Naruto©Mr Masashi Kishimoto

Bukan Romeo dan Juliet

SASUHINA

Rate M

Happy reading

Langkahnya pelan, tatapannya kosong, air matanya turun tak terbendung, menyusuri jalan tanpa tau arah, pandangannya gelap, dia sudah tak memiliki cahaya hidupnya lagi, cahaya itu kian menjauh.

Flash back

Aromi mengantar Hinata menemui psikiaternya, mereka berangkat dari Amegakure, selama ini Hinata tinggal bersama bibinya, dengan alasan tidak ingin membahayakan hidup Hinata jika dia tetap tinggal di rumah neraka milik keluarga Hyuuga, Ayame di minta tutup mulut tentang hal itu.

"Hallo Hinata sudah dua bulan tidak bertemu." ucap dokter Tsunade, psikiater Hinata.

"Bagaimana kabarmu? oh ya..siapa yang datang bersamamu?" tanya dokter itu lagi.

"Aku wali Hinata, Sekigahara Aromi, bibi Hinata." jawab Aromi memperkenalkan diri.

"Bibi?.." Tsunade mengernyit.

"C-ceritanya sangat panjang, n-nanti akan kuceritakan!" ucap Hinata, dokter itu mengangguk.

"Baiklah kita lihat kesehatanmu dulu, kau terlihat sehat dan juga cantik." Hinata tersenyum mendengar perkataan Tsunade.

"Apa ada keluhan yang kau rasakan?" tanya Tsunade sambil memeriksa tekanan darah Hinata.

"Tidak ada, hanya saja akhir-akhir ini aku selalu merasa mual di pagi hari, kepalaku juga pusing, aku bahkan tidak mau memakan makanan favoritku, dan di perutku ada getaran kecil seperti tersengat listrik tegangan rendah." ucap Hinata polos, Tsunade mengernyitkan alisnya dengan penuturan Hinata.

Tsunade memasang stetoskop di telinganya kemudian di benda itu di arahkan pada perut Hinata.

'Tidak mungkin'

"Hinata ayo berbaring, aku ingin memastikan sesuatu." perintah Tsunade yang di turuti Hinata, gadis itu terlentang di ranjang pasien, Tsunade mulai memeriksa dengan cara menekan keras perut Hinata bagian bawah, gadis itu meringis karena sedikit merasa sakit.

'Ya Tuhaann'

"Hinata coba lakukan tes urine, ini alat tesnya, aku akan menunggu, cepatlah."ucap Tsunade kemudian memberikan alat tes urine berbentuk kotak kecil dengan warna putih.

Aromi menekuk alisnya, wanita itu berpikir apa hubunganya tes urine dengan kejiwaan, Hinata sudah keluar dari kamar mandi kemudian menyerahkan benda yang di berikan Tsunade tadi.

Tak butuh waktu lama benda itu menunjukan sesuatu yang membuat Tsunade membulatkan matanya.

"Hinata ayo duduk dan bersandarlah." Tsunade menuntun Hinata ke sofa tempat biasa gadis itu berkeluh kesah, Hinata menyandarkan kepalanya, kemudian memejamkan mata, gadis itu menarik napas pelan, Tsunade duduk di sebelahnya.

"Hinata dengarkan aku baik-baik, jawab pertanyaanku dengan jujur, jangan sembunyikan apapun, kau mengerti?" Hinata hanya menganggukkan kepalanya, Tsunade menghela napas.

"Hinata apa kau di serang seseorang, tepatnya seorang pria?" Tsunade mulai bertanya, Hinata menggelengkan kepalanya.

"Apa kau sudah berhubungan intim dengan seorang pria?" Hinata terdiam mengingat kejadian satu bulan yang lalu.

"Ya..." jawab Hinata singkat.

"Apa dia memaksamu, atau dia mengancamu?"

"Tidak.."

"Jadi kau melakukannya suka rela dan tanpa paksaan."

"Ya..."

"Apa kau yakin pria itu tidak melakukan kekerasan padamu?"

"Ya.."

"Siapa pria itu?" Hinata tampak menelan ludahnya.

"O-orang yang kusukai." Tsunade mengutuk siapapun pria yang di sukai Hinata itu, tega sekali orang itu memanfaatkan kelabilan Hinata dan perasaannya.

