkan tangan Jongin tapi pria itu menggeleng dan tertawa pelan.

"Tidak, Do Kyungsoo. Ini posisi yang terbaik untuk mengajarkanku cara memotong yang benar." Sela Jongin tidak bisa menyembunyikan tawa dari suaranya. Kyungsoo menghentakan tangan Jongin tapi pria itu malah melingkarkan tangannya di pinggang Kyungsoo membuat wanita itu membelalak kaget.

"Kim Jongin lepaskan atau aku akan benar – benar membunuhmu." Geram Kyungsoo membuat akhrinya Jongin melepaskan wanita itu dari kungkungannya.

Kyungsoo mendengus sebal dan mengikat rambutnya asal dia berdiri di samping Jongin yang kini sedang tertawa terbahak – bahak. Dia mendengus pelan dan memukul lengan pria itu. Jujur saja dia tidak suka di perlakukan seperti itu, belum penah ada seorang pria pun yang melakukan hal itu padanya. Kyungsoo juga tidak suka dengan jantungnya berdetak terlalu kencang dan pipinya yang terasa sangat panas.

"Ayolah aku hanya bercanda Soo." Ucap Jongin di sela – sela tawanya. Kyungsoo mendengus dan meninggalkan pria itu untuk kembali melakukan pekerjaanya.

"Tapi itu sama sekali tidak lucu Kim Jongin." Dengus Kyungsoo sambil memasukan pastanya kedalam panci untuk di masak. Jongin yang merasa bersalah, mendekati Kyungsoo yang masih kesal.

"Baiklah, aku tidak akan melakukannya lagi." Rayu Jongin sambil mencolek pipi Kyungsoo berkali – kali membuat wanita itu menghela nafas panjang. "Tunggu, apa mungkin kau takut Sehun melihatnya dan membuat kalian bertengkar? Jadi kau dan Sehun sudah menjadi sepasang ke kasih?" Ujar pria itu membuat Kyungsoo memukul lengannya keras, dan Jongin kembali tertawa sambil mencoba menghentikan Kyungsoo yang terus memukulnya.

"Kau. Benar. Benar. Menyebalkan." Ucap Kyungsoo di setiap pukulannya, membuat Jongin meringis pelan tapi pria itu tidak berhenti tertawa sampai akhrinya dia tersungkur dan jatuh di lantai. "Berhentilah Kim Jongin sebelum aku menendangmu dari sini." Kyungsoo sudah naik pitam, terlihat dari wajahnya yang benar – benar memerah. Akhirnya Jongin menyerah dia bangkit dan menghentikan tawanya.

"Baiklah, aku berhenti, tapi kau harus memberikan senyumanmu nona manis." Pria itu kembali menggoda Kyungsoo yang bahkan sudah tidak mau meliriknya. "Ayolah Soo, kau akan terlihat manis jika tersenyum." Lanjut Jongin membuat Kyungsoo menatapnya dengan alis yang terangkat.

"Simpang rayuanmu tuan penggombal, sekarang cepat selesaikan tugasmu." Ujar Kyungsoo menepis tangan Jongin yang masih mencolek pipinya.

"Baik komandan." Ucap Jongin dengan tubuh tegap dan tidak lupa dengan tangan yang sedang menghormat pada Kyungsoo, membuat wanita itu memutarkan bola matanya.

Kyungsoo menatap spagetinya yang tengah di rebus. Dia mengetuk – ngetuk jarinya di meja, menatap Jongin yang tengah serius memotong kimci.

"Tadi kau mengatakan kalau Luhan menyukai pria lain?" Tanya Kyungsoo sambil berdeham pelan. Dia melihat jari Jongin berhenti bekerja, pria itu mendongakan wajahnya menatap lurus kedepan.

"Ya, aku yakin sekali." Ujar Jongin pelan sambil menatap Kyungsoo.

"Tapi aku tidak pernah mendengar Luhan menyebut – nyebut pria lain, selain dirimu tentunya." Ulang Kyungsoo sambil mengangkat bahu sambil mengaduk spagetinya.

"Kau yakin?" Tanya Jongin. Untuk beberapa saat Kyungsoo terdiam, berpikir. Tapi kemudian dia mengangguk.

