Don't Like, Don't Read

Warning: cerita didominasi oleh konten Boys Love a.k.a Yaoi, OOC demi keperluan cerita, miss typo, no sensor. Cross Over. Alur nge-slow~. Penggunaan bahasa Gue-Elo pada beberapa scene.

Pairing: AkaKuro, MuraHimu, MidoTaka, AoKise. Random pair. Slight! Nijiimu, Bro!KaruAka (maybe). Request dipertimbangkan.

Note: Teikou di sini adalah nama SMA. Akashi di cerita ini adalah Ore-shi, switch ke boku-shi disesuaikan jalan cerita. Slight character dari fandom lain (beberapa berperan penting tapi tidak semua). Tokoh utama tetap para karakter KnB dan jalan cerita fokus pada karakter mereka.

Summary: Hanyalah hidup yang kujalani di bawah langit ini. Inilah kisah yang kupilih bersama warna-warninya. Tawa dan tangis. Bukankah tak ada artinya bila sendirian?—/"Pokoknya aku mau Akashi-kun tanggung jawab."/ "Mereka nge-drama banget sumpah. Aku jadi pengen pop-corn nih."/ "Heh, lama tidak bertemu."/—/RnR/CrossOver/Gintama/Ass. Classroom/Yaoi/AkaKuro(main pair)


.

Sabtu pagi yang cerah. Gym utama Teikou dipenuhi oleh orang-orang yang menegup ludah pahit sambil wasweswos panik, tepuk-tepuk pantat sendiri—pastikan jimat sakti Made by Midorima di kantong. Mawas diri untuk perlindungan utama cegah serangan jantung massal. Pasalnya, di tengah latihan basket yang (harusnya) damai ini terdapat kemungkinan bencana skala dragon karena sebuah insiden yang tidak valid dengan sinkronisasi dan imajinasi mereka pun sama sekali tidak memberi servis terhadap sebuah realita absurd di sebuah sudut gym.

Akashi mojok berdua dengan Kuroko. Anteng.

Hening yang diisi decit sepatu dan pantulan bola jadi mencekam. Pasalnya dua siluman hanya diam sambil duduk bersisian. Jarak pantat lima senti kiri kanan tanpa ada gelagat adu lembing.

Sunyi.

Terlalu sunyi sampai anggota lainnya merasakan cakra hitam menggerogot tubuh. Merinding badai akan udara dingin yang menguar. Kalau ini fandom siluman-rubah-ekor-sembilan, anggota basket sudah menggelepar mengais nyawa.

Padahal dua chibi itu hanya duduk diam.

Justru itu yang bikin horor.

Kuroko melamun—menyebabkan parameter eksitensinya turun menjadi minus, beberapa orang bahkan sempat mengucek mata karena Kuroko downgrade power—sampai lebih ghaib dari hantu. Akashi sendiri berpose nestapa menyesali hidup. Seakan dia (sadar telah banyak) melakukan dosa besar sampai masuk neraka jahanam (trio AoKiseKaga menistai dalam hati, sisanya meng-amini).

Sunyi itu terbelah oleh suara desah berat Kuroko. Tangan meremas botol di kedua tangan erat. Seperti ingin meluapkan sesuatu yang bercokol di relung jiwa. Seperti membuang hajat setelah lima hari sembelit.

Bisik-bisik berfrekuensi hantu pun mengalun dari bibir scarlet dan bluenette—yang harusnya pembicaraan ini levelnya rahasia negara. Sayangnya, para anggota lain kepalang penasaran sedari tadi ikut menajamkan telinga sambil curi-curi lirik pada keduanya. Saat Kuroko membuka mulut semua kegiatan otomatis terhenti serempak padahal gak janjian. Pasang kuda-kuda siaga satu ancaman gunting melayang kalau-kalau mata Akashi berubah kuning.

"...pokoknya aku mau Akashi-kun tanggung jawab."

...

Dung—PRAK!

Brussssh!

Gubrak!

Krauskrauskruskrauk—OHOK!

dungdung dung... dung.

.

.

.

Siii—iiiiing—

.

.

.

Krik

E...

EEEEEEEEEEEH! APA ITU TADIIIII?

.


.

12 Seasons In My Life

(...karena itulah kami di sini. Bersamamu. Bersama kalian semua. Di tempat yang akan menjadi kenangan...)

.

Original Story by Rin

Disclaimer Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi

Gintama © Hideaki Sorachi

Ansatsu Kyoushitsu © Yuusei Matsui

Drama, Humor, Romance, Friendship, Family

Rated T

.


6th. Season: [Spring] Heart and Hurt.


.

Semuanya berawal sejak sesi mini-game latihan pagi di hari sabtu menyongsong golden week. Setelah pemanasan menyakitkan jiwa dan persendian, lari keliling yang merusak jantung dan sesi terkapar untuk Kuroko, Riko membuat pertandingan antara Senior-Junior dimana skor saat ini memimpin dengan selisih dua poin untuk para senior.

Kondisi kritis bagi para senpai dalam mempertahankan harga diri. Penjagaan pun diperketat pada Kise dan Takao hingga tak ada celah untuk lepas. Murasakibara di bawah ring pun sedang beradu gulat dengan Nebuya. Sisanya hanya Kagami yang saat ini memegang bola. Beradu dengan Nijimura sang Kapten.

Tensi lapangan memanas di lima belas detik terakhir. Nijimura membayangi Kagami ketat. Kagami terpojok, jika tidak mengoper segera dia akan terkena foul. Tapi, mengoper sembarangan hanya akan membuat bola dalam kendalinya direbut lawan. Apalagi, tekanan dari Nijimura tidak main-main. Kagami saat ini paham kemampuan orang yang menjabat Kapten klub sama sekali tidak bisa dianggap remeh.

"Cih!" Kagami memperhatikan kanan-kiri sampai matanya menangkap seseorang yang tengah lepas dari penjagaan.

(Atau, terlupakan di lapangan sampai tidak dijaga.)

'NICE!' seringai Kagami melebar, "Kuroko! Pass!" Kagami memberi operan menyamping ke kiri. Nijimura terkejut, mendecak karena lengah dengan keberadaan si Biru yang hilang muncul eksitensinya di lapangan. 'Dia benar-benar berbahaya jika menjadi lawan, Kuroko!' desis Nijimura.

Kuroko menyongsong bola yang dioperkan padanya, bersiap menangkap dan mengoper pada Murasakibara di bawah ring.

Wuush—

Sampai Kuroko melihat penampakan

—merah melayang, bersidekap dengan serius di sisi kanan lapangan. Pandangan tajam pada pertandingan. Tepatnya, mengarah padanya (karena posisi bola tengah terarah pada Kuroko).

Entah sihir Iblis mana yang membuat kepalanya mengulas kembali sore itu di saat begini.

.

Seolah pasrah dengan apa yang akan terjadi setelah tangan itu menarik dagunya. Mendongakkan kepalanya.

Cup

dan mengecup bibirnya.

.

Dooong—Kuroko bengong. Muka droll. Emotionless maksimal dengan tampang dongo Aomine yang ngupil. Cuek bebek sama dunia. Hilang kesadaran mengingat kilas balik memori jahanam yang terjadi padanya.

BUAAKH!

Bola jingga membekaskan jejak pada wajah sang bluenette. Jatuh bergulir ke tengah lapangan.

"TETSU-KUN/KUROKOCCHIIII!" Kise dan Momoi berteriak dramatis. Kuroko jatuh dengan tragis. Setitik mimis jatuh menangis. Wajah meringis sakit, batin bernista miris. Anjeeeng, ciuman sama bola sakit, cuy.

"KUROKO!" para anggota kelas satu ikut mengerumuni Kuroko, para senior yang terkejut bergeming dari posisinya, tapi memutuskan mengawasi dari jauh dan membiarkan Nijimura dan Riko yang mengurusnya.

Nijimura mengangkat Kepala Kuroko dan menyandarkan di pahanya, sementara Riko menahan mimisan yang sempat mengalir dari hidung dengan mendongakkannya ke atas.