"Ada apa dokter?" Aromi mulai bertanya melihat Tsunade memijat kepalanya, Hinata duduk kembali dengan Aromi dan berhadapan dengan Tsunade.

"Hinata jika kau yakin pemuda itu tidak memaksamu, kau harus meminta pertanggung jawaban darinya."

"Kenapa dokter?" tanya Aromi lagi.

"Hinata... sedang mengandung, Hinata hamil." Aromi dan Hinata membulatkan mata.

"Usia kandunganmu sudah satu bulan, dengarkan aku kau harus katakan tentang kehamilanmu padanya, dia harus bertanggung jawab."

"Bisakah kau keluar dulu, aku ingin bicara pada bibimu!" Hinata pergi dan menunggu di luar, Aromi dan Tsunade masih di dalam untuk berbicara.

"Nyonya aku harap kau tidak keberatan menjaga Hinata, gadis itu perlu pengawasan khusus, Hinata butuh dukungan dari keluarganya, jangan biarkan dia merasa tertekan, saat ini dia memang terlihat normal, tapi sebenarnya dia sudah berada di ambang batasnya, aku melihat kondisi jiwanya memburuk." Aromi terlihat khawatir dengan kondisi keponakannya.

"Dan yang paling buruk bagi penderita Scizzo-affectif adalah...bunuh diri!" Aromi membulatkan matanya, kenapa nasib Hinata bisa setragis ini.

Aromi membawa kembali Hinata ke Amegakure, saat ini Aromi sedang menemani Hinata di kamar barunya, Aromi begitu memanjakkan Hinata, gadis yang tidak pernah merasakan kasih sayang itu bersikap seperti anak kecil, Aromi sangat memakluminya, tapi sekarang Hinata sedang mengandung, Aromi takut Hinata akan tertekan dengan kehamilanya.

"Nana, apa kau merasa mual?"tanya Aromi, saat ini wanita itu sedang merapikan rambut Hinata, sama seperti Ayame, bibi Hinata sangat menyukai rambut Hinata yang halus dan tebal, warna rambut mereka sama, tapi rambut Hinata jauh lebih indah.

"Tidak bibi aku baik-baik saja." jawab Hinata.

"Nana, tentang bayimu, bagaimana rasanya?" sebenarnya Aromi takut untuk bertanya, tapi Hinata tersenyum cantik.

"Di perutku tidak terasa apa-apa, tapi di sini rasanya aku bahagia." ucap Hinata menyentuh dadanya.

"Dengarkan bibi, kau harus ke Konoha, kau harus menemui papa dari bayimu ini, karena kau butuh pendamping, mengurus bayi itu tidak mudah." Hinata tampak berpikir.

"Tapi, aku takut dan aku juga malu, bagaimanapun dia sudah punya kekasih." ucap Hinata sendu.

"Apa?...lalu kenapa dia melakukan itu padamu?"

"Itu tidak sengaja bibi."

"Apapun alasannya kau harus bertemu dengan pemuda itu."

Dengan bujukan sabar dari Aromi akhirnya Hinata mau pergi menemui Sasuke dengan syarat Hinata akan pergi sendiri tanpa di temani Aromi.

Flashback off

Hinata menuju rumah keluarga Hyuga, Ayame sedikit terkejut dengan kedatangan Hinata, wajah gadis itu terlihat sangat berantakan, jejak air mata dan juga tatapannya yang kosong membuat Ayame khawatir.

Hinata menuju kamar ibunya, aura mencekam begitu terasa di kamar wanita kejam itu.

Hinata memilih gaun hitam milik ibunya dan mengenakannya, Hinata juga berdandan memoles wajahnya dengan make up, Hinata memilih warna merah menyala untuk bibirnya.

"Sudah jam 8 malam." gumam Hinata, gadis itu berdiri dari meja rias ibunya, dan keluar dari kamar ibunya.

Hinata masuk ke kamarnya yang lama, gadis itu berputar-putar seperti sedang menari, kini wajahnya di hiasi senyuman aneh yang menakutkan, gerakannya berhenti saat melihat gaun putih yang tergantung di sudut ruangan, gaun yang semula berlumuran darah itu seperti baru kembali karena Ayame mencucinya.

