makasih banyak buat fearbaek udah mau benerin typo saya, duh itu cukup fatal yah ;;'' nanti juga insha allah sebisa mungkin saya akan memperbanyak POV2 dari chara walaupun ga tau tamatnya kapan karena diperbanyak /?
ngomong2 yang mau tahu saya terinspirasi dari mana, ya pasti kalian ga nyangka banget...
.
ini terinspirasi dari film 'Harmoni' itu loh ibu2 yang ngelahirin anak terus endingnya nyanyi2 dan 'The Man from Nowhere' yang main Wonbin ahjussi yang tampan yang ceritanya tentang jual beli organ gituh~
ah beda banget lah, cuma ngambil setting penjara dan beberapa inspirasi scene soal penjara di Harmonie
dan feel rasa kekeluargaan, cinta dan kehilangan di TMFN /eeaa/
Mungkin sudah hampir sebulan Byun Baekhyun dan Park Chanyeol saling berkirim surat—ya, surat yang terbuat dari pesawat itu sedikit demi sedikit sudah bisa menggambarkan kehidupan mereka. Walaupun saat bertemu mereka lebih banyak menghabiskan waktu dalam keheningan, namun sebuah pesawat kertas dapat mengutarakan isi perasaan dari masing-masing.
Sampai kapan hal ini akan berlanjut.
Sampai kapan mereka berdua tetap ketakutan dan berlari.
the 10th paper plane
Baekhyun POV
Aku..
Mengapa akhir-akhir ini aku menuliskan surat pada Chanyeol? Si tahanan aneh itu?
Tidak-tidak, bukan itu masalahnya, tapi..kenapa dalam setiap kisah yang aku lukiskan, seperti aku berharap dia dapat menemukan perasaanku di dalam sana? Aku selalu menulis dengan semangat walaupun pada akhirnya kertas itu ku remukkan dan tak ada satupun kisah indah yang dapat aku ceritakan padanya.
Aku terlalu percaya dengan kata-kata bodohnya itu "karena kita sama"
Aku tidak banyak bercerita padanya. Selama sebulan ini, dari 10 pesawat kertas, aku hanya membalas cerita-cerita aneh dari Park Chanyeol itu. Mulai dari teman sekamarnya Kim Junmyeon yang korupsi, duo idiot KrisTao—yang sebenarnya tidak lebih bodoh dari Chanyeol dan petugas-petugas berhati hangat di sana.
Terbesit rasa iri sedikit menghantuiku—menyalahkan keadaan.
Tidak.
Aku tak boleh memikirkan surat-surat ini lebih jauh. Aku hanya perlu membalas cerita pendek dari seorang Park Chanyeol apa adanya.
20th paper plane
Chanyeol POV
Ia tak pernah bercerita apapun. Hanya berkomentar tentang cerita-cerita harian yang aku suguhkan padanya. Kenapa Baek?
Apa kau masih takut padaku? Atau kau tak ingin membagi apapun hal indah yang kau miliki.
Apa aku terlalu berharap?
Setidaknya satu cerita saja. Sebelum aku tak bisa menulis lagi. Sebelum aku semakin sedih karena takut kehilangan cerita. Sebelum aku membuatmu semakin bosan dan pergi meninggalkanku.
Aku harus memancingnya. "Dengan apa? Biar ku pikirkan sebentar." aku terus menggaruk kepalaku yang tidak gatal sampai— "Akh!"
Aku mendapatkan sebuah ide. "Bukankah anak SMA itu sedang asik-asiknya berpacaran pada saat itu? Bagaimana kalau aku suruh Baekhyun bercerita tentang kekasih atau cinta pertamanya?" aku tersenyum lebar dan menuliskan pertanyaan-pertanyaan—yang mungkin orang lain sangat bodoh.
Biar saja aku terlihat seperti orang bodoh.
Karena aku sudah lelah menahan beban ini.
'Baek.. bisakah kau ceritakan tentang cinta pertamamu? Karena kau adalah seorang anak SMA dan kau tak pernah bercerita apapun padaku! —Chanyeol si tampan'
Baekhyun menaikkan sebelah alisnya, sepertinya kata 'Chanyeol si tampan' membuat pria kecil itu menyunggingkan bibirnya yang tipis.
