Fall in Purple
Disclaimer:Inazuma Eleven GO Galaxy (c) Level-5
Warning: spoiler, gaje, jayus, typo, Tsurugi Palsu dan kawan-kawan
Keterangan: Format penulisan nama yang di-Bold mengacu pada anggota Fake Eleven—alias Earth Eleven palsu
.
.
Fight the Fakes!
.
.
"Ke-kenapa Pelatih Donolzen…?"
"Bukannya dia sedang dipenjara?"
Faram Dite menyaksikan kedatangan sosok tua Donolzen dari dekat. Sudah tentu kekagetan mereka tidak kalah dari Lalaya dan Minel.
Donolzen melihat Tsurugi juga ada di antara mantan anak didiknya, dan berkomentar sinis. "Hmp, ternyata yang jadi pengkhianat bukan cuma aku."
"Rupanya Anda membelot menjadi pelatih Ixal Fleet, Pelatih Donolzen?" Argo membalas, mewakili anggota Faram Dite.
"Mantan pelatih Earth Eleven menjadi pelatih kalian," Ozrock melirik Pelatih Kuroiwa. "Tidak aneh, bukan, kalau mantan pelatih kalian menjadi pelatih kami?"
"Kalau cuma melepas nenek tua itu, kami tidak keberatan, kok! " cetus Ryugel tak disangka. Donolzen mengedutkan alis manakala Ryugel menyebut nenek.
"Benar! Benar!" timpal Gandales, yang selalu mengekor sang kakak. "Dia itu 'kan kri…, kri…" Gandales menggaruk-garuk kepala. "Ryugel-nii, orang yang berbuat jahat itu, namanya apa, ya? Kalo nggak salah, kri… kri…krim kental…?"
"Kriminal," koreksi Ryugel.
"Ya! Kriminal!" ulang Gandales nyaring, sementara teman-temannya yang lain memasang gayaface palm, menggantikan Gandales untuk merasa malu. "Nenek Kriminal!"
"Diam, Bocah!" Donolzen tak tahan melihat mantan anak buahnya pamer kebodohan. Seolah mengumumkan pada Ozrock dan kawan-kawan bahwa dirinya telah gagal dalam mencerdaskan anak orang.
Sementara Baran Bersaudara memicu perang kecil dengan mantan pelatih sendiri, Tsurugi menyingkir diam-diam. Menaiki tangga menuju box VIP ratu.
Melihat kedatangan Tsurugi, Lalaya spontan berdiri. Tapi manakala berhadapan dengan ekspresi yang begitu serius, Lalaya tahu kedatangan ini bukan sekadar untuk menenangkannya.
"Kau juga melihatnya?" Tsurugi bertanya.
Lalaya mengangguk. "Yang di bawah itu…" Lalaya ragu melanjutkan.
"Ya. Dia Donolzen."
Lalaya menahan napas yang hendak terhembus.
"Tapi, harusnya dia sedang ditahan…" sanggah Minel.
"Ozrock mungkin membebaskan dia dengan suatu cara. Bagaimanapun, semua sistem di planet ini sudah dikuasainya sekarang."
Minel terdiam, tak menyalahkan dugaan itu.
"Donolzen menjadi pelatih Ixal Fleet," lanjut Tsurugi lagi.
"Apa?" Minel tersentak, "Kalau begitu, kalian akan sulit menang! Donolzen pasti sudah tahu betul bagaimana Faram Dite bertarung."
Tsurugi mengangguk setuju, namun ekspresinya tak lantas berubah gentar.
"Itu benar. Tapi jika ingin menyelamatkan semua yang hidup di planet ini, kita harus menang. Tak ada pilihan lain."
"Tapi kalau kita menang…" Lalaya meremas tangannya. "Planet-planet lain…"
"Jika Ozrock menang, keadaan justru akan lebih buruk!" Tsurugi menukas. "Apa kau tidak melihat bagaimana takutnya rakyatmu saat tahu mereka tidak bisa pergi dari planet ini?"
Lalaya tertunduk.
"Jangan melarikan diri." Tekanan dalam nada suara Tsurugi, memaksa Lalaya mengangkat kepala. "Kalau memang ingin menebus kesalahan yang telah kau perbuat pada rakyatmu dan juga planet lain, lakukan apa yang harus kau lakukan demi mereka."
"Apa yang harus aku lakukan…?" ulang Lalaya gamang. "Aku ingin membuat mereka semua bahagia…."
"Tidak perlu begitu."
"Eh?" Jawaban Tsurugi kembali membuat Lalaya mendongak.
"Lalaya tidak perlu membuat mereka bahagia. Kebahagiaan seseorang hanya dia sendiri yang bisa menentukan."
"Jadi…?"
"Kau hanya perlu melakukan tugas-tugasmu sebagai pemimpin. Beri mereka keberanian. Beri mereka harapan. Beri mereka kepedulian. Setelah kamu lakukan semuanya, biarkan mereka memutuskan…," Tatapan Tsurugi menembus sekat kaca box VIP, sehingga ia bisa melihat anak-anak Faram Dite dari sana. "Apakah dengan segala yang telah kau berikan itu, mereka mau berjuang untuk bahagia atau tidak."
Lalaya mengikuti arah tatapan Tsurugi. "Yang bisa kuberikan… pada Faram Dite…?"
Tsurugi memberi anggukan. "Kau bisa memulainya dari anak-anak itu."
.
.
.
Persiapan di lapangan bawah tanah, Tenma dan Manuuba—alias 'Tsurugi'—menaikkan ban kapten di lengan masing-masing. Di tengah kesibukan anggota tim yang sedang melakukan pemanasan, Tenma menyempatkan diri mencuri lihat satu-persatu wajah-wajah anggota Fake Eleven. Wajah-wajah serupa seolah sedang menatap cermin.