Hinata mengambil gaun itu di bawahnya juga ada sepasang sepatu pasangan dari gaun tersebut, Hinata membuka lemarinya di barisan kanan paling atas ada kemeja seragam laki-laki, Hinata teringat saat bangun di Uks, baju itu sudah melekat di tubuhnya, baju yang ukuranya terlalu besar.

Hinata mengelus dan mencium aroma dari kemeja seragam tersebut, wangi tubuh pemuda itu begitu melekat, Hinata menangis kemudian memeluknya begitu erat.

"Aku rindu sekali padamu, Sasuke!" ucap Hinata, gadis itu bahkan menciumi kemeja Sasuke dan bekas bibirnya tertinggal di sana.

Hinata menatap dirinya di cermin, cermin yang sudah di perbaiki, cermin yang waktu itu hancur, sekarang sudah utuh kembali.

"Kenapa semua terjadi padaku? rasanya aku ingin lenyap dari dunia ini, aku ingin mati."

"Aku sudah tidak sanggup lagi." Hinata menjambak rambutnya kasar.

"Kau pasti sedang bahagia."

"Sasuke..."

"Sasuke, aku mencintaimu."

"Sasu...hiks...aku sedang mengandung."

"Datanglah padaku, kumohon...hiks"

"Hiks...hiks... hiks..."

"Sasuke..."

"SASUKEEEE...aarrrgggghhh" Hinata menjerit sejadinya, gadis itu hilang kendali, rasa putus asa yang berada di puncak membuatnya histeris, semua barang yang berada di kamarnya hancur karena Hinata melempar semua benda tersebut.

Hinata melampiaskan segala emosi yang berkobar di dadanya, cermin yang pernah hancur itu hancur kembali, sebenarnya hidup Hinatalah yang hancur, gadis itu memporak porandakan seisi kamarnya, tak ada satu benda pun yang selamat dari amukannya.

Gadis itu meringkuk di lantai kamar mandi, satu tanganya menggenggam pecahan kaca yang sudah di penuhi darah dari tangannya.

Hinata mendudukan dirinya di dalam bathtub yang penuh dengan air, warna air sedikit berubah karena darah dari telapak tanganya yang mengucur, gadis itu menyandarkan kepalanya di sandaran bathtub, tangan kirinya mengelus pelan perutnya yang masih rata.

"Sayang, kau adalah hal terindah yang di berikan papamu."

"Mama, benar-benar menginginkanmu...hiks...mama sangat menyayangimu."

"Tapi mama sudah tidak sanggup, bagaimana kalau kita berdua pergi saja? pergi ke tempat yang jauh, tempat yang hanya ada kita berdua?"

"Dan biarkan papamu bahagia tanpa memikirkan kita."

Hinata menengadahkan kepalanya, segala macam bayangan terputar dalam matanya yang terpejam.

'Aku membencimu.!'

'kau yang membunuh ibu, Hinata!'

'kenapa kau tidak mati saja!'

'dasar jalang!'

'kau sedang hamil'

'pergilah ke Konoha'

'jangan bersikap seolah hanya kau yang menderita di dunia ini.'

'aku akan bertunangan'

'aku menyukaimu Sakura'

'Nana'

'kau cantik'

'say my name'

'aku tidak akan membiarkanmu pergi'

Segala macam memori terputar kembali, Hinata menutup telinga dengan kedua tanganya.

'hahaha, aku tidak rela melihatmu masih bernapas, ayo, kemarilah Hinata temani aku.'

Hinata menenggelamkan kepalanya kedalam air supaya semua suara itu tak terdengar.

Hinata membiarkan paru-parunya terisi air, begitu sakit dan menyesakan.

...Di tempat lain...

'HINATAAA...'

Seorang pemuda tampan dengan balutan jas mahalnya, terlihat gelisah sesekali dia menggigit jemarinya sendiri, Sasuke merasakan firasat buruk saat gelas yang sedang di pegangnya tiba-tiba terjatuh dan hancur.

Sasuke berjalan mondar-mandir di luar rumahnya, sedangkan para tamu dan keluarganya, sudah berkumpul di dalam rumah.

"Sasuke, ayo masuk sebentar lagi acaranya akan di mulai" Mikoto menghampiri Sasuke dan mencium pipi anak kesayanganya itu.

