Chapter 7

.

.

Kyuhyun membuka matanya perlahan. Berat. Seperti ada lem super lekat yang merekatnya. Hal yang pertama dilihatnya saat sempurna mata itu terbuka adalah lampu ruangan. Cahayanya menusuk tepat retina matanya. Silau. Ia mengerjap beberapa kali. Menyesuaikan penglihatannya dengan penerangan yang ada.

Namja berkulit putih pucat itu tertegun. Lama. Mengingat semua yang terjadi sebelum ia membuka mata. Dan ia menghela napas lega begitu memori itu kembali membayang dalam ingatanya.

"Semuanya hanya mimpi…" Kyuhyun menggumam pelan. Kembali memejamkan matanya untuk sepersekian detik sebelum akhirnya mengubah posisinya menjadi menyamping. Memastikan kalau Donghae masih tertidur lelap di sampingnya.

Sempurna tubuh itu berbalik, Kyuhyun terdiam. Membeku. Otak jeniusnya mencoba mencerna apa yang ada di sekitarnya. Sesaat bola matanya bergerak gelisah. Dan ia baru sadar kalau segala sesuatu di sekitarnya tidak sama dengan keadaan di kamarnya. Tidak ada warna biru seperti cat dinding kamarnya. Tidak ada meja belajar dengan satu set komputer tempatnya bermain game. Tidak ada rak berisi piala-piala yang pernah diraihnya. Tidak ada foto ia dan keluarga yang ditempel di dinding ruangan. Dan yang paling membuat dadanya sesak dan nyeri adalah saat ia menyadari bahwa tempatnya berbaring saat ini hanya sebuah single bed. Tak ada seorang pun yang tidur di sampingnya seperti malam itu. Tidak ada. Hae hyung-nya tak ada di sisinya. Yang artinya…

"Ani!" Kyuhyun menarik napas dalam. Dipejamkannya mata sipitnya itu serapat mungkin. Berharap saat ia kembali membukanya, ia benar-benar sudah bangun dengan situasi dan kondisi yang berbeda. "Aku yakin ini hanya mimpi." Semua yang dilihatnya tetap sama. Bibir pucatnya bergetar seiring berguncangnya tubuh itu. Tiba-tiba saja matanya perih dan ia menangis. Rasa sakit di beberapa titik tubuhnya saat ia mencoba bangkit. Perban di sekitar dadanya. Ranjang rumah sakit. Selang infus. Tabung oksigen. Nasal cannula. Dan alat-alat medis lainnya menjelaskan semuanya, menjelaskan kalau malam paling mengerikan yang pernah ia lewati waktu itu, bukan hanya sekedar mimpi buruk saja. Semuanya nyata. Sungguh-sungguh nyata.

Kyuhyun terisak hebat. Memikirkan semuanya membuat kepalanya berdenyut sakit.

"Ini hanya mimpi." Kalimat yang sama yang dilafalkannya. "Hyung, kau di mana? Tolong bangunkan aku dan bilang kalau aku hanya mimpi." Kyuhyun mencengkram kepalanya lebih kuat. Sakit. Sakit sekali. Wajah pucat Donghae menyelebat dalam ingatan. Menusuk sadis kepalanya.

"Hae hyung…" Kyuhyun masih ingat bagaimana mata polos hyung-nya itu menatapnya penuh cinta dan sayang. Kyuhyun masih ingat semua detail yang mereka lakukan, yang mereka bicarakan, sebelum akhirnya ia tertidur dalam dekapan Hyung keduanya itu. Oh, Tuhan… Kyuhyun bahkan masih bisa merasakan dekapan hangat Donghae malam itu. Kyuhyun masih ingat semuanya. Tapi, kenapa semuanya harus berubah hanya dalam sekejap mata?

Saat semuanya terasa semakin menyesakkan dan menyakitkan, Kyuhyun menangis semakin keras. Liquid di balik mata cokelat itu menderas. Membasahi wajah pucatnya. Dijambaknya rambut cokelatnya sebagai pelampiasan rasa frustasi.

"Kyunie! Berhentilah!"

Kyuhyun tak peduli saat tiba-tiba pekikan panik disertai cengkraman di kedua tangannya ia rasakan. Ia terus mengerang. Menyebut-nyebut nama Donghae di sela rintihannya. Ia bahkan tidak berminat menatap Hyung pertamanya yang saat ini mencoba menenangkannya. Yang ia inginkan hanya Donghae. Donghae. Lee Donghae. Hyung keduanya yang begitu ia sayangi. Demi Tuhan, Kyuhyun hanya ingin Donghae saat ini.

