*MISSING YOU* part 7

Cast

Kim jongin

Oh sehun

Xi luhan

Kim minseok

UA HAHAHAHAHAHAHA (abaikan) ahirnya aku kembali setelah hibernasi selama beberapa minggu(di kira beruang) baik ada yang nunggu ff aku ini? Gak ada, gak apa apa kok, aku hanya sekedar menyalurkan hobi, jadi ada yang baca aja aku udah bersyukur. Ok gak usah banyak bicara lagi silahkan baca semoga udah baca ini gak ada yang berniat ngebakar rumah aku yah hehehehe .

.

.

Ket:
Topeng kitsune : topeng rubah putih
Topeng oni: topeng dengan motif monster atau iblis dengan tanduk dan gigi yang runcinng.
Katana: pedang panjag dari jepang dengan satu mata dan biasanya lebih panjaang dari pedang samurai.
Wikazaki: pedang yang sama persis dengan katana namun wikazaki lebih pendek dan biasanya di pakai untuk menikam lawandan biasanya berpasangan dengan katana.
Grapple gun : semacam pistol yang bisa menembakan kabel pengait ke tempat tempat yang di ingin kan, kabel ini kemudian akan terikat erat di tiang atau tembok.

Seniper: senjata laras panjang yang di pakai dari jarak jauh

Ok keterangan lebih lanjut bisa di cari di google hehehehe #ditabokmasa

.

.

Minseok menyandarkan tubuhnya di sebuah dinding menatap ke sekitarnya, sedangkan di samping kirinya lay sedang mengamati ponselnya yang ia pegang dan sehun sendiri sedang meminum minuman yang ada di tangannya, kini mereka bertiga sedang berada di sebuah pesta, atau lebih tepatnya pesta ulang tahun sujin, mereka datang sebagai tamu juga sebagai anggota RPS yang bertugas melindungi sujin, karna sejak kasus kematian yujung, sujin sering sekali mendapat surt ancaman.

"minseok aku akan berjaga jaga di luar "

"baik lah lay, aku akan tetap di sini."

"kalo begitu aku akan pergi ke sisi ruangan sana ok noona "

"yah silahkan"

"dan seebaiknya kau jaga matamu itu noona karna sepertinya kau hanya melihat satu orang saja di pesta ini"

"berengsek kau raja keong"

Lay hanya menggeleng gelengkan kepalanya dan pergi beranjak dari sana sedangkan sehun segera kabur sebelum terjadi sesuatu padanya, minseok kembali bersandar di dinding dan menatap ke arah luhan berdiri.

"xi luhan siapa kau sebenarnya ?"

.

.

.

TAP

TAP

Langkah kaki terdengar menggema di tangga darurat di sebuah gedung, sepasang high heels dengan anggun menaiki satu demi satu tangga tersebut, gaun merah dengan indahnya melekat di tubuhnya, langkahnya tak begitu terhalang dengan gaun yang menjuntai sampai mata kakinya, karna belahan di bagian samping gaunnya tertarik sampai setengah pahanya, dan di pahanya terlihat sebuah pistol yang tersimpan dengan apik di sana, rambut hitam tergerai menutupi bahu indahnya, senyum miring terus terlukis di wajah cantiknya dan jangan lupa sebuah seniper yang berada di tangan kanannya, tangan lentiknya membuka pintu atap gedung tersebut. Dia melangkah ke sisi atap dan menyimpan snipernya di sisi tembok pembatas gedung, dia sedikit menyamankan posisinya hingga ahirnya ia melihat target sasarannya.

CEKLEK

Pintu tersebut terbukan menampakkan seorang namja dengan pakayan formalnya.

"tunggulah sebentar lagi tuan putri, pesta baru saja di mulai, kita beri mereka hadiah kecil "

"aku bukan kau yang senang mempermainkan mangsamu"

"oh ayolah itu sangat menyenangkan, tak kah kau tau?"

Namja tersebut melangkah mendekati gadis tersebut, tangannya mengeluarkan teropong, matanya membulat seketika saat tau siapa yang menjadi target gadis tersebut, dia mengeluarkan pistol di tangannya.

BRUKK

Tubuh namja tersebut terpental oleh tendangan yang di layangkan gadis tersebut, karna sebelum pistol tersebut mengarah pada gadis tersebut gadis itu telah terlebih dahulu memutar tubuhnya dan menendang perut namja tersebut hingga membuatnya tersungkur ke lantai atap gedung tersebut, gadis itu menginjak dada namja tersebut dan mengarahkan pistol di tangan kanannya ke arah namja tersebut, sedangkan tangan kirinya masih memegang snipernya.