Tenma mengerjap kala menyadari sesuatu. Lho…, 'aku'… tidak ada…?
"Kau baru menyadarinya?" Shindou menjajari Tenma. "Tim itu bukanlah kopian Earth Eleven. Mereka hanya meniru per individu, bukan Earth Eleven secara keseluruhan. Mereka bahkan tidak mengopi dirimu."
Tenma menatap Shindou, ragu. "Memang begitu…, tapi…"
Mereka punya 'Tsurugi' …,kata-kata itu tertelan kembali ke dalam hati Tenma
"Shindou benar. Kita tidak perlu takut dengan mereka. Di mana-mana yang namanya tiruan itu selalu lebih jelek dari yang asli!" Ibuki sengaja tidak mengecilkan suaranya supaya terdengar jelas sampai ke bangku sebelah.
"Iya. Jadi Tsurugi palsu saja, mainnya tidak becus." celetuk Tetsukado sepakat.
"Itu karena jika aku mengopi seseorang hingga seratus persen, ada kemungkinan aku tidak bisa kembali ke wujud semula," sahutan 'Tsurugi' terdengar datar dari bangku sebelah. "Dan aku tidak suka itu."
Matatagi meringis, "Wah, membuat pembelaan diri, ya?"
"Tapi sekarang keadaan sudah berubah." Mengabaikan Matatagi, 'Tsurugi' melanjutkan "Aku… bukan. Kami ingin bebas, meski untuk itu kami harus membuang jati diri dan masa lalu kami yang sebenarnya."
"Kalian mengerti sekarang?" 'Shindou' dari pihak Fake Eleven angkat bicara. "Kalian bukan melawan kami. Melainkan melawan diri kalian sendiri."
"Tapi tetap saja," Ibuki membalas sewot. "Kalau modal kalian cuma meniru, mana mungkin bisa menang dari kami?"
"Terkadang seseorang tidak bisa menang dari dirinya sendiri," kali ini giliran 'Zanakurou' bicara. "Terutama saat berkaitan dengan masa lalu."
Zanakurou yang asli mengulangi dalam gumaman. "Masa lalu?"
Layar yang menampilkan pertandingan Faram Dite menyiarkan suasana riuh, dan memutus sejenak percakapan antar tim. Kamera menyorot barisan anggota Faram Dite yang tengah bersiap di pinggir lapangan. Mata Tenma langsung bergerak mencari sosok Tsurugi di antara mereka.
Lho, ke mana dia?
Tatapan Tenma beralih mengitari sekitarnya. Siapa tahu, Tsurugi berhasil melarikan diri dari sana dan menyusul mereka kemari.
"Tenma," suara panggilan Shindou mengembalikan perhatian Tenma pada layar.
Layar itu kini menampilkan bagian lain dari stadium. Seorang anak perempuan berdiri di atas podium, menyuarakan sesuatu. Tapi tak satupun dari kata-kata itu yang masuk ke telinga Tenma. Sang kapten hanya melihat pada sosok Tsurugi yang berdiri mendampingi anak itu.
"Ratu Faram Obius?" Shindou mengulang penjelasan Katora.
"Bohong! Sekecil itu?" tunjuk Sakura tidak percaya.
"Jadi, dia yang memberi perintah menculik Tsurugi?" Ibuki menyela
"Makanya, Tsurugi ada di sebelahnya?"
"Tapi kok bisa sih? Padahal diculik, lho. Kok malah memihak orang yang sudah menculiknya?"
"Tsurugi-kun disuap apa, ya?" Minaho bertanya-tanya.
"Kapten! Katakan sesuatu, dong!" Tetsukado berseru keras. "Itu pasti bukan Tsurugi, kan?"
Tenma tersentak atas teguran yang tiba-tiba.
"Eh, itu…" Tenma tak tahu harus menjawab apa.
"Teman-teman," tegur Zanakurou menaruh telunjuk di ujung bibir.
Mengikuti isyarat Zanakurou, mereka mau tak mau mendengarkan sampai sang ratu selesai dengan pidatonya.
Pidato yang lantas mengubah pendapat mereka.
"Wah…" Minaho membuka komentar, setelah Lalaya beranjak dari podium. "Hebat juga. Dalam sekejap, dia menyatukan semangat tim Faram Dite dan para penonton untuk bersatu melawan Ozrock."
"Seandainya kita juga diberi semangat seperti itu…" Sakura menghela napas, dan melirik sekitar. Tak ada penonton. Tak ada pendukung. Tak ada siapapun di sana kecuali mereka, kedua tim yang bertarung. Wasit dipegang oleh orang yang tadi menyamar sebagai Ishigashi. Bahkan Sakura mulai berpikir kalau wasit itu juga tak memihak mereka.
"Saya jadi kangen saat kita masih di bumi," ucap Manabe setengah menerawang. "Waktu itu semua orang mendukung kita."
"Ya, anggap saja pidato itu juga ditujukan pada kita," balas Matatagi santai. "Beres kan?"
.
.
.
Usai Lalaya berpidato, Tsurugi kembali ke lapangan, dan langsung disambut dengan omelan anggota timnya.
"Kamu dari mana saja, sih!?"
"Kamu melewatkan pidato Lalaya-sama yang keren, tahu!"
Tsurugi mengerutkan alis. "Aku…dari tadi di sebelah dia, kok. Di podium. Kalian tidak lihat, ya?"
Giliran anak-anak yang bingung.
"Ngapain?"
