DIFFERENT
Rated:
T [bisa berubah kapanpun]
Cast:
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Oh Sehun
Xi Luhan
and Other Cast..
Dua kepribadian yang berbeda menjadi saling memiliki. Baekhyun yang gemar berkelahi dengan Chanyeol si ketua Osis yang sangat berwibawa. Sehun si tukang bully dengan Luhan si namja pemalu dan terlihat lemah. Semua itu hanya karena surat cinta sialan milik Luhan. Bagaimana kedua pasangan itu menjalani kisah cintanya? mampukah keempat namja itu bertahan?
Pukulan kecil Baekhyun layangkan pada dada Daehyun yang kini sedang menciumnya –Baekhyun membutuhkan oksigen saat ini, lelaki mungil itu sungguh tak menyangka Daehyun yang selama ini menjadi teman seperjuangannya dalam tawuran justru menciumnya.
Berbeda dengan ciuman pertamanya dengan Chanyeol, Baekhyun tak merasa apapun kali ini. Ia pun segera melepaskan ciuman itu dan mendorong tubuh Daehyun menjauh. Matanya menatap tajam Daehyun dengan jemarinya yang menggosok bibirnya, "Kau itu apa apaan hah? Kenapa kau menciumku?"
"Aku menyukaimu, Baek." tidak sesuai ekspetasi, Daehyun justru mengungkapkan perasaannya, "Aku menyukaimu lebih dari teman."
Tubuh Baekhyun menegang seketika, ia sungguh tak menyangka sosok sahabatnya yang selalu menemaninya dalam tawuran justru menyukainya. Entah mengapa perasaan Baekhyun semakin tidak enak dan marah sekaligus, apalagi ketika ia melihat Chanyeol berjalan mendekat kearah mereka.
Mata Daehyun menatap Baekhyun berbeda dengan biasanya, tatapannya terlihat sangat memuja kepada lelaki yang lebih mungil, "Aku tidak tahu menyukaimu semenjak kapan, tetapi aku selalu merasa nyaman dekat denganmu dan aku cemburu saat si keparat Park mencium bibirmu."
Baekhyun mengepalkan tangannya merasa marah dan ia pun berdiri dengan tatapan nyalang, "Sialan kau! Berani beraninya kau menciumku dan sekarang kau bilang kau menyukaiku, brengsek!" ia pun segera melayangkan pukulannya pada wajah Daehyun. Semenjak dulu, Baekhyun memang paling tidak suka ada orang yang menyukainya melebihi dari teman.
Namun belum sempat ia memukul, tiba tiba saja Chanyeol datang dan menarik lengan Baekhyun, "Biar aku saja yang memukul keparat itu," Chanyeol pun mendekati Daehyun dan menatap tajam lelaki itu, ia bahkan menarik kerah Daehyun membuat lelaki itu terangkat, "Jangan menyentuhnya sialan, dia itu milikku!"
Dengusan Daehyun terdengar, ia menatap remeh lelaki jangkung dihadapannya, "Baekhyun milikmu? Jangan kebanyakan menghayal bodoh! Baekhyun itu sama sekali tak menyukaimu."
Jemari Chanyeol mengepal erat, wajahnya sungguh sangat tak bersahabat sekarang. Baekhyun yang melihat aura gelap Chanyeol merasa takut seketika, ia sungguh tak menyangka Chanyeol memiliki sisi yang menakutkan seperti ini. Pukulan pun melayang kearah Daehyun dengan membabi buta, Chanyeol benar benar tenggelam dalam emosinya.
"Chanyeol hentikan!" teriak Baekhyun, lelaki mungil itu mencoba menahan Chanyeol namun nihil, ia bahkan sudah menarik lengan Chanyeol tetapi tenaga lelaki itu lebih kuat. Ya, walaupun ia juga marah dengan Daehyun, tetapi pukulan Chanyeol tidak main main. Pelipis dan bibir Daehyun sudah mengalir darah segar karena pukulan Chanyeol.
Sampai tiba tiba ia pun memilih pilihan gila untuk menghentikan Chanyeol –memeluk Chanyeol dari belakang. Entah mengapa kekuatan Baekhyun yang mampu bertarung dengan hebat kini justru lenyap seketika melihat Chanyeol memukul Daehyun dengan brutal.
Bukan hanya Baekhyun, Daehyun pun sama. Ia tidak bisa melawan Chanyeol bahkan untuk menahan serangannya pun tidak bisa. Chanyeol benar benar terlihat seperti seorang psikopat yang benar benar ingin membunuh lawannya.