"Jadi apa yang akan kau lakukan?" Tanya Kyungsoo "Menyerah dan mengejar wanita lain?" Tanya Kyungsoo sambil tersenyum. Tapi kemudian Jongin terlihat berpikir, Kyungsoo mencoba untuk tidak tertawa karena melihat ekspresi sok serius pria itu.

"Mungkin aku akan mengejarmu." Ujarnya membuat mata Kyungsoo yang sudah bulat semakin membulat lucu. Dan kini giliran Jongin yang mencoba menahan tawanya.

"Kau tadi mengatakan kalau kau dan Sehun tidak ada hubungan-Oh tunggu, apa kau baru saja memberiku sinyal agar aku mendekatimu?" Goda Jongin.

Kyungsoo menghembuskan nafas panjang dan mengalihkan pandangannya dari Jongin. Pria itu benar – benar tidak mengerti bagaimana reaksi jantungnya setiap dia menggoda Kyungsoo, pria itu tidak akan mengerti sesuatu yang perlahan menggetarkan hatinya, pria itu tidak akan mengerti akan sesuatu yang Kyungsoo rasakan setiap mata mereka bertemu, setiap untaian canda yang selalu di lontarkannya membuat Kyungsoo semakin takut,

Kyungsoo takut dia benar – benar menjatuhkan hatinya pada pria bodoh bernama Kim Jongin.

Tapi kemudian sebuah tangan melingkar di pundaknya membuat Kyungsoo terkejut. Dia menatap menengok ke samping dan melihat Jongin yang tertawa, dengan tangan kotor yang penuh dengan bumbu kimci.

"Ayolah, kau tau aku tidak memiliki teman wanita selain dirimu, jika Luhan mencintai pria lain, itu berarti kau harus menikah denganku." Ujar Jongin dengan suara yang dibuat – buat seakan dia tengah menderita karena putus cinta.

Kyungsoo mendengus, wanita itu mencoba menjaga suaranya saat berbicara.

"Lepaskan aku! Asal kau tau saja, aku tidak akan pernah melakukannya. Aku tidak mau jika harus menikahi seorang pria yang dengan seenaknya merangkul seorang wanita." Dengus Kyungsoo mencoba melepaskan tangan Jongin dari pundaknya.

"Hey, kau akan menyesal nanti. Asal kau tau, tidak ada yang bisa menolak pesona seorang pelukis." Sela Jongin sambil melepaskan tangannya.

"Kalau begitu carilah wanita lain untuk kau rayu." Ujar Kyungsoo tak perduli. Jongin tertawa melihat ekspresi Kyungsoo dan pria itu kembali melingkarkan tanganya di bahu Kyungsoo.

"Tapi aku hanya ingin menikah dengan wanita yang senang meluis di kukunya." Goda Jongin membuat wajah Kyungsoo memerah.

"Menjauh dariku Kim Jongin." Dengus Kyungsoo menatap pria itu dengan wajah yang memerah, entah karena marah atau hal lain yang membuat Jongin tertawa.

"Kau marah? Marah? Marah?" Tanya Jongin sambil mengelitik perut Kyungsoo membuat wanita itu akhrinya tertawa.

"Jangan berani kau menyentuhku." Ucap Kyungsoo berjalan mundur dan menghalau tangan Jongin. Tapi pria itu malah tersenyum dan mendekati Kyungsoo dan kembali menggelitik wanita itu dengan tangannya yang bersih, Kyungsoo mencoba menahan tangan Jongin tapi itu tidak ada gunanya, pria itu terlalu kuat. Untuk beberapa detik Kyungsoo bisa menahan tangan Jongin, mata mereka bertemu dan Kyungsoo menggeleng, memohon Jongin untuk berhenti, tapi pria itu malah memperlihatkan sebuah senyuman lebar dan melepaskan cengkraman tangan Kyungsoo.

"Kim Jongin hentikan." Ujar Kyungsoo di sela sela tawanya, dia menahan tangan Jongin sedangkan pria itu hanya menjulurkan lidahnya.

"Tidak." Ucap Jongin tapi detik berikutnya Kyungsoo melepaskan tangan Jongin dan berlari meninggalkan dapur sambil tertawa. Tanpa pikir panjang Jongin langsung mengejarnya.

