BRING A NEW LIFE

by Park Ha Rin

CAST

Byun Baekhyun

Other cast menyusul sesuai cerita

Disclaimer :

Ff ini terinspirasi dari karya seorang animator di pivix. FF ini karya asli saya. Jika ada kesamaan alur dan adegan bukan suatu kesengajaan.

YAOI, MPREG, BXB, BIRTHSCENE, DLDR

Chap 6: Say Hi to The World, My Son

_

"Nggggh... Ummm."

Kedua tangan lentik Baekhyun semakin erat menggenggam kepala bersurai legam namja di atasnya. Meremat helai surai itu dengan kuat. Kelopak matanya terkatup rapat merasakan sensasi nikmat bibir tebal yang tengah sibuk mengulum puncak dadanya. Lidah panjang Chanyeol bergerak aktif membasahi aerolanya, menggigiti puting Baekhyun gemas. Puas dengan puting yang sudah tegang, Chanyeol melarikan lidahnya membasahi perutnya namja cantik itu sesekali memberi gigitan yang tandanya tidak akan hilang dalam beberapa hari. Tangannya juga aktif menyentuh seluruh bagian tubuh Baekhyun sensual. Kedua tangan kekarnya meraih paha Baekhyun, membukanya lebar lalu memeluknya hingga tertekan di dada. Terlihat milik Baekhyun yang mungil mulai terangsang, Chanyeol mulai menghujani daerah itu dengan kecupan-kecupan kecil.

"Nnnn. Hah.. Park~"

Desahannya lolos begitu saja, kala pria itu memberikan jilatan pelan di ujung genital mungilnya. Laki-laki itu tengah mencumbu basah batang kecilnya. Menjilat, melumuri seluruh permukaan miliknya dengan saliva hangat itu.

"Eumph.. " Baekhyun memalingkan wajah ke samping, sesekali berjengit ketika Chanyeol menggoda lubang kecil di ujung genital itu dengan lidahnya. Baekhyu menahan desahannya dengan menggigit jari tangannya. Sementara tangan besar Chanyeol sesekali mencubit dua bola kembar mungil Baekhyun dengan sensual.

"Aaaah..." Baekhyun reflek memekik dengan mata terbelalak, saat pria itu mengulum kemaluannya dan menyedotnya kuat-kuat seakan ingin menghisap habis isinya. Sontak tubuh namja mungil itu gemetar dan menggelinjang merasakan perutnya tiba-tiba menegang hebat.

"A-aah... Hen-hentikan! Aaahhh!" rintih Baekhyun merasa dirinya akan orgasme dengan permainan mulut namja rupawan itu. Chanyeol menyeringai puas di sela kulumannya. Melihat semburat merah yang melengkapi wajah pias dan berpeluh itu semakin membuatnya bergairah menghisap brutal batang tegang kecil itu.

"Keluarkan saja di mulutku, Sayang. Aku ingin merasakan manisnya." Gumam Chanyeol semakin menggila merasakan precum bening itu mulai menetes dalam mulutnya.

"Nggggh. Ti-tidak—" Baekhyun mencengkeram kuat-kuat kepala ranjang, menyadari klimaks itu semakin mendekat. Hingga ia memekik begitu saja kala dua jari Chanyeol tanpa ia sadari melesak ke dalam lubangnya, bersamaan cairan kental miliknya mulai mengalir deras di dalam mulut Chanyeol.

"Manis sekali, Sayang." Chanyeol meneguk habis cairan penuh protein itu. Dada Baekhyun bergerak naik turun memasok kebutuhan napasnya.

Belum puas melihat namja mungil itu mendapat orgasmenya, Chanyeol mengubah posisi Baekhyun berbaring miring. Kedua hazel bulatnya itu tampak menajam, menatap lekat pada rektum yang terlihat berkerut dan berkedut itu. Perlahan namun pasti, Chanyeol mulai mengecup pelan lubang sempit Baekhyun, sebelum akhirnya menyergapnya dengan cumbuan basah.

"Euumm... Ja-jangan disana." Baekhyun menggeliat, menahan desahannya dengan menggigit punggung tanggannya. Organ kenyal tak bertulang nan basah itu menggelitik kecil lubang anusnya. Tangan besar Chanyeol sesekali menepuk dan mencubit belahan bulat pantatnya. Baekhyun berusaha keras membuka matanya yang pias, detik itu pula wajahnnya memerah padam dengan jantung berdegup kerad melihat Chanyeol menjulurkan lidah dan terlihat memainkan lubangnya dengan lidah basahnya.

"Uuugh.. Hentikan! Jangan ji-jilat itu. I-itu menjijikkan." rintihnya terbata saat lidah Chanyeol makin lepas kendali bergerak menyapu dinding rektumnya. Gairah Chanyeol seakan tersulut tiap kali Baekhyun mengerang. Membuatnya semakin bernafsu menggerakkan lidahnya keluar masuk dalam lubang berkerut itu, menyisakan saliva yang telah melebur dengan cairan lubang Baekhyun. Chanyeol bangkit dari posisinya lalu bergerak cepat membebaskan miliknya dari dalam celana. Batangnya sudah amat tegang dengan sedikit cairan precum mengalir akibat mendengar suara rintihan dan desahan Baekhyun. Kini ia beralih mengangkat pinggul Baekhyun ke atas, memposisikan Baekhyun agar menungging hingga lubang merah berkerut itu terlihat jelas di hadapannya. Sementara Baekhyun hanya terengah, pandangannya masih sepenuhnya berkabut paska mendapat klimaksnya dengan wajah memerah basah.

"Aku sudah tidak bisa menahannya, B. Katakan jika ini sakit." erang Chanyeol di sisi telinga Baekhyun sambil mengulumnya. Chanyeol beralih memposisikan batang tegang sempurnanya di bibir rektum Baekhyun. Menggeseknya pelan dengan kepala kejantanannya, mendorong masuk perlahan hingga seluruhnya tenggelam di dalam sana. Menariknya lagi dengan gerakan pelan, mempersiapkan lubang Baekhyun agar melebar menyesuaikan ukurannya. Namja bertelinga peri itu merasakan lubang anal Baekhyun mencengkeram kuat miliknya. Mengulanginya beberapa lama, Chanyeol menggeram rendah merasakan sempit dan hangat yang menyelimuti kejantanannya.