Namun, tiba tiba saja Chanyeol berhenti memukul Daehyun saat merasakan pelukan Baekhyun. Dan itu kesempatan bagi Baekhyun, lelaki mungil itu pun segera melepas pelukannya dan menghampiri Daehyun yang sudah babak belur. Belum sempat Baekhyun bertanya keadaan Daehyun, Chanyeol tiba tiba menarik lengan Baekhyun membuat mereka berdua saling bertatapan. Mata onyx Chanyeol menatap tajam mata hazel milik Baekhyun membuat si mungil seketika membatu, tatapan Chanyeol memang sangat mengintimidasi, "Jangan pedulikan dia!"
Baekhyun menatap Chanyeol dengan alis berkerut, dia sungguh berbeda dari Chanyeol yang dikenal. Para siswa yang menonton –ternyata sedari tadi mereka jadi pusat perhatian, hanya memekik tak percaya sekaligus terpesona dengan sosok dingin dan mengintimidasi seorang Park Chanyeol yang biasanya dikenal dengan sosok hangat dan bijaksana.
Jemari besar Chanyeol menggenggam jemari lentik Baekhyun erat, "Sekarang aku akan mengantarmu pulang. Tanpa penolakan!" lelaki itu pun menarik Baekhyun kearah motornya yang tak jauh dari sana.
Tentu saja Baekhyun protes dengan perintah Chanyeol, ia segera menghempaskan jemari Chanyeol dan menatap tajam lelaki jangkung itu, "Yak! Memangnya siapa kau hah? Aku tak ingin pulang denganmu sialan!"
"Kau milikku, Baby," Chanyeol tiba tiba saja mengalihkan pandangannya kearah Daehyun dan para siswa yang menonton mereka, "dan tak ada yang boleh menyentuh milikku! Atau kalian akan menerima konsekuensinya." tatapan itu sangat tajam dan menakutkan. Seluruh penonton hanya begidik ngeri melihatnya, dan mereka pun mengangguk mengiyakan –lagipula tanpa Chanyeol suruh pun mereka enggan menyentuh bahkan mendekati Baekhyun si master of tawuran.
Amarah Baekhyun mendidih seketika, baru kali ini dia menemukan orang sejenis Chanyeol. Bagaimana bisa lelaki itu mengklaimnya sampai separah ini? Ayolah, Chanyeol bukanlah mafia, CEO muda kaya, maupun orang yang berpengaruh di Korea, dia hanyalah ketua gerombolan tikus yang paling Baekhyun benci. Dan tak seharusnya ia bertingkah seperti ini, ia sungguh telah keluar batas.
Tiba tiba Baekhyun pun melayangkan pukulannya ke wajah Chanyeol, namun sayangnya kali ini pukulan Baekhyun harus meleset. Entah mengapa sangat berbeda dengan pemukulan Baekhyun saat insiden ciuman, kali ini Chanyeol justru menahan kepalan tangan Baekhyun, "Tak perlu ada pemukulan kali ini Baby."
"Sialan!" desis Baekhyun.
Baekhyun pun mencoba untuk melepaskan jemari Chanyeol yang menahan kepalan tangannya. Namun sayangnya nihil, Chanyeol justru menarik tubuh Baekhyun membuat jarak mereka menjadi sangat dekat. Baekhyun bahkan mencium dengan jelas aroma mint dari bibir lelaki jangkung itu, membuat jantungnya berdetak cepat seakan ingin berlari dari tempatnya, dan tubuhnya menjadi kaku dan membatu, "Jangan melawanku sayang atau kau akan menerima konsekuensinya."
Dan siapa sangka? Chanyeol justru mengecup pelan bibir Baekhyun dan tersenyum tampan di depan para siswa yang menonton. Semua orang disana memekik tak percaya dengan sikap Chanyeol, begitupun dengan Baekhyun yang mendadak mematung dengan wajah yang memerah tak mampu berkata apa apa.
Menyadari keterdiaman Baekhyun, Chanyeol pun segera menarik Baekhyun menuju motornya –agar lelaki mungil itu tidak menolak kembali. Setelah menaiki motor Chanyeol, tubuh Baekhyun masih saja kaku dan diam –lelaki mungil itu sedang memikirkan aroma mint bibir Chanyeol, oh tidak! Sepertinya Baekhyun ingin mencicipi bibir itu lagi.
