Yoongi menggeliat dalam tidurnya saat merasakan tubuhnya di goncang "Yoongi. Bangun. Yoon." Suara Jimin terdengar di telinganya, membuatnya memaksakan membuka matanya yang masih sangat mengantuk. Di depannya terpampang Park Jimin dengan kaos hitam polos dan rambut basah.

"J-jim ada apa?" Suaranya masih begitu serak, mencoba bangun dengan bantuan Jimin.

"Bangun Yoongi. Lalu mandi. Kita makan di luar ya." Suaranya terlalu lembut. Yoongi mengernyit "Di luar?" Tanyanya. Jimin mengangguk.

"Kenapa tiba-tiba?" Jimin hanya mengangkat bahu sambil tersenyum. "Aku masih mengantuk."

"Makan. Sudah siang Yoongi. Sudah kusiapkan susu. Mandilah dan berdandan." Lantas Jimin pergi, namun satu hal yang membuat Yoongi membola, Jimin mengusak rambut Yoongi. Dengan amat sangat hangat. sesuatu yang begitu tiba-tiba.

Yoongi tak langsung berdiri menuju kamar mandi, ia memandang perutnya yang mulai sedikit membesar. Memandang jendela yang pastinya Jimin sudah membuka gordennya. Benar, hari sudah siang. Namun perlakuan Jimin yang mendadak seperti itu rasanya tak nyata pada siang ini. Yoongi sedikit menarik sudut bibirnya, tidak ia tidak tersenyum. Ia hanya merasa konyol.

Entah bagaimana, Yoongi sudah berada di mobil bersama Jimin. Pria itu terus bersenandung, mengetukkan tangannya pada kemudi. Sementara Yoongi diam, menikmati suara Jimin dan menikmati waktu. Rasanya ia ingin terus menatap jendela, rasanya ia tak ingin segera sampai, karena Yoongi masih ingin memiliki waktu lama mendengar suara Jimin secara langsung. Tapi harapannya memang tak pernah terwujud, sepertinya Tuhan benar-benar tak menyukainya. Tanpa terasa Jimin sudah memakirkan mobil.

"Jim?" Yoongi melirik Jimin yang sudah bersiap turun.

"Ya Yoongi?"

"Kau tidak?" Yoongi menggerakkan tangan di depan wajah. Mengisyaratkan sesuatu yang di mengerti Jimin, membuat Jimin tersenyum menggeleng.

"Tidak perlu masker. Ayo masuk."

Tidak terlalu ramai. Namun cukup ada beberapa orang saling mengobrol di meja masing-masing. Dan Min Yoongi tengah berjalan di samping Park Jimin. Dengan santai. Tak ada yang menegur Jimin, mereka hanya melirik, bagaikan melihat orang asing melewati mereka. Mereka acuh pada Jimin. Mungkin terjadi sesuatu ketika Yoongi tertidur.?

"Pesan apa Yoon?"

Mereka mulai memesan apa yang mereka inginkan. Dan Jimin sukses membeli apa saja makanan yang memiliki gizi yang baik bagi ibu hamil – yang sedikit di tentang Yoongi karena terlalu banyak. Jimin bilang itu demi anaknya. Mengharapkan anak yang sehat dan bugar nantinya, jadi Yoongi dengan pasrah mengangguk.

Hanya obrolan kecil, mereka fokus dengan makanan masing-masing. Namun Jimin terus tersenyum, melihat Yoongi makan dengan lahap membuatnya tersenyum.

Hingga senyumnya berubah objek, berubah alasan. Senyumnya bertambah lebar saat ia melihat seseorang dengan rambut pirang berjalan anggung ke arahnya. Dan menghentikkan kunyahan Yoongi.

"Hai Jimin."

"Duduklah Seulgi." Jimin menarik pinggang Seulgi untuk duduk di sebelahnya. "Aku mengajak Seulgi Yoon." Yoongi terdiam, namun setelahnya ia mengangguk canggung.

"Apa kabar Seulgi-ssi?" Tanyanya setelah menelan makanan. Terdengar lirih suara Yoongi.

"Baik Yoongi-ssi, sangat baik. Bagaimana kandunganmu? Aku sudah tak sabar menggendongnya." Yoongi berusaha ikut tertawa. Siapa yang mengizinkanmu menggendong anakku? , gerutunya.

