CHAPTER 7
MEETING NAOTO
Ternyata hujan sudah berhenti, Soujipun memutuskan untuk pulang ke rumahnya, takut nanti Nanako khawatir mencari-cari dia. Kali ini, Souji tidak jalan kaki, tapi dia diantar oleh si Kanji, jadinya tak perlu capek-capek lagi. Kemudian, sampailah mereka berdua di depan rumah.
"Arigatou Kanji!", teriak Souji.
"Sama-sama senpai!", balas Kanji sambil meninggalkan Souji.
Setelah itu, Soujipun memasuki rumah sambil membawa sebuah kantong plastik. Isinya bukan hadiah, melainkan bajunya yg basah.
"Tadaima, Nanako!", seru Souji sambil menggeser pintu.
"Kakak!Tadi hujan loh, kakak kehujanan ya?", tanya Nanako yg panik.
"Iya.. kakak juga kaget waktu itu, untungnya Kanji datang menolong", kata Souji.
"Kak Kanji?Oh iya, kaos serem itu memang ciri khas dia", kata Nanako sambil memandangi kaos yg dipinjam Kanji.
"Hahaha...", tawa Souji.
"Oh ya, kakak sudah mandi belum?", tanya Nanako.
"Oh, sudah kok", jawab Souji.
"Ya sudah, kesinikan baju kakak. Biar kucuci", tawar Nanako.
"Oh, arigatou", jawab Souji sambil menyerahkan kantong plastik.
Saat Souji melihat jam dinding, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Hm, ternyata masih belum sore-sore banget ya, mungkin lebih baik Souji menonton TV dulu. Kemudian, saat Souji mau ambil remote, tiba-tiba Souji merasakan sakit kepala lagi(kasian amat ya?), kali ini dia lagi-lagi mendengarkan suara.
"Darimana kau mendapatkan kartu ini?", suara ini suara cewek tomboi.. hmm, pembaca tau dong ini siapa?
"Hm.. sepertinya bagian dari perkataan ini terlihat aneh", lanjut suara itu.
"Terimalah badge ini senpai. Aku belum pernah merangkai seperti ini sebelumnya, padahal bisa saja aku menambahkan kamera dan transceiver. Jangan tertawa ya.. senpai", lanjut suara itu lagi dengan nada malu-malu.
Mendengar semua suara itu, dalam hati Souji menjawab,"Terima kasih.. Naoto", dan akhirnya sakit kepala itu lenyap.
"Ah!Kau kenapa kak?Kau sakit karena kehujanan ya?", tanya Nanako yg panik.
"Ng?Tak apa-apa kok Nanako, Cuma sakit kepala sedikit", jawab Souji.
"Sakit kepala?Kok kayak waktu itu ya?", kata Nanako.
"Waktu itu?", tanya Souji terheran.
"Itu loh, waktu kakak pertama kali kesini, kakak mabuk darat terus pusing", kata Nanako.
"Oh, pas itu ya", kata Souji, "Oh ya, aku ingin lihat acara TV"
Saat TV dinyalakan, muncullah acara talk show, dan yg hadir sebagai bintang tamunya adalah... Naoto!
"Baiklah, selamat malam pemirsa!Kini kita kedatangan seorang bintang tamu yg merupakan seorang detektif terkenal yg memiliki kemampuan hipotesa mengagumkan!Ini dia, Naoto Shirogane!", ucap pembawa acara itu dengan semangat.
"Tidak.. tidak, itu semua hanya kebetulan saja", jawab Naoto dengan senyumnya yg cool.
"Waw, kak Naoto keren!", ucap Nanako.
"Bagaimana perasaan anda ketika anda dinobatkan sebagai detektif terbaik di Jepang pada tahun ini?", tanya pembawa acara itu.
"Hm.. jujur saja, sebenarnya saya tidak pernah merasa bahwa saya adalah detektif terbaik kok", jawab Naoto yg membuat semua orang kagum.
"Waw.. dia sungguh seorang figur yg jujur ya?", kata pembawa acara itu sambil bertepuk tangan.
Setelah itu, acara talk showpun terus berlanjut...
"Um.. Nanako, aku mau tanya", ucap Souji.
"Ya?", jawab Nanako.
"Apa Naoto masih tinggal disini?", tanya Souji.
"Kak Naoto?Dia masih tinggal di Inaba kok...", jawab Nanako.
"Masih ya.. ", gumam Souji.
"Kenapa kak?Kau ingin ketemu dia ya?", tanya Nanako.
"Iya nih, soalnya aku tinggal belum bertemu sama dia doang", jawab Souji sambil tersenyum kecil.
"Kalau gitu, coba aja kakak besok temui dia", saran Nanako.
"Hm.. semoga aja besok bisa ketemu", kata Souji.
Setelah itu, Souji dan Nanako menonton acara TV bersama sampai akhirnya waktu tidur tiba, Dojima lagi-lagi tidak pulang karena adanya pekerjaan. Saat tidur, lagi-lagi Souji bermimpi, kemudian dia mendengar lagu The Poem of Everyone's Souls(maksudnya lagu Velvet Room), berarti yg mengundang Souji adalah.. Igor dan Margaret.
"Selamat datang", ucap Igor.
"Anda...", Soujipun terbengong.
"Jangan khawatir, kedatanganku kali ini bukanlah untuk memberi teka teki baru untukmu. Margaret?", ucap Igor sambil melihat Margaret.
"Apakah kau tahu.. makna dari tanda yg selalu kau alami?", tanya Margaret dengan tatapan matanya yg dingin.
"Tanda?Oh.. sakit kepala itu", gumam Souji.