Jemari Chanyeol dengan lihai memakaikan helm ke kepala Baekhyun, dan lelaki mungil itu masih terdiam dengan fokus pada bibir Chanyeol –tanpa Chanyeol sadari. "Peluk aku, Baby." perintah Chanyeol saat sudah berbalik hendak mengendarai motornya. Chanyeol bahkan menarik Baekhyun agar memeluk pinggangnya. Dan BOOM! Entah ada angin apa Baekhyun justru menurutinya seperti seorang puppy yang menuruti perintah majikannya. Dalam hati Chanyeol, lelaki itu memekik senang. Dia bahkan tersenyum yang sayangnya tertutup oleh helmnya.
Oh sepertinya Chanyeol akan lebih sering lagi mengecup bibir Baekhyun, agar lelaki itu menurut padanya. Ha!
.
.
.
Jarak rumah Baekhyun dan sekolahnya itu sangatlah dekat, bahkan dengan lima menit berjalan kaki pun sampai. Tetapi pengecualian untuk hari ini, entah mengapa perjalanan untuk mencapai rumahnya sampai setengah jam lebih, padahal itu dengan motor ninja keluaran baru. Dan sialnya, Chanyeol lah yang menyebabkan semua ini.
Awalnya Baekhyun tidak sadar bahwa Chanyeol tidak membawanya pulang –otak Baekhyun masih memikirkan bibir apel rasa mint milik Chanyeol, tetapi lama kelamaan Baekhyun tersadar dan merasa kesal sendiri mendapati lelaki itu justru membawanya berjalan jalan keliling kota.
"Yak! Park Chanyeol! kau sebenarnya membawaku kemana hah?" wajah Baekhyun merengut menyadari Chanyeol tak kunjung membawa motornya ke jalan komplek rumahnya, "Aku ingin pulang, sialan!"
Seringaian Chanyeol terukir dibibirnya –meski tidak terlihat oleh Baekhyun, "Kau tak ingin lebih lama bersama pacarmu, Baby?" dan entah sejak kapan Chanyeol kembali menjadi sosok Chanyeol yang menyebalkan –dimata Baekhyun, kemana Chanyeol yang menakutkan dan sangat mengintimidasi eoh?
"Lebih baik aku bersama kucing peliharaan bibi tetangga sebelah ketimbang bersama denganmu."
Bukannya merasa sakit hati dengan ucapan pedas Baekhyun, Chanyeol justru terkekeh, "Ya tuhan Baby hahaha, kau ternyata termasuk spesies kucing hah? Pantas saja kau senang bermain dengan kucing milik tetanggamu."
Mata Baekhyun berputar malas mendengar lawakan garing milik Chanyeol. Ia pun lebih memilih memejamkan matanya merasakan hawa dingin yang menerpa wajahnya dan merasakan aroma parfum maskulin pada tubuh Chanyeol –yang entah mengapa Baekhyun justru sangat menyukainya. Heol Byun! Kau tak sadarkah bahwa kau sedang memeluk dan tertidur di punggung Chanyeol?
"Baekhyun?" panggil Chanyeol saat merasakan nafas teratur di belakang tubuhnya. Untung saja kecepatan motor Chanyeol lumayan pelan. Jika tidak, ia tak tahu bagaimana nasib Baekhyun yang tiba tiba saja tertidur diatas motor. Ha! Byun Baekhyun memang benar benar.
Chanyeol pun memilih berhenti dipinggiran taman sungai han. Senyumnya mengembang mendapati Baekhyun yang tiba tiba terbangun dan menatapnya dengan tatapan sayu, "Kita sudah sampai?" suaranya terdengar serak sekaligus seksi ditelinga Chanyeol.
"Hm," tubuh Chanyeol pun berputar kebelakang, senyumnya makin melebar ketika melihat wajah suntuk Baekhyun, "duh baby, wajahmu sangat tidak pas untuk situasi ini haha. Padahal aku ingin mengajakmu berkencan." jemarinya pun mencubit pipi Baekhyun gemas membuat yang mungil meringis.
"Ish, sakit!" Baekhyun menghempaskan jemari Chanyeol pada pipinya, setelahnya ia pun mencebikkan bibirnya dengan kesal namun terlihat sangat imut, "kenapa kau mengajakku berkencan? Aku ingin pulang tahu!"
"Yang namanya orang pacaran itu harus berkencan, baby." dan dengan kurang ajarnya, Chanyeol tiba tiba mendekatkan tubuhnya dengan Baekhyun dan mengecup bibir itu. Wajah Baekhyun berubah memerah dengan tubuh yang kaku dan membeku seketika. Bukannya merasa bersalah, Chanyeol justru terkekeh geli, "Ya tuhan! pacarku imut sekali."