"Kau tidak akan bisa lari." Seru Jongin tapi Kyungsoo hanya menjulurkan lidahnya sebagai balasan.

~You're My London~

Sehun dan Luhan meninggalkan kedua ayah mereka di sebuah restorant untuk makan malam, dan mengatakan kalau mereka suah membuat janji untuk makan bersama dengan Kyungsoo, dan tentu saja sang ayah yang sudah mengenal Kyungsoo mengijinkan Luhan untuk pergi, apalagi bersama Sehun.

Mereka pergi dengan berjalanan kaki, karena restoran tempat ayah mereka tidak jauh dari apartemen Kyungsoo. Luhan juga mengatakan kalau dia ingin menghirup udara malam sesekali.

Mereka mampir ke sebuah mini market yang ada di pinggir jalan. Luhan membawa sebuah keranjang berwarna merah yang sudah di sediakan. Dia jalan ke bagian makanan ringan. Sedangkan Sehun mengekorinya dari belakang.

"Kau tau, Kyungsoo telihat senang sekali saat kau memberikan dia hadiah." Ujar Luhan membuka percakapan. Sehun yang ada di sampingnya hanya tersenyum.

"Benarkah?" tanya Sehun sambil mengambil sebuah kopi kaleng dari dalam lemari es. "Well, yeah dia memang telihat seperti itu." Lanjut Sehun sambil berbalik dan berdiri di samping Luhan yang tengah melihat komposisi salah satu snack.

"Kau selalu melakukan itu?" tanya Sehun membuat Luhan mengerutkan dahi menatap pada pria itu.

"Melakukan apa?" Tanya Luhan.

"Melihat komposisi makanan. Kau mempunyai standar untuk sebuah makanan?" Tanya Sehun dengan sebuah senyuman yang bermain di bibirnya. Luhan berdeham pelan dan memasukan makanan itu ke dalam keranjangnya.

"Ibu selalu mengajarka aku untuk berhati – hati memilih makanan. Kau tau, belakangan ini banyak sekali zat – zat berbahaya yang digunakan, salah satu contohnya pemanis buatan dan…"

"Itu tidak baik untuk tubuh, aku tau." Potong Sehun, pria itu berdecak pinggang dan menatap Luhan dari atas rambut sampai ujung jari. "Kau tau, kau bisa menjadi istri yang sempurna kelak." Lanjutnya sambil tersenyum.

Entah kenapa pipi Luhan merasa kalau pipinya sangat panas dan dia tidak ingin Sehun melihatnya, wanita meraih satu bungkus makanan lagi untuk kembali di lihat komposisinya.

"Laki – laki yang mendapatkanmu mungkin tidak akan menyesal, kau tau." Ujar Sehun sambil mengangguk – angguk dan melihat pada makanan yang tengah dipegang oleh Luhan. Sedangkan wanita yang di sampingnya itu hanya memutarkan bola mata sebagai jawaban.

"Aku tidak tau kalau ternyata kau dan Kyungsoo mempunyai kesamaan." Ujar Sehun sambil meraih sebuah snack dan membaca komposisinya seperti apa yang dilakukan Luhan.

"Apa?" Tanya Luhan sambil mengerutkan keningnya. Sehun tersenyum tipis sambil menengok ke arah Luhan.

"Kalian tidak suka di puji." Ucap Sehun lebih terdengar seperti sebuah pertanyaan di telinga Luhan.

Wanita itu menghembuskan nafas panjang dan menatap Sehun untuk beberapa saat sebelum berdeham pelan.

"Biar aku jelaskan sesuatu Oh Sehun. Kita berdua bukan tidak suka di puji tapi apa yang baru saja kau katakan seperti gombalan anak remaja yang menggelikan." Ucap Luhan.

Sehun hampir saja menyemburkan tawanya. Dia bertanya pada dirinya sendiri apakah benar dia terdengar seperti anak remaja yang suka mengeluarkan gombalan untuk merayu wanita. Tapi jujur saja Sehun tidak bermaksud seperti itu, dia hanya ingin menyuarakan apa yang ada di pikirkannya, itu saja.

