[2 hari setelah insiden teroris kerajaan Konoha]

.

.

.

terlihat di sebuah ruangan mewah nan luas, terdapat sebuah meja bundar besar yang di sekelilingnya sudah dipenuhi oleh deretan kursi bergaya eropa abad pertengahan. disetiap kursi yang ada, telah diisi oleh beberapa orang yang sepertinya sedang mendiskusikan sesuatu.

"jadi..,.. apakah semua sudah hadir?" tanya seorang kakek tua memecah keheningan, dan anggukan adalah hal yang dia dapat dari semua orang yang ada di ruangan tersebut.

"baiklah kalau begitu, kita mulai saja pertemuannya!" lanjutnya dan kemudian munculah sebuah bola sihir yang melayang di tengah-tengah meja tersebut.

"seperti yang kalian semua sudah dengar, dua hari lalu telah terjadi insiden di Festival Tahunan Akademi yang disebabkan oleh sekelompok teroris. dalam insiden kali ini memang tidak menimbulkan korban jiwa, tapi kerusakan yang ditimbulkan dari insiden ini membuat Kerajaan cukup banyak mendapat kerugian!" setelah mengucapkan itu, bola sihir yang ada di tengah meja bersinar terang dan menampilkan kawasan stadiun akademi yang sudah hancur dan masih dalam proses perbaikan.

"selain itu juga, hampir semua guru dan penonton yang sempat berada di stadiun tersebut, masih belum sadarkan diri hingga sekarang karena kehabisan mana. tapi yang akan menjadi topik kita kali ini bukannlah semua itu,... melainkan ini!"

bolah sihir tersebut kembali bersinar terang dan berganti Scene ke sebuah dunia yang cukup aneh, dimana langitnya berada di bawah dan daratan serta berbagai macam rumput maupun pepohonan berada di atas. tentu saja pemandangan itu membuat beberapa orang yang ada di ruangan tersebut cukup terkejut, tapi fokus mereka lebih terarah kepada beberapa orang yang sedang berdiri dan saling berhadapan satu sam lain.

"ini adalah rekaman kejadian yang masih sempat aku rekam menggunakan sihir khusus miliku"

semua mata langsung memperhatikan rekaman tersebut dengan seksama. terlihat dengan jelas salah satu kelempok bertudung yang sepertinya dipimpin oleh orang tua bercambang putih kekuningan sedang membicarakan sesuatu.

"siapa mereka?" tanya salah seorang pria berambut Crimson panjang. (Senju Sirzech)

"mereka adalah sekelompok teroris yang berhasil memasuki Kerajaan Konoha dan menculik beberapa kepala keluarga bangsawan serta Kaisar Hiruzen Sarutobi-sama!" jawab seorang pria berambut hitam jabrik dengan tatapan mata sedingin es. (Fugaku)

"ckk... bagaimana mungkin mereka berhasil memasuki kerajaan ini dengan begitu mudahnya?" kesal pria berambut coklat dengan aksen pirang di poni depannya. (Azazel)

"itu masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab hingga sekarang. kami telah mengecek semua sistem pertahan yang melindungi kerajaan ini, dan tidak ada satupun yang menglami gangguan maupun tanda-tanda musuh yang berhasil melewatinya. bisa dibilang mereka seperti hantu yang bisa seenak hatinya memasuki kerajaan ini tanpa terdeteksi oleh penghalang yang ada!" jelas Fugaku.

mereka semua terdiam dengan pernyataan Fugaku. bila dipikir-pikir lagi, memang sangatlah mustahil jika makhluk yang berhasil menerobos masuk itu adalah manusia. semua itu karena tiga penghalang yang melindungi kerajaan Konoha ini merupakan penghalang yang dapat mendeteksi gerak, energi, hingga benda bernyawa yang masuk, atau bisa di sebut denagan..,... makhluk hidup apapun itu. jadi, akan sangat terdengar mengada-ngada jika ada orang yang berhasil melewati penghalang itu tanpa terdeteksi sedikitpun.

"apakah ini ada hubungannya dengan ucapan dari pria bercambang itu?"

semua mata tertuju ke arah Hisashi.

"apa maksud anda Hiashi-dono?" tanya Jiraya penasaran.

"aku akan menunjukannya" bukan Hiashi yang menjawab, melainkan Hiruzen.

shingggg

bola sihir tersebut kembali bersidar terang beberapa saat dan kembali meredup. tampak tidak ada yang berubah dari tampilan visual yang ada, tapi jika diperhatikan dan di dengarkan dengan baik-baik, maka kalian akan bisa mendengar percakapan yang mereka lakukan padahal sebelumnya sama skali tidak bisa terdengar.

catatan : dialog yang menggunakan tanda [ ] adalah dialog dari hasil tampilan Visual sihir milik Hiruzen. sedangkan dialog dengan tanda " ", adalah dialog biasa di waktu yang sekarang.

[izinkan aku memberikan sambutan kepada Kaisar sihir-dono...] ucap pira bercambang sambil menundukan badannya.

[... sebelumnya maafkan kami yang telah lancang membawa anda kemari...]

menegakan badannya, tatapan kosong itu lalu menatap intens Hiruzen yang hanya menatapnya tajam.

[hmm... baru pertama kali aku melihat seorang teroris membungkukan badannya kepada siubjek yang menjadi targetnya!] sinis Fugaku.

[apa! berani-bera~] ucapan dari salah satu sosok bertudung terhenti saat si pria mengangkat salah satu tangannya.

[tidak perlu menggunakan kekerasan, kita datang kemari hanya ingin berdiskusi] ucap pria tersebut dengan senyum anehnya. perlu kalian ketahui bahwa terdapat enam sosok bertudung yang berdiri di samping kanan dan kiri si pria bercambang.

[baiklah, kita akan me~]

shinggggg

ucapan si pria bercambang terhenti saat sebuah lingkaran sihir muncul di pijakan mereka semua, lalu sebuah kubah transparan muncul dan melingkupi mereka.

[i-ini? a-apa ini?!] ucap panik salah seorang dari sosok bertudung.

[aku tidak tau apa tujuan kalian, tapi kita mungkin bisa mendiskusikannya di pusat introgasi kerajaan Konoha] semua mata menatap ke arah Hiruzen yang terlihat di telapak tangan kanannya terdapat sebuah lingkaran sihir kecil.

[dengan ini selesai sudah!] ucap Hiashi dengan datar.

[cihhh...] berjalan pelan kearah pelindumg itu, [... jangan harap sihir seperti ini bisa menahan ka~] ucapan tersebut terhenti saat sosok bertudung itu menyentuh dinding pelindung dengan jarinya.

[...]

[i-ini?] gumamnya tidak percaya dan menarik kembali jarinya.

[percuma saja...] tersenyum kecil, Minatopun melanjutkan. [... itu adalah sihir khusus dari Kaisar sihir kami, [Time Restraint] . dengan sihir ini, siapapun yang terperangkap di dalamnya akan terkena permunduran ataupun pemajuan waktu. contohnya jika kalian menyentu apa lagi melewati penghalang itu, tubuh kalian akan kembali ke masa lalu atau ke masa depan, tergantung penyetelaan waktunya. jadi bayangkan saja jika penyetelannya diatur ke seratus tahun dari sekarang, maka umur dan tubuh kalian akan melonjak hingga seratus tahun]

penjelasan Minato tentu saja membuat mereka sangat terkejut. bayangkan saja, dapat membuat sihir penyetel waktu dengan jangka waktu selama itu sangatlah tidak mungkin. dalam sejarah sihir, mereka sama skali tidak pernah mendengar adanya sihir semacam itu. bahkan dalam hukum alam, satu-satunya sihir yang tidak mungkin ada adalah Time Magic, karena itu bertentangan dengan hukum alam itu sendiri.

[kau membual... mana mungkin ada sihir semacam itu!] sanggah salah satu dari sosok bertudung.

[tidak,.. mereka benar!] suatu pernyataan mengalihkan fokus dari mereka semua.

sosok bertudung tadi yang sempat menyentuh penghalang tersebut, melepaskan sarung tangan yang membalut telapak tangannya. dan saat selesai, maka terlihatlah jari yang tadi menyentuh penghalang itu nampak berkerut parah. dan kenyataan itu membungkam mereka semua!

[Time Magic, sihir pengendali waktu yang tidak pernah ada dalam sejarah karena sangat bertentangan dengan hukum alam. aku tidak pernah menyangka akan melihat anomali ini sekarang!] ucap datar si pria bercambang.

[karena itulah Hiruzen-sama di juluki sebagai Kaisar sihir terkuat masa kini, karena siapapun yang terkena sihirnya entah itu hewan, tumbuhan ataupun manusia, pasti tidak akan pernah selamat!] ucap Fugaku.

[tapi mengeluarkan salah satu dari sihir terkuat anda, bukankah itu sedikit berlebihan?!]

Hiruzen hanya menghela nafas pelan saat mendengar ucapan Hiashi. terlihat keringat mulai membasahi wajahnya bertanda bahwa dia sudah cukup kelelahan. ayolahhh... kakek dengan umur 68 tahunan mengeluarkan sihir segila itu, tentu saja merenggut habis staminanya. walaupun kapasitas mana yang dia miliki sudah mencapai tingkat [Black-Diamon], tapi tetap saja stamina yang dia punya sudah tidak sama seperti dulu lagi.