"kau berniat akan membunuhku?"

"apa yang kau lakukan. DAN SIAPA YANG KAU BIDIK ITU"

"kau jelas tau siapa orang aku bidik "

"lu-sama. Kau berniat membunuhnya?"

"aku memang memiliki niat mulia itu, kenapa kau tak suka "

"NIAT MULIA KAU BILANG YAKK HASIMAHARA KAI, KAU TAU APA YANG AKAN TERJADI PADAMU JIKA KAU MELAKUKAN ITU"

"aku jelas tau jadi jangan urusi urusanku, ingat . aku tak pernah percaya padamu"

"KAI"

"berisik dan lihat lah apa yang akan ku lakukan, jika kau mencoba menggangguku lagi aku tak akan pernah melepaskanmu "

Gadis tersebut yang ternyata kai, menyimpan kembali pistolnya di paha kananya dan melangkah kembali ke tempat semula, namja itu menatap punggung kai dan kembali berdiri di samping kai

"lihat dan perhatikan apa yang akan terjadi, dan jika kekacawan terjadi segeralah lari dari sini"

"aku tak perlu peringatan itu kai –chan kau sepertinya lupa siapa aku "

"cih, sampai kapan kau akan bersembunyi seperti itu? "

"belum waktunya, kau tau semua orang akan kaget jika tau siapa aku sebenarnya "

"cih, pergi mati saja kau."

"aku akan mati bersama dirimu jika kau benar benar membunuh lu-sama"

"baiklah kita mati bersama saja "

Namja itu menghembuskan nafasnya dan sedikit membersihkan debu di tubuhnya.

DORRRR

Namja itu kembali menatap kai, yang sekarang tengah berdiri tegak dan mengeluakan Grapple gun(lihat di keterangan) nya

"kau tak memakai peredam di senipermu?"

"itulah yang ku katakana kekacawan, selanjutnya aku akan berburu buruan ku selamat tinggal "

Kai berlari ke sisi lain gedung dan menjatuhkan diri dari gedung tersebut, namja itu mendengus kesal dan berlari menuju ke arah pintu tempatnya datang tadi dan dia menuruni tangga tersebut dengan gesit, sedangkan kai mengarahkan Grapple gun nya ke tembok gedung tersebut hingga dia bisa mendarat dengan mulus. Kai tak membuang waktunya, dia segera memasang topeng kitsunenya dan berlari dari tempat tersebut.

.

.

.

.

Minseok melangkah mendekati sehun yang sekarang sedang berdiri di samping sujin dan di samping kanannya ada luhan yang entah bagaimana bisa begitu akrab dengan sehun dan sujin.

DORRRR

PRANGGGG

Minseok menghentikan langkahnya dan menarik pistolnya yang terselip di balik gaun biru selututnya, tangannya segera menarik lengan luhan, sedangkan sehun segera menarik lengan sujin dan menyembunyikannya di punggungnya.

"sehunie segera pergi dari sini bersama sujin "

"baiklah noona, hati hatilah "

Sehun segera menarik lengan sujin dan pergi dari sana, minseok menatap luhan yang juga sedang menatapnya, mereka saling menatap hingga seseorang menabrak punggung minseok, membuat dia terjerembaba ke pelukan luhan, luhan terus menatap minseok, dia bisa menahan tubuh minseok dengan mudah dan tanpa sadar tangan luhan melingkar di pinggang minseok, sedangkan minseok sendiri merasakan hangat di bagian bahu kirinya, lalu saat minseok melihat sebuah cairan merah menembus dari lengan kanan luhan, minseok menatap luhan dan mendorong tubuh luhan menjauh dari tubuhnya.

"luhan kau baik baik saja ?"

Luhan tak menjawab pertanyaan minseok dia lebih memilih membuang pandangan ke sisi lain.

"luhan lihat kau terluka"

Minseok memegang tangan luhan dan mencoba menghentikan pendarahan yang luhan alami, namun darah itu tetap merembas ke luar dari lengan luhan membuat jas putihnya berubah warna menjadi merah. Minseok terlihat kebingungan, dan tanpa pikir panjang minseok merobak gaun bagian bawahnya dan mengikatnya di lengan luhan.

"ayo kita pergi dari sini "

Luhan hanya dapat mengikuti langkah minseok tanpa berniat untuk menjawab atau membalas perkataan minseok. Luhan hanya diam dan mengikuti seluruh intruksi minseok, dan menikmati wajah tegang minseok yang terlihat imut di matanya.

.

.

.

