VAMPIR PROTAGONIS?
Whaat!
Wait!
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
FULL INO POV
3 Meter
Hanabi melesat cepat ke arahku. Mungkin kalian berfikir aku akan kalah bukan? Dengan posisinya sekarang yang bisa terbang dibandingkan denganku yang hanya mengandalkan kedua tangan dan kakiku saja. But hell! Perhatikan baik-baik!
2 Meter
Dilihat dari caranya terbang ke arahku, kurasa kemampuan Hanabi mengalami kemajuan yang cukup pesat. Tidak percuma juga dia berlatih bersama Sasuke beberapa tahun terakhir ini. Tapi begitupun denganku! Akan kuselesaikan pertarungan ini dengan cepat!
1 Meter
Kupegang bandul pedang bersisik yang selalu meligkar dileherku. Memanggil bagian jiwaku yang berada disana.
"Inoo!"
PRAAAANGG
Kutahan tebasan Hanabi degan pedangku. Brengsek! Jika bukan karena efek Vollstandig, dia tak akan mempunyai kekuatan sebesar ini. Aku harus mundur beberapa meter agar bisa menahan serangannya barusan. Dan bahkan tanah tempatku berdiri ikut amblas tak mampu menahan kekuatan diatasnya.
PRAANG
PRAANG
PRAANG
Hanabi menyerangku secara membabi buta. Fuck!
Tebasan-tebasannya cukup membuatku kerepotan. Apalagi ditambah rasa pening dikepalaku juga belum hilang karena efek bawang sialan tadi malam.
Argghhh! Brengsek!
"Ada apa Yamanaka? Kemana kekuatanmu? Ck!"
Tampangnya itu? Bitch! Jika bukan adiknya Hinata sudah kubunuh dari dulu, saat dia menangkap Sara. Lihat saja! Akan kubuatnya tak akan bisa lagi tersenyum menjijikan seperti itu.
Karena ambisinya menyerangku, membuat pertahannya menjadi lemah. Bodoh! Ini saatnya.
Kutendangkan kaki kananku kebagian tubuh kirinya. Brengsek! Dia bisa menghindar dengan sempurna. Hanabi langsung mengambil jarak yang cukup jauh denganku.
"Tak semudah itu bodoh!" ucapnya sakarstik.
Lihat saja!
Hanya berselang sepersekian detik aku sudah berada dibelakangnya. Jika bukan karena Vollstandig kurasa dia pasti akan cukup mudah melihat pergerakanku barusan. Itulah yang kubenci dari Vollstandig, kami harus mengorbankan kekuatan istimewa kami demi kekuatan fisik dan recovery yang cepat.
ZRAAASSSHHH
"Aaarghhhhhh! Bangsat kau Yamanaka!"
Brengsek! Teriakannya barusan cukup memekikan telingaku.
Belum sempat dia berbalik mengahadap ke arahku, kutebas sayap kirinya. Membuat beberapa darah hitamnya muncrat kearahku. Menjijikan!
BRRAAAAKKK
Kutendang punggungnya sekeras mungkin, membuatnya harus jatuh bergulingan ke tanah. Apalagi ditambah sayap kirinya yang terluka parah dan hampir putus.
Kutapakan lagi kakiku ketanah. Berdiri diudara bebas tak semudah yang kalian pikirkan! Memadatkan udara disekitar kaki untuk menjadi pijakan yang kokoh memerlukan energi yang cukup banyak. Apalagi dengan kondisiku yang sekarang ini, akan sangat merepotkan jika energiku hilang karena terlalu lama 'terbang'.
"Hahahaha!"
Kulihat luka disayapnya perlahan menutup. Luka-luka ditubuhnya juga menghilang begitu saja. Wajar saja, aku juga tak terlalu kaget.
'Bodoh! Seharusnya kau sadar Yamanaka, siapa yang kuincar dari awal!'
Suara ini? Hanabi! Vampir bangsat!
Bodoh! Kenapa hal ini tak terpikirkan olehku!
Kupacu kakiku untuk mendahului Hanabi yang terbang ke tempat Sakura berdiri. Brengsek! Tak akan kuampuni dia jika sampai membuat Sakura terluka.
"Mati kau brengseeek!"
PRAAAANGG
Tepat waktu! Aku sudah berada tepat diantara Hanabi dan Sakura yang sangat ketakutan. Hatiku terasa tersentil melihat air mata yang keluar dari mata cantiknya.
"Jika kau menyentuhnya, akan kuhancurkan kau!" ucapku penuh tekanan disetiap kata.
Ekspresi kaget tak bisa hilang dari sorot mata Hanabi. Dengan penuh kekuatan kutekan pedang Hanabi hingga membuatnya merasa terpojok.