"Sebentar lagi bu, aku menunggu seseorang!" ucap Sasuke tenang.

"Siapa?, cepatlah Sakura dan yang lain sudah menunggu!"

"Aku sedang menunggu...Hinata..."

"Apa?, ... Sasuke ka-..."

"Kumohon ibu sekali ini saja, jangan menghinanya lagi.!"

"Kau memohon untuknya?, ..."

"Kali ini saja." Mikoto melihat raut luka di wajah tampan putranya, kenapa Sasuke seperti itu, bukankah seharusnya Sasuke bahagia, Sasuke menolak pertunanganya dengan Sakura, bahkan tadi pagi Sasuke masih berusaha keras untuk membatalkanya, Mikoto menpercepat pertunangan di karenakan tidak sengaja mendengar Sasuke yang selalu menggumamkan nama Hinata saat pemuda itu tertidur.

Mikoto mengalah dan masuk ke dalam rumah, sedangkan Sasuke masih berada di luar, sekilas mengingat kejadian tadi pagi, pertemuan terakhirnya dengan Hinata.

'A-aku, ingin mengatakan hal penting '

'Se-sebenarnya, m-malam itu, a-aku...'

Sasuke ingat saat itu Sakura tiba-tiba saja muncul dengan Naruto, dan saat itu Sasuke melihat Hinata tengah mengelus perutnya kemudian meremasnya.

' Kurasa, sudah tak penting lagi'

' Selamat atas pertunangan kalian'

'Maaf, aku tidak bisa datang.'

Sasuke meremas dadanya yang terasa sakit, terlambat menyadari akan perasaan yang sesunggunya.

"Hinata, mungkinkah?..."

"Aku harus menemuinya sekarang juga."

"Ya,...aku harus bertemu denganya."

Sasuke hendak pergi, tapi sebuah suara menghentikannya.

"Kau mau ke mana, Teme?" itu suara Naruto, suaranya terdengar datar dan dingin.

"Dobe,...aku, aku harus pergi." ucap Sasuke, pemuda itu hendak melangkah lagi.

"Pergi ?, apa maksudmu ?" tanya Naruto.

"Aku tidak bisa melanjutkan pertunanganku dengan Sakura." Naruto membulatkan matanya.

"Apa maksudmu, Teme?."

"Hinata,...Hinata...!" Sasuke tidak bisa menjelaskannya sekarang, saat ini yang ada di pikiran Sasuke adalah Hinata.

"Hinata?, ... ada apa dengan Hinata, katakan padaku, Teme?." Naruto meninggikan sedikit suaranya, jujur saja Naruto juga cemas dengan sahabatnya itu.

"Aku,...aku harus bertemu dengannya, dia,...dia membutuhkanku Naruto." napas Sasuke terlihat naik turun.

"Aku tidak mengerti sebenarnya apa yang terjadi? kenapa Hinata membutuhkanmu?"

"Aku tidak bisa mengatakannya sekarang, aku harus segera menemuinya." Naruto naik darah dan menarik kerah Sasuke.

"Apa yang kau lakukan padanya, hah?...lalu kau juga akan pergi meninggalkan Sakura, kau tahu mereka berdua adalah sahabatku, takkan kubiarkan kau menyakiti salah satunya." Naruto terlihat emosi.

"Hinata yang paling kusakiti, Naruto.!... dia yang paling menderita!" Sasuke berteriak.

"Aku sudah melakukan kesalahan, aku menyesal, biarkan aku menemuinya Naruto."...

BUGGHH

Naruto memukul Sasuke, pemuda itu jatuh tapiSasuke tidak berniat membalasnya, pemuda itu mengusap sudut bibirnya yang berdarah, Naruto kembali menarik kerah bajunya.

"Berani sekali kau mempermainkan mereka, Sasuke!"

"Kau memanfaatkan perasaan Hinata yang sudah menyukaimu selama 3 tahun?" Sasuke membulatkan matanya.

"Dan di depannya kau menyatakan cinta pada sahabat terbaiknya, apa kau tahu bagaimana perasaanya saat itu?"

"Hinata sudah hancur apa kau sadar itu?" Sasuke melepaskan pegangan tangan Naruto di kerahnya.