"Baik Seulgi-ssi."

Jimin memanggil pelayan, menanyakan apa yang akan di makan kekasihnya. Mereka tak mengobrol banyak karena Jimin memang ingin menyelesaikan makannya, atau Jimin menjaga seseorang di sampingnya? Entahlah. Yoongi benar-benar tak mengeluarkan suara, bahkan suara kunyahannya bagai teredam oleh angin.

"Aku permisi ke toilet."

"Mau kuantar? Atau Seulgi?" Jimin menawarkan yang di balas gelengan oleh Yoongi.

Yoongi tersenyum miris. Jimin baik, namun menjadi iblis sekaligus. Seharusnya tak masalah memang, tapi maaf, dari awal Min Yoongi sudah memakai perasaannya pada Jimin dan Yoongi tak mau memungkiri itu. Ia mencuci tangannya sembari menatap wajahnya. Min Yoongi tak ada apa-apanya dibanding Seulgi. Ia amat sangat tertinggal jauh. Dan ia sangat mengerti.

Yoongi berjalan keluar, dan langkahnya terhenti. Disana, masih di nomor meja yang sama, Jimin tengah mengecup lembut pipi Seulgi. Mereka tertawa bersama, sesekali Jimin akan menyingkirkan rambut di wajah Seulgi. Mereka begitu serasi, mereka begitu menikmati waktu mereka – tanpa Min Yoongi.

Jadi berperan sebagai apakah Min Yoongi yang tadi duduk di samping Jimin? Penghalang interaksi mereka? Tidak, bahkan Seulgi dan Jimin bersebelahan. Menjaga hati? Siapa yang menjaga hati? Kalau menjaga hati, seharusnya Jimin tak mengajak Seulgi, atau seharusnya Jimin tak mengajaknya. Seharusnya Yoongi harus menulis di jidatnya, ia hanya bayangan Jimin. Selamanya.

Ia begitu tersadar. Dengan jarak seperti ini pun. Jimin nampak jauh. Amat mustahil untuk di gapai. Meskipun Jimin ada di depannya, Jimin bukan siapa-siapa untukknya. Dadanya berdetak nyeri.

.

"Yoon." Yoongi menyingkirkan tangan yang menggerakkan bahunya "Yoongi bangun. Bibimbap untukmu."

"Jimin?" Yoongi segera bangun. Mengenali Jimin di depan wajahnya.

Ah ia bermimpi.

Mimpi yang amat sangat nyata. Mimpi yang mengolok-oloknya.

Alam bawah sadarnya memintanya untuk terus sadar, Jimin bukan siapa-siapanya. Bahkan dirinya pun mengerti, kalau selamanya Jimin hanya ilusi baginya.

"Bangun Yoon. Sudah kubawakan bibimbap Song Joongki untukmu." Detik selanjutnya adalah Min Yoongi merebut kantong keresek yang sedari tadi Jimin ayunkan. Matanya berbinar bahagia.

"Benar-benar Song Joongki?" Jimin menghela nafas. Ia memainkan ponsel dan menyodorkannya pada Yoongi.

Terputar video dengan suara awal jelas dari suara Jimin "Hyung sudah on." Lalu wajah Song Joongki terpampang nyata "Oh sudah ya?" Joongki merapikan rambut.

"Hai Min Yoongi-ssi? Song Joongki-imnida." Joongki menunduk hormat lalu kembali menatap kamera dengan tersenyum "Jimin bilang kau menyidam bibimbap tapi dengan sentuhanku? Ahaha." Joongki tertawa, menular pada Yoongi. "Aneh. Dan lucu. Baru kali ini sungguh." Joongki tersenyum. "Aku yang membelinya Yoongi-ssi. Khusus untukmu. Jimin bilang ada seseorang yang menginginkan bibimbap dariku. Karena itu Jimin aku mengabulkannya meski awalnya aku tak percaya." Yoongi sempat menahan nafas, "Sudah ku belikan." Joongki menggoyangkan wadah bibimbap "Terimakasih sudah memikirkanku di masa kehamilanmu." Joongi sempat melirik Jimin "Jimin bilang kau orang spesial, tapi aku tak tahu siapa. Yoongi-ssi, jadilah ibu yang hebat. Jadilah ibu yang hebat untuk anak yang hebat pula. Kudoakan anakmu menjadi anak yang membanggakan. Kata Jimin kau cantik, aku yakin anakmu akan secantik dirimu, atau setampan em, ayahnya? Tapi jika kecantikanmu menurun pada anak lelakimu tak apa, aku yakin dia akan menjadi anak yang tampan."