"Oh, itu…" Tsurugi merasa tak ada gunanya mengatakan kalau dia ikut ke podium untuk memastikan keberadaan Tenma dan kawan-kawan. Sosok mereka toh tidak ada, meskipun matanya sudah mengitari seluruh bangku penonton di stadion ini.
Argo tidak menunggu Tsurugi menjawab. "Tapi hebat juga, kamu bisa naik ke tempat eksklusif begitu." Ada nada iri dalam suara kiper tim Faram Dite itu.
"Ya, wajar saja, kan?" Barga berkata. "Tsurugi itu kan calon pendamping Lalaya-sama."
"Ooh…," Rodan bersuara seolah menemukan hal menarik. "Pantas, ratu manja dan kekanakan itu bisa berpidato sekeren tadi."
"Rupanya benar kata orang," sambung Neol. "Punya suami bisa mendewasakan wanita."
"Hebat, Tsurugi! Kerja bagus!" Seren mengacungkan dua jempol.
Komentar Gandales agak beda. "Oh, gitu, ya? Pantas Hilary nggak dewasa-dewasa. Habis, pacar saja belum punya."
"APA KATAMU!?" Hilary spontan memburu dengan rambutnya. Siap mencekik si Baran bungsu.
"HIIIYYYYY! RYUGEL-NII, TOLOOONGG!"
Tsurugi garuk-garuk kepala. Mungkin efek pidato Lalaya terlalu berlebihan, mereka yang sesaat tadi tegang dan siap tempur, berubah jadi sesantai ini. Dan lagi, siapa yang sudah menikah?!
Tsurugi mengalihkan perhatian ke bangku lawan. Donolzen berbicara pada Ozrock, entah soal apa. Tapi mata mereka sedikit-sedikit mengarah ke Tsurugi. Dan Ozrock mengangguk.
Sebenarnya tidak ada masalah dengan tingkah mereka. Tapi cara mereka memandangnya membuat Tsurugi mengangkat alis. Tsurugi mengerti Donolzen membencinya gara-gara insiden di penjara. Tapi harusnya ia tak punya alasan untuk mebuat Ozrock menatapnya dengan mata tajam menusuk dan wajah yang begitu kusut.
Ozrock mendendam begitu dalam pada Faram, wajar saja kalau dia juga menganggap aku musuh.
Sambil berpikir demikian, Tsurugi memasuki lapangan, bertatapan langsung dengan Ozrock yang berdiri di garis depan Ixal Fleet. Sama seperti Tsurugi, Ozrock memegang posisi kapten sekaligus ace striker.
Tsurugi menggesekkan sepatunya ke atas rumput lapangan.
Jika benar yang dikatakan Ozrock, bahwa Tenma dan yang lain berada di bawah kakinya kini, dia tak punya pilihankecuali percaya pada kemampuan mereka mempertahankan diri. Padahal aku ingin bertarung dengan mereka. Sayang sekali….
Peluit kick off digaungkan ke seluruh penjuru stadion. Tirai drama pertandingan yang menentukan takdir alam semesta akhirnya dibuka.
.
.
.
Hampir bersamaan, bunyi peluit yang lain memantul nyaring di dinding lapangan bawah tanah.
Hasil undian memberi kesempatan Fake Eleven untuk lebih dulu menggiring bola. Namun kolaborasi Manabe dan Minaho dengan cepat merebutnya.
"Shindou-kun!"
Begitu Shindou berhasil mencapai centering Minaho, 'Shindou' yang lain merangsek maju menahannya.
Shindou tidak gentar. Aku takkan kalah dengan diri sendiri.
Lolos dari penjagaan 'Shindou', bola berpindah ke kaki Zanakurou. Mundur sebentar ke Kusaka. Kemudian maju lagi menuju Tenma.
Melihat permainan yang rapi dari teman-teman, Shinsuke dan Aoi yang mulanya gugup, mulai bersemangat.
"Maju, Tenma!"
"Jangan kalah!"
Di sela riuh dukungan Shinsuke dan Aoi, Katora berkata pelan, "Saya rasa… Tenma dan kawan-kawan akan sulit menang…"
Shinsuke dan Aoi menoleh. "Eh?"
" GOD WI—"
Tenma tersentak. Sesuatu memecah konsentrasinya. Kecepatan lesatan bola pun turun begitu mencapai 'Ibuki', sehingga usaha mencetak gol pertama itu digagalkan dengan mudah.
Earth Eleven terkesiap atas kenyataan 'Ibuki' bisa menghentikan tembakan hissatsu kapten mereka dengan tangan kosong.
Shindou-lah yang lantas mengingatkan rekan-rekannya, "Dia bukan Ibuki."
"Hei!" Ibuki yang asli spontan menyuarakan protes di belakang Shindou. "Kenapa kamu ngomongnya seakan-akan aku lebih lemah dari dia, sih?!"
Tak jauh dari Tenma, Matatagi membentak. "Kapten, tembaknya yang benar, dong! Kalau nggak bisa, pass ke aku saja!"
"Ma-maaf…," Tenma menunduk.
Bola masih bertengger di tangan 'Ibuki'. Mata tajamnya berkeliling mengedari lapangan, seperti menilai kepada siapa sebaiknya ia melempar. Namun pandangan menilai itu justru berakhir pada sosok Ibuki yang berdiri di bawah mistar gawang Earth Eleven. Dengan tampang seperti anak kecil mendapat mainan baru, senyum 'Ibuki' terkembang.
Tetapi, 'Ibuki' tak segera melempar. Bola di tangannya ia jatuhkan ke tanah, dan memantul kembali ke telapak tangannya. Begitu terus berulang.
"Ah, dia meniru jurus Ibuki-kun!"seru Minaho.