Sehun melangkahkan kakinya menuju tempat yang aman namun sujin mencoba melepaskan diri dari tangan sehun, dan dengan perjuangan yang keras ahirnya sujin dapat meleaskan dirinya dari cengkraman tangan sehun, sehun membalikkan tubuhnya lalu memegang ke dua bahu sujin.

"sujin tenangkan dirimu "

"aku tak mau mati hunie, aku tak mau"

Sujin menggelengkan kepalanya dan menghempaskan tangan sehun lalu berlari sekencang mungkin, saat sehun akan mengejar sujin langkahnya terhambat karna banyakknya orang yang berhamburan keluar dari gedung tersebut.

.

.

.

Sujin berlari tanpa arah hingga ahirnya dia berhenti melangkah di sebuah parkiran yang sepi, sujin mengatur nafasnya hingga sebuah ketukan sepatu menggema di tempat tersebut, sujin dengan panik mengarahkan pendangannya ke segala arah hingga sesosok yeoja dengan gaun merahnya melangkah mendekatinya, sujin memundurkan tubuhnya seiringan dengan langkah yeoja tersebut.

"siapa kau?"

"kau tak mengenalku park sujin?"

"aku tak pernah mengenalmu"

Yeoja itu melangkah semakin dekat dengan sujin tangan lentiknya membuka toeng yang menutupi wajahnya, dia tersenyum mengerikan ke arah sujin.

"siapa kau ?"

"kau masih belum mengenalkau? Kau mengingat seorang yeoja miskin yang sering jadi bahan bullyanmu bersama teman temanmu? Yeoja mikin yang bahkan tak pantas untuk menyebut namamu? Yeoja culun buruk rupa dengan kacamata tebal yang terhias di wajahnya. Kau ingat yeoja itu park sujin?"

Yeoja itu menghentikan langkahnya dan melipat tangnnya di depan perutnya, yeoja itu mengembuskan nafasnya.

"yeoja itu adalah aku kim jongin"

"jong…in… kau..kah itu?"

"yah menurutmu aku ini siapa?"

"kenapa kau bisa ada di sini "

Jongin mengedip ngedipkan matanya dan mengembungkan pipinya, dia mengangkat tangan kanannya menempelkan topeng kitsune bagian atasnya di dagunya, dan berpose sedang berpikir.

"aku hanya ada sedikit urusan di sini dan aku bertemu denganmu, hari ini hari ulang tahun mu namun kau tak mengundangku sama sekali sangat mengecewakan park sujin ups aku luba aku tak boleh memanggil namamu bagai mana ini?"

Jongin menunjukkan wajah takutnya namun sedetik kenudian mimic mukanya berubah menjadi dingin.

Sujin menatap penampilan jongin, gaun merah semata kaki , rambut panjang yang tergerai dengan indah, sujin memperhatikan bagian bawah jongin, gaun itu memperlihatkan kaki kanan jongin yang mulus, namun keningnya berkerut saat melihat sesuatu tertempel dipaha kananya.

"kau sebenarnya siapa?"

"pertanyaan yang bagus park sujin "

Jongin atau kai segera memakai topengnya kembali dan melangkah mendekati sujin yang kini sudah terpojok di sebuah pilar beton.

"tapi aku tak akan pernah menjawabnya, jika kau mati, tolong ingat kata kataku. Kau tak harus menyalahkan aku tapi salahkanlah orang tuamu atas kematianmu"

"ap…. Apa mak…sud…mu?"

"maksudku "

"ANGKAT TANGANMU "

Kai segera memutar badannya ke arah belakang, dan di sana berdiri seorang oh sehun yang mengarahkan pistolnya ke arahnya, senyum menyakitkan terlukis di balik topeng yang ia pakai.

"sungguh tragis"desis kai

Kai dengan tenang dan melangkah mendekati sehun, hingga dia berdiri di depan moncong pistol sehun.

"bunuhlah"

Sehun terlihat sangat ragu hinga ahirnya ia memutuskan untuk berlari menghampiri sujin, kai terlihat tersenyum pahit saat melihat sehun yang berlari kearah sujin dan memeluk sujin untuk menenangkannya.

Kai membalikkan tubuhnya dan mengarahkan pistolnya ke arah punggung sehun

"heh kau, oh sehun kau membuat sebuah kesaahan besar di sini, seharusnya kau bunuh aku di saat kau memiliki kesempatan"

Sehun membalikkan tubuhnya dan menatap kai tajam, sehun segera menyembunyikan tubuh sujin di belakang punggungnya.