"Wah aku terlalu banyak bicara yah. Jimin sudah menggerutu." Joongki tertawa. "Kalau begitu selamat makan." Joongki melambaikan tangan lalu wajah berganti dengan wajah Jimin.

"Permintaanmu terpenuhi Yoongi. Jadi makanlah dengan lahap." Video selesai.

Sekuat tenaga Yoongi tak ingin terharu. Benar-benar tak ingin terlihat berlinang air mata di depan Jimin yang tengah menatapnya. Ia akan menyimpan mata haru nya nanti.

"Terimakasih Jimin." Ucapnya dengan amat sangat pelan namun terdengar begitu tulus.

"Ya." Jimin berdiri setelah menerima ponselnya. "Makanlah, dengan lahap." Jimin terkekeh. "Aku akan membuatkan susu."

Layaknya de javu. Jimin mengusak rambutnya.

.

.

.

"Membaca apa?" Yoongi menoleh, Jimin tengah berjalan ke arahnya dengan rambut basah dan segelas air putih. Yoongi menggoyangkan majalah yang berisi sampul buku gambar bayi gemuk tengah tertawa. Begitu tampan dan menggemaskan. Seokjin yang membelikannya untuknya. "Apa isinya?" Jimin menaruh gelas, duduk tak jauh dari Yoongi.

"Cara merawat ibu hamil dan bayi." Yoongi kembali membaca sementara Jimin mengangguk.

"Bagaimana bibimbapnya? Enak?" Jimin tak bermaksud menganggu Yoongi. Hanya saja ia merasa bosan duduk diam di samping Yoongi. Oh ayolah, Park Jimin bertahun-tahun hidup sendiri, tapi mendadak merasa hampa sendiri.

"Enak."

"Bagaimana dengan buatanku?" Yoongi mendongak, tengah berpikir. Layaknya mengisi soal ujian, apakah pertanyaan Jimin terlalu berat? Sedikit Jimin menahan kekehan.

"Enak yang Joongki beli." Yoongi tersenyum kembali membayangkan bagaimana tadi ia dengan lahap menelan bibimbap. "Punya Jimin terlalu hambar. Tapi aku doyan." Yoongi tersenyum, "Maksudku bayiku yang doyan."

Jimin tertawa mengiyakan. "Aku sangat jarang memasak. Kau tahu sendiri. Tapi aku lebih baik dari Namjoon Hyung." Yoongi mengangkat alis, meminta Jimin melanjutkan kalimatnya. "Seokjin Nuna melarang Namjoon Hyung dekat-dekat dengan kompor, ah Taehyung juga. Mereka memiliki radius tiga meter dari kompor. Mereka sangat berbahaya." Yoongi sukses tertawa kecil. Membayangkan Namjoon dengan wajah konyol berada tiga meter dari kompor.

"Aku percaya dengan itu." Jimin ikut tertawa.

"Jika ada yang kau inginkan. Katakan saja."

"Benarkah?" Refleks Yoongi. Jimin mengangguk. Menyandarkan punggung. "Tadi aku ingin sosis bakar di baluri es krim rasa anggur. Tapi kau tak memiliki keduanya." Jimin melotot, kembali menegakkan badan.

"Hah?"

"Hah?" Yoongi ikut bingung, menutup buku lalu menggaruk kepala dengan kikuk. "Sosis dan eskrim anggur. Jika tidak ada juga tidak apa Jimin. Tapi nanti bayiku ileran." Lirihnya di akhir kalimat dengan mata yang melirik Jimin.

"Baiklah." Ujarnya dengan nada pasrah.