"Pelatih, Kuroko! Kau tidak apa?" di antara yang lain Kagami lah yang paling panik, karena dia pelaku pelempar bola meski bukan murni salahnya. Tentu saja dia tidak menyangka Kuroko akan gagal menangkap bola dengan tangan, malah mukanya yang kena imbas pedih.

Ringis pedih keluar saat hidung Kuroko dipencet oleh Riko. Yang lain ikut memekik. Pasti sakit sekali.

"Ma-maaf Kuroko." tunduk Kagami merasa bersalah melihatnya.

"Tidak perlu minta maaf Kagami. Ini salahnya yang bengong saat pertandingan." geming Akashi dingin dari belakang, matanya menatap tajam pada Kuroko. Baginya situasi ini bukan salah Kagami sama sekali. Justru Kurokolah yang dinilai jauh lebih bersalah hingga celaka pada diri sendiri, "Orang dungu mana yang melewatkan kesempatan di tengah krisis pertandingan dan malah melamun."

Semua meneguk ludah bersiap-siap akan adanya adu lembing dari kubu merah-biru muda dan lempar-lemparan sinis menjatuhkan harga diri. Walau, kata-kata Akashi benar adanya. Terkadang Kuroko selalu punya argumen untuk Kuroko yang selalu tidak terima pasti akan membalas dengan nada tidak kalah satir dengan lempengnya. Lalu, Akashi akan balas mengatai dengan bahasa tingkat tinggi. Berulang-ulang sampai akhirnya dua-duanya tarik urat suara (tarik gunting untuk Akashi).

"... hai, hontou ni... gomennasai." jawab Kuroko menunduk dalam, tidak balas menatap Akashi. Tepatnya, tidak ingin menatap wajah yang begitu mirip dengan orang yang sudah melecehkannya terang-terangan.

'HAH!'

Semua mangap dengan kepatuhan Kuroko yang mendadak. Tumben. Tidak ada niat tebar sinis sama sekali, nih?

"Ku-Kuroko, kamu sakit?" tanya Riko khawatir pada pemainnya yang paling ringkih. Mungkinkah karena itu Kuroko tidak fit di saat-saat terakhir tadi.

Kuroko menggeleng pelan, "Tidak apa-apa, pelatih. Aku tidak sakit." iya, tapi sakit jiwa. Batin Kuroko dalam hati, melirik sedikit pada surai merah yang menjunjung tinggi dedikasi untuk merendahkannya.

Ya, semua itu berkat kejadian kemarin sore di perjalanan pulang dari sekolah. Insiden keperawanan bibirnya dicuri oleh adik Akashi-kun di bawah langit senja.

Kenapa juga suasananya harus romantis sekali? Kan doki-doki jadinya.

Dan yang paling penting...

kenapa bukan Akashi-kun? Kenapa adiknya?

Kuroko langsung menggeleng kuat-kuat mukanya memanas sampai berasap. Riko menjerit merasakan panas Kuroko yang menjadi-jadi di tangannya. 'Oiiii, itu teroris darimana!? Pasti ada yang salah dengan kepalaku. Asupan gulaku kurang. Aku butuh vanilla milkshake segera!' kepala Kuroko teleng kanan-kiri pusing, sungguh seram karena muka Kuroko yang selempeng aspal tol dengan pandangan kosong.

Akashi mengangkat alis dengan kelakuan Kuroko.

"Kuroko kalau kau benar-benar tidak sehat sebaiknya ke ruang kesehatan." Nijimura ambil kendali situasi dan mulai membantu Kuroko berdiri dengan menyangganya.

"Tidak apa Kapten. Aku baik-baik saja, kok." tolak Kuroko.

Menghela pelan, kouhai-nya satu ini memang tidak ada yang mengalahkan kepalanya selain batu kali. "Oke, duduk di bench sampai kau merasa baikan. Jangan membantah, ini perintah Kapten-mu—Hoi! Yang lain jangan berhenti! Istirahat kalian akan kupotong nanti!"

'EEEEEH!' Koor protes yang diabaikan Nijimura.

'Awas, kalau kau berani Shuu.' desis yang membuat Nijimura merinding.

Sesi latihan pun dimulai lagi, Riko mengambil alih untuk mini-game selanjutnya. Nijimura melihat Akashi yang menghampirinya, menaikkan alis dan memajukan bibir sebagai ganti tanya kenapa.

"Nijimura-san, izinkan aku menemani Kuroko."

"Hah?"

'EHH?' sontak semua mata tertoleh pada si Merah yang minta izin temani si Biru yang terkapar, biasanya juga misuh-misuh dilanjut sambit-sambitan yang berhenti setelah dijitak Nijimura. Kenapa Akashi merelakan dirinya menemani Kuroko? Gencatan senjata, kah? Deklarasi perdamaian? Atau, jangan-jangan kiamat sudah dekat?

Perempatan pindah ke jidat Nijimura, "Selesaikan porsi latihanmu dulu Akashi." enak saja. Tidak ada tolerir untuk rencana membolos latihan.

"Aku sudah melakukannya Nijimura-san. Pelatih juga sudah memberi izin padaku." Nijimura mendelik pada Riko. Riko memberi isyarat 'sudahlah' pada Nijimura. Momoi di sampingnya memberi jempol sebagai tambahan. Keduanya terkikik dengan aura hitam. Mengerikan. Entah apa yang dipikirkan kedua wanita itu.

"Oke, tapi jangan berantem. Awas kalian nanti." ancam Nijimura menjanjikan jitakan pedih kalau melanggar mandat sambil mencibir lalu kembali ke lapangan. Akashi melirik Kuroko dalam diam, Kuroko yang ketahuan tengah melihat Akashi langsung memalingkan wajah. Rasanya canggung. Padahal dulu Kuroko bisa terang-terangan melotot (kalau itu bisa disebut melotot) pada si surai merah.

Aduh, kan keinget lagi.

Mendengus. Akashi duduk di samping Kuroko dengan jarak yang cukup minim. Kuroko menggeser, tidak mau dekat-dekat Akashi takut teroris muncul. Akashi melirik diam, ikut menggeser. Kuroko acuh sejenak, lalu menggeser lagi. Renggut pada alis Akashi. Mau adu batu? Boleh saja Kuroko. Tidak ada lisan, tingkah pun menjadi-jadi. Kuroko bertingkah, Akashi ladeni. Dia pun kembali menggeser.

Masih bisu, Kuroko kembali menggeser. Tidak sadar dengan sisi bench miliknya sudah menipis. Akashi menarik simpul, dia pun menggeser lagi sampai bokong mereka bertempelan. Kuroko yang kaget sontak langsung ambil jarak terjauh dengan pantatnya—

kok melayang?

"!" Kuroko terhenyak karena gravitasi yang tiba-tiba. Akashi langsung sigap menarik Kuroko sampai jatuh ke pangkuannya, bukan modus, kalau dibiarkan bisa-bisa dia menggelinding ke bawah. Akashi menyeringai menang. Kuroko sebal.

'Mereka ngapain, sih!?' jerit hati para bujangan.

'KYAAAAAA! FANSERVICE, OMGOMG! MANIS BANGEEET!" jerit hati dua dara satu waria.

"Jangan jauh-jauh Tetsuya." mata berubah kuning. "Aku mau dengar ceritamu." sebuah seringai.

"Akashi-kun kepo."

"Biar saja. Atau kau mau kulecehkan lebih-lebih?" gertakan. Tapi, sanggup membuat Kuroko merinding.

"..." cih. 'Akashi-kun pasti sebenarnya sudah tahu.' Kuroko keki. 'Kakak-adik menyebalkan.' Ternyata keluarga Akashi isinya penjahat kelamin semua.

"Jadi?" Itu bukan wajah ingin menginterogasi, Kuroko membaca itu sebagai wajah ingin menjahili dengan mengorek masa lalu memalukan.

Ternyata gen jahilnya menurun. Pantas adiknya main sosor seenak jidat.

"Ya, Akashi-kun. Aku bertemu dengan adikmu kemarin." Kuroko bicara dengan lempeng tapi, kokoronya berkeping-keping, poker face sudah kritis. Senggol sedikit lagi Kuroko maunya guling-guling saja di lantai gym.