"Lubangmu menelan milikku degan erat, Sayang." bisiknya sambil menjilat pemotongan leher Baekhyun. Baekhyun hanya bisa mengeratkan genggamannya pada bantal mendengar bisikan sensual itu. Menggigit bibir bawahnya agar suara desahnya tidak keluar dari rongga mulutnya.

Chanyeol mulai bergerak menghentak pinggulnya. Menambah kecepatan mengejar kenikmatan. Sebelah tangannya meraih genital Baekhyun yang sudah lemas. Merematnya, mengurutnya maju mundur seirama dengan dorongan miliknya yang makin mengeras.

"Uhm! Aaah... Ah—nnn"

"Kau menikmatinya sayang?" Bisik Chanyeol seraya menyergap nipple kanan Baekhyun, dan mencubitnya lembut. Bibir tebalnya bergerilya menyusuri punggung sempit Baekhyun. Menghujaninya dengan kecupan-kecupan lembut membuat erangan Baekhyun makin membahana.

Chanyeol menghentikan gerakannya sejenak. Membalik tubuh Baekhyun hingga berbaring menghadapnya. Mengamati wajah merah basah itu terpesona. Bibir tipis itu terbuka sedikit, mata sipitnya setengah tertutup kabut gairah dan helai anak rambut basah menutupi dahi indah Baekhyun.

"Kau sangat indah, B." Chanyeol menurunkan wajahnya, memiringkan kepalanya dan mulai menautkan bibirnya pada bibir tipis Baekhyun seraya mendorong kuat pinggulnya. Melesakkan kejantanan besar itu tanpa sisa. Bibir mungil Baekhyun terbuka, ia tak menjerit meski kedua mata itu terbelalak penuh dengan air mata. Dengan sigap Chanyeol meraih tengkuk Baekhyun, melumat lembut bibir tipis itu. Mencoba mengalihkan konsentrasi Bakhyun dari rasa sakit itu. Pinggulnya tetap bergerak konstan, menumbuk tiap sisi dinding lubang Baekhyun mencari titik kenikmatan si namja mungil. Lidahnya bergerak lincah menelusup ke dalam rongga Baekhyun, mengajak bertarung di dalam sana hingga saliva mereka mengalir di sudut bibir tipis itu.

"Nnn... Aaah! Paaaa-aark". Baekhyun mendadak menarik paksa kepalanya, membuat ciuman itu terlepas kala kepala milik Chanyeol berhasil menumbuk prostatnya. Jemari lentiknya mengerat bahu Chanyeol dengan kuat, matanya terkatup rapat merasa rasa kejut itu. Sesaat Chanyeol terdiam, takjub melihat raut nikmat di wajah cantik yang merona itu. Ia bergerak makin cepat menghentak miliknya, menyerang titik kenikmatan itu lagi dan lagi. Tak peduli dengan tubuhnya yang sudah basah karena keringat. Hingga desahan itu tak lagi bisa ditahan Baekhyun. Suaranya menggema di dalam ruangan, menyulut api gairah Chanyeol semakin membara. Tangan besarnya merengkuh tubuh mungil itu dalam pelukannya. Tubuh Baekhyun terhentak-hentak seiring dorongan dan hujaman Chanyeol. Tangannya memeluk erat punggung lebar itu merasakan ia akan sampai. Gerakan Canyeol semakin tak terkendali. Kecipak suara hentakan dua tubuh polos itu begitu nyaring.

"Aaah.. Ngggghhh." Bibir tebal Chanyeol sibuk memberi kecupan-kecupan lembut di ceruk leher jenjang itu. Mengigit sesekali di daerah tulang selangkanya. Chanyeol mengerang di tengkuk Baekhyun. Miliknya berkedut – kedut di dalam sana, siap meledak. Nafasnya memburu mengenai tengkuk Baekhyun. Mungkin sebentar lagi dia akan klimaks. Chanyeol mendesis nikmat sambil terus menusuk dalam lubang Baekhyun. Tiga kali hentakan dalam, lelehan cairan hangat yang kental masuk begitu jauh ke perut Baekhyun, begitu banyak hingga perut Baekhyun terasa penuh.

"Ssshh...Aghh!" Tubuh kekarnya masih mengejang, menikmati desiran nikmat itu saat menyentak klimaksnya dalam tubuh Baekhyun. Pandangannya sesaat berkunang, menatap tubuh mungil di dekapannya. Baekhyun juga merasakan klimaksnya. Cairan putih itu menyembur membasahi perut mereka berdua. Baekhyun masih mengatur nafasnya saat Chanyeol meraih dagunya.

"Tatap aku, Sayang." Hembusan hangat nafas Chanyeol mengalun di depan wajahnya. Perlahan Baekhyun membuka maniknya yang sayu. Chanyeol tersenyum manis hingga cekungan di pipinya terlihat.

"Terima kasih. Kau sangat luar biasa. Aku menyukaimu, B." Chanyeol mengecup bibir Baekhyun setelah itu. Mengecup kening, pelipis, kedua kelopak mata, hidung mungilnya lalu melumat sekilas bibir Cherry itu.

Perlahan ia bangkit, menarik miliknya yang masih berada di dalam tubuh Baekhyun hati-hati. Ia membaringkan tubuh lengketnya di samping Baekhyun. Tangan kekarnya menarik pinggang Baekhyun untuk mendekat, menempatkan lengannya sebagai pengganti bantal penyangga kepala Baekhyun. Dipeluknya tubuh mungil itu begitu hangat dan berbisik. "Aku menyukaimu, B. Tidurlah."

Baekhyun membuka matanya dengan nafas terengah-engah. Keringat mengalir deras melalui pelipisnya, helai cokelat basah seperti baju tidur yang ia pakai. Perlahan ia bangkit, terhenyak melihat ke arah celananya yang menggembung dan basah karena sperma. Gugup dan diselimuti rasa kalut, kepalanya menoleh ke segala arah memastikan keadaan. Dia masih di atas ranjangnya, sendirian. Di dalam flat kecilnya tanpa ada seorangpun di sana.