"Cinta pertama?" gumamnya pelan. Baekhyun memutar bola matanya, lagi, dan lagi. "Memangnya anak SMA harus mempunyai cinta pertama? dasar orang ini benar-benar—"
Baekhyun terdiam. Ia mengingat sesuatu. Perasaan yang bahkan melebihi perasaan cinta seseorang. Cinta pertamanya.
"Memang sih aku mempunyai cinta pertama. Tapi bukan saat aku menginjak SMA, lagipula dia—" Baekhyun melotot. Sepertinya ia baru saja curhat?
"Tunggu dulu!" ia tiba-tiba berteriak sendiri. "Aku tak ingin melakukannya! Aku tak ingin bercerita!" Baekhyun langsung menyobek secarik kertas dan membalas pesan Chanyeol.
'Kalau kau mau mendengar ceritaku, maka ceritakan saja kisahmu dulu!'
Chanyeol tertawa keras—membuat beberapa teman dalam satu selnya melihat sinis—tepatnya memandang aneh pada pria itu. "Ah, Baekhyun, aku rasa ia sangat malu untuk bercerita." kata Chanyeol dengan percaya diri. Ia tahu bahwa pria kecil itu adalah orang yang sangat sensitif—dan mungkin juga ia lebih sensitif daripada apapun juga.
"Lalu, kalau aku menceritakan kisahku, apakah ia akan menceritakan cinta pertamanya juga?" Chanyeol bertanya-tanya.
Tapi kisah cinta pertama Chanyeol tak seindah dongeng. Tak pula harus untuk ditangisi seperti sebuah drama melakonis. Ini..
"Baek, aku percaya padamu loh." Chanyeol tersenyum. Ujung penanya mulai menggoreskan beberapa kalimat pada selembar kertas putih itu.
"Tolong, kau harus membalasnya ya!"
22th paperplane: Chanyeol's Letter
Cinta pertamaku tidak terlalu indah, bahkan cintaku tidak terbalaskan.. Sedih kan?
Jika di ibaratkan, mungkin kau menatap rembulan sendu, tapi kau tahu bahwa rembulan itu hanya membuatmu sendu. Yang kau lihat hanyalah punggungnya yang semakin menjauh pergi—meninggalkanmu—sendiri. Ini mungkin memang salahku dari awal. Tapi, bukannya bermaksud menyakiti hati—baik hatinya maupun hatimu itu sendiri. Tak ada kebohongan dari pikiranku—tapi ia memang tak pantas menjadi milik orang sepertiku.
Ia memiliki manik hazel yang indah sepertimu—yang memantulkan cahaya senja. Ia membuatmu lengah karena senyumnya. Ia yang mengerti bagaimana hatimu—kini mulai jauh melangkah. Melangkah dengan pria lain yang bahkan kau tak bisa beri ucapan 'selamat' atas cinta mereka.
Meskipun kau tak pernah bertanya apakah ia mencintaimu, kau tetap mencintainya. Tanpa lelah.
Awalnya kau tak mengerti cinta dan dunia ini bagaikan sebuah selokan untuk orang sepertiku.
Namun ia datang dan membagi surganya denganmu.
Aku tak berani bercerita banyak, takut salah satu di antara kita—bukan, aku takut kau akan terluka jika mendengar semua ceritaku. Dan aku tak ingin menceritakannya karena aku takut kau juga akan menjauhiku, seperti dia.
Tapi aku tak masalah,
Bahkan jika aku tahu ia sedang tersenyum dan memiliki kehidupan yang bebas sepertimu Baek, aku sangat bersyukur—aku berharap dapat bertemu dengannya lagi suatu hari nanti. Karena aku tahu bahwa ia memiliki senyuman yang bagus sama seperti saat kau tersenyum Baek.
Baekhyun membaca surat itu berkali-kali dari atas sampai bawah. Sungguh ia tak menyangka kalau Chanyeol memiliki cinta pertama yang tak terbalaskan. Tapi ia hanya bisa tersenyum kecut pada surat itu.
Tidak, ia sama sekali tak menganggap surat itu 'tidak penting' seperti biasa. Bahkan kini ia mulai sedikit mengakui kesamaan ia dan Park Chanyeol—cinta mereka bertepuk sebelah tangan.