"Memangnya itu jurus? Itu kan cuma mendribel ala basket!"
Ketimbang kata-kata Tetsukado, Ibuki ternyata lebih tersinggung atas cara 'Ibuki' memperlakukan bola.
"Sial! Yang boleh mendribel bola dengan cara begitu cuma aku, tahu!" Ibuki merangsek maju meninggalkan gawang.
Tepat saat Ibuki keluar dari kotak penalti, 'Ibuki' melambungkan bola ke tengah lapangan.
'Sakura' dari Fake Eleven menerima dan menggiring bola. Bersama 'Matatagi' mereka bergerak menuju gawang Earth Eleven yang telanjang.
Sudah terlambat bagi Ibuki untuk mundur. Dirinya jatuh dalam penjagaan ketat 'Tsurugi', menghalanginya masuk kembali ke kotak penalti.
Beruntung. Manabe dan Minaho masih bertahan di tempat masing-masing. Sayangnya 'Sakura', dengan kemampuan dribble yang sudah terasah, bisa melewati keduanya dalam sekejap.
Konoha dan Tetsukado maju sebagai dinding pertahanan kedua, menghambat jalan oper 'Sakura' ke 'Matatagi'.
Tapi 'Sakura' tak berniat melewati mereka dengan dribble atau operan.
"MERMAID SMASH!"
"Dia menembak?!"
Bahkan Sakura cuma bisa terpana menyaksikan sosoknya sendiri membobol gawang.
Plash!Bola dari 'Sakura' masuk tanpa harus melewati penjagaan Ibuki.
Begitu… rupanya…,batin Shindou, berpaling menatap 'Tsurugi' palsu, yang begitu mendengar peluit tanda gol 'Sakura' tadi disahkan, langsung melepaskan penjagaannya pada Ibuki. Mempersilakan kiper Earth Eleven itu kembali ke posisinya.
Sebelum balik, Ibuki melempari 'Tsurugi' tatapan sengit, sesengit tatapan yang dia punya. Meski melanggar aturan sportivitas, Shindou tak bisa menyalahkannya. Fake Eleven telah memanfaatkan kepribadian Ibuki dengan sangat baik. Dengan menyingkirkan Ibuki dari gawang, 'Sakura' hanya tinggal menghadapi defender Earth Eleven yang lebih menguasai teknik merebut bola dibanding menghentikan tembakan. Keberadaan 'Matatagi' cuma sebagai pancingan. Jika Ibuki sudah tersingkir dari gawang, kekuatan tembakan 'Sakura' pun sudah cukup untuk menjebolnya.
Tapi menyadari itu sekarang pun percuma. Bola telah terjaring gawang, dan peluit yang mengesahkan gol pun sudah bergema dari tadi.
"Maaf, aku lengah," Tetsukado mendekati Ibuki yang sudah kembali ke gawang. "Tak kusangka dia akan menembak. Seandainya tahu, aku pasti akan menggunakan Dead Straight untuk menendang balik."
"Kita tak boleh meremehkan mereka," Shindou bergabung dengan para defender. "Meski mereka mengklaim bahwa mereka mengopi kita, tapi strategi yang mereka ciptakan itu original, dengan memanfaatkan apa yang telah mereka kopi dari kita secara individu."
"Mereka bukan sekadar tukang tiru biasa, ternyata," kata Minaho.
"Tapi, strategi seperti itu hanya bisa dipakai satu kali, kan?" Manabe mengingatkan.
"Memang. Tapi justru karena itu kita harus waspada. Mereka juga pasti menyadarinya, dan sudah menyusun strategi lain."
Setelah memberi beberapa petunjuk pada para defender, Shindou berpaling menuju tempatnya. Dilihatnya Tenma juga sudah kembali ke posisi, dengan wajah bingung dan gelisah.
"Ada apa, Tenma?" Shindou menegur.
Tenma mengangkat kepala, menjawab ragu, "Tidak. Hanya saja, saya seperti mendengar suara Tsurugi, tadi…."
Shindou menarik napas. Jadi karena itu, tendangannya tadi kacau…
"Jangan memikirkan hal yang tidak perlu. Berkonsentrasilah pada pertandingan saat ini."
Seketika Tenma mengerti maksud Shindou, bahwa ia mungkin cuma berkhayal.
"Bukan begitu! Suara itu terdengar jelas… seperti nyata…," kilah Tenma pelan, sambil tertunduk. Ia sadar alasannya itu sangat lemah. Buktinya, Shindou kembali menarik napas, lalu menepuk bahunya.
"Ayo, kembali ke posisi!" ajak Shindou, mengabaikan Tenma yang sepertinya masih ingin bicara.
Terpaksa, Tenma tutup mulut dan menuruti perintah kakak kelasnya. Tanpa menyadari kalau tak jauh di sampingnya, Sakura menampakkan ekspresi yang sama.
"Bukankah kau selalu ingin menjadi yang terbaik seperti yang diharapkan orang tuamu? Bagaimana bisa menjadi nomor satu, kalau harus terpaku pada kerja sama tim?"
"Kamu lihat tembakanku barusan kan? Kamu juga bisa melakukannya, seandainya kamu tak terus-menerus membiarkan rekan timmu yang menjadi pusat perhatian."
"Tapi coba lihat kamu yang sekarang. Kamu bahkan tidak bisa melampaui tiruan dirimu sendiri."
Sakura meremas baju bagian depannya, merasa tak berdaya mengusir suara-suara itu dari hatinya. Suara itu tak nyaring, juga tak menyakiti. Cuma berupa bisikan. Terlebih, suara itu terdengar tak berbeda dengan suaranya sendiri. Tapi efeknya cukup membuat bimbang.