[tidak..tidak..tidak... aku mengharapkan ketenangan dalam pertemuan ini!] pandangan mereka kembali kearah si pria bercambang. seluruh mata menyipit saat melihat pria itu berjalan pelan menuju pembatas kubah sihir milik Hiruzen. lalu kemudian...

strikkkk srtikkkkk

[...?!]

tidak ada yang dapat bersuara saat melihat dia berusaha melewati penghalang tersebut walau sengatan listrik serus saja menyerangnya. terlihat dengan jelas mulai dari tangan, kaki dan badannya sudah mengkerut menandakan umurnya telah di majukan hingga pada waktu yang telah di atur oleh Hiruzen, yaitu... seratus tahun.

[ja-jangann bilang kalau...] Minato tidak bisa melanjutkan ucapanya karena terlalu shok melihat kenekatan pria tersebut.

sretttt cittt cittt citttt

[hahhh...] erangan panjang dia keluarkan saat seluruh tubuhnya berhasil melewati penghalang tersebut.

[bodoh! walau kau berhasil melewatinya, tetap saja kau tidak bisa berbuat apa-apa dengan tubuh seperti itu] ucap Fugaku.

tidak menghiraukan ucapan tersebut, si pria lebih memilih untuk menegakan badannya walau terlihat begitu sangat susah dengan tubuh kurus kering yang penuh akan kerutan di mana-mana.

[semua sudah selesai, jadi menyera~] ucapannya tidak terselesaikan, malah ekspresi shok yang dia keluarkan.

tidak hanya Fugaku yang mengalami hal itu, melainkan mereka semua juga mengalami hal yang sama saat melihat tubuh kurus kering itu secara perlahan mulai terisi dengan semacam energi asing berwarna hijau yang muncul entah dari mana dan masuk kedalam tubuhnya. lalu tidak lama kemudian, pria bercambang itupun telah kembali seperti sedia kala.

[mu-mustahil!] gumam mereka semua tidak percaya saat melihat semua kejadian itu. namun berbeda dengan Hiruzen, dia malah menatap tajam pria tersebut.

[sudah kuduga!... ] mengatur nafas sejenak Hiruzenpun melanjutkan. [... sihir semacam itu tidaklah berguna di hadapanmu]

ucap Hiruzen menarik perhatian semua orang yang ada dalam dimensi buatan tersebut.

[apa maksud anda Hiruzen-sama?] tanya Fugaku.

[sejak awal aku merasa cukup familiar dengan wajah orang ini. dan sekarang aku sudah mengingat semuannya!]

tersenyum kecil, pria bercambang itupun berbicara.

[hoh... sudah selama ini dan kau baru menyadarinya yah...,... Hiruzen-kun!]

[...]

mereka semua terdiam dengan wajah blank yang melekat di wajahnya. sedangkan Hiruzen, dia hanya menggigit bibir bawahnya kesal saat mendengar ucapan pria itu.

[walau bagaimanapun juga aku yang sekarang hanyalah kakek tua yang sudah kehabisan waktu. tidak sama seperti dirimu yang sama skali tidak berubah sejak lima puluh tahun terakhir kali aku melihatmu...,... Sensei!]

[...]

sudah cukup... pernyataan ini sudah sangat membuat mereka semua tidak bisa berkata apa-apa. bahkan para kepala keluarga bangsawan yang saat ini sedang menyaksikan semua itu dengan bantuan bola sihir milik Hiruzen, juga ikut shok dengan mulut menganga lebar.

[hmmm... lima puluh tahun yah... sepertinya waktu selama itu terlalu berat bagimu!] ucapnya.

[tu-tunggu dulu! apa maksudnya ini?] tanya Minato masih dengan eksprsi shok.

[seperti yang kalian semua dengar, dia adalah guru yang telah melatihku sejak umur 18 tahun] jawab Hiruzen

[tapi... bagaimana bisa dia sama skali tidak bertambah tua seperti dirimu?] tanya Fugaku penasaran.

Hiruzen berpikir sejenak mendengar pertanyaan Fugaku. [hmmmm? mungkin aku hanya bisa mengatakan kalau dia itu... abadi!]

bungkam! lagi dan lagi mereka hanya bisa terdiam saat mendengar semua hal tidak masuk akal itu.

[tidak perlu heran seperti itu. aku bukanlah makhluk fana seperti kalian yang memiliki raga dan jiwa. yahhh... mungkin lebih tepatnya aku sama seperti Tuhan yang kalian semua sembah itu]

[ckk... jangan bercanda! Tuhan yang kami sembah tidak mungkin melakukan hal memalukan ini dan memakai pakaian menyedihkan itu] ucap Fugaku datar.

[fufufufu... terserah kalian mau percaya apa tidak, tapi Ayah kami itu memang bukanlah makhluk fana seperti kalian] balas salah satu dari sosok bertudung yang masih terperangkap di dalam kubah waktu milik Hiruzen.

menyipitkan matanya tajam, Fugaku lalu merentangkan tangan kananya ke depan. [hal seperti itu...,... ] lingkaran sihir seketika tercipta di telapak tangannya. [...,... tidak mungkin ada!]

Bhowwssss

sebuah tembakan bola api raksasa langsung dia tembakan ke arah pria yang mengaku sebagai Tuhan itu. hanya diam dan melihat, sepertinya pria itu tidak berniat untuk menghindar.

dan saat jarak bola api tersebut sudah mencapai angka satu meter dari hadapannya...

Shinhgggg Bommmm

ledakan kecil tanpa asappun terjadi, dan bola api itu seketika hilang entah kemana. tidak ada rasa terkejut dari Fugaku saat melihat sihir apinya dengan mudah di tepis bahkan sebelum menyentuh sang target. semua itu tidak lain karena mata bertomoe tiga miliknya yang dapat melihat adanya energi asing tak kasat mata yang melingkupi tubuh pria itu dalam radius satu meter. tapi ada satu yang membuatnya bingung...

['energi apa itu?'] pikirnya...

memang sejak awal dia sama skali tidak merasakan mana dari dalam tubuh pria gila ini. tapi saat dia melihatnya dengan mata Sharingan miliknya, bertapa terkejutnya saat dia bisa melihat dengan jelas energi asing berwarna hitam pekat menyelimuti seluruh tubuhnya bagaikan jilatan api yang membara.

[percuma Fugaku-kun,... serangan apapun yang kalian lancarkan kepadanya tidak akan pernah berhasil!] ucapan Hiruzen membuat mereka semua terkejut.

[apa maksud anda Hiruzen-sama?] tanya Hiashi.

[seperti yang dilihat oleh Fugaku, pria itu memiliki jenis energi yang sangat jauh berbeda dari energi sihir mana yang kita semua miliki. dan sifat energi itu seperti menolak paksa energi lain yang mendekatinya sehingga dengan otomatis energi lain itu akan di lenyapkan tanpa sisa] penjelasan Hiruzen membuat semuanya menjadi jelas. tapi ada satu hal yang masih menjanggal di kepala Minato.

[kalau benar seperti itu, lalu kenapa kubah sihir anda terlihat berhasil kepadanya? walaupun tadi dia bisa kembali seperti semua karena adanya energi luar yang masuk kedalam tubuhnya, tapi tetap saja dia sempat terkena dampak dari sihir waktu anda bukan?!] tanya Minato.

[hahahahah...] pria itu tertawa keras dan membuat semuanya menatap dirinya. [...,.. ternyata kau mempunyai anak-anak yang pintar Hiruzen-kun] ucap pria tersebut.

[seperti yang kalian lihat,.. hanya kekuatan sihir waktu dari Hiruzenlah yang bisa menyentuhku. aku tidak tau kenapa, bahkan sampai saat ini aku sama skali tidak tau jawabannya! karena itulah aku melatih dirinya agar mengetahui rahasia dari sihir dan energinya itu. tapi sayang, aku sama skali tidak menemukan apa-apa!] lanjutnya.

[huhhh... pantas saja kau terus saja menyuruhku untuk menyerangmu setiap kali kau melatihku] balas Hiruzen.

tersenyum kecil, pria itupun berbicara. [sudah cukup reuninya, saatnya membahas tentang negosiasi yang akan aku sampaikan...]

[langsung saja,... kedatangan kami ke sini adalah untuk mengambil penerusku yang sepertinya sudah tumbuh dengan sangat baik!...]

[...?]

[... salah satu dari mereka saat ini sedang melakukan tugasnya di kerajaan milikmu. tapi kau tenang saja, dia tidak kuizinkan untuk membunuh siapapun di sana]

wajahnya mengeras... sangat keras saat mendengar ada salah sartu dari mereka yang saat ini berada di kerajaan Konoha. tapi ada satu yang menjanggal dalam pikiran Hiruzen...

[Penerus?] gumam Hiruzen bingung.

[benar sekali! tapi aku tidak akan memberitahukan siapa dia... karena jika kalian semua tau, mungkin saat ini dia akan 'kembali' di 'manfaatkan' oleh kerajaan busuk itu!] jelas Pria itu.

[ckk!] Minato mendecih kesal... [kalau serangan berbasis sihir tidak berpengaruh padanya, mungkin seranngan fisik akan berhasil!]