Respon Baekhyun justru hanya terdiam tak memperdulikan ucapan Chanyeol –ia sibuk memikirkan kecupan pacar tingginya. Ya, sepertinya untuk meluluhkan hati master of tawuran hanyalah dengan satu kecupan kecil. Setelahnya, mereka pun pergi berkencan dengan jemari Chanyeol yang terus menerus menggenggam jemari Baekhyun seakan tak ingin lepas.
Ugh! So sweet sekali bukan?
.
.
.
Luhan benar benar tak bisa menyembunyikan rona merah diwajahnya semenjak beberapa jam lalu, dan semua ini karena Oh Sehun –orang yang kini duduk disebelahnya dan mengelus lembut rambutnya. Selepas dari UKS, Sehun memaksa Luhan untuk pulang bersamanya untuk naik bus umum bersama, padahal Luhan biasanya pulang sekolah dijemput oleh ayahnya.
"Bagaimana? Naik bus umum enak kan?" jemari Sehun mengelus lembut rambut coklat madu Luhan yang kini sedang bersandar di bahu tegapnya.
Kepala Luhan mengangguk kecil, "Enak selagi ada Sehun." entah sadar atau tidak Luhan mengatakannya, tetapi itu membuat jantung Sehun berhenti berdetak seketika. Sehun merasa senang karena itu berarti Luhan merasa nyaman disisinya.
"Kalau dengan Chanyeol hyung enak tidak?" tanya Sehun main main. Ya, dia hanya ingin tahu apakah Luhan masih menyimpan perasaan dengan Chanyeol atau tidak.
Senyuman Luhan mengembang, ia pun mengangguk semangat, "Tentu saja enak!" hati Sehun mencelos seketika, bahkan ia pun mendengus kesal dengan respon rusa mungilnya. Namun, diluar ekspetasi Luhan pun melanjutkan ucapannya lagi, "ya tapi, aku rasa lebih enak dengan Sehun karena Chanyeol sudah dimilikki oleh Baekhyun. Apalagi saat pulang sekolah tadi, Chanyeol berani sekali mengecup bibir Baekhyun didepan banyak siswa. Ugh! So sweet sekali."
"Benarkah?" kekehan Sehun terdengar, ia pun makin menunduk mendekatkan wajahnya pada si mungil, "sini aku beri kecupan juga, biar aku bisa melebihi Chanyeol hyung." Dan setelahnya pun Sehun mendaratkan bibirnya diatas bibir ranum milik Luhan. Ya, walaupun tanpa hisapan seperti French kiss, tetapi saat ini jantung keduanya saling berdetak tak karuan.
Tak berapa lama bus yang mereka tumpangi pun berhenti di sebuah halte. Luhan pun segera melepaskan ciuman itu dan bersiap berdiri untuk turun karena halte itu adalah halte terdekat rumahnya. Ia sungguh ingin cepat cepat pergi dari hadapan Sehun agar Sehun tak melihat wajah memerah dirinya akibat ciuman barusan.
Tetapi siapa sangka? Ketika Luhan hendak berjalan keluar bus, Sehun menggandeng tangannya tiba tiba dan ikut turun.
"Kau—" belum sempat Luhan protes dengan kehadiran Sehun, lelaki jangkung itu segera mengarahkan telunjuknya pada bibir ranum milik Luhan.
"Aku akan mengantarkanmu sampai rumah, okey?"
Alis Luhan berkerut heran, "Rumahmu kan jauh dari rumahku. Tak seharusnya kau melakukan ini, Tuan Oh!" –duh, sepertinya rasa gugup Luhan akibat ciuman tadi sudah lenyap.
"Ayolah, aku tak ingin terjadi sesuatu mengerikan pada rusa mungilku yang lemah ini karena pulang sendirian." Sehun segera menarik lengan Luhan untuk berjalan menuju rumah lelaki mungil itu. Ia sungguh tak ingin Luhan protes padanya lagi.
Dengusan Luhan terdengar, bibirnya pun ia majukan, "Aku bukan rusa mungil! Aku juga tidak lemah!" Luhan merasa sangat diremehkan dengan ucapan Sehun. Lelaki albino itu benar benar jahat karena meremehkannya. Ya walaupun Sehun seringkali meremehkannya dengan membullynya, entah mengapa kali ini luhan justru merasa sangat kesal.