"aku tak akna melukai seorang yeoja "

"hahahaha menggelikan sekali, kau tau oh sehun manusia selalu di berikan pilihan di dalam hidupnya dan hari ini aku memberikanmu pilihan. Kau ingin aku membunuhmu atau sujin?"

"pilihan macam apa itu? Aku tak akan memilih "

"JANGAN BUNUH AKU"

Senyum meremehkan tercetak jelas di balik topeng yang kai kenakan saat sujin tiba tiba saja berteriak

"jangan bunuh aku" ulang jongin dengan nada yang menggelikan

Sehun menggenggam tangan sujin dan menenangkannya lagi.

"kau tak akan mati sujin aku berjanji"

"jangan pernah berjanji jika jau tak dapat menepatinya" ucap kai

"hunie yeoja itu adalah-"

SLEPPPBBB

"AKHHHHH"

SLEPPPBBBB

"SUJINNNNNNNN"

kai yang saat itu melihat celah di balik kaki sehun segera menembak kaki sujin dan saat sujin terjatuh saat itulah kai menembak kepalanya.

"sudah kukatakan untuk tidak membuat janji yang tak bisa kau tepati sehun"

"KAUUUUUUUU"

Sehun mengarahkan pistolnya ke arah kai.

DORR

DORRR

DORRR

Tiga kali sehun menekan pelatuknya namun tak ada satupun yang mengenai kai, kai terlalu hebat dalam menghindari semua tembakan sehun, hingga kini kai tepat berada di depan sehun, langkahnya terhenti saat melihat air mata dari mata sehun, rasa sakit muncul dalam hati kai, hingga saat sehun menekan pelatuknya, kai menendang tangan sehun hingga pistol di tangan sehun terlempar ke sisi lain tempat parkiran ini. Sehun tak tinggal diam dia mengarahkan tijnjuannya kea rah kai namun kai menghindarinya dengan mudah dan kai membalasnya dengan memukul perut sehun hingga membuatnya terjatuh berlutut di depan kai.

Kai kembali melayangkan tendangannya ke arah pipi sehun hingga membuat sehun jatuh tersungkur, kai membalikkan tubuhnya dan melangkah meninggakkan sehun, namun baru beberapa langkah kai segera mendapat seragan balasan dari sehun, namun kai yang memang sudah sangat ahli dalam menghindari serangan dadakan, dengan mudah menghindari serangan yang di layangkah oleh sehun.

"hentikanlah, aku tak memiliki niat untuk membunuhmu?"

"KENAPA? BUKANKAH KAU AKAN MEMBUNUH SEMUA ORANG YANG KAU TEMUI ATAU MENGHALANGI KESENANGANMU? LALU KENAPA? KENAPA KAU SELALU MENYISAKAN AKU? KAU INGIN MENYIKSAKU"

"aku hanya tak memiliki niat untuk membunuhmu"

"tapi aku memiliki niat UNTUK MEMBUNUHMU"

"semoga saja oh sehun"

BUGH

BUGH

BRUK

Kai memendang perut sehun dan memukul tengkuknya hingga membuat sehun ambruk tak sadarkan diri, kai melangkah mendekati sehun dan mengulurkan tanganya untuk menyentuh wajah sehun.

"yah mau tak mau suka tak suka kita pasti akan bertemu seperti ini, dan kurasa tak ada alasan lain lagi untuk ku menghindar dari kenyataan ini. Kita berjalan di jalan yang berlawanan oh sehun jadi lupakan aku dan pergilah menjauh dari ku, kumohon hentikan semua ini jangan berurusan lagi denganku karna aku tak dapat menjamin pertemuan selanjutnya akan berahir seperti ini kembali, karna pertemuan selanjutnya ada kemungkinan salah satu dari kita harus mati, jadi kumohon berhenti merurusan dengan kasus keluarga lu"

Kai menarik tangannya dan melangkah menjauhi parkiran tersebut, kai melangkah mendekati sebuah mobil sport hitam dan duduk di belakang kepalanya ia tundukan tanpa melepas topeng yang menutupi wajahnya, namja yang duduk di kursi kemudi mengerutkan keningnya.

"ada apa denganmu dan di mana luhan?"'

"jalankan sedang pergi bersama seseorang"

"ah yeoja oh itu"

Tak ada balasan dari kai, namja itu segera menginjak gasnya dan menjalankan mobilnya,sementara kai menggenggam tangannya erat dan saat itulah air mata yang tak pernah mucul meski dia mencoba mengeluarkannya kini jatuh dengan indah ke punggung tangannya, namun tak terdengar suara ingsakan dari mulut kai.

.