Dia bermimpi. Mimpi basah.

Mimpi yang terasa amat nyata. Sentuhan itu, hentakan itu, kecupan-kecupan itu.

Baekhyun merasa dirinya akan gila. Ia meremat helaian surainya frustasi, bulir bening itu mulai menetes dari pelupuk matanya.

"Kenapa? Kenapa dia muncul lagi? Kenapa aku memimpikannya lagi?" Baekhyun merutuk dalam hati.

~~~~

Tiga bulan berlalu dengan cepat. Memasuki minggu akhir kehamilannya, perut Baekhyun telah mencapai ukuran maksimal. Bayinya tumbuh dengan sehat di dalam sana, bergerak semakin aktif sesekali menendang. Membuat Baekhyun mendesis lirih merasakan sakit. Sepasang kaki jenjangnya kini membengkak dan teramat menyulitkan pergerakan Baekhyun. Tidak bisa berlari, berjalan cepat bahkan terkadang sebelah tangan Baekhyun menyandar pada dinding agar ia tidak terjatuh saat berjalan. Jangankan untuk berjalan, hanya duduk dan berbaring pun menjadi sulit untuk Baekhyun. Ia harus bergerak begitu perlahan agar bayinya tidak mendesak organ pernafasannya. Perutnya sudah sangat turun kebawah, dan ia benar-benar sudah tidak dapat berjalan jauh. Posisi kepala bayinya sudah turun ke tulang panggul, bersiap untuk menyapa dunia. Di akhir kehamilan, ia tidak memiliki selera makan yang bagus seperti biasanya dan hanya berakhir tidur di ranjang sambil menangis, mengeluh punggungnya yang sakit, kakinya bengkak atau bahkan tidur kurang nyaman akibat kehamilannya. Bahkan sejak semalam ia tidak bisa makan makanan berat sekalipun. Baekhyun mengganjal lambungnya dengan susu dan beberapa potong buah yang sudah dikupaskan Luhan. Baekhyun sudah mengajukan cuti pada Suho Hyung sejak dua minggu lalu. Jadi hari-harinya ia habiskan di flat kecilnya.

Luhan memutuskan tinggal di flat Baekhyun sejak tiga bulan lalu. Menemaninya sepanjang hari sepulang ia berkerja, hanya untuk membuat perasaan si mata sipit membaik. Bangun di tengah malam untuk memijat lembut punggung Baekhyun saat mendengar isak kesakitan lirih terdengar menyedihkan.

Meski begitu, Baekhyun masih tidak bisa menerima apa yang sudah terjadi. Memberi sugesti bahwa apa yang ia hadapi bukanlah hal nyata.

~~~~~

Seharusnya mereka sedang sibuk mengaduk adonan cookies dan bersiap memanggang sore ini. Kemarin Luhan sudah berbelanja bahan kue untuk camilan sehat Baekhyun. Sayangnya rencana itu mendadak batal karena seorang kurir mengantarkan sebuah kotak kado dengan hiasan pita emas besar tanpa nama pengirim. Juga sebuah karangan bunga mawar putih yang sangat segar dan harumnya semerbak. Kurir itu menyampaikan bahwa kirimannya khusus untuk Luhan. Mereka akhirnya membuka paket itu setelah mengucapkan terimakasih dan menutup pintu.

"Wow. Tak ku sangka namja datarmu itu orang yang romantis, Lu." ucap Baekhyun dengan nada menggoda. Luhan masih terkejut dengan hadiahnya, namun semburat merah mulai muncul di wajahnya. Paket itu berisi satu stel kemeja dan celana berwarna pastel dan jas berpotongan kasual lengkap dengan sepatu yang pas dengan ukurannya. Tak biasanya Oh Sehun bertingkah manis seperti ini, dan itu sukses membuatnya berseri. Pasti ini kejutan yang Sehun siapkan untuk hari Anniversary satu tahun hubungan mereka. Selembar notes terletak di bagian atas tumpukan pakaian itu.

Aku menunggumu besok pukul empat sore. Tunggu aku di depan flat Baekhyun. Kau harus datang. Jangan kecewakan aku.

Cintamu, Oh Sehun.

Jadi di sinilah mereka, di depan pintu flat Baekhyun dengan Luhan yang memasang raut galau dan Baekhyun yang berdiri dengan sebelah tangan menopang punggungnya.

"Aku sungguh tak bisa pergi, Baek. Aku tak bisa meninggalkanmu."

"Hei, Rusa cantik. Lihat! Aku baik-baik saja."

"Tapi aku punya firasat buruk kalau aku meninggalkanmu."

"Ayolah, Lu. Kau sudah berpakaian rapi begini. Jangan kecewakan usaha Sehun. Dia pasti menyiapkan ini dengan tulus di sela kesibukannya. Jangan posisikan aku sepeti seseorang yang merebut kekasih orang lain. Kau sudah sering memprioritaskan aku dari pada Sehun. Sekali ini saja, jangan biarkan usahanya sia-sia."

"Dia biasa mengerti, Baek. Ku rasa dia akan mengerti lagi saat ini."

Luhan tahu, dia juga tak ingin mengecewakan kekasihnya, namun meninggalkan Baekhyun seorang diri di flat saat ini bukanlah pilihan yang bisa dipilih. Berdasar perhitungannya, Baekhyun akan melahirkan dalam kurun waktu minggu ini. Bisa saja maju atau mundur dari tanggal perkiraannya. Luhan tidak bisa membayangkan kalau tiba-tiba Baekhyun merasakan kontraksi melahirkan saat ia tidak ada. Sungguh, Luhan tidak ingin hal itu terjadi.

"Terus saja begitu, Lu! Buat aku semakin merasa bersalah pada Sehun karena membuatnya merasa dicampakkan." ucap Baekhyun merajuk.

"Ya, Baek-iie!? Bukan begitu maksudku. Aku tak bisa meninggalkanmu sendiri. Mengertilah, Baek." balas Luhan sendu.

