#7 Hello / Goodbye
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi. Standar warning sadjah.
Pair: Akafem!Furi
Hydne—13 April 2015
Love has come, but you say you're leaving—Hyolyn
Kouri segera berlari, mencari ruangan yang tadi dikatakan orang rumah sakit.
Tepat setelah dirinya menutup telepon, Akashi mengalami kecelakaan beruntun. Kouri merasa ini salahnya menelepon Akashi saat sedang mengemudi.
Tapi di dalam hatinya entah kenapa juga tidak mau kehilangan Akashi.
"Dimana dia?! Bukannya kau bilang dia di sini?!" Kouri histeris saat tidak menemukan Akashi di bilik emergency room yang dimaksud perawat yang meneleponnya.
"Nona, tolong jangan berteriak di sini. Nona katakan siapa yang anda cari dan..." perkataan perawat itu tidak selesai karena Kouri membentak perawat (malang) itu
"Dimana Akashi Seijuuro yang mengalami kecelakaan beruntun?! Dan jangan mencoba memerintahkanku untuk melakukan apapun!"
Dan dirinya di titik ini terdengar seperti Akashi jika lelaki itu sedang keras kepala. Lalu perasaannya semakin tidak enak saat semakin memikirkan Akashi.
Seolah dirinya merasa Akashi tidak akan bertahan sampai dipenghujung hari ini.
"Akashi Seijuuro berada di ruag operasi. Kecelakaan yang dialaminya sangat parah dan kami tidak yakin jika dia akan selamat," perkataan perawat itu membuat Kouki menatap tajam perawat itu hingga pucat pasi.
"Jangan mengatakan dia akan mati semudah itu jika kau tidak mengenalnya samasekali."
Kouri berjalan dengan lunglai menuju ruang operasi yang ada di emergency room itu. di sana dirinya bisa melihat beberapa orang menangis histeris karena orang yang berada di ruangan operasi tidak selamat. Kouri tidak mau seperti mereka, karena dirinya yakin Akashi itu kuat dan pasti bisa selamat. Bukannya dia bisa melakukan apa saja selama dia mau?
"Permisi, apa anda Furihata Kouri?" seorang perawat menghampirinya dan mmbuat Kouki yang entah sejak kapan sudah duduk dan menundukkan kepalanya, mengangkat kepalanya.
"Ya, ada apa?"
"Tadi sebelum Akashi-san masuk ruang operasi, saya dipaksa untuk menerima ini dan menyerahkannya pada anda. Saya berharap semoga Akashi-san bisa selamat."
"Terima kasih."
Kouri menatap smartphone yang ada di genggamannya sekarang. Retak dan tergores sana-sini. Entah masih bisa menyala apa tidak jika dinyalakan.
Dan ternyata bisa. Meskipun tampak luarnya sudah tidak bisa diharapkan samasekali, namun semuanya masih berjalan baik-baik saja. Menyeritkan kening saat ada sebuah note yang menyuruhnya untuk membuka rekaman.
"Kouri..." suara berat dan terputus-putus terdengar yang membuat Kouri merinding. Dan entah kenapa pandangannya menjadi buram. "Sepertinya kita tidak bisa pergi makan siang bersama."
Bodoh! Yang terpenting kau selamat saja dan aku akan menuruti maumu jika tetap hidup.
"... dan sepertinya aku tidak bisa pergi bersamamu untuk selanjutnya." Jeda yang lumayan panjang dan hanya suara terengah-engah disertai keributan disekitar bisa Kouri dengar. Tanpa sadar air matanya mengalir, menangis tanpa suara dan tidak ada niat untuk menghentikannya samasekali.
Karena Kouri sangat memahami dirinya sendiri, sekali menangis maka air matanya terus mengalir meskipun dirinya menangis tanpa suara.
"Sepertinya aku harus mengatakan ini sebelum aku tidak sempat mengatakannya padamu," suara batuk itu membuat Kouri ingin segera menerobos ruang operasi dan memastikan dengan mata kepala sendiri jika Akashi baik-baik saja.
Karena rekaman ini seperti pesan terakhir.
"... sebenarnya aku mulai mencintaimu dan alasan satu bulan itu hanya kebohonganku. Aku hanya ingin bersamamu saja. Maafkan aku Kou..." suara batuk itu semakin keras sebelum pada akhirnya rekaman itu terhenti. Kouri pikir itu rusak dan mencoba mencari rekaman yang baru, tapi tidak ada yang lainnya.
Pintu ruang operasi dibuka dan Kouri segera menghampiri dokter yang menangani Akashi. Lelaki bersurai hijau itu hanya menggeleng dan menepuk pundaknya dan membuat Kouri histeris. Menulikan telinganya dengan perkataan Midorima tentang Akashi sudah berusaha berjuang untuk hidup, Kouri memaksa untuk masuk dan melihat tetapi tidak diizinkan oleh Midorima.
Kouri tidak peduli jika Midorima mengatakan jika itu permintaan Akashi untuk tidak mengizinkannya untuk melihat Akashi jika meninggal, karena Kouri belum mengatakannya.
Orang meninggal biasanya masih bisa mendengarkan apa yang orang-orang didekatnya katakan.
"Akashi, bodoh! Kenapa kau tidak keras kepala untuk bertahan hidup?! Kenapa kau tidak mengatakannya padaku lebih cepat!" teriak Kouri yang masih Midorima tahan untuk tidak memasuki ruang operasi sementara perawat serta dokter lainnya sedang mempersiapkan Akashi untuk pindah ke kamar mayat.
"Aku juga mencintaimu bodoh! Aku tidak bisa mengatakannya karena sejak awal kita menyetujui kontrak bodoh itu! Jangan tinggalkan aku saat kau bahkan belum mengatakan perasaanmu secara langsung!"
Midorima mencoba menenangkan Kouri dan membawanya menjauh dari ruangan operasi, sementara Kouri merancau tidak jelas. Air mata perempuan itu tidak bisa berhenti yang membuat Midorima merasa sakit melihatnya.
Seandainya dirinya bisa menolong untuk menyelamatkan nyawa Akashi. Seandainya ini hanya akting saja dan bukan kenyataan, dirinya tidak perlu melihat tunangan sahabatnya itu histeris karena terguncang mendapatkan berita ini.
Meskipun begitu, ada banyak perandaian dikepala orang-orang yang tidak semuanya bisa diwujudkan sekeras apapun kita menginginkannya.
Niatnya sambungan chapter sebelumnya biar hepi ending gitu kan, tapi malah... *salah putar lagu lagi*