Tapi Baekhyun berbeda, tak seperti Chanyeol yang ketika wanita tersebut memiliki orang yang dicintainya—ia menghilang. Sementara Baekhyun? Ia bahkan berkali-kali lebih sakit dari pada seorang Park Chanyeol. Ya..
"Kini kau manarikku Park Chanyeol." gumam Baekhyun sambil menghela nafas.
23th paperplane: Baekhyun's Letter
Hei, bodoh!
Kau tahu, menurutku ceritamu itu tidak menarik! membosankan!
Dan lagipula, jika kau menganggap cerita cinta pertamamu itu menyedihkan, kenapa kau tidak gantung diri saja dalam sel mu itu sejak lama?
Aku tahu kau sebenarnya mulai mensyukuri hidup dan bisa melepasnya. Kenapa bersedih?
Kau mencintainya. Tapi kau lebih bahagia jika wanita itu mencintai pria yang lebih bisa menjaga dan memperluas dunianya. Lalu apa yang salah?
Kau benar-benar beruntung bahwa wanita itu memiliki pria yang sangat bisa menjaganya dan membuatnya bahagia sampai sekarang. Kau tahu perasaannya pada pria itu melebihi segalanya sehingga kau menahan perasaanmu yang meledak-ledak saat itu. Ya, aku merasakannya. Karena kau tahu, dialah yang paling berarti bagimu—tak akan terganti bukan?
Kau sudah melangkah duluan sebelum kau melihat secerca senyuman yang memberikanmu harapan kembali. Kau beruntung kawan, sungguh beruntung.
Jadi kau jangan bersedih bodoh!
Chanyeol tersenyum melihat surat dari Baekhyun. Tumben sekali anak itu membalas surat Chanyeol agak panjang. Pria tinggi itu sepertinya merasakan kesaamaan kembali. "Aku tahu kau pernah merasakan hal yang sama sepertiku kan Baekhyun? Ah, andai saja kau selalu ada untukku setiap hari, pasti aku sangat senang karena bisa berbagi banyak hal denganmu."
Setelah berkali-kali membaca surat itu, satu hal yang Chanyeol harus garis bawahi dari surat itu—kawan.
Baekhyun menhela nafasnya panjang. Ia duduk di salah satu ruangan bercat putih dengan bau obat yang tak begitu menyengat—mungkin karena ia sudah terbiasa. Bulan kesayangannya tentu belum muncul karena ini masihlah siang. Semakin lama ia melamun, ia semakin terbayang akan Park Chanyeol dan surat-suratnya itu. Bagimanapun juga ia masih tetap yakin bahwa kehidupan Park Chanyeol lebih beruntung daripada dirinya.
Tidak. Ia salah.
Kehidupannya juga sangat indah sebelum hal ini terjadi.
Kehidupan mereka pasti sangatlah indah pada saat itu...
Sungguh terkadang Baekhyun merasa bahwa dirinya sedang terjatuh akibat kesalahannya dulu—mungkin sama seperti Park Chanyeol.
Aku akui. Suratmu membuatku tertarik. Bahkan saat ini aku sedang bercermin. Melihat diriku sendiri
Belasan tahun aku sudah hidup dalam kebebasan yang menusukku. Oksigen yang membuatku bisa hidup hanyalah kedok untuk mengikatku dalam dunia yang menyedihkan ini. Aku tahu perasaanmu—ketika cinta itu datang, tersenyum dan menjagamu. Aku tak pernah mengungkapkannya secara terbuka—karena aku tahu saat aku mengucapkannya, ia akan menjauhiku.
Kau mencintai—tanpa sadar kau dicintai. Bukan sebagai kekasih.
Dulu, aku sering mengecup pipi merahnya dan ia membalasku dengan senyuman dan pelukan hangat. Sampai aku sadar bahwa nafasku tidak menderu ketika aku selalu bersamanya. Aku selalu ingin melakukan apapun untuknya—untuk kakakku—yang selalu ada untukku.
Aku mencintainya.
Kakak kandungku sendiri.