,

,

Minseok melangkah bolak bailk membuat kepala luhan pusing tak terkira, sekarang ini mereka berada di sebuah ruangan, yang di khususkan untuk luhan tinggali, dan di ruangan itu hanya ada mereka berdua.

"bisakah kau pergi dari sini!"

"aku ingin tapi aku tak bisa"

"kenapa?"

"kau baru saja di serang dan aku harus meninggalkanmu itu tak mungkin"

"aku bisa menjaga diriku jadi cepatlah pergi dari sini"

"jangan berpura pura tenangxi luhan aku tau kau pasti shok jadi aku akan berada di sini sampai kau tenang"

"sepertinya yang butuh ketenangan itu dirimu bukan aku "

Luhan bberdiri dari duduknya dan melangkah menuju pintu sampai ahirnya tangannya di tahan oleh minseok, luhan melepaskan cengkraman tangan minseok namun tanpa di duga minseok malah memeluk lengan luhan.

"kau boleh mengejekku tapi kumohon jangan tinggalkan aku. Aku benci di tinggalkan dan aku tak suka sendirian "

Luhan menatap minseok yang meringkuk di janganya, dan luhan data merasakan tubuh minseok yeng bergetar hebat. luhan menghelankan nafasnya dan berbalik memeluk minseok lalu mengelus ngelus punggung minseok.

"baiklah aku tak akan meninggalkanmu"

"kau haus berjanji padaku"

"aku tak bisa, aku tak bisa berjanji hal yang tak bisa aku penuhi "

.

.

.

Suasana di kediaman lu sangat sepi bahkan lampu lampu di sana pun belum di nyalakan, kai melangkahkan kakinya dan membuka pintu utama kediaman tersebut, kai tak berniat untuk menyalakan lampu ruangan, dia melangkah dengan pasti karna memang meski tanpa pencahayaan kai masih dapat melangkah karna memang dia sudah di latih untuk dapat bergerak di keadaan gelap gulita, dia melangkah ke arah kamarnya dan saat ia tiba di kamarnya nafsnya tiba tiba saja sesak dan kepalanya seakan mau pecah, kai tersungkur di lantai kamarnya dan memegang kepalanya keras dan kadang kai menjambak rambutnya untuk menghilangkan rasa skitnya, namun bukannya hilang rasa sakit itu semakin menyerangnya.

"otou-san "

Desis kai suaranya serak, sakit yang melanda dirinya membuatnya mendesis kesakitan, dan saat itulah muncul sosok namja paruh baya dengan kimono khas nya ia melangkah mendekati kai dan berdiri tepat di samping kai, mulutnya terus mengucapkan kalimat kalimat yang tak pernah di mengerti oleh siapapun, dan saat itukai merasa tubuhnya terasa terbakar, kepalanya seakan akan akan meledak saat itu juga di tambahlagi rasa sesak yang dia rasakan.

"o..to..u..sa..n,…..ya..ma..te,… yamate (hentikan) otau-san yamate. Ya…mate"

Tangan lentiknya mencoba meraih kaki sang ayah, namun usaha kai malah membuat tubuhnya semakin sakit.

"anata wa dono yo na anata no sei shitteimasu ka? (apa kau tahu apa kesalahanmu?)"

"watashi wa otousan o shitte iru(aku tahu ayah)"

"so kansha bassoku ga aru (jadi terima saja hukumanmu)"

"otou-san ARGHHHHH"

Seorang namja bersandar pada dinding lorong, matanya tertutup dan merasakan kesakitan yang di alami kai saat ini, malam yang kelam di kediaman luhan itu berubah menjadi teriakan menyayat hati.

.

.

.

Luhan menuruni mobilnya dan melangkah enuju ke kediamannya dan saat langkahnya memasukiruang tamu seorang namja berdiri tepat di sampingnya.

"selamat datang lu-sama"

"ada apa denganmu?"

"apa yang lakukan bersama dengan putri keluarga oh itu cukup menyenangkan sehingga kau melupakan tugasmu yang sesungguhnya dan kau berhasil membuat kai terbaring tak berdaya di ranjangnya sekarang"

Luhan menghembuskan nafasnya dan menyentuh luka tembakan yang kai berikan tadi padanya.

"jadi apa yang harus aku lakukan?"

"xi luhan kau akan membiarkan kai mati dan akan melindungi gadis oh itu? Ingat luhan kai sangat berguna untuk kita kau tak melupakan itu kan?"