Terdengar suara klakson mobil berbunyi, pasti milik Namja albino itu. Sesaat kemudian, Sehun keluar dari mobil mewahnya dengan setelan tuxedo berwarna hitam. Menghampiri dua namja cantik yang masih berdebat.

"Aku baik-baik saja. Jadi cepat pergi! Sehun sudah menunggumu." sergah Baekhyun sambil memutar badan Luhan ke arah Sehun dan sedikit mendorongnya.

"Hmm. Hubungi aku kalau ada apa-apa. Aku akan segera pulang." Baekhyun mengangguk sebagai tanggapan.

"Kami pergi dulu, Baekhyun. Baik-baiklah di rumah." ujar Sehun sambil menggangukkan kepala.

"Nee. Tolong buat ia bahagia. Dia terlalu sering aku repotkan, Sehun. Jadi manfaatkan waktu kalian untuk bersenang-senang."

Baekhyun masih berdiri di sana sampai mereka masuk ke dalam mobil. Melambaikan tangannya saat melihat Sehun menunduk padanya sebelum menjalankan kendaraannya. Kala mobil mewah itu beranjak pergi, Baekhyun kembali ke dalam flatnya.

~~~~~~

"Sssh."

Ringisan keluar dari bibir Baekhyun saat merasakan nyeri itu datang lagi, sakit yang menyiksa bagian punggung dan perut bawahnya. Sudah sejak semalam dia merasakan sesuatu di dalam perutnya bergerak lebih aktif. Namun akan hilang setelah beberapa saat setelah ia mengusap perutnya lembut. Ia menggigit bibir bawah dan menggengam kencang selimutnya semalaman agar Luhan tidak mendengar rintihannya. Tak ingin si pemuda rusa mencemaskannya berlebihan dan berujung pada gagalnya kejutan Sehun.

Baekhyun mencengkram ujung bajunya saat lagi – lagi perutnya merasakan kontraksi untuk yang ketiga kalinya. Ia memejamkan kedua matanya saat dirasanya kontraksi di perutnya semakin menyakitkan. Saat rasa nyeri itu mulai menghilang, Baekhyun mulai melangkah tertatih ke arah ranjang. Gelombang kontraksi yang lebih besar mendera perutnya sesaat setelah ia membaringkan tubuhnya miring di atas ranjang dengan tumpukan bantal yang menopang bulatan besar perutnya.

"Ugghhhh... sakit sekali." Satu tangannya mengusap perutnya kencang kala rasa panas itu menggerogoti pinggang hingga perutnya. Berputar-putar pada area tersebut.

Baekhyun merintih. Sekarang nyeri dan sakit sepenuhnya terpusat di perut, pinggul, dan selangkangannya. Otot-otot diperutnya mengencang dan mengendur. Baekhyun bisa merasakan perutnya terus bergerak turun –membuka jalan keluar. Bayi di perutnya juga terus berputar, terkadang menendang tulang rusuknya.

Baekhyun sedang mondar mandir di dalam rumah ketika matahari terbenam. Sudah dua jam ia merasakan nyeri itu. Alih-alih membaik, rasanya semakin sakit. Ia menggeleng pelan dan berjalan menuju dapur, mengambil minum dengan nafas terengah-engah. Ia merintih lagi, memegangi perutnya, keringat sebesar biji jagung mengalir deras keluar dari dahinya. Bajunya sudah basah oleh peluh. Ia menarik nafas dan membuangnya cepat. Baekhyun dapat merasakan sesuatu menekan ke bawah selangkangannya. Membuatnya tidak nyaman untuk duduk atau pun berbaring.

"Uggghh... Ssssstttt." desis bibir tipisnya ketika kontraksi kembali menghantam perut besarnya. Kedua tangannya mencengkram erat meja dapur, melampiaskan rasa sakit yang ia rasakan. Ia berdiri dengan kedua lutut yang gemetar.

"Arrrgggghhhh... Sakit sekali.. Aakkhh... " jerit Baekhyun ketika kontraksinya semakin terasa sakit. Butiran keringat yang mengalir membasahi tubuh dan wajahnya yang sudah kusut. Dia baru saja selesai menyuapkan potongan buah ke dalam mulutnya untuk mengisi energinya yang mulai terkuras secara bertahap. Baekhyun menggunakan satu tangannya untuk mengusap-usap punggungnya. Sedikit demi sedikit Baekhyun dapat merasa lubangnya berkedut terbuka lebih lebar seiring bayinya yang terus mendorong ke arah bawah.

Malam merambat cepat. Jarum panjang dan pendek di jam dindingnya menunjukkan waktu pukul sepuluh malam. Luhan belum juga kembali. Baekhyun kini terbaring lemas di atas ranjangnya. Setelah melahap sebuah apel dengan susah payah, ia berjalan tertatih kembali ke ranjang sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding. Sebelah tangannya membawa beberapa buah dan botol air minum yang ia letakkan di nakas sebelah ranjang. Berjaga-jaga jika ia mulai kehausan atau kehilangan energi. Bagian bawah pusarnya terasa keras dan berdenyut-denyut saat ia sentuh, kepala bayinya sudah merangkak turun karena dorongan dinding rahim yang mengencang. Bibirnya terus merintih. Rasa sakit menenggelamkan separuh dari kesadarannya. Sesekali Baekhyun terlelap sebentar namun akan segera sadar saat nyeri itu kembali menyentaknya. Berkali-kali pula ia mengubah posisi, mulai dari meringkuk, hingga duduk menyandar pada kepala ranjang. Ia meremas kaos tidur yang ia pakai, keringat sudah membasahi seluruh bajunya. Di dudukkannya diri di atas ranjang dan mulai mengatur napas dengan pelan-pelan. Rasa sakit memang sudah ia rasakan sejak tadi sekarang menjadi-jadi tepat di pusatnya.