"Apa kau bilang Hinata menyukaiku selama tiga tahun? apa itu benar?" tanya Sasuke seolah tak percaya, Naruto terdiam karena baru menyadari tentang yang di katakannya pada Sasuke.

"Katakan padaku Naruto!" Sasuke berteriak melihat Naruto yang terdiam.

"Ya itu benar, gadis itu memendam cinta padamu."...

"Lalu sekarang kau baru sadar dan ingin mengejarnya? dan meninggalkan Sakura?, aku tidak tahu apa yang terjadi antara kau dan Hinata, tapi aku tidak akan membiarkanmu membuat Sakura terluka!"

"Maafkan aku Naruto aku tidak berniat seperti itu...tapi..saat ini aku hanya bisa memikirkan Hinata tidak ada yang lain, aku akan menjelaskannya pada Sakura."

"Kau memang brengsek? apa yang ada di kepalamu itu hah?"

"Setelah menyakiti Hinata kau juga akan melukai Sakura."

"Hentikan semua perkataanmu Naruto, dengar untuk kali ini aku tidak ingin berdebat denganmu, ini hidupku, aku ingin memperbaiki semuanya, Sakura berbeda dengan Hinata, dia pasti akan baik-baik saja, tapi tidak dengan Hinata."

"Aku tidak tahu, aku terlambat menyadari perasaanku, aku tidak bisa melupakan Hinata sedikit pun, katakan padaku apa yang harus kulakukan ?"

"Baiklah, aku mengerti kau benar Sakura, Hinata memang berbeda, aku tidak bisa mencampuri urusan kalian, tapi bisakah kau juga tidak melukai Sakura, biarkan hanya Hinata yang hancur, jangan kau buat Sakura juga merasakanya, karena itu akan jauh lebih mudah untukku, aku yang akan melindungi Hinata."

"Kau pikir itu mudah bagiku, aku bisa mati, aku tak bisa hidup tanpa Hinata, walaupun kau membunuhku itu tak akan mengubah perasaanku." Naruto tertegun mendengar perkataan Sasuke.

"Jadi biarkan aku bertemu denganya." ucap Sasuke dingin.

Naruto menghembuskan napasnya.

"Paling tidak selesaikan dulu pertunanganmu ini, kalau tidak kau hanya akan mempermalukan keluargamu dan keluarga Sakura di depan banyak orang"

"Setelah itu kau pergilah temui Hinata dan secepatnya katakan pada Sakura apa yang sebenarnya terjadi."

"Tapi Naruto, aku..."

"Hanya itu permintaanku, lagi pula kau juga tidak ingin ayah ibumu mendapat malu kan?" Sasuke terdiam memikirkan perkataan Naruto.

"Besok di sekolah kau akan bertemu dengan Hinata"

"Aku tidak bisa menunggu sampei besok Naruto, tidakkah kau mengerti."

"Hinata bisa menunggumu satu malam lagi Sasuke"

Sasuke terpaksa melanjutkan acara pertunanganya, semua orang terlihat bahagia, hanya Sasuke dan Naruto yang bahkan tidak tersenyum, entah kenapa Sasuke merasakan sesuatu yang buruk, bahkan pikirannya tidak bisa tenang sama sekali.

Tengah malam ini Sasuke ingin sekali pergi menemui Hinata, tapi Sasuke tidak tahu harus kemana mencari Hinata, gadis itu sulit di temui, tadi sorepun Sasuke mencari Hinata di tempat kerjanya, tapi pemilik restoran cepat saji itu mengatakan Hinata sudah tak bekerja sejak satu bulan lalu.

Sasuke berharap pagi akan segera datang, Sasuke bahkan tak ingin memejamkan matanya untuk tidur, sampai saat pagi tiba Sasuke bergegas menuju sekolah untuk menunggu seseorang.

Gelisah, itu yang di rasakan Sasuke saat orang yang di harapkan tidak muncul juga, padahal bel sekolah akan berbunyi sepuluh menit lagi, kelas sudah hampir penuh, semua siswa memberi selamat atas pertunanganya tapi Sasuke tidak menghiraukanya, Narutopun merasakan kecemasan Sasuke, pemuda itu hanya berharap semua akan baik-baik saja.

