TWIN FLAME

Chapter 7


Akhir pekan di mulai dengan pagi yang cerah. Burung yang bercicit menemani setiap orang yang melakukan aktivitas pagi mereka.

Youngjae bergelung dengan selimutnya. Matanya sudah terbuka lebar, namun dia masih enggan turun dari tempat tidur. Kemarin malam dia nyaris tak bisa tidur. Karena kebodohannya mengakibatkan Daehyun mengetahui tentang dirinya. Apa yang harus di lakukannya setelah ini ?. Bagaimana jika Daehyun memberitahukannya pada teman-teman vampire nya. Belum jika Himchan mengetahuinya. Tamat sudah dirinya.

CKLEK

"Youngjae. kau belum bangun ?." Himchan yang berdiri di ambang pintu mengintrupsinya.

"sudah." jawabnya.

"cepat turun. Sarapannya sudah siap."

"iya."

Himchan menunggu. Tapi yang di tunggu sama sekali tak bergerak dari tempat nyamannya.

"Youngjae."

"iya hyung, sebentar lagi. Turunlah dulu."

"aku dan Yongguk akan ke cafe. Cepat turun dan makan sarapanmu."

"iya~ " Youngjae mulai kesal. Benar-benar cerewet.

Himchan menghela nafas dan kembali menutup pintunya.

Youngjae kembali terdiam, mendengarkan suara detak jarum jam yang mendominasi kamarnya. Dengan berat dia menyingkirkan selimutnya, lalu meregangkan tubuhnya sebelum bangun.

Berjalan malas menuju kamar mandi yang berada di lantai atas. Membersihkan dirinya seadanya karena hari ini akhir pekan dia tidak akan pergi kemana-mana.

Setelah mengganti pakaiannya lelaki manis itu segera turun. Dia mencium bau masakan saat baru menuruni anak tangga. Menandakan jika makanannya belum dingin.

Rumahnya sudah sepi. Dia segera duduk di meja makan, dan memulai sarapannya. Himchan membuatkannya sup dan beberapa lauk.

Baru beberapa suap dia menikmati sarapannya sendirian, dia di ganggu dengan suara bel rumahnya yang berbunyi. Youngjae mendesah kasar dan meletakan sumpitnya sebelum berdiri. Jarang-jarang ada tamu yang datang ke rumahnya.

Pagar rumahnya yang tinggi dan gerbangnya yang tanpa celah, membuatnya tak bisa melihat si tamu.

Dia membuka gerbangnya dan menemukan Daehyun di depannya. Dia segera kembali menutup gerbangnya namun kalah cepat dengan gerakan Daehyun yang memegang lengannya.

"kenapa kau datang kesini." Youngjae berusaha melepaskan tangan Daehyun.

"aku ingin berbicara sebentar."

"tidak ada yang perlu di bicarakan di antara kita."

"aku tidak bisa tidur semalam."

"kau pikir aku juga bisa tidur ?."

Dengan gerakan cepat, Daehyun mendorong tubuh Youngjae dan menutup gerbangnya. Memojokan lelaki manis itu pada gerbang. Karena Youngjae sudah mengetahui jika dirinya vampire, mulai sekarang Daehyun tak akan segan menggunakan kemampuannya di depan lelaki manis itu.

Youngjae yang terkejut hanya mengedip-ngedipkan matanya menatap Daehyun. jantungnya menjadi berpacu lebih cepat. gerakannya benar-benar cepat, hingga dia tak bisa merasakan apa yang di lakukan vampire itu. Otaknya menjadi berhenti bekerja sejenak.

"itulah kenapa kita harus berbicara." Kata Daehyun pelan.

Youngjae mendorong Daehyun untuk menjauh. "kenapa kau bisa tahu rumahku."

"ah itu-" Daehyun menggaruk tengkuknya. "saat itu aku mengikutimu." Kata Daehyun jujur. Saat itu dia memang mengikuti Youngjae sampai rumahnya.

Youngjae menatapnya tak percaya. "kau- benar-benar membuatku takut."