Bukannya marah atau apa, Sehun justru terkekeh keras. Jemarinya mengusak rambut Luhan gemas, "Terus kau mau kupanggil apa hm? Rusa cantik?"
"Aku lelaki! bodoh!" Luhan menatap Sehun dengan tatapan tajam yang terlihat sangat menggemaskan membuat tawa Sehun semakin keras. Sehun pun mencubit hidung Luhan dan yang lebih mungil pun memekik keras, "Yak! Oh Sehun! Sakit!"
Dan yang Sehun lakukan hanyalah berlari dengan cepat meninggalkan Luhan yang kini mengamuk. Oh! Sepertinya baru kali ini Luhan berani marah pada seseorang seperti Sehun –sosok yang sering membullynya.
.
.
.
"Ayo masuk ke rumahku." ajak Luhan, lelaki mungil itu pun membuka gerbang rumahnya lalu menarik lengan Sehun dengan sedikit memaksa. Sehun yang awalnya menolak pun hanya bisa menurut saja. Padahal tanpa Luhan ketahui, jantung Sehun kini berdetak menggila.
Lagi pula siapapun pasti akan merasa seperti itu kan bila bertemu calon mertua?
Dan ketika mereka masuk, mereka segera disambut oleh kedua orang tua Luhan. Semuanya seperti biasa saja, Sehun diajak berkenalan lalu dibawa ke ruang tamu untuk mengobrol bersama. Duh, Sehun tak menyangka bahwa keluarga Xi benar benar lembut dan baik sama seperti sikapnya Luhan.
Nyonya Xi sebenarnya sudah mengenal Sehun sejak Luhan sekolah di JHS. Apalagi, ibunya Luhan dan ibunya Sehun cukup dekat karena sering bertemu jika ada perkumpulan orang tua di sekolahan. Tetapi siapa sangka? Dibalik ibu mereka yang dekat, justru Sehun sering membully Luhan di sekolah.
"Mama tak menyangka bahwa Luhan akan membawa teman ke rumah, apalagi teman yang Luhan bawa itu Sehun, setahu Mama Luhan tidak begitu dekat dengan Sehun." Nyonya Xi tersenyum lembut lalu meminum tehnya pelan dan menatap Sehun dengan lembut, "Oh iya, bagaimana kabar ibumu, Sehun-ah?"
"B-baik, bi." jawab Sehun sedikit canggung. Ia sedikit merasa tidak enak dan sedikit takut jika saja Nyonya Xi tahu kelakuannya yang sering membully anaknya saat JHS.
"Jadi? Apa hubunganmu dengan Luhan? Jarang sekali Luhan tak ingin dijemput dan membawa temannya ke rumah." itu suara Tuan Xi, dan Sehun bersumpah bahwa suara Tuan Xi terdengar sangat lembut namun terasa menakutkan di telinganya. Oh no! demi apapun, Sehun merasa dirinya sedang diinterogasi oleh calon mertua.
Sehun sungguh bingung ingin menjawab apa. Ingin menjawab teman, tetapi hubungan mereka lebih dari itu. Ingin menjawab pacar, tetapi mereka belum jadian. Dan sialnya, belum sempat Sehun menjawab, Tuan Xi sudah bertanya lagi, "Kau pacarnya Luhan hm?"
"Apaan sih Baba! Bukan tahu!" itu bukan suara Sehun, tetapi itu suara Luhan. Kepala Sehun seketika menoleh kearah Luhan dan menemukan rusa mungil itu sedang memajukkan bibir dengan pipi yang memerah. Sehun menyeringai, ia tak akan menyangka Luhan akan sangat malu sekaligus merona.
Sedangkan Luhan, jantungnya berpacu sangat cepat mendengar pertanyaan ayahnya. Ia sungguh tak menyangka ayahnya akan berpikiran seperti itu. Apalagi saat Luhan tak sengaja melihat Sehun yang kini menyeringai tampan kearahnya. Duh, rasanya ingin sekali jantung Luhan berlari jauh dari tempatnya.
Menyadari interaksi Sehun dan Luhan saat mendapatkan pertanyaan itu, Nyonya Xi tertawa kecil, "Jadi masih tahap PDKT ya?"
Kedua lelaki itu pun segera mengalihkan pandangan mereka. Wajah mereka saling memerah mendengar pertanyaan frontal Nyonya Xi. Baru kali ini Luhan menyesal mempunyai ibu seperti mama nya. Nyonya Xi memang sosok ibu yang easy going dan sangat gaul –berbeda sekali dengan Luhan, membuat Nyonya Xi paham betul dengan kelakuan para remaja.