Walau terdengar menjijikkan jika orang lain tahu, aku tetap tak bisa menahannya. Namun ia selalu bersamaku, menjagaku, memberi tahu cantiknya dunia—tetap saja ikatan kami sebagai saudara tak akan pernah putus. Walaupun aku tahu terkadang aku mengabaikan hakikatku sebagai adik kandungnya—sungguh aku sama sekali tak ingin kehilangan dirinya. Yang selalu menerimaku apa adanya.
Ini sangat menyayat hati ketika aku tahu ia akan menikahi pria tidak bermoral itu. Ada apa denganku di masa lalu? Kenapa aku membiarkan malaikat yang membuatku melupakan penyakit ini malah sebaliknya tersakiti oleh seorang pria brengsek seperti itu.
Kalau aku tahu ia akan pergi. Aku pasti sudah mengungkapkannya. Sejak lama. Sungguh.
Bahkan jika sejak awal aku sudah mengetahui jawabannya.. Berpisah mungkin akan membuatku kesepian. Aku berpikir bahwa akan baik-baik saja hubungan kami saat itu bisa bertahan selamanya. Tapi jika perasaan ini aku ungkapkan, maka ia tak memiliki kebahagiaan yang tersisa. Ia pasti tak akan mau menerima pernyataan cinta adiknya.
Aku merelakannya menikahi pria itu—yang sebelumnya aku tidak tahu bahwa akan berakhir seperti ini. Bahkan sesudah ia menikah, aku terus saja berpura-pura menjadi dewasa dan bertahap menjauhinya. Sakit jika selalu melihat kini ia tak pernah tersenyum untukmu. Kau di nomor duakan. Ya aku berpura-pura menjadi bijak dan memahami perasaan orang lain. Mencoba cinta yang baru. Namun kenyataannya aku tetaplah sama seperti yang sebelumnya.. tidak konsisten menjadi anak manja yang haus kasih sayang kakaknya, bergantung melebihi apapun. Aku masih ingin melihat senyumnya. Senyumnya yang tulus, bukan senyum kekhawatiran.
Aku hanya ingin bebas...
"Baekhyun-ah.." sahut Victoria membuka pintu kamar dengan pelan. Baekhyun—dengan wajahnya yang sembab kemudian melihat ke arah wanita yang selalu menemaninya itu "Ya?" responnya yang sehabis melamun.
"Apa aku mengganggumu?" tanyanya.
"Tidak. Ada apa?"
"Uhm—itu—mm.." Victoria bingung menjelaskan. Baekhyun bingung melihat ekspresi Victoria yang tidak biasa "Ada apa noona? Katakan saja."
Victoria menhela nafas dengan berat "Itu—apa kau sudah melihat kalender Baekhyun?" kata Victoria pelan. Baekhyun memiringkan kepalanya sambil mengingat sesuatu. "Ah, astaga, bagaimana aku bisa lupa hari ini!" ia menepuk jidatnya.
"Jadi kau akan kesana?" tanya Victoria. Baekhyun mengangguk. "Ya, sore nanti." jawabnya. "Bolehkah aku ikut?" tanya Victoria dengan nada yang agak lirih. Baekhyun mengangkat sebelah alisnya sambil melihat Victoria "Eh—maksudku—maaf aku pikir itu sangat privasi, tolong lupakan saja ucapanku tadi lagipula aku sedang sibuk jadi—" ia buru-buru keluar ruangan menahan malu.
Mana mungkin ia akan mengajak orang luar sepertiku!
"Tunggu!" tahan Baekhyun. Victoria melihat Baekhyun dengan khawatir. "Kau boleh ikut." kata Baekhyun sambil tersenyum.
"Apa?" ulang Victoria tak percaya. "Kau boleh ikut kok noona, itu juga jika kau tidak sibuk."
"T—tentu saja aku akan meluangkan waktuku!" wajah Victoria langsung berbinar dan meninggalkan ruangan dengan senyuman di wajahnya.
Blam!
Tentu saja, walaupun sebenarnya urusan Baekhyun kali ini sangat privasi, namun ia tak mungkin mengabaikan orang tulus seperti Victoria bermuka murung seperti itu. Lagipula, kalau bukan Victoria yang menyuruhnya mengingat kalender, mungkin Baekhyun akan merasa semakin bersalah keesokan harinya.
Ya, ia harus berterima kasih pada Victoria dan mengajak wanita itu bersamanya.
Ke makam kakak tercintanya itu.
To Be Con