"Ada apa dengan Tenma dan Sakura-san?" Aoi yang duduk di pinggir lapangan, melihat jelas perubahan raut keduanya.
"Mereka mungkin sudah menyadari…" Katora menjawab perlahan. "Kemampuan lain dari orang-orang Fake Eleven itu."
.
.
.
Berlawanan dengan Earth Eleven, Faram Dite mengungguli Ixal Fleet, hanya berselang sepuluh menit setelah kick-off.
"Apa mereka ini bertarung serius?" Rodan berkata jenuh. Ini gol kedua untuk timnya. Gol pertama datang dari Scream of Eden milik Baran bersaudara. "Mereka seperti tak berminat main."
Untuk sekelompok orang yang berkoar ingin membalas dendam, Ixal Fleet memberikan perlawanan yang terlampau mudah.
Tsurugi menatap Ozrock. Aneh, apa mereka sengaja untuk membuat kami lengah?
Pemain depan Ixal Fleet melakukan tendangan kick-off. Namun, tak sampai satu menit, kembali mereka membiarkan bola lepas, tercuri oleh Faram Dite.
Tsurugi memutuskan untuk memastikan sendiri, apa Ozrock dan kawan-kawan bertarung sungguh-sungguh atau tidak. Dimintanya Seren mengoper kepadanya, lalu maju membawa bola sendirian.
Defender Ixal Fleet bahkan seperti tidak mau repot-repot menghalangi jalannya menuju gawang.
Hingga dirinya satu lawan satu dengan kiper Ixal Fleet—Phobos—di depan gawang, barulah Tsurugi menembak.
"DEVIL BURST!"
"Bagus! Jangan segan-segan, Tsurugi! Habisi saja mereka!" teriak Baran Bersaudara memanasi.
Dihadapkan pada gumpalan biru kehitaman dari langit yang melesat cepat kepadanya, Phobos malah menyilangkan tangan santai, seolah sedang menunggu kebobolan saja.
Tsurugi menyentakkan gigi menyaksikannya. Mereka ini…
Namun rupanya, bukan tembakan Tsurugi yang dia tunggu, melainkan kedatangan Ozrock ke depan gawangnya
Masih dalam posisi menembakkan Devil Burst, Tsurugi terperangah, Cepat sekali…? Ia yakin tidak melewati sosok Ozrock dalam perjalannya menuju gawang, karena itu dia mengira Ozrock masih berada di garis depan.
Nyatanya, Ozrock telah berada di garis belakang, bahkan di depan gawang. Ia menyambut gumpalan Devil Burst dan menghentikan lajunya.
Bola kini dalam kekuasaan Ozrock, digiring menuju gawang
Para penonton yang mayoritas penduduk Faram Obius berseru tertahan, menyaksikan serangan balik yang begitu tiba-tiba.
Ozrock menembak dari luar kotak penalti.
"STAR GAZER!"
Meteor tercurah dari balik punggungnya. Memporak-porandakan barisan defender Faram Dite. Kiper Argo, sebagai tiang pertahanan terakhir, hanya sanggup menahan tembakan itu selama beberapa detik.
Peluit ditiup kencang. Gol pertama untuk Ixal Fleet.
Ozrock memalingkan badan, menghadap pemain Faram Dite lain yang masih bisa berdiri—namun termangu—di belakangnya.
"Cuma segini ternyata, kemampuan planet nomor satu yang diagung-agungkan itu."
Hening merambati stadion. Baik di atas lapangan, maupun dari bangku penonton.
Skor sementara 2-1. Faram Dite lebih unggul. Tapi kekuatan tembakan yang barusan diperagakan Ozrock seolah mengaburkan kenyataan itu.
"Bagaimana? Masih mau lanjut?" Ozrock memancing
Tsurugi yang saat itu masih berdiri di wilayah Ixal Fleet, mengepalkan kedua tangan di sisi tubuhnya. "Tentu saja."
Di benaknya sesaat terbayang sosok Tenma. Kalau dia, pasti juga akan tetap bertahan sampai akhir.
Anak-anak Faram Dite tak ada yang tak sepakat dengan Tsurugi. Mereka yang masih tersungkur, serentak beranjak bangkit. Menantang sosok jumawa Ozrock, dengan tatapan berani tanpa goyah.
Sebagai balasannya, Ozrock menyeringai. "Baiklah. Tapi kuberi tahu satu hal. Yang kalah dalam pertandingan ini akan mati."
Meski kaget, Faram Dite masih mempertahankan kewaspadaannya.
"Apa…?" Hilary yang berdiri paling dekat dengan Ozrock berdesis pelan
"Lebih tepatnya," Ozrock melanjutkan. "Soul dari pihak yang kalah akan menjadi bahan bakar untuk menggerakkan Cosmic Plasma Photon Cannon yang mampu menghapus black hole—"
"Eh? Black hole ini… bisa dihapus?" Gandales bersuara keheranan. Ia tampak tak terpengaruh sama sekali dengan ancaman Ozrock tadi, meski dia sendiri juga seorang pemilik Soul—Belion—kucing ekor dua. Entah karena terlalu berani, atau terlalu lambat untuk memahami.
"Kukira tenaga penggerak yang dimaksud adalah benturan dua kehendak kuat yang sama kuat," kata Tsurugi.
"Oh, kamu tahu rupanya," giliran Ozrock menampakan wajah heran. Tapi hanya sesaat. Seringai liciknya kembali kemudian. "Memang benar. Yang kau katakan tadi adalah cara yang diusulkan Putri Katora. Awalnya aku juga hendak memakai cara itu. Sampai aku mendengar kalau kau, salah satu anggota Earth Eleven, membelot ke Faram Dite. Kupikir mustahil bisa mendapatkan pertandingan yang panas, jika ada pengkhianat yang membuat salah satu tim enggan bertarung sungguh-sungguh. Atau mungkin, dia cuma orang licik yang ingin timnya menang mudah dengan menyusup ke tim lawan…."