"aku tau sangat tau"

Luhan melangkahkan kakinya menuju ke kamar kai dan saat luhan membuka pintu itu luhan dapat melihat kai yang saat ini sedang tertidur di atas ranjangnya, luhan melangkah mendekati kai

"chikaku ni kuru koto wa arimasn (jangan mendekat)"

Meski suara yang keluar dari mulut kai sangat lemah tapi luhan masih dapat mendengarnya, hingga ahirnya dia menghentikan langkahnya.

"apa kau baik baik saja?"

"justru sangat aneh jika aku berkata jika aku baik baik saja dalam keadaan seperti ini"

"jadi kau tidak dalam keadaan baik baik saja?"

"tentu saja "

"jadi apa yang mesti ku lakukan "

"pergi dari sini"

Luhan menghelankan nafasnya dan berjalan mendekati kaidan duduk di sisi ranjang kai

"apa menyakitkan"

"tidak ini tak begitu menyakitkan saat melihat tanganmu itu"

Kai melirik keadaan luhan dan tersenyum bahagia atas hasl karyanya di tangan luhan. Luhan hanya menatap dingin kai tanpa berniat untuk memberikan perhatian pada kai.

"kau masih dapat tertawa?"

"ini bukan pertama kalinya untukku, jadi tubuhku sudah terbiasa"

"sekalipun terbiasa kau masih merasakan sakitnnya kan?"

"berhenti perhatian padaku. Ini sudah menjadi takdirku sejak ritual itu di lakukan aku sudah terikat jelas denganmu dan saat kau terluka sedikitpun, otou-san pasti akan membuatku seperti ini."

"kau menyesal melakuian ritual ?"

"menyesal tidak sama sekal, itu pilihan ku jadi untuk apa aku menyesalinya? Lagi pula kenyataan aku menyimpan dendam padamu dan berniat untuk membunuhmu itu sudah di ketahui oleh otou-san jadi saat kau terluka otau-san aakan melakukan hal yang lebih menyakitkan dari ini. Apa lagi hari ini saat meliat aku melukai tanganmu otou-san seperti berniat membunuhku. Ritual menjijikan itu membuatku tak bisa melawan, semakin aku ingin melukaimu semakin besar rasa sakit yang aku alami. Jadi aku mulai berpikir apa aku bisa membunuhmu suatu saat nanti bahkan hanya memiliki niat untuk membunuhmu saja aku seakan akan hamper mati"

Luhan menjulurkan tanganya menyentuh kepala kai, namun secepat kilat kai menampar tangan luhan dan mengubah posisinya menjadi duduk.

"jangan pernah menyentuhku, karna saat kau menyentuhku, saat kau menyentuhku aku tak pernah bisa menahan hasratku untuk membunuhmu ARGHHH"

Kai kembali ambruk di ranjangnya dan memegang dadanya rasa sakit kembali ia rasakan keringat dingin kembali keluar dari pelipisnya.

"sial mantra itu masih belum hilang"

Luhan menegakkan tubuhnya dan berjalan mendekati pintu kamar kai, tangannya meraih knop pintu dan saat ia membuka pintu tersebut, dia menghembuskan nafasnya.

"kai-chan. Kendalikan dirimu, semakin kau berniat untuk membunuhku, rasa sakit itu akan semakin besar, maka dari itu bersabarlah, hanya tinggal selangkah lagi dan jika ini seesai aku akan pergi padamu dan menyerahkan kepalaku padamu kau bisa memenggal kepalaku saat itu juga, jadi tunggulah sebentarlagi hanya sebentarlagi lagi pula aku sudah berjanji padamu"

Luhan melangkah keluar dari kamar kai dan menutup pintu kamar itu rapat rapat.

"aku tak bisa memenggal kepalamu, tapi aku akan memecahkan kepalamu lu-sama arghhhhhh"

Jeritan kai di balik pintu kamarnya membuat seluruh penghuni kediaman luhan hanya dapat menghembuskan nafasnya dan menjadikan jeritan pilu kai mengiringi malam mereka.

.

.

.

Tiga hari sejak kejadian itu sehun sudah kembali bertugas setelah di berikan libur karna kejadian pembunuhan sujin malam itu, kini yang dia lakukan hanya memandang computer di depan matanya.

"berhenti menatap computer itu oh sehun, kau membuat aku ingin sekali melemparmu dengan keong peliharaanmu itu"

"lakukanlah noona bodoh, kau benar benar membuat moodku rusak."

"memang kapan kau memiliki mood bagus?, jadi hentikan kegiatan konyolmu itu"

"aku hanya mencoba, siapa tau aku bisa merubah computer ini menjadi keong yang lucu"

BRUUKKKKK

Sebuah buku mendarat dengan indah di kepala sehun dan pelaku pelamparan itu tentu saja minseok.