"Dan donat dengan bungkus Koya." Jimin menoleh dari kepalanya yang menunduk, memiringkan kepala agak bingung dengan permintaan Yoongi. Yoongi yang mengerti segera mengulang permintaannya "Donat. Bungkusnya Koya. Koala yang sedang banyak di iklan itu. Kalau tidak bisa juga tidak apa-apa Jimin. Tapi bayiku bisa ileran." Ia kembali melirih, merubah posisi duduknya menjadi memiring berlawanan dengan Jimin.

Jimin tersenyum, ia mendengar kalimat terakhir Yoongi. Tanpa mengatakan itupun Jimin pasti akan mengabulkan apa Yoongi inginkan selagi ia bisa. "Baiklah. Aku akan bersiap. Atau kita makan di luar?" Jimin menawarkan.

Makan di luar? Bersama Jimin?

Seperti de javu lagi. Dan ia tidak mau berakhir seperti mimpinya. Benar-benar tidak mau.

"Dirumah saja."

"Oke."

Jimin benar-benar berganti baju dan tengah memainkan kunci mobilnya. Yoongi tengah duduk dengan kaki bergoyang-goyang di atas sofa. Yoongi memang belum boleh melakukan tugas berat. Ia hanya boleh duduk dan tidur. Jadi Seokjin sedikit menyiapkan hal-hal yang bisa menemani Yoongi. Jimin tak ingin berpamitan karena tak ingin mengganggu wajah serius Yoongi, Yoongi pun tak sadar dengan kehadirannya jadi ia terus berjalan menuju pintu. Dan saat ia selesai menutup pintu, badannya menegak seketika dan menemukan seseorang tengah berdiri di samping pintu apartemen Yoongi.

"Chanyeol-ssi?"

.

.

.

"Seharusnya kau mengabariku Min Yoongi. Tahukah kau bagaimana resahnya aku kau tak pernah membalas pesan dan mengangkat panggilanku?" Yoongi menunduk dan bergumam maaf. Chanyeol menghela nafas, dia harus mengontrol diri. Yoongi jelas masih dalam usia kandungan yang tak boleh memikirkan hal yang berat dan pastinya mereka amat sangat sensitiv. "Aku membawakan buah dan makanan."

"Benarkah?" Chanyeol menyodorkan beberapa kantung makanan.

"Makanlah."

"Iya nanti." Yoongi masih menunggu sosis dan donat koyanya.

"Beruntung Jimin keluar kalau tidak. Aku akan mati membusuk di depan pintumu." Yoongi terkekeh, ia tergoda dengan potongan buah pir dan mulai memakannya.

"Tidak akan sampai mati." Yoongi menjilat bibir dan terus mengunyah "Satpam akan membawamu saat pingsan." Chanyeol tertawa.

"Kenapa kau pindah? Hubungan kalian membaik?" Yoongi sempat terdiam.

"Seokjin Eonni menyuruhku karena kemarin kondisiku kurang baik." yoongi tak mau mengatakan tentang rumah sakit dan pendarahannya. Tak ingin membuat semuanya bertambah rumit. Chanyeol itu terkadang tak bisa mengontrol emosi.

"Bersabarlah. Aku akan membuatmu bahagia Yoongi-ah." Yoongi tersenyum dan membalas genggaman tangan Chanyeol. Mereka mengobrol banyak, tentang kerjaan Chanyeol yang menumpuk dan deadline yang membuatnya hampir mati karena ia benar-benar ingin membawa Yoongi bersamanya dan merampungkan cepat proyeknya. Meskipun Yoongi belum menjawab, mungkin Chanyeol paham. Yoongi mungkin tak memiliki pilihan. Memikirkan kejadian waktu pendarahan itu, jujur, ia takut, akankah ia bertambah membebani Jimin dan bayinya? Yoongi hanya ingin berdamai, berdamai dengan hatinya, berdamai dengan Jimin berdamai dengan nasibnya.

"Aku pulang."

Jimin datang dengan kedua tangan yang penuh. Yoongi segera berdiri menghampiri Jimin – sebenernya menghampiri donat koyanya. Dari bungkusnya sudah terlihat menggiurkan dan ia benar-benar ingin mencicipinya saat ini juga. "Jimin cepat sekali."

Jimin hanya tersenyum, membawa belanjaannya pada meja dapur. Ia pun tak tahu, kenapa rasanya ia ingin segera pulang.