"Pergilah dari sini Sakura!"
"Ta-tapi Ino..."
"Now!"
Kulihat Sakura berlari melewatiku dan iblis brengsek didepanku. Mataku tak buta melihat bagaimana kaki lemah Sakura bergetar untuk sekedar berlari. Kurang setengah jalan lagi Sakura bisa keluar dari tempat mengerikan ini.
Aku mendengar suara pikiran orang lain. I-ini...
"Hi-hinata?"
Hinata? Ya benar, Hinata. Dia berdiri di depan pintu lift degan raut wajah khawatir, dan pikirannya? Rumit. Fuck! Aku menyesal telah mengajarinya cara menghindari kekuatan membaca pikiranku. Menjadikanku tidak bisa membaca apa yang dipikirkannya saat ini.
'Kumohon biarkan dia pergi. Kumohon Hinata. Kali ini saja.'
Zonk! Tak ada jawaban dari Hinata.
Mataku tak bisa lepas dari Sakura yang berdiri disana, berhenti berlari. Damn it! A-apa yang harus kulakukan?
JLEEEBBBB
"Inoo!"
"Hentikan Hanabi!"
Pedang Hanabi menembus jantungku. Jantung? Bodoh! Aku sudah tidak punya yang seperti itu sejak berabad-abad yang lalu.
Aku tak begitu mendengar dengan jelas apa yang mereka teriakan. Damn it! Jika aku manusia biasa pasti ku sudah mati saat ini. Mungkin karena aku terlalu fokus dengan Sakura dan Hinata, membuat perhatianku ke Hanabi mengendur. Bukan rasa sakit yang kurasakan, tapi sesak di dadaku yang semakin hebat saat melihat Sakura yang berada disana menangis.
"Terima kasih 'Kakak'! Hahahaha!"
Brengsek! Bitch! Akan kuhancurnya kepalamu biar tak akan lagi ada senyum menjijikan itu lagi!
A-apa aku akan gagal lagi? Tidak!
"Vol-vollstandi - Urrgggghhhh!"
Bukan kekuatan yang melimpah kudapatkan, malah darah merah segar banyak keluar dari mulutku. Energiku secara drastis berkurang. I-ini tidak bagus.
PLAK
"Ada apa denganmu Yamanaka? Kenapa kau lemah sekali! Haha!" teriak Hanabi, tidak! Dia juga beberapa kali menamparku.
"Kumohon hentikan Hanabi!" teriak Hinata dalam diamnya.
Kakiku tak lagi berada ditanah, dia mencekikku dengan sebelah tangannya. Tangannya yang lain mencabut pedang yang berada didadaku dengan sangat kasar, berharap semakin banyak darah yang keluar. Detik kemudian, pukulan yang sangat keras kurasakan diperutku. Aku terlempar beberapa meter hingga kurasakan puggungku menyentuh tanah degan sangat keras.
"Ino!"
Sakura.
Samar-samar kulihat gadis yang meneriakan namaku disana. Sudah tak berdiri lagi, wajar saja kakinya kecilnya tak kuat menjadi penompang tubuhnya dikeadaan yang menurut manusia normal pasti sangat berbahaya.
"Bodoh! Buat apa kau mencemaskannya? Cemaskanlah dirimu sendiri!"
Hanabi kali ini berjalan degan perlahan. Bunyi gesekan pedangnya dengan lantai dapat kudengar dengan jelas. Sedangkan Sakura? Bo-bodoh! Harusnya dia berlari saja! Menjauh dari tempat ini.
Deja Vu. Dulu aku juga pernah dalam situasi yang seperti ini. Terlalu lemah untuk menyelamatkan seseorang yang kukasihi. Tak mampu melindungi seseorang yang amat berarti bagiku. Dan sekarang sama saja! Membiarkan gadisku menangis ketakutan karena iblis brengsek seperti dia! Gadisku? Ya! Gadisku!
2 Meter
Ke-kenapa seperti ini Tuhan? Aku tak meminta banyak dari Mu, hanya saja, kali ini, berikanlah aku kesempatan untuk melindungi seseorang yang penting untukku.
1 Meter
Hanabi menghunuskan pedangnya kedepan. Tidak lagi berjalan pelan. Berjalan cepat. Berlari.
"Matilah manusia brengseek!"
"Bajingaaaaan!" aku berteriak lantang.
Entah kekuatan dari mana aku sudah tepat beada diantara Sakura dan Hanabi. Tak kupedulikan darah hitam yang keluar dari tubuhku.
PRAAANG
Dengan tangan kosong, Pedang yang dihunuskan Hanabi kupatahkan menjadi dua bagian. Terlihat degan jelas ekspresi kaget dan ketakutan dari sorot matanya.