"Ho. Dia ngapain memang?"

That ask!

Sial! Peka sedikit, kek! Batin, nih! Batin! Tidak tahukah Kuroko sampai pingsan karena shock? Tidak tahukah tragedi itu membekas di kepala Kuroko sampai rasanya dia ingin menjoroki apapun yang berwarna merah ke got? Tidak tahukah kalau Kuroko tergoda untuk mencolok hidung si merah di depannya sekarang, huh? Jangan salahkan Kuroko kalau ada korban nantinya, oke? Kuroko korban disini, harusnya dia sudah mendapat tindakan dari komisi pelindungan pelecehan seksual.

"Aku tahu Akashi-kun sudah tahu masalahnya." Kuroko berdalih dengan elit. Menyatakan realita dan menggagalkan rencana Akashi untuk iseng padanya. Hum, Kuroko punya hati punya otak. Muka manis banyak akal. Jangan samakan dengan Aomine, sudah dekil otaknya udang.

Harga diri yang dilecehkan itu rasanya kayak vanilla shake jumbo jatuh tersenggol padahal disesap saja belum. Sakit. Makanya, selaku kakak yang baik harusnya Akashi sujud minta ampun atas kesalahan adiknya. Kalau perlu dua-duanya sekalian. Tenang, Kuroko bukan pedendam. Pasti dimaaafkan kok. Kalau dikasih sogok vanilla tiga bulan.

—pokoknya aku mau Akashi-kun tanggung jawab."

Dung—Bola di tangan Midorima terlepas. PRAK! Kacamatanya pecah.

Brussssh!

Hyuuga menyemburkan minumnya. Langsung tersedak dan sekarat.

Gubrak!

Aomine yang sedang lari langsung tergelincir, menubruk rombongan di depannya sampai terguling-guling. Dia langsung dinistakan karena menyebabkan kecelakaan beruntun.

Krauskrauskruskrauk—OHOK!

Murasakibara yang curi-curi makan langsung dapat karma karena melanggar titah. Terbatuk-batuk sampai tersungkur. Mamamuro langsung panik mencarikan air melihat bayinya di ambang ajal.

dungdung dung... dung.

.

.

.

Siii—iiiiing—

Seluruh mata tertuju pada keduanya. Keringat dingin mengucur dari para senpai, dalam hati mempertanyakan kewarasan para adik kelasnya ini. Anggota kelas satu gemetar hebat. Nijimura menepuk kepalanya, menahan murka menjadi-jadi karena tingkah keduanya yang menyebabkan kerusakan mental dan moral pemain.

Riko, Momoi dan Mibuchi berteriak 'kyaaa!'

Nah, itu tuh contohnya. Batin Nijimura memandang dua-setengah bunga jejingkrakan nista.

Apa yang terjadi? Apa Akashi melakukan sesuatu yang tidak senonoh pada Kuroko sampai minta pertanggungjawaban?

Jangan-jangan!

Saking kesalnya pada Kuroko Akashi kalap dan melakukan yang iya-iya sampai Kuroko ha—

Syuuut! Jleb! Kise lomba lari dengan maut. Bersyukurlah Kise menang atau ajalnya dijemput kilat gunting merah. "Huwaaaa!" tatap horor pada gunting di sisi kiri menancap tepat dua inchi dari telinganya.

"Aku tahu apa yang kalian pikirkan." Akashi bertanya-tanya dalam hati apa otak mereka tidak ada yang beres satupun. Imajinasi mereka terlalu ekstrim, realita mengatakan kalau imajinasi adalah berkah kejeniusan—atau keidiotan. Akashi pilih opsi kedua.

"Oi! Akashi sudah kubilang jangan bawa benda tajam bukan!" Nijimura memang kapten teladan. Pelotot Iblis tidak membuat gentar. Bahkan, menjadi salah dua (satunya Kuroko) yang berani menghardik terang-terangan saat si merah sudah lepas kendali dan main gunting.

Akashi mendecak pelan. Dasar Nijimura perusak suasana. Padahal dia masih mau mengorek informasi dari Kuroko.

Ya. Di dalam hatinya masih bercokol tanda tanya besar akan gemuruh yang dirasakan di dadanya.

'Nii-san, aku bertemu obake-chan temanmu. Dia lucu ya?'

Itu. Yang dikatakannya saat pintu terbuka menyambut keberadaan sang Adik. Datang dengan cengir penuh kemaksiatan dunia dan main selonong masuk tanpa izin pemilik tempat. Akashi yang terkejut terang menanyakan kenapa dia tiba-tiba berada di Tokyo tanpa pemberitahuan sedikit pun. Dan dia menjawab dengan jawab itu.

Obake-chan, huh? Akashi terlalu jenius untuk langsung tahu kalau yang dimaksud adalah Kuroko. Pertanyaannya kenapa dia tiba-tiba membawa Kuroko dalam pembicaraan mereka?

Saat ditanya balik dia tidak menjawab. Cuman cengar-cengir saja. Kalau bukan adik sendiri sudah disobek-sobek mukanya oleh Akashi.

Karma tidak mengatakan apapun tentang Kuroko lagi. Juga apa yang dilakukan Karma padanya. Tanpa itu pun dia tahu dari caranya mengambil topik dan dibiarkan mengambang. Gestur dan nada jahil yang disertai cengir meremehkan itu bahkan sudah lebih dari cukup untuk mengisyaratkan kalau Karma

—sudah mengisenginya. Dengan cara yang kelewat batas.

Itu bukan urusan Akashi. Separuh andil pun tidak. Karma yang berbuat, dosa pun dibeban pada amalnya. Tapi, sekali lagi dia adalah seorang kakak, terlepas dari itu dia masih manusia. Meski dituduh sebagai iblis oleh sekitar dia masih punya hati untuk peduli dan mengkhawatirkan orang lain.

Akashi tidak akan bertanya secara langsung karena meruntuhkan harga diri. Dia akan mendapatkan informasi dengan caranya sendiri, meski harus main drama sekalipun—eh, tunggu. Tadi Kuroko baru saja membuat clue.

"—pokoknya aku mau Akashi-kun tanggung jawab."

Tanggung jawab, hm? Seberapa besarkah perilaku (buruk) Karma sampai membuat Kuroko meminta pertanggungjawaban di muka?

Sebatas yang Akashi tahu, Kuroko bukan orang yang mudah terpancing menunjukan emosi bila bukan menyangkut hal yang dikehendakinya. Bila bukan sesuatu yang benar-benar membuatnya merekam memori agar senantiasa abadi dan menyentuh kalbu.

—atau hanya itu yang dia tahu.

"..."

Apa ada sesuatu yang tidak diketahui Akashi tentang si biru ini? Suatu hal yang ditujukan tapi dia tidak menyadarinya?

Sesuatu yang hanya adiknya tahu?

Krsst

—memikirkannya membuat kesal.

"Kita bicarakan kapan-kapan, Kuroko."

Pandangan yang melirik pada Kuroko sejenak mendingin. Begitu saja terjadi dan mood bicara benar-benar kandas.

Hanya karena kelibas abu membayangi sesuatu yang harusnya dia mengerti.

Itu adalah kesalahan. Baginya, kesalahan adalah sesuatu yang tidak bisa ditolerir, dia harus intropeksi dengan kepala dingin.

Jadi, dia akan menarik diri. Mendorong Kuroko pergi dan kembali merenung sendiri. Agar saat dia bicara lagi semuanya menjadi benar. Tidak ada kesalahan atau kerunyaman yang membuat gelegak mencakari rasa ingin tahunya.

Merenung. Mengingat bagaimana seorang Kuroko Tetsuya selama ini.

.

"..."

Aquamarine tertuju pada titik gamang. Kelebat getir yang membuatnya sesak saat warna merah yang jahil itu berubah keji. Emosi jengkel bertransformasi, membuat perut mengembung sampai ingin muntah. Sesak.

Kuroko gagal paham dengan kinerja otak si merah yang -katanya- jenius itu. Yakin sudah isinya tidak jauh dari manuskrip galau tentang totalitas.