[tidak... serangan fisikpun tidak akan berhasil padanya!] melirik kesamping, Minato menatap Hiruzen seakan ingin diberi kejelasan.

[aku tadi sudah mengatakannya, di sekelilingnya itu terdapat energi asing yang menolak segala macam energi yang masuk ataupun mendekatinya. karena seluruh tubuh kita ini memiliki aliran mana, jadi serangan fisikpun akan dinetralkan olehnya] jelas Hiruzen.

[sampai seperti itu yahh!] ucap Fugaku tidak percaya.

[jadi kita harus bagaimana sekarang?] tanya Hiashi.

[tentu saja melarikan diri! walau sihirku bisa berpengaruh padanya, tapi dengan keadaanku saat ini sangatlah mustahil untuk mengalahkannya!] ucap Hiruzen.

[hohh... tentu saja aku tidak akan membiarkannya]

shingggg

dengan tiba-tiba, sebuah kubah energi berwarna hitam transparan membalut mereka semua. setelah itu, dia lalu melihat kearah atas atau lebih tepatnya ke arah bola sihir Hiruzen yang sejak tadi merekam semua kejadian tersebut. tidakk lama kemudian, bola sihir yang menampilkan semua kejadian itupun mati begitu saja.

.

.

"..."

setelah semua hal itu, keheningan langsung melanda mereka yang ada dalam ruangan tersebut.

"jadi...,... apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Sirzech penasaran.

"kami berhasil kabur dengan menggunakan sihir Hiraishin milik Minato. melawan makhluk seperti itu tanpa persiapan dan strategi, sama saja bunuh diri!" jawab Hiashi.

"hahh..." secara serempak, semua orang yang hadir dalam ruangan tersebut menghela nafas panjang dan menyandarkan punggungnya di kursi.

"Hiruzen-sama, bisakah anda menjelaskan siapa pria berjenggot itu?" ucap Tsunade.

"hmmm..." berpikir sejenak sambil menaruh jari di dagunya, Hiruzenpun berbicara. "...,... jujur saja... aku juga tidak tau?"

"hahh?"

"pada saat itu, dia tiba-tiba muncul entah dari mana dan memintaku untuk menjadi muridnya. karna saat itu yang ada di dalam otaku hanyalah keinginan untuk menjadi kuat dan ditambah dengan melihat bagaimana dia bisa menghancurkan gunung hanya dengan satu tangannya, akhirnya aku mau menjadi muridnya. dia melatihku selama kira-kira dua bulan, dan anehnya aku bisa menguasai sihir ini dalam waktu sesingkat itu. selebihnya aku tidak tau karena dia tiba-tiba menghilang setelah dua bulan mengajariku"

"..."

tidak ada yang bisa bersuara saat melihat dan mendengar semua anomali tersebut.

"khukhukhu... kalau benar begitu, jadi bisa jelaskan dimanakah mereka membawa kalian?!" sebuah suara disertai kekehan ringan menyadarkan mereka semua.

"seperti yang kau lihat, itu adalah dimensi buatan yang entah bagaimana bisa mereka membuatnya"

jawaban dari Minato membuat Orochimaru yang selaku pelopor dari pemecah keheningan memperlebar senyum maniak eksperimen miliknya. sedangkan yang lain hanya diam karena sudah tidak bisa menerima kejutan lebih dari ini. walau bagaimanapun juga, menciptakan sebuah dimensi pribadi merupakan sesuatu yang mustahil dan tidak ada dalam sejarah dunia sihir.

"begitu yahh..." salah seorang dari mereka yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan, akhirnya membuka suaranya.

mata emas itu menajam saat menyadari sesuatu. "jadi dapat di simpulkan bahwa mereka bisa memasuki kerajaan ini dengan menggunakan dimensi alternatif yang dapat memotong ruang dan membuat kubah pelindunng kerajaan ini tidak bisa mendeteksinya"

"hohhh... seperti biasa, [Golden Lord Michael] memang jenius" puji Orochimaru.

pria berumur 25 tahunan dengan rambut berwarna emas itu hanya tersenyum kecil mendengar pujian Orochimaru. "anda terlalu memuji Orochimaru-dono. lagipula, kesimpulanku itu muncul saat mendengar semua penjelasan dari Hiruzen-sama!"

"tapi yang masih ingin aku pertanyakan,... benarkah dia itu adalah 'Tuhan'?"

".."

"aku akui bahwa semua yang dia lakukan benar-benar tidak masuk akal dan sangat bertentangan dengan hukum alam. tapi jika kita berbicara soal menentang hukum alam, bukankah Hiruzen-sama pun memiliki kemampuan yang bertentangan dengan hukum alam?! lagi pula walaupun dia abadi, tapi tetap saja Time Magic berdampak padanya...,.." melipat kedua tangannya di dada, Michaelpun melanjutkan. "...,.. jadi kesimpulanku adalah, dia hanyalah orang sinting yang secara kebetulan mendapat kekuatan yang membuatnya kehilangan akal sehingga dia berpikir bahwa dirinya itu adalah Tuhan!"

"kalau benar seperti itu, lalu apakah kau bisa menjelaskan tentang dimensi buatan itu?" tanya Azazel.

"dimensi buatan hanyalah objek realiti yang dihasilkan dari imajinasi dan pengambaran perasaan dari Manusia semata. pergilah ke alam bawah sadarmu dan kau pasti akan menemukan dunia yang aku sebutkan itu."

Azazel terdiam. sempat dia berpikir,... kenapa dia tidak memikirkan hal itu?

"tapi yang menjadi masalahnya adalah, bagaimana dia bisa membuatnya menjadi nyata!?..." mengambil secangkir kopi yang ada di hadapannya dan kemudian meminumnya pelan. "... jujur saja,.. aku sendiri tidak tau bagaimana caranya! selain itu, bukankah tujuan dari kelompok ini yang seharusnya perlu menjadi perhatian?"

pernyataan Michael menyita semua perhatian.

"benar juga!"

"penerus yah?"

"jika apa yang dia katakan itu memang benar, maka mulai dari sekarang kita harus mencari siapa 'penerus' yang dia maksud itu dan memperkuat pertahanan kerajaan! karena entah kenapa, aku merasakan firasat buruk akan hal ini" ucap Hiruzen.

ucapan itu menjadi pengakhir dari pertemuan mereka. dari pertemuan ini, mereka semuapun sepakat untuk mencari siapa 'penerus' yang dimaksud oleh teroris tersebut. selain itu mereka juga memperkuat pertahanan kerajaan untuk meminimalisir kedatangan para teroris itu.

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

DISCLAIMER

Naruto dan semua karakter selain Ooc bukanlah kepunyaan saya.

.

WARNING

Ooc... gaje... abal-abal... dan sebagainya

.

Pair : ... xx (Maybe Not)

.

Summary : apa yang kalian cari? Hero? romance? Family? Or...,.. Friends? maaf saja... kalian tidak akan mendapatkan semua hal menyebalkan itu di dalam cerita ini. sebuah kisah yang hanya berisikan realita dari bertapa kejamnya suatu dunia fantasi yang mungkin selama ini kalian semua impikan. dan akan aku katakan satu hal... dunia fantasi tidaklah seindah seperti yang kalian bayangkan!

.

Just Enjoy

.

.

.

.

.

.

.

[5 hari kemudian di sebuah kamar Rumah sakit Kerajaan Konoha]

.

terduduk dan merenung, hanya itulah yang sedang dilakukan oleh salah satu murid paling berbakat di kerajaan Konoha ini. mata biru seindah samudra itu menatap datar keluar jendela untuk melihat betapa cerahnya langit yang dihiasi oleh beberapa awan tersebut.

dia bingung harus melakukan apa. pikirannya saat ini sedang kacau, tersulut oleh berbagai macam perasaan aneh yang memenuhi hatinya.

"ckk!" sedikit mendecih dan mengepal erat kedua tangannya, berusaha untuk menahan emosi yang sedang bergejolak di dalam dadanya.

"kenapa?!" sebuah ungkapan yang tersirat akan kebencian dan keputus asaan.

dia menunduk hingga poni panjang miliknya menutupi sebahagian besar ekspresi wajahnya. entah apa yang sedang dialami oleh pemuda bersuarai merah ini hingga membuatnya begitu terlihat emosi.

"Uzumaki Naruto!" sebuah nama yang di ucapkan dengan nada penuh kebencian, akhirnya membuat semuanya menjadi jelas.