JLEEEBBBB
Senjata makan tuan. Kutangkap patahan pedang Hanabi sebelum jatuh ke tanah. Refleks kutusukan dengan cepat ke perutnya. Darah kembali mengucur deras dari lukanya itu. Tapi, apa peduliku? Toh dia tak akan mati!
"Ayo, kita pergi dari sini."
Aku membantu Sakura berdiri, wajar saja jika tangan dan kakinya bergetar hebat. Bahkan air mata dari mata hijaunya belum mengering juga. Brengsek! Tak akan kumaafkan vampir bangsat itu yang telah membuat Sakura seperti ini!
Dengan perlahan kami berjalan melewati Hinata yang diam membatu ditempatnya. Sudah kukatakan! Aku tak tahu apa yang sedang dipikirkannya saat ini. Selama dia tidak berusaha membunuh Sakura, aku tak akan pernah mau melawannya.
Brengsek! Jangan lagi!
"Apa maumu Sai?" tanyaku dengan nada sedatar mungkin ke Sai yang baru saja datang.
Sai sudah berada didepanku dan Sakura. Brengsek! Akan sangat merepotkan sekali jika dia berniat menyerangku dan Sakura. Bukan karena takut atau apa, keadaanku yang seperti ini sangat tidak mugkin untuk menang.
"Aku tidak berniat melawanmu Ino. Tapi, lihatlah."
Aku melihat arah yang ditunjuk Sai. A-aapa itu? Ba-bagaimana mungkin?
"Mengejutkan bukan?"
Aku tak mampu memberikan respon apapun ke pertanyaan Sai. Jangankan untuk menjawabnya, otakku tak berhenti berfikir keras dengan apa yang sedang terjadi. I-ini tidak mugkin! Maksudku, kami vampir. Kami abadi! Kami tak akan mati dengan hak sepele seperti ini. Mati karena tertusuk pedang? Ck! Aku bahkan pernah terluka lebih parah daripada ini, dan aku masih hidup.
"I-ini tidak mungkin!" ucapku berusaha menyangkal.
Tapi seberapa keras aku menyangkal kenyataannya tak sesuai yang kuharapkan. Hinata yang sudah berada disamping Hanabi terlihat begitu khawatir, apalagi melihat tubuh Hanabi yang perlahan menyusut.
"Ya-yamanaka! A-apa ya-yang ka-kau la-ku-kukan ke-kepadakuh. Urghhh!" tanya Hanabi terbata.
Lidahku kelu tak mampu menjawab pertanyaan Hanabi barusan. Aku dapat mendengar degan sangat jelas isi pikiran Hanabi yang mengingatkanku kepada orang-orang yang menuju kematian.
"A-apa itu?" tanya Sakura entah kepada siapa.
Aku hanya mampu melihat dalam diam. Pikiranku berkecamuk memikirkan semua ini. Tubuh Hanabi berubah menjadi abu hitam, terbang selaras arah angin yang entah berhembus dari mana. I-iini akhirnya? A-apa seperti ini?
"Ma-maafkan aku. A-aku tidak pernah bermaksud melakukan ini. Demi Tuhan..."
"Ini bukan salah Ino-chan. Aku juga bersalah, membiarkan Hanabi melakukan 'sesuatu sesuka hatinya'. Aku juga tak menceritakan hal ini kepadamu juga. Wajar saja ..." terang Hanabi.
"Sebentar! Apa maksudnya ini? Apa yang tak kuketahui? Kumohon, bicaralah dengan jelas!"
Aku berteriak frustasi. Wajar saja! Aku diperlakukan seperti orang bodoh. Tidak mengerti apapun dengan apa yang terjadi saat ini.
"Tenanglah Ino. Hinata akan menjelaskannya kepadamu." ucap Sai pelan menenangkanku.
Bagaimana aku bisa tenang brengsek!
"Cepat! Beritahu aku semuanya!"
BUUUKK
A-aura i-iini?
"Ya Tuhan! Sai!" pekik Sakura.
Sai yang berdiri disebelahku tiba-tiba terduduk lemas. Mata hitamnya kosong degan air mata yang menggenang dikeduanya. Ekspresi ketakutan jelas terlihat sekali dari raut wajah pucatnya. Tak jauh berbeda dengan Hinata, yang hanya tertunduk lemas tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun.
"I-ino! Apa yang terjadi kepada mereka?"
"I-ibu?" ucapku parau.
Ini bahkan belum purnama terakhir, bagaimana mungkin Ibu bisa bangkit? A-apakah ini ada hubungannya dengan ke-kematian Hanabi?
"Ibu? A-apa maksudmu Ino?"
"Maafkan aku Sakura."