...

Ah, ini tidak terasa benar. Sejak kapan ubun-ubunnya serasa dibor karena sikap Akashi yang tidak jelas kali ini? Kenapa bibirnya kelu untuk mengucap tepis?

Kuroko menggeremetak.

Tiba-tiba dia ditampik dan diacuhkan.

Aku tidak mengerti.

Kenapa malah Akashi yang marah?

Kristal itu berkeping dingin.

Kenapa Akashi memandangnya seperti yang membuat masalah?

Aneh bukan. Harusnya Kuroko yang marah, kan?

Aku ingin menonjoknya.

"Akashi-kun menyebalkan."

Berhenti, "Apa?"

"Akashi-kun menyebalkan. Payah. Gak peka. Maunya menang sendiri. Scumbag tiran. Bilangnya jenius padahal galau tingkat mediterania." Kuroko meracau tanpa jeda. Dengan nafas terputus. Ungkap semua kebusukan yang terpendam dalam hati pada empunya. Tapi, tetap tidak melega.

"Stop, Kuroko. Mau apa kau tiba-tiba menghinaku, hah?"

Rasanya semakin sesak.

"Akashi-kun sendiri yang mau apa!" bluenette terkurung dalam emosi. Kepik terakhir kendali diri runtuh begitu saja. Kuroko sendiri tidak mau mengerti kenapa dirinya tersulut semudah ini—ah, bukan ... Kuroko tahu sebenarnya.

Prasangka pelik tak berujung, Kuroko menganggap Akashi tahu tentang yang terjadi sore itu. Tahu bahwa sang adik sudah membuatnya pening dengan tingkah seenak jidat. Tapi, yang Kuroko tidak paham—

Kenapa Akashi seenaknya membuka topik yang Kuroko hindari lalu pergi begitu saja? Apa Akashi hanya mau mengerjainya? Apa Akashi hanya ingin mengisyaratkan kalau Kuroko bodoh kalau dia terpancing hanya dengan hal begitu?

Apa membuatnya menjadi dungu yang polos adalah caranya bersenang-senang?

Kuroko yang terkatup. Meredam diri dalam getar amarah adalah hal yang tidak Akashi perhitungkan sama sekali. Pandang merah lekat pada biru yang tertunduk. Kecamuk melucuti relung jiwanya. Berbagai rasa menganai-anai. Tidak paham. Bingung. Terkejut.

Tidak habis pikir.

Akashi belum tahu apa hal yang telah terlampaui hingga bluenette pengidap paham keras muka teflon memilih berkubang dalam emosi. Dia masih menerka-nerka, meski sangat ingin tahu dirinya masih keras kepala untuk menyebut tanya.

Hanya saja jika situasinya seperti ini.

'Gawat...'

ini kelewat serius.

'Apa yang sebenarnya kau lakukan Karma?'

.

.

Wasweswos. Curiga. Curiga. Bisikbisik.

"... Aominecchi, tadi Kurokocchi teriak, kan?"

"Ya... Sih?" Aomine sendiri ingin tidak percaya dengan vokal Kuroko yang tiba-tiba menggema di gym. Jari mengorek kuping, memastikan bukan dirinya yang budek. Ah, Kagami juga plongo. Berarti dia tidak budek.

"Shin-chan. Mereka pacaran?"

"Jangan tanya aku, nodayo. Mana aku tahu." Midorima ketus, tapi lirik-lirik juga. Dalam hati galau akan relasi keduanya yang serasa HTS tapi sambit-sambitan—Midorima adalah saksi yang tidak perlu dipertanyakan lagi imunnya. Satu-satunya mahluk yang masih walafiat dan bernafas walau tiap hari jadi korban death glare numpang lewat dua siluman. Kalau orang lain mungkin sudah melambai tangan pada batu nisan ('Semua itu berkat lucky item.' promosi Midorima dalam sesi wawancara menegangkan).

"Apa Akashi bakal ditampar setelah tatap-tatap penuh makna—ah, Kitakore!"

"Damare, Izuki!"

"Puisimu bagus sekali, Shun."

"Diam Moriyama. Ucapanmu tidak membuat segala menjadi lebih baik." Kasamatsu siap dengan tendangan cintanya.

"Mereka nge-drama banget sumpah. Aku jadi pengen pop-corn nih." komentar Hayama.

"Boleh makankah? Aku lapar lagi." Nebuya menepuk-nepuk perutnya.

"Kalian, bisakah bersikap sentimentil sedikit! Mereka diambang kepunahan nih. Huhuhu..." Reo menangis pedih.

"Reo-nee, kau mendukung mereka?"

"Kelihatannya mereka perlu ditatar ulang. Bocah-bocah kelas satu itu." Miyaji mendesis. Fonis kelam panglima nanas dibacakan. Kimura sebagai pemasok mengoper nanas pada Miyaji tanpa disuruh.

Keduanya masih saling hadap-hadapan. Serasa bumi milik berdua yang lainnya moluska sekarat. Tidak sadar bahwa mereka di ambang hujan nanas. Yang satu bingung, yang satu marah mau nangis. Gelagat persis sejoli di ambang kepunahan zaman.

Sekeliling memandang mereka dengan pandangan skeptis. Jangan-jangan selama ini mereka memang backstreet dan akan putus sebentar lagi.

Satu hitam di antara kepala warna-warni yang tersedia berkacak pinggang. Memuntir-muntir tangan sendiri untuk peregangan. Digeremetakkan satu-satu jarinya supaya sendi serasa leluasa.

"Lho, Shuu. Mau ngapain?"

"Masa bodo soal mereka punya masalah asmara gak jelas atau apa." Nijimura gulung lengan baju. Otot-otot kehomoan langsung membusung imajiner, "Yang bikin rusuh pas latihan bakal kulempar." bengisnya.

Ngungngung—aura gelap menguar dahsyat. Itu bukan jiwa-jiwa yang melarat tak punya jalan pulang. Itu Nijimura ngamuk yang kursus aura beracun dari para petinggi.

Dahsyat sekali reikinya sampai satu gym balik kanan bubar latihan. Nasib dua boncel diabaikan sementara. Mengingat-ngingat cara hidup supaya selamat sampai pelaminan dan punya cucu minimal tiga puluh. Selamatkan diri masing-masing adalah ego sejati manusia. Cinta itu buta dan kadang kejedot tiang. Gosip itu nomor tiga setelah makan dan buang hajat.

Akashi dan Kuroko menoleh pada gym yang tiba-tiba hening, dan hanya mendapati Nijimura menjadi saint seiya. Mungkin pas kecil dia nontonnya Dragon Ball.

"SUDAH KUBILANG JANGAN BERANTEM, KAN!"

DUAK! DUK!

Rasanya kayak digempur paus 30 ton langsung di kepala. Keduanya terkapar dengan sekali jitak. Beruntung tak sampai nirwana atau Nijimura akan dibui dalam kurun waktu tidak terhingga sambil kerja paksa dan mati teraniaya.

Fuh, persepsi konyol. Akashi akan menyambit Nijimura. Nanti.

(Janji itu terpatri sanubari dan tak akan lekang oleh waktu. Hahahaha. Berdoalah kau Nijimura.)

.


.xOx.


.

Mendapati suasana hening tanpa satupun keberadaan mahluk hidup dalam apartemen yang ditinggalinya sudah sebuah kewajaran. Dia juga sudah terbiasa dengan itu. Hening dan sepi. Ketenangan yang membuatnya berpikir jernih. Walau, di banyak situasi dia ingin ada sebuah cengkrama.

Harusnya seperti itu.

"Nii-saan... Kenapa internetnya di password sih? Kan aku gak bisa lihat cabe-cabean~..."

Ada kala dia berpikir sepi itu jauh lebih baik.

Ingin rasanya menjedotkan kepala kalau ingat realita itu kejam dan suka nge-troll.