Namikaze Menma, anak jenius dari pasangan Namikaze Minato dan Namikaze Khusina yang merupakan salah satu dari keluarga bangsawan besar yang ada dalam Kerajaan ini. seorang anak yang saat ini sedang dilanda amarah akan seseorang bernama Uzumaki Naruto.

seperti yang kalian ketahui, dia adalah saudara tiri dari Menma yang membuat kehidupan kedua orang tuanya begitu menderita. tapi bukan itu yang membuat Menma semarah ini, melainkan perasaan lain yang di namakan dengan rasa...,.. 'Iri'!

benar! rasa iri akan ketidak mampuannya untuk menggapai posisi dari manusia bernama Uzumaki Naruto. mungkin orang lain akan berpikir... untuk apa dia merasa iri kepada anak yang mendapat julukan sebagai The Big Zero di seluruh angkatannya? tapi ketahuilah, yang mereka sebut sebagai The Big Zero itu merupakan orang yang paling di benci oleh Namikaze Menma.

karena apa? apa karena dia lemah dan disebut pecundang? ayolahh, Menma bukanlah bangsawan yang memiliki pemikiran sedangkal itu. gelar jenius yang dia sandang sudah cukup membuatnya tau seberapa hebatkah orang yang disebut sebagai The Big Zero itu.

orang yang dari dulu selalu bersikap sombong dengan menyembunyikan kekuatan yang dia miliki, seakan-akan dia ingin mengatakan bahwa Namikaze Menma bukanlah apa-apa jika di bandingkan dengan Uzumaki Naruto.

sejak dulu Menma sudah menyadari bahwa Naruto ini memiliki kemampuan yang bisa dibilang sangat mengerikan. tidak perlu dijelaskan lagi, kalian pasti tau semengerikan apakah Naruto itu hanya dengan melihat pertarungannya saat insiden yang terjadi di Festival Tahunan Akademi.

dan karena hal itulah Menma sangat membenci dirinya. itulah kenapa dia selalu berusaha untuk mengejek dan menghina Naruto agar dia mau menunjukan kekuatan aslinya. tapi lagi dan lagi, Naruto hanya menunjukannya di saat orang lain tidak bisa melihatnya. jujur saja, dia sangat membenci hal tersebut. bersikap seolah-olah bahwa dialah yang terkuat hingga kekuatannya itu harus disembunyikan.

tapi dari semua itu, ada satu hal yang membuatnya harus merasa iri kepada Naruto. semua itu tidak lain dan tidak bukan adalah perasaan dan kenyataan yang memperlihatkan seberapa besar perbedaan antara dirinya dan Naruto.

entah kenapa, dia merasa tidak bisa untuk mencapai apa yang dimiliki oleh Naruto. dia sudah berusaha, berlatih dari guru terbaik, dan mempelajari semua jurus yang hanya ada dalam legenda. dengan semua itu, dia setidaknya yakin telah melampaui Naruto. tapi sayang itu hanyalah angan semu belaka.

tubuhnya bergetar, rasa takut melanda, dan instingnya selalu mengatakan agar menjauhi Manusia bernama Naruto itu saat dia menunjukan kekuatannya. dia tidak mengerti, kenapa semua itu bisa terjadi.

sama seperti saat insiden itu terjadi, dirinya sama skali tidak memahami tingkat kekuatan dari Naruto. terasa begitu berat dan kelam hingga membuat dirinya merasa seperti seekor tupai yang sedang berhadapan dengan seekor Singa.

yahh dia tau semua itu hanyalah hasil dari imajinasi dan instingnya. memang benar kalau dia belum pernah berhadapan langsung dengan Naruto, tapi tetap saja dia tidak bisa menghiraukan insting yang selalu berbunyi saat berada di dekat Naruto.

Brakkkk

krakkkkk

bunyi dan retakan muncul saat Menma memukul meja dengan tangannya.

"Uzumaki Naruto..,.." matanya menajam dan energi merah mulai mengeluar dari tubuhnya. "..,... kau ti~"

Brakkkk

"Halooo Menma-kun,..." ucapannya terhenti saat tiba-tiba pintu dibuka dengan cukup keras dan munculnya seorang pria berotot yang menyapanya.

melirik sedikit kebelakang, diapun menurunkan tekanan energinya hingga hilang tak tersisa. senyum dari pria itu mengembang saat melihat Menma yang hanya duduk diam sambil melihat keluar jendela.

"heyyy.. bukankah tidak baik hanya berdiam diri disini?" ucapnya sambil berjalan pelan menuju Menma.

setelah sampai, diapun ikut menatap keluar jendela sambil melipat kedua tangannya di dada.

"apa yang membuatmu tetap di sini padahal semuanya sudah berkumpul untuk mendiskusikan soal insiden yang terjadi minggu kemarin?"

"..."

menyadari tidak ada tanggapan dari Menma, ekspresinya lalu berubah menjadi serius.

"aku tidak peduli dengan alasanmu tetap disini... tapi jika kau menghancurkan rumah sakit ini hanya karena egomu, itu sudah lain lagi ceritanya!" sedikit melirik kearah Menma, diapun melanjutkan. "apa sebenarnya yang membuatmu semarah ini? apakah karena Saudara tirimu i~"

"tolong jangan menyebutnya sebagai saudaraku!" potong Menma sambil sediikit menunduk. "Manusia seperti dirinya bukanlah saudaraku!"

"Ni-chan!"

sebuah suara cempreng membuat mereka berdua menoleh kebelakang. terlihat seorang anak kecil dengan umur kisaran 7 tahunan sedang berlari dan langsung melompat kearah Menma.

"Ni-chan!"

Grebb

dengan sigap Menma menangkap gadis itu agar tidak terjatuh.

"apa yang kau lakukan Satsumi-chan? melompat seperti itu berbahaya kau tau!" ucap Menma dengan senyuman hangat yang sangat jarang dia tunjukan.

"Uwaaaaa... Sa-satsumi khawatir!" balas gadis tersebut dengan tangisan imut yang membuat mereka berdua tertawa pelan melihatnya.

Satsumi Namikaze... merupakan adik perempuan dari Namikaze Menma yang lahir sekitar 10 tahun yang lalu. memiliki ciri-ciri berupa rambut pirang panjang terurai, wajah super imut dengan mata biru sebening samudra, dan tanda lahir yang mirip dengan kumis kucing di kedua pipinya sehingga menambah kesan imut tersendiri bagi orang yang melihatnya.

"ara..ara... sepertinya Satsumi-chan merindukan Ni-sannya"

mereka kembali mengalihkan pandangan kearah pintu saat mendengar sebuah suara khas wanita dewasa. dan terlihatlah di sana terdapat seorang wanita dewasa berambut merah panjang sedang berjalan menuju kearah mereka dengan senyuman hangat di bibirnya.

"hohhh.. ada Sairaorg-kun juga ternyata"

mendengar namanya di sebut, pria yang ternyata Sairaorg itupun menunduk memberi hormat.

"selamat siang Kushina Oba-san!"

Kushina hanya tersenyum simpul melihat kelakuan sahabat dari anaknya itu.

"ada apa sampai Ka-sama datang lagi kemari?" tanya Menma.

"hehhh... apakah salah seorang Ibu menjenguk anaknya yang sedang sakit?"

wajah Menma langsung berubah menjadi aneh saat mendengar ucapan dari Ibunya itu.

"hal itu tidak akan menjadi wajar jika 2 jam berturut-turut Ka-sama selalu datang menjenguku!"

"a-ahahaha... bu-bukankah itu wajar!" balas Khusnina dengan tawa kakunya yang menimbulkan Sweatdrop bagi mereka semua.

hahhh... kita sudahi dulu acara keluarga bahagia ini.. sekarng kita beralih ke suatu tempat yang dimana terdapat sebuah bangunan besar nan megah berada disana.

Kretttttt

pintu Istana itu terbuka secara perlahan menandakan adanya seseoran yang masuk.

tap tap tap

seluruh pasang mata yang ada dalam ruangan besar itu menatap kearah sosok yang baru masuk. terlihat di ruangan tersebut terdapat sebuah singgahsana megah yang telah diduduki oleh seorang kakek tua dengan dua orang pengawal berarmor lengkap dengan sebuah pedang besar berada di genggamannya yang berdiri di samping kiri dan kanan Singgahsana Raja. sedangkan di hadapannya, terdapat pula beberapa orang yang berjejer rapi berdiri di kedua sisi singgahsana miliknya.

pria yang kita ketahui sebagai Kaisar atau raja itu menaikan satu alisnya saat melihat siapa gerangan yang datang menemuinya.

"Naruto?"

pemuda yang disebutkan namanya itu berhenti sekitar 10 meter dari hadapan raja dengan berbagai macam tatapan tidak suka dilemparkan padanya. tidak ada yang berubah dari ekspresinya, masih sedingin es dan sedatar tembok.

"hohh... ternyata Naruto yah!" Raja yang diketahui sebagai Hiruzen Sarutobi itu tersenyum simpul menyambut kedatangan Naruto. "yahh.. mimpi apa aku semalam hingga membuat cucu kesayanganku mau datang kemari?" lanjutnya dengan kedua pipi yang memerah dan linangan air mata bahagia di kedua matanya. dan tentu saja hal itu membuat Naruto merasa begitu jijik.

Cetakk

perempatan urat muncul di pelipis Naruto.

'ckk... Kuso Oyajiiii!' batin Naruto kesal walau ekspresinya tidaklah berubah.

"bisa hentikan sifat paranoidmu itu? datang saja kemari sudah membuatku jengah, dan sekarang aku harus di buat mual dengan ucapan menjijikanmu itu!" ucapnya malas. dan sepertinya hal itu membuat para Tetua marah.

"KISAMA.. BERANINYA KAU MENGHINA RA~..."

Shingggg

"..."

"..."

hening... keheningan langsung terjadi saat tiba-tiba salah satu dari pengawal Hiruzen menghilang dan muncul tepat di samping Naruto dengan sebilah pedang yang siap memenggal kepala pemuda berambut pirang itu kapan saja.

melirik sedikit, Naruto dapat melihat adanya sosok berarmor merah Crimson yang entah sejak kapan sudah berada di sampingnya.