"Itu adalah sebuah pertanda untuk membangkitkan kembali memori terpenting dengan teman-temanmu..", jawab Margaret.
"Mengingatkan?Tapi aku tak pernah lupa akan momen-momen itu", jawab Souji.
"Oh ya?Kau hanya mengingat momen berhargamu bersama 2 orang terpenting bagimu. Sementara dengan yg lain, kau sudah sedikit melupakannya, karena itu kami mengingatmu dengan cara ini", balas Margaret.
"2 orang terpenting? Maksudmu Chie dan Yukiko?", tanya Souji.
"Ya, dulu kau sempat menyukai mereka berdua, dan juga, karena mereka berdua adalah orang yg paling perhatian padamu, jadi menurut kami, kami tak perlu mengingatkan memori akan mereka berdua lagi", kata Margaret, Souji hanya terdiam.
"Tapi tenang saja klienku, sebentar lagi, kau akan bisa menikmati momen berharga bersama seluruh teman-temanmu. Sampai saat itu tiba tentunya...", ucapan terakhir dari Igor itu menjadi sebuah 'Farewell', diiringi dengan pancaran sinar.
Ternyata pagi sudah tiba lagi, Souji merasa sangat bingung dengan mimpinya itu. Dan lagi kenapa Igor dan Margareth bisa tiba-tiba muncul lagi?Oh ya daripada itu, Souji teringat kalau hari ini dia mau bertemu Naoto. Tapi dimana ya bisa bertemu Naoto?
PIIIP!PIIP!Tiba-tiba HP Souji berbunyi, saat dilihat, ternyata itu dari Naoto!
"Halo?", kata Souji.
"Halo senpai, ternyata nomormu masih sama ya?", kata Naoto.
"Begitulah, aku sama sekali tak berniat untuk mengganti nomor lamaku. Kenapa tiba-tiba menelponku?", tanya Souji.
"Bisakah kita bertemu?Sudah lama aku ingin mengobrol denganmu", ucap Naoto.
"Hm?Boleh... kau mau bertemu dimana?", tanya Souji.
"Mau bertemu di mana?", tanya Souji.
"Bagaimana kalau di Samegawa?Seperti saat kita suka menganalisis kartu putih itu", kata Naoto.
"Oke, tunggu ya", jawab Souji.
Setelah itu, Souji keluar rumahnya dan berjalan menuju Samegawa, tapi bukan di pinggir sungainya, melainkan ke tempat yg ada tempat duduknya itu. Kalau diingat-ingat, Souji dan Naoto sering membahas kasus berdua disana, baik cerah maupun hujan. Tetapi, bagaimana cara Naoto tahu kalau Souji sudah pulang ya?Kita tunggu saja jawabannya, oke?
Kemudian, sesampainya di Samegawa..
"Halo senpai, apa kabarmu?", tanya Naoto yg penampilannya tak berubah, tetap kecil seperti dulu(hahaha).
"Aku baik Naoto, ngomong-ngomong kenapa kau tahu aku pulang kesini?", tanya Souji.
"Oh, sebenarnya Rise waktu itu menelponku, dan lagi kebetulan aku juga sedang libur tugas hari ini, jadi selagi bisa, aku pikir lebih baik aku menghubungi mu", jawab Naoto.
'Begitu ya, kau jadi terkenal ya?", kata Souji.
"Oh ya?Itu semua karena para wartawan bertindak norak hanya karena aku membantu menyelesaikan satu kasus", jawab Naoto dengan wajah dingin.
"Haha.. tapi menurutku kau memang hebat kok", ucap Souji.
"Be.. benarkah?", wajah Naoto tiba-tiba memerah.
"Betul kok, apalagi kemarin Nanako sangat mengagumi mu", jawab Souji sambil tersenyum.
"N.. Nanako-chan bilang begitu?", wajah Naoto tak berhenti memerah.
"Hahaha, wajahmu tak berhenti memerah loh", kata Souji sambil tertawa kecil.
"E.. eh?Ti.. tidak kok", ucap Naoto.
Dua tahun yg lalu, Naoto muncul pertama kali di depan Souji dengan identitas laki-laki, tetapi setelah Souji menyelamatkannya barulah ketahuan kalau Naoto itu perempuan. Naoto berpenampilan seperti laki-laki karena ia tidak suka menjadi perempuan, dan baginya pekerjaan sebagai detektif juga kebanyakan digeluti oleh laki-laki. Naoto juga bersikap dewasa karena ia tidak suka dianggap anak-anak terus oleh para rekan polisinya.
"Senpai.. aku masih ingat saat aku masih tak menyukai diriku", kata Naoto.
"...", Souji terdiam.
"Aku tidak suka menjadi perempuan juga karena namaku, aku bersikap dewasa karena aku kesal selalu diberlakukan seperti anak-anak, intinya... aku jadi tidak menyukai diriku sendiri", kata Naoto, lagi-lagi Souji hanya diam mendengarkan.
"Tapi.. sejak aku bertemu dengamu, aku mulai bisa menyukai diriku sendiri. Karena itu senpai, aku sangat berterima kasih", ucap Naoto sambil tersenyum.
"Sama-sama Naoto, aku juga senang kalau kau bs menerima dirimu apa adanya", balas Souji.
"Iya senpai. Oh ya, mumpung kita lagi disini, kenapa kau tidak cerita saat kau baru lulus saja?", kata Naoto.
Setelah itu, mereka berdua pun ngobrol berdua, dan untuk para pembaca maaf ya kalau cerita ini lama munculnya, soalnya authornya lagi sakit. Kalau ceritanya juga agak aneh juga maaf ya. Thx before.
LAST CHAPTER
GATHERING WITH EVERYONE.