"YAKKK noona apa yang kau lakukan "

"membuat mu sadar oh sehun, aku tak menyangka kalimat menjijikan itu meluncur dari mulutmu"

"kalimat apa yang membuat mu berpikir itu menjijikan?"

"merubah computer menjadi keong yang lucu, KEONG YANG LUCU? YAKKK OH SEHUN otakmu sudah rusak apa? Mana ada keong yang lucu keong itu menjijikan dengan lendir yang ada di tubuhnya ihh itu benar benar menjijikan oh sehun menjijikan, kau bilang itu LUCU ku gila yah?"

"kau saja yang tak bisa melihat kelucuan dari keong keong itu"

"YAKKK OH SEHUN HENTIKAN"

"kenapa kalian ini berisik sekali ?"

Sontak mereka berdua memandang ke arah pintu yang baru saja menampakkan seorang namja dengan lesung pipi di wajahnya dengan berbagai map yang adadi tangannya.

"kau mendapatkan informasi apa?

Tanya minseok, yang melihat lay dengan berbagai map di tangannya, membuatnya berpikir bahwa lay pastinya mendapat informasi lagi.

"yah begitulah, jadi ikuti aku sekarang"

Sehun dan minseok mengikuti lay dari belakang dan masuk ke ruang intogasi, sehun dan minseok duduk di depan lay. Lay segera membereskan map mapnya dan mulai terlihat sangat serius.

"aku tak menyangka aku akan mendapatkan ini. Saat pesta ulangtahun sujin aku bertemu dengan seorang namja dan dia memberikanku ini."

Lay menunjukan sebuah buku kecil, sehun dan minseok menatap buku kecil itu secara seksam.

"apa ini hyung?"

"pertanyaan yang bagus oh sehun, itu yang aku tanyakan pada namja itu namun yang dia katakana adalah cari tau saja sendiri begitu yang ia katakana"

"jadi maksudmu aku harus mencari sendiri jawaban dari pertanyaanku barusan?"

"tentu saja aku akan menjawabnya karna aku sudah tau apa jawabanya "

"kau hanya tinggal menjawabnya saja kan lay"

"ok ok maaf kan aku minseok. Aku hanya ingin bercerita pada kalian"

"NANTI SAJA " teriak oh bersaudara

"kalian ini ingin membuat gendang telingaku pecah"

"CEPAT KATAKAN"

"Baiklah baiklah itu adalah catatan criminal dari wakil presiden Negara ini, kim jinyun "

"APAAAAAAAAAAAA"

"bisakah kalian berhenti berteriak "

"kau tak sedang bercanda kan hyung"

"untuk apa aku bercanda sehun, dan yang lebih mengejutkan lagi buku catatan itu adalah milik lu tan"

"lu tan ?"

"iya lutan, dan saat aku selidiki saat lutan mengirim laporan itu ke kepolisian, seminggu berikutnya terjadilah pembantayan keluarga lu tersebut."

"jadi menurutmu kasus pembunuhan lutan ada hubungannya dengan buku catatan ini?"

"yah ada aku yakin 99% minseok "

"jadi secara tak langsung kita sedang berurusan dengan wakil presiden negri ini begitu hyung?"

"yah begitulah sehun, dan kau tau hamper semua pemerintahan berada di bawah kuasanya saat ini"

"kasudmu?"

"meski posisinya sebagai wakil presiden tapi dia memiliki kekuasan setara dengan presiden bahkan presiden saja adalah salah satu boneka miliknya "

"kenyataan macam apa ini?"

"jadi ada kemungkinan yokai yang sadar akan keadaan ini dan berpikir tak mungkin untuk mengurusnya dengan hukum negri ini memilih menggunakan cara mereka "

"tetap saja kan itu tak bisa di benarkan mereka jelas bersalah. Mereka tak seharusnya main hakim sendiri"

"entahlah aku pun tak mengerti karna aku bukan salah satu dari mereka oh sehun"

"maaf hyung"

"tak masalah"

"lalu kenapa mereka membunuh sujin "

"untuk kasus yujung kita tau bahwa bukan mereka pelakunya, tapi aku yakin yujung pun menjadi sasaran mereka. Aku mendapatkan informasi sejak kematian yujung choi junwan ayah dari yujung mulai mengalami kerugian karna ketidak fukusannya, lalu fakta yang aku dapatkan ialah bahwa choi junwan adalah penyumbang terbesar di beberapa bisnis illegal milik kim jinyun, dan sejak kematian yujung bisnisnya memiliki banyak masalah dan pukulan terbesar saat kematian sujin, kita semua tau sujin adalah anak tunggal dan satu satunya ahli waris keluarganya membuat park yura depresi, dan satu lagi fakta yang aku dapat bahwa park yura adalah salah satu orang kepercayaan kin jinyun dan itu membuat fondasi jinyun menjadi porak poranda, dan itulah niat sebenarnya dari yokai. Menghancurkan kaki tangan jinyun dan menghancurkan jinyun saat itu juga"

"jadi maksudmu target utama mereka adalah kin jinyun?"