"Sasuke, apa kau tidur nyenyak semalam?" Sakura menghampiri tunangannya yang sedang melamun.

"Sasuke, kau melamun?" Sasuke tersentak dengan sentuhan Sakura.

"Ada apa? ada yang kau pikirkan?" Sasuke tidak tahu harus berkata apa.

"Semalam pestanya sangat meriah, aku bahagia, tapi sayang Hinata tidak hadir." ucap Sakura, mendengar nama Hinata di sebut Sasuke langsung menatap Sakura, rasa bersalah dirasakan Sasuke.

"Aku,..."

Drrrrt Drrrtt

Ucapan Sakura terpotong karena ponselnya bergetar.

"Baru saja di bicarakan, panjang umur, Hinata menghubungiku tapi ini no kediaman keluarga Hyuuga." Sasuke kembali terkejut, benarkah itu Hinata, apa gadis itu sakit, Sasuke benar-benar merasa cemas.

"Hallo, selamat pagi, ya ini Sakura teman Hinata" Sasuke berusaha mendengarkan dengan seksama, Naruto pun menghampiri Sakura.

"Oh, Ayame-nee, ada apa, mana Hinata?" Sakura mendengarkan seseorang yang sedang berbicara di sebrang telpon, tapi tiba-tiba saja Sakura menjatuhkan ponselnya, tubuhnya limbung, air matanya menetes tak terbendung, Naruto yang berdiri dekat Sakura menopangnya karena Sakura hampir saja terjatuh, sedangkan Sasuke sangat terkejut apa yang terjadi, semua siswa yang ada di kelas pun terdiam melihat kejadian itu.

"Sakura, ada apa? Hinata kenapa?" Naruto bertanya sedangkan Sasuke segera berdiri dari bangkunya dan menghampiri Naruto dan Sakura.

"Hiks...Hi-Hinata, Naruto...Hinata, Hinata sudah meninggal." Sasuke membulatkan matanya, itu tidak mungkin.

"Hinata...hiks,...d-dia,...dia bunuh diri, dia menjatuhkan dirinya ke jurang...hiks Hinataaa..." Sakura menangis, Naruto pun tak jauh berbeda, sedangkan Sasuke tidak menyadari pemuda itu masih mematung, namun satu tetes air mata lolos dari kedua manik gelapnya.

"Itu tidak mungkin Sakura, kau pasti berbohong?" Naruto berteriak seolah tak percaya, Sakura menggelegkan kepalanya.

"Hiks...Hinata bahkan sedang mengandung...Hina-Hinata sedang hamil Naruto." semua orang yang berada di dalam kelas terkejut, Naruto memandang ke arah Sasuke, Naruto melihat Sasuke yang limbung, tapi temannya yang lain membantu supaya pemuda itu tidak terjatuh.

Naruto segera menghampiri Sasuke, Ino dan Tenten memeluk Sakura yang lemas, mereka semua menangis mendengar kematian sahabatnya yang tragis, Karin dan Shion pun sangat terkejut.

"S-Sasuke kau..." Naruto bermaksud menenangkan Sasuke, tapi tanganya di tepis Sasuke, Naruto melihat Sasuke dengan wajah mengeras air matanya sudah tak tertahan lagi.

"Ini tidak benar kan ?" tanya Sasuke entah pada siapa, Naruto terdiam.

"Hinata tidak mungkin mati, dia tidak boleh meninggalkanku, dia tidak mungkin meninggalkanku!" Sasuke mulai berteriak, semua orang sedikit heran di tengah kesedihan yang mereka rasakan, ada apa dengan Sasuke?.

Secepat kilat Sasuke segera berlari ke luar kelas, Naruto khawatir dan takut, pemuda itu segera menyusul Sasuke.

"Ino, Tenten, jaga Sakura aku akan menyusul Sasuke." kedua gadis yang disebut menganggukan kepalanya.

Naruto menyusul Sasuke, pemuda bersurai hitam itu menjalankan mobil dengan kecepatan penuh, Naruto menyusul di belakangnya, tidak ada yang tahu apa yang dipikirkan Sasuke saat ini.

Naruto dan Sasuke tiba di tempat kejadian yang di sebutkan di sebuah jurang di sisi laut, disana sudah banyak orang, masyarakat sekitar, para polisi bahkan wartawan pun berada di sana untuk meliput kematian seorang gadis yang bunuh diri.