"aku tidak ada niatan apapun. Sungguh." Daehyun berusaha untuk meyakinkan lelaki manis itu.

"kau beruntung hari ini. jika Himchan hyung dan Yongguk hyung ada di rumah, hidupmu sudah berakhir."

"ah, jadi disini sepi sekarang ? hanya ada kita berdua ?."

Lagi-lagi. Mulut Youngjae memang tidak bisa di jaga. "kenapa ? kau senang hanya ada kita berdua ?."

Daehyun menatap Youngjae dengan senyum tidak jelas. "jadi, haruskah kita bicara di dalam ?."

Youngjae kembali membuka gerbangnya dan berdiri di ambang gerbang. Dia hanya melakukan antisipasi. "jangan bersikap seolah ini rumahmu. Bicaralah atau pergi sekarang."

"kau tidak perlu bersikap seperti itu lagi sekarang. Kita sudah sama-sama tahu. Kau tahu jika aku vampire dan aku tahu kau memiliki kemampuan bisa membedakan antara manusia dan bukan. hanya dengan melihatnya. Bukan begitu ?. aku memikirkan semuanya sepanjang malam." Daehyun berbicara panjang lebar.

"lalu ?." dan hanya itu respon lelaki manis di depannya.

"kita bisa menjadi lebih dekat tanpa memikirkan hal apapun dan tanpa menyembunyikan hal apapun."

"sudah aku bilang, aku tidak mau."

"Youngjae-ah." Daehyun mendekat.

Dan Youngjae melangkah keluar dari gerbang.

"kau selalu menghindar dariku karena takut denganku ?."

Youngjae tak menjawabnya dan hanya melihatnya.

"aku tak ada niatan untuk menyakitimu. Aku hanya ingin dekat denganmu. Jikapun aku memiliki niat untuk menyakitimu aku sudah melakukannya sejak awal, kenapa aku harus menyusahkan diriku sendiri." Kata Daehyun kemudian.

Oh, Daehyun memiliki pemikiran yang sama dengannya.

"jika aku memintamu berhenti apa kau akan berhenti ?." tanya Youngjae.

"tidak." tegas Daehyun. "aku sendiri juga tidak mengerti tapi tanpa alasan kau sudah membuatku tertarik. Dan semakin hari perasaan itu kian tumbuh. Aku rasa sekarang aku jadi menyukaimu."

Youngjae terkesiap dengan jawaban Daehyun. dia hanya berdiri mematung saat Daehyun berjalan mendekatinya.

"jadi, jangan menghindariku lagi. Aku memohon padamu."

Youngjae menatap pada manik gelap Daehyun. dan lagi, manik itu seakan menarik seluruh jiwanya. Dia mengalihkan pandangannya.

"aku sudah mendengarkan semua yang kau katakan." Kata Youngjae.

"tapi aku belum mendengar jawabanmu. Jika kau masih ragu, aku akan menemui hyungmu dan meminta ijin."

Youngjae kembali menatap Daehyun tak percaya. "kau sungguh berani melakukan itu ? mungkin saja kau bisa mati di tangan mereka."

Daehyun mengangguk yakin. "karena aku dengan tulus hanya ingin dekat denganmu."

Youngjae sendiri tidak tahu harus melakukan apa. Saat tiba-tiba ada vampire yang mendekatinya dan mengaku menyukainya. Dia berada di antara percaya dan tidak dengan Daehyun. tunggu sebentar, bukankah Youngjae ingin tahu alasan Daehyun, kenapa dia terus mendekatinya ?. sekarang Daehyun sudah mengatakan alasannya dan dia menjadi bingung sendiri.

Ah, Felix. Bukankah anak itu bisa membaca pikiran ?. dengan begitu dia bisa tahu alasan Daehyun yang sesungguhnya. Hari ini dia juga ada janji dengan anak itu bukan ?. kenapa dia baru mengingat janjinya dengan Felix ?. dia bisa membawa Daehyun padanya.

Kemarin dia mengatakan pada Felix untuk menunggunya di cafe. Jadi, jika mungkin Daehyun akan menyakiti anak itu ada Himchan dan Yongguk.