"Tapi jujur saja aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin menyampaikan apa yang ada di pikiranku saja. Kau benar – benar akan menjadi istri yang sempurna. Kau tau, semua pria bisa jatuh cinta padamu semudah menjentikan jari." Ucap Sehun sambil mengangkat bahunya acuh tak acuh dan memasukan makanan itu ke dalam keranjang.

Luhan membeku di tempatnya. Ini bukan pertama kalinya dia di puji seperti itu, ini juga bukan pertama kalinya seorang pria mengatakan kalau dia mudah dicintai. Tapi entah kenapa saat itu keluar dari mulut Sehun, semuanya terasa berbeda. Ada sesuatu hal lain, yang membuat Luhan ingin sekali untuk-

berharap.

"Jadi makanan apa yang kau sukai?" tanya Sehun membuat Luhan mengerjapkan matanya dan kembali ke dunianya. Dia melirik ke arah Sehun yang berada di sebelah kanan, tengah memilih sebuah cemilan manis.

"Aku suka makanan manis." Jawab Luhan menghampiri Sehun dan meraih sebuah cemilan dengan bungkusan berwarna pink yang lucu. Sehun menatapnya sambil tersenyum tipis.

"Dan ini adalah salah satu snack favoritemu?" tanyanya. Luhan menatap makanan yang berada di tangannya sambil mengerucutkan bibir.

"Ada yang salah dengan hal itu?" Tanya Luhan tidak suka dengan nada bicara Sehun yang terdengar seperti mengejek atau apalah.

"Tidak, tentu saja tidak. Hanya.. kau tau, snack ini untuk anak kecil, sepupuku suka sekali dengan makanan ini, dan aku tidak menyangka wanita dewasa sepertimu masih menyukainya." Jawab Sehun.

Luhan menggerutu pelan tapi tidak menyangkal, membuat Sehun terkekeh pelan dan melingkarkan tangannya di bahu Luhan membuat wanita itu membeku.

"Kau juga pasti menyukai cake bukan?" tanya Sehun. butuh waktu beberapa detik untuk Luhan menjawabnya, semua ini di karenakan tangan Sehun yang melingkar di bahunya dan hal itu membuat jantungnya tidak bisa berdetak dengan normal.

"Ya. Red velvet salah satu kesukaanku." Jawab Luhan agak sedikit terbata.

Sehun menarik dirinya dan mengusak rambut Luhan pelan sambil memamerkan sebuah senyuman yang tidak baik untuk ke sehatan jantung Luhan.

"Aku akan mengingat hal itu." Ucapnya sambil berjalan menjauhi Luhan untuk memilih snack yang lain.

Luhan memejamkan mata dan mencoba untuk kembali menstabilkan derup jantungnya yang jauh dari batas normal. Hatinya terus saja berbisik untuk berharap, berharap dan berharap. Berharap untuk sesuatu yang lebih dari sekedar ini, berharap…

"Jadi snack apa yang Kyungsoo suka?"

Kyungsoo…

Tentu saja.

Entah kenapa detik itu juga Luhan merasakan kalau ada sebuah batu yang tiba – tiba jatuh dia atas kepalanya. Dia sedikit limbung tapi untung saja Sehun tidak menyadari hal itu. Luhan pura – pura menunduk meraih sebuah makanan di bawah sambil bergumam.

"Dia suka sekali potato chips. Dia hampir tergila – gila dengan itu."

Luhan mencoba menghembuskan nafas panjang, dia tau pada akhirnya dia tidak bisa berharap. Luhan tau hal itu dan akhirnya dia hanya bisa tersenyum.

"Benarkah?" Tanya Sehun menghampiri Luhan yang tengah mengulurkan sebungkus potato chips. Sehun meraihnya dan melihat bungkusan itu.

"Baiklah kalau begitu, kau sudah membeli semuanya?" Tanya Sehun menatap keranjang yang ada di tangan Luhan.

"Ya." Jawab wanita itu singkat sambil tersenyum membuat Sehun kembali mengusak kepalanya.

"Kalau begitu jangan membuang waktu kita." Ucapnya sambil menarik pergelangan tangan Luhan menuju kasir. "Oh, ada sesuatu yang ingin kau beli lagi? Seperti minuman atau apalah itu?" Tanyanya. Luhan berpikir sesaat sambil menaruh keranjangnya di meja kasir.