"Apa?"
Tanpa membuang waktu banyak kugigit leher Sakura cepat, agar tidak membuatnya tersiksa karena rasa sakitnya. Menghisap darahnya yang sangat manis untuk menambah tenagaku.
"Kau brengsek Ino! Ka-kau vampir brengsek!" ucap Sakura menyumpahiku.
Bukan Sakura jika tidak melawan. Ya Tuhan! Gadis macam apa yang bertingkah seperti ini? Untuk ukuran perempuan biasa tenaganya cukup besar, apalagi ditambah aku juga pernah ditonjok olehnya dulu. Kenapa dia tak menggunakan tenaganya untuk berlari tadi?
"Kau breng-sek. A-akan kubunuh...Eeeengghh..."
Syukurlah dia pingsan.
"Per-pergilah Ino-chan. Ja-jangan cemaskan kami." ucap Hinata sangat lemah.
Jujur saja, aku tak tega harus meninggalkan mereka berdua seperti ini.
"Apa kau yakin?'
Hinata hanya mengangguk lemah. Keadaannya masih sama seperti tadi. Dan tolong, jangan tanyakan bagaimana keadaan Sai sekarang.
"Baiklah. Jaga diri kalian. Akan kuhubungi nanti."
Dan aku bergegas ke tempat yang paling aman yang kuketahui. Mungkin.
Terhitung sudah dua hari ini dia pingsan. Ya! Dua hari! Gila bukan? Entah karena shock karena kejadian mengerikan yang dialaminya atau karena sebagian darahnya kuhisap. Kurasa keduanya. Aku juga tidak berniat membangunkannya, kupikir dia juga butuh istirahat setelah mengalami kejadian yang cukup mengerikan itu.
Kulihat dari dekat wajah ayu yang selalu mematikan syaraf mataku. Mengamati setiap lekukan sempurna karya Tuhan yang begitu mempesona. Oh fyi, karena dia juga aku bisa kembali percaya Tuhan itu baik. Sungguh.
"Enggghh."
Kurasa dia sudah bangun.
"Love?"
Sakura membuka kelopak matanya pelan. Aku bersabar menanti pemandangan menyejukan mata emeraldnya. Mungkin aku gila! Mendamba seorang manusia biasa, lagi.
"Dimana kita?" tanyanya pelan.
Ya Tuhan! Imut!
"Kita ada di tempatku Love." jawabku pelan sambil menyisiri beberapa rambut panjang yang menutupi wajahnya.
"Benarkah? Baguslah kalau begitu Ino."
Mendengar suaranya yang lembut membuatku jatuh hati kepadanya lagi. Oh God! Sejak kapan aku mulai ada rasa dengan Sakura? Entahlah! Semuanya terasa begitu cepat. Aku tak tahu pasti sejak kapan dan dimana rasa itu muncul. Tapi, apa itu penting?
"Ino? Ino! Inoo!" Sakura berteriak.
Perasaanku mulai tak enak.
Benar kan? Sakura bangkit dan mencengkeram kerah kaosku dengan kuat. Matanya melotot tajam seolah ingin membunuhku dengan tatapannya itu.
"Kau brengsek! Kenapa menggigitku vampir sialaaaan!"
Aku berharap dia pingsan lagi. Sungguh! Suaranya sangat memekakan telingaku. Kurasa efeknya berkali lipat lebih parah daripada bawang putih.
"Bicaralah brengsek! Apa kau tuli haah!"
Habis kesabaranku!
Cengkeraman dileher kaosku dapat kulepaskan degan mudah, tentu saja tanpa menyakititnya. Mana aku tega! Kuhimpit tubuh kurusnya dengan tubuhku, membuat dadaku menempel dimiliknya.
"Darahmu terlalu manis, mana mungkin aku tahan dengan godaannya, sayang."
Ck! Menyenangkan sekali bisa menggodanya seperti ini. Sengal nafasannya begitu hangat menyentuh wajahku, pipi putihnya memerah karena kugoda barusan. Kemampuan mulut kasarnya tiba-tiba menghilang begitu saja. Ya Tuhan, gadisku benar-benar menggemaskan.
Fuck fuck! Aku yang berniat menggodanya, malah aku yang tak bisa mengendalikan hasrat ini. Melihat mata hijaunya yang melihatku sayu, deru nafas pendeknya, wangi manis dari tubuhnya, bibir merah yang pernah kurasakan dulu. Brengsek! Kenapa dia begitu... Aaarrrghh! Ada apa denganku? Aku tak merasakan hal ini ke gadis-gadis lainnya, kecuali Sara? Ya. Dan sekarang Sakura.
Aku bergegas menjauh dari Sakura. Berdekatan dengannya membuat kepalaku seakan mau meledak. Ahh! Benar juga dia belum makan.