"PDKT juga tak apa, asal nanti Sehun jangan memberi harapan palsu saja." Kekehan kedua orang tua Luhan terdengar. Yang mau tak mau, Sehun dan Luhan ikut terkekeh kecil. Suasana yang tadinya cukup canggung kini mencair seketika.
Di tengah suasana hangat percakapan keluarga Xi dengan Sehun, tiba tiba seseorang datang menghentikannya. Seorang lelaki berperawakan tinggi dengan kulit putih dan wajah sedikit sangar lah yang menghentikannya. Bukan! Itu bukan depkolektor, rentenir, maupun preman. Tetapi itu–
—"Ah Kris! Oh ya, Oh Sehun kenalkan ini Xi Kris, anak sulung kami sekaligus kakaknya Luhan." ucap Nyonya Xi seakan mengenalkan sosok lelaki jangkung itu.
Sehun segera berdiri dan bersalaman dengan Kris, ia pun tersenyum, "Oh Sehun imnida, temannya Luhan."
Bukannya tersenyum untuk membalasnya, Kris justru menatap tajam Sehun, "Aku seperti pernah melihatmu disuatu tempat."
Mendengar hal itu, mata Sehun terbelalak kaget. Pikirannya melayang pada masa JHS nya –saat saat ia membully Luhan. Ia pun menelan ludahnya kasar, 'Oh Ya tuhan! semoga Kris mendadak amnesia dengan kejadian beberapa tahun lalu.'
.
.
.
Mata sipit Baekhyun menatap berbinar satu cup mangkuk besar ice cream rasa strawberry yang berada didepannya, air liurnya bahkan nyaris turun membasahi dagunya karena begitu tergiur dengan ice cream kesukaannya itu. Chanyeol yang melihat hal itu tentu saja terkekeh geli, ia sungguh bersyukur memiliki pacar yang sangat menggemaskan seperti Baekhyun.
Ya, saat ini mereka ada dikedai ice cream dan mengawali kencan mereka dengan memakan ice cream. Ini semua karena keterdiaman Baekhyun, ya semenjak Chanyeol mengecup bibirnya dan memutuskan untuk mengajaknya berkencan Baekhyun hanya diam saja dengan tatapan kosong. Chanyeol pikir Baekhyun sedang marah karena keputusan sepihaknya –padahal Baekhyun sedang memikirkan kecupan Chanyeol, ia pun membawa pacar mungilnya ke tempat favoritenya yaitu kedai ice cream.
"Ice creamnya enak!" seru Baekhyun dengan nada riang, ia sangat terlihat seperti anak TK yang sedang memakan ice cream. Chanyeol hanya menatapnya dengan senyuman yang terpatri dibibirnya melihat tingkah Baekhyun, lelaki itu pun menyibukkan dirinya dengan memakan ice cream rasa banana miliknya.
Tak berapa lama, tiba tiba Baekhyun pun memanggil nama Chanyeol dengan manja. Chanyeol yang mendengarnya hampir saja tersedak dengan suara Baekhyun itu, "Channie, aku mau ice cream lagi~" dan sejak kapan Baekhyun memanggil Chanyeol dengan panggilan seperti itu? oh my god! Bisa bisa Chanyeol diabetes melihat tingkah imut menggemaskan pacarnya. Duh, kemana larinya sikap sok jagoan si master tawuran hah?
Mau tak mau Chanyeol pun memesan ice cream strawberry lagi untuk Baekhyun. Si mungil hampir saja memekik senang mengetahui hal itu. Baekhyun pun memakan rakus ice cream keduanya membuat area bibirnya kotor oleh ice cream. Senyuman Chanyeol mengembang, dengan penuh perhatian ia pun mengambil tisu dan membersihkan bibir Baekhyun dengan lembut, "Makannya pelan pelan, baby."
Jantung Baekhyun seketika berdetak sangat cepat saat melihat jemari besar pacar sepihaknya mengelus lembut bibirnya dengan tisu, Baekhyun pun hanya diam saja dengan tubuh yang mendadak membatu. Tetapi dengan cepat Baekhyun sadar dengan kebodohannya, ia pun segera menghempaskan tangan Chanyeol yang berada dibibirnya, "Jangan pegang pegang sialan!"