'cepat!' pikir Naruto sedikit tertarik.

dia tidak bisa melihat wajah dari sosok itu karena kepalanya juga ditutupi oleh armor yang sepertinya terbuat dari logam yang begitu kuat dan indah.

"bukankah sangat tidak pantas manusia rendahan sepertimu berbicara seperti itu kepada Raja kami!" ucap tajam sosok tersebut. tidak hanya itu, bahkan aurah membunuh yang begitu kental dia keluarkan hingga membuat beberapa orang yang ada di ruangan tersebut berdidik ngeri karenanya.

"hoh..?" jujur saja, Naruto sedikit terkejut akan hal ini. tidak..tidak, tentu saja bukan karena aura membunuh yang dia keluarkan. melainkan karena saat dia menemukan fakta bahwa sosok berarmor ini adalah seorang...,... Wanita!

benar! jelas sekali dari suaranya kalau dia itu adalah seorang Wanita. yahhh... walaupun ekspresinya tetap tidak berubah sih!

"Hentikan Fubaki-san, kau tidak perlu melakukan semua itu!" ucap Hiruzen.

"tapi Hiruzen-sama, manusia kotor ini sudah berani berbicara lancang kepada anda. dan sebagai pengawal pribadi anda, sudah sepantasnya saya melakukan hal ini!" balas hormat Wanita berarmor itu.

"dan kau..." fokusnya kembali kearah Naruto. "... cepat bersujud dan minta maaf kepada Hiruzen-sama!" ancamnya.

melihat hal itu membuat Hiruzen menghela nafas lelah dan ingin kembali menghentikannya. namun sebelum dia berbicara, tatapan sedingin es langsung membuatnya bungkam dengan keringat dingin yang sedikit membasahinya. entah kenapa dia tidak bisa berbicara lagi saat cucu kesayangannya itu menatapnya begitu dingin. mungkin hatinya sedikit terluka karena itu? entalah... yang jelas arti dari tatapan itu adalah... 'jangan ikut campur!'.

paham akan hal tersebut, Hiruzenpun hanya bisa menghela nafas pasrah.

"jadi namamu Fubuki yah?!"

"..!"

wanita bernama Fubuki (Ooc) itu tersentak saat menyadari Naruto sudah berada di belakangnya dengan posisi yang sedang membelakanginya.

'sejak kapan?' pikirnya.

tidak hanya dia, melainkan semua orang yang melihat hal itu juga sama terkejutnya.

"hmmm..." gumam Naruto sambil menaruh jarinya di dagu seperti orang yang sedang berpikir. "... kau menyuruhku untuk bersujud kepada kakek bau tanah ini? bukankah itu sudah kelewatan"

Slashhhhhh

wushhh

tap tap tap

kalau saja Naruto tidak cepat melompat kebelakang, mungkin saat ini tubuhnya sudah terbelah menjadi dua saat wanita berarmor itu memutar cepat badannya dan mengayunkan pedang raksasa tersebut tepat kearah perut Naruto.

"ckk!" Fubuki mendecih tidak suka saat melihat serangannya gagal. membalikan badannya, diapun kembali berhadapan dengan Naruto dengan potongan jarak sekitar 20 meter. sekedar informasi, ruangan ini adalah pusat Istana dimana tempat beradanya singgahsana Raja dan para Tetua lainnya untuk berdiskusi akan segala masalah dan kepentingan kerajaan. jadi jangan heran jika luas ruangan ini setara atau lebih dengan gedung auditorium.

"aku peringatkan padamu untuk segera meminta maaf kepada Hiruzen-sama, karena kalau tidak~"

"kalau tidak kenapa?" potong Naruto dengan pandangan datarnya.

slashhhh

seperti mengangkat sebuah kapas, Fubuki mengancungkan pedang raksasa itu ke arah Naruto dengan satu tangan kanannya.

"Kalau tidak... kau akan mati disini!"

tanpa ada yang menyadari, Naruto tersenyum kecil melihat hal itu.

'bagus... aku tidak menyangka akan secepat ini!'

"hn? membunuhku yahh? bagaimana kalau kita bertaruh?!"

"..?"

"bertaruh?"

"benar... jika kau berhasil menyentuhku dengan tangan ataupun pedangmu, maka aku akan mengikuti semua keinginanmu"

braaakkkk

dentuman keras berbunyi saat Fubuki menusukan pedang besarnya ke lantai.

"bertaruh yah? lalu bagaimana denganmu?"

"gampang saja... jika aku berhasil membuka helemmu itu, maka anggap saja semua ini selesai! bagaimana, adil bukan?"

Fubuki sedikit tersentak saat mendengar ucapan Naruto.

"jangan bercanda... hal seperti itu mana bisa dikatakan adil!"

Sringggg

menarik kembali pedangnya, Fubukipun kembali berbicara.

"jangan meremehkanku, aku tau siapa kau! Uzumaki Naruto, anak yang mendapat julukan sebagai The Big Zero karena memiliki nilai terburuk dalam sejarah Akademi Konoha. bahkan saat Festival minggu lalu, kau langsung kalah hanya dengan satu serangan..,.." ucapnya sambil kembali mengacungkan ujung pedangnya kearah Naruto.

"diremehkan oleh pecundang sepertimu, adalah penghinaan terbesar dalam hidupku!"

"apa sudah selesai basa-basinya?" ucapan datar Naruto membuat Fubuki terdiam. "kalau begitu, ayo segera di mulai"

entah apa yang dirasakan oleh Fubuki saat ini, ekspresi dan emosinya sama skali tidak terlihat akibat terhalang oleh armor yang dia kenakan. tapi dengan merasakan aura membunuh yang semakin pekat dan energi merah kehitaman yang mengeluar dari tubuhnya, sudah bisa membuktikan betapa marahnya dia saat ini.

"Hiruzen-sama... bukankah berbahaya jika Fubuki mengamuk sekarang? pemuda itu pasti akan langsung mati jika tidak segera dihentikan" ucap datar sosok berarmor biru yang sedari tadi diam dan berdiri di samping kanan Hiruzen. dari suaranya, jelas bahwa dia adalah seorang pemuda yang mungkin seumuran dengan Naruto.

"biarkan saja... " dengan senyumnya, Hiruzen memandang tertarik kearah Naruto. "...,... ini pasti akan menarik"

"apa maksud anda Hiruzen-sama? bukankah nasib dari cucu anda sedang dipertaruhkan saat ini? tanpa dilihatpun, hasilnya sudah terlihat jelas"

"hmmm... mungkin kau benar. hasilnya memang sudah terlihat jelas,... tapi aku tetap ingin melihatnya" ucap Hiruzen masih dengan senyumannya.

walau masih ingin berbicara, tapi sosok berarmor itu hanya bisa mengangguk paham saat mendengar ucapan antusias dari Rajanya itu.

"baiklah, aku mengerti!"

.

atmosfir diruangan itu menjadi begitu berat saat Fubuki mengeluarkan tekanan energi yang membuat beberapa tetua kerajaan sesak nafas dan sulit untuk bergerak. tapi tentu saja, hal itu tidak berlaku bagi Naruto.

melihat lawannya tidak terpengaruh dengan tekanan energi yang dia keluarkan, membuat Fubuki menjadi semakin kesal.

mengayunkan pelan pedangnya kesamping, diapun memasang sedikit kuda-kuda bertarung.

"akan aku pastikan...,... " sedikit membungkuk untuk mengambil ancang-ancang. "...,.. kau akan mati disini!"

Wushhhh

dengan kecepatan abnormal, Fubuki meluncur cepat kearah Naruto. saat jaraknya sudah dekat, dia langsung mengayunkan pedang besarnya untuk memenggal kepala Naruto.

slashhh

gagal! Naruto telah lebih dulu menunduk untuk menghindari tebasan itu. tidak kehilangan akal, Fubuki lalu memutar tubuhnya dan melakukan tebasan melintang kebawah.

slsahhh

lagi-lagi gagal! Naruto berhasil menghindar dengan melompat kebelakang. namuan itulah yang di tunggu oleh Fubuki.

shingggg

baru saja mendarat, Fubuki sudah menghilang dan muncul kembali dibelakang Naruto. dalam momentum ini, sangatlah mustahil untuk menghindari serangan itu. walaupun bisa, Naruto harus mempunyai kecepatan yang setara dengan Hiraisin level 2 atau menahannya dengan sesuatu.

"berakhir sudah!"

slashhhhh

"..."

"..."

"..."

tap tap

"sepertinya kau memang berniat untuk membunuhku" ucap datar Naruto yang sudah berada 10 meter dari hadapan Fubuki.

'mu-mustahil!' pikir mereka semua tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.

ayolahh... menghindari serangan dalam titik buta secepat itu adalah hal yang sanngat mustahil jika tidak menggunakan Hiraisin atau penghalang lainnya. tapi sekarang, entah bagaimana caranya Naruto sudah berada cukup jauh di depannya saat ini tanpa menggunakan Hiraisin ataupun benda lainnya.

"mustahil! bagaimana bisa kau menghindarinya?" tanya Fubuki tidak percaya.

sedikit memiringkan wajahnya, Naruto tampak bingung dengan ucapan Fubuki walau ekspresinya tetap tidak berubah.