Kuambil nampan penuh makanan dimeja samping kasurku.
"Habiskan Love. Kau perlu makan banyak." kataku sambil meletakan makanan dipangkuanku.
"Tidak! A-aku tidak bisa makan makanan seperti itu. Mung-mungkin sekarang aku sudah jadi vampir sama sepertimu. Kau brengsek sekali Ino! Hiks Hiks."
Apa maksudnya itu? Arghhh! Aku tahu! Pasti karena gigitan itu. Dasar bodoh! Menangis karena hal konyol macam itu.
"Whatthef! Mana mungkin Love? Oh God, film terlalu banyak meracuni pikiranmu. Tidak semudah itu menjadi vampir, perlu ritual khusus yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang dengan level dewa. Apa kau mengerti?"
Aku berusaha menjelaskannya sepelan dan sesederhana mungkin. Berharap Sakura mengerti apa yang kuberitahu barusan. Lagipula aku tak tega melihatnya menangis karena hal bodoh seperti itu.
"Hiks a-apa kau yakin?"
"Keep my word Love."
Sakura mengangguk pelan. Disekanya air mata yang menumpuk disudut mata cantiknya.
"Mana makananku Ino? Aku sangat lapar. Arrrghhh. Lapar sekali!" serunya keras.
Aku langsung memberikan nampan makanan yang kubawa kepada Sakura.
"Wow!"
Apa porsinya terlalu banyak untuknya? Memang banyak sih. Porsi ini memang untuk tiga orang. Apalagi Sakura juga sedang menjaga poka makannya. Ah sial! Aku terlalu bersemangat membuat makanan untuknya.
"Apa terlalu banyak un..."
"Kelihatannya enak sekali. Kau yang memasaknya sendiri Ino?"
"Huh?" jawabku bodoh.
Ahh! Wajar saja jika Sakura punya masalah dengan berat badannya. Tak heran jika porsi makannya sehari-hari seperti ini. Tapi tak apalah! Gadis gemuk punya banyak darah, apalagi darah Sakura juga manis. Hn! Pasti lezat!
"Ohh. Tentu saja Love. Cepat dimakan. Habiskan." seruku memberinya semangat.
Sakura mulai memakan satu sendok penuh beef steak brokolinya. Mengunyahnya perlahan dengan pandangan mata berfikir.
"Wow! He-hebat! Masakanmu benar-benar enak Ino!" serunya keras.
Aku hanya tersenyum simpul penuh kebanggaan. Melihat Sakura lahap memakan masakanku memunculkan rasa hangat disini, didadaku. Kalian berfikir aku terlalu melankolis bukan? Biar saja. Aku tak peduli!
"Kau tak ingin mencoba masakanmu sendiri?" tawar Sakura.
Jika orang lain yang melakukan ini, berbicara dengan mulut penuh makanan, melihatnya saja sudah membuatku illfeel, menjijikan, membuatku ingin muntah. Tapi anehnya perasaan-perasaan itu tak kurasakan saat ini. Biarpun ada beberapa sisa makanan yan belepotan dibibirnya malah membuat Sakura terlihat imut. Manis. Argh brengsek! Kurasa aku sudah gila!
"Ayo Ino, cobalah makananmu. Sedikit saja."
Sebuah ide melintas diotakku.
"Apa kau yakin Love?" tanya dengan nada manis yang kupastikan membuatnya takut.
Aku ajukan kepalaku mendekat ke Sakura. Menaikan sebelah alisku, melihatnya dengan pandangan menggoda, dan senyum simpul yang kubuat semenarik mungkin.
"A-aada apa denganmu hah!" tanyanya takut.
Semakin kumajukan tubuhku, semakin Sakura memundurkan tubuhnya. Mata hijaunya melotot ketakutan melihat aksiku barusan.
"Bagaimana Love? Tertarik?"
Aku semakin mendekat ke arahnya.
"A-apa? K-kau! Menyingkirlah vampir brengsek sialan!" teriak Sakura sangat keras sambil memejamkan matanya rapat.
"Kau lucu sekali Love. Lihat ekspresimu tadi, kau ketakutan sekali jika aku menciummu."
Aku tak bisa berheti tersenyum saat mengingat ekspresi Sakura tadi. Benar-benar mnyenangkan menggodanya seperti itu. Ya Tuhan, gadisku lucu sekali!
"Pikiranmu kotor sekali Love. Dasar otak mesum! Haha!"
Selama beberapa saat aku tertawa lepas tanpa beban. Aku hampir lupa rasanya tertawa seperti ini.
"Kenapa melihatku seperti itu Love?"