Youngjae berdehem. "aku harus segera pergi sekarang. Himchan hyung dan Yongguk hyung sudah menungguku di cafe." Dia menutup dan mengunci gerbang rumahnya.

"apa aku harus ikut ?." tanya Daehyun.

"terserahmu saja." Youngjae berjalan meninggalkannya.

Daehyun tersenyum dan segera menyusul lelaki manis itu.

"tapi, kenapa kau takut dengan vampire dan werewolf ? kau sendiri tinggal serumah dengan mereka." ujar Daehyun.

"Himchan hyung dan Yongguk hyung. Mereka berbeda."

"aku juga ingin menjadi yang berbeda untukmu."


TWIN FLAME


KLINTING

"selamat datang."

Dari balik meja kasir, Himchan tersenyum dan menyapa pelanggan yang baru saja masuk ke dalam cafe.

Namun, senyuman itu tiba-tiba menghilang saat sang pelanggan berada di hadapannya. Yongguk yang sedang membuat kopi di belakangnya juga tiba-tiba menoleh. Mereka saling terdiam memperhatikan pelanggan itu.

Seorang laki-laki bersurai coklat gelap, mengenakan kemeja putih, celana hitam dan sweater merah yang hanya di sampirkan di punggungnya dengan lengan sweater itu yang terikat di leher.

Himchan memperhatikannya sangat mendetail. Karena laki-laki tampan yang tengah membawa sebuah keranjang makanan ini adalah Hybrid. Benar-benar membuatnya mengingat Luhan dan memutar ingatannya kembali ke beberapa ratus tahun yang lalu. Begitu pula dengan Yongguk.

Felix, sosok Hybrid di depannya hanya memperhatikan sepenjuru cafe. Seperti mencari sesuatu.

"apa yang ingin kau pesan ?." tanya Himchan.

Felix memperhatikannya. "hyung manis– ."

"hah ?." Himchan tak mengerti. Apa laki-laki yang tampak jauh lebih muda darinya ini ingin menggodanya ?.

"maksudku, Youngjae hyung. Dia disini ?."

Himchan semakin tak mengerti. Hybrid ini mengenal Youngjae ?.

Tidak mungkin.

KLINTING

Pintu cafe kembali terbuka. Youngjae datang bersama dengan Daehyun. Himchan mengerut heran, ini adalah pemandangan langkah. Melihat Youngjae bersama vampire selain dirinya.

"Youngjae hyung." Panggil Felix.

"kau sudah lama disini ?." tanya Youngjae.

"tidak. baru saja."

"aku tidak melihat ada mobilmu yang kemarin di depan."

"aku berangkat sendirian naik bus." Felix membanggakan dirinya karena dia naik bus.

Himchan melihat Youngjae, Daehyun dan Felix bergantian. Apa yang sudah terjadi ? dan situasi macam apa ini ?. Yongguk segera mensejajarkan dirinya di depan Himchan.

"Youngjae." panggil Yongguk. Dia bermaksud meminta penjelasan dari lelaki manis itu. apa yang di rasakan Himchan juga di rasakannya.

"oh, hyung. Aku dan Felix akan piknik di taman." Ucap Youngjae.

"kau akan pergi piknik dengannya ? lalu bagaimana denganku ?." sahut Daehyun.

"Daehyun- mungkin akan ikut. Tidak apa kan ?." Youngjae berganti berbicara pada Felix. Tatapan Youngjae berkata lain pada anak itu.

Felix mengerti apa yang di inginkan Youngjae, dia hanya melihat Daehyun sekilas.

Youngjae mengambil keranjang makanan yang di bawa Felix dan meletakannya di atas etalase.

"bicara denganku sebentar." Kata Youngjae, kemudian menyeret Felix masuk ke dalam dapur, sebelum Daehyun menyadari jika Felix sedang mendengarkan pikirannya.

Dua vampire dan satu werewolf yang tersisa disana hanya saling memandang. Ada apa dengan mereka berdua ?. Yongguk segera menyusul mereka ke dalam dapur.