"Unghhh," bahkan air matanya ikut menetes. Baekhyun melenguh lirih. Semakin kuat intensitas kontraksi yang dirasakannya, semakin lama pula masa kontraksi tersebut berlangsung, namun ketika kontraksi tersebut mereda, interval kembalinya kontraksi semakin singkat. Jika pada kontraksi yang dirasakan sore tadi, ia dapat beristirahat selama hampir 40 menit, maka sekarang kontraksinya hanya menghilang selama kurang dari 20 menit. Dan setelah itu, kontraksi yang lebih kuat akan menghantam perutnya.

"Aaaaaghhh. Hiks…. Ngggghh…." Rintihan Baekhyun memenuhi flatnya.

"Uuugh... hah... hah.. " Desah nafas Baekhyun semakin berat. Otot di sekitar perutnya semakin mengencang. Hembusan nafasnya semakin memberat. Baekhyun mengerang tertahan. Wajahnya memucat hingga seluruh bibirnya memutih sempurna seperti orang mati. Peluh sudah membanjiri tubuh rampingnya bahkan ke akar-akar rambut coklat Baekhyun sekalipun, membuat surainya kusut masai. Sprei putih pelapis kasur ranjangnya telah kusam dan lecek karena dicengkram oleh Baekhyun kuat-kuat. Kontraksi itu datang lagi, cukup lama hingga rembesan air keruh mulai mengalir membasahi celana dan menembus sprei kasurnya. Air itu adalah air ketuban yang bercampur sedikit darah. Rengekan dan isakan keluar dari bibir tipis Baekhyun.

"Sa... kiit.." keluh Baekhyun sambil meringis. Bulir air mata mulai mengalir menjadi sungai di pipinya. Daerah kemaluannya terasa panas membakar, seolah akan robek dan terbelah. Baekhyun bisa merasakan lubang rektumnya semakin melebar. Tapi belum cukup lebar untuk mengeluarkan sesuatu dari perutnya. Baekhyun mengusap perut dengan gerakan memutar. Kulit perutnya bergerak –dan berdenyut. Dia tidak bisa mengelak lagi, membohongi diri dari kenyataan bahwa saat ini dia harus segera melahirkan.

Perlahan ia bangkit. Mendorong lepas celana dan dalamannya yang telah basah. Rasa mulas terkordinir, kuat, cepat dan lebih lama, kira-kira 2-3 menit sekali. Kepala janin turun masuk ruang panggul sehingga terjadilah tekanan pada otot-otot dasar panggul yang secara reflek menimbulkan rasa mengedan. Baekhyun merasa seperti mau buang air besar, dengan tanda anus terbuka. Namun ini terasa jauh lebih sakit. Ia membaringkan dirinya dengan posisi setengah duduk bersandar pada kepala ranjang. Sesekali meratap dengan suara lirih.

"Kenapa.. hiks... Kenapa ini terjadi padaku?" sungut Baekhyun. Ia tak menyangka bahwa dosa satu malam membuat ia menanggung kesakitan seperti ini. Dan satu hal yang tidak dapat ia mengerti, mengapa ia harus melalui ini sendirian.

"Arrrggh!!" Baekhyun refleks meremas kepala ranjang saat satu kontraksi hebat menghantam tubuhnya. Secara naluriah, ia refleks melipat dan melebarkan kedua kakinya untuk memberi jalan. Ujung jemari kakinya mencengkeram seprei yang sudah kusut. Tanpa bimbingan, tubuhnya seolah bekerja secara otomatis. Dinding rahimnya mengencang, menggiring bayi itu turun melalui leher rahim. Baekhyun menarik nafas dalam, tubuhnya seolah memberi perintah untuk mengejan, dan mendorong bayi itu keluar.

"Nggghhh!!" Baekhyun mengejan sekuat tenaga. Ia ingin bayi itu segera keluar dari tubuhnya. Dan semuanya akan selesai. Ia mendorong lebih kuat saat kontraksi lainnya datang. Namun ujung kepala bayi itu berhenti tepat di lubang analnya. Terhenti disana dan tak bisa keluar. Hanya lendir, sedikit darah dan air ketuban merembes keluar dari jalur lahir yang dipaksa melebar itu.

Baekhyun menarik nafas panjang kala kontraksinya mereda dan mengedan lagi saat perutnya mengencang.

"Nnnngggggghh…. Uuuuuughhhh…" ia mengejan sekuat tenaga, sepenuh hati, matanya terpejam dengan bibir mengatup rapat. Dari pucat, kini wajahnya memerah.

Baekhyun mengulanginya hingga beberapa kali. Tidak terjadi apa-apa, bayi itu tidak bergerak. Seperti tersangkut di tengah tulang pinggulnya.

"Nggggggghhh... Hah… Hah… Uhh…." Baekhyun mengejan sampai seluruh tubuhnya gemetar. Sayangnya, bayi masih enggan untuk meluncur seutuhnya.

Baekhyun menarik nafas. Ia mencoba sekali lagi. Tapi itu yang terakhir, karena bayi itu tetap tidak bergerak. Namja mungil itu benar-benar menangis sekarang, kepalanya jatuh terkulai dan tubuhnya merosot ke bawah. Ia sudah terlalu lelah –dan putus asa. Ia sudah tidak kuat lagi. Baekhyun bahkan tidak bisa merasakan bagian bawah tubuhnya lagi. Entah itu karena tubuhnya yang benar-benar sudah mati rasa atau karena rasa sakit yang terlalu melewati batas.

Ia berhenti sejenak mengistirahatkan tubuhnya, melewatkan beberapa kontraksi tanpa mengejan untuk mengumpulkan tenaganya. Baekhyun mencoba mengatur nafasnya, ia mengangkat kepalanya. Ia mulai mendorong sambil meremat bantal di bawah kepalanya.