"A-apa? Ti-tidak. Aku tidak pernah melihatmu tertawa lepas seperti itu Ino. A-agak sedikit menakutkan. Tapi tidak terlalu buruk."
"A-apa?"
"Kurasa, ka-kau lebih ca-cantik saat tertawa."
"A-aaapa!"
A-apa aku salah dengar? Sakura bilang aku cantik? Cantik? Ya Tuhan! Otakku berputar keras. Kepalaku kosong. A-apa yang harus kukatakan kepadanya saat seperti ini? Ingin kupulkan kepalaku sendiri ke dinding dibelakangku, berharap ada sebuah kalimat yang mampu kuucapkan saat ini. Brengsek! Aku punya mantan pacar yang tak terhitung, tapi kenapa bisa aku menjadi bodoh karena ucapan Sakura barusan. Cantik? Sial! Bodoh!
Beberapa menit ini kami hanya diam. Tak ada obrolan sama sekali. Sakura dengan tenang melanjutkan makanannya, dan aku asyik berenang dengan pikiranku sendiri. Memikirkan kata-kata apa yang pas disaat seperti ini.
"Eheem. Hmm. Kau, Kau yakin tak ingin mencobanya?" tawar Sakura lagi sambil menunjukan sesendok yogurt jeruknya kepadaku.
"Ahh, tidak." jawabku sambil menggelengkan kepalaku pelan.
Bodoh! Ino bodoh! Dassr bodoh! Apa yang terjadi kepadaku? Sihir apa ini!
"Maksu..."
Mulut sialan! Kenapa ucapanmu terbata brengsek!
"Maksudku, aku vampir, a-aku tak bisa memakan makanan seperti itu. Kau paham maksudku kan?"
Jawaban macam apa itu? Oh God damn it!
"Sayang sekali." jawabnya sambil melirik kearahku.
Well. Ini salah. Bukan! I-ini gila!
"I have to go." kataku sambil bangun dari kasur.
"Kemana?"
"Practice. Aku harus berlatih. Kau habiskan saja makananmu Sakura."
Sakura? Ahh! Brengsek! Seharusnya kupanggil saja Love seperti biasanya saja. Pasti dia tertawa penuh kebanggan melihatku seperti ini.
Dan aku bergegas keluar dari kamarku sendiri. Menuju tempatku latihan. Mengacuhkan panggilan Sakura barusan.
'Bagaimana keadaan Sakura-chan?'
'Ah, dia baik-baik saja. Memang merepotkan, tapi yah baik-baik saja.'
Rasanya sangat merepotkan jika harus berkonsentrasi dengan keadaan seperti ini.
'Bagai..., bagaimana keadaan Ibu, Hinata?' tanyaku ragu.
'I-ibu? Dia masih sangat lemah, apalagi Ibu juga bangun sebelum waktunya. Kurasa kematian Hanabi juga banyak pengaruh.'
Ya Tuhan, kenapa orang disebelahku ini tidak bisa tenang? Tak bisakah dia melihat aku sedang berkonsentrasi penuh?
'Ino-chan, listen. Untuk sekarang bukan Ibu yang perlu dikhawatirkan, tapi Naruto, Sasuke, dan Shion. Sasuke-kun sangat marah saat tahu Hanabi tewas karena bertarung denganku. Sedangkan aku kakaknya, ..."
Sial! Aku tak bisa mendengar dengan jelas kalimat terakhir yang dikatakan Hinata. Kurasa aku harus minta maaf lagi soal ketidaksengajaanku membunuh adiknya.
'Im so sorry Hinata. Aku tidak ada niatan sedikitpun membunuh Hanabi. Aku tak tahu jika iyang kulakukan fatal untuknya.'
'Tidak masalah Ino. Aku juga tak ...'
Brengsek! Lagi! Aku tak bisa mendengar perkataan Hinata barusan. Ya Tuhan, kenapa dia tak peka? Atau memang buta?
Aku hanya memandangnya tajam. Dan Sakura tetap melanjutkan kegiatan tak bermutunya saat ini, bernyanyi degan nada yang jauh dari kata cukup bagus.
"Kenapa lihat-lihat?"
Kurasa dia memang bodoh.
'Ya. Aku paham maksudmu Hinata. Terimakasih telah menolongku sampai saat ini.'
'Tidak masalah Ino-chan. A-aku dan Sai berada dipihakmu. Apapun yang terjadi.'
"You stressed me out. You killed me. You drug me down. You fucked me up. We're on the ground..."
Dimana otaknya? Bukannya diam malah Sakura semakin keras bernyanyi. Ahh! Damn it!
"Oh God Sakura! Tak bisakah kau tenang sebentar? Aku sedang sangat sibuk sekarang!" seruku jengkel dengannya.