Akashi menghela napas pelan. Dia baru saja pulang dari latihan basket dan penundaan rencana (bukan kegagalan, Akashi tidak akan gagal dalam hal apapun. Fix it) untuk mengorek info dari Kuroko (bukannya tadi mau minta maaf ya? Kok plin-plan, mang?) disuguhi pemandangan Karma yang bergelimpangan di depan TV, mulut mengunyah keripik, tengkurap di karpet putih yang sudah penuh remah dan ceceran lengket susu berperisa, membuka semua camilan (bukan punya Akashi, Karma yang membelinya sendiri, walau curiga duitnya hasil copet dompet orang) dan bermalas-malasan (bajunya masih sama dengan yang kemarin. Tuhan, dia pasti belum mandi).

Dan apapula itu cabe-cabean? Sambel atau germo pinggir jalan. Entah cabe yang dimaksud Karma itu cabe jablay atau benar sungguhan cabe. Mengingat fetish anak itu terhadap perangkat jahil, cabe yang dimaksud bisa menjadi apapun.

"Supaya kau tidak seenaknya mengutak-atik laptopku." Ya, kali Akashi membiarkan laptopnya dipenuhi situs maksiat. "Dan bereskan ruangan ini Karma! Kau jorok sekali, mandi sana!"

"Heee... Tidak mau. Aku kan ke sini mau liburan~..."

Akashi memandang kejam pada adiknya.

"Jangan membuat alasan mengada-ada Karma." Akashi menghela lagi, kepalanya sudah pening dengan berbagai hal. Menyumbat jengkal memorinya sampai ingin muntah. Dan Karma membuatnya semakin jengah dengan tingkahnya. Ingin sekali menghardik dengan keras tapi dia tahu situasinya sedang tidak tepat.

Insiden siang tadi masih membekas lekat di kepalanya.

Insiden dia yang membuat mau nangis anak orang.

Oh, harusnya itu biasa, mengingat wajah yang setara dengan status kekayaannya, ada saja yang berjiwa maso, tidak sayang nyawa main umbar cinta padanya. Tentu saja dia menolak dengan tegas (kalau mau tidak dibilang kejam) sampai (kebanyakan) perempuan yang menyatakan cinta padanya tersedu sedan mengemis cinta. Kalau sudah begitu Akashi pasang senjata terakhir. Gunting tercinta.

Makin bagus kalau mereka hilang ingatan karena trauma. Akashi bukan orang baik hati yang semudah itu memberikan saputangan hanya untuk diceceri ingus.

Harusnya.

Tapi, mungkin karena stempel 'berbeda' yang melekat pada diri Kuroko Tetsuya lah yang membuatnya tidak menyangka akan reaksi yang berbeda dari biasanya itu. Shock. Mungkin kata yang tepat.

Hanya karena dia ingin tahu sesuatu darinya. Karena ingin tahu tingkah adiknya yang tidak dia tahu.

Bolehkah dia durhaka dan menyalahkan Karma atas hal ini?

"Kau tahu Nii-san, aku cemburu karena ada yang berhasil menarik perhatianmu."

Akashi tidak sadar, kalau dia tidak bergeming dari tempatnya. Akashi tidak sadar, kalau ada mata yang mengawasinya tajam. Akashi tidak sadar kalau dirinya melamun, kalut dalam pikiran dan ekspresi keruh terulas.

Karma mungkin usil tiada tara. Tapi, darah Akashi masihlah mengalir deras. Tidak menutup kemungkinan insting tajam bekerja dengan alami.

Karena itu saat Karma bersuara, Akashi menggeleng pelan. Tidak balas menatap mata sang adik yang entah mengapa terasa lebih mendominasi dirinya.

Akashi benar-benar merasa ada yang salah dengannya.

"Nee, kau benar-benar memikirkan obake-chan sampai segitunya, ya?"

"Kesimpulan dari mana itu?" Elak dingin, duduk di kursi sambil meraih air untuk melegakan tenggorokannya. Atau, sekedar menelan kebohongannya agar larut bersama air. "Aku tidak memikirkan Kuroko."

Kekeh yang sangat menyebalkan di telinganya. Karma merengkuh dari belakang. Skinship yang biasa walau tidak begitu disukai. Adiknya ini memang sembarangan, rasanya susah sekali untuk merubahnya menjadi lebih beradab menurut kriterianya.

"Aku malah berpikir kalian dekat sekali. Bukankah kau bicara tentangku dengan obake-chan?" kulit empuk, hangat dan berair bermain-main di rambutnya. Bibir itu memberi kecup pelan pada rambut merahnya, berbisik di daun telinganya.

"Jangan bicara yang aneh-aneh. Kuroko hanya teman biasa."

"Hee, maksudmu partner beradu lidah, ya?" Akashi melotot, Karma tersenyum manis seolah glukosa tumpah ke mukanya. Sudahlah, Akashi juga sudah capek untuk menyuruhnya memperbaiki kosakatanya yang vulgar itu. Tolonglah, di telinga orang lain Akashi seperti mahluk cabul yang merengsek seseorang untuk diminta cium dengan paksa.

"Nii-san, pernah berpikir kalau kau jadi banyak bicara dengan obake-chan, kan?"

"Tidak."—tepatnya belum.

Dan karena Karma dia menjadi memikirkannya. Membandingkan dirinya dengan yang dulu. Masa-masa SMP-nya yang begitu gemilang dengan segala kesempurnaannya.

—di balik semua itu terasa hambar.

Kalau dipikir dia memang tidak pernah merasakan lagi suasana itu. Suasana sendiri dimana hidupnya monoton dengan tumpukan angka dan rangkaian filsafat. Duduk di balik meja hanya untuk tertidur lalu terbangun esok paginya.

Semuanya terasa berbeda, ada kalanya dia gelisah sebelum tidur. Pertemuan dengan teman lama pastilah terjadi, mengingat dunia ini sempit. Hal itu bukanlah sesuatu yang membuat Akashi tidak tenang selayaknya bocah, atau pencapaian sempurna yang merupakan kewajibannya sebagai yang sulung.

Dalam hati dia mengharapkan sesuatu yang berbeda. Seperti malam-malam yang dilalui dengan menulis jurnal. Sambil mengingat bagaimana reaksi orang yang akan menerima tulisan ini. Mengingat betapa keras kepalanya anak itu.

Mengingat cara anak itu membalas perkataannya tidak kalah satir.

Mengingat reaksi orang-orang yang terkejut dengan 'kehantuan'nya.

membuatnya geli.

Kuroko hanya mahluk menyebalkan. Hanya itu. Akashi hanya tidak suka dengan sikapnya yang cenderung menjatuhkan diri pada masalah orang lain. Kebatuannya yang selalu tidak sepaham dengan komitmennya. Titisan mahluk yang luarnya manis tapi isinya cabe-cabean—pedas abis.

Apa dia sebahagia itu dengan hidupnya sampai mengurusi orang lain? Padahal mengurus diri sendiri belum tentu becus.

Akashi hanya tidak suka dengan perhatian berlebih itu. Pada mata jernih yang memandang balik dengan kejujuran.

Warna biru tanpa kabut awan menutupi langit.

"Nii-san, kau melamun lagi."

"Hm." balas Akashi pelan, dia pun sadar kalau dia tenggelam kembali. Tapi, untuk kali ini tidak mau ambil pusing dengan lamunan yang sempat mengalihkan dunia.

Biarkan saja semuanya berlalu untuk kali ini.

"Karma, sudah kubilang untuk mandi." Akashi kembali mendesis sebal. Asam mulai menyeruak indra penciumannya. Sesusah apa sih menyiram tubuh lalu di sabuni? Apa Akashi harus melempar adiknya ini di kubangan supaya dia punya kesadaran untuk mandi?

"Mandiin~"

Snipsnipgunting memecah udara mengancam. Bukannya takut, Karma malah nyengir. "Hai, hai... Nii-san gak asik. Padahal kita dulu sering elus-elusan pakai sabun."

"Masuk Kamar mandi Karma!" Akashi berang lalu melempar gunting. Karma langsung melesat ke kamar mandi.

'Aku jadi terlalu lembek.' Akashi memijit kepalanya yang dua kali lipat pusingnya.

tanpa disadari, langit itu membuatnya lebih bebas.