"Urghhh…. Ngggggggggghhhhh…."

Tonjolan kecil mulai muncul di lubangnya. Pada kontraksi berikutnya ia kembali berusaha mengejan, dan ia dapat merasakan sensasi seolah terbakar di ujung selatannya, diameter terlebar kepala bayinya mulai keluar perlahan. Hanya tinggal sedikit lagi.

"Aaarrrgggghhh!!" Kepala bayinya akhirnya keluar, meluncur dengan tetesan air ketuban dan darah. Kepala Baekhyun terkulai lagi. Ia memejamkan matanya yang terasa makin memberat. Ia terkapar tak berdaya, lemas, tubuhnya kuyup oleh peluh. Rambutnya lepek dan dari mulutnya terdengar rintihan kecil. Dadanya naik turun mengisi paru-parunya yang butuh oksigen. Di bawah sana, Baekhyun dapat merasakan sesuatu mengganjal di antara dua pahanya. Dan bagian lainnya masih belum keluar.

Pandangannya hampir sepenuhnya mengabur. Namja manis itu benar-benar ingin merasakan pingsan barang sedetik saja. Karena rasa sakitnya hampir-hampir membuat Baekhyun sekarat dan merasakan sakit seperti semua tulang rusuknya dipatahkan secara bersamaan.

Lakukan Baekhyun! Ini akan segera berakhir. Kau bisa hidup normal lagi setelah ini. Kau bisa melakukannya.

Bisikan dari sisi logika menggema di ruang kepalanya. Memasok tenaga baru Baekhyun untuk kembali mengejan.

"Uuuuugh.. Hah. Hah. Uuuuuuuugh." Tiga kali dorongan kuat darinya berhasil mengeluarkan bagian tersulit, bahu bayinya. Dan satu dorongan terakhir, akhirnya bayi mungil itu keluar disertai air ketuban dan darah yang tersisa. Baekhyun terkapar tak berdaya, ia lemas karena energinya telah terkuras.

"Berakhir. Akhirnya berakhir." bisiknya lirih. Baekhyun menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Mengatur nafasnya yang terengah-engah.

Hening sejenak hingga suara tangisan kecil itu menggema di dalam flatnya. Baekhyun melebarkan matanya tak percaya saat indera pendengarannya menangkap suara asing itu. Perlahan ia bangkit, mengubah posisi terduduk dengan dua lengan rampingnya menopang separuh tubuh.

"Uummm." Baekhyun meringis saat merasakan sakit yang tersisa dari lubang analnya.

Tangis itu semakin keras. Sesosok bayi berjenis kelamin laki-laki itu menggeliat tepat di antara pahanya, masih basah dengan air ketuban dan beberapa bercak darah menempel di tubuhnya. JemariJemari kecil itu bergerak-gerak seperti ingin meraih sesuatu.

"Ke-kenapa? A-a-aku tidak mengerti." Baekhyun meremat helai rambutnya yang kusut masai, masih mencoba mencerna apa yang ia lihat di hadapannya.

Bahwa yang tumbuh di dalam tubuhnya adalah sebuah kehidupan.

Bahwa yang ia kandung selama ini adalah sebuah nyawa manusia tak berdosa.

Seorang bayi tumbuh sehat di dalam rahimnya, di dalam tubuhnya yang penuh dosa.

Meski ia berusaha menyangkalnya.

Meski ia tidak menganggapnya ada.

Tetapi Tuhan begitu berbaik hati pada bayinya, membiarkan ia tumbuh dengan sempurna hingga ia dilahirkan.

"Ba-bagaimana ini? A-apa yang harus aku lakukan?"

Baekhyun duduk bersimpuh dengan kedua tangannya menutup bibir. Tubuhnya bergetar dan air matanya tidak berhenti mengalir, terisak hebat.

Perlahan jemari tangan kanannya mengarah ke tubuh mungil itu. Menyentuh lembut tali pusar yang masih menempel di tubuhnya. Sorot manik hazel Baekhyun menelusuri tali pusar itu menyusuri ujungnya. Dan itu berujung di bagian bawah tubuhnya. Baekhyun meraba lembut perut buncitnya yang sudah tidak terlalu keras. Bulir-bulir air mata itu mengalir lagi.

"Di-dia tumbuh disini. Hiks... Dia tumbuh di dalam perut ku... Ja-di di-dia bayiku. Hiks.. Milikku." Matanya kembali ke arah bayinya yang masih menangis.

Perlahan dua tangan bergetarnya merengkuh tubuh mungil itu. Mendekapnya hangat dan membaringkannya di dada.

"M-maafkan Eomma, Sayang. Maafkan aku." bisiknya lirih. Namun bayinya masih menangis kencang membuatnya gelisah.

Baekhyun menyamankan posisi duduknya dengan bersandar pada kepala ranjang. Ragu-ragu disingkapnya kaos besar basah yang ia pakai hingga dadanya terlihat. Dengan sedikit gugup, ia menangkupkan putra kecilnya pada dadanya. Tidak yakin dengan pemikirannya jika ia bisa menyusui. Tak berapa lama dapat ia lihat refleks sang putra yang berusaha mencari putingnya. Dan begitu menemukannya, Baekhyun bisa melihat mulut kecil itu menyedot kuat keluar cairan putih kental dari tonjolan mungil itu. Baekhyun tersenyum haru. Tak menyangka jika dia bisa mendapat keajaiban ini dalam hidupnya. Tangannya meraih sebuah selimut yang ada di sisi ranjang. Melingkarkan kain itu ke tubuh bayi mungilnya agar tidak kedinginan.

"Eomma akan menyayangimu, Nak. Eomma akan menjagamu." bisiknya di telinga manusia mungil itu.

Aku akan membahagiakanmu. Maafkan Eomma yang sempat tidak menerima kehadiranmu.