Siwon mendapat telepon darurat dari warga setempat satu jam setelah api berhasil dipadamkan . Tak main-main paniknya, ia beserta Nyonya Lee bergegas untuk kembali ke Seoul saat itu juga. Tak peduli dengan segala pekerjaan yang sebenarnya masih begitu menumpuk. Keselamatan kedua dongsaeng-nya tentu hal yang paling penting.

Dan rasa bersalah seketika meninju hatinya dengan keras saat itu juga. Bukan, bukan kondisi rumah barunya yang hanya tinggal puing-puing berwarna hitam. Tapi, kondisi kedua dongsaeng-nya yang benar-benar kritis yang membuat luka memar dalam hatinya. Tak ada luka bakar di tubuh mereka, tapi keadaan mereka bahkan jauh lebih buruk dari itu.

Kini hanya frasa andai saja yang tak berhenti menggaung dalam dadanya.

Andai saja ia tidak pergi ke Busan dan tetap tinggal di rumah.

Andai saja ia tidak terlalu mementingkan pekerjaan dan tetap berada di samping adik-adiknya. Menjaga mereka. Melindungi mereka.

Andai saja ia lebih cepat menyadari kalau keadaan keluarganya mulai berubah sejak mereka pindah ke Seoul.

Tapi, semuanya terlambat. Adik kecilnya bahkan terlihat begitu mengenaskan saat ini.

"Aku tahu ini hanya mimpi. Suruh Hae Hyung membangunkanku, Hyung. Suruh dia bangunkan aku. Aku tahu dia masih ada di sampingku." Kyuhyun terus meracau tak jelas. Masih tak mau berhenti menjambak rambutnya.

"Kyunie…," lirih Siwon. "Hyung mohon jangan seperti ini. Kuatlah, Kyu… jebal." Air mata namja berlesung pipi itu menetes juga pada akhirnya.

Bukan merasa tenang mendengar kata-kata Siwon, Kyuhyun malah semakin membabibuta. Ia menendang selimut yang semula menyelimutinya. Menangis semakin keras. Meraung-raung tak jelas. Menggerak-gerakan tubuhnya, berusaha melepaskan diri dari pelukan Siwon yang justru semakin kuat. Tak peduli sama sekali dengan alat-alat medis yang tak lagi menempel dengan semestinya. Tidak peduli dengan sakit di dadanya. Tidak peduli dengan tangis Siwon yang semakin deras. Ia hanya ingin bangun dari—yang dalam pikirannya—mimpi buruknya.

"HAE HYUNG! BANGUNKAN AKU, PABO!" Kyuhyun berteriak-teriak frustasi. Masih terus menendang-nendang udara. Memukul-mukul lengan Siwon hingga gerakan itu membuat selang infus di tangannya lepas. Darah segar mengalir dari balik punggung tangan itu.

Merasa tak mungkin menenangkan Kyuhyun, Siwon memilih untuk menekan tombol darurat dan memanggil perawat. Namun, ia masih berusaha menenangkan Adik terkecilnya itu. Dengan lembut ia berbisik di telinga Kyuhyun. Berharap caranya yang satu ini cukup berhasil.

"Tenanglah, Kyu. Jangan berteriak-teriak seperti itu. Kau berisik. Hae Hyung sedang istirahat. Dia sedang tidur di kamar sebelah karena terlalu lelah menjagamu. Tenanglah, arrachi?"

Dan itu benar-benar mantra yang hebat. Seketika saja pergerakan Kyuhyun terhenti. Namja pucat itu tidak lagi meronta. Ia menatap Siwon kali ini. "Jinjja?" tanyanya saat beberapa perawat masuk ke dalam ruangan. Siwon hanya mengangguk meyakinkan sebelum akhirnya melepaskan pelukannya dan membiarkan para perawat menangani Kyuhyun.

Saat Kyuhyun mulai tenang karena pengaruh obat bius yang diberikan para perawat, Siwon beringsut meninggalkan ruangan. Membiarkan Kyuhyun kembali berisirahat.