Yoongi berbeda, ia menjadi lebih ceria saat-saat ini. Mungkin demi bayinya? Ia ingin membuang semua bebannya, untuk sesaat. Demi bayinya.

"Memasak apa?" Chanyeol menghampiri Yoongi yang tengah menggigit donatnya dan membongkar belanjaan yang di bawa Jimin. Jimin tengah duduk memainkan ponselnya.

"Kau mau? Aku akan membuat sosis bakar dengan lelehan eskrim." Yoongi berucap riang, dan Chanyeol mengernyit, membayangkan sosis dengan eskrim.

"Tidak terimakasih, aku kenyang-"

"Iya Seulgi?" Semua menoleh, Jimin tengah bangkit dari duduknya dan berjalan menjauh. Ponsel berada dikupingnya. Dan nama Seulgi yang ia panggil cukup menjelaskan siapa yang tengah berbicara dengan Jimin lewat telepon.

Chanyeol hanya diam, kembali menoleh ke Yoongi, matanya mengedip dan ikut membongkar keresek. "Telan donatmu Yoongi. Jangan di gigit seperti itu." Yoongi menggerutu.

Chanyeol tak ingin membahas Jimin, meskipun ia tahu, ini berat bagi Yoongi. Fokusnya saat ini adalah membuat Yoongi senang, bukan membuat wanita yang ia cintai itu sedih.

Melakukan hal kecil memang, tapi mereka tertawa banyak. Dari bagaimana Chanyeol begitu kaku mengiris sosis, dan hidung Yoongi yang terkena eskrim. Mereka tertawa cukup keras. Jarak mereka tak terhalang apapun. Sesekali Chanyeol akan dengan gemas merusak rambut Yoongi, membuat wanita itu memukulnya dan kembali merapikannya untuk diacak-acak lagi oleh Chanyeol.

"Bagaimana rasanya?"

"Enakkk. Kau harus mencoba. Aaaa." Chanyeol menggeleng kuat. Tak bisa membayangkan bagaimana rasa sosis dan eskrim itu. Apalagi rasa anggur. Yoongi tertawa keras.

Dan Jimin kembali ke dapur setelah beberapa menit melakukan pembicaraan hangat dengan kekasihnya lewat telepon. Tak lama. Karena Seulgi memiliki jadwal sebentar lagi. Ia melihat… bagaimana Chanyeol dan Yoongi tertawa. Ia melihat bagaimana seorang Min Yoongi tertawa keras seperti itu untuk pertama kalinya. Ia melihat bagaimana sebenarnya sosok Yoongi yang ceria dan butuh perhatian.

Dan air matanya lolos tanpa ia tahu.

Ia merusak tawa Yoongi. Ia merusak kehidupan Yoongi. Ia menghilangkan senyum Yoongi.

Park Jimin begitu jahat.

Maka ia berbalik menjauh dengan dada begitu nyeri.

Park Jimin sama sekali tak pantas untuk Min Yoongi.

Dan ia melihat Chanyeol hanya dengan melakukan hal kecil dapat membuat Yoongi tertawa hebat. Ia merasa bersalah amat bersalah. Harus merusak ikatan mereka berdua. Karena kebodohannya.

Dan satu hal yang membuatnya kembali berdetak dengan kencang, selamanya mungkin Yoongi akan membencinya, Yoongi tak akan bisa tertawa seperti itu bersamanya. Padahal ialah yang bersalah, seharusnya ia yang memperbaiki semuanya, termasuk kembali membuat Yoongi juga bisa tertawa.

Dan Jimin tak mengerti. Tak mengerti tentang dirinya.

.

.

.

berlanjut. .. ... . .. . . . . HIXTAPE IS COMINGGGGGGGGGGGG

makasih yang sudah reviewwww,,, aahh sayang kaliaaannnnn.. maaf ya kalo emg mgkn critanya tak menarik:( tp bener-2 makasih kalian mau review makasih banyaaak. yg polow jg. yg mbaca2 jg makasih.

Shin-KiNas

begitulah jadinya. otteyo? saya menikmati alur, jd lambat gpp ya?

oke, Hoseok still attacking me. bye ! thanks give me daydream in my special day !