Kuputus sambungan telepatiku dengan Hinata. Aku tak bisa berkonsentrasi jika iblis kecil disampingku ini berkelakuan seperti tadi.
"Sibuk apanya? Kau hanya diam, duduk melamun seperti orang bodoh. Bodoh!"
"Bo-bodoh? Kau bilang aku bodoh?"
Tak biasanya aku ketus dengan Sakura, tapi kata-katanya barusan cukup membuat harga diriku sebagai vampir bangsawan terluka. Apa masalahnya? Dia terus marah-marah saja sejak tadi siang.
"Salah kau sendiri vampir! Kau meninggalkanku sendirian ditempat yang tak tahu ini mana, dan tanpa sedikitpun sentuhan teknologi masa kini." serunya berapi-api.
Ahh! Benar juga. Aku meninggalkannya seharian untuk latihan tadi. Dan soal teknologi, kurasa tak perlu untukku. Tapi tidak dengan manusia ekspresif seperti Sakura.
"Kau! Kau tau bagaimana rasanya? Tentu saja kau tak tahu! Let me show you! Benar-benar-benar membosankan. Haaaaahhh!"
Kurasa 'ekspresif' bukan kata yang pas. Mungkin 'hiperbola'. Ya! Itu baru benar. Atau 'lebay'.
"Tentu saja. Aku terlalu hebat untuk membutuhkan alat yang kalian buat. Aku hanya perlu berkonsentrasi untuk berbicara dengan orang lain. Bahkan dengan jarak jauh, seperti tadi yang kulakukan."
"A-pa? Kau? Mana mungkin! Dasar pembohong!"
What the fuck! Tadi bodoh dan sekarang dia bilang aku pembohong. Oke! Aku memang membohongi setiap gadis korban ritual Ibuku yang kukencani. Tapi... Argghh! Aku menyesal menyelamatkannya kemarin. Seharusnya kubiarkan saja dia dicekik Hanabi.
"Kau tidak percaya? Ini kemampuanku, aku bisa berkomunikasi dengan orang jauh, membaca pikiran orang lain degan sangat mudah."
"A-apa? Penipu! Kau pikir aku bodoh haah!"
Tambah satu lagi. Penipu! Hanabi bunuh saja gadis cerewet disampingku ini.
"Penipu? Aku? Mana mugkin! Aku vampir bangsawan dan terpelajar, aku tak akan menipumu dalam hal ini Love."
"Lalu apa buktinya? Ah! Tebak apa yang kupikirkan Ino!"
Sudah kuduga.
"Pikiranmu? Aku tak bisa Love."
"Kenapa?" tanyanya antusias.
"Karena kau istimewa!"
Ya dia memang istimewa. Menurutku.
"Inoo!"
Dia berteriak keras seakan tak menyukainya. Tapi bahasa tubuhmu tak bisa berbohong sayang. Sakura merona karena ucapanku barusan.
"Kau tidak percaya? Karena kau memang istimewa. Karena leluhurmu orang suci, mungkin bisa juga keturunan dewa. Dan aku tak bisa membaca pikiranmu dan seluruh keluargamu."
Wajah Sakura tiba-tiba cemberut mendengar penjelasanku barusan. Kurasa dia kecewa.
"Apa kau kecewa karena ucapanku barusan? Soal 'istimewa'?
"Ka-kau! Mana mugkin vampir sialan!"
Sakura menegakkan kepalanya setinggi-tingginya. Yah. Maklum saja, kurasa harga dirinya tidak beda jauh denganku.
"Tapi siapa? Apa kau tahu siapa leluhurku Ino? Ahh! Brengsek! Kenapa aku tak pernah mau belajar sejarah keluargaku sendiri!"
Bodoh! Mana aku tahu? Itukan leluhurnya. Keluarganya. Bukan milikku.
Ahh! Benar juga!
"Kecup aku! Akan kuberitahu semuanya Love."
"A-apaa? Kecup? Kau gila hah!"
Ekspresinya benar-benar berlebihan. Entah bagaimana bisa seoarang gadis degan attitude seperti ini bisa mencuri perhatianku.
"Well, terserah saja."
Aku bangun dari kasurku. Sudah kuduga, dia pasti akan menolakku.
"Tu-tunggu! Baiklah, aku te-terima."
Dengan cepat aku kembali duduk dikasurku. Rasanya aneh! Ada perasaan euforia yang luar biasa besar yang kurasakan. Kukuatkan diriku sendiri untuk tidak tersenyum seperti orang gila. Kuatlah Ino!
Sakura memegang kedua pipiku lembut. Hangat tangannya bisa kurasakan, lembut sentuhan jari-jarinya mencarikan beku darahku. Menatap langsung kemataku tajam. Sejenak aku merasa sedikit terintimidasi dengan tatapan tajam emeraldnya itu.