~~~~~~

Luhan kembali dengan langkah terburu. Jemarinya bergerak cepat mencari kunci cadangan flat Baekhyun di dalam kantong tas yang ia bawa.

Ia bergegas pulang setelah prosesi lamaran Sehun di sebuah restoran eksklusif selesai. Mereka sempat menonton drama musikal sebelumnya. Itu benar-benar membuat Luhan terharu atas usaha dan upaya kekasihnya, takjub dan tidak percaya jika kekasihnya benar-benar tulus mencintainya hingga mengajaknya menikah. Namun perasaan dan firasat yang semakin memburuk membuatnya meminta Sehun untuk mengantarnya pulang dengan segera. Beruntung Oh Sehun mengerti dan bersedia mengantarnya pulang. Dalam perjalanan, ia tak berhenti mengigiti kukunya untuk mengalihkan kegelisahan yang kian menumpuk. Ia menelepon Baekhyun berulang-ulang namun tak satupun panggilannya terangkat. Luhan bahkan berkali-kali meminta Sehun untuk menambah kecepatan kendaraannya agar mereka segera sampai.

Luhan segera memutar kunci dan membuka pintu. Ia bergerak cepat masuk ke dalam flat dan tercengang dengan penglihatannya sendiri. Disana, Baekhyun terduduk di atas ranjangnya dengan bagian bawahnya terekspos, di sekitar pahanya terlihat bercak darah yang menempel. Ranjang yang basah karena cairan lengket dan apa yang ada di dalam pelukan Baekhyun itu?

"Baek.. Baekhyun. A-apa yang terjadi?" suaranya masih tercekat.

Baekhyun menolehkan wajahnya dengan tatapan haru. Wajahnya masih basah karena peluh dan jejak air mata. Luhan membawa langkahnya mendekat perlahan.

"Hiks. Dia bayiku, Lu. A-aku melahirkannya." jawab Baekhyun disela isakan.

"Ya Tuhan, Baek. Kita harus segera membawamu ke rumah sakit." Luhan beranjak keluar flat, memanggil kekasihnya yang masih menunggu di luar. Ia memang berpesan pada Sehun untuk menunggu sesaat, mengantisipasi jika terjadi sesuatu.

Sehun segera menyusul Luhan masuk ke dalam flat. Menggendong tubuh ringkih Baekhyun yang sudah ia bungkus selimut futton di depan dadanya. Ia berjalan cepat dan mendudukkan Baekhyun di kursi belakang mobilnya ditemani Luhan.

Beruntung jarak rumah sakit dari flat Baekhyun tidak terlalu jauh. Kondisi jalan raya lengang saat dini hari membuat Sehun tak ragu menambah kecepatan tunggangannya.

Baekhyun segera dibaringkan di atas brankar sesaat mereka sampai. Beberapa petugas medis segera membawa Baekhyun ke dalam ruang Instalasi UGD untuk penanganan lebih lanjut. Luhan dan Sehun hanya dapat menunggu cemas di depan ruang UGD menantikan kabar mereka.

Beberapa suster dan seorang dokter bergerak cepat mengobservasi keadaan Baekhyun di dalam ruang UGD. Sang dokter memeriksa kondisi jalur lahir Baekhyun dan menyadari bahwa plasentanya belum dilahirkan. Tangannya bergerak luwes memasang japit dan memotong tali pusar bayi Baekhyun yang masih terhubung dengan namja mungil itu. Seorang suster hampir meraih bayi Baekhyun untuk memeriksa kondisi kesehatan bayi, mendeteksi kemungkinan komplikasi kelahiran dan mencatat data fisik bayi. Baekhyun menyentak tangan suster itu. Tidak memperbolehkan siapapun mengambil bayinya.

"Tid-tidak, jangan ambil bayiku. A-a-aku yang melahirkannya. Dia milikku." ucapnya bergetar. Tubuhnya masih sangat lemas setelah proses melahirkan tadi.

"Tenangkan diri Anda, Tuan. Kami harus memeriksa kondisi bayi Anda untuk menghindari hal yang tidak diinginkan." jelas dokter wanita muda bername tag Park Shin Hye dengan suara menenangkan. Baekhyun menatapnya dengan sorot tak percaya.

"Kami akan membawanya pada Anda setelah ia dibersihkan dan diukur tinggi dan berat badannya." yakin dokter itu dengan senyum menawan. Baekhyun beringsut tak rela memberikan bayinya ke seorang suster yang bersiap di samping brankar.

"Baiklah, sekarang Anda harus mengejan sekali lagi. Plasenta bayinya harus segera dikeluarkan demi kebaikan Anda."

Baekhyun mengangguk tanda ia mengerti. Mengejan sebentar dan gumpalan daging penuh pembuluh darah itu keluar dari lubangnya. Dokter Park bergerak cekatan membersihkan sisa darah dan cairan yang mengotori tubuh bawah Baekhyun.

"Kami akan memindahkan Anda ke ruang perawatan, dan Anda bisa menemui bayi Anda disana."

~~~~~~

"Dia sangat mirip denganmu, Baek." ujar Luhan, sorot matanya penuh rasa kagum.

Mereka sedang di ruang perawatan sekarang, dengan Baekhyun yang sedang duduk mendekap bayinya dengan penuh kasih sayang. Seorang perawat tadi mengantarkan bayinya yang telah dibersihkan. Bayi mungil itu dibebat kain biru bermotif lucu. Bayinya masih terjaga, namun tidak menangis. Sebelah tangan Baekhyun terhubung dengan jarum infus. Menyalurkan nutrisi ke tubuh lemasnya agar tenaganya kembali pulih. Meski masih lemas, Baekhyun tidak dapat menyembunyikan aura kebahagiaan yang menguar dari wajahnya. Belahan merah alaminya tidak berhenti menyunggingkan senyum sejak tadi. Apa yang diucapkan Luhan memang benar. Bayinya terlihat 90% serupa dengan Baekhyun. Kulit bayinya masih merah pertanda kelak akan menjadi warna putih susu, sangat halus. Hidungnya mungil dengan bibir tipis menurunkan gennya dengan baik. Seolah ingin menunjukkan pada dunia bahwa ia benar-benar darah daging seorang Byun Baekhyun. Pipinya yang bulat menggembung dengan rona merah lembut nampak begitu lucu. Matanya saja yang berbeda. Begitu bulat dengan iris yang besar seperti boneka, gen ayahnya.

"Hmm." Baekhyun mengangguk, sesekali mengecup pipi bulat bayinya penuh kasih. Manik bulat kecil itu seolah menenggelamkan Baekhyun ke dalam pusaran lubang keindahan.

"Kau sudah memikirkan nama untuknya?" tanya Sehun yang muncul dari balik pintu setelah menyelesaikan administrasi.

"Iya. Namanya Byun Jiwon. Kesempurnaan dan kebijaksanaan yang membawa kebaikan. Kita bisa memanggilnya Jiwon atau Wonnie." balas Baekhyun sambil mengalihkan pandangannya ke arah Sehun.

"Dia sangat menakjubkan, Baek. Kau beruntung memilikinya." ujar Sehun setelah sampai di sisi brankar sembari merengkuh pinggang tunangannya.

"Nee. Dan selamat untuk kalian juga. Aku ikut berbahagia."

Luhan menunduk malu, menyembunyikan rona dan telinganya yang memanas. Baekhyun tidak buta untuk melihat rona bahagia di wajah Luhan saat ia dipindahkan ke ruang perawatan. Saat ia melihat sebuah cincin paladium dengan berlian kecil melingkar di jari manis sahabatnya, ia bisa menebak sumber kebahagiaan Si namja rusa. Baekhyun ikut bahagia dengan kabar baik itu.

"Terimakasih, Baekhyun. Ini juga berkat bantuanmu. Kalau kau tidak memaksanya berangkat, mungkin aku akan terpuruk karena ditolak." ucap Sehun dengan senyum ramah di wajahnya.

"Tapi gara-gara itu kau harus merasakan sakit sendirian, Baek. Aku sangat menyesal. Maafkan kami ya? ucap Luhan masih merasa bersalah.

"Hei, sudahlah. Semua sudah terjadi. Dan kita mendapatkan dua kebahagiaan sekaligus sekarang." Suara lembut Baekhyun mengalir menenangkan.

"Hmm. Bolehkah aku menggendongnya, Baek? Kau harus segera istirahat. Agar bisa cepat membawa Jiwon pulang." Sehun membuka dua lengannya dan menggendong penuh kehati-hatian saat bayi kecil itu dipindahkan ke pelukannya. Luhan membantu Baekhyun berbaring perlahan.

"Halo, Wonnie. Ini paman Sehun yang tampan. Jadilah anak yang baik dan penurut ya?" ucap Sehun memperkenalkan diri.

Luhan dan Baekhyun hanya bisa terkikik sambil menggelengkan kepala mendengar perkenalan yang sarat kenarsisan itu.