"Eomma…" panggil Siwon saat menemukan eomma-nya di luar ruangan. Tanpa babibu dipeluknya wanita itu dengan erat. Berusaha meminta dan mungkin juga membagi kekuatan, saling menguatkan. "Mianhae, Eomma. Mianhae. Andai saja waktu itu aku tidak menyetujui untuk pergi ke Busan, semuanya pasti tak akan seperti ini."

Nyonya Lee tak bersuara. Ia hanya mengusap-ngusap punggung kokoh Siwon dengan lembut. Berusaha menguatkan di saat kekuatan dalam dirinya juga terkikis habis. Bukan waktunya untuk saling salah menyalahkan. Karena itu tak akan ada artinya sama sekali. Karena itu tidak akan mengubah apa pun yang Tuhan rencanakan. Di saat seperti ini, berdo'a tentu satu-satunya jalan keluar yang paling tepat.

"Gwaenchanha, Siwonie. Di saat semuanya melemah, maka kau harus tetap kuat. Jangan lemah karena Eomma tak tahu harus pada siapa berpegangan jika bukan padamu." Tubuh Nyonya Lee bergetar hebat. Ia menangis. Setelah Tuan Lee meninggal, hanya Siwon yang ia andalkan selama ini. Jika putra pertamanya ikut tumbang sepertinya, lantas siapa yang akan menguatkan Kyuhyun dan juga Donghae? Siapa yang akan meyakinkan kedua jagoannya yang lain kalau semuanya akan membaik, semuanya akan tetap baik-baik saja?

Siwon menghapus air matanya dengan cepat. Memeluk eomma-nya seerat mungkin. Eomma benar… jika semuanya lemah, semuanya pasti tak akan pernah membaik. "Mianhae, Eomma…"

.

.

Kaki jenjang itu melangkah tergesa menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang sepi. Derap langkahnya terdengar cukup keras, mengusik keheningan. Detak jantungnya berpacu lebih cepat, napasnya terdengar tak beraturan mengingat untuk sampai ke tempatnya saat ini, ia harus melakukan perjalanan jauh dan melelahkan. Ia bahkan sampai tersesat beberapa kali sebelum akhirnya menemukan rumah sakit sesuai dengan alamat yang diterimanya. Sungguh, semuanya terasa begitu mendadak dan itu sangat mengejutkan. Saking terkejutnya, ia bahkan tidak bisa berpikir jernih dan pergi dari kota tanpa mengganti seragam sekolahnya.

"Ahjumma…"

Langkah itu berhenti juga saat ia menemukan sosok yeojayang begitu dikenalnya terduduk lesu di depan ruangan yang sejak tadi dicarinya.

"Changmin-ah!" Nyonya Lee—yeoja itu—dengan tak sabar mengangkat tubuhnya dan dalam satu gerakan langsung memeluk tubuh Changmin. Mencari ketenangan yang mungkin masih dimiliki oleh sahabat baik putra bungsunya itu.

Sore tadi, pasca Kyuhyun kembali sadar setelah mengamuk dan diberi obat penenang oleh suster, Nyonya Lee terpaksa menghubungi Changmin. Memberitahu kabar buruk yang terjadi pada namja bertubuh tinggi itu. Sebenarnya ia tidak ingin memberitahu Changmin dan membuat namja itu cemas. Tapi, begitu melihat betapa menghkawatirkannya kondisi Kyuhyun, membuat yeoja yang masih terlihat cantik itu terpaksa menghubunginya. Hanya Changmin satu-satunya harapannya. Hanya Changmin yang selalu bisa membujuk Kyuhyun dan menenangkan putra bungsunya.

"Apa yang terjadi, Ahjumma? Bagaimana kondisi Kyuhyun dan Hae Hyung?" Dengan pelan, Changmin melepaskan pelukan Nyonya Lee. Menatap yeoja paruh baya itu dengan lembut. Matanya mengilatkan sorot penuh harapan bahwa semuanya baik-baik saja dan tidak perlu ada yang dikhawatirkan.

Namun kenyataannya tidak seperti itu saat Nyonya Lee perlahan beringsut mendekati pintu ruangan bernomor 112 itu, membukanya dan menunjukan apa yang sedang terjadi di ruangan itu pada Changmin. "Kyuhyun tidak ingin kembali ke ruangannya sejak sore tadi. Padahal ia juga masih dalam pengawasan dokter. Ia masih harus banyak istirahat dan minum obat. Posisinya bahkan tak berubah sejak tadi. Ia tetap diam dan tak ingin bicara pada siapa pun. Kami sudah berusaha membujuknya tapi tidak berhasil. Bantu kami, Changmin-ah… selama ini kau yang selalu berhasil meluluhkan hati Kyuhyun. Bantu kami…" Nyonya Lee mulai menangis dan membenamkan wajahnya di balik telapak tangannya.