"Ya tuhan! kepribadian kasarmu telah kembali eoh?" alis Baekhyun berkerut bingung dengan pertanyaan Chanyeol. Tiba tiba Baekhyun pun tersadar dengan apa yang ia lakukan, ia tak menyangka rasa gugupnya pada kecupan Chanyeol dan rasa cintanya terhadap ice cream membuatnya justru terlihat sangat bodoh dihadapan Chanyeol.
Dengusan Baekhyun terdengar, ia pun menatap tajam Chanyeol, "Jangan harap aku akan luluh padamu!"
"Sepertinya kau mau kucium lagi eoh? Biar kepribadian menurutmu kembali lagi?" Baekhyun segera menutup mulutnya dengan lengan, ia tak ingin Chanyeol mengambil ciumannya lagi untuk kesekian kalinya. Jujur saja Baekhyun lemah jika sudah berhadapan dengan bibir rasa mint milik Chanyeol.
"Aku akan membunuhmu lebih dulu sebelum kau mencuri ciuman dariku keparat!"
Chanyeol terkekeh seketika, ia segera saja mengusak rambut Baekhyun dengan gemas, "Iya iya sayang aku tahu, lanjutkan lagi acara makan ice creammu lalu setelahnya aku akan mengajakmu ke suatu tempat."
Dan setelahnya Baekhyun pun memakan ice cream favoritenya lagi dan mengabaikan ajakan Chanyeol barusan. Toh dia tak mau tahu Chanyeol akan membawanya kemana, yang terpenting Chanyeol tidak akan membahayakannya.
.
.
.
Langit sudah agak menggelap ketika Chanyeol dan Baekhyun keluar dari kedai ice cream. Kedua anak adam itu pun segera menaiki motor Chanyeol untuk beralih tempat kencan, "Jadi kali ini kau akan membawaku kemana? Aku ingin pulang!"
Chanyeol memakaikan helmnya pada Baekhyun, lalu menatap lelaki mungil itu lembut, "Kita berkencan terlebih dulu okay? Pulangnya nanti! Kau kan anak berandal, bagaimana mungkin kau takut pulang malam eoh?"
Dengusan Baekhyun terdengar, ia merasa diremehkan dengan ucapan Chanyeol, "Ya sudah jadi kau akan membawaku kemana hah?" suara Baekhyun meninggi, membuat Chanyeol sedikit terkekeh. Si mungil pun tanpa sadar memanyunkan bibirnya membuatnya terlihat sangat imut. Duh, sebenarnya Chanyeol ingin mengecup bibir itu tetapi ia urungkan. Ya, lelaki jangkung itu tak mau Baekhyun mendiaminya seperti tadi lagi.
"Ke suatu tempat yang akan membuat kencan kita menjadi kencan terhebat." jemari Chanyeol mengusak rambut Baekhyun gemas, setelahnya ia pun mengendarai motornya membelah jalanan ramai khas kota Seoul.
Baekhyun tanpa sadar justru menyandarkan kepalanya pada punggung Chanyeol dan menyesap aroma maskulin khas lelaki itu. Ya, menurut Baekhyun Chanyeol memiliki aroma yang sangat khas dan Baekhyun pun sangat menyukainya. Tetapi tentu saja Baekhyun tak mau jujur pada Chanyeol.
Motor Chanyeol pun berhenti diparkiran yang telah disediakan kawasan wisata sungai Han. Mereka berdua pun turun dan segera berjalan beriringan. Chanyeol dengan sengaja menggenggam jemari Baekhyun sangat erat membuat rasa hangat menjalar pada jemari Baekhyun yang merambat sampai relung hatinya.
Chanyeol pun mengajak Baekhyun menyaksikan air mancur pelangi di jembatan Banpo. Tepat sekali saat mereka baru sampai disana, pertunjukan air mancur pelangi itu dimulai selama 15 menit. Mata Baekhyun menatap takjub pertunjukkan itu. Meskipun ia adalah warga Seoul tetapi baru kali ini ia menyaksikan hal itu. Ya, selama ini Baekhyun lebih sering berwisata ke kebun binatang atau ke pantai bersama keluarganya.
"Ya tuhan! itu sangat indah Chan!" pekik Baekhyun dengan sedikit melompat lompat kecil. Senyuman Chanyeol mengembang melihat betapa senangnya Baekhyun dengan tempat kencan pilihannya saat ini.