"Jangan bergerak sedikitpun Ino! Aku perlu berkosentrasi. Kau paham!"
Nafas hangatnya menerpa diwajahku. Memiringkan kepalanya perlahan. Semakin dekat Sakura memajukan wajahnya mendekati wajahku. Sedangkan aku? Jangan tanya! Aku hanya mampu diam melihat pergerakan Sakura yang seperti slow motion bagiku. Detik berikutnya mataku tertutup mengikuti terpejamnya mata Sakura.
Lembut. Sebuah benda kenyal menyentuh bibirku pelan. Beberapa kali disudut yang berbeda. Basah. Kecupan dari bibirnya membasahi bibir atas dan bawahku secara bergantian. Kecupan berganti lumatan. Bukan lumatan menuntut yang dipenuhi nafsu membara, melainkan lumatan pelan yang menggoda pertahananku untuk menyentuhnya lebih.
Aku hanya diam saja, tidak berniat membalas segala perlakuannya kepadaku saat ini. Aku hanya ingin merasakan nikmat sentuhan bibirnya. Bibirku tebuka sedikit, mempersilahkan lidah lembut Sakura untuk masuk lebih dalam.
Fuck! Nikmat ini membuatku melayang. Brengsek! Hanya sentuhan lidahnya dibibir dalamku membuat tulangku seakan lepas dari tempatnya. Godaan-godaan dari lidahnya membuatku tak sabar meminta yang lebih, kugerakan bibirku pelan saat lidahnya menyentuh pelan bibirku. Melumat sangat perlahan organ tak bertulang milik Sakura.
"Ngghhh." ucapan tertahan pelan Sakura sambil melepas ciuman ini.
Well. Yaaah. Ciuman berheti saat aku turning on. Aku kecewa? Tentu saja.
Ada hasrat didada saat melihat pemandangan indah didepanku. Masih terpejam, Sakura terengah-engah berusaha mengambil nafas diudara sekitar. Hangat tangannya masih terasa dipipiku. Tak dapat kupungkiri sebagian otakku mengingingkan lebih, menarik tengkuknya, melumat bibir bawahnya, menelusupkan lidahku dimulutnya, menghisap lidahnya pelan, menciumi seluruh tubuhnya, dan, dan... Brengsek!
"Sudah kulakukan."
Sakura membuka matanya. Dan tangan itu, sudah tak berada dipipiku.
"Se- Ehem! Sekarang giliranmu Ino. Ceritakan sekarang juga. Cepat-cepat!" seru Sakura cepat sambil menjauhkan badannya.
Kutekan kuat-kuat hasrat mengerikan ini. Aku tak ingin menyakitinya karena ketidakmampuanku mengendalikan hasarat ini.
Dan lagi! Aku memang vampir yang sudah hidup ratusan tahun, tapi... mana aku tahu sejarah leluhurnya dulu!
"Tidak!"
"Apa? Kenapa?' tanyanya kaget.
Aku bangun dari kasur, lagi. Yeah thats right! Aku memang berniat melarikan diri. Sangat memalukan jika dia tahu aku tak tahu leluhurnya.
"Aku bilang 'kecup aku', bukan 'cium aku' atau 'lumat aku'."
"Bukankah itu sama saja! Apa bedanya bodoh!"
Senang rasanya mempermainkan gadis tempramen sepertinya.
"Tidak untukku. Sudahlah tidur saja sana, sudah terlalu malam untukmu Love."
Aku berjalan menuju pintu kamarku, kemana? Mungkin ketempat latihan lagi. Yang jelas agar aku bisa menjauh dari Sakura untuk saat ini.
"He-ei! Mau kemana kau? Tepati janjimu brengsek!"
Teriaklah sesuka hatimu Love.
"Bagaimana denganmu brengsek! Jawab ak..."
"Aku vampir Love. Vampir tak butuh tidur." jawabku singkat tanpa menghentikan langkahku.
Tak kupedulikan teriakan gadis itu.
"Bukan itu maksudku brengsek!"
Kubuka pintu kamar degan perlahan. Aku mempermainkannya? Ya. Memang.
"Ino! Kembalillah Kau brengsek! Dasar vampir sialan!"
Hebat! Berada diluar kamarpun aku masih bisa mendengar dengan jelas teriakan Sakura seperti 'brengsek', 'sialan', 'penipu', dan bahasa kasar lainnya. Untuk pertama kalinya aku bersyukur menjadi vampir seperti ini, membuatku tak perlu pergi ke dokter THT untuk memeriksakan kesehatan telingaku. Paham maksudku bukan?
TBC