"apa maksudmu? aku tidak mengerti"

"ckk!"

merasa dipermainkan, Fubuki semakin meningkatkan tekanan energinya.

krakkk krakk

bahkan lantai Istana sampai retak dibuatnya karena tidak sanggup menahan besarnya energi tersebut.

"sudah cukup main-mainnya... saatnya serius!"

brakkkk

wushhhh

lantai semakin hancur saat Fubuki kembali menerjang Naruto dengan kecepatan yang lebih tinggi dari tadi. tidak sampai 3 detik, dirinya sudah berada dihadapan Naruto dengan pedang yang siap memotong secara Horizontal.

slashhh

wushhh

tebasan yang penuh akan kekuatan hinga menimbulkan gelombang yang membuat udara terhempas karenanya. tapi sayang, Naruto lebih dulu memiringkan badannya santai untuk menghindari tebasan tersebut.

tidak mau menyerah, dia mengganti posisi dan melakukan tebasan kedua.

slaashhh

wushhh

tidak berhasil!

slashhh

wushhh

tidak berhasi!

slashhh

wushhhh

tidak berhasil!

berkali-kali dia melakukan tebasan dengan kecepatan yang begitu tinggi, tapi tetap saja Naruto dapat menghindarinya dengan begitu mudah. bahkan ekspresi datar yang tidak berubah sejak tadi, menambah kemarahan dari Fubuki.

tanpa sadar dia mengayunkan pedangnya dengan sekuat tenaga tanpa memikirkan dampak yang akan dihasilkannya.

"Hyaaaaa!"

dengan berteriak, sebuah serangan penuh akan energi kemerahan dia lepaskan kearah Naruto.

Grebb

Blarrrr

"...!"

"..!"

ledakan cukup besar membuat lantai istana mengalami kerusakan parah dalam radius 10 meter. tapi ada satu hal yang membuat mereka sangat sangat terkejut akan kejadian itu. bahkan Hiruzen dan para tetua hanya bisa melongo dengan mulut terbuka saat menyaksikannya.

"mu-mustahil!" gumam Fubuki dengan suara bergetar saat melihat pedang besarnya dapat di tahan hanya dengan... satu tangan!

yap benar! Naruto berhasil menahan serangan Fubuki hanya dengan menggunakan satu tangannya dan terlebih lagi menggunakan tangan kiri yang tentu saja hal itu menimbulkan kehebohan dalam ruangan tersebut. yahhh, walaupun lantai istana yang menjadi pijikan dari Naruto sudah hancurl lebur menandakan betapa kuatnya serangan itu.

tidak memperdulikan ekspresi apapun yang ditunjukan oleh semua orang, Naruto lebih memilih menarik pedang itu hingga membuat tubuh Fubuki ikut tertarik kedepan. lalu kemudian...

Tingggg

dengan sekali sentilan di dahi helem Fubuki, armor yang menutupi kepala itu terlepas dan terpental jauh kebelakang.

"selesai sudah...,..."

.

.

.

kalian pasti bingungkan kenapa Naruto sampai melakukan semua itu! pasti ada yang berkata bahwa apa yang dilakukannya itu sedikit bertentangan dengan sifatnya yang acuh tak acuh dan ingin menyembunyikan kekuatannya dari orang lain. yahh, mau bagaimana lagi.. semua itu hanya demi taruhan yang dia lakukan tadi pagi...,...

.

Flashback (pagi tadi di asrama Divisi Wizard Konoha Akademi)

.

.

.

.

"APAAA... KAU INGIN KELUAR DARI KERAJAAN!"

Pagi yang damai itu seketika menjadi heboh saat Natsu berteriak keras hingga membuat burung-burung yang hinggap di atap berterbangan.

"bisakah kau kecilkan suara menyebalkanmu itu?" ucap datar Naruto yang saat ini sedang berbaring santai di kasurnya sambil asik membaca buku.

"tidak bisa! bukankah hal ini terlalu mengejutkan?!" balas Natsu tidak terima. "lagipula, apa lasanmu hingga ingin keluar dari Kerajaan ini?"

"tidak ada... aku hanya penasaran bagaimanakah kehidupan di dunia luar!" jawab malas Naruto sambil sekali-kali mengganti halaman yang dia baca.

"tidak boleh, pokoknya tidak boleh! apa kau berencana meninggalkan sahabatmu ini sendiri dalam kerajaan yang penuh akan maksiat dan lak~hmmmm"

ucapan Natsu tidak bisa dilanjutkan saat sebuah gumpalan kertas meluncur dan membungkam mulutnya.

"berhentilah mendramatisir.. aku tidak pergi untuk selamanya"

"hmmmm~Puahhhhh...,.. apa-apaan sumbatan kertas ini hahhh?! ehh.. tapi tunggu dulu, apa kau bilang tadi?"

"hahh... aku hanya akan keluar selama 2 bulan sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh akademi!"

"benarkah? huhh.. sukurlah, aku kira kau akan pergi untuk selama~ ehhh... kok kaya lirik lagu?"

sebaiknya kita hentikan saja Scene yang penuh akan kenistaan ini.

"uwaaaa.. tapi tetap saja tidak boleh!" ucap Natsu sambil menangis gaje dan memeluk lengan Naruto.

"arggg... menjaulah dariku!' dengan sedikit usaha, akhirnya Naruto dapat melepaskan rangkulan tangan Natsu.

"kalau kau bersih keras untuk pergi, maka aku juga akan ikut bersamamu!"

"tidak bisa!"

"kenapa?"

"nanti orang akan mengira bahwa aku ini Homo yang berjalan bersama pemuda banci berambut pink!"

"..."

keheningan terjadi saat Naruto mengatakan itu. untuk beberapa kali, Natsu mengedipkan matanya terkejut.

"ada apa?" tanya Naruto penasaran.

"tidak... hanya saja, aku tidak menyangka bahwa kau itu memiliki selera humor juga ternyata!"

"..."

keheningan kembali melanda.

"ahhhhh..., lupakan, pokoknya aku akan ikut denganmu!"

"tidak"

"ikut!"

"tidak"

"ikut!"

"tidak"

"argggg..." teriak Natsu frustasi. "... bagaimana kalau kita bertanding!"

ucapan itu berhasil menyita perhatian Naruto.

"bertanding?"

"benar! kalau kau menang, kau boleh pergi dan aku tidak akan ikut bersamamu. tapi jika kau kalah, kau tidak boleh pergi atau aku ikut denganmu. bagaimana?"

berpikir sejenak, Naruto akhirnya mengangguk paham.

"jadi, apa pertandingannya?"

dengan senyum Iblisnya, Natsupun mulai menjelaskan.

"dalam 5 jam dari sekarang, kau harus menemukan seorang wanita yang memakai armor lengkap di tubuhnya. setelah menemukannya, kau harus membuatnya marah dan menantangnya dalam sebuah pertarungan dengan persyaratan dimana kau harus membuka helemnya hanya dengan satu jari! jika kau berhasil, kau boleh pergi dan aku tidak akan ikut denganmu"

"hoii..hoi... bukankah itu berlebihan?"

"tentu saja tidak! jika kau tidak setuju, aku akan tetap ikut denganmu apapun yang terjadi!"

Naruto hanya bisa terdiam mendengar ucapan Natsu.

"huhh... terserah" ucap Naruto pasrah.

mendengar jawaban Naruto, takala membuat Natsu semakin memoerlebar senyumannya.

'khukhukhu... dengan begini, tidak mungkin dia bisa keluar dari kerajaan ini. walau bagaimanapun juga, sangatlah mustahil untuk menemukan seorang wanita yang memakai baju zirah!'

"tapi, sebenarnya kapan kau ingin pergi dari kerajaan ini?" tanya Natsu penasaran.

"hari ini"

"..."

"..."

"..."

"Ehhhhhh..., ... ... ..."

.

Flashback End

.

begitulah alasannya, dan entah karena beruntung atau apa Naruto mempunyai firasat bahwa wanita itu ada di istana pusat kerajaan. dan walahhhh... sepertinya keberuntungan memihak padanya. padahal waktu dari setelah perjanjian hanya terlewat sekitar 1 jam 30 menit.

dan disinilah dia sekarang, sedang berhadapan dengan seorang wanita cantik berambut hitam panjang dengan poni rata yang seluruh tubuhnya terbalut oleh armor berwarna merah Crimson. tatapan wanita itu masih membulat kerena terkejut dengan apa yang terjadi. tidak hanya dia, semua yang melihat kejadian itupun hanya bissa terdiam dengan mulut menganga lebar.

sebenarnya Naruto cukup terkejut saat menyadari ternyata Wanita yang dia lawan itu memiliki penampilan yang tidak jauh beda dengan gadis seumurannya. tapi tetap saja itu bukan urusannya.

tidak menghiraukan semua itu, Narutopun berbalik dan hendak pergi dari ruangan tersebut.

'baiklah, dengan begini selesai!' pikirnya sambil berjalan menjauh.

"tu-tunggu!"

sebuah ucapan menghentikan langkahnya. melirik sedikit, dia dapat melihat Fubuki yang menatapnya kesal karena Naruto telah berhasil melepas helemnya.

"apa?" tanya datar Naruto.

"pe-pertandingan belum selesai! pa-pasti kau berbuat curang.. iya benar, kau pasti berbuat curang bukan? bagaimana mungkin aku dikalahkan oleh pecundang sepertimu!" ucap Fubuki yang masih tidak bisa menerima kekalahannya.