Mata Chanyeol sama sekali tidak menatap pada air mancur tersebut, ia justru sibuk memperhatikan wajah manis pacarnya. Lelaki jangkung itu sangat bersyukur bisa berpacaran dengan Baekhyun meskipun harus dengan pemaksaan. Sebenarnya Chanyeol sudah menaruh hati pada Baekhyun semenjak ia melihat Baekhyun untuk pertama kalinya di sekolah. Chanyeol merasa Baekhyun mengingatkannya pada teman masa kecilnya dulu –yang bahkan sampai sekarang Chanyeol belum bertemu lagi dengannya.
Wajah manis Baekhyun yang terkesan sangat cantik sungguh membuat Chanyeol terbius. Seperti halnya saat ini, bibir ranum pada wajah itu mengembang cantik dengan mata bulan sabit yang melengkung indah membuat Chanyeol ingin memakannya saat itu juga.
Setelah pertunjukkan air mancur berakhir tiba tiba Chanyeol menarik Baekhyun dan mendekatkan wajah mereka. Baekhyun tentu saja terkejut dengan tingkah Chanyeol terutama saat tiba tiba Chanyeol mencium bibirnya dalam –bukan hanya sekedar kecupan saja. Ciuman Chanyeol sangat lembut seakan menginsyaratkan bahwa ciuman tersebut ia lakukan penuh cinta.
Baekhyun tentu saja luluh dengan ciuman yang didominasi Chanyeol tersebut. Entah setan dari mana yang kini merasuki Baekhyun, bukannya memukul Chanyeol Baekhyun justru memilih membalas ciuman Chanyeol dan memejamkan matanya merasakan ciuman penuh cinta itu. Bahkan tanpa disadari, lengan Baekhyun pun melingkar dileher Chanyeol dengan erat.
.
.
.
Seorang Byun Baekhyun lagi lagi menjadi sosok yang berbeda setelah ciumannya dengan Chanyeol saat melihat pertunjukkan air mancur pelangi. Ia menjadi sangat diam, bahkan tatapannya pun kosong membuat Chanyeol menjadi khawatir seketika. Chanyeol pun memilih untuk mengantarkan Baekhyun pulang, berpikir mungkin Baekhyun kelelahan.
Selama diperjalanan, Chanyeol merasa Baekhyun memeluknya erat dan menyandarkan kepalanya pada punggungnya. Senyuman Chanyeol pun melebar, setidaknya ia merasa bahwa Baekhyun tak marah padanya saat ini. Lalu kenapa dengan Baekhyun? entahlah, Chanyeol pun sungguh tak mengerti dengan perubahan mood bocah itu.
Motor Chanyeol pun berhenti disebuah rumah yang cukup besar dikomplek dekat sekolahnya. Ya, itu adalah rumah Baekhyun. Baekhyun segera turun dan melepaskan helmnya, tetapi tiba tiba helmnya macet. Ia mencoba membuka berkali kali namun helm tersebut sepertinya tidak ingin terbuka.
Melihat itu Chanyeol pun terkekeh geli, ia segera membantu Baekhyun melepaskan helmnya, "Ya ampun baby, macem hm?" tiba tiba helm Baekhyun pun terbuka, "nah! Sudah terbuka kan?" suara Chanyeol benar benar lembut membuat Baekhyun merasa makin gugup.
Kedua lelaki berbeda tinggi itu pun saling bertatapan, sampai akhirnya si mungil mengakhiri tatapan itu dan segera berlari memasukki gerbang rumahnya tanpa mengucapkan kata selamat tinggal. Chanyeol pun tersenyum dan menggeleng kecil melihat tingkah pacarnya, ia pikir pasti Baekhyun gugup setengah mati padanya.
Chanyeol yang tadinya hendak berbalik arah dan pulang pun seketika berhenti dan menatap kaget seorang lelaki yang keluar dari pintu rumah Baekhyun, alisnya berkerut merasa tak asing dengan lelaki itu, "Baekboom hyung? Kenapa dia ada disana?" Chanyeol tiba tiba teringat dengan kejadian belasan tahun lalu saat rumahnya masih bertetanggaan dengan keluarga Byun. "Apa jangan jangan Baekhyun–" Chanyeol pun menatap interaksi Baekhyun dan Baekboom dihadapannya dengan mata yang melebar.
Oh! Semoga saja tak ada kejadian apapun yang akan terjadi setelah ini!
.
.
.
TBC
duh, kok jadi nyambung ke Hyung semua yak? wkwkwk.
btw makasih banget loh buat yang reviews, follow, or favorite. maaf gak bisa kubales satu satu. :")