Hal pertama yang di temui Youngjae dan Felix ketika masuk dapur adalah ketiga serigala Yongguk. Youngjae memperhatikan mereka bertiga yang tetap tenang akan keberadaan Felix. Biasanya, mereka akan bersiaga begitu berada di dekat vampire selain Himchan. Apa mungkin karena Felix berada di antara vampire dan werewolf ?.

"apa yang kau dengar dari Daehyun ?. tanya Youngjae.

"apa yang ingin hyung tahu ?."

"kenapa dia mendekatiku."

"dia menyukaimu."

Jadi, Daehyun memang berkata jujur. "kenapa dia menyukaiku ?."

Felix menggeleng. "tidak ada alasan, dia tulus. Dia juga tidak jahat, aku tidak takut dengannya. Hyung takut dengannya ?."

"sedikit. Sebelum mendengar penjelasanmu."

Youngjae juga tak mengerti kenapa dia bisa percaya begitu saja dengan Felix. Semua yang dia lakukan selama ini selalu menurut apa kata hatinya. Hatinya mengatakan jika Felix anak yang baik, dia tak mungkin berbohong. Dia hanyalah anak remaja berusia enam belas tahun. Seperti itulah Felix di matanya.

"apa yang kalian bicarakan ?." Yongguk datang pada mereka.

Dia melirik pergerakan serigala-serigalanya yang tetap tenang. Yongguk tentu saja mengenal karakter mereka. Mereka hanya akan bereaksi siaga pada vampire yang belum mereka kenal dan pada semua makhluk yang memiliki niat jahat, werewolf sekalipun. Dan mereka tetap tenang dengan keberadaan Felix, membuat Yongguk juga merasa tenang. Youngjae akan baik-baik saja bersama dengan anak ini.

"tidak ada. Ah, hyung. Kenalkan dia Felix." kata Youngjae.

Felix memberikan salam pada Yongguk dengan membungkuk.

"bagaimana kalian saling mengenal ?." tanya Yongguk lagi. Dia tak sengaja menangkap sebuah tanda alpha yang persis seperti miliknya pada lengan Felix.

"aku akan menceritakannya nanti, kami harus segera berangkat sebelum siang." Jawab Youngjae.

. .

Sementara di luar tersisa Himchan dan Daehyun. mereka hanya saling memberikan tatapan dingin.

"apa ?." kata Himchan yang terdengar seperti menantang.

"bagaimana kau bisa menjadi kakak Youngjae ?."

"kenapa kau ingin tahu ? aku mengenal Youngjae sejak dia masih kecil dan merawatnya hingga sebesar ini." Himchan menyombongkan dirinya.

"bagaimana jika aku mengatakan menyukai Youngjae ?."

"jangan berharap banyak. Youngjae tidak akan mau dengan vampire. Apalagi vampire sepertimu."

Daehyun menghela nafas panjang. Himchan membuatnya merasa kesal. Kenapa tidak kita lihat saja setelah ini ? usahanya mendekati Youngjae selama ini tidak akan sia-sia. Youngjae akan menjadi kekasihnya.

Youngjae dan Felix terlihat keluar dari dapur, diikuti dengan Yongguk di belakang mereka. lelaki manis itu mengambil keranjang makanan Felix.

"hyung, kami akan berangkat." Pamitnya.

"hati-hati saat menyeberang jalan." Pesan Yongguk.

"kau jadi ikut atau tidak ?." Youngjae bertanya pada Daehyun.

"tentu saja. Biar aku yang bawa." Daehyun menyahut keranjang makanannya dari tangan Youngjae.

Himchan menatap penuh tanya pada Yongguk setelah mereka pergi.

"kenapa kau mengijinkan mereka pergi ? bagaimana jika Youngjae-"

"Youngjae akan baik-baik saja bersama anak itu." potong Yongguk.


TWIN FLAME


Mereka membentang kain sebagai alas dia atas rerumputan hijau di bawah sebuah pohon rindang. Taman kota terlihat lebih ramai saat akhir pekan. Beberapa keluarga juga terlihat sedang piknik di sekitar mereka.