Naruto tidak mengerti, apakah pemeran utama selalu mendapatkan hal semacam ini? entalahh... mungkin ini adalah hari sialnya. tidak mau berlama-lama, diapun kembali berbalik dan berjalan pergi.

"heyy... jangan mengabaikanku!" ucap Fuguki agak keras.

menyadari sesuatu, Naruto lalu kembali menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.

"hoyyy Jiji...,,.." panggilan Naruto menyadarkan Hiruzen yang sejak tadi hanya diam dengan mulut terbuka.

"a-ahhh iya, ada apa?" tanya Hiruzen sedikit kaku.

mungkin kalian berpikir bahwa ekspresi Hiruzen saat ini sedikit berlebihan karena sebelumnya dia sudah melihat beberapa hal yang sangat mengejutkan dari Naruto. yahh, contohnya saat dia bisa membuat Kakashi selaku salah satu Anbu kepercayaannya tidak berdaya di hadapannya. tapi ketahuilah bahwa kali ini ceritanya sedikit berbeda.

apa kalian pikir baju Zira yang dipakai oleh Fubuki itu hanyalah armor besi biasa? jika kalian berpikir begitu, maka kalian salah besar. zira yang dipakai oleh wanita itu adalah zirah yang terbuat dari logam terkuat yang ada di kerajaan ini. tidak hanya itu, setiap sisi dari armor itu memiliki sirkulasi mana yang menambah tingkat kekerasannya, bahkan jika kau menghantamnya dengan palu seberet beberapa ton, Zira itu sama skali tidak akan tergores. dan sekarang lihatlah, Naruto dapat mematahkan bagian kepala armor itu hanya dengan satu jarinya yang seharusnya hanya bisa dibuka dengan sihir khusus. selain itu perlu diketahui bahwa wanita bernama Fubuki itu adalah komandan tertinggi dari Divisi Anbu yang tentu saja lebih kuat dari Kakashi.

"aku lupa mengatakan bahwa mulai hari ini aku akan berlatih di luar Kerajaan selama 2 bulan" jawab Naruto yang kemudian melanjutkan perjalannya dan keluar dari ruangan itu meninggalkan Hiruzen yang sedikit blank akan ucapan Naruto. tapi tidak lama kemudian...,..

"Ehhhhhh...,..."

hahhh... hari yang indah!

.

.

.

.

setelah selesai dengan tugasnya, Narutopun kembali ke asrama Divisi Wizard.

cleekkk

membuka pintu kamar, hal pertama yang dia lihat adalah Natsu yang saat ini sedang berdiri tepat di depan pintu dengan senyum meremehkan dan tangan yang terlipat di dada.

"khee... bagaimana, apa kau berhasil menemukannya?"

tidak menghiraukan pertanyaan itu, Naruto lebih memilih masuk dan melewati Natsu.

"sudah selesai" jawanb Naruto yanh saat ini sedang mempersiapkan peralatannya.

"hahahaha... sayang sekali padahal kau ingi pergi ke lu~... EHHHHH... SUDAH SELESAI KATAMU-...hmmppppp" sayang ucapannya terhenti saat sebuah gumpalan kertas kembali membungkam mulutnya.

"sudah kubilang kecilkan suaramu" ucap Naruto tidak peduli.

"hmm..hmm... Puahhhh! dan sudah kubilang jangan melempar benda ini kemulutku!" balas Natsu kesal. "tapi tunggu dulu, tidak mungkinkan kau selesai dalam waktu sesingkat ini? pasti bohong... yahh, kau pasti sedang berbohong kan!" lanjutnya.

"kalau tidak percaya, kau bisa memeriksanya sendiri ke istana pusat Kerajaan!"

"Istana pusat Kerajaan? apa yang kau lakukan disana?"

"tentu saja memenangkan pertandingan...,..." selesai dengan persiapannya, diapun berdiri dan berbalik kearah Natsu. "...,.. karena sekarang sudah selesai, minggirlah dan biarkan aku pergi"

walau masih belum bisa percaya, namun akhirnya Natsu tersenyum pasrah...

"hahhh... pada akhirnya kau akan tetap pergi yah!" ucap Natsu sendu. namun tidak lama kemudian senyumannya kembali mengembang dan sebuah kapalan tangan dia arahkan kepada Naruto.

mengerti akan maksud Natsu, Narutopun juga ikut tersenyum dan menyambut kepalan tangan Natsu dengan kepalan tangan miliknya.

"ya sudalah... kalau begitu, bagaimana kalu kita kembali bertanding?" tawar Natsu yang sudah menurunkan keoalan tangannya.

"bertanding?" beo Naruto.

"benar... 2 bulan dari sekarang, mari kita lihat siapa yang bisa berkembang lebih cepat!"

mendengar hal itu, takala membuat senyum Naruto melebar.

"huhh... tentu saja aku yang akan menang"

"khee... jangan terlalu percaya diri. akan kupastikan bahwa dalam dua bulan ini, perkembanganku akan jauh melebihimu!" balas Natsu juga dengan senyumannya.

"baiklah... kalau begitu aku pergi" setelah mengatakan itu, Narutopun keluar dari kamar.

"Naruto...,.."

menghentikan langkahnya sejenak, Naruto lalu berbalik untuk melihat Natsu yang masih tersenyum padanya.

"jangan mati"

terdiam beberapa saat, namun akhirnya Naruto hanya terkekeh pelan dan kembali menghadao kedepan.

"jangan bercanda... kau tau sendiri bahwa di dunia ini, tidak ada yang bisa membunuhku!" ucapan itu menjadi akhir dari perbincangan mereka. tanpa Naruto ketahui, Natsu menunduk sedih akan kepergiannya. bukan karena tidak rela Naruto pergi,... melainkan karena dia tau apa sebenarnya tujuan Naruto sehingga dia ingin keluar dari Kerajaan ini. dan yang paling dia sesalkan adalah karena tidak bisa menemani satu-satunya pemuda yang sudah dia anggap seperti saudaranya itu.

"semoga kau benar!" gumam pelan Natsu sambil melihat punggung Naruto yang terus berjalan menjauh dari kamar tersebut.

.

.

.

.

setelah beberapa menit berjalan, akhirnya Narutopun sampai di depan gerbang Kerajaan Konoha. seperti biasa, gerbang itu terlihat begitu besar dengan arsitektur yang begitu indah di seluruh bagiannya. tidak hanya itu, karena kerajaan ini dilindungi oleh semacam kubah sihir yang mendeteksi segala sesuatu yang mesuk atau keluar, jadi Naruto harus lebih dulu melakukan registrasi untuk mengkonfirmasi bahwa dia itu benar-benar penduduk asli dari kerajaan Konoha.

karena itulah saat ini dia sedang melakukan registrasi tersebut di sebuah pos penjagaan yang berada tepat di samping pintu masuk kerajaan. setelah selesai, diapun diizinkan untuk keluar dengan jangka waktu dua bulan seperti yang telah di tentukan.

"hey kau!" mendengar seseorang menegurnya, diapun berbalik dan mencari asal suara tersebut. tidak lama, tatapannya berhenti kearah seorang wanita seumurannya yang saat ini sedang bersandar di salah satu sisi gerbang sambil menatap dirinya datar.

sedikit menyipitkan matanya, Naruto seperti pernah melihat perempuan itu. rambut hitam panjamg dengan poni datar, mata berwarna hitam kelam, dan wajah yang begitu cantik dengan perpaduan sempurna dari dada yang terlihat begitu besar. soal pakaian, dia memakai atasan berupa armor sederhana berlengan pendek tanpa helem dan bawahan berupa rok merah sepanjang lutut. di bagian lengan dia memakai sarung tangan panjang yang menutupi hingga kesiku dan bagian kaki memakai sepatu standar penyihir yang menutupi hingga betisnya. tidak lupa pula sebuah pedang bertengger manis di samping kanan pinggulnya. (pakaiannya sedikit mirip dengan karakter Erza di anime ? maaf.. aku lupa namanya. heheheh..)

sedikit berpikir, akhirnya Naruto berhenti dan lebih memilih untuk menghiraukannya. merasa dihiraukan, ekpresi wanita itu mengeras menahan amarah dan langsung mendekati Naruto.

"heyy.. sudah kubilang jangan menghiraukanku!" ucapnya kesal sambil menghalangi jalan Naruto.

"siapa kau?" tanya datar Naruto saat melihat perempuan itu menghalangi jalannya.

mendengar pertanyaan tersebut, takala membuat wajah sang gadis semakin memerah karenanya.

"apa kau bilang? baru 30 menit yang lalu kita bertemu, dan kau sudah melupakan semua penghinaan yang telah kau lakukan padaku!"

mengangkat satu alisnya bingung, Naruto sama skali tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh wanita gila ini. ehh tunggu dulu... sepertinya dia mengingat sesuatu. ahh, benar juga! jika di ingat-ingat lagi wanita ini sangat mirip dengan prajurit berarmor yang dia lawan saat di istana tadi, hanya saja pakaiannya sangat jauh berbeda dari wanita yang memakai armor itu.

"siapa?"