~~~~~~

Jiwon tumbuh menjadi balita yang sangat menggemaskan. Ia anak yang ceria dan senang tersenyum. Jiwon tumbuh dengan kasih sayang yang penuh dari orang-orang sekitarnya. Dari Luhan dan Sehun, dari Suho, dan karyawan caffe. Juga dari keluarga Ahn ahjumma bahkan sudah menganggap Jiwon seperti cucu mereka sendiri. Mereka tak segan membelikan banyak mainan dan baju-baju lucu untuk dipakai Jiwon, membuat Baekhyun terkadang tidak enak hati.

Baekhyun kembali bekerja di Caffe saat usia Jiwon sudah agak besar dan bisa di ajak pergi keluar rumah. Baekhyun memutuskan hanya bekerja di Caffe supaya ia tetap mengawasi tumbuh kembang bayinya. Terkadang Baekhyun menitipkannya pada Ahn Ahjumma atau Luhan saat sang namja bermata rusa itu mendapat jadwal libur. Atau kalau sangat terpaksa, ia membawa Jiwon ke Caffe saat keluarga Ahn ahjumma pergi ke rumah kerabat. Sehingga Jiwon menjadi sangat populer di antara para karyawan. Tak jarang ia menjadi rebutan para karyawan yeoja di Caffe.

Umur Jiwon memasuki delapan bulan dan ia mulai belajar mengoceh. Baekhyun begitu bersyukur dan bahagia melihat perkembangan pesat bayinya. Ia sering mengajaknya bicara dan menanggapi racauan si kecil dengan penuh sayang.

Baekhyun sedang pergi berjalan-jalan di satu pusat perbelanjaan dengan Jiwon di dalam gendongannya. Rencananya Baekhyun ingin membelikan mainan edukatif baru untuk Jiwon. Ia terus melangkah sambil melihat beberapa barang atau pakaian yang terpajang di etalase toko yang terbuat dari kaca bening. Sesekali terkekeh mengamati binar putra mungilnya yang menunjuk-nunjuk sesuatu yang menarik perhatiannya.

Rombongan beberapa orang datang dari arah sebaliknya. Dilihat dari setelan jas dan pakaian rapi yang mereka kenakan dapat diduga mereka adalah orang-orang penting pemilik mall yang sedang melakukan supervisi rutin. Salah satu diantaranya kumpulan orang tersebut adalah seorang namja tampan berperawakan tinggi dengan aura dingin. Langkahnya terhenti saat melihat siluet tubuh mungil itu. Memandang lekat wajah cantik yang berhias senyum tulus yang berjarak makin dekat seiring langkahnya. Ia memutar tubuhnya tanpa sadar mengikuti pergerakan namja cantik itu. Postur yang sangat ia hafal dan ia rindukan selama ini, yang ia cari dengan segala upaya untuk menemukannya. Sesosok pemuda-- atau pria yang tak bisa ia hapus dari ingatannya meski waktu berlalu. Yang tak terduga telah membawa hatinya pergi, tengah berjalan dengan santai dengan seorang bayi di gendongannya.

"B.." lirihnya dengan nafas tercekat.

FIN

Oke.. sampai disini ya. Makasih atas apresiasinya selama 7 chap ini. Walau udah abis tetep lho saya pengen tahu tanggapannya. Jadi tolong tinggalin di kotak komentar ya. Udah saya kasih bonus naena yang kepotong di chap kemarin lho. Ini 5k lebih lho. Kalau masih kurang panjang tambahin sendiri ya. hehehe.

Bisa kasih saran gimana entar mami ketemu Papi lagi? Sambil menunggu versi Papih Chan rilis, saya bakal seneng bgt lho kalau ada usulan yang masuk.

Kalau pengen tahu visualisasi proses lahirannya kalian bisa searching2 di Google pake alamat ini

daamlac(titik)wordpress(titik)com

Itu tulisan dalam kurung diganti pake tanda titik ya.

Blognya pake bahasa Vietnam kalau ga salah. Saya buka pake Google chrome, jadi bisa diterjemahkan ke Bahasa. Ada manga versi bahasa Inggrisnya juga.

Kalau masih susah, searching-nya di Google bagian picture aja.