Felix menjatuhkan tubuhnya di atas kain, memejamkan matanya dan merentangkan tangannya.

"nyamannya."

Youngjae dan Daehyun bergabung dengan Felix. Kepala mereka saling sejajar.

"wah, sudah berapa lama aku tidak piknik. Terakhir kali saat aku masih kecil." Kata Youngjae. dia bernostalgia saat keluarganya masih lengkap.

"aku belum pernah melakukan ini sebelumnya." Balas Daehyun.

"aku juga." Felix menyahut.

"ya !. Aku yakin kalian sudah hidup lebih lama dariku. Tapi kalian belum pernah melakukan ini ? sekali saja ?."

"tidak ada seseorang yang bisa aku ajak piknik." Jawab Felix.

"ya ! kenapa kau sama denganku ?" ucap Daehyun.

Felix bangun lalu menatap Youngjae dan Daehyun bergantian yang kini sedang menatapnya.

"aku lapar." Dia merengek.

Youngjae ikut bangun. "bangun. Ambil keranjang makanannya." Dia menepuk lengan Daehyun.

Dengan enggan vampire itu bangun. Padahal dia sudah dalam posisi nyaman. Dia mengambil keranjang makanan di sebelahnya lalu meletakannya di tengah-tengah mereka.

"makanan apa yang kau bawa ?." tanya Youngjae pada Felix sebelum dia membuka keranjangnya. Dia curiga jika anak itu membawa darah atau sesuatu yang lainnya yang 'bukan' makanan.

"tidak tahu. Bibi Hwang yang menyiapkan semuanya." Jawab Felix.

Youngjae membuka keranjang makanannya. Isinya hanya makanan dan minuman yang biasa di bawa untuk piknik. Seperti roti, kimbab, biscuit, dan minuman botol. Dia mengeluarkan semua isinya.

Lelaki manis itu memperhatikan Felix dan Daehyun yang duduk di depannya. Mereka mulai memakan kimbabnya dengan lahap.

"apa makanan seperti ini benar-benar berpengaruh pada kalian ?." tanya Youngjae. Himchan saja hanya meminum darah. Sedangkan Yongguk terkadang dia memang makan makanan yang seperti ini. Tapi, mereka berdua adalah jenis yang berbeda dengan Yongguk.

"aku akan merasa kenyang. Tapi, tidak akan mengisi energiku." Jawab Daehyun.

"makanannya masuk ke dalam tubuhmu sia-sia." Ejek Youngjae.

"aku-"

SET

baru saja Felix membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Youngjae. Dia dan Daehyun kompak menoleh ke arah belakang mereka.

"ada apa ?." tanya Youngjae heran.

Daehyun dan Felix saling berpandangan sebentar.

"ada seseorang yang tengah memperhatikan kita." Ucap Felix.

"kalian bercanda ? tentu saja. Disini banyak orang. Pasti ada beberapa dari mereka yang sengaja atau tidak memperhatikan kita." Kata Youngjae.

"sejujurnya aku sudah merasakannya sejak saat kita keluar cafe." Sahut Daehyun.

"benar." Felix menyetujuinya.

"kalian terlalu sensitive dengan keadaan sekitar."

Mungkin perkataan Youngjae benar. Daehyun kembali menengok ke belakang. Entahlah, dia jadi merasa khawatir. Dia takut, jika yang tengah memperhatikan mereka bukan manusia. Tidak masalah jika orang itu mengincar dirinya. Tapi, bagaimana jika Youngjae ?.

. . .

Dua vampire memang tengah memperhatikan mereka. Wonho bersama dengan satu vampire prajuritnya. Jarak mereka memang tak telalu jauh, itu yang membuat Daehyun dan Felix bisa merasakan mereka.

"satu minggu kau mengawasi Daehyun, apa yang kau dapatkan ?." tanya Wonho.

"tidak ada yang aneh darinya. Namun, dia terus mendekati manusia itu."

"bagaimana dengan Hybrid itu ?."

"aku tidak pernah melihatnya bersama dengan Daehyun selama mengawasinya."

"tapi yang terpenting, Daehyun tidak tahu bukan, kau tengah mengawasinya."