"Oh, ya nii-san." Kepala merah menclok dari balik pintu, muka jahilnya menjadi-jadi. Akashi nestapa. Apalagi kali ini? "Walau lidah obake-chan itu setajam pisau jagal, bibirnya manis lho. Aku sudah coba, rasanya vanilla."

"..."

What?

.


.xOx.


.

Menjelang siang klub Basket baru menyelesaikan latihannya. Awal rencana akan dipulangkan setelah gelap—yang mendapat protes dari bujangan karena hari ini malam minggu, walau gak guna bagi yang nge-jomblo. Akhirnya dipulangkan sebelum sore (dengan catatan porsi latihan empat kali esoknya, belakangan mereka menyesal sudah protes), karena ada satu dua insiden yang memaksa mereka memulangkan dua anggotanya karena dianiaya oleh senpai-senpai murtad—Nijimura berkoar di belakang, harusnya dia yang dikategorikan korban penganiayaan di sini karena jadi samsak gunting dan ignite pass (nama baru untuk Tapak Dewa Kuroko yang nauzubillah sakitnya kalau kena. Bocah ini kurus tapi tenaganya baboon lepas). Mahluk unyu gak pernah main-main kalau mau bunuh orang.

Pulang siang di malam Minggu rasanya segar. Untung bagi yang punya gandengan, nestapa kalau calon saja masih see you next week.

Itu sih derita yang kalau gebetan saja gak punya. Kalau yang punya? Tentu saja menghabiskan malam minggu dengan rayu gombal ajak kencan, kalau perlu langsung xxx sekalian ("Shun sayang. Shun manis. Beli es-krim yuk. Habis itu main sama abang Mori.", "Eh, boleh gak Hyuuga? Moriyama-san tadi itu kitakore loh!", "Damare izuki! Dan jangan ikut-ikut dia!", "Mou, kalau Junpei-chan kesepian nanti Reo-nee temani kok~", "Jangan mendekatiku banci! Aaaarrrgh!", "Reo-nee, Reo-nee, masih banyak yang polos, nih. Jangan langsung sosor gitu.", "Ih, tenang Kota-chan. Biar mereka belajar.", "Kagami. Muka lu merah.", "Shin-chan juga. Pengen ya, Shin-chan? Kazu-kazu mau kok~", "Jangan bicara yang menyebabkan kesalahpahaman, nodayo!")

"WOI! GANTI BAJU YANG BENER NGAPA!? BACOT KALIAN NGE-HOMO SEMUA!" teriak Nijimura di tengah sesi ganti bajunya sambil membanting pintu loker sensi. Memutus bincang akrab para pemain supaya ganti baju dengan benar.

"Bilang aja sirik gak ada yang digandeng, Shuu."

Pfft—

Sadis dan nge-jleb.

Untuk kesekian kalinya dalam hidup ini Nijimura ingin kubur diri.

.

"Muro-chin... Hari ini pulang bareng?"

"Ah. Maaf Atsushi. Hari ini aku ada kerja sambilan."

"Eeh~..." Murasakibara memajukan bibirnya sedikit. Manyun dengan imut. Beda dengan Nijimura yang amit. Bandingnya dengan jahat.

Nijimura bersin. Insting mengalihkan pandang pada Himuro yang mencubiti pipi gembul bayinya.

"Jalan bareng sampai dekat Cafe saja kalau begitu. Atsushi nanti pulang sendiri, ya. Bisa, kan?"

"Aku mampir saja Muro-chin. Aku juga mau coba lagi cake yang pernah dibawain Muro-chin. Itu enaaak~..."

Bibir terkatup dan geming hening menjadi jeda.

"Oi, Himuro!" tandasnya gak nyante. Si Monyong niat melabrak dengan tuduhan berlisensi. Nijimura sudah belajar dari pengalaman untuk menjadikan Himuro kriminal paling pertama yang akan dicurigai tiap hal nge-troll terjadi padanya.

"Jangan."

Datar.

Tangan yang ingin menarik bahu untuk menghantam berhenti di udara. Nada dingin ingin menyingkirkan sesuatu yang pernah dia hafal bentuknya sampai terasa rindu. Dulunya dialah yang menjadi pendengar terbaik untuk itu. Seperti rutinitas yang menjadi biasa sampai dia abaikan.

Tapi, ini bukan ditujukan padanya. Melainkan pada Murasakibara. Bayi yang kelewat disayang oleh empunya.

Terang wajah itu mulai menyayu akan kecewa.

Nijimura memperhatikan. Bola mata onyx tak melepas pandang gurat samar akan kekosongan di wajah itu.

Himuro tersenyum lagi. "Kan hari ini ada Maiubo spesial di konbini waktu itu. Kalau mampir ke tempat kerjaku Atsushi nanti kehabisan." Alasan ditutur dengan lancar.

Merasa perkataan Himuro benar. Gurat kecewa menjadi sumringah polos lagi. "Huum, aku gak mau kehabisan Maiubo-chin. Umh, umh, nanti aku main kapan-kapan ke tempat Muro-chin, ya?"

"..." masih senyum. Kepalanya tertunduk seperti ingin mengangguk, walau sangat berat rasanya.

seperti mengingat sesuatu yang menyakitkan.

Tangkai kayu merunduk mendapat beban seekor Kupu mungil dengan sayapnya yang melayu. Tengah lelah dalam perjalanan dan mencoba untuk tidur lagi.

Seperti dulu.

Puk—

Tangan besar. Jari panjang. Hangat yang tersalur menuju hati dari tiap untai rambutnya. Rasa yang membuatnya terdongak.

Ah...

Kupu-kupu kembali terkepak. Semilir itu berhembus, bawa setitik kemerlap yang menjanjikan kedamaian.

"Ya."

Intip dari bola mata yang merefleksikan wajahnya. Surai keunguan melambai pelan. Gurat wajah besar yang terlukis antara ketajaman dan rasa manja.

Tangan yang menepuk kepalanya pelan. Hangat yang tersalur melaluinya.

Sesaat itu begitu damai.

Apakah ini sihir?

Karena dibalik tangan besar itu dia kembali lupa dan tidak peduli.

.


.

Angguk pelan yang terasa sangat lemah di mata Nijimura.

'Gezz... Gak yang ini. Gak yang itu.' Nijimura menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Letih seketika saat dirinya secara otomatis menjadi moderator di antara intrik yang ada di sekelilingnya.

Inginnya bersikap acuh dan memalingkan wajah. Tapi, Nijimura tahu kalau itu bukanlah sikapnya. Tanggung jawab yang pernah dibebankan—dan dia paksa tangguhkan di pundaknya sendiri, tidak akan diabaikan begitu saja. Karena, dia terlanjur tahu. Karena, dia terlanjur berhubungan.

—dan mungkin karena dia terlanjur peduli.

Soal ini dan lainnya. Terutama soal Himuro.

Karena, orang ini terlalu pintar mengaplikasikan palsu dalam emosi dan ekspresi. Terlalu pandai menyingkirkan seseorang dengan keteduhan palsu yang dia ukirkan di wajah itu.

Satu persatu kepala mulai pergi. Sapa sekedar formalitas terusung bersama lambai pelan. Nijimura membalas sekedarnya. Dia menunggu di sebuah bench. Duduk di sudut yang tidak begitu diperhatikan oleh objek yang diperhatikan.

Karena, dia ingin bicara sesuatu yang cukup menginjak ranjau. Menunggu ruangan kosong adalah satu-satunya pilihan. Nijimura tahu kebiasaan Himuro yang memilih pulang terakhir dari yang lain

—untuk merenungkan sesuatu, tanpa peduli waktu.

"Himuro, kau pulang kerja jam berapa nanti?"

"!" bola mata keabuan itu menyontak, berpaling cepat pada dia yang bertanya. Nijimura yakin kalau Himuro terlalu kalut dalam pikirannya sampai tidak menyadari keberadaan diri yang mengawasinya ini. Mungkin jika dia tidak memanggil, dia juga akan lupa dengan orang yang sedang setia menunggunya.