Melihat hal itu, membuat Changmin merasa baru saja ada pedang paling tajam yang menusuk hatinya. Perlahan ia menyentuh bahu ibu dari teman baiknya itu. "Gwaenchanha, Ahjumma. Aku akan mencoba membujuk Kyuhyun. Aku berjanji tidak akan keluar tanpanya. Kau istirahatlah dan biarkan aku menyelesaikan masalah ini." Sebelum masuk ke dalam ruangan tempat Donghae dirawat—tempat di mana Kyuhyun berada saat ini— ia menghapus air mata wanita itu dan melemparkan senyuman terbaiknya. Sejurus kemudian ia melangkah masuk dan menutup pintu.

Changmin berjalan perlahan mendekati Kyuhyun yang duduk di kursi, membelakanginya. Namja pucat itu tampak menggenggam erat tangan Donghae yang ditemani selang infus. Untuk beberapa saat ia terdiam beberapa meter dari posisi Kyuhyun. Menguatkan hatinya ketika melihat begitu mengenaskannya kondisi Donghae saat ini. Ia mengenal Donghae dengan sangat baik, ia bahkan sudah menganggap Donghae sebagai hyung kandungnya juga. Melihat ada banyak alat-alat medis yang menempel di tubuh itu, mau tidak mau membuat rasa sakit turut menyapa sanubarinya.

Cukup lama Changmin terpaku di tempatnya. Memerhatikan tubuh Donghae dengan linangan air mata yang tidak bisa lagi dibendungnya. Demi Tuhan, rasanya sangat menyakitkan melihat mata polos yang selalu menatapnya hangat itu tertutup serapat itu. Rasanya sangat menyakitkan melihat mulut yang selalu memamerkan cengiran kekanakan itu dimasuki tube sebesar itu. Rasanya sangat menyakitkan melihat begitu banyaknya perban yang melilit tubuh yang bahkan jauh lebih pendek darinya itu. Rasanya…

Changmin merasakan apa yang Kyuhyun rasakan.

.

.

"Hae Hyung pabo!" Kyuhyun mendesis. Suara pertama yang dikeluarkannya setelah berjam-jam hanya menatapi tubuh itu dalam diam.

Sejak sadar dari pengaruh obat bius yang diberikan suster, Kyuhyun memang jauh lebih tenang. Tampaknya ia mulai menerima semuanya kalau ia tidak sedang bermimpi. Apa yang terjadi padanya juga Donghae malam itu benar-benar kenyataan. Dan saat itu juga ia meminta Siwon untuk membiarkannya menemui Dongahe yang katanya sedang tidur dan istirahat di ruangan yang lain. Karena tidak ingin Kyuhyun kembali mengamuk seperti sebelumnya, akhirnya Siwon mengiyakan permintaan magnae-nya itu. Dengan syarat tidak lama meski pada akhirnya Kyuhyun benar-benar tidak ingin diajak kembali ke ruangannya.

Benar. Siwon Hyung benar. Donghae sedang tidur dan beristirahat saat Kyuhyun masuk ke dalam ruangan dengan angka 112 itu. Tapi, bukan tidur biasa seperti yang Kyuhyun bayangkan. Hyung-nya tertidur dengan sangat lelap tapi terlihat begitu tak nyaman dengan berbagai alat-alat yang tak Kyuhyun ketahui apa fungsi dan namanya. Donghae koma. Kenyataan itu membuat Kyuhyun merasa ada yang menampar hatinya dengan sangat keras. Sakit. Ngilu. Kyuhyun tak menangis, meski hatinya ingin untuk itu. Ia hanya bisa menggenggam kuat tangan lemah Donghae. Tangan yang telah melindunginya malam itu. Sedetik pun, Kyuhyun tak ingin melepaskannya.

Changmin yang sejak tadi berdiri di belakang Kyuhyun, menghapus air matanya. Perlahan, ia berjalan lebih dekat ke arah Kyuhyun. "Annyeong…" sapanya. Ia memposisikan dirinya di sisi lain ranjang Donghae, berhadapan dengan Kyuhyun.