"yah target utama mereka adalah kim jinyun"

"apa ini aku tak percaya ini"

"jadi bagai mana apakah kita akan berhenti atau meneruskan ini?"

Sehun dan minseok terlihat sangat tak percaya dengan penjelasannlay barusan, mereka merasakan dilemma yang sangat luar biasa, jika mereka memilih berdiri di sisi kim jinyun maka mereka akan melindungi penjahat, dan jika mereka memilih berdiri di sisi yokai maka mereka sama saja menghianati hokum yang selama ini ia percaya, dan saat ini mereka benar benar merasakan kebingungan yang melanda mereka.

.

.

.

Di sebuah hotel seorang namja paruh baya memasuki restoran hotel tersebut, dekorasi ala jepang menyambut pemandangan namja paruh baya tersebut. Namja paruh baya itu duduk di hadapan namja paruh baya dengan pakayan kimononya sedang menikmati tehnya.

"ohsashiburi desu( lama tak bertemu)"

Namja paruh baya denganpakayan formal itu menyamankan duuknya dan tak menghiraukan perkataan yang di lontarkan namja di depannya

"o genki desu ka?(bagai mana kabarmu)"

Namja paruh baya itu sekali lagi tak menanggapi pertanyaan namja paruh baya di depannya.

"aku tau kau mengerti bahasa ku"

"hentikan semua ini hasimahara sonju, apa kau masih belum dapat menerima kenyataan? Lu tan tak mengharapkan ini akan terjadi jadi hentikan lah, dan aku tau kau pasti dalang di balik yokai. Apa salah satu anggota yokai adalah putra lu tan? Sonju kau gila kita melangkah sejauh ini untuk melindungi anak itu dan sekarang kau membawanya kemari. Kau sudah gila sonju. Aku sudah melangkah sejauh ini ku mohon percayalah padaku, aku akan mengungkap semuanya jadi hentikan semua ini"

Namja paruh baya dengan pakayan kimono yang ternyata adalah sonju segera menegakkan tubuhnya dan melangkah meninggalkan namja paruh baya tersebut, namja paruh baya itu tak tinggal diam dia melangkah mengejar sonju dan menarik bahunya, hingga kini mereka saling berhadapan. Sonju menatap dingin namja paruh baya di depannya.

"apa yang bisa kau lakukan denga setatusmu itu. Memang apa yang bisa di lakukan oleh seorang kepala kepolisian sepertimo oh taehun ? jadi kau hanya perlu diam dan menonton seperti yang kau lakukan 10 tahun lalu "

Sonju meninggalkan oh taehun, taehun hanya dapat melihat punggung sonju.

"tapi ini urusan kita tak selayaknya kita menarik anak anak itu pada urusan orang tua seperti kita hasimahara sonju"

.

.

.

.

.

.

TBC/END

Ok maaf karna update nya lama pake banget hehe, aku gak yakin kalian bakal ngerti sama part ini hehe sebenarnya di otakku ini udah ada adegan demi adegan tapi pada kenyataannya aku agak sedikit sulit mencari kalimat yang tepat dan mencurahkannya pada sebuah telisan. Jadi mohon maafkan aku jika kalian tak mengerti dengan apa yang aku tulis ini hehehehe maaf kan aku yah. Dan aku masih menunggu kritik dan sarannya agar aku dapat menjadi lebih baik lagi dan semoga apa yang aku pikirkan bisa bisa tersampaikan hehehehehe .

Apapun keritik dan sarannya aku akan terima dengan senanghati dan aku ucapkan terimakasih pada para pembaca yang mau meluangkan waktunya untuk membaca karya aneh ku ini ahirkata aku ucapkan terimakasih.

Maaf aku tak ahli dalam berkata kata hehehehe karna itu aku jalang nulis yang kaya gini di ff aku. Jadi maaf jika kaliamat ini mengganggu kalian heheehehe mohon jangan timpuk aku yah oh terimakasih banyak sampai jumpa di part selanjutnya.