"Jaga bicaramu!" Argo menyalak keras. "Dia bertarung sungguh-sungguh demi mengalahkan planetnya, dan… menyelamatkan planet kami. Jangan samakan dia dengan dirimu!"
Ozrock mengabaikan. "Lagipula dengan cara ini aku bisa sekalian menyingkirkan orang-orang kuat namun merepotkan macam kalian. Sayangnya, aku juga pemilik Soul. Jika kalian mengalahkan kami, aku akan mati. Dan kalian bisa hidup damai selamanya, dengan memakai Cosmic Plasma Photon Cannon yang sudah terisi dengan Soul-ku. Tapi hal itu tentu menjadi kabar gembira bagi kalian kan?"
Melihat pertandingan yang tak juga berlanjut, Lalaya bertanya dengan tak sabar, "Minel, apa yang terjadi di bawah sana? Kenapa pertandingannya tidak dilanjutkan?"
Minel menyipitkan mata ke arah lapangan, mengerahkan kemampuannya dalam membaca gerak bibir. Namun, semakin ia memahami keadaan di bawah, semakin sulit ia menerimanya. Suara Lalaya yang berulangkali memanggil namanya seakan pudar dari pendengaran.
Tak apa. Tsuurgi-sama bukan pemilik Soul. Dia tak akan mati. Minel berusaha meyakinkan dirinya sendiriTapi kenapa perasaan ini begitu tidak enak…?
.
.
Gol kedua kembali jadi milik Fake Eleven.
Asal mula gol tersebut cukup unik. Adu Dead Straight antara Tetsukado dan 'Tetsukado'.
Tetsukado memang berhasil menahan Fortissimo 'Shindou', dan membelokkan arah tembakan itu ke gawang Fake Eleven dengan hissatsu block sekaligus shoot-nya, Dead Straight. Tapi tanpa diduga, 'Tetsukado' juga balik menahannya dengan Dead Straight pula.
Merasa tak ingin kalah, Tetsukado menyambutnya kembali dengan hissatsu yang sama. Begitu seterusnya.
Aksi saling tembak bola itu berakhir dengan kemenangan Fake Eleven. Pasalnya, sesaat sebelum mencapai Tetsukado, 'Tsurugi' menyeruak maju dan menyuntikkan tenaga baru pada bola yang melesat bagai kepalan petinju itu.
Paduan kecepatan 'Tsurugi' dan kekuatan 'Tetsukado', tentu tak sebanding dengan Dead Straight balasan dari Tetsukado yang cuma sendirian. Ibuki maju menghadang, sekaligus ingin menebus kelengahannya atas gol yang terjadi sebelumnya. Namun tepukan Wild Dunk tetap tak berdaya. Skor 2-0 untuk Fake Eleven.
"Sial!" Ibuki menonjok tiang gawang. Kebiasaan.
Peluit tanda akhir paruh pertama ditiup. Earth Eleven kembali ke bangku dengan langkah gontai.
"Tidak berguna."
Matatagi tersentak, menengok kiri-kanan. Teman-temannya sibuk dengan urusan masing-masing. Saling bicara, minum, atau menyeka keringat. Tak ada yang memerhatikannya. Tapi Matatagi merasakan jelas, kalau suara tadi ditujukan padanya.
"Kita sama-sama tidak berguna, ya. Aku maupun kau."
Apa? Tanpa sadar Matatagi membalasnya dalam hati.
"Bahkan Tetsukado dan Nozaki saja bisa melakukan lebih baik daripada kita."
Matatagi menggeram. Bukan cuma marah karena tak bisa menemukan sumber suara itu. Kalau memang mau menjelekkan diri sendiri, jangan bawa-bawa aku, dong!
Suara itu kembali terdengar. Kali ini disertai tawa.
"Mana bisa aku tidak melibatkanmu? Aku adalah kau."
Kalimat terakhir membawa tatapan marah Matatagi pada 'Matatagi'.
Melihat orang yang ditatapnya cuma tersenyum tenang, kemarahan Matatagi tersembur lewat lisan.
"Kau!" Matatagi menunjuk dengan napas memburu. "Jaga mulutmu! Kau bukan aku!"
Spontan semua menoleh ke arahnya.
"Ma-Matatagi-kun?" Minaho heran.
"Ada apa?" Tenma bertanya. Dikesampingkannya sesaat pikiran akan suara Tsurugi yang menggema di benaknya.
Matatagi masih berusaha mengendalikan napasnya yang memburu. Sungguh berbeda dengan Matatagi yang tadi menganggap remeh taktik meniru milik Fake Eleven.
"Matatagi-kun," Sakura memberanikan diri menegur. "Apa jangan-jangan kamu juga mendengar suara?"
"Suara?" ulang yang lain, berpandangan.
"Soalnya, aku… juga mendengarnya," ucap Sakura terus terang. "Suara itu sama persis dengan suaraku sendiri. Jadi kupikir kalian juga…"
"Tuh, kan. Mulai lagi. Tak bisa apa-apa kalau tidak ada rekan setim."
Diam! Sakura membalas nyaring dalam hati, sambil menentang mata 'Sakura' dengan berani.Mana bisa menang, kalau kebingungan ini tidak kuutarakan sekarang!