"tidak. aku menjaga jarak dengannya."

"mulai hari ini aku akan ikut mengawasinya. Aku ingin tahu sendiri."

Wonho merasa harus bergerak lebih dulu dengan caranya sendiri. Menunggu Leo terlalu lama. Karena mereka berbeda pendapat. Leo pikir, dia tidak tahu jika beberapa saat lalu Daehyun nekat masuk ke area kekuasaan werewolf karena ingin mencari twin flame nya. Meskipun Daehyun adalah adiknya, bukankah dia juga merupakan ancaman baginya dan clannya.

. . .

. . .

Daehyun dan Youngjae duduk berdua, memperhatikan beberapa orang yang melakukan aktifitas mereka disini. Makanan yang di bawa Felix, membuat mereka kenyang. Ah, ngomong-ngomong anak itu sedang pergi membeli gula kapas.

"apa Felix juga berusaha sepertiku untuk mendekatimu ?." tanya Daehyun tiba-tiba.

"tidak. aku merasa dekat dengannya sejak pertemuan pertama kita."

"wah, aku merasa iri. Kau tidak takut dengannya ?"

"Felix sangat menggemaskan. Dia benar-benar seperti anak-anak seusianya."

"menggemaskan ? jika kau tahu seramnya vampire dan werewolf. Felix memiliki keduanya."

"anak itu tidak terlihat seperti itu." bela Youngjae. "aku merasa memiliki seorang adik." Dia mengungkapkan perasaannya.

"tapi, kau tidak akan menghindariku lagi kan ?."

Youngjae menoleh padanya. jika Daehyun memang tulus ingin dekat dengannya dan sama sekali tak memiliki niat jahat. Dia akan membuka hatinya untuk Daehyun. ini memang takdirnya, di kelilingi makhluk-makhluk seperti mereka.

"aku ingin kau berjanji, kau tidak akan mengatakan tentang kemampuanku pada teman vampire mu yang lain."

Daehyun memberikan jari kelingkingnya. "aku janji. Lagi pula, aku tidak ada niatan yang seperti itu sama sekali. Terpikir saja tidak."

Youngjae tak menerima jari keliling Daehyun. "memangnya kau anak kecil yang membuat janji seperti itu." cibirnya.

Daehyun tertawa. "tapi aku mengagumi kemampuanmu. Coba katakan padaku, siapa saja yang bukan manusia disini."

"sejujurnya aku tidak menyukai kemampuanku ini. aku merasa di kutuk." Youngjae mengitarkan pandangannya ke sekitar. "disini ternyata hampir tak ada makhluk seperti dirimu. aku baru menyadarinya."

Dari kejauhan mereka melihat Felix, tengah berjalan dengan wajah ceria sembari memegang gula kapas berukuran besar.

"kau lihat, Felix hanya seperti anak-anak." Kata Youngjae.

"sepertinya kau benar." Daehyun menyetujuinya.

Mereka hanya memperhatikan Felix, hingga anak itu sampai di depan mereka.

"hyung, kau mau ?." Felix menawari Youngjae gula kapasnya.

Youngjae menggeleng. "tidak. makanlah."

"hyung ?." dia berganti menawari Daehyun. Dan vampire itu hanya menggeleng.

Daehyun pernah mendengar, jika Hybrid sangatlah kuat. Karena mereka di antara vampire dan werewolf. Dia ingin tahu sekuat apa anak ini. kekuatannya pasti sangat beranding terbalik dengan parasnya.

Sekalian, dia juga ingin mencoba kekuatannya. Tentang beberapa minggu lalu saat dia membunuh werewolf. Daehyun ingin memastikan, apa kekuatannya tiba-tiba muncul atau bagaimana. Atau mungkin ada penyebab dia bisa menjadi kuat.

"ya ! kau pernah berkelahi sebelumnya ?." tanya Daehyun.

"sering." Jawab Felix singkat. Dia mendengar apa yang baru saja di pikirkan Daehyun.

"aku ingin tahu bagaimana kau berkelahi." Kata Daehyun.