"Tidak, walau aku ingin sekali membeli sebuah americano tapi mungkin nanti setelah pulang dari apartemen Kyungsoo." Jawab Luhan sambil meraih dompet dari tasnya tapi Sehun lebih dulu menyodorkan kartu kreditnya pada sang kasir.

"Biar aku yang membayar." Ujarnya singkat, Luhan hendak menolak tapi Sehun dengan cepat menggeleng sambil kembali menerima kartu kreditnya.

Sehun membawa bungkusan itu dengan tangannya dan membukaan pintu untuk Luhan. Suatu hal kecil itu yang membuat Luhan semakin bingung, dia suka saat seorang pria melakukan hal – hal kecil yang bermakna. Luhan mencoba melawan semua perasaan yang muncul di hatinya, sebuah perasaan yang terus mengusik saat pria itu berada di sampingnya.

"Kau menjadi pendiam, kenapa?" tanya Sehun saat mereka keluar. Luhan menengok kearahnya dan berdeham pelan.

"Tidak, aku baik – baik saja. Memangnya kau mengira aku tipe wanita yang tidak bisa menutup mulut?" Tanya Luhan. Sebuah senyuman kembali terlihat di bibir Sehun membuat Luhan harus mengalihkan pandangannya.

"Tidak, hanya saja aku senang mendengarmu berbicara." Ujar Sehun singkat.

Luhan memutarkan bola matanya tapi sebuah senyuman tidak bisa di sembunyikan dari bibirnya. Dia tidak bisa berbohong pada hatinya yang suka pada apa yang baru saja Sehun ucapkan.

"Kau-"

Ucapan Luhan terhenti saat sebelah tangan Sehun melingkar di pundaknya dan menariknya ke tepi jalan, pria itu menggantikan dirinya untuk berjalan di sisi yang banyak kendaraan melintas. Tanpa berbicara Sehun kembali menarik tangannya dan memasukannnya kedalam saku celana.

Hal kecil ini yang membuat Luhan semakin bingung, hal kecil ini yang membuatnya semakin ingin berharap, dan sekarang dia tidak tau apa yang harus di lakukannya. Di satu sisi dia ingin berharap untuk sesuatu yang lebih tapi di sisi lain dia sadar kalau wanita yang diinginkan Sehun bukanlah dirinya dan lebih parahnya, wanita yang Sehun cintai adalah sahabatnya sendiri. Semua keadaan ini membuatnya pusing. Dia seakan terjebak dalam sebuah labirin tanpa ada jalan keluar.

Luhan hanya bisa berharap dia bisa cepat keluar di semua masalah ini tanpa menyakiti siapapun. Dirinya, Kyungsoo, Kai ataupun Sehun.

.

.

.

To Be Continued

Updatean lama lagi ^^ maaf soal itu. Authro masih sibuk dengan kehidupan nyata, collage thingy etc etc etc. Dan mungkin akan semakin sibuk di awal oktober sampai desember. OMG! Live never works so fair to me. lol!

Author ingin menyampaikan kalau author punya sebuah akun di Wattpad. Di sana author memposting cerita juga. Jadi untuk semua yang tidak bisa membuka ffn bisa buka disana. Wattpad juga udah kayak punya semacam aplikasi lagi yang bisa di didownload di play store untuk semua yang punya android tapi kalau yang engga punya bisa buka di google kayak kalian buka ffn. It's so simple.

Author juga berencana memposting beberapa ff kaisoo dan hunhan terbaru disana. And here the link www. / user/ Bunga_Juniar (hapus spasi)

Terima kasih untuk semua orang yang sudah menunggu ff yang aneh ini (walau author tau sebenernya engga ada yang bener – bener mantengin). And untuk semua komentar yang udah masuk. Author seneng banget sampe – sampe pengen nangis setiap baca komentar yang masuk (kalian bener – bener bikin author engga tau harus biaca apa lagi) pokonya makasih banyak deh. I LOVE YOU ^^

Tapi kalau kalian punya kritik atau saran, kalian juga bisa langsung omongin di review, atau untuk kalian yang mau bertanya sesuatu hal yang tidak mengerti dari ff ini, atau mau nanyain apapun. Kalian bisa langsung tanya dan author bakal jawabnya lewat PM. Okay?

Love ya.