"Suara itu… jangan-jangan…," Manabe terdiam, tampak enggan melanjutkan. Ia tak mungkin mengatakan bahwa selama babak pertama tadi, ia terus-menerus mendengar suara Papa-nya, menyebutkan setiap kesalahan yang ia perbuat.
"Kamu juga… mendengar suara ayahmu, ya, Manabe-kun?"
Manabe memandang Minaho.
"'Juga?' Jadi… Minaho-kun juga…?"
Minaho mengangguk. "Kupikir, cuma khayalanku saja. Habis…., aku memang tidak percaya pada hantu atau sejenisnya."
"Kalau bukan hantu, terus apa dong?" tuntut Tetsukado, wajahnya menyiratkan kebingungan yang sama.
Shindou memandang sekeliling. "Apa ada yang lain, yang juga mendengar suara?"
Tenma mengangkat tangan, dengan wajah yang seolah berkata, Kan sudah saya bilang dari tadi?
"Selain Tenma?" Shindou mengedarkan pandang lagi.
Satu persatu dari mereka mengangkat tangan. Tetsukado mulanya ragu, tapi setelah melihat begitu banyak tangan yang teracung, ia pun tak sungkan lagi. Ia mengaku mendengar suara pelatihnya, Tetsu-san, yang mengomel panjang pendek soal betapa dia sudah jadi anak durhaka karena sudah meninggalkan kepentingan keluarga cuma demi main sepak bola.
Cerita Zanakurou lain lagi. Ia mengaku mendengar suaranya sendiri, tapi dalam tata bicara yang sangat berbeda dengan dirinya. Suara itu menggunakan kalimat yang kasar, mengucapkan kata 'Super' berkali-kali, dan memprotes bahwa Zanakurou masihlah belum sepadan dengannya.
Mendengar penuturan gaje dari Zanakurou yang biasanya tergolong 'lurus' itu, anak-anak bengong. Kecuali Tenma dan Shindou yang langsung tahu suara siapa yang dimaksud.
Zanark Avalonic.
Shindou berdehem kecil. "Hm…, jadi, semua mendengar suara aneh. Kecuali aku…"
"Mungkin Shindou sebenarnya mendengar sesuatu juga, tapi karena telinganya bebal, makanya nggak kedengaran," ujar Ibuki pedas. Rupanya sang kiper itu masih punya secuil dendam mengingat Shindou yang dulu susah nian disuruh menyingkir dari muka gawangnya.
Shindou membalas tenang, "Kamu sendiri, Ibuki? Apa kau juga mendengar sesuatu?"
"Iya. Aku mendengar…" suara Ibuki terputus, dengan muka memerah padam. Suara Shindou? Hiih, mana bisa aku mengucapkan itu di depan si yang bersangkutan.
"Kalau aku…," Tenma sang kapten akhirnya dapat kesempatan bicara juga. "Mendengar suara Tsurugi, sewaktu dia masih berantem denganku…"
"Eh? Berantem?"
"Iya. Aku pernah cerita padamu, kan Tetsukado?" Tenma mengulangi sedikit ceritanya.
"Sama denganku, dong," ungkap Ibuki tanpa sadar.
"Sama?"
"Ibuki-kun juga pernah berantem sama seseorang, ya?" tanya Minaho
"Oh, benar juga. Sama Shindou-san…" Manabe teringat.
"Oi! Bukan dia!" sergah Ibuki segera. "Aku sama sekali nggak mendengar suaranya Shindou yang mengomeliku, kok!"
"Hmm…?" Minaho menggumam. Nggak, berarti iya.Tapi Minaho tak berkata apapun. Tak tega rasanya menambah kerutan kalang kabut di wajah Ibuki.
Sebagai gantinya, ia pun mengeluarkan analisis, "Entah dengan cara apa, tapi sepertinya yang menyebabkan suara-suara itu adalah mereka." Mata Minaho menunjuk Fake Eleven. Bukannya istirahat, mereka malah menikmati percakapan Earth Eleven seperti menonton pertunjukan pinggir jalan.
"Mereka bisa meniru seseorang. Mungkin juga bisa merasuki pikiran mereka." Manabe menduga-duga.
Sedari tadi diam menyimak, Katora akhirnya bicara. "Saya pernah dengar, ada sebuah planet dengan penduduk yang punya kemampuan hipnotis, telepati, bahkan kendali pikiran. Meski begitu, mereka tak terbuka dengan orang luar. Karena itu, selama ini dikira keberadaan mereka hanyalah rumor saja. Tapi kali ini, mungkin mereka ini lah orang-orang yang dimaksud itu…"
Setelahnya, Shindou tampak berpikir lama. Ketika babak kedua hampir dimulai, Shindou secara mengejutkan mengajukan diri untuk duduk di bangku cadangan menggantikan Shinsuke. Shinsuke sendiri turun sebagai defender, menempati posisi Tetsukado. Sedang Tetsukado diminta menempati posisi Shindou. Sang mantan petinju jelas terkaget-kaget mendengar keputusan itu.
"Tapi, Shindou-san…," Tenma pun keberatan. "Keahlian Tetsukado kan, menahan serangan dan menembak balik."
Shindou punya alasan sendiri. "Kita tak bisa lagi mengandalkan strategi itu, karena lawan juga punya kemampuan yang sama."
Shindou merangkul anak-anak Earth Eleven, membisikan sesuatu.
Matatagi tampak kurang setuju, tapi Tenma meyakinkan Matatagi kalau rencana Shindou mungkin akan berhasil.
"Tolong, ya, Matatagi," Tenma memohon. Matatagi memutar bola mata, tapi ia tak membantah lagi.
Babak kedua, kaki cepat Matatagi menggiring bola menuju daerah Fake Eleven. 'Matatagi' dan 'Zanakurou' dilaluinya dengan baik.