"Shuu?" bisiknya bertanya. Nijimura diam saja.

"Hm, seperti biasa kok." Himuro tersenyum lagi. Palsu seperti biasa. "Tapi, aku mau langsung belajar dan tidur setelah pulang." tambah Himuro sebelum Nijimura melanjutkan ucapannya. Seolah mengatakan secara tersirat bahwa dia tidak mau menerima Nijimura sebagai tamu malam ini.

Nijimura mendecak kesal dengan penolakan tersirat tersebut. Pelakunya masih memasang senyum. Berharap jika dirinya tersenyum Nijimura akan mengambil langkah untuk mundur kali ini. Membawa dirinya pulang ke rumah dan melakukan tugasnya sebagai seorang anak berbakti pada orang tua dan tidak. Tidak sedikitpun melangkah dalam kalut di dalamnya.

Dia tidak mau meributkan apapun.

Himuro tahu—tahu kalau Nijimura menyadari gelagatnya yang memang tidak biasa. Yakin bahwa Nijimura berniat membicarakan hal yang tengah dirisaukan. Tentang dirinya.

Kenapa Nijimura sulit sekali ditipu untuk percaya kepalsuannya? Apa dia terlalu pintar? Atau justru terlalu bodoh? Mungkin dia seperti hewan yang merasakan dengan naluri. Bukan otak melainkan hati.

Himuro benci dengan sikapnya yang terlalu peduli padanya. Pada sikap yang suka mencampuri privasi orang lain.

Ya, Nijimura memang mengetahui satu hal tentang dirinya

—tapi tidak semua.

Dia tidak pantas menerima perlakuan seperti itu. Setelah apa yang dilakukannya pada Nijimura.

Satu dosa yang masih dipendam rapat-rapat dalam pandora. Terkatup dalam kunci bibirnya. Tersesat di tenggorokan. Berharap terkurung selamanya dalam labirin tanpa jalan keluar.

Sebagai rahasia.

"Sudah, ya. Atsushi menungguku."

Dan dia ingin membayar dosa itu walau perlahan.

Caranya?

Kaki yang tadinya berbalik dan mengenyahkan gravitasi kembali menapak di satu titik.

"... Di Cafe... Aku membuat menuku sendiri." bergeming dalam bisik, ibarat menahan diri untuk mengutarakannya—tapi tetap ingin dikatakan.

Karena dia mengharapkan sesuatu, tapi takut akan hal itu pula. Kontradiksi yang memaksanya selalu memilih diam di lain waktu—tapi mungkin dia sudah lelah untuk itu dan memberi opsi untuk dobrakan pintu.

"Boleh titip untuk ayahmu? Ah, kalau kamu mau makan juga boleh kok." senyum biasa yang terulas, bersama nada tersirat kasual. Ini Himuro yang biasa.

seandainya mata itu tak menyipit dan memilih menatapnya, Nijimura akan melihat binar gelisah di sana, membuat geming kristal itu berkaca dan pertahanannya akan goyah.

Mungkin emosinya akan merebak dan dia tidak mampu berdiri dengan kedua kakinya.

"Dasar." mendengus pelan sambil mencibir "Kau gak usah sungkan amat kali. Yah, makasih sudah ingat soal ayahku."

Sungging senyum dewasa yang memaklumi tingkah laku kekanakan. Nijimura mencoba untuk kembali menarik diri darinya—dari Himuro, Mencoba menghormati keras kepalanya. Pendiriannya.

apa yang dia sembunyikan.

"Kau itu terlalu baik Himuro."

Kau salah.

"... Jaa." tidak menaruh tanggap. Tidak balas menatap. Tidak membalas dengan lambai dan sapa dan pergi begitu saja. Pura-pura tidak peduli dengan apa yang di dengarnya.

Seandainya, dia tidak mendengar itu.

Andai ada sepersekian waktu dirinya diizinkan tuli sejenak, Himuro akan memilih untuk tidak mendengar Nijimura menyamakan dirinya dengan sebuah kelembutan kasih.

Kau bisa bilang seperti itu karena tidak tahu apa-apa Shuu.

.


Satu kilatan sebuah spektrum. Bercokol diam tanpa geming dan membisu. Menyuruh syaraf tubuh dan jantung serupa ketuk bisu. Menjadi bayangan di balik pintu.


.

"Silakan, pesanannya."

Di sudut mata baby blue tergambar rupawan mirip dirinya dari balik kaca. Sosok Kurokono yang tersenyum tipis yang menyajikan pesanan pada meja-meja terisi pelanggan.

'Padahal aku janji mau bantu-bantu.'

Tapi, rasanya berat sekali ingin masuk.

Tapi, tetap harus masuk. Rumahnya kan di sini.

"Hhh..." kakinya pun mulai mengambil langkah gontai, menyusuri gang kecil menuju pintu akses langsung ke bagian rumah (toko Kurokono memiliki tiga jalan masuk. Satu, masuk ke bagian Cafe. Dua, pintu masuk karyawan di sisi toko. Tiga, pintu masuk langsung akses ke 'rumah').

Sekejap Kuroko merasa lemah-letih-lungai. Akhirnya bersandar ke sisi tembok. Dia mungkin frustasi. Tapi, wajahnya lempeng. Atau, mungkin juga tidak. Wajah masih lempeng.

Singkatnya dia sendiri galau karena tidak tahu dia kenapa.

Emotionless maksimal: turn on.

Hanya saja semua itu diwajarkan, mengingat akhir dari usia belia menuju ke pintu kedewasaan adalah kondisi riskan bagi sebagian jiwa yang masih mencari jati diri. Galau dan guling-guling di kasur adalah sebuah ritual harian. Jomblo adalah problematika tidak termaafkan. Tapi, punya pacar juga gak cukup rasanya cuman dua.

Dan situasi Kuroko kali ini adalah salah satu dari ritual menuju kedewasaan. Fase-fase awal menjadi remaja labil akan deodoran bagusnya yang manly atau yang rasa stawberry. Sebuah jejak tangga pertama untuk mendukung kepribadian menjadi kuat menghadapi cobaan menerpa diri.

'Kenapa aku marah-marah gak jelas ke Akashi-kuuuun!?' Kuroko jongkok menghadap tanah. Pinginnya gali lubang dan kubur diri saja.

Satu. Tengsin berat.

(Walau, mukanya gak mendukung, sih.)

'Tapi, Akashi-kun juga salah! Sudah tahu aku gak mau soal itu dibahas! Dia juga seenaknya main pergi. Memangnya bagi Akashi-kun aku pemanis saja, hah?'

Dua, Tsundere dan narsis.

'... Hh... Tapi, itu memang bukan salah Akashi-kun sepenuhnya. Kurasa Akashi-kun mencoba bicara baik-baik. Akashi-kun bukan tipe yang tidak bertanggung jawab begitu.'

Tiga, kembali berpikir dewasa walau sudah telat karena sudah lampau urusannya.

Empat, saat sudah selesai berpikir secara dewasa anda merasa ingin mati saja apalagi pas tahu itu cuman salah paham.

Lima, intinya kalau gak kuat pasti maunya mati saja.

"Tetsuya-kun jangan ngumpet di antara sampah. Nanti kamu ikutan dibuang, lho."

.

Beberapa saat lalu, Kurokono melihat warna biru mungil di balik etalase Cafe. Merasa tumben dengan tingkah sang sepupu yang memandang kosong ke dalam Cafe. Lalu, pasang wajah risau akan krisis moneter negara tetangga yang tidak ada hubungan dengan vanilla milkshake-nya.

"Ada apa?"

Ah, nyaris melupakan pelanggan yang menjadi lawan bicaranya. Tengah menyesap kopi di meja dengan dia sebagai bartendernya.

"Ah, maaf. Kelihatannya ada yang harus kuurus dulu."

"Hum." si pelanggan mengikuti arah mata yang sempat di tuju Kurokono. Tidak ada apa-apa. Mungkin sudah pergi atau dia yang salah lihat.

"Ho, terserah. Silakan saja."