"hyung ingin mencoba berkelahi denganku ? aku pemegang sabuk hitam Taekwondo." Felix mencoba memperingati.

"itu tidak masalah." Daehyun berdiri sedikit menjauh. "ayo." Dia meregangkan tubuhnya.

"jangan menurutinya." Ucap Youngjae. vampire yang berkelahi dengan Hybrid ?. dia hanya takut jika mereka berdua kelepasan dan membuat heboh seluruh taman.

"tidak apa." Felix meletakan gula kapasnya pada kotak bekas roti, lalu berdiri menghampiri Daehyun. "hyung ingin duluan menyerang ?."

"aku ? kau saja."

"jika aku yang menyerang. Ini akan berakhir begitu saja." Kata Felix.

"jangan banyak bicara. Cepat."

Daehyun mengambil ancang-ancang siaga. Apa yang akan di lakukan anak ini untuk menyerangnya.

"apa yang kalian lakukan ? bukankah lebih baik kita pulang saja. Hari semakin siang dan panas." Ucap Youngjae.

Mereka tak mendengarkan Youngjae. lelaki manis itu menghela nafas memperhatikan mereka bedua. Mereka melakukan hal yang tidak penting.

Dengan gerakan tiba-tiba, Felix menarik tangan Daehyun dan mengunci tubuh vampire itu. lalu –

BRUK

Felix membanting Daehyun ke tanah.

Youngjae menjatuhkan rahangnya dan meringis membayangkan rasa sakit yang di dapatkan Daehyun.

Daehyun meringis kesakitan, punggungnya sepertinya patah. Dia tak percaya, bagaimana Felix dengan tubuh yang lebih kecil darinya bisa membantingnya. Dan, kenapa kekuatannya tidak berfungsi ? kemana kekuatannya saat dia membunuh werewolf itu.

"sudah aku bilang, jika aku yang menyerang ini akan berakhir begitu saja." Felix menahan tawanya.

Daehyun bangun sembari menahan rasa sakit di punggungnya.

"pasti sangat sakit." Ujar Youngjae.

"tidak." balas Daehyun. dia tak akan terlihat lemah di depan Youngjae.

"oh." Felix tiba-tiba mengerut heran. "kenapa ayahku ada disini ?." Dia melihat ayahnya tak jauh dari mereka.

"dimana ?." Youngjae mengitarkan pandangannya. Dia juga ingin tahu.

"Appa !." Felix berteriak dan melambaikan tangannya pada seseorang bersurai pirang, mengenakan setelan jas rapi.

Kris yang mendengar suara anaknya tersenyum dan segera menghampirinya. Youngjae segera berdiri. Ayahnya Vampire.

"bibi Hwang mengatakan jika kau piknik disini." Ucap Kris.

"maaf, aku tidak mengatakan pada Appa."

"Appa yang seharusnya minta maaf, karena tidak ada waktu untukmu tadi pagi."

"ah, Appa. Kenalkan dia Youngjae hyung. Hyung manis yang aku ceritakan." Felix memperkenalkan Youngjae.

Youngjae membungkuk sebagai salam. Kris hanya memberikan senyumannya.

"dan dia Daehyun hyung. Aku baru mengenalnya hari ini." lanjut Felix.

Daehyun hanya memberikan senyumannya.

Kris memperhatikan Daehyun dan Youngjae. "kalian pasti sepasang kekasih." Katanya.

"tidak." Youngjae membantahnya cepat. "kami hanya berteman."

Felix terkekeh, dia tak percaya Daehyun merasa senang ayahnya mengira mereka sepasang kekasih.

"apa kalian masih lama disini ?." tanya Kris.

"tidak. kami sudah akan pulang. Hari sudah siang." Jawab Youngjae.

"Ah, sayang sekali. Padahal aku ingin ikut bergabung."

"kita bisa melakukannya lagi lain waktu." Sahut Felix.

"kalau begitu aku akan membantu membereskan semuanya." Kris tersenyum.

Dia merasa senang Felix memiliki seseorang yang sepertinya bisa dekat dengan putranya itu.

.

.

.

TBC