Kyuhyun menoleh sebentar. Lantas kembali memfokuskan penglihatannya pada Donghae seolah tak ingin melewatkan sedikit saja perkembangan hyung-nya itu. Meski itu tidak terjadi seharian ini. Donghae tetap diam, tak bergerak sama sekali.

Changmin mengernyit mendapat respon sedatar itu dari Kyuhyun. Bagaimana pun juga, Kyuhyun tidak pernah seperti ini sebelumnya. Kyuhyun pasti sangat terpukul. Ia yakin itu. Namja bermarga Shim itu kembali menatap wajah pucat Donghae, meraih tangannya yang lain.

Dan keadaan hening. Lama. Lama sekali.

.

.

"Kyu…" panggil Changmin. Ia mengubah posisinya untuk duduk di samping Kyuhyun. Diraihnya tangan dingin Kyuhyun yang masih menempel kuat dengan tangan Donghae. Tak ada respon berarti dari Kyuhyun. "Kau boleh menatap Hae Hyung sepuas yang kau mau. Tapi, kau harus mendengarkan apa yang kukatakan, arraseo?"

Kyuhyun tetap diam meski pada akhirnya ia memasang telinganya baik-baik.

"Kita pernah bicara berdua, maksudnya aku dan Hae Hyung, dan aku ingat apa yang Hae Hyung katakan waktu itu. Dia bilang, "kau tahu Chwang? Sepertinya aku bukan anak Appa dan Eomma. Mungkin aku tertukar di rumah sakit. Bagaimana bisa aku berbeda dengan Kyuhyun dan Siwon Hyung? Mereka berdua sangat pintar, berprestasi, dan banyak mendapat piala dan penghargaan. Sementara aku, nilai kuliahku selalu pas-pasan, bahkan tak jarang dapat nilai jeblok." Lantas setelah dia mengatakan hal itu, dia tertawa dengan lepas seolah itu hanya pembicaraan konyol. Dan itu membuat aku turut tertawa juga melihatnya. Dia itu benar-benar konyol. Aku rasa tidak ada orang sekonyol Hae Hyung di Korea ini.

Setiap kali ada waktu bersama-sama dengan Hae Hyung, aku selalu merasa ingin menjadi dirimu, Kyu. Atau paling tidak, aku ingin Hae Hyung menjadi hyung-ku. Kau tahu dia memang bodoh, konyol, kadang ceroboh, dan tidak pernah berpikir panjang. Tapi, dia sangat baik. Tak ada yang memiliki hati seputih dirinya. Kau beruntung sekali, Kyu. Aku kadang iri setiap kali mendengar kalau apa yang paling dia inginkan di dunia ini adalah melihatmu selalu baik-baik saja. Sebuah harapan yang sangat sederhana namun buatku itu sangat-sangat mulia dan luar biasa. Dia sangat menyayangimu, Kyu. Dia menyayangimu lebih dari apa pun hingga dia rela mengorbankan nyawanya sekali untukmu."

Jeda sebentar.

"Jadi, kumohon tetaplah kuat, Kyu. Tetaplah tegar. Tetaplah baik-baik saja seperti yang selalu Hae Hyung harapkan. Jangan sia-siakan pengorbanannya dengan terpuruk seperti ini. Demi apa pun, dia hanya ingin kau selalu baik-baik saja."

Kyuhyun tetap diam. Sampai di sepuluh detik kemudian, ia mulai bersuara, "tinggalkan aku, Chwang! Tinggalkan aku!" desis Kyuhyun.

Changmin menatap Kyuhyun sedih. "Kyu… kau harus kembali ke ruanganmu dan istirahat. Biarkan Hae Hyung istirahat. Dia—"

"Aku akan kembali ke ruanganku. Tapi, tinggalkan aku sebentar lagi dengan Hae Hyung. Sebentar lagi."

Changmin menarik napas lega mendengar kalimat terakhir Kyuhyun. Diam-diam ia merasa bangga selalu bisa membujuk teman baiknya itu. Perlahan ia beringsut meninggalkan Kyuhyun. Keluar ruangan dan kembali menghampiri Nyonya Lee dan Siwon yang baru saja kembali dari kantin rumah sakit.

.

.