"Thanks." nada yang kelewat santai pada pelanggannya. Tapi, lawan bicaranya tidak ambil pusing, dia malah terkekeh seolah itu lelucon yang biasa di antara mereka.

"Traktir aku satu minuman kalau begitu."

"Ini Cafe. Bukan bar." Bilang begitu padahal desain kasirnya mirip meja bar. Merasa tekanan, Kurokono menyerah, "Baiklah. Pokari satu untukmu."

"Geh, kau tidak bosan sama itu."

"Kau sendiri sama saja, kan."

Tawa kecil di antara keduanya. Kurokono undur diri untuk menyusul sepupunya yang terlihat aneh. Bagaimanapun Kuroko adalah tanggung jawabnya selama dia di sini. Kerisauan anak itu jugalah menjadi tanggung jawabnya sebagai pengganti orang tua.

Apalagi kemarin itu cukup mengejutkan dengan Ogiwara yang datang membopong Kuroko. Saat Kuroko sadar dan ditanya oleh Kurokono dia langsung diusir keluar, pintu langsung dibanting dan dikunci. Ogiwara pun tidak banyak membantu karena dia sendiri hanya minta maaf atas keteledorannya tidak menjaga Kuroko dengan baik. Mencoba meyakinkan Kurokono bahwa semua baik-baik saja, tapi malah bikin bingung karena Ogiwara sungkem meminta pengampunan.

Oke, itu bukan sesuatu yang harus dikatakan baik-baik saja bukan? Tapi, karena Kurokono tidak mau cepat-cepat berpikir negatif sebelum tahu duduk perkaranya dia memaafkan saja. Walau, dalam hati cukup risau. Bagaimanapun permasalahan remaja sangatlah riskan. Salah jalan sedikit jatuhnya pasti ke dunia malam.

Kuroko terlalu polos untuk itu. Sepupunya itu ibarat busa sabun putih. Mungil, empuk-empuk dan sangat mudah dibinasakan.

Memikirkannya membuat Kurokono mulai sedikit terpancing untuk menghantam siapa saja yang membuat sepupunya itu galau.

"Oh, Master. Siang."Kurokono masuk ke ruang karyawan. Melihat Himuro yang sudah datang dan tengah berganti seragam.

...

Ada yang sedikit berbeda dari anak ini.

"Siang Himuro-kun." Sapanya balik sambil senyum tipis. Mengabaikan perasaan aneh yang sempat mendera karena prioritasnya sekarang— "Ah, tadi kamu lihat Tetsuya-kun?"

"Bukannya Tetsuya sudah pulang dari tadi, ya?" Himuro heran." Tadi, dia dipulangkan duluan." Salah sendiri si Monyong itu main jitak anak orang.

'Dipulangkan duluan?' dahinya menyerngit. Ada apa ini? Walau Kuroko memang aneh dari kemarin. Apa masalahnya begitu serius?

"Oh, terima kasih. Tadi aku baru saja lihat dia. Kukira kalian bertemu. Terima kasih Himuro. Ah, makan siangmu ada di meja. Habiskan, oke?" Katanya sambil berlalu dengan senyum—yang jujur terasa seram. Bukannya tidak tahu, dia juga sering memakai senyum itu pada Nijimura.

"Hhh..." Himuro menghela. Dalam hati tersentuh akan kepedulian Master pada dirinya meski tahu dia seperti apa.

'Orang dewasa memiliki cara sendiri untuk melihat suatu permasalahan.' Pikirnya bijak sambil memakai apron hitam di pinggangnya. Membawa dirinya keluar ruang, menyapa beberapa rekan. Sambil memandang isi Cafe yang tidak terlalu penuh—mungkin karena masih siang. Lihat saja setelah lewat senja isinya orang pacaran semua.

"Himuro-kun, tolong jaga kasir sebentar. Aku mau ke belakang."

"Oke." Dia menyanggupinya. Lagipula karena sepi dia bisa santai sedikit.

.

.

.

.

Tep

.

.

.

.

.

.

Jelujur mawar. Indah namun berduri. Terperangkap selamanya dan abadi dalam kematian.

.

Seandainya. Sungguh kata-kata itu satu-satunya yang terngiang saat tapak kaki menjejaki cahaya. Kata-kata penyesalan yang melipur dalam dirinya. Terombang-ambing dalam jerat emosi.

Ya, seandainya dia memilih untuk di dalam meski sejenak.

Tapi, seperti yang dikatakan. Seandainya hanya kata yang mengangan-angan harapan.

.

Kupu-kupu yang terlalu menikmati dunia akan hilang arah. Terjerat perangkap yang kembali mengikatnya untuk menderita.

.

.

Himuro tahu orang itu. Tak ada yang berbeda dari kenangannya. Dia sangat tahu gestur itu. Bentuk tubuh. Wajah. Mata. Seringai.

—auranya.

Yang dulu membayanginya hingga ingin mati.

Mata membola. Nafas tercekat. Peluh menetes. Ingin lari adalah apa yang diteriakkannya, tapi dia tidak bisa.

Terpaku dalam getar. Tidak bisa berpikir. Mengharap pertolongan. Tidak bisa berpikir.

Panikpanikpanik.

Siapapun lepaskan dia.

"Shin...suke?"

.

.

Bulan meninggi. Cahayanya menjamah tiap jengkal dunia yang gelap. Kupu itu menengadah, memperhatikan cahaya yang menyelimutinya mulai menghilang.

.

.

"Heh, lama tidak bertemu."

.

Tertutup ribuan ngengat.

.

.

"—Tatsuya."


.

.

TBC

.

.


A/N: Berlanjut dengan kegalauan.

Chapter ini rasanya krik banget. Sense humor saya menipis dan saya sudah lama gak nge-drama. #kempesinbadan #senengbangetkalobisa

Baca review chapter kemarin bawaannya ngakak. Banyak banget yang menghujat Karma (walo ada juga yang sepaham) mwohohoho. Beberapa pair di sini bakal saya bikin kejutan jadi siap-siap saja. #sembahcrackpairing.

Perasaan yang di note ada banyak, tapi udah lupa apa aja yang mau ditulis =_=.

Kalo ada yang mau bertanya silakan ke kolom review.

Review for Anonymous Reviewers:

l4e: seperti yang anda ketahui, Karma kisu-kisu. #dilempar. Iya, saya langsung kepikiran abis nonton itu. #walolebihingetspongbob. Thanks for review.

kokoro yang remuk: terimakasih. Terimakasih. #bungkuk-bungkuk dan lahirlah lagi orang yang sangat suka Nijimura dinistakan. Wahahaha! #walo chap ini gak kerasa nistanya sih. Nama anda menggambarkan sekali jati diri. Tenang, Cuya nggak makan daun muda kok. Dia makannya nyang segerseger -ohok!-. Gak papa. Saya malah seneng baca review yang panjang-panjang. Thanks for review.

Aoi: iya, karma coman iseng #lain cerita kalo authornya keselip lagi #eh. Jangan sedih-sedih? Saya malah pengen ada yang nangis. #mudikemanainhumornyambak? Thanks for review.

Kurotori Rei: KAMU JUGA YA! WAHAHAHA! NGEBAYANGIN KUROKO DIREBUT RASANYA GIMANA BANG JURO? #woles #kipkalmledis Kuroko pingsan tak kuat menerima kenyataan kalau yang nyium bukan juro #plak #benerkok. Udah lanjut. Thanks for review.

lyfe is blue: TANGAN SAYA SELIP! SUER! TADINYA GAK ADA TUH SCENE KAYAK GINI! #maticaps Nagi masih di Kyoto. Melanglang buana dengan homo-homo #eh. Ya, pair utamanya masih Juro x Cuya. Kemarin itu cuman servis saja. Jangan merasa ter PHPin. Hohoho. Thanks for review.

zy: ya atuh, saya keselip. Hehe, iya makasih aku tahu saya keren #bukankamu. Cuya mengganas karena capek di pehapein babang juro. cintanya sulit sekali nembus baja tebel dihati semenya. Sudah apdet. Thanks for review.

Thank's a Lot for You

REVIEW?


Update: 20th September 2015