Naruto melihat Sasuke yang mencoba menerobos garis polisi, pemuda itu tidak bisa melihat lebih dekat karena para polisi melarangnya.

"Lepaskan aku..." Sasuke meronta saat beberapa petugas mencekalnya.

"Kau tidak bisa kesana, kau hanya akan mengganggu penyelidikan kami." ucap salah satu petugas tersebut.

Naruto menghampiri mereka dan mencoba berbicara.

"Maaf pak, bisa lepaskan dia, dia teman saya, kalau boleh saya bertanya siapa gadis yang menjadi korban bunuh diri itu?" tanya Naruto pada para petugas yang memegang Sasuke, salah satu dari mereka melihat seragam yang di pakai Sasuke dan Naruto dan mulai bertanya.

"Apa kalian dari KIHS?" Naruto mengangguk mendengar pertanyaan itu.

"Ya, sepertinya korban salah satu dari teman sekolah kalian." Naruto membatu dan tak ada yang tahu tubuh Sasuke semakin gemetar pemuda itu bahkan tak mampu menopang tubuhnya sendiri.

"Ini tas milik korban, di dalamnya juga ada beberapa barang milik korban, dan kartu identitasnya." petugas itu memperlihatkan ransel berwarna hitam, kemudian petugas itu mengeluarkan barang yang ada di dalam ransel, mata Sasuke semakin terbelalak saat melihat barang-barang itu, Sasuke mengenali semuanya.

Gaun putih, kitten hills, dan kemeja seragam sekolah laki-laki, ada juga beberapa alat make up, semua itu barang yang Sasuke berikan untuk Hinata.

"Dan sepertinya gadis itu sepertinya sedang hamil, karena ada testpack di dalam tas." Sasuke mengambil kotak kecil berwarna putih itu, tanda positip terlihat di tengahnya, Sasuke meremas benda itu dan memeluknya di dada.

"Korban bernama Hinata Hyuuga." air mata Sasuke turun tak terbendung, air matanya berderai.

"Kau pasti salah pak, temanku tidak mungkin bunuh diri dia gadis yang kuat, dia tidak akan mudah putus asa." Naruto meracau selama ini Hinata menderita tapi gadis itu tidak pernah mengeluh apalagi putus asa, Naruto tidak percaya semua itu.

"Maaf tapi semua bukti menunjukkan kalau gadis itu memang Hinata, kami memang tidak bisa mengenalinya, wajahnya hancur menimpa batu karang di sana, dan gadis itu juga keguguran." Sasuke memejamkan matanya.

Baik Naruto maupun Sasuke mereka hanya terdiam, keranda mayat tiba-tiba lewat didepan mereka, Sasuke dan Naruto merasa lemas seketika, rambut indigo itu, kulit putih dengan banyak luka di tanganya yang tak tertutup kain, bercak darah yang masih basah terlihat di kain bagian wajah yang menutupi mayat itu.

Sasuke berusaha meraihnya, Sasuke ingin membuka kain itu, tapi tangan Naruto mencekalnya.

"Tidak, j-jangan lakukan itu, kita tidak akan sanggup melihatnya." ucapan Naruto terdengar bergetar.

'Hinata,...kenapa kau pergi, aku mencintaimu, kenapa kau meninggalkanku, bawa aku bersamamu, kenapa kau tidak menungguku.' Sasuke bergumam dalam tangisnya.

'Maafkan aku,...maafkan aku...'

"Seandainya kau tidak menghalangiku tadi malam Naruto, semua ini pasti tidak akan terjadi, Hinataku tidak akan mati." ucap Sasuke dengan suara yang begitu dingin, Naruto terkejut namun tak bisa berkata apa-apa.

"Aku terlambat menyelamatkan mereka berdua, ini salahku, seharusnya aku tidak menurutimu, walaupun kau membunuhku."

Sasuke segera berdiri dan pergi meninggalkan Naruto, pemuda itu masuk kedalam mobilnya dan mengunci diri, Naruto yang melihat Sasuke dengan raut wajah yang tidak terbaca segera menyusulnya, Naruto mengetuk dengan keras kaca pintu mobil Sasuke, tapi pemuda itu tidak menghiraukanya, Sasuke membanting stir dengan keras, kemudian menelungkupkan wajahnya di sana, air mata terlihat menetes ke bawah, tenggorokanya terlihat naik turun.