"Changmin benar. Kau itu bodoh, ceroboh, dan tak bisa berpikir panjang. Bagaimana bisa kau berpikir bahwa melompat lewat jendela adalah satu-satunya jalan keluar malam itu? Harusnya kau bertanya padaku apa yang harus kita lakukan. Mungkin aku bisa memikirkan bagaimana cara yang lebih realistis dan tak dramatis seperti caramu, Hyung. Mungkin kau memang bukan anak Appa dan Eomma hingga bisa sebodoh itu."

Kyuhyun menangis juga pada akhirnya. Ia membenamkan wajahnya di balik lengan Donghae. Menangis sesegukan.

"Tapi, kau adalah hyung-ku. Hyung yang lebih berharga dari penghargaan mana pun yang pernah kuraih. Jadi, kumohon bangunlah atau aku tak akan pernah berhenti menyalahkan diriku sendiri. Bangunlah, Hyung. Bagaimana bisa aku tetap baik-baik saja sementara kau seperti ini?"

Bunyi elektrokardiograf yang bertepi di telinga Kyuhyun, terasa menusuk hingga pedalaman hati. Kyuhyun menangis semakin hebat. Ia mengguncang-guncang lengan Donghae. Berharap dengan begitu hyung-nya itu akan terbangun.

"Hyung, bangunlah kumohon. Kau berjanji tak akan pernah membiarkanku sendiri lagi. Kau berjanji akan menemui Dokter Han dan menanyakan kondisiku. Kau berjanji akan melakukan apa pun agar aku sembuh. Kau berjanji akan memberitahu Eomma dan Siwon Hyung tentang penyakitku. Jadi bangunlah, Hyung… bangunlah! Jangan tidur terus seperti ini!"

Merasa tak ada respon apa pun dari Donghae, Kyuhyun berhenti mengguncang tubuh kaku hyung-nya itu. Ditatapnya dengan sedih wajah pucat itu. Isakannya saling bersahutan dengan bunyi alat pendeteksi detak jantung. Satu-satunya tanda bahwa Donghae hyung-nya masih hidup. Dengan gerakan cepat, Kyuhyun menghapus air matanya. Menatap Donghae sejenak dan bangkit dari duduknya.

"Hyung, jika kau tidak ingin aku mati karena penyakitku, cepatlah bangun. Aku akan diam saja dan tidak akan memberitahu Eomma dan Siwon Hyung kalau aku sakit. Aku tidak akan mengatakan apa pun sampai kau yang mengatakannya pada Eomma dan Siwon Hyung. Jadi, cepatlah bangun, Hyung!"

Dan setelah itu, dengan tertatih, Kyuhyun berjalan meninggalkan ruangan Donghae. Dengan susah payah ia menyeret-nyeret tiang infus di tangannya. Menarik napas sedalam mungkin. Aku akan baik-baik saja seperti yang kau harapkan, Hyung. Aku akan baik-baik saja sampai kau bangun nanti.

"Kyunie…" Nyonya Lee berhambur memeluk Kyuhyun saat putra bungsunya itu membuka pintu. Ia senang akhirnya Kyuhyun mau keluar dan kembali ke ruangannya. Setelah ini ia akan berterimakasih banyak pada Changmin.

"Gwaenchanha, Eomma. Aku baik-baik saja." Kyuhyun melepaskan pelukan eomma-nya. "Mianhae sudah membuat kalian khawatir."

Mendengar apa yang baru saja Kyuhyun katakan, mau tidak mau membuat Siwon, Nyonya Lee, dan Changmin tersenyum lega. Serentak mereka memapah Kyuhyun kembali ke ruangannya. Tanpa mereka tahu, ada pintu yang perlahan tertutup dalam jiwa itu. Menutup semua kerapuhan, semua kepedihan, semua kesakitan yang ada di dalamnya. Kyuhyun akan berjalan lebih kuat dari sebelumnya. Dan menyimpan semua rasa sakitnya sendiri. Benar-benar sendiri.

.

.

To be Continue…

.

.

Seperti biasa… terimakasih yang udah kasih review di chapter kemarin.

Oya, Happy New Year yaaa… semoga semuanya selalu bahagia di tahun 2016 ini.

Promosi nih, baca juga yaa ff-ku yang lain di- www..naemochi..wordpress..com (main cast is Henry Lau)

Dan ceritaku yang lain di- www..nia-sumiati..blogspot..com / wattpad : naesu13

Gomawo