Puas betul Matatagi, kala berhasil meninggalkan penyamar dirinya itu. "Kau tak pantas menyebut dirimu sebagai aku. Aku lebih baik daripada kau!"
"Matatagi! Sini!" Kusaka memanggil dari sisi lapangan. Bola beralih dan diteruskan pada Tetsuakado. Lantas Tenma. Terakhir, menuju Zanakurou yang sudah bergerak menembus barisan pertahanan lawan.
"Tahan dia!" 'Tsurugi' palsu berseru.
Sebelum para defender Fake Eleven sempat bertindak, satu sosok berambut coklat dengan kulit gelap melesat memotong jalur umpan panjang yang ditujukan pada Zanakurou. Bola kini bersarang di kakinya, menggantikan kaki sang aktor kabuki.
'Manabe' yang bermata minus, semula girang karena mengira yang memotong bola tadi adalah 'Matatagi' dari pihak mereka. Karena menurut perhitungannya, mustahil Matatagi-nya Earth Eleven bisa mencapai tempat Zanakurou karena jarak yang terlampau jauh. Sampai suara Shindou dari bangku cadangan Earth Eleven menyadarkannya.
"Bagus, Matatagi!"
Shindou tersenyum lega. Tidak mudah berpindah cepat melintasi jarak sejauh itu. Tapi Shindou yakin, Matatagi pasti mampu.
Sayangnya, karena Matatagi memotong bola yang diumpan pada Zanakurou, jarak tembak yang harusnya dekat, menjadi lebih jauh. Sudah begitu,'Tsurugi' yang sepertinya mulai bisa membaca siasat Shindou, mengubah arah larinya untuk menghalangi Matatagi.
"Cih!" Matatagi berdecak. Tapi dia tak kurang akal. "Nozaki!"
"Eh?! Aku?!" Gelagapan, Sakura menyambut bola. Dirinya mendapat bola, jelas beda dengan rencana yang diuraikan Shindou.
Aduh, bagaimana ini?Sementara Sakura berpikir, Fake Eleven mulai memburunya. Menambah panik gadis itu.
"Sakura! Atas!" teriak Tenma memberi petunjuk.
"A-atas?" Sakura menoleh lalu menengadah. Atas…?
"Percuma saja!" 'Sakura' melompat. Antisipasi gerakan Sakura berikutnya.
Sedetik kemudian Sakura akhirnya mengerti. Alih-alih melompat ke atas, ia memutuskan menendang tegak lurus ke atas. Bola membumbung tinggi, melampaui lompatan 'Sakura'.
"Apa!?"
Shinsuke berlari menyambut bola dari belakang. Dia melompat lebih tinggi dari 'Sakura'.
"BUTTOBI JUMP!"
Bola dari Shinsuke melesat ke bawah, menembus angin. 'Sakura' yang masih mengambang di udara tak diberi kesempatan untuk menahannya.
"WILD—!" 'Ibuki' pun tidak berdaya.
Peluit ditiup kencang. Earth Eleven berkumpul merayakan angka pertama milik mereka.
Terkecuali Ibuki yang justru mengomel panjang pendek di belakang.
"Apa-apaan!? Aku kan tidak sepayah itu, sampai tak bisa menghentikan tendangan si kecil itu!"
Minaho yang mendengarnya, tersenyum dan menyela. "Tenang saja, Ibuki-kun! Dia kan bukan kamu."
Ibuki sekejap marah mendengar Minaho mengulang kalimat Shindou, tapi kemudian ia sadar. Kalau kata-kata itu kali ini berarti pujian.
"I-iya juga, ya…" Ibuki menggaruk pipinya yang memerah
Pertandingan dimulai kembali, dengan skor 2-1. Fake Eleven masih unggul.
Menit berikutnya, untuk pertama kali dalam pertandingan ini, Zanakurou mengeluarkan Soulnya dan menyamakan angka. Semangat kembali ke kubu anak-anak Earth Eleven.
"Sehebat apapun mereka, tidak mungkin mereka bisa meniru Soul kita!" seru Tetsukado.
"Sayangnya, masih ada yang masih belum bisa menggunakannya,"Matatagi melirik.
Seakan tak mendengar, Tenma dan Shinsuke yang disindir lebih peduli akan kedudukan mereka yang kini sama dengan lawan.
"Tinggal satu angka lagi!" Shinsuke lompat tinggi agar bisa menjajari high-five Tenma.
Zanakurou mendekati mereka. "Rasanya saya mengerti kenapa kita kesulitan mengalahkan mereka. Melihat lawan yang merupakan kopian dari kita, tanpa sadar kita jadi tertantang untuk bertanding satu lawan satu, sehingga terpencar dan bergerak sendiri-sendiri."
"Oh, ternyata begitu, ya?" komentar Shinsuke yang memang tak dikopi siapa-siapa. "Tapi kalau kita bersatu, pasti bisa menang, kan?"
"Pasti!" Tenma menjawab cepat. "Demi Tsurugi juga!"
"Eh, Tsurugi?"
Tenma mengangguk yakin. "Walau sekarang ada di pihak musuh, dia pasti juga menunggu kita. Kalau kalah di sini, kita tak bisa bertemu dengannya."
.
.
.
(bersambung)
.
Gomenasai~ Seperti biasa, telat lagi apdetnya *bungkuk-bungkuk*
Karena banyak adegan main sakka, chapter ini rasanya jadi makin ga jelas orz. Kalau ada yang mau ditanyakan, silakan tanya saja ^^
Padahal tadi buka internet niatnya mau bikin peer, tapi malah mampir ke sini buat apdet. Anak baik jangan meniru, ya XD