"Hiks...Hiks..."

Tak ada kata yang mampu menggambarkan kesedihan Sasuke, pemuda itu memutar kunci mobil dan menyalakannya, mobil Sasuke berlalu dengan kecepatan tinggi, Naruto masih berusaha menyusul untuk menghentikannya.

Sementara Sasuke sendiri semakin tenggelam dalam lamunannya,wajah Hinata yang terluka terbayang di matanya, Sasuke semakin merasa sakit saat mengingat bahwa Hinata sudah mencintainya selama tiga tahun, dan Sasuke baru mengetahuinya tadi malam.

'Kau menyukai seseorang bukan, kenapa kau tidak mengatakan padanya mungkin itu akan lebih baik.'

'Dia cahaya hidupmu bukan?'

'Sebaiknya kau lupakan dia'

'Aku tak sanggup menggapainya'

'Maaf aku tak bisa melakukan itu.'

Sasuke baru menyadari bahwa selama ini cahaya hidup Hinata adalah dirinya, bagaimana mungkin gadis itu mampu menyimpan lukanya begitu lama.

"Hinata, cin-cintamu terbalas, aku mencintaimu, aku mencintaimu...hiks..."

Air mata yang menggenang sedikit mengganggu penglihatan Sasuke, di genggamnya kotak kecil berwarna putih yang tadi dia dapatkan dari petugas kepolisian.

"Bayiku, bayi ini milikkukan, Hinata?" Sasuke menggenggamnya lagi di dada.

Rasa sakit tiba-tiba di rasakan Sasuke di dadanya, Sasuke meremas dadanya yang terasa sesak, kemudi mobilnya sudah tak terkendali, sampai pada sebuah tikungan, Sasuke tidak bisa mengendalikannya, mobil Sasuke tergelincir, berguling beberapa kali dan menabrak besi pembatas jalan.

Posisi mobil itu terbalik, Sasuke bisa melihat mobil Naruto yang berhenti pemuda itu berlari menghampiri dirinya.

Kepalanya berdenyut nyeri, tulang di tubuhnya terasa remuk, cairan hangat terasa membasahi kepalanya, tapi kesadaranya masih tersisa pemuda itu masih mengingat seseorang yang baru saja meninggalkanya.

'Hinata...'

'Maafkan aku, Hinata'

Gelap menguasai seluruh kesadarannya, pemuda itu menutup matanya secara perlahan, tanpa pemuda itu ketahui bahwa sahabatnya tengah berteriak memanggil namanya.

To be continue.

Nah readers...

Silahkan berspekulasi, berimajinasi dan mengomentari chap ini... kalian readers yang pintar jadi jangan ragu ketik sesuatu di kolom review.

Gomenne telat update, mudah2an chap ini mengobati rasa penasaran badai kalian...(kata Ozel Hime)

Favoritkan dan Followkan author yang kece badai ini yach...wkwkwk...

Special thank's to;

Rei Atsuko, shuuchiha, Narulita706, Miyuchin2307, sushimakipark, Green Oshu, The DarkSmurf, HipHipHuraHura, hyacinth uchiha, gentayangan, Anonym, Guest, MawarPutih, code, ga login dulu, lovely sasuhina, ana, Guest, Dewi matondang, sasuhina lovers, sasuhina always, ade854 II, Han Zizah, Ozel-Hime, yuliyantin.

Thank's too;

Alpha Hime-chan, Ayumi Tsukunami, Kumi Kumiko, Min Chanx, mutia k, Nadeshiko Padmini, Phia645, Septy811, adi hisyani14, afika chia, amosicalia, arisa u, asalyne, gete-virus, hellenfaringga, keita uchiha, merita cahya56, momoyui28, nyonya uchiha, Putri94, uchihalyly, Matsurin91, pikajun, anishl, hanayou, himmmechi, hiru nesaan, Matsurin1991, sabrina a nisa, wisaatikah.

Ok...terimaka kasih untuk semua...

Selamat membaca, akhir kata i love u aallllll...

Salam aisyaeva...