"gahhh... aku Fubuki, wanita yang sudah kau oermalukan saat di istana tadi!" ucap keras wanita itu karena tidak kuat menahan amarahnya.

"ohh,... lalu, kenapa kau berada di sini dan menghalangi jalanku?"

sumpah demi apapun, ingin skali wanita itu merobek mulut pemuda berambut kuning tai ini saat dia melihat Naruto hanya membalasnya dengan ucapan 'oh'! tidak hanya itu, bahkan ekspresi menyebalkannya itu sama skali tidak berubah dari wajahnya.

ayolahh... sebagai komandan tertinggi dari Divisi Anbu, dia sama skali tidak pernah dipermalukan hingga seperti ini. kalaupun ada, orang itu pasti sudah hangus menjadi abu karena berani menghinanya.

'grrr... kalau tidak mengingat ini adalah misi dari Hiruzen-sama, sudah aku hunuh pemuda laknat ini!' pikur Fubuki.

"huhh... asal kau tau saja, aku kesini terpaksa karena harus menyerahkan ini kepadamu!" ucapnya kesal sambil menyodorkan sepucuk surat kepada Naruto.

melihat hal itu, Naruto lalu mengambilnya dan langsung membacanya.

untuk cucu tersayangku Naruto : haloooo Narutoo-kun... wowww, tadi itu pertunjukan yang sangat menghibur. aku tidak menyangka kau akan melakukan hal gila itu di depan kami semua. karena itulah aku mengirimkan hadiah ini kepadamu. kau ingin pergi berlatih di luar kerajaan bukan, jadi aku mengirim Fubuki untuk menemani perjalananmu. ahahahaha... aku sudah tidak sabar untuk mendengar suara tangisan ba~... a-ahahaha lupakan! yang jelas nimatilah perjalananmu ini. dan ingat..., jika kau menolak, maka hukumanmu akan jauh lebih berat daripada dikeluarkan dari akademi. sudah itu saja, selamat bersenang-senang..

Naruto meremas kuat surat tersebut setelah selesai membacanya.

'Kuso Oyaji!' pikirnya kesal.

"dan ini... dia juga menyuruhku untuk memberikan benda ini kepadamu" ucap Fubuki sambil menyodorkan sesuatu.

menatap dengan teliti, Naruto dapat melihat adanya sepucuk surat diatas benda berbentuk kotak itu. diapun kembali mengambilnya dan mulai membaca.

catatan : ahhh... aku hampir lupa! ini adalah benda yang bisa memberikan sensasi 'kenikmatan' lebih dalam melakukan pertarungan malam. jadi nikmatilh malamu nanti. khukhukhu... aku benar-benar tidak sabar untuk segera menggendong ba~... a-ahahha... lupakan! selamat menikmati...

Naruto sedikit mengkerutkan keningnya dan melihat kearah benda tersebut. dirinya dapat melihat sebuah kotak kecil dengan aksen berbunga-bunga di setiap sisinya. tapi dari semua itu, ada satu hal yang menjadi perhatian penuh dari Naruto. yaitu tulisan yang berada tepat di tengah kotak tersebut.

'Kondom Sutra. begitu nikmat, begitu tipis dan tahan lama'

salshhhhhh

Fubuki sedikit tersentak saat melihat benda dan kertas yang dipegang oleh Naruto tadi tiba-tiba terbakar hangus menjadi abu.

Degg

tidak lama setelah itu, instingnya tiba-tiba berbunyi tajam untuk memperingatkannya akan sesuatu.

'a-apa yang terjadi?' pikirnya dan kembali melihat kearah Naruto.

Groarrrrr

kedua bola matanya langsung membulat sempurna saat dia dapat melihat adanya sebuah bayangan berbentuk monster mengerikan berada tepat di belakang Naruto. tidak hanya itu... wajah yang menunduk dan energi kegelapan yang terus mengeluar dari tubuhnya, menambah kesan mengerikan bagi siapapun yang melihatnya.

'khukhukhu... jangan salahkan aku jika Kaisar sihir dari kerajaan ini akan menjadi figur pajangan dari kandang anjing miliku!' pikir Naruto dengan senyum Iblisnya.

"hahhh..." menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya, Naruto lalu kembali menatap kearah Fubuki yang masih terlihat ketakutan dengan keringat dingin yang sedikit membasahi tubuhnya.

"jadi... intinya kau akan ikut denganku untuk berlatih di luar kerajaan selama dua bulan kedepan bukan?!" tanya datar Naruto.

"ja-jangan salah paham dulu..." walau masih shok dengan kejadian aneh barusan, tapi Fubuki memberanikan diri untuk berbicara. "... a-aku terpaksa untuk melakukannya!" lanjutnya salmbil membayangkan kejadian beberapa ouluh menit yang lalu.

'lihatlah apa yang kau perbuat, lantai istana ini sampair hancur karena kecerobohanmu' lalu dengan senyuman mesumnya, kakek tua bau tanah itu melanjutkna. 'hmm.. aku punya ide! bagaimana kalau untuk menebus kerusakan ini, kau harus ikut bersama Naruto untuk menjaganya selama dua bulan kedepan dalam perjalanannya di luar kerajaan. yahh, kecuali kau mau berhenti dari profesimu sebagai komandan Divisi Anbu, maka kau boleh menolek tawaran ini'

"ka-karena itulah aku terpaksa melakukan semua ini" jelasnya dengan sedikit gugup.

hahh... kalau saja Naruto tidak mengingat kebaikan dari orang tua itu yang dulu pernah merawatnya, mungkin saat ini Kerajaan Konoha yang dikatakan sebagai kerajaan terkuat dari kelima Kerajaan lainnya sudah rata dengan tanah.

"apa kau yakin?" tanya Naruto.

"te-tentu saja! la-lagipula, sejak dulu aku memang ingin pergi berkelana keluar dari kerajaan" jawabnya masih sedikit gugup.

karena tidak punya pilihan, Narutopun akhirnya pasrah dan mengizinkan Fubuki untuk ikut.

"Terseralah... tapi aku peringatkan, perjalan ini tidak akan semulus seperti apa yang kau bayangkan"

setelah mengucapkan itu, merekapun keluar dari desa dan memulai perjalanan baru yang mungkin saja akan sangat berdampak bagi kehidupan Naruto di masa depan nanti.

.

.

.

.

.

.

.

~And Cut~

[tolong dibaca!]

.

.

.

halooo mina-san... bagaimana dengan cahpter ini? isinya ada lebih dari 8000 word lohhh... karena lama tidak Update, akhirnya aku memilih untuk memanjangkan setiap chapternya. mungkin kalau dibagi dua, chapter ini sama banyaknya dengan dua chapter berisi 4000 word. jadi saya harap kalian semua puas dengan hal ini!

oke... aku akan membahas salah satu Review yang menurutku cukup menarik yaitu :

'hak para pembaca'! berbicara soal hak, saya mengakui bahwa suatu kritikan atau pendapat itu adalah hak bagi setiap pembaca. tapi jangan lupa, mengkoreksi dan memberikan arahan kepada pendapat yang tidak berdasar adalah hak bagi setiap manusia. saya tidak pernah mengatakan bahwa fic ini sempurna. saya mengakui bahwa banyak kesalahan dalam pembuatannya, entah itu dari segi tata bahasa, kata yang kurang bagku, atau dialog yang terkesan membosankan. tapi ingat, saya sebagai author juga punya hak untuk memberikan pendapat saya terhadap komentar kalian. mengomentari suatu karya orang lain tanpa landasan yang jelas dan terdengar mengada-ngada, itu adalah kesalahan terbesar dari para Rider. iya kalian punya hak untuk mengkritik, tapi harus dengan kritikan yang jelas bukan dengan kritikan yang tidak punya landasan. jadi kalau mengkritik, beritahu dulu bagian mana yang salah dan jika itu benar salah, maka saya akan memperbaikinya.

ada yang mengatakan bahwa bahasa saya tidak baik dalam menanggapi komentar kalian. hey gan... sudah kubilang kalau saya ini membaca semua komentar kalian. jadi tidak mingkin saya menggunakan bahasa seperti itu jika tidak ada pemicunya. lagi pula saya tidak menyebut kata kasar seperti hewan atau sejenisnya.

saya sama skali tidak peduli dengan para Rider yang tidak suka dengan fic saya. itu adalah urusan kalian dan tentu saja hak kalian untuk memilih fic mana yang ingin dibaca. tapi ingat, jangan mengkritik karya orang lain jika tidak memiliki landasan yang jelas. saya jauh lebih mensyukuri walau hanya beberapa pembaca yang mau mengerti dengan arahan yang saya berikan. itu tandanya mereka memahami maksud dari perkatan saya dan tidak gampang emosi dan hanya bisa berbacot soal 'hak'! sekali lagi saya katakan, jika para pembaca mempunyai hak untuk mengkritik, maka para author juga punya hak untuk mengkritik kritakan yang tidak berdasar dari kalian.

selain itu saya ingin kembali mengingatkan... toloanglah untuk membaca setiap kalimat yang ada agar lebih memahami alur dari cerita ini. tapi kalau kalian tetap tidak suka, maka itu adalah urusan kalian dan saya tidak peduli akan hal itu. setidaknya saya sudah memberikan arahan.

saya kira itu saja... kalau begitu sampai ketemu dalam chapter selanjutnya.

byyy...